Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL PENELITIAN

KAJIAN INTERVENSI PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL


BERISIKO HIV DALAM PENINGKATAN SELF-EFFICACY
PADA REMAJA

STUDY OF SEXUAL BEHAVIOR INTERVENTION PREVENTION OF HIV RISK IN


IMPROVED SELF-EFFICACY IN ADOLESCENT

Angga Wilandika
Program Studi Diploma III Keperawatan, STIKes Aisyiyah Bandung
Email: wiland.angga@gmail.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Perkembangan aktivitas seksual pada masa remaja menjadikan
paparan terhadap infeksi HIV semakin tinggi dan apabila tidak memiliki kemampuan
diri untuk mencegahnya maka akan menyebabkan resiko terjangkitnya infeksi HIV.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intervensi efikasi diri dalam
pencegahan perilaku seksual berisiko HIV pada remaja. Metode yang digunakan
adalah kajian literatur. Penelusuran database dilakukan melalui ProQuest Nusing and
Allied Health Source (Januari 2007 sampai Februari 2017), menggunakan kata kunci
pencarian self-efficacy, HIV/AIDS, intervention, program dan adolescents.
Selain itu, artikel yang dipilih dibatasi hanya pada penelitian yang menggunakan
metode randomized-controlled trial (RCT). Hasil: Kajian menemukan tiga penelitian
yang menggambarkan intervensi atau program yang meningkatkan efikasi diri dalam
pencegahan perilaku seksual berisiko HIV. Intervensi ditemukan menggunakan teknik
edukasi kesehatan atau promosi kesehatan dalam mencegah perilaku seksual
berisiko HIV pada remaja. Intervensi yang ditujukan pada remaja ini berdampak
terhadap keyakinan efikasi diri remaja. Pendidikan kesehatan yang dilakukan
berfokus pada tingkatan individu, keluarga, komunitas, dan masyarakat serta
penggunaan teknologi sebagai media pemberian edukasi kesehatan tersebut. Penulis
menyimpulkan bahwa intervensi untuk meningkatkan efikasi diri pencegahan harus
dilakukan secara proaktif dan berkelanjutan baik menggunakan pendekatan yang
berfokus kepada individu remaja sendiri ataupun melibatkan peran serta keluarga dan
masyarakat dan menggunakan teknologi komputer. Diskusi: Disarankan untuk
penelitian selanjutnya mengenai intervensi berbasis teknologi yang lebih luas dan
lebih dikenal oleh kalangan remaja untuk mengembangkan efikasi diri dalam
pencegahan perilaku berisiko HIV.

Kata kunci: pencegahan, perilaku seksual berisiko HIV, remaja dan self-efficacy

ABSTRACT
Introduction: The sexual activity development in an early adolescence makes this
age group to have higher exposure to the HIV infection. If this population has no
ability to resist then it will lead to the the risk of HIV cases. Methods: This study is a
literature review. ProQuest Nusing and Allied Health Source (January 2007
February 2017) were searched using keyword term self-efficacy, HIV/AIDS,
intervention, program and adolescents In addition, the chosen article was
restricted to studies using randomized-controlled trial (RCT). Paper that described an
intervenstions that promote a self-efficacy in the HIV sexual risk behavior in
adolescent were selected for review. Results: Three papers met the selection
criteria. The interventions were found using health education or health promotion JURNAL
approach in preventing HIV sexual risk behavior in adolescents. Interventions have
an impact to increase self-efficacy beliefs in adolescent. Health education was
focused on the individual, family, and community level, as well as the technology
SKOLASTIK
also used for the provision of health education. nInvestigator conclude that nurses KEPERAWATAN
should carried out the holistic nature of the dying experience and interventions Vol. 3, No.1
needed to promote a peaceful death and dignity dying for patients and their family. Januari - Juni 2017
Furthermore, interventions to improve self-efficacy of prevention should carried out
proactively and sustainably. Interventions can focus on individual adolescents ISSN: 2443 0935
themselves or involve the participation of families and communities and use E-ISSN: 2443 - 1699
computer technology. Discussion: Further research is to generate a technology-
1
Angga Wilandika

based interventions that is broader and more known by the youth to develop self-efficacy in the prevention of HIV risk
behavior.

