Anda di halaman 1dari 13

UJI AKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL DAUN SASATING

(Cassia alata Linn.) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans DENGAN


METODE DIFUSI CAKRAM KIRBY-BAUER
ANTIFUNGAL ACTIVITY TEST OF SASATING LEAVES ETHANOL EXTRACTS
(Cassia alata Linn.) TO PLANTATION GROWTH Candida albicans WITH DISC DIFFUSION
METHOD KIRBY-BAUER

Wenny Aristia Yulianti1, Donna Novina Kahanjak2, Supak Silawani3


1
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya,
2
Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya, 3Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka
Raya
E-mail: wennyyuli@gmail.com

ABSTRAK
Latar Belakang: Kandidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans. Prevalensi penderita kandidiasis
oral di Indonesia sejak Mei hingga Juni 2013 sejumlah 7.090 kasus. Tumbuhan herbal di Kalimantan Tengah yang
digunakan masyarakat salah satunya adalah daun sasating (Cassia alata Linn.) yang memiliki potensi sebagai antifungi.
Tujuan: Penelitian ini untuk membuktikan bahwa ekstrak etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) memiliki aktivitas
antifungi terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer.
Metode: Jenis penelitian menggunakan true experimental design dengan rancangan penelitian post test only control
group design. Subjek penelitian menggunakan biakan Candida albicans pada Muller Hinton Agar (MHA) yang
diperoleh dari Laboratorium Biologi dan Molekuler Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya dan daun
sasating diperoleh dari Jalan Bukit Raya V-Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan 1 kelompok kontrol dan 5
kelompok perlakuan, yaitu akuades sebagai kontrol negatif dan ekstrak etanol daun sasating dengan konsentrasi 50%,
60%, 70%, 80% dan 90%. Hasil diameter zona hambatan yang dihasilkan dianalisis menggunakan uji One Way Anova
dan uji Post Hoc dengan < 0,05.
Hasil: Hasil One Way Anova menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 50%, 60%, 70%, 80% dan 90% telah
memberikan aktivitas menghambat pertumbuhan jamur uji. Hasil uji Post Hoc menunjukan tidak adanya perbedaan
bermakna antara masing-masing kelompok.
Kesimpulan: Ekstrak etanol daun sasating dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans dan konsentrasi efektif
ekstrak etanol daun sasating adalah konsentrasi 50%.

Kata kunci: daun sasating (Cassia alata Linn.), Candida albicans, Cakram Kirby-Bauer, Muller Hinton Agar (MHA)

ABSTRACT
Background: Candidiasis is an infection which is caused by Candida albicans. Since May to Juni 2013 in Indonesia the
prevalence of oral candidiasis patient is 7.090 cases. One of the herb used by the people of Central Borneo is leaves
sasating (Cassia alata Linn.) ) potential as an antifungal.
Objective: This research is aimed to proof that the ethanol extract of leaves sasating (Cassia alata Linn.) is activity to
slow down the growth of Candida albicans with disc diffusion method Kirby-Bauer.
Method: The study design is using true experimental with post test only control group design. As a subject of research
the researcher take the breed of Candida albicans on Muller Hinton Agar (MHA) obtained from the Laboratory of
Molecular Biology and the Institute of Islamic Studies (IAIN) Palangka Raya and leaves sasating obtained from Jalan
Bukit Raya-V Palangka Raya. This study uses one control group and 5 experiment groups, that is aquades as the
negative control and leaves sasating ethanol extract with 50%, 60%, 70%, 80% and 90% concentration. The result of
diametric barrier from analysis based on One Way Anova test and post hoc test is equal with < 0.05.
Results: One Way Anova showed that the extract concentration of 50%, 60%, 70%, 80% dan 90% have given activity
inhibit the growth of fungal test. The results of Post Hoc test showed that not significant differentiation to one and
another procedure.
Conclusion: Sasating leaves ethanol extract can inhibits the growth of Candida albicans and effective concentration of
Sasating leaves ethanol extract is 50%.

Keywords: leaves sasating (Cassia alata Linn.), Candida albicans, Kirby-Bauer disc, Muller Hinton Agar (MHA)
1. PENDAHULUAN memanfaatkan tumbuhan sasating (Cassia
Kandidiasis adalah penyakit infeksi alata Linn.) untuk membuat bedak dan
jamur tersering pada manusia. Kandidiasis sebagai obat tradisional untuk mengobati
ditemukan di seluruh dunia dan menyerang panu, keputihan, cacingan dan kanker.
segala usia, baik laki-laki maupun wanita, Tumbuhan sasating (Cassia alata Linn.) yang
tetapi data menunjukkan bahwa 70% sering digunakan adalah bagian daunnya.
penderitanya adalah wanita. Candida Masyarakat menggunakan daun sasating
menyebabkan 80 juta penduduk di Amerika (Cassia alata Linn.) secara tradisional dengan
Serikat menderita gangguan kesehatan.1 cara digosokkan pada kulit yang sakit atau
Departemen Kesehatan Republik Indonesia ditumbuk sampai lumat lalu ditempelkan pada
pada tahun 2013 menyatakan bahwa kulit yang sakit.
prevalensi penderita kandidiasis oral di Tumbuhan sasating (Cassia alata Linn.)
Indonesia sejak Mei hingga Juni 2013 telah dibuktikan pada beberapa penelitian
sejumlah 7.090 kasus, jumlah ini memiliki banyak manfaat. Bahan kimia yang
menunjukkan bahwa kandidiasis merupakan terkandung dalam daun sasating (Cassia alata
penyakit yang sering ditemukan.2 Linn.) diantaranya bersifat sebagai antifungi.6
Kandidiasis merupakan suatu penyakit Daun sasating (Cassia alata Linn.)
