Anda di halaman 1dari 179

LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN INDUSTRI

Topik Bahasan :
PENGARUH KETERSEDIAAN UNIT SUPPORT DOZER RIPPING TERHADAP
PERBEDAAN PENCAPAIAN TARGET PRODUKTIVITY EXCAVATOR PADA
MATERIAL KERAS DI PIT 1 PT. ARKANANTA APTA PRATISTA SITE SANGA
SANGA KALIMANTAN TIMUR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Dalam Menyelesaikan Program S1 Teknik Pertambangan

Oleh
KOKO ADITTIO REZEKI PUTRA
BP. 2011/1106947

Konsentrasi : Pertambangan Umum


Program Studi : S1 Teknik Pertambangan
Jurusan : Teknik Pertambangan

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG


PADANG

2015
BIODATA

I. Data Diri
Nama Lengkap : KOKO ADITTIO REZEKI P
No. Buku Pokok : 2011 / 1106947

Tempat / Tanggal Lahir : Babakan Baru, 23 September 1993

Jenis Kelamin : Laki-laki

Nama Bapak : Yanuarsyah

Nama Ibu : Sumini

Jumlah Bersaudara : 3 (Tiga)

Alamat Tetap / Telp : Jalan Gajah Mada 3, no 240, Curup Kota, Rejang
Lebong, Bengkulu.

Email : Kokoadittiorp11@gmail.com

II. Data Pendidikan


Sekolah Dasar : SDN 88 Sukowati, Curup.

Sekolah Menengah Pertama : SMP N 1 Curup.

Sekolah Menengah Atas : SMA N 1 Curup.

Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang

III. Proyek Akhir


Tempat Kerja Praktek : PT. Arkananta Apta Pratista Site 016C ABN Project
Sanga sanga, Kalimantan Timur

Tanggal Kerja Praktek : 19 Januari s.d 19 Maret 2015

Topik Studi Desiminasi :

Sanga sanga, Maret 2015

KOKO ADITTIO REZEKI PUTRA


BP 2011 / 1102380

iii
RINGKASAN STUDI KASUS

PT. Arkananta Apta Pratista merupakan salah satu perusahaan yang


bergerak di bidang kontraktor pertambangan batubara. Saat ini PT. Arkananta
Apta Pratista memiliki empat job site yang sedang berjalan, salah salah
satunya adalah Job site 016C PT. Adimitra Baratama Nusantara (PT. ABN)
yang berlokasi di Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan
Timur.
Penambangan batubara oleh PT. Arkananta Apta Pratista akan
dilakukan dengan cara pembongkaran batuan dengan sistem tambang
terbuka. Target update bulan februari untuk proses overburden removal
adalah 1.355.103 BCM dengan total Coal sebanyak 145.000 TON.
penambangan yang digunakan dalam proses penambangan pada PT.
Arkananta Apta Pratista ini adalah metode conventional mining yang
menerapkan metode kombinasi backhoe and dump truck. Sebelum
penggalian batubara, dilakukan penggalian terhadap overburden. Overburden
adalah lapisan tanah penutup yang menutupi bahan galian.
Proses pemberaian overburden di PT. Arkananta Apta Pratista
dilakukan dengan direct digging ( digali langsung) untuk material
overburden agak keras sedangkan material overburden keras digunakan alat
support yaitu Dozer Ripping, proses pemberaian tidak menggunakan metode
peledakan karena terkendala masalah izin dan lingkungan padahal material yg
harus diberai di lokasi PT. Arkananta Apta Pratista berdasarkan kriteria
kemampugaruan (Pettifer & Fookes, 1994) termasuk klasifikasi material
keras untuk digali. Jadi metode pemberaian yang dapat dilakukan hanya
dengan memanfaatkan ripper yang terdapat pada unit Dozer, namun karena
keterbatasan unit Dozer Ripping mengakibatkan target produksi seringkali
tidak tercapai.
Material keras menyebabkan cycle time menjadi tinggi, khususnya pada
waktu digging. Bucket fill factor yang tidak penuh berpengaruh terhadap
jumlah pass pengisian material overburden ke hauler menjadi lebih banyak.
Dampak lain yang terjadi akibat material keras adalah naik nya fuel
factor unit per-jam, karena perbandingan produksi Overburden yang
dihasilkan oleh excavator tidak sesuai dengan pemakaian fuel per-jam
excavator. Dengan semakin besar angka fuel factor maka biaya untuk
produksi akan semakin meningkat.

iv
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Lapangan
Industri yang berujudul PENGARUH KETERSEDIAAN UNIT SUPPORT
DOZER RIPPING TERHADAP PERBEDAAN PENCAPAIAN TARGET
PRODUKTIVITY EXCAVATOR PADA MATERIAL KERAS DI
PT.ARKANANTA APTA PRATISTA SITE SANGA SANGA
KALIMANTAN TIMUR ini tepat pada waktunya, dengan tujuan sebagai
persyaratan pelaksanaan mata kuliah Kerja Praktek pada semester Januari April
2014 dengan lokasi praktek di PT. Arkananta Apta Pratista site 016C ABN,
Sanga
Sanga, Kalimantan Timur

Laporan ini disusun berdasarkan pengalaman penulis selama


melaksanakan kegiatan Praktek Lapangan Industri di Perusahaan serta yang
penulis peroleh dari referensi pustaka dan buku panduan PLI Fakultas Teknik
Universitas Negeri Padang. Selanjutnya dalam pelaksanaan Praktek Lapangan
Industri ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, maka pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu, Bapak, Kakak, Adik Serta keluarga kandung yang tidak pernah berhenti
memberikan pengorbanan besar, dukungan semangat dan ilmu yang
bermanfaat bagi hidup saya,
2. Bapak Drs. Bahrul Amin, ST, M.Pd, selaku Kepala Unit Hubungan Industri
FT UNP,
3. Bapak Drs. Raimon Kopa, MT selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek,
4. Bapak Drs. Bambang Heriyadi, MT, sebagai Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan FT UNP,
5. Bapak Andi Victor selaku Production Manager PT. ABN atas motivasi dan
dukungan moral yang sangat berharga bagi saya,
6. Bapak Sukarman selaku Project Manager Penambangan PT. Arkananta Apta
Pratista, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk melakukan Kerja
Praktek dan penelitian di PT Arkananta Apta Pratista,

vii
v
7. Bapak Arofik Anwar selaku Production Manager Penambangan PT.
Arkananta Apta Pratista yang telah berkenan mengizinkan untuk terjun
langsung kelapangan melakukan penelitian, serta meniliti unit,
8. Departement Engineer PT. Arkananta Apta Pratista, Pak Desli Darius Lung,
Mas Agung Nugroho Adi Purnomo, serta Mas Adela Helvys, dan Mas Andi
Ashari Ahmad, yang sekaligus menjadi Pembimbingan lapangan atas segala
bimbingan dan arahan dalam penelitian serta penyusunan laporan,
9. Bapak/Ibu staff satuan kerja Penambangan dan seluruh karyawan PT.
Arkananta Apta Pratista site 016C ABN, yang telah membantu dalam
menyelesaikan laporan ini, terkhusus mbak Rika Widia yang selalu direpotkan
dalam proses pelengkapan data,
10. Semua Teman-teman yang telah memberikan dorongan psikologis serta
semangat untuk menyelesaikan laporan ini. Terima kasih atas bantuan doa
serta semangat dalam menyelesaikan laporan ini, terkhusus untuk Andika
Putra,Ayu Anggraini, dan Afriyanti Puspita,
11. Dan semua pihak yang terlibat dalam menyelesaikan laporan ini yang
namanya tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini jauh dari sempurna,
baik dari segi penyusunan, bahasa, ataupun penulisannya. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Semoga dorongan, bantuan, dan doa serta bimbingannya yang telah
diberikan kepada penulis mendapat pahala dan balasan yang setimpal di sisi Allah
SWT. Amin Ya Robbal Alamin.
Billahi Taufik Walhidayah, Wassalamu Alaikum Wr. Wb

Sanga Sanga, Maret 2014

KOKO ADITTIO REZEKI P

viii
v
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i

HALAMAN PENGESAHAN UJIAN KP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii

BIODATA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii

RINGKASAN STUDI KASUS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iv

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . v

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . vi

DAFTAR TABEL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . vii

DAFTAR GAMBAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . viii

DAFTAR LAMPIRAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ix

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang KP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . I-1


B. Deskripsi Perusahaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I-3
C. Deskripsi Kegiatan Industri / Pekerjaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I-22
D. Perencanaan Kegiatan KP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I-35
E. Pelaksanaan Kegiatan KP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I-35
F. Hambatan Dan Penyelesaian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I-44
G. Temuan Yang Menarik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I-44
BAB II. TOPIK BAHASAN

A. Latar Belakang Pemilihan Topik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II-47


B. Kajian Teoritis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II-50
C. Proses Pelaksanaan Kegiatan / Produksi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II-85
D. Analisa dan pembahasan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II-93
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . III-110

ixvi
B. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . III-111
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vi
x
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Koordinat Batas KP milik owner (PT. ABN) .......................... 7

2. Data Curah Hujan Bulanan Tahun 2004-2007......................... 10

3. Data Hari Hujan tahun 2004-2007 ........................................... 11

4. Statigrafi Lembar Samarinda, Kalimantan Timur.................... 14

5. Populasi Unit Operation PT. Arkananta Apta Pratista ............. 34

6. Jadwal Kegiatan ....................................................................... 35

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Struktur Organisasi PT. Arkananta Apta Pratista ................................ 5

2. Letak Administratif KP PT. ABN ........................................................ 6

3. Peta Geografis PT. ABN ...................................................................... 8

4. Peta Kesampaian Daerah PT. ABN ..................................................... 9

5. Peta Geologi Regional Daerah Sanga Sanga ....................................... 13

6. Peta Struktur Geologi PT. ABN ........................................................... 16

7. Pemebentukan Batu Bara ..................................................................... 18

8. Kegiatan Survey ................................................................................... 24

9. Kegiatan Land Clearing ....................................................................... 25

10. Kegiatan Pengupasan Top Soil............................................................. 26

11. Kegiatan Pengupasan OB..................................................................... 27

12. Kegiatan Loading OB .......................................................................... 28

13. Kegiatan Haulling OB.......................................................................... 29

14. Kegiatan Dumping ............................................................................... 30

15. Unit Excavator ..................................................................................... 31

16. Unit Riggid Dump Truck ...................................................................... 31

17. Unit Dozer ............................................................................................ 32

18. Pengambilan Data Survey .................................................................... 40

19. Aktivitas Penambangan........................................................................ 41

20. Kegiatan Ripping.................................................................................. 42

21. Perbedaan Bucket Fill Factor............................................................... 43

viii
22. Formasi Balik Papan Dengan Seam Berlapis....................................... 45

23. Underpass Di Blok 8............................................................................ 45

24. Sump PT. Arkananta Apta Pratista....................................................... 46

25. Swabakar Pada Seam 10 PT. Arkananta Apta Pratista ........................ 46

26. Perbandingan Produksi Plan dan Actual Januari 2015 ........................ 49

27. Perbandingan Fuel Factor Plan dan Actual Januari 2015 ................... 49

28. Pola Pemuatan Frontal Cut .................................................................. 72

29. Pola Pemuatan Parallel Cut Drive ....................................................... 72

30. Pola Pemuatan Parallel Cut with Turn and back................................. 73

31. Top Loading ......................................................................................... 74

32. Bottom Loading .................................................................................... 74

33. Lebar Jalan Angkut Minimum pada Jalan Lurus ................................. 75

34. Lebar Jalan Angkut Minimum pada Tikungan ................................... 76

35. Ilustrasi Bucket Fill Factor .................................................................. 79

36. Excavator ............................................................................................. 82

37. Dozer Ripping ...................................................................................... 83

38. Pemuatan OB ....................................................................................... 89

39. Proses Ripping Material Keras............................................................. 90

40. Pengangkutan OB ke Disposal............................................................. 91

41. Dumping OB di Disposal ..................................................................... 75

ix
viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Populasi Unit PT. Arkananta Apta Pratista .............................. A1

2. Spesifikasi Alat ........................................................................ B1

3. Cycle time Excavator Hitachi 1900.......................................... C1

4. Cycle time Excavator Komatsu PC 2000 ................................. D1

5. Cycle time Excavator Hitachi 1200.......................................... E1

6. Cycle time Dozer Ripping Komatsu D 155A ........................... F1

7. Cycle Time Dozer Ripping Caterpillar D 10 T ......................... G1

8. Faktor Pengembangan Material (Sweel Factor) ..................... H1

9. Faktor Effisiensi Mekanis ........................................................ I1

x
ix
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang kegiatan Kerja Praktek

Melalui Unit Hubungan Industri Universitas Negeri Padang Fakultas

Teknik mewajibkan setiap Mahasiswa melaksanakan kegiatan Kerja Praktek

sebagai Mata kuliah pada semester akhir dengan bobot 3 sks dengan syarat

telah menyelesaikan Satuan Kredit Semester (SKS) sebanyak 120 SKS.

Penulis melaksanakan kegiatan ini untuk memenuhi salah satu syarat yang

diajukan untuk menyelesaikan program S1 Teknik Pertambangan di

Universitas Negeri Padang, dimana pelaksanaannya meliputi tiga kegiatan

pokok yaitu kegiatan praktek lapangan dan penyusunan laporan ilmiah serta

desiminasi.

Pada kegiatan ini penulis berusaha untuk mendapatkan/menggali

pengetahuan dan pengalaman praktis di lapangan/industri, memupuk sikap

dan etos kerja mahasiswa sebagai calon tenaga kerja professional yang siap

kerja, serta Mahasiswa mendapat pengetahuan dan pengalaman praktis di

lapangan tentang teknis perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan pekerjaan

teknik pertambangan dalam rangka melengkapi pengetahuan dan

keterampilan yang telah didapatkan dalam perkuliahan.

Penulis melaksanakan kegiatan Praktek ini pada PT. Arkananta Apta

Pratista yang merupakan suatu badan usaha yang bergerak dalam jasa

kontraktor penambangan batubara di PT. Adimitra Baratama Nusantara

(ABN)

1
2

1. Tujuan Pelaksanaan PLI

a. Meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri penulis dalam

memasuki dunia kerja nantinya.

b. Mengaplikasikan ilmu yang sudah penulis peroleh selama di bangku

perkuliah pada saat di dunia kerja.

c. Membentuk kepribadian yang mampu mengahadapi tantangan di masa

mendatang dengan penuh tanggung jawab.

d. Menyusun sebuah laporan sebagai syarat untuk melengkapi kegiatan

PLI.

2. Manfaat Pelaksanaan PLI

a. Mengukur seberapa besar penguasaan ilmu pengetahuan yang

diperoleh penulis selama kuliah dengan tuntutan dan kebutuhan dunia

industri.

b. Memberikan pemahaman empiris tentang dunia industri secara umum

dan segala hal.

c. Tumbuhnya rasa kedisiplinan yang tinggi bagi penulis dalam berbagai

aspek.

d. Mempersiapkan diri sebelum terlibat langsung dalam dunia industri

melalui aktifitas dan pemahaman yang ditemukan di industri.


3

B. Deskripsi Perusahaan

1. Sejarah Perusahaan

PT. Arkananta Apta Pratista merupakan salah satu perusahaan yang

bergerak di bidang kontraktor pertambangan batubara. PT. Arkananta Apta

Pratista didirikan pada bulan agustus 2004, project pertama PT. Arkananta

Apta Pratista diawali dengan menjadi kontraktor pada PT. Dharma Puspita

yang beroperasi di Kendang Ipil, Kota Banun Kutai pada bulan November

2004.

Terinsipirasi dengan kesuksesan pada proyek penambangan di PT.

Dharma Puspita Mining, PT. Arkananta Apta Pratista melebarkan sayap

nya dengan melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan di

Indonesia, diantara nya adalah PT. Bara Indah Lestari yang merupakan

perusahaan batubara yang beroperasi di Provinsi Bengkulu, PT.

Kemakmuran Pertiwi Mining yang merupakan perusahaan nikel dan

beroperasi di Halmahera, PT. Nusa Alam Lestari yang merupakan

perusahaan batubara yang beroperasi di Sawah Lunto, PT. Anugrah

Tompira Nikel yaitu perusahaan nikel yang beroperasi di Sulawesi

Tengah, PT. Nusantara Trade Net yang merupakan perusahaan batubara

yang beroperasi di Kutai Kartanegara, PT. Tambang Damai yang

merupakan perusahaan batubara yang beroperasi di Kutai Kartanegara dan

PT. Tanito Harun yang merupakan perusahaan batubara yang beroperasi di

Kutai Kartanegara, semua project kerja sama dengan perusahaan tersebut

tercapai tepat waktu dan memuaskan sesuai kontrak yang disepakati.


4

Saat ini PT. Arkananta Apta Pratista memiliki empat job site yang

sedang berjalan, yaitu job site di PT. Adimitra Baratama Nusantara (PT.

ABN) yang berlokasi di Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kertanegara,

Kalimantan Timur, jobsite PT. Kitadin yang berlokasi di Kutai

Kartanegara, jobsite PT. Penajam Prima Coal yang belokasi di Penajam,

Kalimantan Timur, dan terakhir PT. Kayan Prima Utama Coal yang

berlokasi di Malinau.

2. Data Umum Perusahaan

Berikut ini merupakan data umum dari perusahaan PT. Arkananta

Apta Pratista :

Nama : PT. Arkananta Apta Pratista.

Alamat : Jl. MT. Haryono No. 131-133, RT. 43 Balikpapan Utara

Telephone : (0542) 7212700

Website : http://www.arka.co.id

3. Visi Dan Misi Perusahaan

Visi dan Misi PT. Arkananta Apta Pratista adalah :

Secara konsisten memberikan pelayanan yang terbaik kepada

pelanggan, dan mematuhi semua peraturan pemerintah yang diperlukan

dalam mencapai target.

4. Struktur Organisasi Perusahaan

Berikut adalah struktur organisasi PT. Arkananta Apta Pratista job

site PT. ABN Sanga sanga, Kalimantan Timur. (Gambar 1)


5
6

5. Lokasi, Luas dan Kesampaian Daerah

Wilayah KP milik PT. ABN yang dikerjakan oleh PT. Arkananta

Apta Pratista secara administratif termasuk ke dalam wilayah Desa

Kampung Jawa dan Desa Muara Kembang, Kecamatan Sangasanga,

Kabupaten Kutai Kartanegara. Berada dalam wilayah antara aliran Sungai

Sangasanga dengan distributary channel Muara Jawa (Gambar 2)

(Sumber : Dokumentasi Perusahaan)


Gambar 2. Letak Administratif Area Kuasa Pertambangan
milik PT.ABN yang dikerjakan PT. Arkananta Apta Pratista
Skala 1: 20.000.000
7

Batas batas wilayah kecamatan sanga sanga, kampung jawa kutai

kartanegara adalah sebagai berikut :

a. Utara : Kota samarinda (kecamatan palaran) dan kelurahan sanga sanga

dalam

b. Selatan : kecamatan Muara Jawa

c. Barat : Kecamatan Muara Jawa

d. Timur : Kelurahan Pendingin

Secara geografis terletak pada koordinat sebagai berikut (Tabel 1) dengan

Luas area berdasarkan letak geografis adalah 2.990 Hektar.

Tabel 1. Koordinat Batas KP milik PT. ABN


8

(Sumber : Dokumentasi Perusahaan)


Gambar 3. Peta Geografis Area KP milik PT. ABN.

Area KP milik PT. ABN dapat dicapai dari 2 arah, baik dari arah

Samarinda maupun arah Balikpapan. Dari arah Samarinda bisa ditempuh

melalui jalan propinsi dengan menggunakan rute: Samarinda-Palaran-

Sangasanga selama 45 menit. Dari arah Balikpapan bisa ditempuh

melalui jalan propinsi dengan menggunakan rute: Balikpapan Samboja-

Dondang-Sangasanga selama 2 jam (Gambar 4).


9

(
S
u
m
b
e
r

D
o
k
u
m
e
n
t
a
s
i

P
e
r
u
s
a
10
haan)
Gambar 4. Peta Kesampaian Daerah Area KP milik PT.ABN

6. Flora dan Fauna

Secara umum daerah penelitian terdiri dari semak belukar dan rawa-

rawa dan sebagian lainnya terdiri dari tanaman perkebunan dan hutan

muda. Jenis flora yang masih tumbuh dan tersisa di daerah survei antara

lain terdiri dari karet, sengon, semak belukar dan berbagai jenis perdu

lainnya. Sedangkan jenis fauna yang dijumpai antara lain ular, biawak,
babi hutan, payau / rusa, kancil, kura-kura, buaya, kera serta berbagai jenis

burung dan ikan laut dan airtawar.

7. Iklim dan Curah Hujan

Daerah penyelidikan beriklim subtropis basah, terletak dekat dengan

garis khatulistiwa sehingga mempunyai musim yang agak berbeda dengan

daerah lain di Indonesia. Batas antara musim hujan dan musim kemarau

tidak menentu. Berdasarkan data-data dari Kecamatan Sanga-sanga,

temperatur rata-rata 27,3C, temperatur terendah sekitar 22.12C dan

temperatur tertinggi sekitar 32.36C. Kelembaban udara relatif rata-rata

adalah 83.18%. Berdasarkan data yang diambil dari Stasiun Meteorologi

dan Geofisika Samarinda curah hujan tertinggi terjadi pada bulan februari,

sedangkan yang terendah terjadi pada bulan Agustus. Dari Kasifikasi

Iklim, daerah penambangan termasuk basah dimana rata- rata curah hujan

setiap bulannya > 100 mm/bulan. Sedangkan menurut klasifikasi Oldeman,

tipe iklim di lokasi rencana penambangan memiliki rata-rata curah hujan di

daerah penambangan termasuk lembab (Curah hujan antara 100 mm/bulan

sampai dengan 300 mm/bulan) (Tabel 2).

Tabel 2
Data Curah Hujan Bulanan Tahun 2004-2007
Dari data jumlah hari hujan selama 4 tahun terlihat bahwa jumlah hari

hujan terendah terjadi pada bulan Agustus 2004, yaitu sebanyak 1 hari

dalam sebulan, sedangkan jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada bulan

Januari tahun 2007, yaitu sebanyak 25 hari. Adapun rata-rata jumlah hari

hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Mei, yaitu 23 hari dan terendah

pada bulan Agustus, yaitu sebanyak 13 hari dalam sebulan. Adapun rata-

rata jumlah hari hujan tahunan mencapai 138 mm. Untuk lebih jelasnya

lihat (Tabel 3)

Tabel 3
Data Hari Hujan Tahun 2004-2007

8. Topografi dan Morfologi

Morfologi daerah penelitian secara umum berupa perbukitan sedang

terjal. Perbukitan umumnya memanjang Timurlaut Barat daya sesuai

dengan pola kelurusan regional yang diasumsikan sebagai jalur sesar dan

sumbu lipatan. Ketinggian topografi berkisar antara 15 40 m diatas

permukaan laut. Daerah penelitian dekat dengan sumbu antiklin dengan

jurus lapisan berarah Timur laut Tenggara dan kemiringan kearah Barat

Baratdaya. Dataran umumnya berupa lembah, dan memiliki lithologi

sama dengan daerah perbukitan., dan morfologi dataran dimana pada


daerah rendahan umumnya berupa rawa-rawa yang mana cukup banyak

tersebar di lokasi penyelidikan.

a. Morfologi Daratan

Satuan morfologi ini menempati sekitar 55% dari luas daerah

penyelidikan dengan sebagian besar adalah berupa rawa-rawa terutama

di bagian Timur, rawa rawa menyebar cukup luas sampai ke Delta

Mahakam. Vegetasi yang ada sebagian besar adalah tumbuhan khas

rawa seperti nipah dan semak- semak rawa. Selain itu pada morfologi

ini juga terdapat rawa-rawa musiman dimana diwaktu musim kemarau

ditumbuhi oleh ilalang sedangkan pada waktu musim hujan di genangi

air, elevasi berkisar antara 0 meter dpl sampai 2 meter dpl. Sungai

sungai yang di temui umumnya hanya mengalir pada waktu hujan

deras.

b. Tata Guna Lahan

Wilayah penyelidikan sebagian besar merupakan hutan muda

dan semak belukar yang menempati pada morfologi perbukitan,

sedangkan pada daerah rendahan yang merupakan dataran umumnya

ditempati rawa-rawa dan tumbuhan ilalang. Dataran rawa menempati

secara merata di wilayah bagian Timur sedangkan perkampungan

penduduk menempati bagian Utara dan sebagian di sekitar jalan utama.

Di bagian Barat dekat perbatasan wilayah penyelidikan terdapat lahan

kebun karet milik penduduk sekitar.


9. Geologi

a. Geologi Regional

1) Tatanan Tektonik dan Fisiografi

Secara regional daerah penyelidikan termasuk dalam Cekungan

Kutai, dengan litologi hampir semua Formasi pengisi Cekungan

Kutai mengandung batupasir kuarsa, batulanau, batulempung

dengan sisipan batubara (Gambar 5).

(Sumber : Dokumentasi Perusahaan)


Gambar 5. Peta Geologi Regional Daerah Sangasanga

Urutan stratigrafi batuan penyusun Cekungan Kutai dari tua ke

muda adalah : Formasi Pamaluan, Formasi Pulubalang, Formasi

Balikpapan, Formasi Kampungbaru dan Aluvium. Diendapkan

dalam lingkungan pengendapan Neritik sampai Paralik (litoral,

delta dan laut terbuka) dan dipengaruhi oleh pasang surut\dengan


kisaran umur Oligosen hingga Holosen. Formasi-formasi tersebut

mengalami gangguan tektonik sehingga terangkat membentuk

perlipatan berupa antiklin dan sinklin disertai patahan. Erosi dan

pelapukan yang menyebabkan batuan terkikis dan tertransport

membentuk endapan alluvium dan daerah pedataran.

2) Stratigrafi Regional

Tabel 4. Stratigrafi Lembar Samarinda,Kalimantan Timur

Berdasarkan hasil pendataan lapangan, daerah penyelidikan

tersusun oleh batuan dari tua ke muda yaitu : Formasi

Kampungbaru dan formasi Balikpapan. Stratigrafi ini dapat

dijelaskan sebagai berikut (Tabel 4)

a) Formasi Kampungbaru

Formasi ini tersingkap dibagian timur dan barat daerah

penyelidikan dengan litologi terdiri dari batupasir kuarsa dan


batulempung dimana secara fisik kompaksinya tidak begitu kuat

.kemiringannya lapisan berkisar antara 45- 60 di Blok Timur

dan 100 - 200 di Block Barat. Batupasir kuarsa berwarna putih

kekuningan, struktur graded dan laminasi kadang terdapat

sisipan lanau. Batulempung berwarna abu-abu, liat, lembek

(lapuk) dan batubara berwarna hitam, kecoklatan, kusam, getas,

jika lapuk merekah dan mudah hancur, gores kecoklatan

sebagian terdapat struktur kayu. Umur formasi ini adalah

Pliosen dengan lingkungan pengendapan paralik.

b) Formasi Balikpapan

Formasi ini tersingkap dibagian tengah wilayah

penyelidikan dengan litologi terdiri dari batupasir, batupasir

kwarsa, batulempung dan batubara. Kemiringan lapisan

berkisara antara 18 sampai 35. Batupasir, berwarna kuning

kecoklatan, pasir halus-sedang, kekompakan sedang sampai

kuat, kwarsa. Batulempung, abu-abu cerah sampai abuabu gelap

dan batubara berwarna hitam, kilap sedang, gores kecoklatan,

setempat dijumpai pirit dan mineral sulfide, keras. Umur

fromasi Balikpapan adalah Miosen Tengah sampai Miosen Atas

dan diendapkan pada lingkungan paralik.


b. Geologi Lokal PT. ABN

1) Struktur Geologi

Berdasarkan hasil kegiatan explorasi detil berupa data

pemetaan permukaan dan peboran explorasi dengan spasi 125

meter maka dapat dipastickan bahwa struktur geologi utama yang

ada di area konsesi adalah Antiklin Sangasanga yang memotong

sepanjang area konsesi dari Timur Laut - Baratdaya dengan arah

N30E. (Gambar 6)

(Sumber : Dokumentasi Perusahaan)


Gambar 6. Peta Struktur Geologi PT.ABN

Antiklin ini menunjam ke arah selatan dengan penunjaman mulai

bagian tengah area konsesi dengan flunge 10. Sayap bagian


barat antiklin mempunyai kemiringan 20 70 sedangkan di

bagian timur mempunyai kemiringan 20-45. Antiklin ini

diperkirakan terjadi karena compressive strenght dari arah Baralaut

Tenggara, dimana saat terjadi release gaya tersebut menyebabkan

terbentuk beberapa sesar oblique yang berarah Barat Laut-

Tenggara terutama pada sayap bagian Timur yang conjugate

sehingga berbentuk horst. (Gambar 6).

