Anda di halaman 1dari 45

SISTEM KENDALI MOTOR LISTRIK DAN PERANGKAT

HUBUNG BAGI (PHB) INSTALASI TENAGA LISTRIK

WIDYA APRI WANDINI

RB201708799

PENDIDIKAN PROFESI GURU PRAJABATAN BERSUBSIDI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
SISTEM KENDALI MOTOR LISTRIK

A. Komponen kendali

1. Magnetik Kontaktor

Pengertian dan Fungsi


Kontaktor merupakan komponen listrik yang berfungsi untuk menyambungkan
atau memutuskan arus listrik AC. Kontaktor atau sering juga disebut dengan istilah
relay contactordapat kita temui pada panel kontrol listrik. Berikut adalah bentuk
contactor yang dapat kita temui

Tabel 1. Bagian-bagian Kontaktor

Prinsip kerja contactor sama seperti relay, dalam contactor terdapat beberapa
saklar yang dikendalikan secara elektromagnetik. Pada suatu contactor terdapat
beberpa saklar dengan jenis NO (Normaly Open) dan NC (Normaly Close) dan sebuah
kumparan atau coil elektromagnetik untuk mengendalikan saklar tersebut. Apabila coil
elektromagnetik contactor diberikan sumber tegangan listrik AC maka saklar pada
contactor akan terhubung, atau berubah kondisinya, yang semula FF menjadi ON dan
sebaliknya yang awalnya ON menjadi OFF. Untuk memahami prinsip kerja
contactor dapat dilihat dari gambar skema contactor berikut.
Gambar 1.Skema Kontaktor

Pada saat teminal A1 dan A2 diberikan sumber tegangan maka coil akan menarik
tuas saklar pada contactor, setiap saklar dengan tipe NO (03 04, 13 14, 23 24) akan
berubah menjadi ON dan setiap saklar tipe NC (31 32, 41 42) akan berubah menjadi
OFF. Saklar contactor tipe NO pada umumnya memiliki kapasitar mengalirkan arus
yang lebih besar daripada saklar tipe NC contactor.

Alat kontrol motor listrik


a. Tombol Tekan (Push Button)

Push button switch (saklar tombol tekan) adalah perangkat / saklar sederhana
yang berfungsi untuk menghubungkan atau memutuskan aliran arus listrik dengan
sistem kerja tekan unlock (tidak mengunci).

Normally Open (NO)

Merupakan kontak terminal dimana kondisi normalnya terbuka (aliran arus


listrik tidak mengalir). Dan ketika tombol saklar ditekan, kontak yang NO ini
akan menjadi menutup (Close) dan mengalirkan atau menghubungkan arus
listrik. Kontak NO digunakan sebagai penghubung atau menyalakan sistem
circuit (Push Button ON).
Gambar 2. Push Button NO

Normally Close (NC)

Merupakan kontak terminal dimana kondisi normalnya tertutup (mengalirkan


arus litrik). Dan ketika tombol saklar push button ditekan, kontak NC ini akan
menjadi membuka (Open), sehingga memutus aliran arus listrik. Kontak NC
digunakan sebagai pemutus atau mematikan sistem circuit (Push Button Off).

Gambar 3. Push Button NC

Normally Open (NO) + Normally Close (NC)

Titik kontak ini bekerja dengan prinsip kedua kontak di atas. Kontak ini
memiliki tiga buah titik kontak. Jika kontak belum bekerja maka salah satu
kontak akan terhubung dengan kontak lain sedangkan kontak yang lain akan
terbuka. Kontak ini memiliki tiga buah titik kontak.
Gambar 3. Push Button NO NC

b. Thermal Overload Relay (TOR)

Pengaman beban lebih atau over load yang digunakan pada instalasi motor
listrik adalah Thermal Overload Relay (TOR). Jika arus yang melalui penghantar
yang menuju motor listrik melebihi kapasitas atau seting TOR, maka TOR drop
atau terputus sehingga rangkaian yang menuju motor listrik terputus.
Thermal Overload Relay tersebut dihubungkan dengan magnetic contactor
pada kontak utama (untuk seri macnetic contactor tertentu notasi kontak utamanya
adalah 2, 4, 6 sebelum menuju beban (motor listrik).

Beberapa penyebab terjadinya beban lebih antara lain adalah:


1) Beban mekanik pada motor listrik terlalu besar;
2) Arus start terlalu besar dan terlalu lama putaran nominal tercapai atau motor
listrik berhenti secara mendadak;
3) Terjadi hubung singkat pada motor listrik (antara phasa dengan phasa atau
antara phasa dengan body;
4) Motor listrik bekerja hanya dengan 2 phasa atau terbukanya salah satu phasa
dari motor listrik 3 phasa.
Arus yang terlalu besar pada beban atau motor listrik akan mengalir pada
belitan motor listrik dan dapat menyebabkan kerusakan dan atau terbakarnya
belitan motor listrik. Untuk menghindari terjadinya panas yang berlebihan akibat
beban lebih maka dipasang termal beban lebih pada alat pengendali panas.
Prinsip kerja termal beban berdasarkan panas atau temperatur yang ditimbulkan
oleh arus yang mengalir melalui elemen-elemen pemanas bimetal. Jika panas
berlebihan maka salah satu logam pada bimetal melengkung dan menggerakkan
kontak-kontak mekanis pemutus rangkaian listrik (untuk bimetal seri tertentu
notasinya 95-96) akan terbuka.

Gambar 4. Bagian-bagian Kontaktor

Prinsip kerja dari bimetal pada TOR ditunjukkan pada Gambar 5 di bawah ini.