Keywords: adolescents, HIV sexual risk behavior, prevention, and self-efficacy

PENDAHULUAN Aktivitas seksual dimulai pada masa remaja


untuk sebagian besar orang. Pada banyak
HIV/AIDS tidak mengenal batasan usia. negara, perempuan dan laki-laki yang belum
Semakin merebaknya infeksi HIV/AIDS tidak menikah melakukan hubungan seksual
saja menyerang mereka yang dikatakan sebelum usia mencapai 15 tahun. Remaja
sebagai orang dewasa, bahkan pula yang mulai berhubungan seksual dini lebih
menjangkit anak-anak dibawah umur dan rentan terhadap HIV. Remaja mengalami
remaja. Laporan UNAIDS (2014) perubahan baik fisik maupun emosional
menyebutkan bahwa hampir setengah dari yang kemudian tercermin dalam perilaku.
seluruh penderita HIV baru di dunia adalah Remaja mudah terpengaruh oleh informasi
orang muda dengan usia 19 24 tahun. baik informasi yang positif atau negatif,
Sementara itu, UNAIDS (2016) mencatat termasuk kegiatan yang mengarah kepada
bahwa remaja usia 15-24 tahun berisiko risiko untuk terkena infeksi HIV seperti
tinggi untuk terinfeksi HIV. Pada tahun 2015, pergaulan bebas dan hubungan seksual
secara global terhitung sebesar 20% terjadi dibawah umur (UNICEF, 2002).
infeksi baru pada remaja perempuan dan
14% terjadi pada remaja laki-laki. Bankole, Singh, Woog, and Wulf (2004),
mengatakan remaja yang melakukan
Masa remaja umumnya dianggap sebagai hubungan seksual berulang kali, dengan
masa mencoba sesuatu hal baru dan masa satu atau lebih pasangan atau berhubungan
dimana meningkatnya keterlibatan dalam seksual yang tidak aman tanpa
perilaku berisiko atau masalah perilaku, menggunakan pelindung akan
termasuk kegagalan sekolah dan kabur dari meningkatkan risiko munculnya penyakit
sekolah, kekerasan remaja, penggunaan menular seksual dan berisiko tinggi untuk
narkoba, dan perilaku seksual berisiko tinggi terinfeksi HIV. Lebih lanjut Blum and Nelson-
(Biglan, Brennan, Foster, & Holder, 2004). Mmari (2004); Gregson et al. (2002)
Meskipun sebagian besar remaja menjalani mengungkapkan bahwa remaja yang telah
tahap perkembangan ini relatif tanpa cedera, terinfeksi HIV memiliki kemungkinan sangat
perilaku berisiko untuk beberapa remaja tinggi untuk menularkan pada pasangannya
menjadi kronis, meningkatkan kemungkinan yang belum terinfeksi saat berhubungan
masalah pada beberapa hal seperti seksual. Hal ini menambah risiko yang
kesehatan fisik, harapan hidup, penyesuaian sangat tinggi pada kelompok remaja untuk
psikososial, dan keberhasilan transisi tertular HIV.
menuju kedewasaan (Lindberg, Boggess, &
Williams, 2000). Walaupun kelompok remaja ini sangat
berisiko untuk tertular HIV, akan tetapi
Banyaknya risiko yang dihadapi pada masa remaja sendiri merupakan sebuah jendela
remaja dapat menjadi masalah bagi mereka kesempatan untuk mewujudkan generasi
yang tidak dapat mengatasinya dengan baik. terbebas HIV/AIDS. Dengan demikian,
Kegagalan sekolah dapat menyebabkan diperlukan langkah-langkah atau strategi
pengangguran, kekerasan dapat termasuk penguatan terhadap aspek-aspek
menyebabkan perilaku kriminal, konsumsi yang akan melindungi remaja dari berbagai
narkoba dapat menyebabkan kecanduan kerentanan infeksi HIV sejak dini sebagai
dan masalah kesehatan, dan aktivitas upaya pencegahan (Komisi
seksual dapat menyebabkan penyakit Penanggulangan AIDS Nasional, 2015).
menular seksual seperti HIV.

