Anda di halaman 1dari 5

TUGAS I: MANAJEMEN LABORATORIUM

Laboratorium kimia merupakan suatu tempat yang berbahaya, terutama bila kita ceroboh dan
kurang pengetahuan. Hanya dalam laboratorium yang aman seseorang dapat bekerja dengan aman,
produktif, dan efisien, bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan dan keracunan. Saat mengelola bahan
kimia laboratorium, tidak semua risiko bisa ditiadakan. Namun, keselamatan dan keamanan
laboratorium ditingkatkan melalui penilaian risiko berdasarkan informasi dan pengelolaan risiko yang
cermat. Pengelolaan masa pakai bahan kimia yang cermat tidak hanya meminimalkan risiko terhadap
manusia dan lingkungan, tetapi juga mengurangi biaya. Tujuan keamanan laboratorium adalah
menciptakan suasana laboratorium sebagai sarana belajar sains yang aman. Caranya adalah dengan
meningkatkan pengetahuan praktisi sains tentang keselamatan kerja, mengenal bahaya yang mungkin
terjadi serta upaya penanganannya.

Tidak dapat dielakkan semua alat dan bahan lambat laun akan mengalami kerusakan karena
dimakan usia, karena lamanya bahan- bahan tersebut, baik lama pemakaian maupun lama disimpan,
atau disebabkan oleh keadaan lingkungan. Sumber-sumber kerusakan yang disebabkan keberadaan
alat alat dan bahan-bahan kimia di dalam lingkungannya dapat digolongkan menjadi 6 golongan,
yaitu: udara, cairan, mekanik, sinar, api, dan sifat bahan kimia itu sendiri

Mengingat bahwa sering terjadi kebakaran, ledakan, atau bocornya bahan-bahan


kimia beracun dalam gudang, maka dalam penyimpanan bahan-bahan kimia selain
memperhatikan ketujuh sumber-sumber kerusakan di atas juga perlu diperhatikan factor
lain, yaitu:

Interaksi bahan kimia dengan wadahnya., bahan kimia dapat berinteraksi dengan wadahnya
dan dapat mengakibatkan kebocoran.
Kemungkinan interaksi antar bahan dapat menimbulkan ledakan, kebakaran, atau timbulnya
gas beracun

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas , beberapa syarat penyimpanan bahan secara


singkat adalah sebagai berikut:
1. Bahan beracun:

ruangan dingin dan berventilasi


jauh dari bahaya kebakaran
dipisahkan dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi
kran dari saluran gas harus tetap dalam keadaan tertutup rapat jika tidak sedang
dipergunakan
disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan

2. Bahan korosif
ruangan dingin dan berventilasi
wadah tertutup dan beretiket
dipisahkan dari zat-zat beracun.

3. Bahan mudah terbakar


temperatur dingin dan berventilasi
jauhkan dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik dan bara rokok
tersedia alat pemadam kebakaran

4. Bahan mudah meledak


ruangan dingin dan berventilasi
jauhkan dari panas dan api
hindarkan dari gesekan atau tumbukan mekanis
5. Gas bertekanan
disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan terikat
ruangan dingin dan tidak terkena langsung sinar matahari
jauh dari api dan panas
jauh dari bahan korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub
6. Bahan reaktif terhadap air
temperatur ruangan dingin, kering, dan berventilasi
jauh dari sumber nyala api atau panas
bangunan kedap air
disediakan pemadam kebakaran tanpa air (CO2, dry powder)
7. Bahan reaktif terhadap asam
ruangan dingin dan berventilasi
jauhkan dari sumber api, panas, dan asam
ruangan penyimpan perlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk
kantong-kantong hydrogen

Laboratorium kimia harus merupakan tempat yang aman bagi para penggunanya.
Dalam hal ini seorang laboran memegang peranan penting dalam menciptakan suatu
laboratorium yang aman. Dengan pengetahuan yang cukup tentang sifat-sifat bahan kimia yang
ada di laboratorium seorang laboran dapat mengetahui bagaimana cara menangani bahan kimia
tersebut, termasuk bagaimana cara menyimpan dengan baik dan aman. Dengan kerjasama yang
sinergis dari berbagai pihak maka akan tercipta laboratorium kimia yang aman dan nyaman
bagi semua orang yang menggunakannya.
TUGAS II: MANAJEMEN LABORATORIUM

