Anda di halaman 1dari 17

PENYAKIT TIDAK MENULAR

Cacingan (Cacing Kremi)

Oleh :

KELOMPOK 3

Ainun Nurain Nurdin

Martini Aulia

Nadya Patrycia

Nita Shelvia

Syabani Uswatun Hasanah

KELAS : DIII-IVB

Dosen :Tiara Tri Gustini,M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan proposal untuk mata kuliah
IKM dan Promkes ini, yaitu tentang penyakit tidak menular (Cacing Kremi).

Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat di perlukan demi
kesempurnaan proposal ini.

Akhir kata, penulis mohon maaf apabila dalam proposal ini masih banyak
kesalahan. Semoga proposal ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi pembaca, serta
menjadi pintu gerbang ilmu pengetahuan khususnya mata kuliah IKM dan PROMKES.

Pekanbaru, Maret 2017

Penyusun
I. LATAR BELAKANG
Penelitian menunjukkan bahwa 90% anak Indonesia mengidap cacingan.
Meskipun demikian, penyakit cacingan ini masih sering dianggap sebagai angin
lalu tidak hanya oleh masyarakat tetapi juga pemerintah. Padahal, cacingan dapat
mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, dan kecerdasan penderitanya
sehingga dipandang sangat merugikan, karena menyebabkan kehilangan
karbohidrat dan protein serta kehilangan darah. Hal ini tentu saja dapat menurunkan
kualitas sumber daya manusia.
Melihat berbagai akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini, tentu saja cacingan
dapat dikategorikan sebagai salah satu masalah kesehatan yang cukup
mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan yang serius. Hal ini terutama
karena sebagian besar penderitanya adalah anak anak atau balita, yang masih
dalam masa pertumbuhan.
Selain itu, keadaan lingkungan dan kebersihan perseorangan juga sangat
mempengaruhi penyebaran penyakit ini. Berkaitan dengan hal itu, diperlukan suatu
upaya bersama dan juga kesadaran untuk menanggulangi penyakit ini. Dengan
adanya penyuluhan ini dapat meningkatkan kesadaran serta pemahaman mengenai
penyakit cacingan sebagai salah satu masalah kesehatan yang serius, diharapkan
dapat menurunkan jumlah penderita penyakit ini, khususnya bagi balita atau anak
anak. Cacing yang sering menyerang manusia salah satunya adalah cacing kremi.
Banyaknya penyakit cacingan juga dapat menunjukkan keadaan sosial yang buruk.
Berdasarkan hal di atas, maka Mahasiswa DIII Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
Riau (STIFAR Riau) akan melakukan penyuluhan tentang bahayanya penyakit
cacingan kepada masyarakat dan khususnya balita dan anak-anak . Kegiatan ini
merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Mahasiswa DIII STIFAR Riau untuk
pengambilan nilai. Dengan tema kegiatan tentang Penyuluhan penyakit menular
yang bertemakan Penyakit cacingan (cacing kremi).

II. TUJUAN
1. Tujuan umum :
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran diharapkan mampu memahami tentang
penyakit cacingan dan hal-hal yang terkait lainnya.
2. Tujuan khusus :
1. Menjelaskan pengertian penyakit cacing kremi
2. Menjelaskan penyebab penyakit cacing kremi
3. Menjelaskan gejala penyakit cacing kremi
4. Menjelaskan diagnosis cacing kremi
5. Menjelaskan cara penularan cacing kremi
6. Menjelaskan pencegahan & pengobatan cacing kremi

III. GARIS BESAR MATERI

1. Pengertian penyakit cacing kremi


2. Penyebab penyakit cacing kremi
3. Gejala penyakit cacing kremi
4. Diagnosis cacing kremi
5. Cara penularan penyakit cacing kremi
6. Pencegahan & pengobatan cacing kremi

IV. SASARAN

Masyarakat dan khususnya balita dan anak-anak

V. MEDIA
Lifleat

VI. BENTUK KEGIATAN


1. Nama dan tema
1) Nama kegiatan
Kegiatan yang kami selenggarakan ini bernama Penyuluhan Kesehatan
Tentang Penyakit tidak Menular.

2) Tema kegiatan
Kegiatan yang kami laksanakan ini menggambil tema yaitu bahayanya
penyakit cacingan (cacing kremi).

