Anda di halaman 1dari 8

Nama : Nuzula Hidayatun Nufus

NIM : 1711015120016
Program Studi : Farmasi

FATIMAH AZ-ZAHRA; PUTRI BUNGSU RASULULLAH

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah
Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala menghendaki kelahiran Fatimah yang mendekati
tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu
ditunjuknya Rasulullah sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang
siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Kabah diperbaharui. Dengan
kecerdasan akalnya dia mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan di
antara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.
Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan
memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu
Abiha (Ibu dari bapaknya).
Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun
terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban
oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.
sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan
kematian ibunya.
Rasulullah sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu
menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata , Aku tidak melihat seseorang
yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fatimah, jika ia
datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan
hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya..
Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:
Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah.
Dan dalam riwayat lain disebutkan, Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia
diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti..
Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjalankan haji wada dan ketika ia
melihat Fatimah, dia menemuinya dengan ramah sambil berkata, Selamat datang wahai putriku.
Lalu Dia menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikkan sesuatu, sehingga Fatimah
menangis dengan tangisan yang keras, tatkala Fatimah sedih lalu Dia membisikkan sesuatu
kepadanya yang menyebabkan Fatimah tersenyum.
Tatkala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisikannya lalu Fatimah menjawab, Saya
tak ingin membuka rahasia. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah
tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fatimah menangis dan
tersenyum. Lalu Fatimah menjawab, Adapun yang Dia katakan kepada saya pertama kali adalah
dia memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Quran dengan hafalan
kepada dia setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Dia berkata,
Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik-baiknya
Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat
kesedihanku. Dan saat Dia membisikan yang kedua kali, Dia berkata, Wahai Fatimah apakah
engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga dan engkau adalah orang
pertama dari keluargaku yang akan menyusulku. Kemudian saya tertawa.
Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fatimah jatuh
sakit, namun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama
kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H
dalam usia 27 tahun.
Ketika usianya beranjak dewasa, Fatimah Az-Zahra dipersunting oleh salah satu sepupu,
sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah, Ali bin Abi Thalib.Di hari itu pula para
penghuni langit bergembira melihat pernikahan Ali dan fatimah.Sungguh pernikahan yang
sangat indah, dengan bermahar baju besi yang dahulu di berikan oleh rasulullah kepada ali, kini
menjadi mahar untuk anaknya.Dari pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra
memiliki 4 anak, 2 putra dan 2 putri. 2 putra yaitu Hasan dan Husain. Sedangkan yang putri yaitu
Zainab dan Ummu Kultsum. Hasan dan Husain sangat disayangi oleh Rasulullah Shalallahu
Alaihi Waalihi Wassalam. Sebenarnya ada satu lagi anak Fatimah Az Zahra bernama
Muhsin ,tetapi Muhsin meninggal dunia saat masih kecil.
Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri dari
Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada masa Dia.
Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak pernah
melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering sekali menyebutkan nama
Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata " Fatimah merupakan bidadari
yang menyerupai manusia"
Lahirnya Siti Fatimah Az Zahra r.a merupakan rahmat yang telah dilimpahkan Ilahi
kepada Nabi Muhammad SAW. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana
benih yang akan menumbuhkan pohon besar penyambung keturunan Rasulullah SAW. Ia satu-
satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenali umat Islam di seluruh dunia.
