Anda di halaman 1dari 6

MATERI V

PERGERAKAN BUTIRAN DALAM CAIRAN

Beberapa proses pengolahan bahan galian pada dasarnya berhubungan dengan


pergerakan butiran butiran ineral di dalam cairan, misalnya pada classification,
thikening, filtration, dan gravity concentration. Sebagian besar proses konsentrasi
adalah memanfaatkan perbedaan berat jenis dalam prosesnya, sedangkan pemisahannya
sendiri terjadi dalam cairan. Oleh sebab itu secara teoritis maupun praktis dinamika
cairan perlu diperhatikan.
Apabila suatu butiran atau benda jatuh bebas dalam ruang hampa udara (vacum),
maka ia hanya dipengaruhi oleh gravitasinya saja; kecepatan jatuhnya (v) pada jarak h
dari titik awal jatuh dapat dihitung dengan rumus V = .g.h , dimana g adalah
percepatan karena gravitasi. Jadi kecepatan jatuhnya pada setiap saat hanya tergantung
pada jaraknya saja. Apabila butiran jatuh dalam suatu cairan (medium), maka pada
butiran tersebut ada tahanan cairan sebagai fungsi dari kecepatannya. Kecepatannya
akan bertambah sampai pada dimana gaya tahanan air sama besar dengan gaya tarik
oleh gravitasi, kemudian butiran akan jatuh dengan kecepatan tetap (terminal velocity).
Apabila suatu cairan tidak memberikan tahanan (resistance) pada butiran yang
bergerak di dalamnya, maka oleh pengaruh gaya gravitasi atau gaya gaya lain, butiran
tersebut akan bergerak turun dengan percepatan yang tetap. Sesungguhnya semua
cairan memberikan tahanan (resistance) terhadap butiran yang bergerak di dalamnya.
Tahanan tersebut menjadi nol apabila butiran tersebut diam terhadap cairan, tetapi tidak
nol kalau butiran tersebut bergerak. Tahanan atau resistance (R) adalah fungsi dari
kecepatan : R = f (v)

TAHANAN CAIRAN DAN KECEPATAN MAKSIMUM


Sewaktu suatu butiran mengendap dalam cairan, terdapat tahanan cairan terhadap
butiran tersebut. Tahanan ini dapat dibedakan menjadi 2 macam :
1. Jika kecepatan jatuh butiran relatif lebih besar, umpamanya butiran lebih besar,
maka butiran tersebut harus mendesak cairan (kolom cairan) keluar dari
perjalanannya, mempengaruhi kecepatan butiran turun / mengendap dalam cairan
dan pergerakannya menimbulkan pusaran air (eddy) di belakangnya. Tahanan ini
disebut : eddy resistance atau Turbulent resistance dan alirannya disebut trubulent
flow.
2. Jika kecepatan jatuh butiran relatif lambat, umpamma butiran kecil, eddy restitance
disini dapat diabaikan dan tahanan disini hanyadidasarkan pada viscousity cairan
terhadap butiran (skin friction). Tahanan ini disebut : viscous resitance dan
alirannya disebut fiscous flow atau laminar flow.

Pada saat burtiran menggendap dalam cairan, jika besarnya tahanan (resistance)
yang dialami butiran sama besar dan berlawanan arah dengan gaya gaya lain yang
bekerja terhadap butiran dalam cairan, maka butiran akan turun tanpa percepatan, dan
kecepatannya konstannya konstan, yang disebut terminal velocity atau kecepatan
maksimum.terminal velocity ini penting artinya dalam proses pengolahan bahan galian
karena dipengaruhi oleh :
1. Sifat fisik butiran, misalnya berat jenis, ukuran dan bentuk butiran.
2. Sifat fisik cairan, misalnya viscosity dan berat jenis cairan.
3. Gaya gaya lain yang bekerja.
Adalah penting untuk diketahui hubungan antara kecepatan dengan waktu dan
menentukan jumlah waktu yang diperlukan untuk mencapai terminal velocity
(kecepatan maksimum).

PENGENDAPAN BUTIRAN KECIL


Menurut stoke, butiran halus / kecil (- 50 micron) di dalam cairan akan
mengendap dengan kecepatan yang sangat lambat, disebut viscous flow atau laminar
flow.
Tahanan dalam pergerakan butiran kecil ini disebut viscous resistance : R = 6...r.v
R = resistance
= vicosity cairan
v = velocity / kecepatan
Unit = c.g.s
Brlaku untuk butiran kecil (-50 m).
Hukum kedua dari pergrakan terhadap butiran yang jatuh:
mass x acceleration = forces
m.a = K

m. = mg mg R

m = massa butiran (sphere) t = time (waktu)
m= massa cairan yang dipindahkan (fluid) g = gravitasi
v = velocity (kecepatan) R = resistance

4 4
. . 3 . = . 3 ( - ) g 6...r.v
3 3
= density of solid (B.J butiran).
= density of fluid (B.J cairan).

