Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Intra Uterine Fetal Death (IUFD) merupakan kematian janin yang berkaitan

dengan ekspulsi komplet atau ekstraksi hasil konsepsi dari Ibu, pada durasi yang

tidak dapat diperkirakan di dalam masa kehamilan, dan merupakan terminasi

kehamilan yang tidak diinduksi.1 Di berbagai negara berkembang di dunia, angka

kematian janin semakin bertambah seiring dengan tingkat kesejahteraan rakyat

dan kualitas pelayanan kesehatan di negara tersebut. Pelaporan angka insidensi

kematian janin juga masih terbatas dan belum terdokumentasi dengan baik.

Padahal laporan tersebut dapat menjadi acuan atau rujukan yang berguna dalam

memperbaiki kinerja tenaga kesehatan maternal yang ada.2

Angka insidensi kematian janin di dunia diperkirakan mencapai rentang

2,14 3,82 juta jiwa.1 Angka ini bervariasi tergantung pada kualitas perawatan

medis yang tersedia di negara bersangkutan dan definisi yang digunakan untuk

mengelompokkan kematian janin. Angka insidensi ini pun belum termasuk yang

terdapat di negara-negara berkembang, dimana resiko kematian maternal dan

janinnya lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang kaya maupun

sudah maju. Hal ini dipersulit dengan kurangnya data pelaporan dan survei

penelitian yang memadai tentang kuantitas, kualitas dan karakteristik angka

insidensi IUFD di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa gambaran karakteristik ibu hamil dengan Intra Uterine Fetal Death

(IUFD) di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya periode Januari

Desember 2015 berdasarkan umur, paritas, usia kehamilan dan komplikasi

pada kehamian?
2. Berapa banyak proporsi setiap faktor resiko tersebut ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil dengan Intra

Uterine Fetal Death (IUFD) di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

Januari Desember 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan Intra Uterine

Fetal Death (IUFD) pada ibu hamil di RSUD dr. Doris Sylvanus

Palangka Raya Januari Desember 2015 berdasarkan umur, paritas,

usia kehamilan dan komplikasi atau penyulit pada kehamilan

2. Untuk mengetahui proporsi jumlah Intra Uterine Fetal Death

(IUFD) pada ibu hamil di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

Januari Desember 2015 berdasarkan umur, paritas, usia kehamilan

dan komplikasi pada kehamian

1.4 Manfaat Penelitian

2
Manfaat yang diharapkan bisa diambil dari diadakannya penelitian ini yaitu:

1. Dapat mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil dengan

Intra Uterine Fetal Death (IUFD) di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka

Raya Januari Desember 2015 berdasarkan umur, paritas, usia kehamilan

dan komplikasi pada kehamian


2. Sebagai bahan wacana bagi pihak institusi dan para

akademisi FK UPR khususnya tentang Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

dan faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya IUFD

3. Sebagai sarana pembelajaran bagi dokter muda dan syarat

tugas stase Obstetri dan Ginekologi.

BAB II

3
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Karakteristik Ibu Hamil

Karakterikstik ibu hamil adalah suatu informasi biologis yang berkaitan

dengan keadaan ibu pada saat hamil mencakup usia ibu, usia kehamilan ibu,

jumlah anak yang dimiliki (paritas), riwayat penyakit dalam kehamilan serta

kesehatan ibu dan janin yang ada di dalam kandungannya.

2.1.2 Definisi dan Etiologi Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Ketiadaan daya hidup janin pada berbagai tahap merupakan kematian janin.

Berdasarkan revisi tahun 2003 dari Prosedur Pengkodean Penyebab dari

Kematian Janin ICD-10, Pusat Statistik Kesehatan Nasional mendefinisikan

kematian janin sebagai kematian yang terutama berkaitan dengan ekspulsi

komplet atau ekstraksi hasil konsepsi dari Ibu, pada durasi yang tidak dapat

diperkirakan di dalam masa kehamilan, dan merupakan terminasi kehamilan

yang tidak diinduksi.1 Kematian janin diindikasikan oleh adanya fakta setelah

terjadi ekspulsi atau ekstraksi, janin tidak bernafas atau menunjukkan tanda-

tanda lain dari kehidupan seperti detak jantung, pulsasi umbilical cord, atau

gerakan yang berarti dari otot-otot volunter. Detak jantung tidak termasuk

kontraksi transien dari jantung, respirasi tidak termasuk pernafasan yang sangat

cepat atau gasping. Pengertian ini kemudian diklasifikasikan sebagai kematian

4
awal (<20 minggu kehamilan), pertengahan (20-27 minggu kehamilan) dan

lambat (>28 minggu kehamilan).3

IUFD (Intra Uterine Fetal Death) merupakan kematian janin yang terjadi

tanpa sebab yang jelas, yang mengakibatkan kehamilan tidak sempurna

(Uncomplicated Pregnancy). Kematian janin terjadi kira-kira pada 1% kehamilan

dan dianggap sebagai kematian janin jika terjadi pada janin yang telah berusia 20

minggu atau lebih, dan bila terjadi pada usia di bawah usia 20 minggu disebut

abortus. Sedangkan WHO menyebutkan bahwa yang dinamakan kematian janin

adalah kematian yang terjadi bila usia janin 20 minggu dan berat janin waktu

lahir diatas 500 gram.3,4

Pada dasarnya untuk membedakan IUFD dengan aborsi spontan, WHO dan

American College of Obstetricians and Gynaecologists telah merekomendasikan

bahwa statistik untuk IUFD termasuk di dalamnya hanya kematian janin intra

uterine dimana berat janin 500 gr atau lebih, dengan usia kehamilan 22 minggu

atau lebih. Tapi tidak semua negara menggunakan pengertian ini, masing-masing

negara berhak menetapkan batasan dari pengertian IUFD.1

Penyebab dari kematian janin intra uterine yang tidak dapat diketahui

sekitar 25-60%, insiden meningkat seiring dengan peningkatan usia kehamilan.

Pada beberapa kasus yang penyebabnya teridentifikasi dengan jelas, dapat

dibedakan berdasarkan penyebab dari faktor janin, maternal dan patologi dari

plasenta.5

a. Faktor Ibu

5
1. Ketidakcocokan Rh darah Ibu dengan janin

2. Ketidakcocokan golongan darah Ibu dengan janin

3. Berbagai penyakit pada ibu hamil (hipertensi, preeklampsia, eklampsia,

diabetes mellitus tidak terkontrol, lupus eritematosus sistemik)

4. Trauma saat hamil

5. Infeksi pada ibu hamil

6. Prolonged Pregnancy (kehamilan diatas 42 minggu)

7. Hamil pada usia lanjut

8. Ruptur uteri

9. Kematian Ibu

b. Faktor Janin

1. Gerakan Sangat Berlebihan

2. Kelainan kromosom

3. Kelainan bawaan bayi

4. Malformasi janin

5. Kehamilan multipel

6. Intra Uterine Growth Restriction

7. Infeksi (parvovirus B19, CMV, listeria)

8. Insufisiensi plasenta yang idiopatik

c. Faktor Plasenta

1. Perlukaan cord

2. Ketuban pecah secara mendadak (abruption)

3. Premature Rupture of Membrane

6
4. Vasa Previa

2.1.3 Epidemiologi Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Janin saat ini dipandang sebagai pasien yang menghadapi resiko mortalitas

dan morbiditas yang cukup serius. Secara epidemiologi, angka insidensi

kematian janin di seluruh dunia diperkirakan mencapai rentang 2,14 3,82 juta

jiwa. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2009, yaitu sejumlah 14,5%.

