Anda di halaman 1dari 22

STATISTIKA INFERENSIAL

(Populasi, Sampel, Teknik Sampling, dan Jenis Hipotesis)

MAKALAH

Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Statistika

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Edi Istiyono M.Si.

Disusun Oleh:
M. Khairil Asrori (NIM.17707251017)
Iing Farikhin (NIM.17707251018)
Silvia Oksa (NIM.17707251019)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah dengan judul: Statistika Inferensial (Populasi dan Sampel, Teknik
Sampling, dan Jenis Hipotesis).
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Statistika dengan
dosen pengampu Dr. Drs. Edi Istiyono, M.Si. Penyusun mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan
makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah masih banyak
kekurangan baik isi maupun penulisannya. Oleh karena itu, penyusun sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perkembangan
penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, September 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman Sampul............................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 3
A. Statistika Inferensial.............................................................................. 3
B. Populasi dan Sampel............................................................................. 4
C. Teknik Sampling................................................................................... 8
D. Jenis Hipotesis...................................................................................... 13
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 18
A. Kesimpulan........................................................................................... 18
B. Saran..................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 19

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sebagai manusia dengan hakikatnya yaitu makhluk sosial, tentu dalam
kehidupan sehari-hari kita berhadapan dengan jutaan bahkan ratusan juta
manusia. Cara terbaik untuk mengetahui bagaimana pendapat masyarakat
adalah dengan menanyakan semua orang, yang dikenal dengan teknik sensus.
Akan tetapi, cara ini hampir tidak mungkin dilakukan untuk mewawancarai
puluhan atau ratusan juta orang dikarenakan membutuhkan waktu berbulan-
bulan. Satu-satunya cara untuk mengetahui pendapat masyarakat dengan cara
yang cepat adalah dengan menarik sampel dari populasi. Kita tidak
mewawancari semua anggota masyarakat, tetapi hanya sebagian saja dari
populasi (masyarakat) itu. Terdapat banyak teknik pengambilan sampel yang
dapat dilakukan. Jika dilakukan dengan teknik dan metode yang benar,
mewawancarai sedikit orang bisa menggambarkan pendapat semua anggota
populasi (masyarakat).
Bertemali dari pemaparan diatas, peranan sampel terlihat begitu sangat
penting. Hal ini juga yang membantu para peneliti melakukan penelitian pada
populasi atau kelompok yang besar. Selain itu, baik data yang didapat pada
populasi ataupun sampel dapat dijadikan hipotesis untuk penelitian. Oleh
karena itu, dalam makalah yang sederhana ini penyusun akan membahas
tentang statistika inferensial (populasi dan sampel, teknik sampling, dan jenis
hipotesis).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian statistika inferensial?
2. Apa pengertian populasi dan sampel?
3. Apa saja teknik sampling?
4. Apa pengertian hipotesis?
5. Apa saja jenis-jenis hipotesis?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan memahami pengertian statistika inferensial
2. Mengetahui dan memahami pengertian populasi dan sampel
3. Mengetahui dan memahami teknik sampling
4. Mengetahui dan memahami pengertian hipotesis
5. Mengetahui dan memahami jenis-jenis hipotesis

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Statistika Inferensial
Statistika inferensial yaitu metode yang berhubungan dengan analisis data
pada sampel dan hasilnya dipakai untuk generalisasi pada populasi.
Penggunaan statistika inferensial didasarkan pada peluang (probability) dan
sampel yang dianalisis diperoleh secara acak dan random (Nisfiannoor, 2009:
4). Menurut Naga dalam Nisfiannoor (2009: 4) menyatakan bahwa tugas dari
statistika inferensial adalah melakukan estimasi, menguji hipotesis, dan
mengambil keputusan.
Menurut Subagyo dan Djarwanto (2005: 2) menyatakan statistika induktif
adalah bagian statistika yang membahas analisis dan penyimpulan dari hasil
analisis ini. Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil analisis yang dilakukan
terhadap data yang sudah terkumpul.
Nisfiannoor, (2009: 4) mengemukakan penggolongan statistika inferensial
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Statistika Paramterik
Penggunaan teknik statistika parametrik didasarkan pada asumsi
bahwa data yang diambil mempunyai distribusi normal dan jenis data
yang digunakan interval atau rasio.
2. Statistika non-Parametrik
Penggunaan statistika nonparametrik tidak mengharuskan data yang
diambil mempunyai distribusi normal dan jenis data yang digunakan
dapat nominal dan ordinal.
Cara analisis yang dilakukan bermacam-macam, misalnya estimasi,
pengujian hipotesis, regresi dan korelasi. Secara lebih lengkap, pokok-pokok
pembahasan yang dikemukakan didalam statistika indukatif adalah:
1. Probabilitas
2. Kurva normal
3. Sampling dan distribusi sampling
4. Estimasi (pendugaan) harga parameter

