Anda di halaman 1dari 124

TESIS

PENGARUH AKTIVITAS FISIK, MEROKOK DAN


RIWAYAT PENYAKIT DASAR TERHADAP TERJADINYA
HIPERTENSI DI PUSKESMAS SEMPU
KABUPATEN BANYUWANGI
TAHUN 2015

ARIPIN

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

i
TESIS

PENGARUH AKTIVITAS FISIK, MEROKOK DAN


RIWAYAT PENYAKIT DASAR TERHADAP TERJADINYA
HIPERTENSI DI PUSKESMAS SEMPU
KABUPATEN BANYUWANGI
TAHUN 2015

ARIPIN
NIM 1392161028

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

ii
PENGARUH AKTIVITAS FISIK, MEROKOK DAN
RIWAYAT PENYAKIT DASAR TERHADAP TERJADINYA
HIPERTENSI DI PUSKESMAS SEMPU
KABUPATEN BANYUWANGI
TAHUN 2015

Tesis ini untuk Memperoleh Gelar Magister


Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Program Pascasarjana Universitas Udayana

ARIPIN
NIM 1392161028

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

iii
Lembar Persetujuan Pembimbing

TESIS INI TELAH DISETUJUI


PADA TANGGAL 30 JUNI 2015

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. dr. N. Adiputra, MOH dr. A.A. Sagung Sawitri, MPH
NIP. 194712111976021001 NIP. 196809141999032001

Mengetahui
Ketua Program Studi Direktur
Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pasca Sarjana
Pasca Sarjana Universitas Udayana
Universitas Udayana

Prof. dr. D. N. Wirawan, MPH Prof. Dr. dr. A. A. Raka Sudewi, Sp.S(K)
NIP. 19481010 197702 1 001 NIP. 195902151985102001

iv
Tesis Ini Telah Diuji dan Dinilai

Oleh Panitia Penguji Pada

Program Pascasarjana Universitas Udayana

Pada Tanggal 23 Juni 2015

Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana

No : 1798/UN14.4/HK/2015

Tanggal : 23 Juni 201528

Panitia Penguji Penelitian Tesis adalah:

Ketua : Prof. Dr. dr. N. Adiputra, MOH

Anggota :

1. dr. A. A. Sagung Sawitri, MPH

2. Prof. dr. D.N. Wirawan, MPH

3. Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, MSc., Akp., SpGK

4. Dr. dr. Dyah Pradnyaparamita Duarsa, M.Si

v
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Nama : Aripin

NIM : 1392161028

Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat

Judul Tesis : Pengaruh Aktivitas Fisik, Merokok dan Riwayat

Penyakit Dasar Terhadap Terjadinya Hipertensi di

Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi tahun 2015

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah tesis ini bebas plagiat. Apabila di

kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya

bersedia menerima sanksi sesuai peraturan di Universitas Udayana dan peraturan

perundang-undangan lain yang berlaku.

Denpasar, Juni 2015

Aripin

vi
UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas segala

rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Pengaruh

Aktivitas Fisik, Merokok dan Riwayat penyakit dasar Terhadap Terjadinya

Hipertensi di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi tahun 2015 dengan

tepat waktu. Tesis ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh

Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada Prof. dr. D. N. Wirawan, MPH sebagai Ketua Program Studi

Magister Imu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana atas dorongan,

bimbingan, dan dukungan selama proses pembelajaran khususnya dalam

penyelesaian tesis ini. Ucapan terima kasih yang mendalam juga penulis

sampaikan kepada Prof. Dr. dr. N. Adiputra, MOH dan dr. A. A. Sagung Sawitri,

MPH sebagai pembimbing tesis atas segala perhatian dan kesabarannya

memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana, Prof.

Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD. (KEMD) atas kesempatan dan fasilitas yang

diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan

Program Pascasarjana di Universitas Udayana. Ucapan yang sama juga

disampaikan kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof.

Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K) yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis sebagai mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat

vii
di Universitas Udayana. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh

dosen dan staf karyawan Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat

atas bimbingan dan dukungannya selama menempuh pendidikan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis sampaikan kepada para

penguji tesis ini, yaitu Prof. dr. D.N. Wirawan, MPH, Dr. dr. Gde Ngurah

Indraguna Pinatih, MSc., Akp., SpGK dan Dr. dr. Dyah Pradnyaparamita Duarsa,

M.Si yang telah memberikan saran dan kritiknya terhadap tesis ini. Penulis juga

sampaikan banyak terima kasih kepada Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi,

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi serta Kepala Puskesmas Sempu

Banyuwnagi yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

Pada kesempatan ini pula penulis menyampaikan terima kasih sedalam-

dalamnya kepada responden dan surveyor yang telah berpartisipasi dan membantu

terlaksananya penelitian ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan untuk

istri dan anak-anak tercinta dan semua fihak yang telah memberikan doa dan

dukungan selama ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan dan tesis

ini dengan baik.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya

kepada kita semua.

Penulis

viii
ABSTRAK

PENGARUH AKTIVITAS FISIK, MEROKOK DAN RIWAYAT


PENYAKIT DASAR TERHADAP TERJADINYA HIPERTENSI
DI PUSKESMAS SEMPU, BANYUWANGI

Prevalensi hipertensi yang tinggi dan cenderung meningkat menjadi


penyebab utama penyakit jantung, stroke dan ginjal. Banyak hasil penelitian
tentang faktor risiko terjadinya hipertensi yang hasilnya tidak konsisten.
Penelitian ini membuktikan faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya
hipertensi di Puskesmas Sempu Banyuwangi.
Desain penelitian case control study dengan menggunakan 158 sampel (79
kasus:79 kontrol). Pengumpulan data melalui wawancara dengan kuesioner
terstruktur, kuesioner dari IPAQ dan sekunder catatan medis pasien. Teknik
sampling menggunakan consecutive sampling. Analisis data bivariat (chi-squered
test), multivariat (regresi logistik test).
Hasil analisis multivariat menunjukkan adjusted odd ratio sebagai berikut:
aktivitas fisik ringan (OR: 24,89; 95% CI: 4,15-149,31), stres sedang (OR: 19.72;
95% CI: 4,43-87,62), stres berat (OR: 32,55; 95% CI: 3,92-270,07) serta tingkat
pendidikan tinggi ( SMA-PT) yang protektif terhadap kejadian hipertensi (OR:
0,16; 95% CI: 0,04-0,57). Hasil analisis bivariat, faktor risiko yang
mempengaruhi terjadinya hipertensi adalah riwayat penyakit dasar, obesitas,
konsumsi garam berlebih, konsumsi lemak jenuh, riwayat keturunan hipertensi.
Sedang variabel independen yang tidak terbukti sebagai faktor risiko terjadinya
hipertensi adalah kebiasaan merokok (OR: 0,58; 95% CI: 0,18-1,86).
Kebiasaan merokok tidak terbukti sebagai faktor risiko terjadinya
hipertensi di Puskesmas Sempu, namun bukan berarti merokok tidak dapat
menyebabkan terjadinya hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
masukan bagi Dinas Kesehatan Banyuwangi, Puskesmas Sempu, Posbindu untuk
program promotif dan preventif penyakit hipertensi sehingga dapat menekan
terjadinya hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sempu.
Kata kunci: Aktivitas fisik, merokok, riwayat penyakit dasar, faktor risiko,
hipertensi.

ix
ABSTRACT

THE EFFECT OF PHYSICAL ACTIVITY, SMOKING AND HISTORY OF


PRIMARY DISEASE TO HYPERTENSION AT SEMPU PUPLIC HEALTH
CENTER, BANYUWANGI

Prevalence of highly hypertension and trends to increase become the main


causes of heart disease, stroke and kidney. A lot of research results about risk
factors of hypertension which has unconsistent result. This research proves that
the risk factors that may affect the occurrence of hypertension at Sempu Public
health center, Banyuwangi.
Case control study is used as research design by using 158 samples (79
cases : 79 control). Data are collected through interviews with a structured
questionnaire, a questionnaire of IPAQ and patient secondary medical records.
Sampling technique is using consecutive sampling. Bivariate data analysis (chi-
squered test), multivariate (regresi logistic test). Multivariate analysis indicated an
adjusted odds ratio as follows: light physical activity (OR: 24.89; 95% CI: 4.15-
149.31), moderate stress (OR: 19.72; 95% CI: 4.43-87, 62), heavy stress (OR =
32.55; 95% CI: 3.92-270.07) and high education levels (Senior High School-
University) were protective towards hypertension (OR: 0.16; 95% CI: 0.04-0.57).
The results of the bivariate analysis showed that risk factors that influence the
occurrence for hypertension are history of primary disease, obesity, excessive salt
intake, saturated fat intake, history of hypertension heredity. An independent
variable which is not proven as a risk factor of hypertension is smoking (OR:
0.58; 95% CI: 0.18-1.86).
Smoking habit is not proven as a risk factor for hypertension at Sempu
Public Health Center, but it does not mean that smoking can not lead to
hypertension. This research findings are expected as an input for Banyuwangi
Health Department, Sempu Public Health Center and Posbindu for promotion and
prevention program of hypertension thus reducing hypertension at Sempu Public
Helath Center.

Key Words: Physical activity, smoking, history of primary disease, risk factors,
hypertension

x
DAFTAR ISI

Halaman
SAMPUL DALAM ..................................................................................... ii
PRASYARAT GELAR ............................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ iv
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ......................................... v
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ................................................ vi
UCAPAN TERIMA KASIH ....................................................................... vii
ABSTRAK .................................................................................................. ix
ABSTRACT .................................................................................................. x
DAFTAR ISI .............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xiv
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG.............................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xvii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................... 5
1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................. 5
1.4.1 Manfaat Teoritis ............................................................ 5
1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Gambaran Kejadian Hipertensi. ................................................ 7
2.1.1 Gambaran Hipertensi .................................................... 7
2.1.2 Manifestasi Klinis Hipertensi........................................ 7

xi
2.1.3 Klasifikasi Hipertensi.................................................. 7
2.1.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi terjadinya
Hipertensi ...................................................................... 8
2.2 Konsep Aktivitas Fisik ............................................................ 14
2.2.1 Gambaran Aktivitas Fisik ............................................. 14
2.2.2 Manfaat Aktivitas Fisik ................................................. 15
2.2.3 Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap kejadian Hipertensi . 15
2.2.4 Cara Pengukuran Aktivitas Fisik ................................. 16
2.3 Konsep Rokok dan Merokok ................................................... 18
2.3.1 Gambaran Rokok dan Merokok .................................... 18
2.3.2 Kategori perokok........................................................... 18
2.3.3 Klasifikasi perokok berdasarkan jumlah rokok yang
dihisap ........................................................................... 18
2.3.4 Kandungan dalam Rokok ............................................... 19
2.3.5 Pengaruh Rokok terhadap terjadinya Hipertensi........... 20
2.4 Penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya Hipertensi ......... 21

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN


3.1 Kerangka Berpikir ..................................................................... 23
3.2 Konsep Penelitian...................................................................... 25
3.3 Hipotesis Penelitian................................................................... 25

BAB IV METODE PENELITIAN


4.1 Rancangan Penelitian ................................................................ 26
4.2 Definisi Kasus dan Definisi Kontrol ......................................... 27
4.3 Sumber Data Kasus dan Kontrol ............................................... 27
3.4 Cara Matching ............................................................................ 27
4.5 Besar Sampel ............................................................................. 28
4.6 Tehnik Pengambilan Sampel...................................................... 28
4.7 Cara Pengumpulan Data ............................................................ 29
4.8 Pengolahan Data......................................................................... 29

xii
4.9 Variabel Penelitian ..................................................................... 30
4.10 Definisi Operasional ................................................................ 32
4.11 Instrumen Penelitian .................................................................. 39
4.12 Analisis Data ............................................................................. 39
4.12.1 Analisis bivariat ............................................................ 39
4.12.2 Analisis multivariat ........................................................ 40

BAB V HASIL PENELITIAN


5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................... 41
5.2 Karakteristik Subjek Kelompok Kasus dan Kontrol .................... 42
5.3 Analisis Bivariat Faktor Risiko Terhadap Terjadinya Hipertensi 43
5.4 Analisis Multivariat Faktor Risiko terhadap kejadian Hipertensi 47

BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Aktivitas Fisik, Tingkat Stres dan Pendidikan Sebagai Faktor
Risiko Terjadinya Hipertensi ..................................................... 50
6.2 Variabel yang Secara Independen Tidak Terbukti Sebagai
Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi .......................................... 53
6.3 Variabel Merokok Tidak Terbukti Sebagai Faktor Risiko
Terjadinya Hipertensi ................................................................. 54
6.4 Keterbatasan Penelitian .............................................................. 55

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN


7.1 Simpulan ..................................................................................... 57
7.2 Saran ........................................................................................... 57

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN LAMPIRAN

xiii
DAFTAR GAMBAR
Hal.

Gambar 3.1 Konsep penelitian...... 25


Gambar 4.1 Desain case cantrol study.. 26

xiv
DAFTAR TABEL

Hal.

Tabel 2.1 Klasifikas tekanan darah 8


Tabel 4.1 Definisi operasional... 32
Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Subjek Kelompok Kasus dan
Kontrol............................................................................ 42
Tabel 5.2 Crude odd ratio Beberapa Faktor Risiko pada Kasus dan
Konrol......................................................................... 44
Tabel 5.3 Adjusted odd ratio Beberapa Variabel Terhadap Kejadian
Hipertensi ....................................................................................... 48

xv
DAFTAR SINGKATAN

TD Tekanan Darah
SBP Sistolic Blood Pressure
DBP Diastolic Blood Pressure
BB Berat Badan
TB Tinggi Badan
JNC Joint National Committee
CO Carbon Monoksida
CO2 Carbon Dioksida
NO Nitrit Oksida
Hb Hemoglobine
Riskesdas Riset Kesehatan Dasar
IPAQ International Physical Activity Questionnaire
METs Metabolic Equivalent Task
EDRF Endothelial Derive Relaxing Factor
WHO World Health Organization
PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
IMT Indeks Masa Tubuh
Dinkes Dinas Kesehatan
Kemenkes Kementrian Kesehatan

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Naskah Penjelasan Kepada Calon Responden Tentang Penelitian


yang akan Dilakukan
Lampiran 2. Formulir informed consent
Lampiran 3. Kuesioner
Lampiran 4. Hasil Analisis dengan STATA
Lampiran 5. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik dari RSUP Sanglah
Lampiran 6. Surat Ijin Penelitan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
Kabupaten Banyuwangi
Lampiran 7. Surat Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia dewasa ini sedang dihadapkan pada terjadinya transisi

epidemiologi, transisi demografi dan transisi teknologi, yang mengakibatkan

terjadinya perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi menjadi penyakit tidak

menular (noncommunicable diseases). Terjadinya transisi epidemiologi

disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan dalam hal: sosial ekonomi,

lingkungan dan perubahan struktur penduduk, yang mengakibatkan masyarakat

mengadopsi perilaku hidup yang tidak sehat, misalnya: kurang aktivitas fisik,

kebiasaan merokok, makan makanan berlemak dan kalori yang tinggi, serta

kebiasaan minum alkohol, yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit

tidak menular (Rahajeng & Sulistyowati, 2011). Penyakit hipertensi sebagai salah

satu penyakit tidak menular dewasa ini menjadi masalah yang besar dan serius,

karena prevalensi penyakit hipertensi yang tinggi dan cenderung meningkat.

Hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala sehingga menjadi pembunuh

diam-diam (the silent killer of death) dan menjadi penyebab utama timbulnya

penyakit jantung, stroke dan ginjal (Sutanto, 2010; Suiraoka, 2012).

World Health Organization (WHO, 2013) memperkirakan 1 milyar

penduduk di dunia menderita penyakit hipertensi dan diprediksi pada tahun 2025

ada sekitar 29% jiwa di dunia yang akan menderita penyakit hipertensi.

1
2

Prevalensi penyakit hipertensi rata-rata pada penduduk usia 18 tahun ke

atas sebesar 25,8%, namun cakupan kasus oleh tenaga kesehatan hanya sebesar

36,8% dari total penderita yang diperkirakan dan sisanya tidak terdiagnosis

dengan baik di masyarakat (Kemenkes RI., 2013). Sedangkan prevalensi penyakit

ini di Propinsi Jawa Timur sebesar 26,2% masih melebihi prevalensi nasional

(Kemenkes RI., 2013). Berdasarkan data 5 besar penyakit tidak menular di

Banyuwangi tahun 2013, penyakit hipertensi menduduki rangking pertama

sebesar 19.878 (41,39%) kasus, disusul diabetes, asma, penyakit jantung koroner,

penyakit stroke dan ginjal. Penyakit hipertensi di Puskesmas Sempu jumlahnya

paling banyak dibandingkan dengan puskesmas lainnya di Banyuwangi pada

tahun yang sama (Dinas Kesehatan Banyuwangi, 2013). Kasus hipertensi di

Puskesmas Sempu, menduduki rangking 2 dari 15 besar penyakit, yaitu sebesar

4.094 (16,09%) kasus. Jumlah ini cenderung mengalami peningkatan jika

dibandingkan tahun 2012 sebesar 3.780 (12,78%) kasus (Puskesmas Sempu,

2013).

Data Riskesdas tahun 2013, menunjukkan proporsi aktivitas fisik

penduduk yang tergolong kurang aktif di Indonesia sebesar 26,1%. Dari seluruh

propinsi di Indonesia terdapat 22 propinsi yang aktivitas fisik penduduknya

tergolong kurang aktif dengan proporsi di atas rerata nasional, termasuk di

Propinsi Jawa Timur yaitu sebesar 33,9% (Kemenkes, RI., 2013). Aktivitas fisik

penduduk di Kabupaten Banyuwangi diukur dari survei PHBS dan dijumpai

aktivitas fisik rumah tangga sehat sebesar 33%, artinya masih ada 67% rumah
3

tangga yang kurang aktivitas fisik, sedangkan target PHBS di Kabupaten

Banyuwangi sebesar 75% (Dinas Kesehatan Banyuwangi, 2013).

Proporsi penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas yang mempunyai

kebiasaan merokok dan mengunyah tembakau cenderung meningkat menurut

survei Riskesdas tahun 2007, 2010 dan 2013, berturut-turut sebesar 34,2%, 34,7%

dan 36,3%. Angka yang sama di Propinsi Jawa Timur sebesar 33%, masih di

bawah rerata nasional (Kemenkes RI, 2013). Data kebiasaan merokok di

Kabupaten Banyuwangi hanya tersedia dari PHBS. Kebiasaan tidak merokok di

dalam rumah menurut survei PHBS hanya sebesar 28% sedangkan target

kebiasaan tidak merokok di dalam rumah pada PHBS Kabupaten Banyuwangi

sebesar 75% (Dinas Kesehatan Banyuwangi, 2013).

