Anda di halaman 1dari 8

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling yaitu peneliti


menetapkan untuk mengambil 5 sampeldari masing-masing kecamatan di Kota
Denpasar, pengambilan sampel dihentikan ketika sudah mencapai 5 sampel.
Lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Lokasi Pengambilan Sampel

No. No Jenis Sampel Lokasi


Sampel
1 A1 Daging ayam Pasar Badung, Jalan Gajah Mada (Pusat
Kota Denpasar)
2 A2 Daging ayam Pasar Batan Kendal, Jalan Mertasari no
643, Kecamatan Denpasar Selatan
3 A3 Daging ayam Pasar Sanglah, Jalan Waturenggong,
Kecamatan Denpasar Barat
4 A4 Daging ayam Pasar Gunung Agung, Jalan Gunung
Agung, Kecamatan Denpasar Utara
5 A5 Daging ayam Pasar Kreneng, Jalan Kamboja, Kecamatan
Denpasar Timur

Sampel daging ayam yang didapat dari 5 pasar di wilayah Kota Denpasar
dimasukkan kedalam media penyubur selektif yaitu larutan selenite cystine broth
lalu diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Dari hasil pengamatan pada media
selenite cystine broth didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 5.2 Hasil penanaman sampel pada media selenite cystine broth

No. No Sampel Jenis Sampel Hasil pada Media Selenite


Cystine
1 A1 Daging ayam Keruh (+)
2 A2 Daging ayam Keruh (+)
3 A3 Daging ayam Keruh (+)
4 A4 Daging ayam Keruh (+)
5 A5 Daging ayam Keruh (+)

Tabel 5.2 menunjukkan semua yaitu 5 dari 5 (100%) larutan selenite cystine yang
telah diinkubasi menjadi keruh dengan tingkat kekeruhan yang bervariasi dengan
aroma yang menyengat. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya koloni bakteri
Salmonella spp. yang berkembang.

Gambar 5.2 A dan B larutan selenite cystine dari sampel yang telah diinkubasi
pada suhu 37oC selama 24 jam menjadi keruh dengan tingkat kekeruhan yang
berbeda-beda.

B
Pada lima sampel yang mengalami kekeruhan pada media selenite cystine broth
dilakukan penanaman pada media selektif Salmonella Shigella agar lalu
diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Setelah 24 jam diamati adanya koloni
tidak berwarna (transparan) dengan warna hitam di tengahnya.

Gambar 5.3 Hasil inkubasi sampel pada media Salmonella-Shigella dengan suhu
37oC selama 24 jam diamati koloni bakteri transparan dan memiliki pusat
berwarna hitam.

Tabel 5.3 Hasil inkubasi pada media Salmonella-Shigella agar dan koloni hitam
yang dikelilingi halo transparan yang timbul

Kode Sampel Koloni Bakteri Transparan


Dengan Pusat Berwarna Hitam
A1 Ada (+)
A2 Ada (+)
A3 Ada (+)
A4 Ada (+)
A5 Ada (+)

Tabel 5.3 menunjukkan pada semua sampel yaitu 5 dari 5 (100%) larutan yang
keruh setelah di tanam pada media Salmonella-Shigella agar dan diinkubasi
tampak adanya koloni bakteri transparan dan memiliki pusat berwarna hitam.
Adanya koloni bakteri transparan dan memiliki pusat berwarna hitam yang
tumbuh menunjukkan kemungkinan koloni tersebut adalah koloni bakteri
Salmonella spp.

Koloni bakteri transparan dan memiliki pusat berwarna hitam yang ditemukan
pada media Salmonella-Shigella agar disubkultur untuk menunggalkan koloni
bakteri. Hal ini dilakukan dengan menanam kembali pada Salmonella-Shigella
agar dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Hasilnya kemudian diamati
untuk melihat koloni bakteri transparan dan memiliki pusat berwarna hitam.

Gambar 5.4 Hasil subkultur bakteri pada Salmonella-Shigella agar diinkubasi


pada suhu 37oC selama 24 jam, diamati koloni bakteri transparan dan memiliki
pusat berwarna hitam.

Gambar 5.5 Salah satu sampel (A2) yang disubkultur Salmonella-Shigella agar
diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam, timbul koloni bakteri transparan dan
memiliki pusat berwarna hitam. (ditunjukkan oleh anak panah)

Tabel 5.4 Hasil subkultur bakteri pada Salmonella-Shigella agar diinkubasi pada
suhu 37oC selama 24 jam, diamati koloni bakteri transparan dan memiliki pusat
berwarna hitam.

Kode Sampel Koloni Bakteri Transparan


Dengan Pusat Berwarna Hitam
A1 Tidak ada (-)
A2 Ada (+)
A3 Tidak ada (-)
A4 Tidak ada (-)
A5 Ada (+)
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa 2 dari 5 (40%) hasil subkultur menunjukkan koloni
bakteri transparan dan memiliki pusat berwarna hitam yang menandakan adanya
bakteri Salmonella spp yang tumbuh. Tiga dari 5 sampel tidak menunjukkan
pertumbuhan koloni bakteri transparan dan memiliki pusat berwarna hitam namun
hanya menunjukkan pertumbuhan koloni bakteri tidak berwarna (transparan).
Selanjutnya dilakukan uji biokimia IMViC untuk mengkonfirmasi koloni bakteri
tersebut merupakan koloni bakteri Salmonella spp.

Uji konfirmasi IMViC dilakukan untuk meyakinkan bahwa koloni bakteri pada
media Salmonella-Shigella agar merupakan koloni bakteri Salmonella spp.
dengan hasil sebagai berikut

Gambar 5.6

Tabel 5.5

Pada koloni bakteri yang tumbuh pada hasil subkultur pada media Salmonella-
Shigella agar kemudian dilakukan uji serologis untuk mengidentifikasi bakteri
Salmonella Typhi. Hal ini dilakukan dengan menggunakan antiserum spesifik
untuk diagnostik S. Typhi yaitu antiserum O S. Typhi dan antiserum H S. Typhi
yang diteteskan pada koloni bakteri yang sudah dilarutkan pada akuades,
kemudian dilihat adanya aglutinasi.

Gambar 5.6 Hasil uji serologis menunjukkan adanya aglutinasi pada sampel A1
yang ditetesi antiserun O S. Typhi dibandingkan kontrol.

Tabel 5.6 Hasil uji serologis koloni bakteri hasil subkultur yang ditetesi antiserum
O S. Typhi dan antiserum H S. Typhi menunjukkan adanya aglutinasi

Kode Aglutinasi pada antiserum O Aglutinasi pada antiserum


Sampel S. Typhi H S. Typhi
A1 Ada (+) Tidak ada (-)
A2 Ada (+) Tidak ada (-)
A3 Tidak ada (-) Ada (+)
A4 Tidak ada (-) Ada (+)
A5 Ada (+) Tidak ada (-)

Tabel 5.6 menunjukkan 5 dari 5 (100%) sampel hasil uji serologis menggunakan
antiserum O S. Typhi dan antiserum H S. Typhi mengalami aglutinasi. Tiga dari 5
(60%) sampel mengalami aglutinasi dengan antiserum O S. Typhi dan 2 dari 5
(40%) mengalami aglutinasi dengan antiserum H S. Typhi. Hal ini menunjukkan
bakteri pada semua tersebut diidentifikasi sebagai Salmonella Typhi.

5.2 Pembahasan

pada penanaman pada media Salmonella-Shigella agar bakteri Salmonella spp


menunjukkan gambaran tidak berwarna, warna hitam di tengah dapat timbul
apabila koloni bakteri Salmonella spp tersebut memproduksi H2S.