infeksi pada kulit dan mukosa yang mempunyai kandungan penting seperti
disebabkan oleh Candida. Candida albicans alkaloid, saponin, tanin, steroid, antrakuinon,
adalah spesies yang paling umum flavonoid dan karbohidrat. Flavonoid pada
menyebabkan infeksi dan ditemukan di tumbuhan herbal memiliki efek antiinflamasi,
rongga mulut dan merupakan flora normal. antialergi, antimikroba, antioksidan, dan
Namun pada kondisi tertentu, jamur ini dapat efektif untuk beberapa golongan jamur.7
berubah menjadi patogen dan menyebabkan Penentuan efektivitas antifungi dapat
infeksi oral, genital bahkan infeksi sistemik dilakukan dengan metode difusi cakram
yang dapat mengancam jiwa.3 Pada umumnya Kirby-Bauer yaitu uji sensitifitas dengan
infeksi tersebut dapat ditangani dengan menggunakan teknik disc diffusion yang
menggunakan obat anti jamur baik secara berisi agen antimikroba, kemudian diletakkan
topikal atau sistemik. 4 pada media agar yang sebelumnya telah
Indonesia merupakan negara yang kaya ditanam mikroorganisme sehingga agen
tumbuhan herbal. Tumbuhan herbal yang antimikroba dapat berdifusi pada media agar
memiliki potensi untuk diteliti salah satunya tersebut.8 Muhammad Bahi dalam
adalah daun sasating (Cassia alata Linn.). penelitiannya dengan judul Bioassay on n-
Daun sasating (Cassia alata Linn.) banyak Hexane Extract of Leaves Cassia alata
dimanfaatkan secara tradisional, antara lain against Candida albicans telah membuktikan
adalah sebagai antiparasit, kurap, kudis, panu, bahwa tumbuhan sasating (Cassia alata
eksem, malaria, sembelit, radang kulit Linn.) telah memiliki efek sebagai antifungi.7
bertukak, sifilis, herpes, influenza dan Tumbuhan sasating (Cassia alata
bronkhitis.5 Linn.) memiliki potensi yang besar sebagai
Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai antifungi. Oleh karena itu, peneliti ingin
obat oleh masyarakat Kalimantan Tengah mengkaji lebih jauh tentang efek daun
khususnya Palangka Raya salah satunya sasating (Cassia alata Linn.) terhadap
adalah tumbuhan sasating (Cassia alata pertumbuhan Candida albicans dengan
Linn.). Berdasarkan survei pada bulan metode difusi cakram Kirby-Bauer di
Februari tahun 2015 terhadap masyarakat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
daerah Pasar Kahayan Km 1,5 Palangka Berdasarkan latar belakang masalah di
Raya, Kalimantan Tengah, diketahui atas, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk
masyarakat telah mengenal dan sekaligus membuktikan bahwa ekstrak etanol daun
sasating (Cassia alata Linn.) memiliki alumunium foil, cotton bud, plastik, oven, dan
aktivitas antifungi terhadap pertumbuhan lemari pendingin.
Candida albicans dengan metode difusi Alat yang digunakan untuk uji aktivitas
cakram Kirby-Bauer. antifungi adalah autoclave, inkubator, cawan
petri, paperdisk, jarum ose, jangka sorong,
2. Metode Penelitian bunsen, mikropipet, pipet tetes dan jangka
Desain penelitian yang digunakan pada sorong.
penelitian ini adalah post test only control
group design. Penelitian ini dilaksanakan Identifikasi Tanaman
pada bulan Juni-Juli 2015 di Laboratorium Identifikasi tanaman dilakukan di
Biologi Sel dan Genetika Institut Agama Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya. Metode Bogor.
penelitian yang digunakan untuk mengetahui
efek antifungi berbagai konsentrasi ekstrak Pengambilan Daun Sasating
etanol daun sasating terhadap pertumbuhan 1. Pengambilan daun sasating dilakukan
Candida albicans adalah dengan metode secara purposive sampling dari Jl. Bukit
difusi cakram Kirby-Bauer. Raya VPalangka Raya.
Bahan sampel yang digunakan adalah 2. Daun sasating yang dipilih adalah daun
daun sasating yang tumbuh di daerah yang segar yaitu daun berwarna hijau
Palangka Raya. Ekstrak etanol daun sasating dengan urutan kedua sampai kelima dari
tersebut didapatkan dengan proses maserasi bagian pucuk teratas.
menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil 3. Daun sasating yang diperoleh
pengenceran ekstrak kental pada berbagai dikumpulkan, dibersihkan dari kotoran
konsentrasi 50%, 60%, 70%, 80% dan 90% dan dicuci dengan air mengalir hingga
dijadikan variabel bebas (independent). bersih. Kemudian dikeringkan dengan
Jamur uji yang digunakan adalah cara diletakkan di tempat terbuka dan
Candida albicans yang didapatkan dari ditutup dengan kain hitam agar tidak
Laboratorium Biologi Sel dan Genetika terkena langsung oleh cahaya matahari.
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka 4. Sampel dianggap kering apabila sampel
Raya. Pertumbuhan koloni Candida albicans menjadi agak layu. Setelah kering, sampel
dijadikan variabel terikat (dependent). dibuat menjadi serbuk dengan cara
Bahan dan alat yang digunakan pada diblender sampai halus hingga menjadi
penelitian adalah sebagai berikut: serbuk simplisia dan disimpan dalam
a. Bahan Penelitian toples maserasi.
Bahan yang digunakan yaitu daun sasating
yang diperoleh dari Jalan Bukit Raya V, Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Sasating
etanol 96%, aquades, ekstrak etanol daun Metode ekstraksi yang digunakan
sasating, Sabouraud Dextrose Agar (SDA), adalah maserasi dengan menggunakan pelarut
Brain-Heart Infusion (BHI), Mueller Hinton etanol, langkah pembuatanya adalah sebagai
Agar (MHA), larutan Mc. Farland No. 0,5, berikut: 9
larutan NaCl 0,9%, jamur Candida albicans. 1. Timbang serbuk simplisia lalu dilakukan
b. Alat Penelitian (perendaman) maserasi dengan etanol
Alat yang digunakan dalam pembuatan 96% dimasukkan ke dalam toples tertutup
simplisia dan ekstraksi pada penelitian ini dan dibiarkan pada suhu kamar selama 24
adalah gunting, blender, neraca analitik, jam terlindung dari sinar matahari.
toples maserasi, autoclave, batang pengaduk, Perendaman tersebut berfungsi untuk
kertas saring, gelas ukur, tabung reaksi, rak menyerap senyawa-senyawa organik yang
tabung reaksi, corong, inkubator, hot plate, terkandung dalam simplisia.
