Anda di halaman 1dari 10

JURNAL PRAKTIKUM PERBEKALAN STERIL

KELOMPOK :5 SHIFT : 1
ANGGOTA : Asisten :
1. Narimo I1021141005 Dicky Juniawan Putra
2. Nesha Ovira I1021141011
3. Annisa I1021141020
4. Paskalis K. D. A I1021141022
5. Rivai Gowtama I1021141023
6. Trie Farica I1021141026

SOAL :
Injeksi Salbutamol Sulfat
I. Latar Belakang
Asma merupakan penyakit yang membutuhkan terapi jangka panjang. Obat-obat
yang paling sering digunakan dalam penanganan asma akut adalah obat-obatan jenis beta agonis.
Obat-obat jenis beta agonis adalah yang paling sering diberikan karena tidak meningkatkan
kelainan kongenital dan kelainan lainnya. Salbutamol adalah beta agonis yang paling banyak
digunakan.Beta agonis aksi pendek seperti salbutamol direkomendasikan sebagai pengobatan
untuk semua pasien asma dalam terapi asma akut.
Sediaan injeksi merupakan sediaan yang paling cepat menimbulkan efek karena
langsung disuntikan kedalam pembuluh darah, namun kurang nyaman digunakan. Sediaan
injeksi biasanya diberikan pada keadaan pasien yang tidak sadar, pasien yang tidak bisa menelan,
ataupun untuk memperoleh onset yang sepi. Keuntungan dari sediaan ini antara lain respon
fisiologis cepat tercapai, untuk obat yang tidak efektif secara oral, mempermudah pasien
mengontrol pengobatan dan lain sebagainya.
Salbutamol merupakan agen beta adrenergik yang digunakan sebagai bronkodilator
yang efektif untuk meringankan gejala asma akut dan bronkokonstriksi. Salbutamol juga
merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman dan paling efektif. Tidak salah jika obat
ini banyak digunakan untuk pengobatan asma. Selain untuk membuka saluran pernafasan yang
menyempit, obat ini juga efektif untuk mencegah timbulnya exercise- induced broncospasm
(penyempitan saluran pernafasan akibat olahraga).
Dosis, cara pemberian, dan lama Salbutamol yaitu, Pertama oral (Lebih dipilih
dengan inhalasi) : Dewasa : dosis 4mg (orang lanjut usia dan penderita yang peka awali dengan
dosis awal 2 mg) 3-4 kali sehari; dosis maksimal 8mg dalam dosis tunggal ( tetapi jarang
memberikan keuntungan ekstra atau dapat ditoleransi dengan baik). Anak-anak dibawah 2 tahun
: 100 mcg/kg 4 kali sehari (unlicensed); 2-6 tahun 1-2 mg 3-4 kali sehari; 6-12 tahun 2 mg 3-4
kali sehari. Injeksi s.c / i.m 500mcg ulangi tiap 4 jam bila perlu. Kedua injeksi : injeksi IV bolus
pelan 250 mcg diulangi bila perlu. IV infus, dosis awal 5mcg/menit, disesuaikan dengan respon
dan nadi, biasanya dalam interval 3-20 mcg/menit, atau lebih bila perlu. Anak-anak 1-12 bulan
0,1-1 mcg/kg/menit (unlicensed). Ketiga inhalasi : Dewasa : 100-200 mcg (1-2 semprot); untuk
gejala yang menetap boleh diberikan sampai 4 kali sehari. Anak-anak : 100mcg (1 semprot),
dapat ditingkatkan sampai 200 mcg (2 semprot) bila perlu; untuk gejala menetap boleh diberikan
sampai 4 kali sehari. Profilaksis pada exercise- induced bronchospasm, Dewasa 200mcg (2
semprot); anak-anak 100mcg (1 semprot), ditingkatkan sampai 200mcg (2 semprot) bila perlu.
Serbuk inhalasi : Dewasa 200-400 mcg; untuk gejala yang menetap boleh diberikan sampai 4
kali sehari; anak-anak 200mcg. Profilaksis untuk exercise-induced bronchospasm Dewasa
400mcg; anak-anak 200 mcg.
Syarat utama dari sediaan injeksi adalah harus steril, harus bebas dari mikroba,
partikulat ataupun partikel lain karena obat langsung masuk kedalam sirkulasi darah. Selain
steril, pH sediaan juga harus sesuai dengan pH tubuh agar aman bagi pasien. Untuk itu,
dilakukanlah percobaan pembuatan salbutamol sulfat injeksi agar praktikan mengetahui cara
pembuatan sediaan steril.

