Anda di halaman 1dari 21

CH 12 STANDARD SETTING: ECONOMIC ISSUES

OVERVIEW
Standard setting adalah bentuk dari sebuah peraturan yang merupakan tanggung
jawab dari pemerintah atau legislative. Standar disusun dengan tujuan untuk memediasi
konflik kepentingan antara investor dan manajemen yang saling bertentangan. Penyusunan
standar merupakan sebuah tantangan bagi para akuntan karena luasnya pengaaturan standar
yang dilakukan demi kepentingan berbagai macam pihak. Banyak aspek dari produksi
informasi perusahaan yang diregulasi, dan banyak regulasi tersebut dibuat oleh badan
penyusun standar dalam bentuk prinsip akuntansi yang diterima dan berlaku umum-GAAP.

REGULATION OF ECONOMIC ACTIVITY


Alasan utama adanya regulasi ini adalah untuk melindungi para individu yang berada
pada suatu informasi yang merugikan. Ini menunjukkan bahwa asimetri informasi mendasari
kebutuhan untuk regulasi atas produksi informasi Aturan insider trading dan regulasi untuk
memastikan pengungkapan yang penuh dalam prospektus merupakan beberapa contohnya.
Selain untuk melindungi investor biasa, regulasi semacam ini juga dimaksudkan untuk
memperbaiki kinerja pasar modal dengan meningkatkan keyakinan publik mengenai
kewajaran pasar modal. Informasi asimetri seringkali digunakan untuk membenarkan
diberlakukannya regulasi untuk melindungi keadaan yang merugikan informasi. Aturan
mengenai insider trading dan regulasi untuk memastikan pengungkapan yang penuh dalam
prospektus merupakan beberapa contohnya.
Perhatian utama yang dibahas dalam bab ini adalah regulasi persyaratan disclosure
minimum, standar akuntansi dan standar auditing yang diterima umum, dan persyaratan
bahwa perusahaan publik harus diaudit. Kita akan menggunakan istilah pengaturan standar
untuk menunjukkan pembentukan berbagai aturan dan regulasi ini
Terdapat dua jenis informasi yang dapat dimiliki oleh manajer: jenis pertama
proprietary information, yaitu informasi yang akan dirilis nantinya mempengaruhi secara
berlawanan aliran kas perusahaan di masa mendatang. Misalnya, informasi teknik mengenai
patent yang berharga, atau rencana untuk inisiatif strategi seperti penawaran takeover atau
merger. Biaya bagi manajer dan perusahaan akibat dirilisnya informasi proprietary ini bisa
sangat tinggi. Jenis kedua disebut nonproprietary information, yaitu merupakan informasi
yang tidak secara langsung mempengaruhi arus kas perusahaan. Informasi ini mencakup
informasi laporan keuangan, peramalan earning, rincian pembiayaan yang baru, dll. Audit
juga termasuk dalam informasi yang bersifat nonproprietary.

1
WAYS TO CHARACTERIZE INFORMATION PRODUCTION
Produksi informasi digunakan untuk dua alasan. Pertama, informasi sebagai suatu
komoditas yang dapat diproduksi dan dijual. Maka, wajar saja jika kita mempertimbangkan
secara terpisah biaya dan manfaat informasi yang diproduksi. Kedua, memerlukan suatu cara
yang dapat menyatukan pemikiran mengenai berbagai macam cara yang dilakukan untuk
memproduksi informasi. Informasi merupakan komoditas yang kompleks. Ada beberapa cara
untuk menjelaskan ketika kita berbicara mengenai kuantitas informasi yang diproduksi,
yakni :
Kita dapat memikirkan informasi yang lebih tajam dan benar (finer information).
Dalam konteks akuntansi, sistem pelaporan yang baik akan menjadikan lebih detail
keberadaan laporan berdasarkan historical cost.
Kita bisa berpikir mengenai informasi tambahan
Dalam konteks akuntansi, informasi tambahan diartikan sebagai pengantar sistem
informasi yang baru, untuk melaporkan isi (bahan) bukan pengantar dari historical
cost.
Memikirkan produksi informasi yang lebih kredibilitas
mengetahui bahwa informasi tentang suplier mempunyai insentif terhadap
pengungkapan yang sejujurnya.

FIRST-BEST INFORMATION PRODUTION


Dari sudut pandang society, banyaknya informasi produksi yang baik dihitung dengan
marginal social benefit dari sebuat informasi dibandingkan dengan marginal social cost dari
sebuah informasi. Apabila ada tambahan produksi informasi, maka costnya akan lebih besar
daripada benefit yang didapat.
Costs of information production termasuk direct costs dari menyiapkan dan menrilis
informasi, kemungkinan untuk merilis informasi tambahan, dan kemungkinan kenaikan
contracting costs.

SOURCES OF MARKET FAILURE IN THE PRODUCTION OF INFORMATION


Setidaknya ada 4 hal yang menyebabkan terjadinya kegagalan pasar, yakni :

Eksternalities dan Free-Riding

2
Eksternalitas merupakan tindakan yang diambil oleh perusahaan atau individu yane
menimbulkan biaya atau manfaat pada pihak lain dimana pihak yang menciptakan
eksternalitas tidak terbebani atau malah memperoleh pendapatan. Sedangkan free-riding
adalah bukti nyata dari sebuah perusahaan atau individual yang mengambil keuntungan dari
externalitas.

The Adverse Selection Problem


Permasalahan dari adverse selection sendiri memiliki 2 bentuk yakni terdiri dari
Insider Trading, dimana adanya insider trading ini akan mengurangi minat investor eksternal
terhadap pasar sehingga pasar menjadi kurang liquid. Lalu bentuk kedua adalah manajer yang
tidak mengungkapkan secara terbuka adanya kabar buruk mengenai perusahaan dimana hal
ini mengakibatkan investor tidak bisa membedakan saham mana yang secara benar bagus dan
mana yang tidak bagus, hal ini dikarenakan banyak hal yang disimpan oleh manajer yang
tidak diungkapkan

The Moral Hazard Problems


Adanya moral hazard menyebabkan pasar tenaga kerja tidak dapat menilai kualitas
dari seorang manajer dengan baik

Unamity
Adanya adverse selection dan moral hazard menyebabkan adanya perbedaan pendapat
diantara investor mengenai tindakan manajemen dalam memaksimalkan nilai perusahaan dan
apa saja hal yang menjadi kepentingan investor apakah telah sejalan dengan arah aktivitas
operasi perusahaan.

