Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

ANALISIS LOKASI DAN POLA KERUANGAN

Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang pada Wilayah Kabupaten


Demak Tahun 2001-2012

Dosen pengajar Firsta Rekayasa H, ST, MT

Disusun oleh:

Gracia De Jesus Lai (D1091161043)


M. Solihin Sustra U. (D1091161038)
Nelly Rolitua A. (D1091161006)
Nina Siti Barokah (D1091161015)
Silvi Liani (D1091161030)

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2017

1|Page
Kata Pengantar

Segala puji atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kehadirat-Nya
makalah kami yang berjudul Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang Pada
Kabupaten Demak Tahun 2001 2012 ini dapat kami selesaikan dengan baik
sesuai kemampuan kami. Dalam membuat makalah ini kami ingin mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak atau sumber yang telah membantu kami dalam
pembuatan makalah ini. Makalah ini memaparkan bagaimana perkembangan
urban sprawl di kabupaten Demak. Studi kasus tersebut memberikan sudut
pandang kepada kami dalam melihat perkembangan urban sprawl yang terjadi.
Yang mana tujuan utama pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan
perbandingan dan menginspirasi bagi kami dan tentunya bagi pembaca makalah
ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik segi penyusunan bahasa maupun segi lainnya. Oleh karena itu
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
sempurnanya makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan
bermanfaat untuk mengembangkan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kami.

Pontianak, April 2017

Penyusun

2|Page
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................2

Daftar Isi ................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................4

A. Latar Belakang ...............................................................................................4

B. Rumusan Masalah ..........................................................................................4

C. Tujuan ............................................................................................................5

D. Sasaran............................................................................................................5

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................6

BAB III PEMBAHASAN DAN STUDI KASUS ...............................................15

A. Gambaran Umum Wilayah Studi .................................................................15

B. Studi Kasus...................................................................................................18

BAB IV PENUTUP ..............................................................................................36

A. Kesimpulan...................................................................................................36

B. Rekomendasi ................................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................38

JOBDESK ANGGOTA KELOMPOK .............................................................39

3|Page
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kota berfungsi sebagai wadah segala aktivitas masyarakat / warga
kota. Bentuk kota merupakan hasil suatu proses budaya manusia, dalam
menciptakan ruang dan kehidupannya pada kondisi geografis tertentu.
Pertambahan penduduk dalam suatu wilayah perkotaan selalu diikuti oleh
peningkatan kebutuhan ruang.Oleh karena ketersediaan ruang di dalam
kota tetap dan terbatas, maka meningkatnyakebutuhan ruang untuk tempat
tinggal dan kedudukan fungsi fungsi selalu akanmengambil ruang di
daerah pinggiran kota.
Gejala pengambilalihan lahan non urbanoleh penggunaan lahan
urban di daerah pinggiran kota disebut invasion. Prosesperembetan
kenampakan fisik kota ke arah luar disebut urban sprawl. Urban sprawl
mengakibatkan fenomena semakin tersebarnya penduduk ke arahpinggiran
sehingga juga mengakibatkan pembangunan perumahan di kota-kota
besarbanyak dilakukan di pinggiran kota atau wilayah pengembangan
kota.
Fenomena tersebut terjadi di Kota Semarang yang
terusberkembang, tetapi memiliki keterbatasan lahan.Kota Semarang
dengan luas wilayah 373,70 km mengalami perkembangan tersebut
hingga melewati batas administrasi, salah satunya yaitu ke arah
KabupatenDemak. Maka dari itu, kami melakukan analisis urban sprawl
yang terjadi pada Kota Semarang agar kami dapat mengetahui sejauh
mana urban sprawl yang melanda Kota Semarang.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pola jalur transportasi (Layout of Street) terhadap
wilayah Semarang?
2. Wilayah studi mana yang menjadi variabel pengukuran urban sprawl di
kota Semarang?

4|Page
3. Bagaimanakah karakteristik perembetan areal perkotaan yang terjadi?
4. Bagaimanakah pola pertumbuhan dan perkembangan fisik kota
semarang terhadap kabupaten Demak?
5. Bagaimana Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang pada
Wilayah Kabupaten Demak Tahun 2001-2012?
6. Bangaimana perubahan tingkat sprawl per desa pada kabupaten Demak
pada tahun 2001-2012?
7. Bagaimanakah model bentuk kota pada wilayah Demak?
8. Dampak positif dan negatif apa saja yang terjadi terhadap wilayah
yang mengalami urban sprawl?
C. Tujuan
Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi fenomena urban
sprawl dan pola struktur internal kota pada wilayah Semarang.
D. Sasaran
1. Untuk mengetahui perkembangan transformasi kawasan perkotaan dari
tahun ke tahun berdasarkan aspek keruangan, sosial dan ekonomi.
2. Untuk mengetahui dampak positif maupun negatif terhadap daerah
yang mengalami urban sprawl terhadap pola internal kota.

5|Page
BAB II

LANDASAN TEORI

1. KEBIJAKAN PERUNDANG-UNDANGAN DI KOTA SEMARANG

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan


Kota-Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa
Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 2043).
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974
Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890).
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor
76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3274).
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274).
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3318).
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik

6|Page
Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3419).
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Budidaya
Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3478).
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan
Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996
Nomor 73,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3647).
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang
Telekomunikasi(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996
Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3647).
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4412).
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4152).
13. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor
4169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4169).