2 | Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017


KAJIAN INTERVENSI PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO HIV DALAM PENINGKATAN SELF-EFFICACY PADA REMAJA

Upaya yang dapat dilakukan salah satunya METODE PENELITIAN


melalui penguatan self-efficacy dalam
Penelitian ini merupakan sebuah literature
pencegahan infeksi HIV/AIDS pada
review dari beberapa penelitian original
kelompok remaja. Lee, Salman, and
dengan metode randomized-controlled trial
Fitzpatrick (2009) yang meneliti mengenai
(RCT). Kajian ini bertujuan untuk
hubungan self-efficacy, gejala depresi dan
mengetahui manajemen pada remaja dalam
perilaku seksual berisiko pada remaja
mengembangkan self-efficacy dalam
menemukan bahwa self-efficacy
melakukan pencegahan HIV/AIDS.
pencegahan HIV/AIDS yang tinggi dapat
Pencarian literatur yang dipublikasikan
menurunkan perilaku seksual berisiko.
dilakukan secara sistematis untuk
Selain itu, remaja yang tidak merasakan
mengidentifikasi berbagai penelitian yang
depresi akan memiliki self-efficacy
melaporkan tentang protokol atau
pencegahan HIV/AIDS yang tinggi. Lebih
manajemen self-efficacy pencegahan
lanjut Givaudan, Van de Vijver, Poortinga,
HIV/AIDS pada kelompok remaja. Artikel
Leenen, and Pick (2007) menjelaskan
diperoleh dengan penelusuran dari
bahwa program untuk meningkatkan
ProQuest Nusing and Allied Health Source
pencegahan terhadap infeksi HIV/AIDS pada
(Januari 2007 sampai Februari 2017),
remaja dapat dilakukan melalui
menggunakan kata kunci pencarian self-
pengembangan self-efficacy. Dengan
efficacy, HIV/AIDS, intervention,
demikian, manajemen self-efficacy yang
program dan adolescents.
tepat dalam pencegahan HIV/AIDS pada
remaja dapat mengurangi risiko terjadinya HASIL
infeksi HIV/AIDS pada remaja tersebut.

Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017 3


Angga Wilandika

Gambar 1. Diagram alir dari proses penelusuran

Hasil penelusuran artikel melalui modul yaitu: Group Formation,


penelusuran ProQuest Nusing and Allied Understanding our Community, Health and
Health Source dengan kata kunci yang telah our Community, Making Assessments and
ditentukan sebanyak 281. Sebanyak 188 Taking Action in our Community and Inter-
artikel ditemukan dengan menerapkan Acting in our Community. Selain itu,
kriteria ekslusi dan berkurang lagi menjadi intervensi yang diberikan pada program ini
10 artikel melalui penerapan kriteria inklusi. yaitu melalui drama mengenai penyakit
Sebanyak 7 artikel direduksikan melalui HIV/AIDS. Program ini berfokus pada
pemilihan judul, abstrak dan tujuan karena perilaku sosial, sikap dan kendali emosional
tidak memenuhi kriteria yang ditentukan yang berdampak terhadap kesehatan mental
yaitu manajemen atau intevensi yang individu. Penilaian terhadap keberhasilan
dilakukan dapat dilakukan oleh remaja program ini dilakukan sebelum dan sesudah
dalam mengembangkan self-efficacy perlakukan melalui penilaian tingkat self-
pencegahan HIV/AIDS. Setelah skrining efficacy individu dan keluarga. Program
lebih lanjut melalui pemilihan metode tersebut juga diketahui dapat membangun
penelitian yaitu randomized-controlled trial tingkat kepercayaan, ekspresi dan kendali
(RCT), terpilih 3 artikel yang dilakukan emosional diri. Hasil penelitian menunjukkan
review. Gambar 1 menunjukkan diagram alir bahwa program melalui pendekatan promosi
dari proses penelusuran. kesehatan yang dilakukan secara sistematik
dan kolektif dapat mengembangkan self-
Kamo, Carlson, Brennan, and Earls (2008) efficacy remaja terhadap pencegahan
melakukan penelitian untuk perilaku seksual yang berisiko terhadap
mengembangkan program atau intervensi HIV/AIDS.
pencegahan epidemik HIV/AIDS. Penelitian
ini merupakan cluster randomized-contrlled Penelitian yang hampir sama dilakukan
trial (RCT) yang bertujuan mengembangkan DiClemente et al. (2009) terhadap 715
program Young Citizen, yaitu program remaja perempuan berusia 15 21 tahun
promosi kesehatan berfokus kepada remaja yang bertujuan untuk mengevaluasi efikasi
untuk meningkatkan self-efficacy melalui intervensi dalam menurunkan insiden
pendidikan publik dan komunitas. Penelitian penyakit menular seksual dan HIV melalui
ini dilakukan pada 15 komunitas masyarakat perilaku pencegahan dan mediator
di Distrik Moshi, Kilimanjaro, Tanzania. psikososial. Penelitian randomized
dimana rata-rata jumlah penduduk yang controlled trial ini dilakukan di klinik
terlibat sebanyak 2000-4000 orang, yang kesehatan Atlanta, Georgia, Amerika
secara acak dialokasikan menjadi kelompok Serikat. Penelitian ini menggunakan
perlakukan dan kelompok kontrol. Dalam pendekatan kualitatif dan tes lapangan.
setiap kelompok komunitas, 24 orang remaja Intervensi dikenal dengan nama HORIZONS
berusia 10 14 tahun terpilih mengikuti yang terdiri dari tiga komponen yaitu (1) sesi
program yang dilaksanakan selama 28 pemberian edukasi oleh edukator terlatih
minggu. Penelitian terhadap program yang mengenai pencegahan penyakit menular
dilaksanakan ini akan membangun seksual dan HIV yang dilakukan selama 4
pemahaman dan keyakinan terkait dasar jam untuk setiap kelompok; (2) menyediakan
ilmiah dan konteks sosial dari infeksi HIV, tes pelayanan gratis pemeriksaan laboratorium
dan pengobatan di komunitas mereka. untuk mengetahui kemungkinan infeksi
menular seksul bagi pasangan laki-laki dari
Program Young Citizen (YC) merupakan remaja yang mengikuti penelitian; (3)
intervensi tingkat individu dan komunitas. menghubungi setiap remaja secara singkat
Kurikulum dalam program ini terdiri atas lima

