Anda di halaman 1dari 16

TUGAS TERSTRUKUR

BUDIDAYA TANAMAN SAYUR DAN BUAH

Oleh :
Yanti Sumiati A1D015083
Retna Ayu TKD A1D015092
Fatin Nurwahidah A1D015095

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sayuran merupakan komoditas penting dalam mendukung ketahanan pangan

nasional. Komoditas ini memiliki keragaman yang luas dan berperan sebagai

sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin, dan mineral yang bernilai ekonomi

tinggi. Produksi sayuran Indonesia meningkat setiap tahun dan konsumsinya

tercatat 44 kg/kapita/tahun (Adiyoga, 1999). Laju pertumbuhan produksi sayuran

di Indonesia berkisar antara 7,7-24,2%/tahun. Beberapa jenis sayuran, seperti

bawang merah, petsai/sawi, dan mentimun peningkatan produksinya merupakan

dampak dari penerapan teknologi budidaya (Suwandi, 2009).

Brokoli (Brassica oleracea) merupakan salah satu jenis sayuran yang

digemari masyarakat karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Permintaan

komoditas ini terdapat di supermarket dan pasar tradisional di berbagai kota besar

di Indonesia. Selain pasar domestik, permintaan tinggi juga terlihat di pasar

ekspor (Susilo dan Renda, 2012). Budidaya brokoli memiliki peluang usaha yang

sangat baik. Selain permintaan yang tinggi, masa panennya relatif singkat dan

teknik budidaya yang sederhana. Sementara itu, dari segi ekonomi, bertanam

brokoli hanya membutuhkan sedikit modal dengan fluktuasi harga yang rendah.

Di Indonesia, permintaan terhadap brokoli dari tahun ke tahun mengalami

peningkatan terutama dari restoran-restoran, hotel-hotel dan pasar-pasar modern.

Menurut data USAID, permintaan terhadap brokoli di Indonesia mengalami

peningkatan 1520% per tahun. Namun tingginya permintaan ini tidak diimbangi
dengan kualitas dan kuantitas produksi yang memadai. Produksi brokoli lokal

sangat rendah baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, perlu

diketahui cara budidaya tanaman brokoli mulai dari hulu hingga ke hilir.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan
II. ISI

A. Asal Usul Brokoli

Brokoli (Brassica oleracea, L.) atau lebih dikenal dengan nama kubis bunga

hijau termasuk kedalam tanaman kubis-kubisan (cruciferae) berupa tumbuhan

berbatang lunak yang diduga berasal dari Eropa. Brokoli pertama kali ditemukan

di Cyprus, Italia Selatan dan Mediterania 2000 tahun yang lalu. Beberapa tahun

terakhir banyak terjadi perbaikan warna maupun ukuran bunga terutama di

Denmark. Di Indonesia brokoli dikenal dengan nama kubis bunga hijau atau

Sprouting broccoli. Sayuran ini masuk ke Indonesia belum lama (sekitar 1970-an)

dan kini cukup populer sebagai bahan pangan (Traka et al., 2008).

B. Klasifikasi Brokoli

Brokoli merupakan tanaman semusim dengan daur hidup berlangsung

minimal empat bulan dan maksimal setahun, tergantung tipenya (Sharma, 2004).

Pada dasar kepala tersebut terdapat daun-daun hijau yang tebal dan tersusun rapat.

Menurut Pasaribu (2012), klasifikasi tanaman brokoli adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Famili : Cruciferae

Genus : Brassica

Spesie : Brassica oleraceae L.


C. Morfologi Brokoli

1. Akar

Brokoli memiliki akar tunggang dengan bulu akar yang tumbuh seperti

akar serabut. Akar tunggang tumbuh ke pusat bumi, sedangkan akar serabut

tumbuh ke arah samping, menyebar dan dangkal (20-30 cm). Sistem

perakaran yang dangkal itu membuat tanaman ini dapat tumbuh dengan baik

apabila ditanam pada tanah yang gembur dan porous. Batang tumbuh tegak

dan pendek ( 30 cm), batang tersebut berwarna hijau, tebal, lunak, namun

cukup kuat dan bercabang samping. Batang tersebut halus tidak berambut,

dan tidak begitu tampak jelas karena tertutup oleh daun (Cahyono, 2001).

2. Daun

Daun brokoli umumnya berwarna hijau dan tumbuh berselang-seling

pada batang tanaman dengan pangkal daun yang tebal dan lunak. Daun

bertangkai dan bentuk daunnya bulat telur dengan bagian tepi daun bergerigi

agak panjang dan membentuk celah-celah yang menyirip agak melengkung

ke dalam. Daun-daun yang tumbuh pada pucuk batang sebelum masa bunga

terbentuk, berukuran kecil dan melengkung ke dalam melindungi bunga yang

sedang mulai tumbuh (Gafari, 2015).