2. Hari selanjutnya filtrat dengan ampas aluminium foil kemudian disterilisasikan
dipisahkan dengan cara disaring dengan autoclave pada suhu 1210C selama 15
menggunakan kertas saring. Filtrat yang menit. Semua media pembenihan disterilkan
didapatkan disimpan dan dilapisi dengan dengan autoclave pada suhu 1210C selama 15
aluminium foil. Ampas hasil saringan menit. Pinset dan jarum ose disterilkan
dimaserasi lagi dengan menggunakan dengan cara memijarkan pada api bunsen.
etanol 96%. Ulangi sampai diperoleh
filtrat yang tidak berwarna. Pembuatan Media
3. Setelah seluruh filtrat digabungkan, filtrat a. Pembuatan Media Brain-Heart Broth
yang berwarna dipekatkan dan dipisahkan Infusion (BHI)
dari pelarutnya dengan menggunakan hot Sebanyak 37 gram serbuk BHI dilarutkan
plate pada suhu 550C sehingga diperoleh dalam 1 L aquades di atas penangas.
ekstrak kental daun sasating. Kemudian Selanjutnya disterilkan dalam autoclave pada
timbang ekstrak etanol kental daun suhu 1210C selama 15 menit. Setelah proses
sasating menggunakan neraca analitik. sterilisasi, media diangkat dan didinginkan.
4. Ekstrak etanol kental daun sasating Media ini digunakan untuk memperoleh
(Cassia alata Linn.) yang sudah konsentrasi mikroba yang sesuai untuk
didapatkan kemudian diolah dalam pengujian di laboratorium.
berbagai konsentrasi, yakni: 50%, 60%, b. Pembuatan Media Sabouraud Dextrose
70%, 80%, dan 90% Agar (SDA)
a. Konsentrasi ekstrak 90% = 9 gram Sebanyak 65 gram bubuk SDA
ekstrak etanol kental daun sasating disuspensikan dengan 1 L aquades. Medium
ditambahkan 1 ml aquades sehingga dipanaskan agar tercampur dengan sempurna.
volumenya menjadi 10 ml. Kemudian dituangkan ke dalam cawan petri
b. Konsentrasi ekstrak 80% = 8 gram dan disterilkan di dalam autoclave selama 15
ekstrak etanol kental daun sasating menit pada suhu 1210C.
ditambahkan 2 ml aquades sehingga c. Pembuatan Media Mueller Hinton Agar
volumenya menjadi 10 ml. (MHA)
c. Konsentrasi ekstrak 70% = 7 gram Pembuatan media pembenihan dengan
ekstrak etanol kental daun sasating menggunakan MHA yaitu, sebanyak 38 gram
ditambahkan 3 ml aquades sehingga bubuk MHA, dilarutkan dalam 1 L aquades di
volumenya menjadi 10 ml. atas penangas. Setelah itu diangkat kemudian
d. Konsentrasi ekstrak 60% = 6 gram dituangkan di atas lapisan dasar cawan petri.
ekstrak etanol kental daun sasating Selanjutnya disterilkan dalam autoclave pada
ditambahkan 4 ml aquades sehingga suhu 1210C selama 15 menit.
volumenya menjadi 10 ml. d. Larutan NaCl 0,9%
e. Konsentrasi ekstrak 50% = 5 gram Sebanyak 0,9 g NaCl ditimbang dan
ekstrak etanol kental daun sasating dilarutkan dengan aquades, dimasukkan ke
ditambahkan 5 ml aquades sehingga dalam gelas kimia 100 ml sampai larut
volumenya menjadi 10 ml. sempurna, dimasukkan dalam tabung reaksi
f. Untuk kontrol negatif adalah akuades steril yang tertutup, kemudian disterilkan
10 ml. dalam autoclave pada suhu 1210C selama 15
menit.
Pengujian Aktivitas Antifungi e. Standart Mc. Farland No. 0,5
Sterilisasi Alat dan Bahan Standar kekeruhan dibuat dengan
Seluruh alat yang digunakan disterilisasi melarutkan BaCl2 1,175% sebanyak 0,05 ml
menggunakan autoclave. Tabung reaksi, gelas dan H2SO4 1% sebanyak 9,95 ml. Campurkan
ukur dan cawan petri ditutup dengan
kedua larutan di atas ke dalam tabung reaksi d. Setelah 24 jam inkubasi, dilakukan
dan dikocok hingga homogen. pengukuran diameter zona hambat
dengan menggunakan jangka sorong.
Pembuatan Inokulum Candida albicans
dan Pembuatan Suspensi 3. Hasil Penelitian
Candida albicans ditumbuhkan pada Hasil Determinasi Tumbuhan
media Brain-Heart Infusion Broth (BHI) Dari hasil determinasi yang dilakukan
selama 24 jam. Koloni Candida albicans di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
diambil dari stok kultur dengan menggunakan (LIPI) Pusat penelitian Biologi, diketahui
kawat ose steril dan digoreskan pada medium bahwa tumbuhan yang digunakan pada
selektifnya yaitu Sabouraud Dextrose Agar penelitian ini adalah sasating dengan jenis
(SDA). Cassia alata Linn. suku Leguminosae.
Jarum ose dicelupkan ke dalam suspensi
Candida albicans yang tumbuh di medium Hasil Maserasi Ekstrak Etanol Daun
selektifnya yaitu Sabouraud Dextrose Agar Sasating (Cassia alata Linn.)
(SDA) lalu diletakan di tabung yang berisi 10 Simplisia daun sasating (Cassia alata
ml larutan NaCl 0,9% sampai didapatkan Linn.) yang telah ditimbang menggunakan
kekeruhan suspensi jamur sama dengan timbangan digital sebanyak 1136 gram
kekeruhan larutan standart Mc. Farland No. direndam menggunakan etanol 96% sebanyak
0,5. 5 L selama 1x24 jam. Selanjutnya disaring
menggunakan kertas saring untuk
Uji Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol mendapatkan filtrat yang pertama dan
Daun Sasating Terhadap Candida didapatkan jumlah filtrat sebanyak 3,5 L.
