Anda di halaman 1dari 22

SKOR :

TUGAS PROYEK
Oleh :

Nama : Syamsah Fitri


NIM : 8176171034
Kelas : A1 / Pasca Pendidikan Matematika
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Matematika
Dosen Pengampu : Dr. Syafari, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A. 2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT. Karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya saya

dapat menyelesaikan Tugas ini dengan tapat waktu. Saya memohon maaf

apabila kepenulisan dalam tugas saya masih jauh dari kata sempurna. Saya

mengucapkan terima kasih kepada Dr. Syafari, M.Pd selaku dosen Filsafat

Pendidikan Matematika yang memberi arahan dalam mengerjakan tugas

proyek ini.

Saya berharap tugas ini dapat menambah wawasan kita mengenai materi

yang diangkat menjadi topik utama dalam tugas proyek serta dapat menjadi

referensi yang bermanfaat bagi para pembaca.

Dengan ini saya mempersembahkan tugas ini dengan penuh rasa terima

kasih dan harapan semoga tugas saya bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Medan, 28 November 2017

Syamsah Fitri

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar belakang 1

1.2 Tujuan 1

1.3 Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN 3

2.1 Kurikulum 3

2.2 Perkembangan Kurikulum Dari masa ke Masa 3

2.3 Sejarah Perkembangan Kurikulum Di Indonesia 6

BAB III PENUTUP 18

3.1. Kesimpulam 18

DAFTAR PUSTAKA 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian
Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi
standar mutu yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945,
kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952,
1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan
konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan
iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat
rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan
perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan
landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok
dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Perkembangan teknologi semakin lama semakin pesat. Hal ini mengakibatkan
semakin cepatnya perkembangan pemikiran peserta didik terutama peserta didik di
Indonesia. Perkembangan pesat dari teknologi ini juga berdampak pada kualitas
pendidikan yang diberikan oleh guru kepada para peserta didik yang diakibatkan oleh
perkembangan teknologi pendidikan juga sudah tidak mendukung lagi. Oleh karena itu
kurikulum di indonesia juga sudah kesekian kali diubah untuk menyesuaikan
perkembangan pendidikan dengan perkembangan teknologi dan perkembangan peserta
didik.
Perubahan-perubahan yang dilakukan pada kurikulum di Indonesia bertujuan untuk
menyesuaikan dan mengembangkan pendidikan Indonesia ke kualitas yang lebih baik dan
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Selain itu perubahan kurikulum juga
ditujukan untuk menyesuaikan perkembangan peserta didik.
Dalam hal ini sekolah sebagai pelaksana pendidikan sangat berkepentingan menjadi
lahan utama. Darii semua pihak baik itu orang tua, masyarakat dan semua pihak yangg
terkait dengaan perubahan-perubahan kurikulum itu. Oleh karena itu perubahan kurikulum
itu harus disikapi secara positif dengaan mengkaji dan memahami implementasinya di
sekolah. Keberhasilan implementasi kurikulum ini juga dipengaruhi oleh kemampuan guru
terutama berkaitan dengaan pengetahuan

1
Namun dalam setiap perubahan kurikulum, sistem kurikulum di indonesia tidak
selalu berdampak positif, namun juga ada yang bersifat negatif sehingga diperlukan adanya
perbaikan kembali pada sistem pendidikan yang diterapkan pada saat itu.
Dalam makalah ini penulis ingin menguraikan beberapa hal mengenai beberapa
kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya. Sehingga penulis dan
pembaca dapat memahami dan mengambil pelajaran dari rangkuman beberapa kurikulum
yang pernah diterapkan di Indonesia.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan oleh penulis diatas maka rumusan
masalah dari tugas proyek ini adalah :
1. Bagaimanakah perkembangan kurikulum di Indonesia sejak awal kemerdekaan sampai
sekarang?
2. Bagaimana Kurikulum pada Masa Awal Kemerdekaan /Masa Orde Lama (Kurikulum
1947, 1952 dan 1964) ?
3. Bagaimana Kurikulum Orde Baru (1968, 1975, 1984, 1994) ?
4. Bagaimana Kurikulum Masa Reformasi (Kurikulum Tahun 2004, 2007 dan 2013) ?