II. Preformulasi Zat Aktif


Stuktur Kimia

Rumus Molekul C13H21NO3


Sinonim Albuterol
Nama Kimia 1-(4-hidroksi-3-hidroksimetilfenil)-2-(tert-butilamino) etanol
Berat Molekul 239,3
Pemerian Serbuk hablur, putih.
Kelarutan Agak sukar larut dalam air; larut dalam etanol; melebur pada suhu
lebih kurang 156oC.
Titik Leleh 156oC
Inkompabilitas
Stabilitas
Panas Data penelitian menunjukkan salbutamol sulfat masih memiliki
stabilitas yang baik dalam rentang suhu 55-85oC. Dekomposisi larutan
salbutamol sulfat pada 70oC pada pH 3,5 dipercepat bergantung pada
konsentrasi baik glukosa dan sukrosa, sedangkan pada pH 7 hanya
bergantung pada konsentrasi glukosa. Degradasi salbutamol sulfat
pada suhu 55-85oC dalam larutan buffer berair yang terlindung dari
cahaya mengikuti laju kinetik orde 1 dengan stabilitas maksimum
pada pH 3,5. Laju dekomposisi meningkat oleh peningkatan
konsentrasi obat dan peningkatan temperatur. Larut pada suhu 20oC.
Hidrolisis/Oksidasi Tidak ada permasalahan dalam hidrolisis dan oksidasi.
Cahaya Terlindung dari cahaya.
Kesimpulan:
Bentuk zat aktif yang digunakan: garam
Bentuk sediaan: larutan (injeksi iv)
Cara sterilisasi sediaan: pemanasan autoklaf, 121oC selama 15 menit. Pendasaran sterilisasi
autoklaf dikarenakan salbutamol sulfat mengalami dekomposisi pada 70oC pada pH 3,5
dipercepat bergantung pada konsentrasi baik glukosa dan sukrosa, sedangkan pada pH 7 hanya
bergantung pada konsentrasi glukosa sedangkan pada sediaan ini tidak menggunakan glukosa
sehingga aman untuk disterilisasi dengan autoklaf.
Kemasan: ampul coklat 1 ml yang tertutup baik. Dosis salbultamol injeksi untuk injeksi
intravena ialah 0,25 mg dengan maksimum dosis 1 mg/hari.

III. Perhitungan Tonisitas/Osmolaritas dan Dapar


a. Tonisitas
Perhitungan menggunakan ekuivalensi NaCl berdasarkan bobot zat (gram/mg).
Perhitungan nilai E pada Tonisitas:


= 17

Bahan Jumlah E Tonisitas %


% Mg
Salbutamol sulfat 0,05 5 0,12676 0,006338
BM 576,7
Asam Asetat 0.07386 7,386 0,566 0,0418
BM 60,05
Na asetat 0,05548 5,548 0,705 0,0391
anhidrat
BM 82

TOTAL 0,087238

NaCl yang dibutuhkan:


0,9%-0,087238% = 0,812762 %
= 0,081276 g
= 81,28 mg
Kesimpulan:
Sediaan bersifat hipotonis.

b. Dapar
Jenisdapar/kombinasi Asam asetat (C2H4O2) dan Na asetat (C2H3NaO2)
Target pH 4,5
Kapasitas Dapar 0,01123456789
Perhitungan:
pKa = 4,76
[]
= + log
[]
[]
4,5 = 4,76 + log
[]
[]
= + log
[]

[]
log = -0,26
[]

[] = 0,55 []

