Anda di halaman 1dari 21

1

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


BERBASIS LESSON STUDY (LS)

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


Metodologi Penelitian Pendidikan Tingkat Lanjut
yang dibina oleh Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc, Ph.D

Disusun oleh :
Kelompok 5

Dwi Arianita Wulansari 140341602770


Eka Imbia Agus Diartika 140341601668
Evi Kusumawati 140341601274

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2017
1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia pendidikan merupakan salah satu dunia yang mengalami
perkembangan cukup pesat. Perkembangan yang terjadi tersebut tentu disebabkan
oleh pesatnya penelitian yang dilakukan oleh para pakar pendidikan yang sudah
berkompeten di bidangnya. Banyak upaya yang berusaha peneliti gali agar
mendapatkan sistem pendidikan yang lebih baik demi kemajuan bangsa melalui
penelitian-penelitian yang sudah dilakukan. Harapannya, melalui penelitian
tersebut dapat ditemukannya suatu sistem pendidikan yang lebih baik lagi. Oleh
karena pentingnya penelitian bagi pakar pendidikan, maka hal tersebut harus
segera diajarkan sejak dini, termasuk bagi mahasiswa yang masih menempuh jalur
kuliah.
Pada dunia pendidikan, ada banyak macam penelitian yang bisa dilakukan.
Salah satunya yaitu penelitian tindakan kelas. Penelitian jenis ini merupakan
penelitian yang sudah sering dilakukan, tidak hanya oleh dosen melainkan juga
oleh mahasiswa yang sedang menempuh skripsi. Ciri atau karakteristik utama
dari penelitian jenis ini yaitu adanya siklus-siklus belajar yang menandakan
adanya peningkatan atau malah penurunan hasil belajar oleh siswa yang
diobservasi. Harapannya, dengan melakukan penelitian jenis ini dapat diketahui
model atau metode yang tepat untuk membelajarkan siswa. Apabila hal tersebut
dapat diketahui, maka model atau metode tersebut dapat diterapkan pada
pembelajaran di sekolah sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Demi kemajuan pendidikan bangsa, sikap keterbukaan juga penting untuk
diterapkan. Salah satunya adalah terbuka dengan adanya ilmu lain yang dapat
memberikan kebaikan bagi pendidikan. Lesson study merupakan sebuah cara yang
dilakukan oleh guru di sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.
Pada intinya, lesson study ini meningkatkan kolaborasi antar guru sehingga dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebab, dengan banyaknya kepala yang ikut
menyumbangkan pikiran, maka akan semakin banyak ide untuk mencapai tujuan.
Dalam dunia pendidikan istilah penelitian tindakan kelas (PTK) dan lesson
study (LS) memang sudah tidak asing. Namun, bisanya keduanya berjalan secara

1
2

terpisah. Ada penelitian tindakan kelas sendiri dan ada kegiatan lesson study
sendiri. Akan tetapi, kini ada jenis penelitian yang menggabungkan antara PTK
dengan LS. Oleh karena untuk mengetahui penjelasan, karakteristik, dan langkah-
langkah PTK-LS, maka kami menyusun makalah ini.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. bagaimana pengertian PTK, LS, dan PTK-LS?
2. bagaimana karakteristik PTK, LS, dan PTK-LS?
3. bagaimana langkah-langkah PTK, LS, dan PTK-LS?

C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui:
1. pengertian PTK, LS, dan PTK-LS
2. karakteristik PTK, LS, dan PTK-LS
3. langkah-langkah PTK, LS, dan PTK-LS
3