2) Statigrafi

Berdasarkan hasil pemboran detil dengan spasi jarak antar

titik pemboran ke arah strike 125 meter dan beberapa 1000 meter

maka stratigrafi area PT. ABN adalah sebagai berikut (Gambar 7).

Area konsesi tersusun oleh satuan batupasir dan batu lempung

dengan sisipan batubara yang merupakan bagian dari Formasi

Balikpapan bagian atas. Satuan ini menempati 2/3 area konsesi di

bagian timur. Satuan Batuan ini tertindih tidak selaras berupa

bidang erosi oleh Satuan batupasir dengan lapisan tipis batubara

yang merupakan bagian bawah dari Formasi Kampung Baru.

Area konsesi tersusun oleh satuan batupasir dan batu lempung

dengan sisipan batubara yang merupakan bagian dari Formasi

Balikpapan bagian atas. Satuan ini menempati 2/3 area konsesi di

bagian timur. Satuan Batuan ini tertindih tidak selaras berupa

bidang erosi oleh Satuan batupasir dengan lapisan tipis batubara

yang merupakan bagian bawah dari Formasi Kampung Baru.


Gambar 7. Pembentukan Batubara

10. Ganesa Batubara

Pengertian umum batubara adalah batuan sedimen yang dapat

terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa

tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur

utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara juga

adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang

kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur

memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk

bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit. Pembentukan batu bara

memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era


tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta

tahun yang lalu , adalah masa pembentukan batu bara yang paling

produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang

ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian,

kira-kira 270 jt lalu, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang

ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan

berlangsung terus hingga ke Zaman ersier (70 13 jtl) di berbagai

belahan bumi lain.

a. Materi pembentuk batu bara

Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan.

Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut

Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

1) Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel

tunggal. Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.

2) Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turun

dari alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.

3) Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama

pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika

Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan

spora dan tumbuh di iklim hangat.

4) Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga

Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam

buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis


Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah

penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan

Afrika.

5) Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis

tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina

dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae

sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

b. Kelas dan jenis batu bara

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh

tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima

kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.

1) Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam

berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% 98% unsur

karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.

2) Bituminus mengandung 68 86% unsur karbon (C) dan berkadar

air 8-10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak

ditambang di Australia.

3) Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan

oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien

dibandingkan dengan bituminus.

4) Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak

yang mengandung air 35-75% dari beratnya.


5) Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai

kalori yang paling rendah. (Stach, 1982).

c.Cadangan dan Kualitas Batubara

Jumlah Sumberdaya Batubara terukur hasil Explorasi 2006-

2007 untuk seluruh Blok adalah 80.860.000 Ton sedangkan hasil

Explorasi 2007-2010 menjadi 108.791.872 Ton, sehingga terjadi

penambahan Sumberdaya Batubara sebesar 27.931.872 Ton.

Sumberdaya terukur (Inferred resource): 108.791.872 Ton,

sumberdaya tertunjuk (Indicated Resource): 76.763.837 Ton, dan

sumberdaya tereka (Measure Resource): 278.802.638 Ton. Jumlah

Cadangan Tertambang Batubara hasil Explorasi 2006-2007 adalah

49.880.426,85 Ton sedangkan hasil Explorasi 2007-2010 adalah

sebesar 73.074.762 Ton sehingga terjadi penambahan Cadangan

Tertambang sebesar 23.194.335,15 Ton.

Jumlah Cadangan Tertambang (Mining Reserve) hasil Explorasi 2007-

2010 sesuai dengan rencana tambang adalah sebagai berikut:

1) Block Timur terdiri dari 3 Pit dengan kedalaman tambang -180

meter untuk Pit 1 dan Pit 4 serta -100 untuk Pit 6 adalah

59.461.935,70 Ton dengan Stripping Rasio 11.36

2) Block Barat terdiri dari 4 Pit dengan kedalaman tambang -150

meter untuk Pit7, -0 untuk Pit 7A, -40 untuk Pit 7B dan -60 untuk

Pit 7C adalah 11.524.376 ton dengan Stripping Rasio 14.38.


Jenis Batubara yang diendapkan adalah Sub-Bituminus dengan

Kualitas sebagai berikut:

a) Block Timur, Total Moisture: 12.37% - 40.39% (adb), Ash:

1.02% - 12.23% (adb), Total Sulfur: 0.20% - 3.33 %, Caloric

Value: 4.473 cal/g 6.880 cal/g (adb), Relative Density: 1.16 -

1.48, Hardgrove Grindability Index: 37 68.

b) Block Barat, Total Moisture: 13.40% - 37.50% (adb), Ash:

1.59% - 20.50% (adb), Total Sulfur: 0.24% - 5.23 %, Caloric

Value: 4.469 cal/g 6.462 cal/g (adb), Relative Density: 1.28 -

1.44, Hardgrove Grindability Index: 31 55.

C. Deskripsi Kegiatan Industri

Kegiatan Praktek Lapangan Industri ini terdiri dari pengamatan seluruh

kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. Arkananta Apta Pratista. Site

Sangasanga, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

1. Kegiatan Penambangan

Berdasarkan bentuk dan karakteristick lapisan batubara serta

lapisan

penutupnya, metode yang diterapkan adalah open pit dimana lapisan

penutup akan digali kemudian dipindahkan ke lokasi penimbunan

menggunakan dump truck. Operasi penambangan yang dilakukan

meliputi penggalian bebas, penggaruan, pemuatan dan pengangkutan.


Pada subdrop batubara dimana pada daerah tersebut merupakan batas

penggalian harus dibuat paritan sepanjang strike batubara yang

tujuannya untuk mengurangi kontaminasi batubara jika terjadi hujan.

Dimensi paritan tersebut kurang lebih sebesar bucket excavator

sekelas 20 30 ton. Excavator harus menyisakan overburden 10 cm dari

roof batubara untuk daerah yang diperkirakan masih dilewati truck.

Ketika excavator meratakan dan membersihkan daerah di sekitar truck

ketebalan tanah di pertahankan 10 cm dari roof batubara. Bila diperlukan,

Quality Control Engineer atau Mine Plan Engineer bertanggung jawab

untuk membuat test pit pada setiap batubara yang telah dibuka.

Tujuannya adalah untuk mengetahui ketebalan batubara dan proses

pengambilan contoh / sample batubara untuk keperluan analisa

kualitasnya. Bekas penggalian untuk pengambilan contoh harus di tutup

kembali. Batas batubara pada daerah subcrop harus dicari sehingga

tidak meninggalkan sisa batubara. Bila kemiringan lapisan batubara

terjal, perlu diperghitungkan kemampuan jangkau alat galinya.

Direkomendasikan pembukaan dan pembersihan batubara dengan

system slice yang tingginya disesuaikan dengan alatnya agar tidak

mempersulit proses penggalianya. Secara garis besar kegiatan

penambangan dibagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:

a. Survey dan Pemetaan

Kegiatan ini merupakan faktor penting dalam kegiatan

penambangan, dan juga merupakan cikal bakal untuk melakukan


perencanaan suatu kegiatan penambangan. Alat ukur yang harus di

gunakan untuk pengukuran (pemetaan) topografi atau progress adalah

alat ukur total station yang minimal mempunyai ketelitian sudut 2

dan ketelitian jarak (3+2ppmxD) agar menghasilkan ketelitian

pengukuran yang akurat. Titik kontrol survey (bench mark) yang

akan di buat acuan untuk pengukuran topografi adalah hasil dari

pengamatan menggunakan GPS Geodetic, dimana penempatan titik

kontrol (bench mark) harus sesuai dengan strange of figure (SOF)

dan sesuai dengan standart pengamatan GPS.(Gambar 8).

(Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 8. Kegiatan survey

b. Pembersihan Lahan (Land Clearing)

Kegiatan Land Clearing adalah proses pembersihan lahan dari

pepohonan maupun semak-semak sebelum aktivitas penambangan.

Sebelum dilakukan land clearing harus dilakukan dokumentasi.

Land clearing hanya boleh dilakukan pada siang hari. Land

clearing
hanya bisa dilakukan setelah tim surveyor memberikan batas yang

jelas daerah land clearing. Tanda batas tersebut berupa patok kayu

dengan pita berwarna. Batas land clearing harus berada diluar batas

penggalian dengan jarak 25 meter. Bulldozer adalah alat yang cocok

untuk melakukan pekerjaan land clearing dengan kondisi lantai

kering dan keras dengan ukuran diameter tumbuhan maksimal 30

cm. Bila ukurn diameter tumbuhan lebih besar dari 30 cm maka

untuk menumbangkannya dipakai gergaji mesin/chainsaw. Untuk

area dengan kondisi lantai kerja yang lunak atau rawa, tumbuhan

dengan ukuran diameter lebih dri 30 cm bisa ditumbangkan oleh

excavator kecil ataupun chainsaw. Karena kegiatan land clearing di

bukit, Dozer harus selalu melakukannya secara DownSlope Dozing

artinya Dozer melakukan pendorongan selalu kearah bawah.

(Gambar 9).

(Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 9. Kegiatan land clearing

c. Pengupasan Top Soil

Setelah dilakukan land clearing, maka selanjutnya pengupasan

tanah pucuk atau top soil ketebalan 0,5-1meter yang berada pada

bagian paling atas. Pengupasan top soil dilakukan sampai batas

lapisan sub soil, yaitu pada kedalaman dimana telah sampai

dilapisan batuan penutup (tidak mengandung unsur hara).


Pengupasan dan pemuatan top soil dilakukan dengan menggunakan

excavator berjenis Hitachi 1200. Dan selanjutnya akan diangkut

menggunakan OHT (Off highway Truck) CAT 777D dan Komatsu

785C. Tanah pucuk yang terkumpul untuk selanjutnya akan

dipergunakan sebagai lapisan teratas pada lahan disposal yang

telah berakhir dan memasuki tahapan reklamasi.(Gambar 10).

(Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 10. Kegiatan pengupasan top soil

d. Pengupasan Overburden (Stripping) atau Interburden

Overburden (OB) merupakan lapisan penutup yang bersifat

tidak humus yang menutupu lapisan batubara. Pengupasan lapisan

overburden dilakukan perblok. Sedangkan Interburden merupakan

lapisan batuan diantara dua seam batubara. Pengupasan overburden

di PT. Arkananta Apta Pratista Sendiri lebih di kenal sebagai proses

stripping dimana proses ini adalah proses loading overburden yang


belum mendapat kan batubara. Pengupasan lapisan batuan penutup

ini dilakukan dengan menggunakan excavator Hitachi 2500, yang

kapasitas bucket 15 bcm. Jika material terlalu keras, maka harus di-

ripping dahulu dengan menggunakan Buldozer. (Gambar 11)

(Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 11. Kegiatan pengupasan OB

e. Pemuatan (Loading) Overburden


Kegiatan pemuatan tanah penutup merupakan kegiatan untuk

memuat material hasil pengupasan ke alat angkut OHT (Off highway

Truck) dengan alat mekanis Excavator yang juga berfungsi sebagai

alat gali-muat. Metode pemuatan (loading) ada dua cara yaitu top

loading dan bottom loading. Akan Tetapi yang sering diterapkan

adalah top loading, dimana posisi alat muat lebih tinggi dibandingkan

dengan posisi alat angkutnya. Metode ini memiliki keuntungan

diantaranya operator alat excavator lebih leluasa menempatkan


material yang hendak diangkut pada vessel alat angkutnya. Selain itu

waktu siklus untuk alat muat pun juga akan semakin singkat.

Loading Overburden sendiri menggunakan Excavator

Komatsu PC 2000, kapasitas bucket 12 bcm. (Gambar 12).

(Sumber : Dokumentasi Penulis)


Gambar 12. Kegiatan loading OB

f. Tahap Pengangkutan (Hauling) Overburden

Kegiatan pengangkutan lapisan tanah penutup

(overburden/interburden) dilakukan dengan menggunakan alat angkut

OHT (Off Highway Truck) type Caterpillar 777D yang berkapasitas 100-

105 ton Overburden diangkut oleh hauler menuju ke disposal area.

(Gambar 13).
(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Gambar 13. Kegiatan haulling OB

g. Tahap penimbunan (dumping) Overburden

Tahapan penimbunan atau yang lebih di kenal dengan

dumping merupakan kegiatan yang di lakukan pasca pengangkutan.

Material tanah penutup akan dibawa ke disposal area yang telah

direncanakan sebelumnya. Sebuah disposal area harus dirancang

dengan baik yaitu mulai dari sistem pengaliran airnya. Perlu

diperhatikan jarak lokasi dumping dengan beberapa area yang penting

seperti : area tambang yang aktif, sungai ataupun fasilitas

infrastructure lainnya. Di PT. Arkananta Apta Preatista, tahap

penimbunan menggunakan metode tambang terbuka dengan sistem

backfilling, sehingga disposal area tidak hanya dirancang di luar pit,

tetapi juga ada yang dirancang di dalam pit (inpit), yaitu pada daerah-

daerah yang batubaranya telah ditambang atau pada daerah yang

batubaranya belum di ambil. (Gambar 14)


(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Gambar 14. Kegiatan dumping

2. Peralatan Tambang

a. Alat Tambang Utama

Adalah alat yang dipakai untuk operasi produksi. Adapun Alat

Tambang Utama (ATU) dalam sistem penambangan PT. Arkananta

Apta Pratista antara lain Excavator Hitachi 2500 , Komatsu PC 2000 2

(unit) , Hitachi 1900 , Hitachi 1200 2 (unit) dan Komatasu PC 1250,

Dump truck yang digunakan adalah OHT CAT 777D (30 unit), HD

785 (13 unit), CAT 773 (5 unit) serta alat penunjang lain nya seperti

Dozer, Grader, dll

1. Hidraulic Excavator

Hidroulic Excavator (Gambar 15) merupakan alat yang

berfungsi menggali atau memuat material, disamping itu alat ini

juga berfungsi untuk pembersihan lahan, pembuatan saluran dan

pembuatan jenjang (slope).


(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Gambar 15. Kegiatan loading OB
2. Alat Agkut (hauler)

Alat ini berfungsi untuk mengangkut atau memindahkan

material overburden, interburden dan lumpur keluar lokasi

tambang. Jenis Dumptruk yang digunakan ada 2 jenis yaitu Off

Highway Truck (OHT) CAT 777D dan Komatsu 785C dengan

Kapasita pesel 60bcm/100ton jenis vassel Tapered Body, Light

Body dan Tail Gate.(Gambar16).

(Sumber : Dokumentasi Penulis)


Gambar 16. Off Highway Truck (OHT) CAT 777D dan Komatsu
785C
3. Bulldozer

Merupakan alat dorong dan gali yang dapat membantu

pekerjaan alat-alat muat, disamping itu alat ini juga berfungsi

untuk memberai, mendorong dan meratakan tanah yang akan

digali. Jenis Bulldozer yang digunakan adalah Bulldozer

caterpillar D10T sebagai alat gali atau ripping. (Gambar 17).

(Sumber : Dokumentasi Penulis)


Gambar 17. Dozer

b. Alat Penunjang Tambang

Adalah alat yang dipakai untuk menunjang kegiatan operasi

penambangan. Adapun yang termasuk Alat Penunjang Tambang di

PT. Adimitra Baratama Nusantara yaitu sebagai berikut:

1. Water Pump

Merupakan peralatan yang digunakan untuk memindahkan zat cair

atau fluida yang berada pada sump dalam area penambangan

menuju kolam pengendapan di luar tambang.


2. Motor Grader

Motor Grader merupakan alat yang berfungsi untuk

meratakan tanah yang digunakan sebagai perawatan jalan tambang.

Alat ini berperan dalam perawatan jalan yang merupakan salah satu

faktor penentu ketercapaian target produksi.

3. Water Tank

Water Tank merupakan truk pengangkut air yang berfungsi

untuk penyiraman disekitar jalan tambang yang bertujuan untuk

menguarangi debu pada musim panas. Dan di sini water tank wajib

menyiram putus-putus.

4. Lighting Tower

Lighting Tower merupakan sarana penerangan minimum yang

diadakan untuk membantu operasional dalam melaksanakan aktivitas

di malam hari. Karena penerangan sangat lah penting dalam

pengoprasian unit di dalam kawasan tambang.

Lighting tower di gunakan pada malam hari di mana jam kerja

malam hari sama dengan jam kerja pada siang hari. Kegiatan yang di

lakukanpun sama dengan kegiatan pada siang harinya. Sarana

penerangan lighting tower ini di pasang di semua tempat yang di

anggap di perlukan penerangan

Berikut adalah lampiran populasi unit yang digunakan oleh PT.

Arkananta Apta Pratista (Tabel 5).


Table 5.
Populasi unit operation PT. Arkananta Apta Pratista

Capacity
No Equipment Type Brand Unit Model Condition
/ Power

Hitachi 1 EX 2500-6 15 m3 Ready

Hitachi 2 Ex 1900-6 12 m3 Ready

Hitachi 1 EX 1200-6 6.7 m3 Ready

1 Hydraulic Excavator Hitachi 1 EX 870 3.4 m3 Ready

Cobelco 2 SK-480LC 2.5 m3 Ready

Komatsu 2 PC 2000 12 m3 Ready

Caterpillar 1 385 5.4 m3 Ready

Caterpillar 15 OHT 777 D 40 Bcm 7 Breakdown

Caterpillar 16 OHT 777 HB 44 bcm 2 Breakdown

2 Rigid Dumptruck Caterpillar 4 OHT 777 LV 44 bcm Ready

Komatsu 8 HD 785 40 Bcm 4 Breakdown

Komatsu 8 HD 773 24 Bcm 3 Breakdown

Caterpillar 2 D 10 T 646 HP Ready


3 Bulldozer
Komatsu 4 D 155 A 338 HP 2 Breakdown

Caterpillar 2 14 M - Ready
4 Motor Grader
Caterpillar 1 16 M - Ready
D. Perencanaan Kegiatan Kerja Praktek

Praktek Lapangan Industri di PT. Arkananta Apta pratista

direncanakan di mulai dari tanggal 4 Agustus 3 September 2014.

minggu ke-
NO Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8
Orientasi lapangan
1
Pengamatan lapangan
2
Pengumpulan data lapangan
3
Penyusunan laporan
4
Tabel 6. Jadwal Kegiatan

E. Pelaksanaan Kerja Praktek

Kegiatan KP terdiri dari rangkaian kegiatan yang berhubungan antara satu

dengan yang lainnya, mulai dari awal sampai pada tahap penyusunan laporan.

Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pra-KP

Pada tahap ini penulis memulai kegiatan dengan mempersiapkan

berbagai hal yang diperlukan untuk mengikuti program Praktek Lapangan

Industri (PLI) yaitu:

a. Mengikuti Coaching atau pembekalan tentang PLI.

b. Memiliki tabungan sks sebanyak 120 sks untuk program S1.


c. Meminta surat permohonan kepada koordinator PLI di jurusan

sekaligus menunjuk dosen pembimbing.

d. Membawa surat tersebut kepada Unit Hubungan Industri (UHI) untuk

pembuatan surat permohonan pelaksanaan PLI.

e. Kantor UHI membuat surat permohonan ke perusahaan/industri.

f. Penulis mengirim surat permohonan ke perusahaan/industri.

g. Perusahaan menerima penulis untuk melaksanakan PLI.

h. Penulis melapor dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing sebelum

berangkat ke perusahaan.

2. Tahap Pelaksanaan Di Lapangan

Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan dilapangan tempat

melaksanakan PLI adalah sebagai berikut:

a. Pada hari pertama, penulis melapor ke Departementt HRGA PT.

Arkananta Apta Pratista, bahwa penulis akan memulai kegiatan PLI di

Perusahaan.

b. Penulis diberikan pengarahan Departement HRGA PT. Arkananta Apta

Pratista tentang hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan, peraturan,

hak dan kewajiban penulis selama melaksanakan PLI di perusahaan.

Serta penempatan satuan kerja penulis pada saat PLI

c. Penulisan diberikan pengarahan untuk melaksanakan kegiatan Safety

Induksi ke kantor Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan

(K3L). Berikut prosedur K3 bagi karyawan PT. Arkananta Apta Pratista

adalah sebagai berikut:


1) Pakaian kerja

Pakaian kerja yang dikenakan harus sesuai dengan jenis pekerjaan

yang dilaksanakan.

2) Sepatu kerja

Sepatu kerja yang digunakan oleh para karyawan haruslah

menggunakan sepatu safety yang kuat, tidak boleh menggunakan

sandal karena menggunakan sandal sangat berbahaya jika kejatuhan

benda.

3) Helm

Karyawan dan pengunjung harus menggunakan helm pada saat

bekerja di lapangan, hal ini dikarenakan agar kepala terhindar dari

benturan atau benda yang jatuh.

4) Masker

Menggunaan masker wajib dilakukan pada saat kita berada di

lapangan karena dilapangan pada saat musim kemarau konsentrasi

debu akan meningkat akibat lalu lalang alat berat dan proses

penambangan dengan pemakaian masker di mulut dan hidung akan

terlindung dari debu, uap, dan gas.

d. Penulis melapor ke kantor Department Engineer dimana penulis akan

melaksanakan kegiatan PLI di kantor satuan kerja tersebut, kemudian

penulis mempelajari job desk department engineer PT. Arkananta Apta

Pratista
e. Penulis diberikan pengarahan di Departementt Engineer dan

selanjutnya bertemu supervisor / pembimbing bagi penulis selama

melaksanakan kegiatan PLI di perusahaan. Adapun kegiatan yang

penulis laksanakan selama saat ditempatkan di department engineer

adalah :

1) Survey

Kegiatan survey (gambar 18) merupakan faktor penting dalam

kegiatan penambangan, dan juga merupakan cikal bakal untuk

melakukan perencanaan suatu kegiatan penambangan, karena

jumlah actual overburden yang terangkut dihitung menggunakan

data survey, sehingga pembayaran biaya oleh owner sangat

bergantung pada ketelitian pengambilan data survey.

Penulis ditempatkan selama 6 hari di Department survey, pada

hari pertama penulis mempelajari tentang istilah umum yang sering

digunakan dalam survey, kemudian kegiatan penulis pada hari

berikutnya adalah bertugas sebagai helper, helper sendiri disini

bertugas memegang stick yang kemudian dibidik dengan

menggunakan alat Total station type TOPCON GR-5. Kemudian

hari berikutnya penulis bertugas membantu junior surveyor, tugas

junior surveyor disini adalah membidik stick-stick yang diletakan

di lokasi tertentu oleh helper, disini penulis beri pengarahan

menggunakan alat total station, penulis melakukan pengukuran di

lapangan selama 4 hari.


Adapun prosedur kegiatan survey adalah sebagai berikut

surveyor dan alat ditempatkan di suatu titik yang telah ditentukan,

biasa nya titik tersebut memiliki elevasi yang lebih tinggi karena

akan memudahkan dalam prosedur pengambilan data dengan cara

membidik stick yang dipegang helper. Kemudian helper akan

berdiri diatas lokasi yang akan diambil data dengan memegang

stick, surveyor yang berada pada titik pembidikan akan membidik

stick-stick yang dipegang oleh helper, helper akan berpindah

tempat dengan interval tertentu sehingga luasan data lokasi yan

g akan diukur dapat terambil. Begitu juga dalam pengukuran data

coal, helper akan berdiri diatas coal yang akan diambil datanya,

kemudian stick yang dipegang helper agan dibidik, sehingga secara

otomatis alat akan mencatat data tsb.

Kemudian hari berikutnya penulis ikut mengambil data

tracking menggunakan GPS dengan menaiki LV, GPS diletakan

sedemikian rupa di LV, kemudian secara otomatis GPS akan

merekam data yang dilewati oleh LV.

Pada hari terakhir di Department survey penulis mengolah

data data survey keaplikasi Minescape 4.118 dibantu oleh senior

surveyor. Adapun data-data yang diolah adalah data distance, data

coal, update surface, boundary dll


(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Gambar 18. Kegiatan loading OB

2) Produksi

Setelah dari Departement Survey, penulis ditempatkan di

department produksi selama 3 minggu. Di department produksi

penulis melakukan pengamatan tentang aktivitas penambang,

kemudian penulis juga mempelajari tentang istilah istilah yang

sering digunakan dalam kegiatan produksi.

Selanjutnya penulis melakukan pengamatan terhadap alat

berat yang digunakan dalam kegiatan produksi, baik alat produksi

utama seperti excavator dan dump truck, maupun alat berat

pendukung seperti dozer, grader, water tank, dll.

Kemudian penulis melakukan pengamatan dan menghitung

produktivitas masing-masing unit, untuk menentukan kapasitas

produksi nya selama sebulan dan membandingankan data hasil

pengamatan dengan plan yang telah direncanakan oleh engineer.


Penulis menghitung cycle time tiap tiap unit, penulis juga

menghitung dan mengamati proses slippery serta menghitung debit

air yang keluar dari sump menuju Ksp

(Sumber : Dokumentasi Penulis)


Gambar 19. Aktivitas penambangan

3) Pengenalan tentang aplikasi Minescape

Minescape adalah sala satu aplikasi tambang yang digunakan

untuk memudahkan perencanaan proses penambangan. Aplikasi

minescape ini sendiri mampu membantu dalam proses pembuatan

desain, perhidungan cadangan, penentuan jalan dll

PT. Arkananta Apta Pratista menggunakan minescape 4.118,

disini penulis penulis mempelajari tentang kegunaan masing

masing tools yang terdapat pada aplikasi, selain itu penulis juga

membuat pit, disposal, dan ramp sederhana menggunakan aplikasi

minescap
4) Menentukan judul kerja praktek, dan melakukan pengamatan sesuai

judul kerja praktek.

Setelah berkonsultasi dengan pembimbing lapangan penulis

menentukan judul yaitu pengaruh unit support Dozer ripping

(Gambar 20) terhadap produktivitas excavator.

Dari judul tersebut penulis melakukan pengamatan terhadap

excavator yang ditempatkan pada material keras, kemudian

membandingkan produktivitas saat material diriping dan tidak

diripping. Adapun excavator yang diamati adalah Komatsu PC

2000, Hitachi 1900 dan 1200. Sedangkan Dozer ripping yang

diamati adalah Dozer ripping Komatsu D155 A dan Caterpillar D10

T.

(Sumber : Dokumentasi Penulis)


Gambar 20. Kegiatan ripping

5) Membandingkan produktivitas material Ripping dan No ripping.