Kisaran angka tersebut adalah 18,9 lahir mati per 1000 kelahiran.4 Pada tahun

2005, data dari Laporan Statistik Vital Nasional menunjukkan tingkat nasional

AS kelahiran mati rata-rata 6,2 per 1000 kelahiran.6 Pada tahun 2009, jumlah

global diperkirakan saat dilahirkan adalah 2,64 juta (berkisar ketidak pastian,

2,14-3820000). Tingkat kelahiran mati di seluruh dunia menurun 14,5% dari 22,1

bayi lahir mati per 1000 kelahiran pada tahun 1995-18,9 lahir mati per 1000

kelahiran pada tahun 2009.4

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Depkes RI tahun 2003 mengenai

kegagalan yang terjadi selama masa kehamilan, didapatkan data mortalitas

perinatal di Indonesia berkisar 24 dari 1000 kehamilan. 7 Kondisi kesehatan janin

memiliki kontribusi tertinggi dalam mengakibatkan mortalitas perinatal (39%)

dibandingkan dengan faktor maternal (5,1%). Resiko tingginya angka kematian

yang berkaitan dengan faktor maternal kebanyakan berupa jarak 15 bulan

kehamilan dari persalinan terakhir dan usia ibu hamil di atas 40 tahun.

2.1.4 Faktor Risiko

7
a. Status Ekonomi

Faktor sosial ekonomi tidak berpengaruh langsung terhadap terjadinya

kematian bayi, tetapi sosial ekonomi yang buruk akan mempengaruhi seseorang

dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi yang baik selama kehamilan.

Keadaan sosial ekonomi yang rendah sering dihubungkan dengan malnutrisi dan

bermacam-macam penyakit infeksi seperti malaria, cacingan, dan tuberkulosis

(Manuaba, 1998).

b. Tingkat Pendidikan ibu

Tingkat pendidikan ibu tidak berpengaruh secara langsung terhadap

kematian bayi, akan tetapi akan berpengaruh terhadap kesadaran ibu dalam

memanfaatkan sarana kesehatan, frekuensi pemeriksaan kehamilan, dan

kewaspadaannya dalam menghadapi masalah-masalah kesehatan yang mungkin

dijumpai selama kehamilan. Tingkat pendidikan ibu juga bisa mempengaruhi

kepercayaan dan kebiasaan ibu, serta perhatian dan perawatan terhadap dirinya

dan bayinya (Manuaba, 1998). Hasil penelitian Simbolon (2006) menyatakan

bahwa probabilitas kelangsungan hidup bayi lebih tinggi pada bayi yang lahir

dari ibu yang berpendidikan tinggi yaitu sebesar 98,38%.

c. Umur Ibu

Umur yang dianjurkan Depkes RI (1999) untuk hamil dan persalinan

yang aman adalah pada rentang usia 20 tahun hingga usia 35 tahun. Pada usia

kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun risiko terjadinya prematuritas dan

8
komplikasi kehamilan akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena pada

usia kurang dari 20 tahun kondisi ibu masih dalam masa pertumbuhan sehingga

mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan, sedangkan pada

usia lebih dari 35 tahun seorang ibu sudah mulai dihinggapi berbagai macam

penyakit ditambah dengan menurunnya kekuatan ibu untuk melakukan proses

persalinan bayi karena faktor usia maupun penyakit yang dideritanya (Manuaba,

1998: 36).

Raymond dkk (1994) menyatakan bahwa usia lanjut (35 tahun) akan

meningkatkan risiko untuk melahirkan bayi mati. Cattingius dkk (1993) juga

menyatakan bahwa umur ibu yang semakin lanjut (35 tahun) memiliki risiko

untuk melahirkan bayi kecil masa kehamilan (KMK). Hasil penelitian Adimoelja

(2004), pada periode 1 Januari 200231 Desember 2003 di Rumah Sakit Umum

Pusat Manado didapatkan angka kematian perinatal yang tinggi pada kelompok

umur < 20 tahun dan 40 tahun, masing-masing 67,34% dan 64,52%

(Ambarwati, 2006: 22).

d. Pengetahuan

Ibu Pengetahuan ibu memegang peranan penting untuk mewujudkan

kesehatan ibu dan bayi. Pengetahuan ibu diantaranya meliputi pengetahuan ibu

tentang kesehatan kehamilan, penyakit-penyakit yang menyertai kehamilan,

pemeriksaan kehamilan yang harus dilakukan, dan imunisasi yang harus

dilakukan selama masa kehamilan (Manuaba, 1998: 20).

e. Paritas

9
Seorang ibu yang sudah mempunyai empat anak atau lebih dan menjadi

hamil lagi keadaan kesehatannya sudah tampak menurun dan sering mengalami

kurang darah (anemia). Selama hamil sering terjadi perdarahan jalan lahir dan

letak bayi sungsang atau melintang. Akibat keadaan tersebut maka persalinan

menjadi sulit dan lama, bahkan mengalami perdarahan dan infeksi. Paritas di atas

lima merupakan faktor risiko penyebab kematian perinatal (Manuaba, 1998:

333).

Menurut Lubis dalam Ambarwati menyatakan bahwa paritas berkaitan

dengan jumlah kelahiran yang dialami oleh seorang ibu. Jumlah kelahiran yang

berhubungan dengan terjadinya risiko kematian ibu adalah kelahiran lebih dari

empat. Kelahiran pertama pada umumnya mempunyai risiko relatif tinggi karena

dipengaruhi oleh kemungkinan adanya kelemahan atau kelainan-kelainan bawaan

dari ibu. Kelahiran ke dua dan ke tiga adalah yang paling kurang risikonya.

Mulai kelahiran keempat risiko kematian akan meningkat termasuk kelahiran-

kelahiran berikutnya (Lubis dalam Ambarwati, 2006: 22).

f. Jarak Antar Kelahiran

Pembatasan kelahiran dan membuat jarak kelahiran paling sedikit 2 tahun

baik untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, mengingat setiap kehamilan

membawa risiko kesehatan yang potensial untuk ibu, walaupun ibu tersebut

terlihat sehat dan berisiko rendah.

g. Hamil dengan Penyakit

Hamil disertai dengan penyakit yang sudah ada sebelum kehamilan dan

menjadi lebih berat karena pengaruh kehamilan itu, atau karena penyakit yang

10
timbul selama kehamilan itu sendiri. Penyakit yang menyertai antara lain

penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, penyakit paru, infeksi, dan

penyakit endokrin (Wiknjosastro, 1999).

Komplikasi Persalinan yang dapat menyebabkan IUFD adalah sebagai

berikut:

1). Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini yaitu pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda

persalinan, dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan. Makin

lama periode laten makin besar kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan

prematuritas, dan selanjutnya meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu

dan bayi atau janin dalam rahim (Manuaba, 1998: 228).