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian PTK, LS, dan PTK-LS


1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu jenis penelitian yang sudah
tidak asing dalam dunia pendidikan. Menurut Depdiknas (2008), penelitian
tindakan (action research) dikembangkan dengan tujuan untuk mencari
penyelesaian terhadap problema sosial (termasuk pendidikan). Penelitian ini
diawali dengan suatu kajian terhadap suatu masalah secara sistematis. Hasil kajian
ini dijadikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja (tindakan) sebagai upaya
untuk mengatasi masalah tersebut. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan
tindakan dilanjutkan dengan observasi dan evaluasi hasil observasi dan evaluasi
digunakan sebagai masukan melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat
pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi kemudian dijadikan landasan untuk
menentukan perbaikan serta penyempurnaan tindakan selanjutnya.
Menurut Kemmis dalam Dantes (2006), penelitian tindakan adalah suatu
bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-
situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan
sendiri. Berdasarkan definisi di atas, dapat dikatakan bahwa PTK merupakan
kajian yang bersifat reflektif dari pelaku penelitian tersebut. PTK dilakukan dalam
situasi sosial (termasuk di dalamnya situasi pendidikan) dalam upaya
memantapkan alasan dan ketepatan dari praktik pengajaran pelaku penelitian
(guru), pemahaman terhadap praktik tersebut, dan situasi dimana praktik tersebut
dilakukan. Pada kegiatan PTK terdapat tahap perencanaan, pelaksanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi (Hopkins dalam Arikunto, 2006). Dalam bidang
pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran penelitian tindakan
berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action
Research (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam
kelas ketika pembelajaran berlangsung dan bertujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan kualitas pembelajaran serta berfokus pada kelas atau pada proses
pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat

3
4

disimpulkan bahwa PTK merupakan jenis penelitian yang berlangsung di dalam


kelas, terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, tindakan, pengamatan, dan
refleksi yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar.

2. Lesson Study (LS)


Lesson study berasal dari bahasa Jepang Jugyokenkyu yang merupakan
gabungan dari kata jugyo artinya lesson atau pembelajaran dan kenkyu yang
artinya study atau research atau pengkajian (Syamsuri, 2007). Beberapa ahli juga
ada mendefinisikan istilah lesson study, yaitu:
a. Menurut Cerbin & Kopp dalam Lewis (2002), lesson study merupakan proses
pengembangan kompetensi profesional untuk para guru yang berasal dan
dikembangkan secara sistematis dalam sistem pendidikan di Jepang dengan
tujuan utama menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih baik dan efektif.
b. Menurut Styler dan Hiebert dalam Karim (2006), lesson study merupakan
suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengidentifikasi
masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran,
membelajarkan peserta didik sesuai skenario, mengevaluasi dan merevisi
skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah
direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan
guru-guru lain.
c. Menurut Dirjend Dikti (2009), menjelaskan bahwa lesson study merupakan
suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran
secara kolaboratif dan berkelanjutan, berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas
yang saling membantu dalam belajar untuk membangun komunitas belajar.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa lesson
study merupakan sebuah kegiatan kolaboratif antara guru-guru yang mengkaji
suatu kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, mengevaluasinya, kemudian
menerapkan kegiatan pembelajaran yang lebih baik sesuai dengan hasil evaluasi.

3. Penelitian Tindakan Kelas-Lesson Study (PTK-LS)


Kegiatan PTK dan LS seringkali disamaartikan oleh beberapa pihak.
Padahal, keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Sesuai dengan penjelasan di
5

atas, PTK dan LS memiliki pengertian yang berbeda. Namun, tidak menutup
kemungkinan kegiatan PTK memang bisa digabung dengan kegiatan LS. Sebab,
PTK merupakan salah satu bagian dari kegiatan yang bisa diterapkan melalui
kegiatan LS. Antara PTK dan LS memang memiliki persamaan seperti kesamaan
pelaku kegiatan, yaitu guru tetapi keduanya juga memiliki perbedaan. Perbedaan
yang mendasar yaitu cakupan dari kegiatan ini. LS memiliki cakupan yang lebih
luas dibandingkan PTK. PTK hanya salah satu kegiatan penelitian yang dapat
dilaksanakan pada kegiatan LS, PTK berbasis penelitian sedangkan LS tidak
selalu harus berbasis penelitian. Pada PTK dikenal adanya siklus sedangkan pada
LS tidak ada (Sriyati, 2014).