2. Teknis pelaksanaan

1. Waktu dan tempat


Hari/ Tanggal : Rabu, 09 Mei 2017
Tempat : balai desa Sipungguk, Bangkinang

2. Perlengkapan
1. Leaflet
2. Infocus
3. Perlengkapan yang dibutuhkan lainnya

3. Pelaksana :
Kelompok 3 kelas DIII-IVB
Yang berangotakan :
1. Ainun Nurain Nurdin
2. Martini Aulia
3. Nadya Patrycia
4. Nita Shelvia
5. Syabani Uswatun Hasanah

VII. SUMBER DANA


Sumber dana dalam penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan diperoleh melalui
:
1. kelompok 1
2. pemerintah
3. Para donatur/dermawan yang tidak mengikat.

VIII. PROSES KEGIATAN


No. Kegiatan Penyuluh Kegiatan Audien Waktu
1. Pendahuluan : 1. Membalas salam 5 menit
2. Mendengarkan dengan aktif
1. Menyampaikan salam
3. Mendengarkan dan memberi
2. Memperkenalkan diri
respon
3. kontrak waktu
4. Menjelaskan tujuan
5. Apersepsi

2. Penjelasan materi : 1. Mendengarkan, 25 menit


memperhatikan
1. Pengertian penyakit
2. Menanyakan hal-hal yang
cacing kremi
belum jelas
2. Penyebab penyakit
cacing kremi
3. Gejala penyakit cacing
kremi
4. Diagnosis cacing kremi
5. Cara penularan
penyakit cacing kremi
6. Pencegahan &
pengobatan cacing
kremi

3. Evaluasi Menjawab pertanyaan 10 menit

Memberikan pertanyaan lisan


4. Penutup 5 menit

1. Menyimpulkan hasil
penyuluhan
2. Memberikan salam
3. Aktif bersama dalam
menyimpulkan
4. Membalas salam

45 menit

IX. RENCANA EVALUASI

Bentuk lisan :

1. Pengertian penyakit cacing kremi


2. Penyebab penyakit cacing kremi
3. Gejala penyakit cacing kremi
4. Diagnosis cacing kremi
5. Cara penularan penyakit cacing kremi
6. Pencegahan & pengobatan cacing kremi
Pekanbaru. 07 Mei 2017

Dibuat oleh:

Kelompok 3

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

TAHUN 2017

Ketua Sekretaris

Syabani Uswatun Hasanah Nita Shelvia


Nim: 1500077 Nim: 1500066

Diketahui Oleh :
Ketua BEM 2016-2017

Riski Putra Hasanah


Nim: 1400010

Disetujui Oleh:

Dosen IKM dan PROMKES

TIARA TRI GUSTINI,M.Farm, Apt


KEGIATAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
CACINGAN (Cacing Kremi)

1. KUNJUNGAN RUMAH SECARA BERKALA


Kunjungan rumah secara berkala dilaksanakan oleh Kelompok 3 guna
menyampaikan informasi tentang cacingan dan pencegahannya kepada keluarga
serta melakukan pemeriksaan anak-anak yang terkena cacingan. Selanjutnya,
catatan hasil pemeriksaan disampaikan kepada ketua RT yang bersangkutan untuk
tindak lanjut sepenuhnya.

2. PENYULUHAN KESEHATAN
A. TUJUAN
1) Menyebarluaskan pengetahuan/ pengertian yang tepat dan benar tentang
penyakit cacingan (cacing kremi).
2) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit cacingan (cacing
kremi).
3) Meningkatkan kerja sama antar penderita, keluarga, masyarakat dan
petugas kesehatan tentang penanggulangan penyakit cacingan (cacing
kremi).

B. SASARAN
1) Penderita penyakit cacingan (cacing kremi).
2) Keluarga penderita penyakit cacingan (cacing kremi).
3) Masyarakat
4) Petugas kesehatan

C. MATERI-MATERI PENYULUHAN
1. Pengertian penyakit cacing kremi
Cacing kremi adalah cacing parasit kecil yang menjangkiti usus besar
manusia. Parasit bernama latin Enterobius vermicularis ini memiliki fisik
berwarna putih dan sekilas terlihat seperti benang putih. Cacing ini bisa terlihat
pada sekitar lubang anus atau di tinja penderita.