Siti Fatimah Az Zahra r.a (Fatimah yang selalu berseri) dilahirkan di Makkah, pada hari Jumat,
20 Jumadil Akhir, lebih kurang lima tahun sebelum Rasulullah SAW di angkat menjadi Rasul.
Nama Fatimah berasal dari kata Fathmana yang artinya sama dengan Qathan atau
manan, yang berarti memotong, memutuskan, mencegah. Ia dinamakan Fatimah karena Allah
SWT mencegah dirinya dari api neraka. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,
bahwa Nabi bersabda, sesungguhnya Fatimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah
haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka.
Siti Fatimah Az Zahra r.a membesar di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah
pertarungan sengit antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya perjuangan para perintis
iman melawan penyembah berhala. Dia menyaksikan keteguhan dan ketegasan orang-orang
mukmin dalam perjuangan gagah berani menghadapi komplot-komplot Quraisy. Suasana
perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Siti Fatimah Az Zahra r.a dan
memainkan peranan penting dalam pembentukan peribadinya, serta mempersiapkan kekuatan
rohaniah bagi menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.
Kehadiran Fatimah laksana bunga yang mekar dengan begitu indahnya. Semerbak
harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai menjadi tercerahkan kembali. Kelahirannya
mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan yang batil tentang perempuan. Saat Fatimah
terlahir, Rasulullah pun menengadahkan kedua tangannya kelangit dan melantunkan doa syukur
yang begitu indah. Dengan penuh suka cita, ia peluk si kecil Fatimah. Ia cium keningnya dan
menatap wajahnya yang memancarkan cahaya kedamaian. Siti Fatimah Az-Zahra mendapat
julukan Ummu Aimmah, Sayyidatu Nisyail Alamin, Ummu Abiha, Al-Batul, At-Thahirah.
Rasulullah SAW sangat mencintai puterinya ini. Siti Fatimah Az Zahra r.a adalah puteri
bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasulullah SAW. Nabi Muhammad
SAW merasa tidak ada seorang pun di dunia, yang paling berkenan di hati baginda dan yang
paling dekat di sisinya selain puteri bungsunya itu.
Sorotan mata Fatimah, membuat kalbu Rasulullah menjadi amat bahagia lahirnya
perempuan suci itu, Allah swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta
kepada sang Nabi saw. Sungguh benar apa yang dikatakan Al-Quran, bahwa Fatimah adalah Al-
Kautsar. Allah swt berfirman : Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kaustar,
nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya
orang-orang yang membenci kamu dialah yang berputus.
Surat pendek ini merupakan pesan illahi yang membuat hati Rasulullah menjadi begitu
gembira dan ia benar-benar meyakini janji ilahi. Fatimah terlahir ke dunia untuk menjadi
pimpinan kaum perempuan dan dari keturunanya akan lahir para manusia-manusia agung
penegak agama illahi dan keadilan. Salam atasmu Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling
utama. Salam atasmu Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling utama salam atasmu wahai
manusia yang paling dicintai Nabi, salam atasmu wahai Fatimah, manusia sempurna. Rasulullah
saw bersabda, Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh
zaman dan generasi. Ia adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia
adalah bidadari berwajah manusia. Yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia. Ia
adalah bidadari berwajah manusia.1[4] Setiap kali ia beribadah di mihrab dihadapan Tuhannya,
cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi
bumi. Fatimah Az-Zahra
Rasulullah mengucapkan rasa cintanya kepada putrinya tatkala diatas mimbar:Sungguh
Fatimah bagian dariku, Siapa yang membuatnya marah. Dan dalam riwayat lain disebutkan,
Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia
disakiti.
Lahirnya Siti Fatimah Az Zahra r.a merupakan rahmat yang telah dilimpahkan Ilahi
kepada Nabi Muhammad SAW. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana
benih yang akan menumbuhkan pohon besar penyambung keturunan Rasulullah SAW. Ia satu-
satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenali umat Islam di seluruh dunia.
Siti Fatimah Az Zahra r.a (Fatimah yang selalu berseri) dilahirkan di Makkah, pada hari Jumat,
20 Jumadil Akhir, lebih kurang lima tahun sebelum Rasulullah SAW di angkat menjadi Rasul.
Nama Fatimah berasal dari kata Fathmana yang artinya sama dengan Qathan atau
manan, yang berarti memotong, memutuskan, mencegah. Ia dinamakan Fatimah karena Allah
SWT mencegah dirinya dari api neraka. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,
bahwa Nabi bersabda, sesungguhnya Fatimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah
haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka.