B. Karakteristik PTK, LS, dan PTK-LS


1. Karakteristik PTK
PTK merupakan bentuk penelitian tindakan yang diterapkan dalam
aktivitas pembelajaran di kelas. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata
yang dilakukan sebagai bagian dari kegiatan penelitian dalam rangka
memecahkan masalah. Tindakan tersebut dilakukan pada situasi alami serta
ditujukan untuk memecahkan masalah praktik. Tindakan yang diambil merupakan
kegiatan yang sengaja dilakukan atas dasar tujuan tertentu. Tindakan dalam PTK
dilakukan dalam suatu siklus kegiatan.
Terdapat sejumlah karakteristik yang merupakan keunikan PTK
dibandingkan dengan penelitian pada umumnya menurut Depdiknas (2008), yaitu:
PTK merupakan kegiatan yang tidak saja berupaya memecahkan masalah,
tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiah atas pemecahan masalah tersebut
PTK merupakan bagian penting upaya pengembangan profesi guru melalui
aktivitas berpikir kritis dan sistematis serta membelajarkan guru untuk
menulis dan membuat catatan
Persoalan yang dipermasalahkan dalam PTK bukan dihasilkan dari kajian
teoritik atau dan penelitian terdahulu tetapi berasal dari adanya permasalahan
nyata dan aktual (yang terjadi saat ini) dalam pembelajaran di kelas. PTK
berfokus pada pemecahan masalah praktis bukan masalah teoritis
6

PTK dimulai dari permasalahan yang sederhana nyata, jelas, dan tajam
mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas
Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru dan kepala sekolah)
dengan peneliti dalam hal pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan,
pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tentang tindakan
PTK dilakukan hanya apabila ada keputusan kelompok dan komitmen untuk
pengembangan, bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru, alasan
pokok ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan, dan bertujuan
memperoleh pengetahuan dan atau sebagai upaya pemecahan masalah.

2. Karakteristik LS
Konsep awal dan implementasi pelaksanaan LS pertama kali dilakukan
oleh para guru pendidikan dasar di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam
mengembangkan LS tampaknya mulai diikuti oleh beberapa negara lain termasuk
Amerika Serikat, yakni melalui upaya keras dari Catherine Lewis yang telah
melakukan observasi penelitian tentang LS di Jepang sejak tahun 1993.
Berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang tersebut, Lewis
(2004) memperoleh hasil, yakni berupa karakteristik dari LS, yaitu:
Adanya tujuan bersama untuk jangka panjang. LS didahului adanya
kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan
dalam kurun waktu untuk jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih
luas, misalnya tentang pengembangan kemampuan akademik siswa,
pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar
siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan
kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya
Penekanan pada materi pelajaran yang penting. LS memfokuskan pada materi
atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam
pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa
Penekanan pada studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama
dari LS adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa,
misalnya apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar,
bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan
7

tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal lainnya yang berkaitan dengan
aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada
bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah
supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas.
Mengutamakan observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung
boleh dikatakan merupakan jantungnya LS. Untuk menilai kegiatan
pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup
dilakukan hanya dengan cara melihat dari RPP atau hanya melihat dari
tayangan video, tetapi juga harus mengamati proses pembelajaran secara
langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh
tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai
hal-hal yang detail sekalipun dapat digali. Penggunaan rekaman bisa saja
digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti
(Depdiknas, 2008).
Tabel perbedaan dan persamaan antara PTK dan LS dapat dilihat pada
Tabel 2.1
Tabel 2.1 Perbedaan dan Persamaan PTK dan LS
No. Aspek PTK LS
1. Definisi PTK adalah suatu bentuk LS adalah model pembinaan
kajian yang bersifat reflektif profesi pendidik melalui
dengan melakukan tindakan pengkajian pembelajaran
tertentu agar dapat secara kolaboratif dan
memperbaiki dan atau berkelanjutan berlandaskan
meningkatkan praktik prinsip kolegalitas dan
pembelajaran di kelas mutual learning untuk
secara profesional membangun komunitas
belajar
2. Tujuan Meningkatkan mutu proses Melakukan pembinaan
dan hasil pembelajaran, profesi pendidik secara
mengatasi masalah berkelanjutan agar terjadi
pembelajaran, profesionalitas pendidik terus
8