Cacing, yang rata-rata memiliki panjang tubuh 5 sampai 13 milimeter


ini, biasanya menaruh telur-telurnya pada lipatan kulit di sekeliling anus pada
saat penderita sedang tertidur.

Infeksi cacing kremi umumnya tidak menimbulkan kondisi medis yang


serius. Namun, kadang cacing ini akan naik dari area anal menuju ke vagina,
uterus, tuba falopi, dan sekitar organ di pinggul. Jika ini terjadi, penderita akan
terancam terkena beberapa komplikasi seperti peradangan vagina (vaginitis) dan
peradangan lapisan dinding dalam uterus (endometritis).

2. Penyebab Cacing Kremi


Parasit cacing kremi umumnya menjangkiti seseorang setelah ia menelan
telur dari cacing kremi. Bahkan, telur tersebut bisa tertelan setelah terhirup lebih
dahulu.

Cacing kremi betina bisa meletakkan ribuan telurnya di sekitar anus atau
vagina. Ketika proses menaruh telur tersebut, cacing kremi betina juga
mengeluarkan lendir yang menyebabkan penderita merasa gatal. Rasa gatal akan
memancing penderita untuk menggaruk atau mengelap anus atau vagina. Saat
menggaruk atau mengelap itulah, telur-telur cacing bisa menempel pada ujung
jari atau di bawah kuku penderita.

Telur cacing kremi bisa bertahan hidup selama dua minggu. Telur-telur
cacing kremi pada tangan penderita bisa berpindah pada benda apa pun yang
disentuhnya seperti:

a. Sprei dan sarung bantal.


b. Handuk.
c. Mainan anak.
d. Peralatan dapur.
e. Sikat gigi.
f. Perabotan rumah.
g. Permukaan dapur atau kamar mandi.

Cacing kremi kebanyakan diidap oleh anak kecil karena masih belum
bisa menjaga kebersihan tangannya dengan baik. Selain anak kecil, seseorang
yang sering melakukan kontak langsung dengan penderita cacing kremi dan
yang hidup di lingkungan padat penduduk juga berisiko lebih tinggi untuk
mengidap parasit cacing kremi.

3. Gejala cacing kremi


Entrobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti.
Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi disekitar anus, perineum dan
vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi kedaerah anus dan vagina
sehingga menyebabkan pruritus lokal. Oleh karena cacing bermigrasi kedaerah
anus dan menyebaban pruritus ani maka penderita menggaruk daerah sekitar
anus sehingga timbul luka garuk disekitar anus.
Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita
terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Kadang-kadang cacign dewasa muda
dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, esofagus dan
hidung sehingga menyebabkan gangguan didaerah tersebut. Cacing betina gravid
mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba falopi sehingga
menyebabkan radang disaluran telur. Cacing sering ditemukan diapendiks tetapi
jarang menyebabkan appendisitis.
Beberapa gejala karena infeksi cacing Enterobiasis vermicularis
dikemukakan oleh beberapa penyelidik yaitu kurang nafsu makan, berat badan
turun, aktifitas meninggi, enuresis, cepat marah, gigi menggeretak, insomnia dan
masturbasi, tetapi kadang sukar untuk membuktikan hubungan sebab dengan
cacing kremi.
Infeksi cacing kremi ringandengan hanya sejumlah kecil cacing dewasa
dalam tubuhtidak ada gejala. Gejala-gejala muncul dengan moderat atau infeksi
berat. Beberapa minggu setelah menelan telur cacing kremi, cacing betina
dewasa bermigrasi dari usus ke daerah sekitar anus, di mana mereka bertelur.
Migrasi biasanya terjadi pada malam hari. Migrasi ini menyebabkan:
1. Gatal-gatal di daerah anal atau vaginal
2. Insomnia, lekas marah dan gelisah
3. Gejala saluran pencernaan yang samar-samar, seperti sebentar-sebentar
sakit perut dan mual
Gejala umum terjangkiti oleh cacing kremi biasanya pada bagian dubur
terasa gatal, berat badan penderita menurun, terkadang juga mengalami diare.
Apabila gejala gejala tersebut sudah nampak jangan menggaruk dubur yang
gatal dengan jari karena bila lecet dapat mengakibatkan infeksi. Hindari makan
makanan berlemak, kemudian olesi pada sekitar dubur dengan minyak zaitun
atau air garam.
Gejala lainnya berupa:
1. Rasa gatal hebat di sekitar anus
2. Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)
3. Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari
ketika cacing betina dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan
telurnya disana)
4. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa
terjadi pada infeksi yang berat)
5. Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa
masuk ke dalam vagina)
6. Kulit di sekitar anus menjadi lecet atau kasar atau terjadi infeksi (akibat
penggarukan).
4. Diagnosis Cacing Kremi

Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita,
terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidu pada malam hari. Cacing
kremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka aktif bergerak.
Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip di
lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian
selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.

Infeksi cacing sering diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di
sekitar anus pada waktu malam hari. Diagnosis dibuat dengan menemukan
telur dan cacing dewasa. Telur cacing dapat diambil dengan mudah dengan alat
anal swab yang ditempelkan di sekitar anus pada waktu pagi hari sebelum anak
buang air besar dan mencuci pantat (cebok).

Anal swab adalah suatu alat dari batang gelas atau spatel lidah yang pada
ujungnya dilekatkan Scotch adhesive tape. Bila adhesive tape ini ditempelkan
di daerah sekitar anus, telur cacing akan menempel pada perekatnya. Kemudian
adhesive tape diratakan pada kaca benda dan dibubuhi sedikit toluol untuk
pemeriksaan mikroskopik. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan 3 hari berturut-
turut.

5. Cara penularan cacing kremi

Sebagian besar jenis cacing parasit termasuk cacing kremi merupakan


soil transmited infection yang penularannya harus diperantarai oleh tanah.
Telur cacing parasit baru akan menjadi bentuk infektif (bisa menginfeksi) jika
sudah berada di tanah, kemudian masuk lewat saluran pencernaan.
Penularan cacing harus melalui tanah, terutama tanah liat. Bahkan tinja
sekalipun kalau langsung dijilat tidak akan menularkan cacing. Telur cacing
yang terbang ke udara juga hanya akan menular jika hinggap di makanan, jadi
tidak menular lewat pernapasan.

Penyakit ini sama seperti penyakit kulit yang bisa menular. Penularan
cacing kremi terjadi autoinfeksi. karena telurnya bisa nempel dimana aja, di
pakaian, sprei or debu, sehingga akibat tidak hygienisnya tangan / kuku
sehingga bersama makanan masuk ke mulut dari tangannya yang penuh
telur/debu. Penyakit kremian ini sering pula disebut penyakit enterobiasis
/oksiuriasis penyakit yang sangat sering ditemukan terutama pada anak-anak.
Infeksi ini dapat terjadi akibat tertelannya telur cacing enterobius
vermicularis (oxyuris vermicularis). Setelah telur cacing tertelan, larvanya akan
menetas di usus duabelas jari (duodenum) dan tumbuh menjadi bentuk dewasa
di usus besar. Cacing betina yang hamil (dapat mengandung 11.000-15.000
telur) akan berpindah ke daerah sekitar anus (perianal) untuk mengeluarkan
telur-telurnya disekitar anus.

Proses berpindahnya cacing ini akan menimbulkan sensasi gatal pada


daerah sekitar anus penderita. Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam
hari sehingga penderita sering terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Selain
gatal-gatal Gejala lain yang dapat dirasakan oleh penderita infeksi cacing kremi
adalah : Kurang nafsu makan, Berat badan menurun, Aktivitas meningkat,
Sering mengompol, Cepat marah, Sulit tidur, dll.

Penularan cacing kremi dapat terjadi pada satu keluarga atau kelompok-
kelompok yang hidup di lingkungan yang sama, seperti asrama, rumah piatu,
dll. Proses penularannya dapat terjadi melalui :

a. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk darerah sekitar anus


b. Penularan dari tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain karena
memegang benda-benda lain yang terkontaminasi telur cacing ini
c. Telur cacing dapat ditemukan di debu ruangan sekolah, asrama,
kavetaria, dan lainnya. Telur cacing di debu ini akan mudah diterbangkan
oleh angin dan dapat tertelan
d. Telur yang telah menetas di sekitar anus dapat berjalan kembali ke usus
besar melalui anus.