2) Pre-eklampsi / Eklampsi

Pre-eklampsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan

proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam

triwulan ketiga kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya. Pre-eklampsi dibagi

dalam golongan ringan dan berat, sedangkan eklampsi merupakan kelanjutan dari

pre-eklampsi berat ditambah dengan kejang atau koma yang dapat berlangsung

mendadak (Wiknjosastro, 2006: 241).

Pre-eklampsi dikatakan berat jika satu atau lebih tanda atau gejala di

bawah ini ditemukan : (1) Tekanan sistolik 160 mm Hg atau lebih atau tekanan

diastolik 110 mm Hg atau lebih. (2) Proteinuria lebih 5 g/ 24 jam 4 + pada

pemeriksaan kualitatif. (3) Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500cc/ 24

jam. (4) Kenaikan kadar kreatinin plasma (5) Keluhan serebral, gangguan

11
penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium. (6) Edema paru-paru atau sianosis.

(7) Trombositopenia berat, < 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dengan

cepat. (8) Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat (Wiknjosastro, 2008:

545).

3) Kala II Tak Maju

Persalinan dengan syarat yang adekuat tidak menunjukkan kemajuan pada

pembukaan serviks, turunnya kepala dan putar faksi selama 2 jam terakhir

berakhir. Hal ini dapat meningkatkan kejadian asfiksia dan Intra Uterine Fetal

Distress (IUFD) (Muchtar, 1998).

4) Persalinan Lama

Persalinan pada primigravida (kehamilan pertama) umumnya berlangsung

dalam waktu 18-20 jam dan pada multigravida (kehamilan lebih dari satu) selama

12-14 jam, mereka yang lebih lama dari 24 jam disebut persalinan lama.

Kontraksi rahim selama 24 jam tersebut telah dapat mengganggu aliran darah

menuju janin, sehingga janin dalam rahim menjadi dalam situasi yang berbahaya

(Manuaba, 1998: 292).

5) Perlukaan Kelahiran dalam Persalinan

Persalinan selalu memberikan perlukaan pada bayi akibat kelahiran.

Perlukaan ini diantaranya adalah cephalhematoma yang terjadi akibat persalinan

normal dan terutama pada persalinan dengan cunam (Manuaba,1998: 320).

12
2.1.4 Patogenitas, Patofisiologi dan Tanda-Gejala Intra Uterine Fetal Death

Sesuai dengan etiologi dari kematian janin dalam rahim atau Intra Uterine

Fetal Death (IUFD), kematian janin disebabkan oleh tiga permasalahan pokok

yaitu kausa dari janin, kausa dari ibu, dan kausa dari plasenta. 5 Penyebab dari

janin bisa berasal dari cacat genetik atau malformasi kongenital mayor, infeksi

janin, gestasi multipel, dan cacat lahir non kromosom.8 Dari penyebab maternal

yang berakibat IUFD antara lain faktor diabetes tidak terkontrol, hipertensi

kehamilan hingga preeklampsia-eklampsia, kematian ibu, infeksi ibu, SLE,

autoantibodi, hemoglobinopati, ruptur uterina, antifosfolipid, dan lainnya.9

Faktor-faktor kausa dari plasenta berupa adanya ruptura plasenta prematur, vasa

previa, insufisiensi plasenta, perdarahan fetomaternal, trauma pada umbilikus,

dan semacamnya.10,11

1. Kausa Janin

Dari 25 40% kasus kematian janin, penyebab terseringnya adalah

karena faktor janin itu sendiri. Kausa pada janin tersebut mencakup cacat

genetik atau malformasi kongenital mayor, infeksi janin, gestasi multipel,

dan cacat lahir non kromosom.5

Malformasi kongenital mayor merupakan adanya kelainan kromosom

autosom. Beberapa dari kelainan tersebut antara lain neural-tube defect,

hidrosefalus, penyakit jantung kongenital, hidrops dan lain-lain. Malformasi

kongenital mayor ini merupakan kelainan genetis yang mengancam hidup

janin dan mengganggu kerja organ-organ vital.8

13
Infeksi janin merupakan kausa yang konsisten dengan tingkat

kegawatdaruratan janin. Semakin parah morbiditas dan virulensi dari infeksi

yang diderita janin, semakin buruk kemungkinan janin untuk dapat hidup di

dalam uterus. Beberapa infeksi janin yang dapat membahayakan janin antara

lain infeksi TORCH (CMV, Toxoplasma, Rubella), malaria, infeksi

Streptococcus grup A dan Streptococcus grup B, Salmonelosis atau demam

tifoid, hingga gangguan pembekuan darah dan syok.5,8

Rubella merupakan salah satu agen paling teratogenik yang diketahui.

Sekitar 80% wanita hamil terinfeksi rubella dan ruam selama 12 minggu

akan mengalami infeksi kongenital, usia 13-14 minggu berjumlah 54 %, dan

pada akhir trimester kedua sebanyak 25%. Adanya infeksi virus Rubella ini

akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang janin intra uterin yang

berakibat pada kegagalan perkembangan jantung, defek susunan syaraf

pusat, ikterus, hepatitis, hambatan pertumbuhan janin, trombositopenia,

anemia, dan lain-lain. Sitomegalovirus lebih banyak menyebabkan infeksi

dan kecacatan perinatal dibandingkan dengan hambatan perkembangan dan

pertumbuhan janin intra uterin. Infeksi CMV menyebabkan mikrosefalus,

retardasi mental-motorik, defisit sarafsensori, hepatosplenomegali, anemia

hemolitik, hingga sindroma anti-fosfolipid.5,12

Toksoplasmosis akut merupakan penyulit sekitar 1-5 dari 1000

kehamilan. Setidaknya pada wanita hamil, keguguran atau lahirnya bayi

hidup dengan tanda-tanda kecacatan akibat toksoplasmosis kongenital rentan

terjadi. Gejala dan tanda klinis yang didapatkan berupa berat lahir rendah,

14
anemia, ikterus, hepatosplenomegali, kalsifikasi intrakranial, limfadenopati,

rasa lelah, nyeri otot, bahkan hingga retardasi mental.13

Infeksi Streptococcus grup A saat ini sudah jarang dijumpai. Walau

demikian, infeksi ini tergolong infeksi yang berat karena menimbulkan syok

dan sangat toksik, sehingga berakibat pada kematian ibu janin. Infeksi

Streptococcus grup B berperan dalam menyebabkan gangguan hasil

kehamilan (persalinan preterm, ketuban pecah dini, korioamnionitis, dan

sepsis nifas). Oleh karena itu, infeksi Streptococcus merupakan infeksi yang

cukup berbahaya bagi kelangsungan hidup janin di dalam uterus.8

Penyakit sistemik lain yang menimbulkan kematian janin sekaligus

kematian maternal antara lain malaria, demam tifoid, demam berdarah

dengue, gangguan pembekuan darah, dan syok. Semua gangguan sistemik

ini membutuhkan adanya penanganan yang lebih komprehensif untuk ibu

hamil, dengan mempertimbangkan konsultasi pada ahli-ahli penyakit dalam

yang kompeten.8

2. Kausa Maternal

Kasus kematian janin yang diakibatkan oleh faktor maternal ternyata

hanya memiliki peranan yang kecil. Beberapa penyakit dari ibu yang

mempunyai kausa tersering berupa hipertensi dan diabetes pada kehamilan.