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keterkaitan aktivitas

fisik dengan hipertensi masih inkonsisten. Aktivitas fisik kurang berpengaruh

terhadap terjadinya hipertensi dan demikian juga dengan merokok (Hashani, dkk.,

2014, Wahiduddin, dkk., 2013). Hasil sebaliknya menunjukkan bahwa aktivitas

fisik berat berhubungan dengan hipertensi (OR = 2,367) (Sundari, dkk., 2013).

Demikian juga dengan merokok, hasil berbeda juga ditunjukkan bahwa merokok

tidak terbukti atau tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi dengan p > 0,05

(Sugiarto, 2007, Umiyati, 2011).

Keterkaitan penyakit hipertensi dengan penyakit tidak menular lainnya di

Banyuwangi khususnya di Puskesmas Sempu, belum pernah diteliti sebelumnya,

padahal hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti: penyakit

diabetes, jantung, ginjal dan hipertiroid. Data Riskesdas tahun 2013, menunjukkan
4

prevalensi diabetes di Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan Riskesdas

2007, dari sebesar 1,1% meningkat menjadi sebesar 2,1%. Sedangkan prevalensi

diabetes di Propinsi Jawa Timur sebesar 2,5% di atas rerata nasional. Demikian

juga dengan prevalensi jantung, ginjal dan hipertiroid di Indonesia juga

mengalami peningkatan dan di Propinsi Jawa Timur di atas rerata nasional

(Kemenkes, RI., 2013).

Upaya yang telah dilakukan Puskesmas Sempu untuk mengatasi penyakit

hipertensi selama ini masih lebih banyak bersifat pengobatan (kuratif) di

puskesmas. Upaya untuk mendeteksi secara dini penyakit tidak menular, mulai

dirintis Puskesmas Sempu sejak 1 tahun yang lalu dengan program posbindu (pos

pembinaan terpadu) penyakit tidak menular usia 18 sampai dengan 60 tahun, yang

kegiatannya antara lain: pengukuran tinggi badan, berat badan, IMT, lingkar

perut, analisa lemak tubuh, pengukuran tekanan darah, kadar gula darah,

pemeriksaan kadar alkohol, kadar amfetamin, pemeriksaan klinis payudara, uji

paru sederhana dan konseling edukasi serta tindak lanjut lainnya (Puskesmas

Sempu, 2013). Hasil penelitian ini diharapkan dapat bersinergis dengan program

posbindu penyakit tidak menular yang telah berjalan, khususnya pencegahan

penyakit hipertensi.

Sehubungan dengan itu peneliti meneliti dengan judul: Pengaruh aktivitas

fisik, merokok dan riwayat penyakit dasar terhadap terjadinya hipertensi di

Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi tahun 2015.


5

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah aktivitas fisik mempengaruhi terjadinya hipertensi ?

1.2.2 Apakah merokok mempengaruhi terjadinya hipertensi ?

1.2.3 Apakah riwayat penyakit mempengaruhi terjadinya hipertensi ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi.

1.3.2 Tujuan Khusus

Membuktikan :

1. Aktivitas fisik mempengaruhi terjadinya hipertensi.

2. Merokok mempengaruhi terjadinya hipertensi.

3. Riwayat penyakit dasar mempengaruhi terjadinya hipertensi.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Dapat menambah wawasan serta konsistensi antara teori dengan hasil

penelitian bahwa aktivitas fisik, merokok dan riwayat penyakit dasar

berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bahan masukkan untuk Puskesmas Sempu guna meningkatkan promosi

kesehatan kepada masyarakat terkait pencegahan hipertensi.

2. Bahan masukan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dalam

menyusun program kesehatan khususnya yang berkaitan dengan

pencegahan hipertensi.
6

3. Bagi kalangan akademik, penelitian ini bermanfaat sebagai kontribusi

untuk memperkaya khasanah keilmuan dan pengembangan penelitian

terkait hipertensi di masa mendatang.

1.4.3 Manfaat bagi masyarakat

Menambah pengetahuan bagi masyarakat tentang faktor-faktor risiko yang

dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Kejadian Hipertensi

2.1.1 Gambaran Hipertensi

Hipertensi adalah kondisi dimana seseorang mempunyai tekanan darah

sistole (Sistolic Blood Pressure) lebih atau sama dengan 140 mmHg atau tekanan

darah diastole (Diastolic Blood Pressure) lebih atau sama dengan 90 mmHg

sesuai kriteria WHO atau memiliki riwayat penyakit hipertensi sebelumnya

(Bhadoria, dkk., 2014; Hamano, dkk., 2014).

2.1.2 Manifestasi Klinis Hipertensi

Julukan the silent disease diberikan kepada penyakit hipertensi ini. Hal

ini sesuai dengan kedatangannya yang tidak terduga dan tanpa menunjukkan

adanya gejala tertentu. Seringkali penderita hipertensi baru mengetahui setelah

penyakit hipertensi yang dideritanya menyebabkan berbagai komplikasi

(Suiraoka, 2012). Gejala hipertensi yang sering muncul adalah sakit kepala,

penglihatan kabur, pusing atau migrain, epitaksis, rasa berat di tengkuk, sukar

tidur, suka marah, telinga berdengung (Sudoyo, 2010; Sutanto, 2010).

2.1.3 Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi hipertensi berdasarkan peningkatan tekanan darah sistole dan

diastole. Klasifikasi hipertensi menurut The Sevent Report of The Joint National

(JNC 7) sebagai berikut.

7
8

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7


SBP (mmHg) DBP (mmHg) Klasifikasi JNC 7
< 120 < 80 Normal
120-139 80-89 Pre Hipertensi
140-159 90-99 Hipertensi derajat I
> 160 >100 Hipertensi derajat II
(JNC 7, 2005)

2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Hipertensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibedakan menjadi

faktor yang dapat dikontrol dan faktor yang tidak dapat dikontrol (Suiaroka,

2012).

2.1.4.1 Faktor yang dapat dikontrol

Faktor yang dapat dikontrol yang mempengaruhi terjadinya hipertensi,

antara lain:

1) Obesitas

Obesitas dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kolesterol dalam

tubuh, yang memicu terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis dapat

menyebabkan pembuluh darah menyempit sehingga meningkatkan

tahanan perifer pembuluh darah. Selain itu pasien hipertensi dengan

obesitas akan memiliki curah jantung dan sirkulasi volume darah lebih

tinggi dari pada hipertensi yang tidak obesitas. Dengan demikian beban

jantung dan sirkulasi volume darah orang hipertensi dengan obesitas lebih

tinggi jika dibandingkan dengan penderita hipertensi dengan berat badan

normal (Sutanto, 2010; Nguyen & Lau, 2012).

Menurut hasil penelitian cross sectional deskriptif di Port Harcourt,

Nigeria Selatan, dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 75 dosen,


9

diperoleh hasil bahwa prevalensi hipertensi ditemukan sebesar 21,33%.

Hipertensi yang memiliki overweight sebesar 60%, yang mengalami

obesitas sebesar 22,67% dan yang normal hanya sebesar 17,33%

(Ordinioha, 2013). Hal ini juga didukung hasil penelitian cross sectional di

India Tengah dengan jumlah sampel sebesar 939 orang,

mengidentifikasikan bahwa IMT 27,5 kg/m merupakan prediktor untuk

hipertensi pada populasi perkotaan, sementara obesitas sentral merupakan

prediktor hipertensi di populasi pedesaan (Bhadoria, dkk., 2014). Hasil

penelitian cross-sectional di Rio de Janerio dengan jumlah sampel 854,

diperoleh hasil bahwa kegemukkan dan obesitas berhubungan positif

dengan kejadian hipertensi, nilai p < 0,05 (Corra-Neto, dkk., 2014).

2) Aktivitas Fisik

Orang yang kurang aktivitas fisik cenderung memiliki curah jantung yang

lebih tinggi. Semakin tinggi curah jantung maka semakin keras kerja

setiap kontraksi sehingga semakin besar oksigen yang dibutuhkan oleh sel-

sel tubuh. Kurang aktivitas fisik juga risiko meningkatkan kelebihan berat

badan (Suiraoka, 2012; Wahiduddin, dkk., 2013).

Menurut hasil penelitian cross sectional di RSUP Dr. Wahidin

Sudirohusodo Makasar dengan jumlah sampel sebanyak 139 orang,

diperoleh hasil sebanyak 64,4% responden dengan aktivitas ringan

menderita hipertensi, dan sebanyak 100% responden yang beraktivitas

sedang tidak menderita hipertensi (Muliyati, 2011). Hasil penelitian yang

lain case control Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan dengan jumlah


10

sampel 164 responden, menunjukkan hasil bahwa aktivitas fisik kurang

merupakan faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya hipertensi, dengan

OR = 2,67; 95% CI: 1,20-5,90 (Wahiduddin, dkk., 2013). Hasil penelitian

cross sectional di Kosovo dengan besar sampel 1793 didapatkan hasil

bahwa aktivitas fisik kurang berhubungan dengan terjadinya hipertensi

dengan OR = 1,98; 95% CI : 1,46-2,74 (Hashani, dkk., 2014).

3) Merokok

Merokok atau mengunyah tembakau mempengaruhi terjadinya kenaikkan

tekanan darah dan bahan kimia yang terkandung dalam tembakau dapat

merusak lapisan dinding arteri yaitu menyebabkan terjadinya

penyempitan pembuluh darah arteri serta memudahkan terjadinya

aterosklerosis (Wahiduddin, dkk., 2013; Ansari, dkk., 2012).

Menurut hasil penelitian case control study di Virginia Barat dengan

jumlah sampel 2.889 peserta, diperoleh hasil bahwa kadar cotinine serum

lebih tinggi pada perokok berhubungan positif dengan tekanan darah

sistolik, dengan OR = 3,24, 95% CI : 1,86-5,63, p = 0,006 (Alshaarawy,

dkk., 2013). Hasil penelitian yang lain case control study di Puskesmas

Bangkala Kabupaten Jeneponto dengan jumlah sampel 164 responden,

diperoleh hasil bahwa perilaku merokok merupakan faktor risiko terhadap

kejadian hipertensi, dengan OR = 2,32; 95% CI : 1,24-4,35 (Wahiduddin,

dkk., 2013). Penelitian cross sectional di Semarang dengan sampel 115

responden menunjukkan hasil bahwa kebiasaan merokok berhubungan

dengan terjadinya hipertensi p =0,005, jumlah rokok berhubungan dengan


11

hipertensi p= 0,001, cara menghisap rokok dengan hipertensi p=0.003

(Tisa & Angela Novalia, 2012). Penelitan case control di Makasar dengan

sampel 144 responden menunjukkan hasil pengaruh rokok dengan

hipertensi OR= 1,42; 95%CI: 0,73-2,76) ( Anggraeni Rini, 2013).

4) Konsumsi Lemak Jenuh.

Asupan lemak jenuh dapat mengakibatkan dislipidemia yang merupakan

salah satu faktor utama risiko arterosklerosis, yang pada gilirannya

berpengaruh pada penyakit kardiovaskuler (Suiraoka, 2012).

Menurut hasil penelitian case control di Kabupaten Karanganyar Jawa

Tengah dengan jumlah sampel sebesar 310 responden, menunjukkan hasil

bahwa konsumsi lemak jenuh menjadi faktor risiko terjadinya hipertensi,

nilai p = 0,001; OR = 7,72; 95% CI: 2,45-24,38 (Sugiharto, 2007). Hasil

penelitian case control yang lainnya di Semarang dengan sampel 40

responden, menghasilkan asupan tinggi lemak menjadi faktor risiko

kejadian hipertensi obesitik, nilai p = 0,002; OR = 4,3; 95% CI: 1,696-

11,069 (Kapriana & Muhammad Sulchan, 2012).

5) Konsumsi Garam Berlebihan

Natrium dan klorida adalah ion utama pada cairan ekstraselular. Konsumsi

garam dapur berlebihan dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi

natrium di dalam cairan ekstraseluler. Meningkatnya volume cairan pada

ekstraseluler dapat meningkatkan volume darah sehingga berdampak pada

kenaikan tekanan darah (Sutanto, 2010; Muliyati, 2011).


12

Menurut hasil penelitian cross sectional di RSUD Dr. Wahidin

Sudirohusodo Makasar dengan jumlah sampel sebanyak 139 responden,

diperoleh hasil bahwa sebanyak 93,7% responden yang mengkonsumsi

garam natrium lebih menderita hipertensi dan 63,2% yang mengkonsumsi

natrium kurang tidak menderita hipertensi, nilai p = 0,001 (Muliyati,

2011). Penelitian cross sectional di Propinsi Jiangsu Cina juga

menunjukkan bahwa konsumsi garam yang tinggi berhubungan dengan

hipertensi dengan nilai p = 0.001 (Qin Yu, dkk., 2014).

6) Konsumsi Alkohol

Mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan sintesis katekolamin, yang

dapat memicu kenaikan tekanan darah (Suiraoka, 2012).

Menurut hasil penelitian cross sectional di Kabupaten Minahasa dengan

jumlah sampel 107 orang, menunjukkan bahwa konsumsi alkohol

berhubungan positif dengan kejadian hipertensi, nilai p = 0.001; OR = 4,3;

95% CI: 1.86-10.28 (Diyan, 2013).

7) Stres

Faktor risiko stres berpengaruh dengan terjadinya hipertensi dikaitkan

dengan peran saraf simpatis yang mempengaruhi hormon epinefrin

(adrenalin). Hormon epinefrin (adrenalin) dapat mempengaruhi

peningkatkan tekanan darah (Sutanto, 2010; Hamano, dkk., 2012).

Menurut hasil penelitian observasional di Jakarta dengan jumlah sampel 58

responden didapatkan hasil stres (tegang) berpengaruh terhadap hipertensi

p=0,01; OR= 6,2; 95% CI: 1,4-26,2) (Korneliani, 2012) dan penelitan case
13

control di Kabupaten Bantul Yogyakarta dengan 216 sampel menunjukkan

bahwa faktor psikologis stres mempengaruhi terjadinya hipertensi dengan

OR= 3,28; 95% CI: 1,05-10,263 (Elvyrah Faisal, dkk., 2011) dan

penelitian cross sectional di Kosovo dengan jumlah sampel 1793

responden, menunjukkan hasil bahwa faktor psikososial (permusuhan)

berhubungan dengan hipertensi dengan OR = 1,42, 95% CI: 1,17-2,08

(Hashani, dkk., 2014).

2.1.4.2 Faktor yang tidak dapat di kontrol

1) Riwayat keluarga (Keturunan)

Faktor keturunan memang memilki peran yang besar terhadap munculnya

hipertensi. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa kejadian hipertensi

lebih banyak terjadi pada kembar homozigot jika dibandingkan dengan

heterozigot (Sutanto, 2010; Sundari, dkk., 2013).

Menurut hasil penelitian case control di Banyuwangi didapatkan hasil

bahwa pada individu dengan genotip homozigot TT 3 kali lebih banyak

mengalami hipertensi dari pada genotip heterozigot TC pada wilayah

pantai maupun pegunungan (Sundari, dkk., 2013). Penelitian lain dengan

case control di Karanganyar Jawa Tengah, menunjukkan bahwa riwayat

keluarga dengan hipertensi mempengaruhi terjadinya hipertensi, dengan p

= 0,001; OR = 4,04; 95% CI : 1,92-8,47 (Sugiharto, 2007).

2) Jenis Kelamin

Pada umumnya pria lebih terserang hipertensi dibandingkan dengan

wanita. Hal ini dikarenakan pria banyak mempunyai faktor risiko yang
14

mempengaruhi terjadinya hipertensi seperti merokok, kurang nyaman

terhadap pekerjaan dan makan tidak terkontrol. Biasanya wanita akan

mengalami peningkatan hipertensi setelah masa menopause (Suiraoka,

2012). Menurut hasil penelitian cross sectional di Kosovo, menunjukkan

bahwa pria lebih berisiko menderita hipertensi dengan OR = 1,41; 95% CI:

1,19-1,58 (Hashani, dkk., 2014).

3) Umur

Hilangnya elastisitas pembuluh darah dan aterosklerosis merupakan

faktor penyebab hipertensi usia tua (Sutanto, 2010).

Menurut hasil penelitian case control di Karanganyar Jawa Tengah,

meunjukkan bahwa umur menjadi faktor risiko penyakit hipertensi. Umur

56-65 tahun menjadi faktor risiko hipertensi, p = 0,001; OR = 4,76; 95%

CI: 2,0-11,50 (Sugiharto, 2007). Menurut hasil penelitian cross sectional

di Kosovo, menunjukkan bahwa usia yang lebih tua berkorelasi positif

dan signifikan terhadap hipertensi dengan OR = 1,03; 95% CI: 1,1,02-1,05

(Hashani, dkk., 2014).

2.2 Konsep Aktivitas Fisik

2.2.1 Gambaran Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik dan olah raga sebenarnya sangat berhubungan tetapi pada

dasarnya berbeda. Olah raga termasuk aktivitas fisik, namun tidak semua jenis

aktivitas fisik adalah olah raga. Aktivitas fisik merupakan setiap gerakan tubuh

yang dihasilkan oleh otot rangka yang mengeluarkan energi (Suiraoka, 2012).
15

Aktivitas fisik yang kurang merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit

kronis, termasuk salah satunya adalah hipertensi (Sutanto, 2010; Sudoyo, 2010).

2.2.2 Manfaat aktivitas fisik

Aktivitas fisik secara teratur dapat bermanfaat positif terhadap kesehatan

antara lain: dapat mencegah penyakit jantung, stroke, hipertensi, diabetes,

osteoporosis dan lain-lain. Aktivitas fisik teratur juga bermanfaat dalam

mengendalikan berat badan, otot menjadi lebih lentur dan tulang menjadi kuat,

bentuk tubuh lebih ideal dan proporsional, lebih percaya diri, lebih bertenaga

serta lebih bugar sehingga secara keseluruhan kesehatan kita menjadi lebih baik

(Wahiduddin, dkk., 2013; Mellisa, 2013).

2..2.3 Pengaruh aktivitas fisik terhadap kejadian hipertensi

Beberapa faktor yang berperan dalam pengendalian tekanan darah dapat

dirumuskan sebagai berikut: Tekanan darah = curah jantung x tahanan perifer

(Sudoyo, 2010). Pada awal permulaan aktivitas fisik dan selama aktivitas fisik

terjadi peningkatan denyut jantung hal ini dapat menyebabkan peningkatan curah

jantung sehingga dapat mengakibatkan meningkatnya tekanan darah. Peningkatan

curah jantung dapat terjadi karena disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan

suplai oksigen dari otot-otot yang bekerja (Kapriana & Muhammad Sulchan 2012;

Mellisa, 2013). Sementara itu aliran darah yang meningkat saat aktivitas fisik

dapat menjaga endotel (lapisan dinding) pembuluh darah arteri dengan

diproduksinya nitrit oksida (NO). NO akan merangsang pembentukan endothelial

derive relaxing factor (EDRF) yang berfungsi vasodilatasi atau melebarkan arteri.

