Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gizi sangat dibutuhkan bagi usia lanjut untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Bagi
lanjut usia yang mengalami gangguan gizi diperlukan untuk penyembuhan dan mencegah
agar tidak terjadi komplikasi pada penyakit yang dideritanya.Gizi merupakan unsur
penting bagi kesehatan tubuh dan gizi yang baik (Darmojo, 2011).
Kurangnya pengetahuan mengenai gizi lanjut usiadan cara pengolahannya yang baik
bagi lanjut usia adalah faktor yang mempengaruhi status gizi lanjut usia,penyakait-
penyakit kronis yang diderita lanjut usia, pengaruh psikologis, kesalahan pola makan serta
kurangnya faktor ekonomi/ketebatasan ekonomi keluarga juga menyebabkan kurangnya
gizi pada lanjut usia. Keadaan sosial ekonomi keluarga seperti pendapatan, pekerjaan,
pendidikan keluarga juga mempengaruhi status gizi lanjut usia. 3 Keluarga yang
berpendapatan terbatas akan membelanjakan uangnya untuk makan secukupnya tanpa
mempedulikan gizi lanjut usia, mereka sekedar membeli makanan untuk mengenyangkan
perutnya saja (Darmojo,2011).

B. Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui definisi lansia.
2. Agar mahasiswa mengetahui karakteristik kesehatan lansia
3. Agar mahasiswa mengetahui status gizi pada lansia
4. Agar mahasiswa mengetahui perubahan fisiologis yang mempengaruhi gizi lansia
5. Agar mahasiswa mengetahui masalah gizi yang ada pada lansia

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gizi pada Lansia (Menopause)


1. Definisi Lanjut Usia
Pengertian lanjut usia adalah seseoramg yang telah memasuki usia 60 ke atas.
Proses penuaan adalah siklus kehidupanyang di tandai dengan tahapan-tahapan
menurunnya berbagai fungsi organ tubuh yang di tandai dengan semakin rentanya
tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian
misalnya penyakit kardiovaskuler, hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia
sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta system organ.
Perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduran kesehatan fisik dan
psikis yang pada akirnya berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara
umum akan berpengaruh pada activity of daily living (Fatmah, 2010).
Menurut WHO Iansia dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu :
a. Usia pertengahan (45-59 tahun)
b. Lanjut usia (60 -74 tahun)
c. Lansia tua (75 90 tahun)
d. Usia sangat to (> 90 tahun)
Menurut Kementrian Kesehatan RI, lanjut usia dikelompokkan menjadi :
a. Pra lanjut usia (45-59 tahun)
b. Lanjut usia (6 0-69 tahun)
c. Lanjut usia risiko tinggi (70 tahun atau usia 60 tahun dengan masalah
kesehatan)

2. Proses Menua
Proses pertumbu an dan perkembangan manusia berlangsung sepanjang masa,
sejak dari j nin, bayi, balita, remaja, dewasa hingga masa tua. Proses menua
berlangsung secara alamiah, terus menerus dan berkesinambungan. Pada akhirnya
akan menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi dan biokimia pada jaringan tubuh
sehingga mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan

2
Proses menua sangat individual dan berbeda perkembangannya pada tiap
individu, karena di engaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal yang
mempengaruhi proses menua adalah asupan makanan, pendidikan, social budaya,
penyakit infeksi/degeneratif, higiene sanitasi lingkungan, ekonomi dan dukungan
keluarga . Faktor eksternal lain yaitu kemunduran psikologis seperti sindroma lepas ja
atan, perasaan sedih dan sendiri, perubahan status social sangat mempeng uhi proses
menua pada seseorang.
Asupan makanan sangat mempengaruhi proses menua karena seluruh aktivitas
sel atau metaboli me dalam tubuh memerlukan zat-zat gizi yang cukup. Sementara itu
per bahan biologis pada lanjut usia merupakan faktor internal yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi status gizi.

Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

3. Karakteristik Kesehatan Lanjut Usia


Kesehatan lansia dipengaruhi proses menua. Proses menua didefenisikan sebagai
perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif, dan detrimental.
Keadaan ini menyebabkan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan
kemampuan bertahan hidup berkurang. Proses menua setiap individu dan setiap organ

3
tubuh berbeda, hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan, dan penyakit
degeneratif (Setiati,2000)
Proses menua dan perubahan fisiologis pada lansia mengakibatkan beberapa
kemunduran dan kelemahan, serta implikasi klinik berupa penyakit kronik dan infeksi.
Hal ini digambarkan pada Tabel 1.

NO KEMUNDURAN DAN KELEMAHAN LANSIA

1 Pergerakan dan kestabilan terganggu


2 Intelektual terganggu
3 Isolasi diri (depresi)
4 Inkontinensia
5 Defisiensi imunologis
6 Infeksi, konstipasi, dan malnutrisi
7 Iatrogenesis dan insomnia
8 Kemunduran penglihatan, pendengaran, pengecapan
pembauan, komunikasi dan integritas kulit
9 Kemunduran proses penyembuhan

Sumber: Masalah kesehatan pada golongan lanjut usia, oleh R.Boedhi Darmodjo
(Arisman, 2004)

4. Status Gizi pada Lansia


Definisi gizi lansia menurut Krinke (2000) ialah sari makanan atau makanan yang
mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk menunjang gizi lansia. Pada lansia fungsi
indra penciuman dan perasa menurun sehingga menyebabkan makanan dengan rasa
asin yang cukup pun sering terasa kurang bagi mereka akibatnya sering kali terjadi
hipertensi pada lansia. Penuaan yang terjadi juga menyebabkan keterbatasan pada
lansia untuk mencerna makanan karenanya kita harus memperhatikan cara pengolahan
makanan untuk lansia.
Status gizi merupakan keseimbangan antara asuapan zat gizi dan kebutuhan akan
zat gizi tersebut. Status gizi juga didefenisikan sebagai keadaan kesehatan seseorang
sebagai refleksi konsumsi pangan serta penggunaannya oleh tubuh (Supariasa, Bakri,
& Fajar, 2002

4
Status Gizi pada lanjut usia dipengaruhi oleh berbagai hal. Perubahan fisiologis,
komposisi tubuh, asupan nutrisi dan keadaan ekonomi merupakan hal-hal yang dapat
memicu terjadinya berbagai masalah gizi pada lanjut usia (Potter&Pierry, 2005).