Penyakit-penyakit lain seperti autoantibodi, SLE, penyakit rhesus merupakan

sebab yang jarang jumlah kejadiannya. Pada intinya, kasus kematian janin

yang disebabkan oleh kausa ibu diakibatkan oleh adanya gangguan sistemik

pada ibu, dimana gangguan sistemik tersebut mengganggu perfusi darah dari

15
ibu ke janin.12,14 Penyebab lainnya seperti penurunan alfa feto protein, cukup

memberikan arti yang besar dalam menimbulkan kematian janin, walaupun

kejadian tersebut bersifat jarang ditemukan.15

Hipertensi dalam kehamilan terbagi menjadi tiga jenis yaitu hipertensi

gestasional, pre-eklampsia, dan eklampsia. Ketiga jenis hipertensi kehamilan

ini merupakan bagian yang berurutan, sesuai dengan tingkat keparahan.

Hipertensi gestasional merupakan peningkatan tekanan darah mencapai

140/90 mmHg atau lebih untuk pertama kali selama kehamilan, tetapi belum

mengalami proteinuria. Hipertensi gestasional yang memberat akan

menyebabkan terjadinya pre-eklampsia. Pre-eklampsia adalah sindrom

spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme

dan aktivasi endotel disertai dengan adanya kombinasi antara hipertensi dan

proteinuria yang nyata selama kehamilan. Bila pre-eklampsia tidak segera

ditangani dengan baik, akan menimbulkan stadium pre-eklampsia berat yang

akhirnya mengakibatkan eklampsia. Eklampsia adalah terjadinya kejang

grand mal pada seorang wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat

disebabkan oleh hal lain.16

Hipertensi kehamilan sejatinya mengakibatkan vasospasme dan

iskemia dalam pembuluh darah ibu. Pada hipertensi gestasional, terjadi

peningkatan curah jantung yang bermakna. Hal ini mengakibatkan adanya

peningkatan afterload jantung. Hal ini akan semakin parah bila mencapai

tahap pre-eklampsia, dimana terjadi peningkatan resistensi perifer akibat

vasospasme yang berlebihan dan berakibat pada penurunan mencolok curah

16
jantung. Bila keadaan ini terus dibiarkan, maka akan mengganggu perfusi

utero-plasenta dan mengakibatkan hipoksia janin. Hal ini akan berakibat

pada kematian janin.17,18

Gejala dan tanda untuk masing-masing tipe hipertensi kehamilan

hampir mempunyai gambaran yang sama, terutama pada keluhan nyeri

kepala dan epigastrium. Pada hipertensi gestasional, dapat dikenali adanya

nyeri kepala, nyeri epigastrium, dan peningkatan tekanan darah yang nyata.

Pre-eklampsia berat ditegakkan dengan adanya ekskresi protein urin dalam

24 jam sebesar 2 gram atau lebih, dan proteinuria 2+ atau lebih yang

menetap Diabetes mellitus tipe 2 lebih merupakan faktor penyulit medis

tersering pada kehamilan. Pasien dipisahkan menjadi golongan yang

mengidap diabetes sebelum hamil (overt), dan yang mengidap saat hamil

(gestasional).

Diabetes gestasional mengisyaratkan bahwa gangguan ini dipicu oleh

kehamilan, yang mungkin terjadi akibat perubahan-perubahan fisiologis

pada metabolisme glukosa. Keadaan ini dapat menimbulkan efek bagi ibu

dan janin. Efek yang akan dialami janin adalah makrosomia disertai trauma

lahir karena distosia bahu. Hal ini disebabkan oleh karena pengendapan

lemak yang berlebihan di bahu dan badan. Hiperinsulinemia janin yang

disebabkan oleh hiperglikemia ibu pun akhirnya akan merangsang

pertumbuhan somatik yang berlebihan. Berkaitan dengan kematian janin,

dugaan kematian janin oleh karena diabetes gestasional masih merupakan

permasalahan yang belum ditemukan secara pasti bagaimana teori

17
terjadinya. Kemungkinan paling besar adalah adanya trauma janin saat lahir

akibat distosia bahu atau diabetes dipandang sebagai pemicu hipertensi pada

kehamilan yang akhirnya menimbulkan pre-eklampsia dan eklampsia.18,19

3. Kausa Plasenta

Kasus kematian janin yang dikaitkan dengan kausa plasenta relatif

bersifat dependent, tidak bisa berdiri sendiri, atau tergantung dari adanya

penyebab yang lainnya. Kasus-kasus yang sering menyebabkan kematian

janin antara lain solusio plasenta, infeksi plasenta dan ketuban, infark

plasenta, dan perdarahan janin ke ibu.20

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya

sebelum janin lahir. Beberapa jenis perdarahan akibat solusio plasenta

biasanya merembes di antara selaput ketuban dan uterus kemudian lolos

keluar yang menyebabkan perdarahan eksternal. Solusio plasenta terbagi

menjadi solusio plasenta totalis dan parsialis.20,21

Solusio plasenta diawali perdarahan ke dalam desidua basalis. Desidua

kemudian terpisah, meninggalkan satu lapisan tipis yang melekat ke

endometrium. Akibatnya, proses ini pada tahap paling awal akan

memperlihatkan pembentukan hematom desidua yang menyebabkan

pemisahan, penekanan, dan destruksi plasenta di dekatnya. Hal ini

mengakibatkan berkurangnya perfusi darah ke janin melalui plasenta dan

berakibat pada kematian janin.20

Pada beberapa kasus, arteri spiralis desidua mengalami ruptur sehingga

menyebabkan hematom retro plasenta, yang sewaktu membesar semakin

18
banyak pembuluh darah dan plasenta yang terlepas. Karena masih teregang

oleh hasil konsepsi, uterus tidak dapat berkontraksi untuk menjepit

pembuluh darah yang robek yang memperdarahi tempat implantasi plasenta.

Darah yang keluar dapat memisahkan selaput ketuban dari dinding uterus

dan akhirnya muncul sebagai perdarahan eksternal atau tetap dalam uterus.

Hal inilah yang membedakan antara solusio plasenta parsialis dengan

totalis.20 Gambaran klinis solusio plasenta ringan hingga berat pun berbeda.

Pada solusio plasenta ringan, terjadi ruptur sinus marginalis yang

menyebabkan perdarahan pervaginam warna merah hitam dan agak tegang

dengan bagian janin masih teraba. Solusio plasenta sedang terjadi sakit perut

terus menerus, nyeri tekan, bagian janin sukar diraba, BJA sukar diraba

dengan stetoskop biasa, dan terjadi kelainan pembekuan darah.20 Solusio

plasenta berat merupakan gejala terberat dengan pelepasan solusio plasenta

lebih dari duapertiga luas, uterus tegang seperti papan, nyeri hebat, dan ibu-

janin tiba-tiba mengalami syok hingga meninggal.

