Anda di halaman 1dari 15

1.

Perspektif dan falsafah keperawatan

Falsafah Praktik Keperawatan

Dalam lokakarya nasional bulan Januari, 1983 telah disepakati adanya profesionalisasi
keperawatan, dengan menetapkan pengertian keperawatan, falsafah keperawatan dan
peran/fungsi perawat.

Falsafah Keperawatan di Indonesia

Perawat merupakan bantuan, diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental,
keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan
melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari.
Kegiatan dilakukan dalam upaya penyembuhan, pemulihan, serta pemeliharaan kesehatan
dengan penekanan kepada upaya pelayanan utama (PHC) sesuai dengan wewenang, tanggung
jawab dan etika keperawatan (Ibrahim C., 1988).

Falsafah Dasar Praktik Keperawatan (Mary H. Kohnke, Ed.D, RN)

1. Tenaga profesional harus mempunyai otoritas penuh terhadap pelayanan yang diijinkan
bagi mereka untuk memberikan kepada klien, bahwa mereka harus bertanggung jawab
penuh pada pelayanan tersebut, dan mereka harus diberikan akuntabilitas secara penuh.
2. Manusia merupakan bagian integral dari alam raya dan manusia merupakan sistem
terbuka yang berlaku dan diberlakukan oleh lingkungan yang universal.
3. Manusia tumbuh dan berkembang secara kontinu.
4. Manusia tumbuh dalam kompleksitas dan berubah secara konstan, di mana jika kita
dapatkan seorang klien hari ini bukan di mana seperti ia besoknya.
5. Manusia merupakan suatu bagian tersendiri, suatu sistem energi, dimana ia juga
merupakan bagian aktif dari suatu kelompok. Kelompok yang paling dasar adalah
keluarga, dan keluarga ini dapat merupakan keluarga inti yang terdiri dari suami, istri,
anak-anak; keluarga besar yang juga beranggota teman-teman, kekasih, dan binatang
piaraan. Bila terjadi suatu hal pada seseorang maka akan mempengaruhi unit atau
tindakan keluarga, atau sebaliknya. Dengan demikian, keluarga merupakan konsep
penting bagi Perawat dan interaksi Perawat dengan klien sebagai manusia .
6. Hak semua orang.
7. Harus Tersedia Sewaktu Dibutuhkan .
8. Harus dapat memenuhi kebutuhan perawatan masyarakat baik sehat maupun sakit.
9. Kapanpun dan dimanapun.
10. Dapat diberikan dalam bentuk yang bermakna terhadap kelompok dengan budaya yang
berbeda.
Lokakarya tahun 1983

1) Peranan independen dan interndependen yang lebih terintegrasi dalam pelayanan


kesehatan.
2) Program gelar dalam pendidikan keperawatan.
3) Pengakuan terhadapa keperawatan sebagai suatu profesi yang mempunyai identitas
professional.
Lokakarya nasional tentang keperawatan bulan januari 1983 di jakarta merupakan awal
diterimanya keperawatan sebagai suatu profesi.
Disimpulkan Keperawatan di Indonesia merupakan pelayanan yang diberikan
secara profesional. Definisi ini juga mempertegas bahwa keperawatan merupakan
profesi bukan sekedar pekerjaan atau vokasi .
Perawat termasuk profesi karena mempunyai ciri-ciri sebagai :
1. Mempunyai body of knowledge
2. Pendidikan berbasis keahlian pada jenjang pendidikan tinggi.
3. Memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik dalam bidang
profesi.
4. Memiliki perhimpunan/organisasi profesi.
5. Pemberlakuan kode etik keperawatan.
6. Otonomi
7. Motivasi bersifat altruistik

2. Ruang Lingkup Keperawatan

1. Anak

Lingkup keperawatan anak tidak dapat dipisahkan dari ilmu kesehatan anak, seiring dan
termasuk didalamnya pediatri klinik, pediatri sosial dan pediatri pencegahan. Ketiga
bahan ini saling terkait melengkapi dan mempengaruhi.