meningkatkan menerus yang pada akhirnya


profesionalisme dan dapat meningkatkan mutu
menumbuhkan budaya pembelajaran
akademik
3. Tahapan Perencanaan, pelaksanaan, Plan, do, dan see
tindakan, pengamatan, dan
refleksi
4. Keberadaan Ada Tidak ada
siklus
5. Pelaku Kolaborasi guru, guru- Guru yang tergabung dalam
kegiatan dosen, kepala sekolah dan MGMP atau LSBS dan dosen
pengawas
6. Fokus Siswa dan guru Kegiatan siswa
pengamatan
kegiatan
7. Cakupan Lebih sempit Lebih luas (jenis penelitian
lain bisa dilakukan pada
kegiatan LS)
8. Basis Berbasis penelitian Tidak selalu harus berbasis
penelitian
9. Objek kajian Materi ajar, siswa, guru, Materi ajar, metode/ strategi/
pembelajaran media pembelajaran, hasil pendekatan pembelajaran,
belajar, lingkungan, dan LKS, media pembelajaran,
unsur pengelolaan setting kelas, asesmen

3. Karakteristik PTK-LS
Beberapa karakteristik dari PTK-LS yang dapat diidentifikasi menurut
Sriyati (2014) yaitu:
memiliki tahapan perencanaan, pelaksanaan/ impementasi termasuk di
dalamnya tahap observasi dan diakhiri dengan tahap refleksi.
pada kegiatan pelaksanaan tindakan, jumlah observer atau pengamat antara 2-
3 orang termasuk guru yang tampil.
9

Pelaku kegiatan adalah guru


Objek kajian pembelajaran pada PTK-LS adalah materi ajar, strategi/ metode/
model pembelajaran, LKS, media pembelajaran, setting kelas dan penilaian/
asesmennya
Berdasarkan penelitian Sriyati (2014), PTK sangat mungkin dilakukan
pada kegiatan LS terutama pada pelaksanaan siklus 1, siklus lainnya dapat
dilakukan di luar kegiatan LS dengan cara berkolaborasi dengan guru bidang studi
di sekolah yang sama atau guru bidang studi yang berasal dari sekolah yang
berdekatan, secara bergiliran melakukan PTK.

C. Langkah-langkah Penelitian
1. Langkah Penelitian Tindakan Kelas
Model Penelitian tindakan kelas Kurt Lewin menjadi acuan dari berbagai
model penelitian tindakan karena Kurt Lewin yang pertama kali memperkenalkan
penelitian tindakan atau action research. Model penelitian tindakan dari Kurt
Lewin, menyatakan bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah pokok
(Rido, 2009). Kurt Lewin inilah yang pertama memperkenalkan adanya penelitian
tindakan. Menurut Rido (2009) model penelitian tindakan kelas dari Kurt Lewin
meliputi langkah sebagai berikut :
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan yaitu mengembangkan rencana tindakan secara kritis untuk
meningkatkan apa yang telah terjadi. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
yaitu membuat RPP, mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang
diperlukan di kelas, mempersiapkan instrumen untuk merekam dan menganalisis
data mengenai proses dan hasil tindakan.
b. Tindakan (Acting)
Tindakan yaitu tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali yang
merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana. Pada tahap ini peneliti
melakukan tindakan yang telah dirumuskan dalam RPP, dalam situasi yang aktual
meliputi kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.
c. Pengamatan (Observation)
10

Observasi yaitu kegiatan pengumpulan data yang berupa proses perubahan


dalam proses belajar mengajar. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan seperti
mengamati perilaku siswa yang sedang mengikuti kegiatan pembelajaran,
memantau kegiatan diskusi kelompok, dan mengamati pemahaman setiap siswa
dalam penguasaan materi pelajaran yang telah dirancang.
d. Refleksi (Reflection)
Refleksi yaitu mengingat dan merenungkan suatu tindakan seperti yang
telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah,
persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis. Pada tahap ini
peneliti akan mengevaluasi hasil observasi, mencatat kelemahan-kelemahan untuk
dijadikan bahan penyusunan rancangan siklus berikutnya sampai tujuan PTK
tercapai.