3
5. Uji hipotesis, baik sederhana, perbandingan antara dua nilai, bagi mean
maupun proporsi.
6. Regresi, termasuk pengujian signifikansi dan penggunaanya untuk
prediksi.
7. Korelasi (Subagyo dan Djarwanto, 2005: 2)

B. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2013:80). Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek yang berada
pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan
masalah penelitian, atau keseluruhan unit atau individu dalam ruang
lingkup yang akan diteliti (Nanang, 2012: 74). Populasi adalah wilayah
generalisasi berupa subjek atau objek yang diteliti untuk dipelajari dan
diambil kesimpulan (Neolaka, 2014: 90). Dari penjelasan para ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi adalah objek pada suatu
wilayah yang memiliki karakteristik tertentu untuk diteliti.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian individu yang diselidiki dari keseluruhan
individu penelitian. Supaya lebih obyektif istilah individu sebaiknya
diganti istilah subyek dan atau obyek (Sugiyono, 2013: 80). Sampel
merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan
tertentu yang akan diteliti (Nanang, 2012: 74). Sampel adalah sebagian
dari populasi yang diteliti (Neolaka, 2014: 90). Dari penjelasan para ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel adalah suatu objek atau
kelompok dimana hal tersebut masih bagian dari populasi.
Untuk penelitian korelasional jumlah sampel minimal untuk
memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian
eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok

4
dan untuk penelitian survei jumlah sampel minimum adalah 100
(www.scrib.com/doc/78134465/populasi &sampel/06/8/13).
a. Roscoe (dalam Nanang Martono, 2012: 81) memberikan saran
mengenai jumlah sampel untuk penelitian:
1) Ukuran sampel yang layak dalam penelitian antara 30 sampai 500.
2) Bila sampel dibagi dalam beberapa kategori, maka jumlah sampel
untuk setiap kategori minimal adalah 30.
3) Bila dalam penelitian akan melakukan analisis multivariate (lebih
dari dua variable; variable independen dan dependen), maka
jumlah anggota sampel minimal adalah k10 kali dari jumlah
varibel yang diteliti. Misalnya: jumlah variable adalah 5, maka
jumlah sampel nya adalah 5 x 10 = 50.
4) Untuk penelitian eksperimen sederhana yang menggunakan
kelompok control dan kelompok eksperimen, maka jumlah sampel
untuk setiap kelompok adalah antara 10 sampai 20.
b. Petunjuk-petunjuk untuk Mengambil Sampel
1) Daerah generalisasi
Menentukan terlebih dahulu luas populasi sebagai daerah
generalisasi selanjutnya menentukan sampel sebagai daerah
penelitian.
Contoh: kalau yang diselidiki hanya satu kelas saja, jangan
diperluas sampai kelas-kelas, apalagi sampai menyimpulkan untuk
sekolah-sekolah lain.
2) Penegasan sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya
Menentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan
memberikan batas-batas yang tegas, selanjutnya menetapkan
sampel. Jadi penetapan populasi yang harus lebih dahulu
diutamakan, baru kemudian sampel.
3) Sumber-sumber informasi tentang populasi
Meneliti kembali validitas (kesahihah)nya sumber dan informasi
yang diperoleh.