5. Perubahan Fisiologis yang Mempengaruhi Status Gizi pada Lanjut Usia


Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadinya
penurunan anatomik dan fungsional atas organ tubuhnya makin besar. Peneliti Andres
dan Tobin (dalam Kane, Ouslander, & Brass, 2004) menjelaskan bahwa fungsi organ-
organ akan menurun sebanyak satu persen setiap tahunnya setelah usia 30 tahun.
Penurunan fungsional dari organ-organ tersebut akan menyebabkan lebih mudah
timbulnya masalah kesehatan pada lanjut usia. Masalah gizi yang seringkali terjadi
pada lanjut usia juga dipengaruhi oleh sejumlah perubahan fisiologis (Darmojo,2010).
Adapun perubahan fisiologis tersebut sebagai berikut
a. Komposisi Tubuh
Komposisi tubuh dapat memberikan indikasi status gizi dan tingkat
kebugaran jasmani seseorang. Pada abad ke-19 ditemukan berbagai senyawa
kimiawi yang ternyata ada pula pada jaringan dan cairan tubuh (Darmojo,2010).
Akibat penuaan pada lansia massa otot berkurang sedangkan massa lemak
bertambah. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3%,
sedangakan sebanyak 2% massa lemak bertambah dari berat badan perdekade
setelah usia 30 tahun. Jumlah cairan tubuh berkurang dari sekitar 60% berat badan
pada orang muda menjadi 45% dari berat badan wanita usia lanjut.(Kawas &
Brookmeyer, 2001; Arisman,2004 )
Penurunan massa otot akan mengakibatkan penurunan kebutuhan energi
yang terlihat pada lansia. Keseimbangan energi pada lansia lebih lanjut
dipengaruhi oleh aktifitas fisik yang menurun. Pemahaman akan hubungan
berbagai keadaan tersebut penting dalam membantu lansia mengelola berat badan
mereka (Darmojo,2010).
b. Gigi dan Mulut
Gigi merupakan unsur penting untuk pencapaian derajat kesehatan dan gizi
yang baik. Perubahan fisiologis yang terjadi pada jaringan keras gigi sesuai
perubahan pada gingiva anak-anak. Setelah gigi erupsi, morfologi gigi berubah
karena pemakaian atau aberasi dan kemudian tanggal digantikan gigi permanen.

5
Pada usia lanjut gigi permanen menjadi kering, lebih rapuh, berwarna lebih gelap,
dan bahkan sebagin gigi telah tanggal (Arisman,2004)
Dengan hilangnya gigi geligi akan mengganggu hubungan oklusi gigi atas
dan bawah dan akan mengakibatkan daya kunyah menurun yang semula
maksimal dapat mencapai 300 poinds per square inch dapat mencapai 50 pound
per square inch. Selain itu, terjadinya atropi gingiva dan procesus alveolaris yang
menyebabkan akar gigi terbuka dan sering menimbulkan rasa sakit semakin
memperparah penurunan daya kunyah. Pada lansia saluran pencernaan tidak
dapat mengimbangi ketidaksempurnaan fungsi kunyah sehingga akan
mempengaruhi kesehatan umum (Darmojo,2010).
c. Indera Pengecap dan Pencium
Dengan bertambahnya umur, kemampuan mengecap, mencerna, dan
mematobolisme makanan berubah. Penurunan indera pengecap dan pencium
pada lansia menyebabkan sebagian besar kelompok umur ini tidak dapat lagi
menikmati aroma dan rasa makanan.
Gangguan rasa pengecap pada proses penuaan terjadi karena pertambahan
umur berkorelasi negatif dengan jumlah taste buds atau tunas pengecap pada
lidah. Cherie Long (1986) dan Ruslijanto (1996) dalam Darmojo (2010)
menyatakan 80% tunas pengecap hilang pada usia 80 tahun. Wanita pasca
monopause cenderung berkurang kemampuan merasakan manis dan asin keadaan
ini dapat menyebabkan lansia kurang menikmati makanan dan mengalami
pemurunan nafsu makan dan asupan makanan.Gangguan rasa pengecap juga
merupakan manifestasi penyakit sistemik pada lansia disebabkan kandidiasis
mulut dan defisiensi nutrisi terutama defisiensi seng (Seymour,2006).
d. Gastrointestinal
Motilitas lambung dan pengosongan lambung menurun seiring dengan
meningkatnya usia. Lapisan lambung lansia menipis. Di atas usia 60 tahun,
sekresi HCL dan pepsin berkurang. Akibatnya penyerapan vitamin dan zat besi
berkurang sehingga berpengaruh pada kejadian osteoporosis dan osteomalasia
pada lansia.
Esofagus terutama berfungsi untuk menyalurkan makan dari faring ke
lambung, dan gerakannya diatur secara khusus untuk fungsi tersebut (Guyton &
Hall, 2004). Pada manusia lanjut usia, reseptor pada esofagus kurang sensitif
dengan adanya makanan. Hal ini menyebabkan kemampuan peristaltik esofagus

6
mendorong makanan ke lambung menurun sehingga pengosongan esofagus
terlambat (Darmojo,2010)
Berat total usus halus (di atas usia 40 tahun) berkurang, namun penyerapan
zat gizi pada umumnya masih dalam batas normal, kecuali kalsium dan zat besi
(di atas usia 60 tahun). Di usus halus juga ditemukan adanya kolonisasi bakteri
pada lansia dengan gastritis atrofi yang dapat menghambat penyerapan vitamin
B. Selain itu, motilititas usus halus dan usus besar terganggu sehingga
menyebabkan konstipasi sering terjadi pada lansia (Setiati,2000)
e. Hematologi
Berbagai kelainan hematologi dapat terjadi pada usia lanjut sebagai akibat
dari proses menua pada sistem hematopoetik. Berdasarkan pengamatan klinik dan
laboratorik, didapatkan bukti bahwa pada batas umur tertentu, sumsum tulang
mengalami involusi, sehingga cadangan sumsum tulang pada usia lanjut
menurun. Beberapa variabel dalam pemeriksaan darah lengkap (full blood count)
seperti kadar hemoglobin, indeks sel darah merah (MCV,MCH,MCHC), hitung
leukosit,trombosit menunjukkan perubahan yang berhubungan dengan umur.
Anemia kekurangan zat besi adalah salah satu bentuk kelainan hematologi
yang sering dialami pada lansia . Penyebab utama anemia kekurangan zat besi
pada usia lanjut adalah karena kehilangan darah yang terutama berasal dari
perdarahan kronik sistem gastrointestinal akibat berbagai masalah pencernaan
(Darmojo,2010).
Berikut tabel kondisi lanjut usia yang dapat mempengaruhi status gizi.

7
Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

6. Kebutuhan Gizi Pada Lansia


Kebutuhan gizi pada lanjut usia spesifik, karena terjadinya perubahan proses dan
psikososial sebagai akibat proses menua. Kebutuhan gizi lanjut usia sangat
dipengaruhi oleh faktor :
a. Umur
Pada lanjut usia kebutuhan energi clan lemak menurun. Setelah usia 50 tahun,
kebutuhan energi berkurang sebesar 5% untuk setiap 10 tahun. Kebutuhan protein,
vitamin clan mineral tetap yang berfungsi sebagai regenerasi sel clan antioksidan
untuk melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas yang dapat merusak sel.
b. Jenis kelamin
Umumnya laki-laki memerlukan zat gizi lebih banyak (terutama energi, protein dan
lemak) dibandingkan pada wanita, karena postur, otot dan luas permukaan tubuh
laki-laki lebih luas dari wanita. Namun kebutuhan zat besi (Fe) pada wanita
cenderung lebih tinggi, karena wanita mengalami menstruasi. Pada wanita yang
sudah menopause kebutuhan zat besi (Fe) turun kembali.