3. Bunga

Warna bunga pada brokoli sesuai dengan kultivar, ada yang memiliki

masa bunga hijau muda, hijau tua dan hijau kebiru-biruan (ungu).

Pembungaan utama terbentuk pada ujung batang memanjang yang tidak

bercabang. Tunas bunga pada ujung setiap cabang pembungaan secara


keseluruhan membentuk sebuah kepala yang agak bundar dan padat

(Yamaguchi dan Vincent, 1998). Berat berkisar 0,6-0,8 kg dengan diameter

antara 18-25 cm, tergantung pada kultivarnya. Kuntum bunga brokoli bersatu

membentuk bulatan tebal serta padat (kompak). Berat untuk massa bunganya

berkisar 0,6-0,8 kg dengan diameter antara 18-25 cm. Bunga brokoli dapat

tumbuh memanjang menjadi tangkai bunga yang penuh dengan kuntum

bunga. Tiap bunga terdiri atas 4 helai daun kelopak, 4 helai daun mahkota

bunga, 6 benang sari yang komposisinya 4 memanjang dan 2 pendek. Bakal

buah terbagi menjadi dua ruang, dan setiap ruang berisi bakal biji (Rukmana,

1995).

4. Biji

Biji brokoli memiliki bentuk dan warna yang hampir sama, yaitu bulat

kecil berwarna coklat sampai kehitaman. Biji berukuran kecil (diameter

sekitar 1 mm) berbentuk bulatan dan terbungkus oleh cangkang berwarna

hitam. Biji tersebut dihasilkan oleh penyerbukan sendiri ataupun silang

dengan bantuan sendiri ataupun serangga. Buah yang terbentuk seperti

polong-polongan, berukuran ramping dan panjangnya sekitar 3-5 mm

(Rukmana, 1994).

D. Syarat Tumbuh Brokoli

Brokoli pada umumnya ditanam di daerah yang berhawa sejuk, di dataran

tinggi 1000-2000 mdpl dan bertipe iklim basah. Brokoli akan mencapai

pertumbuhan optimum pada tanah yang banyak mengandung humus, gembur,


porus, dengan pH tanah antara 6-7. Waktu tanam yang baik adalah pada awal

musim hujan atau awal musim kemarau. Namun demikian brokoli dapat ditanam

sepanjang tahun dengan pemeliharaan lebih intensif (Setiawati et al., 2007).

Tanaman ini tumbuh baik pada suhu udara antara 13-24 oC dan kelembaban udara

yang cocok yaitu antara 80-90%. Pada stadia pembibitan memerlukan intensitas

cahaya lemah sehingga memerlukan naungan untuk mencegah cahaya matahari

langsung yang membahayakan pertumbuhan bibit. Sedangkan pada stadia

pertumbuhan diperlukan intensitas cahaya yang kuat, sehingga tidak

membutuhkan naungan (Yenti et al., 2016).

Tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman brokoli adalah tanah

yang subur, gembur, kaya bahan organik dan tidak mudah becek seperti pada

tanah lempung berpasir tetapi dapat hidup dengan baik pada tanah jenis Andosol,

Latosol, Regosol, Mediteran dan Aluvial. Kandungan air tanah yang baik adalah

kandungan air tersedia, yaitu pF antara 2,5-4, sehingga memerlukan pengairan

yang cukup baik (irigasi maupun drainase). Kemiringan lahan yang optimal yaitu

0-20%, apabila lebih besar dari 20%, maka lahan harus dibuat dalam bentuk

terasering (Yenti et al., 2016).

E. Manfaat Brokoli

Brokoli (Brassica oleracea L.) merupakan tanaman penting hortikultura

yang dibudidayakan secara komersil dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat

karena memiliki kandungan gizi tinggi dan penting bagi kesehatan. Brokoli

mengandung vitamin A, B, C kompleks, asam askorbit, thiamin, riboflavin,


kalsium, zat besi, mineral, dan senyawa glukorafanin, yang merupakan bentuk

alami senyawa antikanker sulforafana (sulforaphane). Selain itu, brokoli

mengandung senyawaan isotiosianat yang, sebagaimana sulforafana, ditengarai

memiliki aktivitas antikanker (Traka et al., 2008).

Rubatzky dan Yamaguchi (1998), menyatakan bahwa beberapa manfaat

brokoli bagi kesehatan tubuh diantaranya adalah memperkecil resiko terjadinya

kanker kerongkongan, perut, usus besar, paru, larynx, parynx, prostat mulut, dan

payudara. Membantu menurunkan resiko gangguan jantung dan stroke.