Penularan dapat dipengaruhi oleh :

a. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal


(autoinfeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain
maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun
pakaian yang terkontaminasi.
b. Debu merupakan sumber infeksi oleh karena mudah diterbangkan oleh
angin sehingga telur melalui debu dapat tertelan.
c. Retrofeksi melalui anus : larva dari telur yang menetas di sekitar anus
kembali masuk ke usus.

Anjing dan kucing bukan mengandung cacing kremi tetapi dapat menjadi
sumber infeksi oleh karena telur dapat menempel pada bulunya.
Frekuensi di Indonesia tinggi, terutama pada anak dan lebih banyak
ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Frekuensi pada orang kulit
putih lebih tinggi darpada orang negro. Kebersihan perorangan penting
untuk pencegahan. Kuku hendaknya selain dipotong pendek, tangan
dicuci sebelum makan. Anak yang mengandung cacing kremi sebaiknya
memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alat kasur tidak
terkontaminasi dan tangan tidak menggaruk daerah perianal. Makanan
hendaknya dihindarkan dari debu dan tangan yang mengandung parasit.
Pakaian dan als kasur hendaknya dicuci bersih dan diganti setiap hari.

6. Pencegahan & pengobatan cacing kremi

Infeksi keremi ringan atau mereka yang tanpa gejala tidak membutuhkan
pengobatan. Jika seseorang memiliki gejala, perlu obat anti-parasit. Untuk
gejala infeksi, obat-obatan hampir selalu efektif dalam menghilangkan parasit.
Karena anak-anak begitu mudah menyebar cacing kremi kepada keluarga
mereka, dokter akan meresepkan obat untuk seluruh anggota keluarga
mencegah agar terhindar dari infeksi dan reinfeksi.
Cara terbaik untuk menghindari penyakit cacingan adalah dengan upaya
pencegahan berupa melaksanakan pola hidup bersih dan sehat, karena walau
bagaimanapun upaya pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
Menjaga kebersihan perorangan berperan penting untuk pencegahan penyakit
ini, antara lain dengan :

a. Kuku hendaknya selalu dipotong pendek


b. Tangan hendaknya selalu dicuci sebelum makan
c. Makanan sebaiknya dihindarkan dari debu dan tangan yang mengandung
parasit
d. Pakaian dan alas kasur hendaknya dicuci bersih dan diganti setiap hari.

Jika salah satu anggota keluarga terinfeksi cacing kremi, sebaiknya


pengobatan diberikan kepada seluruh keluarga, agar penyebaran cacing ini
dapat dihentikan secara menyeluruh. Seluruh anggota keluarga sebaiknya
diberi pengobatan bila ditemukan salah seorang anggota mengandung cacing
kremi. Obat piperazin dosis tunggal 3-4 gram (dewasa) atau 25 mg/kg berat
badan (anak-anak), sangat efektif bial diberikan pagi hari diikuti minum
segelas air sehingga obat sampai ke sekum dan kolon. Efek samping yang
mungkin terjadi adalah mual dan muntah. Obat lain yang juga efektif adalah
pirantel pamoat dosis 10 mg/kg berat badan atau mebendazol dosis tunggal 100
mg atau albendazol dosis tunggal 400 mg. Mebendazol efektif terhadap semua
stadium perkembangan cacing kremi, sedangkan pirantel dan pipreazin dosis
tunggal tidak efektif terhadap stadium muda. Pengobatan sebaiknyadiulang 2-3
minggu kemudian. Pengobatan secara periodik memberikan prognosis yang
baik.

Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal


obat anti-parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat. Seluruh
anggota keluarga dalam satu rumah harus meminum obat tersebut karena
infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang kepada yang lainnya.
Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal ke
daerah sekitar anus sebanyak 2-3 kali/hari. Meskipun telah diobati, sering
terjadi infeksi ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang ke dalam
tinja selama seminggu setelah pengobatan. Pakaian, seprei dan mainan anak
sebaiknya sering dicuci untuk memusnahkan telur cacing yang tersisa.

Langkah-langkah umum yang dapat dilakukan untuk mengendalikan


infeksi cacing kremi adalah:
a. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar
b. Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku
c. Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu
d. Mencuci jamban setiap hari
e. Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari
tangan dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya
f. Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut.