Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam proses awal kami diberikan tugas dari dosen mata kuliah Pendidikan Anak
Berkebutuhan Belajar Spesifik. Dari sekian banyak pembhasan mengenai anak-anak yang
memiliki kebutuhan khusus/kesulitan dalam belajar, kelompok kami mendapat materi tentang
anak kesulitan belajar menulis (Disgrafia).
Gejala disgrafia biasanya anak mengalami kesulitan dalam menulis bahkan tidak dapat
menulis dengan baik padahal untuk anak seusianya sudah mampu untuk menulis dengan baik.
Tanda ini juga dapat terlihat dengan cara anak untuk menulis, biasanya anak juga sangat sulit untuk
memahami suatu pertanyaan karena lemahnya dalam pemahamannya. Tanda lain adalah biasanya
si anak dalam menulis mereka mencampur antara huruf besar dengan huruf kecil dan posisi
menulis mereka juga tidak konsisten.
Oleh karena itu, kelompok kami melakukan observasi di SDN Banua Anyar 8 Banjarmasin
yang terdapat anak-anak kesulitan belajar, yang diselenggarakan selama 3 kali pertemuan dari
tanggal 18-20 Mei 2017.

B. Biografi Anak

1. Identitas Anak
Nama Lengkap : Muhammad Sidiq Amin
Nama Panggilan : Amin
TTL : Ciamis, 18 Maret 2002
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Anak ke- : 4
Sekolah : SDN Banua Anyar 8 Banjarmasin
Kelas : 6
Hobi : Jalan-jalan
Cita-cita : Guru
Alamat : Jln. Sungai Andai
Nama Orang Tua :
Ayah : Asep Saipudin
Ibu : Eti Suriati

2. Penampilan Psikis
Dari segi penampilan tidak terlihat jelas bahwa Sidiq Amin termasuk dalam anak
berkebutuhan khusus, karena dari segi penampilan Sidiq Amin seperti anak biasanya tidak ada
kecacatan ataupun perbedaan dalam sikap atau perilaku. Namun terkadang ia bersikap kekanak-
kanakan yang tidak sesuai dengan usianya.

C. Peran guru dan Orang Tua

Upaya sekolah untuk mengatasi anak berkebutuhan khusus, seperti yang kita ketahui sekolah
yang kami observasi merupakan sekolah yang regular namun tetap menerima anak berkebutuhan
khusus (inklusi) adapun cara masuk sekolah disini adalah harus tes IQ,harus ada surat rujukan ang
menyatakan bahwa anak yang bersangkutan memiliki gejala anak berkebutuhan spesifik, tes
Asesment namun tes di sekolah yang kami observasi ini berubah-rubah setiap tahun peraturan
pemerintahnya.
Usaha yang ibu lakukan saat menghadapi anak berkbutuhan spesifik yang ibu kepala sekolah
katakan adalah bahwa setiap anak yang berkebutuhan spesifik ada pendampingnya yang ahli
supaya anak yang berkebutuhan khusus tersebut dapat bersaing dengan anak regular lainnya,
memberikan pelayanan yang terbaik tidak bisa banyak ya minimal sedikit.
Hambatan/ kesulitan yang hadapi guru pada saat menerima anak berkebutuhan spesifik, yang
membuat dewan guru risih adalah pandangan masyarakat, masyarakat pasti bertanya-tanya kenapa
sekolah regular menerima anak autis, kata sang Kepala sekolah bahwa jalan tidak mulus. Adapun
SDN 8 Benua Anyar ini merupakan sekolah pertama yang di tunjuk oleh pusat untuk menerima
anak yang berkebutuhan khusus tutur sang kepala Sekolah. Merawat anak-anak yang sulit
belajar membutuhkan proses dan kesabaran. Memang tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Menghadapi anak autis butuh kesabaran ekstra. Kemudian hambatan yang kedua adalah
masalah pendanaan ada beberapa orang tua yang menyumbang untuk sekolah ataupun pendamping
dan ada juga yang tidak. Kemudian hambatan selanjutnya adalah anggapan dari orang tua regular
kenapa dewan guru harus mengajarkan pada anak sulit belajar.
Anak ABK yang berumur 9 tahun berperilaku 5 tahun. Anak ABK dengan regular berteman
dengan baik hanya saja orang tua murid yang ada konflik sedikit. Kemudian kami tanyakan
mengenai tenaga pengajar disekolah tersebut apakah semuanya lulusan dari Pendidikan Luar Biasa
lalu sang ibu menjawab bahwa rata-rata 90% tenaga pengajar lulusan PLB.
di SDN 8 Banua Anyar di sediakan buku pengubung, sampai dimana pelajaran yang di
dapat dari sekolah diminta agar orang tua murid mendampingi untuk menyambung pelajaran dari
buku penghubung tersebut agar tidak hanya di sekolah, tapi kebanyakan orang tua tidak mengerti
akan buku penghubung tersebut hingga akhirnya buku penghubung tersebut terabaikan.
Dewan guru memberikan tanggung jawab kepada anak tersebut supaya anak belajar rasa
tanggung jawab. Pendamping nya berperan penuh terhadap pekembangan intelektual anak, jadi
guru pendamping disini fokus terhadap akhlak atau perilakunya terlebih dahulu barulah
mengajarkannya materi.
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Kesulitan Belajar