Gambar 5. Prinsip Kerja Bimetal

Jika terjadi beban lebih maka arus menjadi besar dan menyebabkan penghantar
panas. Panas pada penghantar melewati bimetal sehingga bimetal melengkung dan
selanjutnya aliran listrik yang menuju motor listrik terputus dan motor listrik
belitannya tidak sampai terbakar.
Gambar 6. Diagram Kontak-Kontak pada TOR

Diagram penyambungan kontak-kontak pada TOR pada magnetic contactor


ditunjukkan pada Gambar 7

A1 1 3 5

97 95
A2

2 4 6 98 96

Gambar 7. Diagram Penyambungan TOR pada Magnetic


Contactor
Untuk mengatur besarnya arus maksimum yang dapat melewati TOR, dapat
diatur dengan memutar penentu arus dengan menggunakan obeng sampai diperoleh
harga yang diinginkan.

Gambar 8. Cara Mengatur TOR


c. Lampu Indikator

Lampu indikator digunakan sebagai indikator sebuah rangkaian bekerja,


berhenti, atau mengalami gangguan sehingga operator segera dapat mengetahui
keadaan rangkaian dan tindakan yang harus dilakukan.

Gambar 9. Lampu Indikator

d. Time Delay Relay

Relay timer atau relay penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi
motor, terutama instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis.
Peralatan kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain,
contohnya dengan MC (Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-
lain.

Gambar 10. Bentuk Fisik TDR Gambar 11. Dudukan TDR

Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah sebagai pengatur waktu bagi peralatan
yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk mangatur waktu hidup atau
mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke segitiga dalam delay
waktu tertentu. Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus.
Apabila telah mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis timer
akan mengunci dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO

(a) (b)
Gambar 12. (a) Letak Kaki dudukan TDR (b). Pengawatan TDR

e. Mini Circuit Breaker (MCB)


MCB merupakan salah satu pengaman pada suatu rnagkaian kontrol. Pada
MCB memiliki pengaman beban/ daya lebih dari daya yang dipakai, sehingga
apabila yang digunakan pada sistem tersebut melebihi. MCB juga berfungsi sebagai
pengaman kesalahan rangkaian, sehingga apabila terjadi short circuit maka MCB
akan menjadi trip.

Gambar 13. MCB


B. Aplikasi Kendali Motor Listrik

1. Pengasutan Langsung ( Direct on line/DOL starter )

Direct Online adalah teknik yang memungkinkan kita untuk start/stop motor melalui
suatu rangkaian kontrol. atau bisa disebut sebagai Rangkaian Pengunci. karena rangkaian
DOL berfungsi untuk menjaga agar arus listrik tetap mengalir pada sebuah rangkaian
pengendali. rangkaian DOL adalah rangkaian yang paling dasar/sederhana saat
mempelajari SISTEM PENGENDALI.

Karakteristik umum :

Arus starting : 4 sampai 8 kali arus nominal


Torsi starting : 0,5 sampai 1,5 kali torsi nominal
Kriteria pemakaian :
a. 3 terminal motor , daya rendah sampai menengah
b. Arus starting tinggi dan terjadi drop tegangan
c. Peralatan sederhana
d. Waktu total yang diperlukan untuk DOL Starting direkomendasikan tidak lebih dari
10 detik

Cara kerja Sederhana pada rangkaian DOL dibagi atas dua rangkaian:

Rangkaian Daya
Pada rangkaian daya akan ditemukan komponen utama yang akan mengalirkan daya
dari sumber ke beban yaitu motor. Mengalir atau tidaknya daya untuk motor ini diatur
oleh rangkaian kontrol.

Rangkaian kontrol
Kontrol ini bekerja melalui sebuah device listrik yang disebut dengan kontaktor yang
akan memutuskan/mengalirkan daya dari sumber ke motor melalui anak-anak
kontaknya. Biasanya kontak yang digunakan adalah jenis normal terbuka atau
Normally Open yang sering disingkat dengan NO).

Irst adalah arus pengasutan (starting) dengan mengabaikan arus pemagnetan yang sangat
kecil besarannya. Maka arus starting motor induksi sangat besar I dibanding arus
nominalnya, tergantung pada tipe motor, maka arus starting dapat mencapai 6 - 7 kali
arus normal. Pengasutan secara langsung DOL (direct on line) akan menarik arus sangat
besar dari jaringan ( 6 - 7 kali arus normal), dan torsi pengasutan 0,5 - 1,5 x torsi
nominal.
Gambar 15. Rangkaian Kontrol dan Daya DOL

Apabila tersedia voltase untuk rangkaian daya dan rangkaian kontrol, tekan tombol ON,
kontaktor akan bekerja, akan menyala dan motor akan bekerja. Setelah tekanan ke tombol
ON dilepas, tombol ON kembali ke posisi NO, rangkaian kontrol tetap bekerja, karena
fungsi Tombol ON diambil alih oleh kontak NO nomor 53-54 kontaktor
K(saklarpengunci). Apabila arus ke motor naik melampaui arus penyetelan TOLF2, maka
TOLF2 akan bekerja yang mengubah posisi kontak-kontak relainya.

Gambar 15. Rangkaian Kontrol dan Daya DOL


Kontak relai TOLF2 nomor95 96 berubah posisi dari NC ke posisi terbuka. Akibatnya
hubungan rangkaian kontrol sumber voltase terputus dan system pengontrolan motor
berhenti beroperasi. Apabila hal ini terjadi, periksa dan analisa gangguan yang mungkin
terjadi terhadap sistem operasi motor. Untuk mengembalikan sistem kontrol ke posisi
semula adalah dengan menekan RESET agar kontak relai nomor 95-96 kembali keposisi
semula (NC).Untuk menghentikan motor adalah dengan menekan tombol OFF.

2. Pengasutan bintang-segitiga (Motor Starting Star-Delta)


a. Instalasi pengasutan motor star delta teknik manual
Instalasi ini disebut manual karena proses perpindahan belitan motor dari star ke delta
dilakukan secara manual dengan menekan satu tombol khusus yang berguna
mengganti/menukar hubungan belitan motor dari star ke delta secara manual.

