Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAWIT

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teknologi Penmgolahan Sawit

Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teknologi Penmgolahan Sawit Di Susun Oleh : Rizkal Fadli (M1B115015) DOSEN

Di Susun Oleh :

Rizkal Fadli (M1B115015)

DOSEN PEMBIMBING : NAZARUDIN, S.Si, M.Si,PhD

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JAMBI

2017

i

KATA PENGANTAR

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Pengolahan Sawit, tentang sawit, produk turunan kelapa sawit,pengolahan crude palm oil (CPO), pembuatan sabun dari minyak kelapa sawit, biomassa menjadi absorber, pemanfaatan cangkang sait menjadi arang aktif, dan perbandingan minyak kelapa sawit dengan minyak yang alin. Dengan selesainya makalah ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. ALLAH SWT yang telah melimpahkan seluruh berkah dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga mampu menyelesaikan makalah ini.

2. Orang tua, yang selama ini telah memberikan dukungan secara materil maupun dukungan moral yang tidak henti-hentinya.

3. Nazarudin, S.Si., M.Si., Phd selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan dukungan dan bimbingan, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya teman-teman Teknik Kimia, Universitas Jambi. Sehingga mengetahui

tentang sawit dan cara pengolahannya.

Jambi, 12 Desember 2017

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

iv

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Manfaat dan tujuan

1

1.3. Rumusan masalah

2

BAB II PEMBAHASAN

4

2.1

Sejarah Kelapa Sawit

4

2.2

Morfologi Kelapa Sawit

5

2.3

Syarat Tumbuh Kelapa Sawit

6

2.3.1. Kondisi iklim

6

2.3.2. Bentuk Wilayah

7

2.3.3. Kondisi Tanah

7

2.3.4. Drainase

7

2.3.5. Tekstur Tanah

8

2.3.6. Kemasaman Tanah

8

2.4.

Varietas Berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging

8

2.5.

Produk Turunan Dari Kelapa Sawit

9

2.6.

Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO)

10

2.6.1.

Loading Ramp

11

2.6.2.

Sterilizer

11

2.6.3.

Thresser

12

2.6.4.

Stasiun Press

12

2.6.5.

Stasiun Pemurnian

13

2.6.7.

Stasiun Kernel

16

2.7.

Proses Pembuatan Sabun Dari Minyak Kelapa Sawit

19

2.7.1. Pengenalan Sabun

19

2.7.2. Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun

20

2.7 3. Bahan Baku Utama : Alkali

23

iii

2.7.5. Metoda-Metoda Pembuatan Sabun

26

2.7.6. Reaksi Saponifikasi

27

2.7.7. Pembuatan Sabun Dalam Industri

28

2.8. Pengetahuan Biomassa Sawit Menjadi Absorber

31

2.8.1.

Biomassa

31

2.9. Cara Pembuatan Arang Aktif Dari Cangkang Kelapa Sawit

32

 

2.9.1. Bahan

32

2.9.2. Metode

33

2.10. Perbandingan Minyak Kelapa Sawit dengan Minyak Lainnya

34

BAB III PENUTUP

36

3.1. Kesimpulan

36

3.2. Saran

36

LAMPIRAN

37

DAFTAR PUSTAKA

38

iv

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Pohon industry Kelapa Sawit

10

Gambar 2. Flowsheet Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO

19

Gambar 3. Reaksi Pembuatan sabun

27

Gambar 4. Proses Pembuatan Sabun

30

Gambar 5. Bagan Proses Pembuatan Arang Aktif

34

Gambar 6. Perbandingan Kadar Minyak Sejumlah Tanaman

35

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Di Indonesia, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang banyak dikebunkan oleh perusahaan-perusahaan besar, baik pemerintah maupun swasta. Bahkan masyarakatpun banyak bertanam kelapa sawit secara kecil-kecilan. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit sangat cocok tumbuh di Indonesia. Jika Indonesia ditargetkan untuk menjadi negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tentu orang-orang yang mengelolanya, mulai dari pembibitan, penanaman sampai ke teknik pengelolahan hasil panen harus berlaku profesional. Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan bagi Indonesia dalam perdagangan internasional. Kelapa sawit termasuk dalam sepuluh komoditas ekspor utama.Salah satu hal yang membuat kelapa sawit masuk ke dalam sepuluh komoditas ekspor utama Indonesia adalah daya saingnya yang kompetitif dalam perdagangan internasional. Daya saing tersebut didasarkan pada produktivitas perhektar kelapa sawit di Indonesia yang cukup tinggi. Di sisi lain, kelapa sawit juga merupakan tanaman yang cukup handal terhadap perubahan iklim sehingga membuat kemungkinan terjadinya gagal panen dapat diminimalisir. Kelapa sawit juga mengandung nutrisi yang tinggi dan baik bagi kesehatan manusia jika dilihat dari nilai kalori, vitamin, dan kadar kolesterolnya yang rendah. Jika dilihat dari fungsinya, kelapa sawit tidak hanya sebagai bahan pangan, kelapa sawit juga sebagai minyak nabati yang berpotensi untuk dijadikanbahan bakar biodiesel. Daya saing yang dimiliki kelapa sawit dalam perdagangan internasional telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Pada dasarnya kelapa sawit dipanen dalam bentuk tandan buah segar (TBS). TBS ini diolah menjadi produk setengah jadi dalam bentuk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan inti kelapa sawit atau palm kernel. Jika dikaitkan dengan perdagangan internasional, Indonesia merupakan penghasil CPO terbesar di dunia. CPO yang diproduksi oleh Indonesia sebanyak 25,5 juta ton pada tahun 2012.Hal ini yang menjadikan CPO merupakan produk kelapa sawit yang paling banyak diekspor oleh Indonesia. Pada tahun 2013 produksi CPO Indonesia

1

2

mengalami peningkatan menjadi 28 juta ton atau setara dengan lima puluh persen total produksi CPO dunia yaitu sebesar 54,527 juta ton. Pada tahun 2013 CPO diekspor sebanyak 21,2 juta ton. Komoditas kelapa sawit ini merupakan penyumbang devisa negara terbesar untuk komoditas perkebunan. Devisa ekspor khusus produk kelapa sawit ini mencapai US$ 19,65 miliar atau Rp 200 triliun pada tahun 2012 dan US$ 19,1 miliar pada tahun 2013. Sedangkan ekspor di luar produk kelapa sawit secara kumulatif menyumbang devisa sebesar Rp 50 triliun pada 2012. Jika melihat sejak diberlakukan bea keluar (BK) terhadap CPO dan turunannya dari tahun 2007 2012 industri kelapa sawit telah menyumbang Rp. 79,4 triliun. Artinya industri kelapa sawit telah terbukti sebagai penyelamat devisit negara. Pasar terbesar bagi ekspor CPO Indonesia adalah India. Sedangkan Uni Eropa merupakan pasar kedua terbesar bagi ekspor CPO Indonesia. Meskipun merupakan pasar terbesar kedua, Uni Eropa memiliki keunikan terhadap CPO. Uni Eropa menerapkan kebijakan khusus terkait dengan CPO. Kebijakan tersebut berisi tentang CPO yang masuk di Uni Eropa harus mendapat sertifikasi dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Kebijakan sertifikasi RSPO ini berlaku bagi negara penghasil kelapa sawit seperti Malaysia, Papua Nugini, Brazil, Kolombia, Kepulauan Solomon, dan Indonesia.