7|Page
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247).
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377).
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4389).
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 Tentang Pembentukan
Daerah-Daerah Kota Besar Dalam Lingkungan Provinsi Jawa
Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3209).
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit
Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984
Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3273).
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3669).
Undang- Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4389).
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara

8|Page
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4421).
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4431).
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
125,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4473) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan
UndangUndangNomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4844).
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4723).
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan
atas Peredaran, Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 12).
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentangPerluasan
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang(Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 26,Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3079).
Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentangPelaksanaan
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana(Lembaran Negara

9|Page
Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3258).
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (LembaranNegara
Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 49,Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3447).
Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1992 tentang
Pembentukan Kecamatan di Wilayah KabupatenKabupaten Daerah
Tingkat II Purbalingga, Cilacap, Wonogiri, Jepara dan Kendal serta
Penataan Kecamatan di Wilayah Kotamadya daerah Tingkat II
Semarang dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor
89).
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1999 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dalam Penyelenggaraan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3866).
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4593).
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82).
Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan,
Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-
undangan.
Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 3 Tahun 1988 tentang
Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah

10 | P a g e
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Daerah
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Tahun 1988 Nomor 4 Seri
D Nomor 2).
Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2008 Nomor 15,
Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 21).
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan
UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
59).
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438).
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4444).
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725).
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723).
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725).

11 | P a g e
2. RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SEMARANG

Air adalah kebutuhan pokok mahluk hidup termasuk didalamnya manusia. Dalam
melanjutkan kelangsungan kehidupan rumah tangga sehari-hari maupun
kebutuhan proses industri sangat memerlukan ketersediaan air bersih yang
memadai. Pada umumnya suatu daerah yang subur ditandai dengan debit air
tanahnya yang tinggi, sebaliknya daerah yang kurang subur bahkan gersang debit
air tanahnya terbatas. Air menduduki urutan prioritas persyaratan penting dalam
mendukung laju proses perkembangan suatu daerah. Jaminan kontinuitas
ketersediaan air bersih yang memadai menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi
masyarakat untuk datang bermukim dan aktivitas industri di wilayah tersebut.
Laju pertumbuhan jumlah penduduk disertai akselerasi aktivitas industri di suatu
wilayah, selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan akan air bersih.
Berbicara tentang penyediaan kecukupan air bersih, pemerintah sudah
memberikan
otoritas dan tanggung jawab kepada institusi PDAM, akan tetapi pada realitasnya
belum mampu memenuhinya secara memadai hingga pada saat ini. Keadaan
tersebut memotivasi masyarakat untuk mengambil air tanah dalam memenuhi
kebutuhan air bersih mereka sehari-hari, terutama memenuhi kebetuhan dunia
industri dalam jumlah yang besar.
Menurut Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 2008 disebutkan bahwa,
penggunaan air tanah untuk berbagai keperluan (termasuk didalamnya bagi sektor
industri), merupakan pilihan kedua, apabila air permukaan sudah tidak
mencukupi, dengan syarat tetap memperhatikan upaya konservasi mencakup
pencegahan kerusakan lingkungan. Pemenuhan kebutuhan air bersih di beberapa
kawasan industri Kota Semarang sesungguhnya dapat dipenuhi dengan
menggunakan air permukaan saja. Tetapi pada kenyataannya, disinyalir seluruh
sektor industri lebih memilih sumberdaya air tanah untuk memenuhi kebutuhan
air bersih mereka di Kota Semarang. Pembangunan wilayah\perkotaaan tanpa
perencanaan matang mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan dan perubahan
topografi. Pengeprasan daerah perbukitan sebagai kawasan tandon air, menjadi
material bangunan maupun penambangan memperparah kerusakan topografi

12 | P a g e
permukaan tanah. Kurun waktu tahun 1987 sampai dengan 2004 terjadi penurunan
fungsi lahan terbuka di Kota Semarang. Peningkatan lahan terbangun dari 33%
luas Semarang menjadi 43% dari total luas. Lahan persawahan menurun dari 17%
dari luas Semarang menjadi hanya 8%.
Data Bappeda Kota Semarang (2010) menunjukkan bahwa kebutuhan air
bersih perpipaan bersumber dari 7 bangunan produksi dengan kapasitas total
sebesar 1.853 lt/dt atau 58.436.208 m3. Kebutuhan air di Kota Semarang pada
tahun 1999 sebesar 48.407.307 m3, pada tahun 2005 total kebutuhan naik menjadi
68.568.239 m3. Proyeksi kebutuhan air di Kota Semarang menurut RTRW pada
tahun 2030 mencapai 336 juta m3 lebih (termasuk asumsi tingkat kebocoran
PDAM 25%). Jika kita lihat pada data PDAM tentang pemakaian air, maka total
pemakaian yang tercatat pada tahun 2008 adalah 34.277.257 m3, dimana 87%
digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Menilik kebutuhan air bersih masyarakat pada tahun 2005 dengan


pemakaian air dariPDAM menunjukkan bahwa setengah dari kebutuhan kota
dipenuhi melalui sumber non perpipaan baik dari air sumur dangkal, air tanah,
maupun mata air yang ada. Fakta tersebut didukung studi yang dilakukan JICA
(dalam Prihantoro, 2011), bahwa eksploitasi air bawah tanah di Semarang sebesar
0,43 juta m3/tahun pada 1990 dan meningkat sebesar 35,64 juta m3/tahun pada
tahun 1998. Menurut Dinas PSDA Semarang diperkirakan terdapat sekitar 1000
sumur ABT sampai saat ini baik yang berizin maupun tidak. Akibat
pembangunan, perubahan lahan, dan perubahan iklim memberikan ancaman
pengurangan air bersih pada masa yang akan datang. Sehingga diperlukan upaya
konservasi terhadap sumber daya air.

Oleh karena itu dipandang perlu melakukan suatu kajian yang


komprehensif terhadap upaya pemanfaatan air tanah oleh kawasan industri dan
upaya pengawasan yang dilakukan pemerintah Kota Semarang dalam menanggapi
aktivitas tersebut.

13 | P a g e
3. KAJIAN LITERATURE
Terdapat lima sumber air yang dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan kegiatan
perkotaan (Nace, 1976), yaitu:

a. Air hujan, yaitu air hasil kondensasi uap air yang jatuh ke tanah.

b. Air tanah, yaitu air yang mengalir dari mata air, sumur artesis atau diambil
melalui sumur buatan.

c. Air permukaan, yaitu air sungai dan danau.

d. Desalinasi air laut atau air payau/asin, dan

e. Hasil pengolahan air buangan.