Gambar 16. Diagram kontrol pengasutan star delta manual


Gambar 17. Diagram daya pengasutan star delta manual

Berdasarkan diagram kontrol dan daya diatas kita bisa menyimpulkan bagaimana prinsip
dari instalasi start motor bintang ke delta secara manual, yaitu;
Tekan push button S1 maka kontaktor utama K akan mendapatkan tegangan,
kontak bantu N) 13-14 kontaktor K yang dipasang paralel dengan push button S1
akan segera mengunci. Seiiring dengan bekerjanya kontaktor utama K, kontaktor
KY juga mendapat tegangan sehingga motor akan berputar dalam keadaan belitan
bintang / star. Pada kondisi ini lampu indikator H1 menyala yang menandakan
hubungan belitan motor sedang bekerja pada hubungan bintang
Setelah motor berputar stabil pada putaran bintang, maka bisa dilakukan
perpindahan / perubahan belitan motor dari bintang ke delta dengan cara menekan
push button S-YD. Ketikan push button S-YD ditekan, maka aliran arus ke
kontakor KY menjadi terputus, lampu H1 pun mati, sedangkan pada kontaktor
KD mendapatkan tegangan dan kontak bantu NO 13-14 kontaktor KD yang
terpasang paralel dengan NO push button S-YD langsung mengunci sehingga
motor berubah hubungan belitannya dari bintang menjadi delta, dan lampu H2
sebagai indikator bahwa motor sudah sudah bekerja pada belitan dlta akan
menyala.
Jika push button S0 ditekan maka aliran arus menuju semua coil kontaktor akan
terputus dan motor akan berhenti bekerja (stop).
Proteksi dari TOR aktif saat motor bekerja, maka kontak OL 95-96 akan terbuka
sehingga aliran listrik menuju semua kontaktor akan terputus, motor akan mati
dan kontak OL 97-98 akan tetutup dan menyebabkan lampu indikator H3 menyala
sebagai tanda bahwa motor mati disebabkan OR aktif
Ada kontaktor bantu NC 21-22 dai masing-masing kontaktor KY dan KD yang
dipasang seri terhadap kontaktor lainnya (lihat gambar). Kontak bantu NC
kontaktor KY seri dengan kontaktor KD, begitupun sebaliknya. Ini dimaksudkan
sebagai pengaman agar saat motor dihubung bintang maka tidak memungkinkan
motor menjadi hubungan delta pada saat bersamaan karena saat kontaktor KY
bekerja, kontak bantu NC seri dengan kontaktor KD terbuka, sehingga KD
selamanya tidak aktif ketika kontaktor KY bekerja, ataupn sebaliknya.

b. Instalasi pengasutan motor star-delta otomatis


Pada instalasi ini disebut otomatis karena peran pushbutton S-YD ditas digantikan
dengan komponen timer, diman kondisi ON/OFF kontak timer akan berubah secara
otomatis berdasarkan setingan waktu dari timer tersebut.

Gambar 18. Diagram kontrol pengasutan star delta otomatis


Secara umum prinsip kerja instalasi star-delta otomatis ini sama dengan manual, hanya
saja proses perpindahan hubungan belitan bintang menjadi belitan segitiga menggunakan
fungsi timer.
Ketika timer mendapatkan tegangan maka kontak timer yang terpasang seperti
pada diagram kontrol diatas akan berubah kondisi ketika setingan waktu timer
sudah tercapai.
Kontak timer NC akan menjadi NO dan NO akan menjadi NC hanya jika setingan
waktu telah diset di timer tersebut terpenuhi. Artinya, ketika waktu yang telah
diset tercapai maka kontak NC jalur kontaktor KY akan menjadi terbuka sehingga
motor terlepas terlepas dari hubungan bintang, dan secara bersamaan kontak NO
timer akan tertutup yang menjadi tiger mengalirnya arus pada kontaktor KD.
Saat kontaktor KD bertegangan maka kontak bantu NO 13-14 dari kontaktor KD
yang terpasang paralel dengan kontak timer NO akan langsung mengunci dan
motor berputar dengan hubungan belitan delta.
Pada kondisi ini fungsi timer sudah tidak berpengaruh lagi. Pada sat motor sudah
bekerja pada belitan delta, kontaktor KY dan timer sudah tidak aktif karena aliran
arusnya terputus via kontak bantu NC 21-22 dari kontaktor KD.
Ini adalah salah satu cara pengamanan motor agar hubungan belitan bintang dan
delta tidak bekerja bersamaan, dan juga merupakan cara menghemat umur timer,
karena timer tidak selamnya bekerja, hanya aktif ketika hubungan belitan motor
pada kondisi bintang saja.

Adapun diagram daya dari instalasi star-delta otomatis ini tidak ada bedanya dengan
diagram daya pada instalasi star delta manual

c. Pengasutan dengan Auto transformer (Auto Transformer Starting)

Starting dengan cara ini adalah dengan menghubungkan motor pada tahapan tegangan
sekunder auto transformer terendah. Setelah beberapa saat motor dipercepat,
transformator diputuskan dari rangkaian dan motor terhubung langsung pada tegangan
penuh.
Gambar 19. Starter dengan Auto-Transformer

Transformator dibuat dari sejumlah tahapan tegangan sekunder yang biasanya 83


%, 67 % dan 50 % dari tegangan primer.
d. Pengontrolan Motor dengan Dua Arah Putaran

Motor induksi 3 fasa adalah motor yang paling populer atau paling banyak digunakan
dalam penggerak mesin-mesin di industri. Seperti penggerak pada pompa, conveyor,
kompresor, blower, dan lain-lain. Hal itu mungkin dikarenakan motor induksi ini
mempunyai beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh motor-motor jenis yang
lain, seperti ; kontruksinya yang sederhana, tahan lama, perawatannya mudah, dan
punya efisiensi yang tinggi. Namun artikel kali ini tidak membahas tentang motor
induksi secara keseluruhan. Artikel kali ini hanya akan membahas sedikit tentang
bagaimana cara membalik putaran motor induksi 3 fasa.

Untuk membalik arah putaran motor induksi 3 fasa adalah dengan membalik salah satu
polaritas tegangan yang masuk ke motor. coba perhatikan gambar dibawah ini.