5
Contoh: Data pada tahun 2000 masih dipakai sebagai sumber untuk
tahun 2017.
4) Besar kecilnya sampel
Seyogianya jumlah sampel harus lebih banyak daripada
sedikit/kurang.
5) Teknik sampling
Menentukan teknik pengambilan sampel yang tepat sesuai dengan
populasi sasaran yang diteliti (Narbuko dan Achmadi, 2013: 108).
c. Metode Pengambilan Sampel
1) Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh
populasi yang diteliti.
2) Dapat menentukan presisi dari hasil penelitian dengan menentukan
penyimpangan baku dari taksiran yang diperoleh.
3) Sederhana, sehingga, mudah dilaksanakan
4) Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya
serendah-rendahnya (Teken dalam Nanang Martono, 2012: 80).
d. Cara Menentukan Jumlah Sampel
Dalam Neolaka (2014: 91) beberapa rumus untuk menentukan
jumlah sampel adalah sebagai berikut:
1) Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti, dapat digunakan
Rumus Slovin seperti dibawah ini
N
n= 2
1+ N e
Keterangan:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel
yang
ditolerir, misal 5%. Batas kesalahan yang ditolerir untuk
setiap populasi tidak sama, ada yang 1%, 2%, 3%, 4%,
5%
atau 10%.

6
2) Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan
proporsi populasi, dapat digunakan Rumus Yamene seperti
dibawah ini
N
n=
N d 2 +1
Keterangan:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang
digunakan. Nilai presesi 95% atau signifikan pada 5%.
3) Penentuan ukuran/jumlah sampel menggunakan Tabel Isaac &
Michael.
Isaac dan Michael (1984) telah menghitung ukuran sampling dari
jumlah populasi 10 sampai 1.000.000. Hasil penghitungan ukuran
sampel tersebut telah diranngkum pada sebuah tabel. Ukuran
sampel ditetapkan pada taraf kesalahan 1%, 5% dan 10%. Sebagai
contoh, apabila terdapat jumlah populasi (N) sebanyak 1000, pada
taraf kesalahan 1% diperlukan jumlah sampel (s) sebanyak 399
sedangkan pada taraf kesalahan 5% diperlukan jumlah sampel
sebanyak 258.

7
e. Karakteristik Sampel yang Baik
1) Sebuah sampel yang baik adalah sampel mewakili populasi yang
sesuai dengan sifat-sifatnya.
2) Sampel yang baik adalah sampel bebas dari bias, sampel tidak
memunculkan prasangka imajinasi dari peneliti untuk
mempengaruhi pilihan.
3) Sampel yang baik adalah sampel yang objektif, hal ini meliputi
objektivitas dalam memilih prosedur atau tidak adanya unsur-unsur
subjektif dari situasi.
4) Sampel yang baik menjaga akurasi, sampel sebaiknya
menghasilkan perkiraan yang akurat secara statistic dan tidak
menimbulkan kesalahan dalam pengambilan kesimpulan.
5) Sampel yang baik bersifat komprehensif. Karakter ini berhubungan
erat dengan keterwakilan yang benar. Kelengkapan merupakan
kualitas sampel yang ditentukan oleh tujuan khusus penelitian.
6) Sampel yang baik lebih ekonomis dari tenaga, waktu dan biaya
7) Subjek yang menjadi sampel yang baik mudah didekati. Instrument
dapat penelitian dapat diberikan pada sampel sehingga data dapat
dikumpulkan dengan mudah.
8) Ukuran sampel baik adalah sedemikian rupa sehingga
menghasilkan hasil yang akurat sehingga peluang terjadinya
kesalahan dapat diperkirakan.
9) Sampel yang baik membuat penelitian menjadi lebih layak
10) Sampel yang baik memiliki kepraktisan untuk situasi penelitian
(Singh dalam Nanang Martono, 2012: 81-82).

C. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan metode atau cara menentukan sampel dan
besar sampel. Setiap jenis penelitian membutuhkan teknik sampling atau
teknik pengambilan sampel yang tepat sesuai dengan populasi sasaran yang
akan diteliti. Untuk menentukan berapa sampel yang akan diambil, maka
dapat menggunakan beberapa teknik sampling atau teknik pengambilan

8
sampel. Kegunaan teknik sampling adalah untuk menaksir (estimasi)
parameter statistik, dan mendapatkan data untuk uji hipotesis, serta
pengambilan keputusan. Ada dua teknik pengambilan sampel, yaitu teknik
Probability Sampling dan Non-Probability Sampling.
1. Probability Sampling
Probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang
memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk
menjadi sampel. Pengambilan sampel dimana elemen yang terpilih
berdasarkan hukum kebetulan. Ada beberapa teknik probability
sampling, yaitu:
a. Simple Random Sampling
Teknik simple random sampling adalah teknik yang paling sederhana
(simpel). Sampel diambil secara acak, tanpa memperhatikan tingkatan
yang ada dalam populasi. Simple random sampling dengan
undian/system, table bilangan random.
Contoh: populasi adalah siswa SD Negeri 20 Jakarta yang berjumlah
500 orang. Jumlah sampel ditentukan dengan table Isaac dan Michael
dengan tingkat kesalahan adalah sebesar 5% sehingga jumlah sampel
ditentukan sebesar 205. Jumlah sampel 205 ini selanjutnya diambil
secara acak tanpa memperhatikan kelas, usia, dan jenis kelamin.
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini hamper sama dengan simple random sampling, namun
penentuan sampelnya memperhatikan strata (tingkatan) yang ada
dalam populasi.
Contoh: populasi adalah karyawan PT ABC berjumlah 125. Dengan
rumus slovin dan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah
95. Populasi sendiri terbagi ke dalam tiga bagian (marketing, produksi,
dan penjualan) yang masing-masing berjumlah: marketing 15 orang,
produksi 75 orang, dan penjualan 35 orang.
Maka jumlah sampel yang diambil berdasarkan masing-masing bagian
tersebut ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas/jumlah
populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan.

9
Marketing : 15 / 125 x 95 = 11,4 dibulatkan 11
Produksi : 75 / 125 x 95 = 57
Penjualan : 35 / 125 x 95 = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sampel kelas tersebut adalah 11 + 57 + 27 =
95 sampel. Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti
adalah heterogen (tidak sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam hal
bidang kerja sehingga besaran sampel pada masing-masing strata atau
kelompok diambil secara proporsional untuk memperolehnya.
c. Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini teknik yang hampir mirip dengan proportionate stratified
random sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun
ketidakproporsionalan penentuan sampel didasarkan pada
pertimbangan jika anggota populasi berstrata, namun kurang
proporsional pembagiannya.
Contoh: populasi karyawan PT ABC berjumlah 1000 orang yang
berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, D3, S1 dan S2.
Namun jumlah nya sangat tidak seimbang yaitu: SMP 100 orang, SMA
700 orang, D3 180 orang, S1 10 orang dan S2 10 orang.
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak
seimbang (terlalu kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga
dua kelompok ini seluruhnya ditetapkan sebagai sampel.
d. Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau
populasi sangat luas misalnya penduduk suatu provinsi, kabupaten,
atau karyawan perusahaan yang tersebar diseluruh provinsi. Untuk
menentukan nama yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi
terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah
sampel yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut dengan
menggunakan teknik proporsional stratatified random sampling
mengingat jumlahnya yang bias saja berbeda.
Contoh: peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar
mengajar di tingkat SMU. Populasi penelitian adalah siswa SMA

10
seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam
berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan dalam
tahapan sebagai berikut. Tahap pertama adalah menentukan sampel
daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10 provinsi yang akan
dijadikan daerah sampel. Tahap kedua mengambil sampel SMU di
tingkat provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel provinsi.
Karena provinsi terdiri dari kabupaten/kota, maka diambil secara acak
SMU tingkat kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut
kabupaten sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan/desa
yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan
SMU yang dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan
keseluruhan populasi secara keseluruhan.
e. Multi-Stage Sampling
Dalam penelitian sosial yang sering nyata diterapkan, akan
menggunakan metode pengambilan sampel yang jauh lebih rumit
daripada variasi sederhana. Prinsip yang paling penting di sini adalah
bahwa kita dapat menggabungkan beberapa metode sederhana yang
telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu akan sangat berguna dan
membantu memenuhi kebutuhan sampel penelitian social manakala
dibutuhkan penggabungan metode pengambilan sampel, dengan cara
yang paling efisien dan efektif mungkin maka dapat dipilih. Ketika ada
upaya menggabungkan metode pengambilan sampel seperti nini
disebut sampling multi-stage.