Dalam keadaan kondisi istirahat aliran darah pada arteri koronaria berkisar 200
16

ml/menit (4% dari total curah jantung). Hasil penelitian menunjukkan bahwa

peningkatan 4 ml/menit sudah dapat menghasilkan nitrit oksida (NO) untuk

memperbaiki endotel arteri. Aktivitas fisik sedang (senam atau jalan kaki) dapat

menyebabkan meningkatnya aliran darah sampai 350 ml/menit (naik 150

ml/menit) hal ini sudah cukup untuk mencegah endotel dari proses aterosklerosis.

Namun semua itu baru bisa efektif jika aktivitas fisik yang teratur dan

membutuhkan waktu minimal 30 menit (Sutanto, 2010; Sharman, dkk., 2014).

Pada aktivitas fisik yang senantiasa aktif dan teratur akan menyebabkan

pembuluh darah cenderung lebih elastis sehingga akan mengurangi tahanan

perifer (Suiraoka, 2012). Aktivitas fisik yang teratur pada gilirannya juga akan

menyebabkan kerja jantung menjadi lebih efisien sehingga curah jantung akan

berkurang dan akan menyebabkan penurunan tekanan darah (Sutanto, 2010;

Wahiduddin. dkk., 2013). Menurut hasil penelitian case control di Makasar,

menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang kurang merupakan faktor risiko

terjadinya hipertensi dengan OR = 2,67; 95% CI : 1,20-5,90 (Wahiduddin, dkk.,

2013).

2.2.4 Cara pengukuran aktivitas fisik

International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) merupakan salah

satu jenis kuesioner yang dapat digunakan untuk mengukur aktivitas fisik

seseorang. IPAQ berisikan pertanyaan yang meliputi jenis, durasi dan frekuensi

seseorang melakukan aktivitas fisik dalam jangka waktu tertentu misalkan dalam

7 hari terakhir. Berbagai jenis aktivitas fisik tersebut dikelompokkan menjadi tiga

tingkatan yaitu aktivitas ringan, aktivitas sedang dan aktivitas berat. Pengukuran
17

aktivitas fisik dapat dilakukan dengan cara mengukur banyaknya energi yang

dikeluarkan untuk aktivitas setiap menitnya. Metode IPAQ memiliki kelebihan

yaitu memiliki ketelitian yang tinggi dan juga mudah di gunakan khususnya pada

responden dewasa. Sebagai standar yang dipakai adalah banyaknya energi yang

dikeluarkan tubuh dalam keadaan istirahat duduk yang dinyatakan dalam satuan

METs (Metabolic Equivalent Task). Satu METs diartikan sebagai energi yang

dikeluarkan per menit/kg BB orang dewasa (1 METs = 1.2 kkal/menit). IPAQ

menetapkan skor aktivitas fisik dengan rumus:

METs/minggu = METs Level (jenis aktivitas) X Jumlah menit aktivitas X Jumlah

hari/minggu.

Kategori aktivitas fisik menurut IPAQ adalah total energi yang dikeluarkan dalam

aktivitas fisik dalam satu minggu (7 hari) terakhir, dikatakan aktivitas ringan jika

kurang dari 600 METs/minggu, aktivitas sedang jika sebesar antara 600 1500

METs/minggu, sedangkan aktivitas berat jika lebih dari 1500 METs/minggu

(Craig, dkk., 2003; IPAQ group, 2002; Wolin, dkk., 2008; Harvard Publication

Health, 2009).

Metode lain dengan penghitungan skor IPAQ dengan mean std.dev telah

dilakukan di FIK UNY dengan skor IPAQ rata-rata : 7248,13 + 2420,58 METs

(Sudibjo, Arovah & Lakmi R., 2015) dan penelitian di Menado juga memakai

perhitungan skor IPAQ dengan mean std.dev dengan skor IPAQ rata-rata :

2137,01 + 1457,53) (Novitasary, Nelly & Shirley, 2014).


18

2.3 Konsep rokok dan merokok

2.3.1 Gambaran rokok dan merokok

Rokok adalah gulungan kertas berbentuk silinder yang panjangnya antara

70-120 mm dan diameternya sekitar 10 mm. Rokok berisi olahan daun tembakau,

cengkeh, kelembak dan filter. Merokok adalah membakar rokok dan kemudian

dihisap asapnya dapat menggunakan rokok batangan ataupun menggunakan alat

bantu pipa (WHO, 2010).

2.3.2 Kategori Perokok

Kategori perokok dilihat dari segi orang yang menghisap asap rokok dapat

dibedakan menjadi: perokok aktif dan perokok pasif. Hasil penelitian cross

sectional di Propinsi Isfahan dan Propinsi Markasi Iran Tengah, dengan jumlah

sampel 6.123 orang, menunjukkan bahwa sebanyak 893 laki-laki (14,6%)

penderita hipertensi yang masing-masing adalah perokok aktif (28,6%) perokok

pasif (28,8%), dan bukan perokok 42,5% (Ansari, dkk., 2012).

2.3.3 Klasifikasi perokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap

Klasifikasi perokok dilihat dari banyaknya batang rokok yang dihisap,

dapat dibedakan menjadi: perokok ringan jika menghisap rokok kurang dari 10

batang rokok/hari, perokok sedang jika menghisap rokok 10-20 batang/hari dan

perokok berat jika menghisap rokok lebih 20 batang/hari (Tisa & Angela Novalia,

2012). Menurut hasil penelitian cross sectional di Semarang, menunjukkan bahwa

kebiasaan merokok berhubungan dengan kejadian hipertensi dengan hasil analisis

sebagai berikut jumlah rokok yang dihisap dengan nilai p<0,001, cara menghisap
19

rokok dengan nilai p= 0,003; OR= 3,938 dan lama menghisap rokok dengan nilai

p<0,001; OR= 9,000 (Tisa & Angela Novalia, 2012).

2.3.4 Kandungan dalam rokok

Asap rokok yang dihisap mengandung bermacam-macam bahan kimia

yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahan kimia yang ada di rokok dibedakan

menjadi fase partikular dan fase gas. Fase partikular meliputi nikotin, nitrosamine,

nitrosonornikotin, polisiklik hidrokarbon, dan carsinogenic amine. Fase gas

meliputi carbon monoksida (CO), carbon dioksida (CO2) dan lain-lain. Rokok

diperkirakan mengandung sekitar 4000 zat toksik dan 60% diantaranya bersifat

carsinogenic (Diyan, 2013; Ansari, dkk., 2012).

1) Nikotin

Nikotin berpengaruh terhadap kenaikan tekanan darah, denyut jantung,

dan meningkatnya kontraksi otot jantung sehingga dipaksa untuk

menggunakan oksigen semakin besar. Nikotin juga berdampak

vasokontriksi pembuluh darah perifer. Saat seseorang menghisap rokok

beberapa detik kemudian nikotin sudah mencapai otak, kemudian otak

merangsang kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon epinefrin

(adrenalin) yang mempengaruhi terjadinya hipertensi (Tisa & Angela

Novalia, 2012; Wahiduddin, dkk,. 2013).

2) Carbon Monoksida (CO)

Gas CO merupakan sejenis gas hasil dari pembakaran dari unsur zat

karbon (zat arang). CO bersifat toksik, transport dan penggunaannya

bersaing dengan oksigen dalam tubuh. Daya ikat CO dengan eritrosit lebih
20

kuat dibandingkan dengan oksigen dalam eritrosit, sehingga akan

membentuk carboxyhemoglobin (CoHb) yang berdampak tubuh akan

kekurangan oksigen. Seorang perokok mempunyai rata-rata 2,5%-13,5%

lebih banyak CoHb di dalam eritrosit jika dibandingkan dengan orang

yang tidak merokok. CO juga dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan

penyimpanan kolesterol di dalam pembuluh darah arteri sehingga

mempengaruhi terbentuknya aterosklerosis dalam pembuluh darah

(Sitepoe, 1997; Tisa & Angela Novalia, 2012).

3) Tar

Tar merupakan senyawa polisiklik hidrokarbon aromatika yang bersifat

carsinogenic. Tar dapat merusak sel paru-paru karena lengket serta

menempel pada saluran nafas dan paru-paru sehingga dapat

mengakibatkan kanker. Endapan tar berupa warna coklat dapat terjadi di

gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Masuknya tar ke dalam saluran

pernafasan dan paru-paru tergantung pada hisapan yang dalam, menghisap

berkali-kali, dan banyaknya rokok yang dihisap (Sitepoe, 1997; Tisa &

Angela Novalia, 2012).

2.3.5 Pengaruh merokok terhadap terjadinya hipertensi

Tekanan darah dapat dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer.

Sedangkan curah jantung dan tahanan perifer dapat dipengaruhi oleh berbagai

faktor salah satunya adalah merokok. Kandungan nikotin dalam rokok dapat

menyebabkan meningkatkan denyut jantung, bertambahnya kontraksi otot

jantung, menyebabkan vasokontriksi pada pembuluh darah perifer dan pembuluh


21

darah di ginjal sehingga mempengaruhi peningkatan tekanan darah (Sitepoe,

1997). Nikotin juga mengganggu sistem saraf simpatis dengan perangsangan

hormon epinefrin (adrenalin) yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan

darah. Meningkatnya tekanan darah juga dipengaruhi oleh kandungan karbon

monoksida (CO) yang dihisap dari rokok oleh perokok aktif atau pasif. Di dalam

eritrosit, CO mempunyai daya ikat yang lebih kuat dengan hemoglobin

dibandingkan dengan oksigen, sehingga jika seseorang menghisap rokok kadar

oksigen dalam darah akan berkurang. Jika sel-sel tubuh kekurangan oksigen maka

tubuh akan melakukan kompensasi pembuluh darah dengan cara vasokontriksi.

Bila vasokontriksi berlangsung lama maka pembuluh darah akan mudah terjadi

aterosklerosis (Sitepoe, 1997; Tisa & Angela Novalia, 2012). Hasil penelitian

cross sectional di Kabupaten Minahasa, dengan jumlah sampel 107 orang,

menunjukkan hasil bahwa kebiasaan merokok mempengaruhi terjadinya

hipertensi p = 0.001; OR = 6.0; 95% CI: 2,53-14,22 (Diyan, 2013).

2.4 Penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi

Penyebab hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu: hipertensi essensial

(hipertensi primer) yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder

yang disebabkan oleh penyakit lain. Sekitar 90% penderita hipertensi termasuk

hipertensi primer, sedangkan yang 10% termasuk disebabkan hipertensi sekunder

(Suiraoka, 2012). Penyebab hipertensi sekunder antara lain: penyakit ginjal yang

disebut hipertensi renal (renal hypertension) yaitu penyakit ginjal yang dapat

mempengaruhi kelenjar adrenal, termasuk di antaranya adalah glomerulonefritis,


22

pielonefritis, nekrosis tubular akut, tumor ginjal. Kelainan vasculer juga dapat

menyebabkan hipertensi sekunder seperti aterosklerosis, trombosis, emboli

kolesterol, aneurisma, hiperplasia. Kelainan endokrin seperti diabetes melitus,

hipertiroidisme, hipotiroidisme juga menjadi penyebab hipertensi sekunder.

Penyebab lain dari hipertensi sekunder yaitu hipertensi karena kehamilan

(gestational hypertension) yang biasanya terjadi pada trimester ke tiga kehamilan

(Sudoyo, 2010; Sutanto, 2010).


BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Berpikir

Obesitas dapat memicu terjadinya peningkatan kolesterol dalam darah

yang memudahkan terjadinya aterosklerosis sehingga berdampak penyempitan

pembuluh darah. Hal ini mengakibatkan beban kerja jantung dan tahanan perifer

meningkat yang berpengaruh terjadinya hipertensi. Hipertensi juga dipengaruhi

oleh aktivitas fisik ringan, orang yang kurang aktivitas cenderung memiliki curah

jantung yang lebih tinggi. Kurang aktivitas fisik cenderung memicu terjadi

obesitas yang berisiko meningkatkan aterosklerosis yang dapat meningkatkan

tahanan perifer dan meningkatkan curah jantung yang akan mempengaruhi

terjadinya hipertensi.

Pengaruh rokok terhadap tekanan darah dikaitkan dengan kandungan

nikotin dan karbon monoksida (CO) dalam rokok. Nikotin dapat meningkatkan

curah jantung, meningkatnya kontraksi otot jantung, menyebabkan vasokontriksi

pembuluh darah perifer, vasokontriksi pembuluh darah ginjal serta mengganggu

saraf simpatis dengan cara merangsang hormon epinefrin (adrenalin) yang bersifat

memacu peningkatan curah jantung sehingga mempengaruh terjadinya hipertensi.

Sedangkan karbon monoksida (CO) mempunyai daya ikat dengan hemoglobin

(Hb) yang lebih kuat, jika dibandingkan daya ikat oksigen dengan hemoglobin,

hal ini mengakibatkan kadar oksigen dalam darah menurun. Untuk memenuhi

kebutuhan oksigen dalam darah maka pembuluh darah akan mengkompensasi

23
24

dengan cara vasokontriksi sehingga menyebabkan meningkatnya tahanan perifer

yang berpengaruh teehadap hipertensi.

Asupan lemak jenuh dapat menimbulkan dislipidemia yang memicu

terjadinya aterosklerosis sehingga menyebabkan penyempitan pembuluh darah,

hal ini mengakibatkan peningkatan beban jantung dan tahanan perifer yang

mempengaruhi terjadinya hipertensi. Konsumsi garam dapur berlebihan juga

mempengaruhi terjadinya hipertensi. Sifat natrium menyebabkan retensi cairan di

dalam ekstraseluler meningkat, yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi.

Mengkonsumsi alkohol berlebihan juga dapat menyebabkan meningkatkan

sintesis katekolamin yang dapat memicu hipertensi. Sedangkan hubungan stres

dengan hipertensi dikaitkan dengan saraf simpatis yang dapat merangsang

meningkatnya hormon epinefrin (adrenalin) yang berpengaruh terhadap

hipertensi.

Riwayat keluarga dengan hipertensi dikaitkan dengan banyaknya kejadian

hipertensi terjadi pada kembar homozigot jika dibandingkan dengan heterozigot.

Sedangkan kejadian hipertensi berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih banyak

terserang hipertensi daripada perempuan, hal ini karena laki-laki lebih banyak

mempunyai faktor risiko terjadinya hipertensi. Peningkatan kejadian hipertensi

juga dipengaruhi oleh umur, semakin bertambah umur seseorang lebih berisiko

hilangnya elastisitas pembuluh darah dan terjadinya aterosklerosis yang

merupakan faktor penyebab hipertensi di usia tua. Kejadian hipertensi juga dapat

disebabkan oleh penyakit lain, terutama terjadi pada hipertensi sekunder.


25

Penyebab hipertensi sekunder antara lain adalah penyakit ginjal, kardiovaskuler

serta penyakit endokrin seperti: diabetes, hipertiroid.

3.2 Konsep Penelitian

Variabel independen :
Aktivitas fisik Variabel dependen:
Merokok Hipertensi
Riwayat penyakit dasar
Variabel confounding :
Obesitas
Konsumsi garam
Konsumsi lemak jenuh
Stress
Umur
Jenis kelamin
Riwayat keluarga
Konsumsi alkohol

Keterangan: : Diteliti : Tidak diteliti

Gambar 3.1 Konsep penelitian pengaruh aktivitas fisik, merokok dan riwayat penyakit
dasar terhadap terjadinya hipertensi di Puskesmas Sempu Kabupaten
Banyuwangi tahun 2015.

3.3 Hipotesis Penelitian

3.3.1 Aktivitas fisik mempengaruhi terhadap terjadinya hipertensi.

3.3.2 Merokok mempengaruhi terhadap terjadinya hipertensi.

3.3.3 Riwayat penyakit dasar mempengaruhi terhadap terjadinya hipertensi.


BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan yaitu case control study, merupakan

rancangan penelitian epidemiologi analitik observasional yang menelaah

hubungan antara efek tertentu dengan faktor risiko tertentu. Rancangan case

control dapat digunakan untuk menilai seberapa besarkah peran faktor risiko

terhadap kejadian penyakit (Sastroasmoro, 2011; Schlesselman, 1982).

Rancangan penelitian case control study pada penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Penelitian dimulai di sini

Efek
Faktor risiko +
Retrospektif
Kasus :
Hipertensi
Faktor risiko -

Populasi
Efek
Faktor risiko +
Retrospektif Kontrol :
Bukan
Hipertensi
Faktor risiko -

Bagan 4.1 : Desain case control study (Notoatmodjo, 2010).

26
27

4.2 Definisi kasus dan definisi kontrol

Kasus adalah penderita hipertensi usia 18-65 tahun, menanda tangani

informed consent, datang ke Puskesmas Sempu pada periode waktu Februari -

April 2015 dengan kriteria SBP 140 mmHg atau DBP 90 mmHg atau kedua-

duanya. Kontrol adalah bukan penderita hipertensi usia 18-65 tahun, menanda

tangani informed consent, datang ke Puskesmas Sempu pada periode waktu

Februari - April 2015.

4.3 Sumber Data Kasus dan Kontrol

Sumber data Kasus dan Kontrol berasal dari pasien di Poli Umum

Puskesmas Sempu berupa data primer yang diperoleh langsung dari hasil

wawancara dengan responden berpedoman pada kuesioner yang berisikan

pertanyaan berkaitan dengan variabel penelitian. Sedangkan data sekunder

diperoleh secara tidak langsung dari catatan medis pasien Poli Umum Puskesmas

Sempu misalnya: tekanan darah, berat badan.

4.4 Cara Matching

Matching individual yaitu dengan cara memilih sampel kontrol dengan

karakteristik yang sama dengan sampel kasus. Antara Kelompok Kasus dan

Kelompok Kontrol dilakukan matching atau dimiripkan dalam hal umur dan jenis

kelamin. Cara melakukan matching untuk umur dengan memilih umur sampel

kontrol yang masuk dalam interval 10 tahun dari umur sampel kasus (Riskesdas,

2013).
28

4.5 Besar Sampel

Besar sampel penelitian dapat ditentukan dengan memperhatikan Odds

Ratio (OR) hasil penelitian sebelumnya. Untuk menentukan besar sampel dalam

penelitian ini menggunakan rumus WHO, sebagai berikut.

n=

Hypothesis test for an odds ratio:

Level of significance (%) =5

Power of the test (%) = 80

The value of the Odds Ratio = 1.50

Anticipated probability of exposure given disease = 0.38

Anticipated probability of exposure given no disease = 0.20

Sample size n = 79

Setelah dilakukan penghitungan dengan rumus WHO dengan bantuan

komputer diperoleh besar sampel 79. Perbandingan jumlah sampel dalam

penelitian ini adalah 1 : 1 yaitu jumlah kasus 79 sampel : jumlah kontrol 79

sampel. Jadi total sampel dalam penelitian ini adalah 158 sampel.

4.6 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan Sampel Kasus dan Sampel Kontrol digunakan dengan

consecutive sampling, cara pengambilan sampel dilakukan di Puskesmas Sempu


29

dengan memilih sampel yang memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu

tertentu sampai jumlah sampel terpenuhi.