Gambar 20. Rangkaian daya forward reverse. K1 ON(forward), K2 ON(reverse)

Pada gambar diatas terlihat kalau motor akan berputar ke kanan (forward) jika
terminal belitan/winding motor menerima tegangan RST dengan R terhubung dengan
U, S terhubung dengan V dan T terhubung dengan W. Dan motor akan berputar ke
arah sebaliknya (reverse) jika terminal winding motor menerima tegangan RST
dengan R terhubung dengan U, S terhubung dengan W dan T terhubung dengan V.
Dengan kata lain tegangan RST dibalik menjadi RTS. Membalik dengan polaritas
yang lain juga bisa, seperti R dengan S, atau R dengan T.

Untuk mengubah atau membalik polaritas tegangan RST itu biasanya digunakan
rangkaian pengendali mekanik dan magnetik yaitu rangkaian kontaktor. Dan sebagai
pengaman motor dipasang juga pelindung motor (thermal overload). Perhatikan
gambar diagram utama/daya forward reverse berikut ini.
Gambar 21. Rangkaian daya forward reverse. K1 ON(forward), K2 ON(reverse)

Gambar diatas menunjukkan bahwa motor akan berputar ke kanan(forward), jika K1


bekerja. Saat kontaktor 1 bekerja, tegangan RST akan masuk ke motor secara
berurutan. Dan gambar diatas juga menjelaskan kalau motor akan berputar ke
kiri(reverse), jika K2(kontaktor 2) bekerja. Saat K2 bekerja maka polaritas tegangan
RST yang masuk kemotor akan dibalik menjadi TSR.(lihat gambar diatas).dan yang
terjadi adalah motor akan berputar ke kiri.

Untuk mengatur atau mengendalikan kedua kontaktor tersebut diperlukan rangkaian


kontrol forward reverse. Dan dibawah ini adalah diagram rangkaian kontrol forward
reverse. Perhatikan gambar berikut, dan pahami bagaimana cara kerjanya.
Gambar 22. Rangkaian kontrol forward reverse

Tegangan kerja koil kontaktor pada gambar rangkaian kontrol diatas adalah 220VAC.
Sehingga gambar diatas mendapatkan catu daya fasa(R) dan nol(N). Namun biasanya
juga digunakan kontaktor dengan koil kerja 380VAC, jadi harus diberi catu daya
dengan tegangan line(fasa-fasa). Tegangan line disini berarti R-S,R-T atau S-T.
Pemberian tegangan ini sebenarnya tergantung dari koil kontaktornya karena bisa juga
tegangan kerja koil itu 100V,200V dan sebagainya. Pada gambar diatas terlihat bahwa
arus listrik akan mengalir dan mengaktifkan K1 jika tombol ON1 ditekan. Meskipun
ON1 dilepas K1 akan tetap aktif, hal ini dikarenakan ada interlock dari kontak bantu
NO(K1) yang dipasang pararel dengan ON1. Sehingga arus listrik tetap mengalir ke
koil kontaktor lewat kontak bantu NO(K1) tersebut. Saat K1 aktif hal ini berarti motor
berputar ke kanan(forward). Dari gambar diatas juga terlihat adanya kontak bantu
NC(K1) yang dipasang secara seri dengan koil K2, dan sebaliknya kontak bantu
NC(K2) yang dipasang seri denga koil K1. Kontak bantu NC disini berfungsi sebagai
interlock pengaman. Misalnya, jika ON1 ditekan dan K1 aktif (motor berputar
forward), meskipun ON2 ditekan maka arus listrik tidak akan mengalir ke koil K2,
karena NC(K1) tersebut telah membuka. Dan untuk membalik putaran(reverse), maka
harus ditekan tombol OFF terlebih dahulu, sehingga K1 off dan tombol ON2 sekarang
bisa ditekan untuk mengaktifkan koil K2. Sehingga motor bisa berputar ke
kiri(reverse). Begitu juga untuk mengembalikan putaran motor ke forward.
PERANGKAT HUBUNG BAGI (PHB)
INSTALASI TENAGA LISTRIK

A. Perangkat Hubung Bagi (PHB)

1. Pengertian Perangkat Hubung Bagi (PHB)

PHB (Perangkat Hubung Bagi) merupakan tempat percabangan dari sirkit yang ada

pada sebuah intalasi listrik yang dilengkapai dengan proteksi arus dan indikator lampu

serta indikator pengukuran.

Gambar 1. Perangkat Hubung Bagi

2. Fungsi Perangkat Hubung Bagi (PHB) Utama

a. Menerima energy listrik dari APP (alat pembatas dan pengukur).

b. Menyalurkan energy yang diterima dari APP ke beban atau kesub PHB yang lain.

c. Sebagai tempat pembagi, maksudnya adalah PHB merupakan tempat pembagian


untuk membentuk beberapa grup atau cabang (sirkit).

d. Sebagai tempat peletakkan pemutus arus .

e. Sebagai tempat peletakkan proteksi arus Sebagai tempat peletakkan rangkaian


ndicat,

f. Sebagai tempat peletakkan peralatan ndicator baik alat pengukur atau lampu
ndicator.
3. Komponen Perangkat Hubung Bagi (PHB)

Perangkat Hubung Bagi (PHB) adalah perangkat yang digunakan pada instalasi
listrik agar sistem dapat bekerja dengan aman dan handal sebelum didistribusikan ke
beban-beban.

Berikut kami sajikan beberapa komponen Perangkat Hubung Bagi (PHB), antara lain
:
a. Box Panel PHB

Gambar 2. Box Panel

b. Pengaman Beban Lebih (MCB, MCCB, ELCB, dll)

c.
d.
e.
f.
g.
Gambar 3

MCB MCCB ELCB


c. Pengaman Hubung Singkat (Fuse/Sekering)

Gambar 4. Sekering/Fuse

d. Saklar (Switch)

Gambar 5. Saklar
e. Komponen Indikator (Lampu, AVO Meter, dll)

Gambar 6a. Lampu Gambar 6b. Amperemeter


Gambar 6c. Voltmeter Gambar 6d. Ohmmeter

B. KONSTRUKSI PHB

PHB jika ditinjau dari segi bentuk konstruksinya, dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Konstruksi Terbuka
Pada jenis PHB dengan konstruksi terbuka ini pada bagian-bagian yang aktif atau
bertegangan seperti rel beberapa peralatan, terminal dan penghantar dapat terlihat
dan terjangkau dari segala sisi. Pemasangan PHB sistem terbuka ini hanya diijinkan
pada ruangan yang tertutup dan hanya operator atau orang yang profesional
yang boleh masuk dalam ruangan tersebut.