2. Non-Probability Sampling
Non-Probability sampling artinya setiap anggota populasi tidak memiliki
kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Pengambilan sampel
dilakukan dengan tidak memperhitungkan hukum kebetulan. Ada
beberapa teknik non-probability sampling, yaitu:
a. Sampling Kuota

11
Adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi
yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang
diinginkan.
Contoh: akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap
kemampuan mengajar guru. Jumlah sekolah adalah 10, maka sampel
kuota dapat ditetapkan masing-masing 10 siswa per sekolah.
b. Sampling Sistematis
Adalah teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi
baik yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti
maupun nomor identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam
atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contoh: akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah
125. Karyawan ini diurutkan dari 1 125 berdasarkan absensi. Peneliti
bias menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap
(2,4,6, dst) atau nomor ganjil (1,3,5,dst) atau bias juga mengambil
nomor kelipatan (2,4,8,16,dst).
c. Sampling Insidential
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau
siapa saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang
dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan
dijadikan sampel.
Contoh: penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall
A. sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia diatas 15 tahun dan
baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan
bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15
tahun) akan dijadikan sampel.
d. Sampling Purposive
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel.
Contoh: peneliti ingin meneliti permasalahan seputar daya tahan mesin
tertentu. Maka sampel ditentukan adalah para teknisi atau ahli mesin
yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Atau penelitian

12
tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil
adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi
dibidang ini. Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
e. Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi.
Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100.
Contoh: akan dilakukan penelitian tentang knerja guru di SMA 3
Yogyakarta. Karena jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru
dijadikan sampel penelitian.
f. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang
semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju (seperti multi
level marketing).
Contoh: akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba
diwilayah A. sampel mula-mula adalah lima orang napi, kemudia terus
berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau responden
terus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh
atas permasalahan yang diteliti. Teknik ini juga lebih cocok untuk
penelitian kualitatif.
g. Sampling Kembar
Sampling kembar atau double sampling adalah pengambilan sampling
yang menguasakan adana sampel kembar. Sampling kembar sering
digunakan dalam research atau penelitian yang menggunakan angket
lewat usaha menampung mereka dan mengembalikan dalam angket.

D. Jenis-jenis Hipotesis
Hipotesis pada dasarnya adalah suatu dugaan sementara yang mungkin
benar dan secara umum oleh para peneliti dijadikan sebagai dasar keputusan
atau pemecahan masalah yang ditindak lanjuti dengan penelitian. Hipotesis
statistic ialah suatu pernyataan atau nilai pada parameter populasi, melalui
data dari sampel. Istilah hipotesis berasal dari bahasa yunani, hupo dan thesis.

