Anda di halaman 1dari 55

Genetika Mikroba dan Imunologi

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi
yang Diampu oleh Desi Kartikasari, M. Si.

oleh:
Kelompok 6

M. Ihsan Kholid 17208153001


Ulfi Uswatun Khasanah 17208153031
Siti Nafiah 17208153033
Ulfi Septiani 17208153036

TADRIS BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
November 2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-NYA kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
Mikrobiologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Yang berjudul Genetika
Mikroba dan Imunologi.
Keberhasilan penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu kami selaku penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Maftukhin, M. Ag, selaku Rektor IAIN Tulungagung;
2. Desi Kartikasari, M.Si., selaku dosen pengampu mata kuliah Mikrobiologi;
3. Kedua orang tua yang telah memberikan semangat dan dukungannya;
4. Semua pihak yang telah membantu demi terselesaikannya tugas makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Harapan penulis
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tulungagung, November 2017

Penulis

DAFTAR ISI
Cover
Kata Pengantar...........................................................................................................ii
Daftar Isi....................................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1

ii
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan Penulisan...................................................................................2
BAB II : PEMBAHASAN
Kerangka Konseptual Genetika Mikroba...................................................................4
A. Genetika Mikroba.................................................................................5
B. Mutasi ..................................................................................................10
1. Mutasi Bakteri...................................................................................10
2. Tipe-Tipe Mutasi...............................................................................11
3. Tipe-Tipe Mutan...............................................................................14
4. Terjadinya/Proses Mutasi..................................................................15
5. Dampak Mutasi Terhadap Bakteri....................................................16
6. Penyebab Mutasi...............................................................................17
7. Kecepatan Mutasi..............................................................................19
C. Pemindahan DNA pada Bakteri............................................................20
1. Transformasi.....................................................................................20
2. Tranduksi...........................................................................................22
3. Konjugasi..........................................................................................23
D. Ayat Al-Quran tentang Pembiakan Bakteri dan Virus......................25
Kerangka Konseptual Imunologi...............................................................................26
A. Pengertian Imunologi...........................................................................27
B. Fungsi dari Sistem Imun.......................................................................28
C. Tipe Sistem Imun..................................................................................29
1. Sistem Kekebalan Nonspesifik.........................................................29
2. Sistem Kekebalan Spesifik...............................................................32
D. Macam-Macam Imunitas (Kekebalan Tubuh) ...................................33

E. Respon Imun.........................................................................................34
F. Pertahanan Mekanisme dan Kimiawi....................................................44
G. Macam Gangguan Pada Sistem Imun...................................................45
1. Lack of response (Imunodefisiensi)..................................................45
2. Incorect response (Penyakit Autoimun)............................................45
3. Overactive response (Alergi)............................................................45

iii
H. Makanan yang dapat Menambah Imunitas............................................46
I. Ayat Al-quran tentang Sistem Imun.......................................................48
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................49
B. Saran.....................................................................................................50
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bakteri merupakan organisme yang relatif sederhana dan mudah dimanipulasi di
laboratorium. Genetika secara sederhana dapat didefinisikan sebagai manipulasi
DNA untuk mempelajari fungsi selular dan organisme. Pendekaatan genetika dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu genetika klasik yang mempelajari gen berdasarkan
fakta fenotip dan genetika molekuler yang mempelajari molekul materi genetik
secara langsung. Secara prinsip analisa genetik pada bakteri tidak berbeda dengan
organisme yang lebih tinggi. Beberapa perbedaan yang ada antara bakteri dan
organisme eukariota adalah genom bakteri haploid dan bukan diploid, generation
time pendek, reproduksinya aseksual, dapat ditumbuhkan dalam agar plate dan
adanya bakteriofaga sebagai patogen bagi bakteri.
Secara fisik, materi yang dibicarakan dalam ilmu genetik adalah asam nukleat
baik Deoxyribose Nucleic Acid (DNA) maupun Ribose Nucleic Acid (RNA). Adanya
materi genetik pada suatu organisme, pertama kali dibuktikan pada tahun 40-an pada
ujicoba menggunakan bakteri. Namun baru pada pertengahan tahun 50-an Watson
dan Crick menemukan struktur DNA. DNA merupakan struktur double helix
dimana tulang punggungnya adalah gula dan fosfat dan pada bagian dalam terdapat
basa nitrogen. Basa ini menjadikan untaian DNA ini berpasangan dengan arah
berlawanan (anti parallel) yaitu ujung 5' berpasangan dengan ujung 3' dan
sebaliknya. Terdapat dua macam basa nitrogen yaitu purin (Guanin/G dan adenin/A)
dan pirimidin (timin/T dan sitosin/C). Basa tersebut memiliki pasangan yang tetap
yaitu A dengan T dan G dengan C. Struktur DNA sedikit berbeda dengan struktur
RNA. Pada RNA tidak terdapat basa T melainkan U (urasil) dan gulanya berupa
ribose dan bukan deoksi ribose. DNA bakteri berbentuk supercoil, terdapat dalam
sitoplasma, ditempat yang disebut nukleoid dan terorganisasi dalam 1 kromosom.
Selain DNA kromosom, kuman juga memiliki sejumlah kecil DNA sirkuler yang
disebut plasmid.
Tubuh manusia tidak mungkin terhindar dari lingkungan yang mengandung
mikroba patogen disekelilingnya. Mikroba tersebut dapat menimbulkan penyakit
infeksi pada manusia. Mikroba patogen yang ada bersifat poligenik dan kompleks.

1
Oleh karena itu, respon imun tubuh manusia terhadap berbagai macam mikroba
patogen juga berbeda. Umumnya gambaran biologic spesifik mikroba menentukan
mekanisme imun mana yang berperan untuk proteksi. Tubuh manusia akan selalu
terancam oleh papara bakteri, virus, parasit, radiasi sinar matahari, dan populasi.
Biasanya manusia dilindungi oleh system pertahanan tubuh, system kekebalan
tubuh, terutama makrofag dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk menjaga
kesehatan. Kelebihan tantangan negatif, bagaimanapun, dapat menekan sistem
pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, dan mengakibatkan berbagai penyakit
fatal. Respon imun yang alamiah terutama melalui fagositosis oleh neutrofil,
monosit, serta makrofag jaringan. Kerusakan jaringan yang terjadi adalah akibat
efek samping dari mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeliminasi bakteri.
Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai perlindungan dari
bahaya berbagai bahan dalam lingkungan yang dianggap asing bagi tubuh seperti
bakteri, virus, jamur, parasit dan protozoa (Abbas et al., 2015; Baratawidjaja &
Rengganis, 2009; Benjamini et al., 2000). Ketika daya tahan tubuh lemah maka
agen infektif akan dengan mudah menembus pertahanan tubuh dan menyebabkan
penyakit. Oleh karena itu, upaya meningkatkan sistem imun menjadi penting untuk
dilakukan, salah satunya adalah dengan menggunakan imunomodulator khususnya
yang bersifat imunostimulan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis akan membahas makalah tentang
Genetika mikroba dan Imunilogi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apakah pengertian genetika mikroba?
2. Bagaimanakah kajian tentang mutasi?
3. Bagaimanakah pemindahan DNA pada bakteri?
4. Apa sajakah ayat Al-quran yang mengkaji tentang genetika mikroba?
5. Apakah pengertian dan konsep tentang imun?
6. Apakah fungsi dari sistem imun?
7. Apa sajakah tipe dari sistem imun?
8. Bagaimanakan cara memperoleh imunitas pada manusia?
9. Bagaimanakah respon imun dalam menghadapi agen yang berbahaya?
10. Bagaimanakah pertahanan mekanisme dan kimiawi sistem imun?
11. Apa sajakah macam gangguan pada sistem imun?
12. Apa sajakah Makanan yang dapat Menambah Sistem imun pada tubuh manusia?
13. Apa sajakah ayat Al-quran yang mengkaji tentang system imun?

2
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat dirumuskan beberapa tujuan penulisan
sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian genetika mikroba.
2. Mengetahui kajian tentang mutasi.
3. Mengetahui pemindahan DNA pada bakteri.
4. ayat Al-quran yang mengkaji tentang genetika mikroba.
5. Mengetahui pengertian dan konsep tentang imun.
6. Mengetahui fungsi dari sistem imun.
7. Mengetahui tipe dari sistem imun.
8. Mengetahui respon imun dalam menghadapi agen yang berbahaya.
9. Mengetahui cara memperoleh imunitas pada manusia.
10. Mengetahui pertahanan mekanisme dan kimiawi sistem imun.
11. Mengetahui macam gangguan pada sistem imun.
12. Mengetahui makanan yang dapat menambah sistem imun pada tubuh manusia.
13. Mengetahui ayat Al-quran yang mengkaji tentang sistem imun.

3
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Genetika Mikroba
Genetika mikroba telah mengungkapkan bahwa gen terdiri dari DNA. Penemuan
selanjutnya dari bakteri telah mengungkapkan adanya retriction enzymes (enzim
retriksi) yang memotong DNA pada tempat spesifik, menghasilkan fragmen
potongan DNA.
Ada dua fenomena biologi pada konsep hereditas, yaitu:
1) Hereditas yang bersifat stabil: dimana generasi berikut yang terbentuk dari
pembelahan satu sel mempunyai sifat yang identik dengan induknya.
2) Variasi genetik yang mengakibatkan adanya perbedaan sifat dari sel induknya
akibat peristiwa genetik tertentu, misal: mutasi.
Pada bakteri, unit herediternya disebut genom bakteri. Genom bakteri lazimnya
disebut sebagai gen. Gen bakteri biasanya terdapat dalam molekul DNA tunggal,
meskipun dikenal pula adanya materi genetik di luar kromosom (ekstra
kromosonal), yang disebut plasmid, yang tersebar luas dalam populasi bakteri.
Lingkaran DNA (kromosom dan plasmid), berisi infomasi genetik yang diperlukan
untuk replikasi. Meskipun bakteri bersifat haploid, transimisi gen dari satu generasi
ke generasi berikutnya berlangsung secara linier, sehingga pada setiap siklus
pembelahan sel, sel anakan menerima satu set gen yang identik dengan sel
induknya.

Gambar 1. Struktur Bakteri

5
Unit Herediter bakteri (genom bakteri):
1. Kromosom
Kebanyakan gen prokariota terdapat pada kromosom, yang terletak
dalam suatu bagian pusat sitoplasma, yang dinamakan daerah nuklear atau
nukleoid untuk membedakannya dari membran-pengikat nukleus pada sel
eukariotik. Gen bakteri terdapat dalam molekul DNA tunggal (haploid).
Berbentuk sirkuler, panjangnya 1mm, beratnya 2-3% dari berat kering satu sel,
disusun sekitar 4 juta kpb DNA, makromolekul yang sangat banyak ini dikemas
agar tidak berubah dalam bentuk superkoil ( 70-130 superkoil domain). Jumlah
nukleoid dalam sel bakteri dapat lebih dari satu, tergantung kecepatan
pertumbuhan dan ukuran sel. Nukleoid berisi gen yang penting untuk
pertumbuhan bakteri.