Secara harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris Learning
Disability yang berarti ketidakmampuan belajar. Kata disability diterjemahkan kesulitan untuk
memberikan kesan optimis bahwa anak sebenarnya masih mampu untuk belajar. Istilah
lain learning disabilities adalah learning difficulties dan learning differences. Ketiga istilah
tersebut memiliki nuansa pengertian yang berbeda. Di satu pihak, penggunaan istilah learning
differences lebih bernada positif, namun di pihak lain istilah learning disabilities lebih
menggambarkan kondisi faktualnya. Untuk menghindari bias dan perbedaan rujukan, maka
digunakan istilah Kesulitan Belajar. Berikut ini beberapa definisi mengenai kesulitan belajar.
1. Hammill, et al., (1981)
Kesulitan belajar adalah beragam bentuk kesulitan yang nyata dalam aktivitas
mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, dan/atau dalam berhitung.
Gangguan tersebut berupa gangguan intrinsik yang diduga karena adanya disfungsi sistem saraf
pusat. Kesulitan belajar bisa terjadi bersamaan dengan gangguan lain (misalnya gangguan sensoris,
hambatan sosial, dan emosional) dan pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya atau
proses pembelajaran yang tidak sesuai). Gangguan-gangguan eksternal tersebut tidak menjadi
faktor penyebab kondisi kesulitan belajar, walaupun menjadi faktor yang memperburuk kondisi
kesulitan belajar yang sudah ada.
2. ACCALD (Association Committee for Children and Adult Learning Disabilities) dalam Lovitt,
(1989)
Kesulitan belajar khusus adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari masalah
neurologis, yang mengganggu perkembangan kemampuan mengintegrasikan dan kemampuan
bahasa verbal atau nonverbal. Individu berkesulitan belajar memiliki inteligensi tergolong rata-
rata atau di atas rata-rata dan memiliki cukup kesempatan untuk belajar. Mereka tidak memiliki
gangguan sistem sensoris.
3. NJCLD (National Joint Committee of Learning Disabilities) dalam Lerner, (2000)
Kesulitan belajar adalah istilah umum untuk berbagai jenis kesulitan dalam menyimak,
berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kondisi ini bukankarena kecacatan fisik atau
mental, bukan juga karena pengaruh faktor lingkungan, melainkan karena faktor kesulitan dari
dalam individu itu sendiri saat mempersepsi dan melakukan pemrosesan informasi terhadap objek
yang diinderainya.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar merupakan
beragam gangguan dalam menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung karena faktor
internal individu itu sendiri, yaitu disfungsi minimal otak. Kesulitan belajar bukan disebabkan oleh
faktor eksternal berupa lingkungan, sosial, budaya, fasilitas belajar, dan lain-lain.

B. Pengertian Disgrafia

Disgrafia (dysgraphia) adalah kesulitan belajar yang ditandai dengan adanya kesulitan
dalam mengungkapkan pemikiran dalam komposisi tulisan. Pada umumnya, istilah disgrafia
digunakan untuk mendeskripsikan tulisan tangan yang sangat buruk. Anak-anak yang memiliki
disgrafia mungkin menulis dengan sangat pelan, hasil tulisan mereka bisa jadi sangat tak terbaca,
dan mereka mungkin melakukan banyak kesalahan ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk
memadukan bunyi dan huruf.
Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak,
ataupun keterlambatan proses visual motoriknya. Dysgraphia/Disgrafia adalah learning disorder
dengan ciri perifernya berupa ketidakmampuan menulis, terlepas dari kemampuan anak dalam
membaca maupun tingkat intelegensianya.Disgrafia diidentifikasi sebagai keterampilan menulis
yang secara terus-menerus berada di bawah ekspektasi jika dibandingkan usia anak dan tingkat
intelegensianya.
Terdapat tiga kategori disgrafia yang dikenal pasti yaitu Dyslexic Dysgraphia yang mana
hasil penulisan spontan adalah sukar dibaca. Walau bagaimanapun, tulisan mereka bisa dibaca
apabila menggunakan kaedah menyalin semula perkataan atau meniru perkataan. Kanak-kanak
dalam kategori ini juga menghadapi kesukaran dalam mengeja tetapi tidak semestinya mereka
mengalami masalah membaca atau disleksia. Kategori kedua adalah Motor Dysgraphia yang
didefinisikan sebagai masalah yang disebabkan oleh kekurangan dari segi kemahiran motor halus.
Kanak-kanak ini sering menunjukkan tulisan yang tidak bisa dibaca walaupun hanya menulis
menggunakan kaedah menyalin semula ayat. Spatial Dysgraphia pula merupakan kategori ketiga.
Kanak-kanak kategori ini sebenarnya mempunyai kebisaan mengeja yang normal. Namun begitu,
hasil tulisan tangan masih sukar dibaca sama ada penulisan secara spontan atau menyalin semula.