Siti Fatimah Az Zahra r.a membesar di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah
pertarungan sengit antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya perjuangan para perintis
iman melawan penyembah berhala. Dia menyaksikan keteguhan dan ketegasan orang-orang
mukmin dalam perjuangan gagah berani menghadapi komplot-komplot Quraisy. Suasana
perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Siti Fatimah Az Zahra r.a dan
memainkan peranan penting dalam pembentukan peribadinya, serta mempersiapkan kekuatan
rohaniah bagi menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.2[2]
Kehadiran Fatimah laksana bunga yang mekar dengan begitu indahnya. Semerbak
harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai menjadi tercerahkan kembali. Kelahirannya
mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan yang batil tentang perempuan. Saat Fatimah
terlahir, Rasulullah pun menengadahkan kedua tangannya kelangit dan melantunkan doa syukur
yang begitu indah. Dengan penuh suka cita, ia peluk si kecil Fatimah. Ia cium keningnya dan
menatap wajahnya yang memancarkan cahaya kedamaian. Siti Fatimah Az-Zahra mendapat
julukan Ummu Aimmah, Sayyidatu Nisyail Alamin, Ummu Abiha, Al-Batul, At-Thahirah.3[3]
Rasulullah SAW sangat mencintai puterinya ini. Siti Fatimah Az Zahra r.a adalah puteri
bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasulullah SAW. Nabi Muhammad
SAW merasa tidak ada seorang pun di dunia, yang paling berkenan di hati baginda dan yang
paling dekat di sisinya selain puteri bungsunya itu.
Sorotan mata Fatimah, membuat kalbu Rasulullah menjadi amat bahagia lahirnya
perempuan suci itu, Allah swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta
kepada sang Nabi saw. Sungguh benar apa yang dikatakan Al-Quran, bahwa Fatimah adalah Al-
Kautsar. Allah swt berfirman : Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kaustar,
nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya
orang-orang yang membenci kamu dialah yang berputus.
Surat pendek ini merupakan pesan illahi yang membuat hati Rasulullah menjadi begitu
gembira dan ia benar-benar meyakini janji ilahi. Fatimah terlahir ke dunia untuk menjadi
pimpinan kaum perempuan dan dari keturunanya akan lahir para manusia-manusia agung
penegak agama illahi dan keadilan. Salam atasmu Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling
utama. Salam atasmu Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling utama salam atasmu wahai
manusia yang paling dicintai Nabi, salam atasmu wahai Fatimah, manusia sempurna. Rasulullah
saw bersabda, Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh
zaman dan generasi. Ia adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia
adalah bidadari berwajah manusia. Yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia. Ia
adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali ia beribadah di mihrab dihadapan Tuhannya,
cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi
bumi. Fatimah Az-Zahra
Rasulullah mengucapkan rasa cintanya kepada putrinya tatkala diatas mimbar:Sungguh
Fatimah bagian dariku, Siapa yang membuatnya marah. Dan dalam riwayat lain disebutkan,
Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia
disakiti.
Sejak masa kanak-kanak, dalam usia dini, Fatimah r.a telah memahami serangan yang
dilancarkan kaum Quraisy kepada ayahnya. Jika ayahnya bepergian, Fatimah mengikuti dan
menyertainya. Akhirnya, terjadilah suatu peristiwa yang takkan terlupakan. Suatu kali, ketika
ayahnya sedang sujud di Masjidil Haram, sedangkan disekelilingnya adalah kaum musyrikin
Quraisy datang membawa bangkai kambing. Dia melemparkan nya ke punggung Nabi saw,
Rasullullah tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fatimah datang dan menyingkirkan semua
bangkai itu tanpa ada rasa jijik sedikitpun dari punggung Rasullullah dan dengan lantangnya ia
menyebutkan orang yang telah melakukan perbuatan keji kepada Ayahnya.
Pasca wafatnya Rasulullah saw, umat Islam berada dalam situasi Islam berada dalam
situasi perselisihan yang amat kusial dan terancam pecah serta terjerumus dalam kesehatan.
Namun dengan pemikiran yang jernih, Sayyidah Fatimah membaca kondisi umat Islam saat itu
dengan penuh bijaksana, namun ia pun tak segan-segan untuk mengungkapkan titik lemah dan
kelebihan umat Islam di masa itu. Dia sangat menghawatirkan masa depan umat dan
memperingatkan masyarakat agar wasapada terhadap faktor-faktor yang bisa menyesatkan umat.
Dalam khotbah bersejarahnya, pasca kepergian Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah as
menegaskan bahwa jalan yang bisa menyelamatkan manusia adalah berpegang diri pada agama
illahi dan menaati perintah-perintahnya.