4.7 Cara Pengumpulan Data

Cara mendapatkan data Sampel Kasus dan Sampel Kontrol dilakukan

dengan wawancara. Tehnik wawancara pada responden dilakukan dengan cara

selang-seling (bergantian), misalkan hari pertama untuk memilih sampel kasus

(penderita hipertensi) kemudian dilakukan wawancara. Pada hari ke dua memilih

sampel kontrol (bukan penderita hipertensi) yang kemudian dilakukan

wawancara. Demikian juga hari ke tiga dan ke empat dilakukan secara bergantian

untuk memilih sampel kasus dan sampel kontrol dan seterusnya sampai sampel

total terpenuhi. Wawancara sampel kasus dan sampel kontrol dilakukan di

Puskesmas Sempu setelah selesai pemeriksaan dan pengobatan sehingga tidak

menggangu proses kegiatan di poli umum Puskesmas Sempu.

4.8 Pengolahan Data

4.8.1 Cleaning

Data yang sudah terkumpul dilakukan cleaning data untuk mengecek agar

tidak ada data yang tidak perlu.

4.8.2 Editing

Data yang sudah terkumpul, sebaiknya dilakukan pengeditan data terlebih

dahulu dan diperbaiki jika ada data yang salah. Saat mengedit data perlu

dicek kode-kode yang tidak sesuai dengan katagori dalam daftar


30

pertanyaan kuesioner, apakah ada data yang hilang, data yang tidak masuk

akal dan data tidak konsisten sehingga diperoleh data yang benar-benar

konsisten.

4.8.3 Coding

Coding diperlukan karena data yang dikumpulkan banyak macamnya dan

untuk mempermudah analisa data yang dilakukan dengan komputer.

4.8.4 Entry Data

Memasukkan data yang telah diberi kode ke program software computer

yang selanjutnya untuk dilakukan analisis.

2.9 Variabel Penelitian

4.9.1 Variabel dependen

Variabel dependen penelitian adalah hipertensi.

4.9.2.Variabel independen

Variabel independen penelitian adalah:

1. Aktivitas fisik

2. Merokok

3. Riwayat penyakit dasar


31

4.9.3 Variabel confounding adalah:

1. Obesitas

2. Konsumsi garam

3. Konsumsi lemak jenuh

4. Stress

5. Riwayat keluarga hipertensi

6. Umur

7. Jenis Kelamin
32

4.10 Definisi Operasional

Tabel 4.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Cara/alat ukur Hasil Rencana Analisis Skala


Pengukuran
Dependen:
1 Hipertensi Tekanan darah lebih dari Data sekunder: Tekanan darah: 1. Normal : < 120/80 mmHg Ordinal
normal dengan Melihat data rekam Sistole 2. Pre Hipertensi: 120-139/
menggunakan kriteria medik tekanan darah Diastole 80-89 mmHg
hipertensi dari JNC: untuk sampel kasus. 3. Hipertensi derajat I:
SBP 140 mmHg atau Pengukuran : 140-159/90-99 mmHg
DBP 90 mmHg, salah Untuk tekanan darah 4. Hipertensi derajat II:
satu atau kedua-duanya. sampel kontrol > 160/>100 mmHg.
Mengukur tekanan darah (JNC 7, 2005).
menggunakan tensimeter
dan stetoskop yang
dilakukan pada lengan
atas yang dilakukan oleh
perawat yang
sebelumnya dilatih.
Independen: Intensitas kegiatan atau Kuesioner. METs/minggu Menggunakan skor IPAQ: Ordinal
1 Aktivitas gerakan otot yang Menggunakan IPAQ Mean, Std. dev. (Novitasary,
fisik dilakukan sehari-hari (International Physical dkk., 2014; Sudibjo, dkk.,
untuk membakar energi Activity Questionnaire). 2015).
dan dijumlahkan dalam METs/minggu = METs Aktivitas ringan: <3494
satuan METs, sesuai level (jenis kegiatan) x METs
33

standar IPAQ. jumlah menit aktivitas x Aktivitas sedang: 3494-6149


jumlah hari/minggu. METs
Dihitung dalam 7 hari Aktivitas Tinggi: >6149
terakhir, penghitungan METs
dilakukan oleh peneliti.
2 Merokok Kebiasaan terkait Kuesioner. Riwayat 0: Tidak merokok Nominal
menghisap rokok atau Menanyakan pada merokok 1: Ya (Pernah merokok/masih
riwayat merokok, responden saat merokok)
jumlah batang rokok wawancara tentang Jumlah rokok yang dihisap:
Jumlah rokok Ordinal
yang dihisap dan lama riwayat merokok, jumlah
yang dihisap 1. Perokok ringan:
merokok sebelum merokok yang dihisap,
terdiagnosa menderitan kurang dari 10 batang per
lama merokok, yang
hipertensi oleh tenaga ditekankan saat sebelum hari
kesehatan. didiagnosis menderita 2. Perokok sedang:
hipertensi. 10 - 20 batang per hari
3. Perokok berat:
lebih dari 20 batang per
hari

Lama merokok Lama merokok: Ordinal


1. Perokok ringan:
Merokok < 10 tahun
2. Perokok sedang:
Merokok 10-20 tahun
3. Perokok berat:
Merokok > 20 tahun
34

Perokok pasif Orang yang tidak Kuesioner. Perokok pasif 0: Tidak 1: Ya Nominal
merokok namun Menanyakan responden atau tidak
terpapar asap rokok dari terkait riwayat
orang yang sedang menghirup asap rokok
merokok. dari orang yang sedang
merokok.
3 Riwayat Penyakit yang pernah Kuesioner. Penyakit yang 0 : Tidak 1 : Ya (Jika 1 atau Nominal
penyakit diderita responden yang menyebabkan lebih pernah menderita):
dasar dapat menyebabkan Menanyakan pada hipertensi Penyakit diabetes
responden pada saat Penyakit jantung
hipertensi, sebelum
wawancara Penyakit ginjal
didiagnosis hipertensi Penyakit hipertiroid
oleh petugas kesehatan.

Confunding : IMT seseorang yang Menimbang badan Berat badan, Klasifikasi IMT : Ordinal
1 Obesitas diproleh dari hasil dengan timbangan (kg), Tinggi badan. 1. Kurus : < 18.5
perhitungan berat badan dan tinggi badan diukur 2. Normal : 18.5-22.9
dalam kg dibagi dengan dalam meter kemudian 3. Overweight: 23.0-24.9
tinggi badan dalam dihitung dengan rumus:
meter kuadrat. 4. Obesitas I : 25.0-29.9
IMT = BB (kg)/TB (m).
Obesitas sentral 5. Obesitas II : > 30.0
Mengukur keliling
merupakan pengukuran lingkar perut melalui titik
massa lemak yang antara ujung lengkung Lingkar Klasifikasi Obesitas sentral: Nominal
mereflesikan tulang pangkal abdomenal Laki-laki : : 90 cm
kegemukan abdomenal paha/panggul dengan 0 : Tidak 1. Ya
atau viseral. tulang iga terbawah Perempuan 80 cm Nominal
secara horizontal. 0 : Tidak 2. Ya
35

2 Konsumsi Kebiasaan makan asin Kuesioner. Suka makan 0: Tidak Nominal


garam atau makanan Menanyakan pada asin atau tidak 1: Ya (Jika ya 3 item dari 5
mengandung garam responden saat item)
dapur berlebihan yang wawancara tentang Frekuensi
dilakukan sehari-hari kebiasaan konsumsi makan asin per 1. Jarang :
dalam periode waktu Ordinal
makanan asin (ikan asin, minggu
tertentu, sebelum Jika seminggu sekali
telor asin dan lain-lain)
didiagnosa hipertensi makan asin atau
ditekankan pada saat
oleh tenaga kesehatan. mengandung garam
sebelum didiagnosis berlebihan.
hipertensi.
2. Sedang :
Jika 2x sampai 3x
seminggu mengkonsumsi
makan asin atau
mengandung garam
berlebihan.
3. Sering :
Jika 4x seminggu atau
setiap hari makan asin atau
mengandung garam
berlebihan.
36

3 Konsumsi Lemak yang Kuesioner. Konsumsi 0 : Tidak Nominal


lemak jenuh mengandung kolesterol, Wawancara terkait lemak jenuh 1 : Ya (Jika ya 2 item dari 3
Trigliserida yang konsumsi makanan yang item).
terdapat pada makanan mengandung lemak jenuh
hewani seperti pada (fat, gajih) seperti Frekuensi Frekuensi konsumsi daging: Ordinal
daging sapi, daging konsumsi daging, kulit konsumsi 1. Jarang : Jika seminggu
kambing, kulit unggas, unggas, makanan yang daging. sekali makan daging
yang mengandung diolah dengan cara
lemak (fat, gajih) dan digoreng dan bersantan, 2. Sedang : Jika 2x sampai 3x
berasal dari nabati yang ditekankan sebelum seminggu makan daging
(minyak goreng dari didiagnosis hipertensi. 3. Sering : Jika 4x
sawit atau kelapa dan seminggu atau setiap hari
santan). makan daging

Frekuensi Frekuensi konsumsi mkanan Ordinal


kunsumsi yang digoreng:
makanan yang 1. Jarang : Jika seminggu
diolah dengan sekali konsumsi makanan
cara digoreng yang digoreng
2. Sedang : Jika 2x sampai 3x
seminggu konsumsi
makanan yang digoreng
3. Sering :
Jika 4x seminggu atau
setiap hari konsumsi
makanan yang digoreng.
37

Frekuensi Frekuensi konsumsi yang


konsumsi bersantan:
makanan 1. Jarang : Jika seminggu Ordinal
bersantan. sekali konsumsi makanan
bersantan
2. Sedang : Jika 2x sampai 3x
seminggu konsumsi
makanan bersantan
3. Sering :
4. Jika 4x seminggu atau
setiap hari konsumsi
makanan bersantan.
38

4 Stres Gangguan mental dan Kuesioner (DASS): Tingkat stress Tingkat stress: Ordinal
emosional yang sering Menanyakan pada Normal : 0-14
disebabkan oleh faktor responden saat Ringan : 15-18
luar dan menyebabkan wawancara tentang Sedang : 19-25
perasaan menjadi marah, perasaannya, dengan
mudah kesal/jengkel, Berat : 26-33
menggunakan kuesiones
mudah tersinggung, skala stress dari Sangat berat : 34-42
kesulitan untuk tenang, Depression Anxiety
tidak sabaran, cenderung Stress Scales (DASS),
bereaksi berlebihan, ditekankan saat sebelum
sulit beristirahat dan didiagnosis hipertensi.
mudah gelisah.
5 Umur Usia responden saat ini Kuesioner. Usia responden 1. 18 - 25 tahun Nominal
yang dihitung Menanyakan pada 2. 26 - 35 tahun
berdasarkan ulang tahun responden saat 3. 36 - 45 tahun
terakhir. wawancara. 4. 46 - 55 tahun
5. 56 - 65 tahun (Riskesdas)
6 Jenis kelamin Ciri biologis yang Observasi saat Jenis kelamin 1. Laki-laki Nominal
dimiliki responden yang wawancara. laki-laki/ 2. Perempuan
terdiri dari laki-laki perempuan
atau perempuan.
7 Riwayat Riwayat hipertensi dari Kuesioner. Mempunyai 0: Tidak ada keturunan Nominal
keluarga keluarga langsung Menanyakan pada riwayat hipertensi
(bapak, ibu) dan responden saat hipertensi/ tidak 1: Ada keturunan hipertensi
keluarga tidak langsung wawancara.
(kakek dan nenek).
39

4.11 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk mengukur tekanan darah adalah tensi

meter, stetoskop, timbangan berat badan (dacin), meteran untuk mengukur tinggi

badan dan lingkar perut. Instrumen yang digunakan untuk mengukur masing-

masing variabel menggunakan alat bantu kuesioner atau pedoman wawancara

dengan pertanyaan terstruktur. Kuesioner berisikan pertanyaan karakteristik

sampel meliputi: data demografi, serta pertanyaan terkait variabel-variabel

penelitian yaitu aktivitas fisik, merokok, obesitas, konsumsi garam, konsumsi

lemak jenuh, stres, umur, riwayat keluarga, jenis kelamin, riwayat penyakit

responden dan hipertensi.

Untuk kuesioner aktivitas fisik menggunakan IPAQ yang sudah baku

(IPAQ group, 2002). Namun oleh peneliti dimodifikasi sesuai istilah aktivitas

fisik di daerah penelitian, misalnya: mencangkul, membajak sawah, mencari

rumput dan lain-lain.

4.12 Analisis Data

4.12.1 Analisis Bivariat

Analisis bivariat dapat untuk mengetahui komparibelitas berdasarkan

karakteristik demografi dan dapat untuk mengetahui hubungan antara variabel

independen (faktor risiko) dengan variabel dependen (hipertensi). Uji yang

digunakan menggunakan uji chi square, sedangkan dasar pengambilan keputusan

adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengetahui komparibilitas, = 0,05 jika p > 0,05 berarti komparibel,

jika p < 0,05 berarti tidak komparibel.


40

2) Untuk mengetahui pengaruh variabel independen (faktor resiko) dengan

variabel dependen (hipertensi), crude OR dan 95% Confidence Interval (CI).

Jika OR > 1 dan 95% CI angka 1 berada diluar rentang CI berarti ada

pengaruh.

4.12.2 Analisis Multivariat

Analisis multivariat digunakan untuk melihat pengaruh variabel

independen (faktor risiko) terhadap variabel dependen secara bersama-sama, dan

dapat digunakan mengetahui variabel independen mana yang paling besar

pengaruhnya (paling berisiko) terhadap variabel dependen. Analisis multivariat

yang digunakan adalah uji regresi logistik untuk dapat menggambarkan pengaruh

antara variabel independen dengan variabel dependen dimana efek variabel

lainnya dikendalikan. Pada analisis ini diperoleh ukuran asosiasi Ajusted Odds

Ratio (AOR), dengan interpretasi sebagai berikut.

1) Jika OR <1 : Variabel independen merupakan faktor protektif terhadap

hipertensi, jika nilai batas atas 95% CI tidak menyentuh angka 1.

2) Jika OR >1 : Variabel independen merupakan faktor risiko terhadap hipertensi,

jika nilai bawah 95% CI tidak mencakup angka 1.

3) Jika OR =1 : Variabel independen bukan merupakan faktor risiko terhadap

hipertensi.
BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Wilayah kerja Puskesmas Sempu meliputi tiga desa, yaitu Desa

Tegalarum, Desa Sempu dan Desa Jambewangi. Jumlah penduduk untuk Desa

Tegalarum 6.276 jiwa, Desa Sempu 1.660 jiwa dan Desa Jambewangi 4.849 jiwa,

jadi total jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Sempu adalah 32.015 jiwa.

Sedangkan mayoritas pekerjaan masyarakatnya adalah ibu rumah tangga,

petani/buruh tani dan wiraswasta (Profil Puskesmas Sempu, 2014).

Kabupaten Banyuwangi pada umumnya terkenal sebagai sentral ikan

sehingga banyak produk olahan ikan yang diawetkan atau asin. Karakteristik

wilayah Puskesmas Sempu adalah jauh dari pantai. Berdasarkan wawancara

terutama dengan penduduk yang tinggal jauh dari pasar mereka mengaku suka

konsumsi ikan asin dengan alasan bisa tahan lama dan tidak perlu penyimpanan

dengan kulkas pendingin. Di Banyuwangi juga banyak warga yang menjadi

peternak bebek (itik) sehingga pengolahan telor menjadi telor asin juga banyak

ditemukan. Kebiasaan penduduk terkait minum alkohol sangat jarang ditemukan.

Fasilitas kesehatan pendukung di Puskesmas Sempu salah satunya adalah

Program Posbindu merupakan upaya untuk mendeteksi secara dini penyakit tidak

menular. Posbindu di Puskesmas Sempu mulai dirintis sejak 1 tahun yang lalu

dengan program posbindu (pos pembinaan terpadu) penyakit tidak menular usia

18 sampai dengan 60 tahun, yang kegiatannya antara lain: pengukuran tinggi

41
42

badan, berat badan, IMT, lingkar perut, analisis lemak tubuh, pengukuran tekanan

darah, kadar gula darah, pemeriksaan kadar alkohol, kadar amfetamin,

pemeriksaan klinis payudara, uji paru sederhana dan konseling edukasi serta

tindak lanjut lainnya. Pelaksanaan kegiatan Posbindu berjalan dengan konsisten

yang pelaksanaannya 1 kali dalam 1 bulan (Puskesmas Sempu, 2014).

5.2 Karakteristik Subjek Kelompok Kasus dan Kontrol

Penelitian ini menggunakan sampel sebesar 158 sampel, yang terdiri dari

79 sampel kasus hipertensi dan 79 sampel bukan hipertensi yang berobat di rawat

jalan di poli umum Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi. Tabel berikut ini

menyajikan karakteristik subjek berdasarkan Kelompok Kasus dan Kelompok

Kontrol yang meliputi : umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.

Tabel 5.1
Distribusi Karakteristik Subjek Berdasarkan Kasus dan Kontrol

Kelompok
Karakteristik 95% CI p
Kontrol (n=79) % Kasus (n=79) %
Umur
15-24 tahun 1 (1,27) 1 (1,27)
25-34 tahun 5 (6,33) 4 (5,06) 0,03-17,19 0.887
35-44 tahun 16 (20,25) 13 (16,46) 0,04-0,14 0,887
45-54 tahun 36 (45,57) 35 (44,30) 0,05-16,15 0,984
55-64 tahun 20 (25,32) 25 (31,65) 0,07-21,25 0,887
65-74 tahun 1 (1,27) 1 (1,27) 0,01-50,39 1,000
Jenis Kelamin
Perempuan 63 (79,75) 63 (79,75)
Laki-laki 16 (20,25) 16 (20,25) 0,43-2,34 1,000
Pendidikan
<SMA 40 (50,63) 63 (79,75)
SMA-PT 39 (49,37) 16 (20,25) 0,12-0,55 0,001
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga 27 (34,18) 29 (36,71)
Tani/buruh tani 13 (16,46) 16 (20,25) 0,46-2,81 0,767
Wiraswasta 29 (36,71) 28 (35,44) 0,42-1,88 0,777
PNS/TNI/Polri 10 (12,66) 6 ( 7,59) 0,17-1,74 0,317
43

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa distribusi karakteristik

berdasarkan umur, jenis kelamin dan jenis pekerjaan subjek antara Kelompok

Kasus dan Kelompok Kontrol adalah komparabel atau sebanding, secara statistik

tidak bermakna dengan nilai p>0,05. Sedangkan distribusi karakteristik

pendidikan pada kasus pendidikannya cenderung lebih rendah dibanding kontrol.

dengan nilai p=0.001<0,05 artinya terdapat perbedaan signifikan karakteristik

pendidikan antara kasus dan kontrol, dimana proporsi kasus dengan pendidikan

rendah cenderung lebih banyak dibanding kontrol.