Gambar 2. Struktur Materi Genetik

Dengan mikroskop electron, DNA tampak sebagai benang-benang


fibriler yang menempati sebagian besar dari volume sel. DNA ini mempunyai
berat molekul yang tinggi karena terdiri dari heteropolimer dari
deoksiribonukleotida purin yaitu adenin dan Guanin dan deoksiribonukleotida
pirimidin yaitu Sitosin dan Timin. Watson dan Crick, dengan sinar X
menemukan bahwa struktur DNA terdiri dari dua rantai poliribonukleotida yang
dihubungkan satu sama lain oleh ikatan hydrogen antara purin di satu rantai
dengan pirimidin di rantai lain, dalam keadaan antiparallel disebut sebagai
struktur double helix.

6
Gambar 3. Struktur DNA double helix

Bakteri memiliki kekurangan unsur-unsur yang mengacu pada struktur


kompleks yang terlibat dalam pemisahan kromosom-kromosom eukariota
menjadi nukleid anak yang berbeda. Replikasi dari DNA bakteri dimulai pada
satu titik dan bergerak ke semua arah. Replikasi kromosom bakteri sangat
terkontrol dan kromosom tiap sel yang tumbuh berkisar antara satu dan empat.
Waktu terjadinya proses replikasi DNA dalam pembelahan sel, molekul DNA
dari sel anakan terdiri dari satu rantai DNA yang berkomplementer tapi dibuat
baru (cara semikonservatif).

Gambar 4. DNA Kromosom Sirkuler bakteri E. coli yang sedang mengalami replikasi (Sumber: Randall
K. Holmes & Michael G. Jobling, 2011)

7
2. Plasmid
Plasmid merupakan materi genetik di luar kromosom (ekstra kromosomal).
Plasmid adalah molekul DNA sirkuler yang terpisah dari DNA kromosomal dan
bisa membelah sendiri. Ini berbentuk melingkar dan double-stranded. Tersebar
luas dalam populasi bakteri. Terdiri dari 100 kpb, beratnya 1-3 % dari
kromosom bakteri. Berada bebas dalam sitoplasma bakteri. Kadang-kadang
dapat bersatu dengan kromosom bakteri. Dapat berpindah dan dipindahkan dari
satu spesies ke spesies lain. Jumlahnya dapat mencapai 30 atau dapat bertambah
karena mutasi.1 Plasmid terdiri dari plasmid F untuk konjugasi, plasmid R untuk
memberikan sifat resisten terhadap antibiotik.

Gambar 5. Plasmid

Bakteri paling sering digunakan dalam percobaan genetika. Keanekaragaman


mikrobia seperti bakteri dapat dipertahankan melalui sifat karakteristik yang telah
diwariskan dari generasi selanjutnya. Mikrobia, bakteri mudah bermutasi sehingga
akan muncul varietas-varietas baru dari mikroba, dan mikroba cenderung memiliki
daya hidup yang tinggi terhadap cekaman lingkungan dan kondisi yang tidak
menguntungkan.

Proses Genetika Bakteri meliputi Replikasi, Transkripsi, Translasi dan Regulasi:


1
Anonim, 2015, Genetika Bakteri, Online (https://kimiakimi.files.wordpress.com/2014/01/5-
genetika-bakteri.pdf), (diakses pada tanggal 27 Oktober 2017).

8
Replikasi dapat diartikan sebagai pembuatan untai DNA baru. Replikasi DNA
bakteri berlangsung secara semikonservatif yaitu masing-masing untai DNA
berfungsi sebagai template (cetakan). Sintesa untai baru ini menggunakan bahan
baku berupa deoksiribonukleat (dNTPs) yaitu dATP, dGTP, dCTP dan dTTP. Bahan
baku ini dirangkaikan oleh enzim DNA polimerase dan dibantu oleh protein lain
yaitu DNA polymerase accessory proteins. DNA polimerase memulai sintesa untai
baru DNA dengan adanya 3' OH group yang disebut primer. Bakteri menggunakan
seuntai pendek RNA sebagai primer. Replikasi berjalan dalam dua arah tetapi selalu
dari arah 5' ke 3'. Satu fragmen akan terbentuk secara utuh sedangkan fragmen
lainnya terputus putus dan kemudian disambungkan oleh enzim ligase. Fragmen
putus-putus ini disebut Okazaki fragment.
Transkripsi adalah proses sintesa molekul mRNA dimana molekul ini kemudian
akan berfungsi sebagai pesan untuk sintesa protein (translasi). Pada transkripsi,
hanya salah satu untai DNA yang berfungsi sebagai template, dan tidak
membutuhkan primer. Enzim yang berfungsi merangkaikan molekul RNA adalah
RNA polimerase. Sintesa mRNA ini terjadi secara selektif sesuai kebutuhan bakteri
tersebut. Oleh sebab itu RNA polimerase harus dengan tepat dari mana ia harus
memulai transkripsi. Bagian DNA sebagai start point proses transkripsi disebut
promoter. Enzim RNA polimerase akan bergerak dari start point hingga terbentuk
rantai mRNA dengan panjang tertentu. Transkripsi akan diakhiri dengan adanya
tanda transcription termination.
Translasi protein terjadi dengan bantuan ribosom. Tiap tiga kode (codon) pada
mRNA diterjemahkan sebagai satu asam amino. Translasi dimulai dari kodon yang
disebut reading frame of translation. Kodon inisiator umumnya AUG atau GUG dan
jarang CUG, UUG dan AUU. Sebelum translasi dimulai, satu asam amino spesifik
melekat pada tRNA yang mengandung anticodon melalui cognate aminoacyl-tRNA
synthetase. Tiap enzim secara spesifik akan mengenali hanya satu tRNA. Kemudian
terjadi pemanjangan rantai peptida dengan bantuan translation elongation factor Tu
(EF-Tu). Selama translasi, ribosom bergerak sepanjang mRNA pada arah 5' ke 3'.
Translasi akan berakhir setelah bertemu kodon terminator yaitu UAA, UAG dan
UGA.

9
Regulasi ekspresi gen pada bakteri disebut operon, yaitu beberapa gen yang
terorganisasi dalam unit-unit ekspresi. Operon tersusun dari dua bagian yaitu gen
pengontrol dan gen struktural. Gen pengontrol mengandung dua gen yaitu gen
promotor dan gen operator. Gen struktural adalah gen yang bertranskripsi dan
kemudian ditranslasi menjadi protein.

B. Kajian Tentang Mutasi


1. Konsep tentang Mutasi Bakteri
Mutasi berasal dari kata mutatus yang artinya perubahan. Mutasi merupakan
suatu perubahan senyawa kimia pada DNA. Mutasi ada dua macam yaitu mutasi
kromosom dan mutasi gen. Mutasi kromosom terjadi pada proses meiosis, akibat
mutasi gamet mempunyai kromosom tidak lengkap atau kromosomnya berlebih.
Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam sifat-sifatnya. Pada
mutasi gen terjadi perubahan gen dari kromosom. Hal ini terjadi juga di alam, di
mana alam semesta menerima radiasi dari sinar matahari selama bertahun-tahun
dan bahkan berabad-abad, maka terjadi jugalah mutasi alamiah. Seperti telah
diketahui DNA adalah penyusun kromosom dan kromosom adalah penentu dari
sifat-sifat sesuatu makhluk hidup (Wanto & Arief, 1981).
Mutasi adalah perubahan basa nukleotida pada genom yang dapat diwariskan
dan dapat berakibat baik dan buruk pada organisme yang bersagkutan. Individu
yang mengalami perubahan pada satu atau lebih basa DNAnya disebut mutan.
Mutagen adalah bahan atau agen, baik kimia maupun fisik (radiasi) yang dapat
menyebabkan terjadinya mutasi. Perubahan ini dapat diwariskan dan inversibel
(kecuali terjadi mutasi balik ke urutan awal). Kerusakan gen tersebut dapat
disebabkan:
a) Perubahan pada proses transkripsi;
b) Perubahan pada urutan asam amino dan protein yang merupakan produk gen.
Mutasi melibatkan sejumlah gen bakteri. Beberapa mutasi bakteri tidak pernah
terdeteksi karena tergantung pada mutasi mempengaruhi suatu fungsi yang dapat
dikenali (contohnya penyebab resistensi antibiotik). Dan yang lain dapat
mematikan sehingga tidak dapat terdeteksi.

10
Mikroba menanggapi keadaan lingkungan dan caranya tergantung pada
keadaan lingkungan. Bila keadaan lingkungan baik ia akan tumbuh, kalau
keadaan tidak baik dia akan merespon dengan cara bertahan (survive) dengan
tidak berubah, bertahan dengan perubahan genetika yang disebut mutasi dan
mati. Mutasi yang bertahan dengan tidak berubah ini dapat dilakukan dengan
beberapa cara misalnya: membentuk spora, mendiamkan diri, menghemat
makanan, merusakkan zat yang racun dan membentuk membran, di mana racun
tidak dapat masuk ke dalam sel (Wanto & Arief, 1981).
DNA mikroba mengandung basa purin dan piimidin. Urutan ini sangat
mudah berubah oleh berbagai faktor dan apabila terjadi perubahan dalam urutan
ini maka akan terjadi perubahan pada urutan asam amino yang disandi oleh gen.
akibatnya terjadi perubahan fenotif pada mikroba. Perubahan dalam urutan basa
nukleotida disebut mutasi (Darkuni, 2001).2
Mutasi banyak terjadi pada waktu proses sintesa DNA terutama pada waktu
penempatan basa purin dan pirimidin yang mengalami kesalahan. Bila mutasi
ini terjadi pada enzim polymerase yang berhubungan dengan DNA, maka mutasi
akan berlangsung dalam frekuensi yang relative tinggi. Hal ini karena tidak ada
lagi kemampuan dari enzim itu untuk bertugas mengatur penempatan basa purin
dan pirimidin. Mutasi juga dapat terjadi karena hilangnya pasangan basa purin
atau pirimidin. Bahkan jika terjadi penambahan pasangan basapun dapat juga
terjadi mutasi. Sebab hilangnya atau penambahan berakibat terjadinya
kesalahan dalam pembacaan sandi saat terjadi transkripsi ke mRNA.
Mutasi merupakan fenomena penting. Tanpa mutasi semua gen muncul
hanya satu bentuk, tidak ada alel sehingga analisis genetika tidak
memungkinkan untuk diteliti (Harahap, 1994).

2. Tipe-tipe Mutasi:
Perubahan-perubahan dalam rangkaian basa purin-pirimidin dapat terjadi dengan
beberapa cara sehingga mengakibatkan mutasi.
a. Berdasarkan ukuran terdapat dua tipe yang umum adalah mutasi titik dan
mutasi pergeseran rangka.
a) Mutasi titik
2
Anonim, 2014, Mutasi Bakteri, Online (http://aggwicak.blogspot.co.id/2014/06/mutasi-
bakteri.html), (diakses pada tanggal 27 Oktober 2017).