C. Karakteristik Anak Kesulitan Belajar Menulis

1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.


2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan atau
pemahamannya lewat tulisan.
5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis seringkali
terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang
dipakai untuk menulis.
7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

D. Penyebab Kesulitan Belajar Menulis

Kesulitan dalam hal menulis terjadi pada 5-10% dari seluruh anak di dunia. Penyebab
disgrafia adalah faktor neurologis, yakni adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang
berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Anak mengalami kesulitan dalam
harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis
huruf dan angka. Kesulitan ini tak berkaitan dengan masalah kemampuan intelektual. Beberapa
peneliti berhasil menemukan bahwa disgrafia cenderung dialami oleh anak laki-laki dibandingkan
anak perempuan, penderita disgrafia mengalami kesulitan membaca apa yang ia inginkan ke dalam
kalimat-kalimat panjang secara akurat. Demikian pula ketika belajar menulis, pertama kali mereka
akan belajar menulis tangan karena kemampuan ini merupakan prasarat bagi upaya belajar
berbagai bidang studi yang lain.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan kesulitan belajar menulis, kesulitan belajar
menulis berkaitan dengan bentuk pengajaran yang salah, antara lain dalam menulis permulaan atau
handwriting penyebabnya sering kali terkait dengan cara anak dalam memegang pensil atau alat
tulis. Sejalan dengan itu, menurut Paul G. Edison Penyebab kesulitan belajar menulis dapat
dikarenakan kurangnya kecakapan koordinasi mata dan tangan untuk menulis huruf balok, indah
dan besambung serta menggambar.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar menulis
antara lain kurangnya perhatian yang diberikan kedua orang tua terutama ibu dalam menemani
maupun membantu anak saat belajar di rumah. Menurut Helmawati (2014: 50) orang tua
merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka karena dari merekalah anak mula-
mula menerima pendidikan. Seharusnya orang tualah yang berperan sangat besar dalam
mengatasi kesulitan belajar menulis anak. Tetapi perhatian yang orang tua berikan kepada anak
justru kurang. Hal ini terlihat dari kurangnya perhatian orang tua untuk membantu anaknya
menjadwal pada malam hari.
Faktor penyebab kesulitan belajar menulis anak lainnya adalah tidak adanya komunikasi
yang terjalin antara orang tua dan guru kelas dalam bekerjasama mengatasi kesulitan belajar
menulis yang dialami anak. Hal ini dikarenakan antara orang tua dan guru kelas sama sekali tidak
pernah bertemu dan tidak memiliki nomor telefon masing-masing yang dapat dihubungi. Guru
tidak bisa menyampaikan kepada orang tua mengenai hasil perkembangan maupun penurunan
hasil belajar akibat kesulitan belajar menulis yang dialami anak. Anak juga belum menyadari
bahwa sekolah itu merupakan kebutuhan mereka dan sekolah itu memerlukan perhatian kepada
guru, sehingga pada saat guru menerangkan materi pembelajaran anak jarang mau untuk
memperhatikan. Seringkali pekerjaan rumah yang diberikan guru kepada anak saat di sekolah sama
sekali tidak pernah dikerjakan. Anak sama sekali tidak memiliki bayangan bentuk huruf dan tidak
hafal huruf alfabeth sama sekali dikarenakan tidak hafal huruf A sampai Z.
BAB III