Infark plasenta merupakan kelainan plasenta yang tersering. Infark

plasenta terjadi karena akibat dari sumbatan pasokan vaskuler ibu, yaitu

sirkulasi antarvilus. Secara histopatologis terdapat gambaran degenerasi

fibrinoid trofoblas, kalsifikasi, dan infark iskemik akibat oklusi arteri

spiralis.20 Secara umum, etiologi dari infark plasenta ini terjadi karena

penuaan trofoblas yang mengalami perubahan, dan gangguan sirkulasi

uteroplasenta. Sinsisium yang mengalami penuaan mengalami degenerasi

sinsisium. Sinsisium yang terurai tersebut kemudian langsung terpajan

19
dengan darah ibu, sehingga menyebabkan bekuan darah pada vilus-vilus.

Dari sini, terbentuklah trombosis arteri vilus pada janin dan bahkan berakibat

pada kalsifikasi plasenta. Pembentukan trombosis dan kalsifikasi ini

mengakibatkan gangguan sirkulasi darah ke janin yang berakibat kematian

janin.20 Gambaran infark plasenta ini dapat ditegakkan dengan pemeriksaan

Patologi Anatomi dan Ultrasonografi.

2.1.5 Diagnosis Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Pada anamnesis ibu hamil tidak merasakan ada pergerakan janin dan

hilangnya tanda-tanda dan gejala kehamilan.

Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda pertumbuhan uterus, pada

pemeriksaan laboratorium terdapat penurunan kadar serial -Hcg, pada

pemeriksaan x-ray ditemukan Spalding sign dan Roberts sign, dan pada

pemeriksaan USG ditemukan jelas keadaan janin mati intra uterin.

2.1.6 Komplikasi Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Kematian janin akan menyebabkan desidua plasenta menjadi rusak.

Plasenta yang rusak akan menghasilkan tromboplastin. Tromboplastin masuk

ke dalam peredaran darah ibu yang mengakibatkan pembekuan intravaskuler

yang dimulai dari endotel pembuluh darah oleh trombosit sehingga terjadi

pembekuan darah yang meluas (Disseminated intravascular coagulation atau

DIC).

20
Dampak dari adanya DIC tersebut adalah terjadinya

hipofibrinogenemia. Hipofibrinogenemia (kadar fibrinogen < 100 mg%),

biasa pada 4-5 minggu sesudah IUFD. Kadar normal fibrinogen pada wanita

hamil adalah 300-700mg%. Akibat kekurangan fibrinogen maka dapat terjadi

perdarahan post partum. Perdarahan post partus biasanya berlangsung 2-3

minggu setelah janin mati.21

Selain dari komplikasi fisik yang serius pada ibu, dampak secara

kejiwaan pun dapat terjadi. Dampak psikologis dapat timbul pada ibu setelah

lebih dari 2 minggu kematian janin yang dikandungnya (Nybo-Andersen,

2004). Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa ibu. Faktor resiko

terjadinya depresi pada ibu hingga psikosis dapat terjadi.9,22

2.1.7 Penatalaksanaan Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Bila disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim, sebaiknya

diobservasi dahulu dalam 2-3 minggu untuk mencari kepastian diagnosis.

Selama observasi, 70-90 % akan terjadi persalinan yang spontan.7

Jika pemeriksaan Radiologi tersedia, konfirmasi kematian janin setelah 5

hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak, hiperfleksi

kolumna vertebralis, gelembung udara didalam jantung dan edema scalp.

USG merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untuk memastikan

kematian janin dimana gambarannya menunjukkan janin tanpa tanda

kehidupan, tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin dan cairan

ketuban berkurang.7

21
Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien.Sebaiknya

pasien selalu didampingi oleh orang terdekatnya.Yakinkan bahwa

kemungkinan besar dapat lahir pervaginam. Pilihan cara persalinan dapat

secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan

pasien dan keluarganya sebelum keputusan diambil.7

Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif maka tunggu persalinan

spontan hingga 2 minggu dan yakinkan bahwa 90 % persalinan spontan akan

terjadi tanpa komplikasi.7

Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan,

lakukan penanganan aktif. Penanganan aktif dilakukan pada serviks matang,

dengan melakukan induksi persalinan menggunakan oksitosin atau

prostaglandin. Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks

dengan prostaglandin atau kateter foley, dengan catatan jangan lakukan

amniotomi karena berisiko infeksi.7

Mekanisme kerja kateter Foley adalah untuk membantu mematangkan

serviks. Secara teknis, kateter Foley ukuran no.18 dimasukkan hingga ke

Ostium Uteri Internum, mengembangkan baln kateter dengan aquadest 30

mL, dan mempertahankan selama 8 12 jam. Dari sini, akan terjadi

pemisahan antara selaput ketuban dengan Segmen Bawah Rahim. Hal ini akan

menimbulkan pelepasan lisosom oleh desidua basalis dan pelepasan enzim

lithik fosfolipase A yang akan membentuk asam arakhidonat. Asam

arakhidonat ini akan meningkatkan pembentukan prostaglandin, sehingga

serviks menjadi matang.11,14 Efek samping dari kateter Foley ini adalah

22
demam intrapartum atau postpartum, perdarahan per vaginam pasca

pemasangan kateter, KPD, prolapsus tali pusat, dan lain-lain.14

Persalinan dengan sectio cesare merupakan alternatif terakhir. Jika

persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan

serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol: Tempatkan

misoprostol 25 mcg dipuncak vagina, dapat diulang sesudah 6 jam.23

Jika tidak ada respon sesudah 2x25 mcg misoprostol, naikkan dosis

menjadi 50mcg setiap 6 jam. Jangan berikan lebih dari 50 mcg setiap kali dan

jangan melebihi 4 dosis. Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika. Jika tes

pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspada

koagulopati. Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat

dan melakukan kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.

Pemeriksaan patologi plasenta dapat dilakukan untuk mengungkapkan adanya

patologi plasenta dan infeksi.23

Bila setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1 minggu

setelah diagnosis, pasien belum ada tanda untuk partus, maka pasien harus

dirawat agar dapat dilakukan induksi persalinan. Induksi persalinan dapat

dimulai dengan pemberian esterogen untuk mengurangi efek progesteron atau

langsung dengan pemberian oksitosin drip dengan atau tanpa amniotomi.23

23
Protokol untuk Pemeriksaan Bayi Lahir Mati

Gambaran umum Tali pusat

Malformasi Prolaps

Noda kulit Lilitan leher

Derajat maserasi Hematom atau striktur

Warna - pucat, pletorik Jumlah pembuluh

Selaput ketuban Panjang

Ternoda Cairan amnion


Menebal Warna: mekonium, darah

Konsistensi

Volume

Tabel 1. Protokol untuk pemeriksaan bayi lahir mati

Penanganan terhadap hasil konsepsi adalah penting untuk menyarankan

kepada pasien dan keluarganya bahwa bukan suatu kegawatan dari bayi yang

sudah meninggal :

a. Jika uterus tidak lebih dari 12 minggu kehamilan maka pengosongan

uterus dilakukan dengan suction curetase


b. Jika ukuran uterus antara 12-28 minggu, dapat digunakan prostaglandin

E2 vaginal supositoria dimulai dengan dosis 10 mg,


c. Jika kehamilan > 28 minggu dapat dilakukan induksi dengan oksitosin.