1.3. TUJUAN
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan tugas proyek ini adalah
1. Mengetahui perkembangan kurikulum di Indonesia sejak awal kemerdekaan sampai
sekarang.
2. Mengetahui Kurikulum pada Masa Awal Kemerdekaan /Masa Orde Lama (Kurikulum
1947, 1952 dan 1964)
3. Mengetahui Kurikulum Orde Baru (1968, 1975, 1984, 1994)
4. Mengetahui Kurikulum Masa Reformasi (Kurikulum Tahun 2004, 2007 dan 2013)

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. KURIKULUM
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Kurikulum dapat (paling tidak sedikit)
meramalkan hasil pendidikan/pengajaran yang diharapkan karena ia menunjukkan apa
yang harus dipelajari dan kegiatan apa yang harus dialami oleh peserta didik.
Pembaharuan kurikulum perlu dilakukan sebab tidak ada satu kurikulum yang sesuai
dengan sepanjang masa, kurikulum harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan
zaman yang senantiasa cenderung berubah.
Menurut Sudjana (1993 : 37) pada umumnya perubahan struktural kurikulum
menyangkut komponen kurikulum yakni:
1. Perubahan dalam tujuan. Perubahan ini didasarkan kepada pandangan hidup masyarakat
dan falsafah bangsa.
2. Perubahan isi dan struktur. Perubahan ini meninjau struktur mata pelajaran -mata
pelajaran yang diberikan kepada siswa termasuk isi dari setiap mata pelajaran.
3. Perubahan strategi kurikulum. Perubahan ini menyangkut pelaksanaan kurikulum itu
sendiri yang meliputi perubahan teori belajar mengajar, perubahan sistem administrasi,
bimbingan dan penyuluhan, perubahan sistem penilaian hasil belajar.
4. Perubahan sarana kurikulum. Perubahan ini menyangkut ketenagaan baik dari segi
kualitas dan kuantititas, juga sarana material berupa perlengkapan sekolah seperti
laboraturium, perpustakaan, alat peraga dan lain-lain.
5. Perubahan dalam sistem evaluasi kurikulum. Perubahan ini menyangkut metode/cara
yang paling tepat untuk mengukur/menilai sejauh mana kurikulum berjalan efektif dan
efesien, relevan dan produktivitas terhadap program pembelajaran sebagai suatu system
dari kutikulum.

2.2. Perkembangan Kurikulum Dari Masa Ke Masa


Banyaknya perubahan yangg terjadi tentu saja ada kekurangan dalam
implementasinya karena kurangnya pengetahuan serta kemampuan guru dalam memahami
tugas-tugas yangg harus di laksanakan. Dengaan persepsi yangg berbeda diantara
kompenen-kompenen pelaksana yaitu kepala dinas, pengawasan, kepala sekolah, dan guru
karena kurangnya kemampuan menerjemahkan kurikulum ke dalam operasi pembelajaran.

3
E. Mulyasa (2004:13) mengungkapkan bahwa keberhasilan sebuah kurikulum
melalui tahapan :
1. Adanya sosialisasi yangg menyeluruh
Penting sekali melakukan sebuah sosialisasi yangg sistematis pada setiap perubahan
kurikulum yangg terjadi dan penyebaran informasi tersebut tentu saja dimulai darii
pemerintah yangg ditujukan kepada seluruh warga sekolah, bahkan terhadap siswa dan
orang tua. Kepala sekolah harus mengambil peran penting dalam hal ini dengaan cara
menghadirkan mereka yangg mengerti dengaan perubahan kurikulum baru yangg akan
diterapkan.
Sosialisasi yangg terstruktur dan sistematis akan sangat menunjang kemudahan
dalam memahami kurikulum yangg ditawarkan dan dapatt diterapkan secara optimal.
Setelah sosialisasi pihak sekolah bisa mengadakan rapat untukk mendapattkan persetujuan
bersama komite sekolah dan tenaga kependidikan agar implementasi kurikulum yangg baru
dapatt terlaksana dengaan baik dan maksimal.
2. Selalu menghadirkan lingkungan yangg kondusif
Sekolah sebagai sarana pendidikan haruslah menjadi tempat yangg kondusif, aman,
nyaman dan tertib. Dengaan menciptakan kondisi belajar yangg kondusif dapatt menjadi
faktor pendukung dan memberikan daya tarik sendiri bagi prose pembelajaran.
Kondisi belajar yangg kondusif tentu harus ditunjang dengaan berbagai fasilitas
belajar yangg menyenangkan seperti saran, laboratorium, lingkungan, penampilan, sikap
guru, hubungan yangg harmonis antara siswa dengaan guru, guru dengaan komite serta
penataan organisasi dan pembelajaran yangg tepat sesuai dengaan kemampuan siswa.
3. Selalu mengembangkan fasilitas dan sumber belajar
Fasilitas dan sumber belajar tentu akan membantu mempercepat proses tercapainya
tujuan kurikulum, fasilitas tersebut diantaranya laboratorium, pusat sumber belajar dan
perpustakaan. Pemberdayagunaan fasilitas dan sumber belajar dapatt meningkatkan
aktivitas dan kreativitas belajar siswa.
4. Selalu mengembangkan kemandirian sekolah
Mengembangkan kemandirian sekolah lebih identik dengaan mengembngakan
kemandirian kepala sekolah terutama dalam hal mengkoordinasikan, menggerakkan, dan
menyelaraskan semua sumber daya pendidikan yangg tersedia serta memberikan arahan
dan mengimplementasikan kurikulum baru.