1.2.

Manfaat dan Tujuan Manfaat dan tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:

1.

Mengaplikasikan ilmu teknik kimia dalam pengolahan kelapa sawit

2.

Dapat mengetahui produk turunan dari kelapa sawit

3.

Mengetahui cara pengolahan crude palm oil (CPO)

4.

Mengetahui cara pembuatan sabun dari kelapa sawit

5.

Mengetahui biomassa sawit menjadi absorber

6.

Mengetahui cara pembuatan arang aktif dari cangkang kelapa sawit

7.

Mengetahui perbandingan minyak kelapa sawit dengan minyak lainnya

1.3.

Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya,

maka rumusan masalah yang diajukan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

3

2. Bagaimana cara pembuatan sabun dari kelapa sawit?

3. Bagaimana cara pembuatan arang aktif dari cangkang kelapa sawit?

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Kelapa Sawit Menurut Suprianto,dkk (2015) Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada

empat bibit kelapa sawit yang dibawa oleh Mauritius dari Amsterdam dan ditanam

di Kebun Raya Bogor. Tanaman Kelapa Sawit mulai diusahakan dan

dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet, seorang berkebangsaan Belgia. Luas kebun kelapa sawit terus

bertambah dari tahun ke tahun. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara-negara eropa, kemudian tahun 1923 mulai mengekspor minyak

inti sawit sebesar 850 ton. Pada masa pendudukan Belanda, perkebunan kelapa

sawit mengalami perkembangan yang cukup pesat. Indonesia menggeser dominasi ekspor negara Afrika pada waktu itu. Namun, kemajuan pesat yang dialami oleh Indonesia tidak diikuti dengan peningkatan perekonomian nasional. Hasil perolehan ekspor minyak sawit hanya meningkatkan perekonomian negara asing termasuk Belanda. Memasuki masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran. Secara keseluruhan produksi perkebunan kelapa sawit terhenti. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit Indonesia pun hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948/1949. Pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak

sayur ini berasal dari Amerika. Brazil dipercaya sebagai tempat dimana pertama

kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika,

Amerika Equatorial, Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Kelapa sawit di Indonesia

diintroduksi pertama kali oleh Kebun Raya pada tahun 1884 dari Mauritius (Afrika). Saat itu Johannes Elyas Teysmann yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya. Hasil introduksi ini berkembang dan merupakan induk dari

4

5

perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara. Oktober 1989, tapi anakannya bisa dilihat di Kebun Raya Bogor. Perkebunan kelapa sawit pertama dibangun di Tanahitam, Hulu Sumatera Utara oleh Schadt seorang Jerman pada tahun 1911. Pulau Sumatera terutama Sumatera Utara, Lampung dan Aceh merupakan pusat

penanaman kelapa sawit

demikian sentra penanaman ini berkembang ke Jawa Barat (Garut selatan, Banten Selatan), Kalimantan Barat dan Timur, Riau, Jambi, Irian Jaya. Pada tahun 1995 luas perkebunan kelapa sawit adalah 2.025 juta, dan diperkirakan pada tahun 2005 luas perkebunan menjadi 2.7 juta hektar dengan produksi minyak sebesar 9.9

ton/tahun.

yang pertama kali terbentuk di Indonesia, namun

2.2. Morfologi Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit termasuk tumbuhan monokotil. Bagian kelapa sawit yang penting terdiri dari akar, batang, daun, dan buah.

a) Akar

Kelapa

Pertumbuhan akar yang telah di sebutkan ada yang mengarah ke bawah serta ke samping. Selain akar utama, kelapa sawit pula mempunyai akar

napas

menyamping ke atas bagi atau bisa juga

dikatakan untuk mengambil oksigen dari udara.

memiliki system perakaran berupa akar serabut.

sawit

yng

tumbuh secara

b) Batang

- Tinggi 14 24 m

- Batang lurus tanpa cabang 40 60 diameter batang

- Kecepatan tumbuh 35 45 cm/ tahun

- Batang tanaman tersebut diselimuti oleh bekas pelepah daun

- Umur 3 tahun belum kelihatan masih ditutupi pelepah

- Mencapai 20 m 25- 30 tahun

- Masa produksi sawit 50 tahun

c) Daun

- 30 daun/ tahun tanaman muda

- 28-24 pelepah/ tahun tanaman tua

- Panjang pelepah 1- 1,2 m untuk tanaman muda

- Lebar 6 cm untuk tanaman muda

6

- Panjang pelepah 9 m untuk yang tua

- Jumlah pelepah yang harus di pertahankan 40-60 pelapah ketika panen, karena gutasinya semakin banyak

d) Bunga

- Hermaprodit (terdapat bunga jantan dan betina pada satu pohon)

- Monosius (rumah 1)

- Waktu pemasukan buah 5-6 bulan (Sumatera)

- 6-9 bulan (Afrika)

- Bunga jantan terdiri dari 100-250 spikelet

- Bunga betina terdiri dari 100-200 spikelet

e) Buah

- Bergelombol dalam 1 tandan

- Jumlah 1.600/ tandan

- Berat 1 buah 30 gram

- Kulit buah/ eksokorp

- Seerabut/ mesokorp

- Biji

- Cangkan/ endokop

- Inti/ kernel

2.3. Syarat Tumbuh Kelapa Sawit Tanaman sawit membutuhkan persyaratan tumbuh tertentu untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi:

2.8.1 Kondisi iklim

a) Temperatur udara: 22 330 C (optimum 270 C)

b) Curah hujan: 1.250 3.000 mm/thn (opt 1.750 2.500 mm/thn)

- Curah hujan optimum dengan penyebaran yang merata sepanjang tahun

- Curah hujan < 1.250 mm/tahun dengan bulan kering > 3 bulan è faktor pembatas berat

- Defisit air yang tinggi akan merangsang pembentukan bunga jantan

7

- Tanaman kelapa sawit akan lebih toleran terhadap curah hujan > 3.00 mm/tahun è Masalah teknis: panen, perawatan jalan, efektivitas pemupukan, seranagan hama dan penyakit.

c) Bulan kering (curah hujan < 100 mm/bulan) < 3 bulan (optimum 0 1 bulan)

d) Kelembaban udara 50 90 % (optimum 80 %)

e) Lama penyinaran matahari 5 7 jam/hari

f) Ketinggian tempat < 400 m dpl (optimum < 200 m dpl) Musim kemarau panjang dan kekeringan berdampak bagi tanaman kelapa

sawit dalam hal: pembibitan dan tanaman belum menghasilkan (TBM) dimana pertumbuhan menjadi terganggu, tanaman menghasilkan (TM) dimana perkembangan bunga dan buah terganggu dan produktivitas tanaman menurun.

2.3.2 Bentuk Wilayah

a) Datar berombak kemiringan 0 8 % è

b) Bergelombang berbukit kemiringan 8 30 % è perlu teras untuk cegah erosi, tempat penaburan pupuk dan pengutipan tandan buah.

c) Berbukit kemiringan > 30 % è tidak disarankan solum tanah dangkal, erosi

tinggi, pemupukan tidak efektif, kerusakan dalam panen pengangkutan tandan buah produktifitas rendah.

