Anda di halaman 1dari 4

Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari kuantitas produk dan reaktan dalam reaksi kimia.

Perhitungan stoikiometri paling baik dikerjakan dengan menyatakan kuantitas yang diketahui
dan yang tidak diketahui dalam mol dan kemudian bila perlu dikonversi menjadi satuan lain
(Chang, 2005).
Materi Stoikiometri merupakan materi yang paling mendasar dalam ilmu kimia dan menjadi
prasyarat untuk mempelajari materi-materi kimia lainnya, sehingga perlu mendapat perhatian
yang lebih dalam pemahaman konsepnya (Suyono).
Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa kimia yang ditandai dengan berubahnya satu zat
menjadi zat lain. Zat mula-mula disebut pereaksi dan zat yang terbentuk disebut hasil reaksi.
Bidang kimia yang mempelajari aspek kuantitatif unsur dalam suatu senyawa atau reaksi
disebut stoikiometri (bahasa Yunani: stoicheon = unsur, metrain = mengukur). Jadi
stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang
terlibat dalam reaksi (Syukri, 1999).
Stoikiometri termasuk ke dalam jenis konsep berdasarkan prinsip karena mengandung
pemahaman mengenai konsep mol, juga dapat mengandung konsep yang menyatakan ukuran
atribut karena mengandung konsep seperti molaritas (Sunggarani et al).
Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani stoicheion, artinya unsur. Dari literatur, Stokiometri
artinya mengukur unsur-unsur. Istilah ini umumnya digunakan lebih luas, yaitu meliputi
bermacam pengukuran yang lebih luas dan meliputi perhitungan zat dan campuran kimia.
(Petrucci).
Salah satu hukum dasar alam adalah : kekekalan massa. Massa tidak dapat diciptakan atau
dihancurkan. Bila hukum ini dipergunakan pada reaksi kimia, maka massa total dari produk
harus sama dengan massa total reaktan. Hubungan antara kauntitas produk dan reaktan ini
sangat penting sebab hal ini sangat berguna untuk :
1. Memperkirakan jumlah reaktan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah produk
tertentu.
2. Menafsirkan hasil suatu analisa kimia.
3. Memilih cara yang paling ekonomis dalam melakukan suatu proses komersial.
Penting juga untuk mengetahui reaktan mana yang harus ada dalam jumlah berlebihan, sebab
tergantung pada jumlah relatif dari reaktan yang dipergunakan, kadang-kadang memberikan
produk yang berlainan.
Stoikiometri berdasarkan tiga konsep :
1. Kekekalan massa (berat yang konstan selama perubahan kimia)
2. Massa reaktif dari atom skala berat atom (hal ini tergantung pada macam unsur).
3. Konsep mole (konsep mole ini menyatakan kwantitas yang tergantung pada jumlah atom
atau molekul dan bukan massa/beratnya).
Kwantitas dapat dinyatakan dengan: berat, volume, dan mole. Berat atom, berat molekul
dan berat formula adalah term kimia yang ada hubungannya dengan berat. Jumlah suatu
zat dapat dinyatakan dengan mole, yang menyatakan bahwa suatu zat mengandung
atom/molekul sebanyak 6,02 x 1023 (Bilangan Avogadro). Bilangan ini menyatakan
banyaknya atom/molekul dari suatu unsur/senyawa yang beratnya sama dengan berat
atom/berat molekul dalam satuan g (Respati, 1992). Istilah lain yang hampir sama arti
dengan bilangan Avogadro adalah mol (Petrucci & Suminar, 1987).Hubungan paling
pokok
pada perhitungan kimia, seperti yang dipelajari meliputi jumlah relatif atom-atom, ion
atau molekul. Walaupun jumlah kimia memang penting, menghitungnya bukan melalui
cara biasa. Untuk menghitung jumlah atom erat hubungannya dengan massa (Petrucci &
Suminar, 1987).
Penelitian yang cermat terhadap pereaksi dan hasil reaksi telah melahirkan hukum-hukum
dasar kimia yang menunjukkan hubungan kuantitatif itu. Hukum-hukum dasar ilmu kimia
adalah sebagai berikut:
a. Hukum Boyle
Hukum ini dinyatakan Boyle pada tahun 1662, ia menemukan bahwa udara dapat
dimanfaatkan dan dapat berkembang bila dipanaskan. Akhirnya ia menemukan
hukum yang kemudian terkenal sebagai hukum Boyle:bila suhu tetap, volume gas
dalam ruangan tertutup berbanding terbalik dengan tekanannya. Boyle menyatakan
bahwa semua benda terdiri dari atom, adanya zat yang beraneka ragam disebabkan
karena jumlah atom, kedudukan atom, gerak atom, dan susunan atom. Karena jasa
Boyle, ilmu fisika dan kimia diluruskan ke jalur yang benar.
(KIMIA DASAR KUNING)
b. Hukum Lavoiser (Hukum Kekekalan Massa)
Hukum ini dinyatakan Lavoiser pada tahun 1774, ia memanaskan timah dengan
oksigen dalam wadah tertutup. Dengan menimbang secara teliti, ia berhasil
membuktikan bahwa dalam reaksi itu tidak terjadi perubahan massa. Ia
mengemukakakn pernyaraan yang disebut hukum kekekalan massa, yang berbunyi:
Pada reaksi kimia, massa zat pereaksi sama dengan massa zat hasil reaksi. Materi
tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Pada mulanya paa ahli meyakini
kebenaran hukum ini karena berdasarkan percobaan. Akan tetapi kemudian timbul
masalah pada reaksi eksotermik dan endotermik, karena menurut Albert Einstein
massa setara dengan energi, yaitu:
E = m c2
dengan E = energi (J), m = massa materi (g), dan c = kecepatan cahaya (3 x 108 m s-1).
Artinya, energi yang timbul dalam suatu peristiwa mengakibatkan hilangnya sejumlah
massa. Sebaliknya, energi yang diserap suatu peristiwa akan disertai terciptanya
sejumlah materi. Namun deminikian, perhitungan menunjukkan bahwa perubahan
massa dalam reaksi sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Contohnya, reaksi 2 g
hidrogen dengan 16 g oksigen menjadi air melepaskan energi setara dengan 10 -9 g
massa. Jadi, hukum kekekalan massa masih tetap berlaku, dan dalam versi modern
berbunyi: Dalam reaksi kimia tidak dapat dideteksi perubahan massa (Syukri).

Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-Lavoiser


adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutupkan konstan
meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut (dalam sistem
tertutup massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama). Pernyataan yang umum
digunakan untuk menyatakan hukum kekekalan massa adalah massa dapat berubah
bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu proses kimiawi di
dalam suatu sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan massa produk.
Hukum kekekalan massa diformulasikan oleh Antonie Lavoiser pada tahun 1789.
Sebelumnya, kekekalan massa sulit dimengerti karena adanya gaya buoyan atmosfer
bumi. Setelah gaya ini dapat dimengerti, hukum kekekalan massa menjadi kunci
penting dalam merubah alkemi menjadi kimia modern. Hukum kekekalan massa
digunakan secara luas dalam bidang-bidang seperti kimia, teknik kimia, mekanika,
dan dinamika fluida. Berdasarkan ilmu relativitas spesial, kekekalan massa adalah
pernyataan dari kekekalan energi. Massa partikel yang tetap dalam suatu sistem
ekuivalen dengan energi momentum pusatnya. Pada beberapa peristiwa radiasi,
dikatakan bahwa terlihat adanya perubahan massa menjadi energi. Hal ini terjadi
ketika suatu benda berubah menjadi energi kinetik/energi potensial dan sebaliknya.
Karena massa dan energi berhubungan, dalam suatu sistem yang
mendapat/mengeluarkan energi, massa dalam jumlah yang sangat sedikit akan
tercipta/hilang dari sistem. Namun demikian, dalam hampir seluruh peristiwa yang
melibatkan perubahan energi, hukum kekekalan massa dapat digunakan karena massa
yang berubah sangatlah sedikit (KIMIA DASAR KUNING).
c. Hukum Proust (Hukum Perbandingan Tetap)
Pada tahun 1799, hukum ini dinyatakan oleh Proust. Dalam kimia, hukum
perbandingan tetap atau hukum Proust (diambil dari nama kimiawan Perancis Joseph
Proust) adalah hukum yang menyatakan bahwa suatu senyawa kimia terdiri dari
unsur-unsur dengan perbandingan massa yang selalu tepat sama. Dengan kata lain,
setiap sampel suatu senyawa memiliki komposisi unsur-unsur yang tetap. Misalnya,
air terdiri dari 8/9 massa oksigen dan 1/9 massa hidrogen. Bersama dengan hukum
perbandingan berganda (hukum Dalton), hukum perbandingan tetap adalah hukum
dasar stokiometri (KIMIA DASAR KUNING).
Proust menyatakan hukum proporsi tetap: Dalam suatu senyawa kimia, proporsi
berdasar-massa dari unsur-unsur penyusunnyaadalah tetap, tidak bergantung pada
asal-usul senyawa tersebut atau cara pembuatannya (PRINSIP KIMIA MODERN).
Jika Lavoisier meneliti massa zat, Proust mempelajari unsur-unsur dalam senyawa.
Proust merumuskan pernyataan yang disebut hukum perbandingan tetap (Syukri).
d. Hukum Gay Lussac (Hukum Penyatuan Volume)
Lussac membuat peernyataan yang disebut hukum penyatuan volume. Hukum itu
berbunyi: Volume gas-gas yang terlibat dalam auatu reaksi kimia pada suhu dan
tekanan yang sama berbanding sebagai bilangan buat dan sederhana (Syukri)
e. Hukum Dalton (Hukum Perbandingan Berganda)
John Dalton tertarik mempelajari dua unsur yang dapat membentuk lebih dari satu
senyawa, seperti tembaga dengan oksigen, karbon dengan oksigen, belerang dengan
oksigen, dan fosfor dengan klor.Akhirnya Dalton menarik suatu kesimpulan, yang
disebut hukum perbandingan berganda: Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari
satu senyawa, maka perbandingan massa unsur yang satu, yang bersenyawa dengan
unsur lain yang tertentu massanya, merupakan bilangan bulat dan sederhana
(Syukri).
f. Hukum Avogadro
Pada tahun 1811, Amando Avogadro mempelajari kembali percobaan Gay Lussac dan
keberatan Dalton. Ia membenarkan hukum perbandingan volume tetapi ia juga
menerima teori Dalton bahwa atom tidak dapat dibelah. Avogadro sangat tertarik
mempelajari sifat gas dan membuat dugaan sementara yang disebut hipotesis
Avogadro yang berbunyi: Pada suhu dan tekanan yang sama, semua gas yang
volumenya sama mempunyai jumlah molekul yang sama. Disini terkandung
pengertian bahwa gas bukan merupakan atom-atom bebas tetapi berupa molekul yang
terbentuk dari dua atom atau lebih. Hukum Avogadro berlaku untuk semua gas, baik
monoatom, diatom maupun poliatom; baik unsur maupun senyawa.