SOLUSI / UPAYA PENANGANAN

Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dan orang tua anak yang mengalami
disgrafia untuk mengatasi kesulitan menulis menulis antara lain selalu memberikan motivasi dan
dorongan kepada anak agar tetap semangat dalam berusaha menulis seperti teman-temannya yang
lain, melakukan pendekatan secara individual kepada anak yang mengalami kesulitan belajar
menulis untuk mengetahui apa yang anak inginkan, melakukan bimbingan seperti les untuk anak
yang menagalami kesulitan belajar menulis di akhir proses pembelajaran, melakukan kerjasama
antara sekolah dan orang tua untuk mengatasi kesulitan belajar menulis anak, mengembangkan
sikap percaya diri dan berani dalam hal bertanya saat mengalami kesulitan dalam pembelajaran,
tidak selalu memenuhi keinginan anak, dan tidak terlalu memberikan kebebasan kepada anak
dalam hal bermain, memberikan perhatian yang khusus pada anak yang mengaalmi kesulitan
belajar menulis.
Dari delapan ciri disgrafia yang bisa dikenali, para psikolog sudah menguraikan beberapa
tahapan penanggulangan yang bisa dilakukan.
1. Pahami keadaan anak
Upayakan untuk tidak membandingkan anak yang mengalami gangguan ini dengan anak
lain yang normal. Membanding-bandingkannya hanya akan membuat anak merasa stres dan
frustasi.
2. Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan kepada anak untuk belajar menuangkan ide-idenya dengan
menggunakan media komputer. Penggunaan komputer memungkinakan anak bisa memanfaatkan
sarana korektor ejaan agar dia mengetahui kesalahannya secara langsung.
3. Bangun rasa percaya diri anak
Berilah pujian pada saat yang tepat dan wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak.
Selain itu, jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan hal-hal yang sedang dilakukan anak
karena itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustasi. Jika ini yang terjadi, akan terjadi
kontradiksi dengan upaya penanggulangan hambatannya dan ini akan sulit kembali membangun
rasa percaya diri anak.
4. Latih anak terus menulis
Upayakan setiap peristwa menjadi saat-saat latihan bagi anak untuk menulis. Berikan
tugas-tugas yang menarik, seperti: menulis surat untuk teman, untuk orang tua, menulis dalam
selembar kartu pos, dan yang sejenisnya. Upaya-upaya ini akan meningkatkan kemampuan
menulis anak disgrafia dan membantunya menunangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata
dalam bentuk tulisan nyata.
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Disgrafia (dysgraphia) adalah kesulitan belajar yang ditandai dengan adanya kesulitan
dalam mengungkapkan pemikiran dalam komposisi tulisan. Pada umumnya, istilah disgrafia
digunakan untuk mendeskripsikan tulisan tangan yang sangat buruk. Anak-anak yang memiliki
disgrafia mungkin menulis dengan sangat pelan, hasil tulisan mereka bisa jadi sangat tak terbaca,
dan mereka mungkin melakukan banyak kesalahan ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk
memadukan bunyi dan huruf.
Anak dengan kesulitan belajar menulis, biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut:
terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya, saat menulis, penggunaan huruf besar
dan huruf kecil masih tercampur, ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional,
anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan atau
pemahamannya lewat tulisan, sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya
memegang alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas, berbicara
pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai
untuk menulis, cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan
proporsional, tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang
sudah ada.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar menulis
antara lain kurangnya perhatian yang diberikan kedua orang tua terutama ibu dalam menemani
maupun membantu anak saat belajar di rumah. Menurut Helmawati (2014: 50) orang tua
merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka karena dari merekalah anak mula-
mula menerima pendidikan. Seharusnya orang tualah yang berperan sangat besar dalam
mengatasi kesulitan belajar menulis anak. Tetapi perhatian yang orang tua berikan kepada anak
justru kurang. Hal ini terlihat dari kurangnya perhatian orang tua untuk membantu anaknya
menjadwal pada malam hari.
Dari delapan ciri disgrafia yang bisa dikenali, para psikolog sudah menguraikan beberapa
tahapan penanggulangan yang bisa dilakukan, yaitu pahami keadaan anak, menyajikan tulisan
cetak, bangun rasa percaya diri anak, latih anak terus menulis.
Berkaitan dengan hasil observasi terhadap anak, dapat disimpulkan bahwa si anak
mengalami Spatial Dysgraphia, karena anak mampu mengeja sebuah tulisan yang disediakan, akan
tetapi ketika diminta untuk menulis, hasil tulisan anak hampir tidak bisa dibaca. Aminpun sudah
mampu untuk membedakan antara huruf b dengan d, p dengan q, u dengan v. Akan tetapi beberapa
kali ketika menuliskan sebuah kata, Amin tertinggal ataupun salah menuliskan huruf yang terdapat
dalam kata tersebut.

Anda mungkin juga menyukai