5.3 Analisis Bivariat Faktor Risiko Terhadap Terjadinya Hipertensi

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui nilai crude odd ratio (OR)

yaitu besarnya risiko variabel independen terhadap variabel dependen, sedangkan

untuk mengetahui tingkat kemaknaannya dilakukan dengan uji chi-square dengan

melihat 95% CI dan nilai p<0,05. Hasil analisis bivariat untuk masing-masing

faktor risiko dapat dilihat pada tabel berikut.


44

Tabel 5.2
Crude Odd Ratio (OR) Beberapa Faktor Risiko pada Kasus dan Kontrol

Faktor Risiko Kontrol % Kasus % Crude OR 95% CI p


Aktivitas Fisik
Ringan 5 (6,33) 34 (34,04) 22,66 6,83-75,13 0,001
Sedang 44 (55,70) 36 (45,57) 2,72 1,14-6,47 0,023
Tinggi 30 (37,97) 9 (11,39)
Kebiasaan merokok
Tidak merokok 65 (82,28) 70 (88,61)
Pernah merokok 6 (7,59) 4 (5,06) 0,61 0,16-2.29 0,473
Merokok 8 (10,13) 5 (6,33) 0,58 0,18-1.86 0,361
Perokok Pasif
Tidak 56 (70,89) 57 (72,15)
Ya 23 (29,11) 22 (27,85) 0,93 0,44-1,98 0,860
Riwayat penyakit dasar
Tidak 76 (96,20) 67 (84,81)
Ada 3 (3,80) 12 (15,19) 4,53 1,14-25,88 0,015
Status gizi (IMT)
Kurus 4 (5,06) 4 (5,06) 1,9 0,42-8,41 0,398
Normal 38 (48,10) 20 (25,32)
Overweight 16 (20,25) 12 (15,19) 1,43 0,56-3,58 0,452
Obesitas I 18 (22,78) 28 (35,44) 2,96 1,32-6,59 0,008
Obesitas II 3 (3,80) 15 (18,99) 9,5 2,45-36,74 0,001
Obesitas sentral
Tidak 43 (54,43) 16 (20,25)
Ya 36 (45,57) 63 (79,75) 4,70 2,20-10,19 0,001
Konsumsi asin
Tidak 19 (24,36) 6 (7,59)
3,91 1,37-12.66 0,004
Ya 59 (75,64) 73 (92,41)
Konsumsi fat/gajih
Tidak 46 (58,23) 23 (29,11)
Jarang 16 (20,25) 18 (22,78) 2,25 0,97-5,20 0,058
Sedang 11 (13,92) 29 (36,71) 5,27 2,24-12,40 0,001
Sering 6 (7,59) 9 (11,39) 3 0,95-9,45 0,061
Konsumsi gorengan
Tidak 6 (7,59) 1 (1,27)
Jarang 2 (2,53) 1 (1,27) 3 0,12-73,64 0,501
Sedang 7 (8,86) 4 (5,06) 3,42 0,29-39,63 0,324
Sering 64 (81,01) 73 (92,41) 6,84 0,80-58,36 0,079
Konsumsi santan
Tidak 7 (50,00) 18 (22,78)
Jarang 2 (14,29) 27 (34,18) 5,25 0,97-28,19 0,053
Sedang 4 (28,57) 26 (32,91) 2,52 0,64-9,92 0,184
Sering 1 (7,14) 8 (10,13) 3,11 0,32-29,6 0,324
Riwayat HT keluarga
Tidak 54 (68,35) 37 (46,84)
Ya 25 (31,65) 42 (53,16) 2,45 1,22-4,94 0,006
Tingkat stress
Normal 55 (69,62) 10 (12,66)
Ringan 15 (18,99) 19 (24,05) 6,96 2,68-18,10 0,001
Sedang 7 (8,86) 32 (40,51) 25,14 8,71-72,54 0,001
Berat 2 (2,53) 18 (22,78) 49,5 9,90-247,33 0,001
45

Berdasarkan Tabel 5.2 menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan

merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Semakin ringan aktivitas fisik

subjek maka semakin meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dibandingkan

aktivitas tinggi (OR: 2,72; 95% CI: 1,14-6,47) dan (OR: 22,66; 95% CI: 6,84-

75,13) untuk kategori aktivitas fisik sedang dan ringan. Subjek yang mempunyai

riwayat penyakit dasar juga merupakan faktor risiko terhadap kejadian hipertensi.

Riwayat penyakit dasar meningkatkan risiko 4,53 kali terjadinya hipertensi

dibanding dengan subjek yang tidak mempunyai riwayat penyakit dasar (OR:

4,53; 95% CI: 1,14-25,88). Hasil berbeda terdapat pada kebiasaan merokok,

sebagian besar Kelompok Kasus dan pada Kelompok Kontrol adalah tidak

merokok. Hanya sebagian kecil subjek pada Kelompok Kasus maupun pada

Kelompok Kontrol yang pernah merokok dan merokok (OR: 0,61; 95% CI: 0,16-

2,29) dan (OR: 0,58; 95% CI: 0,18-1,86), artinya bahwa kebiasaan merokok dan

riwayat pernah merokok bukan faktor risiko terjadinya hipertensi. Demikian juga

dengan perokok pasif bukan merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi (OR:

0,93; 95% CI: 0,44-1,98).

Hasil analisis status gizi (IMT), menunjukan bahwa dengan semakin

meningkatnya tingkat obesitas semakin meningkatkan risiko terjadinya hipertensi

(OR: 2,96; 95% CI: 1,32-6.59) dan (OR: 9,5; 95% CI: 2,45-36,74) untuk kategori

Obesitas I dan Obesitas II. Sedangkan subjek yang mengalami obesitas sentral

meningkatkan risiko 4,7 kali terjadinya hipertensi dibandingkan dengan subjek

yang normal (OR: 4,70; 95% CI: 2,20-10,19). Kebiasaan konsumsi garam

berlebih atau asin juga menjadi faktor risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi
46

garam berlebih meningkatkan risiko 3,9 kali terjadinya hipertensi dibandingkan

dengan subjek yang tidak konsumsi garam berlebih (OR: 3,91; 95% CI: 1,37-

12,66). Pada hasil analisis kebiasaan konsumsi lemak jenuh dalam bentuk fat atau

gajih merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi fat atau gajih

sedang dapat meningkatkan risiko 5,27 kali terjadinya hipertensi dibandingkan

dengan tidak konsumsi fat atau gajih (OR: 5,27; 95% CI: 2,24-12,40). Namun

pada kebiasaan konsumsi gorengan dan konsumsi santan bukan merupakan faktor

risiko terjadinya hipertensi karena nilai bawah 95% CI lebih kecil dari 1 atau

mencakup angka 1.

Hasil analisis riwayat penyakit hipertensi pada keluarga, menunjukan

bahwa subjek yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi pada keluarganya

lebih berisiko terjadinya hipertensi dibandingkan dengan subjek yang tidak

mempunyai riwayat penyakit hipertensi pada keluarganya (OR: 2,4; 95% CI:

1,22-4,94). Subjek yang mengalami stres cenderung berisiko terhadap terjadi

hipertensi, semakin tinggi tingkat stres subjek semakin meningkatkan risiko

terjadinya hipertensi dibandingkan dengan yang normal (OR: 6,9; 95% CI 2,86-

18,10); (OR: 25,14; 95% CI: 8,71-72,54) dan (OR: 49,5; 95% CI: 9,90-247,33)

untuk kategori stres ringan, sedang dan parah.

Berdasarkan Tabel 5.2 hasil analisis bivariat dapat diketahui bahwa

semakin kurang aktivitas fisik, ada riwayat penyakit dasar, status gizi (obesitas),

obesitas sentral, konsumsi garam berlebihan, konsumsi fat atau gajih, riwayat

penyakit hipertensi pada keluarga dan stres merupakan faktor risiko terjadinya

hipertensi. Nilai crude odd ratio (OR) yang didapat dari analisis bivariat tidaklah
47

murni sebagai faktor risiko terhadap hipertensi, namun masih ada pengaruh dari

variabel confounding. Variabel yang mempunyai nilai kemaknaan p<0,25 akan

diikutkan dalam analisis multivariat yaitu aktivitas fisik, riwayat penyakit dasar,

status gizi, obesitas sentral, konsumsi garam berlebihan, konsumsi fat atau gajih,

riwayat penyakit hipertensi pada keluarga serta stres.

5.4 Analisis Multivariat Faktor Risiko Terhadap Kejadian Hipertensi

Berdasarkan analisis bivariat ada 8 variabel faktor risiko yang mempunyai

nilai kemaknaan p<0,25 untuk dapat dilakukan analisis multivariat secara

bersama-sama. Ke 8 variabel tersebut adalah aktivitas fisik, riwayat penyakit

dasar, status gizi, obesitas sentral, konsumsi garam berlebihan, riwayat penyakit

hipertensi pada keluarga dan stres. Ditambahkan serta distribusi karakteristik

tingkat pendidikan yang mempunyai nilai p=0,001 diikutkan dalam analisis

multivariat.

Analisis multivariat dilakukan untuk mendapatkan nilai adjusted 0dd ratio

(AOR) yang bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang secara independen

mempengaruhi terjadinya hipertensi dengan menggunakan uji regresi logistic.

Hasil analisis multivariat faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya

hipertensi di Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi, dapat dilihat pada tabel

berikut ini.
48

Tabel 5.3
Adjusted Odd Ratio Beberapa Variabel Terhadap Kejadian Hipertensi

95% CI
Variabel OR P
Lower Upper
Aktivitas fisik
Ringan 24,89 4,91 149,31 0,001
Sedang 2,13 0,25 7,86 0,256
Ada riwayat penyakit dasar 5,78 0,74 44,89 0,093
Status Gizi (IMT)
Kurus 0,66 0,76 8,85 0,760
Overweight 0,76 0,78 5,19 0,783
Obesitas I 0,52 0,44 2,74 0,446
Obesitas II 1,95 0,55 18,28 0,208
Mengalami Obesitas sentral 3,32 0,64 17,17 0,152
Mengkonsumsi garam berlebih 0,51 0,11 2,28 0,380
Konsumsi fat/gajih
Jarang 1,39 0,31 6,08 0,658
Sedang 3,38 0,85 13,40 0,083
Sering 3,49 0,42 26,21 0,255
Ada riwayat HT pada keluarga 2,07 0,62 6,83 0,230
Tingkat stres
Ringan 3,67 0,92 14,61 0,065
Sedang 19,72 4,43 87,62 0,001
Parah 32,55 3,92 270,07 0,001
Tingkat pendidikan SMA-PT 0,16 0,04 0,57 0,005

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat diketahui diketahui bahwa variabel yang

terbukti sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi setelah dianalisis multivariat

yang variabel bebas lainnya dikendalikan yaitu aktivitas fisik ringan, stres sedang

dan stres berat. Subjek dengan aktivitas fisik ringan meningkatkan risiko 24,89

kali terjadinya hipertensi dibandingkan dengan aktivitas tinggi (OR: 24,89; 95%

CI: 4,91-149,31). Tingkat stres juga memiliki risiko terhadap kejadian hipertensi.

Subjek yang mengalami stres sedang dan berat meningkatkan risiko terhadap

terjadinya hipertensi. Semakin tinggi tingkat stres semakin tinggi risiko

meningkatkan terjadinya hipertensi (OR: 19,72; 95% CI: 4,43-87,62) dan (OR:

32,55; 95% CI: 3,92-270,07) untuk kategori stres sedang dan stres berat.

Sedangkan variabel yang terbukti sebagai faktor protektif terhadap kejadian


49

hipertensi adalah tingkat pendidikan SMA-PT (OR: 0,16; 95% CI: 0,04-0,57),

artinya semakin tinggi tingkat pendidikan dapat mencegah kejadian hipertensi,

secara statistik bermakna dengan p= 0,005.


BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Aktivitas Fisik, Tingkat Stres dan Pendidikan Sebagai Faktor Risiko

Terjadinya Hipertensi.

Berdasarkan analisis multivariat, faktor risiko yang secara independen

mempengaruhi terjadinya hipertensi adalah aktivitas ringan, stres sedang dan stres

parah. Sedangkan tingkat pendidikan tinggi ( SMA-PT) merupakan faktor

protektif terhadap terjadinya hipertensi.

Aktivitas fisik ringan secara independen mempengaruhi terjadinya

hipertensi. Semakin ringan aktivitas fisik semakin meningkatkan risiko terjadinya

hipertensi. Hasil analisis multivariat pada penelitian ini menunjukkan bahwa

aktivitas fisik ringan dapat meningkatkan risiko 24,89 kali terhadap terjadinya

hipertensi dibandingkan dengan aktivitas tinggi (OR: 24,89; 95% CI: 4,91-

149,31). Hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan di Makasar

(Wahududdin, dkk., 2013) dan di Yogyakarta (Elvyrah Faisal, dkk., 2011) juga

menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan merupakan faktor risiko yang

mempengaruhi terjadinya hipertensi. Aktivitas fisik dapat menyebabkan aliran

darah meningkat sehingga dapat diproduksinya nitrit oksida (NO). Nitrit oksida

akan merangsang pembentukan endothelial derive relaxing factor (EDRF) yang

berfungsi vasodilatasi atau melebarkan arteri (Sutanto, 2010; Sharman, dkk.,

2014). Aktivitas fisik yang senantiasa aktif dan teratur akan menyebabkan

pembuluh darah cenderung lebih elastis sehingga akan mengurangi tahanan

50
51

perifer (Suiraoka, 2012). Aktivitas fisik yang teratur pada gilirannya juga akan

menyebabkan kerja jantung menjadi lebih efisien sehingga curah jantung akan

berkurang dan akan menyebabkan penurunan tekanan darah (Sutanto, 2010;

Wahiduddin. dkk., 2013). Implikasi dalam kesehatan masyarakat adalah perlunya

meningkatkan pendidikan kesehatan terkait pentingnya aktivitas fisik untuk

pencegahan hipertensi di Posbindu dan Usila di Puskesmas Sempu.

Subjek yang mengalami stres cenderung berisiko terhadap terjadinya

hipertensi. Berdasarkan analisis multivariat pada penelitian ini menunjukkan

bahwa semakin tinggi tingkat stres semakin meningkatkan risiko terjadinya

hipertensi dibandingkan dengan subjek yang normal (OR: 19,72; 95% CI: 4,43-

87,62) dan (OR: 32,55; 95% CI: 3,92-270,07) untuk kategori stres sedang dan

stres parah. Hasil ini sama dengan penelitian yang telah dilakukan di Jakarta

(Korneliani, 2012) dan di Kabupaten Bantul Yogyakarta (Elvyrah Faisal, dkk.,

2011). Faktor risiko stres berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi dikaitkan

dengan peran saraf simpatis yang mempengaruhi hormon epinefrin (adrenalin).

Hormon epinefrin (adrenalin) dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah

(Sutanto, 2010; Hamano, dkk., 2012). Variabel stres sebenarnya merupakan

variabel confounding namun dalam penelitian ini setelah dianalisis multivariat,

dengan variabel independen lainnya dikendalikan didapatkan hasil bahwa stres

secara independen merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Munculnya stres

yang merupakan variabel confounding sebagai variabel yang secara independen

mempengaruhi terjadinya hipertensi, tidak diduga sebelumnya oleh peneliti.

Beberapa hal yang menyebabkan tingginya stres antara lain adalah sebagian besar
52

subjek kasus (79,75%) adalah berpendidikan rendah (<SMA). Pada hasil

penelitian ini ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan

stres yang secara statistik bermakna dengan p=0,005. Jika dilihat dari sampel

penelitian ini sebagian besar (79,75%) adalah perempuan, yang relatif cenderung

lebih mudah mengalami stres jika dibanding laki-laki. Sedangkan jika dilihat

umur subjek kasus, penderita hipertensi cenderung meningkat berdasarkan

meningkatnya kelompok umur sehingga cenderung lebih mudah mengalami stres.

Menurut Riskesdas 2013 gangguan mental emosiaonal (stres) cenderung lebih

tinggi pada orang dengan kelompok umur semakin tua, berpendidikan rendah dan

jenis kelamin perempuan jika dibandingkan laki-laki. Faktor yang mempengaruhi

stres dapat berasal dari kondisi individu seperti: jenis kelamin, umur, pendidikan,

intelegensi, tahap perkembangan, kondisi fisik (Smet Bart, 1994).

Besarnya stres pada subjek dalam penelitian ini dapat disebabkan karena

kelemahan di metodologi penelitian yaitu pengukuran stres yang dilakukan waktu

sekarang. Idealnya stres yang dialami subjek penelitian diasumsikan sama seperti

terjadi sebelum hipertensi, namun dalam penelitian ini stres diukur pada waktu

sekarang, hal ini dapat dipersepsikan bahwa stres yang terjadi pada subjek

penelitian kemungkinan juga bisa dikarenakan stres akibat menderita hipertensi

atau sebaliknya. Implikasi hasil penelitian ini adalah perlunya memasukan

program deteksi dini stres di Posbindu dan di Puskesmas Sempu serta bimbingan

konseling untuk mengatasi stres bagi masyarakat sehingga dapat mengendalikan

stres ke arah lebih baik sehingga pada akhirnya dapat mengurangi faktor risiko

hipertensi.
53

Hasil analisis multivariat pada penelitan ini menunjukkan bahwa

pendidikan tinggi ( SMA-PT) merupakan protektif terhadap kejadian hipertensi

(OR: 0,16; 95% CI: 0,04-0,57), artinya semakin tinggi tingkat pendidikan

semakin dapat mencegah terjadinya hipertensi, demikian sebaliknya semakin

rendah tingkat pendidikan semakin meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian case control sebelumnya di Yogyakarta

menunjukkan hasil bahwa pendidikan rendah mempengaruhi terjadinya hipertensi

(Elvyrah Faisal, dkk., 2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

antara lain: pendidikan, pengalaman, informasi, sosio-ekonomi serta kultur

budaya. Pendidikan dapat mempengaruhi proses belajar seseorang, semakin tinggi

pendidikan seseorang maka semakin mudah seseorang untuk menerima informasi

baik dari orang lain maupun dari media masa, sehingga seseorang yang

berpendidikan tinggi mudah untuk mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan

(Notoatmodjo, 2007). Untuk itu pendidikan kesehatan atau memberikan informasi

kesehatan kepada masyarakat perlu diintensifkan agar masyarakat mendapatkan

pengetahuan tentang faktor-faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya

hipertensi. Hal ini dapat dilakukan baik melalui organisasi kemasyarakatan,

kegiatan keagamaan, kelompok masyarakat, melalui poster dan lain-lain.

6.2 Variabel yang Secara Independen Tidak Terbukti Sebagai Faktor Risiko

Terjadinya Hipertensi.