8
c. Aktivitas fisik dan pekerjaan
Lanjut usia mengalami penurunan kemampuan fisik yang berdampak pada
berurangnya ktivitas fisik sehingga kebutuhan energinya juga berkurang.
Kecukupan zat gizi seseorang juga sangat tergantung dari pekerjaan seharihari :
ringan, dang, berat. Makin berat pekerjaaan seseorang makin besar zat gizi yang
ibutuhkan. Lanjut usia dengan pekerjaaan fisik yang berat memerlukan at gizi yang
lebih banyak.
d. Postur tubuh
Postur tubuh ang lebih besar memerlukan energi lebih banyak dibandingkan postur
tubuh yang lebih kecil.
e. Iklim/suhu udara
Orang yang tinggal di daerah bersuhu dingin (pegunungan) memerlukan zat gizi
lebih untuk mempertahankan suhu tubuhnya.
f. Kondisi kesehatan (stress fisik dan psikososial)
Kebutuhan gizi setiap individu tidak selalu tetap, tetapi bervariasi sesuai dengan
kondisi kesehatan seseorang pada waktu tertentu. Stress fisik dan stressor psikosial
yang kerap terjadi pada lanjut usia juga mempengaruhi kebutuhan gizi. Pada lanjut
usia masa rehabilitasi sesudah sakit memerlukan penyesuaian kebutuhan gizi.
g. Lingkungan.
Lanjut usia yang sering terpapar di lingkungan yang rawan polusi (pabrik, industri,
dll) perlu mendapat suplemen tambahan yang mengandung protein, vitamin dan
mineral untuk melindungi sel-sel tubuh dari efek radiasi. Pada prinsipnya butuhan
gizi pada lanjut usia mengikuti prinsip gizi seimbang. Konsumsi makanan yang
cukup dan seimbang bermanfaat bagi lanjut usia untuk mencegah atau mengurangi
risiko penyakit degeneratif dan kekurangan gizi. Kebutuhan gizi lanjut usia
dihitung secara individu.

7. Pesan Gizi Seimbang Pada Lanjut Usia


Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan
prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau
berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk
mencegah masalah gizi.
Terdapat 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam konsep Gizi Seimbang, yaitu:

9
1) Variasi makanan

2) Pentingnya pola hidup bersih

3) Pentingnya pola hidup aktif dan olahraga

4) Memantau berat badan ideal

Sumber : Pedoman Gizi Seimbang Kementrian Kesehatan RI 2014

a. Makanlah aneka ragam makanan.


Makanan ya beraneka ragam adalah makanan yang terdiri dari minimal sumber
bahan makanan yaitu bahan makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah.
Semakin beraneka ragam dan bervariasi jenis makanan yang dikonsumsi, semakin
baik. Sayur dan buah sangat baik untuk dikonsumsi (dianjurkan 5 porsi per hari).
b. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Karbohidrat perlukan guna memenuhi kebutuhan energi. Bagi lanjut usia,
dianjurkan untuk memilih karbohidrat kompleks seperti beras, beras merah,

10
havermout, jagung, sagu, ubi jalar, ubi kayu dan umbi-umbian. Karbohidrat yang
berasal dari biji-bijian dan kacang-kacangan utuh berfungsi sebagai sumber energi
dan sumber serat. Dianjurkan agar lanjut usia mengurangi konsumsi gula
sederhana seperti gula pasir dan sirup.

c. Batasi konsumsi lemak dan minyak.


Bagi lanjut usia, mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi tidak
dianjurkan, karena akan menambah risiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif
seperti tekanan darah tinggi, jantung, ginjal, dan lainlain. Sumber lemak yang baik
adalah lemak tidak jenuh yang berasal dari kacang-kacangan, alpukat,
miyakjagung, minyak zaitun. Lemak minyak ikan mengandung omega 3, yang
dapat menurunkan kolesterol dan mencegah arthritis, sehingga baik dikonsumsi
oleh lanjut usia. Lanjut usia sebaiknya mengkonsumsi lemak tidak lebih dari
seperempat kebutuhan energi
d. Makanlah makanan sumber zat besi
Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah
merah. Zat besi secara alamiah diperoleh dari makanan seperti daging, hati dan
sayuran hijau. Kekurangan zat besi yang dikonsumsi bila berkelanjutan akan
menyebabkan penyakit anemia gizi besi dengan tandatanda pucat, lemah, lesu,
pusing, dan mats berkunang-kunang. Demikianjuga pada lanjut usia, perlu
mengkonsumsi makanan sumber zat besi dalam jumlah cukup.
e. Biasakan makan pagi
Makan pagi secara teratur dalam jumlah cukup dapat memelihara ketahanan fisik,
mempertahankan daya tahan tubuh dan meningkatkan produktifitas kerja. Lanjut
usia sebaiknya membiasakan makan pagi agar selalu sehat dan produktif.
f. Minumlah air bersih dan aman yang cukup jumlahnya
Air minum yang bersih dan aman adalah air yang tidak berbau, tidak berwarna,
tidak berasa dan telah dididihkan serta disimpan dalam wadah yang bersih dan
tertutup. Air sangat dibutuhkan sebagai media dalamproses metabolisme tubuh.
Apabila terjadi kekurangan air minum akan mengakibatkan kesadaran menurun.
g. Lakukan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur
Agar dapat mempertahankan kebugaran, lanjut usia harus tetap berolah raga.
Aktifitas fisik sangat penting peranannya bagi lansia. Dengan melakukan aktifitas
fisik, maka lanjut usia dapat mempertahankan bahkan meningkatkan derajat

11
kesehatannya. Namun, karena keterbatasan fisik yang dimilikinya perlu dilakukan
penyesuaian dalam melakukan aktifitas fisik sehari-hari.

B. Masalah Gizi Pada Lansia


1. Kegemukan atau Obesitas
a. Definisi
Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan ketidakseimbangan antara
tinggi dan berat badan akibat jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi
kelebihan berat badan yang melampaui ukuran ideal (Sumanto, 2009).
Dengan demikian tiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan
makanan (disesuaikan dengan kebutuhan tenaga sehari-hari) dan aktivitas fisik
yang dilakukan. Perhatian lebih besar mengenai kedua hal ini terutama diperlukan
bagi mereka yang kebetulan berasal dari keluarga obesitas, berjenis kelamin
wanita, pekerjaan banyak duduk, tidak senang melakukan olahraga, serta
emosionalnya labil.

b. Etiologi
Penyebab obesitas sangatlah kompleks. Meskipun gen berperan penting
dalam menentukan asupan makanan dan metabolisme energi, gaya hidup dan
faktor lingkungan dapat berperan dominan pada banyak orang dengan obesitas.
Diduga 11 bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara
faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktifitas, gaya hidup, sosial
ekonomi dan nutrisional (Guyton, 2007).

c. Penatalaksanaan
Obesitas dapat ditangani sendiri dengan disiplin menerapkan pola makan
sehat, seperti mengonsumsi makanan rendah lemak dan gula, serta berolahraga
secara teratur. Olahraga yang dimaksud tidak perlu berat karena aktivitas berjalan
pagi, bersepeda, bermain bulu tangkis, atau berenang sudah cukup, asalkan
dilakukan secara rutin. Dianjurkan untuk melakukan olahraga 2,5-5 jam tiap
minggu.
Penanganan dari dokter dapat diberikan jika obesitas tidak berhasil diatasi
meskipun sudah disiplin dalam berolahraga dan menerapkan pola makan sehat.

