Anda di halaman 1dari 46

KEPERAWATAN KESEHATAN REPRODUKSI I

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN TRIMESTER I KEHAMILAN


HIPEREMESIS GRAVIDARUM ABORTUS

Disusun Oleh
Kelas A-3
Kelompok 5

1. Clauvega Myrtharanggun S. 131511133076


2. Diah Ayu Mustika 131511133080
3. Homsiyah 131511133084
4. Ucik Nurmalaningsih 131511133088
5. Nurul Fitrianil Jannah 131511133099
6. Alifia Aurora Rahmanindina 131511133105
7. Maya Rahma Ruski 131511133114

Fasilitator : Retnayu Prandanie, S.Kep. Ns., M.Kep

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2017
KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan SGD (Small Group Discussion) tentang Keperawatan Kesehatan
Reproduksi I Asuhan Keperawatan pada Gangguan Trimester I Kehamilan
Hiperemesis Gravidarum Abortus sebagai tugas dalam pembelajaran mata kuliah
Keperawatan Kesehatan Reproduksi I.
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami
dalam pembuatan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan sebaik
mungkin. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna karena pengetahuan
dan pengalaman tim penulis yang cukup terbatas. Kami berharap makalah ini dapat memberi
wawasan pada pembacanya.

Akhir kata kami mengharapkan kritik dan saran sebagai bahan perbaikan untuk
makalah ini supaya menjadi lebih baik. Kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan ejaan
pada kata maupun penyusunan dalam makalah ini yang tidak berkenan bagi para pembaca,
selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Surabaya, 23 Oktober 2017

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hiperemesis Gravidarum.......................................................... 3
2.1.1 Definisi............................................................................ 4
2.1.2 Klasifikasi. ..................................................................... 4
2.1.3 Etiologi........................................................................... 5
2.1.4 Patofisiologi.................................................................... 7
2.1.5 WOC (Web Of Caution) ................................................ 8
2.1.6 Manifestasi Klinis........................................................... 9
2.1.7 Penatalaksanaan.............................................................. 10
2.2 Abortus...................................................................................... 11
2.2.1 Definisi........................................................................... 11
2.2.2 Klasifikasi. ..................................................................... 11
2.2.3 Etiologi........................................................................... 13
2.2.4 Patofisiologi.................................................................... 14
2.2.5 WOC (Web Of Caution)................................................. 15
2.2.6 Manifestasi Klinis........................................................... 16
2.2.7 Penatalaksanaan.............................................................. 17
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Askep Umum Hiperemesis Gravidarum ................................... 19
3.2 Askep Umum Abortus .............................................................. 24

BAB 4 STUDI KASUS


4.1 Askep Kasus .............................................................................. 35
BAB 5 PENUTUP
5.1 Simpulan .................................................................................... 42
5.2 Saran .......................................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gejala awal kehamilan pada beberapa wanita adalah mual, dengan atau tanpa muntah. Ini
sering disebut morning sickness (mual pagi). Banyak wanita mengalami mual, biasanya tidak
perlu perhatian medis. Akan tetapi, suatu keadaan yang disebut hyperemesis gravidarum (mual
dan muntah yang parah) menyebabkan muntah yang sering sehingga kehilangan nutrisi dan
cairan (Stoppard, 2009. hal.73). Power et al (2001) mencatat sekitar 51,4% wanita mengalami
mual dan 9,2% wanita mengalami muntah. Semua kehamilan yang terus berlanjut dan
diinginkan memiliki makna khusus bagi wanita yang menginginkannya. Banyaknya kontribusi
ilmu pengetahuan sosial dalam memahami reproduksi telah difokuskan pada pengalaman dan
kebutuhan wanita berisiko rendah selama kehamilan dan Persalinan. Selain itu, wanita hamil
juga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan mereka selama hamil
(Henderson, 2005). Kehamilan menimbulkan perubahan hormonal pada perempuan, yaitu
adanya peningkatan kadar hormon esterogen dan progesteron, serta dikeluarkannya hormon
human chorionik gonadothrophie. yang menyebabkan emesis gravidarum. Gejala klinis
emesis gravidarum adalah pusing dan mual muntah terutama pada pagi hari. Biasanya mual
muntah ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, namun tidak menutup kemungkinan juga
sering terjadi pada trimester selanjutnya.

Abortus (keguguran) merupakan salah satu penyebab perdarahan yang terjadi pada
kehamilan trimester pertama dan kedua. Perdarahan ini dapat menyebabkan berakhirnya
kehamilan atau kehamilan terus berlanjut. Secara klinis, 10-15% kehamilan yang terdiagnosis
berakhir dengan abortus (Wiknjosastro, 2006). Pada awal kehamilan sebelum 3 bulan, seorang
ibu rentan mengalami abortus. Keadaan ini disebabkan karena pada masa tersebut rentan
terjadi kelainan pertumbuhan janin atau malformasi (Prawirohardjo, 2008). Bagi beberapa
wanita, keguguran merupakan pengalaman yang tidak mengecewakan, tetapi melegakan
karena tidak semua wanita memandang keguguran sebagai suatu kehilangan (Moulder, 1990
dalam Henderson dan Kathleen, 2006). Kebanyakan wanita yang mengalami abortus
mengalami stres karena tidak mengetahui apa yang terjadi pada janinnya. Selain itu mereka

1
diminta untuk beristirahat di tempat tidur tanpa penjelasan lebih lanjut. Lebih dari 90%
memberikan reaksi berkabung, yang berlangsung sampai sebulan pada 20 % kasus abortus
(Llewellyn-Jones, 2002). Biasanya perawatan wanita yang mengalami abortus di rumah sakit
selama ini hanya mengacu kepada penilaian kondisi fisiknya saja. Setelah kondisi fisiknya
stabil, wanita yang mengalami abortus dapat dipulangkan dalam beberapa hari. Ibu hamil yang
pernah mengalami riwayat abortus sebelumnya juga perlu mewaspadai kemungkinan kembali
terjadinya abortus. Data dari beberapa studi menunjukan bahwa setelah seseorang mengalami
1 kali abortus, maka ia memiliki 15% risiko lebih tinggi untuk mengalami abortus lagi.
Sedangkan apabila pernah mengalami abortus 2 kali secara beruntun, maka risikonya
meningkat hingga 25%. (Prawirohardjo, 2008).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
2. Bagaimana klasifikasi dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
3. Apa etiologi dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
4. Bagaimana patofisiologi dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
5. Apa manifestasi klinis dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada klien dengan hiperemesis gravidarum dan
abortus?
7. Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan hiperemesis gravidarum dan abortus?
8. Apa komplikasi dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
9. Bagaimana prognosis dari hiperemesis gravidarum dan abortus?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis gravidarum dan
abortus?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami dan mengimplementasikan asuhan keperawatan klien
dengan hiperemesis gravidarum dan abortus.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa memahami definisi hiperemesis gravidarum dan abortus