albicans Kemudian direndam kembali ampas yang ada
a. Masukkan cotton bud steril ke dalam dengan pelarut sebanyak 3 L selama 1x24 jam
suspensi NaCl 0,9% yang telah dibuat. yang kedua untuk mendapatkan filtrat yang
Kemudian tiriskan pada sisi tabung kedua dan didapatkan jumlah filtrat sebanyak
reaksi tersebut dan tunggu beberapa 1,5 L. Selanjutnya disaring menggunakan
saat. Goreskan lidi kapas tersebut pada kertas saring untuk mendapatkan filtrat yang
permukaan cawan petri yang berisi ketiga dan didapatkan jumlah filtrat sebanyak
Mueller Hinton Agar (MHA) yang 1,5 L. Karena hasil filtrat yang didapatkan
telah dibuat sebelumnya hingga sudah mulai jernih sehingga proses
merata. penyaringan hanya dilakukan sebanyak 3 kali.
b. Kertas Cakram Kirby-Bauer kosong Total filtrat pertama, filtrat kedua dan filtrat
dicelupkan selama 30 menit ke dalam ketiga setelah disaring adalah 6.500 mL.
masing-masing larutan yang akan diuji
yaitu ekstrak etanol daun sasating dan Hasil Ekstraksi
kontrol negatif (aquades) sesuai Ekstraksi dilakukan dengan
konsentrasi dan jumlah menggunakan pelarut etanol 96%. Dari 1136
pengulangannya masing-masing. gram serbuk simplisia daun sasating (Cassia
c. Kertas Cakram Kirby-Bauer yang telah alata Linn.) yang diekstraksi diperoleh 229,43
dicelupkan selama 30 menit ke dalam gram ekstrak kental yang berwarna hijau tua
masing-masing kelompok perlakuan kehitaman. Suhu titik didih untuk daun
dan kontrol diletakkan pada permukaan sasating (Cassia alata Linn.) yang digunakan
media Mueller Hinton Agar (MHA), saat penguapan menggunakan hot plate
kemudian diinkubasi pada suhu 370C adalah 55C agar memperoleh ekstrak kental
selama 24 jam. yang optimal.
Lebar Diameter Zona Hambat (mm) terhadap Candida albicans menunjukkan
Pertumbuhan Candida albicans 1x24 Jam adanya diameter zona hambat yang terbentuk
Konsentrasi ekstrak etanol daun disekitar paper disk mulai dari konsentrasi
sasating (Cassia alata Linn.) dilakukan uji 50%, 60%, 70%, 80%, 90%. Data diameter
pendahuluan untuk mendapatkan konsentrasi zona hambat hasil penelitian pemberian
ekstrak yang efektif dalam menghambat ekstrak etanol daun sasating (Cassia alata
pertumbuhan Candida albicans. Konsentrasi Linn.) terhadap Candida albicans
ekstrak etanol yang efektif dengan zona dicantumkan pada Tabel 5.2 di bawah ini.
hambat terbaik yang akan digunakan sebagai Tabel 5.2 Hasil Pengukuran Diameter Zona
konsentrasi acuan untuk menentukan Hambat Ekstrak Etanol Daun Sasating Terhadap
Pertumbuhan Candida albicans 1x24 Jam
konsentrasi yang akan digunakan pada
penelitian. Pada uji pendahuluan digunakan
konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, Diameter Hambat (mm) Rata-Rata
Konsentrasi
Diameter
70%, 80% dan 90% seperti yang terdapat (%)
I II III IV (mm)
pada Tabel 5.1.
90% 14,74 13,62 11,85 11,72 12,98
Tabel 5.1 Hasil Pengukuran Diameter Zona
Hambat Candida albicans Pada Uji Pendahuluan 80% 15,57 11,99 10,75 9,67 11,99
1x24 Jam 70% 17,02 10,87 10,76 9,38 12,00
No. Konsentrasi (%) Diameter Zona Hambat
(mm) 60% 12,41 10,42 9,95 9,93 10,68
1. 10% 3,48 50% 13,48 10,99 10,4 9,27 11,04
2. 20% 11,05 Kontrol (-) 0 0 0 0 0
3. 30% 8,87
4. 40% 14,24
5. 50% 11,78 Rata-Rata Diameter
6. 60% 12,59
7. 70% 15,42 (mm)
8. 80% 13,27 20
9. 90% 14,96
Dari hasil uji pendahuluan terlihat 10 Rata-Rata
bahwa diameter zona hambat efektif dan Diameter
0
(mm)
terbaik pada konsentrasi 70% sehingga hasil
diameter zona hambat ini yang akan menjadi
acuan untuk penelitian yang sebenarnya.
Gambar 5.1 Rata-rata Diameter Zona Hambat
Sehingga pada uji sebenarnya ditetapkan Ekstrak Etanol Daun Sasating Terhadap
konsentrasi untuk pengujian yaitu pada 50%, Pertumbuhan Candida albicans 1x24 Jam
60%, 70%, 80% dan 90% untuk
menghasilkan perbandingan yang lebih baik. Dari Tabel 5.2 dan Gambar 5.1 di atas,
Penelitian ini menggunakan Candida terlihat bahwa rata-rata zona hambat yang
albicans yang ditumbuhkan dalam 27 medium dihasilkan dari ekstrak etanol daun sasating
Muller Hinton Agar (MHA), terdiri dari (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi 90%
kelompok kontrol negatif serta kelompok adalah 12,98 mm. Pada konsentrasi ini
yang diberi perlakuan ekstrak etanol daun memiliki daya hambat terbesar dari aktivitas
sasating (Cassia alata Linn.) dalam berbagai antifungi ekstrak etanol daun sasating (Cassia
konsentrasi yaitu 50%, 60%, 70%, 80%, dan alata Linn.) terhadap pertumbuhan Candida
90%. Kelompok perlakuan dilakukan albicans 1x24 jam. Pada kelompok kontrol
pengulangan empat kali sehingga masing- negatif yang diujikan terhadap pertumbuhan
masing konsentrasi menjadi 4 medium. Candida albicans 1x24 jam tidak terbentuk
Hasil penelitian ekstrak etanol daun diameter zona hambat.
sasating (Cassia alata Linn.) yang diberikan
Analisis Data Zona Hambat Ekstrak Pada Tabel 5.4 berikut disajikan data hasil
Etanol Daun Sasating Terhadap transformasi agar berdistribusi normal.