Dari kelima sumber air tersebut, air tanah dan air permukaan merupakan
pilihansumber air yang utama untuk dimanfaatkan. Hal ini disebabkan kedua
sumber tersebutbumi dan kembali ke atmosfer. Penguapan dari darat, laut atau air
pedalaman selanjutnyaterjadi pengembunan membentuk awan, pencurahan,
pelonggokan dalam tanah atau badan air kemudian penguapan kembali.

14 | P a g e
BAB III

PEMBAHASAN DAN STUDI KASUS

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN DEMAK

I. Batas Administrasi

Kabupaten Demak yang memiliki luas 89.743 Ha dan terbagi dalam 14


kecamatan yang terdiri dari 243 desa dan 6 kelurahan. 512 dusun, 6.326 Rukun
Tetangga (RT) dan 1.262 Rukun Warga (RW).

Wilayah Kabupaten Demak memiliki luas 89.743 Ha. Adapun batas


administrasinya meliputi :

Sebelah Utara : Kabupaten Jepara dan Laut Jawa


Sebelah Timur : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Grobogan
Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang
Sebelah Barat : Kota Semarang
Gambar 3.1
Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Demak

15 | P a g e
II. Demografi
Jumlah penduduk Kabupaten Demak pada tahun 2007 sebanyak 1.035.543
jiwa yang terdiri dari 512.959 jiwa penduduk laki-laki dan 522.584 jiwa penduduk
perempuan. Jumlah penduduk tersebut tersebar ke-14 kecamatan dengan jumlah
penduduk terendah di Kecamatan Kebonagung sebesar 38.940 jiwa dan paling
banyak terdapat di Kecamatan Mranggen sebanyak 141.774 jiwa. Dari data
kependudukan jumlah dan kepadatan di Kabupaten Demak pada tahun 2007
memiliki kepadatan 1.154. Sedangkan pada tahun lainnya dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 3.1

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Demak Pada


Tahun 2006 - 2010

III. Topografi

Wilayah Kabupaten Demak termasuk dalam kategori topografi datar dan


terdiri atas dataran rendah, pantai serta perbukitan, dengan ketinggian permukaan
antara 0-100 meter. Kemiringan lahan di Kabupaten Demak sebagian besar relatif
datar, yaitu berada pada lahan dengan kemiringan 0-8 %. Sedangkan pada bagian
selatan Kabupaten Demak memiliki kemiringan lahan yang sangat bervariasi
terutama di wilayah Desa Banyumeneng dan Sumberejo. Kedua desa ini memiliki

16 | P a g e
lahan dengan kemiringan 0-2 %, 2-8 %, 8-15 %, 15-40 %, dan lebih besar dari 40
%.

IV. Klimatologi dan Jenis Tanah

Kabupaten Demak mempunyai iklim tropis dengan curah hujan yaitu 0-


13,6 mm/hari. Jenis tanah di Kawasan Perkotaan Demak yaitu gromosol kelabu
tua. Sebagian besar kondisi tanah yang ada di Kabupaten Demak pada musim
kemarau menjadi keras dan retak-retak, sehingga tidak dapat digarap secara
intensif untuk pertanian. Pada musim penghujan tanahnya bersifat lekat sekali dan
volumenya membesar, serta lembab sehingga agak sulit untuk digarap dan
memerlukan sistem drainase yang memadai.

V. Hidrologi
Sumber-sumber air di wilayah Demak berupa sumber air di permukaan
tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai,
laut dan pantai.

VI. Penggunaan Lahan


Berdasarkan data tahun 2007, penggunaan sebagian besar lahan sawah di
Kabupaten Demak digunakan sebagai lahan sawah berpengairan irigasi teknis
seluas 19.911 ha (40,40%), irigasi teknis seluas 6.332 ha (12,85%), irigasi
sederhana seluas 6.671 ha (13,35%) dan tadah hujan seluas 16.374 ha (33,22%).
Sedangkan penggunaan lahan bukan lahan sawah meliputi bangunan pekarangan
seluas 11.962 Ha (29.56%), tegalan/kebun seluas 14.324 Ha (35,40%),
empang/rawa seluas 120 ha (0,3%), tambak seluas 7.649 ha (18,19%), hutan
negara seluas 1.572 ha (3,8 8%),Hutan Rakyat sekuas 516 Ha (1,28%) dan
penggunaan lainnya seluas 4.322 ha (10,68%).

VII. Kondisi Perekonomian


Kabupaten Demak dari tahun 2005-2007 memiliki tingkat PDRB yang
beragam dimana pada tahun 2007 merupakan tahun dengan tingkat PDRB
tertinggi yaitu sebesar Rp. 3.977.180,32 dan PDRB terendah terjadi pada tahun
2005 dengan nilai Rp. 3.149.386,42. Rata-rata pendapatan PDRB atas harga

17 | P a g e
berlaku di Kabupaten Demak tertinggi berada di sektor pertanian yaitu sebesar
1.580.273,79 sedangkan terendah berada di sector listrik,gas dan air minum yaitu
sebesar 36.034,33.

