Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KAIZEN COSTING

OLEH :

OLIVIA SOLINA (1410531044)


RAMADHANIL ALDY (1410531072)
PUTRI WULANDARI (1410531076)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
2017/2018
KAIZEN COSTING

Pendahuluan

Di era globalisasi ini, persaingan kompetisi antar bisnis semakin sengit dan ketat,
mulai dari sisi produk, pemasaran, distribusi, maupun harga. Contohnya seperti bisnis di
bidang telekomunikasi. Semua operator menawarkan berbagai macam strategi untuk
mengalahkan para kompetitornya. Setiap operator menawarkan harga yang sangat rendah dan
membuat strategi pemasaran yang frontal untuk menyerang langsung kompetitornya. Bahkan
strategi yang mereka lakukan membuat calon customernya merasa kebingungan harus
memilih yang mana. Sehingga, ketika semua strategi yang dilakukan tidak membuahkan hasil
yang maksimal, maka perusahaan harus berpikir lebih keras lagi agar produk atau jasa
mereka bisa diminati oleh customer.

Persepsi customer pertama kali ketika melihat suatu barang atau jasa adalah dari sisi
harga. Ketika pertama kali yang dilihat oleh customer adalah produk atau jasa dengan harga
murah, maka mereka akan tertarik untuk melihatnya. Oleh karena itu, strategi yang dapat
dilakukan perusahaan untuk menarik masyarakat adalah dengan menawarkan produk atau
jasa dengan harga yang murah dan kompetitif, tanpa menurunkan kualitas produk atau jasa.
Salah satu cara untuk menurunkan harga adalah dengan cost effectiveness melalui proses
pengurangan biaya (cost reduction). Di Jepang, konsep cost reduction ini disebut juga dengan
Kaizen Costing.

Kaizen Costing digunakan sebagai sistem untuk mengontrol anggaran belanja


peusahaan. Berbeda dengan standard costing yang hanya menganalisis antara standard
costing dengan actual cost suatu perusahaan secara keseluruhan atau per divisi. Sedangkan
Kaizen Costing lebih mengarah kepada analisis seberapa besar biaya aktual yang harus
dikurangkan untuk mencapai target laba atau revenue pada periode yang akan datang.

Pada mulanya, perusahaan dapat melakukan analasis mengenai performansi


perusahaan secara keseluruhan dan juga performansi setiap divisinya. Kemudian dari
performansi tersebut dilihat anggaran biaya di bagian mana yang perlu untuk dikurangi untuk
mencapai target revenue periode berikutnya. Setiap tingkatan, mulai dari level CEO sampai
karyawan terbawah, dapat menerapkan Kaizen Costing untuk mengefisiensikan biaya setiap
tingkatan. Dan sistem Kaizen ini dapat digunakan sebagai tools tersendiri untuk melakukan
penilaian kinerja pegawai.

Dalam dunia industri saat ini, banyak perusahaan menyadari bahwa melakukan
perbaikan dalam segi kualitas secara kontinyu sangatlah penting. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan nilai jual suatu produk dan memberikan kepuasan kepada pelanggan atas
produk yang kita buat. Kaizen ialah perbaikan yang dilakukan dengan menghilangkan
pemborosan, menghilangkan beban kerja berlebih, dan selalu memperbaiki kualitas produk.
Sasaran utama dari kaizen adalah menghilangkan pemborosan yang tidak memberikan
nilai tambah produk atau jasa.

Pemborosan itu perlu dihilangkan karena menimbulkan biaya-biaya yang


menyebabkan berkurangnya profit. Penerapan kaizen bisa dilakukan di awal proses
produksi, pada saat proses produksi, hingga proses akhir barang tersebut disimpan digudang
dan siap dikirim ke customer. Sehingga barang yang dihasilkan memiliki nilai jual yang
tinggi dengan kualitas yang baik. Selain itu dengan penerapankaizen akan menurunkan
biaya produksi dengan cara menurunkan jumlah barang yang rusak atau NG.