Pada uji biokimia TSI, Salmonella spp. memfermentasikan glukosa tetapi tidak
memfermentasikan laktosa dan sukrose, sehingga hasil yang ditemukan pada uji
TSI adalah warna kemerahan (K) pada lereng dan warna kuning (A) pada dasar.
Kebanyakan Salmonella spp. membentuk gas pada uji TSI namun S. Typhi tidak
membentuk gas pada uji TSI16, hal ini dapat juga digunakan untuk konfirmasi dan
identifikasi S. Typhi pada sampel yang didapat.

Pada uji indol Salmonella spp. memberikan hasil negatif sehingga tidak terbentuk
cicin warna merah muda.16,17 Salmonella spp. membentuk H2S sehingga juga
terdapat warna hitam pada uji sulfida.1,16 Uji motilitas menunjukkan adanya
pergerakan pada bakteri S. Typhi.1 Pada uji menggunakan Simons citrate agar
memberikan hasil yang bervariasi pada Salmonella spp, namun pada S. Typhi
memberikan hasil

Uji methyl red memberikan hasil positif pada Salmonella spp. sehingga terbentuk
warna merah pada media. uji voges proskauer untuk Salmonella spp memberikan
hasil negatif sehingga tidak terjadi perubahan warna pada permukaan media.

Pada uji aglutinasi menggunakan antiserum spesifik untuk identifikasi Salmonella


Typhi, yaitu antiserum O S. Typhi dan antiserum H S. Typhi berdasarkan skema
Kauffman-White. Hasil positif menunjukkan adanya aglutinasi pada koloni
kuman yang diteteskan antiserum. Pada kelima sampel terdapat aglutinasi pada
salah satu reagen yaitu 3 sampel dengan antiserum O S. Typhi dan 2 dengan
antiserum H S. Typhi yang menunjukkan 5 sampel tersebut merupakan bakteri S.
Typhi.

Infeksi bakteri S. Typhi pada manusia dapat menyebabkan demam tifoid.1,2,3


Transmisi bakteri S.Typhi dapat melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi feses manusia yang membawa bakteri S. Typhi. Makanan yang
terkontaminasi bakteri S. Typhi dapat daging dan sayur yang tidak dimasak
dengan sempurna. Daging ayam merupakan makanan yang sering menjadi media
transmisi S. Typhi.6,7,8 Transmisi bakteri dapat berasal dari banyak proses sebelum
daging ayam tersebut dikonsumsi termasuk saat pemotongan, distribusi,
transportasi, penjualan kepada pedagang eceran, penyerahan kepada pembeli, dan
pengolahan makanan.9

Pedagang di pasar terlihat kurang memperhatikan higienitas tempat berjualannya.


Dari pengamatan peneliti daging ayam diletakkan tanpa tutup pada lapak-lapak
pedagang, hal ini dapat mempermudah kontaminasi bakteri S.Typhi melalui lalat
yang hinggap pada daging ayam tersebut. Daging ayam juga tidak disimpan pada
suhu dingin, keadaan ini dapat mempermudah pertumbuhan bakteri S.typhi yang
optimal pada suhu 37oC.

Kontaminasi bakteri S.typhi juga dapat terjadi saat pencucian daging ayam
apabila pedagang ayam dan produsen ayam potong tidak memperhatikan
higienitas air yang digunakan untuk mencuci. Tangan pedagang yang tidak dicuci
dengan bersih atau dicuci menggunakan air yang terkontaminasi S.Typhi dapat
pula menjadi sumber kontaminasi S. typhi pada daging ayam.

Tingginya presentase daging di pasar yang terkontaminasi S.Typhi


mengindikasikan bahwa daging ayam perlu diwaspadai sebagai sumber penularan
bakteri S. Typhi. Proses penyajian makanan yang higienis serta proses memasak
dan kematangan yang sempurna pada daging ayam yang akan dikonsumsi, perlu
dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan bakteri S. typhi melalui daging
ayam. Mengingat bakteri S. typhi akan mati pada suhu 60oC atau lebih.