B. STUDI KASUS

I. Pola jalur transportasi(Layout Street)terhadah wilayah semarang

Urban Sprawl biasanya terjadi pada kota-kota besar,salah satunya padakawasan


Mega Urban Semarang.Keterbatasan lahan dikota Semarang menyebabkan
terjadinya perkembangan kota menjalar ke wilayah lain sekitarnya,salah satunya
kearah Kabupaten Demak.Apabila dilihat kabupaten
Semarang,Kendal,Grobongan, dan Demak mempunyai persamaan yaitu letaknya
yang langsung berbatasan dengan kota Semarang.Namun kenyataanyaalih fungsi
penggunaan lahan di kabupaten Demak memiliki peringkat yang paling
tinggi.Pada umumnya keberadaan urban sprawl di suatu wilayah ditandai dengan
munculnya permukiman di pinggiran kota, demikian pula yang terjadi di wilayah
Kabupaten Demak, permukiman baru berkembang di sebagian Kecamatan
Mranggen. Selain itu dapat dilihat juga perubahan penggunaan lahan pada
sepanjang koridor jalan yang menghubungkan Kota Semarang dengan Kabupaten
Demak yang semula lahan pertanian menjadi area terbangun Beberapa tahun
terakhir ini, Kecamatan Mranggen dan Sayung di Kabupaten Demak
menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Di Kecamatan Mranggen muncul
kecenderungan tumbuh kawasan permukiman baru. Sedangkan yang terjadi di
Kecamatan Sayung adalah kecenderungan tumbuhnya kawasan industri di
sepanjang koridor jalan Semarang-Demak. Oleh karena itu, maka wilayah
Kabupaten Demak yang berbatasan dengan Kota Semarang dapat dikatakan
sebagai daerah sprawling dari Kota Semarang. Berdasarkan gambar berikut dapat
ditentukan bahwa pola jalur transportasi Kabupaten Demak adalah pola jalan tidak
teratur(irregular system).

18 | P a g e
Gambar 3.2 Pola Jalur Transportasi (Layout Street)

II. Wilayah studi dan variabel pengukuran urban sprawl

Fokus analisis yang menjadi variabel pengukuran urban sprawl di kota


Semarangadalah wilayah Kabupaten Demak yang berjarak 20 Km dari pusat Kota
Semarang meliputi Kecamatan Mranggen, Sayung, Guntur, Karangawen dan
Karangtengah. Letak Kecamatan Mranggen dan Sayung yang berbatasan langsung
dengan Kota Semarang menyebabkan kehidupan masyarakat di kedua kecamatan
tersebut telah membaur dengan kehidupan masyarakat Kota Semarang. Kondisi
ini memberikan gambaran dimana masyarakat pada Kecamatan tersebut
merupakan masyarakat campuran antara masyarakat desa dengan masyarakat
kota. Secara historis, telah dikenal bahwa penduduk Kabupaten Demak
merupakan masyarakat yang hidup dari pertanian telah bergeser pada sektor usaha
perdagangan dan jasa dan industri (non pertanian). Selain itu, indikator lain adalah
terjadinya perubahan penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi non
pertanian. Hal ini bisa kita lihat adanya pemanfaatan lahan untuk pengembangan
permukiman, industri serta adanya permintaan dari sektor usaha untuk
mengembangkan kegiatannya. Kondisi ini ditunjang oleh posisi Kabupaten

19 | P a g e
Demak yang cukup strategis dan berdekatan dengan Kota Semarang yang dilalui
jalan regional Semarang-Purwodadi dan Semarang-Kudus.
Pada penelitian ini urban sprawl ditinjau dari dua dimensi yaitu dimensi fisik
spasial dan dimensi non fisikal sebagaimana pendapat Smailes dalam Yunus
(2006). Dimana karakteristik lahan didefinisikan sebagai klasifikasi bentuk
pemanfaatan lahan (Yunus, 2006; Torrens, 2008; Feng, 2009). Karakteristik
bangunan didefinisikan sebagai kepadatan bangunan (Yunus, 2006; Torrens,
2008) dan fungsi bangunan (Yunus, 2006), sedangkan karakteristik sirkulasi
didefinisikan sebagai tingkat aksesibilitas (Torrens, 2008). Dimensi non fisikal
didefinisikan sebagai kepadatan penduduk (Torrens, 2008) dan mata pencaharian
penduduk (Yunus, 2006).

Gambar3.3
Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang pada Wilayah Kabupaten Demak Tahun
2001-2012

20 | P a g e
Tabel 3.2
Parameter dan Bobot Variabel Urban Sprawl Ditinjau dari Dimensi Fisik
Variabel Kriteria Kelas Skor Bobot
kepadatan Lahan tidak Null 0 30%
Bangunn terbangun
<2000 per km2 Rendah 3
2000-5000 per km2 Sedang 2
>5000 per km2 Tinggi 1
Fungsi Lahan tidak Null 0 30%
bangunan terbangun
2 Fungsi Rendah 3
3-4 fungsi Sedang 2
5 fungsi Tinggi 1
Tingkat Lahan tidak Null 0 30%
Aksesbilitas terbangun
> 3000 meter Rendah 3
1500-3000 meter Sedang 2
<1500 meter baik 1
Pemanfaatan Jalan dan sungai Null 0 30%
Lahan Non Agraris Terbangun 2
Agraris Tidak 1
terbangun

Sesuai dengan analisis beberapa peta yaitu : Peta pemanfaatan lahan, peta
kepadatan bangunan, peta fungsi bangunan dan peta tingkat aksesibilitas di-
overlay dapat dihasilkan pembobotan 30% pada kepadatan bangunan . dan pada
peta fungsi bangunan, dan peta tingkat aksesibilitas dihasilkan data pembobotan
30% dan untuk pemanfataan lahan yaitu 10%

21 | P a g e
Dari data-data itulah menghasilkan peta urban sprawl ditinjau dari dimensi fisik.
Peta kepadatan penduduk dan peta mata pencaharian agraris di-overlay seh
menghasilkan peta urban sprawl ditinjau dari dimensi non fisik. untuk
menghasilkan peta kawasan urban sprawl. Selanjutnya dilakukan analisis
perkembangan urban sprawl tahun 2001-2012. Dalam analisis tersebut dilakukan
proses overlay dari peta kawasan urban sprawl tahun 2001 dan 2012. Sehingga
dapat diketahui perubahan luas cakupan urban sprawl dalam rentang waktu
tersebut.