4
Kemandirian ini juga ditunjang dengaan profesionalisme kepala sekolah sehingga
dapatt mendorong sekolah intuk menwujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah
melalui program-program yangg dilaksanakan secara terencana dan bertahap.
5. Meluruskan paradigma (pola pikir) guru
Semua guru perlu diberikan sebuah pelatihan serta penataran khusus mengenai
bagaimana pelaksanaan kurikulum yangg baru tersebut. Kegiatan diadakan oleh semua
pihak sekolah, sehingga guru sebagai pihak yangg paling banayak menhabiskan waktu
dikelas selama proses pembelajaan lebih mengerti dan paham dengaan kurikulum.
6. Memberdayakan semua tenaga kependidikan
Manajemen tenaga kependidikan ialah pihak yangg paling bertanggung jawab untukk
menciptakan perubahan tersebut sehinnga semua berjalan secara efektif dan efesien demi
mencapai hasil yangg optimal.
Pelaksanaan manajemen tenaga kependidikan di indonesia mencakup tujuh kegiatan
utama yaitu perencanaan tenaga kepentingan, pengadaan tenaga kependidikan, pembinaan
dan pengembangan tenaga kependidikan, promosi dan mutasi, pemberhentian tenaga
kependidikan, kompensasi dan penilaian tenaga kependidikan. Semua itu dilakukan
dengaan baik dan benaragar apa yangg diharapkan tercapai yakni tersedianya tenaga
kependidikan yangg diperlukan sesuai dengaan kemampuan serta dapatt melaksanakan
kerja dengaan baik. Oleh karena itu pemberdayaan tenaga kependidikan merupakan faktor
pendukung dalam implementasi kurikulum batu di Indonesia.
Menurut Hamalik (2000: 19-23) pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada
faktor-faktor :
1. Tujuan filsafat dan pendidikan nasional yangg dijadikan sebagai dasar untukk
merumuskan tujuan institusional.
2. Sosial budaya dan agama yangg berlaku dalam masyarakat.
3. Perkembangan peserta didik yangg menunujuk pada karakteristik perkembangan peserta
didik.
4. Keadaan lingkungan dalam arti luas yangg meliputi lingkungan kebudayaan, hidup dan
alam, termasuk ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
5. Kebutuhan pembangunan mencakup kebutuhan pembangunan dibidang ekonomi,
kesejahteraan rakyat, hukum dan lain-lain.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi yanggs esuai dengaan sistem nilai
kemanusiaan budaya dan bangsa.

5
2.3. SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah
mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999,
2004 dan 2006.
2.3.1. Kurikulum pada Masa Awal Kemerdekaan / Masa Orde Lama
1. Kurikulum 1947
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam
bahasa Belanda leer plan artinya rencana pelajaran, istilah ini lebih popular dibanding
istilah curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari
orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan
ditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan Rentjana
Pelajaran 1947, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut
sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua
hal pokok:
a. Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
b. Garis-garis besar pengajaran.
Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem
pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah
digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem
pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam
semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan lebih menekankan pada
pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan
bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada
pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan
bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian
terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
Pada awal kemerdekaan istilah kurikulum dikenal dengaan leer plan. Dalam bahasa
Belanda artinya rencana pelajaran. Bahwa kurikulum pada masa-masa ini di pengaruhi
oleh sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang sehingga hanya meneruskan
kurikulum yangg pernah digunakan oleh Belanda.
Rentjana pembelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan
kolonial Belanda dan kurilkulum ini tujuannya tidak menekan pada pikiran, tetapi