+
= 2,303
( + + )2
104,76 104,5
0,01 = 2,303
(104,76 + 104,5 )2

5,4954 1010
0,01 = 2,303
2,401 109
0,01 = 2,303 0,228873
Ctotal= 0,019

Garam+asam= 0,019
0,55 asam+asam= 0,019
1,55 asam= 0,019
Asam= 0,0123 M
Garam= 6,765 x 103M

Dalam 10 ml sediaan
Massa asam asetat= 0,0123 M x 10 ml x 60,05 mg/mmol = 7,38 mg
assa Na asetat= 6,765 x 103 x 10 ml x 82 mg/mmol = 5,5473 mg

IV. Pendekatan Formula


No. Bahan Jumlah (%) Fungsi / Alasan Penambahan Bahan
1 Salbutamol sulfat 5 mg Zat aktif
2 Asam asetat 7,38 mg pendapar
3 Na asetat 5,5473 mg Pendapar
4 NaCl 81,28 mg Pengisotonis
5 HCl 0,1N 10 ml Pengadjust pH (bila diperlukan)
6 NaOH 40 mg Pengadjust pH (bila diperlukan)
7 Aqua pi Ad 10 ml Pelarut

V. Preformulasi Eksipien
1. Asam Asetat
Pemerian Massa kristal jernih, tak berwarna, larutan volatil berbau tajam.
Kelarutan Bercampur dengan air dan etanol.
Stabilitas
Panas Menguap pada suhu 118oC. Larutan berair NaCl stabil terhadap
pemanasan. Bentuk padatannya disimpan dalam tempat sejuk.
Hidrolisis Stabil dalam air. Bentuk padat disimpan dalam tempat kering.
Bersifat higroskopik pada kelembaban >75%.
Cahaya Stabil
Inkompabilitas Inkompatibel dengan zat kimia yang bersifat basa.
Kesimpulan: asam asetat glacial berfungsi sebagai pendapar dengan pka 4,76, bercampur
dengan air.
Cara sterilisasi: pemanasan akhir produk dengan autoklaf.
Kemasan: disimpan dalam wadah kedap udara dalam ruangan dingin/sejuk.

2. Natrium Asetat
Pemerian Kristal tak berwarna, transparan atau serbuk kristal bergranul
dnegan bau asam asetat.
Kelarutan Larut dalam 1/0,8 di air dan 1/20 di etanol 95%.
Stabilitas
Panas -
Hidrolisis Bersifat higroskopik.
Cahaya -
Inkompabilitas Na asetat bereaksi baik dnegan asam maupun basa. Akan
bereaksi dengan kuat dengan fluorin, KNO3, dan diketene.
Kesimpulan: Na asetat berfungsi sebagai pendapar dengan pKa 4,76, bercampur dengan
air.
Cara sterilisasi: pemanasan akhir produk dengan autoklaf.
Kemasan: disimpan dalam wadah kedap udara.

3. NaCl
Pemerian Serbuk kristal putih/ tak berwarna, memiliki rasa asin.
Kelarutan Di dalam air 1/2,8 dan 1/2,6 untuk air mendidih.
Stabilitas
Panas -
Hidrolisis Tempat sejuk dan kering.
Cahaya Terlindung dari cahaya.
Inkompabilitas -
Kesimpulan: NaCl digunakan sebagai pengisotonis.
Cara sterilisasi: pemanasan akhir produk dengan autoklaf.
Kemasan: disimpan dalam wadah kedap udara dalam ruangan dingin/sejuk dan kering.

4. NaOH
Pemerian Massa putih/praktis putih, tersedia dalam bentuk pellet, serpihan
atau batang, atau dalam bentuk lain.
Kelarutan 1/7,2 dalam etanol, tidak larut dalam eter, larut dalam gliserin,
1/4,2 dalam metanol, 1/0,9 dalam air, 1/0,3 dalam air mendidih.
Stabilitas
Panas Stabil terhadap suhu.
Hidrolisis Bersifat higroskopik sehingga dapat mengiikat CO2 dari air dan
udara. Padatan NaOH sebaiknya disimpan dalam tempat kering.
Cahaya -
Inkompabilitas -
Kesimpulan: NaOH digunakan sebagai pengadjust pH.
Cara sterilisasi: pemanasan akhir produk dengan autoklaf.
Kemasan: disimpan dalam wadah nonlogam, kedap udara, dan pada tempat sejuk dan
kering.