2.3.3 Kondisi Tanah

a) Kelapa sawit tumbuh baik pada tanah Podsolik (Ultisol), Latosol (Oxisol),

Resosol (Entisol), Aluvial dan Hidromorfik (Inceptisol), Andosol (Andisol), dan Gambut (Histosol)

b) Kondisi tanah yang baik mengurangi pengaruh buruk curah hujan yang kurang sesuai

c) Sifat fisik yang relatif sukar diubah lebih penting untuk penilaian kesesuaian lahan untuk kelapa sawit

d) Sifat kimia akan lebih berguna untuk pemupukan untuk menghasilkan produktivitas kelapa sawit yang tinggi. 2.3.4 Drainase

a) Drainase yang baik dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan dan produktifitas kelapa sawit yang tinggi.

8

b)

Drainase yang buruk ditandai dengan kondisi yang tergenang dan lambatnya air masuk ke lapisan tanah, akan menghambat respirasi dan penyerapan hara oleh penakaran kelapa sawit.

c)

Drainase yang terlalu cepat sebagai akibat kandungan fraksi pasir tinggi, akan mengurangi kemampuan tanah menahan air.

2.3.5

Tekstur Tanah

a)

Tekstur tanah menggambarkan kandungan fraksi pasir, debu dan liat di dalam tanah

b)

Tekstur tanah yang ideal adalah lempung liat berpasir yang mengandung fraksi pasir ± 45% dan fraksi liat 20 35 %

c)

Kandungan fraksi pasir yang relatif cukup tinggi berguna untuk respirasi penakaran tanaman kelapa sawit.

d)

Kandungan liat yang relatif cukup tinggi berguna untuk memegang air dan hara (Kapasitas Tukar Kation/KTK tanah)

2.3.6

Kemasaman Tanah

a)

Kemasaman atau pH tanah digunakan untuk mewakili sifat kimia atau kesuburan tanah.

b)

Menggambarkan kandungan hara, ketersediaan air dalam tanah, kelarutan unsur yang bersifat racun seperti Alumunium (Al)

c)

Kondisi pH tanah yang optimum untuk tanaman kelapa sawit berkisar 5.0 6.0.

d)

Kondisi pH < 5.0 mencerminkan kandungan kation K. Ca dan Mg dapat ditukar dan kejenuhan basa yang rendah, kelarutan Al yang tinngi dan fiksasi hara P yang tinggi.

e)

Kondisi pH tanah > 7.0 dikhawatirkan akan mencermirkan ketersediaan hara mikro yang rendah dan fiksasi hara P yang tinggi.

f)

Kondisi pH tanah gambut sekitar 3.5 4.0. Kondisi pH tanah gambut sekitar 4.5 5.0 sudah tergolong baik.

2.4

Pembagian Varietas Berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging Buah

9

a) Dura

Tempurung cukup tebal antara 2-8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar tempurung. Daging buah relatif tipis dengan persentase daging buah terhadap buah bervariasi antara 35-50%. Kernel (daging biji) biasanya besar dengan kandungan minyak yang rendah.

b) Pisifera

Ketebalan tempurung sangat tipis, bahkan hampir tidak ada tetapi daging buahnya tebal. Persentase daging buah terhadap buah cukup tinggi, sedangkan daging biji sangat tipis. Jenis Pisifera tidak dapat diperbanyak tanpa

menyilangkan dengan jenis yang lain. Varietas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga betina gugur pada fase dini. Oleh sebab itu, dalam persilangan dipakai sebagai pohon induk jantan. Penyerbukan silang antara Pisifera dengan Dura akan menghasilkan varietas Tenera.

c) Tenera

Varietas ini mempunyai sifat-sifat yang berasal dari kedua induknya, yaitu Dura dan Pisifera. Varietas inilah yang banyak ditanam di perkebunan- perkebunan pada saat ini. Tempurung sudah menipis, ketebalannya berkisar antara

0.5-4mm, dan terdapat lingkaran serabut di sekelilingnya. Persentase daging buah terhadap buah tinggi, antara 60-96%. Tandan buah yang dihasilkan oleh Tenera lebih banyak daripada Dura, tetapi ukuran tandannya relatif lebih kecil.

2.5 Produk Turunan Dari Kelapa Sawit

Menurut Samhadi (2006), Produk utama adalah minyak sawit, CPO dan CPKO, yang selanjutnya menjadi bahan baku industri hilir pangan maupun non pangan. Di samping produk utama CPO dan CPKO serta produk-produk turunannya secara lebih rinci dalam pohon industri kelapa sawit (Gambar 1) dapat dilihat potensi produk-produk sampingan seperti tandan kosong, pelepah dan batang, serta limbah padat dan limbah cair.

10

Gambar 1. Pohon Industri Kelapa Sawit
Gambar 1. Pohon Industri Kelapa Sawit

2.6 Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO)

Menurut Hastuti, dkk ( 2015), Pengolahan Kelapa sawit merupakan suatu proses pengolahan yang menghasilkan minyak kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang dan tandan

11

kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi crude palm oil (CPO) dan inti sawit dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. PKS tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting perananya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya. 2.6.1 Loading Ramp Setelah buah disortir pihak sortasi, buah dimasukkan kedalam ramp cage yang berada diatas rel lori. Ramp cage mempunyai 30 pintu yang dibuka tutup dengan sistem hidrolik, terdiri dari 2 line sebelah kiri dan kanan. Pada saat pintu dibuka lori yang berada dibawah cage akan terisi dengan TBS. Setelah terisi, lori ditarik dengan capstand ke transfer carriage, dimana transfer carriage dapat memuat 3 lori yang masing masing mempunyai berat rata-rata 3,3 3,5 ton. Dengan transfer carriage lori diarahkan ke rel sterilizer yang diinginkan. Kemudian diserikan sebanyak 12 lori untuk dimasukan kedalam sterilizer. Pemasukan lori ke dalam sterilizer menggunakan loader. 2.6.2 Sterilizer Sterilisasi adalah proses perebusan dalam suatu bejana yang disebut dengan sterilizer. Adapun fungsi dari perebusan adalah sebagai berikut:

1. Mematikan enzyme.

2. Memudahkan lepasnya brondolan dari tandan.

3. Mengurangi kadar air dalam buah.

4. Melunakkan mesocarp sehingga memudahkan proses pelumatan dan pengepressan.

5. Memudahkan lepasnya kernel dari cangkangnya.

Proses perebusan dilakukan selama 85 -95 menit. Untuk media pemanas dipakai steam dari BVP (Back Pressure Vessel) yang bertekanan 2,8-3 bar. Perebusan dilakukan dengan sistem 3 peak ( tiga puncak tekanan). Puncak pertama tekanan sampai 1,5 Kg/cm 2 , puncak kedua tekanan sampai 2,0 Kg/cm 2

dan puncak ketiga tekanan sampai 2,8 3,0 Kg/cm 2 . Berikut proses perebusan sistem tiga peak :

12

1. Deaeration dilakukan 2 menit, dimana posisi condensate terbuka. 2. Memasukkan uap untuk peak pertama yang dicapai dalam waktu 10 menit. Biasanya tekanan mencapai 1,2 bar. 3. Uap dan kondensat dibuang sampai tekanan menjadi 0 bar dalam waktu 5 menit. 4. Uap dimasukkan selama 15 menit untuk mencapai tekanan 2 bar. 5. Uap kondensat dibuang lagi selama 3 menit. 6. Kemudian steam dimasukkan lagi untuk mencapai peak ke-3 dalam waktu 15 20 menit.