2) Konstruksi Semi -Tertutup


PHB jenis ini berupa panel yang dilengkapi dengan pengaman yang dapat mencegah
terjadi kontak dengan bagian-bagian yang bertegangan pada PHB. Pengaman ini
pada umumnya dipasang pada bagian sakelar/tombol operasi muka, sehingga
operator tidak mempunyai akses menyentuh bagian - bagian yang bertegangan
pada PHB dari arah muka.
Namun demikian pada panel jenis ini tidak semua sisi tertutup seperti
contohnya pada bagian belakang dan sampingnya. Untuk itu PHB jenis ini pula
hanya diijinkan dipasang pada ruangan tertutup dan hanya operator atau orang
yang profesional yang boleh masuk ruangan tersebut.
Gambar 7. PHB Konstruksi Semi Terbuka

3) Konstruksi Lemari
PHB jenis konstruksi cubicle ini adalah tertutup pada semua sisinya, sehingga tidak
ada akses untuk kontak dengan bagian yang bertegangan selama pengoperasian,
karena konstruksi tertutup pada setiap sisinya, maka pemasangan PHB jenis
ini tidak harus di tempat ya ng tertutup dan terkunci, atau dengan kata lain dapat
dipasang pada tempat- tempat umum pengoperasian listrik.
PHB jenis ini ada yang dibuat dengan sistem laci, yaitu komponen atau
perlengkapan PHB ini dapat ditarik atau dilepas/untuk keperluan perbaikan atau
pemeliharaan. Untuk memasang kembali dalam sistem, kita cukup mendorong ke
dalam seperti kita mendorong laci.
Pada PHB sistem laci ini bagian atau komponen yang bisa dilepas dan
dipasang kembali, biasanya berupa sakelar pemisah atau pemutus tenaga untuk
saluran masuk, saluran keluar dan sakelar penggandeng.
Gambar 8. PHB Konstruksi Lemari

4) Konstruksi Kotak (Box)


PHB jenis kotak (box) ini ada yang terbuat dari bahan isolasi, plat logam, baja tuang,
dsb. Di dalam kotak tersebut sudah dilengkapi dengan tempat untuk pengikat
pemasangan rel, sekering, sakelar kontraktor dsb.

Gambar 9. PHB Konstruksi Box


C. JENIS DAN APLIKASI PHB

1. Jenis

Setiap PHB dibuat satu atau beberapa bagian yang mana untuk mengakomodasi
jumlah item dari peralatan. Beberapa bagian PHB itu dibuat untuk memudahkan
dalam perencanaan, dan rancang bangun.
Ga mbar 1.5 menunjukkan contoh dari tiga macam metode pemasangan
perlengkapan bagian PHB, yaitu pemasangan dengan cara tetap (fix) mudah dipindah-
pindah (removable) dan sistem laci (withdrawable), yang dicontohkan oleh
diagram satu garis dari unit pensuplai motor.

Gambar 10. Metode Pemasangan Perlengkapan PHB

Pada pemasangan dengan sistem tetap (fix) unit saluran keluar secara permanen
dihubungkan ke rel melalui kabel atau penghantar rel. Untuk mengganti
perlengkapan maka perlu diisolasi terhadap rel, kabel yang me nuju ke motor dan
kabel untuk kontrol, dan pengukuran yang dihubungkan secara langsung maupun
melalui terminal harus diputuskan. PHB dengan pemasangan tetap (fix) dengan
menggunakan sekring HRC tegangan rendah yang dilengkapi dengan sakelar
pemisah.
Untuk sistem yang dapat dipindah-pindah input diperoleh melalui sebuah kotak isolasi 3
fasa yang memberikan daya listrik dari rel ke perlengkapan dengan menggunakan tusuk
kontak 3 fasa.
Perbedaan dengan dua sistem yang telah dijelaskan di atas, pada sistem laci ini
mempunyai keunggulan yaitu mudah dalam pelayanan dan keamanan
operatornya lebih terjamin. Pada sistem ini baik untuk saluran masuk dan keluar
penyambungannya dengan sistem kontak tusuk, sehingga kita tidak perlu melepas
kabel yang menuju ke motor, kecuali itu juga pada sistem laci (withdrawable) ini
dilengkapi dengan sakelar pembatas pada rangkaian pengunci kumparan kontaktor
yang berfungsi sebagai sakelar interlok mekanik untuk mencegah agar unit tidak bisa
diaktifkan sebelum posisi dari unit pada waktu memasukkan betul-betul telah
tersambung sempurna.

2. Aplikasi

Bentuk dan konstruksi PHB yang ada dipasaran sangat banyak, sehingga susah
untuk membedakan PHB jika dilihat dari bentuk fisiknya saja. Untuk membedakan
PHB yang jenisnya sangat bervariasi akan lebih tepat jika ditinjau dari aplikasinya.
Berikut adalah contoh dari beberapa pemakaian PHB yang lazim ditemui di
lapangan :
PHB untuk penerangan dan daya
PHB untuk unit konsumen
PHB untuk distribusi sistem saluran penghantar (trunking)
PHB untuk perbaikan faktor daya
PHB untuk distribusi di Industri
PHB untuk distribusi motor- motor
PHB utama
PHB untuk distribusi
PHB untuk sub distribusi
PHB untuk sistem control
D. STANDAR PERANCANGAN PHB
1. Umum
PHB dengan rating arus sampai dengan 4000 A dipasang sebagai PHB
induk di industri, bangunan gedung bertingkat yang besar, rumah sakit
besar, atau pada tempat-tempat yang mengkonsumsi daya listrik yang besar.
Pada umumnya sistem konfigurasi suplai tenaga listrik di industri melalui
sebuah PHB induk (pusat daya) yang diisi/disuplai dari satu atau lebih
transformator, kemudian melalui rel saluran keluar dihubungkan ke PHB
distribusiyang melayani beberapa buah beban. Tentu saja saluran masuk
maupun keluar diamankan oleh pemutus tenaga.