11
Mutasi titik terjadi akibat tersubstitusinya satu nukleotida oleh yang lain
di dalam rangkaian nukleotida tertentu suatu gen. Substitusi satu purin
oleh purin yang lain atau satu pirimidin oleh pirimidin yang lain
dinamakan mutasi titik tipe transisi. Sedangkan penggantian suatu purin
oleh pirimidin atau sebaliknya disebut mutasi titik tipe transversi.
Penggantian pasangan basa akibat mutasi dapat mengakibatkan salah
satu dari 3 macam mutasi yang mempengaruhi proses translasi, yakni:
1) Triplet gen yang berubah ini menghasilkan sebuah kodon pada
mRNA yang menetapkan asam amino yang berbeda dari yang ada di
dalam protein normal. Mutasi ini disebut mutasi salah arti (missense
mutation). Contohnya pada manusia adalah penyakit anemia sel-sabit
(sikle-cell anemia). Penggantian satu basa tunggal pada kodon bagi
asam amino keenam dalam hemoglobin A mengubah asam amino
dari asam glutamat menjadi valin, sehingga membentuk ciri-ciri
hemoglobin S pada anemia sel sabit. Yaitu GAG (Asam glutamat),
berubah menjadi GUG (Valin).
2) Triplet gen yang berubah itu menghasilkan sebuah kodon pada
mRNA yang mengakhiri rantai, mengakibatkan berakhirnya
pembentukan protein sebelum waktunya selama translasi. Hal ini
dinamakan mutasi nonsense. Hasilnya adalah suatu polipeptida tidak
lengkap dan tidak berfungsi. Contoh UAU (Tirosin) berubah menjadi
UAG (kodon stop).
3) Triplet gen yang berubah itu menghasilkan sebuah kodon pada
mRNA yang menetapkan asam amino yang sama karena kodon yang
dihasilkan dari mutasi merupakan sinonim dari kodon aslinya. Ini
dinamakan mutasi netral. Contoh AAU berubah menjadi AAC, tetapi
tetap sistesis asparagin.
b) Mutasi Pergeseran Kerangka
Mutasi jenis ini merupakan akibat penambahan atau kehilangan satu atau
lebih nukleotida di dalam suatu gen. Hal ini mengakibatkan bergesernya
kerangka pembacaan. Karena itu mutasi pergeseran kerangka pada
umumnya menyebabkan terbentuknya protein yang tidak berfungsi
akibat disintesisnya rangkaian asam amino yang sama sekali baru dari

12
pembacaan rangkaian nukleotida mRNA yang telah bergeser
kerangkanya.
b. Berdasarkan Asal
a) Mutasi spontan
Mutasi spontan awalnya tidak diketahui, sering disebut backgrooun
mutation. Kontrol genetik mutabilitas beberapa gen yang diketahui
dapat disebabkan oleh mutator gen lain. Mutasi spontan dapat
dibedakan menjadi 1) mutasi spesifik yang pengaruhnya terbatas pada
satu lokus dan 2) mutasi nonspesifik secara simultan mempengaruhi pada
beberapa lokus.
b) Mutasi Terinduksi
Mutasi terinduksi dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang tidak
normal, misalnya: radiasi pengion (perubahan valensi senyawa kimia
melalui penembahan elektron yang dihasilkan oleh proton, neutron, atau
oleh sinar X. Radiasi nonpengion penambahan tingkat energi atom
(eksitasi), yang membuatnya kurang stabil (contoh, radiasi UV, panas),
radiasi UV sering menghasilkan dimer timin, contoh, ikatan timin di
antara dua rantai yang sama.
c) Mutasi Supresor
Mutasi ini merupakan mutasi yang mengakibatkan mutasi yang terjadi
sebelumnya menjadi normal kembali. Pada mutasi ini terjadi
penyusupan basa lain yang menyebabkan kembalinya urutan susunan
asam amino yang seolah-olah susunan itu seperti menjadi normal
kembali. Walaupun pada susunan awalnya tetap terjadi perubahan.

3. Tipe- tipe Mutan


Mutan adalah galur yang menunjukkan adanya perubahan, yang mempunyai
perbedaan genotip atau sekuen nukleotida genom, dengan galur induk. Contoh
mutan: Gen his C Escherichia coli menyandikan protein HisC yang terlibat
dalam biosintesis asam amino histidin. (Mutan His C : HisC1, HisC2 kode His-

13
menyebabkan galur tidak mampu mensintesis histidin). Semua sifat sel-sel hidup
dikendalikan oleh gen, maka ciri sel yang manapun dapat berubah karena
mutasi. Berbagai ragam mutan mikroba telah dapat diisolasi dan dipelajari
secara intensif. Beberapa tipe utama mutan adalah sebagai berikut:3
a) Mutan yang memperlihatkan toleransi yang meningkat terhadap unsur-unsur
penghambat, terutama antibiotika (resisten terhadap antibiotik).
b) Mutan yang menunjukkan kemampuan fermentasi yang berubah, atau
meningkatnya dan berkurangnya kapasitas untuk menghasilkan produk akhir.
c) Mutan yang mempunyai defisiensi akan nutrisi, yakni membutuhkan
medium yang lebih kompleks untuk tumbuhnya daripada biakan aslinya.
d) Mutan yang memperlihatkan perubahan dalam bentuk koloni atau
kemampuan untuk menghasilkan pigmen.
e) Mutan yang menunjukkan perubahan pada struktur permukaan dan
komposisi sel (mutan antigenik).
f) Mutan yang resisten terhadap aksi bakteriofage.
g) Mutan yang memperlihatkan beberapa perubahan pada ciri-ciri morfologis,
misalnya hilangnya kemampuan untuk menghasilkan spora, kapsul, dan
flagel.
Ada banyak implikasi praktis yang berkaitan dengan terjadinya mutan mikrobia.
Hal ini digambarkan oleh contoh-contoh berikut:
1) Diketahui ada beberapa mikroorganisme yang menggambarkan resistensi
terhadap antibiotik-antibiotik tertentu akibat mutasi. Kenyataan ini sangat
penting dalam pengobatan penyakit, karena antibiotik yang pada mulanya
efektif untuk mengendalikan suatu infeksi bakterial menjadi kurang atau tidak
lagi efektif ketika muncul mutan-mutan yang resisten terhadap antibiotik
yang bersangkutan;
2) Dapat diisolasi mutan biokimiawi yang mampu menghasilkan suatu produk
akhir dalam jumlah besar. Hal ini penting dalam industri. Sebagai contoh,
jumlah penisilin yang dihasilkan dalam produksi komersial meningkat secara
dramatis melalui seleksi galur-galur mutan Penicillium;

3
Akhmad, 2017, Mekanisme Mutasi dan Tipe Mutan Bakteri, Online
(http://www.akhmadshare.com/2017/01/mekanisme-mutasi-dan-tipe-mutan-bakteri.html), (diakses pada
tanggal 27 Oktober 2017).

14
3) Pemeliharaan biakan murni spesies-spesies jasad renik yang tipikal
mensyaratkan tercegahnya mutasi, kalau tidak maka biakan tersebut tidak
akan tipikal lagi;
4) Mutan mikroba telah digunakan secara meluas di dalam penyelidikan
berbagai proses biokimiawi, terutama reaksi-reaksi bio-sintetik. Sebagai
contoh, mutan-mutan yang terhalang atau rusak pada langkah-langkah
enzimatik yang berbeda-beda telah digunakan untuk menyingkap seluk beluk
rangkaian metabolik;
Banyak mutan, mungkin sebagian besar dapat balik ke kondisi liar melalui
mutasi balik, yaitu kembalinya sel-sel mutan ke fenotipe asalnya. Akan tetapi,
hal ini tidak mesti disebabkan oleh pembalikan mutasi aslinya secara tepat.
Kadang-kadang, pengaruh mutasi asli dapat ditekan sebagian atau seluruhnya
oleh mutasi kedua pada situs yang berbeda pada kromosom (Pelczar, 2008).

4. Terjadinya/ Proses Mutasi


Mutasi sering terjadi selama replikasi DNA. Beberapa mutasi terjadi
sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet atau sinar X. karena
mutagen ini tidak dapat terhindarkan dari lingkungan (sinar ultraviolet), maka
mungkin inilah yang menyebabkan banyaknya mutasi spontan. Unsur yang
dapat mempertinggi laju mutasi disebut mutagen. Tidak satupun mekanisme
tertentu yang dapat diusulkan untuk menerangkan pengaruh mutagenik sinar X.
Karena sinar X dapat menyebabkan pecahnya banyak ikatan kimiawi yang
berbeda-beda macamnya, maka mungkin merusak DNA dengan berbagai cara.
Pengaruh utama sinar UV adalah menyebabkan pembentukan dimer dengan
ikatan silang antara pirimidin-pirimidin yang bersebelahan, terutama timin.
Dimer ini mengacaukan proses replikasi yang normal.
Penemuan yang paling banyak membuka rahasia mutasi pada tahun-tahun
belakangan ini datang dari penelitian mengenai pengaruh mutagenik berbagai
bahan kimia. Ada 2 tipe senyawa kimia yang mutagenik, yaitu 1) terdiri dari
senyawa-senyawa yang dapat bereaksi secara kimiawi dengan DNA. Karena
kekhususan replikasi DNA tergantung pada ikatan purin-pirimidin, yang
diakibatkan oleh ikatan hydrogen antara gugusan-gugusan amino dan hidroksil
pada purin dan pirimidin, maka memodifikasi kimiawi gugusn-gugusan amino

15
dan hidroksil ini dapat menyebabkan mutasi. Asam nitrous yang dapat
membuang gugusan amino dari purin dan pirimidin adalah mutagen semacam
itu. 2) terdiri dari analog-analog basa. Ini adalah zat-zat kimia yang strukturnya
cukup menyamai basa-basa pada DNA yang normal sehingga dapat
menggantikannya selama berlangsungnya replikasi DNA. Meskipun strukturnya
mirip, analog basa tidak mempunyai sifat ikatan hidrogen yang sama seperti
basa yang normal. Karena itu dapat menyebabkan kesalahan dalam replikasi
yang mengakibatkan mutasi.4

5. Dampak Mutasi Terhadap Mikroba


a. Dampak Positif:
Rantai DNA bakteri yang mengalami mutan akan memiliki daya resistensi
misalnya resistensi terhadap antibiotik, sinar UV, bakteriofage. Ada beberapa
mikroorganisme yang menggambarkan resistensi terhadap antibiotik-
antibiotik tertentu akibat mutasi. Antibiotik yang pada mulanya efektif untuk
mengendalikan suatu infeksi bakterial menjadi kurang atau tidak lagi efektif
ketika muncul mutan-mutan yang resisten terhadap antibiotik yang
bersangkutan karena mutasi dapat menjadikan bakteri kebal terhadap
antibiotika. Bakteri yang mengalami mutasi memiliki sifat yang unggul dari
bakteri lain. Selain itu mutasi bakteri dapat menghasilkan protein yang
melindungi generasi individu dan masa depan dari strain bakteri baru karena
mutasi dapat menghasilkan modifikasi jenis bakteri baru.
b. Dampak Negatif:
Sistem metabolisme bakteri yang mengalami mutasi akan terganggu
sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bakteri. Ketika mengalami
mutasi maka sel-sel bakteri ada yang mengalami kerusakan sehingga tiddak
dapat menginfeksi organisme lain.