Pada analisis bivariat penelitian ini menunjukkan bahwa variabel riwayat

penyakit dasar, satus gizi (IMT) obesitas, obesitas sentral, konsumsi garam

berlebih, konsumsi lemak jenuh (fat/gajih), riwayat keturunan hipertensi menjadi


54

faktor risiko terhadap terjadinya hipertensi. Nilai crude odds ratio pada analisis

bivariat tidaklah murni sebagai faktor risiko terhadap kejadian hipertensi, namun

masih ada pengaruh varibel confounding. Namun setelah dianalisis multivariat

setelah variabel independen lainnya dikendalikan variabel-variabel tersebut secara

independen tidak mempengaruhi terjadinya hipertensi. Hal ini karena pengaruh

variabel-variabel tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan variabel aktivitas

fisik ringan, stres sedang dan stres parah serta tingkat pendidikan tinggi, sehingga

saat dilakukan analisis multivariat variabel-variabel tersebut tidak tampak

pengaruhnya atau tidak berpengaruh secara independen terhadap hipertensi.

6.3 Variabel Merokok Tidak Terbukti Sebagai Faktor Risiko Terjadinya

Hipertensi.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa kebiasaan merokok

tidak terbukti sebagai faktor risiko terhadap kejadian hipertensi (OR: 0,61; 95%

CI: 0,16-2,29) dan (OR: 0,58; 95% CI: 0,18-1,86) untuk kategori pernah merokok

dan merokok. Tidak terbuktinya merokok sebagai faktor risiko terjadinya

hipertensi juga ditunjukkan hasil penelitian sebebelumnya di Yogyakarta

(Sugiharto, 2007) dan penelitian di Pasuruan Jawa Timur (Umiyati, 2011). Pada

penelitian ini perokok pasif bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian

hipertensi (OR: 0,93; 95% CI: 0,44-1,98). Tidak terbuktinya perokok pasif

sebagai faktor risiko hipertensi juga ditunjukkan pada penelitian sebelumnya di

Lawang Malang (Atika, 2009). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian

sebelumnya di Kabupaten Minahasa (Diyan, 2013) dan di Semarang (Tisa &

Angela, 2012) bahwa merokok mempengaruhi kejadian hipertensi. Tidak


55

terbuktinya merokok sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi disebabkan

karena beberapa hal yaitu: sampelnya pada penelitian ini sebagian besar

(79,75%) adalah perempuan. Sedangkan kebiasaan merokok pada umumnya

dilakukan oleh laki-laki. Sedangkan subjek penelitian ini yang berjenis kelamin

laki-laki hanya 20% dan yang merokok hanya sebesar 11%. Padahal menurut

Riskesdas 2013 proporsi perokok setiap hari pada laki-laki lebih banyak jika

dibandingkan perokok perempuan (47,5% : 1,1%). Pada penelitian ini jika dilihat

dari jumlah batang rokok yang dihisap dan lamanya merokok menunjukkan hasil

bahwa tidak terdapat hubungan secara bermakna dengan kejadian hipertensi

(p=0,329), dan (p=0,345) untuk jumlah batang rokok yang dihisap dan lamanya

merokok. Demikian juga jika dilihat dari perokok pasif sebagian besar subjek

penelitian (72,15%) adalah bukan perokok pasif. Hal ini bisa terjadi karena

kelemahan pada kuesioner untuk perokok pasif yang kurang mendalam.

Disamping itu juga bisa disebabkan subjek penelitian menganggap pasangannya

yang terbiasa merokok dianggap sesuatu hal yang sudah biasa sehingga

mengganggap dirinya bukan perokok pasif. Menurut teori pembiasaan klasik dari

Pavlov menyatakan pemberian stimulus yang dibiasakan maka akan menimbulkan

respon yang biasa (Chaer, 2009). Kemudian jika dilihat dari tempat penelitian

yaitu di Puskesmas Sempu yang menghasilkan data yang bersifat puskesmas

based atau tidak bersifat population based, hal ini dapat menyebabkan subjek

penelitian di Puskesmas Sempu tidak menggambarkan populasi di masyarakat

secara umum. Tidak terbuktinya dalam penelitian ini bukan berarti merokok tidak
56

dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena secara konsep teori

merokok meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dan berbahaya bagi kesehatan.

6.4 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian case control atau retrospective study, data

pajanan faktor risiko mengandalkan daya ingat sehingga daya ingat subjek

penelitian dapat menyebabkan recall bias. Kuesioner IPAQ dalam aplikasinya

menimbulkan persepsi yang berbeda sehingga terkadang subjek penelitian

mengalami kesulitan dalam menjawabnya dan informasi yang diberikan oleh

subjek penelitian terkadang validasinya sukar diperoleh. Pengambilan data dalam

penelitian ini dengan tehnik consecutive sampling yaitu memilih sampel yang

memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu dan sampel yang dipilih

tidak berdasarkan random sehingga sampel yang diperoleh belum mewakili

populasi di masyarakat. Demikian juga dengan tempat penelitian yang mengambil

subjek penelitian di puskesmas sehingga sampel yang didapat hanya berdasarkan

hospital based atau puskesmas based dan tidak berdasarkan population based. Hal

ini menyebabkan generalisasi hasil penelitian ini terbatas untuk populasi umum.
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan

Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil analisis

multivariat setelah variabel independen lainnya dikendalikan variabel yang secara

independen mempengaruhi terjadinya hipertensi adalah aktivitas fisik ringan, stres

sedang, stres parah dan tingkat pendidikan tinggi ( SMA-PT) yang merupakan

faktor protektif terhadap terjadinya hipertensi. Sedangkan kemungkinan faktor

lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi adalah riwayat penyakit dasar,

obesitas, konsumsi garam berlebih, konsumsi lemak jenuh, riwayat hipertensi

keluarga. Variabel merokok dalam penelitian ini tidak terbukti mempengaruhi

terjadinya hipertensi.

7.2 Saran

7.2.1 Bagi Dinas Kesehatan Banyuwangi

Program pencegahan penyakit hipertensi sebagai penyakit tidak menular

yang prevalensinya semakin tinggi perlu dilakukan lebih intensif.

7.2.2 Bagi Kepala Puskesmas Sempu

Penambahan jumlah Posbindu di wilayah kerja Puskesmas Sempu perlu

dilakukan secara bertahap sehingga jangkauan pelayanan Posbindu ke

masyarakat semakin luas. Program upaya pencegahan penyakit hipertensi

dengan promotif, preventif terkait faktor risiko yang dapat meningkatkan

terjadinya hipertensi perlu lebih ditingkatkan.

57
58

7.2.3 Bagi Posbindu

Deteksi dini penyakit hipertensi dan deteksi faktor risiko terhadap terjadinya

hipertensi perlu ditingkatkan lebih intensif. Upaya pemahaman kepada

masyarakat terkait faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya

hipertensi perlu dilakukan melalui pendidikan kesehatan yang lebih intensif.

7.2.4 Bagi masyarakat

Mengurangi atau menghindari faktor risiko terhadap kejadian hipertensi

merupakan upaya yang baik. Tidak terbuktinya merokok pada penelitian ini

bukan berarti merokok tidak berbahaya dan tidak mempengaruhi kejadian

hipertensi. Dan tidak merokok dalam kehidupan sehari-hari merupakan

perilaku yang bijaksana untuk mencegah penyakit akibat dari rokok.

7.2.5 Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti selanjutnya dapat dilakukan dengan metode penelitian yang

berbeda, teknik sampling yang berbeda serta penggunaan sampel yang lebih

besar serta berorientasi pada population based.


DAFTAR PUSTAKA

Alshaarawy, O., Xiao, J. & Shankar, A., 2013. Association of serum cotinine
levels and hypertension in never smokers. Hypertension, 61(2), pp.3048.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23184382 [Accessed
October 20, 2014].

Anggraeni Rini, 2013. Faktor risiko aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi
alkohol terhadap kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas
Pattingalloang Kota Makasar. http://respiratory.unhas.ac.id (Diakses: 2
Oktober 2014).

Ansari, R., Khosvari, A. & Bahonar, A., 2012. Risk factors of atherosclerosis in
male smokers, passive smokers, and hypertensive nonsmokers in central Iran.
ARYA atherosclerosis, 8(2), pp.905. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=3463995&tool=p
mcentrez&rendertype=abstract [Accessed October 12, 2014].

Atika, 2009. Hubungan perokok pasif dengan terjadinya hipertensi pada penduduk
wanita usia 30-65 tahun di Dusun Krajan Desa Sumberngepoh Kecamatan
Lawang Malang. http://Unair.ac.id/artikel dosen. (Diakses: 25 Juni 2015).

Bhadoria, A., Kasar, P. & Toppo, N., 2014. Prevalence of hypertension and
associated cardiovascular risk factors in Central India. Journal of family &
community medicine, 21(1), pp.2938. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=3966094&tool=p
mcentrez&rendertype=abstract [Accessed September 22, 2014].

Corra-Neto, V., Sperandei, S. & Silva, L., 2014. [Arterial hypertension among
adolescents in Rio de Janeiro: prevalence and association with physical
activity and obesity]. Cincia & sade coletiva, 19(6), pp.1699708.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24897471 [Accessed
September 8, 2014].

Craig, C.L., Marshall, M. & Sjostrom, 2003. International physical activity


questionnaire: 12-country reliability and validity. Medicine and science in
sports and exercise, 35(8), pp.138195. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12900694 [Accessed July 9, 2014].

Dinkes, B., 2013. Laporan Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Kabupaten
Banyuwangi Tahun 2013.

Diyan, 2013. Hubungan antara kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol dengan
kejadian hipertensi pada pasien poliklinik umum di Puskesmas Tumaratas
Kecamatan Langowan Barat Kabupaten Minahasa. http://fkm.unsrat.ac.id
(Diakses: 2 Oktober 2014).

Elvyrah Faisal, Bambang D., & Berty M., 2011. Faktor risiko hipertensi pada
wanita pekerja dengan peran ganda di Kabupaten Bantul. http://portal
garuda.org/article/php?. Diakses 2 Oktober 2014.

Hamano, T., Kimura, Y. & Takeda, 2012. Effect of environmental and lifestyle
factors on hypertension: Shimane COHRE study. PloS one, 7(11), p.e49122.
Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=3494668&tool=p
mcentrez&rendertype=abstract [Accessed September 14, 2014].

Hashani, V., Roshi, E. & Burazeri, G., 2014. Correlates of hypertension among
adult men and women in kosovo. Materia socio-medica, 26(3), pp.2135.
Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=4130693&tool=p
mcentrez&rendertype=abstract [Accessed September 12, 2014].

Harvard Publication Health, 2009. MET-hour equivalents of various physical


activities. Available at:
http://www.health.harvard.edu/newsletters/Harvard_Womens_Health_Watch
/2009/December/met-hour-equivalents-of-various-physical-activities
[Accessed November 1, 2014].

IPAQ group, 2002. International Physical Activity Questionnaires.


http://www.ipaq.ki.se/questionnaires/IPAQ [Accessed Nopember 10, 2014].

JNC-7, 2005. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention
Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure.
http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines hypertension/jnc7full.pdf (Diakses 5
oktober 2014).

Kapriana, M., & Muhammad Sulchan, 2012. Asupan tinggi lemak dan aktivitas
olahraga sebagai faktor risiko terjadinya Hipertensi Obesitik. http://www:
jurnal HT/Aktivitas Olah Raga terhadap Hipertensi.htm (Diakses : 5 Oktober
2014).

Kemenkes, RI., 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2013,


http://www.depkes.go.id/profil kesehatan indonesia 2013. (Diakses : 1
Oktober 2014).

Kemenkes, RI., 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013.


http://www.litbang.depkes.go.id/sites/Riskesdas 2013. (Diakses : 1 Oktober
2014).
Korneliani, 2012. Hubungan obesitas dan Stres dengan Kejadian Hipertensi Guru
SD Wanita. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas/article/view/1769.
Diakses tanggal 6 Juni 2015.

Mellisa Kiki, 2013. Hubungan antara Perilaku Olah Raga, Stress dan Pola Makan
dengan Tingkat Hipertensi Pada Lanjut Usia di Posyandu Lansia Kelurahan
Gebang Putih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. http://journal.unair.ac.id
(Diakses : 5 Oktober 2014).

Muliyati Hepti, 2011. Hubungan Pola Konsumsi Natrium dan Kalium serta
Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada pasien Rawat jalan di RSUP
DR. Wahidin Sudirohusodo Makasar. http://journal.unhas.ac.id (Diakses : 1
Oktober 2014)

Nguyen, T. & Lau, D.C.W., 2012. The obesity epidemic and its impact on
hypertension. The Canadian journal of cardiology, 28(3), pp.32633.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22595448 [Accessed
September 14, 2014].

Notoatmodjo S., 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.

Novitasary, Nelly & Shirley, 2014. Hubungan antara aktivitas fisik dengan
obesitas pada wanita usia subur peserta jamkesmas di Puskesmas Wawonasa
Kecamatan Singkil Menado. http://journal.unrat.ac.id. Diakses 5 Mei 2015.

Ordinioha, B., 2013. The prevalence of hypertension and its modifiable risk
factors among lecturers of a medical school in Port Harcourt, south-south
Nigeria: implications for control effort. Nigerian journal of clinical practice,
16(1), pp.14. Available at:
http://www.njcponline.com/article.asp?issn=1119-
3077;year=2013;volume=16;issue=1;spage=1;epage=4;aulast=Ordinioha
[Accessed October 12, 2014].

Puskesmas Sempu, 2013. Laporan 15 Besar Penyakit di Puskesmas Sempu


Kabupaten Banyuwangi tahun 2013.

Puskesmas Sempu, 2014. Profil Puskesmas Sempu 2014

Qin Yu, Melse-Boonstra & Pan, X., 2014. Association of dietary pattern and body
weight with blood pressure in Jiangsu Province, China. BMC public health,
14, p.948. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=4176575&tool=p
mcentrez&rendertype=abstract [Accessed October 30, 2014].
Rahajeng, E. & Sulistyowati, T., 2011. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya
di Indonesia. http://indonesia.digitaljournal.org (Diakses : 20 September
2014).

Sastroasmoro Sudigdo, 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis,


Jakarta: CV. Sagung Seto.

Schlesselman James, 1982. Case Control Studies Design, Conduct, Analysis, New
York Oxford: Oxford University Press. Available at: 201918171615.

Sharman, J.E., La Gerche, A. & Coombes, J.S., 2014. Exercise and


Cardiovascular Risk in Patients With Hypertension. American journal of
hypertension. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25305061
[Accessed October 19, 2014].

Sitepoe, M., 1997. Usaha Mencegah Bahaya Merokok, Jakarta: Gramedia.

Smet, Bart (1994) Psikologi Kesehatan, Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana


Indonesia.

Sudibjo, Arovah & Lakmi, R., 2015 Tingkat pemahaman dan survei level
aktivitas fisik, status kecukupan energi dan status antropometrik mahasiswa
program studi pendidikan kepelatihan olah raga FIK UNY.
http://jurnal.uny.ac.id. Diakses 5 Mei 2015.

Sudoyo, 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Jakarta : Pusat
Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

Sugiharto Aris, 2007. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II pada Masyarakat


(Studi Kasus di Kabupaten Karanganar Jawa Tengah).
http://eprints.undip.ac.id (Diakses : 20 September 2014).

Suiraoka, 2012. Penyakit Degeneratif, Mengenal, Mencegah dan Mengurangi


Faktor Risiko 9 Penyakit Degeneratif, Yogyakarta: Nuha Medika.

Sundari, S., Aulani'am, A. & Wahono, S., 2013. Faktor Risiko Non Genetik dan
Polimorfisme Promoter RegionGen CYP11B2Varian T(-344)C Aldosterone
Synthasepada Pasien Hipertensi Esensial di Wilayah Pantai dan Pegunungan.
Jurnal Kedokteran Brawijaya, 27(3), pp.pp.169177. Available at:
http://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/view/345 [Accessed September 15,
2014].

Sutanto, 2010. Cekal (Cegah dan Tangkal) Penyakit Modern: Hipertensi, Stroke,
Jantung, Kolesterol, dan Diabetes (gejala-gejala, Pencegahan dan
Pengendalian), Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Tisa K., & Angela Novalia, 2012. Hubungan antara kebiasaan merokok dengan
tekanan darah meningkat karyawan laki-laki di Nasmoco Semarang.
http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm (Diakses : 1 Oktober 2014).

Umiyati, S., 2011. Pengaruh kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensi pada
laki-laki usia di atas 40 tahun di Dusun Kampung Baru Desa Sentul
Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan tahun 2011.
http://fkm.unair.ac.id/detail (Diakses : 2 Oktober 2014).

Wahiduddin, Hasrin Mannan & Rismayanti, 2013. Faktor Risiko Kejadian


Hipertensi di Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan.
http://respiratory.unhas.ac.id (Diakses : 2 Oktober 2014).

WHO, 2010. Smoking (control of advertisements and of tobacco).


http://www.who.int/fctc/implementation/database (Diakses 2 Oktober 2014).

WHO, 2013. A Global Brief on Hypertension : Silent Killer, global Public Health
Crisis. http://www.who.int/reasearch/en/ (Diakses 2 Oktober 2014).

Wolin, K.Y., Heil, D. & Askew, S., 2008. Validation of the International Physical
Activity Questionnaire-Short among Blacks. Journal of physical activity &
health, 5(5), pp.74660. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=2744347&tool=p
mcentrez&rendertype=abstract [Accessed December 9, 2014].
Lampiran 1

FORMULIR NASKAH PENJELASAN


PARTISIPASI DALAM PENELITIAN

NASKAH PENJELASAN

Saya adalah mahasiswa Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat jurusan


epidemiologi lapangan Universitas Udayana Denpasar Bali yang sedang
menyelesaikan tugas akhir (Tesis) dengan judul Pengaruh aktivitas fisik,
kebiasaan merokok dan riwayat penyakit dasar terhadap terjadinya hipertensi di
Puskesmas Sempu Kabupaten Banyuwangi tahun 2015. Tujuan penelitian ini
adalah membuktikan faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadinya
hipertensi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas
Sempu dan Dinas Kesehatan Banyuwangi untuk pencegahan penyakit hipertensi.

Saya mengharapkan partisipasi Anda untuk diperiksa tekanan darah, berat


badan, tinggi badan, lingkar perut dan bersedia diwawancarai serta mengisi
seluruh pertanyaan kuesioner yang diberikan secara jujur yang membutuhkan
waktu sekitar 20 30 menit. Jika Anda bersedia menjadi peserta penelitian,
silahkan mengisi menandatangani kolom di bawah ini tanpa adanya paksaan,
mengisi biodata diri serta mengisi kuesioner yang tersedia. Jika dari pengisian
kuesioner ada yang tidak dimengerti, Anda dapat menghubungi saya ke no HP.
081334714177 atau melalui email : aripin.nipira@gmail.com. Atas perhatian dan
kesediaan untuk berpatisipasi dalam penelitian ini saya ucapkan terima kasih.