7. Setalah peak ketiga tercapai maka dilakukan penahanan selama 40 50 menit. 8. Uap kondensat dibuang selama 5 7 menit sampai tekanan 0

2.6.3 Thresser

Setelah perebusan TBS yang telah masak diangkut ke thresser dengan mengggunakan hoisting crane yang mempunyai daya angkat 5 ton. Lori diangkat dan dibalikkan diatas hopper thresser (auto feeder).Pada stasiun ini tandan buah segar yang telah direbus siap untuk dipisahkan antara berondolan dan tandannya.

Sebelum masuk kedalam thresser TBS yang telah direbus diatur pemasukannya dengan menggunakan auto feeder. Dengan menggunakan putaran TBS dibanting sehingga berondolan lepas dari tandannya dan jatuh ke conveyor dan elevator untuk didistribusikan ke rethresser untuk pembantingan kedua kalinya. Thresser mempunyai kecepatan putaran 22 25 rpm. Pada bagian dalam thresser, dipasang batang-batang besi perantara sehingga membentuk kisi-kisi yang memungkinkan berondolan keluar dari thresser. Untuk tandan kosong sendiri didistribusikan dengan empty bunch conveyor untuk didistribusikan ke penampungan empty bunch.

2.6.4 Stasiun Press

Berondolan yang keluar dari thresser jatuh ke conveyor, kemudian diangkut dengan fruit elevator ke top cross conveyor yang mendistribusikan berondolan ke distributing conveyor untuk dimasukkan dalam tiap-tiap digester.

Digester adalah tangki silinder tegak yang dilengkapi pisau-pisau pengaduk dengan kecepatan putaran 25-26 rpm, sehingga brondolan dapat dicacah di dalam

13

tangki ini. Bila tiap-tiap digester telah terisi penuh maka brondolan menuju ke conveyor recycling, diteruskan ke elevator untuk dikembalikan ke digester. Tujuan pelumatan adalah agar daging buah terlepas dari biji sehingga mudah di- press. Untuk memudahkan pelumatan buah, pada digester di-inject steam bersuhu sekitar 90 95 °C. Berondolan yang telah lumat masuk ke dalam screw press untuk diperas sehingga dihasilkan minyak (crude oil). Pada proses ini dilakukan penyemprotan air panas agar minyak yang keluar tidak terlalu kental (penurunan viscositas) supaya pori-pori silinder tidak tersumbat, sehingga kerja screw press tidak terlalu berat. Penyemprotan air dilakukan melalui nozzle-nozzle pada pipa berlubang yang dipasang pada screw press. Kapasitas mesin press adalah 15 ton per jam. Tekanan mesin press harus diatur, karena bila tekanan terlalu tinggi dapat menyebabkan inti pecah dan screw press mudah aus. Sebaliknya, jika tekanan mesin press terlalu rendah maka oil losses di ampas tinggi. Minyak hasil mesin press kemudian menuju ke sand trap tank untuk pengendapan. Hasil lain adalah ampas (terdiri dari biji dan fiber), yang akan dipisahkan dengan menggunakan cake breaker conveyor (CBC). 2.6.5 Stasiun Pemurnian Minyak yang berasal dari stasiun press masih banyak mengandung kotoran-kotoran yang berasal dari daging buah seperti lumpur, air dan lain-lain. Untuk mendapatkan minyak yang memenuhi standar, maka perlu dilakukan pemurnian terhadap minyak tersebut. Pada stasiun ini terdiri dari beberapa unit alat pengolah untuk memurnikan minyak produksi, yang meliputi : Sand Trap Tank, Vibrating Screen, Crude Oil Tank, Continous Settling Tank (CST), Oil Tank, Purifier, Vacum Dryer, Sludge Oil Tank, Sludge Vibrating Screen, Sludge Centrifuge, Fat Pit, dan Storage Tank.

a. Sand Trap Tank Minyak hasil mesin press merupakan minyak mentah yang masih banyak mengandung kotoran-kotoran. Minyak tersebut masuk ke sand trap tank untuk mengendapkan partikel-partikel yang mempunyai densitas tinggi. Sand trap tank adalah sebuah bejana yang berbentuk silinder tegak.

b. Vibrating Screen

14

Minyak bagian atas dari sand trap tank yang masih mengandung serat dan sedikit kotoran dialirkan ke ayakan getar (vibrating screen). Proses penyaringan memakai vibrating screen bertujuan untuk memisahkan padatan, seperti : serabut, pasir, tanah dan kotoran-kotoran lain yang masih terbawa dari sand trap tank. Vibrating yang digunakan adalah double deck vibrating screen, dimana screen pertama berukuran 30 mesh dan screen kedua 40 mesh. Padatan yang tertahan pada ayakan akan dikembalikan ke digester melalui conveyor, sedangkan minyak dipompakan ke crude oil tank.

c. Crude Oil Tank (COT) Minyak yang keluar dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank untuk ditampung sementara. Pada crude oil tank ini minyak dipanaskan dengan steam melalui sistem pipa pemanas, dan suhu dipertahankan 90-95°C. Dari sini minyak dipompakan ke CST (Continuous Settling Tank).

d. Continous Settling Tank (CST)

Minyak dari COT dipompakan ke CST dimana sebelumnya dilewatkan ke buffer tank agar aliran minyak masuk ke CST tidak terlalu kencang. CST bertujuan untuk mengendapkan lumpur (sudge) berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Di CST suhu dipertahankan 86-90 o C. Minyak pada bagian atas CST dikutip dengan bantuan skimmer menuju oil tank, sedangkan sludge (yang masih mengandung minyak) pada bagian bawah dialirkan secara underflow ke sludge vibrating screen sebelum ke sludge oil tank. Sludge dan pasir yang mengendap didasar CST di-blowdown untuk dibawa ke sludge drain tank .

e. Oil Tank Minyak dari CST menuju ke oil tank untuk ditampung sementara waktu, sebelum dialirkan ke oil purifier. Dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75- 80°C) dengan tujuan untuk mengurangi kadar air.

f. Purifier

Di dalam purifier dilakukan pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air yang terdapat pada minyak berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang memiliki densitas yang besar akan berada pada bagian yang luar (dinding bowl), sedangkan minyak yang mempunyai densitas lebih kecil

15

bergerak ke arah poros dan keluar melalui sudu-sudu untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang melekat pada dinding di-blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.

g. Vacuum Drier

Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum drier. Di sini minyak disemprot dengan menggunakan nozzle sehingga campuran minyak dan air tersebut akan pecah. Hal ini akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana minyak yang memiliki tekanan uap lebih rendah dari air akan turun ke

bawah dan kemudian dipompakan ke storage tank.