Tabel 3.3
Parameter dan Bobot Variabel Urban Sprawl Ditinjau dari Dimensi Fisik
Variabel Kriteria Kelas Skor Bobot
Kepadatan <1500 per km2 Rendah 1 50%
penduduk 1500-3000 per km2 Sedang 2
>3000 per km2 Tinggi 3
Mata Pencaharian <30% Rendah 3 50%
Agraris 30%-75% Sedang 2
>75% Tinggi 1

Tabel 3.4
Range Nilai penentuan Kawasan Urban Sprawl
Range Nilai Kriteria

1-2 Non Urban Sprawl

>2 Urban Sprawl

III. Karakteristik Sprawl Kota Semarang pada WilayahKabupaten


Demak

22 | P a g e
Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang pada Wilayah Kabupaten Demak
Tahun 2001-2012
Gambar 3.4
Peta Perubahan Lahan Agraris Menjadi Nonagraris dan Persentase
Perkembangan Lahan Terbangun dan Pertumbuhan Penduduk Tahun 2001-
2012

Kabupaten Demak yang menjadi fokus penelitian adalah wilayah dengan jarak 20
km dari pusat Kota Semarang, meliputi Kecamatan Mranggen, Sayung, Guntur,
Karangawen dan Karangtengah. Kondisi wilayah perbatasan Kabupaten Demak
saat ini telah memperlihatkan perkembangan yang pesat, yang dulunya masih
bersifat pedesaan sekarang telah menjadi perkotaan. Secara umum dalam rentang
tahun 2001-2012 penduduk Kabupaten Demak meningkat sebanding dengan

23 | P a g e
peningkatan lahan terbangun. Namun pada Kecamatan Sayung dan Karangtengah
terjadi peningkatan lahan terbangun yang lebih besar dibandingkan dengan
peningkatan jumlah penduduk.
Peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Demak selain dipengaruhi oleh
kelahiran juga dipengaruhi oleh migrasi. Pertambahan penduduk yang disebabkan
adanya migrasi di Kabupaten Demak, mayoritas terjadi pada Kecamatan Sayung
dan Kecamatan Mranggen. Migrasi yang terjadi pada Kecamatan Sayung
dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan industri yang semakin banyak di
kecamatan tersebut. Sedangkan yang menjadi daya tarik Kecamatan Mranggen
adalah pengembangan perumahan yang semakin menjamur pada wilayah tersebut.
Urban sprawl juga dapat dilihat dari adanya perubahan kehidupan masyarakat dari
sifat kedesaan menjadi bersifat kekotaan. Perubahan tersebut meliputi perilaku
ekonomi, sosial, budaya, politik dan teknologi. Dari aspek ekonomi misalnya
dapat dilihat dari perubahan mata pencaharian dari agraris menjadi non agraris.
Dalam kurun waktu 2001-2012 jumlah penduduk agraris di wilayah studi
mengalami penurunan sebesar 16,76%. Kecamatan yang mengalami penurunan
tertinggi adalah Kecamatan Mranggen yaitu sebesar 25,56%.

IV. pola pertumbuhan dan perkembangan fisik kota semarang terhadap


kabupaten Demak

Berdasarkan dimensi fisikal dan non fisik, kawasan urban sprawl tahun 2001 pada
wilayah studi merupakan bentuk leap frog development dengan luas 1547.437 ha.
Sprawl yang terjadi pada Kecamatan Sayung dan Karangtengah sebagai akibat
adanya pengembangan kawasan industri pada koridor jalan arteri Semarang-
Demak yang melewati kedua kecamatan tersebut. Kondisi jalan yang baik dengan
skala jalan nasional memberi kemudahan pada sektor industri dalam
pengangkutan bahan mentah dan hasil industrinya. Sprawl pada kawasan selatan
Kabupaten Demak terjadi pada Kecamatan Mranggen dan Karangawen, terutama
pada Desa Kembangarum, Batursari dan Kebonbatur di Kecamatan Mranggen.
Sprawl yang terjadi pada kawasan tersebut disebabkan karena adanya intervensi
pengembang perumahan. Mereka memilih daerah ini karena harga lahannya relatif

24 | P a g e
lebih murah sehingga memungkinkan untuk dikembangkan sebagai perumahan
skala menengah ke bawah. Penduduk yang memilih untuk bermukim di kawasan
tersebut mendapatkan kemudahan akses ke Kota Semarang karena pada daerah
tersebut terdapa jalan kolektor Semarang-Purwodadi.

Kawasan urban sprawl pada tahun 2012 meningkat 32,23% dibandingkan tahun
2001 menjadi 2046.205 ha. Peningkatan luas kawasan urban sprawl terjadi pada
Kecamatan Mranggen, Sayung, Karangtengah dan Karangawen. Sedangkan
Kecamatan Guntur justru mengalami penurunan luas kawasan sprawl sebesar
205,92ha. Bentuk dari sprawl yang terjadi merupakan kombinasi dari ribbon
development dan leap frog development. Pengembangan perumahan pada
Kecamatan Mranggen merupakan akibat dari adanya pengembangan industri pada
koridor Jalan Raya Semarang-Purwodadi. Pengembangan industri tentunya akan
menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang besar, hal inilah yang menjadi
pertimbangan para pengembang perumahan membangun perumahan baru untuk
kalangan menengah kebawah. Perumahan yang dikembangkan pada Kecamatan
Mranggen pada umumnya adalah perumahan dengan unit kecil. Lokasi yang
dipilih pengembang pun berada jauh ke selatan dari jalan kolektor. Pertimbangan
tersebut diambil untuk menekan harga jual sehingga dapat menarik penduduk
untuk tinggal disana. Hal inilah yang menyebabkan pembangunan pada
Kecamatan Mranggen membentuk pola leap frog development. Kondisi
perumahan yang jauh dari jalan utama dan tidak dilalui oleh angkutan umum
menyebabkan adanya ketergantungan penduduk pada kendaraan pribadi, sehingga
berdampak pada peningkatan kepadatan jalan.