Gambar 11. Single line Perancangan PHB

Pemisahan antara PHB induk dengan PHB distribusi mempunyai beberapa


keuntungan :
PHB induk dapat dipasang dekat dengan transformator penyulang, sehingga
hanya memerlukan kabel yang pendek.
Pemutus tenaga untuk saluran masuk maupun saluran keluar, hanya
membutuhkan satu bentuk konstruksi, karena ukuran fisiknya relatif sama.
PHB distribusi ini dipasang dekat dengan beban, sehingga hanya memerlukan
kabel yang pendek.
Oleh karena kabel yang menghubungkan antara PHB induk dengan PHB
distribusi cukup panjang, sehingga komponen PHB distribusi dapat
menggunakan komponen dengan kemampuan menahan terhadap arus hubung
singkat yang rendah.

2. Rel dan Kabel Saluran Masuk


PHB induk ini pada umumnya ditempatkan pada tempat yang dekat dengan
transformator penyulangan. Kabel yang masuk menuju ke rel PHB induk ini dapat
dilakukan melalui bagian bawah atau atas. Apabila kapasitas daya (transformator)
nya besar, maka penarikan kabel untuk saluran ma suk dapat dengan cara diparalel
dua kabel atau lebih.

3. Saluran Keluar
Untuk saluran keluar ini adalah menggunakan kabel yang panjangnya tergantung oleh
jarak, demikian pula perlu dipertimbangkan arus dan drop tegangannya.
Diperkenankan menggunakan kabel pararel, bila arusnya lebih dari 250A. Pada
umumnya kabel keluar melalui bagian bawah dari PHB, pemasangan kabel dapat
dilakukan dengan menggunakan nampan kabel (cable try) yang digantung dilangit-
langit, dapat pula dengan cara membuat lorong di bawah lantai untuk saluran kabel.

4. Prosedur Pelayanan dan Pemeliharaan


Prosedur pelayanan dan pemeliharaan harus mengikuti ketentuan- ketentuan yang
berlaku (PUIL 2000 pasal 601 B) Apabila PHB nya jenis laci (withdrawable)
maka perlu dipertimbangkan ruang yang cukup untuk pengoperasian.
Pada saluran keluar dari PHB induk yang menuju ke PHB distribusi perlu
diperhatikan pula hal-hal yang berhuhungan dengan pelayanan dan pemeliharaan
ini. Untuk itu pada saluran keluar harus diberi ruang yang cukup untuk pelayanan dan
pemeliharaan

5. Fasilitas Isolasi
Apabila beberapa transformator menyulang sebuah rel atau beberapa bagian rel
dengan sistem gandeng, maka diperlukan sakelar isolasi. Ini dimaksudkan apabila
terjadi gangguan, perbaikan, dan modifikasi rangkaian, saluran masuknya dapat
diisolasi.

Untuk keperluan ini dapat dilakukan dengan cara memasang :

Sakelar pemisah dengan rating sampai dengan 3000A


Sakelar beban yang menggunakan HRC fuse
Pemutus tenaga dengan sistem laci (withdrawable)

Pada akhirnya, pertimbangannya bukan hanya penghematan biaya semata, tetapi


perlu dipertimbangkan pula luas ruang yang diperlukan untuk PHB. Pengisolasian
ini diperlukan pula untuk saluran keluar dari rel, yaitu untuk keperluan pada
saat ada gangguan, pemeliharaan modifikasi rangkaian dsb. Dalam beberapa hal
sakelar pemutus beban dengan sekering HRC yang dipakai untuk pengaman hubung
singkat dapat dipakai untuk keperluan tersebut.

6. Rel
Sistem rel yang dipakai pada PHB induk disebut dengan Sistem 4 rel. Tiga rel
diperuntukkan untuk penghantar 3 fasa masing- masing LI/R, L2/S, dan L3/T dan
satu rel lagi diperuntukkan untuk hantaran PE atau PEN, yang diletakkan pada bagian
bawah di PHB. Sedangkan untuk rel fasanya dipasang pada bagian atas secara
mendatar.
Sehubungan dengan kapasitas pembebanan dari rel utama ini, ukuran rel harus
ditentukan dengan cermat. Sebagai dasar untuk menentukan ukuran rel diantaranya
adalah : kondisi operasi normal dan rating arusnya, kondisi hubung singkat (berupa
panas yang dibangkitkan diakibat oleh arus hubung singkat tersebut) dan besarnya
ketegangan dinamis. Dengan demikian data-data dari pabrik pembuat rel ini harus
relevan dengan standar desain PHB yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan.
Tabel berikut ini merupakan tabel yang menunjukan berbagai ukuran dan dan
kemampuan hantar arus pengantar rel (bus-bar) dari bahan tembaga.
KAPASITAS PENGHANTAR REL (BUS-BAR) TANPA ISOLASI

Rating arus dan arus hubung singkat dari rel utama memp unyai harga yang
berbeda menurut jenis PHB nya, dan tergantung oleh :
Posisi pemasangan komponen PHB
Luas penampang penghantar
Kekuatan mekanik penghantar
Pemisahan antar penopang
Kemungkinan pengaruh pemanasan dari komponen lain
Pengaruh dari penghantar yang satu terhadap yang lain

Hantaran rel untuk pentanahan (PE atau PEN) secara listrik harus dihubungkan ke
kerangka PHB dan ukurannya diperhitungkan agar mampu dialiri oleh setiap arus
hubung singkat yang mungkin timbul. Ukuran rel penghantar untuk PE atau
PEN berdasarkan pengalaman adalah 25% kali ukuran rel penghantar fasanya.
7. Posisi Saluran Masuk dan Keluar
Aspek yang penting dari spesifikasi busbar adalah secara fisik posisi saluran masuk
dan keluar dari suatu PHB. Berikut adalah ilustrasi sebuah kemungkinan dari
pengaturan saluran masuk dan keluar dari suatu PHB.

Gambar 12. Satu pengisian disatu sisi

Gambar 13. Satu pengisian dari tengah


Gambar 14. Dua pengisian pada sisinya

Gambar 15. Dua pengisian di tengah


Gambar 16. Satu pengisian di tengah dan dua di sisi.

8. Bahan dan Penandaan Rel


Bahan yang dipakai untuk rel kebanyakan dibuat dari tembaga elektrolit dan
alumunium. Berdasarkan standar IEC28 tentang Standar International dari
tahanan yang terbuat dari tembaga, menyebutkan bahwa besar tahanan jenis
tembaga adalah 20 = 1/58 = 0,017241 mm2/m. Dimana besar dari koefisien
temperature 20 pada suhu 20 C untuk tembaga adalah 20 = 3,93 x 10-3/K. Harga ini
akan bertambah besar atau kecil berbanding lurus dengan perubahan konduktifitasnya.
Sedangkan untuk bahan penghantar dari alumunium berdasarkan standar IEC 111
tentang Standar International dari tahanan yang terbuat dari alumunium
(Commercial Hard Drawn Alumunium), menyebutkan bahwa besar tahanan jenis
alumunium adalah 20 = 0,028264 mm2/m. Dimana besar dari koefisien temperature
-3
20 pada suhu 20 C untuk alumunium adalah 20 = 4.03 x 10 /K. Harga ini akan
bertambah besar atau kecil berbanding lurus dengan perubahan konduktifitasnya.
Untuk identifikasi rel biasanya dengan cara di cat, berdasarkan PUIL identifikasi
warna adalah sebagai berikut :
Merah - LI/R
Kuning - L2/S
Hitam - L3/T
Biru - Netral
Kemudian untuk rel pentanahan PE atau PEN indentifikasi warnanya adalah loreng
(hijau-kuning). Identifikasi juga dapat dilakukan cukup dengan menggunakan
lambang huruf, yaitu untuk fasanya adalah L1/R, L2/S, L3/T dan N untuk netral.
9. Beban Motor
Apabila terdapat sebuah atau lebih beban motor yang disuplai dari saluran keluar
PHB, maka harus ikut diperhitungkan dalam menentukan ukuran relnya, sebab
motor- motor ini akan memperbesar arus hubung singkat dari sistem.
10. PHB Standar

Seperti telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, bahwa dipasaran terdapat


berbagai macam dan jenis PHB. Berikut adalah beberapa contoh dari PHB yang
ada dipasaran tersebut.
a) PHB Distribusi Bentuk Box

PHB jenis ini dipakai untuk distribusi daya listrik dengan kapasitas antara 250-
1800 A, bahan selungkup yang dipakai adalah terbuat dari :
Bahan isolasi
Plat logam
Baja tuang
Pada gambar 17 dan 18 berikut terlihat PHB jenis box dengan pengisolasian total,
artinya semua perlengkapannya terbuat dari bahan isolasi, sehingga akan
menambah derajat pengamannya dan dapat mencegah te gangan sentuh

Gambar 17. Kontruksi Pengisolasian PHB jenis box


Gambar 18. PHB jenis box dengan pengisolasian total

Jika kita perhatikan dari gambar di atas, maka cukup dengan merakit bagian-
bagian (tiap box) kemudian menyatukannya dengan bagian yang lain, dengan
demikian akan memudahkan dalam hal penanganannya.
Semua selungkup dibuat dari glass-feber-polyester resin, ini secara teknis
merupakan kombinasi bahan dengan kualitas yang baik dan baik untuk kebutuhan
PHB, bahan isolasi ini mempunyai keunggulan :
Isolasinya tinggi
Derajat pengamanannya tinggi
Tidak korosi
Kekuatan mekanik yang besar
Mudah dalam pengerjaannya
Tahan panas
Tidak memerlukan perawatan
Bobotnya ringan
Gambar 19. adalah salah satu contoh PHB jenis box dengan selungkup pelat logam,
konstruksi jenis ini cocok untuk PHB induk, distribusi dan kontrol. Rakitan box ini
dapat dipasang di atas lantai (free standing) atau juga menempel di dinding.
Gambar 19. PHB jenis box dengan dengan selungkup pelat logam

PHB dengan selungkup pelat ini mempunyai keunggulan dalam hal:


Andal dalam pengoperasian
Mudah untuk melakukan perluasan
Mudah dalam pemasangannya
Tidak memerlukan banyak perawatan

PHB distribusi dengan selungkup terbuat dari baja tuang dapat dilihat pada gambar
14 PHB ini mempunyai konstruksi yang kokoh dan tahan korosi. Oleh karena itu
banyak digunakan pada tempat- tempat berdebu, pekerjaan kasar, lembab, dan
pada daerah yang mempunyai iklim yang ekstrim. PHB distribusi jenis ini
mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Konstruksinya kokoh
Dibuat dengan sistem modular
Membutuhkan tempat yang tidak terlalu luas
Pemasangannya mudah
Perencanaan proyek dapat dilakukan dengan mudah
Memungkinkan untuk diadakan perluasan
Mudah dikombinasikan
Gambar 20. PHB jenis box dengan selungkup baja tuang

b)PHB Distribusi Kecil


Penggunaan dari PHB ini pada umumnya untuk konsumen rumah tangga, gedung
administrasi, gedung komersial dan tempat-tempat umum. PHB distribusi kecil
dengan rating arus sampai dengan 63 A dihubungkan setelah KWH meter atau
PHB induk. Komponen-komponen yang ada di PHB distribusi ini biasanya berupa
sakelar tegangan rendah, ELCB, MCB sakering dsb.
Gambar 21 berikut menunjukkan salah satu contoh PHB distribusi kecil,
dimana selungkupnya terbuat dari bahan isolasi polyster