Gambar : Model Penelitian Kurt Lewin


(Sumber : Depdiknas, 2005)
Pada awalnya proses penelitian dimulai dari perencanaan, namun karena
ke empat komponen tersebut berfungsi dalam suatu kegiatan yang berupa siklus,
maka untuk selanjutnya masing-masing berperan secara berkesinambungan.
Siklus model penelitian tindakan kelas dari Kurt Lewin dapat dilihat pada bagan
berikut :
11

Gambar : Bagan tahapan model Kurt Lewin


(Sumber : Rido, 2009)
Menurut Djojosuroto (2004) keempat prosedur pelaksanaan penelitian
tidakan kelas dengan model Kurt Lewin dapat dijabarkan seperti berikut :
a. Melaksanakan survei terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Teknik yang
digunakan : pengamatan, wawancara, analisis dokumen, tes, atau teknik lain.
b. Mengidentifikasi berbagai masalah yang dirasakan perlu untuk segera
dipecahkan. Misalnya: siswa sangat pasif selama pembelajaran.
c. Merumuskan secara jelas, dengan disertai penjelasan tentang penyebab-
penyebabnya. Misalnya siswa sangat pasif selama pembelajaran karena dalam
proses pembelajaran guru hanya menggunakan teknik ceramah.
d. Merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah yang muncul tersebut.
Misalnya untuk pelajaran bahasa Indonesia guru menerapkan teknik bermain
peran (role play) dengan mempertimbangkan bahwa dengan teknik tersebut
siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa dengan ragam yang
dikehendaki.
e. Melaksanakan tindakan, yang dalam contoh di atas ialah menerapkan teknik
bermain peran dalam pelajaran bahasa Indonesia.
f. Melakukan pengamatan terhadap kinerja dan perilaku siswa. Tujuannya adalah
untuk mengetahui ada tidaknya perubahan keaktifan siswa dalam
pembelajaran.
12

g. Menganalisis dan merefleksi, yaitu menjelaskan keberhasilan atau kegagalan


pelaksanaan tindakan. Misalnya dengan teknik bermain peran siswa mulai
menampakkan keberaniannya menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam
tertentu. Masalahnya: mereka masih terkesan malu-malu kucing.
h. Melakukan perencanaan tindakan ulang untuk meningkatkan kualitas kinerja
seperti yang dihendaki atau memecahkan masalah yang tersisa (contoh di atas
adalah rasa malu-malu kucing). Ketika sampai ke langkah ini, peneliti sudah
memasuki siklus yang kedua.

2. Langkah Lesson Study


Menurut Sutopo & Ibrohim (dalam Susilo, 2013 ) pelaksanaan Lesson
Study ditekankan pada 3 tahap yaitu Plan (merencanakan atau merancang), Do
(melaksanakan), dan See (mengamati, dan sesudah itu merefleksikan hasil
pengamatan) dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Tahap perencanaan (Plan)
Bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini
mampu membelajarkan siswa secara efektif serta membangkitkan partisipasi
siswa dalam pembelajaran. Perencanaan ini dilakukan secara kolaboratif oleh
beberapa orang pendidik yang termasuk dalam suatu kelompok Lesson Study
(jumlah bervariasi 6-10 orang). Biasanya ditetapkan dulu siapa pendidik yang
akan menjadi Pengajar (Guru Model), kemudian guru model menyusun RPPnya.
Para pendidik kemudian bertemu dan berbagi ide menyempurnakan rancangan
pembelajaran yang sudah disusun guru model untuk menghasilkan cara
pengorganisasian bahan ajar, proses pembelajaran, maupun penyiapan alat bantu
pembelajaran yang dianggap paling baik. Semua komponen yang tertuang dalam
rancangan pembelajaran ini kemudian disimulasikan sebelum dilakasanakan di
kelas (Susilo, 2013).

b. Tahap Pelaksanaan (Do)