Pada Tahun 2012, industri pada koridor jalan Semarang-Demak terus mengalami
peningkatan. Penyerapan tenaga kerja pada sektor ini menyebabkan penduduk
sekitar beralih mata pencaharian dari sektor agraris ke industri. Berbeda dengan
apa yang terjadi pada Kecamatan Mranggen dimana pengembang perumahan
beramai-ramai mengembangan perumahan dengan skala kecil, pada Kecamatan
Sayung dapat dikatakan tidak ada pengembangan perumahan. Hal ini dikarenakan
lahan di utara jalan arteri Semarang Demak saat ini rawan terhadap rob, apabila

25 | P a g e
akan dibangun perumahan dibutuhkan biaya lebih untuk meninggikan lahan
dampaknya adalah harga rumah menjadi tidak terjangkau.

V. Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang pada Wilayah


Kabupaten Demak Tahun 2001-2012

Gambar 3.5
Kawasan Urban Sprawl Tahun 2001 (kiri) dan Tahun 2012 (kanan)

Tahun 2001 desa dengan luas sprawl lebih dari 30% dari luas wilayahnya terdapat
pada Kecamatan Mranggen meliputi Desa Kembangarum (35%), Desa
Bandungrejo (42,5%) dan Desa Brumbung. Sedangkan pada tahun 2012 desa
dengan luas sprawl lebih dari 30% dari luas wilayahnya terdapat pada Kecamatan
Mranggen meliputi Desa Batursari (44%), Brumbung (42,6%), Kembangarum

26 | P a g e
(42,2%), Ngemplak (39,5%), Wringinjajar (38,7%). Sprawl semakin meluas
dikarenakan adanya pengembangan kawasan perumahan pada beberapa desa
tersebut.
Dalam kurun waktu 2001-2012 urban sprawl bertambah 498,685 ha. Apabila
dilihat lebih rinci dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu tersebut terjadi
perubahan status sprawl, beberapa wilayah 7mengalami perubahan dari non urban
sprawl menjadi urban sprawl maupun sebaliknya. wilayah yang pada tahun 2001
merupakan kawasan urban sprawl namun pada tahun 2012 tidak termasuk pada
kawasan urban sprawl sebesar 488,278ha. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut
telah mengalami pemadatan permukiman yang diikuti dengan penyediaan fasilitas
umum untuk melayani penduduk yang tinggal di sana. Begitu juga sebaliknya
terdapat wilayah yang pada tahun 2001 tidak termasuk kedalam kawasan urban
sprawl pada tahun 2012 justru terindikasi sprawl yaitu seluas 986.963ha. Hal ini
dikarenakan adanya perkembangan lahan terbangun terutama permukiman yang
tersebar sehingga menyebabkan tingkat kepadatan bangunan menjadi rendah serta
tidak diikuti dengan penyediaan fasilitas umum untuk memenuhi kebutu han
penduduk yang tinggal pada daerah tersebut.

27 | P a g e
Gambar 3.6
Desa yang tergolong Urban Sprawl Tahun 2001 (Kiri) dan Tahun 2012

Peningkatan sprawl terjadi pada Kecamatan Mranggen meliputi Desa Kangkung,


Desa Ngemplak dan Desa Wringinjajar; Desa Rejosari Kecamatan Karangawen,
Kecamatan Sayung meliputi Desa Kalisari, Desa Tugu, Desa Sidorejo, dan Desa
Surodadi; serta Kecamatan Karangtengah meliputi Desa Karangsari dan
Wonokerto. Selain terjadi peningkatan sprawl, pada wilayah studi juga terjadi
penurunan tingkat sprawl. Penurunan tingkat sprawl terjadi pada Kecamatan
Mranggen meliputi Desa Bandungrejo dan Desa Tamansari; Kecamatan Guntur
meliputi Desa Blerong dan Temuroso; serta Kecamatan Sayung meliputi Desa
Sriwulan dan Timbulsloko.

Wilayah Kabupaten Demak yang termasuk ke dalam radius 20 kilometer dari


pusat kota Semarang meliputi Kecamatan Mranggen, Sayung, Karangawen,
Karangtengah dan Guntur. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan seluruh
kecamatan tersebut mengalami sprawl pada beberapa wilayah. Namun pada

28 | P a g e
Kecamatan Guntur sprawl tidak semakin meluas bahkan berkurang luasnya
(205,916ha). Peningkatan luas kawasan sprawl yang paling besar adalah pada
Kecamatan Mranggen yaitu 390,598ha.
Apabila dilihat dari dimensi non fisik, perkembangan urban sprawl pada
Kecamatan Karangawen dan Mranggen terjadi pada desa dengan kepadatan
penduduk sedang, untuk Kecamatan Karangtengah dan Sayung pada desa dengan
kepadatan penduduk rendah. Berdasarkan mata pencaharian agraris, sprawl pada
Kecamatan Karangawen, Karangtengah dan Sayung terjadi pada desa dengan
prosentase sedang, dan untuk Kecamatan Mranggen pada desa dengan prosentase
rendah.
Sedangkan jika dilihat berdasarkan dimensi fisik perkembangan sprawl pada
Kecamatan Mranggen dan Karangtengah terjadi pada lahan yang tidak terbangun.
Hal ini membuktikan adanya peralihan lahan tidak terbangun menjadi lahan
terbangun yang memicu terjadinya sprawl. Di Kecamatan Mranggen terjadi alih
fungsi lahan tidak terbangun menjadi perumahan sedangkan di Kecamatan
Karangtengah alih fungsi lahan tidak terbangun menjadi kawasan industri.
Perkembangan sprawl di Kecamatan Karangawen terjadi pada lahan terbangun
dengan kepadatan bangunan sedang, fungsi bangunan kurang dan aksesibilitas
rendah. Sedangkan pada Kecamatan