5. HCl
Pemerian Larutan jernih, tidak berwarna, berbau tajam.
Kelarutan Bercampur dengan air, larut dalam dietil eter, enaol 95%, dan
metanol.
Stabilitas
Panas Titik diidh 110oC (20,24% w/w). sebaiknya diletakkan pada
Hidrolisis suhu <30oC. Hindari dari alkali pekat, logam, dan sianida.
Cahaya
Inkompabilitas Bereaksi dahsyat dengan alkali dengan produksi panas. Berekasi
dengan banyak logam melepaskan H.
Kesimpulan: sebagai pengadjust pH.
Cara sterilisasi: pemanasan akhir produk dengan autoklaf.
Kemasan:
6. Aqua pi
Pemerian Air steril untuk injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilkan
dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan
antimikroba/ bahan tambahan lain. Cairan jernih, tidak berwarna
dan tak berbau.
Kelarutan -
Stabilitas
Panas Stabil
Hidrolisis -
Cahaya -
Inkompabilitas Inkompatibel dengan zat-zat yang mudah terhidrolisis atau
terurai oleh keberadaan air. Dapat bereaksi dengan logam alkali
dan logam basa serta bentuk oksidannya, misalnya CaO. Dapat
bereaksi dengan garam anhidrat dan molekul organic tertentu.
Kesimpulan: sebagai pelarut.
Cara sterilisasi: pemanasan akhir produk dengan autoklaf.
Kemasan:

VI. Persiapan Alat/Wadah/Bahan


a. Alat
No. Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi
1 Gelas kimia 25 ml 1 Autoklaf 121oC 15 menit
2 Gelas kimia 10 ml 5 Autoklaf 121oC 15 menit
3 Erlenmeyer 200mL 2 Autoklaf 121oC 15 menit
4 Kaca arloji 3 Oven 170oC 1 jam
5 Pipet tetes 3 Oven 170oC 1 jam
6 Karet pipet tetes 3 Direndam dalam larutan etanol 70% 1 malam
7 Buret 1 Dimasukkan alcohol 70%
8 Batang pengaduk 3 Oven 170oC 1 jam
9 Spatel stainless 2 Oven 170oC 1 jam
10 Kertas saring 2 Autoklaf 121oC 15 menit
11 Corong 1 Oven 170oC 1 jam
12 Membran filter 1 Autoklaf 121oC 15 menit

b. Wadah
No. Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi
1 Ampul coklat 1 ml 5 Autoklaf 121oC 15 menit

c. Bahan
No. Nama Bahan Jumlah Cara Sterilisasi
1 Salbutamol sulfat 5 mg Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit
2 Asam asetat 7,38 mg Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit
3 Na Asetat 5,5473 mg Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit
4 NaCl 81,28 mg Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit
5 HCl 0,1 N 10 ml Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit
6 NaOH 40 mg Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit
7 Aqua pi Ad 10 ml Sterilisasi akhir dg Autoklaf 121oC 15 menit

VII. Penimbangan Bahan


No. Nama Bahan Jumlah yang ditimbang
1 Salbutamol sulfat 5 mg
2 Asam asetat 7,38 mg
3 Na Asetat 5,5473 mg
4 NaCl 81,28 mg
5 HCL 0,1 N 10 ml
6 NaOH 40 mg
7 Aqua pi Ad 10 ml