Pandai Menjaga Rahasia dan Dapat Dipercaya


Ketika panas badan Rasulullah saw sangat tinggi, Fatimah menjenguknya, Rasulullah
tidak bangun dan tidak lagi menciumnya. Beliau hanya memandangi saja dan tidak berkata apa-
apa. Disebabkan itu, Fatimahlah yang mencium beliau. Dalam keadaan demikian payah, beliau
masih sempat berkata kepada Fatimah supaya duduk disamping beliau. Rasulullah saw berkata
kepada Fatimah dengan berbisik-berbisik dikuping sebelah kanannya, bahwa wahai Fatimah,
sudah sampai masanya untuk baginda mengadap Tuhan Fatimah pun menangis dan sangat sedih.
Setelah Rasulullah saw melihat Fatimah menangis, beliau berkata lagi kepadanya dengan
berbisik-bisik dikuping sebelah kirinya, bahwa ia adalah orang yang pertama yang akan
menyusuli baginda, sehingga Fatimah tersenyum. Melihat Rasulullah saw berbisik-bisik dengan
putri beliau, Aisyah yang senantiasa mendampingi beliau merasa curiga karena ia tidak tahu apa
yang beliau bisikan kepada putri beliau itu.
Disebabkan hal itu, bertanyalah Aisyah kepada Fatimah, Hai Fatimah, apakah yang telah
dibisikkan Rasulullah saw kepadamu? Fatimah menjawab, Aku tidak akan membuka suatu
rahasia yang beliau perintahkan kepadaku, dan menyuruhku untuk menyimpannya baik-baik.

Memiliki Jiwa Tanggung Jawab yang Tinggi


Selepas kepergian sang ibunda, membuat tanggung jawab Sayyidah Fatimah untuk
merawat ayahandanya, Rasulullah saw kian bertambah. Di masa-masa yang penuh dengan
cobaan dan tantangan itu, Sayyidah Fatimah menyaksikan secara langsung pengorbanan dan
perjuangan yang di lakukan ayahandanya demi tegaknya agama illahi.
Begitu juga dengan masa-masa awal pernikahannya dengan Imam Ali as saat berada di
Madina. Dimasa itu, Sayyidah Fatimah juga melewati masa-masa sulit peperangan dengan kaum
musyrikin. Ia pun selalu menjadi tumpuan hati Imam Ali di masa-masa yang kritis saat itu. Saat
suaminya pergi ke medan laga, ia menangani seluruh urusan rumah tangganya, merawat dan
mendidik putra-putrinya sebaik mungkin. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia
senantiasa berusaha menjadi pendamping yang selalu tulus mendukung perjuangan Rasulullah,
dan suaminya, Imam Ali as dalam menegakan ajaran Islam.
Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia
senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri
Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah
tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya. Demikian pula ketika beliau
menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan,
keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia.