4 | Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017


KAJIAN INTERVENSI PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO HIV DALAM PENINGKATAN SELF-EFFICACY PADA REMAJA

(15 menit) melalui telepon sebanyak 4 kali petujuk atau manual yang memudahkan
untuk melakukan dorongan dalam pelaksanaan program ini.
pencegahan perilaku seksual berisiko. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa remaja Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perempuan yang mengikuti program prevalensi penundaan hubungan seksual
memiliki self-efficacy yang lebih tinggi dan penggunaan kondom yang diamati
terhadap pencegahan perilaku berisiko HIV antara remaja laki-laki yang ayahnya
dan penyakit menular seksual lainnya dan berpartisipasi dalam intervensi lebih tinggi.
kejadian infeksi clamydial lebih sedit terjadi Ayah pada kelompok intervensi melaporkan
pada kelompok perlakuan dibandingkan secara signifikan bahwa intensitas diskusi
kelompok kontrol. yang lebih lanjut tentang seksualitas dan
keinginan untuk membahas seksualitas lebih
Penelitian DiIorio, McCarty, Resnicow, Lehr, besar dari pada ayah pada kelompok kontrol.
and Denzmore (2007) bertujuan untuk Hal ini menunjukkan bahwa peran ayah
mempengaruhi perilaku remaja laki-laki dalam meningkatkan self-efficacy pada
salah satunya self-efficacy melalui intervensi remaja dalam pencegahan perilaku berisiko
pencegahan HIV. Penelitian ini HIV sangat penting. Ayah dapat berfungsi
menggunakan metode group-randomized sebagai pendidik penting pada pencegahan
trial terhadap kelompok perlakuan dan HIV dan seksualitas untuk anak-anak
kelompok kontrol. Intervensi dilakukan mereka.
selama 12 bulan dengan pengkajian atau
follow-up wawancara diberkan pada bulan PEMBAHASAN
ke-3, ke-6 dan ke-12. Sejumlah 277 ayah Infeksi HIV/AIDS sangat erat kaitannya
dan anak laki-lakinya diikutsertakan dalam dengan perilaku seksual berisiko. Sama
penelitian ini. Intervensi yang dilakukan seperti Saewyc et al. (2006), yang
disebut The REAL Men Program yang menemukan bahwa remaja baik laki-laki
merupakan singkatan dari Responsible, maupun perempuan memiliki kerentanan
Empowered, Aware, Living. Program ini untuk terinfeksi HIV karena kecenderungan
didasarkan pada social cognitive theory yang tinggi untuk terlibat pada perilaku seksual
bertujuan mempengaruhi perilaku seksual berisiko. Oleh karena itu diperlukan
dengan pendekatan faktor personal, intervensi yang dapat mencegah terjadinya
lingkungan dan sikap. Faktor personal risiko HIV/AIDS ini. Dalam rangka
termasuk self-efficacy, hasil akhir yang mendorong inisiasi program yang dapat
diharapkan dan tujuan kinerja, sedangkan mengurangi perilaku seksual berisiko HIV
faktor lingkungan termasuk dorongan dan pada remaja, diperlukan pemahaman
dukungan diri orang lain. multidimensional yang dapat mempengaruhi
keinginan dan kinerja suatu perilaku (Jones,
Program The Real Men, melibatkan ayah
Thomas-Purcell, Lewis-Harris, & Richards,
sebagai sumber informasi dan komunikasi
2016).
bagi remaja. Topik yang menjadi fokus pada
Berbagai penelitian telah mengungkapkan
program ini tentang monitoring orang tua dan
bahwa faktor penentu dan konsekuensi dari
hubungan dengan teman sebaya,
perilaku seksual pada kalangan remaja
seksualitas pada masa remaja, serta
sebagian besar terkait dengan self-efficacy,
penyebaran dan pencegahan HIV/AIDS.
ide-ide normatif, dan keluarga, serta
Program ini dilaksanakan dengan
pengaruh teman sebaya. Hasil kajian
memeperhatikan sikap perilaku dan latihan
menemukan bahwa intervensi untuk
dalam bersikap melalui role play, diskusi,
meningkatkan self-efficacy remaja pada
permainan dan rekaman. Intervensi
pencegahan perilaku seksual berisiko HIV
dilaksanakan selama 2 jam dalam satu
dapat dilakukan melalui pendekatan
minggu. Setiap partisipan diberikan buku
berbasis individu, keluarga, masyarakat dan

Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017 5


Angga Wilandika

media teknologi, seperti yang digambarkan


pada Gambar 2.

Gambar 2. Pendekatan Intervensi Self-Efficacy Pencegahan Perilaku Seksual Berisiko HIV


Self-efficacy dapat diartikan sebagai Program promosi kesehatan yang
persepsi pribadi dari seseorang untuk dikembangkan oleh Kamo et al. (2008)
meyakini kemampuan dirinya dalam menggunakan pendekatan promosi
melakukan perilaku yang diyakini akan kesehatan dengan tujuan untuk
mendapat hasil yang sukses (Luszczynska, meningkatkan self-efficacy remaja melalui
GutirrezDoa, & Schwarzer, 2005). pendidikan kesehatan dalam lingkup
Pencegahan terhadap infeksi HIV/AIDS perorangan dan komunitas. Program ini
pada kalangan remaja dapat dilakukan berfokus kepada perubahan perilaku sosial,
dengan mengembangkan berbagai program sikap dan kendali emosional. Selain itu,
atau intervensi melalui penguatan self- struktur pendidikan yang terdapat pada
efficacy remaja dalam mencegah perilaku program ini memungkinkan remaja untuk
seksual berisiko. mendapatkan pengetahuan ilmiah,
Pencegahan perilaku seksual yang berisiko kemampuan komunikasi dan keterampilan
terjadi infeksi HIV/AIDS pada remaja dapat berpikir kritis dalam menghadapi
dilakukan melalui program promosi permasalahan HIV/AIDS yang terjadi
kesehatan. Promosi kesehatan yang disekitarnya.
dikembangkan berfokus untuk Di samping itu, program yang dikenal
mengembangkan tingkat kepercayaan diri dengan nama Young Citizen ini juga
remaja terutama membangun self-efficacy berdampak terhadap collective-efficacy
atau keyakinan akan kemampuan diri agar pada tingkatan komunitas yang lebih luas.
berhasil melakukan tindakan pencegahan Promosi kesehatan yang lebih luas diberikan
perilaku seksual berisiko HIV. Promosi kepada masyarakat sekitar baik melalui
kesehatan juga berkaitan dengan berbagai cara penyampaian seperti diskusi
kemampuan komunikasi yang efektif. Sama dan drama memberikan pengaruh terhadap
seperti yang diungkapkan Obregon and norma sosial dan ekpektasi masyarakat
Airhihenbuwa (2000) bahwa strategi tentang HIV/AIDS (Carlson, Brennan, &
komunikasi efektif merupakan komponen Earls, 2012). Intervensi berbasis drama yang
kritis dalam upaya global pencegahan dan diberikan pada program ini juga secara
pendidikan HIV/AIDS. signifikan dapat meningkatkan keinginan