a. Pediatri klinik

Bagian ini membahas tentang status sakit, yang meliputi penyakit, pengobatan dan
perawatannya. Sekarang bagian ini telah makin berkembang dengan adanya bagian-
bagian khusus antara lain bagian radiologi anak, bedah anak, hematologi anak,
endokrinologi anak, dan neonatologi anak.
b. Pediatri pencegahan

Mempunyai tujuan pencegahan penyakit. Dinegara yang telah maju dengan cakupan
imunisasi yang luas dan teratur. Pada dasarnya hygine yang baik, tidak ditemukan lagi
penyakit-penyakit seperti tetanus, difteri, thypus abdominalis, Poliomielitis.

c. Pediatri Sosial

Mempelajari dan menggunakan cara-cara agar anak sehat, baik fisik, psikis maupun
sosial. Ini lebih sesuai dengan kesehatan anak karena akan mencapai kesejahteraan dan
juga untuk mencapai keadaan dewasa yang sebaik-baiknya. Termasuk didalamnya
pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial anak, mengidentifikasi
kebutuhan anak dihubungkan dengan tingkat perkembangannya, misalnya kebutuhan
primer anak,. Upaya perbaikan lingkungan anak untuk mencapai tingkat perkembangan
yang maksimal. Kebutuhan anak harus terpenuhi agar dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik adalah :

Lingkungan yang sejahtera dan bahagia, dengan orang tua yang hidup harmonis,
menjadi pelindung dan pembimbing anak serta memberi kasih sayang, tingkat sosial
ekonomi yang cukup, hubungan antar manusia.

2. Maternitas

Keperawatan maternitas merupakan salah satu bentuk pelayanan profesional keperawatan


yang ditujukan kepada wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system
reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir
sampai umur 40 hari, beserta keluarganya, berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar
dalam beradaptasi secara fisik dan psikososial untuk mencapai kesejahteraan keluarga
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

3. Jiwa

Ruang lingkup keperawatan komunitas meliputi: upaya-upaya peningkatan kesehatan


(promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif),
pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali
baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan
masyarakatnya(resosialisasi).
Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas, kegiatan yang ditekankan adalah
upaya preventif dan promotif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif, rehabilitatif dan
resosialitatif.

4. Dewasa atau medikal bedah

Ruang lingkup keperawatan medikal-bedah merupakan bentuk asuhan keperawatan pada


klien dewasa yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah nyata atau terprediksi
mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecacatan. Asuhan
keperawatan meliputi perlakuan terhadap individu untuk memperoleh
kenyamanan,membantu individu dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi
sehatnya,melakukan prevensi, deteksi dan mengatasi kondisi berkaitan dengan penyakit
,mengupayakan pemulihan sampai kliendapat mencapai kapasitas produktif
tertingginya,serta membantu klien menghadapi kematian secara bermartabat.

3. Trend Keperawatan

A. Pendidikan Keperawatan

Pendidikan Keperawatan di Indonesia


Pendidikan keperawatan di indonesia mengacu kepada UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jenis pendidikan keperawatan di Indonesia mencakup:
1. Pendidikan Vokasional
Yaitu jenis pendidikan diploma sesuai dengan jenjangnya untuk memiliki keahlian ilmu
terapan keperawatan yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia.

2. Pendidikan Akademik
Yaitu pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana yang diarahkan terutama pada
penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu

3. Pendidikan Profesi
Yaitu pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk
memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.
Sedangkan jenjang pendidikan keperawatan mencakup program pendidikan diploma,
sarjana, magister, spesialis dan doktor.

B. Perawat Profesional (Profesi)

Keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam menentukan
tindakannya didasari pada ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan yang jelas
dalam keahliannya, selain itu sebagai profesi keperawatan mempunyai otonomi dalam
kewenangan dan tanggung jawab dalam tindakan serta adanya kode etik dalam bekerja,
kemudian juga berorientasi pada pelayanan melalui pemberian asuhan kepada individu,
kelompok atau masyarakat.