Kelembutan Hatinya
Pada suatu ketika lain, Siti Fatimah r.a menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh
penuh dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau
najis ke punggung Rasulullah SAW itu adalah Uqbah bin Muaith, Ubay bin Khalaf dan
Umayyah bin Khalaf. Melihat ayahandanya berlumuran najis, Siti Fatimah r.a segera
membersihkannya dengan air sambil menangis.
Pada suatu hari Siti Fatimah Az Zahra r.a menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala
dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan oleh orang-orang Quraisy, di saat
ayahandanya sedang sujud. Dengan hati remuk-redam laksana disayat sembilu, Siti Fatimah r.a
segera membersihkan kepala dan tubuh ayahandanya. Kemudian diambilnya air untuk
mencucinya. Dia menangis tersedu-sedu menyaksikan kekejaman orang-orang Quraisy terhadap
ayahnya. Membuat anaknya bersedih luar biasa.
Nabi Muhammad rupa-rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Quraisy itu sudah
keterlaluan. Kerana itulah maka pada waktu itu baginda memanjatkan doa ke hadrat Allah SWT:
Ya Allah, celakakanlah orang-orang Quraisy itu. Ya Allah, binasakanlah Uqbah bin Muaith, ya
Allah binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.
Masih banyak lagi pelajaran yang diperolehi Siti Fatimah dari penderitaan ayahandanya
dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya
untuk menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh ujian. Kehidupan yang serba berat dan
keras di kemudian hari memang memerlukan kekuatan jiwa dan mental.

Kerendahan Hatinya
Jiwa dan kepribadian Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah
wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah sa. Setiap kali Rasulullah memperoleh wahyu, dengan
penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang
Ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah swt. Ketika Rasulullah saw berkata
kepadanya, Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat
pembawa wahyu disisiku. Namun Fatimah menjawab, Kelezatan yang aku peroleh dari
berhikmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa
memandang keindahan Allah swt.4[7] Dunia tidak ada apa-apanya.
Fatimah puteri Rasulullah adalah seorang wanita mulia yang menempuh berbagai ujian
yang memerlukan pengorbanan yang cukup besar dalam hidupnya. Walaupun beliau adalah
puteri Rasulullah, namun hidupnya bukannya disaluti kemewahan dan kesenangan, tetapi
kemiskinan dan kesusahan. Apabila berkahwin dengan Saidina Ali, kehidupannya tetap susah.
Walaupun Rasulullah pemilik kepada seluruh kekayaan di muka bumi tapi baginda tidak pernah
mendidik anaknya dengan kemewahan.

Kedermawanannya
Sewaktu menjadi isteri Sayyidina Ali, Siti Fatimah menguruskan sendiri keperluan rumah
tangganya. Sayyidina Ali sering tiada kerana keluar berjuang bersama Rasulullah SAW. Setiap
hari, Siti Fatimah mengangkut air dari sebuah perigi yang jauhnya dua batu dari rumahnya.
Beliau mengisar tepung untuk keperluan makanan keluarganya. Dalam serba susah dan miskin,
beliau tetap ingin bersedekah walaupun hanya dengan sebelah biji kurma. Siti Fatimah tidak
pernah mengeluh atau menyalahkan suaminya terhadap kesusahan yang terpaksa dihadapinya.
Beliau adalah ahli infak yang senantiasa bersedekah dan sanggup berkorban apa saja.
Contohnya, pernah suatu ketika, ada seorang yang datang berada didepan rumahnya. Karena
tidak memiliki apa-apa, tanpa pikir panjang sayyidina Fatimah memberikan pakaian
pengantinnya kepada orang itu. Beliau tidak pernah menolak untuk membantu dari segi harta
kepada orang-orang yang memerlukan dan telah menjadi kebiasaan untuk hidup sederhana dan
jauh dari kesenangan dan kekayaan, serta menjalani hidup dengan keindahan akhlak, kasih
sayang dan kerjasama.