Pertumbuhan Candida albicans 1x24 Jam Tabel 5.4 Hasil Transformasi Data
Analisis data dilakukan dengan Tests of Normality
menggunakan uji statistik yang diperoleh Kolmogorov- Shapiro-Wilk
berdasarkan data hasil penelitian. Uji statistik Smirnova
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
yang digunakan adalah uji One Way Anova. TransData ,167 20 ,145 ,930 20 ,155
Sebelum dilakukan uji One Way Anova data a. Lilliefors Significance Correction
harus memenuhi syarat yaitu, data
berdistribusi normal dan memiliki varians Hasil data Tabel 5.4 didapatkan bahwa
data yang sama. diameter zona hambat pada Candida albicans
memiliki nilai kemaknaan (p)=0,155 dengan
Uji Normalitas Data menggunakan parameter Shapiro-Wilk artinya
Hasil data luas diameter zona hambat distribusi keenam kelompok data normal
yang terbentuk dari berbagai konsentrasi karena p>0,05. Setelah data didapatkan
berbeda, yaitu konsentrasi 90%, 80%, 70%, berdistribusi normal maka dilanjutkan dengan
60% dan 50% kemudian setelah pengulangan uji varians data untuk memenuhi syarat One
empat kali perlu dilanjutkan dengan Way Anova.
menganalisis distribusi data tersebut agar
dapat ditentukan apakah distribusi data Uji Varians Data
normal atau tidak dengan metode analisis. Adapun hasil distribusi data yang
Data diuji normalitasnya sebagai syarat untuk normal dari uji normalitas dilanjutkan dengan
melakukan uji One Way Anova yang terdapat uji varians data. Tujuannya untuk melihat
pada Tabel 5.3. apakah data memiliki varians yang sama atau
Tabel 5.3 Uji Normalitas Data tidak, yaitu uji homogenitas varians yang
Tests of Normality terdapat pada Tabel 5.5 di bawah ini.
Kolmogorov- Shapiro-Wilk Tabel 5.5 Uji Varians Data
Smirnova Test of Homogeneity of Variances
Statistic df Sig. Statistic df Sig. Diameter_Zona_Hambat
Diameter ,291 24 ,000 ,810 24 ,000 Levene df1 df2 Significance
_Zona_H Statistic
ambat 2,341 5 18 ,084
a. Lilliefors Significance Correction

Pada uji varians, diperoleh bahwa nilai


Hasil data Tabel 5.3 didapatkan bahwa significance pada diameter zona hambat
diameter zona hambat pada Candida albicans Candida albicans setelah diberi masing-
memiliki nilai kemaknaan (p)=0,000 dengan masing konsentrasi yang berbeda dari ekstrak
menggunakan parameter Shapiro-Wilk artinya etanol daun sasating adalah p = 0,084. Karena
distribusi keenam kelompok data tidak normal nilai p>0,05 maka dapat diambil kesimpulan
karena p<0,05. Jumlah sampel pada penelitian bahwa tidak ada perbedaan varians antara
sebanyak 24 sampel artinya termasuk sampel kelompok data yang dibandingkan dengan
yang kecil ( 50) sehingga menggunakan kata lain varians data adalah sama.
parameter Shapiro-Wilk.
Dari hasil uji normalitas data Uji One Way Anova
didapatkan kesimpulan bahwa data tidak Data zona hambat oleh ekstrak etanol
berdistribusi dengan normal (p=0,000). daun sasating (Cassia alata Linn.) terhadap
Sehingga untuk memenuhi syarat One Way pertumbuhan Candida albicans 1x24 jam
Anova maka dilakukan transformasi data telah memenuhi syarat untuk dilakukan uji
dengan tujuan agar distribusi menjadi normal.
One Way Anova. Hasil uji One Way Anova 50% dengan kelompok ekstrak etanol daun
terdapat pada Tabel 5.6. sasating (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi
Tabel 5.6 Uji One Way Anova 0%. Hal ini bisa dilihat dari nilai
ONEWAY ANOVA signifikansinya yaitu p<0,05. Sedangkan tidak
Diameter_Zona_Hambat menunjukkan adanya perbedaan yang
Sum of df Mean F Sig.
Squares Square
signifikan antara kelompok ekstrak etanol
Between 472,611 5 94,522 22,794 ,000 daun sasating (Cassia alata Linn.) pada
Groups konsentrasi 50% dengan kelompok ekstrak
Within 74,641 18 4,147 etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) pada
Groups konsentrasi 60%, 70%, 80% dan 90%.
Total 547,253 23 Tabel 5.8 Uji analisis LSD pada konsentrasi 60%
(I) (J) Mean Std. Error Sig.
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa pada Perlakuan Perlakuan Difference
uji One Way Anova didapatkan data diameter (I-J)
zona hambat Candida albicans memiliki 50% -,35750 1,43992 ,807
p=0,000 yang artinya bahwa p<0,05. Hal ini 70% -1,33000 1,43992 ,368
60%
berarti hipotesis diterima bahwa ekstrak 80% -1,31750 1,43992 ,372
etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) 90% -2,30500 1,43992 ,127
0% 10,67750* 1,43992 ,000
dapat berfungsi sebagai antifungi dalam
menghambat pertumbuhan Candida albicans Ket. : * = berbeda bermakna
menggunakan metode difusi cakram Kirby- Tabel 5.8 dari hasil uji LSD
Bauer. menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan antara kelompok ekstrak etanol
Uji Least Significance Difference (LSD) daun sasating (Cassia alata Linn.) konsentrasi
Oleh karena hasil uji One Way Anova 60% dengan kelompok ekstrak etanol daun
Tabel 5.6 di atas menunjukkan adanya sasating (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi
perbedaan diameter zona hambat yang 0%. Hal ini bisa dilihat dari nilai
signifikan (p < 0,005) antara semua kelompok signifikansinya yaitu p<0,05. Sedangkan tidak
setelah perlakuan 1x24 jam, maka dilakukan menunjukkan adanya perbedaan yang
analisis lebih lanjut dengan menggunakan signifikan antara kelompok ekstrak etanol
analisis Post Hoc dan untuk uji yang dipilih daun sasating (Cassia alata Linn.) pada
adalah uji Least Significant Difference (LSD) konsentrasi 60% dengan kelompok ekstrak
agar dapat diketahui seberapa besar perbedaan etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) pada
aktivitas antifungi dari setiap kelompok konsentrasi 50%, 70%, 80% dan 90%.
Tabel 5.9 Uji analisis LSD pada konsentrasi 70%
seperti pada Tabel 5.7 sampai Tabel 5.12.