6. Penyebab Mutasi
Mutagen adalah senyawa kimia atau faktor fisikawi yang dapat
menyebabkan mutasi. Kerusakan DNA dapat diakibatkan radiasi sinar UV, sinar

4
Michael Pelczar, Dasar-Dasar Mikrobiologi, (Jakarta: UI Press, 2008), hlm. 417.

16
X, dan zat-zat kimia tertentu. Sinar ultraviolet (UV) Merupakan mutagen yang
kuat karena sinar UV dapat menembus sel dan diabsorpsi dengan kuat oleh timin
(T) dan Sitosin (C). Absorpsi UV oleh timin dapat menyebabkan terbentuknya
dimer timin yang berdekatan sehingga dapat mengubah DNA yang akan
mengganggu proses replikasi. Senyawa kimia yang dapat menyebabkan mutasi,
misalnya HNO2 karena asam ini menimbulkan deaminasi pada basa nitrogen
nukleotida. Asam nitrit dapat mengubah adenin (A) menjadi hipoxantin (HX),
sitosin (C) menjadi Urasil (U), dan guanin (G) menjadi Xantin (X). (Ristiati,
2000).
Kelainan DNA disebabkan oleh radiasi dapat menyebabkan kelainan
somatik maupun genetik, tergantung pada jenis sel yang bersangkutan.
Perubahan kromosom terjadi pada siklus sel terutama pada fase metafase
meiosis. Oleh karena itu sel-sel yang relatif lebih sering membelah diri
berpeluang lebih besar menjadi rusak oleh penyinaran. Kelainan kromosom dan
kepekaan sel melibatkan inti, merupakan kerusakan utama oleh radiasi. Pada
dosis rendah, tidak teramati terjadinya perubahan materi genetik bila sinar hanya
melalui sitoplasma, dan jika hanya melalui inti maka akan kerap kali berubah
dengan dosis yang tinggi. Jadi penyinaran UV ini merupakan rangsangan yang
penting yang dapat merusak sel (Ackerman, 1988).
DNA menyerap sinar ultraviolet dengan kuat, penyerapan maksimal DNA
terletak pada panjang gelombang 260 nm. Sel dengan cepat terbunuh akibat
penyerapan sinar ultraviolet, dan angka laju mutasi yang tinggi terjadi antara sel-
sel yang bertahan hidup. Apabila cairan DNA yang diiradiasi dengan sinar
ultraviolet, akan terjadi dua jenis perubahan kimia. Pertama-tama ada
pembentukan ikatan kovalen antara residu-residu pirimidin yang berdekatan satu
sama lain pada untaian yang sama dan membentuk dimmer pirimidin. Kegiatan
mutagenik sinar ultraviolet dapat dihubungkan dengan pembentukan dimmer
primidin. Pentingnya dimmer pirmidin sebagai sebab mutasi yang diinduksi
sinar ultraviolet dibuktikan dengan perlakuan yang mengarah kepada
pengeluaran atau pemotongan dimmer mengembalikan sebagian terbesar
pengaruh mutagenik sinar ultraviolet. Jika sel-sel bakteri yang diperlakukan
dengan sinar ultraviolet segera diiradiasi, misalnya dengan sinar yang tampak
dengan kisaran panjang gelombang 300 400 nm, maka frekuensi mutasi dan

17
kematian sel kedua-duanya akan sangat menurun, kejadian yang disebut
fotoreaktivasi. Proses ini ternyata disebabkan oleh aktifasi oleh sinar dengan
panjang gelombang tertentu, yang mengaktifasi enzim yang menghidrolisis
dimmer pirimidin (Stanier et al., 1984).
DNA dapat dirusak oleh ultraviolet pada panjang gelombang 254-260 nm,
sehingga ultraviolet dapat menginduksi secara langsung akibat penyerapan oleh
purin dan pirimidin. Pirimidin umumnya sangat kuat menyerap pada 254 nm dan
menjadi sangat reaktif. Beberapa indikasi lain adalah pembentukan timin
dimmer (Lewis, 1997).
Senyawa kimia mutagen yang lain adalah analog basa. Ini adalah zat-zat
kimia yang strukturnya cukup menyamai basa-basa pada DNA yang normal
sehingga dapat menggantikannya selama berlangsungnya replikasi DNA.
Meskipun strukturnya mirip, analog basa tidak mempunyai sifat ikatan hidrogen
yang sama seperti basa yang normal. Karena itu dapat menyebabkan kesalahan
dalam replikasi yang mengakibatkan mutasi. Misalnya 2-aminopurin adalah
analog adenin (A) dan dapat berpasangan dengan timin (T) atau sitosin (C). 5-
Bromourasil adalah analogtinin (T) dan dapat berpasangan dengan adenin (A)
atau guanin (G). Selain itu, sinar x, sinar dan partikel energy tinggi (seperti
neutron, partikel , partikel ) sangat berpotensi sebagai mutagen (Ristiati,
2000).

7. Kecepatan Mutasi
Laju mutasi merupakan peluang bagi suatu sel untuk bermutasi ketika
terjadi pembelahan sel. Laju mutasi dapat didefinisikan sebagai jumlah rata-rata
mutasi per sel per pembelahan. Kecepatan mutasi dinyatakan sebagai kelipatan
10, dan karena mutasi sangat jarang terjadi maka eksponen selalu dalam bentuk
negatif. Laju mutasi dinyatakan sebagai pangkat negatif per pembelahan sel.
Pada umumnya laju mutasi bagi satu gen tunggal berkisar antara 10 -3 dan 10-9 per
pembelahan sel. Kecepatan mutasi bervariasi tergantung dari jenis dan spesies
mikroorganisme. Kecepatan mutasi dapat dipercepat 10 sampai 100 kali dengan
pemberian suatu mutagen.5 Mutagen yang diberikan misalnya sinar X, sinar

5
Ibid, hlm. 420.

18
gamma, sinar ultraviolet, asam nitrit, pewarna akridin, mustard nitrogen, dan
analog purin dan pirimidin.
Rumus kecepatan Mutasi:

Keterangan:
a = Kecepatan Mutasi
M = Jumlah Mutasi
N0 = Jumlah Sel Mula-mula
N1 = Jumlah Sel setelah doubling
Setiap mutasi merupakan hasil dari perubahan gen, yakni perubahan dalam
urut-urutan nukleotida di dalam molekul ADN. Perubahan urut-urutan
nukleotida dapat terjadi karena penggantian (subtitusi) pasangan nukleotida,
penghilangan, atau penyisipan pasangan nukleotida baru. Mutasi dapat
menyebabkan perubahan sifat-sifat dan morfologi mikroorganisme. Misalnya
pembentukan kapsul, flagel, ukuran sel, kemampuan untuk membentuk spora,
pembentukan pigmen, pergerakan, sifat-sifat biokimia, sifat antigenik,
kemampuan memproduksi toksin, dan ketahanan terhadap obat dan virus.

C. Pemindahan DNA pada Bakteri


Mikroba mempunyai beberapa cara untuk memindahkan DNA yang berakibat
terjadinya rekombinasi genetik antara satu sel dengan sel lainnya. Mekanisme
pemindahan DNA pada mikroba sangat unik. Rekombinasi genetik adalah
pembentukan suatu genotip baru melalui pemilihan kembali gen-gen setelah
terjadinya pertukaran bahan genetik antara dua kromosom yang berbeda yang
mempunyai gen-gen serupa pada tempat-tempat yang bersangkutan. Kromosom-
kromosom yang semacam ini dinamakan kromosom homolog. Progeni yang
dihasilkan dari rekombinasi gen-gen yang berbeda dari yang ada pada tetuanya.

19
Gambar 6. Macam-macam pemindahan DNA pada Bakteri

Pemindahan DNA pada bakteri terdapat dalam 3 macam, yaitu:6


1. Transformasi
Transformasi adalah proses pemindahan materi genetik (DNA bebas-sel
atau bugil) yang mengandung sejumlah terbatas informasi DNA, dari satu sel ke
sel yang lain. DNA tersebut diperoleh dari sel donor melalui lisis sel alamiah
atau dengan cara ekstraksi kimiawi. Begitu DNA diambil dari sel resipien, maka
terjadilah rekombinasi. Bakteri yang telah mewarisi penanda dari sel donor
tersebut telah tertransformasi. Transformasi merupakan Fragmen DNA bebas
dapat melewati dinding sel dan kemudian bersatu dalam genom sel tersebut
sehingga mengubah genotipnya. DNA penyebab transformasi dikenali oleh
Oswald Avery, Colin Macleod, dan Maclyn McCarty dalam tahun 1944. Mereka
mendefinisikan DNA sebagai substansi kimiawi yang menyebabkan sifat
menurun. Beberapa bakteri yang telah ditransformasikan antara lain:
Streptococus pneumoniae, Basillus, Haemophilus, Neisseria, dan Rhizobium.
Setelah masuknya DNA ke dalam sel, satu utas dengan segera dirombak
oleh enzim deoksiribonuklease, sedangkan utas yang lain mengalami
perpasangan basa dengan bagian yang homolog pada kromosom sel resipien,
lalu terpadu ke dalam DNA resipien. Karena perpasangan basa komplementer
berlangsung antara satu utas fragmen DNA donor dan suatu daerah khusus pada

6
Ibid, hlm. 425-436.

20
kromosom resipien, maka hanyalah galur-galur bakteri yang berkerabat dekat
yang dapat ditransformasikan.
Kondisi untuk pegambilan ADN donor ke dalam sel-sel resipien terjadi
hanya selama fase pertumbuhn logaritmik. Selama periode ini, bakteri yang
dapat ditransformasikan disebut kompeten untuk mengambil dan
menggabungkan ADN donor. Biakan yang kompeten mungkin menghasilkan
faktor protein ekstraseluler yang rupanya bertindak dengan cara mengikat atau
menjerat fragmen-fragmen ADN donor pada situs-situs khusus pada permukaan
bakteri.
Pentingnya transformasi sebagai mekanisme perubahan genetik secara
alamiah diragukan. Mungkin proses tersebut terjadi menyusul terjadinya lisis
suatu mikroorganisme dan pelepasan ADN-nya ke lingkungan sekitar. Boleh jadi
transformasi antara galur-galur bakteri dengan virulensi rendah dapat
menyebabkan timbulnya sel-sel dengan virulensi tinggi. Tetapi fenomena
transformasi telah terbukti sangat berguna dalam penelitian-penelitian genetik
bakteri di laboratorium, terutama untuk memetakan kromosom bakteri. Manfaat
yang didapat dari transformasi gen pada bakteri yaitu merupakan sarana penting
dalam rekayasa genetika.

