Anda di halaman 1dari 35

SMF/Lab Radiologi Referat

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Hidropneumotoraks

Disusun oleh:

Chika Ahsanu Amala


NIM. 0910015052

Pembimbing:

dr. Dompak S. Hutapea, Sp. Rad

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Pada SMF/Lab Radiologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
2013

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
karunianya serta rahmat-NYA penulis dapat menyelesaikan referat ini. Tujuan
penulisan referat ini adalah salah satu tugas di bagian Radiologi.
Referat ini berisi mengenai hidropneumotoraks yang penulis harapkan dapat
memberikan informasi kepada para pembaca penyakit hidropneumotoraks itu sendiri.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini terutama ditujukan untuk pembimbing :
1. dr. Dompak S. Hutapea, Sp. Rad
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Samarinda, 14 Oktober 2013

Penulis

2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................3

1.1 Latar Belakang................................................................................................3

1.2 Tujuan.............................................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................5

2.1 Definisi............................................................................................................5

2.2 Klasifikasi.......................................................................................................5

2.3 Etiologi............................................................................................................8

2.4 Anatomi dan Fisiologi Pleura.........................................................................8

2.5 Patogenesis....................................................................................................10

2.6 Manifestasi Klinis.........................................................................................13

2.7 Diagnosis......................................................................................................13

2.8 Diagnosa Banding.........................................................................................29

2.9 Komplikasi....................................................................................................29

2.10 Penatalaksanaan............................................................................................30

2.11 Prognosis.......................................................................................................32

BAB III KESIMPULAN.............................................................................................34

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................35

3
BAB I

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Hidropneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana terdapat udara dan cairan


di dalam rongga pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan paru. Pleura secara
anatomis merupakan satu lapis sel mesotelial, ditunjang oleh jaringan ikat, pembuluh
darah kapiler dan pembuluh getah bening. Rongga pleura dibatasi oleh 2 lapisan tipis sel
mesotelial yaitu pleura parietalis dan pleura visceralis. Pleura parietalis melapisi otot-otot
dinding dada, tulang dan kartilago, diafragma dan mediastinum yang sangat sensitif
terhadap nyeri. Pleura visceralis melapisi paru dan menyusup ke dalam semua fisura dan
tidak sensitif terhadap nyeri. Rongga pleura yang normal hanya berisi cairan 10-20ml
sebagai pelumas diantara kedua lapisan pleura. Namun bila rongga pleura berisikan udara
dan cairan yang lebih banyak maka hal itulah yang disebut dengan hidropneumotoraks.1
Belum terdapat penelitian mengenai seberapa besarnya insiden dan prevalensi
hidropneumotoraks, namun insiden dan prevalensi pneumotoraks didapatkan berkisar 2,4
- 17,8 per 100.000 penduduk per tahun. Perbandingan prevalensi insiden pneumotoraks
laki-laki dengan perempuan yaitu 5:1 dan ada pula peneliti yang mendapatkan 8:1.
Pneumotoraks lebih sering ditemukan pada hemitoraks kanan daripada hemitoraks
kiri. Kemungkinan berulangnya pneumotoraks menurut James dan Studdy 20% untuk
kedua kali,dan 50% untuk yang ketiga kali.2,3,4
Tanda dan gejala yang timbul pada hidropneumotoraks tergantung pada besarnya
kerusakan yang terjadi pada sub pleura dan ada tidaknya komplikasi penyakit paru.
Gejala-gejala hidropneumotoraks yang umumnya terjadi adalah nyeri dada, sesak,
dan kadang-kadang disertai dengan batuk. Sesak yang terjadi biasanya akan

4
bertambah berat dan nyeri dada kadang-kadang menyebar ke arah bahu,
hipokondrium dan skapula.5
Komplikasi dari pneumotoraks yang tidak segera ditangani diantaranya adalah
pleuritis, empiema , hidropneumotoraks, gangguan hemodinamika, emfisema, tension
pneumotoraks, dan lain-lain. Udara yang terkumpul dalam cavum pleura pada
pneumotoraks, akan menekan paru hingga sering timbul gagal napas yang menyebabkan
kematian.4,5
Diagnosis hidropneumotoraks ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan gejala klinis, serta pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menunjang
diagnosis yaitu pemeriksaan radiologi foto toraks.5

2 Tujuan

Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis dan


pembaca mengenai penegakan diagnosis hidropneumotoraks dengan gambaran
radiologi.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1 Definisi
Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara di dalam rongga
pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan paru.2,3,4 Sedangkan
hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara dan juga cairan di
dalam rongga pleura yang mengakibatkan pula kolapsnya jaringan paru. Cairan ini
bisa disertai dengan nanah (empiema), hal ini dinamakan dengan
piopneumotoraks.6,7,8

2 Klasifikasi
Pneumotoraks dapat dikelompokkan berdasarkan 2,3,4:
1. Kejadian
2. Lokalisasi
3. Tingkat Kolaps Jaringan Paru
4. Jenis Fistula

Berdasarkan kejadian, pneumotoraks dibagi menjadi :


1. Pneumotoraks spontan1 :
a. Pneumotoraks spontan primer
Pneumotoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari
sebelumnya. Umumnya terjadi pada dewasa muda dengan fisik yang sehat dengan
penyebab yang masih idiopatik.