Definisi Kaizen

Kaizen () secara harafiah dalam arti bahasa Jepang adalah sebagai berikut:

(kai) artinya perubahan


(zen) artinya kebaikan
Dalam bahasa China gai shan artinya perubahan untuk lebih baik atau
improve dalam bahasa Inggris.
(gai) artinya perubahan atau tindakan perbaikan.
(shan) artinya baik atau keuntungan.
Konsep kaizen sangat penting untuk menjelaskan perbedaan antara pandangan Jepang
dan pandangan Barat terhadap manajemen. Perbedaan yang paling penting antara konsep
manajemen Jepang dan Barat adalah : Kaizen Jepang dan cara berpikirnya yang berorientasi
pada proses sedangkan cara berpikir Barat tentang pembaharuan yang berorientasi pada hasil.
Maasaki Imai, (1992).

Menurut beberapa ahli, pengertian kaizen adalah:


Mulyadi (2003:422 - 423) merupakan: sistem akuntansi biaya yang secara efektif dapat
digunakan oleh manajemen di dalam mengelola biaya pada tahap produksi produk.
Supriyono (2002:152) adalah: perbaikan secara terus-menerus yang didukung proses
pengurangan biaya dalam tahap pemanufakturan produk yang sudah ada.
Cooper (2005:239) : Perusahaan yang menerapkan kaizen costing dengan melakukan
perubahan secara bertahap dan berkesinambungan, biasa disebut dengan continuous
improvement. Kata improvement di sini menurut Cooper adalah pengembangan terus-
menerus untuk menyempurnakan keadaan yang telah ada, tanpa menciptakan sesuatu yang
baru.

Sasaran Utama Kaizen

Sasaran utama dari Kaizen adalah menghilangkan pemborosan-pemborosan yang


tidak memberikan nilai tambah produk atau jasa dari perspektif para konsumen.
Pemborosan- pemborosan itu harus dihilangkan karena menimbulkan biaya-biaya yang
menyebabkan berkurangnya profit. Disamping itu konsumen tidak mau menanggung biaya-
biaya yang tidak perlu tersebut.

Menurut Amin (2002:41), sasaran kaizen costing yaitu: dengan berusaha secara
berkesinambungan menghasilkan produk dengan mutu yang lebih baik dengan harga yang
lebih rendah.

Segmentasi Kaizen
Menurut konsep kaizen dalam Tazaki Group (2000:69), kaizen dibagi menjadi tiga
segmen, tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan :

1. Kaizen yang berorientasi pada manajemen, memusatkan perhatiannya pada masalah


logistik dan strategis yang terpenting dan memberikan momentum untuk mengejar
kemajuan dan moral.

2. Kaizen yang berorientasi pada kelompok, dilaksanakan oleh gugus kendali mutu,
kelompok Jinshu Kanshi untuk manajemen sukarela menggunakan alat statistik untuk
memecahkan masalah, menganalisa, melaksanakan dan menetapkan standar atau
prosedur baru.

3. Kaizen yang berorientasi pada individu, dimanifestasikan dalam bentuk saran, di mana
seseorang harus bekerja lebih pintar bila tidak mau bekerja keras. Kaizen adalah konsep
tunggal dalam manajemen Jepang yang paling penting dan merupakan kunci sukses
Jepang dalam persaingan. Jepang selalu berpikir bahwa tidak ada satu hari pun berlalu
tanpa adanya suatu tindakan penyempurnaan (Takizakigroup: 2000).

Kaizen merupakan alat pemersatu filsafat, system dan alat untuk memecahkan masalah
yang dikembangkan di Jepang selama 30 tahun pada suatu perusahaan untuk berbuat baik
lagi. Kaizen dapat dimulai dengan menyadari bahwa setiap perusahaan mempunyai masalah.
Kaizen memecahkan masalah dengan membentuk kebudayaan perusahaan di mana setiap
orang dapat mengajukan masalahnya dengan bebas (Imai,1998:18).