Gambar 7. Proses Transformasi

2. Tranduksi

21
Transduksi ialah proses pemindahan materi genetik dari satu sel ke sel
yang lain dengan bantuan bakteriofage. Bila bakteriofage menyerang bakteri
maka DNA bakteriofage diinjeksikan ke dalam sel bakteri. Ada dua
kemungkinan terjadi yaitu: 1) DNA bakteriofage akan mengambil alih fungsi
metabolisme bakteri untuk memproduksi DNA dan protein bakteriofage
kemudian terjadi perakitan partikel virus dan akhirnya virus yang utuh akan
keluar dari sel bakteri ketika sel mengalami lisis. Beberapa bakteriofage
tenang (temperatur), yang biasanya tidak melisis sel inang, membawa DNA
yang dapat berperilaku sebagai episom di dalam bakteri, maka dinamakan
profage. 2) DNA bakteriofage akan berinteraksi dengan DNA bakteri sehingga
terbentuklah bakteri yang bersifat lisogenik. Karena suatu sebab yang belum
diketahui maka bakteri yang bersifat lisogenik dapat mengalami fase litik.
Dalam keadaan demikian, DNA bakteriofage akan melepaskan diri dari DNA
bakteri dan mengambil alih fungsi metabolime untuk menghasilkan partikel
virus yang baru seperti halnya pada kemungkinan pertama.
Ketika bakteri lisogenik memasuki siklus litik, dengan cara spontan atau
karena induksi oleh sinar UV, maka sebagian dari kromosom bakteri secara
tidak sengaja dapat terkait ke dalam kepala fage. Bila kemudian virus
menginfeksi bakteri lain, maka fragmen kromosom bakteri tadi dari sel yang
pertama juga diinjeksi sebagai bagian dari DNA virus. Fragmen kromosom ini
menjalani perpasangan basa dengan kromosom inang, akan terpadu dan
menjadi bagian tetap dari kromosom bakteri yang terinfeksi itu. Tranduksi
pada awalnya diperletakkan dalam tahun 1952 oleh Norton Zinder dan Joshua
Laderberg adalah metode yang cukup panjang dalam pemindahan materi
genetik. Namun dalam hal ini DNA tidak dipindahkan secara telanjang, seperti
pada tansformasi, tetapi diangkut ke bakteri resipien di dalam virus bakteri,
yang dinamakan bakteriofage. Proses transduksi dipergunakan untuk
mengembangkan galur-galur bakteri baru, memetakan kromosom bakteri dan
untuk banyak percobaan genetis lainnya.

22
Gambar 8. Proses Tranduksi

3. Konjugasi
Konjugasi atau perkawinan adalah pemindahan materi genetik antara sel-
sel yang kontak satu sama yang lain secara fisik. Berbeda dengan transformasi
dan tranduksi yang hanya fragmen-fragmen kecil kromosom yang dipindahkan,
pada konjugasi yang dipindahkan adalah fragmen besar, dan pada kasus-kasus
tertentu bahkan seluruh kromosom. Konjugasi merupakan pemindahan bahan
genetik dari suatu sel bakteri yang bertindak sebagai donor kepada sel bakteri
yang bertindak sebagai resipien. Pada proses konjugasi, sel donor (jantan)
memasukkan sebagian DNA ke dalam sel resipien melalui pili seks yang
dimiliki oleh sel jantan. Setelah DNA donor masuk ke dalam sel resipien, enzim-
enzim yang bekerja pada DNA resipien menggunting dan mengeksisi suatu
fragmen DNA resipien. Kemudian DNA donor dipadukan ke dalam kromosom
resipien ditempat DNA yang tereksisi. Pemindahan ini dikode oleh plasmid.
Konjugasi pada bakteri pertama kali dipertunjukkan oleh Laderberg dan
Tatum pada tahun 1946. Mereka menggabungkan dua galur mutan Escherichia
coli yang berbeda yang tidak mampu mensintesis satu atau lebih faktor tumbuh
esensial dan memberikan kesempatan untuk kawin. Kemudian mereka
mencawankan biakan campuran tersebut ke dalam medium minimal yang hanya
menunjang pertumbuhan galur-galur tipe liar. Ketika mereka menemukan

23
koloni-koloni tipe liar, mereka tahu bahwa koloni-koloni tersebut merupakan
hasil rekombinasi genetik melalui konjugasi antara galur-galur mutan.
Konjugasi pada bakteri dapat dipahami lebih jelas ketika ditemukan bahwa
ada diferensiasi seksual pada Escherichia coli. Ada tipe-tipe perkawinan yang
berbeda-beda pada bakteri tersebut. Sel jantan mengandung sepotong ADN yang
kecil dan bundar (sirkuler), di dalam sitoplasma dan tidak merupakan bagian
dari kromosom dinamakan faktor seks atau faktor F (faktor kesuburan = fertility

factor). Sel ini disebut sebagai dan merupakan sel donor dalam perkawinan.

Sel betina dinamakan dan tidak memiliki faktor tersebut, dianggap sebagai

sel resipien.

Persilangan antara dua galur tidak menghasilkan rekombinan. Pada

persilangan x , yang jantan mereplikasikan faktor seksnya, dan satu kopi

darinya hampir selalu dipindahkan ke sel resipien. Sel diubah menjadi sel

dan mampu menjadi donor. Karena itu, selama sel-sel itu tumbuh proses
konjugasi dapat berlanjut melalui penularan dengan pemindahan faktor seks

secara berulang-ulang. Pemindahan faktor F di dalam persilangan x

terjadi dengan frekuensi yang mendekati 100 persen. Tetapi pembentukan

rekombinasi dalam persilangan x terjadi dengan frekuensi yang rendah,

yakni sekitar 1 rekombinan per sampai sel. Sehingga jelaslah bahwa

pemindahan faktor F tidak tergantung pada pemindahan gen-gen kromosomal.

24
Gambar 9. Proses Konjugasi

Gambar 10. Foto elektron mikgrograf sel bakteri E. coli F+ (Kiri) dan F- (kanan) selama proses konjugasi
seksual (sumber: Brock & Madigan, 1991)

D. Ayat Al-Quran tentang Pembiakan Bakteri dan Virus

Artinya: Wahai orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka
basuhlah wajahmu, dan kedua tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu, dan
basuhlah kedua sampai kedua mata kaki (al-Maidah: 6)

25
26
A. Imunologi
1. Pengertian dan Konsep Tentang Imunologi
Imunologi atau imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi. Imunitas atau kekebalan merupakan sistem mekanisme pada
organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan
mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi
berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi
tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-
zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan
jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena
adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar dapat menginfeksi organisme. 7
Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap
infeksi disebut sistem imun.
Kata imun berasal dari bahasa Latin immunis yang berarti bebas dari beban
(Benjamini et al., 2000). Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan
tubuh untuk mempertahankan keutuhannya sebagai perlindungan terhadap bahaya
yang ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup yang dianggap asing
bagi tubuh (Baratawidjaja, 2000; Benjamini et al., 2000). Mekanisme tersebut
melibatkan gabungan sel, molekul, dan jaringan yang berperan dalam resistensi
terhadap infeksi yang disebabkan oleh berbagai unsur patogen yang terdapat di
lingkungan sekitar kita seperti virus, bakteri, fungus, protozoa dan parasit (Kresno,
1996; Baratawidjaja & Rengganis, 2009). Sedangkan reaksi yang dikoordiansi
oleh sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba disebut dengan
respon imun (Baratawidjaja & Rengganis, 2009).

7
Anonim, 2012, Imunologi Dasar Mekanisme Pertaahanan Tubuh terhadap Bakteri, Online
(http://allergycliniconline.com/2012/02/14/imunologi-dasar-mekanismepertahanan-tubuh-terhadap-
bakteri/), (diakses pada tanggal 27 Oktober 2017).

27
Gambar 11. macam-macam Sel Imun

B. Fungsi dari sistem imun


Secara garis besar, Sistem imun memiliki tiga fungsi yaitu fungsi pertahanan
(melawan patogen), fungsi homeostasis (mempertahankan keseimbangan kondisi
tubuh dengan cara memusnahkan sel-sel yang sudah tidak berguna) dan
pengawasan (surveillance). Pada fungsi pengawasan dini (surveillance) sistem
imun akan mengenali sel-sel abnormal yang timbul di dalam tubuh dikarenakan
virus maupun zat kimia. Sistem imun akan mengenali sel abnormal tersebut dan
memusnahkannya. Fungsi fisiologis sistem imun yang terpenting adalah mencegah
infeksi dan melakukan eradikasi terhadap infeksi yang sudah ada (Abbas et al.,
2014).
Fungsi sistem imun yang ada dalam tubuh, yaitu:
1) Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan &
menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur,
dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh;
2) Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak (debris sel) untuk
perbaikan jaringan;
3) Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

28
C. Tipe Sistem Imun
1. Sistem Kekebalan nonspesifik/Bawaan (Innate immune System)
System imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam
menghadapi serangan berbagai mikroorganisme. Sistem ini disebut nonspesifik
karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Kornponen-
Kornponen Sistem Imun Non-Spesifik Terdiri Atas:
a) Pertahanan Fisis dan Mekanis
Kulit, selaput lendir, silia saluran nafas, batuk, dan bersin dapat mencegah
berbagai kuman patogen masuk ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya
oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh karena asap rokok akan
meningkatkan risiko infeksi.
b) Pertahanan biokimia
Bahan yang disekresi mukosa saluran napas, kelenjar sebaseous kulit,
kelenjar kulit, telinga, spermin dalam semen merupakan bahan yang
berperan dalam pertahanan tubuh. Asam hidroklorik dalam cairan
lambung, lisosim dalarfi keringat, ludah, air mata, dan air susu dapat
melindungi tubuh terhadap kuman gram positif dengan jalan
menghancurkan dinding kuman tersebut. Air susu ibu mengandung pula
laktoferitin dan asam neurominik yang mempunyai sifat antibakterial
terhadap E. coli dan stafilokokus.
c) Pertahanan Humoral
1. Komplemen
Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruksi bakteri dan
parasit dengan jalan opsonisasi. Kejadian-kejadian tersebut di atas
adalah fungsi sistem imun nonspesifik, tetapi dapat pula terjadi atas
pengaruh respons imun spesifik.

29
Gambar 12. sistem komplemen

2. Interferon
Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel
manusia yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons
terhadap infeksi virus. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan
jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus tersebut.
Di samping itu, interferon dapat pula mengaktifkan natural killer cel-
sel NK untuk membunuh virus dan sel neoplasma.

Gambar 13. Mekanisme kerja interferon dalam mencegah replikasi virus

30
3. C-Reactive'Protein (CRP)
CRP dibentuk tubuh pada keadaan infeksi. Perannya ialah sebagai
opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen.
d) Pertahanan Selular
Fagosit / makrofag dan set NK berperan dalam sistem imun non-spesifik
selular.
1. Fagosit
Meskipun berbagai set dalam tubuh dapat melakukan fagositosis, set
utama yang berperan pada pertahanan non-spesifik adalah set
mononuklear (monosit dan makrofag) serta set polimorfonuklear
seperti neutrofil. Kedua golongan set tersebut berasal dari set
hemopoietik yang sama. Fagositosis dini yang efektif pada invasi
kuman akan dapat mencegah timbuInya penyakit. Proses fagositosis
terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut: kemotaksis,
menangkap, membunuh, dan mencerna.
2. Natural Killer Cell (sel NK)
Set NK adalah set limfosit tanpa ciri-ciri set limfoid sistem imun
spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi. Oleh karena itu disebut juga
set non B non T atau set populasi ketiga atau null cell. Set NK dapat
menghancurkan set yang mengandung virus atau set neopiasma.
Interferon mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik
set NK.