13
Hupo bisa diartikan sebagai sementara, kurang kebenanrannya atau masih
lemah kebenarannya. Sedangkan thesis artinya pernyataan atau teori.
Bertemali dari pemaparan diatas, menurut Hanafiah (2010, hlm. 257)
mengemukakan bahwa Hipotesis dapat diartikan sebagai pendapat sementara
yang didasari oleh alasan yang kuat dan logis. Dari pendapat tersebut dapat
dilihat bahwa pendapatnya masih bersifat sementara, oleh karena itu pendapat
tersebut harus dilakukan uji coba melalui berbagai penelitian atau temuan
fakta-fakta empiris sehingga akan menghasilkan suatu kesimpulan baru
dimana kesimpulan ini memiliki dua kemungkinan, bisa mendukung atau
menolak dari pendapat sementara yang telah diajukan.
Dalam penelitian dan statistic terdapat dua macam shipotesis. Menurut
Simbolon (2009) mengemukakan bahwa hipotesis yang pertama memiliki
sombol (H0), maka hipotesis yang kedua adalah hipotesis tandingan atau
alternatif dengan simbolnya yaitu (H1) atau (Ha). Hipotesis pertama bisa
disebut juga sebagai hipotesis nol atau kerja. Menurut Sugiyono (2013)
menyatakan bahwa dalam hipotesis statistik yang diuji adalah hipotesis yang
pertama atau hipotesis nol. Hipotesis nol merupakan hipotesis yang tidak
memiliki perbedaan data antara data sampel dengan data populasi. Selanjutnya
adalah hipotesis alternatif, yaitu lawan dari hipotesis nol sehingga pada
hipotesis ini terdapat perbedaan anatara data sampel dengan data populasi.
Setelah melakukan uji penelitian, suatu hipotesis akan dapat dierima
apabila tidak cukupnya bukti yang menolak dari hipotesis tersebut dan tidak
berarti juga bahwa hipotesis itu benar, sedangkan hipotesis yang ditolak terjadi
karena tidak cukupnya bukti yang menerima dan tidak berarti juga bahwa
hipotesis itu salah. Oleh karena itu secara umum para peneliti mengawali
pekerjaan terlebih dahulu dengan membuat hipotesis yang berharap
penolakan, namun pada akhirnya dapat dibuktikan bahwa pendapatnya akan
diterima.
Hipotesis statistik menyatakan hasil observasi tentang populasi manusia
atau benda dalam bentuk kuantitatif. Hipotesis statistik juga digunakan untuk
menyatakan adanya hubungan antara variabel atau lebih dari dua variabel.
Misalnya dapat diselidiki tingkat hubungan antara jumlah kendaraan dan

14
jumlah kecelakaan lalu lintas. Bila ternyata bahwa jumlah kecelakaan
meningkat dengan bertambahnya jumlah kendaraan, maka dikatakan bahwa
korelasi (r) atau hubungannya positif. Jumlah kendaraan dapat pula dicari
hubungannya dengan misalnya ketenteraman hidup. Bila ternyata
ketenteraman hidup berkurang dengan meningkatnya jumlah kendaraan, maka
dikatakan bahwa korelasinya negatif. Tingkat korelasi dinyatakan dengan
suatu angka atau koefisien. Koefisien korelasi berkisar antara -1.00 sampai +
l.00. Hubungan antara dua variabel dilambangkan sebagai Ho : rxy = 0 artinya
hipotesis menyatakan tidak ada korelasi antara variabel X dan Y. Setiap
korelasi yang berbeda dengan 0 jadi H : rxy 0 menunjukkan adanya korelasi
yang dapat dihitung besarnya, yang dapat bersifat negatif atau positif.
Suatu hipotesis dapat terdiri atas lebih dari dua variabel yang dapat dicari
ragam hubungan atau kovariasinya. Hipotesis dengan satu atau dua variabel
disebut hipotesis yang sederhana, sedangkan yang mempunyai lebih dari dua
variabel disebut hipotesis yang kompleks.
Dalam pengujian hipotesis, maka rumusan hipotesis dapat dikelompokkan
menjadi tiga macam yaitu hipotesis deskriptif (pada satu sampel atau variabel
mandiri/tidak dibandingkan dan dihubungkan), komparatif dan hubungan.
1. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif adalah dugaan tentang nilai suatu variabel mandiri,
tidak membuat perbandingan atau hubungan. Dalam perumusan hipotesis
statistik, antara hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha) selalu
berpasangan, bila salah satu ditolak, maka yang lain pasti diterima
sehingga dapat dibuat keputusan yang tegas, yaitu kalau H0 ditolak pasti
Ha diterima. Hipotesis statistik dinyatakan melalui simbol-simbol. Contoh
pernyataan yang dapat dirumuskan hipotesis deskriptif-statistiknya:
Suatu perusahaan minimum harus mengikuti ketentuan, bahwa salah
satu unsur kimia hanya boleh dicampurkan paling banyak 1%. Dengan
demikian rumusan hipotesis statistik adalah:
0:0,01
:>0,01