6
diutamakan ialah pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Kemudian
materi-materi pelajaran sangat dekat dengaan kejadian sehari-hari perhatian terhadap
kesenian, jasmani dan lain-lain. Untukk kurikulum SD juga masih dipengaruhi kolonial
Belanda dan Rencana pelajaran 1947 baru dilaksanakan di sekolah-sekolah tahun 1950.
Sebagian menyebutkan sejarah perkembangan kurikulum diawali darii kurikulum 1950.

2. Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952


Pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini
lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai
1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling
menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus
memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran
Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali, seorang guru mengajar satu mata
pelajaran, kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-
1995. Pada masa itu juga dibentuk kelas Masyarakat. Yaitu sekolah khusus bagi lulusan
Sekolah Rendah 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan
keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan tujuannya agar anak tak
mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.

3. Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964


Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah
bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik
untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program
Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keterampilann, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana
berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran
diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik,
keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada
pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
Cara belajar dijalankan dengan metode disebut gotong royong terpimpin. Selain itu
pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa
diberi kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan

7
permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk manusia
pacasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II
tanun 1960. Pada masa itu kurikulum 1960 ini memiliki kaitan yang sangat erat dengaan
situasi politik di Indonesia pada zaman itu sehingga dirumuskan bahwa pendidikan
sebagai alat revolusi dalam suasana mengharuskan pembantingan dalam segala bidang
khususnya bidang pendidikan. (Tilaar, 1995 : 255)

2.3.2. Kurikulum Orde Baru


1. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan kurikulum 1964, yakni dilakukan
perubahan struktur kulrikulum pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum ini merupakan
perwujudan perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen. Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis yaitu mengganti Rencana
Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada
pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan
organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan
kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai
kurikulum bulat. Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja, katanya. Muatan
materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan.
Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang
pendidikan.
Kurikulum 1968 bertujuan agar pendidikan ditekankan pada upaya untuk
membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan
dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan
diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta
mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum, artinya materi pelajaran pada
tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada
kurikulum ini dikelompokkan pada tiga kelompok besar: pembinaan pancasila,
pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah mata pelajarannya 9, yakni:

8
1) Pembinaan Jiwa Pancasila
a. Pendidikan agama
b. Pendidikan kewarganegaraan
c. Bahasa Indonesia
d. Bahasa Daerah
e. Pendidikan olahraga
2) Pengembangan pengetahuan dasar
a. Berhitung
b. IPA
c. Pendidikan kesenian
d. Pendidikan kesejahteraan keluarga
3) Pembinaan kecakapan khusus
a. Pendidikan kejuruan

2. Kurikulum Periode 1975


Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif.
Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO
(management by objective) yang terkenal saat itu, kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur
Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam
Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah satuan
pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.
Setiap satuan pelajaran dirinci lagi dalam bentuk Tujuan Instruksional Umum (TIU),
Tujuan Instruksional Khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar
mengajar, dan evaluasi. Guru harus trampil menulis rincian apa yang akan dicapai dari
setiap kegiatan pembelajaran.
Mata Pelajaran dalam Kurikulum tahun 1975 adalah
1) Pendidikan agama
2) Pendidikan Moral Pancasila
3) Bahasa Indonesia
4) IPS
5) Matematika
6) IPA
7) Olah raga dan kesehatan

9
8) Kesenian
9) Keterampilan khusus

3. Kurikulum 1984, Kurikulum 1975 yang Disempurnakan


Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan
pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut
Kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.
Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini
disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Tokoh
penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala
Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986.
Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang
diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional.
Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah
suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar,
dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhiran penolakan CBSA
bermunculan.
Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah sebagai berikut.
1. Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti. Kurikulum 1984 memiliki
enam belas mata pelajaran inti.
2. Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan masing-masing.
3. Perubahan program jurusan. Kalau semula pada Kurikulum 1975 terdapat 3 jurusan di
SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam Kurikulum 1984 jurusan dinyatakan dalam
program A dan B. Program A terdiri dari.
a) A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika
b) A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi
c) A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi
d) A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan Budaya.
e) B, penekanan keterampilan kejuruan. Tetapi mengingat program B memerlukan
sarana sekolah yang cukup maka program ini untuk sementara ditiadakan.
4. Pentahapan waktu pelaksanaan
Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap dari kelas I SMA berturut tahun berikutnya
di kelas yang lebih tinggi.