Gambar 14. Stimulasi sel pembunuh alami (NK)

31
2. Sistem Kekebalan Spesifik (Adaptif immune System)
Berbeda dengan system imun nonspesifik, system imun spesifik mempunyai
kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda
asing yang pertama timbul dalam badan yang segera dikenal sistem imun
spesifik, akan mensensitasi sel-sel imun tersebut. Bila set sistem tersebut
terpajan ulang dengan benda asing yang sama, yang akhir akan dikenal lebih
cepat dan dihancurkannya. Oleh karena itu sistem tersebut disebut spesifik.
Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing
yang berbahaya bagi badan, tetapi pada umumnya terjalin kerja sama yang baik
antara antibodi, komplemen, fagosit dan antara set T-makrofag. Oleh karena
komplemen turut diaktifkan, respons imun yang terjadi sering disertai dengan
reaksi inflamasi.
a) Sistem Imun Spesifik Humoral
Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau set
B. Set B tersebut berasal dari set asal multipoten. Pada unggas set asal
tersebut berdiferensiasi menjadi set B di dalam alat yang disebut Bursa
Fabricius yang letaknya dekat kloaka. Bila set B dirangsang benda asing, set
tersebut akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi set plasma yang dapat
membentuk antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum.
Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri,
virus dan netralisasi toksin.
b) Sistem Imun Spesifik Selular
Yang berperan dalam sistem imun spesifilk selular adalah limfosit T atau set
T. Set tersebut juga berasal daril set asal yang sama seperti set B, tetapi
proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus. Berbeda
dengan set B, set T terdiri atas beberapa subset set yang mempunyai fungsi
yang berlainan.
Fungsi sel T umumnya ialah:
a. membantu set B dalam memproduksi antibodi
b. mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
c. mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
d. mengontrol ambang dan kualitas sistem imun

32
D. Macam-Macam Imunitas (Kekebalan Tubuh)
Kekebalan dalam tubuh manusia dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu:8
1. Kekebalan Tubuh Bawaan\Alami
Kekebalan tubuh yang ada semenjak kita lahir, dan biasanya bersifat
nonspesifik. Contoh: pertahanan tubuh yang dihasilkan oleh kulit, membrann
mukosa, dll.
2. Kekebalan Tubuh Diperoleh/Dapatan
a. Kekebalan Tubuh Dapatan Aktif
Biasanya kekebalan tubuh ini bersifat mengingat. Hal ini yang menyebabkan
seseorang terkena cacar air hanya satu kali.
1) Kekebalan tubuh dapatan aktif alami, diperoleh setelah seseorang
sembuh dari serangan suatu penyakit. Contoh: Orang yang pernah
terserang cacar air, campak, dan gondongan tidak akan terserang
penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Karena akan dibentuk antibody
khusus yang bersifat mengingat.
2) Kekebalan tubuh dapatan aktif Buatan, diperoleh dengan vaksinasi, yaitu
memasukkan vaksin yang berisi racun bakteri, diperoleh dari
mikroorganisme yang dilemahkan sehingga tubuh menjadi aktif
menghasilkan antibody sendiri. Contoh: vaksin polio, bila suatu saat ada
virus polio yang menyerang tubuh, maka tubuh telah mempunyai memori
dan dengan mudah dan cepat akan mengeluarkan antibody spesifik bagi
virus polio tersebut.
b. Kekebalan Tubuh Dapatan Pasif
Merupakan kekebalan yang diperoleh melalui transfer atau pemberian
antibodi dari individu lain.
1) Kekebalan Tubuh Dapatan Pasif Alami, kekebalan yang diperoleh bukan
dari tubuhnya sendiri, melainkan dari tubuh orang lain. Contoh:
kekebalan yang timbul ketika antibody diberikan oleh ibu kepada

8
Anonim, 2010, Cara Mendapatkan Kekebalan Tubuh, Online,
(https://immune0system,wordpress.com/2010/05/01/cara-mendapatkan-kekebalan-tubuh/), (diakses pada
tanggal 10 November 2017).

33
bayinya melalui plasenta pada waktu dalam kandungan, maupun dari ASI
ibu setelah melahirkan.
2) Kekebalan Tubuh Dapatan Pasif Buatan, dapat diperoleh dari antibody
yang sudah jadi dan terlarut dalam serum. Serum dapat digunakan dalam
jangka waktu yang relatif lama. Contoh: suntikan ATS (Anti-Tetanus
Serum).

E. Respon Imun
Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang
kompleks terhadap antigen untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini
dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel
limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan
mekanisme pertahanan spesifik.

Gambar 15. Respon Imun

1. Respon Imun nonspesifik (Innate immune System)


Respon imun nonspesifik merupakan imunitas bawaan (innate imunity) dimana
respon imun terhadap zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak
pernah terpapar oleh zat tersebut (Kresno, 1996). Imunitas nonspesifik berperan
paling awal dalam pertahanan tubuh melawan mikroba patogen yaitu dengan
menghalangi masuknya mikroba dan dengan segera mengeliminasi mikroba

34
yang masuk ke jaringan tubuh (Abbas et al., 2014). Respon imun jenis ini akan
selalu memberikan respon yang sama terhadap semua jenis agen infektif dan
tidak memiliki kemampuan untuk mengenali agen infektif meskipun sudah
pernah terpapar sebelumnya. Yang termasuk dalam respon imun nonspesifik
adalah pertahanan fisik, biokimia, humoral dan seluler (Baratawidjaja &
Rengganis, 2009).
2. Respon Imun Spesifik (Adaptif immune System)
Respon imun spesifik merupakan respon yang didapat dari stimulasi oleh
agen infektif (antigen/imunogen) dan dapat meningkat pada paparan berikutnya.
Target dari respon imun spesifik adalah antigen, yaitu suatu substansi yang asing
(bagi hospes) yang dapat menginduksi respon imun spesifik (Benjamini et al.,
2000). Antigen bereaksi dengan T-cell Receptor (TCR) dan antibodi. Antigen
dapat berupa molekul yang berada di permukaan unsur patogen maupun toksin
yang diproduksi oleh antigen yang bersangkutan. Ada tiga tipe sel yang terlibat
dalam respon imun spesifik yaitu sel T, sel B dan APC (makrofag dan sel
dendritik) (Benjamini et al., 2000). Respon imun spesifik meliputi aktivasi dan
maturasi sel T, sel mediator dan sel B untuk memproduksi antibodi yang cukup
untuk melawan antigen (Kresno, 1996). Pada hakekatnya respon imun spesifik
merupakan interaksi antara bebagai komponen dalam sistem imun secara
bersama-sama.
Respon imun spesifik terdiri dari respon imun seluler (cell-mediated
immunity) dan respon imun humoral. Perbedaan kedua respon imun tersebut
terletak pada molekul yang berperan dalam melawan agen infektif, namun
tujuan utamanya sama yaitu untuk menghilangkan antigen (Benjamini et al.,
2000). Respon imun seluler diperlukan untuk melawan mikroba yang berada di
dalam sel (intraseluler) seperti virus dan bakteri. Respon ini dimediasi oleh
limfosit T (sel T) dan berperan mendukung penghancuran mikroba yang berada
di dalam fagosit dan membunuh sel yang terinfeksi. Beberapa sel T juga
berkontribusi dalam eradikasi mikroba ekstraseluler dengan merekrut leukosit
yang menghancurkan patogen dan membantu sel B membuat antibodi yang
efektif (Abbas et al., 2015).

35
Agen infektif yang berada di luar sel dapat dilawan dengan respon imun
humoral. Respon ini dimediasi oleh serum antibodi, suatu protein yang
disekresikan oleh sel B (Benjamini et al., 2000). Sel B berdiferensiasi menjadi
satu klon sel plasma yang memproduksi dan melepaskan antibodi spesifik ke
dalam darah serta membentuk klon sel B memori (Kresno,1996). Sel B
menghasilkan antibodi yang spesifik untuk antigen tertentu. Antibodi ini
berikatan dengan antigen membentuk suatu kompleks antigen-antibodi yang
dapat mengaktivasi komplemen dan mengakibatkan hancurnya antigen tersebut
(Kresno, 1996).
Respon imun humoral ada dalam darah dan cairan sekresi seperti mukosa,
saliva, air mata dan ASI. Elemen lain yang berperan penting dalam respon imun
humoral adalah sistem komplemen. Sistem komplemen diaktivasi oleh reaksi
antara antigen dan antibodi. Ketika aktif sistem komplemen akan melisiskan sel
target atau meningkatkan kemampuan fagositosis sel fagosit (Benjamini et al.,
2000).
Interaksi respon imun seluler dengan humoral disebut antibody dependent
cell mediated cytotoxicity (ADCC) karena sitolisis baru terjadi bila dibantu
antibodi. Dalam hal ini antibodi berfungsi melapisi antigen sasaran sehingga sel
NK dapat melekat pada sel atau antigen sasaran dan menghancurkannya
(Kresno,1996).

Gambar 16. Macam Respon imun

36
Perbedaan Respons Nonspesifik dengan Respons Spesifik
Respons Nonspesifik Respons Spesifik
Bereaksi sama terhadap semua agen Memiliki reaksi berbeda untuk agen
infeksi infeksi yang berbeda
Tidak memiliki memori terhadap memiliki memori terhadap infeksi
infeksi sebelumnya sebelumnya
Tingkat reaksi sama pada tiap agen Tingkat reaksi akan lebih besar
infeksi yang berusaha menyerang terhadap agen infeksi yang pernah
menyerang sebelumnya

Macam Respons Imun Nonspesifik:


1. Respons Pertahanan Lapis Pertama
a) Kulit (menyekresi asam lemak dan keringat yang mengandung garam
sehingga menghambat laju bakteri)
b) Membran mukosa (saluran pernapasan yang menyekresi lendir akan
memerangkap bakteri)
c) Sekresi alami (liur dan air mata mengandung lisozim. Asam di lambung
dapat membunuh bakteri yang masuk lewat makanan. ASI (air susu ibu)
mengandung laktoperoksidase. Cairan sperma mengandung spermin.
d) Bakteri alami (secara normal pada kulit, saluran pencernaan, dan saluran
kelamin terdapat beberapa jenis bakteri alami yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri patogen)
2. Respons Pertahanan Lapis Kedua
a) Fagositosis
Sel fagosit mononuklear yang paling dominan adalah makrofag. Makrofag
akan memakan dan menghancurkan mikroba, serta membersihkan jaringan
yang mati dan menginisiasi proses perbaikan jaringan (Abbas et al., 2014).
Makrofag berperan dalam imunitas nonspesifik melalui aksi fagositosis
mikroba dan produksi sitokin yang selanjutnya akan mengaktifkan mediator-
mediator inflamasi. Makrofag memiliki dua fungsi utama yaitu menelan dan
menghancurkan agen infektif yang masuk ke dalam tubuh serta mengambil
antigen dan memprosesnya untuk kemudian menyajikan antigen tersebut
pada permukaannya kepada sel T. Fungsi makrofag yang kedua disebut
dengan Antigen Presenting Cell (APC). Makrofag dan monosit dapat hidup

37
lama, mempunyai beberapa granul dan melepas berbagai bahan di antaranya
lisozim, komplemen, interferon dan sitokin yang semuanya berkontribusi
dalam pertahanan nonspesifik maupun spesifik.

Gambar 17. Makrofag dilihat dg EM (kiri), sedang mefagosit (kanan).