Prinsip Kaizen

1. Berfokus kepada pelanggan


Fokus utama kaizen adalah kualitas produk, tetapi tujuan terpenting kaizen adalah
kepuasan pelanggan. Segala sesuatu / aktifitas yang tidak menambah nilai produk atau
meningkatkan kepuasan pelanggan merupakan pengeluaran biaya yang tidak perlu.
2. Mengadakan Peningkatan Terus Menerus
Dalam kaizen, suatu keberhasilan bukanlah hasil akhir tetapi merupakan awal untuk
melangkah ke tahap berikutnya karena suatu keberhasilan merupakan factor dalam
meningkatkan semangat untuk mencapai keberhasilan yang lain.
3. Mengakui Masalah Secara Terbuka
Membangun budaya yang tidak saling menyalahkan, sehingga para karyawan dalam
perusahaan kaizen dapat mengakui kesalahan secara terbuka, dengan sadar menunjukan
kelemahan dari prosesnya dan meminta bantuan jika tidak mampu mengatasinya.
Keterbukaan tersebut merupakan suatu kekuatan yang bisa mengendalikan dan
mengatasi berbagai masalah dengan cepat serta meningkatkan kesempatan-kesempatan
perbaikan.
4. Mempromosikan Keterbukaan
Ilmu pengetahuan bagi kaizen adalah untuk saling dibagikan dan hubungan-hubungan
komunikasi yang mendukungnya merupakan sumber efisiensi.
5. Menciptakan Tim Kerja Dalam Kaizen
Tim adalah fondasi yang membentuk struktur organisasi. Melalui keikutsertaan para
karyawan dalam tim, perusahaan mendapatkan keuntungan dari karyawannya. Kerjasama
tim ini dapat menanamkan rasa saling memiliki, tanggungjawab kolektif, dan
berorientasi pada perusahaan serta dapat memperkuat keterbukaan, saling berbagi dan
komunikasi.
6. Memanajemen Proyek Melalui Tim Fungsional-silang
Proyek perusahaan kaizen direncanakan dan dilaksanakan dengan menggunakan
sumberdaya antar-departemen atau fungsional-silang serta sumber daya yang berasal dari
luar perusahaan. Hal itu dilakukan untuk mengurangi biaya, mengontrol pemborosan
sampai tingkat tertentu serta memuaskan pelanggan.
7. Memelihara Proses Hubungan yang Benar
Perusahaan jepang melakukan segala sesuatu yang mampu mereka lakukan supaya
terpelihara keharmonisan dalam hubungan antar-manusia terutama para staff, manajer
dan para pemimpin tim. Hubungan tersebut dapat menumbuhkan loyalitas dan komitmen
dari karyawan.
8. Mengembangkan Disiplin Pribadi
Disiplin pribadi di tempat kerja merupakan sifat alamiah orang Jepang
9. Memberikan Informasi pada Semua Karyawan
Berbagi informasi merupakan hal yang sangat penting dalam perusahaan Kaizen.
Dengan memberikan informasi yang penting pada setiap orang maka tantangan
perusahaan berubah menjadi tantangan pribadi. Informasi ini juga merupakan langkah
penting untuk menciptakan budaya berdasarkan pengetahuan.
10. Memberikan Wewenang Kepada Setiap Karyawan
Dalam pelaksanaan kaizen, setiap karyawan diberikan wewenang untuk melakukan
perubahan kearah yang lebih baik dengan kata lain melibatkan peran karyawan dalam
melakukan peningkatan.