10
4. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan
sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal
ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem
semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu
tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat
menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuan pengajaran menekankan pada
pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya.
Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara
pendekatan proses, kata Mudjito menjelaskan.
Pada kurikulum 1994 perpaduan tujuan dan proses belum berhasil karena beban
belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal
disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian,
keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat
juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum
1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kehadiran Suplemen Kurikulum 1999
lebih pada menambal sejumlah materi.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya
sebagai berikut.
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. Diharapkan agar
siswa memperoleh materi yang cukup banyak.
2. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat
(berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
3. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum
inti untuk semua siswa di seluruh Indonesia.
4. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi
yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.
5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan
konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga menekankan pada
pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah
siswa.

11
6. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang
sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
7. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk
pemantapan pemahaman siswa.

2.3.3. Kurikulum Masa Reformasi


1. Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
Kurikulum 2004, disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Suatu
program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu:
pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk
menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran.
Ciri-ciri KBK sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun
klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
2. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi,
3. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi
unsur edukatif.
4. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi.
5. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan
semester.
6. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi
menurut aspek dari mata pelajaran tersebut.
7. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap
level.
8. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan,
Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka
pada level ini?
Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum
dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian.
9. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk
menjawab pertanyaan, Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil
belajar yang diharapkan?.

12
Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan
untuk melakukan kompetensi tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang
telah ditetapkan. Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya
penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan.
Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai
pedoman pembelajaran.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak
secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi
kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk
melakukan sesuatu (Puskur, 2002:55).
Kurikulum 2004 lebih keren dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Setiap mata pelajaran dirinci berdasarkan kompetensi apa yang mesti di capai siswa.
Kerancuan muncul pada alat ukur pencapaian kompetensi siswa yang berupa Ujian Akhir
Sekolah dan Ujian Nasional yang masih berupa soal pilihan ganda. Bila tujuannya pada
pencapaian kompetensi yang diinginkan pada siswa, tentu alat ukurnya lebih banyak pada
praktik atau soal uraian yang mampu mengukur sejauh mana pemahaman dan kompetensi
siswa. Walhasil, hasil KBK tidak memuaskan dan guru-guru pun tak paham betul apa
sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.

2. Kurikulum Periode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) 2006


Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, muncullah KTSP. Disusun oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP) yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Pendidikan
Nasional melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22, 23,
dan 24 tahun 2006. Menurut Undang-undang nomor 24 tahun 2006 pasal 1 ayat 15,
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun
oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Jadi, penyusunan KTSP
dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi serta
kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Disamping itu, pengembangan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan,
potensi dan karakteristik daerah, serta peserta didik.
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP dimana panduan tersebut

13
berisi sekurang-kurangnya model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/ karakteristik daerah,
sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
Tujuan KTSP ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan
kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu
kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program
pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Tujuan Panduan
Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB,
SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam penyusunan dan
pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang
bersangkutan.
Dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan permen
nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum dan permen nomor 23 tahun 2006
tentang standar kelulusan, lahirlah kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan
kurikulum 2004. Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam
penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan.
Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu
mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan
daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah
perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan
KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan dinas pendidikan
daerah dan wilayah setempat.
Pada akhir tahun 2012 KTSP dianggap kurang berhasil, karena pihak sekolah dan
para guru belum memahami seutuhnya mengenai KTSP dan munculnya beragam
kurikulum yang sulit mencapai tujuan pendidikan nasional. Maka mulai awal tahun 2013
KTSP dihentikan pada beberapa sekolah dan digantikan dengan kurikulum yang baru.
Secara garis besar, KTSP memiliki enam komponen penting sebagai berikut.
a. Visi dan misi satuan pendidikan
Visi merupakan suatu pandangan atau wawasan yang merupakan representasi dari apa
yang diyakini dan diharapkan dalam suatu organisasi dalam hal ini sekolah pada masa
yang akan datang.