Gambar 18. Tahapan fagositosis mikroba oleh sel fagosit (Abbas et al., 2014). Mikroba
yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel fagosit kemudian membran
sel fagosit akan mengelilingi mikroba yang terikat tadi dan pada akhirnya mikroba akan
dicerna di dalam fagosom. Di dalam sel fagosit terjadi fusi antara fagosom dan lisosom
membentuk fagolisosom. Sel fagosit menghasilkan ROS, NO dan enzim lisosomal dalam
fagolisosom sehingga menyebabkan mikroba mati.
b) Inflamasi
Inflamasi atau peradangan adalah upaya tubuh untuk perlindungan diri,
tujuannya adalah untuk menghilangkan rangsangan berbahaya, termasuk sel-sel
yang rusak, iritasi, atau patogen dan memulai proses penyembuhan. Inflamasi

38
merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau
kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau
mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu
(Dorland, 2002). Inflamasi adalah bagian dari respon kekebalan tubuh. Ketika
terjadi peradangan, maka menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha untuk
menyembuhkan dirinya sendiri. Peradangan tidak berarti infeksi, bahkan ketika
infeksi menyebabkan peradangan. Penyebab inflamasi antara lain
mikroorganisme, trauma mekanis, zat-zat kimia, dan pengaruh fisika.9 Tujuan
akhir dari respon inflamasi adalah menarik protein plasma dan fagosit ke tempat
yang mengalami cedera atau terinvasi agar dapat mengisolasi, menghancurkan,
atau menginaktifkan agen yang masuk, membersihkan debris dan
mempersiapkan jaringan untuk proses penyembuhan (Corwin, 2008). Gejala
proses inflamasi adalah kemerahan (rubor), rasa panas, rasa sakit (dolor),
pembengkakan (tumor), dan Fungsiolaesa.
Tahapan reaksi inflamasi yaitu:10
1. Cidera jaringan/kerusakan jaringan
Ketika terluka maka jaringan epitel terbuka, hal itu menyebabkan benda
asing (debu atau mikroba) masuk ke dalam luka. Benda asing yang
bertempat di jaringan yang rusak dikenali oleh sel mast dan makrofag.
2. Pelepasan kimia
Ketika sel-sel jaringan terluka, maka akan merilis sejumlah bahan kimia
(kinins, prostaglandin, dan histamin) yang memulai respon inflamasi. Zat
kimia bekerja secara kolektif untuk menyebabkan vasodilatasi peningkatan
(pelebaran kapiler darah) dan permeabilitas kapiler. Hal ini menyebabkan
peningkatan aliran darah ke situs cedera. Zat-zat ini bertindak sebagai kurir
kimia yang menarik beberapa alami tubuh pertahanan sel (chemotaxis).
3. Migrasi Leukosit
Chemotaxis mengarah pada migrasi sel darah putih (leukosit) ke daerah yang
rusak. Neutrofil pertama ke situs yang terluka dan berfungsi untuk
menetralkan bakteri berbahaya. Makrofag membentu proses penyembuhan

9
Anonim, Inflamasi Peradangan, Online (http://www.kerjanya.net/faq/4914-inflamasi-
peradangan.html), (diakses pada tanggal 11 Oktober 2017).
10
Della meisya, 2011, Tanda-tanda Peradangan dan Fisiologinya, Online
(http://dellameisya.blogspot.co.id/2011/09/tanda-tanda-peradangan-fisiologinya.html?m=1). diakses pada
tanggal 10 November 2017).

39
dengan menelan bakteri dan sel-sel mati sehingga sel-sel baru akan tumbuh.
Urutan kejadian yang dialami leukosit adalah
a) Margination/penepian leukosit bergerak ke tepi pembuluh darah
b) Sticking/perlekatan, leukosit melekat pada dinding pembuluh darah;
c) Emigration/diapedesis, leukosit keluar dari pembuluh darah
d) Fagositosis, leukosit menelan bakteri dan debris jaringan.
Sel-sel fagosit menghancurkan sel-sel mikroba dan menelan sisa-sisa
jaringan, lalu sel-sel fagosit mati. Massa cairan yang terbentuk dari sel-sel
dan jaringan mati, sel fagosit mati dan mikroba mati ini disebut nanah.
Nanah dan komponen-komponennya dikeluarkan dari tubuh melalui luka
yang terinfeksi tersebut.
4. Perbaikan jaringan

Gambar 19. Tahapan Inflamasi

Macam Respons Imun Spesifik:


1) Pertahanan Lapis Ketiga

40
a) Limfosit B
Sel B (juga dikenal sebagai limfosit B) merupakan jenis limfosit yang
beredar dalam darah orang dewasa. Sekitar 10% dari darah putih yang
beredar adalah limfosit B. Sel B ini berfungsi memproduksi protein yang
dikenal sebagai antibodi yang kemudian berperan untuk membasmi
mikroorganisme jahat yang telah dikenali sebelumnya. Proses limfosit B
melindungi tubuh seperti itu dikenal sebagai kekebalan humoral, karena sel-
sel B melepaskan antibodi ke dalam cairan (juga dikenal sebagai humor) dari
tubuh. Proses inilah yang telah dimanfaatkan sebagai upaya pencegahan
penyakit infeksi melalui vaksinasi. Sekitar 15% sampai 40% dari sel-sel
darah putih yang limfosit. Macam Limfosit B yaitu:
1. Sel B Plasma, berfungsi menghasilkan antibody yang sifatnya spesifik
dengan sangat cepat. Hidup selama 4-5 hari.
2. Sel B Memori, berfungsi untuk mengingat suatu antigen yang spesifik.
Sel B memori bereaksi cepat jika ada infeksi.
3. Sel B Pembelah, berfungsi untuk membelah dan memproduksi antibody.

b) Limfosit T
Sel T (limfosit T) adalah jenis limfosit yang beredar melalui kelenjar timus
dan telah berubah menjadi sel-sel yang dikenal sebagai thymocytes (sel-sel
yang telah berkembang di kelenjar timus). Kelenjar timus adalah organ yang
terletak di bagian atas dada dan sangat penting dalam memproduksi zat yang

41
melindungi tubuh terhadap penyakit. Ketika thymocytes terpapar antigen
(zat/organisme asing misalnya bakteri dan virus), maka dengan cepat akan
membelah dan menghasilkan sejumlah besar sel T baru yang sensitif
terhadap jenis antigen. Lebih dari 80% dari limfosit dalam sirkulasi darah
adalah limfosit T. Macam Limfosit T:11
1. Sel T Helper (Sel T Pembantu) atau sel CD4 + T, berfungsi untuk
membantu/mengontrol system imun spesifik; menstimulasi sel B untuk
membelah dan memproduksi antibody; mengaktivasi dua jenis sel T;
mengaktivasi makrofag untuk bersiap memfagositosis. Sel T helper
membantu sel T sitotoksik dalam melakukan kegiatannya dan membantu
melindungi tubuh terhadap penyakit dengan cara lain. Sel-sel CD4+
ditargetkan oleh HIV. HIV menginfeksi sel T helper dan menghancurkan
mereka dengan memicu sinyal yang mengakibatkan kematian sel.
2. Sel T Killer (Sel T Pembunuh/ Sel T Sitotoksik) atau NKT, berfungsi
menyerang sel tubuh yang terinfeksi dan sel pathogen yang relative besar
secara langsung. Sel NKT adalah sel T dan bukan sel pembunuh alami.
Sel NKT memiliki sifat sari sel T dan sel-sel pembunuh alami. Sel NKT
membedakan sel yang terinfeksi atau kanker dari sel-sel tubuh yang
normal dan menyerang yang tidak mengandung penanda molekuler yang
mengidentifikasi mereka sebagai sel-sel tubuh. Karena Sel T Killer
menghasilkan zat kimia yang dikenal sebagai limfokin yang penting
dalam membantu sel B menghancurkan zat-zat asing.
3. Sel T Suppressor (Sel T Penekan), berfungsi menurunkan/menghentikan
respon imun. Sel ini menekan respon sel B dan Sel T terhadap antigen
lainnya. Penekanan ini diperlukan agar respon imun tidak berlanjut
setelah tidak lagi diperlukan. Cacat pada sel T ini menyebabkan penyakit
autoimun.

11
Anonim, Jenis Sel T dan Fungsinya, Online (http://artikeltop/jenis-sel-t-dan-fungsinya.html),
diakses pada tanggal 11 November 2017).

42
Gambar 20. Sel T sitotoksik menghancuran sel terinfeksi virus atau kanker

Gambar 21. Struktur sel B dan sel T

43
Gambar 22. Peranan sel B dan sel T

F. Pertahanan Mekanisme dan Kimiawi


Beberapa spesies dalam tubuh merupakan pertahanan terhadap penyebab
penyakit. Efektivitasnya tergantung pada keadaan fisiologi tubuh, misal:
kekurangan nutrisi, kelelahan, bertambahnya usia, ketahanan terhadap suhu yang
ekstrim.
1) Kulit
Kulit yang utuh dapat mencegah masuknya mikroba ke dalam tubuh. Kerusakan
pada kulit memungkinkan terjadinya infeksi mikroba ke dalam tubuh.
2) Selaput lendir
Selaput lendir dalam hidung dilapisi oleh sekresi berlendir yang tipis. Lendir ini
dapat berfungsi untuk menahan mikroba yang akan masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pernafasan. Jika mikroba berhasil masuk ke dalam tubuh, maka
mikroba akan diserang oleh sel-sel darah putih.
3) System Gastrointestinal
Asam lambung merupakan pelindung bagian dalam lambung terhadap mikroba
yang tertelan masuk bersama makanan dan minuman. Dalam usus halus; lendir,
enzim-enzim tertentu, empedu dan proses fagositosis merupakan faktor-faktor
yang berperan dalam pertahanan tubuh. Usus besar merupakan muara dari
banyak mikroba yang dikenal dengan istilah flora normal.
4) Mata
Beberapa faktor dapat mencegah masuknya mikroba ke dalam selaput bagian
dalam kelopak mata. Faktor-faktor ini meliputi: mekanisme gerak kelopak mata,
adanya bulu-bulu mata, alis, dan pengeluaran air mata.

G. Contoh Berbagai Macam Gangguan pada Sistem Imun

44
1. Lack of Response (imunodefisiensi); contoh AIDS dan Leukimia
Imunodefisiensi terjadi ketika tingkat atau jumlah antibody rendah dalam
tubuh. Imunodefisiensi adalah istilah umum yang merujuk pada suatu kondisi
di mana kemampuan sistem imun untuk melawan penyakit dan infeksi
mengalami gangguan atau melemah. Oleh karena itu, pasien imunodefisiensi
akan rawan terkena berbagai infeksi atau timbulnya sel tubuh yang ganas.
Contoh: AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kumpulan
berbagai penyakit yang disebabkan oleh melemahnya system kekebalan tubuh.
Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immonodeficiency Virus).
Virus tersebut menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi
pembentukan jenis sel T lainnya dan sel B plasma. Hal ini menyebabkan
kemampuan tubuh melawan kuman penyakit menjadi berkurang.
2. Incorrect Response (penyakit autoimun); contoh Diabetes Melitus tipe 1,
miastenia gravis, multiple sclerosis; penyakit Graves.
Autoimunitas merupakan gangguan pada sistem kekebalan tubuh saat antibodi
yang diproduksi justru menyerang sel-sel tubuh sendiri karena tidak mampu
membedakan sel tubuh sendiri dengan sel asing. Autoimun adalah penyakit
yang muncul disebabkan sel atau jaringan tubuh dikenali sebagai benda asing
(antigen) sehingga diserang oleh sel T. Autoimunitas dapat disebabkan oleh
gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus.
Contoh: Diabetes melitus, disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel
beta di pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Hal ini mengakibatkan
tubuh kekurangan hormon insulin sehingga kadar gula darah meningkat.
3. Overactive Response (alergi); contoh asma, asma, rhinitis allergic, rx
transfusi
Alergi bisa didefinisikan sebagai respon system kekebalan yang berlebihan
terhadap zat yang umumnya tidak berbahaya. Senyawa yang dapat
menimbulkan alergi disebut allergen. Alergen dapat berupa debu, serbuk sari,
gigitan serangga, rambut kucing, dan jenis makanan tertentu. Proses terjadinya
alergi diawali dengan masuknya allergen ke dalam tubuh. Allergen tersebut
akan merangsang sel-sel B plasma untuk mengekskresikan antibody IgE.
Alergen yang masuk ke dalam tubuh pertama kali tidak dapat menimbulkan
gejala alergi. Namun, IgE yang terbentuk akan berikatan dengan mastosit.
Akibatnya ketika alegen masuk ke dalam tubuh kedua kalinya, allergen akan

45
terikat pada IgE yang telah berikatan dengan mastosit. Maka mastosit akan
melepaskan histamin. Responsnya mengakibatkan timbulnya gejala alergi.
Contoh: asma adalah peradangan paru-paru kronis yang disebabkan karena
peradangan pada saluran udara. Alergen, iritasi bahkan stimulan seperti
aktivitas fisik dapat memicu peradangan dan menyebabkan ketidaknyamanan
dalam diri seseorang. Gejala-gejala asma meliputi batuk, mengi, sesak nafas,
sesak dada, dll.

