Anda di halaman 1dari 4

Pola Penyebaran Tanah di Daerah Survey

Pola penyebaran tanah di daerah survei dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:

1. Bahan induk tanah


Bahan induk sebagai bahan utama pembentukan tanah tanah yang
terbentuk sangat ditentukan oleh bahan induk tanahnya.
2. Topografi
Variabilitas tanah berdasarkan toposekuen akibat erosi dan deposisi.
Tanah vertisol asli, susunan horisonnya masih lengkap yaitu Ap, Bw,
Bss, BC, dan C (profil C7). Tanah vertisol tererosi, susunan
horisonnya tidak lengkap. Horizon BSS tererosi atau telah mengalami
perusakan waktu dilakukan pengolahan lahan (profil C6). Tanah
vertisol asli yang mengalami sedimentasi biasanya terjadi penebalan di
horizon Bw (profil C5)
3. Iklim
Komponen iklim yang paling berpengaruh terhadap penyebaran tanah
adalah suhu dan presipitasi (curah hujan). Proses pelapukan fisik yang
menjadi factor pendukung pola penyebaran tanah.
4. Organisme
Pelapukan organic disebabkan oleh tumbuhan secara kimiawi (zat
asam yang dikeluarkan oleh akar serat makanan menghisap garam
makanan yang merusak batuan sehingga garam garaman mudah
diserap akar) dan secara mekanik ( berkembangnya akar tumbuhan di
dalam tanah yang dapat merusak tanah sekitar). Manusia juga
berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon,
pembangunan maupun penambangan.
5. Waktu
Tanah terbentuk melalui pelapukan kimia, fisika maupun biologi dalam
jangka waktu yang lama. Tanah berawal dari horizon R horizon R
dan C horizon R, C, dan A horizon R, C, Bt, Bw2, Bw1, A.

Penamaan Satuan Peta Tanah

a. Satuan Peta Tanah


Hasil akhir survey tanah berupa peta yang memuat SPT. SPT adalah
suatu satuan peta yang mempunyai satu, dua atau lebih satuan tanah.
Contoh satuan tanah: Lithic Ustorthents, Typic Ustorthents, dll.
Sedangkan contoh SPT: Komplek Lithic Ustorthents dan Typic
Ustorthents
1. SPT Sederhana
- Hanya mengandung 1 satuan tanah atau mengandung tanah
lain yaitu inklusi
- Pada survey tanah detail daerah relative seragam yaitu
konsosiasi (minimal 50% dari pedon yang ada dalam pedon
tersebut, dan maksimal 25% tanah yang berbeda)
2. SPT Majemuk
Biasanya lebih dari 2 jenis satuan tanah yang berbeda yang
digunakan pada survey tinjau atau survey lainnya yang berskala
lebih kecil dan pada daerah yang rumit atau heterogen (dibedakan
atas asosiasi dan kompleks)

b. Kriteria menentukan Satuan Peta


1. Satuan peta harus homogeny (variasi dalam satu satuan peta
harus dipertahankan sesuai definisi yang dibuat). Macam variasi
harus konsisten dengan semua satuan peta yang punya nama
sama
2. Pengelompokan harus bernilai praktis
3. Harus memungkinkan untuk memetakan satuan secara konsisten
4. Pemetaan harus dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang
layak dan dengan peralatan yang umum
5. Sifat tanah yang digunakan dalam pemetaan harus dapat diamati
dan dirasakan teksturnya
6. Sifat tanah yang relatif stabil seperti tekstur dan lithologi harus
digunakan untuk memberi batasan satuan taksonomi (makin besar
skala peta maka makin rendah kategori taksonomi tanah yang
digunakan)
7. Satuan tanah yang sering digunakan:
a. Seri tanah
Sekelompok tanah yang memiliki ciri dan perilaku serupa,
berkembang dari bahan induk yang sama dan susunan
horisonnya sama terutama dibagian horizon olah, regim
lengas dan regim suhu tanahnya sama. Contoh: Seri
Labuanteratak
b. Fase tanah
Pembagian lebih lanjut dari seri tanah sesuai dengan ciri-ciri
penting bagi penggunaan lahan seperti drainase atau erosi
c. Soil variant
Tanah yang sangat mirip dengan seri yang sudah ditemukan
tetapi berbeda dalam beberapa sifat penting.