The Coase Theorem


Mekanisme kunci dari produksi informasi untuk kontak dikembangkan oleh Ronald
Coase. Dia menunjukkan kondisi di mana masalah dari eksternalitas dapat diinternalisasi,
sehingga ada pengurangan kebutuhan untuk regulasi. Ini dikenal dengan Coase theorem.
Untuk menerjemahkan Coase theorem ke dalam konteks akuntansi, contohnya di
mana sebuah perusahaan memiliki informasi yang jika diterbitkan akan berbiaya $100.
Informasi ini akan bermanfaat untuk investor yang menilai informasi itu seharga $150.
Seandainya investor memiliki hak untuk meminta informasi itu diterbitkan, maka perusahaan
akan menerbitkan informasi itu selama biaya yang terjadi adalah sebesar $100 kurang dari

3
$150 yang merupakan biaya penggantian uang investor untuk kerugian jika informasi ini
tidak diterbitkan.
Asumsi yang masuk akal adalah perusahaan memiliki hak properti untuk informasi ini.
Perusahaan memiliki kekuatan monopoli selama investor memiliki kemampuan untuk
membayar sebesar $150 untuk informasi itu jika diterbitkan, yang sebenarnya hanya akan
berbiaya $100. Yang terjadi selanjutnya bergantung pada pihak yang relatif memiliki
kekuatan tawar-menawar. Jika mereka cocok dalam tawar-menawar, maka perjanjian yang
masuk akal adalah investor akan membayar $125 untuk informasi tersebut. Tanpa
mempertimbangakan hasil, informasi akan diterbitkan tanpa regulasi. Ini diperlukan selama
manfaat dari total informasi adalah $150 mengingat biaya dari penerbitan informasi hanya
$100.
Pada prinsipnya, dorongan kontraktual Coase untuk produksi informasi dapat
diperpanjang untuk pihak-pihak yang bersangkutan. Investor yang berbeda akan
menginginkan nilai yang berbeda dari informasi tentang perusahaan. Investor yang mahir
dalam analisis keuangan mungkin meminta sebuah proyeksi yang baik dari kegiatan operasi
di waktu mendatang untuk menyiapkan sebuah estimasi arus kas masa depan dan tingkat
pengembalian investasi. Investor lain mungkin menginginkan informasi tentang kebijakan
dividen perusahaan. Investor yang sangat menentang mungkin meminta biaya audit yang
kredibel dan tinggi saat investor lain lebih menginginkan biaya audit yang tidak mahal.
Investor lain mungkin tidak meminta informasi secara keseluruhan, terutama jika portofolio
investasi mereka beraneka ragam. Mereka mungkin bergantung pada efisiensi pasar untuk
harga yang melindungi mereka.
Jika manajer mencoba untuk bernegosiasi sebuah kontrak untuk produksi informasi
dengan setiap investor potensial, biaya negosiasi akan menjadi penghalang. Investor yang
berbeda menginginkan informasi yang berbeda, biaya perusahaan dari memproduksi
informasi juga akan menjadi penghalang. Sebagai alternatif, jika manajer mencoba untuk
bernegosiasi kontrak tunggal dengan semua investor, para investor tersebut akan menyepakati
informasi apa yang mereka butuhkan. Informasi berbeda yang diberikan untuk investor yang
berbeda, prosesnya akan menghabiskan waktu dan mahal. Karena itu, pendekatan kontrak
terlihat mungkin hanya ketika ada sedikit pihak yang terlibat.
Jika pihak yang melakukan kontrak mencapai sebuah kesepakatan untuk
memproduksi informasi, masalah lain akan muncul. Kecuali kalau kesepakatan dapat
dijalankan seperti dalam permainan kerjasama, maka pihak dalam kontrak mungkin berusaha
untuk melanggarnya demi kepentingan jangka pendek mereka. Contohnya, kontrak

4
kompensasi manajerial yang menyediakan audit untuk satu akhir tahun. Mengetahui hal itu,
manajer akan bekerja keras selama tahun itu. Lalu, usaha keras manajer yang telah diberikan
untuk perusahaan, pada prinsipnya akan menguntungkan jika membatalkan audit, untuk
menghemat biaya audit. Tapi pembatalan audit tahun itu akan mengurangi dorongan untuk
manajer yang akan bekerja keras pada tahun berikutnya.
Jelas terlihat bahwa kontrak langsung untuk produksi informasi mungkin akan baik-
baik saja dalam prinsipnya, tapi tidak selalu baik dalam praktiknya. Coase mengakui ketika
banyak orang yang terlibat, biaya tawar-menawar akan tinggi. Selain itu, ketika kontrak
merupakan sebuah sumber penting dari produksi informasi, itu tidak dapat bergantung
sepenuhnya pada informasi yang dibutuhkan masyarakat.

MARKET-BASED INCENTIVES FOR INFORMATION PRODUCTION


Dorongan pribadi bagi para manajer untuk menghasilkan informasi tentang
perusahaannya berasal dari kekuatan pasar. Ini melibatkan beberapa pasar.
1. Managerial labour market
Managerial labour market terus mengevaluasi kinerja manajer. Hasilnya, manajer
yang menerbitkan informasi yang salah, tidak komplit, atau bersifat bias akan
membuat reputasi mereka rusak. Karena itu, manajer akan terdorong untuk
menerbitkan informasi yang benar.
2. Capital market
Manajer termotivasi oleh reputasi dan kontrak yang akan meningkatkan nilai
perusahaan. Hal ini akan membuat suatu dorongan untuk menerbitkan informasi ke
pasar. Alasannya adalah dengan lebih banyak informasi, akan lebih meningkatkan
kepercayaan investor terhadap perusahaan dan hasilnya harga pasar dari sekuritas
perusahaan akan naik. Ini dapat dilihat dengan peningkatan profitabilitas dan nilai
perusahaan.
3. Takeover market
Jika manajer tidak memaksimalkan nilai perusahaan, perusahaan dapat menjadi
subjek penawaran takeover (pengendalian), di mana jika hal tersebut sukses, hasilnya
adalah penggantian manajer. Yang membuat pemegang saham lebih tidak puas adalah
kemungkinan bahwa penarawan takeover akan berhasil. Takeover market juga
memotivasi manajer untuk meningkatkan nilai perusahaan, yang mengakibatkan
informasi yang diproduksi serupa bagi pihak dari managerial labor market.