12
Contoh penanganan dari dokter adalah pemberian obat yang dapat menurunkan
penyerapan lemak di dalam saluran pencernaan.
Pada beberapa kasus, obesitas akan ditangani dengan operasi. Operasi
biasanya hanya dilakukan jika tingkatan obesitas dinilai sangat parah sehingga
dikhawatirkan dapat mengancam nyawa penderita. Tindakan operasi juga
dipertimbangkan jika usaha-usaha menurunkan berat badan yang sudah dilakukan
selama beberapa waktu tetap tidak membuahkan hasil.

d. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan Obesitas


Jika berat badan berlebih maka harus mengurangi konsumsi sumber energi untuk
menurunkan berat badan sampai mencapai berat badan normal. Diet rendah energi
untuk usia lanjut harus memenuhi syarat sebagai beikut ;
1) Energi dikurangi sampai dengan 500 Kalori dari kebutuhan
normalnya.Sebaiknyaberasal dari karbohidrat dan lemak
2) Protein sedikit lebih tinggi, yaitu 1-1,5 gram per kg Berat Badan per hari
3) Lemak sedang, yaitu 20-25 % dari kebutuhan Energi total. Usahakan berasal
dari makanan yang mengandung lemak tidak jenuh
4) Karbohidrat sedikit lebih rendah yaitu 50-60% dari kebutuhan energi total.
Gunakan lebih banyak sumber karbohidrat komples untuk memberi rasa
kenyang dan mencegah konstipasi. Sebagai alternatif bisa digunakan gula
buatan sebagai pengganti gula pasir.
Bahan Makanan yang dianjurkan :
1) Sumber karbohidrat : karbohidrat kompleks seperti nasi, jagung, ubi,
singkong, talas, kentang dan cereal,
2) Sumber protein: daging tidak berlemak, ayam tanpa kulit, ikan , telur, susu
rendah lemak, kacang kacangan, tempe , tahu, susu kedele.
3) Sayuran yang banyak mengandung serat dan diolah tanpa santan kental
4) Buah, semua macam buah diperbolehkan terutama yang banyak mengandung
serat.
Bahan makanan yang tidak dianjurkan :
1) Sumber karbohidrat sederhana, seperti gula pasir, gula merah, sirup, kue yang
manis dan gurih
2) Sumber protein, daging berlemak yang diolah dengan santan kental, atau
digoreng

13
3) Buah buahan : durian, alpukat, manisan buah

Contoh Menu Sehari


Nilai Gizi
Energi : 2100 Kalori
Protein : 85 gram
Lemak : 40 gram
Karbohidrat : 32 gram
BERAT
WAKTU MENU URT
(GRAM)
PAGI Roti isi telur 80 + 50 2 lembar + 1 butir
Susu

20 1 gelas

10.00 Sari Buah 100 1 gelas


Kue sus 50 1 potong
SIANG Nasi 150 1 gelas
Tempe Goreng 50 1 potong
Empal gepuk 50 1 potong
Sayur lodeh 100 1 gelas
Alpukat

100 1 potong

16.00 Bubur kacang ijo 25 1 gelas


MALAM Nasi 100 gelas
Semur Ayam 50 1 potong
Tahu bakso 100 1 potong
Sayur Sup 100 1 gelas

14
Pisang

75 1 buah

Susu

20 1 gelas

Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

2. Kurang Energi Kronik (KEK)


a. Definisi
Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah salah satu keadaan malnutrisi.
Dimana keadaan seseorang menderita kekurangan makanan yang berlangsung
menahun (kronik) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu
secara relative atau absolut satu atau lebih zat gizi (Helena, 2013).

b. Etiologi
Kurang atau hilangnya nafsu makan yang berkepanjangan pada lanjut usia,
dapat menyebabkan penurunan berat badan. Pada lanjut usia kulit dan jaringan
kulit mulai keriput, sehingga makin kelihatan kurus. Disamping kekurangan zat
gizi makro, sering juga disertai kekurangan zat gizi mikro. Beberapa penyebab
KEK pada lanjut usia :
1) Makan tidak enak karena berkurangnya fungsi alat perasa dan penciumah
2) Gigi-geligi yang tanggal, sehingga menggangu proses mengunyah makanan

15
3) Faktor stress/depresi, kesepian, penyakit kronik, efek samping obat,
merokok, dll.

c. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala adalah berat badan kurang dari 40 kg atau tampak kurus
dan LILA kurang dari 23,5cm (Supariasa, 2002, p.48).

d. Penanganan
Penanganan yang dapat diberikan pada lansia yang mengalami kekurang energi
kronik yaitu: (Ahmad, 2010)
1) Mencari tahu penyebab atau faktor terjadinya KEK pada lansia tersebut dan
menangani masalahnya
2) Memberikan diet yang sesuai untuk lansia dengan KEK
3) Sebisa mungkin diantara makanan yang baik carikan makanan yang ia sukai
4) Pemberian suplemen gizi

e. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan KEK


1) Jika seseorang mengalami kekurangan berat badan maka makanan yang
diberikan adalah makanan yang mengandung tinggi kalori dan tinggi Protein.
(TKTP)
2) Diet TKTP adalah diet yang mengandung energy dan protein diatas kebutuhan
normal. Diet diberi an dalam bentuk makanan biasa ditambah bahan makanan
sumber protein tinggi seperti susu, telur dan daging, atau dalam bentuk
minuman enteral nutrisi. Diet ini diberikan bila pasien mempunyai cukup
nafsu makan dan dapat menerima akanan lengkap.

Makanan yang dianjurkan

1) Sumber karbohidrat: nasi, mie, roti, macaroni, dan hasil olah tepung tepungan,
seperti cake, puding, pastry, ubi, dan karbohidrat sederhana seperti gula.
2) Sumber Protein: daging sapi, ikan , ayam , telur, susu dan hasil olahnya seperti
keju, yoghurt dan cream. Semua jenis kacang kacangan dan hasil
olahnya,seperti tempe, tahu , pindakas.
3) Sayuran, semua jenis sayuran, seperti bayam, buncis, kacang
panjang,labusiam, wortel, dan lain lain

16
4) Buah buahan . semua jenis buah segar, buah kaleng, buah kering dan jus buah

Bahan makanan yang tidak dianjurkan


Makanan yang dimasak dengan banyak minyak, atau kelapa atau santan kelapa.