VIII. Prosedur Pembuatan


RUANG PROSEDUR
Grey Area Permukaan meja dilap menggunakan etanol 70% sebelum sterilisasi
ruangan. Sterilisasi ruangan dengan oksidasi menggunakan etanol
70% diikuti dengan penyinaran lampu UV selama 12 jam.
Grey Area Sterilisasi dilakukan dimana alat-alat yang akan digunakan
disterilkan di dalam autoklaf (untuk alat presisi) dan oven (untuk
alat non presisi). Catatan: sebelum dimasukkan ke dalam autoklaf
atau oven, terlebih dahulu alatalat tersebut dibungkus dengan
kertas perkamen.
White Area Aqua pro injeksi :
a. Dimasukkan aquabidest ke dalam beaker glass dalam 250 mL
yang telah distandarisasi.
b. Ditambahkan karbon aktif 0,1% lalu diaduk.
c. Dipanaskan pada suhu 60-70oC selama 15 menit.
d. Disaring menggunakan kertas saring 2 lapis.
e. Disterilisasi ke dalam autoklaf.
Grey Area Ditimbang masing-masing bahan menggunakan neraca analitik
dengan tepat menggunakan kaca arloji yang sebelumnya telah
disterilkan.
White Area Pada gelas kimia A 10 ml, dimasukkan 5 mg salbutamol sulfat,
lalu dimasukkan 0,5 ml aqua p.i. kedalam gelas kimia sedikit
sedikit sambil diaduk. Bilas kaca arloji 1 kali ad 5 ml.
Pada gelas kimia B 10 ml yang lain dimasukkan NaCl 81,28 mg
dan ditambahkan 2 ml aqua steril p.i. sambil diaduk hingga
larut. Bilas kaca arloji 1 kali ad 0,5 ml.
Pada gelas kimia C 10 ml yang lain, dimasukkan asam asetat
0,1 N sebanyak 1,3 ml atau sekitar 7,38 mg, lalu ditambahkan
0,5 ml aqua p.i sambil diaduk hingga larut. Bilas kaca arloji 1
kali ad 0,5 ml.

Grey Area Dilakukan evaluasi sediaan.

IX. Evaluasi Sediaan


No. Jenis Prinsip Jumlah Hasil Syarat
Evaluasi Evaluasi Sampel Pengamatan
1 Uji pH Menggunakan pH meter 3 pH sediaan 4,5
Sediaan
2 Uji Wadah sediaan akhir 3 Tidak ditemukan
Kejernihan disinari dari samping adanya serat/ pengotor
Larutan dengan latar belakang
warna hitam untuk
melihat partikel
berwarna putih dan
latar belakang putih
untuk melihat partikel
berwarna.
3 Uji Wadah sediaan 5 Tidak satu ampulpun
Kebocoran diletakkan dengan bocor
Wadah posisi terbalik.
4 Uji Sediaan diinokulasi 3 Steril, tidak ada
Sterilitas pada medium agar dan pertumbuhan mikroba
diamati pertumbuhan
mikroba setelah
inkubasi.
5 Uji Memerlukan sistem 3 Jumlah partikel/ml:
Partikulat elektronik penghitung >50 m: negative
partikel pengotor cairan >/=25 m: <1000
yang dilengkapi dengan >10 m: <10000
alat untuk memasukkan
contoh yang sesuai.
6 Volume Sediaan dipindahkan 3 Rata-rata tidak < 100%
Terpindahk dari ampul ke dalam dan tidak satupun <95%
an gelas ukur dan
dilakukan pengamatan
volume yang
terpindahkan.
7 Penetapan
Kadar Zat
Aktif
8 Uji Penetapan kadar
Endotoksin endotoksin dilakukan
Bakteri dengan seri
pengenceran spesimen
dengan kadar menurun.
Pilih pengenceran yang
sesuai dengan seri
geometrik sehingga
setiap tahap lebih besar
dari tahap berikutnya
dengan perbandingan
yang tetap. Termasuk di
dalamnya kontrol
negatif, kontrol positif,
dan kontrol sediaan
positif. Dilakukan
penafsiran hasil

X. Daftar Pustaka

1. Bnf committee. British National Formulary ed 46. London: BMJ Publishing Group Ltd.

2006

2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia edisi 4. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995

3. WHO. International Pharmacopedia ed 4, Vol 3. Genewa: WHO Publisher. 2003

4. Lund, Walter (editor). The Pharmaceutical Codex: Principles and Practice of

Pharmaceutic. 12th edition. London: The Pharmaceutical Press. 1994

5. Rowe RC, Sheskey PJ, Quinn ME. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th edition.

London: The Pharmaceutical Press. 2009