Setelah memperoleh produktivitas excavator, penulis

membandingkan produktivitas yang dicapai saat

excavator
disupport dozer ripping Komatsu D155 A dan D10 T serta

produktivitas saat excavator tidak disupport (gambar 21)

(Sumber : Dokumentasi Penulis)


Gambar 21. Material ripping dan no ripping
mempengaruhi bucket excavator

f. Penulis mulai menulis laporan hasil pengamatan, dalam penulisan

laporan ini penulis akan dibimbing oleh supervisor.

3. Tahap Pasca KP

Adapun tahapan kegiatan yang harus dilakukan pasca Kerja

Praktek adalah sebagai berikut:

a. Setelah selesai melaksanakan KP, penulis kembali ke kampus dan

melapor kepada dosen pembimbing bahwa baru selesai melaksanakan

kegiatan KP.

b. Penulis menyerahkan laporan KP dan formulir penilaian KP kepada

dosen pembimbing.
c. Bimbingan dengan dosen pembimbing tentang laporan Kerja praktek

yang telah di buat. Setelah itu melaksanakan Desiminasi.

F. Hambatan Dalam Kegiatan Kerja Praktek

Selama melakukan kegiatan praktek di PT. Arkananta Apta Pratista

penulis tidak mengalami hambatan berarti, namun beberapa hambatan yang

penulis hadapi dalam melakukan kegiatan praktek lapangan industri yaitu:

1. Kurangnya sarana transportasi menuju front penambangan, sehingga penulis

meminta bantuan karyawan PT. Arkananta Apta Pratista untuk menuju

lokasi front penambangan.

2. Cuaca sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan data, karena pada

saat hujan kegiatan penambangan dihentikan sementara, sehingga proses

pengambilan data tertunda. Proses pengambilan data dapat dilakukan

kembali setelah cuaca kembali normal, akan tetapi karena waktu kerja

12 jam dalam sehari membuat penulis dapat menyelesaikan penelitian dan

pembuatan laporan dilapangan tepat waktu.

G. Temuan Menarik

Selama kegiatan praktek lapangan di PT Arkananta Apta Pratista

penulis menemukan beberapa hal menarik yaitu:

1. Formasi Balikpapan yang berlapis-lapis merupakan hal yang sangat

menarik karena terdiri atas batu pasir, batu lanau dan batu lempung

sehingga area konsesi pertambangan memiliki banyak sekali seam di

wilayah konsesi dengan ketebalan batubara yang berbeda-beda pula.

(Gambar 22)
(Sumber : Dokumentasi penulis)
Gambar 22. Formasi Balik papan dengan seam batubara
yang berlapis lapis

2. Adanya dua buah underpass di blok 8 dan di sekitar area hauling arka. Hal

ini di karenakan untuk lebih memperdekat jarak buang ke disposal area

sehingga dapat mengurangi cost. (Gambar 23)

(Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 23. Underpass di blok 8

3. Akibat curah hujan yang melimpah, menyebabkan sump PT. Arkananta

Apta Pratista menjadi sangat dalam, yaitu dari elevasi minus 32 sampai

elevasi minus 52. (Gambar 24)


(Sumber : Dokumentasi penulis)
Gambar 24. Sump PT. Arkananta Apta Pratista

4. Swabakar yang terjadi pada seam 10, swabakar adalah pembakaran yang

terjadi dengan sendirinya. Swabakar terjadi akibat proses oksidasi batubara

di dalam udara. Batubara pada kondisi terbuka diudara dapat menyerap

oksigen dalam waktu lama dan perlahan-lahan akan menghasilkan panas

yang akhirnya akan menyebabkan timbulnya api. (Gambar 25)

(Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 25. Swabakar yang terjadi pada seam
10 PT. Arkananta Apta Pratista
47

BAB II

PENGARUH KETERSEDIAAN UNIT SUPPORT DOZER RIPPING

TERHADAP PERBEDAAN PENCAPAIAN TARGET PRODUKTIVITAS

EXCAVATOR PADA MATERIAL KERAS

A. Latar Belakang Pemilihan Topik

PT. Arkananta Apta Pratista merupakan salah satu perusahaan yang

bergerak di bidang kontraktor pertambangan batubara. Saat ini PT. Arkananta

Apta Pratista memiliki empat job site yang sedang berjalan, salah salah

satunya adalah Job site 016C PT. Adimitra Baratama Nusantara (PT. ABN)

yang berlokasi di Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan

Timur.

Penambangan batubara oleh PT. Arkananta Apta Pratista akan

dilakukan dengan cara pembongkaran batuan dengan sistem tambang

terbuka. Target update bulan februari untuk proses overburden removal

adalah 1.355.103 BCM dengan total Coal sebanyak 145.000 TON. Jumlah

fleet yang running adalah 7 fleet, diantaranya : E 2500 1 fleet, PC 2000 2

fleet, E 1900 1 fleet, E 1200 2 fleet dan PC 1250 1 fleet, hauler yang

digunakan adalah OHT CAT 777D (30 unit), HD 785 (13 unit), CAT 773 (5

unit)

Metode penambangan yang digunakan dalam proses penambangan pada

PT. Arkananta Apta Pratista ini adalah metode conventional mining yang

menerapkan metode kombinasi backhoe and dump truck. Sebelum

47
48

penggalian batubara, dilakukan penggalian terhadap overburden. Overburden

adalah lapisan tanah penutup yang menutupi bahan galian.

Proses pemberaian overburden di PT. Arkananta Apta Pratista

dilakukan dengan direct digging ( digali langsung) untuk material

overburden agak keras sedangkan material overburden keras digunakan alat

support yaitu Dozer Ripping, proses pemberaian tidak menggunakan metode

peledakan karena terkendala masalah izin dan lingkungan padahal material

yg harus diberai di lokasi PT. Arkananta Apta Pratista berdasarkan kriteria

kemampugaruan (Pettifer & Fookes, 1994) termasuk klasifikasi material

keras untuk digali. Jadi metode pemberaian yang dapat dilakukan hanya

dengan memanfaatkan ripper yang terdapat pada unit Dozer, namun karena

keterbatasan unit Dozer Ripping mengakibatkan target produksi seringkali

tidak tercapai.

Material keras menyebabkan cycle time menjadi tinggi, khususnya pada

waktu digging. Bucket fill factor yang tidak penuh berpengaruh terhadap

jumlah pass pengisian material overburden ke hauler menjadi lebih banyak.

Dampak lain yang terjadi akibat material keras adalah naik nya fuel

factor unit per-jam, karena perbandingan produksi Overburden yang

dihasilkan oleh excavator tidak sesuai dengan pemakaian fuel per-jam

excavator. Dengan semakin besar angka fuel factor maka biaya untuk

produksi akan semakin meningkat.


49

Plan vs Actual Produksi Januari


50
625 actual (BCM)
[VALUE]
plan (BCM)
[VALUE]

508,4 542,1
380,4

EX 1900 (E 42) PC 2000 (E 59) EX 1200 (E 71)

( Sumber : Data perusahaan)

Gambar 26. Perbandingan Produksi Plan dan Actual bulan januari

Plan VS Actual Fuel factor


Januari
0,32 0,29
0,22
0,2 0,25 actual
0,19 plan

EX 1900 (E 42) PC 2000 EX 1200 (E 71)

( Sumber : Data perusahaan)


Gambar 27. Perbandingan Fuel factor plan dan Actual bulan januari
B. Kajian Teoritis

1. Pengertian Pertambangan

Pertambangan merupakan suatu aktivitas penggalian, pembongkaran

serta pengangkutan suatu endapan mineral yang terkandung dalam suatu

area berdasarkan beberapa tahapan kegiatan secara efektif dan ekonomis

dengan menggunakan peralatan mekanis serta beberapa peralatan sesuai

dengan perkembangan teknologi saat ini.

Sumber daya mineral merupakan suatu sumber daya yang bersifat

tidak terbaharui (wasting asset or unrenewable). Oleh karena itu

penerapammya diharapkan mampu menjaga keseimbangan serta

keselamatan kinerja dan kelestarian lingkuan hidup maupun masyarakat

sekitar.

Beberapa faktor yang mempengaruhi usaha pertambangan adalah


sebagai berikut:
a. Perubahan dalam sistem perpajakan.
b. Kebijakan dalam lingkungan hidup.

c. Keadaan ekonomi yang buruk.

d. Harga endapan atau logam yang buruk.

e. Keadaan politik yang tidak stabil.

2. Macam-macam metode penambangan

Berdasarkan penjelasan pertambangan di atas maka dalam mengelola

sumber daya mineral diperlukan penerapan suatu sistem penambangan yang

tepat baik dari segi teknis maupun dilihat dari segi ekonomis agar

memperoleh hasil yang semaksimal atau seoptimal mungkin. Secara umum


metode penambangan terbagi dua, yaitu tambang terbuka dan tambang

bawah tanah. Metode penambangan yang digunakan PT. Arkananta Apta

Pratista adalah metode tambang terbuka.

Metode tambang terbuka merupakan suatu metode atau penerapan

kegiatan penambangan yang sekuruh kegiatan dan aktifitasnya dilakukan

di atas atau relative dekat dengan permukaan bumi serta seluruh ruang

lingkup kegiatannya berhubungan langsung dengan udara luar. Terdapat

beberapa jenis penerapan metode penambangan ini antara lain sebagai

berikut:

a. Open pit/open cast/open cut/open mine


Metode ini biasanya diterapkan untuk menambang endapan-
endapan bijih (ore). Secara umum metode ini menggunakan siklus
operasi penambangan yang konvensional, yaitu: pemecahan batuan
dengan pemboran dan peledakan, diikuti operasi penanganan material
penggalian, pemuatan dan pengangkutan.
b. Quarry

Perbedaan open pit dan open cast juga dilihat dari pemindahan

tanah penutupnya. Pada open pit tanah penutup dikupas dan

dipindahkan ke suatu daerah pembuangan yang tidak ada endapan di

bawahnya, sedangkan pada open cast tanah penutup tidak dibuang ke

daerah pembuangan, tetapi dibuang ke daerah bekas tambang yang

berbat asan.

Beberapa keuntungan penerapan metode tambang terbuka ini

antara lain sebagai berikut:


1) Ongkos penambangan per-ton atau per-BCM endapan mineral

lebih murah karena tidak membutuhkan penyanggaan, ventilasi dan

penerangan.

2) Kondisi kerjanya baik karena berhubungan langsung dengan udara

luar dan sinar matahari.

3) Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran yang besar lebih

leluasa sehingga dapat mengejar produksi yang besar.

4) Pemakaian bahan peledak bisa lebih efisien, leluasa dan hasilnya

lebih baik, karena :

a) Adanya bidang besar (free face) yang lebih banyak

b) Gas-gas beracun yang ditimbulkan oleh peledakan dapat

dihembuskan angin dengan cepat

5) Perolehan tambang lebih besar karena batas endapan dapat dilihat

dengan jelas.

6) Relatif lebih aman terhadap longsoran dan runtuhan.

7) Pengawasan dan pengamatan mutu bijih (grade control) lebih

mudah.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Sistem Penambangan

Aturan utama dari eksploitasi tambang adalah memilih suatu metoda

penambangan yang paling sesuai dengan karakteristik unik (alam, geologi,

lingkungan dan sebagainya) dari endapan mineral yang ditambang di dalam

batas keamanan, teknologi dan ekonomi, untuk mencapai ongkos yang


rendah dan keuntungan yang maksimum (Morrison dan Russel, 1973 ;

Boshkov dan Wright, 1973).

a. Karakteristik spasial dari endapan

b. Ukuran (dimensi : tinggi atau tebal khusus)

c. Bentuk (tabular, lentikular, massif, irregular).

d. Attitude (inklinasi dan dip).

e. Kedalaman (nilai: rata-rata dan ekstrim, nisbah pengupasan).

f. Kondisi geologi dan hidrogeologi.

g. Mineralogi dan petrologi (sulfida vs oksida).

h. Komposisi kimia (utama, mineral by product).

i. Struktur endapan (lipatan, patahan, diskontinu, intrusi).

j. Bidang lemah (kekar, retakan, belahan dalam mineral, rekahan dalam

batubara).

k. Keseragaman, alterasi, erosi.


l. Air tanah dan hidrologi.
m. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan mekanika batuan) untuk bijih

dan batuan sekelilingnya.

n. Sifat elastik (kekuatan, modulus elastik, koefisien Poisson, dan lain-

lain).

o. Perilaku elastik atau visko elastik (flow, creep).

p. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi).

q. Konsolidasi, kompaksi dan kompeten.

r. Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas,

lengas bawaan, lengas bebas).


4. Tahapan penambangan

a. Penyelidikan Umum

Penyelidikan umum merupakan kegiatan penyelidikan, pencarian,

atau penemuan endapan-endapan mineral berharga. Atau dengan kata lain

kegiatan ini bertujuan untuk menemukan keberadaan atau indikasi adanya

bahan galian yang akan dapat atau memberikan harapan untuk diselidiki

lebih lanjut.

Jika pada tahap ini tidak ditemukan adanya cadangan bahan galian

yang berprospek untuk diteruskan sampai ke tahapan eksplorasi, maka

kegiatan ini harus dihentikan. Apabila tetap diteruskan akan menghabiskan

dana secara sia-sia. Sering juga tahapan ini dilewatkan karena dianggap

sudah ditemukan adanya indikasi atau tanda-tanda keberadaan bahan

galian yang sudah langsung bisa dieksplorasi.

Metoda prospeksi antara lain tracing float dan pemetaan geologi

dan bahan galian. metode tracing float ini digunakan terutama pada anak

sungai, yang lebih mudah dilakukan pada musim kemarau. Metode ini

dilakukan untuk mencari atau menemukan float bahan galian yang

diinginkan, yang berasal dari lapukan zone mineralisasi yang melewati

lereng bukit atau terpotong anak sungai dan terhanyutkan oleh aliran

sungai. Dengan melakukan tracing float dari arah hilir ke hulu sungai,

maka bisa diharapkan untuk menemukan adanya zone mineralisasi yang

tersingkap pada arah hulu sungai. Pada metode ini litologi setempat

sebagian besar sudah diketahui.


b. Eksplorasi

Eksplorasi merupakan kegiatan yang dilakukan setelah prospeksi

atau setelah endapan suatu bahan galian ditemukan yang bertujuan untuk

mendapatkan kepastian tentang endapan bahan galian yang meliputi

bentuk, ukuran, letak kedudukan, kualitas (kadar) endapan bahan galian

serta karakteristik fisik dari endapan bahan galian tersebut.

Selain untuk mendapatkan data penyebaran dan ketebalan bahan

galian, dalam kegiatan ini juga dilakukan pengambilan contoh bahan

galian dan tanah penutup. Tahap ekplorasi ini juga sangat berperan pada

tahan reklamasi nanti, melalui eksplorasi ini kita dapat mengetahui dan

mengenali seluruh komponen ekosistem yang ada sebelumnya.

1) Metode eksplorasi

Setelah diketahui terdapatnya bahan galian di suatu daerah dalam

kegiatan prospeksi, yang mempunyai prospek untuk dilakukan

kegiatan selanjutnya, maka dilakukanlah eksplorasi dengan metode

atau cara antara lain sebagai berikut:

a) Untuk mengetahui penyebaran secara lateral dan vertical dapat

dilakukan dengan cara membuat parit uji, sumur uji, pembuatan

adit dam pemboran inti.


b) Untuk mengetahui kualitas bahan galian, diambil contoh bahan

galian yang berasal dari titik percontohan dan dianalisis di

laboratorium.

c) Pada beberapa jenis bahan galian juga dapat dilakukan beberapa

penyelidikan geofisik seperti seismic, SP, IP dan resistivity.

d) Setelah titik percontohan yang dibuat dianggap cukup memadai

untuk mengetahui penyebaran lateral dan vertical bahan galian,

maka dibuat peta penyebaran cadangan bahan galian dan dilakukan

perhitungan cadangan bahan galian.

e) Selain dari itu, juga kadang-kadang diperlukan analisis contoh

batuan yang berada di lapisan atas atau bawah bahan galian untuk

mengetahui sifat-sifat fisik dan keteknikannya.

2) Tahapan Eksplorasi

Tahapan-tahapan eksplorasi secara umum ada dua, yaitu

eksplorasi awal atau pendahuluan dan eksplorasi detil. Penjelasan

tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut,

a) Tahap Eksplorasi Pendahuluan

Dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian

yang diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan

dalam eksplorasi pendahuluan juga berskala kecil 1 : 50.000

sampai 1 : 25.000. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada

tahap ini adalah :


(1) Studi Literatur

Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi

eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta-peta yang

sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama,

laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan

disurvei. Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah

berikutnya, studi faktor-faktor geologi regional dan provinsi

metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk

memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan

bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses

geologi yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di

lapangan.

(2) Survei Dan Pemetaan

Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi

sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop)

atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi

skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka

perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di

daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat

menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk

mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan),

melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-

singkapan yang penting.


Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan

galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga

diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan

batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan

tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada

peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi,

inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit,

lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian

peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta

singkapan).

Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut

kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak atau

model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi

hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto

dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan

paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran.

Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di

peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).

Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model

penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi,

kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah

survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek)

atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang


baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi

selanjutnya.

b) Tahap Eksplorasi Detail

Setelah tahapan eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa

cadangan yang ada mempunyai prospek yang baik, maka

diteruskan dengan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan

utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak yang lebih

dekat (rapat), yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang

bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai

penyebaran dan ketebalan cadangan (volume cadangan),

penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari

sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung

dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%),

sehingga dengan demikian perencanaan tambang yang dibuat

menjadi lebih teliti dan resiko dapat dihindarkan.

Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai

kedalaman, ketebalan, kemiringan, dan penyebaran cadangan

secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data mengenai

kekuatan batuan sampling, kondisi air tanah, dan penyebaran

struktur (kalau ada) akan sangat memudahkan perencanaan

kemajuan tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan atau kemiringan

lereng tambang. Juga penting untuk merencanakan produksi


bulanan/tahunan dan pemilihan peralatan tambang maupun

prioritas bantu lainnya.

c. Perencanaan Tambang

Perencanaan tambang akan dilakukan apabila sudah ditemukan

adanya cadangan bahan galian yang sudah layak untuk ditambang, dengan

tingkat cadangan terukur. Seperti kita ketahui bahwa cadangan itu

diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu pertama, cadangan terukur merupakan

cadangan dengan tingkat kesalahan maksimal 20% dan pada cadangan

teukur ini telah dilakukan pengeboran untuk pengambilan sampel.

Kedua, cadangan terindikasi, merupakan cadangan dengan bahan

galian dengan tingkat kesalahan 40% dan belum ada dilakukan

pengeboran. Ketiga, cadangan tereka, merupakan cadangan dengan tingkat

kesalahan 80% dan belum dilakukan pengeboran. Apabila tahap telah

sampai pada tahap perencanaan tambang. Berarti cadangan bahan

galiannya telah sampai pada tingkat cadangan terukur.

Perencanaan tambang dilakukan untuk merencanakan secara teknis,

ekonomi dan lingkungan kegiatan penambangan, agar dalam pelaksanaan

kegiatannya dapat dapat dilakukan dengan baik, aman terhadap

lingkungan.

d. Persiapan/Konstruksi

Persiapan/konstruksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk

mempersiapkan fasilitas penambangan sebelum operasi penambangan

dilakukan. Pekerjaan tersebut seperti pembuatan akses jalan tambang,


pelabuhan, perkantoran, bengkel, mes karyawan, fasilitas komunikasi dan

pembangkit listrik untuk keperluan kegiatan penambangan, serta fasilitas

pengolahan bahan galian.

e.Tahapan penambangan

1) Land Clearing

Tahapan pekerjaan penambangan umumnya diawali dengan

mempersiapkan lahan, yaitu mulai dari pemotongan pepohonan hutan,

pembabatan sampai ke pembakaran hasilnya, yang dinamakan land

clearing. Jadi land clearing dapat diartikan sebagai suatu aktivitas

pembersihan material hutan yang meliputi pepohonan, hutan belukar

sampai alang-alang.

Variabel yang mempengaruhi pekerjaan land clearing yaitu :

a) Pepohonan yang tumbuh

b) Kondisi dan daya dukung tanah

c) Topografi

d) Hujan dan perubahan cuaca

2) Pengupasan tanah penutup

Untuk mewujudkan kondisi kegiatan pengupasan lapisan tanah

penutup yang baik diperlukan alat yang mendukung dan sistimatika

pengupasan yang baik. Pekerjaan pengupasan lapisan tanah penutup

merupakan kegiatan yang mutlak harus dikerjakan pada pertambangan

terutama pada kegiatan penambangan yang menggunakan sistim

tambang terbuka. Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup


ditentukan oleh rencana target produksi, semakin baik rancangan pada

pengupasan lapisan tanah penutup maka rencana target produksi

semakin baik. Untuk mewujudkan kondisi tersebut diperlukan metode

dan alat yang mendukung pengupasan lapisan tanah penutup.

Adapun pola teknis dari pengupasan lapisan tanah penutup yaitu :

a) Back filling digging method Pada cara ini tanah penutup di buang

ke tempat sudah digali.

b) System Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan sistem

jenjang (benching). Cara ini pada waktu pengupasan lapisan tanah

penutup sekaligus sambil membuat jenjang.

c) Multi Bucket Exavator System Pada pengupasan cara ini tanah

penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ke tempat

pembuangan khusus. Cara ini ialah dengan menggunakan Bucket

Wheel Exavator (BWE).

d) Drag Scraper System Cara ini biasanya langsung diikuti dengan

pengambilan bahan galian setelah tanah penutup dibuang, tetapi

bisa juga tanah penutupnya dihabiskan terlabih dahulu, kemudian

baru bahan galiannnya ditambang. Sistem ini cocok untuk tanah

penutup yang materialnya lunak dan lepas (loose).

3) Pemboran Peledakan

Pemboran dapat dilakukan untuk bermacam-macam tujuan, antara

lain adalah untuk penempatan bahan peledak, pemercontohan

(merupakan metoda sampling utama dalam eksplorasi), dalam tahap


development seperti penirisan dan tes pondasi, serta dalam tahap

eksploitasi untuk penempatan baut batuan & kabel batuan. Jika

dihubungkan dengan operasi peledakan, penggunaan terbesar adalah

pemboran produksi (Nurhakim, 2004).

Urutan pekerjan peledakan adalah pemboran, pemuatan bahan

peledak, penyambungan rangkaian peledakan dan penembakan. Prinsip

pemboran adalah mendapatkan kualitas lubang ledak yang tinggi

dengan pemboran yang cepat dan dalam posisi yang tepat. Guna

mendapatkan hasil peledakan yang baik, yaitu volume bongkaran

lapisan batuan yang besar dengan fragmentasi yang sesuai untuk

dimanfaatkan serta biaya yang seminimal mungkin (Kartodharmo,

1989).

Pada peledakan jenjang posisi dari suatu lubang ledak dapat

memberikan keuntungan maupun kerugian dalam memperoleh hasil

peledakan yang baik. Dalam upaya menghasilkan fragmentasi batuan

yang diinginkan serta mengurangi terjadinya bahaya flyrock yang

merupakan akibat sampingan dari proses peledakan, maka terlebih

dahulu perlu ditinjau pemakaian arah lubang ledak. Pada perinsipnya

terdapat dua cara untuk membuat lubang ledak, yaitu membor dengan

lubang miring dan membor dengan lubang tegak.

Peledakan merupakan tindak lanjut dari kegiatan pemboran yang

merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk melepas batuan


dari batuan induknya dengan harapan menghasilkan bongkaran batuan

yang berukuran lebih kecil sesuai dengan yang diharapkan sehingga

memudahkan dalam proses pendorongan, pemuatan, pengangkutan, dan

konsumsi material (Kartodharmo, 1989).

Sebelum operasi peledakan dimulai, penentuan letak lubang ledak

harus dievaluasi dengan hati-hati untuk mendapatkan hasil yang

optimum dari bahan peledak yang dipilih. Lebih dari pada itu,

penyediaan lubang ledak yang tepat untuk pembongkaran dengan biaya

rendah, karakteristik massa batuan dan kemampuan pembuatan lubang

ledak harus diidentifikasi.

Bahan peledak adalah suatu bahan kimia senyawa tunggal atau

campuran berbentuk padat, cair, gas atau campurannya yang apabila

dikenai suatu aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan

mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat yang hasil

reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas dan disertai panas

dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.

f. Penggalian dan pemuatan

Penggalian dan Pemuatan Semua satuan operasi yang terlihat dalam

penggalian atau pemindah tanah/batuan selama penambangan disebut

penangan material (material handling). Pada siklus operasi, dua operasi

utama pemuatan dan transportasi dengan kerekan sebagai operasi optimal

ketiga, jika transportasi vertikal diperlukan.


Pola pemuatan yang digunakan tergantung pada kondisi lapangan

operasi pengupasan serta alat mekanis yang digunakan dengan asumsi

bahwa setiap alat angkut yang datang, mangkuk (bucket) alat gali muat

sudah terisi penuh dan siap ditumpahkan. Setelah alat angkut terisi penuh

segera keluar dan dilanjutkan dengan alat angkut lainnya sehingga tidak

terjadi waktu tunggu pada alat angkut maupun alat gali-muatnya.

Pola pemuatan pada operasi pengangkutan di tambang terbuka

dikelompokkan berdasarkan posisi back hoe terhadap front penggalian dan

posisi dump truck terhadap back hoe. Proses pemuatan pada operasi

penambangan dapat dibagi tiga macam yaitu frontal cut, parallel cut with

drive-by, dan parallel cut with turn and back.

g. Pengangkutan (Hauling)

Material dalam jumlah besar dalam industri pertambangan di

transport dengan haulage (pemindahan tanah ke arah horisontal) dan

hoisting (pemindahan tanah ke arah vertikal).

Beberapa bagian dari pengangkutan ini meliputi :

1) Pengangkutan batubara dari daerah penambangan ke tempat

penumpukan (ROM Stockpile/Temporary Stockpile)

2) Pengangkutan waste/overburden ke lokasi waste dump/dump area (baik

berupa tanah pucuk/humus ataupun lapisan penutup).


h. Pengolahan

Bahan galian yang sudah selesai ditambang pada umumnya harus

diolah terlebih dahulu di tempat pengolahan. Hal ini disebabkan antar lain

oleh tercampurnya pengotor bersama bahan galian, perlu spesifikasi

tertentu untuk dipasarkan serta kalau tidak diolah maka harga jualnya

relative lebih rendah jika dibandingka dengan yang sudah diolah, dan

bahan galian perlu diolah agar dapat mengurangi volume dan ongkos

angkut, meningkatkan nilai tambah bahan galian, dan untuk mereduksi

senyawa-senyawa kimia yang tidak dikehendaki pabrik peleburan.

Cara Pengolahan bahan galian secara garis besar dapat dibagi atas

pengolahan secara fisika, secara fisika dan kimia tanpa ekstraksi metal, dan

pengolahan secra fisika dan kimia dengan ekstraksi metal. Pengolahan

bahan galian secara fisika ialah pengolahan bahan galian dengan cara

memberikan perlakuan fisika seperti peremukan, penggerusan, pencucian,

pengeringan, dan pembakaran dengan suhu rendah. Contoh yang tergolong

pengolahan ini seperti pencucian batu bara. Yang kedua pengolahan secara

fisika dan kimia tanpa ekstraksi metal, yaitu pengolahan dengan cara fisika

dan kimia tanpa adanya proses konsentrasi dan ekstraksi metal. Contohnya,

pengolahan batu bara skala rendah menggunakan reagen kimia. Ketiga,

pengolahan bahan galian secara fisika dan kimia dengan ekstraksi metal,

yaitu pengolahan logam mulia dan logam dasar.


i. Pemasaran

Jika bahan galian sudah selesai diolah maka dipasarkan ke tempat

konsumen. Antara perusahaan pertambangan dan konsumen terjalin ikatan

jual beli kontrak jangka panjang, dan spot ataupun penjualan sesaat. Pasar

kontrak jangka panjang yaitu pasar yang penjualan produknya dengan

kontrak jangka panjang misalnya lebih dari satu tahun. Sedangkan penjualan

spot, yaitu penjualan sesaat atau satu atau dua kali pengiriman atau order

saja.