Banyuwangi, ............... 2015

(........................................)
Lampiran 2

FORMULIR INFORMED CONSENT


(KESEDIAAN MENGIKUTI PENELITIAN)

Dengan ini saya :

Nama : ..........................................................................................

Umur : ..........................................................................................

Alamat : .........................................................................................

No Telpon/Hp : .........................................................................................

Menyatakan bersedia mengikuti kegiatan penelitian dengan ketentuan apabila ada


hal-hal yang tidak berkenan pada saya, maka saya berhak mengajukan
pengunduran diri dari kegiatan penelitian ini.

Banyuwangi, ........................ 2015.

Peneliti, Responden,

(...........................................) (..............................................)
Lampiran 3

Nomor Kuesioner Kode Pewawancara

LEMBAR KUESIONER
AKTIVITAS FISIK, KEBIASAAN MEROKOK DAN
RIWAYAT PENYAKIT YANG MEMPENGARUHI
TERJADINYA HIPERTENSI DI PUSKESMAS SEMPU
KABUPATEN BANYUWANGI
TAHUN 2015

Identitas Responden :
Nama : ..........................................................................
Umur (bulan dan tahun lahir) : .................................................
Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan
Pendidikan :
1. SD tidak tamat
2. SD tamat
3. SMP tidak tamat
4. SMP tamat
5. SMA tidak tamat
6. SMA tamat
7. Diploma/Universitas tidak tamat
8. Diploma/Universitas tamat.
Pekerjaan : .......................................................................... (pekerjaan pokok)
Alamat :...........................................................................
No Telepon : ..........................................................................
No Hp : ..........................................................................
A. Tekanan darah (Data sekunder)
Sistole : ........ mmHg
Diastole : ........ mmHg
B. Apakah Anda didiagnosa hipertensi oleh tenaga kesehatan:
0 : Tidak 1. Ya
C. Pemeriksaan berat badan dan tinggi badan
Berat Badan : ........ kg
Tinggi Badan : ........ cm
D. Pertanyaan untuk aktivitas fisik

BAGIAN 1: Aktivitas fisik berkaitan dengan pekerjaan di luar rumah

Bagian pertama adalah tentang pekerjaan anda seperti pekerjaan utama,


pertanian, kerja dilapangan, dan kerja sukarela tanpa dibayar yang anda
lakukan di luar rumah
1. Apakah anda memiliki pekerjaan di luar
rumah (utama /kerja sukarela) ? Ya

Tidak (loncat ke
BAGIAN 2)
Pertanyaan 2, 3, 4, 5, dan 6 berhubungan dengan pekerjaan Anda dalam
periode waktu 7 hari terakhir, setidaknya selama 10 menit dan sebagai
bagian dari pekerjaan Anda
2. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ........ Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik berat seperti
mengangkat barang berat 10 kg (setara Tidak melakukan
1/2 zak beras kecil), mencangkul, tukang aktivitas fisik
bangunan, mencari rumput, dan lain berat (loncat ke
sebagainya ? pertanyaan 4)
Catatan : jika melakukan < 10 menit
dihitung 0
3. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ........ Jam/hari
Anda biasa melakukan aktivitas fisik berat ?
........ Menit/hari
4. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ........ Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik ringan seperti
mengangkat barang ringan (< 10 kg) ? Tidak melakukan aktivitas
ringan (loncat ke
pertanyaan 6)
5. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ........ Jam/hari
dalam sehari Anda biasa melakukan
....... Menit/hari
aktivitas fisik ringan ?
6. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ....... Hari/minggu
berjalan termasuk berjalan untuk pergi dan
pulang dari tempat kerja kerja ? Tidak melakukan aktivitas
berjalan (loncat ke
BAGIAN 2)
7. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari
Anda biasa berjalan ?
....... Menit/hari
BAGIAN 2: Aktivitas fisik berkaitan dengan transportasi

Pertanyaan berikut adalah tentang bagaimana cara anda berpergian dari


suatu tempat ke tempat yang lain, termasuk ke tempat-tempat seperti
pekerjaan, toko, ke pasar, dan sebagainya dengan menggunakan jenis
kendaraan bermotor : roda dua, roda empat selama 7 hari terakhir.

8. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ....... Hari/minggu


menaiki kenderaan bermotor roda dua, roda
empat ? Tidak menaiki kendaraan
(loncat ke pertanyaan 10)

9. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Anda menaiki kendaraan bermotor roda dua, ....... Menit/hari
roda empat ?
Pertanyaan selanjutnya fokus pada aktivitas fisik bersepeda dan berjalan
untuk pergi dan pulang dari tempat kerja dalam periode waktu 7 hari
terakhir, setidaknya selama 10 menit.

10. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ....... Hari/minggu


bersepeda untuk pergi dan pulang kerja ?
Tidak bersepeda (loncat
ke pertanyaan 12)

11. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Anda bersepeda untuk pergi dan pulang ....... Menit/hari
kerja ?
12. Dalam seminggu terakhir, berapa hari ....... Hari/minggu
Anda berjalan untuk pergi dan pulang
kerja ? Tidak berjalan (lonat ke
BAGIAN 3)

13. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ...... Jam/minggu


Anda berjalan untuk pergi dan pulang ...... Menit/hari
kerja ?
BAGIAN 3 : Pekerjaan rumah tangga, perawatan rumah dan perawatan
untuk keluarga

Pertanyaan berikut mengenai aktivitas fisik yang Anda lakukan dalam 7


hari terakhir di dalam dan sekitar rumah seperti pekerjaan rumah tangga,
berkebun, dan pekerjaan sekitar halaman, pekerjaan umum pemeliharaan
rumah serta merawat keluarga Anda.

Pertanyaan 14, 16, dan 18 berkaitan dengan aktivitas fisik disekitar rumah
dan di dalam rumah dalam periode waktu 7 hari terakhir, yang Anda
lakukan setidaknya selama 10 menit pada suatu waktu.

Di sekitar rumah
14. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ....... Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik berat seperti
mengangkat barang berat 10 kg, (setara Tidak melakukan aktivitas
dengan zak beras kecil) memindah fisik berat (loncat ke
perabot rumah tangga, memotong kayu, pertanyaan 16)
mencangkul di sekitar rumah ?

15. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Anda biasa melakukan aktivitas fisik berat ....... Menit/hari
di sekitar rumah ?
16. Berapa hari dalam seminggu terakhr Anda ....... Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik ringan seperti
mengangkat benda ringan < 10 kg, Tidak melakukan aktivitas
menyapu halaman atau taman, mencuci fisik (loncat ke
mobil, mencuci daun pintu pertanyaan 18)
17. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/menit
Anda biasa melakukan aktivitas fisik ....... Menit/hari
ringan ?
Di dalam rumah
18. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ....... Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik ringan seperti
mengangkat benda ringan < 10 kg, Tidak melakukan aktivitas
memasak, mencuci, menyapu, mengepel fisik ringan (loncat ke
lantai ? BAGIAN 4)

19. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Aanda biasa melakukan aktivitas fisik ....... Menit/hari
ringan ?
BAGIAN 4 : Aktivitas rekreasi, olah raga dan aktivitas fisik di waktu luang

Pertanyaan berikut mengenai aktivitas fisik yang Anda lakukan di waktu


luang setidaknya selama 10 menit dalam 7 hari terakhir untuk aktivitas
rekreasi, berjalan, olah raga dan kegiatan lainnya.

20. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ........ Hari/minggu


lakukan di waktu luang untuk aktivitas
rekreasi, aktivitas berjalan, olah raga dan Tidak melakukan aktivitas
kegiatan lain ? berjalan (loncat ke
pertanyaan 22)

21. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ........ Jam/hari


Anda melakukan aktivitas di waktu luang ........ Menit/hari
untuk rekreasi, aktivitas berjalan, olah raga
dan kegiatan lain ?
22. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ........ Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik berat seperti
aerobik, berlari, bersepeda/ berenang cepat, Tidak melakukan aktivitas
tenis/bulu tangkis single ? berat (loncat ke
pertanyaan 24)
23. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ........ Jam/hari
Anda biasa melakukan aktivitas fisik berat ........ Menit/hari
seperti aerobik, berlari, bersepeda/
berenang cepat, tenis/bulu tangkis single ?
24. Berapa hari dalam seminggu terakhir Anda ........ Hari/minggu
melakukan aktivitas fisik ringan seperti
bersepeda / berenang dengan kecepatan Tidak melakukan aktivitas
biasa, bermain tenis/bulu tangkis ganda ? ringan (loncat ke
BAGIAN 5)

25. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Anda biasa melakukan aktivitas fisik ....... Menit/hari
ringan seperti bersepeda / berenang dengan
kecepatan biasa, bermain tenis/bulu
tangkis ganda ?
BAGIAN 5 : Waktu yang digunakan untuk duduk

Pertanyaan berikut adalah tentang waktu Anda yang biasa lakukan untuk
duduk di rumah, di tempat kerja, mengunjungi teman, membaca atau
berbaring melihat TV.

26. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Anda biasa duduk di hari kerja ? ....... Menit/hari

27. Dalam sehari, berapa lama (jam, menit) ....... Jam/hari


Anda biasa duduk pada hari akhir pekan/ ....... Menit/hari
tidak bekerja ?
E. Pertanyaan kebiasaan merokok
1. Apakah Anda merokok atau pernah merokok ?
0 : Tidak pernah merokok
1 : Pernah merokok
2 : Merokok
2. Berapa batang per hari Anda merokok atau pernah merokok ?
........ batang/hari
3. Berapa lama Anda merokok atau pernah merokok ?
....... tahun.
4. Jika anda tidak merokok, apakah Anda termasuk perokok pasif yaitu
sering menghirup asap rokok dari orang yang merokok di dalam ruangan
tertutup (tempat kerja/rumah) ?
0 : Tidak 1 : Ya
F. Pertanyaan untuk konsumsi garam dapur berlebihan/asin
1. Apakah Anda pernah mengkonsumsi makanan asin/yang mengandung
garam dapur berlebihan dalam seminggu terakhir:
0 : Tidak 1 : Ya, Sebutkan ?

1) Ikan asin Ya Tidak Berapa : ....... x/minggu

2) Telor asin Ya Tidak Berapa : ....... x/minggu

3) Sarden Ya Tidak Berapa : ....... x/minggu


4) Sayur mengandung garam

Ya Tidak Berapa : .......x/minggu


5) Sambal mengandung garam

Ya Tidak Berapa : ...... x/minggu


G. Pertanyaan mengkonsumsi lemak jenuh
1. Berapa kali dalam seminggu terakhir Anda makan daging (daging sapi,
daging kambing, kulit unggas, dan lain-lain) yang mengandung lemak atau
gajih ?
............x/minggu.
2. Berapa kali dalam seminggu terakhir Anda konsumsi makanan yang diolah
dengan cara digoreng ?
...........x/minggu.
3. Berapa kali dalam seminggu terakhir Anda konsumsi makanan bersantan ?
............x/minggu
H. Pertanyaan untuk riwayat hipertensi pada keluarga
1. Apakah keluarga Anda (bapak, ibu, kakek, nenek) ada yang pernah
menderita hipertensi ?
0 : Tidak
1 : Ada, sebutkan siapa yang menderita hipertensi ? .............

I. Pertanyaan riwayat penyakit responden :


1. Apakah Anda pernah menderita penyakit di bawah ini:
1) Penyakit ginjal Ya Tidak
2) Penyakit jantung Ya Tidak
3) Penyakit diabetes Ya Tidak
4) Penyakit hipertiroid Ya Tidak
(Catatan : Jika responden sampel kasus (hipertensi) ditekankan sebelum
terdiagnosis hipertensi).
J. Kuesioner untuk tingkat stress :
Jawab pernyataan di bawah ini yang sesuai dengan yang Anda alami, dengan cara
mencontreng ( ) pada kotak di sebelah kanan sesuai dengan angkanya.
Keterangan :
0 : Tidak ada atau tidak pernah
1 : Kadang-kadang
2 : Sering
3 : Hampir setiap saat
No ASPEK PENILAIAN 0 1 2 3
1 Menjadi marah karena hal-hal kecil/sepele
2 Cenderung bereaksi berlebihan pada situasi
3 Kesulitan untuk relaksasi/bersantai
4 Mudah merasa kesal/jengkel
5 Merasa banyak menghabiskan energi (tenaga dan
waktu) karena cemas
6 Tidak sabaran
7 Mudah tersinggung
8 Sulit untuk beristirahat tidur
9 Mudah marah
10 Kesulitan untuk menenangkan diri setelah sesuatu
yang mengganggu
11 Sulit mentoleransi gangguan-gangguan terhadap
hal yang sedang dilakukan
12 Berada pada keadaan tegang
13 Tidak dapat memaklumi hal apapun yang
menghalangi Anda untuk menyelesapikan hal yang
Anda hadapi
14 Mudah gelisah
Klasifikasi tingkat stress:
Tingkat stress Skore
Normal 0 - 14
Ringan 15 - 18
Sedang 19 - 25
Berat 26 - 33
Sangat berat 34 42
Lampiran : Jenis aktivitas fisik dalam METs

JENIS AKTIVITAS FISIK DALAM METs

Jenis aktivitas METs


Berdiri 1,3
Membaca, berbicara di telepon 1,5
Duduk : di kelas, belajar, mencatat, di kantor, di tempat 1,8
kerja, menaiki kendaraan
Berjalan perlahan-lahan (< 2 mph), pekerjaan kantor, 2,0
petugas toko, bermain alat musik. bekerja sambil berdiri
(perakitan).
Memasak, belanja, mendorong kereta dorong anak, 2,5
berjalan dengan rata-rata kecepatan 2 2,5 mph, menari
lambat, bekerja di perikanan.
Mengepel lantai, mencuci mobil, mencuci pintu rumah, 3
menyapu di rumah, memetik buah dan sayuran di kebun,
merawat pasien, mengemudikan mobil (kendaraan
bermotor), melakukan pekerjaan ringan sambil berdiri
(merakit, mengelas), mengangkat barang ringan < 10 kg.
Berjalan cepat (3 mph), menari cukup cepat. 3,5
Pekerjaan berat di halaman atau berkebun, bersepeda 4
santai (< 10 mph), menyapu rumput, penyiangan taman
di halaman. Menyiang tanaman padi, menanam padi di
sawah, mengangkat barang cukup berat (10 25 kg),
menaiki tangga atau memanjat pohon.
Berenang lambat, menari cepat. 4,5
Tenis ganda, bulu tangkis ganda, sepak bola, membawa 5
benda sangat berat > 25 kg, menggali, pertukangan
bangunan, memotong rumput dengan tangan (mencari
rumput). memotong kayu.
Jogging lambat, menyekop tanah/pasir, mencangkul, 6-8
membajak sawah, mendayung atau kayak, beberapa
latihan aparatur (TNI, Polri), hiking.
Bersepeda 10 16 mph, berenang cukup cepat, senam 7-12
aerobik, tenis single, bulu tangkis single.
Jogging cepat (12 menit/mil), 8
Berjalan 6 mph (10 menit/mil) 10
Berjalan 8 mph (7,5 menit/mil) 13,5
Berjalan 10 mph (6 menit/mil) 16
___ ____ ____ ____ ____ (R)
/__ / ____/ / ____/
___/ / /___/ / /___/ 12.0 Copyright 1985-2011 StataCorp LP
Statistics/Data Analysis StataCorp
4905 Lakeway Drive
Special Edition College Station, Texas 77845 USA
800-STATA-PC http://www.stata.com
979-696-4600 stata@stata.com
979-696-4601 (fax)

Single-user Stata network perpetual license:


Serial number: 93611859953
Licensed to: Made Kertaduana, SKM., MPH
PS IKM Udayana

Notes:
1. (/v# option or -set maxvar-) 5000 maximum variables

. tab kat_umur kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
kat_umur | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
15-24 th | 1 1| 2
| 1.27 1.27 | 1.27
-----------+----------------------+----------
25-34 th | 5 4| 9
| 6.33 5.06 | 5.70
-----------+----------------------+----------
35-44 th | 16 13 | 29
| 20.25 16.46 | 18.35
-----------+----------------------+----------
45-54 th | 36 35 | 71
| 45.57 44.30 | 44.94
-----------+----------------------+----------
55-64 th | 20 25 | 45
| 25.32 31.65 | 28.48
-----------+----------------------+----------
65-74 th | 1 1| 2
| 1.27 1.27 | 1.27
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(5) = 0.9911 Pr = 0.963

. logistic kelompok i.kat_umur

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(5) = 0.99
Prob > chi2 = 0.9631
Log likelihood = -109.02074 Pseudo R2 = 0.0045

------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------+----------------------------------------------------------------
kat_umur |
2 | .8 1.252198 -0.14 0.887 .0372176 17.19615
3 | .8125 1.188425 -0.14 0.887 .0462158 14.2842
4 | .9722222 1.394164 -0.02 0.984 .0584985 16.15796
5 | 1.25 1.807104 0.15 0.877 .0735093 21.25582
6 | 1 2 0.00 1.000 .0198425 50.39681
|
_cons | 1 1.414214 -0.00 1.000 .0625488 15.98751
------------------------------------------------------------------------------

. lab def jk 1 "Laki-laki" 0 "Perempuan", replace

. recode jeniskel 2=0


(jeniskel: 126 changes made)

. tab jeniskel kelompok

| kelompok
Jenis Kel | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
Perempuan | 63 63 | 126
Laki-laki | 16 16 | 32
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158

. tab jeniskel kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+
| kelompok
Jenis Kel | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
Perempuan | 63 63 | 126
| 79.75 79.75 | 79.75
-----------+----------------------+----------
Laki-laki | 16 16 | 32
| 20.25 20.25 | 20.25
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 0.0000 Pr = 1.000

. cc kelompok jeniskel
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 16 63 | 79 0.2025
Controls | 16 63 | 79 0.2025
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 32 126 | 158 0.2025
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | 1 | .4266663 2.34371 (exact)
Attr. frac. ex. | 0 | -1.343752 .573326 (exact)
Attr. frac. pop | 0 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 0.00 Pr>chi2 = 1.0000

. tab kat_pddkn kelompok, col chi


+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
kat_pddkn | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
<SMA | 40 63 | 103
| 50.63 79.75 | 65.19
-----------+----------------------+----------
SMA-PT | 39 16 | 55
| 49.37 20.25 | 34.81
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 14.7541 Pr = 0.000

. cc kelompok kat_pddkn
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 16 63 | 79 0.2025
Controls | 39 40 | 79 0.4937
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 55 103 | 158 0.3481
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | .2604803 | .12014 .5546794 (exact)
Prev. frac. ex. | .7395197 | .4453206 .87986 (exact)
Prev. frac. pop | .3650794 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 14.75 Pr>chi2 = 0.0001

. tab pekerjaan kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
Pekerjaan | Kontrol Kasus | Total
--------------+----------------------+----------
IRT | 27 29 | 56
| 34.18 36.71 | 35.44
--------------+----------------------+----------
Tani/buruhtani| 13 16 | 29
| 16.46 20.25 | 18.35
--------------+----------------------+----------
Wiraswasta | 29 28 | 57
| 36.71 35.44 | 36.08
--------------+----------------------+----------
PNS/TNI/Polri | 10 6| 16
| 12.66 7.59 | 10.13
--------------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(3) = 1.3993 Pr = 0.706

. logistic kelompok i.pekerjaan


Logistic regression Number of obs = 158
LR chi2(3) = 1.41
Prob > chi2 = 0.7031
Log likelihood = -108.81197 Pseudo R2 = 0.0064

------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------+----------------------------------------------------------------
pekerjaan |
2 | 1.145889 .5262896 0.30 0.767 .4657986 2.818945
3 | .8989298 .3384048 -0.28 0.777 .4298218 1.880023
4 | .5586207 .3248592 -1.00 0.317 .1786944 1.746317
|
_cons | 1.074074 .2872416 0.27 0.789 .6359103 1.814148
------------------------------------------------------------------------------

AF(METs)
-------------------------------------------------------------
Percentiles Smallest
1% 1326 1324
5% 2719 1326
10% 3474 1920 Obs 158
25% 4278 2066 Sum of Wgt. 158

50% 5531.5 Mean 6149.718


Largest Std. Dev. 3494.136
75% 6618 16221
90% 8793 21027 Variance 1.22e+07
95% 13167 23604 Skewness 3.10258
99% 23604 27094 Kurtosis 15.90538
. gen kat_af_med= afmets

. recode kat_af_med min/4277=1 4278/6618=2 6619/max=3


(kat_af_med: 158 changes made)

. lab val kat_af_med af

. tab kat_af_med

kat_af_med | Freq. Percent Cum.