Selama periode menunggu diusahakan agar menjaga mental/psikis pasien

yang sedang berduka karena kematian janin dalam kandungannya.

24
Beberapa penelitian menyebutkan kisaran angka kekambuhan lahir mati

antara 0 sampai 8 persen.Kematian janin sebelumnya walaupun tidak semua

lahir mati menyebabkan gangguan hasil pada kehamilan berikutnya.Evaluasi

prenatal penting dilakukan untuk memastikan penyebab. Apabila penyebab

lahir mati terdahulu adalah kelainan karyotipe atau kausa poligenik,

pengambilan sampel villus khorionik atau amniosintesis dapat mempermudah

deteksi dini dan memungkinkan dipertimbangkannya terminasi kehamilan.3

Pada diabetes, cukup banyak kematian perinatal yang berkaitan dengan

kelainan kongenital.Pengendalian glikemik intensif pada periode perikonsepsi

dilaporkan menurunkan insiden malformasi dan secara umum memperbaiki

hasil.8

2.1.8 Pencegahan Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Beberapa pencegahan yang dianjurkan dari beberapa pustaka yang ada

antara lain sebagai berikut:8

1. Memberikan nasehat pada waktu ANC mengenai nutrisi dan

keseimbangan diet makanan,


2. Hindari merokok, tidak meminum minuman beralkohol, jamu, obat-

obatan dan hati-hati terhadapinfeksi yang berbahaya,


3. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian

pengobatan
4. Mendeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distress,
5. Diberlakukannya tindakan Cut off untuk terminasi kehamilan.

25
BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

Intra Uterine
Fetal Death
(IUFD)

Faktor Faktor Faktor


Maternal Janin Plasenta

Tabel 3.1 Kerangka Teori

3.2 Kerangka Konsep

26
Faktor Umur, paritas, usia
Maternal kehamilan dan
Komplikasi kehamilan

Faktor
Fetal
Gambaran
Intra Uterine kejadian IUFD
Fetal Death pada pasien yang
Faktor dirawati di RSUD
Plasenta dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya
Januari
Desember 2015

Tabel 3.2 Kerangka Konsep

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan

rancangan penelitian retrospektif.

4.2 Populasi Penelitian

1. Populasi
a. Populasi target = Pasien-pasien ibu hamil yang mengalami Intra

Uterine Fetal Death (IUFD) di RSUD dr. Doris

Sylvanus Palangka Raya Januari Desember 2015.

27
b. Populasi terjangkau = Populasi target ibu hamil yang dirawat dan bersalin

di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

Januari Desember 2015


2. Sampel
Seluruh pasien-pasien ibu hamil yang mengalami Intra Uterine Fetal

Death (IUFD)dan bersalin di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya yang

terdaftar di bagian administrasi Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus

Palangka Raya dan tercatat periode Januari Desember 2010 berdasarkan

umur, paritas, usia kehamilan dan komplikasi dalam kehamilan.

Kriteria eksklusi untuk populasi terjangkau tersebut adalah yaitu:

1. Tidak tercatat secara lengkap pada Januari Desember 2010.

2. Berat janin mati kurang dari 500 gram

3. Pasien dengan usia kehamilan kurang dari 20 minggu.

4.3 Variabel Penelitian

1. Variabel Terikat

Intra Uterine Fetal Death (IUFD) pada RSUD dr. Doris Sylvanus

Palangka Raya per Januari Desember 2015

2. Variabel Bebas

Karakteristik berdasarkan umur, paritas, usia kehamilan dan komplikasi

dalam kehamilan Intra Uterine Fetal Death (IUFD) berdasarkan etiologi

terjadinya Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

4.4 Batasan Operasional

1. Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

28
Janin yang mati dalam Rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih

atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih.

2. Faktor Maternal

Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab ibu hamil yang

mengalami IUFD (usia ibu hamil, usia kehamilan, paritas, komplikasi dalam

kehamilan).

4.5 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Operasional Alat Hasil Ukur Skala

Ukur Ukur
Terikat
1. Intra Uterine Fetal Janin yang mati dalam Rekam IUFD positif; Nominal

Death (IUFD) rahim dengan berat badan medik IUFD negatif

500 gram atau lebih atau

kematian janin dalam rahim

pada kehamilan 20 minggu

atau lebih
Bebas
2. Riwayat Maternal Faktor-faktor yang Rekam

berhubungan dengan medik

keadaan ibu berupa usia ibu

hamil, usia kehamilan,

berat bayi lahir dan paritas

pasien IUFD tersebut


a. Usia Ibu Hamil Usia ibu hamil yang IUFD Rekam < 20; Ordinal

29
medik 20-35;
>35 tahun
b. Usia kehamilan Usia kehamilan ibu hamil Rekam >20-<27; Ordinal
37-42;
yang IUFD medik >42 minggu
c. Paritas Jumlah kehamilan yang Rekam Nullipara; Nominal

menghasilkan janin yang medik Primipara;

mampu hidup diluar rahim Multipara;

(28 minggu) Grandemultipara


d. Diabetes mellitus Intoleransi glukosa yang Rekam Positif; Negatif Nominal

gestasional baru muncul pada saat medik

kehamilan
e. Preeklampsia Hipertensi yang timbul Rekam Positif; Negatif Nominal

setelah 20 minggu medik

kehamilan disertai dengan

proteinuria
f. Eklampsia Preeklampsia yang disertai Rekam Positif; Negatif Nominal

kejang dan/atau koma medik


g. Infeksi kolonisasi yang dilakukan Rekam Positif; Negatif Nominal

oleh spesies asing terhadap medik

maternal dan bersifat

membahayakan maternal
h. Polihidramnion Volume air ketuban lebih Rekam Positif; Negatif Nominal

dari 2 liter medik

4.6 Pengumpulan Data

1. Alat dan Bahan Pengumpul Data

Rekam medik

2. Jenis data yang digunakan

30
Data sekunder (pengambilan kelompok sampel penelitian berdasarkan data

yang telah tersedia)

3. Cara Pengumpulan Data

a. Mengambil keseluruhan pasien hamil dengan IUFD dari data sekunder

di bagian administrasi Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus

Palangka Raya yang memenuhi kriteria sampel penelitian.

b. Pengambilan dan analisis hasil setelah selesainya survey tersebut, sesuai

dengan jumlah sampel penelitian.

4.7 Analisis Data

Rencana analisis data dalam penelitian ini adalah analisis univariat.

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui frekuensi distribusi variabel

penelitian dengan data yang disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik.

Sehingga, analisis penelitian ini dilakukan secara deskriptif saja.

31
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Total responden ibu hamil dengan IUFD yang dirawat di RS Doris Sylvanus
dari periode 1Januari hingga 31 Desember 2015 adalah sebesar 57 orang. Jumlah
sampel yang digunakan berdasarkan data yang memenuhi kriteria adalah sebesar 44
ibu hamil dengan IUFD.