Menerapkan rancangan pembelajaran yang telah direncanakan. Salah satu
anggota kelompok berperan sebagai guru model dan anggota kelompok lainnya
mengamati. Fokus pengamatan diarahkan pada kegiatan belajar siswa dengan
13

berpedoman pada prosedur dan instrumen yang telah disepakati pada tahap
perencanaan, bukan pada penampilan pendidik yang sedang bertugas mengajar.
Selama pembelajaran berlangsung, para pengamat tidak diperkenankan
mengganggu proses pembelajaran walaupun mereka boleh merekamnya dengan
kamera video atau kamera digital. Tujuan utama kehadiran pengamat adalah
belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung (Susilo, 2013).
c. Refleksi (See)
Menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran.
Pendidik yang bertugas sebagai guru model mengawali diskusi dengan
menyampaikan kesan dan pemikirannya mengenai pelaksanaan pembelajaran.
Kesempatan berikutnya diberikan kepada pendidik yang bertugas sebagai
pengamat. Selanjutnya pengamat dari luar juga mengemukakan apa Lesson
Learned yang dapat diperoleh dari pembelajaran yang baru berlangsung. Kritik
dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti hati
pendidik yang membelajarkan, semuanya demi perbaikan praktik ke depan.
Berdasarkan semua masukan dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya
yang lebih baik.

3. Langkah PTK berbasis Lesson Study


Tahapan PTK berbasis LS menurut Prayitno (2015) meliputi: tahap
perencanaan, tindakan dan observasi (memuat tahap plan, do, dan see miliknya
LS), serta tahap refleksi. Prosedur penelitian terdiri atas dua siklus. Pada siklus I
tahap planning meliputi menetapkan rencana pembelajaran yang akan diterapkan
di kelas sebagai tindakan pada siklus I, pemilihan metode yang sesuai dengan
karakter matakuliah dan materi, memilih bentuk evaluasi, dan menentukan alokasi
waktu. Tahap implementing dan observing meliputi tahap Plan, Do, dan See dari
Lesson study yang kegiatan di dalamnya menyusun skenario model pembelajaran
STAD, menyusun perangkat pembelajaran yakni RPP, LKM, lembar observasi,
dan perangkat tes hasil tindakan. Tahap do dilakukan pelaksanaan tindakan hasil
plan, kemudian dilanjutkan dengan tahap see untuk merefleksi pembelajaran yang
telah berlangsung. Hasil dari kegiatan see akan digunakan untuk perbaikan dalam
plan pertemuan selanjutnya. Pelaksanaan tindakan ini dilakukan untuk 2 kali
14

pertemuan sehingga pelaksanaan tindakan pada PTK berlangsung 2 kali siklus LS


yang terdiri atas plan, do dan see. Tahap reflecting PTK merupakan tahap evaluasi
dan diskusi yang membahas pembelajaran dan memikirkan tindakan perbaikan
pada siklus 2. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran pada siklus II tidak berbeda
dengan siklus I. Tetapi secara rinci, perencanaan pembelajaran pada siklus II akan
ditulis setelah refleksi pada siklus I.
Menurut pendapat Mustofa dkk., (2016) PTK dilaksanakan dengan 2
siklus. Kegiatan LS terdiri atas 3 tahapan, yaitu tahap perencanaan (plan),
pelaksanaan (do) dan refleksi (see) pelaksanaan kegiatan LS tersebut dijelaskan
sebagai berikut. Tahap perencanaan (plan), guru, obsever dan peneliti
berkolaborasi dalam LS untuk menyusun dan memperbaiki RPP pada saat
sebelum pertemuan dan setelah pertemuan. RPP disusun berdasarkan model
pembelajaran PBL dimana proses pembelajaran dipusatkan pada keaktifan siswa.
Tahap pelaksanaan (do), terdiri atas 2 kegiatan utama, yaitu kegiatan pelaksanaan
pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun bersama,
dan kegiatan observasi atau pengamatan yang dilakukan oleh guru dan observer
anggota LS. Tahap refleksi (see), guru, observer dan peneliti mengkaji dan
menelaah proses pembelajaran yang telah dilaksanakan serta memberikan
beberapa usulan untuk perbaikan atas pelaksanaan proses pembelajaran
selanjutnya.
Beda halnya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Miharja (2013),
Tahapan pelaksanaan dalam masing-masing siklus terdiri atas perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan evaluasi. Tahapan lesson study (LS) yang dilakukan
adalah plan, do, see. Tahapan pelaksanaan PTK dan LS dilakukan secara
terintegrasi di dalam tiap siklus yang dilakukan. Pendekatan yang dilakukan ini
adalah pendekatan kualitatif. Adapun penjelasan tahapan PTK berbasis LS ialah
sebagai berikut.
Siklus PTK Pertemuan LS Kegiatan
1 Perencanaan Plan Identifikasi masalah dan penyebabnya
Membuat rencana pelaksanaan perkuliahan (RPP)
Membuat instrumen penelitian berupa lembar
observasi
15