Tabel 5.7 Uji analisis LSD pada konsentrasi 50% (I) (J) Mean Std. Error Sig.
(I) (J) Mean Std. Error Sig. Perlakuan Perlakuan Difference
Perlakuan Perlakuan Difference (I-J)
(I-J) 50% ,97250 1,43992 ,508
60% ,35750 1,43992 ,807 60% 1,33000 1,43992 ,368
70% -,97250 1,43992 ,508 70% 80% ,01250 1,43992 ,993
50% 80% -,96000 1,43992 ,513 90% -,97500 1,43992 ,507
90% -1,94750 1,43992 ,193 0% 12,00750* 1,43992 ,000
0% 11,03500* 1,43992 ,000 Ket. : * = berbeda bermakna
Ket. : * = berbeda bermakna Tabel 5.9 dari hasil uji LSD
Tabel 5.7 dari hasil uji LSD menunjukkan adanya perbedaan yang
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok ekstrak etanol
signifikan antara kelompok ekstrak etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) konsentrasi
daun sasating (Cassia alata Linn.) konsentrasi 70% dengan kelompok ekstrak etanol daun
sasating (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi
0%. Hal ini bisa dilihat dari nilai menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikansinya yaitu p<0,05. Sedangkan tidak signifikan antara kelompok ekstrak etanol
menunjukkan adanya perbedaan yang daun sasating (Cassia alata Linn.) pada
signifikan antara kelompok ekstrak etanol konsentrasi 90% dengan kelompok ekstrak
daun sasating (Cassia alata Linn.) pada etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) pada
konsentrasi 70% dengan kelompok ekstrak konsentrasi 50%, 60%, 70% dan 80%.
etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) pada Tabel 5.12 Uji analisis LSD pada konsentrasi 0%
konsentrasi 50%, 60%, 80% dan 90%. (I) (J) Mean Std. Error Sig.
Tabel 5.10 Uji analisis LSD pada konsentrasi 80% Perlakuan Perlakuan Difference
(I-J)
(I) (J) Mean Std. Error Sig.
Perlakuan Perlakuan Difference 50% -11,03500* 1,43992 ,000
(I-J) 60% -10,67750* 1,43992 ,000
0% 70% -12,00750* 1,43992 ,000
50% ,96000 1,43992 ,513
80% -11,99500* 1,43992 ,000
60% 1,31750 1,43992 ,372
90% -12,98250* 1,43992 ,000
80% 70% -,01250 1,43992 ,993
90% -,98750 1,43992 ,502 Ket. : * = berbeda bermakna
0% 11,99500* 1,43992 ,000 Tabel 5.12 dari hasil uji LSD
Ket. : * = berbeda bermakna menunjukkan adanya perbedaan yang
Tabel 5.10 dari hasil uji LSD signifikan antara kelompok ekstrak etanol
menunjukkan adanya perbedaan yang daun sasating (Cassia alata Linn.) konsentrasi
signifikan antara kelompok ekstrak etanol 0% dengan kelompok ekstrak etanol daun
daun sasating (Cassia alata Linn.) konsentrasi sasating (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi
80% dengan kelompok ekstrak etanol daun 50%, 60%, 70%, 80% dan 90%. Hal ini bisa
sasating (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi dilihat dari nilai signifikansinya yaitu p<0,05.
0%. Hal ini bisa dilihat dari nilai
signifikansinya yaitu p<0,05. Sedangkan tidak 4. Pembahasan
menunjukkan adanya perbedaan yang Proses awal pembuatan ekstrak etanol daun
signifikan antara kelompok ekstrak etanol sasating (Cassia alata Linn.) adalah tahapan
daun sasating (Cassia alata Linn.) pada pembuatan simplisia kering (penyerbukan).
konsentrasi 80% dengan kelompok ekstrak Simplisia dibuat dengan peralatan tertentu
etanol daun sasating (Cassia alata Linn.) pada sampai derajat kehalusan tertentu dan
konsentrasi 50%, 60%, 70% dan 90%. homogen. Proses ini dapat mempengaruhi
Tabel 5.11 Uji analisis LSD pada konsentrasi 90% mutu ekstrak dengan dasar beberapa hal salah
(I) (J) Mean Std. Error Sig. satunya, yaitu makin halus serbuk simplisia,
Perlakuan Perlakuan Difference proses ekstraksi makin efektif.10
(I-J)
Maserasi merupakan cara penyarian
50% 1,94750 1,43992 ,193 yang dipilih untuk penelitian ini. Maserasi
60% 2,30500 1,43992 ,127 dilakukan dengan cara merendam serbuk
90% 70% ,97500 1,43992 ,507
simplisia daun sasating ke dalam pelarut
80% ,98750 1,43992 ,502
0% 12,98250* 1,43992 ,000 etanol 96%. Pelarut akan menembus dinding
Ket. : * = berbeda bermakna sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
Tabel 5.11 dari hasil uji LSD mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan
menunjukkan adanya perbedaan yang karena adanya perbedaan konsentrasi antara
signifikan antara kelompok ekstrak etanol larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di
daun sasating (Cassia alata Linn.) konsentrasi luar sel, maka larutan yang terpekat akan
90% dengan kelompok ekstrak etanol daun didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang
sasating (Cassia alata Linn.) pada konsentrasi sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi
0%. Hal ini bisa dilihat dari nilai antara larutan di luar sel dan di dalam sel.11
signifikansinya yaitu p<0,05. Sedangkan tidak
Maserasi sampel dilakukan dengan kelompok. Hasil uji LSD menunjukkan
menggunakan pelarut etanol karena sifatnya bahwa efektivitas masing-masing kelima
yang mampu melarutkan hampir semua zat, konsentrasi ekstrak etanol daun sasating
baik yang bersifat polar, semi polar dan non (Cassia alata Linn.) 50%, 60%, 70%, 80%
polar serta kemampuannya untuk dan 90% memiliki perbedaan bermakna
mengendapkan protein dan menghambat kerja dengan konsentrasi ekstrak etanol daun
enzim sehingga dapat terhindar dari proses sasating (Cassia alata Linn.) 0% (p = 0,000
hidrolisis dan oksidasi.12 <0,05).