Kesabaran yang Tinggi


Ketika masih kanak-kanak, Siti Fatimah Az Zahra r.a sudah mengalami penderitaan,
merasakan kehausan dan kelaparan. Dia berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan
menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun, dia bersama ayah bundanya hidup
menderita dibuang daerah akibat pemboikotan orang-orang kafir Quraisy terhadap keluarga Bani
Hasyim.
Setelah bebas penderitaan setelah 3 tahun diboikot, datang pula ujian berat atas diri Siti
Fatimah Az Zahra r.a, apabila wafatnya ibunda tercinta, Siti Khadijah r.a. Perasaan sedih selalu
saja menyelubungi hidup sehari-harinya dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang ibu.
Fatimah tidak menyesali diri atau menceritakan kepada ayahnya tentang penderitaan yang
dialami di rumah suaminya. Fatimah adalah seorang ibu yang utama dan istri yang taat lagi
sabar. Dia mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya dan menumbuhkan mereka dengan
sempurna. Siang hari bekerja dan malam hari berjaga hingga dia mempersembahkan untuk umat
manusia pemuda terbaik ahli surga, yaitu Hasan dan Husain.

Sosok yang sangat Pemalu


Saat itu, Fatimah sedang menggiling gandum dalam keadaan letih dan jemu. Sayyidina
Ali pun tidak tega melihatnya dan segera Ali menyuruhnya kerumah sang Ayah agar ia diberi
seorang pelayan untuk membantu istrinya dirumah dan Ali tidak mau melihat sang istri letih.
Fatimah pun bangkit dan merapikan kerudungnya. Berangkatlah ia menuju rumah ayahnya
dengan langkah perlahan dan hati-hati. Rasulullah pun melihatnya dengan penuh gembira lalu
bertanya hai anakku ada apa ? Fatimah menjawab, Aku datang hanya untuk menyampaikan
salam kepadamu. Rasa malu menahannya untuk menyampaikan keperluan yang karenanya dia
menemui Ayahnya.
Fatimah kembali kerumahnya dan menyampaikan kepada suaminya bahwa ia malu untuk
meminta sesuatu kepada ayahnya. Fatimah adalah manusia yang sangat pemalu dan paling dekat
dengan kalbunya.

Sangat Menjaga Maruahnya


Sifat pemalu dan kesucian sayyidinah Zahra menjadi buah mulut semua orang. Walaupun
apabila berdepanan dengan orang buta dia tetap memelihara hijabnya. Contoh, dihadapan lelaki
buta, Sayyidina Fatimah sangat melindungi dan memelihara maruahnya. Rasul Allah bertanya
kepadanya, mengapa anda berhijab, sedangkan orang itu buta ? Fatimah memberi respon
dengan berkata, walaupun dia tidak nampak melihat saya, tetapi saya melihatnya, serta dia
boleh mencium bauku. Rasulullah pun bersabda, saya naik saksi bahwa kamu adalah cebisan
dari diriku.
Amru bin Dinar meriwayatkan dari Aisyah berkata : tidak pernah aku melihat seseorang
pun yang lebih benar daripada Fatimah sallamullaalaihi selain daripada Ayahnya.