Tabel 2 Pasien hamil dengan IUFD berdasarkan usia kehamilan periode 1


Januari 31Desember 2015

Usia ibu (tahun) Jumlah (orang)


<20 1
20-35 30

>35 13

Berdasarkan usia ibu dengan IUFD didapatkan 1 pasien dengan usia kurang
dari 20 tahun, 30 pasien dengan usia 20 sampai 35 tahun, dan 13 pasien dengan usia
lebih dari 35 tahun. Insidensi ibu hamil dengan IUFD di ruang Cempaka RSUD Doris

32
Sylvanus periode 1 Januari sampai 31 Desember 2015, terbanyak pada ibu hamil
dengan usia 20 sampai 35 tahun.

Tabel 2 Pasien hamil dengan IUFD berdasarkan usia kehamilan periode


1Januari 31Desember 2015

Usia kehamilan (minggu) Jumlah (orang)


>20-<37 28

37- 42 15

>42 1

Berdasarkan usia kehamilan ibu dengan IUFD didapatkan 28 pasien dengan

usia kehamilan lebih dari 20 minggu sampai kurang dari 37 minggu, 15 pasien

dengan usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, dan 1 pasien dengan usia

kehamilan lebih dari 42minggu. Insidensi ibu hamil dengan IUFD di ruang Cempaka

33
RSUD Doris Sylvanus periode 1 Januari sampai 31 Desember 2015, terbanyak pada

ibu dengan usia kehamilan 20 sampai 37 minggu.

Tabel 3 Pasien hamil dengan IUFD berdasarkan paritas periode 1Januari 31


Desember 2015
Paritas Jumlah (orang)

Paritas 0 12

Paritas 1-3 19

Paritas 4 13

Berdasarkan paritas ibu hamil dengan IUFD didapatkan 12 orang paritas 0, 19

orang dengan paritas 1-3 dan 13 orang paritas 4. Insidensi ibu hamil dengan IUFD

di ruang Cempaka RSUD Doris Sylvanus periode 1 Januari sampai 31 Desember

2015, terbanyak pada paritas 1-3.

34
Tabel 4 Pasien hamil dengan IUFD berdasarkan faktor maternal periode 1
Januari 31 Desember 2015

Faktor maternal Jumlah (orang)


Infeksi maternal 1
Hipertensi 4
Preeklampsia/eklampsia 7
Ketuban pecah dini 6
Persalinan lama 3
Anemia 2
Kala II lama 6

Berdasarkan faktor maternal pada ibu hamil dengan IUFD didapatkan 1 orang

dengan infeksi maternal, 4 orang dengan hipertensi, 7 orang dengan

preeklamsia/eklampsia, 6 orang dengan ketuban pecah dini, 3 orang dengan

persalinan lama, 2 orang dengan anemia dan 6 orang dengan kala II lama. Insidensi

ibu hamil dengan IUFD di ruang Cempaka RSUD Doris Sylvanus periode 1 Januari

sampai 31 Desember 2015, terbanyak diakibatkan oleh preklampsia dan eklampsia.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian IUFD
Intra Uterin Fetal Death (IUFD) merupakan kematian janin dalam rahim
dengan berat badan 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam rahim pada
hemailan 20 minggu atau lebih. Kematian janin merupakan hasil akhir dari gangguan
pertumbuhan janin, gawat janin atau infeksi.1,2
Persentasi umur ibu yang berisiko tinggi mengalami kejadian IUFD paling
banyak ditemukan di RSUD dr. Doris Sylvanus pada ibu yang berusia reproduktif
yaitu usia 20 sampai 35 tahun (68%) sebanyak 30 kasus. Diikuti dengan terbanyak
kedua usia >35 tahun (29,5%) sebanyak 13 kasus dan usia <20 tahun (2,27%) hanya
ditemukan 1 kasus dalam periode 1 Januari 31 Desember 2015.

35
Prevalensi kematian janin tertinggi yaitu pada usia reproduktif. Hasil penelitian
tersebut sesuai dengan teori yang didapatkan bahwa ibu usia reroduktif memiliki
peran yang dominan terhadap kematian IUFD. Umur merupakan salah satu hal yang
penting dalam status reproduksi. Bertambahnya usia ibu, maka terjadi juga perubahan
perkembangan dari organ-organ tubuh terutama organ reproduksi dan perubahan
emosi atau kejiwaan seorang ibu. Hal ini dapat mempengaruhi kehamilan yang tidak
secara langsung dapat mempengaruhi kehidupan janin dalam rahim. Sedangkan umur
ibu yang masih muda organ-organ reproduksi dan emosi belum cukup matang, hal ini
disebabkan adanya kemunduran organ reproduksi secara umum.1
Hasil penelitian juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dkk
menyimpulkan bahwa kondisi ibu yang terlalu tua maka risiko untuk terserang
penyakit seperti hipertensi, autoimun, DM akan lebih mudah. Omarsari dkk
mengatakan bahwa adapun untuk umur >35 tahun sebagian besar akan mengalami
ketidaknormalan kromosom, congenital, anomaly, diabetes gestasional, palsenta
previa dan aborsio plasenta. Umah dkk menyimpulkan bahwa umur >35 tahun
memiliki risiko sebesar 3,35 kali untuk mengalami kematian perinatal.1
4.2.2 Hubungan Usia Kehamilan Ibu dengan Kejadian IUFD
Usia kehamilan >20 minggu atau <37 minggu menggambarkan tingginya angka
kejadian IUFD pada penelitian ini yaitu sebesar 63,6% dari 44 kasus IUFD . Usia
kehamilan 32 36 minggu disebut persalinan prematur (preterm). Berdasarkan hasil
analisis data menunjukkan bahwa proporsi ibu dengan persalinan preterm yang
mengalami komplikasi langsung/ penyulit obstetris lebih besar.
Sekitar 30% usia persalinan preterm disebabkan oleh komplikasi langsung
obstetris berupa ketuban pecah dini (KPD), preeklamsia, gawat janin, pertumbuhan
janin terhambat (IUGR), perdarahan anter partum (HAP) dan IUFD. Meningkatnya
prevalensi kematian janin pada usia kehamilan preterm sejalan dengan teori yang
menyebutkan bahwa ibu dengan komplikasi obstetris tersebut berisiko mengalami
preterm karena komplikasi langsung obtetris dapat mengindikasikan seorang ibu
hamil terindikasi untuk segera diakhiri persalinannya akibat keadaan gawat janin
hingga mencapai kematian janin. Namun kematian janin sekitar 40-60% belum

