Anda di halaman 1dari 3

Nama : Muhammad Fauzi Ibrahim Hasan

NIM : 17.75.251.002

Pertanyaan tugas:
Dengan asumsi urbanisasi ini tahun 2035 mencapai angka 66,67% terjadi, apakah masih ada
desa dan seperti apa format desa di tahun 2050?

Jawaban:

Urbanisasi tidak hanya dipandang sekedar perpindahan penduduk dari desa ke kota, namun
juga terjadinya perubahan aktivitas atau wajah desa menjadi lebih meng-kota. Urbanisasi
bukan lagi sekedar migrasi penduduk, namun juga dalam arti yang lebih luas yaitu proses
menjadi kota (sifat kekotaan). Selain berdampak pada bertambahnya penduduk di kawasan
perkotaan juga berdampak pada meluasnya pengaruh urban hingga ke kawasan perdesaan,
sehingga urbanisasi dapat dipandang sebagai proses modernisasi kawasan perdesaan.
Beranjak dari pemahaman ini, urbanisasi berpengaruh pada perubahan ekonomi, sosial, dan
mentalitas masyarakat khususnya di daerah perdesaan.

Ditinjau dari aspek pendidikan, jumlah penduduk dengan standar tingkat pendidikan yang
lebih tinggi dan terspesialisasi pada bidang tertentu berbasis lokal akan semakin banyak
ditemui di desa. Penduduk desa makin banyak yang memiliki pengetahuan dan keterampilan
dalam pengelolaan usaha pertanian hingga ke produk-produk turunannya. Walau demikian,
tenaga terampil yang bekerja di sektor non-pertanian pun semakin banyak seiring makin
beragamnya varian usaha yang muncul di kawasan perdesaan.

Desa tidak lagi sekedar sebagai pusat produksi pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan,
ataupun tambang, namun sudah lebih berkembang dengan munculnya berbagai sektor jasa
perdagangan, pengiriman barang, produk-produk turunan, jasa pendukung pertanian,
agroindustri (tepung beras, makanan ternak, makanan ringan, penggilingan padi), jasa
pariwisata (peninggalan sejarah, budaya, pemandangan indah). Orientasi produk tidak
sekedar hasil mentah dengan kualitas produk yang tetap, namun telah meningkat menjadi
pengolahan bahan baku/ pengolahan pascapanen sehingga memiliki nilai tambah. Lokasi
produksi lebih dekat ke pusat desa dan didominasi skala produksi menengah. Untuk desa yang

1
memiliki titik-titik pariwisata yang berpotensi komersial telah memiliki pasar hingga ke luar
negeri serta dikelola secara lebih profesional oleh suatu badan usaha swasta. Orientasi
pemasaran produk-produk pertanian dan turunannya dilakukan antar-desa, antar-kota,
bahkan secara internasional. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi bersifat tepat
guna, modern, bahkan mengandung unsur seni dan budaya.

Untuk menunjangnya, maka dikembangkan sarana infrastruktur yang lebih baik, baik berupa
jaringan jalan, jaringan telekomunikasi dan informasi, serta sistem irigasi yang lebih modern.
Sistem transportasi akan semakin terpadu dengan sistem transportasi di wilayah perkotaan,
yang menghubungkan dan mendukung pergerakan barang dari desa, ke kota, hingga ke
fasilitas perhubungan seperti bandar udara dan pelabuhan laut. Fasilitas dan layanan
perbankan pun semakin banyak menjangkau hingga ke desa.

Pola pemanfaatan lahan perdesaan akan semakin beragam yakni tidak hanya dimanfaatkan
untuk lahan pertanian semata, namun juga untuk berkembangnya sektor-sektor jasa
perdagangan, industri, jasa distribusi, pariwisata, maupun bertambahnya kawasan
permukiman baru. Permukiman ini tidak hanya dihuni oleh para penduduk yang berdomisili
di desa tersebut, namun juga dihuni oleh para pendatang yang bekerja di sektor-sektor jasa
maupun para penduduk dari kota yang mencari suasana perdesaan yang asri.

Walau demikian, potret keasrian desa tempo dulu akan sangat berbeda di masa depan.
Makna keasrian desa dapat bergeser dari yang semula lekat dengan suasana yang hijau, biru,
keterangan, udara yang sejuk, menjadi lebih beragam, tidak monoton, dinamika masyarakat
yang lebih berdenyut. Rumah-rumah penduduk perdesaan pun dibangun dari bahan
bangunan yang lebih kuat dan tahan lama serta kualitas material yang lebih baik, serta telah
memiliki pola penyebaran lokasi permukiman yang lebih tertata.

Di sisi lain, keberadaan petugas penyuluh bidang pertanian dan perikanan semakin berkurang
seiring berkembangnya kapasitas pendidikan masyarakat perdesaan serta kemudahan
menjangkau informasi dalam mengembangkan produk-produk sektor pertanian,
perkebunan, perikanan yang berdaya jual dan berdaya saing. Para petani banyak terbantu
oleh alat-alat pertanian yang bernuansa smart technology, yang cukup dikendalikan dari

2
sebuah telepon pintar, menekan satu tombol aplikasi, maka proses pengolahan lahan pun
bekerja secara otomatis. Buruh-buruh tani semakin berkurang karena telah beralih profesi
menjadi pengolah produk turunan.

Nelayan banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam menangkap ikan seperti


penggunaan frekuensi suara tertentu sehingga ikan-ikan yang diinginkan berhasil ditangkap.
Pun dapat dimungkinkan bahwa untuk menangkap ikan, nelayan tidak perlu melaut. Cukup
dengan smart-boat yang lengkap dengan alat tangkapnya serta dapat dikendalikan secara
remote (jarak jauh) melalui sebuah telepon pintar.

Secara spasial, batas-batas antar-desa semakin kabur (borderless) seiring makin


berkembangnya desa-desa dan sifat saling bergantung/ saling terkait antar-desa makin
menguat. Desa-desa tersebut akan membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru maupun
kawasan agropolitannya sendiri yang lengkap dengan sarana-prasarana penunjang khas
wilayah perkotaan yang lebih maju dan modern. Wilayah perdesaan telah menjadi suatu
sistem ekonomi terbuka yang berhubungan dengan wilayah perdesaan lainnya melalui arus
perpindahan faktor produksi dan pertukaran komoditas. Dalam proses pertumbuhannya akan
terjadi pergeseran dalam permintaan, munculnya sumber daya baru, perbaikan pada sistem
transportasi sehingga memudahkan pergerakan arus barang dan jasa, penurunan biaya
produksi, dan lain-lain.

Kondisi perdesaan pada 20 hingga 30 tahunan yang lalu akan berbeda dengan kondisinya
pada 30 tahun ke depan. Perkembangan dan perubahan masyarakat dewasa ini banyak
dipengaruhi oleh kemudahan dan kecepatan arus informasi dan teknologi. Kondisi ini pun
berkontribusi besar pada perubahan masyarakat desa. Oleh karena itu, perkembangan
wilayah perdesaan sangat ditentukan oleh seberapa tanggap dan seberapa cepatnya
masyarakat desa mampu beradaptasi dan mendapatkan manfaat positif dari suatu
perubahan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.