5
A CLOSER LOOK AT MARKET-BASED INCENTIVES
The Disclosure Principle
Terdapat pendapat sederhana yang menyatakan bahwa seorang manajer akan
memberitahukan semua informasi, baik atau buruk. Ini dikenal dengan prinsip disclosure.
Apabila investor tahu bahwa manajer memiliki informasi, tetapi tidak mengetahui informasi
apa, investor akan berasumsi bahwa jika informasi itu menguntungkan, maka manajer akan
merilisnya.
Karena itu, apabila investor tidak mengamati bahwa manajer merilis informasi
tersebut, mereka akan memberikan asumsi terburuk dan menawar rendah harga pasar saham
perusahaan yang bersangkutan. Contohnya, apabila seluruh investor tahu bahwa manajer
memiliki estimasi pendapatan tahun depan, tetapi investor tidak mengetahui nilai estimasi itu.
Manajer lebih baik memberitahukan estimasi tersebut. Jika tidak, estimasi tersebut akan
diinterpretasikan sebagai estimasi yang terendah oleh pasar.
Argumen tersebut didukung oleh dorongan manajer untuk menjaga turunnya harga
saham perusahaan. Kejatuhan harga saham akan merugikan manajer karena harga yang lebih
rendah untuk pasar tenaga kerja. Namun, menurut Verrecchia (1983), pendekatan disclosure
ini memiliki biaya, misalnya biaya kepemilikan dalam merilis informasi paten.
Kesimpulannya, terlepas dari apakah berita baik atau buruk dilaporkan, jelas bahwa
ketika persyaratan prinsip keterbukaan tidak sepenuhnya terpenuhi, semua model hanya
memprediksi sebagian pengungkapan. Sementara itu, pasar modal yang mendorong
pengungkapan secara sukarela tidak menjamin bahwa semua informasi akan diungkapkan.

Signalling
Perusahaan-perusahaan memiliki kualitas yang berbeda, misalnya sebuah perusahaan
dapat memiliki peluang investasi yang lebih baik daripada perusahaan yang lain. Sinyal
adalah tindakan yang dilakukan oleh manajer level atas yang tidak rasional bagi manajer
level bawah. Sejumlah sinyal yang relevan dengan akuntansi diusulkan. Salah satu sinyal
tersebut adalah pengungkapan langsung. Hughes menunjukkan bagaimana pengungkapan
tersebut dapat menjadi sinyal yang kredibel. Dalam modelnya, seorang manajer membuat
pengungkapan langsung mengenai ekspektasinya tentang nilai perusahaan pada awal periode.
Investor mengamati arus kas pada akhir periode. Jika pengungkapan manajer itu lebih besar
dari estimasi investor, investor menyimpulkan bahwa pengungkapan itu tidak benar dan
manajer akan dikenakan denda. Untuk menghindari hal itu, manajer termotivasi untuk

6
melaporkan secara jujur sehingga investor dapat mengambil kesimpulan yang benar tentang
ekspektasinya nilai perusahaan yang dibuat manajer.

Private Information Search


Hingga saat ini, investigasi kita atas insentif pribadi untuk merilis informasi dari
dalam berpusat pada manajer. Terdapat argument bahwa informasi tingkat tinggi yang dirilis
akan meningkatkan reputasi manajer, memperkecil resiko estimasi dari para investor, dan
mengurangi biaya modal perusahaan, mennuju keuntungan manajer dan perusahaan. Karena
itu, merupakan suatu kewajiban bahwa manajer harus merilis informasinya.
Investor bersifat pasif. Mereka hanya bereaksi atas informasi apa saja yang dirilis oleh
manajer di dalam memutuskan permintaan atas sekuritas perusahaan. Efeknya, mereka
dilindungi oleh harga pasar. Itu sebabnya, bagaimanapun, banyak investor akan aktif dalam
mencari informasi. Mereka mungkin saja mengawasi setiap orang yang mereka curigai
memiliki informasi. Karena itu, terdapat berbagai variasi para investor dalam mencari
pribadi (private information). Sayangnya, pencarian informasi pribadi dapat menyebabkan
biaya, dari perspektif sosial, ataupun karena labih dari satu investor yang harus membayar
biaya tertentu hanya untuk satu informasi yang sama.
Jika kita mempertimbangkan ekonomi produksi, pencarian informasi pribadi dapat
meningkatkan operasi pasar, dengan dampak yang dihasilkan perusahaan pada biaya modal
dan usaha manajer. Namun, sejauh komponen redistributive untuk mencari informasi pribadi
tetap, ini masih akan dikenakan dalam biaya untuk masyarakat.
Analisis Hirschleifer (1971) adalah klasik pada area private information search.
Hirschleifer mempertimbangkan pergantian ekonomi, yaitu sebuah ekonomi tanpa produksi
barang dan jasa. Lalu, analisis Hirschleifer mengartikan bahwa nilai sosial dari biaya
pencarian informasi adalah negatif, meskipun investor individual mungkin melihatnya
sebagai sesuatu yang bernilai. Alasannya adalah, tanpa produksi, jumlah barang dan jasa pada
sebuah ekonomi adalah tetap. Lalu, bahkan jika informasi dibuat publik, peluncurannya
hanya meredistribusi kekayaan, tidak membuat kekayaan. Sejak informasi memiliki biaya,
efek sosial bersih adalah negatif.