Bekerja di dalam ruang tertutup (confined spaces) mempunyai resiko terhadap


keselamatan dan kesehatan pekerja di dalamnya. Oleh karenanya diperlukan aturan dalam
rangka memberikan jaminan perlindungan terhadap pekerja dan aset lainnya, baik melalui
peraturan perundang-undangan, program memasuki ruang tertutup dan persyaratan ataupun
prosedur untuk memasuki dan bekerja di dalam ruang tertutup.
Ruang tertutup adalah apabila seseorang bekerja dengan sebagian maupun seluruh
anggota tubuhnya berada di dalam ruang tertutup, antara lain:
Tangki penyimpanan, bejana transpor, boiler, dapur/tanur, silo dan jenis tangki lainnya
yang mempunyai lubang lalu orang;
Ruang terbuka di bagian atas yang melebihi kedalaman 1,5 meter seperti lubang lalu
orang yang tidak mendapat aliran udara yang cukup;
Jaringan perpipaan, terowongan bawah tanah dan struktur lainnya yang serupa;
Ruangan lainnya di atas kapal yang dapat dimasuki melalui lubang yang kecil seperti
tangki kargo, tangki minyak dan sebagainya
Berbagai jenis pekerjaan yang menyebabkan orang memasuki ruang tertutup, antara
lain:
Pemeliharaan (pencucian atau pembersihan)
Pemeriksaan
Pengelasan, pelapisan dan pelindungan karat
Perbaikan
Penyelamatan dan memberikan pertolongan kepada pekerja yang cidera atau pingsan
dari ruang tertutup;
Jenis pekerjaan lainnya yang mengharuskan masuk ke dalam ruang tertutup.
Dalam bekerja di ruang tertutup, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar
sesorang diperbolehkan untuk bekerja di ruang tertutup. Persyaratan umum keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) di ruang tertutup antara lain:
pengurus wajib melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap tempat kerja untuk
menentukan apakah terdapat ruang tertutup dengan ijin khusus.
jika pada tempat kerja terdapat ruang tertutup dengan ijin khusus, pengurus wajib
menginformasikannya kepada pekerja dengan memasang tanda bahaya
jika pengurus memutuskan bahwa pekerja tidak diperbolehkan memasuki ruang
tertutup dengan ijin khusus, pengurus wajib melakukan langkahlangkah untuk
mencegah dan melarang pekerja memasuki ruang tertutup tersebut.
Disamping itu pekerja juga memiliki persyaratan medis, antara lain:
Bekerja di ruang tertutup dapat memberikan tekanan fisik dan psikologis. Hal ini
dikarenakan kualitas penerangan yang buruk dan ruangan yang sempit, dapat
menyebabkan gangguan penglihatan dan keseimbangan karena menurunnya fungsi
koordinasi dan peredaran darah yang tidak normal.
Pengurus wajib memastikan petugas yang bekerja di ruang tertutup dalam keadaan
sehat secara fisik dan dinyatakan oleh dokter pemeriksa kesehatan kerja bahwa petugas
tersebut tidak mempunyai riwayat :
i. Sakit sawan atau epilepsi
ii. Penyakit jantung atau gangguan jantung
iii. Asma, bronchitis atau sesak napas apabila kelelahan
iv. Gangguan pendengaran
v. Kecacatan penglihatan permanen
vi. Penyakit lainnya yang dapat membahayakan keselamatan selama bekerja di
ruang tertutup
Sebelum kegiatan dilangsungkan, pengurus wajib memenuhi sistem perizinan K3
sebagai berikut:
pengurus wajib mendokumentasikan kelengkapan langkah-langkah pencegahan seperti
yang telah diatur.
ahli K3 yang dicantumkan dalam surat ijin wajib menandatangani ijin tersebut untuk
mensahkan kegiatan
Ijin yang telah lengkap harus diberikan pada saat dimulai kegiatan kepada seluruh
petugas utama yang berwenang atau perwakilannya
Durasi kegiatan yang tercantum dalam surat ijin tidak boleh melebihi waktu yang
diperlukan
Nama pekerja yang bertugas harus dicantumkan untuk memudahkan petugas madya
mengetahui petugas utama yang akan bekerja dalam ruangan untuk jangka waktu
tertentu, dengan cepat dan akurat
Mencantumkan Tim penyelamat dan tim tanggap darurat yang dapat dipanggil dan cara
untuk memanggilnya