2
2. Mahasiswa memahami klasifikasi hiperemesis gravidarum dan abortus
3. Mahasiswa memahami etiologi hiperemesis gravidarum dan abortus
4. Mahasiswa memahami patofisiologi hiperemesis gravidarum dan abortus
5. Mahasiswa memahami manifestasi klinis hiperemesis gravidarum dan abortus
6. Mahasiswa memahami pemeriksaan diagnostik hiperemesis gravidarum dan abortus
7. Mahasiswa memahami penatalaksanaan klien dengan hiperemesis gravidarum dan
abortus
8. Mahasiswa memahami komplikasi dari hiperemesis gravidarum dan abortus
9. Mahasiswa memahami prognosis klien dengan hiperemesis gravidarum dan abortus
10. Mahasiswa memahami asuhan keperawatan klien dengan hiperemesis gravidarum dan
abortus

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hiperemesis Gravidarum


Hiperemesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang berat selama
kehamilan. Hiperemesis gravidarum menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,
nutrisi, serta penurunan berat badan.
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah secara terus menerus sebelum
kehamilan minggu ke 22. Secara klinik, ringan dan berat efek yang ditimbulkan berdasarkan
gangguan metabolik seperti deplesi karbohidrat, dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit.
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebih (> 10 kali/24 jam) atau
setiap saat, sehingga menganggu kesehatan dan akivitas. (Arief. B., 2009)

Morning Sickness Hyperemesis Gravidarum


Mual dan kadang disertai muntah Mual dan muntah berat
Mual yang mereda sesaat atau 12 minggu Mual yang tidak mereda
Muntah (tidak mengalami dehidrasi berat) Muntah yang menyebabkan dehidrasi berat
Muntah yang mengakibatkan cadangan
Muntah (penurunan nafsu makan)
makanan tidak ada
Gambar 1. Tabel perbedaan morning sickness dan hyperemesis gravidarum

2.1.1 Klasifikasi Hiperemesis Gravidarum


Klasifikasi dari hiperemesis gravidarum adalah sebagai berikut :
1. Tingkat I , diitandai dengan adanya :
a. Muntah berlebihan
b. Dehidrasi ringan
c. Nyeri pada epigastrium
d. Nadi meningkat
e. Berat badan menurun
2. Tingkat II, ditandai dengan adanya :
a. Tampak lemah dan apatis

4
b. Dehidrasi sedang
c. Turgor kulit turun
d. Lidah mengering
e. Tampak ikterus
f. Nadi meningkat, temperatur naik, tekanan darah turun
g. Hemokonsentrasi disertai oliguria
h. Badan keton dalam keringat dan air kencing.
3. Tingkat III, ditandai dengan adanya :
a. Keadaan umum sangat menurun
b. Kesadaran somnolen sampai koma
c. Ikterus yang semakin nyata
d. Komplikasi yang mungkin tampak
1. Ensepalopati Wernicke : Nistagmus, diplopia, dan perubahan status mental
2. Muntah dapat disertai darah

2.1.3 Etiologi Hiperemesis Gravidarum

Hingga saat ini penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti dan
multifaktorial. Walaupun beberapa mekanisme yang diajukan bisa memberikan penjelasan
yang layak, namun bukti yang mendukung untuk setiap penyebab hiperemesis gravidarum
masih belum jelas. Beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan penyebab hiperemesis
gravidarum. Teori yang dikemukakan untuk menjelaskan patogenesis hiperemesis
gravidarum, yaitu faktor endokrin dan faktor non endokrin.

1. Teori Endokrin
Teori endokrin menyatakan bahwa peningkatan kadar progesteron, estrogen, dan
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dapat menjadi faktor pencetus mual muntah.
Peningkatan hormon progesteron menyebabkan otot polos pada sistem gastrointestinal
mengalami relaksasi, hal itu mengakibatkan penurunan motilitas lambung sehingga
pengosongan lambung melambat. Refleks esofagus, penurunan motilitas lambung dan
penurunan sekresi dari asam hidroklorid juga berkontribusi terhadap terjadinya mual dan
muntah. Selain itu HCG juga menstimulasi kelenjar tiroid yang dapat mengakibatkan mual
dan muntah. Hormon progesteron ini dihasilkan oleh korpus luteum pada masa awal

5
kehamilan dan mempunyai fungsi menenangkan tubuh ibu hamil selama kehamilan,
termasuk saraf ibu hamil sehingga perasaan ibu hamil menjadi tenang. Hormon ini
berfungsi untuk membangun lapisan di dinding rahim untuk menyangga plasenta di dalam
rahim. Hormon ini juga dapat berfungsi untuk mencegah gerakan kontraksi atau
pengerutan otot-otot rahim. Hormon ini dapat "mengembangkan" pembuluh darah
sehingga menurunkan tekanan darah, itu penyebab mengapa Anda sering pusing saat
hamil. Hormon ini juga membuat sistem pencernaan jadi lambat, perut menjadi kembung
atau sembelit. Hormon ini juga mempengaruhi perasaan dan suasana hati ibu,
meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan pernafasan, mual, dan menurunnya gairah
berhubungan intim selama hamil.
2. Teori Alergi
Adanya histamin sebagai pemicu dari mual dan muntah mendukung ditegakkannya
teori alergi sebagai etiologi hiperemesis gravidarum. Mual dan muntah berlebihan juga
dapat terjadi pada ibu hamil yang sangat sensitif terhadap sekresi dari korpus luteum.
3. Teori Psikologis
Hiperemesis gravidarum merupakan keadaan gangguan psikologis yang dirubah dalam
bentuk gejala fisik. Kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan serta tekanan
pekerjaan dan pendapatan menyebabkan terjadinya perasaan berduka, stress, serta konflik
dan hal tersebut dapat menjadi faktor psikologis penyebab hiperemesis gravidarum.
Seseorang dalam kondisi stress akan meningkatkan aktifitas saraf simpatis, untuk
melepaskan hormon stress berupa adrenalin dan kortisol (Guyton, 2004 hal 46). Sistem
imun merupakan komponen penting dan responden adaptif stress secara fisiologis.
Stress menggunakan adrenalin dalam tubuh untuk meningkatkan kepekaan, prestasi dan
tenaga. Peningkatan adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan
pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah
terial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga
menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah.

6
2.1.4 Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum

Patofisiologi hiperemesis gravidarum dapat disebabkan karena peningkatan Hormone


Chorionic Gonodhotropin (HCG) dapat menjadi faktor mual dan muntah. Peningkatan kadar
hormon progesteron menyebabkan otot polos pada sistem gastrointestinal mengalami relaksasi
sehingga motilitas menurun dan lambung menjadi kosong. Hiperemesis gravidarum yang
merupakan komplikasi ibu hamil muda bila terjadi terus menerus dapat mengakibatkan
dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan
lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Kekurangan cairan yang diminum dan
kehilangan cairan akibat muntah akan menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstra vaskuler
dan plasma akan berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian juga dengan klorida
urine.

Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehigga aliran darah ke jaringan


berkurang. Hal ini menyebabkan zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang dan
tertimbunya zat metabolik dan toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan
bertambahnya ekskresi lewat ginjal, meningkatkan frekuensi muntah yang lebih banyak,
merusak hati, sehigga memperberat keadaan penderita.