ARE FIRMS REWARDED FOR SUPERIOR DISCLOSURE?


THEORY

7
Jika kekuatan pasar mendorong pengungkapan yang superior, perusahaan seharusnya
bermanfaat melalui lower cost of capital. Pada kejadian ini, pengungkapan harus mengurangi
resiko investor.
The Akeriof (1970) model dari informasi asimetris pada used-car market, dimana
menunjukkan pasar sekuritas juga merupakan subjek untuk masalah yang merugikan. Pada
tingkat dimana perusahaan mengurangi asimetris informasi melalui pengungkapan superior,
pilihan kerugian dan estimasi risiko akan menurun.

Empirical Tests Of Disclosure Models


Meskipun model teori telah dideskripsikan, tingkat untuk manfaat perusahaan dari
pengungkapan yang berkualitas tinggi akhirnya adalah sebuah pertanyaan empiris. The
Merton Model yang telah dites oleh Lehavy dan Sloan (2008), berdasarkan banyak sampel
dari perusahaan selama tahun 1982-2004, mereka menggunakan kekayaan investor yang
memegang saham sebagai wakil dari angka orang yang mengetahui tentang saham. Setelah
mengizinkan faktor lain yang mempengaruhi pengembalian saham, ditemuykam bahwa
ketika jumlah investor yang mengetahui tentang saham meningkat,maka akan mengakibatkan
pengembalian pada jatuhnya saham di masa depan. Ketika investor diverifikasi secara buruk,
risiko spesifik perusahaan menurun secara cepat saat lebih banyak saham ditambah pada
portofolio mereka.

Is Estimation Risk Diversifiable?


Studi lain mempertanyakan efek penurunan cost of capital pada kualitas
pengungkapan. perusahan tidak akan mendapatkan manfaat dari pengungkapan yang superior,
atau manfaat lainnya, seperti beta yang lebih rendah seperti tersirat oleh Model dari Lambert,

Conclusions
Dari perpektif akuntansi, sulit untuk berpendapat bahwa perusahaan tidak
mendapatkan manfaat dari pengungkapan superior. Keberadaan dari manfaat tersebut
disarankan oleh considerable theory dan bukti empiris. Tetapi, bukti konklusif adalah sulit.
Satu masalahnya adalah variasi dari estimasi risiko pengukuran. Pengukuran yang ditarik dari
chapter ini termasuk kualitas pengungkapan, reputasi manajer, bid-ask spread, kualitas akrual,
proporsi dari membeli dan menjual pesanan dari informasi investor, dan rasio dari informasi
dari luar dan dalam. Pengukuran lain termasuk kualitas skala researcher-developed reporting,
dan tingkat pengungkapan sukarela.

8
Masalah kedua adalah mengukur cost of capital. Ketika CAPM adlah tempat yang
bagus untuk memulai, faktor lain, seperti book-to-market dan ukuran perusahan, bias sikap
estimasi yang menyulitkan

DECENTRALIZED REGULATION
Pelaporan segmen berguna bagi investor dalam mengevaluasi kinerja yang diharapkan
dan risiko dari perusahaan yang besar dan kompleks, informasi yang relevan, seperti tingkat
pengembalian, peluang pertumbuhan, yang mungkin terkubur dalam total konsolidasinya.
IFRS 8 mengatur tentang pelaporan segmen.Standar yang serupa, SFAS 131, di
Amerika Serikat. Peraturan ini meminta perusahaan untuk melaporkan informasi segmen
dengan basis yang sama seperti mereka mengelola segmen tersebut secara internal untuk
pengambilan keputusan manajemen level atas dan evaluasi kinerja. Pelaporan eksternal
dengan basis yang sama tersebut dapat memberikan investor pengetahuan yang baik
mengenai operasi perusahaan. Selain itu, biaya langsung bagi perusahaan untuk memenuhi
standar yang baru akan menjadi rendah karena perusahaan telah mempersiapkan informasi
yang dibutuhkan secara internal. Bukti-bukti mendukung manfaat dari pengungkapan segmen
yaitu memberikan informasi tambahan dalam pasar.

HOW MUCH INFORMATION IS ENOUGH?


Perusahaan seharusnya menyediakan informasi sampai pada titik dimana manfaat
marginal sosialnya sama dengan biaya marginal sosialnya. Pasar sulit untuk memberi
perusahaan manfaat social penuh dari informasi yang dihasilkan dan perusahaan tidak bisa
mencatat biaya dari produksi informasi, yang pada akhirnya mendorong investor agar ada
regulasi untuk melindungi kepentingan mereka.
Adanya regulasi ini menimbulkan dua biaya tidak langsung yaitu:
Mengurangi kemapuan manajer untuk melakukan signaling
Adanya kemungkinan regulasi menetapkan informasi lebih banyak dari pada yang
diperlukan.
Tetapi jika regulasi dikurangi maka masalah eksternalitas, adverse selection dan
moral hazard bisa menjadi serius sehingga pasar tidak berfungsi. Penambahan aturan tersebut
ternyata tidak memberikan penambahan manfaat social.

9
CONCLUSIONS ON STANDARD SETTING RELATED TO ECONOMIC ISSUES
Teori menjelaskan beberapa alasan mengapa sebuah perusahaan akan menghasilkan
informasi dalam absennya standar. Kebutuhan informasi tersebut berasal dari kontrak dan
dari permintaan pasar.Pihak dari kontrak pasti menginginkan informasi untuk memotivasi
usaha dan menghargai pencapaian.Pasar tenaga kerja manajerial dan pasar yang diambil alih
berinteraksi dengan pasar sekuritas untuk memotivasi manajer merilis informasi untuk
meningkatkan nilai pasar.

