Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH DASAR DASAR INSTRUMENTASI

JEMBATAN WHEATSTONE

Dosen Mata Kuliah : Iwan Wicaksono, M.Pd.

Di Susun Oleh : Kelompok 1

Dinda Maulidhatul Rahma ( 160210102046 )

Beni Aris Prasetyo ( 160210102051 )

Nyuciati Rizky ( 160210102052 )

Rizha Yulinda Salsabila ( 160210102056 )

Anita Nadia Aprilina ( 160210102058 )

Dewi Sinta Tresnowati ( 160210102062 )

Siti Nur Indahsari ( 160210102066 )

Nur Fadilah ( 160210102070 )

Walidatudz Dzikro ( 160210102073 )

PENDIDIKAN FISIKA PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah dapat menyelesaikan makalah
"Jembatan Wheatstone ini dengan sebatas pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Iwan Wicaksono, M.Pd.,
selaku Dosen mata kuliah Dasar-dasar Instrumen yang telah memberikan tugas
ini.
Penyusun sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang
menjadi tugas kelas Dasar-dasar Instrumen dengan judul "Jembatan Wheatstone".
Disamping itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga
terealisasikanlah makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat
dan kami siap menerima kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya
bisa diperbaiki.

Jember, 9 Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................ 1


1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................ 2

BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................... 3


2.1 Pengertian Jembatan Wheatstone .................................................... 3
2.2 Metode Jembatan Wheatstone ........................................................3
2.3 Hukum-hukum Dasar dalam Jembatan Wheatstone ...................... 5
2.4 Prinsip Kerja Jembatan Wheatstone ............................................... 6
2.5 Aplikasi Jembatan Wheatstone ...................................................... 8
2.6 Kesalahan dalam Jembatan Wheatstone.........................................9

BAB 3 PENUTUP ........................................................................................ 10


3.1 Kesimpulan .................................................................................... 10
3.2 Saran ............................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah lepas akan kebutuhan yang
berhubungan dengan listrik. Segala bentuk kegiatan manusia membutuhkan
listrik untuk menghidupkan alat-alat elektronik yang kita miliki. Dalam
rangkaian listrik sederhana selalu terdapat arus, tegangan, dan tahanan.
Biasanya ada tahanan yang sudah diketahui nilainya dan ada yang belum
diketahui. Tahanan yang belum diketahui nilainya dapat dicari menggunakan
metode Jembatan Wheatstone.
Pada umumnya, jembatan wheatstone digunakan untuk mencari ketelitian
terhadap suatu tahanan yang nilainya relatif kecil sekali. Rangkaian jembatan
wheatstone dibentuk oleh empat buah tahanan (R) yang merupakan segiempat
A-B-C-D yang dihubungkan dengan sumber tegangan dan sebuah
galvanometer yang besarnya sama dengan nol (0). Tahanan-tahanan tersebut
diatur sedemikian rupa sehingga galvanometer tidak akan mengadakan suatu
hubungan antara keempat tahanan tersebut. Kegunaan dari jembatan
wheatstone adalah untuk mengukur nilai suatu tahanan dengan cara arus yang
mengalir pada galvanometer sama dengan nol yang disebabkan oleh potensial
ujung-ujung tahanan sama besar, sehingga dapat dirumuskan dengan perkalian
silang antar tahanan. Cara kerjanya adalah sirkuit listrik dalam empat tahanan
dan sumber tegangan yang dihubungkan melalui dua titik diagonal dan pada
kedua diagonal yang lain.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan jembatan wheatstone?
1.2.2 Bagaimana metode jembatan wheatstone?