Kemuliaan Hatinya
Pada suatu hari Siti Fatimah berada dirumahnya, tiba-tiba ketika itu Rasulullah SAW
datang kerumah Siti Fatimah. Ketika itu Siti Fatimah memakai seuntai kalung emas pemberian
suaminya Ali bin Abi Thalib. Ketika Rasulullah melihat kalung itu, lalu Nabi SAW bersabda,
Hai anakku aakah engkau bangga disebut orang sebagai Putri Muhammad, sedangkan engkau
sendiri memakai jaababirah (perhiasan yang biasa dipakai oleh putrid bangsawan) ?. ketika itu
juga Siti Fatimah langsung melepaskan kalungnya itu, dan menjualnya. Hasil dari harga kalung
tersebut ia gunakan untuk membeli seorang hamba dan hamba tersebut dimerdekakan. Ketika
Rasulullah mendengar berita tersebut Nabi SAW amat bergembira dan mendoakan Siti Fatimah
sekeluarga.
Ketika usianya beranjak dewasa, Fatimah Az-Zahra dipersunting oleh salah satu sepupuh,
sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah, Ali bin Thalib. Ali bin Abi Thalib datang
kepada Rasulullah untuk melamar, lalu ketika Nabi bertanya apakah mempunyai sesuatu?.
Tidak ada ya Rasulullah. Jawabku.. dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan
kepadamu. Tanya beliau. Masih ada wahai Rasulullah. Kata beliau.
Lalu bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan
baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada
Rasulullah dan diserahkan kepada bilal untuk membeli perlengkapan pengantin. Sejak pertama
kali menginjakkan kaki dirumah suaminya, Fatimah mengetahui bahwa dia memiliki kewajiban
yang besar terhadap suaminya. Dia mengetahui kondisi ekonimi suaminya, mengetahui bagian
dalamnya, serta mengetahui beban dan tugas yang dituntut oleh kehidupan.
Masa-masa awal pernikahannya dengan Imam Ali as saat berada di Madina. Dimasa itu,
Sayyidah Fatimah juga melewati masa-masa sulit peperangan dengan kaum musyrikin. Ia pun
selalu menjadi tumpuan hati Imam Ali di masa-masa yang kritis saat itu.Saat suaminya pergi ke
medan laga, ia menangani seluruh urusan rumah tangganya, merawat dan mendidik putra-
putrinya sebaik mungkin. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia senantiasa berusaha
menjadi pendamping yang selalu tulus mendukung perjuangan Rasulullah, dan suaminya, Imam
Ali as dalam menegakan ajaran Islam.
Dari penikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra memiliki 4 anak, 2
putra dan 2 putri yaitu Hasan dan Husain. Sedangkan yang putri yaitu bernama Muhsin, tetapi
Muhsin meninggal dunia saat masih kecil. Pernikahannya mengatur rumah tangganya, dan
pendidikan anak-anaknya berada didalam rumah seorang pribadi terbesar dalam kedua dalam
Islam, yaitu imam Ali bin Abi Thalib. Dan dalam masa hidupnya yang singkat itu, Dia
mempersembahkan kepada masyarakat dua orang Imam yang maksum, Imam Hasan dan Imam
Husain, serta dua orang wanita pemberani yang rela berkorban, Zainab dan Ummu Kaltsum.

Gelar yang Dimiliki Siti Fatimah


a. Az-Zahra
Fatimah adalah seorang manusia bidadari yang tidak haid dan tidak pula mengeluarkan
kotoran bagaikan bidadari surga. Karena itulah ia dinamakan Az-Zahra atau yang suci,
sebab ia tidak pernah mengeluarkan darah, baik dalam haid maupun melahirkan (nifas).
b. Al-Batul
Wanita yang paling menonjol dimasanya dalam hal keutamaan, agama, dan keturunan
atau orang yang suci.
c. Sayyidatu Nisail alamin
Penghulu (pemimpin) semua perempuan atau wanita-wanita penghuni surga. Siti
Fatimah dikenal sebagai seorang yang berakhlak mulia, sopan santun, tidak sombong
dan rendah hati. Walaupun beliau putri seorang Nabi, beliau ramah serta lemah lembut
dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa
ghil (rasa tidak senang keada orang lain). Sehingga tepat sekali beliau mendapat gelar
Sayyidatu Nisail alamin.