10
CHAPTER 13 STANDARD SETTING: POLITICAL ISSUES
OVERVIEW

Bab ini bertujuan untuk menetapkan pengaturan standar politik, bukan hanya
ekonomis. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa asimetri informasi (moral hazard dan
adverse selection) menciptakan permintaan untuk informasi dan karena informasi perusahaan
yang dihasilkan akan bersifat pribadi tidak akan sama dengan permintaan investor, asimetri
informasi menciptakan permintaan untuk pengaturan informasi. Dengan demikian,
pengaturan informasi merupakan proses politik.
Ada dua teori regulasi. The Public Interest Theory (teori kepentingan publik)
menekankan peraturan yang harus memaksimalkan kesejahteraan sosial dan regulasi yang
merupakan hasil dari analisis biaya / manfaat dilakukan untuk menentukan apakah biaya
untuk meningkatkan operasi pasar melebihi jumlah peningkatan kesejahteraan sosial. Dua
masalah dengan teori kepentingan publik adalah (1) teori yang berbeda muncul mengenai
berapa banyak peraturan yang optimal, dan (2) sulit bagi legislatif untuk memastikan
regulator bertindak dalam kepentingan terbaik publik dan tidak sendiri.
Masalah-masalah ini menyebabkan The Interest Group Theory, yang menekankan
bahwa individu membentuk kelompok untuk melindungi kepentingan mereka dengan melobi
dalam peraturan. Beberapa kelompok kepentingan melakukan permintan regulasi dan
legislatif adalah pemasok regulasi. Legislatif juga merupakan kelompok kepentingan lain
yang berusaha untuk mempertahankan kekuasaan dengan "memasok" regulasi bagi

11
"permintan" mereka yang akan membantu mereka mempertahankan kekuasaan. Badan
pengawas berusaha untuk menyeimbangkan kepentingan kelompok yang berbeda. Interest
Group Teori adalah indikasi yang lebih baik tentang bagaimana regulasi sebenarnya dibuat.

TWO THEORIES OF REGULATION


The Public Interest Theory
Menunjukkan bahwa regulasi merupakan jawaban atas permintaan masyarakat
terhadap koreksi kegagalan pasar. Regulator memiliki kepentingan terbaik di hati masyarakat.
Peraturan adalah trade-off antara biaya dan manfaat sosial dalam bentuk peningkatan operasi
pasar
Masalah yang timbul dalam public interest theory:
Tugas yang kompleks dalam memutuskan jumlah regulasi yang tepat
Motivasi Regulator, sulit bagi legislatif untuk memastikan regulator bertindak dalam
kepentingan terbaik publik dan tidak sendiri

The Interest Group Theory


Stigler (1971): Sebuah industri beroperasi di hadapan sejumlah kelompok
kepentingan. Kelompok-kelompok kepentingan adalah kelompok yang melakukan
"permintan regulasi". Becker (1983): Teorema Coase, Jika biaya tawar terlalu tinggi untuk
suatu pihak atsa suatu kontrak, maka banding kepada pemerintah untuk turun tangan
mungkin dapat terjadi. Berbagai kelompok kepentingan yang bersaing untuk dan menentang
Hasil peraturan tergantung pada kelompok relatif yang paling efektif dalam menerapkan
tekanan pada regulator.
Prediksi yang dihasilkan dalam Interest Group Theory:
Penciptaan badan penetapan standar
Kegiatan tunduk pada kegagalan pasar lebih cenderung diatur, karena permintaan dari
kelompok terpengaruh. Jika manajemen adalah sumber kegagalan pasar ini, kami
berharap untuk mengamati peraturan besar pengungkapan informasi mereka.
Due Process. Seperti pemberian Draft eksposur dan perwakilan Dewan
Teori Kepentingan Umum Menerapkan standar baru hanya membutuhkan bahwa
regulator mengevaluasi biaya dan manfaat sosial Tidak ada keterlibatan kelompok
kepentingan yang dibutuhkan.
Which Theory of Regulation Applies to Standard Setting?

12
The Interest Group Teori. Kekuatan pasar tidak selalu dapat diandalkan untuk
menghasilkan standar akuntansi dan prosedur yang tepat. Standar-setter tidak bisa
menghitung standar akuntansi yang benar baik. Pilihan standar akuntansi lebih baik dianggap
sebagai konflik antara konstituen daripada sebagai proses perhitungan. Dalam Teori Interest
Group secara resmi mengakui adanya konstituen yang bertentangan

Conflict And Compromise An Example Of Constituency Conflict


IAS 39: "Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran"
Ditetakan pada Desember 1998 dengan tanggal efektif 1 Januari 2001. Usulan nilai wajar
akuntansi untuk kelas utama dari instrumen keuangan. Lembaga keuangan adalah
pengguna utama dari instrumen keuangan dan menentang akuntansi nilai wajar.
Bank Sentral Eropa mengeluarkan komentar pada November 2001 berjudul "Nilai Wajar
Akuntansi Sektor Perbankan". Komentar tersebut mencakup jangka-pendek, jangka
panjang, Keandalan dari nilai wajar untuk pinjaman bank, Risiko kredit Sendiri,
Konservatisme.
Oleh sebab itu, IASB melanjutkan dengan menerbitkan IAS 39 yang termasuk ketentuan
untuk mengurangi kekhawatiran bank. Seperti Volatilitas laba bersih yang dilaporkan
dikurangi dengan masuknya keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi atas
instrumen keuangan yang tersedia untuk dijual sebagai pendapatan komprehensif lain.
Ketidaksepakatan berlanjut, yang mengakibatkan Uni Eropa membuat pilihan nilai wajar
dan ketentuan yang ketat untuk melindungi nilai "opsional".
Sebagai tanggapan, IASB membuat beberapa perubahan ke IAS 39 termasuk: hedging
Makro dan Backing-off agak dari pilihan penuh nilai wajar. Perubahan ke opsi nilai
wajar tampaknya telah memenuhi Uni Eropa, meskipun bank dan regulator 'keberatan
keuntungan rekaman risiko kredit sendiri. Kekhawatiran tentang melindungi nilai tetap.
Menanggapi kegagalan pasar 2007-2008, IASB menerbitkan IFRS 9 tahun 2009
Aset keuangan dengan arus kas diprediksi dapat diukur pada biaya perolehan
diamortisasi, tunduk pada tes penurunan nilai, jika model bisnis perusahaan adalah untuk
mengumpulkan arus kas dari pembayaran bunga dan pokok. Namun, aset keuangan tanpa
arus kas diprediksi, khususnya, derivatif, terus dipertanggungjawabkan sebesar nilai
wajarnya.