1
1.2.3 Apa saja hukum yang mendasari rangkaian listrik yang
berhubungan dengan jembatan wheatstone?
1.2.4 Bagaimana prinsip kerja jembatan wheatstone?
1.2.5 Bagaimana aplikasi jembatan wheatstone?
1.2.6 Bagaimana kesalahan-kesalahan dalam jembatan wheatstone?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian dari jembatan wheatstone
1.3.2 Mengetahui metode jembatan wheatstone
1.3.3 Mengetahui hukum dasar rangkaian listrik yang berhubungan
dengan jembatan wheatstone
1.3.4 Mengetahui prinsip kerja jembatan wheatstone
1.3.5 Mengetahui aplikasi jembatan wheatstone
1.3.6 Mengetahui kesalahan-kesalahan dalam jembatan wheatstone

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Jembatan Wheatstone

Jembatan wheatstone merupakan alat ukur yang ditemukan oleh Samuel


Hunter Christie pada tahun 1833, kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles
Wheatstone pada tahun 1843. Alat ini digunakan untuk mengukur suatu
hambatan listrik yang tidak diketahui dengan menyeimbangkan dua kali dari
rangkaian jembatan. Alat ukur ini digunakan untuk memperoleh ketelitian
dalam melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang memiliki nilai
relatif kecil, contohnya suatu kebocoran dari kabel tanah/kartsluiting.
Jembatan wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk
pengukuran tahanan dengan ketelitian 1 sampai 100.000 ohm. Jembatan
wheatstone terdiri dari tahanan 1 , 2 , 3 , dimana tahanan tersebut
merupakan tahanan yang nilainya diketahui dengan teliti dan dapat diatur.

2.2 Metode Jembatan Wheatstone

Metode disini merupakan susunan komponen-komponen elektronika yang


berupa resistor dan catu daya seperti tampak pada gambar dibawah ini:

Hasil kali antara hambatan berhadapan yang satu akan sama dengan hasil
kali hambatan-hambatan berhadapan lainnya jika beda potensial antara c dan
d bernilai nol dengan persamaan :

3
R1 . R3 = R2 . R4

Percobaan ini dilakukan dengan mengacu pada hokum Ohm dan hukum
Kirchoff I. HUKUM OHM : kuat arus (i) dalam sebatang kawat berbanding
lurus dengan tegangan (v) dan berbanding terbalik dengan hambatan ( r ).
HUKUM KIRCHOFF I : jumlah arus yang menuju suatu titik cabang sama
dengan jumlah arus yang meninggalkan-nya.

Berikut adalah penerapan hukum Kirchoff dan hukum Ohm untuk


memperoleh persamaan R1 . R3 = R2 . R4

Persamaan di loop II

I2 . R2 + I3 . R5 - I1 . R4 = 0

Persamaan di loop III

I4 . R1 - I5 . R3 - I3 . R5 = 0

Jika tidak ada arus yang mengalir ke R5 (I3 = 0), maka

Persamaan loop II I2 . R2 - I1 . R4 = 0

Persamaan loop III I4 . R1 - I5 . R3 = 0

Bagi persamaan di loop II dengan persamaan di loop I, maka akan di peroleh


bentuk berikut

4
2 .2 1 .4 =0
4 .1 5 .3 =0

2 4
= 2 . 3 = 1 . 4
1 3

2.3 Hukum-hukum Dasar dalam Jembatan Wheatstone

Terdapat beberapa hukum fisika yang mendasari rangkaian listrik yang


berhubungan dengan jembatan wheatstone, antara lain:

1. Teori Hukum Ohm


Hukum Ohm ditemukan oleh georg Simon Ohm (1825), yaitu seorang
fisikawan yang berasal dari Jerman yang mempublikasikan sebuah paper
yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada
tahun 1827. Hukum ini tentang arus (current law), yang menyatakan
bahwa arus masuk pada satu titik percabangan akan sama dengan arus
yang keluar melalui titik yang sama dan juga jika suatau arus listrik
melalui suatu penghantar, maka kekuatan arus tersebut adalah sebanding
dengan tegangan listrik yang terdapat diantara kedua ujung penghantar
tadi. Secara matematis Hukum Ohm dituliskan menjadi

V = I.R atau I =

Dimana : V = tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar
(volt)
I = arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar (Ampere)
R = hambatan listrik yang terdapat pada suatu penghantar (ohm)
2. Teori hukum kirchoff
Hukum Kirchoff 1, yang ditemukan oleh Gustav Robert Kirchoff (1824-
1887) yang menemukan cara untuk menentukan arus listrik pada rangkaian
bercabang yang kemudian dikenal dengan Hukum Kirchoff berbungi
jumlah kuat arus yang masuk dalam titik percabangan sama dengan
jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan.
Hukum Kirchoff II berbunyi jumlah tegangan-tengangan didalam satu
rangkaian tertutup sama dengan 0 (nol).