c.Penamaan satuan tanah

Penamaan satuan tanah yang dikemukaan dalam hal ini adalah


penamaan menggunakan sistem klasifikasi taksonomi tanah USDA (Soil
Survey Staff, 1990: 2003), seperti dikemukaan dalam Hardjowigeno,
Maesoedi, dan Ismangun, 1993). Satuan peta tanah terdiri atas satuan
tanah dan fasenya. Kategori untuk penamaan satuan tanah tergantung
dari skala peta. Pemetaan skala besar (pemetaan detail) menggunakan
kategori rendah (family atau seri), sedangkan skala kecil menggunakan
kategori tinggi (sub-grup, great grup, sub ordo atau ordo). Masing-masing
kategori dapat menggunakan satuan fase. Fase merupakan segala sifat
tanah atau faktor lingkungan yang mempengaruhi penggunaan tanah dan
pertumbuhan tanaman. Biasanya merupakan sifat-sifat atau corak
tambahan suatu seri tanah atau satuan tanah lainnya dalam kategori
klasifikasi tanah. Misalnya tekstur lapisan atas, kemiringan lahan (lereng),
batuan di atas permukaan maupun di dalam profil tanah dan sebagainya.

1. Konsosiasi
Cara penamaannya mengikuti ketentuan sebagai berikut:
a. Nama pertama terdiri dari satuan tanah atau taxon yang
kemudian diikuti dengan fase
b. Untuk fase tekstur lapisan atas atau lapisan bahan organic di
permukaan tidak disertai dengan tanda koma. Contoh: Ciawi
liat. Tidak ditulis, liat.
c. Jika fase tekstur lapisan atas juga berbatu, berkerikil dan
sebagainya, maka penulisannya adalah Cobanrondo skeletal
berliat
d. Jika fase tekstur lapisan atas tidak digunakan tetapi karena
berbatu, berkerikil dsbnya, maka penulisannya menggunakan
koma. Contoh: Cobanrondo, berbatu.
e. Untuk dua atau tiga fase, digunakan koma. Contoh: Pujian liat,
lereng 15-20%, tererosi.
f. Penulisan fase erosi ditulis paling belakang
g. Penulisan fase lereng ditulis paling belakang kecuali jika ada
fase erosi. Contoh: Pujian skeletal berliat, substratum padas,
lereng 15-20%, tererosi.
2. Kompleks
a. Ditulis kata kompleks jika fase dari masing-masing taxon
tersebut tidak sama, misalnya tekstur lapisan atas tidak sama.
Contoh: Kompleks Cobanrondo-Sebaluh
b. Kata kompleks tidak ditulis jika fase tekstur lapisan atas seri-seri
tanah yang menyusunnya sama. Contoh: Jeho-Cula liat.

Perhatikan beberapa contoh berikut:

a. Kompleks Sedep-Pali, berbatu (kedua seri tersebut mempunyai


fase berbatu dipermukaan)
b. Kompleks Batu-Tandem, lereng 5-8% (keduanya mempunyai
fase lereng sama)
c. Tandem-Toki liat, lereng 5-8% (keduanya mempunyai fase
tekstur lapisan atas dan lereng sama)
d. Kompleks Toki berbatu-Lante (hanya seri Toki yang mempunyai
fase berbatu)

3. Asosiasi
Berbeda dengan kompleks, maka kata Asosiasi selalu digunakan.
Perhatikan contoh berikut:
a. Asosiasi Cangar-Batu, terjal (dua seri tanah dengan fase lereng
terjal)
b. Asosiasi Cangar, terjal-Batu (fase lereng terjal hanya pada seri
cangar)
c. Asosiasi Typic Fragiochrepts-Aeric Fragioaquepts (asosiasi
sub-grup)

4. Kelompok tak dibedakan (Undifferentiated groups)


Untuk penanaman, digunakan kata dan guna menggabungkan satu
seri dengan seri lainnya. Atau digunakan kata tanah di depan nama
seri tanah tersebut. Contoh:
a. Batu dan Cangar lempung berdebu, atau tanah Batu dan
Cangar
b. Tanah Ciasem dan Ido, sangat terjal
c. Tanah Pendem dan Dau, sangat berbatu