Keutamaan dan Keistimewaan nya


1. Dia adalah seorang isteri yang berkelayakan dalam urusan rumahtangga, memadai dengan
hidup sederhana, tidak meminta-minta dari suaminya, bersama-sama dalam segala hal dan
sentiasa berada disisi Imam Ali (as) di dalam kesusahan dan kesedihan.
2. Dia adalah model kesetiaan dan ketabahan serta amat bijak dalam mendidik anak-anak,
beliau adalah seorang Ibu Mithali.
3. Dia sentiasa menghormati ayahandanya, suami dan orang lain serta sentiasa bekerjasama
dengan pembantu rumah dalam membuat kerja-kerja rumah.
4. Tidak berpaut pada dunia dan merupakan ahli infaq yang senantiasa bersedekah dan
sanggup berkorban apa sahaja.sebagai contoh, Baju perkahwinannya sendiri juga telah
diberikan kepada orang yang telah datang didepan pintu rumahnya.
5. Beliau tidak pernah menolak untuk membantu dari segi harta orang-orang yang
memerlukan dan telah menjadi kebiasaan untuk hidup.
6. Sederhana jauh dari kesenangan dan kekayaan serta menjalani hidup dengan keindahan
akhlak, kasih sayang dan kerjasama
7. Berhijab, sifat malu dan kesucian Sayyidah Zahra (sa) menjadi buah mulut semua
orang.walaupun apabila berhadapan dengan orang buta dia tetap memelihara hijabnya.
8. Hidupnya penuh keberkatan, tidak pernah disia-siakan. Usianya pendek, tetapi penuh
dengan usaha
9. Dari kecil lagi demi menyampaikan dan mempertahankan agama yang hak, Zahra berjalan
seiring dengan ayahnya, Beliau penolong yang penyayang dalam membuat kerja-kerja
rumah, Zahra penolongnya Ali(as).
10. Pada malam yang sunyi dan penuh rahsia, Zahra bersujud menyembah Tuhan.
11. Tidak walau sedetik dan seketika pun ingatan Zahra terpisah dari Tuhannya.
Keutamaan Fatimah bukanlah hanya karena beliau adalah putri dari Rasulullah SAW
semata, akan tetapi keutamaan dan kemuliaan beliau memang ditunjang beberapa hal penting
seperti keutamaan Akhlaq yang mulia, ilmu pengetahuan yang tinggi, kefasihan yang
mengungguli kaum pria sekalipun, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan, kezuhudan, ketegaran
hati dan lainya.
Selain sifat-sifat yang dimiliki Sayyidah Fatimah as tersebut, terdapat keunikan lain akan
keutamaan beliau, yaitu beliau adalah putri dari Rasulullah SAW, Putri dari Khadijah al-Kubra
(Pemuka wanita Islam pertama), Istri dari Sayyidina Ali bin abi thalib (yang merupakan
sahabat terdekat Nabi SAW dan orang pertama kali masuk Islam), beliau adalah Ibu dari
Sayyidain al-Hasan wal-Husain, dan beliau merupakan salah satu anggota khusus keluarga
Nabi SAW yang disebut sebagai Ahlul Bait Yang Suci.

Kematian Siti Fatimah Az-Zahra


Ketika Siti Fatimah merasa ajalnya sudah dekat, beliau bercerita kepada Asma binti
Umais yang hamir setiap hari berkunjung kerumah Siti Fatimah Az-Zahra. Beliau berkata
Saya kurang senang terhadap apa yang diperbuat wanita jika mati, yaitu hanya ditutupi dengan
kain. Sehingga bentuk badannya kelihatan. Maka berkatalah Asma kepada Siti Fatimah,
apakah engkau mau aku tunjukkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah? Siti Fatimah
menjawab : coba tunjukkan. Maka dibuatlah oleh Asma keranda dari pelepah pohon kurma,
kemudian diatasnya ditaruhkan kain. Begitu Siti Fatimah melihat keranda tersebut, beliau
sangat gembira dan tertawa seraya berkata : Alangkah baiknya ini. Semoga Allah menutupimu
sebagaimana engkau menutupiku. Nanti jika aku mati, maka mandikanlah aku bersama Ali dan
jangan ada orang lain yang ikut memandikanku. Setelah itu buatkanlah aku seperti itu. Dan
tibalah ajalnya, sehingga Asma menyampaikan wasiat nya kepada Ali, dan hanya Ali saja yang
memandikan jenazahnya.

Alasan kenapa saya harus ikut mentoring karena dengan mentoring banyak ilmu yang
sebelumnya belum pernah didapatkan disampaikan pada saat kegiatan mentoring. Dengan ilmu
yang didapat pada saat mentoring, ilmu-ilmu agama dan pengetahuan Islam yang belum pernah
didapatkan pada saat perkuliahan dapat tersampaikan pada mentoring.