Konsep Kaizen Costing

Kaizen memiliki beberapa konsep yang dapat digunakan perusahaan dalam melakukan
perbaikan, konsep tersebut yaitu: Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri), Konsep gerakan 5S
(Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan shitsuke), konsep PDCA (Plan, Do, Check dan Action), dan
Konsep 5W+1H.
a. Konsep 3M (Muda, Mura, Muri)
Muda adalah segala kegiatan yang bernilai mubasir atau aktivitas pemborosan yang
tidak menambahkan nilai pada produk atau jasa. Mura dapat diartikan sebagai suatu proses
yang tidak merata atau tidak teratur dalam kegiatan proses produksi. Muri dapat diartikan
sebagai pembebanan yang berlebihan atau melampaui batas kemampuan para pekerja
dalam melakukan pekerjaannya.
b. Konsep Gerakan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke)
Filsafat Kaizen menganggap bahwa cara hidup kita - baik cara kerja, kehidupan
sosial, dan kehidupan rumah tangga perlu disempurnakan setiap saat. Setiap kegiatan
selalu dicoba untuk dibuat lebih baik lagi, diproses menuju kesempurnaan. Salah satu
implementasi Kaizen yaitu penerapan 5 S (five-s). Setiap kata S di sini merupakan inisial
dari lima kata Jepang, sebagai berikut:
Seiri (memisah-misahkan). Seiri berarti memisah-misahkan berkas-berkas atau
barang-barang dalam beberapa kategori. Kategori tersebut terdiri dari barang-barang yang
sering kita gunakan sehingga perlu diletakkan di tempat yang lebih dekat dari tempat kerja
kita, barang-barang yang tidak sering kita gunakan sehingga dapat diletakkan di tempat
yang jauh dari tempat kerja kita, dan barang-barang yang tidak pernah digunakan dapat
disingkirkan atau dihapus.
Seiton (penataan). Dengan seiton ini kita mengatur secara baik, perbekalan kantor,
alat-alat, dokumen, suku cadang, buku dan lainlainnya untuk membuat pencariannya
kembali menjadi efisien dan efektif.
Seiso (pembersihan). Membersihkan disini tidak hanya berarti membersihkan gejala
yang kotor saja, tetapi meliputi pula analisis sebab timbulnya gejala kotor. Pembersihan
merupakan salah satu bentuk dari pemeriksaan. Disini diutamakan pembersihan sebagai
pemeriksaan terhadap kebersihan dan menciptakan tempat kerja yang tidak memiliki cacat
dan cela.
Seiketsu (pemantapan). Pemantapan berarti terus menerus dan secara berulang-ulang
memelihara pemeliharaan, penataan dan pembersihannya.
Shitshuke (disiplin), istilah ini berarti menanamkan (atau membiasakan) melakukan
sesuatu dengan cara yang benar. Dalam hal ini, penekanannya adalah untuk menciptakan
tempat kerja dengan kebiasaan dan perilaku yang baik.
c. Konsep PDCA (Plan, Do, Check, Action)

Tahapan siklus PDCA ialah Rencana (Plan) berkaitan dengan penetapan target untuk
perbaikan dan perumusan rencana tindakan guna mencapai target tersebut. Lakukan (Do)
berkaitan dengan penerapan dari rencana. Periksa (Check) merujuk pada penetapan apakah
penerapan tersebut berada dalam jalur yang benar sesuai dengan rencana dan memantau
kemajuan perbaikan yang direncanakan. Tindakan (Action) berkaitan dengan standarisasi
prosedur baru guna menghindari terjadinya kembali masalah yang sama atau menetapkan
sasaran baru bagi perbaikan selanjutnya.
d. Konsep 5W+1H
Salah satu pola pikir untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan kaizen adalah
dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5W + 1H (what, who, why, where, when
dan how).

Perhitungan Kaizen Costing

Secara sederhana, perusahaan dapat meningkatkan penjualan atau menurunkan biaya


untuk memeroleh pendapatan yang tinggi. Penerapan Kaizen Costing ini dimulai dengan
membuat rencana peningkatan target sales. Peningkatan penjualan dapat dilakukan dengan
menaikkan harga dari produk atau jasa, dan menaikkan volume penjualan. Namun untuk cara
yang pertama, yaitu menaikkan harga, mudah untuk dilakukan namun sulit untuk diterima
oleh masyarakat. Dan jika perusahaan ingin meningkatkan volume penjualan, maka akan
berpengaruh kepada variable cost. Pada cara meningkatkan volume penjualan lah biaya dapat
diefisiensikan dengan menggunakan Kaizen Costing.