15
Suatu bimbingan tes menyatakan bahwa murid yang dibimbing di
lembaga itu, paling sedikit 90% dapat diterima di Perguruan Tinggi
Negeri. Rumusan hipotesis statistik adalah:
0:0,90
:<0,90
Seorang peneliti menyatakan bahwa daya tahan lampu merk A = 450
jam dan B = 600 jam. Hipotesis statistiknya adalah:
Lampu A: Lampu B:
0:=450 jam 0:=600 jam
:450 jam :600 jam
Hipotesis pertama dan kedua diuji dengan uji satu pihak (one tail) dan
ketiga dengan dua pihak (two tail).
2. Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif adalah pernyataan yang menunjukkan dugaan
nilai dalam satu variabel atau lebih pada sampel yang berbeda. Contoh
rumusan masalah komparatif dan hipotesisnya:
Apakah ada perbedaan daya tahan lampu merk A dan B?
Rumusan Hipotesis adalah:
a. Tidak terdapat perbedaan daya tahan lampu antara lampu merk A dan B.
b. Daya tahan lampu merk B paling kecil sama dengan lampu merk A.
c. Daya tahan lampu merk B paling tinggi sama dengan lampu merk A.
Hipotesis statistiknya adalah:

3. Hipotesis Hubungan (Assosiatif)


Hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan
tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Contoh rumusan
masalahnya adalah; Apakah ada hubungan antara Gaya Kepemimpinan
dengan Efektifitas Kerja?

16
Rumus dan hipotesis nolnya adalah: Tidak ada hubungan antar gaya
kepemimpinan dengan efektifitas kerja.
Hipotesis statistiknya adalah:
0:=0
:0 ( = simbol yang menunjukkan kuatnya hubungan)

Dalam pengujian hipotesis harus berdasarkan data empiris, yakni


berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus
mencari situasi atau lapangan empiris yang memberi data yang diperlukan.
Tidak selalu mudah memperoleh sampel yang dapat dan rela memberi data.
Misalnya untuk meneliti kesejahteraan buruh suatu perusahaan, harus
diperoleh izin terlebih dahulu dari pemilik atau pemimpinnya. Selain itu tidak
selalu ada kesediaan orang untuk memberikan informasi yang benar secara
jujur. Ada lagi kesulitan-kesulitan lain yang harus diatasi untuk memperoleh
lapangan empiris guna menguji hipotesis kita.

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Statistika inferensial yaitu metode yang berhubungan dengan analisis data
pada sampel dan hasilnya dipakai untuk generalisasi pada populasi. Adapun
populasi adalah objek pada suatu wilayah yang memiliki karakteristik tertentu
untuk diteliti. Sedangkan sampel adalah suatu objek atau kelompok dimana
hal tersebut masih bagian dari populasi. Dalam pengambilan sempel terdapat
berbagai teknik dan metode untuk menentukannya, baik itu probability
sampling atau non-probability sampling. Setelah melihat populasi dan sampel
maka didapatlah beberapa data sehingga dapat dibuat hipotesis untuk
penelitian.

B. Saran
Sebagai peneliti yang ingin melakukan penelitian induktif atau inferensial
maka sewajarnya memiliki sifat teliti dan bijaksana, terutama dalam
menganalisis karakteritik pupulasi sehingga tepat untuk penelitian dan tepat
dalam pemilihan Teknik sampling.

18
DAFTAR PUSTAKA

Eriyanto. (2007). Teknik Sampling: Analisis Opini Publik. Yogyakarta: LkiS


Yogyakarta
Hanafiah, Kemas Ali. (2010). Dasar-dasar Statistika. Jakarta: RajaGrafindo
Persada.
Martono, Nanang. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif: Analisis Isi dan Analisis
Data Sekunder. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Mulyatiningsih, Endang. (2011). Riset Terapan: Bidang Pendidikan dan Teknik.
Yogyakarta: UNY Press.
Narbuko, C & Achmadi, A. (2013). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Nasution, S. (2012). Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Neolaka, Amos. (2014). Metode Penelitian dan Statistik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nisfiannoor, Muhammad. (2009). Pendekatan Statistika Modern untuk Ilmu
Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Simbolon, Hotman. (2009). Statistika. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Subagyo, P & Djarwanto, Ps. (2005). Statistika Induktif. Yogyakarta: BPFE-
Yogyakarta.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sunyoto, Danang. (2011). Analisis Regresi Dan Uj Hipotesis. Yogyakarta: CAPS.

19

Anda mungkin juga menyukai