Contoh Menu Sehari

Nilai Gizi

Energi : 2110 Kalori

Protein : 85 gram

Lemak : 40 gram

Karbohidrat : 32 gram

MENU MAKAN PAGI ;

17
MENU MAKAN SIANG ;

MENU MAKAN MALAM ;

18
Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

3. Kurang Zat Gizi Mikro lain


a. Definisi
Kurang zat gizi mikro biasanya menyertai lanjut usia dengan KEK, namun
kekurangan zat gizi mikro dapatjuga terjadi pada lanjut usia dengan status gizi
baik. Kurang zat besi, Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin E,
Magnesium, kalsium, seng dan kurang serat sering terjadi pada lanjut usia.

b. Efek Samping

Efek samping dari kekurangan zat gizi mikro yaitu terjadinya gangguan
berdasarkan kerja dari zat yang kekurangan oleh tubuh, serta dapat menyebabkan
masalah seperti pada jantung , hipertensi , diabetes mellitus dan penyakit lainnya

Berikut adalah zat gizi mikro dan fungsinya:

1) Vitamin A.
Berfungsi untuk kesehatan mata,kesehatan kulit,melindungi tubuh dari
beberapa infeksi. Vitamin A terkandung pada bahan makanan seperti wortel,
labu, ubi jalar, brokoli, bayam, hati, telur, susu, krim, dan keju.
2) Vitamin B1
Berfungsi pencegahan penyakit beri-beri,kesehatan sistem syaraf. Bahan
makanan yang mengandung Vitamin B antara lian: gandum, beras putih dan
merah, roti,buncis,jeruk, susu, telur.
3) Vitamin B2
Berfungsi untuk kesehatan kulit dan rambut. Terdapat dalam : susu, telur, sapi,
salmon, kacang polong, bayam, roti.
4) Vitamin B3
Berfungsi untuk kesehatan kulit,mencegah penyakit kulit kasar bersisik,
Kesehatan sistem syaraf dan rambut. Terdapat pada ikan,tepung gandum,
ayam, kacang-kacangan, daging.
5) Vitamin B5
Berfungsi memproduksi sel darah merah.Terdapat pada lobser, telur, brokoli,
ikan, pisang,wortel, kentang manis.

19
6) Vitamin B6
Berfungsi untuk kesehatan bibir, kesehatan sistim syaraf. Terdapat pada
Pisang, biji-bijian, kentang, kacang.
7) Vitamin B12
Berfungsi dalam produksi sel darah merah dan kesehatan sistem
syaraf.Terdapat pada salmon, kepiting, sapi, telur, susu.
8) Vitamin C
Berfungsi Meningkatkan daya tahan tubuh, kesehatan tulang,kulit,membantu
penyembuhan luka, membantu peyerapan zat besi dan kalsium, Terdapat pada
Jeruk, strawberry, anggur, tomat, brokoli, kubis.
9) Vitamin
Berperan penting dalam pembentukan tulang dan gigi, membantu pembekuan
darah. Terdepat pada hati, udang, susu.
10) Vitamin E
Berfungsi memperlancar aliran darah, mempertahankan kesehatan kulit dan
rambut. Terdapat pada bayam,kacang-kacangan, brokoli, wortel, alpukat.
11) Vitamin K
Membantu pembentukan tulang dan pembekuan darah pada luka .Terdapat
pada Brokoli,tomat, daun bayam, minyak zaitun, minyak kacang kedelai.

c. Penanganan
Dengan mengkonsumsi Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, Vitamin D,
Vitamin E, Magnisium ,kalsium , seng dan kurang serat , maka dapat mencegah
kurangnya zat gizi mikro pada lanjut usia

Beberapa penyakit kronik degeneratif yang berhubungan dengan status gizi:


1. Penyakit Jantung koroner
a. Definisi
Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak
pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner)

b. Etiologi

20
Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan dapat meningkatkan
risiko penyakit jantung koroner. Penyakit Jantung Koroner pada mulanya
disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung
(pembuluh koroner), dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses
seperti penimbunan jaringan ikat, pengapuran, pembekuan darah, dan lain-lain,
yang semuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut.

c. Efek Samping
Efek dari penyakit jamtung kroner yaitu bisa membuat penderita terkena
stroke

d. Penanganannya
Menganjurkan Penderita penyakit jantung koroner untuk tidak mengonsusi
makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan sehingga
dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

e. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan Penyakit Jantung


Berbagai penyakit Jantung sering menjadi komplikasi lanjut usia biasanya
ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma.
Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol
LDL, kenaikan trigliserida serta penurunan kolesterol HDL

Tujuan Diet :

1) Menurunkan berat badan (BB) bila terlalu gemuk dan mempertahankan pada
batas normal
2) Mengurangi/menghilangkan penimbunan cairan/garam

Pengaturan Diet :

1) Energi diberikan sesuai dengan kebutuhan bila terlalu gemuk diberikan


pengurangan energy
2) Protein diberikan 15% dari total kebutuhan energy
3) Karbohidrat dibatasi , antara 50-60% dari total energy . Pengurangan terutama
berasal dari karbohidrat murni seperti pengunaan gula pasir dikurangi

21
4) Lemak < 20 % dari total kebutuhan energy, diutamakan menggunakan lemak
tidak jenuh ganda seperti yang terdapat dalam minyak jagung , minyak kedele
, minyak biji bunga matahari dan lain lain
5) Kolesterol dibatasi sehari 300-500 mg
6) Serat cukup antara 20-30 gr/hari berupa serat yang dapat larut seperti pektin
yang terdapat dalam apel, kesemek dan lain lain.
7) Mengurangi natrium terutama apabila ada edema dan hipertensi Bahan
Makanan yang dianjurkan ; Lemak tidak jenuh, misalnya minyak jagung ,
minyak kedele, minyak biji bunga matahari, minyak kapas, minyak zaitun ,
minyak kacang , kacang tanah , kacang made , alpukat

Bahan makanan yang tidak dianjurkan :

1) Bahan makanan tinggi kholesterol atau minyak jenuh dapat meningkatkan kadar
cholesterol darah seperti otak, jeroan (limpa, jantung, paru, babat), kuning telur,
udang , susu full cream , lemak dari daging (sapi, kambing ), kulit ayam ,
mentega , keju, margarine , santan , minyak kelapa , minyak kelapa sawit,
kepiting , sosis, kornet, daging asap
2) Bahan makanan sumber karbohidrat sederhana : dapat meningkatkan
trigliserida darah karbohidrat sederhana ( Refine) seperti gula pasir, permen ,
sirup, madu, termasuk kue kue dari tepung tepungan seperti cake , kue bolu dan
biscuit

Contoh menu sehari

Nilai Gizi :