13
INTINYA: Standar tidak dapat diatur dalam ruang hampa. Jika konstituen penting tidak
dapat memperoleh apa yang mereka inginkan, mereka akan naik banding ke proses
politik.

RULES-BASED VERSUS PRINCIPLES-BASED ACCOUNTING STANDARDS


Praktik versus teori di atas mengarah pada perbedaan antara standar akuntansi
berbasis peraturan dan berbasis prinsip. Standar berbasis peraturan, dimana SFAS 115
merupakan salah satu contohnya, meletakkan peraturan secara rinci mengenai perhitungannya.
Sebagai contoh, tujuan dari SFAS 115 adalah untuk mengeliminasi keuntungan perdagangan.
Namun, sebagai ilustrasi, sulit untuk menerapkan aturan rinci untuk menangani setiap situasi
yang mungkin terjadi. Sebuah alternatif untuk peraturan yang merinci adalah menerapkan
prinsip-prinsip umum saja untuk standar keuangan dan bergantung pada pertimbangan
professional auditor untuk memastikan bahwa penerapan standar tersebut tidak menyesatkan.
Jadi, jika aturan umumnya adalah bahwa keuntungan perdagangan harus dieliminasi, auditor
akan keberatan jika manajer tampaknya menggunakan keuantungan perdagangan untuk
tujuan oportunistik.
Dalam hal ini, SEC, dalam studi tahun 2003, Study Pursuant to Section 108 (d) of of
Sarbaney-Oxley Act, merekomendasikan FASB untuk mengadopsi standar akuntansi
berbasis prinsip. Perhatikan bahwa pendekatan semacam itu menekankan Kerangka
Konseptual untuk menyediakan kerangka kerja untuk penilaian professional. Studi SEC
merupakan perluasan kesepakatan dengan FASB sendiri di tahun 2002 Proposal for a
Principles-Based Approach to US Standard-Setting Saat ini, FASB sedang bekerja untuk
menerapkan pendekatan ini.
Standar akuntansi berbasis prinsip ini juga mengangkat isu-isu etika penting, karena
adanya peningkatan penekanan pada penilaian akuntan maupun auditor. Badan akuntansi
professional harus berusaha untuk memastikan bahwa anggota mereka menempatkan
kepentingan publik jangka panjang (misalnya surat berharga dan pasar tenaga kerja
manajerial harus bekerja dengan baik) di atas kepentingan klien yang bersifat jangka pendek
(misalnya manajemen laba). Tentu saja badan akuntansi professional sudah melakukan hal ini,
melalui kode etik profesi, komite disiplin, dan selama proses dalam pembuatan standar.
Namun demikian, dalam pandangan akan kegagalan pelaporan utama, upaya yang lebih besar
untuk meningkatkan transparansi dari profesi akuntansi telah dijamin, karena sulitnya
menegakkan penilaian yang baik.

14
Dalam hal ini, badan penetap standar memiliki implikasi etis. Di Kanada, badan
pengaturan standar (AcSB) dan badan penegak disiplin merupakan sayap dari organisasi
professional (CICA) yang sama. Hal ini menciptakan munculnya masalah moral hazard,
karena badan yang bertanggung jawab untuk standar akuntansi keuangan dihubungkan
melalui organisasi professional dengan badan yang bertanggung jawab untuk penegakan
standar. Sebaliknya, FASB dan IASB dibedakan dari badan akuntansi professional.

CRITERIA FOR STANDARD SETTING


Decision Usefulness
Kriteria kegunaan mendasari keputusan informasi dan perspektif pengukuran
pelaporan keuangan, dan studi pasar modal empiris. Semakin informatif tentang informasi
masa depan yang dihasilkan sistem informasi, semakin kuat reaksi investor terhadap
informasi yang dihasilkan oleh sistem. Bukti empiris bahwa harga keamanan menanggapi
informasi akuntansi menunjukkan bahwa investor mencari informasi akuntansi yang berguna.
Kondisi dimana suatu standar baru berhasil adalah ketika standar tersebut merupakan
suatu keputusan yang berguna. Teori pengambilan keputusan rasional investor bisa
digunakan untuk memprediksi kegunaan. Penggabungan nilai saat ini ke laporan keuangan
akan meningkatkan kegunaan investor keputusan yang sejauh ini mempererat hubungan
antara kinerja saat ini dan masa depan.
Decision usefulness mungkin kriteria standar yang diperlukan untuk sukses, namun
tidak cukup untuk memastikan suatu keberhasilan. Karena karakteristik publik tertentu pada
suatu informasi akuntansi, kita tidak bisa memastikan bahwa standar yang telah digunakan
adalah keputusan yang terbaik bagi masyarakat. Investor bisa saja menggunakan informasi
akuntansi secara berlebihan karena investor tidak membayar secara langsung informasi
akuntansi tersebut. Adanya sebuah standard bisa tampak berguna, namun masyarakat akan
menjadikannya lebih buruk karena biaya produksi informasi tersebut tidak diperhitungkan.