14
b. Tujuan pendidikan satuan pendidikan
Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan untuk pendidikan menengah adalah
meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c. Kalender pendidikan
Kalender pendidikan untuk pengembang kurikulum jam belajar efektif untuk
pembentukan kompetensi peserta didik, dan menyesuaikan dengan standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik.
d. Struktur muatan KTSP
Struktur muatan KTSP terdiri atas.
Mata pelajaran
Muatan lokal
Kegiatan pengembangan diri
Pengaturan beban belajar
Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan
Pendidikan kecakapan hidup
Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
e. Silabus
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan
tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi
pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang
dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.
f. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan
prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi
dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.

3. Kurikulum Periode 2013


Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan, modivikasi dan pemutakhiran dari
kurikulum sebelumnya. Sampai saat ini pun saya belum menerima wujud aslinya seperti
apa. Namun berdasarkan informasi beberapa hal yang baru pada kurikulum 2013.

15
Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-
sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli
2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama.
Adapun ciri kurikulum 2013 yangg paling mendasar ialah:
a. Menuntut pengetahuan Guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu pengetahuan
sebanyak banyaknya karena siswa zaman sekarang telah mudah mencari informasi
dengaan bebas melalui perkembangan teknologi dan informasi.
b. Siswa lebih didorong untukk memiliki tanggung jawab kepada lingkungan,
kemampuan interpersonal, antar personal, maupun memiliki kemampuan berpikir
kritis.
c. Memiliki tujuan agar terbentuknya genenrasi produktif, kreatif, inovativ, dan avektif.
d. Khusus tingkat SD, pendekatan tematik integrative memberi kesempatan siswa untukk
mengenal dan memahami suatu tema dalam berbagai pelajaran
Kurikulum 2013 dirancang dengaan karakteristik sebagai berikut:
a. Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa
ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengaan kemampuan intelektual dan psikomotorik;
b. Sekolah merupakan bagian darii masyarakat yangg memberikan pengalaman belajar
terencana dimana peserta didik menerapkan apa yangg dipelajari di sekolah ke
masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
c. Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam
berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;
d. Memberi waktu yangg cukup leluasa untukk mengembangkan berbagai sikap,
pengetahuan, dan keterampilan;
e. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yangg dirinci lebih lanjut
dalam kompetensi dasar matapelajaran;
f. Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi
dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan
untukk mencapai kompetensi yangg dinyatakan dalam kompetensi inti;
g. Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling
memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmatapelajaran dan jenjang
pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

16
Tujuan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 bertujuan untukk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki
kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yangg beriman, produktif, kreatif,
inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan peradaban dunia

17
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam sebuah perubahan yangg terjadi itu pasti mempunyai sebuah kekurangan
dalam implementasinya, sehingga perubahan kurikulum yangg terus terjadi pun tak bisa
dihindarii demi mewujudkan tujuan yangg lebih baik.
Dari masa kemasa sudah sering kali kurikulum di Indonesia ini berganti dan
berkembang darii Masa Awal Kemerdekaan /Masa Orde Lama (Kurikulum 1947, 1952 dan
1964), Kurikulum Orde Baru (1968, 1975, 1984, 1994), dan Kurikulum Masa Reformasi
(Kurikulum Tahun 2004, 2007 dan 2013) darii semua kurikulum ini memiliki memilki
tujuan sama yakni untukk memajukan pendidikan di Indonesia dan mencetus generasi
yangg Baik.
Dalam masa Revormasi terdapatt tiga kali perubahan kuruikulum yakni Kurikulum
2004 atau biasa disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ), yangg dilahirkan untukk
menyempurnakan kurikulum sebelumnya yangg dianggap memilki kelemahan, kemudian
pada tahun 2007 lahir juga Kurikulum yangg biasa disebut Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan

18
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad. 1997. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Pustaka Setia,


Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat
satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:BSNP.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta:
Depdiknas.
Hamalik, Oemar. 1990. Pengembangan Kurikulum, Dasar-dasar dan Pengembangannya.
Bandung: Mandar Maju
Imas . berlin, sani . 2014. Implementasi Kurikulum 2013 konsep dan penerapan. Surabaya :
Kata Pena
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Dokumen Kurikulum 2013. Jakarta:
Depdiknas
Salinan-Lampiran-Permendikbud-No.-68-th-2013-ttg-Kurikulum-SMP-MTs
Sujanto, Bedjo. 2007. Mengorek Kegelisahan Guru. Jakarta :Sagung Seto Kurnia

19