Energi : 722 Kalori Vitamin A 11257 IU

Protein : 8,3gram Besi 15,1 mg

Lemak : 4,6 gram Kalsium 636 mg

Karbohidrat : 75 gram Pospor 1157 mg

22
MENU MAKAN PAGI

MENU MAKAN SIANG

23
MENU MAKAN MALAM

MENU I MAKAN PAGI

MENU II MAKAN PAGI

24
MENU I MAKAN SIANG DAN MALAM

MENU II MAKAN SIANG MALAM

Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

2. Hipertensi
a. Definisi
Kondisi kronis dimana tekanan darah pada dinding arteri ( pembuluh darah
bersih) meningkat.

b. Etiologi
Berat badan yang berlebih akan meningkatkan beban jantung untuk
memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya tekanan darah cenderung menjadi
lebih tinggi. Selain itu pembuluh darah pada lanjut usia sering mengalami
aterosklerosis (lebih tebal dan kaku), sehingga tekanan darah akan meningkat. Bila
terjadi sumbatan di pembuluh darah otak akan memacu timbulnya stroke. Bila
sumbatan terjadi di jantung dapat menyebabkan serangan jantung berupa nyeri

25
dada atau kematian otot jantung (angina pektoris atau infark miokard) yang dapat
menyebabkan kematian.

c. Tanda dan Gejala


Tekanan darah tinggi sering kali tidak menunjukkan gejala, seiring waktu , jika
tidak diobati , dapat menyebabkan masalah kesehatan.

d. Penanganan
Pederita hipertensi dianjurkan untuk menurunkan berat badannya hingga batas
ideal, mengurangi pemakaian garam dan mengubah gaya hidup untuk yang lebih
sehat

e. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan Hipertensi


Tujuan Diet
Membantu menghilangkan potensi garam/air dalam jaringan tubuh clan
menurunkan darah pada hipertensi
Pengaturan diet
1) Energi diberikan sesuai kebutuhan, bila terlalu gemuk diberikan pengurangan
energy
2) Protein 0,8 - 1 gram/hari atau 15% dari total energy sehari
3) Natrium diberikan sesuai berat tidaknya hipertensi. Penggunaan garam dapur
dikurangi sesuai kebutuhan natrium
4) Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit
5) Frekuensi pemberian makanan disesuaikan dengan kemampuan pasien

Bahan makanan ang dianjurkan :

1) Bahan makanan yang tinggi kalium untuk membantu menyeimbangkan nilai


elektrolit alam darah sehingga menurunkan natrium: sayuran , seperti bayam ,
daun singkong , daun pepaya; buah buahan , seperti pisang, melon, alpukat,
tomat ; umbi umbian , seperti kentang, singkong, ubi
2) Bahan makanan tinggi kalsium : susu , produk susu seperti yoghurt, keju, ice
cream, ikan yang dimakan dengan tulangnya seperti ikan teri , bandeng presto

26
tulang lunak ; kedele dan produk hasil olahnya seperti susu kedele, tahu, tempo
; ayuran seperti bayam dan brokoli

Bahan makanan yang harus dibatasi :

1) Garam natrium : garam dapur, MSG, soda kue (natrium bikarbonat ), natrium
benzoate (pe gawet), Dalam sehari, garam dapur diperbolehkan hanya 5 gram
atau 1 ndok teh pares
2) Makanan ya g diberi garam Natrium pada pengolahan : seperti biskuit, kraker,
cake, dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur dan atau soda kue, d
ndeng, abon, kornet, ikan asin , telur asin, keju, margarin, kecap, taoco

Contoh Menu Sehari

Nilai Gizi

Energi : 1674Kalori Vitamin A : 14039 IU

Protein : 61,4gram Besi :21 mg

Lemak : 44,7gram Kalsium :649 mg

Karbohidrat : 266 gram Pospor : 1235 mg

27
Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

28
Menu Untuk Lansia dengan Hipertensi

29
Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

3. Diabetes Mellitus
a. Definisi
DM Adalah suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang
melebihi nilai normal (gula darah puasa >_ 126 gr/dl dan atau gula darah sewaktu
diatas 200 gr/dl). Diabetes umumnya disebabkan oleh kerusakan sel beta di
pankreas yang menghasilkan fungsi insulin, sehingga kekurangan insulin atau
dapat juga terjadi karena gangguan fungsi insulin dalam glukosa ke dalam sel.
Pada orang dengan berat badan lebih, hiperglikemia terjadi karena insulin yang
dihasilkan oleh pankreas tidak mencukupi kebutuhan.

b. Etiologi
Adalah suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang
melebihi nilai normal (gula darah puasa >_ 126 gr/dl dan atau gula darah sewaktu
diatas 200 gr/dl).

c. Jenis-Jenis
DM Tipe I: Diabetes disebabkan oleh kekurangan insulin karena terjadi kerusakan
sel dan pankreas. Umumnya B normal atau di bawah normal dan
disertai dengan trias DM, polifagi, poliuri, polidipsi (banyak makan,
banyak minum dan banyak kencing)
DM Tipe ll: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM), selain terjadi
kerusakan sel dan pankreas juga disertai tidak berfungsinya insulin,
75% penderita DM tipe II adalah obesitas atau dengan riwayat
obesitas.

d. Tanda dan Gejala


Gejala berupa rasa haus meningkat, sering buang air kecil , lapar, lelah, dan
penglihatan buram

30
e. Penanganannya
Melakukan pemeriksan fisik setiap tahun, periksa mata setahun sekali ,
melalukan vaksinasi tepat waktu

f. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan DM

Tujuan Diet adalah menyesuaikan makanan dengan kesanggupan tubuh untuk


menggunakannya, agar penderita mencapai keadaan faal normal dan dapat
melakukan pekerjaan sehari hari seperti biasa.

Pengaturan Diet :

1) Jumlah energi ditentukan menurut umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi
badan, aktifitas, suhu tubuh dan kelainan metabolic
2) Jumlah hidrat arang disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk
menggunakannya (50-60% total energi)
3) Makanan cukup protein, mineral dan vitamin.
4) Pemberian makanan disesuaikan dengan macam obat yang diberikan

Makanan yang dianjurkan :

1) Karbohidrat kompleks, seperti: beras merah, beras yang tidak disosoh; dan
kelompok umbi umbian; sayur dan buah
2) Sumber lemak dari kelompok lemak tidak jenuh tunggal seperti : minyak
zaitun (olive oil), alpukat, kacang tanah, kacang mede, almond. Makanan yang
tidak dianjurkan : karbohidrat sederhana (Refine) seperti gula pasir, permen,
sirup, madu, termasuk kue kue dari tepung tepungan seperti cake, kue bolu dan
biscuit

Contoh menu sehari

Nilai Gizi :

Energi : 1703 Kalori Kalsium : 531 mg

Protein : 66 Gram Vitamin A : 15552 IU

Lemak : 73,7 Gram Besi : 20 mg

31
Karbohidrat : 210 Gram Pospor : 827 mg

Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

4. Osteo Arthritis (pengapuran tulang)


a. Definisi
Adalah penyakit bagian dari arthritis, penyakit ini terutama menyerang sendi
tern ma pada sendi tangan, lutut dan pinggul. Orang yang terserang steoarthritis
biasanya susah menggerakkan sendi-sendinya dan perge akannya menjadi terbatas
karena turunnya fungsi tulang rawan untu menopang badan.