7
2.1.5 WOC Hiperemesis gravidarum

Peningkatan kadar Faktor alergi Faktor psikologis


estrogen, progesteron dan
HCG
Sensitif terhadap Stress
Otot polos pada
sekresi korpus luteum
sistem GIT
mengalami relaksasi
Melepaskan adrenalin
Adanya histamin dan kortisol
Mortalitas menurun
dan penurunan
pengosongan lambung
Tekanan darah dan
denyut jantung
Peningkatan tekanan
gaster
Meningkatkan HCG

Mestimulasi mual dan


muntah

Mual muntah yang


berlebihan

Hiperemesis Gravidarum

Kehilangan cairan Iritasi asam pada


berlebih selaput lendir
esofagus

Kekurangan Dehidrasi Lidah kering, penurunan sensai


volume cairan kecap
dan elektrolit
Hemokonsentrasi
Napsu makan
menurun
Aliran darah ke Metabolisme intra
jaringan menurun sel menurun Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
Penurunan kesadaran Otot melemah

Kelemahan tubuh
Resiko
ketidakefektifan
perfusi jaringan otak
Intoleransi 8
aktifitas
2.1.6 Manifestasi Klinik Hiperemesis gravidarum
Tidak ada batasan yang jelas mengenai hiperemesis gravidarum. Menurut ringan dan
beratnya gejala hiperemesis gravidarum terbagi tiga tingkatan, yaitu: (Runiari, 2010)
a) Tingkat 1. Pada tingkat ini, ibu hamil akan merasa lemah, penurunan nafsu makan
dan berat badan, nyeri epigastrium, takikardi, hipotensi (sistolik menurun),
hipertermia, turgor kulit berkurang, mata cekung dan lidah kering.
b) Tingkat 2. Ditandai dengan lemah, apatis, turgor kulit lebih menurun, defisit oral
hygiene, takikardi, hipotensi, suhu naik turun, mata cekung dan sedikit ikterus,
hemokosentrasi, oliguria, kontipasi, berat badan menurun, bau aseton dan dapat
ditemukan dalam urin.
c) Tingkat 3. Tingkat ini dalam kategori hipereremis gravidarum berat yang ditandai
dengan penurunan kesadaran (koma), takikardi, hipotensi, hipertermia, ikterus,
perdarahan esofagus, lambung dan retina. Hipereremis gravidarum berat dapat
berkomplikasi di sistem saraf pusat, yaitu wenickle ensefalopati (nistagmus,
diplopia, perubahan mental akibat kekurangan vitamin B komplek).

2.1.7 Penatalaksanaan Hipermeresis Gravidarum

Terdapat beberapa kontroversi mengenai tipe pengobatan yang harus diberikan pada wanita
hamil dengan hiperemesis gravidarum. Terapi cairan dan elektrolit parenteral pengganti,
pemberian vitamin B6, antiemetik dan tirah baring secara rutin digunakan pada hiperemesis
gravidarum dan biasanya tanpa perbaikan yang berarti. Hal ini tidak mengherankan, karena
obat-obat tersebut tidak ada yang mempengaruhi infeksi H. pylori. H. pylori merupakan
organisme yang hidup di dalam lingkungan yang tidak mudah diakses banyak obat, selain itu
karena resistensi bakteri yang muncul menimbulkan tantangan tambahan. Lagipula, banyak
aturan yang direkomendasikan sulit dilaksanakan oleh pasien, yang menimbulkan masalah
dengan kepatuhan, dengan harus mengkonsumsi obat dalam jumlah besar setidaknya dua kali
sehari dan efek yang tidak menyenangkan, sehingga tidak banyak berpengaruh dalam
mendorong kerjasama pasien. Meskipun dengan kendala-kendala ini, aturan pengobatan saat
ini bisa memperoleh tingkat kesembuhan lebih dari 85 % pada sebagian besar populasi pasien.

9
Antibiotik: Sekarang ini obat antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi H. pylori dan
diberikan secara kombinasi dengan inhibitor pompa proton.

Pemeriksaan Penunjang Hipermeresis Gravidarum

Sekarang ini ada beberapa cara populer untuk mendeteksi adanya infeksi H. pylori, masing-
masing memiliki kelebihan, kekurangan dan keterbatasan. Pada dasarnya tes yang tersedia
untuk diagnosis ada 2 metode yaitu metode invasif dan metode non invasif. Pada metode yang
invasif dapat dilakukan biopsi endoskopi untuk pemeriksaan histologi, kultur, Polymerase
Chain Reaction (PCR) dan Rapid Urease Test. Pada yang non invasif dapat dilakukan Urea
Breath Test, Serologi Test dan Stool Antigen Test.

10
2.2 Definisi Abortus
Abortus merupakan gugurnya janin atau terhentinya kehamilan setelah nidasi dan
sebelum terbentuknya fetus yang kurang dari 20-28 minggu. WHO menetapkan bahwa
abortus merupakan masalah kesehatan reproduksi yang perlu mendapatkan perhatian dan
sebagai peyebab penderitaan wanita di dunia. (KESMAS, 2010)
Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum usia kehaliman mencapai 20 minggu
dengan berat badan kurang dari 500 gram. (Cunnigham, 2013)
Abortus adalah berhentinya kehamilan secara spontan atau sengaja sebelum janin
mampu bertahan hidup sendiri (20 minggu) dengan berat badan kurang dari 500 gram.
(Handono, 2009)
2.2.2 Klasifikasi Abortus

Abortus terbagi menjadi 2 klasifikasi, yaitu abortus provakatus (Induced abortion)


dan abortus spontan.
Abortus provakatus merupakan abortus yang disengaja dengan bantuan obat-obatan
atau alat-alat. Abortus provakatus terbagi menjadi dua, yaitu:
a) Abortus medisinalis adalah penguguran janin karena terdapat indikasi medis yang
membahayakan ibu dan mendapat persetujuan tenaga kesehatan.
b) Abortus kriminalis adalah penguguran janin secara ilegal atau tidak berdasarkan
indikasi medis.
Abortus spontan adalah keluarya hasil konsepsi secara alami dan tidak ada faktor
mekanis ataupun medisinalis. Abortus spontan atas:
a) Abortus imminens merupakan perdarahan vaginal dengan atau tanpa nyeri abdomen
pada kehamilan sebelum 20 minggu dan serviks masih tertutup. (Nur Ilhaini, 2013)
b) Abortus insipien adalah usia kehamilan kurang dari 20 minggu yang mengalami
perdarahan vaginal dan serviks terbuka. (Nugroho, 2012)
c) Abortus incompletus adalah lahir sebagian hasil konsepsi dan teraba di vagina, tetapi
sebagian masih tertinggal di dalam rahim. (Feryanto, 2012)
d) Abortus completus adalah hasil konsepsi sudah terlahir lengkap, tetapi ukuran uterus
lebih kecil dari usia kehamilan dan kavum uteri kosong. (Feryanto, 2012)
e) Missed abortion adalah gugurnya janin sebelum usia 20 minggu dan tertanam pada
rahim setelah janin mati. (Feryanto, 2012)

11
f) Abortus habitualis adalah keguguran secara berulang-ulang (3 kali atau lebih).
(Feryanto, 2012)
g) Abortus infeksiosa adalah gugurnya janin disertai infeksi pada genitalia. (Saifuddin,
2009)
h) Abortus septik adalah abortus dengan penyebaran infeksi di peredaran darah.
(Saifuddin, 2009)

Gambar 2. Klasifikasi Abortus (Edukia)