Mengurangi resiko terkena katarak. Membantu melawan anemia. Mengurangi

resiko terkena spina bifida (salah satu jenis gangguan kelainan tulang belakang).

F. Budidaya Brokoli

1. Pembibitan dan Persemaian

Setiawati et al. (2007) mengemukakan bahwa kebutuhan benih brokoli

adalah 300-350 gram/ha. Varietas yang dianjurkan antara lain adalah Bejo

atau varietas lokal yang biasa ditanam di daerah setempat. Sebelum disemai,

benih direndam dahulu dalam air hangat dengan suhu 50 C atau dalam

larutan Previcur N (1 cc/l) selama satu jam. Benih disebar merata pada

bedengan pesemaian dengan media berupa campuran tanah dan pupuk

kandang/kompos dengan perbandingan 1:1, kemudian ditutup dengan daun

pisang selama 2-3 hari. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan ke dalam

bumbunan daun pisang/pot plastik dengan media yang sama yaitu tanah dan

pupuk kandang steril. Penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit siap ditanam di
lapangan setelah berumur 3-4 minggu atau sudah memiliki empat sampai

lima daun.

2. Persiapan Lahan

Lahan yang dipilih adalah lahan yang bukan merupakan bekas tanaman

kubis-kubisan. Sisa-sisa tanaman pada lahan dikumpulkan kemudian dikubur.

Tanah dicangkul sampai gembur kemudian dibuat lubang-lubang tanam

dengan jarak tanam antar barisan 70 x 50 cm atau 60 cm x 40 cm. Pengapuran

dilakukan apabila pH tanah kurang dari 5,5 menggunakan kaptan/dolomit

dengan dosis 1,5 ton/ha pada 3-4 minggu sebelum tanam bersamaan dengan

pengolahan lahan. Pemberian kaptan/dolomit dilakukan dengan cara disebar

di atas permukaan tanah dan diaduk merata (Setiawati et al., 2007).

3. Pemupukan

Tanaman brokoli membutuhkan banyak nutrisi selama masa

pertumbuhannya. Nutrisi yang dibutuhkan adalah pupuk yang mengandung

unsur N, P dan K (Wasonowati, 2009). Pupuk yang diberikan antara lain

pupuk kandang atau kompos dan pupuk buatan. Pupuk kandang dapat berupa

pupuk kandang sapi 30 ton/ha, pupuk kandang domba 20 ton/ha, atau kompos

jerami padi 18 ton/ha. Sedangkan pupuk buatan berupa Urea sebanyak 100

kg/ha, ZA 250 kg/ha, SP-36 250 kg/ha dan KCl 200 kg/ha. Untuk tiap

tanaman diperlukan Urea sebanyak 4 g + ZA 9 g, SP-36 9 g, dan KCl 7 g.

Pupuk kandang (1 kg), setengah dosis pupuk N (Urea 2 g + ZA 4,5 g), pupuk

SP-36 (9 g) dan KCl (7 g) diberikan sebelum tanam pada tiap lubang tanam.
Sisa pupuk N (Urea 2 g + ZA 4,5 g) per tanaman diberikan pada saat tanaman

berumur empat minggu.

4. Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan pada tanaman brokoli meliputi penyiraman,

penyulaman dan penyiangan. Penyiraman dilakukan setiap hari sampai

tanaman brokoli tumbuh normal, kemudian diulang sesuai kebutuhan.

Penyulaman segera dilakukan jika ada tanaman yang mati atau

pertumbuhannya terganggu dan dihentikan setelah tanaman berumur 10-15

hari setelah waktu tanam agar diperoleh pertumbuhan yang serempak.

Adapun penyiangan dan pendangiran dilakukan bersamaan dengan

waktu pemupukan pertama dan kedua. Penyiangan dilaksanakan untuk

mengurangi persaingan hara antara tanaman budidaya dengan tumbuhan

gulma yang tumbuh di sekitar bedengan (Moenandir, 1990). Membersihkan

tanaman dari rumput dan tanaman liar yang mungkin menjadi tempat hidup

dan bertelur ataupun makanan serangga sangat diperlukan dalam usaha

mengurangi populasi serangga. Memusnahkan sisa tanaman yang berada di

lahan pertanian juga termasuk dalam usaha sanitasi untuk memberantas hama,

karena sisa tanaman itu akan memungkinkan hama dapat bertahan hidup

sampai masa tanam berikutnya (Jumin, 2005).

5. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan

Produksi brokoli dipengaruhi oleh serangan hama dan penyakit. Bila

tidak dikendalikan dengan benar, serangan organisme pengganggu ini bisa

mengurangi hasil panen. Serangan hebat bahkan bisa mengakibatkan


kematian pada tanaman brokoli. Berikut ini beberapa hama dan penyakit yang

sering mengganggu tanaman salak dan cara pengendaliannya.

Hama yang menyerang tanaman brokoli adalah sebagai berikut:

a. Ulat Plutella (Plutella xylostella L.)

Hama ini dikenal juga dengan ulat tritip, Diamond-black moth,

hileud keremeng, ama bodas, ama karancang (Sunda), omo kapes dan

kupu klawu (Jawa). Siklus hidup hama ini berlangsung 2-3 minggu

tergantung temperatur udara. Ngengat betina meletakkan telurnya

dibagian bawah permukaan daun sebanyak 50 butir dalam waktu 24 jam.

Telur hama ini berbentuk oval, berukuran 0,6-0,3 mm dan berwarna hijau

kekuningan. Telur akan menetas 3 hari kemudian menjadi larva

berwarna hijau dengan panjang 8 mm dan lebar 1 mm. Larva plutella

mengalami empat instar yang berlangsung selama 12 hari kemudian

berubah menjadi ngengat kecil berwarna coklat keabu-abuan. Ngengat

aktif dimalam hari, sedangkan siang hari bersembunyi dibawah dibawah

sisa-sisa tanaman, atau hinggap dibawah permukaan daun bawah.

Hama biasanya menyerang pada musim kemarau. Gejala yang

ditimbulkan yaitu daun berlubang-lubang terdapat bercak-bercak putih

seperti jendela yang menerawang dan tinggal urat-urat daunnya saja.

Hama ini umumnya menyerang tanaman muda, tetapi kadang-kadang

merusak tanaman yang sedang membentuk bunga.

Pengendalian dapat dilakukan dengan mengumpulkan ulat-ulat dan

telurnya, kemudian dihancurkan. Secara kultur teknik, yaitu melakukan


pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman yang bukan famili

cruciferae, pola tumpang sari brokoli dengan tomat, bawang daun, dan

jagung, dengan tanaman perangkap (trap crop) seperti Rape/Brassica

campestris ssp. Pengendalian hayati atau biologi dengan menggunakan

musuh alami yaitu parasitoid seperti Cotesia plutella Kurdj, Diadegma

semiclausum, Diadegma eucerophaga. Adapaun pengendalian secara

kimiawi yaitu dengan menyemprotkan insektisida selektif berbahan aktif

Baccilus thuringiensis seperti Dipel WP, Bactospeine WP, Florbac FC

atau Thuricide HP pada konsentrasi 0,1-0,2% dan Agrimec 18 FC pada

konsentrasi 1-2 cc/liter.

b. Ulat Grayak (Trichoplusiana sp.)

Ulat grayak memiliki ciri yaitu bintik-bintik segitiga berwarna

hitam dan bergaris kekuning-kuningan pada sisinya dengan siklus hidup

30-61 hari. Kupu-kupunya berwarna agak gelap dengan garis agak putih

pada sayap depan. Telurnya berjumlah 25-500 butir diletakkan secara

berkelompok diatas tanaman dan ditutup dengan bulu-bulu. Gejala yang

ditimbulkan oleh ulat ini yaitu daun rusak, berlubang-lubang atau kadang

kala tinggal urat-urat daunnya saja. Pengendalian terhadapat hama ini

dapat dilakukan dengan mengatur pola tanam, menjaga kebersihan kebun

dan penyemprotan insektisida seperti Orthene 75 SP 1 cc/liter air,

Hostathion 1-2 cc/liter air, Curacron 500 EC atau Decis 2,5 EC.
Adapun penyakit penting pada tanaman brokoli adalah sebagai berikut:

a. Busuk Hitam (Xanthomonas campestris Dows.)

Penyakit busk hitam disebabkan oleh bakteri yang merupakan

patogen tular benih (seed borne), dan dapat dengan mudah menular ke

tanah atau ke tanaman sehat lainnya. Gejala yang ditimbulkan yaitu

tanaman semai rebah (dumping off) karena infeksi awal terjadi pada

kotiledon, kemudian menjalar keseluruh tanaman secara sistematik.

Terdapat bercak coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, tangkai,

bunga maupun massa bunga yang diserang. Gejala khas yang

ditimbulkan yaitu daun kuning kecoklat-coklatan berbentuk huruf "V"

lalu mengering. Batang atau massa bunga yang terserang menjadi busuk

berwarna hitam atau coklat, sehingga kurang layak dipanen.