b. Etiologi

32
penyakit menyerang sendi terutama pada sendi tangan, lutut dan pinggul.
Orang yang terserang steoarthritis biasanya susah menggerakkan sendi-sendinya
dan perge akannya menjadi terbatas karena turunnya fungsi tulang

c. Tanda dan Gejala


Turunnya fungsi tulang , penggerakkan sendi sendi menjadi terbatas , tulang
rawan menjadi rusak secara berlahan.

d. Penanganannya
Penderita Osteo arthritis di ajurkan melakukan olah raga secara rutin ntuk
menguatkan otot dan sendi , menjaga postur tubuh saat duduk atau berdiri

5. Osteoporosis (keropos tulang)


a. Definisi
Massa tulang mencapai maksimum pada usia sekitar 35 tahun untuk wanita
dan 45 tahun untuk pria. Bila konsumsi kalsium kurang dalam jangka waktu lama
akan timbul keropos tulang (osteoporosis), dan pada wanita menopause akan lebih
rentan karena pengaruh penurunan hormon estrogen. Akibatnya tulang menjadi
rapuh dan mudah patah apabila terj tuh atau terkena trauma.

b. Etiologi
Adalah suatu penyakit yang membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah
apabila terjatuh atau terkena trauma.

c. Efek Samping
Efeknya dapat membut tulung patah karena terlalu rapuh , hilangnya
keseimbangan pada tubuh dikarna kan tubuh ebih kaku , dapt menimbulkan nyeri
kronis dan cacat fisik

d. Penanganannya
Menghindari penderita jatuh maupun mengalami keretakan , jaga tubuh agar
sehat.

e. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan Obesitas

33
Osteoprosis adalah penyakit kronik yang ditandai dengan rendahnya massa
tulang.Faktor nutrisi adalah bagian penting bagi kesehatan tulang, zat gizi yang
berperan adalah kalsium. Apabila konsumsi kalsium kurang maka kalsium akan
diambil dari tulang untuk mempertahankan keadaan kalsium normal dalam darah.

Pengaturan Diet:

1) Kebutuhan energi sesuai umur (25-30 Kalori per kg berat badan per hari).
2) Protein 0,8-1,0 gram per kg Berat badan per hari terutama dari protein nabati,
karena protein hewani terutama daging , menyebabkan kalsium keluar
melalui urin.
3) Cukup vitamin D 400 IU per hari, Vitamin A 800 RE/retinol 0,8 mg per hari
4) Cukup mineral, kalsium 1000-1500 mg per hari, zink , mangan, tembaga,
fluoride yang berperan dalam pembentukan tulang yang sehat
5) Dianjurkan untuk meluangkan waktu berjemur selama 10-15 menit per hari
di waktu pagi hari

Bahan makanan yang dianjurkan

1) Sumber Kalsium : susu, produk susu seperti yoghurt, keju, ice cream; ikan
yang dimakan dengan tulangnya seperti ikan ter!, bandeng presto tulang
lunak ; kedele dan produk hasil olahnya seperti susu kedele , tahu, tempe;
sayuran seperti bayam dan brokoli
2) Sumber vitamin D: kuning telur, susu fortifikasi dan margarine.

Contoh menu sehari

Nilai Gizi

Energi :172 Kalori Kalsium : 1224 mg

Protein : 76 gram Vitamin A : 28459 IU

Lemak : 391 gram Besi : 16,3 mg

Karbohidrat : 281 gram Pospor : 1301 mg

34
Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

35
6. Arthritis Gout
a. Definisi
Arthritis Gout disebabkan oleh metabolisme abnormal purin yang ditandai
dengan meningkatnya kadar asam urat dalam darah.

b. Etiologi
Kelainan metabolisme protein menyebabkan kadar asam urat dalam darah
meningkat. Kristal asam urat akan menumpuk di persendian yang menyebabkan
rasa nyeri dan bengkak sendi. Pada penderita gout perlu pembatasan konsumsi
lemak, protein, purin, untuk penurunan kadar asam urat. disarankan banyak
minum air putih minimal 8 gelas sehari.

c. Syarat dan Contoh Menu pada Lansia dengan Obesitas


Kelainan metabolisme protein menyebabkan kadar asam urat dalam darah
meningkat. Krist I asam urat akan menumpuk di persendian yang menyebabkan
rasa nyeri dan ngkak pada sendi. Pada penderita gout perlu pembatasan konsumsi
lemak, protein, purin untuk menurunkan kadar asam urat. Disarankan banyak
minum a putih minimal 8 gelas sehari.
Bahan makanan yang diperbolehkan:
1) Bahan makanan sumber Energi seperti nasi, jagung, macaroni, mie, bihun, ubi,
singkong , tales, sagu, havermot.
2) Makanan sumber protein, seperti susu dan hasil olahnya (keju), telur. Daging,
ikan, udang dibatasi maksimum 50 gram per hari. Kacang kacangan kering
maksimum 25 gram perhari atau tahu, tempe 50 gram per hari

Bahan makanan yang harus dihindari:

1) Makanan yang berkadar purin tinggi, yaitu antara 150-180 mg per 100 gram
bahan makanan, seperti hati, ginjal, jantung, limpa, paru paru, otak, sarden,
ekstrak daging dan ragi
2) Makanan yang berkadar purin sedang, yaitu antara 50-150 mg per 100 gram
bahan makanan, daging, ikan, kerang, kacang kacangan, kacang buncis,
bunga kol, bayam, asparagus dan jamur

36
Contoh Menu Sehari

Nilai Gizi

Energi : 1708 Kalori Vitamin A : 19536 I U

Protein : 43,8 gram Besi : 12,5 mg

Lemak : 48,6 gram Kalsium : 682 mg

Karbohidrat ; 281 gram Pospor : 842 mg

Sumber : Pedoman Tataiaksana Gizi Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan

37
BAB III

TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN DATA
Hari : Rabu
Pukul : 09.00 WIB
Tanggal : 17 April 2017

A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama : Ny E
Umur : 68 tahun
Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Batak/ Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Kapiten purba No.6.Simalingkar

2. Alasan Kunjungan
Ibu datang karena ingin memeriksakan kesehatanya

3. Keluhan Utama
Ibu mengeluh sering merasa sakit pada punggungnya

4. Riwayat haid
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 4 hari
Banyak : 3x ganti pembalut
Dismenorhoe : ya

38
4. Data Objektif
1. Status emosional : Baik
2. Tanda tanda vital
a. Tekanan darah : 125/80 mmHg
b. Suhu : 37,50C
c. Nadi : 80x/m
d. Respirasi : 18x/m
3. Pemeriksaan fisik
BB : 49 kg
TB : 155 cm
a. Inspeksi
1) Kepala : tidak Nampak adanya benjolan abnormal, rambut hitam dan lurus
tidak Nampak ada ketombe
2) Leher : tidak nampak adanya pembesaran tyroid, kelenjar limfe, dan vena
jugularis
3) Muka : nampak kerut kerut tipis, tidak nampak odeme
4) Mata : skelera tidak nampak ikterus, konjungtiva tidak pucat
5) Hidung : tidak nampak pernafasan cuping hidug dan tidak terlihat ada polif
6) Mulut : gigi tidak ada cariaes, dan bagian gigi belakang berlubang
7) Bibir: tidak nampak pucat
8) Telinga: nampak simetris, tidak Nampak adanya keluar cairan abnormal
9) Dada: tidak nampak benjolan abnormal
10) Payudara: tidak nampak adanya benjolan abnormal
11) Tulang belakang: kifosis
12) Ekstremitas: tidak nampak adanya odeme dan varises

b. Palpasi
1) Leher : tidak teraba adanya benjolan abnormal
2) Dada : tidak teraba adanya benjolan abnormal
3) Payudara : tidak teraba adanya benjolan abnormal
4) Ekstremitas : tidak ada odeme