Gambar 3. Bentuk Abortus (Edukia)

12
2.2.3 Etiologi Abortus

1. Faktor Janin
Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh dunia, sekitar 50 hingga 60
persen dari abortus spontan yang terjadi pada trimester pertama mempunyai kelainan
kariotipe. Kelainan pada kromosom ini adalah seperti autosomal trisomy, monosomy X
dan polyploidy (Lebedev et al., 2004).
Abnormalitas kromosom adalah hal yang utama pada embrio dan janin yang mengalami
abortus spontan, serta merupakan sebagian besar dari kegagalan kehamilan dini. Kelainan
dalam jumlah kromosom lebih sering dijumpai daripada kelainan struktur kromosom.
Abnormalitas kromosom secara struktural dapat diturunkan oleh salah satu dari kedua
orang tuanya yang menjadi pembawa abnormalitas tersebut (Cunningham et al., 2005).
2. Faktor Paternal
Translokasi kromosom dalam sperma dapat menyebabkan zigote mempunyai terlalu
sedikit atau terlalu banyak bahan kromosom, sehingga mengakibatkan abortus
(Cunningham et al., 2005).
3. Faktor Maternal
a. Infeksi
Infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang sedang berkembang, terutama
pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan abortus:
Virus, misalnya rubella, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, varicella zoster,
campak, hepatitis, polio dan ensefalomielitis.
Bakteri, misalnya Salmonella typhi.
Parasit, misalnya Toxoplasma gondii, Plasmodium.
b. Penyakit vaskular, misalnya hipertensi vaskular.
c. Kelainan endokrin
Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mencukupi atau pada
penyakit disfungsi tiroid, defisiensi insulin.
d. Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga
terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.

13
e. Gangguan sirkulasi plasenta
Didapatkan pada ibu yang menderita hipertensi, toksemia gravidarum, anomaly
plasenta.
f. Usia ibu
Usia juga mempengaruhi kejadian abortus karena pada usia kurang dari 20 tahun
belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan
ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin, sedangkan abortus yang terjadi
pada usia lebih dari 35 tahun disebabkan berkurangnya fungsi alat reproduksi, kelainan
pada kromosom, dan penyakit kronis.

2.2.4 Patofisiologi Abortus

Pada permulaan abortus terjadi perdarahan dalam desidua basialis diikuti oleh nekrosis
jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau
keseluruhan, sehingga dianggap sebagai benda asing didalam uterus. Keadaan ini
menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8
minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum
menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8-14 minggu villi koriales
menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang
dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya yang
mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah, disusul beberapa waktu kemudian oleh plasenta
yang telah lengkap terbentuk. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan
lengkap.

14
2.2.5 WOC Abortus

Faktor janin Faktor paternal Faktor maternal

Kerusakan embrio, Translokasi kromosom Infeksi, penyakit


kelainan kromosom dalam sperma vaskuler, kelainan
endokrin, kelainan
Zigot mempunyai terlalu genetalia dan usia ibu
banyak/terlalu sedikit
bahan kromosom

Gangguan
pertumbuhan janin

Terjadi robekan pada desidua basalis

Perdarahan dlm desidua basalis

Nekrosis sebagian jaringan

Hasil konsepsi sebagian terlepas Sebagian tertinggal didalam uterus

Dianggap benda asing didalam uterus Indikasi dilakukan curetage

Kontaksi meningkat Uterus berkontraksi untuk mengeluarkan Resiko terjadi perlukaan

Perut mulas, nyeri sampai Pengeluaran hasil konsepsi (Abortus) Resiko infeksi
ke pinggang
Perdarahan
Nyeri akut
Perdarahan pervaginam

Resiko Perdarahan

15
2.2.6 Manifestasi Klinik Abortus
a) Abortus imminens.
- Perdarahan awal kehamilan melalui ostium uteri eksternum.
- Nyeri ringan atau tidak terasa nyeri pada perut dan punggung. Dapat mengalami
kelemahan bila nyeri terasa hebat.
- Uterus membesar sesuai usia kehamilan
b) Abortus insipien.
- Nyeri abdomen. Kram suprapublik intermiten dan progesif akibat kontraksi uterus
sehingga mengalami perdarahan dan dilatasi serviks.
- Perdarahan per vaginam atau perdarahan jalan lahir. Perdarahan pada masa awal
kehamilan yang ditandai dengan keluar darah merah, perdarahan dan nyeri.
- Kebocoran cairan amnion.
- Siklus haid. Sebagian besar abortus terjadi sebelum 12 minggu setelah siklus haid
terakhir, tetapi dapat terjadi selama trimester kedua.
c) Abortus incompletus. Perdarahan hebat dan tidak akan berhenti sebelum hasil konsepsi
terbuang semua.
d) Abortus completus. Perdarahan ringan, mulut rahim menutup dan rahim mengecil.
e) Abortus habitualis.
- Terjadi pembukaan serviks tanpa disertai nyeri.
- Ketuban membesar dan berisiko pecah.
- Keluarnya hasil konsepsi dapat berupa janin normal dan disertai nyeri.
- Jarang mengeluarkan lendir dari vagina.
f) Abortus infeksiosa.
- Hipertermia.
- Perdarahan per vaginam berbau.
- Rahim membesar dan nyeri tekan.
- Leukositosis.
g) Abortus septik
- Hipertermia.
- Hipotensi.

16
2.2.7 Penatalaksanaan Abortus

Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda-tanda syok maka diatasi
dulu dengan pemberian cairan dan transfuse darah. Kemudian, jaringan dikeluarkan secepat
mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obat-obat uterotonika dan
antibiotika. Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil konsepsi dikeluarkan
(desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi yang diberikan hanya uterotonika.
Untuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua
dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan kuretase dilakukan. Histerotomia anterior
juga dapat dilakukan dan pada penderita, diberikan tonika dan antibiotika. Pengobatan pada
kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada
konsepsi daripada sesudahnya. Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau
dihentikan. Pada serviks inkompeten, terapinya adalah operatif yaitu operasi Shirodkar atau
McDonald (Mochtar, 1998).

Diagnosa Abortus:

Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), diagnosa abortus menurut gambaran klinis
adalah seperti berikut:

i. Abortus Iminens (Threatened abortion)

a. Anamnesis perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau ringan.
b. Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar uterus
sesuai dengan umur kehamilan.
c. Pemeriksaan penunjang hasil USG.

ii. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)

a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim.


b. Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam rahim, dan ketuban
utuh (mungkin menonjol).

iii. Abortus Inkompletus atau abortus kompletus

17
a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak), nyeri / kontraksi rahim
ada, dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.
a. Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan buah kehamilan.

iv. Abortus Tertunda (Missed abortion)

a. Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.


b. Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi jantung
janin tidak ada.
b. Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu
perdarahan, waktu pembekuan dan waktu protrombin)

Diagnosa abortus habitualis (recurrent abortion) dan abortus septik (septic abortion) menurut
Mochtar (1998) adalah seperti berikut:

i. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)

a. Histerosalfingografi untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa dan


anomali kongenital.
b. BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak
gangguan glandula thyroidea.

ii. Abortus Septik (Septic abortion)

a. Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di luar
rumah sakit.
b. Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan dan sebagainya.
c. Tanda-tanda infeksi alat genital : demam, nadi cepat, perdarahan, nyeri tekan dan
leukositosis.
d. Pada abortus septik : kelihatan sakit berat, panas tinggi, menggigil, nadi kecil dan
cepat, tekanan darah turun sampai syok

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN UMUM

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Pemberian askep klien hiperemesis gravidarum dilakukan dengan menetapkan


rencana perawatan medis, pemberian terapi intravena, pemberian agen farmakologi dan
suplemen nutrisi, serta pemantauan respon klien terhadap intervensi. Perawat melakukan
observasi pada klien untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi seperti asidosis
metabolik, ikterik. Biasanya klien hiperemesis gravidarum berrepon terhadap terapi dan
prognsisnya baik. Klien bisa dipulangkan bila keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai,
BB mulai meningkat.
Perawat bertugas membantu penanganan kondisi psikososial klien karena kondisinya lemah
baik secara fisik maupun emosional. Upaya meningkatkan istirahat yang adekuat penting
untuk klien dengan hiperemesis, maka perawata mengoordinasikan tindakan terapi dan
periode kunjungan sehingga klien memilliki kesemapatan untuk beristirahat.
Askep pada klien dengan hiperemesis gravidarum dapat dijadikan melalui 5 tahapan proses
keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

3.1 Pengkajian Keperawatan


Pengkajian merupakan pendekatan yang istematis untuk mengumpulkan data,
pengelompokan, dan menganalisis, sehingga didapatkan masalah dan kebutuhan untuk
perawatan ibu. Tujuan utama pengkajian adalah untuk memberikan gambarana secara terus
menerus mengenai keadaan kesehatan ibu yang memungkinkan perawatan melakukan
asuhan keperawatan.
Langkah pertama dalam pengkajian ibu hiperemesis gravidarum adalah mengumpulkan data.
Data-data yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut:
a. Data Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh ibu sesuai dengan

19
gejala-gejala pada hiperemesis gravidarum, yaitu : mual dan muntah yang terus menerus,
merasa lemah dan kelelahan, merasa haus dan terasa asam di mulut, serta konstipasi dan
demam. Selanjutnya dapat juga ditemukan berat badan yang menurun. Turgor kulit yang
buruk dan gangguan elektrolit. Terjadinya oliguria, takikardia, mata cekung, dan ikterus.
2) Riwayat kesehatan dahulu
kemungkinan ibu pernah mengalami hiperemesis gravidarum sebelumnya.
kemungkinan ibu pernah mengalami penyakit yang berhubungan dengan saluran
pencernaan yang menyebabkan mual muntah.
Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga.
b. Data Fisik biologis
Data yang dapat ditemukan pada ibu dengan hiperemesis gravidarum adalah mamae yang
membengkak, hiperpigmentasi pada areola mamae, terdapat kloasma garvidarum, mukosa
membran dan bibir kering, turgor kulit buruk, mata cekung dan sedikit ikterik, ibu tampak
pucat dan lemah, takikardi, hipotensi, serta pusing dan kehilangan kesadaran.
c. Riwayat Menstruasi
Kemungkinan menarkhe usia 12-14 tahun.
Siklus 28-30 hari.
Lamanya 5-7 hari.
Banyaknya 2-3 kali ganti duk/hari.
Kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri, sakit kepala, dan muntah.
d. Riwayat perkawinan
Kemungkinan terjadi pada perkawian usia muda.
e. Riwayat kehamilan dan persalinan.
Hamil muda : ibu pusing, mual dan muntah, serta tidak ada nafsu makan.
Hamil tua : pemeriksaan umum terhadap ibu mengenai kenaikan berat badan, tekanan
darah, dan tingkat kesadaran.
f. Data psikologi
Riwayat psikologi sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa ibu sehubungan
dengan perilaku terhadap kehamilan. Keadaan jiwa ibu yang labil, mudah marah, cemas,

20
takut akan kegagalan persalinan, mudah menangis, sedih, serta kekecewaan dapat
memperberat mual muntah. Pola pertahanan diri (koping) yang digunakan ibu bergantung
pada pengalamannya terhadap kehamilan serta dukungan dari keluarga dan perawat.
g. Data sosial ekonomi
Hiperemesis gravidarum bisa terjadi pada semua golongan ekonomi, namun pada umumnya
terjadi pada tingkat ekonomi menengah kebawah. Hal ini diperkirakan dipengaruhi oleh
tingkat pengetahuan yang dimiliki.
h. Data penunjang
Data penunjang didapat dari hasil laboratorium, yaitu pemeriksaan darah dan urine.
Pemeriksaan darah yaitu nilai hemaglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukan
hemokonsentrasi yang berkaitan dengan dehidrasi. Pemeriksaan urinalis yaitu urine yang
sedikit dan konsentrasi yang tinggi akibat dehidrasi, juga terdapatnya aseton di dalam urine.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Dari pengkajian yang telah diuraikan, maka ada beberapa kemugkinan diagnosis
keperawatan yang dapat ditegakan.
a. Kekurangan cairan dan elektrolit yang berhubungan dengan muntah yang berlebihan dan
pemasukan yang tidak adekuat.
b. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual dan
muntah terus menerus.
c. Nyeri pada epigastrum yang berhubungan dengan muntah yang berulang.
d. Risiko intoleransi aktifitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan dan kurangnya
intake nutrisi.
e. Risiko perubahan nutrisi fetal yang berhubungan dengan berkurangnya peredaran darah
dan makanana ke fetal (janin).

3.3 Intervensi Keperawatan


1) Kekurangan cairan dan elektrolit yang berhubungan dengan muntah berlebihan dan
pemasukan yang tidak adekuat.
Tujuan :Kebutuhan cairan&elektrolit terpenuhi.
Mandiri :

21
a. Istirahatkan ibu ditempat yang nyaman.
Rasional : Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi kerja yang membuat metabolisme
tidak meningkat, sehingga tidak merangsang terjadinya mual dan muntah.
b. Pantau tanda2 vital & dehidrasi.
Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui
sejauhmana keadaan umum dan kekurangan cairan pada ibu. TD turun, suhu meningkat, &
nadi meningkat merupakan tanda2dehidrsi & hipokalemia.
c. Pantau tetes cairan infus.
Rasional : Jumlah tetesan infus yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan
dan kekurangan cairan di dalam sistem sirkulasi.
d. Catat intake dan output.
Rasional : Dengan mengetahui intake dan output cairan diketahui keseimbangan cairan di
dalam tubuh.
e. Setelah 24 jam anjurkan untuk minum tiap jam.
Rasional : Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral.
Kolaborasi :
f. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan infus.
Rasional : Pemberian cairan infus dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang
dengan cepat, sehingga bisa m encegah keadaan yang lebih buruk pada ibu.

2) Perubahan nutrisi kurang kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan muntah yang terus-
menerus.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Mandiri :
a. Kaji kebutuhan nutrisi ibu.
Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi ibu dapat dinilai sejauh mana kekurang
nutrisi pada ibu dan menetukan langkah selanjutnya.
b. Observasi tanda2kekurangan nutrisi.
Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana kekurangnn nutrisi akibat muntah yang berlebihan.
c. Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Makanan dalam proses kecil dapat memenuhi pemenuhan lambung dan
mengurangi kerja peristaltik usu serta memudahkan proses penyerapan.
d. Berikan makanan dalam keadaan hangat dan berfariasi.
Rasional : Makanan yang hangat diharapkan dapat mengurangi rasa mual dan makanan yang
berfariasi untuk menambah nafsu makan ibu, sehingga diharapkan kebutuhan nutrisinya bisa

22
terpenuhi.
e. Berikan makanan yang tidak berlemak dan berminyak.
Rasional : Makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran
pencernaan, sehingga diharapkan mual dan muntah berkurang.
f. Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan
(roti kering dan biskuit).
Rasional : Makanan kering tidak merangsang pencernaan & mengurangi perasaan mual.
g. Berikan ibu motivasi agar mau memberikan makanan.
Rasional : Ibu merasa diperhatikan dan berusaha menghabiskan makanannya.
h. Timbang BB ibu.
Rasional : Dengan menimbang BB bisa diketahui keseimbangan BB sesuai usia kehamilan
dan pengaruh nutrisi.

3) Nyeri pada epigastrium yang berhubungan dengan muntah berulang.


Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Mandiri :
a. Kaji tingkat nyeri.
Rasional : Dengan mengkaji dapat diketahui tingkat nyeri pada ibu dan menentukan tindakan
selanjutnya.
b. Atur posisi ibu dengan kepala lebih tinggi selama 30 menit setelah makan.
Rasional : Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada gastrointestinal,
sehingga dapat mencegah muntah yang berulang.
c. Perhatikan kebersihan mulut ibu sesudah & sebelum makan.
Rasional : Kebersihan mulut yang baik & terpelihara bisa menimbulkan rasa nyaman juga
diharapkan dapat mengurangi mual & muntah.
d. Alihkan perhatian ibu pada hal yang menyenangkan.
Rasional : Dengan mengalihkan perhatian diharapkan ibu bisa melupakan rasa nyeri akibat
muntah ynag berulang.
e. Anjurkan ibu untuk istirahat dan batasi pengunjung.
Rasional : Dengan istirahat yang cukup & membatasi pengunjung, dapat menambah
ketenangan pada ibu.
Kolaborasi :
f. Kolaborasi dalam pemberian anti metik dan sedatif dengan dokter.
Rasional : Obat anti emetik mengurangi muntah sedatif membuat ibu tenang, sehingga dapat
mengurangi nyeri yang dirasakan oleh ibu.

4) Tidak efektifnya pola pertahanan diri yang berhubungan dengan efek psikologis terhadap
kehamilan dan perubahan peran sebagai ibu.
Tujuan : Pola pertahan diri efektif
Mandiri :
a. Bantu ibu untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilannya.

23
Rasional : Dengan mengungkapkan perasaannya, dapat diketahui reaksi ibu terhadap
kehamilannya.
b. Dengarkan keluhan ibu dengan penuh perhatian.
Rasional : Ibu merasa diperhatikan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalahnya.
c. Diskusikan dengan ibu tentang masalah yang dihadapi & pemecahan masalah yang bisa
dilakukan.
Rasional : Melalui diskusi dapat diketahui koping ibu dalam menghadapi masalahnya.
d. Bantu ibu untuk memecahkan masalahnya, terutama yg berhubungan dengan
kehamilannya.
Rasional : Dengan membantu memecahkan masalah ibu, maka perawat dapat menemukan
pola koping ibu yang efektif.
e. Dukung ibu dalam menemukan pemecahan masalah yg konstruktif.
Rasional : Dukungan dapat menambah rasa percaya diri ibu dlm menemukan pemecahan
masalah.
f. Libatkan keluarga dalam kehamilan ibu.
Rasional : Keluarga bisa diajak kerjasama dalam memberikan dukungan pada ibu terhadap
kehamilannya.
Kolaborasi :
g. Kolaborasi dgn ahli psikiatri jika diperlukan.
Rasional : Untuk mengetahui adanya kemungkinan faktor psikologis yang lebih berat
sebagai penyebab masalah.

5) Resiko perubahan nutrisi janin yang berhubungan dengan berkurangnya peredaran darah
makanan ke janin
Tujuan : Perkembangan janin tidak terganggu.
Mandiri :
a. Jelaskan pada ibu mengenai pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan
janin.
Rasional : Agar ibu menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin & ibu mengetahui akan
kebutuhan nutrisinya.
b. Periksa fundus uteri.
Rasional : Tinggi fundus uterus yg tidak sesuai dengan usia kehamilan dapat menjadi bahan
penilaian akan nutrisi janin.
c. Pantau denyut jantung janin.
Rasional : Denyut jantung yg masih dlm keadaan normal & aktif menandakan janin masih
dalam keadaan baik

24
Asuhan Keperawatan Umum Abortus

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik, meliputi :

a) Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada
penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi
antara lain :

mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap


drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh,
pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas,
Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium bau busuk dari vulva

b) Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan


tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Suhu badan normal atau
meningkat
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi
janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Denyut nadi normal atau cepat
dan kecil
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang
abnormal

c) Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan
tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada
dibawahnya.

Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan
ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada
kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau
tidak

d) Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan
menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan
di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk
bising usus atau denyut jantung janin. Tekanan darah normal atau menurun (Johnson &
Taylor, 2005 : 39)
25
9. Pemeriksaan Diagnostik

Tes Kehamilan : Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

10. Komplikasi

Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi


Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan
pembekuan darah

11. Therapy

1. Therapy abortus kompletus : Hanya dengan uteronika


2. Therapy abortus inkompletus :

jika syok : dengan pemberian cairan dan tranfusi darah


berikan obat uteronika dan antibiotik

1. Therapy abortus insipiens : therapy sama dengan therapy abortus inkompletus


2. Missed abortion : dilatasi, kurete, berikan obat antibiotic dan tonika
3. Therapy abortus habitualis : therapy operatif : SHIRODKAR atau MC DONALD
(cervical cerclage)

Penatalaksanaan

Penanganan abortus imminens meliputi :

Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena
cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya
rangsang mekanik.
Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional
sintetik peroral atau secara intramuskular.Walaupun bukti efektivitasnya tidak
diketahui secara pasti.
Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah janin masih hidup.

1. Penanganan Abortus Insipiens meliputi :

26
1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum
manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan:

Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu)
atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).
Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :

Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi.
Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam
fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk
membantu ekspulsi hasil konsepsi.
Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan

1. Penanganan abortus inkomplit :

1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat
dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang
keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera
taum iso prostol4 00 mcg per oral.

2) Jika perdarahan banyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu,
evaluasi hasil konsepsi dengan :

Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan
kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.
Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler
(diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang
setelah 4 jam bila perlu).

3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:

Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau
ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil
konsepsi
Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi
ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg)
Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.

4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

27
1. Penganan abortus kompletus

Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila
penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat
maka perlu diberikan transfusi darah.

1. Penanganan abortus servialis

Penganan terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan
hasil konsepsi dari kanalis servikalis.

1. Penanganan missed abortion

Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu
segera dikeluarkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah
kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila
janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu
diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia
mengandung janin yang telah mati, dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :

1. a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,


umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan
ke- , lamanya perkawinan dan alamat
2. b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang pervaginam berulang
3. c. Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :

1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau
pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus
lebih besar dari usia kehamilan.