h. Sludge Tank

Untuk overflow dari tangki ini di alirkan ke drain tank sedangkan under flownya dialirkan ke vibrating screen dan brush strainer atau langsung ke bak transit untuk dipompakan ke sand cyclone. Untuk mempercepat pengendapan lumpur, sludge dipanaskan (80-90 o C) dengan menggunakan uap yang dialirkan melalui coil pemanas. Sehingga densitas minyak menjadi lebih rendah dan lumpur halus yang melekat pada minyak akan terlepas dan mengendap pada dasar tangki.Dari sand cyclone atau brush strainer sludge dialirkan ke balance tank sebagai umpan untuk decanter atau sludge centrifuge. i. Sludge centrifuge Sludge centrifuge untuk mengolah sludge. Sludge Centrifuge adalah alat yang digunakan untuk memisahkan minyak yang masih terkandung di dalam sludge, dengan cara pemisahan berdasarkan gaya sentrifugal. Didalam sludge centrifuge ini terdapat bowl yang berputar 1450 rpm, bowl ini berbentuk bintang yang diujungnya terdapat nozzle dengan diameter lubang tertentu dan nozzle ini dapat diganti sesuai keinginan.Prinsip kerjanya adalah nozzle separator berputar dengan gaya centifugal dimana pemisahannya, fraksi berat ( lumpur, kotoran ) terlempar ke dinding bowl dan fraksi ringan (air dan minyak) akan ketengah. Minyak yang mempunyai densitas lebih kecil akan menuju poros dan terdorong keluar melalui sudu-sudu (paring disk), dan ditampung di reclaimed tank sebelum

dipompakan oleh reclaimed oil pump untuk alirkan kembali ke CST. Sedangkan sludge (mengandung air) yang mempuyai densitas lebih besar akan terdorong ke

16

bagian dinding bowl dan keluar melalui nozzle, kemudian sludge keluar melalui saluran pembuangan menuju fat pit.

j. Sludge drain tank

Lapisan bawah dari CST, dan sludge tank pada selang waktu tertentu didrain menuju sludge drain tank. Di sludge drain tank minyak mengalir tenang

dan dibiarkan overflow untuk mengalir dan ditampung pada reclaimed tank, dan kemudian dipompakan kembali ke CST untuk kemudian dimurnikan lagi. Sedangkan kotoran dan air dialirkan menuju fat pit. k. Fat Pit Sebelum sludge di buang ke kolam pengolahan limbah, terlebih dahulu ditampung di fat pit dengan maksud agar minyak yang masih terbawa dapat terpisah kembali. Di Fat Pit diinjeksikan uap sebagai pemanas untuk mempermudah proses pemisahan minyak dengan kotoran. Minyak yang ada pada permukaan dibiarkan melimpah (overflow). Selanjutnya minyak ditampung pada sebuah bak pada pinggiran kolam fat pit, dan kemudian dipompakan kembali ke sludge drain tank.

l. Storage Tank Minyak dari vacuum dryer, kemudian dipompakan ke storage tank (tangki timbun), pada suhu simpan 45-55°C. Setiap hari dilakukan pengujian mutu. Minyak yang dihasilkan dari daging buah berupa minyak yang disebut Crude Palm Oil (CPO).

2.6.6 Stasiun Kernel

Pada stasiun ini dilakukan aktifitas pemisahan serabut dari nut, pemisahan inti dari cangkangnya dan juga pengeringan inti. Peralatan yang digunakan di stasiun ini , diantaranya : Cake Breaker Conveyor (CBC), Depericarper, Nut Silo, Ripple Mill, Claybath, dan Kernel Silo.

a. Cake Breaker Conveyor (CBC) Ampas dari screw press yang terdiri dari fiber dan nut yang masih menggumpal masuk ke CBC. CBC merupakan suatu screw conveyor namun screwnya dipasang palt persegi sebagai pelempar fiber dan nut. CBC berfungsi untuk mengurai gumpalan fiber dengan nut dan membawanya ke depericarper.

b. Depericarper

17

Depericarper adalah alat untuk memisahkan fiber dengan nut. Fiber dan nut dari CBC masuk ke separating column. Disini fraksi ringan yang berupa fiber dihisap dengan fibre cyclone dan di tampung dalam hopper sebagai bahan bakar pada boiler. Sedangkan fraksi berat berupa nut turun ke bawah masuk ke polishing drum.

c. Nut Polishing Drum Nut polishing drum berupa drum berlubang-lubang yang berrputar. Akibat dari perputaran ini terjadi gesekan yang mengakibatkan serabut yang masih menempel pada nut terkikis dan terpisah dari nut. Nut jatuh, selanjutnya nut diangkut oleh nut conveyor dan destoner (second depericarper) untuk memisahkan batu dan benda benda yang lebih berat dari nut seperti besi. Nut yang terbawa ke atas jatuh kembali di dalam air lock dan di tampung oleh nut elevator untuk dibawa ke dalam nut silo.

d. Nut Silo

Fungsi dari alat ini sebagai tempat penampungan nut, hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar air sehingga lebih mudah dipecah dan inti lekang dari cangkangnya.

e. Ripple Mill Biji dari nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari cangkang. Biji yang masuk melalui rotor akan mengalami gaya sentrifugal sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah. Setelah dipecahkan inti yang masih bercampur dengan kotoran- kotoran di bawa ke kernel grading drum.

f. Kernel Grading Drum

Pada kernel grading drum ini di saring antara nut,shell dan kotoran dengan nut yang belum terpecahkan. Untuk nut shell dan kotoran lolos dari saringan

dibawa ke LTDS. Sementara untuk nut atau yang tertahan dikembalikan ke nut conveyor.

g. Light Tenera Dry Separator (LTDS)

Pada bagian ini akan terjadi pemisahan dimana fraksi-fraksi yang lebih ringan akan dihisap oleh LTDS cyclone. Fraksi-fraksi yang ringan di hisap yang terdiri dari cangkang dan serabut akan di bawa ke shell hopper melalui fibre and

18

shell conveyor. Inti dan sebagian cangkang yang belum terpisahkan, dipisahkan lagi pada clay bath.

h. Clay Bath

Clay bath adalah alat pemisahan Inti dengan cangkang. Proses pemisahan ini secara basah yang menggunakan larutan CaCO 3 dan air dengan ukuran partikel CaCO 3 lolos mesh 400. Clay bath berfungsi sebagai larutan pemisah antara kernel dan cangkang berdasarkan berat jenis. Berat jenis Kernel basah = 1,07 dan berat jenis cangkang = 1,15 1,20, maka untuk memisah kernel dan cangkang tersebut dibuat larutan dengan berat jenis = 1,12. Bagian yang ringan akan mengapung dan bagian yang berat akan tenggelam. Inti yang merupakan fraksi ringan akan dibawa ke kernel silo untuk disimpan dengan suhu tertentu.

i. Kernel Silo Inti yang masih mengandung air, perlu dikeringkan sampai kadar air 7%. Inti yang berasal dari pemisahan di clay bath melalui top wet kernel conveyor didistribusikan ke dalam unit kernel silo untuk dilakukan proses pengeringan. Pada kernel silo ini inti akan dikeringkan dengan menggunakan udara panas dari steam heater yang dihembuskan oleh Fan kernel silo ke dalam kernel silo. Pengeringan dilakukan pada temperatur 60-80°C selama 4-8 jam. Kernel yang telah dikeringkan ini dibawa ke kernel bulk silo melalui dry kernel transport fan. Untuk memperjelas alur proses pengolahan minyak goreng dapat dilihat pada Pengolahan CPO menjadi Minyak Goreng sebagai berikut :

19

19 Gambar 2. Flowsheet Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO 2.7 Proses Pembuatan Sabun Dari Minyak

Gambar 2. Flowsheet Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO

2.7 Proses Pembuatan Sabun Dari Minyak Kelapa Sawit

2.7.1 Pengenalan sabun

Menurut Kasim (2010), Sabun merupakan bahan logam alkali dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang. Larutan alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasa yang digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida (NaoH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH).