Siklus PTK Pertemuan LS Kegiatan


Membuat rubrik penilaian sikap ilmiah mahasiswa
Tindakan Pertemuan Do Melaksanakan tindakan yang tertuang dalam RPP
Pengamatan 1 Mengamati aktivitas mahasiswa dalam menerima
tindakan dari peneliti selama proses pembelajaran
See Menggunakan instrumen penelitian untuk melihat
capaian tiap tindakan
Pertemuan Plan o Menyusun lembar keterlaksanaan pembelajaran
2 o Menyusun lembar pengamatan sikap ilmiah
mahasiswa
o Lembar keterlaksanaan (Plan, Do, See) Lesson
Study
Do Melaksanakan tindakan yang tertuang dalam RPP
Mengamati aktivitas mahasiswa dalam menerima
tindakan dari peneliti selama proses pembelajaran
Refleksi See Menganalisis hasil observasi melalui diskusi
balikan, dan instrumen yang terkumpul
Memberi umpan balik dari observer untuk
perbaikan RPP dan peningkatan siklus selanjutnya
2 Perencanaan Plan Identifikasi masalah dan penyebabnya
Membuat rencana pelaksanaan perkuliahan (RPP)
Membuat instrumen penelitian berupa lembar
observasi
Membuat rubrik penilaian sikap ilmiah mahasiswa
Tindakan Pertemuan Do Melaksanakan tindakan yang tertuang dalam RPP
Pengamatan 3 Mengamati aktivitas mahasiswa dalam menerima
tindakan dari peneliti selama proses pembelajaran
See Menggunakan instrumen penelitian untuk melihat
capaian tiap tindakan
Pertemuan Plan o Menyusun lembar keterlaksanaan pembelajaran
4 o Menyusun lembar pengamatan sikap ilmiah
16

Siklus PTK Pertemuan LS Kegiatan


mahasiswa
o Lembar keterlaksanaan (Plan, Do, See) Lesson
Study
Do Melaksanakan tindakan yang tertuang dalam RPP
Mengamati aktivitas mahasiswa dalam menerima
tindakan dari peneliti selama proses pembelajaran
Refleksi See Menganalisis hasil observasi melalui diskusi
balikan, dan instrumen yang terkumpul
Memberi umpan balik dari observer untuk
perbaikan RPP dan peningkatan siklus selanjutnya
17