5
Maksud dari jumlah tegangan sama dengan nol adalah tidak adanya energi
listrik yang hilang dalam rangkaian tersebut atau dalam arti semua energi
bisa digunakan atau diserap. Sehingga rumus didapatkan pada jembaran
wheatstone yaitu:
L1
Rx = Rv
2
Keteranagn:

Rx = hambatan yang belum diketahui ()

Rv = hambatan yang diketahui ()

L1 = segmen kawat 1 (m)

L2 = segmen kawat 2 (m)

3. Teori Hukum Faraday


Teori ini berbunyi konsep gaya gerak listrik pertama kali dikemukakan
oleh Michael Faraday, yang melakukan penelitian untuk menentukan
faktor yang mempengaruhi besarnya ggl yang diinduksi. Dia menemukan
bahwa induksi sangat bergantung pada waktu, yaitu semakin cepat
terjadinya perubahan medan magnetik, ggl yang diinduksi semakin besar.

2.4 Prinsip Kerja Jembatan Wheatstone

Jembatan wheatstone adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur


suatu yang tidak diketahui hambatan listriknya dengan menyeimbangkan
rangkaian jembatan. Satu kaki yang menjadi komponen pada rangkaian
tersebut diketahui kerjanya mirip dengan potensiometer. Jembatan
wheatstone adalah suatu proses menentukan nilai hambatan listrik yang
presisi atau tepat dan melakukan perbandingan antara besar hambatan yang
telah diketahui dengan besar hambatan yang belum diketahui yang tentunya
dalam keadaan seimbang. Prinsip dasar dari jembatan wheatstone adalah
keseimbangan. Sifat umum dari arus listrik adalah arus mengalir menuju
popularitas yang lebih rendah. Jika terdapat persamaan polaritas antara kedua
titik maka arus tidak akan mengalir dari kedua titik tersebut.

6
Dalam aplikasi dasar, tegangan dc (E) diterapkan ke Jembatan
Wheatstone, dan galvanometer (G) untuk memantau kondisi
keseimbangannya. Nilai-nilai R1 dan R3 diketahui secara tepat, tetapi tidak
harus identik. R2 adalah resistansi variabel dikalibrasi, yang saat ini nilainya
dapat dibaca dari skala. Sebuah resistor yang tidak diketahui nilainya yaitu
Rx terhubung sebagai sisi keempat sirkuit, dan kekuasaan diterapkan. R2
disesuaikan sampai galvanometer G membaca arus nol, pada titik titik ini
2 3
Rx= . Sirkuit ini paling sensitif ketika keempat resistor memiliki nilai
1

resistansi yang sama. Namun, sirkuit bekerja cukup baik dalam hal apapun.
Jika R2 dapat bervariasi pada kisaran resistansi 10:1 dan R1 adalah nilai
sama, kita dapat beralih nilai-nilai dekade dari R3 ke dalam dan ke luar dari
sirkuit sesuai dengan kisaran nilai yang diharapkan dari Rx. Dengan
menggunakan metode ini, dapat secara akurat mengukur nilai Rx dengan
memindahkan satu multi-posisi saklar dan menyesuaikan satu potensiometer
posisi.