------------+-----------------------------------
ringan | 39 24.68 24.68
sedang | 80 50.63 75.32
tinggi | 39 24.68 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab kat_af_med kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
kat_af_med | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
ringan | 5 34 | 39
| 6.33 43.04 | 24.68
-----------+----------------------+----------
sedang | 44 36 | 80
| 55.70 45.57 | 50.63
-----------+----------------------+----------
tinggi | 30 9| 39
| 37.97 11.39 | 24.68
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(2) = 33.6718 Pr = 0.000

. logistic kelompok ib3.kat_af_med

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(2) = 36.93
Prob > chi2 = 0.0000
Log likelihood = -91.054523 Pseudo R2 = 0.1686

------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------+----------------------------------------------------------------
kat_af_med |
1 | 22.66667 13.85926 5.10 0.000 6.838027 75.13538
2 | 2.727273 1.204175 2.27 0.023 1.147881 6.479781
|
_cons | .3 .1140175 -3.17 0.002 .1424344 .6318698
------------------------------------------------------------------------------

. tab kat_merokokbt

kat_merokok |
(bt) | Freq. Percent Cum.
------------+-----------------------------------
0| 135 85.44 85.44
1| 6 3.80 89.24
2| 14 8.86 98.10
3| 3 1.90 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab merokok

merokok | Freq. Percent Cum.


------------+-----------------------------------
0| 135 85.44 85.44
1| 10 6.33 91.77
2| 13 8.23 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab merokok kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
merokok | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 65 70 | 135
| 82.28 88.61 | 85.44
-----------+----------------------+----------
1| 6 4| 10
| 7.59 5.06 | 6.33
-----------+----------------------+----------
2| 8 5| 13
| 10.13 6.33 | 8.23
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(2) = 1.2775 Pr = 0.528

. logistic kelompok i.merokok

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(2) = 1.29
Prob > chi2 = 0.5256
Log likelihood = -108.87399 Pseudo R2 = 0.0059

------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------+----------------------------------------------------------------
merokok |
1 | .6190476 .4135762 -0.72 0.473 .1671281 2.292972
2 | .5803571 .3456271 -0.91 0.361 .1806213 1.864754
|
_cons | 1.076923 .1855008 0.43 0.667 .7683597 1.509402
------------------------------------------------------------------------------

. tab perokokpasif

Perokok |
Pasif | Freq. Percent Cum.
------------+-----------------------------------
0| 113 71.52 71.52
1| 45 28.48 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab perokokpasif kelompok, col chi


+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

Perokok | kelompok
Pasif | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 56 57 | 113
| 70.89 72.15 | 71.52
-----------+----------------------+----------
1| 23 22 | 45
| 29.11 27.85 | 28.48
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 0.0311 Pr = 0.860

. cc kelompok perokokpasif
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 22 57 | 79 0.2785
Controls | 23 56 | 79 0.2911
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 45 113 | 158 0.2848
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | .9397407 | .443823 1.9875 (exact)
Prev. frac. ex. | .0602593 | -.9874998 .556177 (exact)
Prev. frac. pop | .0175439 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 0.03 Pr>chi2 = 0.8601

. tab rwyt_penyakit_dasar

rwyt_penyak |
it_dasar | Freq. Percent Cum.
------------+-----------------------------------
0| 143 90.51 90.51
1| 15 9.49 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab rwyt_penyakit_dasar kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

rwyt_penya | kelompok
kit_dasar | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 76 67 | 143
| 96.20 84.81 | 90.51
-----------+----------------------+----------
1| 3 12 | 15
| 3.80 15.19 | 9.49
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 5.9664 Pr = 0.015

. cc kelompok rwyt_penyakit_dasar
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 12 67 | 79 0.1519
Controls | 3 76 | 79 0.0380
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 15 143 | 158 0.0949
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | 4.537313 | 1.147154 25.88296 (exact)
Attr. frac. ex. | .7796053 | .1282773 .9613645 (exact)
Attr. frac. pop | .1184211 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 5.97 Pr>chi2 = 0.0146

. tab st_gizi

st_gizi | Freq. Percent Cum.


------------+-----------------------------------
1| 8 5.06 5.06
2| 58 36.71 41.77
3| 28 17.72 59.49
4| 46 29.11 88.61
5| 18 11.39 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. lab def st_gizi 1"Kurus" 2 "Normal" 3 "OW" 4"Obese1" 5"Obase2"


. lab val st_gizi

. lab val st_gizi st_gizi

. tab st_gizi kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
st_gizi | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
Kurus | 4 4| 8
| 5.06 5.06 | 5.06
-----------+----------------------+----------
Normal | 38 20 | 58
| 48.10 25.32 | 36.71
-----------+----------------------+----------
OW | 16 12 | 28
| 20.25 15.19 | 17.72
-----------+----------------------+----------
Obese1 | 18 28 | 46
| 22.78 35.44 | 29.11
-----------+----------------------+----------
Obase2 | 3 15 | 18
| 3.80 18.99 | 11.39
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00
Pearson chi2(4) = 16.3315 Pr = 0.003

. logistic kelompok ib2.st_gizi

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(4) = 17.18
Prob > chi2 = 0.0018
Log likelihood = -100.92857 Pseudo R2 = 0.0784

------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------+----------------------------------------------------------------
st_gizi |
1 | 1.9 1.442394 0.85 0.398 .4291015 8.412929
3 | 1.425 .6716409 0.75 0.452 .5657449 3.589295
4 | 2.955556 1.209922 2.65 0.008 1.324893 6.593218
5 | 9.5 6.556485 3.26 0.001 2.456187 36.74394
|
_cons | .5263158 .1453964 -2.32 0.020 .3062664 .9044686
------------------------------------------------------------------------------

. tab obes_sentral

obes_sentra |
l| Freq. Percent Cum.
------------+-----------------------------------
0| 59 37.34 37.34
1| 99 62.66 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab obes_sentral kelompok, col chi


+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

obes_sentr | kelompok
al | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 43 16 | 59
| 54.43 20.25 | 37.34
-----------+----------------------+----------
1| 36 63 | 99
| 45.57 79.75 | 62.66
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 19.7196 Pr = 0.000

. cc kelompok obes_sentral
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 63 16 | 79 0.7975
Controls | 36 43 | 79 0.4557
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 99 59 | 158 0.6266
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | 4.703125 | 2.206155 10.19267 (exact)
Attr. frac. ex. | .7873754 | .5467227 .9018903 (exact)
Attr. frac. pop | .627907 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 19.72 Pr>chi2 = 0.0000

. tab tk_konsgaram

tk_konsgara |
m| Freq. Percent Cum.
------------+-----------------------------------
0| 26 16.46 16.46
1| 5 3.16 19.62
2| 21 13.29 32.91
3| 105 66.46 99.37
5| 1 0.63 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab kons_garam

kons_garam | Freq. Percent Cum.


------------+-----------------------------------
0| 25 15.92 15.92
1| 132 84.08 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 157 100.00

. tab kons_garam kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+
| kelompok
kons_garam | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 19 6| 25
| 24.36 7.59 | 15.92
-----------+----------------------+----------
1| 59 73 | 132
| 75.64 92.41 | 84.08
-----------+----------------------+----------
Total | 78 79 | 157
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 8.2388 Pr = 0.004

. cc kelompok kons_garam
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 73 6 | 79 0.9241
Controls | 59 19 | 78 0.7564
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 132 25 | 157 0.8408
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | 3.918079 | 1.379901 12.66755 (exact)
Attr. frac. ex. | .7447729 | .2753103 .9210582 (exact)
Attr. frac. pop | .6882079 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 8.24 Pr>chi2 = 0.0041

. tab kons_lemakjnh
kons_lemakj |
nh | Freq. Percent Cum.
------------+-----------------------------------
0| 1 0.63 0.63
1| 157 99.37 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. gen tkstres= skor_stres

. lab def stres 1 "Normal" 2 "Ringan" 3 "Sedang" 4 "Berat" 5 "Sangat berat"

. lab val tkstres stres

. tab tkstres

tkstres | Freq. Percent Cum.


-------------+-----------------------------------
Normal | 65 41.14 41.14
Ringan | 34 21.52 62.66
Sedang | 39 24.68 87.34
Berat | 20 12.66 100.00
-------------+-----------------------------------
Total | 158 100.00

. tab tkstres kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+
| kelompok
tkstres | Kontrol Kasus | Total
-------------+----------------------+----------
Normal | 55 10 | 65
| 69.62 12.66 | 41.14
-------------+----------------------+----------
Ringan | 15 19 | 34
| 18.99 24.05 | 21.52
-------------+----------------------+----------
Sedang | 7 32 | 39
| 8.86 40.51 | 24.68
-------------+----------------------+----------
Berat | 2 18 | 20
| 2.53 22.78 | 12.66
-------------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(3) = 60.4501 Pr = 0.000

. logistic kelompok i.tkstres

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(3) = 66.85
Prob > chi2 = 0.0000
Log likelihood = -76.092804 Pseudo R2 = 0.3052

------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------+----------------------------------------------------------------
tkstres |
2 | 6.966667 3.394991 3.98 0.000 2.680514 18.10639
3 | 25.14286 13.59317 5.96 0.000 8.714111 72.54478
4 | 49.5 40.63035 4.75 0.000 9.906635 247.3342
|
_cons | .1818182 .0625047 -4.96 0.000 .0926861 .3566645
------------------------------------------------------------------------------

. tab gajih

Gajih | Freq. Percent Cum.


------------+-----------------------------------
1| 32 36.36 36.36
2| 24 27.27 63.64
3| 17 19.32 82.95
4| 9 10.23 93.18
5| 1 1.14 94.32
6| 1 1.14 95.45
7| 4 4.55 100.00
------------+-----------------------------------
Total | 88 100.00

. tab rwyt_ht kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

| kelompok
rwyt_HT | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 54 37 | 91
| 68.35 46.84 | 57.59
-----------+----------------------+----------
1| 25 42 | 67
| 31.65 53.16 | 42.41
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 7.4893 Pr = 0.006

. cc kelompok rwyt_ht
Proportion
| Exposed Unexposed | Total Exposed
-----------------+------------------------+------------------------
Cases | 42 37 | 79 0.5316
Controls | 25 54 | 79 0.3165
-----------------+------------------------+------------------------
Total | 67 91 | 158 0.4241
| |
| Point estimate | [95% Conf. Interval]
|------------------------+------------------------
Odds ratio | 2.451892 | 1.22166 4.943825 (exact)
Attr. frac. ex. | .5921517 | .1814414 .7977275 (exact)
Attr. frac. pop | .3148148 |
+-------------------------------------------------
chi2(1) = 7.49 Pr>chi2 = 0.0062

. tab kons_lemakjnh_01 kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

kons_lemak | kelompok
jnh_01 | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 1 0| 1
| 1.27 0.00 | 0.63
-----------+----------------------+----------
1| 78 79 | 157
| 98.73 100.00 | 99.37
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(1) = 1.0064 Pr = 0.316

. tab tk_konsgajih_01 kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

tk_konsgaj | kelompok
ih_01 | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 46 23 | 69
| 58.23 29.11 | 43.67
-----------+----------------------+----------
1| 16 18 | 34
| 20.25 22.78 | 21.52
-----------+----------------------+----------
2| 11 29 | 40
| 13.92 36.71 | 25.32
-----------+----------------------+----------
3| 6 9| 15
| 7.59 11.39 | 9.49
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(3) = 16.4843 Pr = 0.001

. logistic kelompok i. tk_konsgajih_01

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(3) = 16.94
Prob > chi2 = 0.0007
Log likelihood = -101.04955 Pseudo R2 = 0.0773

---------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
----------------+----------------------------------------------------------------
tk_konsgajih_01 |
1 | 2.25 .9632338 1.89 0.058 .9722542 5.206972
2 | 5.272726 2.30201 3.81 0.000 2.240839 12.4068
3 | 3 1.756974 1.88 0.061 .9519373 9.454404
|
_cons | .5 .1276885 -2.71 0.007 .3031048 .8247974
---------------------------------------------------------------------------------

. tab tk_konsgorengan_01 kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

tk_konsgor | kelompok
engan_01 | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 6 1| 7
| 7.59 1.27 | 4.43
-----------+----------------------+----------
1| 2 1| 3
| 2.53 1.27 | 1.90
-----------+----------------------+----------
2| 7 4| 11
| 8.86 5.06 | 6.96
-----------+----------------------+----------
3| 64 73 | 137
| 81.01 92.41 | 86.71
-----------+----------------------+----------
Total | 79 79 | 158
| 100.00 100.00 | 100.00

Pearson chi2(3) = 5.3142 Pr = 0.150

. logistic kelompok i.tk_konsgorengan_01

Logistic regression Number of obs = 158


LR chi2(3) = 5.72
Prob > chi2 = 0.1259
Log likelihood = -106.65599 Pseudo R2 = 0.0261

------------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-------------------+----------------------------------------------------------------
tk_konsgorengan_01 |
1 | 3 4.898979 0.67 0.501 .1222123 73.64234
2 | 3.428571 4.281631 0.99 0.324 .2965685 39.63705
3 | 6.84375 7.484417 1.76 0.079 .8024329 58.36864
|
_cons | .1666667 .1800206 -1.66 0.097 .0200653 1.384368
------------------------------------------------------------------------------------

. tab tk_konssantan_01 kelompok, col chi

+-------------------+
| Key |
|-------------------|
| frequency |
| column percentage |
+-------------------+

tk_konssan | kelompok
tan_01 | Kontrol Kasus | Total
-----------+----------------------+----------
0| 7 18 | 25
| 50.00 22.78 | 26.88
-----------+----------------------+----------
1| 2 27 | 29
| 14.29 34.18 | 31.18
-----------+----------------------+----------
2| 4 26 | 30
| 28.57 32.91 | 32.26
-----------+----------------------+----------
3| 1 8| 9
| 7.14 10.13 | 9.68
-----------+----------------------+----------
Total | 14 79 | 93
| 100.00 100.00 | 100.00
Pearson chi2(3) = 4.9646 Pr = 0.174

. logistic kelompok i. tk_konssantan_01

Logistic regression Number of obs = 93


LR chi2(3) = 4.75
Prob > chi2 = 0.1907
Log likelihood = -37.021245 Pseudo R2 = 0.0603

----------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
-----------------+----------------------------------------------------------------
tk_konssantan_01 |
1 | 5.25 4.502314 1.93 0.053 .9776486 28.19265
2 | 2.527778 1.763792 1.33 0.184 .6438746 9.923765
3 | 3.111111 3.579012 0.99 0.324 .3263593 29.65753
|
_cons | 2.571429 1.145405 2.12 0.034 1.074037 6.156442
----------------------------------------------------------------------------------

. logistic kelompok ib3.kat_af_med rwyt_penyakit_dasar ib2.st_gizi obes_sentral


kons_garam i.tkstres rwyt_ht i.tk_konsgajih
> _01 i.tk_konsgorengan_01 kat_pddkn

Logistic regression Number of obs = 157


LR chi2(20) = 117.91
Prob > chi2 = 0.0000
Log likelihood = -49.863822 Pseudo R2 = 0.5418

-------------------------------------------------------------------------------------
kelompok | Odds Ratio Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]
--------------------+----------------------------------------------------------------
kat_af_med |
1 | 24.89764 22.75504 3.52 0.000 4.151527 149.3167
2 | 2.130846 1.419636 1.14 0.256 .577371 7.864099
|
rwyt_penyakit_dasar | 5.783714 6.047332 1.68 0.093 .745089 44.89578
|
st_gizi |
1 | .66846 .881039 -0.31 0.760 .0504871 8.850548
3 | .7639167 .7473682 -0.28 0.783 .1122752 5.197664
4 | .5253802 .4434637 -0.76 0.446 .1004593 2.747623
5 | 1.952764 2.22858 0.59 0.558 .2085551 18.2843
|
obes_sentral | 3.323624 2.784964 1.43 0.152 .6432279 17.17351
kons_garam | .5114154 .3909611 -0.88 0.380 .1143028 2.288183
|
tkstres |
2 | 3.671262 2.588352 1.84 0.065 .9219181 14.6197
3 | 19.72306 15.00615 3.92 0.000 4.439596 87.62037
4 | 32.55706 35.14382 3.23 0.001 3.924759 270.0706
|
rwyt_ht | 2.074542 1.262165 1.20 0.230 .6295723 6.835948
|
tk_konsgajih_01 |
1 | 1.395118 1.048789 0.44 0.658 .3196794 6.088458
2 | 3.383609 2.376789 1.74 0.083 .8540054 13.40602
3 | 3.318077 3.499015 1.14 0.255 .420018 26.21228
|
tk_konsgorengan_01 |
1 | 3.307404 10.61078 0.37 0.709 .0061471 1779.521
2 | 8.699673 16.39764 1.15 0.251 .2163264 349.8618
3 | 7.443248 10.80803 1.38 0.167 .4322831 128.1612
|
kat_pddkn | .1613637 .1048281 -2.81 0.005 .0451682 .5764736
_cons | .0083469 .0139486 -2.86 0.004 .0003155 .220794
-------------------------------------------------------------------------------------
. log close
name: <unnamed>
log: /Users/artawan/Documents/Documents/Bimbingan/Pak Aripin/hasil
analisis tambahan 12 mei.log
log type: text
closed on: 12 May 2015, 12:01:29
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------

Anda mungkin juga menyukai