Inilah yang menjadi perhatian dari Kaizen Costing, yaitu bagaimana caranya untuk
mengefisiensikan variable cost, seperti biaya tenaga kerja langsung dan biaya bahan baku
langsung. Sehingga perusahaan dapat melakukan outsource untuk kegiatan-kegiatan yang
sifatnya sebagai pendukung, memperketat jam lembur, atau mengefisiensikan biaya
karyawan. Pengurangan biaya hanya dilakukan untuk biaya-biaya yang sebenarnya tidak
perlu dikeluarkan.

Secara matematis, perhitungan untuk Kaizen Costing dapat digambarkan sebagai


berikut:

Target Kaizen Costing = Biaya Aktual Periode Sebelumnya x Target Rasio Pengurangan Biaya

Dalam menentukan anggaran belanja, perusahaan diharapakan untuk terlebih dahulu


menentukan seberapa besar persentase efisiensi biaya yang akan dilakukan untuk periode
berikutnya. Persentase ini lah yang disebut dengan rasio pengurangan biaya. Kaizen Costing
berfungsi sebagai kontrol, untuk melihat apakah selama keberjalanan perusahaan efisiensi
biaya berjalan sesuai rencana atau tidak, dan dapat menjadi sistem penilaian untuk kinerja
perusahaan. Kaizen dapat terjadi dengan melakukan pengurangan biaya kepada aktivitas-
aktivitas yang dianggap tidak perlu, menghilangkan pemborosan, dan mengefisiensikan
waktu kerja perusahaan.

Industri automobile di Jepang, misalnya, target keuntungan anggaran tahunan


dialokasikan ke masing-masing pabrik. Setiap automobile memiliki basis biaya yang telah
ditentukan, yang sama dengan actual cost dari automobile tersebut di tahun sebelumnya.
Semua pengurangan biaya menggunakan basis biaya ini sebagai titik awalnya.

Tingkat penurunan target adalah rasio pengurangan target terhadap basis biaya.
Tingkat ini diterapkan dari waktu ke waktu untuk semua biaya variabel dan menghasilkan
jumlah pengurangan jumlah material, suku cadang, tenaga kerja langsung, dan tidak
langsung, dan biaya variabel lainnya. Manajemen membuat perbandingan jumlah
pengurangan aktual. Jika ada perbedaan, varians untuk pabrik ditentukan. Tujuan penetapan
biaya Kaizen adalah memastikan bahwa biaya produksi aktual kurang dari basis biaya.
Namun, jika gangguan biaya produksi lebih besar dari pada penghematan karena biaya
kaizen, maka tidak akan diterapkan.

Tradisional Cost Reduction VS Kaizen Costing

Standard Costing Concepts Kaizen Costing Concepts


Cost-control system concept Cost reduction system concept
Assumes stability in current Assumes continious improvement in
manufacturing processes manufacturing
Goal is meet cost perfomance standards Goal is achieve cost reduction standards
Standard Costing Techniques Kaizen Costing Techniques
Standards are set annually or semiannually Cost reduction targets are set and
applied monthly and continuous
improvement (kaizen) methods are
applied all years long to meet targets
Cost variance analysis involves comparing Cost variance analysis involves target
actual to standard costs kaizen costs versus actual cost
reduction amounts
Cost variance investigation occurs when Investigation occurs when target cost
standards are not meet reduction (kaizen) amounts are not
attained
Who has the best knowledge to reduce Who has the best knowledge to reduce
costs? costs?
Managers and engineers develop standards Workers are closet to the process and thus
as they have the technical expertise know best