6 | Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017


KAJIAN INTERVENSI PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO HIV DALAM PENINGKATAN SELF-EFFICACY PADA REMAJA

untuk melakukan VCT HIV/AIDS pada orang Sebaliknya, remaja juga memiliki
dewasa (Middelkoop, Myer, Smit, Wood, & kesempatan yang sama untuk berdiskusi
Bekker, 2006). Collective-efficacy dan berbincang dengan ayahnya terkait
masyarakat juga membantu memecahkan masalah seksualitas yang dialaminya. Di
salah satu permasalahan disekitar orang samping itu, keterlibatan ayah dalam
dengan HIV/AIDS (ODHA) yaitu intervensi pencegahan perilaku seksual
berkurangnya stigma negatif pada ODHA. berisiko HIV pada remaja juga mampu
Selain itu, program yang melibatkan meningkatkan kemampuan self-efficacy
keikutsertaan masyarakat akan membantu remaja dalam upaya pencegahan (DiIorio et
dalam melakukan pengawasan terhadap al., 2007).
tindakan atau perilaku seksual berisiko HIV Peran orang tua dalam pencegahan
yang mungkin akan dilakukan oleh remaja di HIV/AIDS sangat penting terutama bagi
lingkungan masyarakat tersebut (Carlson et anaknya yang masih usia remaja. Pada
al., 2012). kebanyakan kasus, peran orang tua dalam
Self-efficacy dan kemampuan komunikasi hal ini sangat kecil. Orang tua kadang kurang
yang baik berhubungan dengan peka terhadap informasi kesehatan seksual
kemungkinan remaja untuk terlibat dalam yang bermanfaat untuk disampaikan kepada
perilaku seksual berisiko HIV. Hal ini sangat anaknya dan bahkan gagal menyampaikan
penting karena terkait dengan meningkatnya informasi sensitif terkait perilaku seksual dan
kebutuhan promosi kesehatan bagi remaja HIV/AIDS. Orang tua baik ayah bagi aank
dan memastikan bahwa pengetahuan laki-lakinya ataupun ibu bagi anak
kesehatan seksual dan reprodiksi serta perempuannya merupakan sumber
informasi mengenai penyakit HIV/AIDS, informasi pendidikan kesehatan seksual dan
penularan dan pencegahannya harus reproduksi yang paling efektif dan paling
diterima oleh remaja. dekat.
Pendekatan yang hampir sama dilakukan Berbeda dengan DiClemente et al. (2009)
oleh DiIorio et al. (2007) dalam upaya dimana pendekatan promosi kesehatan
pencegahan perilaku seksual berisiko HIV untuk meningkatkan self-efficacy
pada remaja. Penelitian dengan metode pencegahan perilaku seksual berisiko HIV
randomized-controlled trial ini menggunakan dilakukan dengan menggunakan media
pendekatan melalui pemberian edukasi teknologi. Peningkatan self-efficacy pada
kesehatan dalam mencegah penyakit remaja untuk menghindari perilaku seksual
menular seksual dan HIV pada kelompok berisiko HIV dilakukan dengan beberapa
remaja. Namun sedikit berbeda, intervensi cara, mulai dari pemberian informasi oleh
yang diberikan kepada remaja ini tidak edukator terlatih secara tatap muka sebagai
hanya melibatkan individu remaja sendiri tahap awal. Selanjutnya dilakukan melalui
tetapi mengikutsertakan peran ayah sebagai media teknologi komunikasi seperti telepon
sumber informasi dan komunikasi bagi untuk memberikan dorongan kepada remaja
remaja. agar selalu berpegang teguh pada
Program yang digagas dengan nama REAL keyakinannya untuk tidak melakukan
Men atau singkatan dari responsible, perilaku seksual berisiko yang mengarah
empowered, aware, living, merupakan kepada infeksi HIV.
program yang bertujuan untuk meningkatkan Promosi kesehatan untuk mengingatkan
self-efficacy remaja untuk menunda remaja mengenai pencegahan perilaku
keinginan hubungan seksual dini pada seksual berisiko HIV melalui penggunaan
remaja dan kemampuan komunikasi teknologi menjadi salah satu intervensi
mengenai seksualitas antara ayah dan anak. pencegahan infeksi HIV pada remaja karena
Program ini juga mendorong ayah untuk sangat sesuai dengan perkembangan
mampu berkomunikasi terbuka dalam teknologi saat ini. Pemberian informasi
mendikusikan mengenai informasi spesifik melalui telepon atau bahkan telepon seluler
HIV/AIDS, penularan dan pencegahannya. dengan memanfaatkan fasilitas internet lebih

Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017 7


Angga Wilandika

mudah dilaksanakan bahkan oleh orang tua


atau suatu komunitas tertentu. Intervensi DAFTAR PUSTAKA
melalui penggunaan teknologi komputer
Bankole, Akinrinola, Singh, Susheela, Woog,
relatif mudah untuk dilakukan secara
berkelanjutan oleh siapa pun selama Vanessa, & Wulf, Deirdre. (2004).
memiliki kemampuan menggunakan Risk and protection: youth and
teknologi tersebut. HIV/AIDS in sub-Saharan Africa.
Lightfoot, Comulada, and Stover (2007) Biglan, Anthony, Brennan, Patricia A.,
mengatakan remaja yang berpartisipasi Foster, Sharon L., & Holder, Harold
dalam intervensi berbasis komputer secara D. (2004). Helping Adolescents at
signifikan lebih sedikit terlibat dalam aktivitas
Risk: Prevention of Multiple Problem
seksual. Penggunaan teknologi komunikasi
dan berbasis komputer dapat membantu Behaviors: Guilford Press.
remaja mempelajari kemampuan mencegah Blum, Robert W, & Nelson-Mmari, Kristin.
infeksi HIV dan mengembangkan self- (2004). The health of young people in
efficacy remaja untuk mengimplementasikan a global context. Journal of
keterampilan ini. Selain itu, bagi remaja Adolescent Health, 35(5), 402-418.
teknologi komputer merupakan teknologi
Carlson, Mary, Brennan, Robert T, & Earls,
yang mudah untuk diakses dan digunakan.
Informasi yang diperoleh melalui teknologi Felton. (2012). Enhancing
komputer pun mudah untuk diperoleh. adolescent self-efficacy and
collective efficacy through public
KESIMPULAN engagement around HIV/AIDS
Self-efficacy pencegahan perilaku seksual competence: a multilevel, cluster
berisiko HIV pada remaja merupaka randomized-controlled trial. Social
kemampuan diri remaja untuk yakin dapat science & medicine, 75(6), 1078-
dan berhasil melakukan tindakan 1087.
pencegahan terhadap berbagai DiClemente, Ralph J, Wingood, Gina M,
kemungkinan perilaku seksual yang berisiko
Rose, Eve S, Sales, Jessica M, Lang,
terjangkitnya infkesi HIV. self-efficacy ini
dapat dikembangkan melalui berbagai cara Delia L, Caliendo, Angela M, . . .
dan program terutama melalui pendidikan Crosby, Richard A. (2009). Efficacy
kesehatan. Intervensi promosi kesehatan of sexually transmitted
untuk mengembangkan Self-efficacy disease/human immunodeficiency
pencegahan perilaku seksual berisiko HIV ini virus sexual riskreduction
dapat dilakukan melalui pendekatan secara intervention for African American
individu, keluarga, masyarakat dan melalui
adolescent females seeking sexual
penggunaan teknologi komputer. Intervensi
yang digunakan melalui bebagai ini health services: A randomized
memberikan kesempatan besar agar remaja controlled trial. Archives of Pediatrics
mampu memiliki self-efficacy yang tinggi & Adolescent Medicine, 163(12),
terhadap pencegahan perilaku seksual 1112-1121.
berisiko HIV sehingga generasi remaja ini DiIorio, Colleen, McCarty, Frances,
akan terbebas dari infeksi HIV/AIDS. Adapun Resnicow, Ken, Lehr, Sally, &
saran untuk penelitian selanjutnya yaitu
Denzmore, Pamela. (2007). REAL
mengenai mengenai intervensi berbasis
teknologi yang lebih luas dan lebih dikenal men: A group-randomized trial of an
oleh kalangan remaja untuk HIV prevention intervention for
mengembangkan efikasi diri dalam adolescent boys. American Journal
pencegahan perilaku berisiko HIV. of Public Health, 97(6), 1084-1089.