Bentuk asuhan keperawatan ini sendiri merupakan suatu proses dalam praktek
keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan
kesehatan, dengan menggunakan metodologi proses keperawatan, berpedoman kepada
standar keperawatan, dilandasi etik keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung
jawab keperawatan. Praktek keperawatan juga merupakan tindakan mandiri perawat
professional melalui kerja sama berbentuk kolaborasi dengan pasien dan tenaga
kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan lingkup
wewenang dan tanggung jawabnya.

C. Standar Praktek Keperawatan


Keperawatan telah Meningkatkan kemandiriannya sebagai suatu profesi, maka sejumlah
standar praktik keperawatan telah ditetapkan. Standar praktik keperawatan sangat penting
sebagai petunjuk yang objektif untuk perawat memberikan perawatan yang optimal serta
sebagai kriteria untuk melakukan evaluasi dalam asuhan keperawatan. Ketika standar
telah didefenisikan secara jelas, klien dapat di yakinkan bahwa mereka mendapat asuhan
yang berkualitas tinggi, sedangkan perawat mengetahui secara pasti apakah yang penting
dalam pemberian asuhan keperawatan dan staf administrasi dapat menetukan apakah
asuhan yang diberikan memenuhu standar yang berlaku. Selain itu standar praktik
keperawatan berperan penting apabila muncul masalah hukum ketika melakukan suatu
tindakan praktik keperawatan. Berikut adalah Standar Praktik Keperawatan menurut
CAN (Canadian Nursing Association) :
1. Praktik keperawatan memerlukan model konsep keperawatan yang menjadi dasar
praktik.
2. Praktik keperawatan memerlukan penggunaan proses keperawatan secara efektif.
3. Praktik keperawatan memerlukan hubungan yang saling membantu untuk menjadi
dasar interaksi antar Klien-Perawat.
4. Praktik keperawatan menuntut perawat untuk memenuhi tanggung jawab profesi.
D. Jenjang Karier Perawat
Pendidikan berkelanjutan menjadi penting ketika perawat mulai bekerja di lingkungan
manapun, baik bekerja dilingkungan dewasa, anak-anak, penyakit kronik, di rumah,
ataupun di rumah sakit. Perawat mencangkup sejumlah peran yang luas. Berbagai arah
karir dan tujuan terbuka bagi perawat baru ataupun yang sudah berpengalaman (Heferin
dan Kleinknecht, 1986).
Kesempatan untuk mengembangkan karir meningkat. Karir di klinik merupakan
gabungan dari perawat pelaksana dan perawat administrasi, kerja sama antara perawat di
pendidikan dan di pelyanan serta system pengembangan professional.
Tahap-tahap karir klinik terdiri dari structural, criteria untuk kemampuan klinis, prosedur
promosi dan insentif untuk perluasan dalam organisasi asuhan kesehatan (Huey, 1982).
Struktur ini berbeda untuk institusi satu dengan institusi lain dan meliputi berbagai
tingkatan klinis, administrasi, penelitian dan jalur pendidikan (ANA, 1984). Dalam setiap
tingkatan structural terdapat tujuan tertentu, kriteria-kriteria yang dapat diukur. Dalam
system jenjang klinis, perawat tidak lagi naik jabatannya secara ketat berdasarkan tingkat
pendidikan dan senioritas dalam intitusi. Prosedur promosi jabatan dalam jenjang karir
ditetapkan dengan jelas, sehingga evaluasi oleh diri sendiri dan rekan-rekan sekerja
dibutuhkan untuk peningkatan karir dalam suatu system. Insentif karena peningkatan
kemampuan dapat diberikan dalam bentuk peningkatan otonomi kerja, peningkatan gaji,
ataupun promosi dalam jabatan structural organisasi tersebut, peningkatan ahli dan
aktualisasi diri.
Tahap karir klinis merupakan suatu metode untuk peningkatan karir melalui suatu
program yang dapat mendorong dan memotivasi perawat untuk bertahan dalam
lingkungan perawatan kesehatan. Konseling karir merupakan cara lain untuk
mempertahankan dan meningkatkan perawat dalam suatu lingkungan.
Hefferin dan Kleinknecht (1986) mengembangkan daftar pilihan karir keperawatan untuk
membantu perawat-perawat dalam memutuskan mana dari empat bidang praktik
keperawatan primer-klinis, administrasi, riset, atau pendidikan, yang menjadi keinginan
atau pilihan aktivitas kerja mereka. Daftar karir merupakan metode yang berharga dalam
mempertahankan perawat-perawat yang cerdas dan memiliki talenta dalam suatu institusi
dan menurunkan resiko perawat yang berpengalaman meninggalkan profesinya.
E. Legislasi Keperawatan