Uji antifungi dilakukan terhadap Diameter zona hambat didapatkan
ekstrak etanol daun sasating (Cassia alata cenderung meningkat sebanding dengan
Linn.) terhadap pertumbuhan Candida meningkatnya konsentrasi ekstrak. Hal ini
albicans. Pengukuran zona hambat dilakukan sesuai dengan pendapat Pelzcar dan Chan
dengan mengukur diameter zona bening yang bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu bahan
terbentuk pada medium agar. Pada penelitian antifungi maka aktivitas antifunginya akan
ini, zona bening adalah daerah yang tampak semakin kuat.13
berwarna kecokelatan pada medium agar Berdasarkan hasil penelitian dari
MHA dan tidak ditumbuhi oleh Candida Elifah, dimana diameter zona hambat tidak
albicans di sekitar kertas cakram yang selalu naik sebanding dengan naiknya
dibiarkan selama 1x24 jam di dalam konsentrasi, kemungkinan ini terjadi karena
inkubator. perbedaan kecepatan difusi senyawa aktif
Metode yang digunakan pada pada media agar serta jenis dan konsentrasi
penelitian ini untuk menguji aktivitas senyawa aktif yang berbeda juga memberikan
antifungi terhadap pertumbuhan Candida diameter zona hambat yang berbeda pada
albicans adalah metode difusi cakram Kirby- lama waktu tertentu.14 Hal ini sebanding
Bauer, karena metode ini paling umum dengan kelompok perlakuan konsentrasi
digunakan untuk menentukan sensitifitas ekstrak etanol daun sasating (Cassia alata
antifungi. Teknik dari metode ini yaitu kertas Linn.) pada 60% dan 80% dimana tidak
cakram yang sudah direndam dengan larutan terjadi kenaikan diameter zona hambat
ekstrak etanol daun sasating (Cassia alata dibandingkan dengan konsentrasi ekstrak
Linn.) akan berdifusi pada media MHA sebelumnya yaitu pada konsentrasi 50% dan
sehingga akan terbentuk diameter zona 70%.
hambat. Menurut Puthera, penentuan kategori
Data uji One Way Anova diameter respon hambatan pertumbuhan jamur sebagai
zona hambat Candida albicans menunjukkan berikut: diameter zona hambat < 1 cm atau <
nilai signifikan p=0,000 (<0,05) yang berarti 10 mm dikategorikan lemah, diameter zona
terdapat perbedaan signifikan pengaruh dari hambat 1-1,5 cm atau 10-15 mm
perlakuan konsentrasi ekstrak etanol daun dikategorikan sedang, diameter zona hambat
sasating (Cassia alata Linn.) terhadap jamur 1,6-2 cm atau 16-20 mm dikategorikan kuat,
yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa dan diameter zona hambat > 2 cm atau > 20
kelima konsentrasi ekstrak etanol daun mm dikategorikan sangat kuat.15 Berdasarkan
sasating (Cassia alata Linn.) baik konsentrasi kategori tersebut maka daya antifungi ekstrak
50%, 60%, 70%, 80% dan 90% telah etanol daun sasating (Cassia alata Linn.)
memberikan aktivitas yang dapat konsentrasi 50% (11,04 mm), konsentrasi
menghambat pertumbuhan Candida albicans. 60% (10,68 mm), konsentrasi 70% (12,00
Analisis data lebih lanjut dengan mm), konsentrasi 80% (11,99 mm), dan
menggunakan uji Least Significant Difference konsentrasi 90% (12,98 mm) maka termasuk
(LSD) agar dapat diketahui seberapa besar kategori daya antifungi yang sedang.
perbedaan aktivitas antifungi dari setiap
Untuk kontrol positif (Ketokonazol) tidak dapat melakukan aktivitas hidup dan
kategori mengikuti Clinical and Laboratory pertumbuhannya terhambat atau bahkan
Standards Institute (CLSI, formerly NCCLS). mati.19
Diameter zona hambat dalam satuan Alkaloid adalah zat aktif dari tanaman
milimeter (mm) apabila diameter yang yang berfungsi sebagai obat dan aktivator
terbentuk 28 dikategorikan sensitif (S), kuat bagi sel imun yang menghancurkan
diameter 21-27 mm dikategorikan bakteri, virus, jamur dan sel kanker. Aktivitas
intermediate (I), dan diameter 20 antijamur dari alkaloid juga menghambat
dikategorikan resisten (R).16 Sedangkan pada sintesis protein dengan cara menghambat
penelitian ini tidak dilakukan perlakuan pada esterase, dan DNA dan RNA polimerase,
kontrol positif, tetapi hanya menggunakan menghambat respirasi sel, dan berperan dalam
standar pada CLSI. interkalasi DNA.20
Menurut Harboune dalam Dani, Senyawa-senyawa bioaktif yang
senyawa flavonoid masuk ke dalam sel jamur terkandung dalam daun sasating bersifat
melalui lubang pada membran sel yang fungistatik yakni mekanisme kerjanya
terbentuk karena senyawa fenol telah menghambat pertumbuhan jamur dalam
mendenaturasi lipid membran sel. Senyawa waktu tertentu. Hal tersebut ditunjukkan
protein tersebut akan terdenaturasi oleh dengan terbentuknya diameter zona hambat
flavonoid melalui ikatan hidrogennya. pada ekstrak etanol daun sasating pada 1x24
Kemampuan flavonoid mengikat protein jam.
menyebabkan pembentukkan dinding sel
terhambat sehingga pertumbuhan hifa juga 5. Kesimpulan
terhambat karena komposisi dinding sel yang 1. Ekstrak etanol daun sasating (Cassia
diperlukan tidak terpenuhi.17 alata Linn.) pada konsentrasi 50%,
Saponin dapat menekan pertumbuhan 60%, 70%, 80% dan 90% dapat
mikroba karena senyawa tersebut dapat menghambat pertumbuhan jamur
menurunkan tegangan permukaan dinding sel Candida albicans dengan metode
dan apabila berinteraksi dengan dinding sel difusi cakram Kirby-Bauer.
mikroba maka dinding tersebut akan pecah 2. Konsentrasi efektif ekstrak etanol
atau lisis. Saponin akan mengganggu daun sasating (Cassia alata Linn.)
tegangan permukaan dinding sel, maka saat yang dapat menghambat pertumbuhan
tegangan permukaan terganggu zat jamur Candida albicans adalah
antimikroba akan masuk dengan mudah ke konsentrasi 90% dengan nilai rata-rata
dalam sel dan akan mengganggu metabolisme diameter zona hambat sebesar 12,98
hingga akhirnya terjadilah kematian mm dengan metode difusi cakram
mikroba.18 Kirby-Bauer.