39
c. Auskultasi
1) Jantung : bunyi mur mur
2) Paru- paru : tidak ada bunyi wheezing

d. Perkusi
1) Cek Ginjal : tidak ada nyeri ketuk

40
SOAP

Tanggal : Senin, 1/11/ 2017

Tempat : BPM N

S Ny. S usia 68 tahun datang ke BPM ditemani anaknya untuk melakukan pemeriksaan
kesehatan. Ibu mengeluh sering merasa sakit pada punggung bagian belakangnya.
Anaknya mengatakan merasa ibunya terlihat lebih pendek dan agak bungkuk, namun
sang anak merasa hal tersebut merupakan hal yang wajar pada orang yang sudah menua.
Anaknya mengatakan ibunya sudah lama tidak aktif secara fisik, aktivitas yang biasa
dilakukan seperti menonton tv, atau duduk duduk sambil minum kopi didalam rumah,
namun seminggu sekali sang ibu suka berkebun di halaman rumah. Ibu juga membawa
kertas hasil pemeriksaan kepadatan tulang dari sebuah pemeriksaan gratis. Dari hasil
pemeriksaan dikatakan kepadatan tulangnya sudah rendah dan tidak diberikan penjelasan
lebih lanjut oleh pemeriksa. Anaknya mengatakan tidak memiliki riwayat osteoporosis
dalam keluarga. Contoh pola makan sehari hari
Pagi : Nasi 1 piring, tempe 3 potong, sayur kacang Panjang 4 sendok, susu 1
gelas, kopi
Siang : Nasi 1 piring, Sayur bayam 1 mangkok, daging ayam 1 potong , kopi, 1 pisang
Malam : Nasi 1 piring, sayur sop kacang merah mangkok, ayam goreng 1 potong

O TTV
Tekanan darah : 125/80 mmHg
Suhu : 37,50C
Nadi : 80x/m
Respirasi : 18x/m

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Penunjang


BB : 49 kg Densinometer: BMD: - 2,6 (Osteoporosis)
TB : 155 cm

Inspeksi
Punggung : Kifosis

41
Diagnosa Gizi
a. Status Gizi : IMT = 49/(1,55 x 1,55) = 49/2,4 = 20,4 (Normal)
b. BBI = (155-100) x 0.9% = 49,5 kg
c. Kebiasan Makan
Kurang konsumsi buah, 1 kali sehari seharusnya 3 kali sehari
Konsumsi kafein yang berlebihan

3 120 12 500

159 1150

d. Kebutuhan Energi dan Zat Gizi


1) Total kebutuhan energi =1.408 kkal
2) Kebutuhan protein = 45 x 0.8 g = 36 g = 36 x 4/1408 = 10.22%
3) Kebutuhan lemak = (25 % x 1408 )/9 =39 g
4) Kebutuhan karbohidrat= (65% x 1408)/4 = 228.8 g
5) Kebutuhan vitamin A = 500 mcg
6) Kebutuhan vitamin B1 = 0.7 mg
7) Kebutuhan vitamin C = 75 mg
8) Kebutuhan Kalsium = 1000 mg
9) Kebutuhan zat besi = 12 mg

A Osteoforosis

P
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan menjelaskan kondisi yang dialaminya.
2. Memberi ibu pendkes mengenai gizi seimbang, dan kebutuhan gizinya.

42
3. Memberi ibu pendkes mengenai osteoporosis, dan faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya osteoporosis pada dirinya. Ibu mengerti dengan yang disampaikan
4. Jelaskan pada ibu bahwa ibu membutuhkan kalsium, vitamin D, sinar matahari dan
latihan yang memadai untuk meminimalkan efek oesteoporosis. Ibu mengerti dan mau
melakukan yang dianjurkan bidan
5. Anjurkan latihan aktivitas fisik yang mana merupakan kunci utama untuk
menumbuhkan tulang dengan kepadatan tinggi yang tahan terhadap terjadinya
oestoeporosis. Ibu mengerti dan mau melakukan yang dianjurkan bidan
6. Menganjurkan ibu untuk melakukan pengurangan konsumsi kafein untuk membantu
mempertahankan massa tulang. Ibu mengerti dan akan berusahan melakukan yang
dianjurkan bidan
7. Memberi ibu contoh menu makanan sehari pada ibu
8. Therapy
e. Suplemen kalsium
9. Berikan Pendidikan pasien mengenai efek samping penggunaan obat. Karena nyeri
lambung dan distensi abdomen merupakan efek samping yang sering terjadi pada
suplemen kalsium, maka pasien sebaiknya meminum suplemen kalsium bersama
makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut.
10. Rujuk ke dokter spesialis tulang

43
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Lanjut usia (lansia) adalah tahap akhir dalam kehidupan manusia yang ditandai dengan
menurunnya kemampuan kerja tubuh akibat perubahan atau penurunan fungsi organ-
organ tubuh. Pada saat ini terjadi perubahan perubahan fisiologis yang menunjukkan
penurunan kemampuan tubuh bekerja seperti biasanya.
Lansia memiliki kebutuhan nutrisi secara khusus karena sistem jaringan dan organ
mereka mengalami penuaan. Kesehatan nutrisi membantu lansia menjaga hidup yang lebih
aktif dan menyenangkan, melindungi mereka dari penyakit, mengurangi keparahan
penyakit, dan mempercepat pemulihan penyakit. Maka dari itu lansia membutuhkan
asupan nutrisi yang tepat.Dengan memberikan asupan makanan dengan gizi seimbang
yang dapat memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi pada lansia, maka diharapkan dapat
mencegah terjadinya masalah gizi yang dapat timbul pada lansia

44
DAFTAR PUSTAKA

Laelatul, Dewi. 2014. Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Bandung: Refika Aditama

Pritasari, Didit Damayanti, Nugraheni Tri Lestari. 2017. Bahan Ajar Gizi dalam Daur
Kehidupan. . Jakarta: Kementrian Kesehatan RI

PusDatIn. 2015. Data & Kondisi Penyakit Osteoporis di Indonesia. . Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI

Kemenkes RI. 2012. Buku Pedoman Pelayanan Gizi Lanjut Usia. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI

PerMenKes. 2008. Pedoman Pengendalian Osteoporosis untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta:


Kementrian Kesehatan RI

45