Proses menetapkan serangkaian ketentuan yang harus ditaati dan diikuti oleh setiap
perawat yang akan memberikan pelayanan kepada orang lain.
Untuk mendapatkan lisensi nkeperawatan menggunakan sistem regulasi
Sistem regulasi

Registrasi Sertifikasi

Lisensi

1. Registrasi keperawatan
Merupakan proses administrasi yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin
memberikan pelayanan keperawatan kepada orang lain sesuai dengan kemampuan
atau kompetensi
yang dimilikinya.
2. Sertifikat keperawatan
Sertifikasi juga ditetapkan bagi seseorang perawat terregistrasi yang akan melakukan
praktik keperawatan diluar area yang telah diregistrasi.
3. Lisensi
Ijin untuk melakukan tindakan keperawatan yang dibutuhkan dalam pemberian
pelayanan keperawatan.Diberikan hanya pada yang telah memiliki kompetensi
tertentu.Diperoleh setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerinta
(saat ini) atau profesi (masa mendatang)
Tujuan pemberian lisensia adalah
Menjamin pelayanan yang diberikan aman, dan etis sesuai kompetensi dan
kewenangan yang dimiliki.
Menata pelayanan kepada masyarakat, diberikan oleh orang yang tepat dan
mampu secara professional, etikal, dan legal.
Menghindarkan kerugian / kecelakaan / bahaya pada individu atau masyarakat
diberikan pelayanan
4. Isu Keperawatan

A. Konsep Bermain Anak


Pengertian Bermain
Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang
tidak disadari.(wholey and Wong,1991).
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk
memperoleh kesenangan.(Foster,1989)
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock)
Jadimkesimpulannya bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir.

Kategori Bermain
1. Bermain aktif
Yaitu anak banyak menggunakan energi inisiatif dari anak sendiri.
Contoh : bermain sepak bola.
2. Bermain pasif
Energi yang dikeluarkan sedikit,anak tidak perlu melakukan aktivitas (hanya melihat)
Contoh : memberikan support.

Ciri-Ciri Bermain
1. Selalu bermain dengan sesuatu atau benda
2. Selalu ada timbal balik interaksi
3. Selalu dinamis
4. Ada aturan tertentu
5. Menuntut ruangan tertentu
Fungsi dan Tujuan Bermain

a. Fungsi

1. Perkembangan sensorik motorik


Pada saat melakukan permainan, aktifitas motorik mrpk komponen terbesar yang
digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi
otot.

2. Perkembangan intelektual
Anak melakukan ekplorasi dan manipulasi thp segala sesuatu yg ada di ling
sekitarnya, terutama
mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek.
Pada saat bermain anak akan melatih diri dan memecahkan masalah.

3. Perkembangan sosial.
Perkbg sosial ditandai dgnkemampuan berinteraksi dgn lingkungannya.
Bermain dgn orla akan membantu anak utk mengembangkan hub sosial dan
belajar memecahkan masalah dari hub tersebut.Anak belajar berinteraksi dgn
teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar ttg nilai sosial yang ada pd
kelompok.