8 | Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017


KAJIAN INTERVENSI PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO HIV DALAM PENINGKATAN SELF-EFFICACY PADA REMAJA

Givaudan, Martha, Van de Vijver, Fons JR, survey. International journal of


Poortinga, Ype H, Leenen, Iwin, & nursing studies, 46(5), 653-660.
Pick, Susan. (2007). Effects of a Lightfoot, Marguerita, Comulada, W. Scott, &
SchoolBased Life Skills and HIV Stover, Gabriel. (2007).
Prevention Program for Adolescents Computerized HIV Preventive
in Mexican High Schools1. Journal of Intervention for Adolescents:
Applied Social Psychology, 37(6), Indications of Efficacy. American
1141-1162. Journal of Public Health, 97(6), 1027-
Gregson, Simon, Nyamukapa, Constance A, 1030.
Garnett, Geoffrey P, Mason, Peter R, Lindberg, Laura Duberstein, Boggess, Scott,
Zhuwau, Tom, Caral, Michel, . . . & Williams, Sean. (2000). Multiple
Anderson, Roy M. (2002). Sexual Threats: The Co-Occurrence of Teen
mixing patterns and sex-differentials Health Risk Behaviors.
in teenage exposure to HIV infection Luszczynska, Aleksandra, GutirrezDoa,
in rural Zimbabwe. The Lancet, Benicio, & Schwarzer, Ralf. (2005).
359(9321), 1896-1903. General selfefficacy in various
Jones, Desiree M. P. H., Thomas-Purcell, domains of human functioning:
Kamilah B. PhD M. P. H. Ches, Evidence from five countries.
Lewis-Harris, Jacquelyn PhD, & International Journal of Psychology,
Richards, Christine M. P. H. PhD. 40(2), 80-89.
(2016). Correlation between self- Middelkoop, Keren, Myer, Landon, Smit,
efficacy in sexual negotiation and Joalida, Wood, Robin, & Bekker,
engagement in risky sexual Linda-Gail. (2006). Design and
behaviors: Pilot study of adolescents evaluation of a drama-based
attending a secondary school in intervention to promote voluntary
Grenada, West Indies. International counseling and HIV testing in a South
Public Health Journal, 8(3), 397-405. African community. Sexually
Kamo, Norifumi B. A., Carlson, Mary PhD M. transmitted diseases, 33(8), 524-526.
P. A., Brennan, Robert T. EdD, & Obregon, Rafael, & Airhihenbuwa, Collins O.
Earls, Felton M. D. (2008). Young (2000). A critical assessment of
Citizens as Health Agents: Use of theories/models used in health
Drama in Promoting Community communication for HIV/AIDS. Journal
Efficacy for HIV/AIDS. American of health communication, 5(sup1), 5-
Journal of Public Health, 98(2), 201- 15.
204. Saewyc, Elizabeth, Skay, Carol, Richens,
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Kimberly, Reis, Elizabeth, Poon,
(2015). Laporan Kegiatan KPAN Colleen, & Murphy, Aileen. (2006).
2014. Komisi Penanggulangan AIDS Sexual orientation, sexual abuse,
Nasional (KPAN). and HIV-risk behaviors among
Lee, Yi-Hui, Salman, Ali, & Fitzpatrick, Joyce adolescents in the Pacific Northwest.
J. (2009). HIV/AIDS preventive self- American journal of public health,
efficacy, depressive symptoms, and 96(6), 1104-1110.
risky sexual behavior in adolescents: UNAIDS. (2014). Global report: UNAIDS
A cross-sectional questionnaire report on the global AIDS epidemic

Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017 9


Angga Wilandika

2013. Joint United Nations UNICEF. (2002). Young people and


Programme on HIV/AIDS Geneva. HIV/AIDS: Opportunity in crisis:
UNAIDS. (2016). Global AIDS Update 2016. United Nations Childrens Fund, Joint
The Joint United Nations Programme United Nations Programme on
on HIV/AIDS, Geneva. HIV/AIDS and World Health
Organization.

10 | Jurnal Skolastik Keperawatan Vol.3, No. 1 Jan Jun 2017