Prinsip dasar dari jembatan wheatstone didasarkan pada rangkaian yang


ditunjukkan pada gambar

Dimana rangkaian yang terdiri dari :

- Sumber tegangan baterai (E)


- Empat lengan tahanan, yaitu tahanan R1 dan R2 disebut lengan
pembanding, tahanan R3 disebut lengan standar, dan tahanan Rx
adalah tahanan yang tidak diketahui besarnya
- Sebuah galvanometer yang merupakan detektor nol.
7
Besar arus yang melalui galvanometer tergantung pada beda potensial
(tegangan) antara titik c dan titik d. Jembatan dikatakan setimbang, jika beda
potensial pada galvanometer adalah nol, artinya tidak ada arus yang mengalir
melalui galvanometer. Kondisi ini terjadi jika = atau =

Jadi, jembatan dikatakan setimbang jika: . = .

Pengukuran tahanan Rx tidak bergantung pada karakteristik atau kalibrasi


galvanometer defleksi nol, asalkan detektor nol tersebut mempunyai
sensitivitas yang cukup. Untuk menghasilkan posisi setimbang jembatan pada
tingkat presisi yang diperlukan.

Prinsip kerja jembatan wheatstone, yaitu:

a. Hubungan antara resitivitas dan hambatan, yang berarti setiap


penghantar memiliki besar hambatan tertentu. Dan menentukan
hambatan sebagai fungsi dari perubahan suhu
b. Hukum Ohm menjelaskan tentang hubungan antara hambatan,
tegangan, dan arus listrik. Yang mana besar arus yang mengalir pada
galvanometer diakibatkan oleh adanya suatu hambatan
c. Hukum 1 dan 2 Kirchoff menjelaskan jembatan dalam keadaan
setimbang karena besar arus pada kedua ujung galvanometer sama
besar sehingga saling meniadakan

2.5 Aplikasi Jembatan Wheatstone

Salah satu aplikasi yang menerapkan metode jembatan wheatstone adalah


dalam percobaan mengukur regangan pada benda uji yang berupa beton atau
baja. Dalam percobaan kita gunakan strain gauge, yaitu semacam pita yang
terdiri dari rangkaian listrik untuk mengukur dilatasi benda uji berdasarkan
perubahan hambatan penghantar di dalam strain gauge. Strain gauge ini
direkatkan kuat pada benda uji sehingga deformasi pada benda uji akan sama
dengan deformasi pada strain gauge. Apabila suatu material ditarik atau
ditekan, maka akan terjadi perubahan dimensi dari material tersebut sesuai
dengan sifat-sifat elastisitas benda. Perubahan dimensi pada pengahantar akan

8

menyebabkan perubahan hambatan listrik, ingat persamaan R = .

Perubahan hambatan ini sedemikian kecilnya, sehingga untuk mendapatkan
hasil eksaknya harus dimasukkan kedalam rangkaian jembatan wheatstone.
Rangkaian listrik beserta jembatan wheatstone sudah ada di dalam strain
gauge. Contoh aplikasi yang lain adalah suatu alat dalam bidang perikanan
yang dapat menggantikan tugas manusia untuk menghitung jumlah ikan-ikan
sehingga dapat mempercepat proses perhitungan ikan, otomatis ini dapat
dihitung jumlah ikan dalam jumlah yang banyak dan dalam relatif waktu
yang cepat menggunakan kawat mikron sebagai media stabilitas arus listrik
(hambatannya konstan).

2.6 Kesalahan-kesalahan dalam Jembatan Wheatstone

Kesalahan-kesalahan yang muncul dalam metode jembatan wheatstone, yaitu:

Sensitivitas detektor nol yang tidak cukup


Perubahan tahanan lengan-lengan jembatan karena efek pemanasan arus
melalui tahanan-tahanan tersebut. Efek pemanasan (IR) dari arus-arus
lengan jembatan dapat mengubah tahanan yang diukur. Kenaikan
temperatus bukan hanya akan mempengaruhi tahanan selama pengukuran,
tetapi arus yang berlebihan dapat mengakibatkan perubahan yang
permanen bagi nilai tahanan.
GGL termal dalam rangkaian jembatan atau rangkaian galvanometer
dapat pula mengakibatkan masalah ketika mengukur tahanan-tahanan
rendah. Untuk mencegah ggl termal, kadang galvanometer yang lebih
sensitif dilengkapi dengan sistem kumparan tembaga dari sistem suspensi
tembaga yakni untuk mencegah pemilikan logam-logam yang tidak sama
yang saling kontak satu sama lain dan untuk mencegah terjadinya ggl
termal
Kesalahan karena tahanan kawat sambung dan kontak-kontak luar
memegang peranan dalam pengukuran nilai-nilai tahanan yang sangat
rendah.

