Anda di halaman 1dari 5

1.

TUMOR KELENJAR LAKRIMAL


A. Adenoma pleomorfik
(Duck Kim Y. Lacrimal gland tumors. In: Karcioglu ZA, editor. Orbital tumors, diagnosis and treatment. New York:
Springer; 2005. p. 20420 )

Tumor jinak tersering pada kelenjar lakrimal adalah adenoma pleomorfik. Secara terminology
pleomorphic pertama kali dikemukakan oleh Wilis, pleomorphic merupakan suatu tumor campuran
berisi sel epitel dan komponen mesenkimal.

Adenoma pleomorfik sendiri merupakan tumor jinak dari sel epitel pada kelenjar
lakrimal yang paling sering dijumpai. Sebagaimana tumor-tumor jinak lainnya, pleomorphic
adenoma mempunyai onset dengan sifat progresifitas yang lambat, yaitu 6-12 bulan.

Secara klinis, biasanya tumor ini muncul pada dekade ke 4 5 dengan insiden yang sama pada
pria dan wanita. Biasanya muncul dengan gejala massa yang terpalpasi pada superotemporal pars
orbatalis yang tidak nyeri dan mobile, proptosis progresif unilateral, massa yang membesar perlahan,
gangguan motilitas ocular, kelainan refraksi, diplopia, lakrimasi, ptosis dan lipatan koroid dimana
gejala ini muncul selama lebih dari 12 bulan tanpa tanda inflamasi.

Adenoma pleomorfik mempunyai klinis sebagai massa padat, tegas pada fosa
lakrimalis dengan gejala yang ditimbulkan berupa proptosis yang tidak disertai nyeri,
pergeseran bola mata kearah medioinferior. Pertumbuhan tumor pada pleomorphic adenoma
juga mampu menstimulasi periosteum untuk membentuk suatu lapisan tipis berisi tulang-
tulang baru (kortikasi).
Pada 10% kasus adenoma pleomorfik dapat melibatkan lobus palpebra, sehingga pada
kasus tersebut tumor mobile, tidak nyeri dan tidak menyebabkan proptosis atau perubahan
tulang.
Secara makroskopis, tumor berwarna putih ke abu-abuan, soliter, kenyal dan
terbungkus lapisan tipis pseudoepitel yang terbentuk dari jaringan yang terkompresi dan
fibrosis reaktif.
Pengobatan terbaik adalah dengan eksisi total tumor dengan pseudocapsul melalui
lateral orbitotomy. Untuk meminimalisir penyebaran tumor, tepi kelenjar lakrimal dan
periorbita yang berdekatan harus dihilangkan secara ekstirpasi.
B. Orbital pseudotumor (Srinivasan, R. and Gulnar, D., 2009. Orbital pseudotumor. Kerala J Ophthalmol, 21, pp.127-131.)
Pseudotumor merupakan tumor jinak yang dikarakteristikkan dengan adanya infiltrate
polymorphous lymphoid dengan derajat fibrosis yang bervariasi. Pseudotumor merupakan
10% dari kasus tumor orbita dengan puncak insidensi usia 40-50 tahun, namun tidak menutup
kemungkinan terjadi pada anak-anak, dapat terjadi pada pria maupun wanita, bersifat
unilateral atau dapat juga bilateral seperti yang biasa terjadi pada anak.
Berdasarkan jaringan yang terlibat, pseudotumor dapat berhubungan dengan jaringan
pada otot extraoculi, kelenjar lakrimal, dan saraf optic. Gejala klinis pseudotumor bergantung
struktur orbita yang berhubungan serta derajat fibrosis dan inflamasi, seperti proptosis,
diplopia, odem pada kelopak mata, nyeri orbital, ptosis, chemosis dan visual loss.
Bentuk klasik pseudotumor ada pada variasi seluler yang tampak akut dan
menyerupai lymphoid tumor, yakni terdiri dari infiltrate polimorfik hiposeluler berisi
limfosit, sel plasma, makrofag, dan leukosit polimorfonuklear. Diagnose secara histopatologi
di dapatkan dari biopsy ataupun FNAC (Fine Needle Aspiration Cytology). Spektrum
pengobatannya luas dan terus berkembang, antara lain dengan pemberian kortikosteroid,
terapi radiasi, NSAID, agen sitotostik, imunosupresan minim kortikosteroid, immunoglobulin
intravena, plasmapheresis dan yang terbaru dengan pengobatan biologis menggunakan anti