H. Makanan yang Dapat Menambah Sistem Kekebalan Tubuh


Banyak penyakit yang keberadaannya dapat dihindari apabila sistem imun kita
kuat. Sistem imun bekerja dengan melawan benda asing yang memasuki tubuh kita
untuk menimbulkan kerusakan. Pembersihan radikal bebas dan regulasi hormon
dapat dilakukan secara alami apabila sistem imun tubuh kita kuat. Imunitas atau
daya tahan tubuh manusia hanya bisa ditingkatkan secara alami. Berbicara tentang
cara alami, hanya ada dua cara untuk meningkatkan imunitas:12
a. Yang pertama adalah dengan latihan atau olahraga, dan
b. yang kedua adalah dengan mengonsumsi makanan yang dapat memperkuat imun
atau daya tahan tubuh secara alami. Makananannya yaitu:
1. Bawang Putih
Bawang putih sangat berguna untuk menjaga kesehatan kita dengan cara
meregulasi hormon, menurunkan tekanan darah serta memperlancar aliran
darah, dan banyak lainnya. Bawang putih mampu memperkuat imun tubuh
karena adanya senyawa yang mengandung konsentrasi sulfur tinggi,
yaitu allicin, yang dapat menghancurkan bakteri dan infeksi dalam tubuh
secara alami.
2. Daging
Daging kaya akan zink, elemen yang sangat penting dengan kemampuan
untuk memproduksi dan memperbanyak sel darah putih. Sel darah putih
membantu kita untuk melawan penyakit.
3. Yoghurt
Yoghurt mengandung biakan aktif yaitu bakteri yang baik untuk kesehatan.

12
Anonim, Makanan untuk Meningkatkan Kekebalan Tubuh, Online
(https://www.webkesehatan.com/14-makanan-untuk-meningkatkan-kekebalan-tubuh/), (diakses pada
tanggal 11 November 2017).

46
Bakteri yang baik untuk kesehataan ini sangat esensial untuk menjaga sistem
pencernaan, utamanya usus. Sistem pencernaan yang sehat sangat penting
untuk sistem kekebalan yang ampuh.
4. Barley dan Oat (sejenis gandum)
Gandum mengandung serat potensial yang disebut beta-glucan dengan
antioksidan yang efeknya patut diacungi jempol dan memiliki fungsi
antimikroba. Barley dan oat, serta gandum secara umum, adalah makanan
yang baik untuk meningkatkan imunitas tubuh kita.
5. Telur
Telur adalah salah satu makanan yang baik untuk sistem imun. Telur
mengandung beberapa vitamin, yang utama adalah vitamin D dan B-
kompleks, yang berpotensi untuk membasmi penyakit, dan memperlancar
aliran darah dalam tubuh.
6. Jamur
Jamur membantu dalam produksi sel darah putih, yang merupakan tentara
yang sangat aktif dan penting dalam sistem daya tahan tubuh manusia. Jamur
juga kaya zink dan berbagai nutrisi lainnya yang mampu meningkatkan
kesehatan tubuh secara keseluruhan.
7. Ubi Jalar
Ubi jalar mengandung beta-karoten tinggi dan kaya akan vitamin A. Vitamin
A adalah vitamin yang penting untuk memproduksi jaringan konektif yaitu
jaringan yang menghubungkan antar jaringan dalam tubuh. Ubi jalar
mempunyai peran besar untuk kulit dalam mencegah bakteri dan kuman
penyakit. Kulit adalah bagian penting dalam system pertahanan tubuh.
8. Alpukat
Alpukat mengandung vitamin B1, C, A dan mineral-mineral lainnya. Buah
ini membantu membersihkan usus secara natural. Selain mengandung brta-
karoten, alpukat juga mengandung glutation, sebuah antioksidan kuat yang
membantu melawan radikal bebas dalam tubuh sehingga imunitas tubuh
tetap terjaga dan juga mengurangi resiko kanker.
9. Kelapa

47
Kelapa memiliki asam lauric yang berubah menjadi monolaurin. Monolaurin
terdapat pada air susu ibu dan secara alami menguatkan system imun bayi.
10. Jahe
Jahe sering dikonsumsi oleh orang yang terkena flu. Sebab jahe memiliki
bahan antimikroba yang ampuh.

I. Ayat Al-Quan tentang Sistem Imun

Artinya: Sesungguhnya orang yang kufur kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami
masukkan dalam api neraka. Tiap-tiap kali kulit mereka hangus, Kami gantikan
untuk mereka kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. (an-Nisa: 56).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada bakteri unit herediternya disebut genom bakteri. Genom pada bakteri
disebut dengan gen. unit heredeter pada bakteri terdiri dari kromosom dan plasmid.
Lingkaran DNA (kromosom dan plasmid), berisi infomasi genetik yang diperlukan
untuk replikasi. Proses Genetika Bakteri meliputi Replikasi, Transkripsi, Translasi

48
dan Regulasi. Pada genetika suatu bakteri juga terdapat suatu mutasi. Mutasi
berasal dari kata mutatus yang artinya perubahan. Mutasi merupakan suatu
perubahan senyawa kimia pada DNA. Mutasi ada dua macam yaitu mutasi
kromosom dan mutasi gen. Mutasi adalah perubahan basa nukleotida pada genom
yang dapat diwariskan dan dapat berakibat baik dan buruk pada organisme yang
bersagkutan. Individu yang mengalami perubahan pada satu atau lebih basa
DNAnya disebut mutan. Mutagen adalah bahan atau agen, baik kimia maupun fisik
(radiasi) yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi. Mutagen meliputi radiasi
sinar UV, sinar X, dan zat-zat kimia tertentu. Sinar ultraviolet (UV) Merupakan
mutagen yang kuat karena sinar UV dapat menembus sel dan diabsorpsi dengan
kuat oleh timin (T) dan Sitosin (C). Kecepatan mutasi merupakan peluang bagi
suatu sel untuk bermutasi ketika terjadi pembelahan sel. Pemindahan materi genetik
pada bakteri ada 3 macam yaitu transformasi, tranduksi, dan konjugasi.
Imunologi atau imunitas adalah resisten terhadap penyakit terutama penyakit
infeksi. Kata imun berasal dari bahasa Latin immunis yang berarti bebas dari beban
(Benjamini et al., 2000). Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan
tubuh untuk mempertahankan keutuhannya sebagai perlindungan terhadap bahaya
yang ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup yang dianggap asing
bagi tubuh. Sistem imun memiliki tiga fungsi yaitu fungsi pertahanan (melawan
patogen), fungsi homeostasis (mempertahankan keseimbangan kondisi tubuh
dengan cara memusnahkan sel-sel yang sudah tidak berguna) dan pengawasan
(surveillance). Terdapat 2 macam tipe system imun yaitu system kekebalan
nonspesifik dan system kekebalan spesifik. Imunitas di dapatkan melalui 2 cara
yaitu kekebalan tubuh bawaan dan kekebalan tubuh dapatan. Dalam merespon
suatu antigen, system imun mempunyai 3 cara yaitu respon pertahanan lapisan
pertama yang terdiri dari kulit, membrane mukosa, sekresi alami, dan bakteri alami;
respon pertahanan lapis an kedua yang terdiri dari fagositosis dan inflamasi; respon
pertahanan lapisan ketiga yang terdiri dari sel B dan Sel T. Gangguan pada system
imun meliputi imunodefisiensi, penyakit autoimun, dan alergi. Suatu system imun
dalam tubuh juga dapat ditingkatnya melalui beberapa makanan, misalnya bawang
putih, daging, kelapa, jahe, dll.

49
B. Saran
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya
karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis berharap kepada para penulis berikutnya untuk membahas materi ini
dengan lebih lengkap. Semoga makalah ini berguna bagi penulis khususnya dan
para pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad. 2017. Mekanisme Mutasi dan Tipe Mutan Bakteri. Online


(http://www.akhmadshare.com/2017/01/mekanisme-mutasi-dan-tipe-mutan-
bakteri.html). (diakses pada tanggal 27 Oktober 2017).

Anonim. 2010. Cara Mendapatkan Kekebalan Tubuh. Online,


(https://immune0system,wordpress.com/2010/05/01/cara-mendapatkan-kekebalan-
tubuh/). (diakses pada tanggal 10 November 2017).

50
Anonim. 2012. Imunologi Dasar Mekanisme Pertaahanan Tubuh terhadap Bakteri.
Online (http://allergycliniconline.com/2012/02/14/imunologi-dasar-
mekanismepertahanan-tubuh-terhadap-bakteri/). (diakses pada tanggal 27 Oktober
2017).

Anonim. 2014. Mutasi Bakteri. Online (http://aggwicak.blogspot.co.id/2014/06/mutasi-


bakteri.html). (diakses pada tanggal 27 Oktober 2017).

Anonim. 2015. Genetika Bakteri. Online


(https://kimiakimi.files.wordpress.com/2014/01/5-genetika-bakteri.pdf). (diakses
pada tanggal 27 Oktober 2017).

Anonim. Inflamasi Peradangan. Online (http://www.kerjanya.net/faq/4914-inflamasi-


peradangan.html). (diakses pada tanggal 11 Oktober 2017).

Anonim. Jenis Sel T dan Fungsinya. Online (http://artikeltop/jenis-sel-t-dan-


fungsinya.html). (diakses pada tanggal 11 November 2017).

Anonim. Makanan untuk Meningkatkan Kekebalan Tubuh. Online


(https://www.webkesehatan.com/14-makanan-untuk-meningkatkan-kekebalan-
tubuh/). (diakses pada tanggal 11 November 2017).

Meisya, Della. 2011. Tanda-tanda Peradangan dan Fisiologinya. Online


(http://dellameisya.blogspot.co.id/2011/09/tanda-tanda-peradangan-
fisiologinya.html?m=1). diakses pada tanggal 10 November 2017).

Pelczar, Michael. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.

51