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Jembatan wheatstone merupakan alat ukur yang ditemukan oleh Samuel


Hunter Christie pada tahun 1833, dan dipopulerkan oleh Sir Charles
Wheatstone pada tahun 1843. Jembatan Wheatstone digunakan untuk
mengukur suatu hambatan listrik yang tidak diketahui dengan
menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan. Terdapat beberapa
hukum fisika yang mendasari rangkaian listrik yang berhubungan dengan
jembatan wheatstone, antara lain: teori hukum ohm, teori hukum faraday, dan
teori hukum kirchoff.

Prinsip dasar dari jembatan wheatstone adalah keseimbangan. Sifat umum


dari arus listrik adalah arus mengalir menuju popularitas yang lebih rendah.
Dan apabila terdapat persamaan polaritas antara kedua titik maka arus tidak
akan mengalir dari kedua titik tersebut. Prinsip kerja jembatan wheatstone,
yaitu:

a. Hubungan antara resitivitas dan hambatan, yang berarti setiap


penghantar memiliki besar hambatan tertentu. Dan menentukan
hambatan sebagai fungsi dari perubahan suhu
b. Hukum Ohm menjelaskan tentang hubungan antara hambatan,
tegangan, dan arus listrik. Yang mana besar arus yang mengalir pada
galvanometer diakibatkan oleh adanya suatu hambatan
c. Hukum 1 dan 2 Kirchoff menjelaskan jembatan dalam keadaan
setimbang karena besar arus pada kedua ujung galvanometer sama
besar sehingga saling meniadakan

Salah satu aplikasi yang menerapkan metode jembatan wheatstone adalah


dalam percobaan mengukur regangan pada benda uji yang berupa beton atau
baja. Kesalahan-kesalahan yang muncul dalam metode jembatan wheatstone,
yaitu: sensitivitas detektor nol yang tidak cukup, perubahan tahanan lengan-

10
lengan jembatan karena efek pemanasan arus melalui tahanan-tahanan
tersebut, GGL termal dalam rangkaian jembatan dapat pula mengakibatkan
masalah ketika tahanan-tahanan rendah, dan juga kesalahan karena tahanan
kawat sambung dan kontak-kontak luar.

3.2 Saran

Diharapkan setelah mengerjakan tugas makalah ini, mahasiswa mampu


mengetahui apa itu jembatan wheatstone, mengetahui metodenya, mengetahui
prinsip kerjanya, dan mengetahui contoh pengaplikasian jembatan
wheatstone. Dalam membuat makalah ini terdapat banyak kekurangan di
dalamnya, oleh karena itu diharapkan saran dan masukan dari pembacanya.

11
DAFTAR PUSTAKA

blogmateriperkuliahan.blogspot.co.id/2016/11/makalah-jembatan-
wheatstone.html?m=1
Bueche, Fredick J., dan Eugene, Hecht. 2006. Fisika Universitas. Jakarta:
Erlangga.
Flink, R.J., dan Brink, O.G. 1984. Dasar-dasar Instrumentasi. Jakarta:
Binacipta.
irpanafandi.blogspot.co.id/2014/05/jembatan-wheatstone.html?m=1
Lister, Eugene C. 1993. Mesin dan Rangkaian Listrik. Jakarta: Erlangga.
Sugiyono, Vani. 2009. FISIKA. Surabaya: PT Kawan Pustaka.
Suryatmo, F. 1986. Teknik Listrik Pengukuran. Jakarta: Bina Aksara.
Van der wol, G. 1985. Rangkaian Elektro Teknik. Jakarta: Erlangga.

12