Reduction of Information Asymmetry


Kekuatan pasar beroperasi untuk memotivasi manajemen dan investor untuk
menghasilkan informasi. Standar setter harus menyadari kekuatan ini dan mengambil
keuntungan dari mereka. sejauh mungkin, untuk mengurangi kebutuhan standar. Sayangnya,
kekuatan pasar tidak dapat memastikan jumlah informasi yang tepat yang dihasilkan.
Akibatnya, seperti yang disarankan oleh LEV, pembuat standar harus menggunakan

15
pengurangan asimetri informasi di pasar modal dan pasar tenaga kerja manajerial sebagai
kriteria untuk standar baru.
Standar bisa sangat efektif dalam mengurangi asimetri informasi. Artinya, karena
menggunakan ke informasi akuntansi keuangan oleh satu individu tidak memusnahkannya
untuk digunakan oleh lain. Keuntungan ini didapatkan kepada mereka yang bersedia dan
mampu untuk menggunakan informasi yang diperluas, atau secara tidak langsung kepada
investor lain melalui mekanisme perlindungan harga pasar sekuritas efisien. Akibatnya,
pengurangan asimetri informasi meningkatkan operasi pasar. Hal ini akan mengurangi risiko
estimasi dan fenomena lemon, memperluas likuiditas pasar, dan umumnya menghasilkan
manfaat sosial dari pasar kerja yang lebih baik.
Pengurangan asimetri informasi sebagai kriteria adalah lagi kondisi yang diperlukan
untuk standar sukses tetapi tidak satu yang cukup. sulit untuk mengetahui kapan standar
untuk mengurangi asimetri informasi berhenti menjadi biaya yang efektif.

Economic consequences of new standards


Salah satu konsekuensi dari standar baru adalah biaya yang dikenakan pada
perusahaan dan manajer untuk memenuhi/menyetujui standar tersebut. Hal ini terjadi diluar
biaya kantong (out of pocket cost) yang menghasilkan informasi baru. Pengurangan
kebebasan manager memilih kebijakam akuntansi yang berbeda sering berhasil apabila
standar baru diimplementasikan yang merupakan sumber konsekuensi ekonomi. Penentu
standar hendaknya membobot kemungkinan konsekuensi ekonomi dari standar-standar baru
yang penting yang akan mempengaruhi kebutuhan standard dan kemauan konstituen untuk
menerimanya. Konsekuensi ekonomi dari standar baru akan ditekankan selama perdebatan
masih ada dalam menuju suatu standar.

The Political Aspects of Standard Setting


Konsekuensi ekonomi yang menyebabkan criteria terakhir secara langsung yaitu
aspek polittik dalam penentuan standar sehingga para penentu standar harus membuat
consensus yang cukup kuat, begitu juga konstituen yang tidak menyukai pelaksanaan atas
standar baru. Proses penentuan standar setting sangat konsisten dengan teori kepentingan
kelompok regulasi. Secara teoritis maupun teknis, melakukan koreksi tidak cukup untuk
menjamin keberhasilan suatu standar.

INTERNATIONAL INTEGRATION OF CAPITAL MARKETS


16
Convergence of Accounting Standards
Di setiap negara, proses akuntansi berlangsung dalam berbagai institusi sosial, politis,
hukum, dan ekonomi. Semakin terintegrasinya pasar modal di seluruh dunia, semakin banyak
pula investor yang berinvestasi di negara-negara asing yang ketentuan hukum, institusi, dan
standar akuntansinya bisa berbeda dengan negara asal investor. Ini mendorong aspek
integrasi internasional untuk turut diperhitungkan dalam proses penetapan standar.
Salah satu respons terhadap integrasi internasional ini adalah dengan membuat suatu
standar akuntansi internasional, yang mana hal ini juga merupakan tujuan IASB. Standar
akuntansi internasional ini dapat menurunkan biaya modal, biaya penyusunan laporan, serta
eksternalitas jaringan (network externalities). Mengingat US GAAP juga memiliki pengaruh
di dunia akuntansi, dilakukanlah konvergensi antara standar IASB dan FASB. Meskipun
kedua pihak sudah membuat kemajuan dalam upaya konvergensi, masih terdapat beberapa
perbedaan prinsip yang membuat konvergensi standar yang utuh masih akan membutuhkan
waktu lebih lama.

Effects of Customs and Institutions of Financial Reporting


Pelaporan keuangan di suatu negara dipengaruhi oleh ketentuan institusi yang ada di
negara tersebut. Riset oleh Ball, Kothari, dan Robin (BKR) di tahun 200 menunjukkan bahwa
di negara-negara common-law (Australia, Kanada, Inggris, AS) standar akuntansi ditetapkan
dalam berbagai tingkatan di sektor privat dan lebih berorientasi kepada investor, sedangkan
di negara-negara code-law (Perancis, Jerman, Jepang) standar akuntansi pada pokoknya
ditetapkan oleh pemerintah, sehingga lebih terpengaruh pada proses politis.
Menurut BKR, ketepatan waktu di negara-negara code-law menjadi tidak terlalu
dibutuhkan dalam menyampaikan informasi (terkait keuntungan dan kerugian besar) ke pihak
luar. Ini disebabkan karena orang dalam akan dapat segera mengetahui informasi semacam
itu. BKR juga memprediksi bahwa pelaporan keuangan akan kurang bersifat konservatif di
negara-negara code-law. Ini menunjukkan bahwa pelaporan keuangan di negara-negara code-
law memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan negara-negara common-law. Namun
demikian, bukan berarti pelaporan keuangan di bawah code-law lebih oportunistis, melainkan
perbedaan-perbedaan ini mencerminkan perbedaan mendasar pada institusi, biaya keagenan,
dan struktur tata kelola perusahaan.
Hal yang membuat keadaan semakin rumit adalah pemerintah dapat mempengaruhi
pelaporan keuangan.Di beberapa negara, perusahaan-perusahaan diizinkan atau bahkan

17
didorong untuk menutupi kerugian besar untuk menghindari kebangkrutan yang dapat
membuat malu negaranya.

Enforcement of Accounting Standards


Standar akuntansi perlu ditegakkan agar tercipta pelaporan keuangan yang berkualitas
tinggi. Penegakan standar IASB patut diperhatikan mengingat pelaksanaan hal tersebut
tergantung pada negara yang mengadopsinya. Bila penegakan standarnya tidak memadai,
maka dapat muncul keraguan tentang apakah pelaporan keuangan sudah mencapai kualitas
tinggi, dan para investor dapat terpapar risiko apabila standar akuntansi tidak diterapkan
dengan baik.
Salah satu masalah yang perlu diperhatikan adalah perlindungan investor kecil. Di
banyak negara, perusahaan-perusahaan dikendalikan oleh keluarga, institusi besar, atau
pemerintah yang dapat merugikan investor minoritas. Meskipun kepemilikan yang
terkonsentrasi tersebut dapat mengurangi moral hazard antara manajer dan pemilik, namun
investor minoritas akan merasa enggan berinvestasi dan pada gilirannya pasar modal tidak
dapat berjalan dengan baik, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi akan terhambat.

