Anda di halaman 1dari 6

139

BAB VIII
PEMBAHASAN UMUM

Pada percobaan penentuan porositas ada dua cara untuk menentukan


yaitu dengan cara menimbang dan dengan menggunakan porometer atau
mercury injection pump. Dengan cara menimbang, dilakukan
penimbangan terahadap core kering lalu core dijenuhkan dengan kerosin
dan ditimbang di udara serta di dalam kerosin. Setelah itu harga porositas
dapat dihitung dengan membandingkan volume pori batuan 12,625 cc
terhadap volume total batuan 22,625 cc tersebut kemudian dikali seratus
persen. Hasil yang diperoleh dari percobaan didapatkan harga porositas
adalah 55,801 %
Kemudian dilakukan percobaan kembali dengan menggunakan
mercury injection pump. Percobaan dilakukan dengan menggunakan
sample core yang sama. Dengan cara perhitungan yang sama harga
porositas dicari. Pertama ditentukan terlebih dahulu volume picnometer
kosong yaitu selisih skala awal dan akhir, kemudian dicari volume
picnometer yang terisi core dan dicari volume picnometer yang terisi core
dengan mencari selisih skala awal dan akhir pada picnometer, lalu
ditentukan volume bulk dengan mencari selisih volume picnometer yang
terisih core dengan volume picnometer kosong. Dan dicari lagi volume
pori dengan cara yang sama seperti penentuan volume picnometer yaitu
selisih skala awal dan akhir. Porositas dicari yaitu volume pori dibagi
volume bulk, didapatkan harga porositas dengan mercury injection pump
adalah 19,747 %
Dilihat dari dua hasil percobaan penentuan porositas dan
dibandingkan dengan parameter porositas maka harga porositas pada
sample batuan dengan cara menimbang adalah baik dan dengan cara
mercury injection pump adalah baik.

139
140

Dalam menentukan saturasi fluida dengan metode destilasi pertama-


tama kita harus menghitung berat core kering yang telah dijenuhi air dan
minyak dengan menggunakan timbangan. Berdasarkan data yang
didapatkan, berat core kering adalah 24 gram dan berat core yang telah
dijenuhi air adalah 26,3 gram sehingga dari data tersebut dapat ditentukan
besarnya volume pori pada sampele core tersebut adalah sebesar 15,1 gr
didapat dari metode penimbangan.
Sedangkan volume air yang didapat dari prosedur kerja adalah 0,3
cc, yang besarnya sama dengan berat air tersebut, berat air sebesar 0,3
gram didapatkan dari hasil perkalian antara massa jenis air () dan
volume air (V).
Untuk menentukan berat minyak dapat dilakukan dengan
memasukkan nilai berat core jenuh dikurang berat core jenuh dikurang
berat air maka didapatkan berat minyak sebesar 2 gram
Untuk menentukan volume minyak dapat dilakukan dengan
memasukkan nilai berat minyak dan harga berat jenis minyak ke dalam
perbandingan sehingga didapatkan volume sebesar 2,522 cc
Setelah semua data didapatkan, maka kita dapat menentukan saturasi
oil (So) sebesar 16,68 %, saturasi water (Sw) sebesar 1,98 %. Pada
saturasi gas(Sg) dapat diketahui dengan memasukkan harga saturasi oil
dan harga saturasi water kedalam persamaan So + Sw + Sg = 1, kemudian
rumus tersebut diturunkan menjadi Sg = 1 (So + Sw), sehingga
didapatkan nilai specific gravity sebesar 81,34 %
Hubungan pengukuran saturasi dengan perminyakan, setelah kita
mengukur saturasi pada setiap sampel batuan reservoir maka kita dapat
menentukan jumlah kandungan oil, gas, dan water yang ada dalam
reservoir, kemudian kita dapat membuat analisa bahwa reservoir tersebut
layak untuk diproduksi.
Permeabilitas ialah sifatsifat fisik batuan reservoir untuk
melewatkan fluida melalui pori yang saling berhubungan tanpa merusak
141