4. Perkembangan kreatifitas
Kemampuan utk menciptakan sesuatu dan mewujudkan ke dlm bentuk objek dan
atau kegiatan yang dilakukannya.

5. Perkembangan kesadaran diri.


Anak akan mengembangkan kemampuannya dlm mengatur t.l.
Anak akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkan dgn orla dan
menguji kemampuannya dgn mencoba peran baru dan mengetahui dampak t.l
terhadap orla.

6. Perkembangan moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari ling, terutama dari ortu dan guru.
Anak akan mendapatkan kesempatan utk menerapkan nilai-nilai sehingga dapat
diterima di ling dan dpt menyesuaikan diri dgn aturan yg ada dikelompoknya.
Anak belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yg akan dilakukan.

7. Terapi
Pada saat dirawat di RS anak akan mengalami berbagai perasaan yg sangat tidak
menyenangkan, seperti marah,takut,cemas, sedih
dan nyeri, sehinggaanak anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya dlm bentuk
permainan.

b. Tujuan

1. Untuk melanjutkan tukem yg normal pada saat sakit .

2. Mengekspresikan perasaan , keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.

3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.

4. Dapat beradaptasi secara efektif thp stres karena sakit dan di rawat di RS.

Klasifikasi Bermain

Menurut Isi
1. Social affective play
Anak belajar memberi respon terhadap respon yang diberikan oleh lingkungan dalam
bentuk permainan,misalnya orang tua berbicara memanjakan anak tertawa
senang,dengan bermain anak diharapkan dapat bersosialisasi dengan lingkungan.
2. Sense of pleasure play
Anak memproleh kesenangan dari satu obyek yang ada disekitarnya,dengan bermain
dapat merangsang perabaan alat,misalnya bermain air atau pasir.
3. Skill play
Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh ketrampilan tertentu dan anak
akan melakukan secara berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda.
4. Dramatika play role play
Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya menjadi ayah atau ibu

Menurut Karakteristik Sosial


1. Solitary play
Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain yang
bermai disekitarnya. Biasa dilakukan oleh anak balita Todler.
2. Paralel play
Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing mempunyai
mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak ada interaksi dan tidak
saling tergantung, biasanya dilakukan oleh anak preischool
Contoh : bermain balok
3. Asosiatif play
Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yangsma tetapi
belum terorganisasi dengan baik,belum ada pembagian tugas,anak bermain
sesukanya.
4. Kooperatif play
Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan yang terorganisasi dan
terencana dan ada aturan tertentu. Bissanya dilakukanoleh anak usia sekolah
Adolesen

Karakteristik Bermain Sesuai Tumbuh Kembang

1 BULAN
VISUAL : Lihat dengan jarak dekat
Gantungkan benda yang terang dan menyolok
AUDITORI : Bicara dengan bayi, menyanyi,musik,radio,detik jam
TAKTIL : Memeluk,menggendong,memberi kesenangan
KINETIK : Mengayun,naik kereta dorong

2-3 BULAN
VISUAL : Buat ruangan menjadi tenang,gambar,cermin ditembok
Bawa bayi ke ruangan lain
Letakkan bayi agar dapat memandang disekitar
AUDITORI : Bicara dengan bayi,beri mainan bunyi,ikut sertakan dalam pertemuan
keluarga.
TAKTIL : Memandikan ,mengganti popok,menyisir rambut dengan lembut,gosok
dengan lotion/bedak
KINETIK : Jalan dengan kereta,gerakan berenang,bermain air

4-6 BULAN
VISUAL : Bermain cermin,anak nonton TV
Beri mainan dengan warna terang
AUDITORI : Anak bicara,ulangi suara yang dibuat,panggil nama,
Remas kertas didekat telinga,Pegang mainan bunyi.
TAKTIL : Beri mainan lembut/kasar,mandi cemplung/cebur
KINETIK : Bantu tengkurap,sokong waktu duduk
6-9 BULAN
VISUAL : Mainan berwarna,bermain depan cermin,ciluk .ba.
Beri kertas untuk dirobek-robek.
AUDITORI : Panggil nama Mama Papa,dapat menyebutkan bagian tubuh,
Beri tahu yang anda lakukan,ajarkan tepuk tangan dan beri perintah sederhana.
TAKTIL : Meraba bahan bermacam-macam tekstur,ukuran,main air mengalir
Berenang
KINETIK : Letakkan mainan agak jauh lalu suruh untuk mengambilnya.