TNF .
2. Tumor jinak vaskuler
a. Hemangiopericytoma (Valentini V, Nicolai G, Fabiani F, et al. Surgical treatment
of recurrent orbital hemangiopericytoma. J Craniofac Surg 2004;15:10613)
Hemangiopericytomas merupakan tumor jinak pericyte yang terutama muncul
diusia paruh baya . hemangiopericytoma muncul dengan gejala orbital dan tampak
mirip dengan hemngioma kavernosus.

b. Malformasi arteriovenosus (Trombly R, Sandberg DI, Wolfe SA, et al. High-ow


orbital arteriovenous malformation in a child: current management and options. J
Craniofac Surg 2006;17:77982.)
Malformasi arteriovenosus merupakan kelainan kongenital pembuluh darah orbita
dimana arteri secara langsung beranastomosis dengan vena tanpa melewati
kapiler. Pembuluh darah episkleral dapat diamati, malformasi arteriovenosus dapat
di hilangkan dengan emboli atau direseksi.

3. Tumor otot

Leiomyoma
(Gndz K, Gnalp I, Erden E, Erekul S. Orbital leiomyoma: Report of a case and review of the
literature. Surv Ophthalmol. 2004;49:23742)

Leiomyoma merupakan tumor jinak otot polos pada intra maupun ekstraokuler yang
langka. pria memiliki resiko berpengaruh terhadap leiomyoma 2x dibanding
perempuan, dengan insidensi rata rata usia 30 tahun. Secara klinis pada gejala mata
tampak proptosis lambat, ptosis, diplopia, striae choroid, papiledema, dan penurunan
visus. Leiomyoma yang berlokasi pada anterior orbita dan kelopak mata akan tampak
odem progresif tanpa nyeri pada kelopak mata. Terapi terbaik pada leiomyoma berupa
eksisi total tumor, pada kasus tumor yang mencapai apex orbita sehingga harus
dilakukan eksisi inkomplit maka rekurensi dapat terjadi. Leiomyoma orbital tidak
radiosensitive sehingga radioterapi pada kasus rekurensi akibat eksisi tumor inkomplit
kurang berperan pada terapinya.

4. Tumor tulang

Chondroma
(Kabra, R.S., Patel, S.B. and Shanbhag, S.S., 2015. Orbital Chondroma: A rare mesenchymal tumor of orbit. Indian journal of ophthalmology, 63(6), p.551)

Chondroma merupakan tumor jinak kartilagenus yang jarang terjadi dan tumbuh
lambat. Chondroma biasanya asimptomatik kecuali bila massa dapat teraba atau
terlihat, sering pada tulang yang menempel pada orbita seperti septum nasi,
nasofaring, sinus ethmoid, kartilago alaris dan sinus sphenoid. Chondroma dapat
terjadi di segala usia, namun sering terjadi pada dekade 3 dan 4 tanpa predileksi
gender. Pada gambaran klinis chondroma terdapat proptosa tanpa nyeri dan diplopia.
Terapi pada tumor anterior dengan orbitotomi anterior atau lateral, sementara pada
tumor posterior sebaiknya melalui transkranial.

5. dermolipoma

- jarang terjadi, umumnya pada palpebra superior


- terdiri dari sel-sel lemak yang membentuk lobules, memiliki kapsul fibrosa tipis
- dapat berasal dari kornea, limbus atau subconjunctival space
- tumor berupa benjolan kecil, lesi datar sampai massa besar. Pada perabaan lunak
dan terdapat pseudofluktuasi
- terapi : eksisi