Kaizen Costing vs Inovasi

Mengutip pendapat Michael Beseler dalam Imai (1997) menungkapkan


bahwaImprovement is a continuous changing process, it means to learn again. Kaizen is
along journey and that it takes a process of learning by doing for both managers and
workers. Jadi dapat disimpulkan Kaizen adalah spirit learning process yang dilakukan secara
berkesinambungan dan tidak ada putusnya oleh seluruh anggota badan usaha untuk mencapai
penyempurnaan.
Penyempurnaan yang dimaksud adalah menyempurnakan standar, berarti menetapkan
standar lebih tinggi. Setelah tercapai standar tersebut, menjadi tugas manajemen untuk
memelihara agar standar tersebut diterapkan. Penyempurnaan dapat dibagi menjadi kaizen
dan inovasi. Kaizen berarti penyempurnaan kecil yang diperoleh sebagai hasil usaha
berkesinambungan, sedangkan inovasi menghasilkanpenyempurnaan drastis sebagai hasil
investasi besar.

Berbeda dengan inovasi, kaizen menekankan usaha manusia, komunikasi, pelatihan,


tim kerja, disiplin diri dan pikiran sehat, untuk suatu pendekatan penyempurnaan dengan
biaya rendah. Kaizen dan inovasi yang diterapkan bersama-sama akan memberikan hasil
yang lebih baik dibandingkan bila hanya menerapkan kaizen atau inovasi saja. Kaizen
bukanlah ditekankan pada suatu usaha penyempurnaan dengan hasil kecil, namun
penekanannya adalah melakukan improvement terhadap proses sekalipun kecil dampaknya
untuk saat ini, tapi mempunyai dampak sinificant (benefecial) bila dilakukan
berkesinambungan.
Imai membandingkan pendekatan gradualis Jepang (Kaizen) dengan pendekatan
lompatan maju (inovasi) yang disukai oleh perusahaan-perusahaan Barat. Pembahasannya
didasarkan pada perbedaan antara dua pendekatan yang dirangkum dalam ilustrasi grafis
berikut.

Penerapan Kaizen Costing pada PT Indosat TBK

Tahun 2010 adalah tahun titik balik bagi Indosat, karena pada tahun itu mereka
menciptakan momentum mengembangkan pangsa pasar dan peningkatan pendapatan dari
bisnis seluler. Indosat juga melakukan modernisasi jaringan telekomunikasi dan
menyelesaikan kerangka dasar transformasi berkelanjutan di dalam bisnis, organisasi, dan
sumber daya manusia.

Pada akhir tahun 2010, Indosat mengalami peningkatan jumlah pelanggan seluler,
yaitu sebesar 34,3%. Hal ini bisa terjadi karena Indosat terus meningkatkan kualitas dan
pelayanan kepada pelanggan. Indosat mencurahkan dana dan sumber daya dalam jumlah
yang besar untuk memodernisasi dan melakukan perluasan seluler di tahun 2010. Pada tahun
2010, Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 12,1% dan peningkatan EBITDA
yang bertumbuh pesat sebesar 9,7%. Peningkatan marjin EBITDA ini menunjukkan
kemajuan Indosat dalam program efisiensi biaya yang mencakup penyesuaian struktur
insentif penjualan pulsa isi ulang untuk distributor dan pengecer, sehingga biaya pemasaran
dan penjualan lebih efisien.

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, Indosat melakukan beberapa strategi penting,


diantaranya adalah melakukan pengefisiensian biaya atau Kaizen Costing. Di awal tahun
2010, Indosat berusaha untuk mengevaluasi seluruh pengeluaran perusahaan dan mencoba
untuk memperketat pengeluaran perusahaan. Pengeluaran yang dianggap tidak terlalu
penting, ditekan semaksimal mungkin.

Di bidang Procurement, Indosat menerapkan suatu strategi baru dengan pihak


pemasok, sehingga Indosat memperoleh harga peralatan yang lebih kompetitif. Kemudian
Indosat juga menetapkan prioritas yang lebih ketat untuk pembelanjaan modal (CAPEX),
melalui pengkajian apakah proposal investasi yang diajukan akan menguntungkan secara
komesial. Tanpa mengurangi kualitas jaringan dan pengembangan, Indosat mampu
mengurangi rasio CAPEX-to-sales secarasignifikan, yaitu mengalami penurunan sebesar
Rp11.584 miliar dari tahun 2009.