Konsep mol sangat penting dalam ilmu kimia, karena bergyna dalam menentukan
umlah partikel zat jika diketahui massanya, dan sebaliknya, menentukan massa jika
diketahui jumlah partikelnya. Dalam perhitungan yang umum dipakai adalah mol,
bukan jumlah partikel (Syukri). Koefisien reaksi dalam persamaan kimia dapat
diartikan sebagai perbandingan jumlah mol dari setiap zat. Sebagai contoh yaitu
reaksi pembakaran gas metana menghasilkan gas karbon dioksida dan uap air:
CH4(g)+ 2 O2(g) CO2(g) + 2 H2O(g), untuk perhitungan stoikiometri persamaan ini
dapat dibaca dalam pembakaran 1 mol gas metana memerlukan 2 mol gas oksigen
membentuk 1 mol gas karbon dioksida dan 2 mol uap air (Winarni),
Ketika seorang kimiawan mengerjakan suatu reaksi, reaktan biasanya tidak terdapat
dalam jumlah stoikiometri yang tepat, yaitu dalam perbandingan yang ditunjukkan
oleh persamaan yangsetara. Karena tujuan reaksi adalah menghasilkan kuantitas
maksimum senyawa yang berguna dari sejumlah tertentu material awal, seringkali
satu reaktan dimasukkan dalalm jumlah berlebih untuk menjamin bahwa reaktan yang
lebih mahal seluruhnya diubah menjadi produk yang diinginkan. Konsekuensinya,
beberapa reaktan akan tersisa pada akhir reaksi. Reaktan yang pertama kali habis
digunakan pada reaksi kimia disebut pereaksi pembatas, karena jumlah maksimum
produk yang terbentuk tergantung pada berapa banyak jumlah awal dari reaktan ini.
Jika reaktan ini telah digunakan semua, tidak ada logo produk yang dapat terbentuk.
Pereaksi berlebih adalah pereaksi yang terdapat dalam jumlah lebih besar daripada
yang diperlukan untuk bereaksi dengan sejumlah tertentu pereaksi pembatas (Chang,
2005).