Benefits of Adopting High-Quality Accounting Standards


Adopsi standar akuntansi berkualitas dapat membantu perekonomian negara-negara
dengan lingkungan regulasi yang lemahdan pada gilirannya akan memperkuat pasar
modalnya. Standar akuntansi berkualitas juga dapat berkontribusi pada negara-negara dengan
kondisi pasar yang lebih baik, sebagaimana yang ditemukan oleh Barth, Landsman, dan Lang
(2008) yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di 21 negara (AS tidak termasuk)
yang mengadopsi standar IASB melaporkan kualitas pendapatan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan mengadopsi standar akuntansi domestik. Selain itu, bukti empiris juga
menunjukkan bahwa kualitas pendapatan yang tinggi tersebut dapat menarik lebih banyak
investasi asing.
Meskipun demikian, studi yang dilakukan Barth, Landsman, Lang, dan William
(2006) dengan memeriksa perusahaan-perusahaan di 24 negara selama periode 1990-2004
menunjukkan hasil yang bernada lain. Dengan cara pengukuran kualitas pendapatan tertentu,
mereka menemukan bahwa perusahaan yang menggunakan IASB GAAP memiliki kualitas
pendapatan yang lebih rendah dari perusahaan yang mengadopsi US GAAP. Oleh karena itu,
pertanyaan tentang standar akuntansi mana yang lebih baik masih belum terjawab.

18
Should Standard Setters Compete?
Terdapat alternatif atas konvergensi standar akuntansi, yaitu dengan mengizinkan
perusahaan yang ada di jurisdiksinya untuk bebas menentukan standar akuntansi mana yang
diadopsi (standar akuntansi domestik atau standar IASB). Dye dan Sunder (2001)
berpendapat bahwa salah satu efeknya adalah para penyusun standar akan saling menurunkan
standarnya agar perusahaan-perusahaan mau menggunakannya. Hal ini dapat meningkatkan
risiko estimasi dan potensi pengaturan pendapatan (earnings management) yang buruk.
Namun demikian, hal tersebut bisa ditekan dengan adanya reaksi investor terhadap
perusahaan-perusahaan yang mengadopsi standar berkualitas rendah. Lebih lanjut,
kecenderungan menurunkan standar tidaklah konsisten dengan tujuan IASB dan FASB yang
meliputi penggunaan standar akuntansi berkualitas tinggi.
Persaingan antara penyusun standar sebenarnya memiliki efek positif, selama masih
dalam skala yang tepat. Ini didasarkan pada pemahaman bahwa suatu penyusun standar yang
tidak menghadapi persaingan akan berusaha memaksimalkan pengaruhnya dengan
memberlakukan lebih banyak standar, hingga pada akhirnya jumlah standar yang berlaku
menjadi lebih banyak dari jumlah optimalnya. Dengan adanya sedikit persaingan,
kecenderungan ini dapat dikendalikan karena perusahaan-perusahaan akan mengadopsi
standar dari penyusun standar lain apabila standar yang diadopsinya sekarang terlalu
mengekang.
Argumen-argumen ini menunjukkan bahwa terdapat trade-off antara biaya dan
manfaat konvergensi menuju standar akuntansi tunggal yang berkualitas tinggi. Hasil
terbaiknya akan ditentukan oleh lingkungan sosial, hukum, dan institusional suatu negara,
serta tingkat kesulitan penerapan konvergensi standar di negara tersebut.

Summary of Accounting for International Capital Markets Integration


Pasar modal dunia semakin terintegrasi, di mana suatu pasar modal yang bekerja
dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan sosial melalui biaya modal yang lebih rendah
dan peningkatan investasi domestik. Standar pelaporan berkualitas tinggi seperti yang
dikeluarkan IASB berperan dalam mewujudkan pasar modal yang baik.
Studi empiris menunjukkan bahwa adopsi standar IASB meningkatkan kualitas
pendapatan dan investasi asing, namun hal itu tidak menjamin pelaporan yang berkualitas
tinggi. Penerapan standar harus ditegakkan oleh lingkungan regulasi yang kuat, namun para
investor dan penyusun standar harus menyadari bahwa pelaporan akan dipengaruhi oleh

19
struktur institusional yang berbeda-beda. Oleh karenanya, integrasi standar akuntansi secara
utuh masih akan memakan waktu.

CONCLUSIONS AND SUMMING UP


Standar yang mengatur praktik akuntansi beserta pelaporannya diperlukan dalam
dunia bisnis yang tidak ideal dan memiliki tantangan, misalnya dalam menghadapi tantangan
informasi asimetris berupa adverse selection dan moral hazard. Perlu diingat bahwa sistem
akuntansi menghadapi trade-off dalam menghadapi kedua tantangan tersebut, dan kompromi
yang dibuat akan tercermin dalam pelaporan keuangan aktual.
Kebutuhan pelaporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi investor dan
kebutuhan kontrak efisien menimbulkan masalah mendasar dalam teori akuntansi keuangan.
Terhadap trade-off yang dihadapi manajemen perusahaan antara pengungkapan lengkap
kepada investor dan biaya keagenan yang muncul nanti. Struktur badan penyusun standar
dirancang untuk memfasilitasi kompromi semacam itu.
Dengan meningkatnya globalisasi perdagangan dan pasar modal, kebutuhan akan
standar akuntansi internasional akan terus berkembang, namun hal ini juga diikuti dengan
kesulitan dalam pelaksanaannya. Penyusun standar dan para investor harus beradaptasi untuk
menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul.

20
DAFTAR REFERENSI
Scott, William R. Financial Accounting Theory, 6th Ed. Pearson Prentice Hall, 2012. (WRS)

21