Banyak beban-beban yang mengalami penurunan oleh Indosat. Beban karyawan


mengalami penurunan sebesar Rp40,4 miliar atau 2,8% dari tahun 2009. Ini dapat terjadi
karena penurunan manfaat setelah masa kerja, manfaat atas kelanjutan gaji sebelum pension
(MPP) dan diimbangi dengan peningkatan gaji dan bonus. Beban pemasaran menurun sebesar
Rp37,7 miliar atau 4,6% dari tahun 2009. Ini terjadi karena adalanya penurunan beban iklan,
promosi dan pameran, sejalan dengan startegi pemasaran yang lebih terfokus dan program
efisiensi yang Indosat lakukan. Beban administrasi dan umum juga menurun sebesar Rp33,4
miliar atau 4,8% dari tahun 2009. Hal ini terjadi karena penurunan dalam cadangan
penurunan nilai piuitang, biaya sewa, biaya professional dan beban perlengkapan kantor. Dan
Indosat juga mengembangkan Sistem Informasi SDM berbasis ESS (Employee Self Service)
dengan proses elektronik otomatis, sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi biaya dan
menekan tingkat kesalahan.

Pada tingkat organisasi, pengambilan dan pelaksanaan keputusan dipercepat melalui


penyederhanaan birokrasi internal. Contohnya dalam proses tender, Indosat menggunakan
tender modernisasi, yaitu upaya mengurangi jumlah pemasok agar lebih seragam dan lebih
memanfaatkan kehadiran pemasok. Seperti menghemat waktu karena bernegosiasi dengan
lebih sedikit pemasok, dan lebih mudah dalam hal pengendalian dan pemantauan
pembangunan jaringan dengan standar yang konsisten.
Kesimpulan

Kaizen Costing merupakan metode pengurang biaya (cost reduction), pengurangan


biaya bertujuan untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan, baik dalam hal
pemborosan, beban yang berlebih dll. Pengurangan ini selau bersamaan dengan perbaikan
kualitas produk. Kaizen Costing bertujuan untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik
dan dengan harga yang bisa diefisienkan.

Penerapan Kaizen Costing dalam sebuah perusahaan memerlukan usaha dan


kerjasama dari semua level karyawan perusahaan mulai dari level terendah sampai dengan
yang Manajemen Puncak. Dalam penerapannya dalam perusahaan, Kaizen Costing lebih
mengarah kepada analisis seberapa besar biaya aktual yang harus dikurangkan untuk
mencapai target laba atau revenue pada periode yang akan datang. Kaizen Costing berfungsi
sebagai kontrol, untuk melihat apakah selama keberjalanan perusahaan efisiensi biaya
berjalan sesuai rencana atau tidak, dan dapat menjadi sistem penilaian untuk kinerja
perusahaan. Dalam penerapannya, Kaizen Costing harus dikombinasikan dengan faktor lain,
seperti inovasi agar penerapannya dapat maksimal.
REFERENSI

Atkinson, A. Anthony, Rajiv D. Banker, Robert S. Kaplan, dan S. Mark Young. Management
Accounting. New Jersey: Prentice Hall. 2001

http://dspace.uphsurabaya.ac.id (diakses pada 17 November 2017)

http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-3-00260-JP%20Bab%202.pdf (diakses pada 17


November 2017)

http://greatariana.blogspot.co.id/2013/07/standarcosting-target-costing-dankazien.html
(diakses pada 18 November 2017)

http://ghifarifadiamanto.tumblr.com/post/88263577015/penerapan-kaizen-costing-di-pt-
indosat-tbk (diakses pada 18 November 2017)

https://maaw.info/ArticleSummaries/ArtSumImaiKaizen1986.htm (diakses pada 21


November 2017)