2) Riwayat kesehatan masa lalu

d. Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis
pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.

28
e. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh
klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin ,
dan penyakit-penyakit lainnya.

f. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram
tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat
dalam keluarga.

g. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya,


banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause
terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya

h. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai
dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.

i. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan
serta keluahn yang menyertainya.

j. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat


digitalis dan jenis obat lainnya.

k. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB
dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.

1. l. Pemeriksaan fisik, meliputi :

Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada
penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.

Hal yang diinspeksi antara lain :

mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola
pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur,
penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya

Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur
kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.

Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau
mencubit kulit untuk mengamati turgor.

29
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal

Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan
tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada
dibawahnya.

Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada
tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.

Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki
bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak

Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop


dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar :
mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.

(Johnson & Taylor, 2005 : 39)

1. m. Pemeriksaan laboratorium :

Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga
berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien
menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.

1. n. Data lain-lain :

Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.

Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi
dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang
digunakan.Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan
keagamaan yang biasa dilakukan.

1. 2. Diagnose Keperawatan
1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab

30
5. Cemas s.d kurang pengetahuan

1. 3. Rencana Tindakan
2. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan

Tujuan :

Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun
kualitas.

Intervensi :

1) Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik


bervariasi

2) Ukur pengeluaran harian

Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah
cairan yang hilang pervaginal

3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian

Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif

4) Evaluasi status hemodinamika

Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik

1. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi

Tujuan :

Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi

Intervensi :

1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas

31
Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu
diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk

2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan

Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi

3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari

Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal

4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien


Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat
diperlukan

5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas

Rasional : Menilai kondisi umum klien

1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan :

Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Intervensi :

1) Kaji kondisi nyeri yang dialami klien

Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.

2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

3) Kolaborasi pemberian analgetika

Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika
oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

1. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab

Tujuan :

32
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

Intervensi :

1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya
warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan


Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar

3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart

Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart

4) Lakukan perawatan vulva

Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan
peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa
perdarahan

Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama
dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus
meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

1. Cemas s.d kurang pengetahuan

Tujuan :

Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

Intervensi :

1) Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit


Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas

33
2) Kaji derajat kecemasan yang dialami klien

Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien
tentang penyakit

3) Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan

Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang
mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien

4) Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama

Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan

5) Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan
pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien
dan keluarga.

34
BAB IV

STUDI KASUS

4.1 Kasus

Ny. N usia 26 tahun, hamil 11 minggu. Pasien datang ke RS Universitas Airlangga


dengan keluhan mual dan muntah sejak kemarin 3 hari yang lalu. Mual muntah awalnya
hanya terjadi pada pagi hari saja dan terjadi setelah makan dan minum, namun sejak 2
hari muntah yang dialami > 10 x / hari dengan volume 1/2 - 3/4 gelas besar. Isi
muntahan berupa makanan minuman yang dikonsumsi sebelumnya, pada muntahan tidak
terdapat darah. Keluhan mual dan muntah semakin bertambah berat bila setelah makan
dan minum, dan berkurang saat istirahat. Selain itu pasien juga mengeluh badan terasa
lemas sehingga tak mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, bibir terasa
kering, nafsu makan dirasakan menurun karena pasien takut muntah. BAB dan BAK
dirasakan semakin menurun. Pasien mengaku tidak ada permasalahan dalam kehidupan
rumah tangganya maupun dalam pekerjaan. TB : 155 cm, BB sebelum sakit: 60 kg, BB
sekarang: 56 kg. Hasil pemeriksaan TTV didapatkan TD : 100/70 mmHg, Nadi 104 x /
menit, RR 22 x/menit, Suhu 37,5 0C

4.2 Pengkajian

a. Data Demografi

Nama : Ny. N
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kertajaya, Surabaya
b. Keluhan Utama

Pasien datang ke RS Universitas Airlangga dengan keluhan mual dan muntah sejak
kemarin 3 hari yang lalu

35
c. Riwayat Penyakit Sekarang

Mual muntah awalnya hanya terjadi pada pagi hari saja dan terjadi setelah makan dan
minum, namun sejak 2 hari muntah yang dialami > 10 x / hari dengan volume 1/2 -
3/4 gelas besar. Isi muntahan berupa makanan minuman yang dikonsumsi sebelumnya,
pada muntahan tidak terdapat darah. Keluhan mual dan muntah semakin bertambah
berat bila setelah makan dan minum, dan berkurang saat istirahat. Selain itu pasien
juga mengeluh badan terasa lemas sehingga tak mampu melakukan aktivitas sehari-
hari seperti biasanya, bibir terasa kering, nafsu makan dirasakan menurun karena
pasien takut muntah. BAB dan BAK dirasakan semakin menurun

d. Riwayat Penyakit Terdahulu

Ny. N tidak memiliki riwayat penyakit tertentu yang mempengaruhi kondisinya saat
ini

e. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak terdapat riwayat penyakit turunan berdasarkan hasil anamnesa

f. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : tampak lemas
Kesadaran : composmentis
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 100 / 70 mmHg
Nadi : 104 x / menit
Pernapasan : 22 x / menit
Suhu : 37,5 0C
Mata : mata cekung (+/+), konjungtiva palpebra anemis (+/+), sklera ikterik
(-/-)
Telinga : discharge (-/-)
Hidung : discharge (-/-), napas cuping hidung (-/-)
Mulut : sianosis (-), bibir kering (+)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-)

36
Thorak : bising (-)
konfigurasi jantung dalam batas normal
SD vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : turgor kulit menurun, bising usus (+) , nyeri tekan epigastrium (+)
Ekstremitas : Tidak ada kesulitan dalam menggerakkan tangan dan kaki.
4.3 Analisa Data

Data Etiologi Masalah Keperawatan


Data Subjektif : Faktor predisposisi Ketidakseimbangan Nutrisi:
Ny. N mengeluh mual dan Kurang dari Kebutuhan
muntah sejak kemarin 3 hari Peristaltik gaster Tubuh (00002)
yang lalu. Domain 2. Nutrisi
Nafsu makan Ny. N Tekanan gaster Kelas 1. Makan
menurun karena pasien
takut muntah Mual muntah
Data Objektif :
TB : 155 cm, BB sebelum Nafsu makan menurun
sakit: 60 kg, BB sekarang:
56 kg. Hasil pemeriksaan Ketidakseimbangan nutrisi:
TTV didapatkan TD : kurang dari kebutuhan tubuh
100/70 mmHg, Nadi 104 x /
menit, RR 22 x/menit, Suhu
37,5 0C
Data Subjektif : Faktor predisposisi Kekurangan Volume Cairan
Ny. N mengeluh mual dan (00027)
muntah sejak kemarin 3 hari Peristaltik gaster Domain 2. Nutrisi
yang lalu. Kelas 5. Hidrasi
Data Objektif : Tekanan gaster
TB : 155 cm, BB sebelum
sakit: 60 kg, BB sekarang: Mual muntah
56 kg. Hasil pemeriksaan