36
diketahui penyebabnya secara pasti. Diduga berhubungan dengan faktor-faktor yang
lain (faktor genetik, riwayat obstetris, dan lingkungan serta obat-obatan).1,2
Disamping itu nilai usia kehamilan ibu >42 minggu (postterm) berjumlah 1
kasus atau setara dengan 2,27% prevalensi IUFD dari periode 1 Januari hingga 31
Desember 2015. Hasil penelitian tersebut didukung oleh teori yang menyatakan jika
kehamilan telah lewat waktu, plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya
akan berkurang. Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen. Cairan ketuban
bisa berubah menjadi sangat kental dan hijau, akibatnya cairan dapat terhisap masuk
ke dalam paru-paru janin sehingga membuat gangguan sirkulasi (nutrisi dan O2)
janin tidak adekuat.1,2
4.2.3 Hubungan Paritas Ibu dengan Kejadian IUFD
Jumlah IUFD pada wanita dengan paritas 0 dan lebih dari 4 memiliki nilai yang
tinggi yaitu masing-masing 12 orang dan 13. Jumlah IUFD yang tinggi ini didukung
dengan teori menurut Wiknjosastro (2005) bahwa paritas yang berisiko melahirkan
IUFD adalah paritas nol yaitu bila ibu pertama kali hamil dan paritas lebih dari
empat. Makin tinggi paritas ibu maka makin kurang baik endometriumnya. Hal ini
dapat berpengaruh pada kehamilan berikutnya karena kondisi rahim ibu belum pulih
untuk hamil kembali diakibatkan oleh vaskularisasi yang berkurang ataupun
perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya kematian janin dalam kandungan. Selain itu, menurut
penelitian Triana A (2012) yang menyatakan bahwa ibu yang memiliki paritas 0 dan >
4 berisiko melahirkan dengan IUFD 1,5 kali dibandingkan ibu yang memiliki paritas
1-4.
Meskipun demikian jumlah IUFD pada paritas 1-3 juga memiliki jumlah yang
besar yaitu mencapai 19 orang. Hal ini dimungkinkan karena faktor lain yang dialami
ibu seperti masalah ketuban pecah dini, hipertensi dalam kehamilan persalinan lama
dan sebagainya.

37
DAFTAR PUSTAKA

ACOG Committee opinion. 1995. Perinatal and infant mortality statistics. Committee

on Obstetric Practice : Number 167.. American College of Obstetricians and

Gynecologists. Int J Gynaecol Obstetry (on-line).Diakses pada 28 Mei 2011.

Barfield WD, et al. 2002. Contribution of late fetal deaths to US perinatal mortality

rates in 1995-1998. Semin Perinatology;26(1): pg.17-24 (on-line). Diakses pada

29 Mei 2011.

Cousens S, Blencowe H, Stanton C, et al. 2011. National, Regional, and Worldwide

Estimates of Stillbirth Rates in 2009 with Trends since 1995, a systematic

analysis. Lancet ; 377(9774):1319-30 (on-line). Diakses pada 29 Mei 2011.

Cunningham, F.G., etc. 2005. Kematian Janin. Obstetri Williams vol. 2, edisi 21.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, hlm. 1200-20.

38
Flenady V, et al. 2011. Major risk factors for stillbirth in high-income countries: a

systematic review and meta-analysis. Lancet;377(9774):1331-40 (on-line).

Diakses pada 29 Mei 2011.

French AE, Gregg VH, Newberry Y, et al. 2005. Umbilical cord stricture: a cause of

recurrent fetal death. Obstet Gynecol;105(5 Pt 2):1235-9(on-line). Diakses pada

29 Mei 2011.

Gomez Ponce de Leon R, Wing DA. 2009. Misoprostol for termination of pregnancy

with intrauterine fetal demise in the second and third trimester of pregnancy - a

systematic review. Contraception ; 79(4):259-71 (on-line). Diakses pada 29 Mei

2011.

Khashoghi, T.Y., 2005. Epidemiology of Intrauterine Fetal Death in Saudi Arabia,

KKUH experience. Biomedial Journal Research; 16 (1) : 59 64 (on-line).

Diakses pada 22 Mei 2011.

Korteweg, F.J., etc. 2009. Diverse Placental Pathologies as the Main Causes of Fetal

Death.Obstet Gynecol ; 114 (4) : 809-17 (on-line). Diakses pada 24 Mei 2011.

Lembar, S., etc. 2009.Hubungan Sindrom Antifosfolipid dengan Gangguan

Kehamilan.Majalah Kedokteran Damianus vol. 8, no.1, Departemen Patologi

Klinik FK Unika Atmajaya (on-line).Diakses pada 5 Juni 2011.

39
Maroef, S., etc. 2003. Toksoplasmosis Ibu Hamil di Indonesia. Cermin Dunia

Kedokteran no.139, edisi Kebidanan dan Kandungan (on-line).Diakses pada 22

Mei 2011.

MacDorman, M.F., etc. 2009. Fetal and Perinatal Mortality. National Vital Statistic

Reproduction ; 57 (8) ; 1-19 (on-line). Diakses pada 26 Mei 2011.

Nicholson JM, Caughey AB, Stenson MH, Cronholm P, Kellar L, Bennett I, et

al.2009. The active management of risk in multiparous pregnancy at term:

association between a higher preventive labor induction rate and improved birth

outcomes. Am J Obstet Gynecol;200(3):250.e1-250.e13 (on-line). Diakses pada

29 Mei 2011.

Nybo Andersen AM, Hansen KD, Andersen PK, et al. 2004. Advanced paternal age

and risk of fetal death: a cohort study. Am J Epidemiol.;160(12):1214-22 (on-

line).Diakses pada 26 Mei 2011.

POGI : Standar Pelayanan Medis Obstetri dan Ginekologi, edisi revisi. 2006.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Jakarta (on-line). Diakses

pada 22 Mei 2011.

Rahayu, E.B. 2008. Respon dan Koping Ibu Hamil yang Memiliki Riwayat Kematian

Janin di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta per tahun 2008.Magister Ilmu

Kesehatan Universitas Indonesia (on-line).Diakses pada 5 Juni 2011.

40
Rambulangi, J. 2003. Beberapa Cara Prediksi Hipertensi dalam Kehamilan. Cermin

Dunia Kedokteran : no. 139, edisi Kebidanan dan Kandungan (on-line). Diakses

pada 22 Mei 2011.

Rambulangi, J. 2003. Penanganan Pendahuluan dan Prarujukan Penderita

Preeklampsia Berat dan Eklampsia. Cermin Dunia Kedokteran : no. 139, edisi

Kebidanan dan Kandungan (on-line). Diakses pada 22 Mei 2011.

Roeshadi, H.R., 2006. Upaya Menurunkan Angka Kesakitan dan Angka Kematian Ibu

pada Penderita Preeklampsia dan Eklampsia. Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kebidanan

dan Kandungan (on-line). Diakses pada 27 Mei 2011.

Silver RM. 2007. Fetal death. Obstet Gynecol. Jan 2007;109(1):153-67. Diakses pada

29 Mei 2011.

Smith, G., etc. 2004. Second-Trimester Maternal Serum Levels of Alpha-Fetoprotein

and the Subsequent Risk of Suddent Infant Death Syndrome. The New England

Journal of Medicine : 351 ; 978-86 (on-line). Diakses pada 28 Mei 2011.

Suparman, E., etc. 2003. Management of Placental Abruption and Incomplet Uterine

Ruptue caused by Accidental Trauma of Abdomen. Cermin Dunia Kedokteran,

no.139, edisi Kebidanan dan Kandungan (on-line). Diakses pada 22 Mei 2011.

Utama, S.Y. 2008. Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia

Berat pada Ibu Hamil di RS Raden Mattaher Jambi tahun 2007.Jurnal Ilmiah

41
Universitas Batanghari Jambi vol. 8, no. 2, Juli 2008 (on-line).Diakses pada 5

Juni 2011.

Weiss HB, Songer TJ, Fabio A. 2001. Fetal deaths related to maternal

injury.JAMA;286(15):1863-8 (on-line). Diakses pada 27 Mei 2011.

42