6
b. Pneumotoraks spontan sekunder
Pneumotoraks yang terjadi disebabkan karena penyakit paru yang
mendasarinya, seperti pneumonia, abses paru, tuberkulosis paru, PPOK, asma,
kistafibrosis, ca bronkus, dan lain-lain.
2. Pneumotoraks traumatik :
a. Pneumotoraks traumatik bukan iatrogenik
Pneumotoraks yang timbul disebabkan adanya jejas kecelakaan, misalnya jejas
dinding dada baik terbuka maupun tertutup, barotraumas.
b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik
Pneumotoraks yang timbul akibat komplikasi dari tindakan medis (biopsi
pleura, transbronkial, kanulasi vena sentral, dan sebagainya).
3. Pneumotoraks artifisialis
Pneumotoraks yang dibuat dengan memasukkan udara ke dalam rongga pleura,
dengan demikian jaringan paru menjadi kolaps sehingga dapat beristirahat. Pada
zaman dulu pneumotoraks artifisialis sering dikerjakan untuk terapi tuberkulosis paru.

Berdasarkan lokalisasi, pneumotoraks dibagi menjadi :


1. Pneumotoraks parietalis
2. Pneumotoraks mediastinalis
3. Pneumotoraks basalis

Berdasarkan tingkat kolaps jaringan paru, pneumotoraks dibagi menjadi :


1. Pneumotoraks totalis, apabila seluruh jaringan paru dari satu hemitoraks
mengalami kolaps.
2. Pneumotoraks parsialis, apabila jaringan paru yang kolaps hanya sebagian.

7
Berdasarkan jenis fistula, pneumotoraks dibagi menjadi1,19 :
1. Pneumotoraks terbuka
Pneumotoraks yang terjadi karena luka terbuka dinding dada sehingga rongga
pleura mempunyai hubungan dengan bronkus atau dengan dunia luar; tekanan di
dalam rongga pleura sama dengan tekanan di udara bebas. Keadaan ini dapat terjadi
akibat tusukan, terkena ledakan, dan lain-lain.
2. Pneumotoraks tertutup
Pneumotoraks dengan tekanan udara di rongga pleura sedikit lebih tinggi
dibandingkan tekanan udara pleura pada sisi hemitoraks kontralateral, tetapi
tekanannya masih lebih rendah dibanding dengan tekanan atmosfer.
3. Pneumotoraks ventil
Pneumotoraks yang terjadi karena mekanisme ventil yaitu udara dapat masuk ke
dalam rongga pleura tetapi tidak dapat ke luar kembali. Akibatnya tekanan udara di
dalam rongga pleura meningkat sehingga sering menimbulkan gagal napas dan dapat
mendorong mediastinum ke arah kontralateral.

8
3 Etiologi
Pneumotoraks spontan disebabkan karena pecahnya bleb atau kista kecil yang
diameternya tidak lebih dari 1-2cm di bawah pleura visceralis, yang biasanya
ditemukan di apeks lobus superior dan inferior. Bleb terbentuk karena perembesan
udara dinding alveoli yang ruptur. Pecahnya dinding alveolus tersebut diduga akibat
infeksi atau radang paru yang membentuk jaringan parut di dinding alveolus, atau
karena tekanan intraalveolar yang tinggi akibat batuk dan mengejan.2,3,4
Hidropneumotoraks bisa disertai dengan nanah yang sering disebut dengan
piopneumotoraks. Piopneumotoraks diakibatkan oleh infeksi yang berasal dari
mikroorganisme yang membentuk gas, dari robekan septik jaringan paru atau
esofagus ke arah rongga pleura. Kejadian terbanyak terjadi dari robekan abses
subpleura yang membuat fistula bronkopleura. Jenis kuman yang sering didapat
adalah Stafilokokus Aureus, Klebsiela, micobakterium tuberkulosa. Beberapa
penyebab hidropneumotoraks adalah trauma, thoracentesis, operasi, esofagus pecah,
dan empiema.2,4,8

