Anda di halaman 1dari 3

Tahun 2014, RS UBudiyah Persiapkan Akreditasi

Sebagai bentuk komitmen pada peningkatan mutu pelayanan kepa pasien, RS UBudiyah
akan mempersiapakan diri untuk akreditasi rumah sakit pada tahun 2014 ini. Persiapan itu
antara lain dilakukan dengan memperkuat kerjasama internal, meningkatkan mutu pelayanan,
membangun komunikasi dua arah dengan pasien dan keluarga pasien, serta terus berupaya
menciptakan lingkungan rumah sakit yang aman dan nyaman.
Kita targetkan 2014 ini semua kelengkapan yang dibutuhkan bagi keperluan akreditasi bisa
kita siapkan. Karena apapun cerita, sebuah rumah sakit yang berorientasi pada pelayanan dan
komunikasi yang baik dengan pasien harus memiliki standar yang bagus. Karena itu berharap
dukungan semua pihak, baik di tingkat manajemen rumah sakit, pasien dan masyarakat dan
Dinas Kesehatan Aceh, Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Kementerian Kesehatan,kata
Direktur RS UBudiyah, Marniati MKes, Jumat (17/1).
Ditambahkannya, akreditasi rumah sakit antara lain menitik beratkan pada pelayanan yang
fokus ke pasien. Menurut Standar Akreditasi baru versi 2012 ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan member pelayan yang focus ke pasien, (1) akses ke pelayan dan
keberlanjutannya; (2) mengenai hak pasien dan keluarga; (3) assessment pasien; (4)
pelayanan pasien; (5) pelayanan anestesi dan bedah; (6) manajemen dan penggunaan obat, (7)
pendidikan pasien dan keluarga.
Tidak hanya itu, aspek manajemen rumah sakit yang harus mengacu pada standar yang ada,
yaitu (1) peningkatan mutu dan keselamatan pasien; (2) pencegahan dan pengendalian
infeksi; (3) tata kelola, kepemimpinan dan pengarahan; (4) manajemen fasilitas dan
keselamatan; (5) kualifikasi dan pendidikan staf; (6) manajemen komunikasi dan informasi.
Lebih lanjut Marniati menyatakan, tujuan mengikuti akreditasi ini adalah menyejajarkan
keberadaan RS Ubudiyah sesuai dengan standar akreditasi nasional dalam hal pelayanan
kepada pasien. Ini juga bentuk komitmen rumah sakit yang mendapatkan penghargaan
Platinum Indonesia 2013-2014 dari Pusat Rekor Indonesia untuk melakukan perbaikan secara
berkelanjutan.
Di Indonesia, pelaksanaan akreditasi rumah sakit berada di bawah pembinaan Kemenkes RI
dan Dinas Kesehatan. Bimbingan akreditasi dilakukan oleh surveyor pembimbing dari
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), kemudian survey akreditasi juga dilakukan oleh
surveyor akreditasi KARS. Pasca akreditasi bimbingan diberikan oleh Kementerian
Kesehatan RI, PERSI daerah dan Dinas Kesehatan. Pelaksanaan akreditasi ini antara lain
merujuk pada Undang-Undang tentang Praktik Kedokteran, Peraturan Menteri Kesehatan
(PMK) tentang Standar Pelayanan Kesehatan, dan PMK tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit.

Permenkes nomor 12 tahun 2012 tentang Akreditasi Rumah Sakit menegaskan bahwa
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mendukung, memotivasi, mendorong dan
memperlancar proses pelaksanaan akreditasi untuk semua rumah sakit, dan dapat
memberikan bantuan pembiayaan kepada rumah sakit untuk proses akreditasi. Peran
pemerintah untuk mengawal pelaksanaan suatu kebijakan sangat diharapkan namun tetap
harus didukung oleh semua pihak yang terkait termasuk pimpinan rumah sakit. Komitmen
dari pimpinan dan dukungan dari seluruh SDM yang ada rumah sakit juga memiliki peran
penting dalam mencapai keberhasilan.

Rumah sakit harus menjadikan akreditasi sebagai acuan utama dalam seluruh pembenahan
dan perbaikan yang dilakukan. Sehingga akreditasi rumah sakit selain sebagai upaya
pemenuhan persyaratan operasional pelayanan menurut undang-undang nomor 44 tahun 2009
juga merupakan sarana pembenahan dan perbaikan terhadap tata kelola organisasi dan
pelayanan yang telah dilakukan selama ini. Seluruh komponen rumah sakit harus memiliki
pemahaman yang sama tentang akreditasi dan urgensinya sehingga dapat berperan optimal
sesuai dengan posisi dan kompetensinya.
Sebagai komitmen Indonesia untuk mencapai Eliminasi Penyakit Campak dan Pengendalian
Penyakit Rubelia/Kecacatan bawaan akibat Rubella (Congenital Rubella Syndrome/CSR)
tahun 2020, maka perlu dilakukan strategi nasional melalui beberapa kegiatan untuk
mewujudkannya. Rangkaian kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tahun 2017 dan 2018
yaitu kampanye pemberian imunisasi tambahan campak dan rubella dengan sasaran anak usia
9 bulan sampai dengan < 15 tahun diikuti dengan peralihan pemakaian vaksin campak
menjadi MR (introduksi vaksin MR) yang termasuk dalam program Imunisasi Rutin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah-sekolah (PAUDITKlSD/SMP/sederajat),
Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya.

Bersama ini dihimbau kepada para Direktur/Kepala/Penanggung Jawab Rumah Sakit,


Puskesmas dan Klinik baik milik Pemerintah, Pemerintah Daerah maupun Swasta yang
menyelenggarakan pelayanan imunisasi agar Mendukung Pelaksanaan Kampanye dan
Introduksi Imunisasi Measles Rubella (MR).

SURAT EDARAN NOMOR HK.02.02/I/L170/2017 TENTANG DUKUNGAN


PELAKSANAAN KAMPANYE DAN INTRODUKSI IMUNIASI MEASLES
RUBELLA (MR) TAHUN 2017 DAN 2018