9 .
= .
2 2


Terminal velocity atau kecepatan maksimum akan tercapai jika : = 0, sehingga

2 ( ) 2
diperoleh : V max = .................... stokes law
9
Dalam kondisi tertentu dalam air : temp.air 20 , = 1 , =0,010 , g = 981 ,
2 ( 1) 981 2
r = 12 D (diameter) : V max =
9 . 0,010 4

v = k ( - 1) 2
k = konstan untuk density fluid (BJ. cairan) yang sama, berubah + 2% untuk tiap
perobahan 1 derajat dari 20 C .
EQUAL SETTLING PARTICLES
dua butiran disebut equal settling (kecepatan pengendapannya sama) jika keduanya
mempunyai terminal velocity (kecepatan maksimum) yang sama dalam cairan yang
sama dan gaya gaya yang sma. Jadi butiran butiran dari bahan yang sama.
Sedangkan butiran butiran dari bahan yang berbeda, akan equal settling jika
mempunyai perbandingan ukuran. (size ratio) yang tertentu.

FREE SATTLING RATIO


Ialah perbandingan diameter butiran ringan dengan butiran berat yang equal settling
dalam kondisi free settling. Untuk butiran kecil sampai ukuran 50 mikron, berlaku
stokes law : k (1 - ) D12 = k ( 2 - ) D22
1 (2) 1/2
Free sattling ratio : = =p
2 ( 1 )

Untuk butiran yang lebih besar + 0,5 cm, berlaku Newtons law :
C D1 (1 - ) = C D2 (2 - )
1 (2 )
Free sattling ratio : = =
2 (1 )

(2 )
Secara umum dapat ditulis : p =
(1 )
1
(Newton) 1 > m > 2 (stokes)

Dimana m = 0,5 untuk butiran kecil kondisi viscousresistance (stokes) dan m = 1


untuk butiran besar, eddy resistance (Newton). Jadi nilai m terletak antara 0,5 1,0
untuk butiran ukuran sedang 50m 0,50 cm.
PENGENDAPAN BUTIRAN KASAR

Menurut Newton, tahanan terhadap butiran kasar ( + 0,50 cm) dalam cairan adalah
hasil kali dari density fluid (BJ. cairan) dengan kecepatan kwadrat (pangkat dua)
dengan luas permukaan, disebut turbulent resistance :

R= . 2 . 2 ..................... Newton equation
2
R = resistance (tahanan)
= density of fluid (BJ. cairan)
r = radius of sphare (jari jari butiran)
v = velocity (kecepatan)
berlaku untuk butiran kasar (+0,5 cm)

dalam percobaan ternyata persamaan Newton kurang memuaskan, karena itu


ditambahkan pada persamaan tersebut coefficient Q atau coefficien of resistance,

sehingga didapat persamaan yang lebih teliti : R = Q 2 2 ................. Rittinger
2

equation ( untuk mineral bulat dengan r > 0,2 cm. Dalam air Q = 0,4 )

untuk butiran kasar berlaku turbulent resistance, sehingga sesuai hukum kedua
pergerakan butiran dalam cairan (m.a = K), menjadi sebagai berikut :

m. = mg - mg R

4 4
3 = 3 ( - ) g Q 2 2
3 3 2

3
= g- 2
8

Terminal velocity atau kecepatan maksimum tercapai jika : = 0, sehingga

3
diperoleh : g= 2
8

8
v max = .g . r .................................. (Newtons Law)
3

Dalam kondisi tertentu dalam air : temp. Air 20 , = 1 , g = 981, r = 12 .


8
v max = . 981 ( - 1 ) .
3 2

= c1 ( - 1) D
V = c D ( - 1 )
C = constanta

Jadi dapat disimpulkan bahwa terminal velocity pada Viscous flow berubah dengan
kwadrat.dari diameter butiran, sedangkan pada Trubulent flow berubah degan akar
dua dari diameter butiran. Keduanya hanya tergantung pada ukuran butiran dan
density.

HINDERED SETTLING
Apabila bagian bagian zat padat di dalam cairan bertambah, maka efek dari butiran
butiran yang saling bertubrukan (crowded) akan terlihat dan kecepatan
pengendapan dari butiran akan mulai berkurang. Kondisi demikian lebih menyerupai
cairan berat (heavy liquid) dimana berat jenis cairannya lebih berupa slurry atau plup
(zat padat + air) dibanding sebagai cairan pemisah ; kondisi ini disebut hindered
settling.
Karena dalam cairan yang berbentuk slurry yang berat jenis dan viscositinya tinggi,
butiran butiran harus turun / mengendap untuk pemisahan dalam keadaan hindered
settling, maka tahanan terhadap butiran yang turun / mengendap dapat menimbulkan
turbulensi, sehingga untuk kecepatan turun / jatuh dapat menggunakan hukum
Newton. V = K [ ( )