partikel penyusunan. Permeabilitas dibagi menjadi tiga yaitu permeabilitas


absolut, permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif.
Pada percobaan ini kami menentukan permeabilitas absolut.
Permeabilitas dapat dicari dengan dua cara yaitu dengan menggunakan
liquid permeameter dan dapat pula dengan gas permeameter. Namun pada
percobaan ini kita hanya menggunakan gas permeameter.
Pada percobaan ini dilakukan tiga kali percobaan dengan
menggunakan tekanan yang berbedabeda (0,25 atm, 0,5 atm, dan 1
atm). Setelah melakukan perhitungan dengan viskositas, laju aliran,
panjang core. Luas penampang dan perbedaan tekanan sebagai faktorfaktor
yang mempengaruhi.
Dan kita dapatkan harga permeabilitas (k) 8,152 Darcy pada tekanan
0,25 atm. Pada tekanan 0,5 atm didapat harga permeabilitas (k) 6,763
Darcy. Dan pada tekanan 1 atm didapatkan harga permeabilitas (k) 4,158
Darcy.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar perbedaan
tekanan maka semakin kecil nilai permeabilitasnya dengan syarat
menggunakan jenis core yang sama panjang dan luas permukaannya juga
sama begitu pula dengan viskositasnya. Dapat dilihat di (grafik 4.1.)
bahwa permeabilitas dan perbedaan tekanan berbanding terbalik.
Pasir merupakan salah satu permasalah di formasi. Untuk
menanggulanginya ketika pasir telah terproduksi membutuhkan resiko dan
biaya yang besar. Oleh karena itu masalah ini harus di cegah dengan
slotted liner atau gravel pack. Dan untuk menentukan ukuran slotted liner
yang akan kita gunakan, kita harus mengetahui ukuran butir pasir pada
reservoir tersebut. Oleh karena itu kita melakukan sieve analysis.
Pada percobaan ini core digerus hingga menjadi butiran butiran
pasir. Setelah itu kita masukkan butir yang paling kasar pada sieve kemudian
yang halus juga dimasukkan dimangkok sieve yang berbeda sesuai
dengan ukuran saringan dan begitu seterusnya hingga pasir habis.
Kemudian sieve disusun. Yang berisikan pasir yang masih berbutir
142

kasar di atas, dan yang paling halus dibawah secara runut. Yang kemudian
sieve ditutup dan digoncangakan selama 30 menit. Kemudian isi dari
masing masing sieve ditimbang satu per satu hingga habis. Dan dapat
kita lihat (Tabel 5.1) sebagai hasilnya.
Kemudian grafik semilog dibuat antara persen berat kumulatif
terhadap opening diameter dengan log di opening diameter. Dapat dilihat
pada grafik 5.1. dari grafik tersebut kita dapat menentukan opening
diameter pada berat kumulatif 50% (0,995 mm), opening diameter pada
berat kumulatif 40% (1,219 mm) dan opening diameter pada berat
kumulatif 90% (0.414 mm). Dengan cara memberi sedikit perpanjangan
pada grafik yang sesuai dengan lajurnya. Seterlah itu kita dapat mengitung
koefisien keseragaman butir pasir (C= 2,944) dengan membandingkan
opening diameter pada berat kumulatif 40% dengan opening diameter pada
berat kumulatif 90%. Dari hasil perhitungan menurut Schwartz koefisien
keseragaman butir pasir pada sample ini ialah sedang. Keseragaman butir
buruk karena koefisien butir lima yang menunjukan butiran besar berarti
rongga butiran juga besar yang berarti dapat lebih banyak melewatkan
partikel-partikelyang lebih kecil hingga dapat terikut terproduksi. Serta
kekompakkan formasi juga buruk karena rongga diantara butir besar.
Setelah melakukan percobaan dengan benzene lalu dikeringkan dan
dihancur hingga dapat melewati mortal. Lalu dimasukan di erlenmeyer
yang telah terisi HCl 15% dan di goyangkan hingga CO 2 hilang lalu
disaring dan dibilas.
Pertama digunakan sampel batu pasir, ketika sebelum pengasaman
dan setelah pengasaman, berat sampel tidak berubah (tetap), sedangkan
pada batuan karbonat, berat sampel sebelum dan setelah pengasaman
mengalami perubahan. Pertama kita gunakan batu pasir, berat batuan pasir
sebelum pengasaman adalah 10,3 gr dan setelah pengasaman berat batuan
pasir tetap 10,3 gr, tidak mengalami penambahan berat. Ini berarti batu
pasir tidak bereaksi dengan HCl.
143