Sayung terjadi pada lahan terbangun dengan kepadatan bangunan rendah, dan
pada lahan tidak terbangun.
Berdasarkan jarak dari pusat kota Semarang, wilayah Kabupaten Demak yang
berkembang menjadi kawasan urban sprawl dalam kurun waktu 2001-2012
terbesar berada pada ring 1 yaitu jarak 7,5-10 Km. Selain mengalami perubahan
menjadi kawasan urban sprawl yang terbesar (14,13%), ring pertama ini juga
merupakan kawasan yang mengalami perubahan dari urban sprawl menjadi
kawasan yang lebih padat terbesar yaitu sebesar 4,87%. Perkembangan sprawl
pada ring 1 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dikarenakan ring
tersebut memiliki jarak paling dekat dengan pusat kota Semarang. Penduduk
cenderung memilih lokasi tempat tinggal dengan jarak yang paling dekat dengan
pusat kota namun dengan harga yang relatif masih rendah. Hal tersebut
merupakan peluang yang diambil oleh para pengembang perumahan untuk

29 | P a g e
mengembangan perumahan dengan tipe kecil pada daerah pinggiran. Permintaan
pasar untuk perumahan tipe kecil tersebut saat ini masih sangat tinggi. Hal ini
dibuktikan dengan makin menjamurnya perumahan di kawasan pinggiran
Kabupaten Demak yang berbatasan dengan Kota Semarang terutama pada ring 1
(7,5-10 Km).
Perkembangan sprawl pada wilayah studi bagian utara mengikuti koridor jalan
arteri dengan penggunaan lahan sebagai kawasan industri. Pemilihan lokasi untuk
industri mempertimbangkan antara lain kemudahan aksesibilitas untuk mencapai
pelabuhan barang, lahan yang luas dengan relief datar dan bebas banjir. Wilayah
studi bangian utara meliputi Kecamatan Sayung dan Karangtengah merupakan
daerah yang dilalui oleh jalan arteri Semarang-Demak dan memiliki relief yang
datar serta bebas banjir. Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dapat dengan mudah
diakses dari kedua kecamatan tersebut, didukung harga lahan yang relatif lebih
rendah dibandingkan dengan lahan didalam Kota Semarang serta adanya
peraturan daerah Kabupaten Demak mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Demak Tahun 2011-2031 yenag menyebutkan bahwa Kecamatan
Sayung dan Karangtengah merupakan kawasan yang akan dikembangkan sebagai
kawasan industri, menyebabkan investor industri memilih lokasi pada kedua
kecamatan tersebut. Selain faktor internal sebagai pendukung perkembangan
industri pada kawasan tersebut, terdapat faktor eksternal yang mempengaruhi
perkembangan industri yaitu pada wilayah Kota Semarang yang berbatasan
dengan Kabupaten Demak bagian utara merupakan kawasan yang sudah
dikembangkan sebagai kawasan industri. Secara tidak langsung akan
mempengaruhi perkembangan industri pada daerah sekitarnya

30 | P a g e
Perubahan tingkat sprawl per desa pada kabupaten Demak pada tahun 2001-2012

Gambar 3.7 Peta Urban Sprawl


Gambar 3.6 Peta Perubahan Tingkat Per Ring Jarak dari Kota
Sprawl Per Desa Tahun 2001-2012 Semarang Tahun 2001-2012

31 | P a g e
Tabel 3.5

Luas Lahan yang Berkembang Menjadi Kawasan Urban Sprawl


Berdasarkan Dimensi Nonfisik

Tabel 3.6
Luas Lahan yang Berkembang Menjadi Kawasan Urban Sprawl
Berdasarkan Dimensi Fisik

32 | P a g e
Perkembangan sprawl pada wilayah studi bagian selatan yaitu pada
Kecamatan Mranggen dan Karangawen disebabkan karena adanya pengembangan
kawasan perumahan. Pemilihan lahan untuk lokasi perumahan dipengaruhi oleh
harga lahan yang relatif lebih rendah, daerah yang datar dan bebas bencana seperti
banjir dan tanah longsor. Hal ini dilakukan untuk menekan harga jual perumahan
sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat. Harga lahan di Kota Semarang yang
semakin meningkat menyebabkan penduduk lebih memilih lokasi hunian pada
daerah pinggiran Kota Semarang bahkan hingga wilayah Kabupaten Demak yang
berbatasan dengan Kota Semarang seperti pada Kecamatan Mranggen.

Perkembangan urban sprawl Kota Semarang yang terjadi di wilayah Kabupaten


Demak terindikasi dengan model
Setelah melihat urban sprawl kota Semarang yang terjadi di wilayah kabupaten
Demak,dan melalui analisi terhadap kabupaten demak dari tahun 2001-2012 dapat
dilihat perubahan pada model bentuk kota yaitu pengembangan bentuk pita
(Ribon development),hal itu dapat terjadi karena adanya peningkatan sistem jalan
dan pertumbuhan lalulintas secara alamiah,kecenderungan setiap orang
membangun aktivitas sedekat mungkin dengan jalur jalan utama

Gambar 3.8 Model Penjalaran Fisik Kota Secara Memanjang


Sumber: Northam dalam Yunus (1994)

.Dan berkombinasi dengan Lepfrog Development karena setelah mengenai urban


spraw keadaan kota Semarang terkusus pada Kabupaten Demak pola kotanya
mulai mengalami perubahan yaitu perkembangan lahan kekotan menjadi terpencar
secara separadis dan sebagian tumbuh di lahan pertanian mengalami

33 | P a g e
Dampak Positif dan Negatif dari wilayah kabupaten Demak yang mengalami
urban Sprawl

Dampak Positif :

Kabupaten Demak semakin berkembang karena semakin banyak


penduduk yang bermukim, semakin banyak aktifitas yang terjadi yang
akan meningkatkan perekonomian wilayah kabupaten Demak.
Bertambahnya infrastruktur di kabupaten Demak sebagai supply dari
pemerintah setempat akan kebutuhan masyarakatnya.
Menjadikan rumah berkualitas dengan harga yang terjangkau bagi
masyarakat menengah kebawah.
Harga lahan yang relative lebih rendah dibandingkan dengan lahan
didalam kota Semarang
Berdasarkan fungsi pengembangan wilayahnya menjadi berubah, yang
semula pedesaan dapat menjadi metropolis dengan jumlah penduduk lebih
dari 1.000.000 jiwa. Berdasarkan fungsi pengembangannya tidak hanya
berperan sebagai pusat yang melayani skala local tetapi menjadi skala
wilayah bagi kota Semarang