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

a. PTK merupakan jenis penelitian yang berlangsung di dalam kelas, terdiri dari
tahap perencanaan, pelaksanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang
bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar. Lesson study
merupakan sebuah kegiatan kolaboratif antara guru-guru yang mengkaji suatu
kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, mengevaluasinya, kemudian
menerapkan kegiatan pembelajaran yang lebih baik sesuai dengan hasil
evaluasi.
b. Antara PTK dan LS memang memiliki persamaan seperti kesamaan pelaku
kegiatan, yaitu guru tetapi keduanya juga memiliki perbedaan. Perbedaan yang
mendasar yaitu cakupan dari kegiatan ini. LS memiliki cakupan yang lebih luas
dibandingkan PTK. PTK hanya salah satu kegiatan penelitian yang dapat
dilaksanakan pada kegiatan LS, PTK berbasis penelitian sedangkan LS tidak
selalu harus berbasis penelitian. Pada PTK dikenal adanya siklus sedangkan
pada LS tidak ada. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata yang
dilakukan sebagai bagian dari kegiatan penelitian dalam rangka memecahkan
masalah. Ciri khusus LS yaitu mengedepankan model pembinaan untuk guru
melalui guru observer ada di dalam kelas untuk belajar dari pembelajaran yang
sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru.
c. Model penelitian tindakan dari Kurt Lewin, menyatakan bahwa dalam satu
siklus PTK terdiri dari empat langkah pokok, yaitu perencanaan (planning),
tindakan (acting), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection).
Pelaksanaan Lesson Study ditekankan pada 3 tahap yaitu Plan (merencanakan
atau merancang), Do (melaksanakan), dan See (mengamati, dan sesudah itu
merefleksikan hasil pengamatan). Agar kita memperoleh dua keuntungan
sekaligus dari pelaksanaan kegiatan lesson study, kita bisa melakukan PTK
ketika pelaksanaan lesson study, sehingga dinamakan PTK berbasis LS.

17
18

3.2 Saran
Saran yang diberikan sebagai berikut:
a. Perlu dipahami kembali oleh penulis dan guru bahwasanya PTK berbeda
dengan LS
b. Pelaksanakan PTK dapat dikolaborasikan dengan LS untuk lebih meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia
19

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Dantes, Nyoman. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Karangasem: Universitas


Pendidikan Ganesha Singaraja.

Depdiknas. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Ditjen PMPTK.

Dirjen Dikti. 2009. Panduan Penyusunan Program Perluasan dan Penguatan


Lesson Study di LPTK (Lesson Study Dissemination Program for
Strengthening Teacher Education in Indonesia- LEPDIPSTI) Jakarta:
Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Depdiknas.

Djojosuroto, Kinayati dan Sumaryati. 2004. Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian


Bahasa & Sastra. Bandng: Yayasan Nuansa Cendekia.

Karim, Muchtar A. 2006. Apa, Mengapa, dan Bagaimana Lesson Study. Malang:
FMIPA UM.

Lewis.2002. Lesson Study: A Handbook of Teacher-Led Intructional.


Philadelphia, PA: Research for Better Schools.

Miharja, Fuad Jaya. 2013. Penerapan Problem-Based Learning Berbasis Lesson


Study Terhadap Sikap Ilmiah Dan Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
Mata Kuliah Metodologi Penelitian. (online), http //: academia.edu./.
diakses pada 30 Oktober 2017.

Mustofa, Zainul, Susilo, Herawati, Al Muhdhar, Mimien Heni Irawati. 2016.


Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Melalui
Pendekatan Kontekstual Berbasis Lesson Study Untuk Meningkatkan
Kemampuan Memecahkan Masalah Dan Hasil Belajar Kognitif Siswa
SMA. Jurnal Pendidikan, Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 5 (1),
(885-889).

Prayitno, Trio Agung. 2015. Penerapan Metode Pembelajaran Student Teams


Achiesvement Divisions Berbasis Lesson Study Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa Morfologi Tumbuhan. Jurnal
Saintifika, 2 (17), 10-19.

Rido, Kurnianto, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Aprinta.

Sriyati, Siti. 2014. Bagaimana Implementasi Penelitian Tindakan Kelas dalam


Aktivitas Lesson Study? Jurnal Pengajaran MIPA. 19 (1). Hlm: 61-68,
(Online),http://journal.fpmipa.upi.edu/index.php/jpmipa/article/viewFile/4
25/330. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2017.
20

Susilo, Herawati. 2013. Lesson Study sebagai Sarana Meningkatkan Kompetensi


Pendidik. Makalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya PLEASE
2013 di Sekolah Tinggi Theologi Aletheia Jalan Argopuro 28-34
Lawang, tanggal 9 Juli 2013.

Syamsuri, Istamar. 2007. Lesson Study. Malang: FMIPA UM.