Sedangkan, pada batuan karbonat berat sebelum pengasaman 20,6 gr


dan stetelah pengasaman menjadi 17,6 gr. Dari hasil perhitungan data
data yang telah diberikan, diketahui bahwa % berat solubility batu pasir
bernilai 0%, sedangkan % berat solubility karbonat bernilai 14,56 %. Ini
berarti bahwa batu karbonat bereaksi dengan HCl. Semakin besar berat
residu (selisihnya kecil dengan berat awal), maka semakin kecil persentase
berat solubility-nya. Dari percobaan diatas menunjukkan bahwa pasir
tak larut dengan asam klorida (HCl), lain halnya dengan karbonat yang
larut. Solubility menunjukkan persentase sample yang larut. Hal ini berarti
daya tahan pasir lebih besar dibanding karbonat terhadap asam klorida.

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi minyak pada batuan


resevoir carbonat adalah dengan cara memompakan asam (HCl) kedalam
reservoir. Fungsi dari larutan asam ini untuk memperbesar permeabilitas.
Selain itu, asam tersebut berfungsi untuk mengencerkan oil yang memiliki
viskositas besar. Sehingga dapat produksi dapat berjalan secara optimal.
Dari percobaan diatas dapat memudahkan dalam menentukan kadar
larut formasi terhadap asam, dapat dijadikan sebagai penentuan asam yang
akan digunakan dan tidak menghambat pada proses produksi, serta
menentukan jumlah asam yang efektif untuk digunakan.
Pada percobaan yang menentukan tekanan kapiler , kita menghitung
tekanan kapiler dari 20 sampel reservoir dan yang pertama kita hitung
adalah correct pressure (kolom 2) dengan menembahkan 0,05 dari
indicator pressure. Tahap 2 kita menghitung pressure volume correction
dengan metode interpolasi dan hasilnya pressure volume correction
berbanding lurus dengan indicator pressure dan correct pressure
sedangkan pressure volume correction berbanding terbalik dengan
indicator volume of mercury injection.
Tahap 3 kita menghitung actual volume of mercury injection
dengan mengurangkan hasil dari indicator volume of mercury
injection(kolom 3) dengan pressure volume correction(kolom 4).
144

Selanjutnya tahap 4,kita menghitung mercury saturation dengan Actual


volume of mercury injection dibagi volume pori dikali 100%.
Pada grafik (7.1). hubungan volume vs pressure, ketika volume pada
batuan sebesar 0,15 cc, maka pressure yang diberikan adalah sebesar 1
atm. Dan ketika volume dinaikkan menjadi 0,25 cc, pressure yang
diberikan juga bertambah besar yaitu 4 atm. Grafik di atas merupakan
grafik mercury saturation pada suatu batuan reservoir terhadap correct
pressure. Pada grafik (7.2) dapat kita ketahui bahwa correct pressure
sangat mempengaruhi besar kecilnya mercury saturation suatu batuan
reservoir, karena apabila correct pressure semakin besar maka mercury
saturation pada batuan akan semakin kecil. Misal, pada data ke-1 correct
pressure sebesar 0,56 atm dan mercury saturationnya sebesar 83,106 %.
Akan tetapi, pada data ke-2 ketika correct pressure diperbesar menjadi
1,56 atm batuan tersebut menghasilkan mercury saturation lebih kecil,
yaitu 74,443 %.
Pada percobaan ini penentuan tekanan kapiler dengan menggunakan
mercury sebagai fluida yang diinjeksikan, diperoleh bahwa untuk setiap
perubahan saturasi mercury terjadi pula perubahan tekanan koreksi. Hal
ini juga dapat dianalogikan pada reservoir, dimana untuk perbedaan
saturasi fluida yang tidak saling larut maka akan diperoleh nilai tekanan
kapiler yang berbeda pula. Pengaplikasian Tekanan Kapiler dalam dunia
perminyakan adalah sebagai tahap awal untuk menentukan kedalaman
zona perforasi dan sebagai tahap awal dalam menentukan Well komplesi.

Anda mungkin juga menyukai