Reklamasi Revegetasi dan Reklamasi adalah suatu kegiatan untuk

memperbaiki lahan bekas tambang atau lahan terbuka, dan pengelolaannya

sesudah selesainya penambangan. Reklamasi dan Revegetasi bertujuan

memperbaiki lahan bekas tambang untuk pelestarian lingkungan dan

penanggulangan resiko akibat dampak dari pertambangan. Jadi Revegetasi

dan Reklamasi adalah bagian integral dari rencana keseluruhan operasional

pertambangan secara terpadu dimulai Perencanaan, exsploetasi sampai

penggunaan lahan baru pasca penambangan. Tujuan akhir dari rencana

reklamasi adalah untuk menyakinkan bahwa lahan bekas tambang

dikembalikan pada penggunaan yang produktif (Kartosudjono, 1994)

5. Pemberaian atau Loosening

Dari penjelasan tentang tahapan penambangan diatas maka dapat

disimpulkan bahwa Kegiatan utama pertambangan terdiri dari:


1. Pemberaian atau pembongkaran (breaking /loosening): adalah serangkaian

pekerjaan yang dilakukan untuk membebaskan endapan bahan galian dari

batuan induknya.

2. Pemuatan (loading/mucking): kegiatan untuk mengambil dan memuat

material ke dalam alat angkut atau ke tempat penimbunan material (stock

pile).

3. Pengangkutan (transporting/hauling): kegiatan untuk memindahkan

endapan atau batuan, tanah buangan, karyawan dan peralatan atau material

untuk operasi penambangan

Untuk meningkatkan productivity salah satu hal yang harus

diperhatikan adalah bagaimana mengurangi cycle time dan meningkatkan

bucket fill excavator, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk memecah

masa batuan ( loosesing ).

Pemberaian atau loosening adalah serangkaian pekerjaan yang

dilakukan untuk membebaskan batuan atau endapan bijih dari batuan

induknya yang Massive

Kegiatan memberaikan batuan serta pengangkutan hasil pemberaian

adalah bagian terpenting dari suatu kegiatan. Bagian ini diistilahkan sebagai

satuan operasi penambangan (unit operations of mining). Kegiatan-kegiatan

yang berkaitan langsung dengan penggalian batuan disebut operasi produksi

sedangkan kegiatan lainnya yang tidak langsung berkaitan dengan penggalian

disebut operasi penunjang.


Pelaksanaan operasi produksi yang merupakan inti dari kegiatan

penambangan ditentukan oleh peralatan yang digunakan. Oleh karena itu

pemilihan peralatan yang tepat adalah salah satu keputusan yang paling kritis

yang diperlukan pada suatu tambang terbuka. Kriteria utama yang harus

dipenuhi adalah kelayakan teknologi, kecocokan ekonomi dan keamanan.

Ada berbagai macam dan karakteristik masa batuan dengan tingkat

kekerasan dan kuat tekan batuan yang berbeda-beda. Dalam kaitannya

dengan digging force atau kemampuan gali excavator maka tipe material

atau batuan dibedakan menjadi 2 yaitu free dig (dapat digali langsung)

dan non free dig (harus ada loosening atau pembongkaran).

Ada 3 metode yang lazim diterapkan untuk Pemberaian atau loosening

yaitu :

1. Metode Ripping, merupakan metode pemberaian material dengan

menggunakan ripper yang terpasang pada unit Dozer.

2. Metode Breaker adalah pemecahan batuan dengan menggunaka mesin

breaker atau excavator yang dilengkapi dengan equipment/tools breaker

pada front attachmentnya.

3. Metode Blasting adalah pembongkaran masa batuan dengan menggunakan

pemboran & peledakan ( bahan peledak ).

Pemilihan dari ketiga metode tersebut berdasarkan pertimbangan :

Dampak lingkungan, sifat masa batuan, biaya, jumlah batuan yang akan

diberai, target produksi, biaya / investasi dan perijinan.


6. Produktivitas Peralatan Mekanis

Produktivitas adalah kemampuan produksi alat dalam satuan waktu

(jam), Besar kecil nya produktivitas suatu alat dipengaruhi beberapa factor,

antar lain :

a. Faktor Keserasian Kerja (Match Factor)

Pada kegiatan penambangan, keserasian kerja antara alat muat dan

alat angkut perlu diperhatikan (Yanto Indonesianto, 2005). Untuk

mendapatkan hubungan kerja yang serasi antara alat gali muat dan alat

angkut, maka produktivitas alat gali muat harus sesuai dengan

produktivitas alat angkut. Faktor keserasian alat gali muat dan alat

angkut didasarkan pada produktivitas alat gali muat dan produktivitas

alat angkut, yang dinyatakan dalam Match Factor (MF).

Secara perhitungan teoritis, prduktivitas alat gali muat haruslah

sama dengan prduktivitas alat angkut, sehingga perbandingan antara alat

angkut dan alat gali muat mempunyai nilai satu, yaitu:

Produksi alat gali muat = jumlah produksi alat angkut


MF= CT m x N a
CT a x N m

Keterangan :

MF = Faktor keserasian kerja alat mekanis

CTm = Waktu edar alat muat


CTa = Waktu edar alat angkut

Na = Jumlah alat angkut

Nm = Jumlah alat muat

Bila hasil perhitungan diperoleh :

1) MF < 1, artinya alat muat bekerja kurang dari 100%, sedangkan

alat angkut bekerja 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi

alat muat karena menunggu alat angkut yang belum datang.

2) MF = 1, artinya alat muat dan angkut bekerja 100%, sehingga

tidak terjadi waktu tunggu dari kedua jenis alat tersebut.

3) MF > 1, artinya alat muat bekerja 100%, sedangkan alat angkut

bekerja <100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat angkut.

b. Pola Penggalian dan Pemuatan

Pola pemuatan pada operasi pengangkutan di tambang terbuka

dikelompokkan berdasarkan posisi backhoe terhadap front penggalian

dan posisi dump truck terhadap backhoe. Proses pemuatan pada operasi

penambangan dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu:

1) Frontal Cut

Backhoe berhadapan dengan muka jenjang atau front

penggalian. Pada pola ini backhoe memuat pertama pada dump

truck sebelah kanan sampai penuh dan berangkat, setelah itu

dilanjutkan pada dump truck sebelah kiri seperti (Gambar 28).


Gambar 28. Pola pemuatan Frontal Cut

2) Parallel cut with Drive-by

Backhoe bergerak melintang dan sejajar dengan front

penggalian. Pola ini ditetapkan jika lokasi pemuatan memiliki dua

akses dan berdekatan dengan lokasi penimbunan. Sudut putar rata-

rata lebih besar dari pada sudut frontal cut, tetapi waktu tunggu bagi

backhoe dan dump truck lebih kecil dari pada parallel cut with turn

and back (Gambar 29).

Gambar 29. Pola pemuatan parallel cut with drive-by


3) Parallel cut with turn and back

Parallel cut with turn and back (Gambar 30) terdiri dari dua

metode berdasarkan cara pemuatannya seperti, yaitu:

a) Single stopping, dump truck kedua menunggu selagi backhoe

memuat ke dump truck pertama. Setelah dump truck pertama

berangkat, dump truck kedua berputar dan mundur. Saat dump

truck kedua diisi, dump truck ketiga datang dan menunggu untuk

ber-manuver dan seterusnya.

b) Double stopping, dump truck memutar dan mundur ke salah satu

sisi backhoe selagi backhoe memuati dump truck pertama. Begitu

dump truck pertama berangkat, backhoe mengisi dump truck

kedua. Ketika dump truck kedua diisi dump truck ketiga datang

dan seterusnya.

Gambar 30. Pola pemuatan parallel cut with turn and back

4) Pola pemuatan yang didasarkan pada posisi alat gali-muat yang

berada di atas atau di bawah jenjang .


a) Top Loading, yaitu alat gali-muat melakukkan penggalian dengan

menempatkan dirinya di atas jenjang atau alat angkut berada di

bawah alat gali-muat. ( Gambar 31)

b) Bottom Loading, yaitu alat gali-muat melakukan penggalian

dengan posisi alat angkut. (Gambar 32)

( Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 31. Top loading

( Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 32. Bottom loading
c. Lebar Jalan Angkut

Jalan angkut pada lokasi tambang sangat mempengaruhi kelancaran

operasi penambangan terutama dalam kegiatan pengangkutan. Beberapa

geometri perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan gangguan/hambatan

yang dapat mempengaruhi keberhasilan kegiatan pengangkutan.

Perhitungan lebar jalan angkut didasarkan pada lebar kendaraan terbesar

yang dioperasikan. Semakin lebar jalan angkut yang digunakan maka

operasi pengangkutan akan semakin lancar.

1) Lebar jalan angkut minimum pada jalan lurus.

Gambar 33. Lebar jalan angkut minimum jalan lurus

Lebar jalan angkut minimum yang dipakai untuk jalur ganda

atau lebih (Gambar 33) menurut AASHTO manual Rural High-

Way Design adalah :

L = n. Wt + (n+1)(0,5 . Wt)

Keterangan :

L = Lebar jalan angkut minimum, (meter)

n = Jumlah jalur
Wt = Lebar truk jungkit, (meter)

2) Lebar jalan angkut minimum pada tikungan

Lebar jalan angkut produksi tambang pada keadaan lurus dan

belokan penting ditentukan untuk kelancaran dan keberhasilan

operasi pengangkutan.

Gambar 34. Jalan angkut minimum pada tikungan

Lebar jalan angkut minimum pada tikungan (Gambar 34)

selalu lebih besar daripada jalan angkut pada jalan lurus. Rumus

yang digunakan untuk menghitung lebar jalan angkut minimum

pada belokan, adalah :

W = 2(U + Fa +Z)+C

C = Z = 0,5 (U + Fa + Fb

Keterangan :

W = lebar jalan angkut minimum pada tikungan

U = jarak jejak terluar roda depan dengan jejak terluar roda

belakang kendaraan (meter)

Fa = jarak roda depan dengan sisi samping terluar truck


dikalikan sinus sudut penyimpangan roda (meter)

Fb = jarak roda belakang dengan sisi samping terluar

dikalikan sinus sudut penyimpangan roda (meter)

Z = jarak sisi luar truk ke tepi jalan (meter)

C = jarak antara dua truck yang bersimpangan (meter)

d. Faktor Material

Karena perbedaan kekerasan material yang digali sangat

bervariasi maka sering dilakukan pengelompokan sebagai berikut :

1) Lunak (soft) atau mudah digali (easy digging), misalnya tanah atas

atau top soil, pasir (sand), lempung pasiran (sandy clay), pasir

lempungan (clayed sand).

2) Agak keras atau medium hard digging, misalnya tanah liat atau

lempung (clay) yang basah dan lengket. Batuan yang sudah lapuk

(weathered rock).

3) Sukar digali atau keras (hard digging), misalnya : batu sabak (slate),

material yang kompak (compacted material), batuan sediman

(sedimentary rock), konglomerat (conglomerate), breksi (breccia).

4) Sangat sukar digali atau sangat keras (very hard digging) atau batuan

segar (fresh rock) yang memerlukan pemboran dan peledakan

sebelum dapat digali, misalnya batuan beku segar (fresh

igneous rock), batuan malihan segar (fresh metamorphic rock).


e. Waktu Edar

Waktu edar (cycle time) adalah waktu yang diperlukan alat mulai

dari aktivitas pengisian atau pemuatan (loading), pengangkutan

(hauling) untuk truck dan sejenisnya atau swing untuk backhoe dan

shovel, pengosongan (dumping), kembali kosong dan mempersiapkan

posisi (manuver) untuk diisi atau dimuat. Disamping aktivitas-aktivitas

tersebut terdapat pula waktu menunggu (delay time) bila terjadi antrian

untuk mengisi atau memuat. Beberapa faktor yang mempengaruhi

cycle time alat angkut adalah:

1) Antrian di lokasi pemuatan sehingga adanya waktu tunggu bagi alat

angkut maupun alat muat.

2) Kondisi jalan yang berdebu mengurangi jarak pandang operator

sehingga kecepatan berkurang.

3) Adanya penyiraman jalan sehingga alat angkut mengalami

perlambatan karena jalan yang basah dan licin.

4) Jalan tempat maneuver alat angkut sempit sehingga butuh waktu

yang cukup lama untuk maneuver. Pengisian bahan bakar alat angkut

saat alat angkut operasi, sehingga akan menambah cycle time alat

angkut.

f. Faktor Isian Bucket

Faktor isi (fill factor) adalah presentase volume yang sesuai atau

sesungguhnya dapat diisikan ke dalam bak (vessel) truck dibandingkan

dengan kapasitas teoritisnya. Suatu bak (vessel) truck yang mempunyai


faktor isi 87%, artinya 13% volume vessel itu tidak dapat diisi.

Mangkuk (bucket) dari excavator memiliki faktor isi lebih dari 100%

karena dapat diisi munjung (heaped) (Gambar 35). Faktor-faktor yang

mempengaruhi pengisian bucket adalah :

1) Kandungan air, berbanding terbalik faktor pengisian

2) Ukuran material, semakin besar ukuran material maka faktor

pengisian akan semakin kecil.

3) Keterampilan dan kemampuan operator, dimana operator yang

berpengalaman dan terampil dapat memperbesar faktor pengisian

mangkuk. Kemampuan operator dalam menangani alat pada

pekerjaan tertentu dibagi menjadi :

a) Operator kelas 1

b) Operator kelas 2

c) Operator kelas 3

a
b

c Keterangan :

d a. Fill factor 100-110%

b. Fill factor 90-100%

c. Fill factor 85-90%

d. Fill factor 75-85%

(sumber : Caterpillar 2004)


Gambar 35. Ilustrasi Fill Factor Pada Mangkok/Bucket

g. Kesediaan Alat dan Penggunaan Alat

Ketersediaan alat adalah faktor yang menunjukan kondisi alat-

alat mekanis dalam melakukan pekerjaan dengan memperhatikan

kehilangan waktu selama kerja. Kondisi peralatan mekanis dibagi

menjadi :

1) Kondisi peralatan 90% - 100%

Berlaku untuk peralatan baru dan siap pakai, kemampuan

minimal 70% dan belum mengalami perbaikan apapun serta dalam

keadaan lengkap.

2) Kondisi peralatan 70% - 89%

Berlaku untuk peralatan lama yang dalam keadaan yang siap

beroperasi dengan kemampuan minimal 70% namun sudah dipakai

lebih dari satu tahun atau seribu jam kerja.

3) Kondisi peralatan 50% - 69%

Peralatan yang dalam keadaan rusak ringan operasi.

Kemampuan alatnya minimal 60% dan sudah dioperasikan lebih dari

dua tahun atau tiga ribu jam kerja.

Kondisi kesediaan alat dan penggunaan peralatan mekanis

tersebut dipengaruhi oleh :

a) Kesediaan Mekanis (Mechanical Avaibility)

Faktor yang menunjukan kesediaan alat dalam melakukan

pekerjaan dengan memperhatikan kehilangan waktu yang


digunakan untuk memperbaiki mesin, peralatan dan alasan mekanis
lainnya.

W
MA
100% W
R

Keterangan :

W= Working Hours atau jumlah jam kerja

Waktu yang dibebankan kepada seorang operator suatu alat

dalam kondisi dapat dioperasikan.

R= Repairs Hours atau jumlah jam untuk perbaikan

Waktu untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena

menunggu saat perbaikan termasuk juga waktu untuk

penyediaan suku cadang serta untuk perawatan preventif.

b) Kesediaan Fisik (Physical Availability)

Faktor yang menunjukan kesediaan alat untuk melakukan

kerja dengan memperhitungkan waktu yang hilang karena

rusaknya jalan, faktor cuaca dan lainnya.

WS
PA 100% W
SR

Keterangan :

S= Standby Hours atau jumlah kerja alat yang tidak dioperasikan

padahal alat tersebut tidak rusak dan siap dioperasikan.

W + R + S =Scheduled Hours atau jumlah seluruh jam kerja

dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi


Untuk menghitung kemampuan dari alat-alat mekanis, menurut para

ahli (Hartman, Howard L, tahun 1992) dapat digunakan persamaan sebagai

berikut:

a. Produktivitas Excavator

Excavator berfungsi sebagai alat gali (Gambar 36) sekaligus

memuat tanah dan batubara ke dalam dump truck yang akan diangkut ke

lokasi penimbunan.

( Sumber : Dokumentasi penulis)

Gambar 36. Excavator

Rumus perhitungan productivity excavator (Prodjosumanto, P

1993, Pemindahan Tanah Mekanis : ITB) yaitu

Q = Kap. Bucket x (3600/CT) x Bucket Fill Factor x Eff. Factor x swell

Keterangan :

CT : Cycle time Excavator

Swell Factor : Faktorpengembangan material


Eff. Faktor : Porsiwaktu yang dipakaidalamsatu jam

Bucket Fill Faktor : Faktor Pengisian Bucket

Sedangkan Rumus Cycle time Excavator (Handbook Mining

Operation PT. ARKA; 2011) adalah :

CT = DgT + SLT + DT + SET

Keterangan :

CT : Cycle time Excavator

DgT : Digging Time/ Waktu Menggali

SLT : Swing Load Time/ Waktu Ayun Isi

DT : Dumping Time/ Waktu Tumpah

SET : Swing Empty Time/ Waktu Ayun Kosong

b. Produktivitas BulDozer

BullDozer (alat-gali) berfungsi sebagai alat bantu bagi excavator

dalam melakukan penggalian (Ripping) dan pengumpulan (Dozing)

batubara dan tanah. Jadi Contoh gambar Dozer (Gambar 37).

( Sumber : Dokumentasi penulis)

Gambar 37. Dozer Ripping


1) Produktivitas Dozer Dozing

Rumus perhitungan productivity Dozer dozing (Handbook

Mining Operation PT. ARKA; 2011) yaitu :

Kap.Blade x (60/CT) x Eff. Factor x swell factor

Keterangan

CT : Cycle time Hauler

Swell Factor : Faktor pengembangan material

Eff. Faktor : Porsi waktu yang dipakai dalam satu jam.

Sedangkan Rumus Cycle time Excavator (Handbook Mining

Operation PT. ARKA; 2011) adalah

CT = T1 + (Distance/V1) + T2 + (Distance/V2)

Keterangan :

T1 : Waktu ganti transmissi saat mendorong maju

Distance : Jarak dozing

V1 : Kecepatan maju

V2 : Kecepatan mundur

T2 : Waktu pindah transmisi saat mundur

2) Produktivitas Dozer Ripping

Rumus perhitungan productivity Dozer Ripping (Handbook

Mining Operation PT. ARKA; 2011) yaitu :


a) Produktivitas Ripping Strike

60
=

b) Produktivitas Ripping Cross

60
=

c) Produktivitas Ripping strike-cross

.

+1
(.
/)

Keterangan :

Rs ( Ripping Spasi) : Jarak antara 2 garis Ripping

Rp (Ripping Penetration) : Kedalaman Ripping

Rd (Ripping Distance) : Panjang garis Ripping

Fk ( Faktor Koreksi) : Nilai rata-rata (PA+Eff work+Skill)

C. Proses Pelaksanaan Kegiatan / produksi

Adapun proses pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dengan mengamati

produksi unit yang ditempatkan dimaterial keras, sehingga dibutuhkan proses

Ripping untuk memberaikannya. Unit Excavator yang ditempatkan dimaterial

keras adalah Excavator Hitachi 1900 dan Hitachi 1200 serta Komatsu PC 2000,

Pemberaian lapisan Overburden dilakukan dengan memanfaatkan ripper yang

terdapat pada alat unit Dozer Ripping, adapun unit Dozer Ripping yang
digunakan adalah Dozer Ripping Komatsu D155 A dan Caterpillar D10 T

Secara umum tahapan pelaksanaan kegiatan produksi adalah sebagai berikut :

1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)

Pembabatan adalah kegiatan pembersihan front kerja atau tempat kerja

dari tumbuh-tumbuhan baik itu semak belukar, pepohonan dan tumbuhan

yang lainnya yang dapat mengganggu proses penambangan atau

mengganggu alat-alat mekanis yang bekerja pada lokasi penambangan.

Kegiatan land clearing dilakukan menggunakan alat mekanis berupa Dozer.

Persiapan kegiatan pembersihan lahan harus memenuhi kriteria sebagai

berikut:

a. Lahan yang akan dibersihkan terlebih dahulu telah di survei dan bebas

dari kemungkinan sengketa karena belum diselesaikan proses tanam

tumbuh.

b. Apabila terdapat pohon dengan diameter 30cm dan kuantitas pohon

cukup banyak maka disarankan menggunakan fasilitas chain saw

terlebih dahulu.

c. Apabila telah selesai proses penebangan pohon dengan chain saw

selanjutnya digunakan bullDozer untuk tahap final pembersihan lahan.

d. Dalam proses pembersihan lahan, bullDozer tidak diperbolehkan

memotong tanah terlalu dalam yang akan mengakibatkan berkurangnya

lapisan top soil.


e. Material (pohon dan sejenisnya) yang dibersihkan sedapat mungkin

harus dikumpulkan ke dalam satu tempat untuk memudahkan proses

pemindahan.

f. Luas area yang di bersihkan harus mematuhi batas yang telah

dikeluarkan dalam boundary design yang dikeluarkan departemen

perencanaan.

2. Perintisan (Pionering)

Perintisan merupakan kegiatan lanjutan dari land clearing berupa

pembuatan jalan angkut dan meratakan front kerja agar alatalat mekanis

leluasa beroperasi.

3. Pengupasan lapisan tanah pucuk

Pengupasan lapisan tanah pucuk adalah kegiatan pemindahan suatu

lapisan tanah atau batuan yang berada di atas cadangan bahan galian, agar

bahan galian tersebut menjadi tersingkap. Bentuk lapisan tanah penutup,

ukuran ketebalan dan luasnya akan menentukan volume keseluruhan

sehingga dengan faktor pengembangan tertentu dapat digunakan untuk

mencari dan menentukan lokasi penampungan material hasil penggalian.

Tanah pucuk terdiri dari tanah humus dan tanah merah yang merupakan

hasil pelapukan dari tanah induk. Tanah pucuk harus diperlakukan secara

khusus karena sangat penting untuk media tanaman.

Proses penghijauan tidak dapat dilakukan dengan baik apabila tidak

tersedia tanah pucuk. Penggalian atau pemisahan tanah pucuk dilakukan

dengan menggunakan bullDozer, excavator, dan dump truck. Tanah pucuk


yang telah ditimbun pada lokasi khusus pada saat diperlukan tanah pucuk

tersebut akan dihamparkan kembali diatas tanah timbunan yang bersifat

permanen.

Tujuan penanganan tanah pucuk tersebut adalah untuk menjaga agar

tidak tercampur dengan tanah lain, agar unsur hara tidak mati, dan tanah

pucuk tidak tererosi. Penebaran kembali tanah pucuk dilakukan dengan

ketebalan antara 20-30 cm diatas lahan yang telah di tata dan dirapikan

agar bebas erosi.

4. Pengupasan, Penggalian dan pemuatan Overburden

Pengupasan overburden di PT. Arkananta Apta Pratista dilakukan

dengan cara direct digging (penggalian langsung) (Gambar 38), namun

pada lokasi dengan material overburden yang keras digunakan alat

support Dozer Ripping untuk memberaikan batuan terlebuh dahulu. Jadi

metode pemberaian material yang digunakan adalah metode Ripping, tidak

digunakannya metode peledakan untuk pemberaian dikarenakan

terkendala masalah izin dan lingkungan. Sedangkan untuk penggalian dan

pemuatan di PT. Arkananta Apta Pratista direncanakan mengoperasikan 7

unit excavator setiap harinya yaitu unit Excavator Hitachi 2500, 1900, dan

1200 (2 fleet) serta Komatsu PC 2000 (2 Fleet) serta 1250. Unit excavator

yang direncanakan ditempatkan pada material keras adalah unit Hitachi

1900, 1200 dan Komatsu 2000, sehingga pada proses produksinya ketiga

unit tersebut membutuhkan support dari Dozer Ripping Komatsu 155 dan
Caterpillar 10D. Sedangkan alat angkut material yang digunakan adalah

HD Komatsu 785 dan OHT Caterpillar 777.

( Sumber : Dokumentasi penulis)

Gambar 38. Pemuatan Overburden


5. Ripping Overburden

Pengupasan material Overburden yang keras harus dilakukan

pemberaian terlebih dahulu, metode pemberaian yang dilakukan adalah

metode Ripping (Gambar 39) yaitu dengan cara mengoptimalkan penggunaan

Ripping yang terdapat pada alat unit support Dozer Ripping, Dozer Ripping

yang digunakan untuk memberaikan material keras overburden adalah Dozer

Ripping Komatsu D155 A dan Dozer Caterpillar D10 T

Adapun teknik Ripping sesuai dengan buku panduan operasi PT.

Arkananta Apta Pratista Adalah sebagai berikut

a. Teknik Ripping

1) Jenis/kondisi material yang akan di Ripping

2) Pilih tip dan shank Ripping yang sesuai dengan kondisi material .
3) Kecepatan maksimal 1 - 1 mph dan 2/3 throttle

4) Gunakan gear 1 dan decelator untuk mengontrol track slip

5) Jangan gunakan steering saat Ripping

( Sumber : Dokumentasi penulis)


Gambar 39. Proses Ripping material keras

6. Pengangkutan (Hauling)

Kegiatan ini adalah suatu proses pemindahan overburden maupun

batubara dari loading point menuju area penimbunan disposal (untuk

overburden) (Gambar 40) dan stockpile (untuk batubara) dengan

menggunakan alat angkut dump truck. Dump truck yang digunakan dalam

proses pengangkutan overburden dan top soil pada PT. Arkananta Apta

Pratista adalah Komatsu 785 dan Caterpillar 777, sedangkan untuk

pengangkutan batubara pihak owner menggunakan sub kontraktor PT.

MAXI
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 40. Pengangkutan Overburden ke Disposal
7. Penimbunan (Dumping)

Kegiatan penimbunan (dumping) merupakan kegiatan untuk

meletakkan material baik lapisan penutup (overburden) maupun batubara

ke area penimbunan yang telah ditetapkan. Area penimbunan

disposal untuk overburden PT. Arkananta Apta Pratista berjarak kurang

lebih 2.6 kilometer dari front penambangan (Gambar 41). Pada proses

dumping ke area disposal dilakukan oleh Dozer Ripping Komatsu D155 A

dan Caterpillar D10 T untuk mendorong material kedalam area disposal


Sumber: Dokumentasi Penulis
Gambar 41. Dumping Overburden di Disposal Area

D. Analisa dan Pembahasan

1. Analisa

Berdasarkan hasil pengamatan aktifitas pengupasan material

overburden yang keras dilakukan oleh 3 unit excavator yaitu Hitachi 1900,

Hitachi 1200, dan Komatsu PC 2000. Dalam proses digging material

overburden yang keras harus diberaikan terlebih dulu dengan

menggunakan ripper yang terdapat pada unit support Dozer Ripping.

Adapun Dozer Ripping yang digunakan adalah Komatsu D155 A dan

Caterpillar D10 T, namun karena terbatasnya unit Dozer Ripping, Dozer

Ripping harus berpindah pindah front.

Hal ini tentu saja menyebabkan tidak optimal nya proses

digging yang dilakukan oleh excavator. Selain itu fungsi Dozer

sebagai alat support untuk mengumpulkan material yang akan diangkut

juga menjadi
tidak optimal. Tidak optimal nya produktivitas unit akan berimbas

terhadap ketercapaian target produksi yang telah direncanakan.