Pengendalian terhadap ini dapat dilakukan dengan memberikan

perlakuan pada benih dengan merendamnya dalam larutan fungisida atau

dalam air panas 55 oC selama 15-30 menit. Pembersihan kebun dari

tanaman inang alternatif dan rotasi tanaman selama 3 tahun dengan

tanaman tidak sefamili.

b. Busuk Lunak (Erwinia carotovora Holland.)

Penyakit busuk lunak pada tanaman brokoli disebabkan oleh

bakteri sewaktu masih di kebun hingga pascapanen dan dalam

penyimpanan yang diakibatkan dari luka pada pangkal bunga yang

hampir siap panen, luka akar tanaman scara mekanis, serangga atau

organisme lain, luka saat panen dan penanganan atau pengepakan yang
kurang baik. Pengendalian prapanen dapat dilakukan dengan

membersihkan sisa-sisa tanaman pada lahan yang akan ditanami,

menghindari kerusakan tanaman oleh serangga pengerek atau sewaktu

pemeliharaan tanaman, dan menghindari bertanam kubis-kubisan pada

musim hujan di daerah basis penyakit busuk lunak. Adapun pengendalian

pascapanen dapat dilakukan dengan menghindari luka mekanis atau

gigitan serangga menjelang panen, menyimpan hasil panen dalam

keadaan kering dan menyimpan hasil produksi ditempat sejuk dan

mempunyai sirkulasi udara baik.

6. Panen dan Pascapanen

Menurut Wahyudi (2010), pemanenan brokoli bisa dilakukan pada

umur 50-70 hst, tergantung pada varietas yang ditanam dan ketinggian tempat

penanaman. Semakin tinggi tempat penanaman, semakin bertambah umur

panennya. Ciri-ciri bunga brokoli yang siap dipanen yaitu bentuk bunga

sudah seperti kubah (permukaan atas bunga sudah tidak rata lagi) dan

kepadatan bunga masih kompak dan belum tampak adanya anak bunga yang

mekar. Pemanenan brokoli dilakukan dengan cara memotong tangkai bunga bersama

sebagian batangnya sepanjang 25 cm dengan menyertakan 3-4 helai daun dan

ujungnya dipotong untuk tujuan pemasaran jarak dekat. Sedangkan untuk

pemasaran jarak jauh, dianjurkan untuk menyertakan 6 helai daun, kemudian

ujung daun dipatahkan untuk menutupi bunga. Brokoli merupakan tanaman

sekali panen, sehingga periode panen sama dengan periode tanam. Prakiran

produksi brokoli perhektar secara umum adalah 15-40 ton, tetapi produksi
brokoli sangat bergantung pada varietas tanaman dan populasi tanaman per

satuan luas lahan.

Hasil roduksi brokoli setelah dipanen kemudian dikumpulkan pada

tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju

respirasi berkurang sehingga didapatkan brokoli yang tinggi kualitas dan

kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk

dan dilempar-lempar.

Penyortiran dilakukan dengan memisahkan antara bunga yang baik dan

bebas penyakit dengan bunga yang jelek atau berpenyakit, agar penyakit tidak

tertular keseluruh bunga yang dipanen dan tidak menurunkan mutu produk.

Penggolongan dilakukan untuk mengklasifikasikan produk berdasarkan

diameter kepala bunga dan dikelompokkan ke dalam 4 golongan, yaitu:

a) Kelas I : > 30 cm

b) Kelas II: 25-30 cm

c) Kelas III: 20-25 cm

d) Kelas IV: 15-20 cm

Penyimpanan dapat dilakukan selama 14-28 hari dan dilakukan dengan

cara dibungkus dengan plastik Polyethylen dan dimasukkan pada peti kayu

dengan kapasitas 25-30 kg per peti. Kemudian dimasukkan ke dalam ruang

gelap yang dilengkapi alat dehumidifier pada suhu 20 oC dan Rh 85-95%.

Menurut Puslitbanghorti (2011), brokoli dapat bertahan satu minggu dengan

perlakuan suhu rendah (0-5 oC) dan dibungkus dengan menggunakan plastik
o
polythene film. Suhu untuk pendinginan brokoli 0-2 C dengan
kelembaban relatif 95% dapat mengurangi laju respirasi, penyusutan bobot

dan kelayuan, dan masa simpan bisa mencapai 2 minggu. Pengendalian

atmosfer juga bisa memperpanjang masa simpan brokoli. Dengan kandungan

O2 2 % dan CO2 10% brokoli dapat disimpan selama tiga minggu

(Nonnecke,1989).