Senyawa tanin mampu menghambat
pertumbuhan jamur dengan cara DAFTAR PUSTAKA
mengkoagulasi protoplasma sel jamur. Tanin 1. Herawati, Erna. Kandidiasis Rongga
memiliki peran sebagai antijamur dengan cara Mulut Gambaran Klinis dan
mengikat protein, sehingga pembentukan Terapinya. Skripsi. Bandung: Fakultas
dinding sel akan terhambat. Mekanisme Kedokteran Universitas Padjajaran;
penghambatan tanin yaitu dengan cara 2008.
dinding sel jamur yang telah lisis akibat 2. Depkes RI. Profil Data Kesehatan
senyawa saponin dan flavonoid, sehingga Indonesia. Kementerian Kesehatan
menyebabkan senyawa tanin dapat dengan Republik Indonesia. [serial on the
mudah masuk ke dalam sel jamur dan internet] 2013. [cited 2015 Feb 6].
mengkoagulasi protoplasma sel akibatnya sel Available from:
www.depkes.go.id/resources/downloa 23]. Available from :
d/Riskesdas%2013 http://www.academia.edu/5748535/He
3. Melnick, Adelberg, Geo F.B. rbal_medicine.
Mikrobiologi Kedokteran Jawetz. 11. Bahri, S. Proses Simplisia. [serial in
Perkembangbiakan Mikroorganisme. the internet]. [update 2011 March at
In: Adisti Adityaputri, editor. Edisi 25. 12.25 am]. [cited 2015 July 23].
Jakarta: EGC; 2012. p. 200-227. Available from : http
4. Pratiwi, ST. Mikrobiologi Farmasi. ://www.repository.usu.ac.id/bitstream/
Jakarta: Erlangga; 2008. p. 212-220. 4/Chapter%20II.
5. Kusmardi, Kumala S, Triana EE. Efek 12. Puspa. Laporan Penguapan Daun
Imunomodulator Ekstrak Daun Jambang. [serial on the internet].
Ketepeng Cina (Cassia Alata) [update 2013 April at 12.42 am].
terhadap Aktivitas dan Kapasitas [cited 2015 July 23]. Available :
Fagositosis Makrofag. [serial on the http://www.academia.edu/9150820.
internet]. 2007. [cited 2015 Feb 6]. 13. Pelzcar MJ, Chan ECS. Dasar-dasar
Available from : Mikrobiologi. Jakarta: Universitas
http://www.journal.ui.ac.id/upload/arti Indonesia Press; 1977. p. 8-10.
kel/ html. 14. Elifah, Esty. Uji Antibakteri Fraksi
6. Sule WF, Okonko O, Joseph TA, et al. Aktif Ekstrak Metanol Daun Senggani
In Vitro Antifungal Activity of Senna (Melastoma candidum, D.Don)
alata Linn. Crude Leaf Extract [serial Terhadap Escherichia coli dan
on the internet]. 2010. [cited 2015 Feb Bacillus subtilis Serta Profil
7]. Available from : Kromatografi Lapis Tipisnya. Skripsi.
http://www.medwelljournals.com/ FMIPA UNS, Surakarta. 2010.
7. Bahi M, Radilla M, Mustanir, Endang 15. Puthera, A, G.N Agung dan A.S
L. Bioassay on n-Hexane Extract of Duniaji. Mempelajari Pengaruh
Leaves Cassia alata against Candida Konsentrasi Ekstrak Rimpang
albicans. Jurnal Natural. Vol. 14, No. Lengkuas (Alpinia galanga) Terhadap
1, 5-10. Banda Aceh: Fakultas Pertumbuhan Aspergillus flavus pada
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.).
Alam, Universitas Syiah Kuala; 2014. Vol. 4, No. 2. 2007. p. 131-136.
8. Atikah, Nur. Uji Aktivitas 16. NCCLS. Method for Antifungal Disk
Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi Diffusion Susceptibility Testing of
(Ocimum americanum L) Terhadap Yeasts. Agar Diffusion Method with
Staphylococcus aureus dan Candida Neo-Sensitabs Using Mueller-Hinton
albicans. Skripsi. Jakarta: Program agar with 2% glucose and 0.5 g/ml
Studi Farmasi, UIN Syarif methylene blue. Approved Sandard
Hidayatullah; 2013. M44-A2. 2011.
9. Mamun, S. Suhirman, F. Manoi, B. S. 17. Dani, I.W., Kiki N. dan Cut F.Z.
Sembiring, Tritianingsih, M. Penghambatan Pertumbuhan
Sukmasari, A. Gani, Tjitjah F., D. Aspergillus flavus dan Fusarium
Kustiwa. Teknik Pembuatan Simplisia moniliforme oleh Ekstrak Salam
Dan Ekstrak Purwoceng. Laporan (Eugenia polyantha) dan Kunyit
Pelaksanaan Penelitian Tanaman Obat (Curcuma domestica). Fakultas
dan Aromatik; 2006. MIPA: Jurusan Biologi, Universitas
10. Dayanti, Helin. Herbal Medicine. Sumatera Utara. p. 1-7.
[serial on the internet]. [Update 2011 18. Karlina C.Y., Ibrahim M., Trimulyono
June at 6.32 pm]. [Cited 2015 July G. Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Herba Krokot (Portulaca oleracea L.)
terhadap Staphylococcus aureus dan
Escherichia coli. E journal UNESA
LenteraBio. 2013. p. 8793.
19. Gholib, D. Uji Daya Hambat Daun
Senggani (Melastoma malabathricum
L) Terhadap Trichophyton
mentagrophytees dan Candida
albicans. Balai Besar Penelitian
Veteriner. Bogor. 2009.
20. Juliantina R.F., Citra M.D.A., Nirwani
B., NurmasitohT., Bowo E.T.,
Manfaat Sirih Merah (piper crocatum)
sebagai Agen Antibacterial Terhadap
Bakteri Gram Positif dan Gram
Negative. Jurnal Kedokteran dan
Kesehatan Indonesia. 2009.