2. Analisa dan Pembahasan

a. Produktivitas Alat Mekanis (Aktual)

Dari Data aktual di lapangan dapat dihitung produktivitas masing-

masing alat mekanis pada operasi pengupasan overburden. Didapatkan

perbedaan produktivitas excavator yang ditempatkan pada material

keras saat tidak disupport Dozer Ripping dan disupport Dozer riping,

adapun data perhitungan produktivitas excavator sebagai berikut

1) Produktivitas Dozer Ripping

Metode Riping yang digunakan oleh PT. Arkananta Apta

Pratista adalah dengan metode Strike-Cross. Adapun persamaan

yang digunakan untuk mencari produktivitas Dozer Ripping adalah

sebagai berikut (Handbook Mining Operation PT. ARKA; 2011).

Produktivitas Ripping Strike

60
=

Produktivitas Ripping Cross

60
=

Produktivitas Ripping strike-cross

(. /) + 1
a) Productivitas Dozer Ripping Komatsu D155 A

Diketahui :

(1) Strike Ripping :

Waktu maju = 47.35 detik

Waktu mundur = 21.06 detik

Cycle time = 1.14 menit

Ripping Space = 1.00 meter

Ripping Penetration = 0.95 meter

Ripping Distance = 21.80 meter

PA D155 A = 87.60 %

Eff Time = 85%

Skill operator = 80 %

Faktor Koreksi = ((87.60%+85%+80%)/3)

= 84%

Maka :

1 0.98 21.80 0.84 60


=
1.14

Q = 915.41 BCM/jam

(2) Cross Ripping :

Waktu maju = 51.05 detik

Waktu mundur = 26.09 detik

Cycle time = 1.29 menit

Ripping Space = 1.00 meter


Ripping Penetration = 0.95 meter

Ripping Distance = 26.80 meter

PA D155 A = 87.60 %

Eff Time = 85%

Skill operator = 80 %

Faktor Koreksi = ((87.60%+85%+80%)/3)

= 84%

Maka :

1 0.98 26.80 0.84 60


=
1.29

Q = 998.14 BCM/jam

Maka Produktivitas Ripping Strike-Cross

915.41
= +1
(915.41/998.14)

Q = 477.49 BCM/jam

Jadi produktivitas Ripping dari alat Dozer Ripping

Komatsu D155 A dengan metode strike-cross adalah

477.49 BCM/jam

b) Productivitas Dozer Ripping Caterpillar D10 T

Diketahui :

(1) Strike Ripping :

Waktu maju = 91.17 detik


Waktu mundur = 28.40 detik

Cycle time = 1.99 menit

Ripping Space = 1.20 meter

Ripping Penetration = 1.20 meter

Ripping Distance = 36.80 meter

PA D 10 = 71.70 %

Eff Time = 85%

Skill operator = 80 %

Faktor Koreksi = ((87.60%+85%+80%)/3)

= 79%

Maka :

1.20 1.20 36.80 0.79 60


=
1.99

Q = 1260.47 BCM/jam

(2) Cross Ripping :

Waktu maju = 51.10 detik

Waktu mundur = 20.69 detik

Cycle time = 1.20 menit

Ripping Space = 1.20 meter

Ripping Penetration = 1.20 meter

Ripping Distance = 27.30 meter

PA D155 A = 71.70 %

Eff Time = 85%


Skill operator = 80 %

Faktor Koreksi = ((87.60%+85%+80%)/3)

= 79%

Maka :

1.20 1.20 27.30 0.79 60


=
1.20

Q = 1557.41 BCM/jam

Maka Produktivitas Ripping Strike-Cross

1260.47

= (1260.47 /1557.41) + 1

Q = 696.64 BCM/jam

Jadi produktivitas Ripping dari alat Dozer Ripping Caterpillar

D10 T dengan metode strike-cross adalah 696.64 BCM/jam.

Berikut adalah tabel produktivitas Dozer Ripping, dapat dilihat

pada tabel 7.

2) Produktivitas alat gali muat Excavator

Q = Kap. Bucket x (3600/CT) x Bucket Fill Factor x Eff. Factor x swell

Untuk menghitung produktivitas excavator dapat digunakan

persamaan di atas ( Prodjosumanto, P 1993, Pemindahan Tanah

Mekanis: ITB). Pengambilan data dilakukan selama dua kali,

masing-masing 1 jam, kemudian diambil nilai rata-ratanya.


a) Excavator Hitachi 1900 ( E42)

(1) Material No Ripping

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.75

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,74

Cycle time (CT) = 45.28 detik (Lampiran A)

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/45.28) x 0.75 x 0.74 x 0.76

Q = 403.56 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.75

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,72

Cycle time (CT) = 41.61

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/41.61) x 0.75 x 0.72 x 0.76

Q = 424.08 BCM/jam
Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Hitachi 1900

untuk Overburden yang keras tanpa Ripping didapat hasil

403.56 BCM/jam dan 424.08 BCM/jam. Sehingga didapat

nilai produktivitas rata rata 413.82 BCM/ jam

(2) Material Ripping ( Dozer Ripping Caterpillar D10 T)

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.9

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,81

Cycle time (CT) = 38.68 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/39.67) x 0.9 x 0.81 x 0.76

Q = 618.32 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.9

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,84

Cycle time (CT) = 37.58 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :
Q = 12.00 x (3600/37.58) x 0.9 x 0.84 x 0.76

Q = 628.51 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Hitachi 1900

untuk Overburden yang keras, dengan support Dozer Ripping

Caterpillar D10 T didapat hasil 618.32 BCM/jam dan 628.51

BCM/jam. Sehingga didapat nilai produktivitas rata rata

623.42 BCM/jam

b) Excavator Komatsu 2000 ( E59)

(1) Material No Ripping

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.70

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,77

Cycle time (CT) = 39.16 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/39.16) x 0.70 x 0.77 x 0.76

Q = 452.89 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.70

Swell Factor (SF) = 0.76


Effisiensi excavator (Eff) = 0,83

Cycle time (CT) = 38.65 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/38.65) x 0.70 x 0.83 x 0.76

Q = 491.17 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Komatsu 2000

untuk Overburden yang keras tanpa Ripping didapat hasil

453.26 BCM/jam dan 491.17 BCM/jam. Sehingga didapat

nilai produktivitas rata rata 472.03 BCM/jam

(2) Material Ripping (Dozer Ripping Komatsu D155 A)

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.75

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,76

Cycle time (CT) = 34.42 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/34.42) x 0.75 x 0.76 x 0.76

Q = 546.76 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m
Faktor Bucket (FB) = 0.75

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,76

Cycle time (CT) = 36.22 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/36.22) x 0.75 x 0.77 x 0.76

Q = 526.25 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Komatsu PC

2000 untuk Overburden yang keras, dengan support Dozer

Ripping Komatsu D155 A didapat hasil 546.75 BCM/jam dan

526.25 BCM/jam. Sehingga didapat nilai produktivitas rata

rata 536.51 BCM/jam

(3) Material Ripping (Dozer Ripping Caterpillar D10 T )

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.85

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,78

Cycle time (CT) = 34.59 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/34.59) x 0.85 x 0.78x 0.76


Q = 627.40 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 12.00 m

Faktor Bucket (FB) = 0.85

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,73

Cycle time (CT) = 32.33 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/33.30) x 0.85 x 0.73 x 0.76

Q = 622.54 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Komatsu PC

2000 untuk Overburden yang keras, dengan support Dozer

Ripping Caterpillar D10 T didapat hasil 627.40 BCM/jam

dan 611.91 BCM/jam. Sehingga didapat nilai produktivitas

rata rata 624.97 BCM/jam

c) Excavator Hitachi 1200 ( E71)

(1) Material No Ripping

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 6.70 m

Faktor Bucket (FB) = 0.75

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,69


Cycle time (CT) = 29.38 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/29.38) x 0.75 x 0.69x 0.76

Q = 320.80 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 6.70 m

Faktor Bucket (FB) = 0.75

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,71

Cycle time (CT) = 29.43 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/29.43) x 0.75 x 0.71 x 0.76

Q = 332.25 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Komatsu 2000

untuk Overburden yang keras tanpa Ripping didapat hasil

320.79 BCM/jam dan 332.25 BCM/jam. Sehingga didapat

nilai produktivitas rata rata 326.52 BCM/jam.

(2) Material Ripping (Dozer Ripping Komatsu D155 A)

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 6.70 m

Faktor Bucket (FB) = 0.90


Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,61

Cycle time (CT) = 22.55 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/22.55) x 0.90 x 0.61 x 0.76

Q = 449.11 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 6.70 m

Faktor Bucket (FB) = 0.90

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,65

Cycle time (CT) = 22.78 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/36.22) x 0.90 x 0.65 x 0.76

Q = 467.45 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Hitachi 1900

untuk Overburden yang keras, dengan support Dozer Ripping

Komatsu D155 A didapat hasil 449.11 BCM/jam dan 467.44

BCM/jam. Sehingga didapat nilai produktivitas rata rata

458.28 BCM/jam.
(3) Material Ripping (Dozer Ripping Caterpillar D10 T )

(a) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 6.70 m

Faktor Bucket (FB) = 0.95

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,65

Cycle time (CT) = 21.93 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/21.93) x 095 x 0.65 x 0.76

Q = 517.60 BCM/jam

(b) Diketahui:
3
Kapasitas Bucket (KB) = 6.70 m

Faktor Bucket (FB) = 0.95

Swell Factor (SF) = 0.76

Effisiensi excavator (Eff) = 0,64

Cycle time (CT) = 22.00 detik

Densitas material = 1,70 ton/ m3

Maka :

Q = 12.00 x (3600/22.00) x 0.95 x 0.64 x 0.76

Q = 507.42 BCM/jam

Maka, Produktivitas alat gali muat Excavator Hitachi 1900

untuk Overburden yang keras, dengan support Dozer Ripping


Caterpillar D10 T didapat hasil 517.60 BCM/jam dan 507.42

BCM/jam. Sehingga didapat nilai produktivitas rata rata

512.51 BCM/jam

Berikut adalah tabel perbandingan pencapaian produktivitas

excavator pada pengupasan OB dengan kondisi material Ripping dan

no Ripping (Tabel 8).

Tabel 7. Produktivitas Dozer Ripping

Bulldozer produktivitas

Komatsu D155 A 477.49

Caterpillar D 10 T 696.64

a Produktivitas

b Excavator Plan No Ripping Ripping D155 A Ripping D 10 T


e Bcm/jam (%) Bcm/jam (%) Bcm/jam (%)

l 625 413.82 66.2% - - 623.41 99.7%


Hitachi E 1900

Komatsu PC
625 472.21 75.6% 536.50 85.8% 624.97 99.9%
2000
8
Hitachi E 1200 450 326.52 72.6% 458.27 101.8% 512.53 113.9%
.

Perbedaan Ketercapaian Produktivitas Excavator

Setelah melakukan pengamatan, dapat dianalisa masing-masing

Dozer Ripping mampu meberaikan material sesuai dengan target

produksi, dimana untuk Dozer Komatsu D 1555 A memiliki


kemampuan meberaikan 477.49 BCM/jam, sedangkan Dozer

Caterpillar D 10 T memiliki kemampuan memberaikan 696.64

BCM/jam. Sedangkan target produksi yang dibebankan adalah 625

BCM/ jam dan 450 BCM/jam.

Sedangkan perbedaan kemampuan produktivitas excavator

dengan perbedaan material dapat dilihat pada table 7. Dimana untuk

excavator sekelas Hitachi 1900 dan Komatsu PC 2000 apabila tidak

disupport atau bekerja pada material keras tidak mampu memenuhi

target produksi. dimana hanya mampu mencapai 413.82 (66.2 %) dan

472.21 ( 75.6%) dari target produksi yang dibebankan yaitu 625 BCM/

Jam. Namun untuk excavator Hitachi 1900 memiliki peningkatan yang

cukup signifikan ketika disupport oleh Dozer D 10 T, dimana mampu

mencapai 623.41 (99.7 % ) dari target produksi yang dibebankan.

Begitu juga dengan excavator PC 2000 mengalami peningkatan

produktivitas ketika disupport oleh Dozer Ripping, dimana ketika

disupport Dozer Komatsu D 155 A mampu mencapai 536.50 BCM/ jam

85.8% dari target produksi. Tercapainya produktivitas excavator

diangka 536.50 BCM /jam yang lebih besar dibanding kemampuan

produktivitas Dozer Komatsu D 155 yang hanya berkisar diangka

477.49 BCM /jam, dikarenakan kemampuan gali excavator itu sendiri.

Dimana bucket excavator tersebut telah dimodifikasi dengan meletakan

kuku-kuku, sehingga excavator tsb mampu menggali dengan kondisi

material yang keras. Sedangkan ketika disupport oleh Dozer Caterpillar


D 10T mengalami penigkatan produktivitas menjadi 624. 97 BCM/jam

(99.9%).

Sedangkan untuk excavator sekelas Hitachi 1200 ketika menggali

material tanpa disupport Dozer Ripping hanya mampu mencapai 326.52

BCM/ jam (72.6%) dari target produksi yang dibebankan yaitu 450

BCM/ jam. Namun pada saat disupport Dozer Komatu D 155 A

produktivitas Excavator 1200 mencapai 458.27 BCM/jam (101.8%)

sehingga produktivitas excavator 1200 ketika disupport oleh Dozer

Komatsu D 155 A telah melewati target produksi yang dibebankan,

ketika Disupport Oleh Dozer Caterpillar D10 T produktivitas Excavator

1200 mencapai 512.53 ( 113.9%).


110

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan praktek lapangan dan pembahasan yang telah

dilakukan, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam operasi penambangan PT. Arkananta Apta Pratista

menggunakan metoda tambang terbuka dan sistem penambangan yang

digunakan dalam proses penambangan pada PT. Arkananta Apta

Pratista ini adalah sistem conventional mining yang menerapkan metode

kombinasi backhoe and dump truck

2. Berdasarkan kriteria kemampugaruan (Pettifer & Fookes, 1994)

overburden yang terdapat di pit PT. Arkananta Apta Pratista termasuk

klasifikasi material keras untuk digali.

3. Metode pemberaian batuan yang digunakan untuk melepas material

dari batuan induknya yang digunakan oleh PT. Arkananta Apta Pratista

adalah metode ripping. Yaitu dengan mengoptimalkan penggunaan alat

ripper yang terdapat pada alat support dozer ripping. Pemilihan

metode ripping dikarenakan tidak memungkinkan digunakan metode

peledakan karena terganjal izin dan lingkungan

4. Excavator yang selalu ditempatkan di material keras adalah Hitachi

1900 dan 1200, serta Komatsu PC 2000. Dengan dibantu alat support

dozer ripping Komatsu d 155 A dan Caterpillar D10 T.

110
111

5. Setelah dilakukan pengamatan dan analisa data, didapat hasil

perbedaan yang cukup signifikan antara produktivitas excavator yang

ditempatkan dimaterial keras, antar yang disupport dozer ripping dan

yang tidak disupport.

B. SARAN

Berdasarkan kegiatan praktek yang telah dilakukan oleh penulis,

beberapa saran dalam upaya peningkatan produktivitas sebagai berikut:

1. Untuk Excavator type sekelas Hitachi 1200, cukup ripping dengan

menggunakan dozer Komatsu D 155A, karena dengan disupport oleh

Komatsu D155 A saja produktivitas excavator sudah melampaui plan

produksi

2. Untuk Excavator type sekelas Hitachi 1900 dan Komatsu PC 2000,

harus ripping dengan menggunakan dozer Caterpillar D10 T, karena

dengan disupport oleh Caterpillar D10 T sekalipun, plan produksi

belum tercapai namun sudah mendekati.

3. Maka untuk mencapai target produksi maka jumlah dozer ripping yang

harus ready adalah satu, untuk masing masiong excavator yang

ditempatkan pada material keras.

4. Ketika unit Dozer ripping terbatas, maka diperlukan pengawasan

khusus dari pengawas supaya optimasi penggunaan dozer ripping

lebih optimal, sehingga produktivitas ripping tetap maksimal.


DAFTAR PUSTAKA

Indonesianto, Yanto . 2010 . Pemindahan Tanah Mekanis . Yogyakarta: UPN


Veteran

Kenedy, B. A. (1990). Surface Mining. United State of America: Port City


Press, Inc.

Sumarya. 2009. Bahan Ajar Alat Berat dan Iteraksi Alat Berat. Padang:
Universitas Negeri Padang

PT. ABN, 2012, Penyelidikan Geoteknik & Hidrogeologi Tambang Batubara


Blok Timur, PT Karsa Yasa Cipta Consult, Bandung.

Dwinagara, Barlian, 2010, Kemampugalian Alat Mekanis, UPN Veteran,


Yogyakarta.

Sukarman, 2013, Power point Production Capacity Concept, PT. Arkananta


Apta Pratista, Samarinda.

,2013, Buku Pedoman Pengawas Produksi, PT.


ArkanantaAptaPratista, Samarinda.
LAMPIRAN A

. TABEL POPULASI SELURUH UNIT PADA PT. ARKA

N EQUIPMEN CAPACITY ATTACH


BRAND UNIT MODEL
O T TYPE /POWER MENT
A WAS TE
REMOVALExcavator
1 Hydraulic HITA CHI 1 PC 2500-6 15.0 CUM Backhoe
2 Hydraulic Excavator KOM ATSU 2 PC 2000-8 12.0 CUM Backhoe
4 Hydraulic Excavator HITA CHI 1 EX 1900-6 12.0 CUM Backhoe
5 Hydraulic Excavator HITA CHI 1 EX 1200-6 6.7 CUM Backhoe
6 Hydraulic Excavator CATERPILLAR 2 PC 385 5.4 CUM Backhoe
7 Hydraulic Excavator HITA CHI 1 EX 870 3.4 CUM Backhoe
8 Rijid Du mp truck CATERPILLAR 15 777 D 40.0 BCM Rear Dump
9 Rijid Du mp CATERPILLAR 16 777 D + HB 44.0 BCM Rear Dump
10 truck CATERPILLAR 12 773 E HD 24.0 BCM Rear Dump
Rijid Du mp
12 KOM ATSU 8 785-7 40.0 BCM Rear Dump
truck
B COAL MINING
13 Hydraulic Excavator COBELCO 2 SK 480LC-8 2.5 CUM Bucket
14 Rig id dump truck NISSAN 7 CW B 30,00 Tones Rear Dump
15 Rig id dump truck SCANIA 9 P124CB 30,00 Tones Rear Dump
C S UPPORT
16 Hydraulic Excavator HITACHI 1 ZX 200 0.8 CUM Backhoe
17 Hydraulic Excavator COBELCO 2 SK 200-8 S 1.3 CUM Backhoe
18 Bulldozers CATERPILLA 1 D7G D8R 258.0 HP Blade+Ripper
19 Bu R 5 D10T 338.0 HP Blad e+Ripper
20 lldozers CATERPILLAR 2 D85ESS 646.0 HP Blad e+Ripper
21 Bu CATERPILLAR 1 14M 175.0 HP Blad e
22 lldozers KOM ATSU 2 16M --- --- Blade+Ripper
23 Bu CATERPILLA 1 CWA 261 --- --- Blade+Ripper
24 lldozers R 1 CWA 260 --- --- Crane Arm
25 Motor CATERPILLAR 1 CWA 262 16000 Liter Liquids Tank
26 Grader Motor NISS AN NISS 2 CWA 263 16000 Liter Liquids Tank
27 Grader Crane AN NISS AN 3 FM 260 TI 16000 Liter Liquids Tank
28 Truck Lube NISS AN 3 DND 150-500-4XH 16001 Liter Liquids Tank
29 Truck Fuel HINO VOLVO 1 DND 200-600-5XH 150.0 M 3 H-1 Float+Pipe
30 Truck Water VOLVO 2 FBP 300 200.0 M 3 H-1 Float+Pipe
31 Truck Water CATERPILLAR 1 DND 100 300.0 M H3 -1 Float+Pipe
32 Truck Mine Perkins 1006-6T 1 100.0 M 3 H-1 Float+Pipe
Pump Mine

A-1
TABEL POPULASI UNIT OPERATION

DUMP TRUCK
777 773 EXCAVATOR
No No. Unit Tipe Unit No No. Unit Tipe Unit No No. Unit Tipe Unit
1 Caterpillar 777D RD-025 1 Caterpillar 773E RD-056 1 Hitachi EX 870 E-031
2 Caterpillar 777D RD-026 2 Caterpillar 773E RD-057 2 Hitachi EX 1900-6 E-042
3 Caterpillar 777D RD-027 3 Caterpillar 773E RD-067 3 Hitachi EX 2500-6 E-044
4 Caterpillar 777D RD-028 4 Caterpillar 773E RD-068 4 Caterpillar 385C E-045
5 Caterpillar 777D RD-029 5 Caterpillar 773E RD-069 5 Hitachi ZX 200 E-047
6 Caterpillar 777D RD-030 6 Caterpillar 773E RD-070 6 Caterpillar 385C E-050
7 Caterpillar 777D RD-031 7 Komatsu PC 2000-8 E-051
8 Caterpillar 777D RD-032 8 Kobelco SK 200 E- 3 A -2
05
9 Caterpillar 777D RD-039 9 Kobelco SK 200 E-054
10 Caterpillar 777D RD-040 10 Kobelco SK 480LC E-055
11 Caterpillar 777D RD-041 11 Kobelco SK 480LC E-056
12 Caterpillar 777D RD-049 785-7 12 Hitachi EX 1200-6 E-057
13 Caterpillar 777D RD-055 No No. Unit Tipe Unit 13 Komatsu PC 2000-8 E-059
14 Caterpillar 777D RD-058 1 Komatsu HD785-7 RD-042 14 Komatsu PC 300 E-043
15 Caterpillar 777D RD-059 2 Komatsu HD785-7 RD-043 DOZER
16 Caterpillar 777D RD-060 3 Komatsu HD785-7 RD-044 No No. Unit Tipe Unit
17 Caterpillar 777D RD-061 4 Komatsu HD785-7 RD-045 1 Caterpillar D8R DZ-004
18 Caterpillar 777D RD-062 5 Komatsu HD785-7 RD-071 2 Komatsu D85E SS-2 DZ-014
19 Caterpillar 777D RD-063 6 Komatsu HD785-7 RD-072 3 Caterpillar D10T DZ-015
20 Caterpillar 777D RD-064 7 Komatsu HD785-7 RD-073 4 Caterpillar D8R DZ-017
21 Caterpillar 777D RD-065 8 Komatsu HD785-7 RD-074 5 Caterpillar D8R DZ-018
22 Caterpillar 777D RD-066 6 Caterpillar D8R DZ-019
23 Caterpillar 777D RD-081 7 Caterpillar D8R DZ-020
24 Caterpillar 777D RD-082 8 Caterpillar D10T DZ-025
25 Caterpillar 777D RD-083
26 Caterpillar 777D RD-084 GRADER
No No. Unit Tipe Unit
1 Caterpillar 14M GR-006
2 Caterpillar 14M GR-007
3 Caterpillar 16M GR-008

A-2
LAMPIRAN B
SPESIFIKASI ALAT
A. EXCAVATOR

1. HITACHI E 1900

Spesifikasi Hitachi Ex-1900 (Handbook Hitachi 2009)

B-1
2. KOMATSU PC 2000

Spesifikasi Komatsu PC 2000 (Handbook Komatsu 2009)

B-2
3. HITACHI 1200

Spesifikasi Hitachi Ex-1200 (Handbook Hitachi 2009)

B-3
B. DOZER
1. CATERPILLAR D10 T

Spesifikasi Caterpillar D 10 T (Handbook Caterpillar)

B-4
LAMPIRAN C
CYCLE TIME EXCAVATOR HITACHI EX 1900

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 16 Februari 2015 Material : Mudstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :11 Dozer Ripping : NO RIPPING
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 07.00:08.00 Locaton : PIT 1 ARKA
HITACHI EX-1900 (E 042)
Jumlah Dumping in Swing
Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
Pas vessel Unloaded
1 27,35 10,06 2,69 7,86 47,96
2 25,12 5,88 1,96 6,82 39,78
3 29,52 9,82 2,53 7,04 48,91
4 25,12 6,57 2,62 5,09 39,40
5 28,24 6,07 2,10 5,78 42,19
6 20,03 7,68 1,81 6,52 36,04
Working Hour 254,28
1 25,12 11,55 2,33 6,63 45,63
2 25,33 9,56 3,38 9,50 47,77
3 25,12 8,39 2,31 7,32 43,14
4 24,99 8,65 2,19 5,82 41,65
5 25,56 9,38 2,02 5,99 42,95
6 24,40 9,51 2,55 7,05 43,51
Working Hour 264,65
1 24,56 6,68 2,69 6,19 40,12
2 20,19 7,18 2,02 6,52 35,91
3 22,55 7,90 1,96 6,52 38,93
4 24,67 6,63 2,24 6,84 40,38
5 24,71 7,71 2,49 7,96 42,87
6 26,45 7,22 1,84 6,81 42,31
Working Hour 240,52
1 28,34 19,75 2,47 7,29 57,85
2 28,43 9,60 4,95 9,50 52,48
3 22,97 8,53 3,71 8,40 43,60
4 23,50 8,96 1,80 7,48 41,74
5 27,00 11,71 2,53 8,17 49,41
6 25,55 8,12 1,95 5,27 40,89
Working Hour 285,97
1 27,71 8,01 2,39 6,50 44,61
2 25,78 7,58 2,25 5,68 41,29
3 22,41 6,92 2,16 5,43 36,92
4 27,81 8,70 2,02 5,97 44,50
5 31,70 7,87 2,54 5,77 47,88
6 30,45 10,65 2,87 7,97 51,94
Working Hour 267,14
1 32,91 9,42 2,07 5,25 49,65
2 27,12 10,04 2,47 8,45 48,08
3 29,00 13,45 3,26 6,81 52,52
4 32,00 9,64 2,48 17,12 61,24
5 23,12 14,17 3,26 9,42 49,97
6 26,12 8,44 2,72 6,01 43,29
Working Hour 304,74
1 22,40 6,75 2,27 5,87 37,29
2 28,74 9,33 2,25 5,45 45,77
3 28,92 8,42 2,89 6,69 46,92
4 26,78 6,88 2,76 5,24 41,66
5 30,23 7,61 1,96 5,17 44,97
6 26,39 5,32 2,29 6,51 40,51
Working Hour 257,12
1 27,77 7,73 2,20 11,87 49,57
2 25,64 8,86 2,57 5,60 42,67
3 24,07 7,28 2,02 5,67 39,05
4 26,30 9,11 2,22 4,41 42,04
5 25,12 12,03 1,90 26,29 65,34
6 19,03 7,19 2,94 5,59 34,75
Working Hour 273,42
1 29,58 16,37 2,24 11,58 59,77
2 19,02 7,43 2,47 10,37 39,28
3 25,67 8,23 2,31 14,27 50,48
4 20,27 6,56 2,76 12,63 42,22
5 25,12 11,45 2,49 13,22 52,28
6 27,21 8,05 1,68 9,40 46,34
Working Hour 290,37
1 24,44 16,37 2,24 5,18 48,23
2 23,13 12,43 2,47 10,37 48,39
3 26,27 6,56 2,76 9,63 45,22
4 25,12 11,45 2,49 9,11 48,17
5 19,00 8,05 1,68 14,34 43,07
Working Hour 233,08
Average
25,71 9,11 2,43 8,02 242,84