Sabun berfungsi untuk mengemulsi kotoran kotoran berupa minyak ataupun zat pengotor lainnya. Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan alkali membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa lemak hewani, minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut.

Pada saat ini teknologi sabun telah berkembang pesat. Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi dapat diperoleh dengan mudah dipasaran seperti

20

sabun mandi, sabun cuci baik untuk pakaian maupun untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang digunakan dalam industri.

Kandungan zat zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun. Zat zat tersebut dapat menimbulkan efek baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Oleh karena itu, konsumen perlu memperhatikan kualitas sabun dengan teliti sebelum membeli dan menggunakannya.

Pada pembuatan sabun, bahan dasar yang biasa digunakan adalah : C12

C18

Jika : < C12 : Iritasi pada kulit > C20 : Kurang larut (digunakan sebagai campuran) Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin, garam dan impurity lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat sabun. Lemak dan minyak nabati merupakan dua tipe ester. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat dari alcohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak, seperti minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat.

Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.

Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna.

2.7.2 Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun

21

Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Masing masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang antara C 12 (asam laurik) hingga C 18 (asam stearat) pada lemak jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida membebaskan gliserol. Sifat sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen asam asam lemak yang digunakan. Komposisi asam- asam lemak yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi panjang rantyai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang kurang dari 12 atom karbon dihindari penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada kulit, sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sukar larut dan sulit menimbulkan busa. Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh menghasilkan sabun yang mudah teroksidasi bila terkena udara. Alasan alas an diatas, factor ekonomis, dan daya jual menyebabkan lemak dan minyak yang dibuat menjadi sabun terbatas. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi. Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti :

kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya :

a. Tallow. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri

pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar

22

antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas 40°C. Tallow dengan titer di bawah 40°C dikenal dengan nama grease.

b. Lard. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung

asam lemak tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~ 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus

dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.

c. Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya

digunakan sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya.

d. Coconut Oil (minyak kelapa). Minyak kelapa merupakan minyak nabati

yang sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna

kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat.

e. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa.

f. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Minyak sawit stearin adalah

minyak

yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit

23

dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin.

g. Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.

h. Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan

digunakan untuk membuat sabun transparan.

i. Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah

zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.

j. Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.

2.7.3 Bahan Baku Utama : Alkali

Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3(abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu

24

menurunkan kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.

2.7.4 Bahan Bahan Pendukung Pembuatan Sabun

Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif.

a.NaCl

NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.

b. Bahan aditif.

Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum

1. Builders (Bahan Penguat)

Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral mineral yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan dapat

25

berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.

2. Fillers Inert (Bahan Pengisi)

Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku. Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.

3. Pewarna

Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang menarik. Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau maupun orange.

4. Parfum

Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas sabun yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk sabun berbentuk cairan berwarna kekuning kuningan dengan berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke mililiter. Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1ml. Pada dasarnya, jenis parfum untuk sabun dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan parfum ekslusif. Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat seperti aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen sabun

26

menggunakan jenis parfum yang ekslusif. Artinya, aroma dari parfum tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang menggunakannya. Kekhasan parfum ekslusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih mahal dari jenis parfum umum. Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan sabun diantaranya bouquct deep water, alpine, dan spring flower.

2.7.5 Metoda-Metoda Pembuatan Sabun

Pada proses pembuatan sabun ini digunakan metode metode untuk menghasilkan sabun yang berkualitas dan bagus. Untuk menghasilkan sabun itu digunakanlah metode metode, yang mana metode metode ini memiliki kelebihan kelebihan dan kekurangannya masing masing.

a. Metode Batch

Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).

b. Metoda Kontinu

Metoda kontinu biasa dilakukan pada zaman sekarang, lemak atau minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari

27

salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.

2.7.6 Reaksi Saponifikasi

Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun (Latin sapon, = sabun dan fy adalah akhiran yang berarti membuat). Bangsa Romawi kuno mulai membuat sabun sejak 2300 tahun yang lalu dengan memanaskan campuran lemak hewan dengan abu kayu. Pada a bad 16 dan 17 di Eropa sabun hanya digunakan dalam bidang pengobatan. Barulah menjelang abad 19 penggunaan sabun meluas.

Reaksi pembuatan sabun adalah sebagai berikut :

meluas. Reaksi pembuatan sabun adalah sebagai berikut : Gambar 3. Reaksi Pembuatan sabun Seperti yang kita

Gambar 3. Reaksi Pembuatan sabun

Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai pelarut universal

28

karena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol dipol) antara molekul-molekul air.

2.7.7 Pembuatan Sabun dalam Industri

1. Saponifikasi Lemak Netral

Pada proses saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, kedua reaktan tidak mudah bercampur. Reaksi saponifikasi dapat mengkatalisis dengan sendirinya pada kondisi tertentu dimana pembentukan produk sabun mempengaruhi proses emulsi kedua reaktan tadi, menyebabkan suatu percepatan pada kecepatan reaksi. Jumlah alkali yang dibutuhkan untuk mengubah paduan trigliserida menjadi sabun dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut :

Trigliserida + 3NaOH

berdasarkan persamaan berikut : Trigliserida + 3NaOH 3RCOONa + Gliserin NaOH = [SV x 0,000713] x

3RCOONa + Gliserin

NaOH = [SV x 0,000713] x 100/ NaOH (%) [SV / 1000] x [MV (NaOH)/

MV(KOH)

Dimana SV adalah angka penyabunan dan MV adalah berat molekul

Komponen penting pada sistem ini mencakup pompa berpotongan untuk memasukkan kuantitas komponen reaksi yang benar ke dalam reaktor autoclave, yang beroperasi pada temperatur dan tekanan yang sesuai dengan kondisi reaksi. Campuran saponifikasi disirkulasi kembali dengan autoclave. Temperatur campuran tersebut diturunkan pada mixer pendingin, kemudian dipompakan ke separator statis untuk memisahkan sabun yang tidak tercuci dengan larutan alkali yang digunakan. Sabun tersebut kemudian dicuci dengan larutan alkali pencucidikolam pencuci untuk memisahkan gliserin (sebagai larutan alkali yang digunakan) dari sabun. Separator sentrifusi memisahkan sisa sisa larutan alkali dari sabun. Sabun murni (60-63 % TFM) dinetralisasi dan dialirkan ke vakum spray dryer untuk menghasilkan sabun dalam bentuk butiran (78-83 % TFM)yang siap untuk diproses menjadi produk akhir.

29

2. Pengeringan Sabun

Sabun banyak diperoleh setelah penyelesaian saponifikasi (sabun murni) yang umumnya dikeringkan dengan vakum spray dryer. Kandungan air pada sabun dikurangi dari 30-35% pada sabun murni menjadi 8-18% pada sabun butiran atau lempengan. Jenis jenis vakum spray dryer, dari sistem tunggal hingga multi sistem, semuanya dapat digunakan pada berbagai proses pembuatan sabun. Operasi vakum spray dryer sistem tunggal meliputi pemompaan sabun murni melalui pipa heat exchanger dimana sabun dipanaskan dengan uap yang mengalir pada bagian luar pipa. Sabun yang sudah dikeringkan dan didinginkan tersimpan pada dinding ruang vakum dan dipindahkan dengan alat pengerik sehingga jatuh di plodder, yang mengubah sabun ke bentuk lonjong panjang atau butiran. Dryer dengan mulai memperkenalkan proses pengeringan sabun yang lebih luas dan lebih efisien daripada dryer sistem tunggal.

3. Netralisasi Asam Lemak

Reaksi asam basa antara asam dengan alkali untuk menghasilkan sabun berlangsung lebih cepat daripada reaksi trigliserida dengan alkali.

lebih cepat daripada reaksi trigliserida dengan alkali. RCOOH + NaOH RCOONa + H2O Jumlah alkali (NaOH)

RCOOH + NaOH

RCOONa + H2O

Jumlah alkali (NaOH) yang dibutuhkan untuk menetralisasi suatu paduan asam lemak dapat dihitung sebagai berikut :

NaOH = {berat asam lemak x 40) / MW asam lemak

Berat molekul rata rata suatu paduan asam lemak dapat dihitung dengan persamaan :

MW asam lemak = 56,1 x 1000/ AV

Dimana AV (angka asam asam lemak paduan) = mg

KOH yang dibutuhkan untuk menetralisasi 1 gram asam lemak Operasi sistem ini meliputi pemompaan reaktan melalui pemanasan terlebih dihulu menuju turbodisperser dimana interaksi reaktan reaktan tersebut mengawali

30

pembentukan sabun murni. Sabun tersebut, yang direaksikan sebagian pada tahap ini, kemudian dialirkan ke mixer dimana sabun tersebut disirkulasi kembali hingga netralisasi selesai. Penyelesaian proses netralisasi ditentukan oleh suatu pengukuran potensial elektrik (mV) alkalinitas. Sabun murni kemudian dikeringkan dengan vakum spray dryer untuk menghasilkan sabun butiran yang siap untuk diolah menjadi sabun batangan.

4. Penyempurnaan Sabun

Dalam pembuatan produk sabun batangan, sabun butiran dicampurkan dengan zat pewarna, parfum, dan zat aditif lainnya kedalam mixer(analgamator). Campuran sabun ini kemudian diteruskan untuk digiling untuk mengubah campuran tersebur menjadi suatu produk yang homogen. Produk tersebut kemudian dilanjutkan ke tahap pemotongan. Sebuah alat pemotong dengan mata pisau memotong sabun tersebut menjadi potongan potongan terpisah yang dicetak melalui proses penekanan menjadi sabun batangan sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Proses pembungkusan, pengemasan, dan penyusunan sabun batangan merupakan tahap akhir.

Proses pembungkusan, pengemasan, dan penyusunan sabun batangan merupakan tahap akhir. Gambar 4. Proses Pembuatan Sabun

Gambar 4. Proses Pembuatan Sabun

31

2.8 Pengetahuan Biomassa Sawit Menjadi Absorber

2.8.1 Biomassa

Biomassa merupakan sumber energi terbesar keempat di dunia dan khususnya menjadi sumber energi yang menarik bagi banyak Negara karena ketersediaan dan keberlanjutan nya. Biomassa terutama berasal dari sektor

pertanian dan kehutanan.Sekarang ini, berbagai bentuk biomassa telah diolah

di seluruh dunia untuk digunakan sebagai pembangkit energi.Biomassa

menghasilkan sumber energi bersih terbarukan yang dapat meningkatkan lingkungan, ekonomi dan keamanan energi.Salah satu sumber biomassa yang banyak di dapatkan di Asia Tenggara adalah berasal dari kelapa sawit. Tandan kosong kelapa sawit, serat dan cangkang umumnya dianggap limbah (Seith,

2009).

Komponen umum dalam suatu biomassa terbagi atas 3 yaitu:

1. Selulosa dengan komposisi rata-rata C6H10O5dengan n = 500 4000

2. Hemiselulosa dengan komposisi rata-rata C5H8O4dengan n = 50 200

3. Lignin mempunyai cabang yang panjang, polimer mononuclear aromatik, sering berikatan untuk menggabungkan serat selulosa dan hemiselulosa untuk membentuk gugus lignoselulosa (Brown, 2011).

Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk mengubah biomassa dengan cara termokimia yaitu pembakaran, gasifikasi dan pirolisis. Pirolisis dianggap sebagai teknologi yang baik untuk menghasilkan produk cairan diantara ketiga proses termokimia diatas. Pirolisis adalah degradasi termal biomassa tanpa menggunakan oksigen. Produk pirolisis terdiri dari bio oil (gas terkondensasi), gas sintetik (gas tidak terkondensasi) dan arang ( Seith, 2009). Padatan dalam produk pirolisis disebut arang yang pada umumnya mengandung karbon, hidrogen dan oksigen dengan sedikit persentase unsur logam. Komponen cair adalah campuran air dan senyawa organik teroksigenasi (bio oil) seperti asam karboksilat, alkohol, keton, aldehid, hidrokarbon, dll. Gas dalam pirolisis mengandung hidrogen, karbon monoksida, karbon

32

dioksida, metana dll.Jumlah dari produk pirolisis ini tergantung dari suhu operasi, panas reaksi, dan waktu tinggal di dalam reaktor (Benanti et al, 2011).

2.9 Cara Pembuatan Arang Aktif Dari Cangkang Kelapa Sawit

2.9.1

Bahan

Bahan yang digunakan tempurung kelapa sawit dari limbah pabrik pengolahan minyak sawit dan serbuk gergaji campuran kayu. Bahan kimia yang digunakan adalah asam fosfat (H 3 PO 4 ) sebagai bahan pengaktif, benzena dan yodium untuk penetapan besarnya daya serap terhadap gas dan larutan.

Tanaman kelapa sawit (Elaeis Quineesis Jacq) termasuk jenis palma yang menghasilkan minyak, baik dari daging buah (mesocarp) maupun dari inti (kernel), dan hasil ikutan seperti tempurung biji sawit, serat dan biogas. Tempurung biji sawit, selain digunakan sebagai bahan bakar atau arang juga digunakan senagai pengeras jalan. Arang tempurung inti sawit tersebut jika diperlakukan dengan bahan-bahan kimia atau dipanaskan lebih lanjut, dapat

dijadikan sebagai arang aktif kelapa sawit diklasifikasikan atas 3 (tiga) tipe yaitu:

a. Elaeis quineesis varitas Dura : Daging buahnya, mempunyai inti yang besar dan ketebalan tempurungnya berkisar antara 2-8 mm.

b. Elaeis quineensis varitas Pisifera : Buah jenis ini, tidak mempunyai tempurung dan intinya sangat kecil, sedangkan daging buahnya tebal.

c. Elaeis quineensis varitas Tenera : Daging buahnya tebal, disekeliling tempurung terdapat Berst (fiber ring). Ketebalan tempurung berkisar antara 0,5 -4 mm.

2.9.2 Metode Metoda aktifilsi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif

adalah:

a. Aktifasi Kimia: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakian bahan-bahan kimia

b. Aktifasi Fisika: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas, uap dan CO2.

33

Untuk aktifasi kimia, aktifator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti: hidroksida ligam alkali garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2 , asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H4PO4 . Untuk aktifasi fisika, biasanya arang dipanaskan didalam furnace pada temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah, merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan. Dalam beberapa bahan barang yang diaktifasi dengan percampuran bahan kimia, diberikan aktifasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu barang tidak dikembangkan oleh aktifasi kimia. Arang aktif sebagai pemucat, dapat dibuat dengan aktifasi kimia. Bahan laku dicampur dengan bahan-bahan kimia, kemudian campuran tersebut dipanaskan pada temperatur 500-900°C. Selanjutnya didinginkan, dicuci untuk menghilangkan dan memperoleh kembali sisa-sisa zat kimia yang digunakan. Akhirnya, disaring dan dikeringkan. Bahan baku dapat dihaluskan sebelum atau setelah aktifasi. Arang aktif sebagai penyerap uap, juga dapat dibuat dengan aktifasi kimia. Sebagai contoh, digunakan serbuk gergaji sebagai bahan dasar dan H3PO4, ZnCl2, K2S atau KCNS sebagai aktifator. Biasanya, seratus bagian bahan baku yang telah dihaluskan dicampur dengan larutan yang mengandung 50-100 bagian aktifator. Kemudian dipanaskan dalam pencampur mekanik untuk menguapkan air, selanjutnya campuran yang masih panas tersebut dibentuk menjadi blokblok, dihancurkan kembali dan dikarbonisasi pada 500 -900°C, didinginkan, dicuci untuk menghilangkan dan memperoleh kembali bahan-bahan kimia yang digunakan untuk selanjutnya dikeringkan. Proses yang melibatkan oksidasi selektif dari bahan baku dengan udara, juga digunakan baik untuk pembuatan arang aktif sebagai pemucat maupun sebagai penyerap uap. Bahan baku dikarbonisasi pada temperatur 400-500°C untuk mengeleminasi zat-zat yang mudah menguap. Kemudian dioksidasi dengan gas pada 800-10000C untuk mengembangkan pori dan luas permukaan.

34

Dalam beberapa hal, adalah menguntungkan untuk menghancurkan atau menghaluskan arang menjadi bentuk powder, kemudian membentuknya kembali menjadi pellet dengan menggunakan ter sebagai pengikat. Selanjutnya, dihancurkan kembali dan dikarboniasi pada 500-700 °C dan diaktifasi dengan nap pada temperatur 850-950 DC. Proses ini akan menghasilkan partikel yang lebih mudah diaktifasi karena mempunyai saluran-saluran yang lebih besar atau poripori makro sebagai alan masuknya gas pengoksidasi dan memudahkan produkproduk reaksi untuk meninggalkan pusat partikel.

produkproduk reaksi untuk meninggalkan pusat partikel. Gambar 5. Bagan Proses Pembuatan Arang Aktif 2.10

Gambar 5. Bagan Proses Pembuatan Arang Aktif

2.10 Perbandingan Minyak Kelapa Sawit dengan Minyak Lainnya

Banyaknya kegunaan dan produk turunan dari kelapa sawit inilah yang menyebabkan kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang laku di pasar internasional. Terlebih saat ini juga dikembangkan berbagai bahan bakar nabati. Minyak kelapa sawit menjadi salah satu bahan baku yang relatif sangat ekonomis untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel. Kadar minyak yang dihasilkan oleh kelapa sawit merupakan yang terbesar dibandingkan dengan beberapa produk lainnya. Perbandingan kadar minyak tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

35

35 Gambar 6. Perbandingan Kadar Minyak Sejumlah Tanaman

Gambar 6. Perbandingan Kadar Minyak Sejumlah Tanaman

3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

1. Produk utama adalah minyak sawit, CPO dan CPKO, yang selanjutnya menjadi bahan baku industri hilir pangan maupun non pangan

2. Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) terdiri dari beberapa stasiun :

loading ramp, sterilizer, thresser, stasiun pemurnian,stasiun kernel.

3. Pembuatan sabun dalam industri : saponifikasi lemak netral, pengeringan sabun, netralisasi asam lemak, penyempurnaan sabun.

4. Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk mengubah biomassa dengan cara termokimia yaitu pembakaran, gasifikasi dan pirolisis.

5. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap, dan penjernih. Dalam jumlah kecil digunakan juga sebagai katalisator.

6. Arang aktif yang potensial sebagai pengikat bahan pencemar adalah yang berasal dari tempurung kelapa, bonggol jagung, sekam padi, dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS).

7. Kadar minyak yang dihasilkan oleh kelapa sawit merupakan yang terbesar dibandingkan dengan beberapa produk lainnya.

3.2 Saran

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan pembaca,terutama dalam pengolahan sawit dan semoga yang didapatkan pembaca dalam makalah ini dapat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Penulis menyadari masih banyak hal yang perlu di perbaiki dalam makalah ini, mungkin dalam penulisan maupun ada data yang kurang tepat untuk itu kritik dan sarannya sangat diharapkan.

36

37

LAMPIRAN PEMBUATAN ARANG AKTIF

37 LAMPIRAN PEMBUATAN ARANG AKTIF C a n g k a n g k e l

Cangkang kelapa sawit

C a n g k a n g k e l a p a s a

Penimbangan beaker glass

i m b a n g a n b e a k e r g l
i m b a n g a n b e a k e r g l

Penimbangan beaker glass dan cangkang

e r g l a s s Penimbangan beaker glass dan cangkang Hasil cangkang yang sudah
e r g l a s s Penimbangan beaker glass dan cangkang Hasil cangkang yang sudah

Hasil cangkang yang sudah masuk kereaktor

Pengeringan cangkang

Pencucian cangkang yang sudah ditimbang

Pengeringan cangkang Pencucian cangkang yang sudah ditimbang Penambahan zat aditif dengan arang Penghalusan cangkang
Pengeringan cangkang Pencucian cangkang yang sudah ditimbang Penambahan zat aditif dengan arang Penghalusan cangkang
Penambahan zat aditif dengan arang
Penambahan zat aditif
dengan arang

Penghalusan cangkang

Cangkang yang sudah jadi arang

menggunakan mesin

ditimbang

Hasil akhir
Hasil akhir

Arang aktif yang sudah di cetak di timbang

38

DAFTAR PUSTAKA

Hastuti, M. Andriyani, M. Andini, M. N. 2015. Proses Pengolahan Minyak Goreng Dari Kelapa Sawit. Surakarta. Universitas Sebelas Maret (http://mynewblokmargihastuti.blogspot.co.id/) di akses 11 Juni 2015

Huriyah., T., “Proses Pembuatan Sabun dan Deterjen”, http://id.wordpress.com/tag/ilmiah/

Indonesia.Levenspiel, O., 1972. Chemical Reaction Engineering 2nd Ed. John Wiley & Sons, Inc., New York, hal. 21-22

Kehati. (2005). Indonesian Path Toward Sustainable Energy: A Case study of developing biomass from palm oil in Indonesia. Yayasan Kehati. Jakarta: Yayasan Kehati.

Ketaren, S., 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Jakarta:

Universitas Indonesia

Pasaribu, N., 2004, Minyak Buah Kelapa Sawit. Sumatera Utara: Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

Perdana, F.K., Hakim I., 2008, “Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak dan Soda Q sebagai Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q”, Semarang : Jurusan Teknik Kimia, Universitas Diponegoro.

Priyono, A., 2009, “Makalah Pembuatan Sabun”. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Riau: Universitas Riau.

Pahan, I. (2007). Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta, DKI, Indonesia: Penebar Swadaya.

Pratomo, N., & Puraka, Y. W. (2008). engembangan Biofuel Dari Minyak Kelapa Sawit di Indonesia: Petani Lahan Kecil, Buruh dan Ancaman Ketahanan Pangan. Jakarta: Inrise.

39

Rohman, S., 2009, “Bahan Pembuatan Sabun”, http://majarimagazine.com/topics/beasiswa/