34 | P a g e
Dapat menjadi suatu wilayah yang berperan dalam pengembangan wilayah
yang lebih luas. Misalnya berfungsi sebagai wilayah yang menampung
pertumbuhan penduduk dari Kota Semarang

Dampak Negatif :

Lahan pertanian dan lahan yang ada di pedesaan akan berganti menjadi
lahan permukiman
Menurunnya produktivitas pertanian lebih cepat terjadi
Tatanan kota yang semakin tidak terstruktur karena RTRW yang dirancang
tidak sesuai dengan kondisi exsistingnya
Ketidakmerataan perembetan areal kekotaan di semua bagian sisi sisi
luar daripada daerah kota utama
Perkembangan lahan kekotaannya terjadi berpencar secara sparadis dan
tumbuh di tengah tengah lahan pertanian
Semakin berkurangnya lahan subur untuk pertanian dan lahan sebagai
habitat bagi mahkluh hidup, selain manusia
Meningkatnya polusi pada tanah, air dan udara serta meningkatnya
konsumsi energi oleh manusia

35 | P a g e
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Kawasan urban sprawl Kota Semarang aada wilayah Kabupaten Demak selama
tahun 2001-20012 telah mengalami peningkatan sebesar 32,23%, dengan pola
kombinasi ribbon development dan leap frog development. Perkembangan dengan
pola ribbon development terjadi pada sepanjang koridor Jalan Arteri Semarang-
Demak dengan dominasi penggunaan lahan sebagai kawasan industri, sedangkan
pola leap frog development terjadi pada Kecamatan Mranggen dan Kecamatan
Sayung dengan dominasi penggunaan lahan sebagai permukiman dan perumahan.
Wilayah Kabupaten Demak dengan jarak 7,5-10 km dari pusat Kota Semarang
(Ring 1) merupakan wilayah yang mengalami perkembangan urban sprawl
terbesar, hal ini menunjukan bahwa jarak terhadap pusat kota menjadi salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya sprawl. Urban sprawl yang terjadi
pada wilayah Kabupaten Demak merupakan permasalahan yang harus segera
diselesaikan. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana upaya untuk
mengelola urban sprawl tersebut sehingga perkembangannya dapat ditekan
seminimal mungkin. Beberapa dampak positif dari urban sprawl di Kabupaten
Demak adalah berkembangnya penduduk sehingga perekonomian meningkat,
bertambahnya infrastruktur serta harga lahan rendah yang mengakibatkan harga
rumah terjangkau. Sedangkan dampak negatifnya adalah alih fungsi lahan
pertanian menjadi pemukiman mengakibatkan turunnya produktivitas pertanian,
tidak susai dengan RTRW yang di rancang, meningkatnya polusi tanah, air dan
udara serta meningkatnya konsumsi energi.

B. REKOMENDASI

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diberikan rekomendasi kebijakan


untuk mengantisipasi perluasan sprawl antara lain dengan memberikan arahan
pengembangan perumahan pada kawasan urban sprawl sehingga akan terjadi
pemadatan pada kawasan tersebut. hal ini bertujuan agar perumahan baru
dapat terintegrasi dengan permukiman lain yang telah ada lebih dahulu
sehingga tidak terjadi pemborosan biaya dalam penyediaan sarana dan

36 | P a g e
prasarana yang diperlukan. Jika penduduk semakin meluas dan ruang terbuka
hijau semakin berkurang, solusi untuk menanganinya membangun apartemen
untuk penduduk menengah keatas yang bertempat tidak jauh dari pusat kota
dengan di terapkan harga yang sesuai sehingga masyarakat memilih tempat
tinggal yang sesuai dengan keinginan dan perekonomian mereka dan untuk
masyarakat menengah kebawah pemerintah menyediakan rumah rusun yang
bersubsidi. Hal ini bertujuan untuk menghemat lahan agar ketersediaan ruang
terbuka hijau tidak semakin berkurang. Selain itu perlu dilakukan
pengembangkan struktur jaringan jalan yang menghubungkan kawasan urban
sprawl ke akses jalan utama, serta penyediaan sarana dan prasarana angkutan
masal yang terintegrasi dengan terminal terdekat di Kota Semarang dengan
harga yang murah jika perlu pemerintah memberikan subsidi untuk angkutan
umum agar masyarakat lebih memilih angkutan umu untuk menghemat biaya.
Sehingga penduduk yang tinggal di kawasan urban sprawl tidak perlu
menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ke tempat kerja maupun ke
pusat Kota Semarang. Hal ini dapat menekan penggunaan bahan bakar,
menurunkan jumlah emisi polutan dari kendaraan bermotor. Menegaskan
undang-undang dan peraturan tentang pembangunan serta pajak kendaraan
memungkinkan menekan angka urban sprawl.

37 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

https://www.slideshare.net/bramantiyomarjuki

https://jdih.surabaya.go.id/pdfdoc/uu_57.pdf Peraturan Daerah Kota Semarang

Yunus, H. S. 2006. Megapolitan: Konsep, Problematika dan Prospek. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.
_________. 2008. Dinamika Wilayah Peri Urban, Determinan Masa Depan Kota.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Soetomo, S. 2009. Urbanisasi & Morfologi, Proses Perkembangan Peradaban &


Wadah Ruang Fisiknya: Menuju Ruang Kehidupan Yang Manusiawi.
Yogyakarta: Graha Ilmu.

38 | P a g e
JOBDESK ANGGOTA KELOMPOK

Gracia De Jesus Lai (D1091161043) Pembahasan dan Studi Kasus


M. Solihin Sustra U. (D1091161038) BAB II
Nelly Rolitua A. (D1091161006) BAB I
Nina Siti Barokah (D1091161015) Kesimpulan, Rekomendasi,
Penyusun.
Silvi Liani (D1091161030) Pembahasan dan Studi Kasus

39 | P a g e