Gambar 21. PHB distribusi kecil dengan isolasi polyster


11. Komponen Utama PHB
Komponen utamanya PHB ini jenisnya sangat banyak, karena untuk setiap PHB
dengan aplikasi berbeda akan membutuhkan komponen utama ya ng berbeda pula,
misalnya PHB distribusi dan PHB kontrol.
Karena komponen utama PHB ditinjau dari jenis dan konstruksinya sangat bervariasi,
maka berikut ini hanya akan diberikan beberapa contoh utama PHB secara umum.
a) Peralatan Pengaman Tegangan Renda h
Pengaman ini berfungsi untuk mengamankan sistem, yaitu dengan cara
mendeteksi kesalahan/gangguan dan pemutusan bagian sistem yang terganggu
seperti:
Sekering
Sekering atau pengaman lebur ini umumnya digunakan untuk :

Pengaman beban lebih pada hantaran dan peralatan listrik


Pengaman hubung singkat pada hantaran dan peralatan listrik

Pengaman lebur ini dapat bekerja dalam waktu yang lama apabila ada
beban lebih 20% dan akan bekerja lebih cepat apabila arus kesalahannya lebih
besar (hubung singkat). Gambar 22. menunjukkan sebuah gambar dari
sekering jenis ulir.

Gambar 22. Sekering jenis ulir

Dan pada gambar 23, menunjukkan sebuah gambar dari pengaman


sekering pisau (HRC fuse). Jenis sekering ini mempunyai kapasitas pemutusan
yang tinggi (sampai 80 kA). Rating arus dari sekering ini berkisar antara
2-1200A pada tegangan 415 volt.

Gambar 23. Sekering pisau (HRC fuse).

Pemutus tenaga
Pemutus tenaga ini dapat memutuskan rangkaian secara otomatis apabila
terjadi beban lebih (overload) atau hubung singkat. Gambar 18 adalah contoh
pemutus tenaga MCB dan MCCB

Gambar 24. MCB dan MCCB


b) Sakelar
Pemisah
Sakelar ini dipakai untuk menghubungkan dan memutuskan rangkaian dalam
keadaan tidak berarus (tidak berbeban), gambar 25 berikut menunjukkan
konstruksi dari sakelar pemisah tersebut.

Gambar 25. Sakelar Pemisah

Sakelar Beban
Sakelar beban ini boleh dioperasikan dalam keadaan rangkaian berarus
(berbeban) gambar 26 berikut menunjukkan salah satu jenis sakelar beban
tersebut.

Gambar 26. Sakelar Beban


c) Penopang Rel
Penopang rel ini adalah merupakan bagian atau komponen PHB yang penting,
karena komponen ini berfungsi kecuali sebagai dudukan rel dan sekaligus mengikat
rel tersebut agar tidak bergerak, sehingga jarak antar rel dan jarak antara rel dengan
bagian konduktif yang terdapat pada panel dapat terjaga dengan baik. Disamping
itu juga berfungsi sebagai isolator antara rel dengan bagian-bagian konduktif yang
terdapat pada panel.
Terdapat beberapa jenis desain konstruksi penopang rel, diantaranya adalah rel
penopang bentuk : silinder, persegi, tangga, jepit, dan sebagainya.
Gambar 27 berikut menunjukan desain konstruksi dari berbagai jenis penopang
rel seperti tersebut diatas.

Gambar 27. Jenis Penopang Rel

12. Asesoris PHB


Asesories PHB adalah merupakan bagian dari komponen PHB disamping komponen
utama. Asesories PHB ini adalah merupakan bagian kelengkapan dari PHB, sedang
kita sendiri tahu bahwa terdapat pula berbagai macam jenis PHB, maka asesories
PHB ini jenis dan bentuknya pun sangat bervariasi. Mengingat jumlah dan bentuknya
sangat bervariasi, maka berikut ini akan diberikan contoh dari beberapa asesories
PHB untuk tegangan rendah yang dapat kita temui dipasaran.
a) Rel Penyambung
Rel penyambung ini berfungsi untuk menyambungkan secara listrik beberapa
MCB satu atau tiga fasa, panjang rel ini dapat dipotong sesuai dengan kebutuhan
dan biasanya panjang standar yang ada dipasaran adalah 2 m. Gambar 28
menunjukkan contoh dari jenis rel penyamb ung MCB tersebut.

Gambar 28. Rel Penyambung

b) Penopang Terminal
Penopang ini digunakan untuk menempatkan terminal untuk pencabangan pada
PHB. Tentunya bentuk penopang terminal ini disesuaikan dengan kebutuhan,
gambar 29 menunjukkan contoh dari penopang terminal

Gambar 29. Penopang Terminal


c) Terminal
Pada PHB ini tidak bisa dihindari bahwa pencabangan mesti ada, yang
memerlukan terminal untuk pencabangan. Gambar 29 berikut menunjukkan
salah satu contoh dari terminal pencabangan tersebut.

Gambar 29. Terminal Pencabangan

d) Rel Omega dan Rel C


Rel omega dan rel C ini ada terbuat dari cadmium dan alumunium, rel ini
dalam perakitan PHB biasanya dipasang pada dasar (base) panel atau pada
rangkanya. Fungsi dari rel ini adalah sebagai dudukan untuk komponen-
komponen utama dari PHB diantaranya MCB, sekering terminal kontaktor
dsb. Gambar 30 berikut menunjukkan gambar dari rel omega dan rel C.

Gambar 30. Rel Omega dan Rel C


e) Penutup akhir dan Pengunci terminal blok
Penutup akhir dan pengunci terminal blok berfungsi sebagai penutup akhir untuk
menutup bagian terminal akhir dari suatu susunan beberapa terminal agar bagian
yang bertegangan tidak tersentuh, sedangkan pengunci adalah berfungsi untuk
mencegah terminal blok tidak bergerak- gerak dan pengunci dipasang di
samping kiri dan kanan dari suatu susunan terminal.