37
TTV didapatkan TD : Kehilangan cairan berlebih
100/70 mmHg, Nadi 104 x /
menit, RR 22 x/menit, Suhu Kekurangan volume cairan
37,5 0C
Data Subjektif : Intake nutrisi menurun Intoleransi Aktivitas (00092)
Ny. N mengeluh badan Intoleransi Aktivitas
terasa lemas sehingga tak Metabolisme tubuh Domain 4. Aktivitas /
mampu melakukan aktivitas Istirahat
sehari-hari seperti biasanya Pemecahan cadangan lemak Kelas 4. Respon
Data Objektif : dan protein tidak sempurna Kardiovaskular/Pulmonal
TB : 155 cm, BB sebelum
sakit: 60 kg, BB sekarang: Ketosis
56 kg. Hasil pemeriksaan
TTV didapatkan TD : Kelemahan
100/70 mmHg, Nadi 104 x /
menit, RR 22 x/menit, Suhu Intoleransi Aktivitas
37,5 0C

4.4 Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh b.d kurang asupan


makanan (00002)

2. Kekurangan Volume Cairan b.d kehilangan cairan aktif (000227)

3. Intoleransi Aktivitas b.d Imoilits (1982)

38
4.5 Intervensi

No Diagnosa NOC NIC


Keperawatan
1. Ketidakseimbangan Status Nutrisi (1004) Manajemen Nutrisi (1100)
nutrisi: kurang dari a. Asupan gizi adekuat. a. Tentukan status gizi pasien
kebutuhan tubuh b. Asupan makanan adekuat. dan kemampuan (pasien)
b.d kurang asupan c. Asupan cairan adekuat. untuk memenuhi kebutuhan
makan (00002) d. Asupan Hidrasi adekuat gizi.
b. Tentukan jumlah kalori dan
jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan
gizi.
c. Monitor kalori dan asupan
makanan.

Bantuan Perawatan Diri:


Pemberian Makan (1803)
a. Ciptakan lingkungan yang
menyenangkan selama waktu
makan.
b. Pastikan posisi pasien yang
tepat untuk memfasilitasi
mengunyah dan menelan.
c. Posisikan pasien dalam posisi
makan yang nyaman.
d. Sediakan makanan dan
minuman yang disukai
dengan tepat
2. Kekurangan Keparahan mual muntah (2107) Manajemen mual (1450)
Volume Cairan b.d a. Klien tidak merasa mual

39
kehilangan cairan b. Klien tidak muntah a. Identifikasi faktor-faktor
aktif (000227) c. Berat badan klien normal yang dapat menyebabkan
mual.
Keseimbangan cairan b. Evaluasi dampak dampak
a. Tekanan darah normal dari pengalaman mual pada
b. denyut nadi normal kualitas hidup.
c. keseimbangan intake dan c. Dorong klien untuk belajar
output tidak terganggu. strategi mengatasi mual
sendiri.
d. Dorong pola makan dengan
porsi sedikit yang disukai
klien.
e. Tingkatkan istirahat dan tidur
yang cukup untuk
memfasilitasi pengurangan
mual.
Manajemen cairan (4120)
a. Monitor status hidrasi.
b. Monitor tanda-tanda vital
klien.
c. Monitor makanan atau cairan
yang dkkonsumsi dan hitung
asupan kalori harian.
3. Intoleransi Konservasi energi (0002) Manajemen energy (0180
Aktivitas b.d a. klien dapat menyeimbangkan a. Kaji status fisiologis klien
Imoilits (1982) aktivitas dan istirahatnya yang menyebabkan kelelahan
b. klien dapat mengatur b. Monitor intake atau asupan
aktivitasnya untuk konservasi nutrisi untuk mengetahui
energi sumer energi yang adekuat
c. klien dapat mempertahankan c. Pilih intervensi untuk
intake nutrisi yang cukup. mengurangi kelelahan aik

40
Tingkat kelelahan (0007) secara farmokologis maupun
a. klien tidak merasa lelah non farmakologis, dengan
b. klien dapat melakukan kegiatan tepat
sehari-hari d. Tentukan jenis dan
c. klien dapat menyeimbangkan banyaknya aktivitas yang
antara kegiatan dan istirahatnya. dibutuhkan untuk menjaga
ketahanan

Evaluasi

1. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh


S : Klien mengatakan sudah bisa makan
O : Klien terlihat lebih segar dan bugar
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan.
2. Kekurangan Volume Cairan
S :Klien mengatakan jika makan sudah tidak muntah lagi
O:-
A : Masalah dapat teratasi
P : Intervensi dihentikan
3. Intoleransi Aktivitas
S :Klien mengatakan sudah tidak lemas lagi
O :Klien terlihat dapat melakukan aktifitasnya.
A :Masalah teratasi
P :Intervensi dihentikan

41
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Hiperemesis gravidarum merupakan suatu keadaan mual dan muntah yang lebih dari
10 kali dalam 24 jam atau setiap saat pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan
sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk dan dapat terjadi dehidrasi. Mual dan
muntah selama kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endokrin
yang terjadi selama kehamilan, terutama disebabkan oleh tingginya fluktuasi kadar hCG
(human Chorionik gonadotropin), khususnya karena periode mual dan muntah gestasional
yang paling umum adalah pada 12-16 minggu pertama, yang pada saat itu hCG mencapai
kadar tingginya.
Abortus ialah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia. Bayi baru
mnungkin bisa hidup di dunia bila beratnya sudah mencapai > 500 gram atau umur
kehamilan >20 minggu. Insiden abortus sulit ditentukan karena terkadang wanita
mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa dia sedang hamil. Karena abortus tidak
memiliki gejala yang hebat sehingga dianggap sebagai menstruasi yang terlambat.

5.2 Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, khususnya mahasiswa mampu mengerti tentang
Asuhan keperawatan dari hiperemesis gravidarum dan abortus, sehingga sebagai perawat,
kita mampu memberikan tatalaksana yang benar tentang abortus dan mencegah terjadinya
hiperemesis gravidarum dan abortus dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat
untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius pada klien dengan hiperemesis
gravidarum dan abortus.

42
DAFTAR PUSTAKA

Dea Lita Barozha, E. A. (2016). hiperemesis Gravidarum dan Abortus Iminens pada
Kehamilan Trimester Pertama. Medula Unila, 18.
dr. Teddy Supriyadi, d. J. (1994). Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC.
Dra. Dini Kasdu, M. (2005). Kesehatan Wanita: Solusi Problem Persalinan. Jakarta: Puspa
Swara.
Titik Kuntari, S. A. (2010). Determinan Abortus di Indonesia. Kesehatan Masyarakat
Nasional , 223-224.
Williams Obstetrics Twenty-Second Ed. Cunningham, F. Gary, et al, Ch. 49. HER
Foundation, (Online), (http://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/hyperemesis-
gravidarum/, diaskes 20 Juli 2017)
Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC), Sixth Edition. USA:
Elsevier Mosby
Heardman, T. Heather. 2014. NANDA International, Inc. NURSING DIAGNOSES:
Definitions & Classification 20152017 Tenth Edition. UK: Willey Blackwell
Moorhead, Sue. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA: Elsevier Mosby
http://www.edukia.org/web/kbibu/6-4-2-abortus/
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/27054/Chapter%20II.pdf?sequence=
3
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31675/Chapter%20II.pdf?sequence=
4

43