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 15 Februari 2015 Material : Mudstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : 11 Dozer Ripping : NO RIPPING
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 10:30 - 11:30 Locaton : PIT 1 ARKA
HITACHI EX-1900 (E 042)
Jumlah Dumping in Swing
Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
Pas vessel Unloaded
1 23,24 8,76 3,78 5,46 41,24
2 29,07 6,91 2,27 4,45 42,70
3 28,85 7,78 2,28 4,51 43,42
4 25,10 8,45 2,67 5,57 41,79
5 26,57 7,98 2,61 5,00 42,15
6 19,10 7,22 3,68 3,89 33,89
Working Hour 245,19
1 26,92 7,76 3,20 4,10 41,98
2 30,83 5,69 2,45 5,21 44,18
3 29,84 7,87 2,90 4,64 45,25
4 26,67 7,14 2,61 4,46 40,88
5 26,42 9,79 2,48 4,88 43,57
Working Hour 215,86
1 32,55 9,11 2,21 5,43 49,30
2 27,61 6,95 3,05 4,52 42,13
3 21,20 10,54 2,60 5,60 39,94
4 26,95 9,10 2,01 5,11 43,16
5 27,12 5,99 3,52 6,89 43,52
6 39,48 5,94 1,80 4,72 51,94
Working Hour 269,99
1 20,68 7,90 2,17 4,57 35,32
2 21,33 7,09 2,14 5,39 35,95
3 27,15 6,73 1,87 5,39 41,15
4 21,69 7,76 2,47 5,36 37,28
5 32,63 8,06 2,76 4,69 48,14
6 33,50 9,77 2,10 5,22 50,59
Working Hour 248,43
1 17,58 7,13 2,43 4,97 32,11
2 26,35 8,18 2,38 5,06 41,97
3 19,95 7,67 2,01 5,00 34,63
4 21,75 7,85 2,60 6,96 39,16
5 40,70 7,80 1,87 7,04 57,41
6 25,58 6,37 2,64 5,38 39,97
Working Hour 245,25
1 27,00 7,42 2,37 6,10 42,88
2 28,90 7,51 2,27 3,76 42,44
3 19,34 7,49 2,00 4,34 33,17
4 28,20 7,55 3,63 4,21 43,59
5 18,99 7,70 2,58 6,63 35,90
6 24,18 7,92 2,28 7,62 42,00
Working Hour 239,98
1 23,92 7,63 2,14 5,31 39,01
2 27,20 7,18 2,82 4,68 41,88
3 33,76 7,61 2,24 4,10 47,71
4 20,80 7,57 1,81 4,39 34,57
5 25,58 7,64 2,63 5,09 40,94
6 20,08 8,13 2,57 5,98 36,76
Working Hour 240,87
1 25,48 7,63 2,75 4,85 40,71
2 35,00 7,67 2,30 3,65 48,62
3 23,70 7,56 2,29 4,69 38,24
4 28,51 7,85 2,32 4,53 43,21
5 25,08 7,91 2,54 5,40 40,93
6 20,30 7,45 2,66 6,89 37,30
Working Hour 249,01
1 23,01 7,56 2,32 6,80 39,69
2 25,93 7,67 1,86 5,33 40,79
3 27,56 6,99 2,78 5,32 42,65
4 23,97 6,78 2,12 4,75 37,62
5 25,22 8,49 2,10 4,89 40,70
Working Hour 201,45
1 27,60 7,28 3,61 4,83 43,31
2 22,33 8,56 3,01 5,60 39,50
3 25,12 8,12 1,78 5,43 40,45
4 19,80 7,00 2,60 5,27 34,67
5 15,78 13,92 2,22 4,11 36,03
Working Hour 193,96
1 32,55 9,11 2,21 5,43 49,30
2 27,61 6,95 3,05 4,52 42,13
3 26,95 9,10 2,01 5,11 43,16
4 27,12 5,99 3,52 6,89 43,52
5 39,48 5,94 1,80 4,72 51,94
Working Hour 230,05
Average
26,17 7,78 2,50 5,17 234,55

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 17 Februari 2015 Material : mudstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : 14 Dozer Ripping : D 10 T
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 15:00 - 16:00 Locaton : PIT 1 ARKA
HITACHI EX-1900
Jumlah Dumping in Swing
Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
Pas vessel Unloaded
1 16,42 9,82 2,69 6,08 35,01
2 17,57 11,16 3,71 6,11 38,55
3 19,70 12,39 3,21 5,96 41,26
4 32,66 11,38 1,94 5,78 51,76
5 23,60 11,00 3,11 6,92 44,63
Working Hour 211,21
1 19,47 7,88 3,45 7,28 38,08
2 16,72 8,23 3,21 6,15 34,31
3 26,19 8,21 4,10 7,11 45,61
4 26,00 8,42 3,29 7,05 44,76
5 16,93 9,56 2,62 6,08 35,19
Working Hour 197,95
1 18,12 4,65 2,92 6,60 32,29
2 16,60 7,95 4,88 7,21 36,64
3 27,10 7,21 3,22 6,91 44,44
4 19,55 7,88 3,08 4,63 35,14
5 19,48 10,12 3,53 7,54 40,67
Working Hour 189,18
1 18,49 8,79 4,42 6,84 38,54
2 17,40 10,14 3,01 6,12 36,67
3 14,71 10,82 2,62 5,83 33,98
4 13,50 10,43 3,64 6,17 33,74
5 24,21 9,06 2,92 7,52 43,71
Working Hour 186,64
1 19,81 10,60 4,88 4,82 40,11
2 23,45 5,07 3,22 3,88 35,62
3 24,21 10,34 3,08 4,02 41,65
4 21,25 8,68 3,53 5,23 38,69
5 22,52 9,45 2,82 5,04 39,83
6 18,43 11,48 3,21 5,23 38,35
Working Hour 234,25
1 28,56 7,51 1,94 5,04 43,05
2 20,61 8,78 3,11 7,61 40,11
3 23,97 10,85 3,45 5,76 44,03
4 20,50 10,38 3,21 6,18 40,27
5 16,84 9,43 3,79 6,04 36,10
Working Hour 203,56
1 22,70 9,63 3,29 8,50 44,12
2 20,58 7,15 2,62 3,88 34,23
3 28,13 10,91 3,11 5,46 47,61
4 27,97 11,77 3,45 4,81 48,00
5 17,10 7,21 3,22 6,91 34,44
Working Hour 208,40
1 19,55 7,88 3,08 4,63 35,14
2 29,48 10,12 3,53 7,54 50,67
3 16,29 7,63 2,82 8,11 34,85
4 18,49 8,79 4,42 6,84 38,54
5 17,40 10,14 3,01 6,12 36,67
6 24,71 10,82 2,62 5,83 43,98
Working Hour 239,85
1 23,50 10,43 3,64 6,17 43,74
2 24,21 9,06 2,92 7,52 43,71
3 19,81 10,60 4,88 4,82 40,11
4 23,45 5,07 3,22 3,88 35,62
5 24,21 10,34 3,08 4,02 41,65
Working Hour 204,83
1 21,25 8,68 3,53 5,23 38,69
2 19,52 9,45 2,82 5,04 36,83
3 18,43 11,48 3,21 5,23 38,35
4 28,56 7,51 1,94 5,04 43,05
5 20,61 8,78 3,11 7,61 40,11
Working Hour 197,03
1 19,97 10,85 3,45 5,76 40,03
2 20,54 6,39 2,52 6,39 35,84
3 28,12 16,50 1,90 5,71 52,23
4 27,57 7,30 2,23 5,89 42,99
Working Hour 171,09
1 25,10 7,03 1,71 4,90 38,74
2 16,60 7,68 2,48 5,19 31,95
3 20,36 6,87 1,42 5,68 34,32
4 22,37 5,86 1,95 6,73 36,91
Working Hour 141,92
1 24,31 6,67 1,48 5,71 38,17
2 27,89 8,64 2,03 5,56 44,12
3 21,48 7,12 1,63 5,82 36,05
4 19,83 7,04 2,55 5,39 34,81
Working Hour 153,15
Average
20,64 9,05 3,04 5,95 181,36

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 17 Februari 2015 Material : mudstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : 15 Dozer Ripping : D 10 T
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 09:00 - 10:00 Locaton : PIT 1 ARKA
HITACHI EX-1900
Jumlah Dumping in Swing
Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
Pas vessel Unloaded
1 19,58 6,19 2,46 4,25 32,48
2 20,43 5,05 2,08 13,75 41,31
3 15,80 6,94 1,58 5,39 29,71
4 18,60 6,06 2,35 14,46 41,48
5 25,72 5,21 2,59 4,07 37,59
Working Hour 182,57
1 23,28 7,22 2,02 5,44 37,96
2 21,96 6,46 2,96 4,74 36,11
3 20,65 6,42 2,48 12,73 42,28
4 22,02 5,63 2,10 4,97 34,72
5 18,00 6,94 2,28 13,22 40,44
Working Hour 191,51
1 18,06 6,32 2,10 4,10 30,58
2 19,68 6,33 2,34 4,51 32,86
3 23,64 7,40 2,69 4,27 38,00
4 18,18 6,26 2,37 4,21 31,02
5 18,34 6,82 2,10 3,93 31,19
Working Hour 163,65
1 20,48 6,77 2,54 4,31 34,10
2 31,59 7,17 3,32 11,30 53,38
3 22,08 5,35 2,22 4,07 33,72
4 20,32 6,52 2,08 3,74 32,66
5 21,13 6,17 1,77 4,44 33,51
Working Hour 187,37
1 17,77 6,26 1,85 4,79 30,67
2 17,45 5,73 1,88 4,60 29,66
3 16,58 7,72 2,62 5,21 32,13
4 17,27 6,57 3,16 4,87 31,86
5 21,40 7,00 2,24 4,88 35,52
6 22,16 7,10 2,55 4,24 36,05
Working Hour 195,89
1 24,22 8,11 2,55 5,74 40,62
2 22,59 7,40 3,00 14,95 47,95
3 22,47 8,07 3,99 4,59 39,12
4 20,76 5,58 2,77 4,20 33,31
5 21,11 7,25 2,41 4,73 35,50
Working Hour 196,50
1 28,38 6,51 2,33 11,83 49,05
2 25,28 7,24 2,31 9,05 43,88
3 19,06 6,60 2,67 4,31 32,64
4 24,57 6,84 2,70 3,95 38,07
5 21,03 6,33 2,76 4,17 34,29
Working Hour 197,93
1 18,88 6,29 2,62 11,44 39,23
2 20,65 6,64 2,08 4,36 33,73
3 16,18 6,58 2,41 4,82 29,99
4 19,19 6,46 2,65 9,45 37,74
5 19,89 7,86 2,36 6,47 36,58
Working Hour 177,27
1 20,22 8,27 2,34 12,52 43,35
2 20,46 7,21 2,79 5,35 35,81
3 20,19 7,78 3,86 5,45 37,28
4 22,55 7,60 2,47 4,58 37,20
5 24,83 7,16 2,30 9,36 43,65
Working Hour 197,29
1 22,93 7,82 3,65 4,57 38,97
2 25,56 5,71 2,90 9,17 43,34
3 28,02 6,70 2,44 4,31 41,47
4 23,82 3,50 2,67 8,44 38,43
5 15,31 5,30 2,41 9,47 32,49
Working Hour 194,70
1 22,72 6,61 1,90 4,79 36,02
2 18,74 6,83 2,41 9,34 37,32
3 19,41 6,93 2,13 4,16 32,63
4 22,69 9,13 3,19 5,14 40,15
5 24,51 6,62 2,48 10,37 43,98
Working Hour 190,10
1 17,79 8,47 2,88 5,41 34,55
2 21,66 8,07 2,00 5,31 37,04
3 33,13 6,57 3,27 7,76 50,73
4 15,60 7,64 2,70 7,56 33,50
5 14,93 7,09 2,42 4,81 29,25
Working Hour 185,07
1 21,42 6,92 2,65 14,77 45,75
2 21,68 8,42 3,38 6,39 39,87
3 16,49 17,30 4,61 6,12 44,52
4 9,61 6,00 2,89 4,49 22,99
5 15,93 10,57 2,24 5,67 34,41
Working Hour 187,54
1 22,98 8,98 3,89 11,98 47,83
2 21,76 11,02 3,67 14,24 50,69
3 28,01 8,30 4,56 5,78 46,65
4 19,72 7,21 2,09 6,93 35,95
5 19,33 10,98 3,74 5,67 39,72
Working Hour 220,84
1 20,98 9,88 4,89 5,11 40,86
2 21,31 7,11 3,74 6,72 38,88
3 27,08 6,14 4,92 9,96 48,10
4 18,90 9,10 4,90 8,33 41,23
5 20,11 9,35 4,87 9,14 43,47
Working Hour 212,54
Average
20,96 7,16 2,64 6,82 192,05
LAMPIRAN D
CYCLE TIME EXCAVATOR KOMATSU PC 2000

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 17 July 2014 Material : Sand stone (hard)
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :5 Dozer Ripping : NO RIPPING
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 07:00 - 08:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU PC 2000 (E 051)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 21,44 7,54 4,37 3,8 37,15
2 22,08 6,82 3,3 6,37 38,57
3 25,71 9,52 3,35 7,59 46,17
4 21,29 8,22 3,27 7,96 40,74 95
5 23,8 9,99 5,57 7,15 46,51
6 27,44 10,67 2,43 5,62 46,16
Working Hour 255,30
1 34,08 9,56 2,39 8,54 54,57
2 27,3 11,62 3,22 6,11 48,25
3 18,43 8,79 5,48 6,89 39,59
4 20,91 9,66 3,53 6,97 41,07 72
5 29,18 8,78 3,44 6,09 47,49
6 33,7 8,61 2,92 5,98 51,21
Working Hour 282,18
1 17,38 6,90 3,53 3,86 31,67
2 19,74 6,42 2,67 5,37 34,20
3 18,43 6,38 2,70 5,25 32,76
4 27,02 7,24 2,47 6,19 42,92 49
5 20,64 6,74 3,03 5,17 35,58
Working Hour 177,13
1 24,76 6,89 4,61 5,92 42,18
2 21,22 6,98 3,23 6,10 37,53
3 23,05 6,41 2,64 5,72 37,82
4 15,81 6,81 2,73 5,18 30,53 31
5 17,31 6,94 2,72 5,35 32,32
6 20,43 6,81 2,46 5,65 35,35
Working Hour 215,73
1 25,58 8,03 2,42 5,68 41,71
2 22,38 6,59 2,77 5,32 37,06
3 22,74 7,54 2,68 5,21 38,17
4 18,98 7,58 2,54 4,77 33,87 94
5 20,48 6,33 2,53 5,42 34,76
6 22,03 7,21 2,25 5,28 36,78
Working Hour 222,35
1 19,50 7,53 3,00 5,92 35,95
2 23,35 5,42 2,31 5,61 36,69
3 22,00 6,17 2,31 5,21 35,69
4 25,00 5,27 2,43 5,07 37,77
5 21,23 7,63 3,72 5,28 37,86 95
6 22,17 6,06 2,71 4,28 35,22
7 16,83 6,35 2,70 5,23 31,10
Working Hour 250,28
1 27,83 5,82 4,28 5,87 43,80
2 20,45 5,55 2,43 6,26 34,69
3 32,05 4,92 2,64 6,60 46,21
4 22,98 5,16 2,52 6,12 36,78 72
5 16,83 4,89 2,83 5,91 30,46
6 24,03 5,27 2,69 6,15 38,14
Working Hour 230,08
1 27,27 5,54 3,81 6,14 42,76
2 24,88 5,81 2,55 7,32 40,56
3 24,37 6,88 3,19 5,00 39,44
4 20,77 4,04 3,04 7,35 35,20 49
5 23,12 5,93 2,59 5,10 36,74
6 22,61 5,64 3,36 6,18 37,80
Working Hour 232,50
1 22,76 6,64 2,94 5,32 37,66
2 29,21 5,26 2,29 6,12 42,88
3 24,02 7,33 2,51 7,08 40,94
4 21,85 7,86 3,53 4,15 37,39 31
5 24,46 6,77 4,94 5,67 41,84
Working Hour 200,71
1 26,49 7,09 2,83 5,85 42,26
2 30,85 6,62 3,09 5,38 45,94
3 22,89 6,62 2,47 5,58 37,56
4 24,14 8,16 2,61 5,19 40,10
94
5 22,97 7,33 2,59 5,46 38,35
6 25,47 7,16 3,41 5,49 41,53
Working Hour 245,74
1 25,00 6,62 3,66 7,05 42,33
2 21,57 5,05 2,77 7,03 36,42
3 23,87 6,36 2,65 7,23 40,11
4 30,85 6,62 3,09 5,38 45,94 95
5 19,36 6,72 2,88 6,88 35,84
6 22,45 6,19 3,27 7,05 38,95
Working Hour 239,59
1 23,03 6,82 3,19 4,38 37,42
2 24,51 6,69 2,62 4,57 38,39
3 29,76 7,22 2,61 4,71 44,30
4 20,17 5,96 3,80 4,74 34,67 49
5 26,32 6,08 2,72 5,66 40,78
6 19,12 6,55 2,81 4,81 33,29
Working Hour 228,85
Average
23,40 6,92 3,04 5,80 213,88

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 18 July 2014 Material : Mudstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :5 Dozer Ripping : NO RIPPING
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 08:00 - 09:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU PC 2000 (E 051)
Dumping in Swing
Jumlah Pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 17,13 5,22 2,72 5,82 30,89
2 22,60 5,83 2,14 5,65 36,22
Strip seam
3 26,40 5,84 2,44 4,66 39,34
4 25,34 8,55 3,07 6,78 43,74 11, hard
5 22,45 6,36 3,33 4,68 36,82 44 material no
6 25,76 5,32 2,63 4,18 37,89 dozer ripping
Working Hour 224,90
1 19,12 6,13 2,34 5,02 32,61
2 25,34 6,04 3,31 3,98 38,67
3 21,98 6,82 2,80 5,25 36,85
4 23,21 6,08 3,27 4,61 37,17
5 28,15 7,40 3,64 4,31 43,50
97
5 21,26 8,22 2,89 4,19 36,56
6 19,61 7,27 2,30 5,12 34,30
Working Hour 259,66
1 30,79 9,28 2,52 5,67 48,26
2 18,61 7,81 2,69 4,90 34,01
3 23,68 8,00 3,10 4,50 39,28
4 31,86 8,14 4,34 6,31 50,65 83
5 26,24 8,28 2,84 4,75 42,11
6 27,72 11,18 2,42 4,74 46,06
Working Hour 260,37
1 22,05 8,93 3,09 4,52 38,59
2 19,22 7,30 2,64 4,79 33,95
3 25,42 8,77 3,09 5,02 42,30
4 20,43 11,93 2,98 4,56 39,90
53
5 19,50 8,85 2,99 4,78 36,12
Working Hour 190,86
1 24,52 8,42 3,01 4,11 40,06
2 21,90 7,57 2,62 4,52 36,61
3 21,59 9,19 3,37 4,29 38,44
4 26,78 5,87 3,53 7,89 44,07 95
5 16,71 8,28 3,18 5,77 33,94
6 18,68 7,51 3,75 5,73 35,67
Working Hour 228,79
1 17,68 7,91 2,65 5,94 34,18
2 22,12 8,40 2,87 6,05 39,44
3 24,56 7,59 3,66 5,44 41,26
4 23,21 6,68 2,91 4,54 37,34 44
5 32,00 6,73 3,51 4,93 47,17
6 25,53 7,75 2,46 4,64 40,38
Working Hour 239,77
1 18,31 6,70 1,90 4,93 31,84
2 18,96 9,90 2,85 4,81 36,52
3 23,60 7,55 2,03 4,77 37,95
4 37,60 8,65 2,52 5,92 54,69 97
5 31,07 8,57 3,09 5,10 47,83
6 26,78 9,00 2,85 4,49 43,12
Working Hour 251,95
1 24,70 7,01 2,67 4,24 38,62
2 20,79 8,56 3,76 4,96 38,07
3 26,53 8,36 3,76 4,94 43,59
4 27,56 8,68 3,62 5,13 44,99
83
5 25,67 5,60 2,91 5,75 39,93
Working Hour 205,20
1 22,45 7,56 3,31 4,91 38,23
2 19,35 7,65 3,77 4,78 35,55
3 15,22 7,37 4,86 5,14 32,60
4 22,22 10,10 2,82 9,87 45,01 95
5 21,87 8,09 2,31 4,51 36,78
6 18,37 8,30 2,78 5,59 35,04
Working Hour 223,21
1 23,34 7,71 3,01 5,86 39,92
2 19,50 8,32 2,49 6,02 36,33
3 18,60 8,50 3,12 5,19 35,42
4 16,96 7,29 2,65 6,78 33,68 44
5 22,11 4,20 2,69 8,32 37,32
6 17,08 7,72 2,39 4,36 31,55
Working Hour 214,22
1 22,03 11,86 2,71 4,19 40,79
2 26,54 4,54 2,06 7,89 41,03
3 18,80 7,12 3,52 8,99 38,43
4 19,85 9,30 2,25 4,91 36,31 97
5 24,57 7,66 2,49 4,58 39,30
6 15,42 9,47 2,11 5,12 32,12
Working Hour 227,98
1 15,59 6,60 2,87 5,50 30,56
2 18,86 8,26 3,00 5,03 35,14
3 21,92 8,93 3,42 4,16 38,43
4 23,23 6,40 2,29 6,95 38,87
5 18,54 7,46 2,39 4,92 33,31
83
6 12,16 6,42 3,01 5,61 27,20
7 23,43 8,27 3,57 5,05 40,32
Working Hour 243,83
1 24,70 7,01 2,67 4,24 38,62
2 20,79 8,56 3,76 4,96 38,07
3 26,53 8,36 3,76 4,94 43,59
4 27,56 8,68 3,62 5,13 44,99
53
5 25,67 5,60 2,91 5,75 39,93
Working Hour 205,20
Average
22,65 7,76 2,96 5,28 228,92

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 15 July 2014 Material : Sandstone (massive)
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :5 Dozer Ripping : D 155A
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 08:00 - 09:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU PC 2000 (E 051)
Dumping in Swing
Jumlah Pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 17,21 7,57 3,26 5,94 33,98
2 15,07 7,20 3,62 6,95 32,84
3 18,31 7,27 2,96 6,75 35,29
4 15,35 7,35 3,78 6,55 33,03 31
5 13,87 8,03 6,43 8,32 36,65
6 18,32 7,52 4,20 8,11 38,15
Working Hour 209,94
1 17,21 7,33 2,81 7,17 34,52
2 17,10 7,47 2,89 6,40 33,86
3 12,21 7,69 2,50 7,51 29,91
4 14,82 7,61 4,66 7,50 34,59 97
5 13,47 7,37 8,83 7,75 37,42
6 18,71 6,95 2,18 7,84 35,68
Working Hour 205,98
1 18,21 7,59 2,67 6,80 35,27
2 15,61 7,39 3,27 6,90 33,17
3 14,64 9,22 2,26 5,69 31,81
4 15,82 7,70 3,51 7,00 34,03
5 27,18 5,82 2,72 5,19 40,91
29
6 21,39 6,41 3,05 5,91 36,76
7 25,67 7,04 2,06 7,18 41,95
Working Hour 253,90
1 19,21 8,66 3,05 6,00 36,92
2 16,31 6,98 7,60 6,07 36,96
3 18,81 8,62 2,58 7,71 37,72
4 20,24 6,46 3,69 8,21 38,60 49
5 17,87 7,57 3,36 5,61 34,41
6 18,44 3,32 2,29 6,79 30,84
Working Hour 215,45
1 18,45 6,90 2,68 4,74 32,77
2 17,35 6,57 4,91 6,61 35,44
3 15,11 7,63 4,60 7,33 34,67
4 14,11 7,54 4,44 5,72 31,81 41
5 17,72 7,37 3,64 6,39 35,12
6 17,16 7,33 3,81 5,73 34,03
Working Hour 203,84
1 17,89 6,81 4,09 5,60 34,39
2 20,29 7,34 4,11 6,15 37,89
3 16,78 7,98 3,24 3,97 31,97
4 22,06 6,94 3,41 5,26 37,67
5 17,89 6,77 2,93 5,08 32,67
31
6 16,87 7,56 3,75 5,09 33,27
7 19,12 6,14 2,81 5,47 33,54
Working Hour 241,40
1 15,55 7,08 2,64 4,97 30,24
2 15,23 5,65 2,97 4,36 28,21
3 16,53 5,73 3,81 5,04 31,11
4 16,40 6,57 3,33 9,21 35,51 97
5 18,99 7,45 3,85 6,20 36,49
6 19,12 5,72 2,77 5,99 33,60
Working Hour 195,16
1 16,00 6,22 3,20 6,16 31,58
2 20,77 6,16 3,31 6,12 36,36
3 17,21 6,30 2,66 5,92 32,09
4 16,45 6,81 2,70 7,15 33,11
29
5 17,67 4,71 3,06 6,67 32,11
Working Hour 165,25
1 13,24 6,64 3,56 5,47 28,91
2 16,61 6,12 4,96 6,27 33,96
3 14,52 8,19 3,75 5,07 31,53
4 17,00 7,37 3,38 5,74 33,49 49
5 15,69 6,19 2,09 6,15 30,12
6 18,12 7,01 2,22 5,05 32,40
Working Hour 190,41
1 19,21 5,32 3,98 5,14 33,65
2 15,74 6,82 3,62 5,43 31,61
3 20,75 7,10 3,35 5,31 36,51
4 17,89 6,76 2,78 5,49 32,92 41
5 18,98 6,55 2,83 7,54 35,90
6 19,20 6,45 2,99 4,96 33,60
Working Hour 204,19
1 26,60 6,95 3,72 6,39 43,66
2 17,87 6,31 3,50 8,34 36,02
3 17,16 6,69 2,84 6,34 33,03
4 20,01 7,22 3,69 5,20 36,12 31
5 17,51 7,07 3,22 4,48 32,28
6 25,01 7,15 3,20 5,12 40,48
Working Hour 221,58
1 19,38 6,95 2,95 5,48 34,76
2 26,31 7,48 2,47 6,44 42,70
3 21,64 7,17 2,64 6,82 38,28
4 18,59 5,00 3,32 7,19 34,10 97
5 18,91 7,23 3,82 4,74 34,70
6 15,04 5,29 2,67 5,62 28,62
Working Hour 213,16
1 18,21 6,85 2,66 9,88 37,60
2 13,94 6,20 2,54 6,59 29,27
3 14,19 6,11 2,69 6,80 29,80
4 19,96 6,93 4,11 5,08 36,08
5 17,80 5,30 2,60 6,06 31,76
29
6 18,70 10,65 2,80 4,66 36,81
7 18,91 5,15 3,17 4,50 31,73
Working Hour 233,05
Average
17,93 6,90 3,39 6,20 211,79

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 26 July 2014 Material : sandstone (massive)
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :5 Dozer Ripping D 155 a
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 09:00 - 10:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU PC 2000 (E 051)
Dumping in Swing
Jumlah Pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 17,11 10,51 3,32 6,42 37,36
2 18,86 9,05 3,92 5,75 37,58
3 17,88 9,53 2,94 7,28 37,63
4 16,62 5,09 3,47 7,11 32,29
5 17,51 8,55 2,56 6,64 35,25
6 16,89 8,60 4,99 7,27 37,75
Working Hour 217,86
1 17,22 9,55 3,58 9,48 39,83
2 13,45 9,18 3,07 6,95 32,65
3 16,78 9,05 2,81 5,84 34,48
4 16,23 9,10 3,11 7,39 35,82
5 13,45 10,88 3,40 5,85 33,58
6 16,78 9,47 3,02 7,42 36,69
Working Hour 213,05
1 15,78 9,14 3,19 9,11 37,22
2 16,11 10,69 3,31 5,86 35,97
3 16,04 10,05 2,85 7,06 35,99
4 20,41 9,97 3,27 6,01 39,66
5 16,19 10,27 2,21 8,32 36,99
6 16,00 10,91 4,36 6,19 37,46
Working Hour 223,29
1 16,17 10,38 3,60 6,84 36,99
2 17,98 7,79 5,15 12,44 43,36
3 17,12 7,69 3,06 6,86 34,73
4 16,78 8,48 2,97 5,16 33,39
5 24,53 8,39 2,55 5,63 41,10
6 17,44 9,11 3,88 6,70 37,13
Working Hour 226,70
1 15,12 8,29 3,26 7,36 34,03
2 25,83 9,99 3,01 5,02 43,85
3 17,50 8,25 3,94 6,50 36,19
4 21,73 10,15 3,53 7,58 42,99
5 16,63 10,06 2,94 7,71 37,34
6 20,42 9,61 3,37 6,70 40,11
Working Hour 234,51
1 22,02 9,40 3,78 6,39 41,59
2 22,77 7,46 2,59 7,71 40,53
3 16,71 9,50 2,38 5,70 34,29
4 21,03 10,28 1,73 6,49 39,53
5 20,63 9,16 3,97 6,57 40,34
6 17,21 7,83 4,77 6,31 36,12
Working Hour 232,40
1 16,35 8,85 3,42 4,73 33,35
2 25,67 6,56 3,41 5,48 41,12
3 17,08 8,20 2,59 5,22 33,09
4 17,17 7,86 3,46 5,44 33,93
5 17,89 14,22 4,03 5,54 41,68
6 14,16 9,80 2,82 5,79 32,57
Working Hour 215,74
1 14,21 8,34 3,16 6,67 32,38
2 17,85 7,67 3,55 5,27 34,34
3 16,09 10,01 2,74 5,82 34,66
4 13,13 9,52 2,74 4,45 29,84
5 13,67 9,94 2,35 7,20 33,16
6 17,90 9,43 3,44 5,57 36,34
Working Hour 200,72
1 14,44 9,25 2,59 4,75 31,03
2 16,28 9,54 2,68 5,49 33,99
3 17,85 10,50 3,27 5,15 36,77
4 13,12 9,40 2,43 5,72 30,67
5 13,58 9,60 2,24 5,32 30,74
6 15,05 10,05 2,63 6,21 33,94
Working Hour 197,14
1 14,90 9,89 3,84 5,60 34,23
2 17,89 10,12 3,51 5,93 37,45
3 25,58 7,92 3,87 5,37 42,74
4 17,81 8,40 3,82 7,03 37,06
5 14,56 10,21 3,80 7,00 35,57
6 20,42 9,16 2,67 6,33 38,58
Working Hour 225,63
1 17,84 11,39 4,33 5,49 39,05
2 18,72 8,57 4,06 4,48 35,83
3 16,10 8,93 3,02 5,46 33,51
4 16,86 9,44 3,58 8,23 38,11
5 16,63 9,58 4,22 5,92 36,35
6 17,14 10,70 3,87 6,07 37,78
Working Hour 220,63
1 12,78 8,29 2,78 6,01 29,86
2 14,66 11,34 3,05 5,95 35,00
3 15,89 9,64 2,90 5,32 33,75
4 16,55 9,99 4,79 5,84 37,17
5 17,11 9,24 3,91 4,91 35,17
6 16,42 10,84 3,76 4,40 35,42
Working Hour 206,37
1 18,61 9,75 4,14 5,33 37,83
2 15,28 8,49 2,73 8,32 34,82
3 15,69 9,58 3,29 5,74 34,30
4 15,67 7,69 2,50 4,98 30,84
5 17,87 10,55 3,08 5,55 37,05
6 Working Hour 174,84
Average
17,27 9,35 3,31 6,29 214,53
Production

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 24 July 2014 Material : sandstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :5 Dozer Ripping : D 10 T
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 15:00 - 16:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU PC 2000 (E 051)
Dumping in Swing
Jumlah Pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 16,61 8,76 4,34 5,45 35,16
2 18,71 8,74 2,76 9,70 39,91
3 17,50 8,35 1,23 6,76 33,84
4 16,43 8,62 2,78 7,30 35,13 65 seam 10
5 16,17 12,90 2,12 8,66 39,85
6 18,13 9,47 2,87 7,57 38,04
Working Hour 221,93
1 16,21 6,32 2,54 4,19 29,26
2 19,11 6,65 5,47 8,28 39,51
3 12,30 10,97 2,70 6,49 32,46
4 17,11 8,36 1,93 6,32 33,72
53
5 15,28 8,08 2,83 5,17 31,36
Working Hour 166,30
1 15,81 8,08 3,09 6,09 33,07
2 13,90 6,52 2,52 5,07 28,01
3 15,39 8,80 2,29 3,46 29,94
4 13,30 9,77 2,51 3,36 28,94
5 16,11 8,13 2,20 5,20 31,64
26
6 17,46 3,64 2,72 4,36 28,18
7 14,11 7,37 2,90 4,29 28,67
Working Hour 208,45
1 21,60 5,25 2,36 5,62 34,83
2 17,43 8,07 2,47 6,37 34,34
3 15,62 8,30 2,10 5,06 31,08
4 15,00 7,25 2,04 5,23 29,52 45
5 13,10 7,22 2,13 4,48 26,93
6 16,55 7,22 3,71 5,35 32,83
Working Hour 189,53
1 17,89 6,34 2,08 4,76 31,07
2 17,21 6,80 3,11 5,17 32,29
3 22,62 6,12 2,17 4,74 35,65
4 17,66 7,21 3,01 5,52 33,40 29
5 16,70 8,43 2,84 6,52 34,49
6 20,98 6,98 2,35 5,34 35,65
Working Hour 202,55
1 15,60 8,83 4,61 7,17 36,21
2 15,58 7,07 3,18 4,67 30,50
3 14,31 9,13 2,01 6,50 31,95
4 16,59 7,38 2,22 6,47 32,66 65
5 19,94 9,08 2,80 6,13 37,95
6 14,94 8,30 3,36 6,19 32,78
Working Hour 202,05
1 16,30 6,38 3,21 4,08 29,97
2 15,65 8,50 2,65 4,51 31,31
3 16,35 7,30 2,93 4,48 31,06
4 15,13 8,96 3,25 5,99 33,33
53
5 15,42 7,79 2,89 4,77 30,86
Working Hour 156,53
1 16,34 6,84 2,83 4,40 30,41
2 20,40 7,30 2,81 5,57 36,08
3 22,50 8,02 1,86 6,45 38,83
4 16,04 8,41 1,46 6,03 31,94 26
5 12,11 8,03 4,32 5,00 29,46
6 17,60 7,72 3,02 5,52 33,86
Working Hour 200,58
1 17,47 7,72 2,98 5,50 33,67
2 17,12 7,02 2,89 6,49 33,52
3 16,71 8,25 2,99 6,79 34,74
4 14,57 9,30 3,33 7,67 34,87 45
5 20,21 8,19 2,37 7,56 38,33
6 14,37 8,59 2,74 5,31 31,01
Working Hour 206,14
1 17,17 8,27 2,06 6,76 34,26
2 14,11 8,54 4,94 5,66 33,25
3 14,52 9,82 2,36 6,00 32,70
4 17,91 5,01 2,86 4,58 30,36 29
5 18,10 7,79 1,16 6,50 33,55
6 16,05 7,79 2,99 5,69 32,52
Working Hour 196,64
1 17,50 10,61 4,86 4,58 37,55
2 12,79 8,66 4,72 5,36 31,53
3 16,71 5,13 3,24 17,89 42,97
4 13,31 10,48 2,75 6,01 32,55 65
5 15,11 8,72 3,87 8,46 36,16
6 16,78 9,34 4,49 9,79 40,40
Working Hour 221,16
1 15,28 7,70 3,57 6,74 33,29
2 16,54 8,36 2,80 6,14 33,84
3 17,90 7,77 2,92 5,92 34,51
4 15,38 8,29 3,59 7,15 34,41 53
5 13,66 11,20 2,39 5,66 32,91
6 15,06 10,38 3,42 7,59 36,45
Working Hour 205,41
1 15,33 8,54 1,82 5,52 31,21
2 15,57 8,53 3,26 5,90 33,26
3 14,07 8,62 3,38 6,16 32,23
4 14,13 9,45 3,22 6,17 32,97
26
5 17,50 10,61 4,86 4,58 37,55
Working Hour 167,22
1 12,79 8,66 4,72 5,36 31,53
2 16,71 5,13 3,24 17,89 42,97
3 12,12 10,48 2,75 6,01 31,36
4 15,43 8,72 3,87 8,46 36,48
29
5 14,78 7,22 2,58 5,96 30,54
6 Working Hour 172,88
Average
16,24 8,13 2,96 6,22 194,10

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 15 July 2014 Material : mudstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler :6 Dozer Ripping : D 10 T
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 625 BCM
Time : 10:00 - 11:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU PC 2000 (E 051)
Dumping in Swing
Jumlah Pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 17,20 8,78 3,23 3,02 32,23
2 16,71 6,73 3,53 4,56 31,53
3 16,60 6,13 2,26 4,06 29,05
4 14,20 8,98 3,93 4,33 31,44
31 seam 10 utara

5 17,47 7,66 3,01 3,99 32,13


Working Hour 156,38
1 12,97 8,47 3,95 5,79 31,18
2 10,83 8,65 2,82 6,01 28,31
3 13,97 9,25 3,53 5,03 31,78
4 13,53 8,44 4,09 6,07 32,13 97
5 12,83 8,70 3,79 5,73 31,04
6 15,11 7,74 3,75 4,66 31,26
Working Hour 185,70
1 20,51 8,69 3,29 6,28 38,77
2 16,97 9,56 3,15 5,70 35,38
3 16,26 8,49 2,65 6,19 33,59
4 12,67 8,38 3,34 6,32 30,71 29
5 17,98 8,57 3,30 5,83 35,68
6 18,93 8,39 3,67 5,19 36,18
Working Hour 210,31
1 13,69 9,49 2,20 6,70 32,08
2 19,91 8,03 2,69 5,99 36,62
3 13,22 8,04 3,66 7,76 32,68
4 16,44 8,49 3,46 6,41 34,80
49
5 15,95 7,14 4,39 7,57 35,05
Working Hour 171,23
1 12,85 9,92 2,69 7,50 32,96
2 14,21 9,78 4,36 5,69 34,04
3 13,63 9,59 4,06 5,17 32,45
4 14,16 9,11 4,59 6,48 34,34 41
5 13,13 9,52 2,74 4,45 29,84
6 18,16 9,94 2,35 7,20 37,65
Working Hour 201,28
1 19,40 9,43 3,44 5,57 37,84
2 14,44 9,25 2,59 4,75 31,03
3 16,28 9,54 2,68 5,49 33,99
4 17,85 8,50 3,27 5,15 34,77
32
5 13,12 9,40 2,43 5,72 30,67
6 13,58 9,60 2,24 5,32 30,74
Working Hour 199,04
1 15,05 7,05 2,63 6,21 30,94
2 14,90 9,89 3,84 5,60 34,23
3 15,67 8,12 3,51 5,93 33,23
4 21,14 7,92 3,87 5,37 38,30 31
5 17,81 8,40 3,82 7,03 37,06
6 19,24 7,21 3,80 7,00 37,25
Working Hour 211,01
1 20,42 9,16 2,67 6,33 38,58
2 17,84 11,39 4,33 5,49 39,05
3 18,72 8,57 4,06 4,48 35,83
4 16,10 8,93 3,02 5,46 33,51
97
5 13,87 9,44 3,58 8,23 35,12
6 Working Hour 182,09
16,63 9,58 4,22 5,92 36,35
1 17,14 7,70 3,87 6,07 34,78
2 18,52 8,29 2,78 6,01 35,60
3 14,66 8,34 3,05 5,95 32,00
29
4 15,89 9,64 2,90 5,32 33,75
Working Hour 172,48
1 16,55 9,99 4,79 5,84 37,17
2 12,45 9,24 3,91 4,91 30,51
3 16,42 6,84 3,76 4,40 31,42
4 18,61 9,75 4,14 5,33 37,83 49
5 15,28 8,49 2,73 8,32 34,82
6 15,69 9,58 3,29 5,74 34,30
Working Hour 206,05
1 17,89 7,69 2,50 4,98 33,06
2 17,87 6,55 3,08 5,55 33,05
3 17,80 7,20 2,79 5,27 33,06
4 15,38 8,66 2,19 5,00 31,23
41
5 18,49 8,53 1,99 5,20 34,20
Working Hour 164,60
1 14,45 5,96 2,66 4,18 27,25 32
2 14,01 5,98 2,91 5,50 28,40
3 15,36 6,39 2,40 2,60 26,75
4 14,21 6,39 2,56 7,50 30,66
5 17,59 7,93 2,92 4,95 33,38
6 13,90 7,87 3,61 5,02 30,40
Working Hour 176,84
1 13,27 8,34 2,80 8,98 33,39
2 14,56 5,01 2,93 6,85 29,35
3 16,07 5,54 5,01 6,37 32,99
4 13,61 7,44 3,80 6,81 31,66 31
5 14,25 8,79 3,02 7,60 33,66
6 16,76 7,67 2,79 5,86 33,08
Working Hour 194,13
1 14,64 9,67 3,90 6,63 34,84
2 14,90 8,83 2,83 6,70 33,26
3 15,14 9,49 3,88 6,70 35,20
4 16,44 9,54 4,27 5,02 35,27 97
5 13,62 9,50 2,70 4,40 30,22
6 17,61 5,14 2,96 5,25 30,96
7 Working Hour 199,75
Average
15,84 8,02 3,11 5,77 187,92
LAMPIRAN E
CYCLE TIME EXCAVATOR HITACHI 1200

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date 15 Februari 2015 Material : sandstone (massive)
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : Dozer Ripping : NO RIPPING
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 450 BCM
Time : 14:00 - 15:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU EX 1200 (E 071)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 10,12 5,90 2,84 5,10 23,96
2 11,59 5,00 4,60 3,75 24,94
3 13,18 5,03 3,07 4,92 26,20
4 15,34 5,72 2,61 4,54 28,21
5 13,92 4,71 3,18 6,73 28,54
6 13,13 5,13 3,41 4,91 26,58
7 12,98 6,24 3,58 4,68 27,48
8 10,88 5,69 2,89 5,42 24,88
9 12,28 5,61 3,14 5,17 26,20
10 11,68 6,91 2,14 5,02 25,75
Working Hours 262,74
1 11,60 5,59 2,23 5,02 24,45
2 17,74 10,82 2,66 5,61 36,83
3 16,34 3,69 5,54 5,62 31,19
4 21,48 5,23 4,82 4,80 36,33
5 17,56 5,69 4,34 4,71 32,30
6 16,52 5,31 2,29 4,71 28,83
7 15,25 4,88 3,97 5,06 29,16
8 13,95 5,86 3,78 5,42 29,01
9 14,49 4,38 3,15 4,91 26,93
10 16,23 5,73 2,13 5,11 29,19
11 18,62 5,29 2,43 5,40 31,74
Working Hours 335,96
1 14,99 5,12 3,87 3,95 27,93
2 15,11 4,73 3,06 5,27 28,17
3 15,11 6,50 3,17 5,75 30,53
4 10,18 5,83 1,74 5,49 23,24
5 25,45 4,97 4,14 5,71 40,27
6 14,15 5,18 2,44 5,82 27,59
7 19,64 5,50 1,84 7,25 34,23
8 8,40 5,64 2,16 4,59 20,79
9 15,36 6,43 4,78 4,64 31,21
Working Hours 263,96
1 21,17 5,52 3,15 5,39 35,23
2 19,31 3,83 2,97 5,91 32,02
3 19,87 4,70 1,06 4,49 30,12
4 18,29 5,79 1,97 4,45 30,50
5 21,34 5,57 1,51 4,95 33,37
6 17,64 6,07 1,82 4,43 29,96
7 16,98 5,64 1,89 3,90 28,41
8 17,37 6,38 1,55 3,83 29,13
9 9,34 6,34 2,24 5,28 23,20
10 17,92 6,70 2,13 7,50 34,25
Working Hours 306,19
1 24,15 6,91 1,90 4,97 37,94
2 13,38 6,22 1,69 4,57 25,86
3 16,61 5,78 2,11 3,63 28,13
4 10,86 5,83 1,51 4,83 23,02
5 19,47 5,81 1,47 4,00 30,75
6 10,63 5,76 1,09 4,62 22,10
7 17,27 5,48 2,37 3,59 28,71
8 16,98 5,43 1,61 4,19 28,21
9 17,42 7,63 1,44 5,00 31,49
Working Hours 256,21
1 16,18 6,38 3,21 4,43 30,20
2 17,12 6,22 2,74 3,07 29,15
3 11,20 6,04 1,29 2,90 21,43
4 13,25 6,11 1,40 4,18 24,94
5 20,24 6,10 1,85 4,00 32,18
6 18,35 4,70 1,71 3,98 28,74
7 16,24 4,72 1,81 3,82 26,59
8 18,17 5,05 1,99 4,78 29,99
9 24,27 6,27 2,04 4,96 37,54
10 18,41 4,88 2,29 3,17 28,75
11 13,83 4,49 1,95 4,20 24,47
Working Hours 313,98
1 14,66 5,65 2,10 3,07 25,48
2 13,39 6,35 1,39 6,06 27,19
3 12,14 6,89 2,23 4,25 25,51
4 16,40 5,44 3,19 4,25 29,29
5 23,85 8,57 1,34 3,90 37,66
6 22,29 4,63 1,73 4,54 33,19
7 23,39 5,75 3,89 4,12 37,15
8 17,49 5,70 2,43 5,24 30,86
9 12,11 4,97 2,52 4,22 23,82
10 16,21 4,54 3,31 4,65 28,71
Working Hours 298,86
1 17,12 4,65 3,33 5,22 30,32
2 12,96 5,64 2,75 3,44 24,79
3 19,78 6,11 2,03 4,42 32,34
4 19,41 5,62 2,93 4,42 32,37
5 23,70 4,49 1,95 4,20 34,34
6 19,89 5,65 2,10 3,07 30,71
7 20,44 6,35 1,39 6,06 34,24
Working Hours 219,11
1 34,15 6,91 1,90 4,97 47,94
2 13,38 6,22 1,69 4,57 25,86
3 16,61 5,78 2,11 3,63 28,13
4 15,11 5,83 1,51 4,83 27,27
5 19,47 5,81 1,47 4,00 30,75
6 10,63 5,76 1,09 4,62 22,10
7 17,27 5,48 2,37 3,59 28,71
Working Hours 210,76
Average
16,53 5,71 2,46 4,68 274,20
PT ARKANANTA APTA PRATISTA
Cycle Time of Excavator
Date : 15 Februari Material : CLAY Massive
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : Dozer Ripping : NO RIPPING
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 450 BCM
Time : 15:00 - 16:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU EX 1200 (E 071)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 15,69 6,14 4,09 7,67 33,59
2 18,21 6,18 2,93 3,39 30,71
3 20,12 5,69 2,41 3,68 31,90
4 17,11 5,45 2,75 3,80 29,11
5 18,19 6,31 3,12 6,24 33,86
6 17,81 6,78 2,37 3,84 30,80
7 11,47 5,49 2,75 5,60 25,31
8 16,11 5,64 3,22 3,41 28,38
9 11,17 5,96 2,96 4,70 24,79
Working Hours 268,45
1 13,29 8,80 4,11 3,73 29,93
2 13,06 3,61 2,34 5,61 24,62
3 16,71 4,90 2,57 5,46 29,64
4 12,42 3,93 2,28 5,91 24,54
5 11,41 4,37 2,50 4,97 23,25
6 15,14 7,98 2,18 7,41 32,71
7 12,51 3,57 2,84 5,28 24,20
8 11,77 5,36 2,84 6,13 26,10
9 11,92 5,32 2,71 5,56 25,51
10 12,19 5,22 2,42 5,39 25,22
Working Hours 265,72
1 13,35 5,91 2,14 5,14 26,54
2 12,72 5,20 2,58 5,13 25,63
3 16,12 5,93 2,50 7,80 32,35
4 12,81 6,84 2,00 4,73 26,38
5 16,22 4,75 2,44 4,62 28,03
6 17,11 6,80 2,79 5,29 31,99
7 21,12 6,18 5,66 4,68 37,64
8 17,11 5,85 2,82 5,35 31,13
9 18,19 5,78 2,92 2,87 29,76
10 17,81 5,53 2,59 4,17 30,10
11 13,18 5,75 2,62 4,32 25,87
Working Hours 325,42
1 11,91 6,74 2,63 4,22 25,50
2 15,12 4,38 2,64 4,23 26,37
3 15,69 5,52 2,55 4,57 28,33
4 18,21 5,70 2,70 2,88 29,49
5 20,12 5,49 2,63 5,23 33,47
6 17,11 5,49 2,39 4,50 29,49
7 18,19 5,61 2,72 3,40 29,92
8 17,81 5,54 2,57 4,20 30,12
9 13,18 5,70 3,36 4,64 26,88
10 16,11 5,28 2,43 3,85 27,67
Working Hours 287,24
1 15,89 6,69 2,18 5,04 29,80
2 15,69 7,09 3,55 3,96 30,29
3 18,21 5,61 3,22 4,35 31,39
4 20,12 5,47 2,36 5,81 33,76
5 17,11 5,50 2,03 4,37 29,01
6 18,19 7,48 2,73 4,84 33,24
7 17,81 6,10 2,73 4,61 31,25
8 18,66 4,70 3,67 4,56 31,59
9 11,49 5,96 2,49 4,96 24,90
10 14,10 6,06 2,99 4,50 27,65
Working Hours 302,88
1 12,91 6,29 2,45 5,74 27,39
2 16,12 5,41 1,38 3,91 26,82
3 15,69 6,30 1,94 3,99 27,92
4 18,21 5,58 2,72 4,51 31,02
5 20,12 5,28 3,24 4,31 32,95
6 17,11 5,70 2,61 4,56 29,98
7 18,19 5,28 2,40 4,04 29,91
8 17,81 3,51 1,16 2,85 25,33
9 16,38 5,16 2,91 4,10 28,55
10 16,60 5,06 2,34 4,71 28,71
11 14,75 6,09 2,36 5,09 28,29
Working Hours 316,87
1 20,73 5,06 1,83 3,62 31,24
2 24,50 5,73 1,71 5,40 37,34
3 15,47 5,10 2,16 3,96 26,69
4 15,25 5,77 3,34 4,47 28,83
5 17,70 5,20 2,19 4,25 29,34
6 19,98 5,65 2,34 5,61 33,58
7 13,83 7,48 2,26 5,16 28,73
8 14,73 6,25 1,96 6,23 29,17
9 14,70 4,93 2,35 5,72 27,70
10 14,97 8,94 2,30 5,20 31,41
11 15,45 6,98 4,02 5,73 32,18
Working Hours 336,21
1 15,69 6,48 2,24 5,31 29,72
2 18,11 7,40 1,93 6,34 33,78
3 17,11 5,21 2,56 3,72 28,60
4 17,11 6,59 2,44 5,45 31,59
5 18,19 5,63 2,57 4,63 31,02
6 17,81 4,46 1,91 5,47 29,65
7 18,21 7,01 2,51 5,19 32,92
8 15,50 6,13 1,58 4,92 28,13
Working Hours 245,41
1 18,21 6,08 1,65 4,39 30,33
2 20,12 5,32 2,06 4,30 31,80
3 17,11 7,14 2,14 4,75 31,14
4 18,19 6,02 1,98 4,75 30,94
5 17,81 6,59 2,44 5,45 32,29
6 15,30 5,63 2,57 4,63 28,13
7 16,19 4,46 1,91 5,47 28,03
Working Hours 212,65
Average
16,26 5,80 2,57 4,81 284,54
PT ARKANANTA APTA PRATISTA
Cycle Time of Excavator
Date : 19 februari 2015 Material : sandstone (hard)
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : Dozer Ripping : D 155A
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 450 BCM
Time : 10:00 - 11:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU EX 1200 (E 071)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 10,59 6,63 2,66 4,46 24,34
2 10,52 6,02 1,99 3,46 21,99
3 10,47 6,16 1,87 3,71 22,21
4 9,00 6,06 1,74 3,39 20,19
5 11,76 6,09 2,11 3,26 23,22
6 10,00 6,61 2,57 3,61 22,79
7 9,36 5,28 2,89 3,95 21,48
8 10,24 6,12 2,17 3,69 22,23
9 12,40 5,21 2,27 3,34 23,22
Working Hours 201,67
1 11,77 5,94 1,55 3,04 22,30
2 8,54 5,08 2,10 3,96 19,68
3 13,77 6,72 2,33 4,16 26,98
4 11,52 5,52 2,14 3,31 22,49
5 12,47 6,64 2,12 3,74 24,97
6 9,56 5,00 1,99 4,03 20,58
7 10,41 4,73 2,55 4,41 22,10
8 8,24 4,87 2,32 3,84 19,27
9 10,96 5,52 1,74 3,76 21,99
Working Hours 200,36
1 10,17 5,56 2,33 3,58 21,64
2 10,55 6,31 2,13 4,45 23,44
3 12,42 6,61 2,40 3,73 25,16
4 9,34 6,57 1,48 2,69 20,08
5 9,08 5,59 1,57 5,10 21,34
6 8,68 5,49 1,91 4,11 20,19
7 9,72 6,36 1,77 4,32 22,17
8 7,66 5,66 1,67 4,56 19,55
Working Hours 173,57
1 9,70 6,02 1,62 4,07 21,41
2 9,57 6,18 2,57 4,16 22,48
3 10,03 6,29 1,92 4,12 22,36
4 10,57 5,75 2,03 4,73 23,08
5 8,82 6,71 1,98 4,61 22,12
6 11,82 5,74 2,06 3,83 23,45
7 10,19 4,52 1,75 3,83 20,29
8 10,17 5,87 1,55 4,21 21,80
Working Hours 176,98
1 9,60 6,82 2,43 5,84 24,69
2 9,52 6,21 1,78 3,64 21,15
3 8,75 6,38 2,06 3,73 20,92
39 8,70 6,32 1,58 4,25 20,85
40 9,94 6,05 2,33 3,44 21,76
41 9,82 7,87 2,50 3,50 23,69
42 9,57 6,02 2,02 3,11 20,72
43 10,26 7,27 2,49 3,69 23,71
44 9,52 6,62 2,26 3,90 22,30
Working Hours 199,79
1 15,35 7,01 2,00 6,01 30,37
2 11,26 6,41 3,26 4,68 25,61
3 19,69 9,18 3,43 5,04 37,34
4 9,52 5,46 2,55 4,18 21,71
5 7,12 5,29 2,47 3,88 18,76
6 12,59 6,67 2,45 4,76 26,47
7 6,95 5,84 2,38 4,03 19,20
8 11,44 5,94 2,41 4,12 23,91
Working Hours 203,37
1 9,69 5,68 1,74 3,85 20,96
2 10,89 6,27 2,98 4,36 24,50
3 12,79 6,93 1,79 4,23 25,74
4 8,34 6,26 2,58 4,28 21,46
5 11,99 5,05 2,06 4,50 23,60
6 10,30 6,00 2,58 4,20 23,07
7 10,00 5,80 2,33 3,79 21,92
8 11,12 6,78 2,28 4,60 24,78
9 10,83 6,64 2,09 4,10 23,66
Working Hours 209,69
1 11,44 5,78 2,22 4,05 23,49
2 9,94 6,59 2,60 3,93 23,06
3 8,37 6,89 2,45 4,18 21,89
4 10,28 6,41 2,71 4,11 23,52
5 8,70 6,38 3,20 4,76 23,04
6 8,40 4,88 1,91 4,62 19,81
7 7,04 6,10 1,91 4,80 19,85
8 10,42 4,16 2,40 4,65 21,63
9 9,01 4,22 1,73 5,09 20,05
Working Hours 196,34
1 9,99 5,71 1,89 5,31 22,90
2 8,93 5,24 2,71 4,87 21,75
3 8,28 6,58 2,44 3,49 20,79
4 8,87 6,05 1,95 3,87 20,74
5 9,28 6,56 1,87 4,14 21,85
6 7,53 6,71 1,89 3,81 19,94
7 9,02 5,47 1,83 4,70 21,02
8 9,07 6,75 1,82 4,05 21,69
9 7,53 5,20 2,18 4,16 19,07
Working Hours 189,75
1 8,51 6,19 2,28 4,03 21,01
2 11,23 5,78 2,27 4,31 23,59
3 10,19 7,54 2,21 4,82 24,76
4 7,69 7,24 2,81 4,47 22,21
5 8,23 7,16 2,07 4,15 21,61
6 10,16 6,82 2,69 4,62 24,29
7 7,72 6,85 2,08 4,92 21,57
8 6,67 7,07 2,30 4,07 20,11
Working Hours 179,15
1 8,84 6,92 2,45 4,48 22,69
2 8,01 6,30 1,30 4,19 19,80
3 10,37 6,87 2,18 4,13 23,55
4 6,92 7,27 2,81 4,86 21,86
5 9,27 7,29 2,38 3,87 22,81
6 8,11 7,25 1,89 4,78 22,03
9 12,50 6,83 2,45 4,36 26,14
Working Hours 158,88
1 9,08 6,68 2,86 4,39 23,01
2 10,26 4,99 2,79 5,75 23,79
3 12,90 5,78 2,03 3,74 24,45
4 10,90 6,77 2,27 5,21 25,15
5 10,35 6,58 2,45 4,94 24,32
9 Working Hours 120,72
Average
9,96 6,18 2,21 4,20 184,19