9-12 BULAN
VISUAL : Perlihatkan gambar dalam buku. Ajak pergi ke berbagai tempat
Bermain bola, Tunjukkan bangunan agak jauh.
AUDITORI : Tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan,
Kenalkan dengan suara binatang
TAKTIL : Beri makanan yang dapat dipegang
Kenalkan dingin,panas dan hangat.
KINETIK : Beri mainan

Mainan yang dianjurkan untuk Bayi 6-12 bulan


Blockies warna-warni jumlah,ukuran.
Buku dengan gambar menarik
Balon,cangkir dan sendok
Boneka bayi
Mainan yang dapat didorong dan ditarik

TODLER ( 2-3 TAHUN )


Mulai berjalan,memanjat,lari
Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya
Senang melempar,mendorong,mengambil sesuatu
Perhatiannya singkat
Mulai mengerti memiliki Ini milikku .
Karakteristik bermain Paralel Play
Toddler selalu brtengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu
Senang musik/irama
Mainan Untuk Toddler
Mainan yang dapat ditarik dan didorong
Alat masak
Malam,lilin
Boneka,Blockies,Telepon,gambar dalam buku,bola,dram yang dapat dipukul,
krayon,kertas.

PRE-SCHOOL
Cross motor and fine motors
Dapat melompat,bermain dan bersepeda.
Sangat energik dan imaginative
Mulai terbentuk perkembangan moral
Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dgn kelompok
Karakteristik bermain
Assosiative play
Dramatic play
Skill play
Laki-laki aktif bermain di luar
Perempuan didalam rumah

Mainan untuk Pre-school


Peralatan rumah tangga
Sepeda roda Tiga
Papan tulis/kapur
Lilin,boneka,kertas
Drum,buku dengan kata simple,kapal terbang,mobil,truk

USIA SEKOLAH
Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin
Dapat belajar dengan aturan kelompok
Belajar Independent,cooperative,bersaing,menerima orang lain.
Karakteristik Cooperative Play
Laki-laki : Mechanical
Perrempuan : Mother Role
Mainan untuk Usia Sekolah
6-8 TAHUN
Kartu,boneka,robot,buku,alat olah raga,alat untuk melukis,mencatat,sepeda.

8-12 TAHUN
Buku,mengumpulkan perangko,uang logam,pekerjaan tangan,
kartu,olah raga bersama,sepeda,sepatu roda.

Bermain di Rumah Sakit

Tujuan
1. Melanjutkan tugas kembang selama perawatan
2. Mengembangkan kreativitas melalui pengalaman permainan yang tepat
3. Beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit atau dirawat

Prinsip
1. Tidak banyak energi,singkat dan sederhana
2. Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang
3. Kelompok umur sama
4. Melibatkan keluarga/orang tua.

Upaya perawatan dalam pelaksanaan bermain


1. Lakukan saat tindakan keperawatan
2. Sengaja mencari kesempatan khusus

Beberapa hal yang harus diperhatikan


1. Alat bermain
2. Tempat bermain

Pelaksanaan bermain di RS dipengaruhi oleh :


1. Faktor pendukung
Pengetahuan perawat,fasilitas kebijakan RS,kerjasama Tim dan keluarga
2. Faktor penghambat
Tidak semua RS mempunyai fasilitas bermain.
Terapi Aktifitas Bermain (TAB)

B. Reaksi Hospitalisasi

Reaksi Hospitalisasi Kepada Anak


Reaksi Hospitalisasi Kepada Orang Tua
Reaksi Hospitalisasi Kepada Saudara Kandung