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date :19 Februari 2015 Material : Sandstone (hard)
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : Dozer Ripping : D 155A
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 450 BCM
Time : 11:00 - 12:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU EX 1200 (E 071)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 10,35 5,37 1,85 4,68 22,25
2 9,95 5,60 2,20 4,63 22,38
3 8,67 6,28 2,12 4,19 21,26
4 11,43 7,47 2,51 3,19 24,60
5 9,14 5,20 2,62 9,46 26,42
6 9,75 6,39 2,28 4,53 22,95
7 9,99 7,16 2,18 3,79 23,12
8 8,34 6,60 3,18 5,12 23,24
9 9,17 5,21 2,12 4,17 20,67
Working Hours 206,89
1 7,49 5,82 2,29 3,67 19,27
2 9,10 5,43 2,15 4,15 20,83
3 8,98 5,76 2,02 4,21 20,97
4 10,83 6,81 1,91 4,02 23,57
5 8,51 6,98 1,72 4,23 21,44
6 7,69 7,46 1,61 3,48 20,24
7 10,24 7,79 1,72 4,87 24,62
8 10,98 6,75 1,61 3,73 23,07
9 10,13 7,61 2,08 4,19 24,01
10 8,96 5,21 2,47 5,12 21,76
Working Hours 219,78
1 9,26 6,69 1,53 4,96 22,44
2 9,14 5,70 2,14 3,74 20,72
3 8,89 6,34 1,84 3,49 20,56
4 11,00 7,59 4,41 8,85 31,85
5 6,29 5,17 2,07 6,15 19,68
6 12,18 6,75 1,67 3,00 23,60
7 14,28 7,21 2,80 2,21 26,50
8 8,22 6,08 3,29 3,85 21,44
9 9,11 5,21 3,61 4,60 22,53
Working Hours 209,32
1 10,59 6,63 2,66 4,46 24,34
2 10,52 6,02 1,99 3,46 21,99
3 10,47 6,16 1,87 3,71 22,21
4 9,00 6,06 1,74 3,39 20,19
5 11,76 6,09 2,11 3,26 23,22
6 10,00 6,61 2,57 3,61 22,79
7 9,36 5,28 2,89 3,95 21,48
8 10,24 6,12 2,17 3,69 22,23
Working Hours 178,45
1 12,40 5,21 2,27 3,34 23,22
2 11,77 5,94 1,55 3,04 22,30
3 8,54 5,08 2,10 3,96 19,68
4 13,77 6,72 2,33 4,16 26,98
5 11,52 5,52 2,14 3,31 22,49
Working Hours 114,67
1 10,96 5,52 1,74 3,76 21,99
2 10,17 5,56 2,33 3,58 21,64
3 10,55 6,31 2,13 4,45 23,44
4 12,42 6,61 2,40 3,73 25,16
5 9,34 6,57 1,48 2,69 20,08
Working Hours 112,31
1 10,13 5,66 1,67 4,56 22,02
2 9,70 6,02 1,62 4,07 21,41
3 9,57 6,18 2,57 4,16 22,48
4 10,03 6,29 1,92 4,12 22,36
5 10,57 5,75 2,03 4,73 23,08
6 8,82 6,71 1,98 4,61 22,12
7 11,82 5,74 2,06 3,83 23,45
8 10,19 4,52 1,75 3,83 20,29
Working Hours 177,21
1 10,17 5,87 1,55 4,21 21,80
2 9,60 6,82 2,43 5,84 24,69
3 9,52 6,21 1,78 3,64 21,15
4 8,75 6,38 2,06 3,73 20,92
5 8,70 6,32 1,58 4,25 20,85
6 9,94 6,05 2,33 3,44 21,76
7 9,82 7,87 2,50 3,50 23,69
8 9,57 6,02 2,02 3,11 20,72
9 10,26 7,27 2,49 3,69 23,71
Working Hours 199,29
1 9,52 6,62 2,26 3,90 22,30
2 15,35 7,01 2,00 6,01 30,37
3 11,26 6,41 3,26 4,68 25,61
4 19,69 9,18 3,43 5,04 37,34
5 9,52 5,46 2,55 4,18 21,71
6 10,13 5,29 2,47 3,88 21,77
7 12,59 6,67 2,45 4,76 26,47
8 6,95 5,84 2,38 4,03 19,20
9 11,44 5,94 2,41 4,12 23,91
Working Hours 228,67
1 9,69 5,68 1,74 3,85 20,96
2 10,89 6,27 2,98 4,36 24,50
3 12,79 6,93 1,79 4,23 25,74
4 8,34 6,26 2,58 4,28 21,46
5 11,99 5,05 2,06 4,50 23,60
6 10,30 6,00 2,58 4,20 23,07
7 10,00 5,80 2,33 3,79 21,92
8 11,12 6,78 2,28 4,60 24,78
Working Hours 186,03
1 10,83 6,64 2,09 4,10 23,66
2 11,44 5,78 2,22 4,05 23,49
3 9,94 6,59 2,60 3,93 23,06
4 8,37 6,89 2,45 4,18 21,89
5 10,28 6,41 2,71 4,11 23,52
8 10,13 6,10 1,91 4,80 22,94
9 10,42 4,16 2,40 4,65 21,63
Working Hours 160,19
1 9,01 4,22 1,73 5,09 20,05
2 9,99 5,71 1,89 5,31 22,90
3 8,93 5,24 2,71 4,87 21,75
4 8,28 6,58 2,44 3,49 20,79
5 8,87 6,05 1,95 3,87 20,74
6 9,28 6,56 1,87 4,14 21,85
9 9,07 6,75 1,82 4,05 21,69
Working Hours 149,77
1 7,53 5,20 2,18 4,16 19,07
2 8,51 6,19 2,28 4,03 21,01
3 11,23 5,78 2,27 4,31 23,59
4 10,19 7,54 2,21 4,82 24,76
5 10,12 7,24 2,81 4,47 24,64
6 8,23 7,16 2,07 4,15 21,61
7 10,16 6,82 2,69 4,62 24,29
8 7,72 6,85 2,08 4,92 21,57
Working Hours 180,54
Average
10,09 6,23 2,23 4,23 178,70

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 21 Februari 2015 Material : sandstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : Dozer Ripping : D 10 T
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 450 BCM
Time : 13:00 - 14:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU EX 1200 (E 071)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 6,17 6,14 4,09 7,67 24,07
2 6,51 6,18 2,93 3,39 19,01
3 8,43 5,69 2,41 3,68 20,21
4 8,24 5,45 2,75 3,80 20,24
5 7,77 6,31 3,12 6,24 23,44
6 6,87 6,78 2,37 3,84 19,86
7 10,73 5,49 2,75 5,60 24,57
8 7,36 5,64 3,22 3,41 19,63
Working Hours 171,03
1 9,58 5,96 2,96 4,70 23,20
2 8,66 8,80 4,11 3,73 25,30
3 7,10 3,61 2,34 5,61 18,66
4 6,71 4,90 2,57 5,46 19,64
5 10,79 3,93 2,28 5,91 22,91
6 9,03 4,37 2,50 4,97 20,87
7 9,97 7,98 2,18 7,41 27,54
8 7,19 3,57 2,84 5,28 18,88
9 8,12 5,36 2,84 6,13 22,45
Working Hours 199,45
1 7,12 5,32 2,71 5,56 20,71
2 7,89 5,22 2,42 5,39 20,92
3 6,99 5,91 2,14 5,14 20,18
4 12,72 5,20 2,58 5,13 25,63
5 9,28 5,93 2,50 7,80 25,51
Working Hours 112,95
1 12,81 6,84 2,00 4,73 26,38
2 7,21 4,75 2,44 4,62 19,02
3 8,99 6,80 2,79 5,29 23,87
4 12,03 6,18 5,66 4,68 28,55
5 6,17 5,85 2,82 5,35 20,19
Working Hours 118,01
1 6,51 5,78 2,92 2,87 18,08
2 8,43 5,53 2,59 4,17 20,72
3 8,24 5,75 2,62 4,32 20,93
4 7,77 5,10 2,24 5,75 20,86
5 6,87 6,10 2,34 3,05 18,36
6 10,73 5,58 2,48 3,60 22,39
7 7,36 6,63 2,50 4,40 20,89
8 9,58 5,96 2,84 3,67 22,05
Working Hours 164,28
1 8,66 7,85 2,57 3,98 23,06
2 7,10 6,03 1,86 3,98 18,97
3 6,71 5,38 3,52 4,57 20,18
4 12,34 6,74 2,63 4,22 25,93
5 9,03 4,38 2,64 4,23 20,28
6 9,97 5,52 2,55 4,57 22,61
7 7,19 5,70 2,70 2,88 18,47
8 8,97 5,49 2,63 5,23 22,32
Working Hours 171,81
1 8,26 5,49 2,39 4,50 20,64
2 9,47 5,61 2,72 3,40 21,20
3 11,47 5,54 2,57 4,20 23,78
4 10,12 5,70 3,36 4,64 23,82
5 8,34 5,28 2,43 3,85 19,90
6 11,12 6,69 2,18 5,04 25,03
7 11,87 7,09 3,55 3,96 26,47
8 6,17 5,61 3,22 4,35 19,35
9 6,51 5,47 2,36 5,81 20,15
Working Hours 200,34
1 8,43 5,50 2,03 4,37 20,33
2 8,24 7,48 2,73 4,84 23,29
3 7,77 6,10 2,73 4,61 21,21
4 6,87 7,14 3,67 4,56 22,24
5 8,98 5,96 2,49 4,96 22,39
Working Hours 109,46
1 7,36 6,06 2,99 4,50 20,91
2 9,58 6,29 2,45 5,74 24,06
3 11,14 5,41 1,38 3,91 21,84
4 7,10 6,30 1,94 3,99 19,33
5 6,71 5,58 2,72 4,51 19,52
Working Hours 105,66
1 10,79 5,28 3,24 4,31 23,62
2 9,03 5,70 2,61 4,56 21,90
3 9,97 5,28 2,40 4,04 21,69
4 7,19 3,51 1,16 2,85 14,71
5 13,41 5,16 2,91 4,10 25,58
6 6,17 5,06 2,34 4,71 18,28
7 6,51 6,09 2,36 5,09 20,05
8 7,21 5,06 1,83 3,62 17,72
Working Hours 163,55
1 8,24 5,73 1,71 5,40 21,08
2 8,91 5,10 2,16 3,96 20,13
3 6,87 5,77 3,34 4,47 20,45
4 8,91 5,20 2,19 4,25 20,54
5 7,36 5,65 2,34 5,61 20,96
6 9,58 7,48 2,26 5,16 24,48
7 14,56 6,25 1,96 6,23 29,00
8 7,10 7,14 2,35 5,72 22,31
Working Hours 178,95
1 6,71 8,94 2,30 5,20 23,15
2 10,79 6,98 4,02 5,73 27,52
3 9,03 6,48 2,24 5,31 23,06
4 9,97 7,40 1,93 6,34 25,64
5 7,19 5,21 2,56 3,72 18,68
6 13,12 6,59 2,44 5,45 27,60
7 11,12 5,63 2,57 4,63 23,95
8 6,17 7,14 1,91 5,47 20,69
Working Hours 190,29
1 6,51 7,01 2,51 5,19 21,22
2 8,43 6,13 1,58 4,92 21,06
3 8,24 5,88 2,24 4,47 20,83
4 7,77 6,57 1,31 4,59 20,24
5 6,87 6,08 1,65 4,39 18,99
6 10,73 5,32 2,06 4,30 22,41
7 7,36 7,14 2,14 4,75 21,39
8 9,58 6,02 1,98 4,75 22,33
Working Hours 168,46
1 8,66 5,66 1,67 2,85 18,84
2 7,10 6,08 2,15 4,11 19,44
3 6,71 6,81 2,83 5,23 21,58
4 10,79 8,45 1,89 5,01 26,14
5 9,03 6,26 3,10 4,76 23,15
6 9,97 7,99 3,07 5,05 26,08
7 7,19 5,20 1,85 4,50 18,74
8 6,17 6,64 2,45 4,50 19,76
Working Hours 173,73
1 10,73 7,23 2,77 7,92 28,65
2 7,36 6,54 1,97 6,16 22,03
3 9,58 7,03 2,85 6,82 26,28
4 8,66 6,38 1,49 3,57 20,10
5 7,10 6,47 1,88 5,73 21,18
6 Working Hours 118,24
Average
8,62 6,01 2,53 4,78 156,41

PT ARKANANTA APTA PRATISTA


Cycle Time of Excavator
Date : 21 Februari 2015 Material : Sandstone
Cuaca : Cerah Loading Methode : Botom Loading
Jumlah Hauler : Dozer Ripping : D 10 T DZ-025
Sudut Swing : 45 - 90 Target/Hour 450 BCM
Time : 15:00 - 16:00 Locaton : PIT 1 ARKA
KOMATSU EX 1200 (E 071)
Dumping in Swing
Jumlah pas Digging tme Swing loaded Waktu pas Hauler Remark
vessel Unloaded
1 7,89 6,63 2,66 4,46 21,64
2 10,52 6,02 1,99 3,46 21,99
3 10,47 6,16 1,87 3,71 22,21
4 9,00 6,06 1,74 3,39 20,19
5 11,76 6,09 2,11 3,26 23,22
6 8,12 6,61 2,57 3,61 20,91
7 9,36 5,28 2,89 3,95 21,48
8 10,24 6,12 2,17 3,69 22,23
9 12,40 5,21 2,27 3,34 23,22
Working Hours 197,09
10 11,77 5,94 1,55 3,04 22,30
11 8,54 5,08 2,10 3,96 19,68
12 7,89 6,72 2,33 4,16 21,10
14 11,52 5,52 2,14 3,31 22,49
15 8,21 6,64 2,12 3,74 20,71
16 9,56 5,00 1,99 4,03 20,58
17 10,41 4,73 2,55 4,41 22,10
18 8,24 4,87 2,32 3,84 19,27
Working Hours 168,23
19 10,96 5,52 3,07 3,76 23,32
20 10,17 5,56 2,33 3,58 21,64
21 7,92 6,31 2,13 4,45 20,81
22 7,89 6,61 2,40 3,73 20,63
23 9,34 6,57 1,48 2,69 20,08
24 9,08 5,59 1,57 5,10 21,34
25 8,68 5,49 1,91 4,11 20,19
26 9,72 6,36 1,77 4,32 22,17
Working Hours 170,18
27 7,66 5,66 3,07 4,56 20,95
28 9,70 6,02 1,62 4,07 21,41
29 9,57 6,18 2,57 4,16 22,48
30 10,03 6,29 1,92 4,12 22,36
31 10,57 5,75 2,03 4,73 23,08
32 8,82 6,71 1,98 4,61 22,12
33 7,92 5,74 2,06 3,83 19,55
34 10,19 4,52 3,07 3,83 21,61
Working Hours 173,56
35 10,17 5,87 1,55 4,21 21,80
36 9,60 6,82 2,43 5,84 24,69
37 9,52 6,21 1,78 3,64 21,15
38 8,75 6,38 2,06 3,73 20,92
39 8,70 6,32 1,58 4,25 20,85
40 9,94 6,05 2,33 3,44 21,76
41 9,82 7,87 2,50 3,50 23,69
42 9,57 6,02 2,02 3,11 20,72
43 10,26 7,27 2,49 3,69 23,71
44 9,52 6,62 2,26 3,90 22,30
Working Hours 221,58
45 15,35 7,01 2,00 6,01 30,37
46 11,26 6,41 3,26 4,68 25,61
47 7,89 9,18 3,43 5,04 25,54
48 9,52 5,46 2,55 4,18 21,71
49 7,12 5,29 2,47 3,88 18,76
50 12,59 6,67 2,45 4,76 26,47
51 6,95 5,84 2,38 4,03 19,20
52 11,44 5,94 2,41 4,12 23,91
Working Hours 191,57
53 9,69 5,68 1,74 3,85 20,96
54 10,89 6,27 2,98 4,36 24,50
55 7,89 6,93 3,07 4,23 22,12
56 8,34 6,26 2,58 4,28 21,46
57 11,99 5,05 2,06 4,50 23,60
58 8,12 6,00 2,58 4,20 20,89
59 10,00 5,80 2,33 3,79 21,92
60 8,23 6,78 2,28 4,60 21,89
61 10,83 6,64 2,09 4,10 23,66
Working Hours 201,00
62 8,73 5,78 2,22 4,05 20,78
63 9,94 6,59 2,60 3,93 23,06
64 8,37 6,89 2,45 4,18 21,89
65 10,30 6,00 2,58 4,20 23,07
66 8,23 6,41 2,71 4,11 21,46
67 8,70 6,38 3,20 4,76 23,04
68 8,40 4,88 1,91 4,62 19,81
69 7,04 6,10 3,07 4,80 21,01
70 10,42 4,16 2,40 4,65 21,63
Working Hours 195,75
71 9,01 4,22 1,73 5,09 20,05
72 9,99 5,71 1,89 5,31 22,90
73 8,93 5,24 2,71 4,87 21,75
74 8,28 6,58 2,44 3,49 20,79
75 8,87 6,05 1,95 3,87 20,74
76 9,28 6,56 3,07 4,14 23,05
Working Hours 129,28
79 9,07 6,75 1,82 4,05 21,69
80 7,53 5,20 2,18 4,16 19,07
81 8,51 6,19 2,28 4,03 21,01
82 11,23 5,78 2,27 4,31 23,59
83 10,19 7,54 2,21 4,82 24,76
84 7,69 7,24 2,81 4,47 22,21
85 8,23 7,16 2,07 4,15 21,61
86 10,16 6,82 2,69 4,62 24,29
Working Hours 153,94
87 7,72 6,85 2,08 4,92 21,57
88 6,67 7,07 2,30 4,07 20,11
89 8,84 6,92 2,45 4,48 22,69
90 10,19 7,54 2,21 4,82 24,76
91 8,01 6,30 3,07 4,19 21,57
92 10,37 6,87 2,18 4,13 23,55
93 6,92 7,27 2,81 4,86 21,86
94 9,27 7,29 2,38 3,87 22,81
95 8,11 7,25 1,89 4,78 22,03
Working Hours 200,95
98 7,89 6,83 2,45 4,36 21,53
99 8,01 6,30 1,30 4,19 19,80
100 9,08 6,68 2,86 4,39 23,01
101 10,26 4,99 2,79 5,75 23,79
102 8,23 5,78 2,03 3,74 19,78
103 10,90 6,77 2,27 5,21 25,15
104 6,92 6,58 2,45 4,94 20,89
Working Hours 153,95
105 8,66 5,66 1,67 2,85 18,84
106 7,10 6,08 2,15 4,11 19,44
108 7,89 8,45 1,89 5,01 23,24
109 9,03 6,26 3,10 4,76 23,15
110 9,97 7,99 3,07 5,05 26,08
111 7,19 5,20 3,07 4,50 19,96
112 6,17 6,64 2,45 4,50 19,76
113 Working Hours 150,47
Average
9,23 6,23 2,32 4,22 177,50
LAMPIRAN F
PRODUKTIVITAS DOZER KOMATSU D 155A

Strike Ripping
waktu Reverse
No. waktu forward (detik) Total 1 siklus
(detik)

1 47,00 18,54 65,54


2 49,12 23,11 72,23
3 56,67 20,68 77,35
4 45,23 22,25 67,48
5 44,21 20,63 64,84
6 48,23 22,11 70,34
7 39,30 19,45 58,75
8 34,10 22,11 56,21
9 38,00 17,18 55,18
10 49,12 17,89 67,01
11 50,12 23,12 73,24
12 48,21 23,1 71,31
13 50,45 19,45 69,90
14 48,12 26,12 74,24
15 49,56 16,83 66,39
16 55,45 18,34 73,79
17 47,89 19,56 67,45
18 48,00 24,56 72,56
19 48,12 22,87 70,99
20 48,11 18,11 66,22
21 37,80 20,68 58,48
22 51,45 22,67 74,12
23 52,45 24,12 76,57
24 51,12 18,86 69,98
25 47,12 20,82 67,94
26 50,34 20,68 71,02
27 46,12 23,12 69,24
28 48,12 20,63 68,75
29 45,12 18,86 63,98
30 47,12 20,82 67,94
31 46,12 25,67 71,79
Average 47,35 21,06 68,41

Cross Ripping
waktu Reverse
No. waktu forward (detik) Total 1 siklus
(detik)
1 49,12 30,12 79,24
2 55,67 28,12 83,79
3 57,12 22,12 79,24
4 52,67 27,12 79,79
5 49,56 28,21 77,77
6 52,78 26,67 79,45
7 48,12 29,65 77,77
8 47,12 26,34 73,46
9 55,12 28,12 83,24
10 49,23 27,89 77,12
11 51,23 26,12 77,35
12 52,78 26,12 78,90
13 49,12 28,89 78,01
14 53,12 29,14 82,26
15 50,12 24,56 74,68
16 52,67 27,89 80,56
17 49,56 25,12 74,68
18 52,78 24,12 76,90
19 50,12 22,67 72,79
20 48,12 24,12 72,24
21 49,12 27,45 76,57
22 55,67 20,82 76,49
23 52,12 20,68 72,80
24 52,67 23,12 75,79
25 47,12 20,63 67,75
26 52,78 27,12 79,90
27 48,12 20,82 68,94
28 47,12 29,34 76,46
29 51,18 27,12 78,30
30 49,23 28,34 77,57
31 51,23 30,12 81,35
average 51,05 26,09 77,13
Cross Ripping
LAMPIRAN G
PRODUKTIVITAS DOZER CATERPILLAR D 10 T

Strike Ripping
waktu forward waktu Reverse
No. Total 1 siklus
(detik) (detik)
1 97,87 31,12 128,99
2 90,23 30,11 120,34
3 86,12 29,56 115,68
4 94,12 28,12 122,24
5 97,55 29,77 127,32
6 92,14 30,45 122,59
7 91,87 29,56 121,43
8 93,76 30,12 123,88
9 88,12 29,34 117,46
10 95,12 28,45 123,57
11 94,45 31,34 125,79
12 91,12 28,89 120,01
13 89,87 29,14 119,01
14 91,12 24,56 115,68
15 88,86 27,89 116,75
16 94,12 28,66 122,78
17 84,56 28,12 112,68
18 87,87 27,11 114,98
19 93,14 24,56 117,70
20 89,76 27,45 117,21
21 88,76 24,12 112,88
22 90,87 32,34 123,21
23 86,87 28,98 115,85
24 87,76 27,89 115,65
25 92,87 29,56 122,43
26 94,22 24,12 118,34
27 94,12 29,66 123,78
28 92,45 27,98 120,43
29 87,67 28,34 116,01
30 86,12 25,66 111,78
31 92,76 27,34 120,10
Average 91,17 28,40 119,57

Cross Ripping
waktu forward waktu Reverse
No. Total 1 siklus
(detik) (detik)
1 49,12 20,11 69,23
2 54,12 18,18 72,30
3 53,12 22,12 75,24
4 44,67 21,98 66,65
5 52,12 21,87 73,99
6 50,34 20,12 70,46
7 48,12 19,87 67,99
8 47,12 21,34 68,46
9 39,56 19,98 59,54
10 52,45 20,66 73,11
11 51,11 21,65 72,76
12 51,12 21,77 72,89
13 55,78 19,67 75,45
14 53,12 20,76 73,88
15 54,12 17,89 72,01
16 55,67 21,98 77,65
17 49,12 21,87 70,99
18 54,12 22,87 76,99
19 54,12 22,45 76,57
20 53,12 18,17 71,29
21 49,45 19,98 69,43
22 56,12 20,66 76,78
23 48,12 21,65 69,77
24 47,12 21,77 68,89
25 52,12 19,67 71,79
26 49,12 20,76 69,88
27 52,12 18,99 71,11
28 44,12 22,98 67,10
29 49,45 17,89 67,34
30 58,12 21,78 79,90
31 56,12 19,87 75,99
average 51,10 20,69 71,79
LAMPIRAN H
PERHITUNGAN FAKTOR PENGEMBANGAN MATERIAL (SWELL FACTOR)

Swell factor (SF) atau faktor pengembangan adalah bertambahnya volume suatu

material setelah digali dari tempatnya. Pengembangan volume suatu material perlu

diketahui karena hasil dari suatu perhitungan produktifitas dalam bentuk BCM,

sedangkan material hasil galian berupa material lepas sehingga material sudah tidak

asli lagi karena mengalami pengembangan (loose).

Dari pengamatan lapangan didapatkan ;

Volume Bank/Asli/Insitu = 423,190 m3

Volume Lepas/Loose = 557,283 m3

Berat Total Material = 950,00 Ton

Sehingga didapatkan nilai densitas masing-masing volume ;


Densitas Bank =

= 2.24 ton/m3

Densitas Loose =

= 1.7 ton/m3

H-1
Maka, nilai pengembangan material adalah

Swell factor =

= 76%
H-2
LAMPIRAN I
FAKTOR EFISIENSI MEKANIS

NO Pemuatan Jenis Material K


1 Mudah Tanah, clay agak lunak 0,95 1
2 Sedang Pasir, tanah, lempung 0,90 0,95
3 Agak Sulit Batu halus, lempung keras 0,80 0,90
4 Sulit Bongkah, kerikil 0,70 0,80
Table Nilai Bucket Fill Factor (K)

Kondisi Kondisi Pengelolaan


Kerja Bagus Sekali Bagus Sedang Buruk
Bagus Sekali 0,84 0,81 0,76 0,70
Bagus 0,78 0,75 0,71 0,65
Sedang 0,72 0,69 0,65 0,60
Buruk 0,63 0,61 0,57 0,52
Table Nilai Efisiensi Kerja

NO Kondisi Medan Efisiensi Kerja


1 Baik 0,83
2 Sedang 0,75
3 Agak Buruk 0,67
4 Buruk 0,58
Table Efisiensi Kerja Alat Gali-muat

NO Kondisi Medan Efisiensi Kerja


1 Baik 0,83
2 Sedang 0,80
3 Agak Buruk 0,75
4 Buruk 0,70
Tabel Efisiensi Kerja Alat Angkut