4 Anatomi dan Fisiologi Pleura


Pleura adalah suatu membran serosa yang melapisi permukaan dalam dinding
toraks kanan dan kiri,melapisi permukaan superior diafragma kanan dan kiri, melapisi
mediastinum kanan dan kiri yang semuanya disebut pleura parietalis. Kemudian pada
pangkal paru, membran serosa ini berbalik melapisi paru dan disebut pleura visceralis
yang berinvaginasi mengikuti fisura yang membagi tiap lobusnya.
Di antara pleura parietal dan viseral terdapat ruang yang disebut rongga pleura
yang didalamnya terdapat cairan pleura seperti lapisan film karena jumlahnya sangat
sedikit yang hanya berfungsi memisahkan pleura parietal dan viseral. Cairan pleura
masuk ke dalam rongga pleura dari dinding dada yaitu bagian pleura parietalis dan
mengalir meninggalkan rongga pleura menembus pleura visceralis untuk masuk ke
dalam aliran limfa. melumasi permukaan pleura sehingga memungkinkan gesekan

9
kedua lapisan tersebut pada saat pernafasan. Arah aliran cairan pleura tersebut
ditentukan oleh tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik di kapiler sistemik.

Proses inspirasi jika tekanan paru lebih kecil dari tekanan atmosfer. Tekanan paru
dapat lebih kecil jika volumenya diperbesar. Membesarnya volume paru diakibatkan
oleh pembesaran rongga dada. Pembesaran rongga dada terjadi akibat 2 faktor, yaitu
faktor thoracal dan abdominal. Faktor thoracal (gerakan otot-otot pernafasan pada
dinding dada) akan memperbesar rongga dada ke arah transversal dan anterosuperior,
sementara faktor abdominal (kontraksi diafragma) akan memperbesar diameter
vertikal rongga dada. Akibat membesarnya rongga dada dan tekanan negatif pada
kavum pleura, paru-paru menjadi terhisap sehingga mengembang dan volumenya
membesar, tekanan intrapulmoner pun menurun. Oleh karena itu, udara yang kaya O2
akan bergerak dari lingkungan luar ke alveolus. Di alveolus, O2 akan berdifusi masuk
ke kapiler sementara CO2 akan berdifusi dari kapiler ke alveolus.
Sebaliknya, proses ekspirasi terjadi bila tekanan intrapulmonal lebih besar dari
tekanan atmosfer. Kerja otot-otot ekspirasi dan relaksasi diafragma akan

10
mengakibatkan rongga dada kembali ke ukuran semula sehingga tekanan pada kavum
pleura menjadi lebih positif dan mendesak paru-paru. Akibatnya, tekanan
intrapulmoner akan meningkat sehingga udara yang kaya CO2 akan keluar dari peru-
paru ke atmosfer.

5 Patogenesis
Keadaan fisiologi dalam rongga dada pada waktu inspirasi tekanan intrapleura lebih
negatif dari tekanan intrabronkial, maka paru mengembang mengikuti gerakan dinding
dada sehingga udara dari luar akan terhisap masuk melalui bronkus hingga mencapai
alveol. Pada saat ekspirasi dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan
intrapleura akan lebih tinggi daripada tekanan udara alveol atau di bronkus akibatnya
udara akan ditekan keluar melalui bronkus. 21
Tekanan intrabronkial akan meningkat apabila ada tahanan pada saluran pernafasan
dan akan meningkat lebih besar lagi pada permulaan batuk, bersin atau mengejan.
Peningkatan tekanan intrabronkial akan mencapai puncak sesaat sebelum batuk, bersin,
dan mengejan. Apabila di bagian perifer bronki atau alveol ada bagian yang lemah, maka
kemungkinan terjadinya robekan bronki atau alveol akan sangat mudah. 21
Dengan cara demikian dugaan terjadinya pneumotoraks dapat dijelaskan yaitu jika
ada kebocoran di bagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pleura yang pecah.
Bagian yang robek tersebut berhubungan dengan bronkus. Pelebaran alveoli dan septa-
septa alveol yang pecah kemudian membentuk suatu bula yang berdinding tipis di dekat
daerah yang ada proses non spesifik atau fibrosis granulomatosa. Keadaan ini merupakan
penyebab yang paling sering dari pneumotoraks. 21
Pneumotoraks merupakan suatu kondisi dimana terdapat udara pada kavum
pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara sehingga paru-paru
dapat leluasa mengembang dalam rongga dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat
ditimbulkan oleh :
a. Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari
alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumotoraks jenis ini disebut
sebagai closed pneumotoraks. Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi

11
sebagai katup, maka udara yang masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar
dari kavum pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya, udara semakin lama
semakin banyak sehingga mendorong mediastinum ke arah kontralateral dan
menyebabkan terjadinya tension pneumotoraks.
b. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan
antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih
besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara cenderung lebih melewati lubang
tersebut dibanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi,
tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke
kavum pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru
ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara
dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai
open pneumotoraks.
Pada manusia normal tekanan dalam rongga pleura adalah negatif. Tekanan
negatif disebabkan karena kecenderungan paru untuk kolaps ( elastis recoil ) dan
dinding dada yang cenderung mengembang. Bilamana terjadi hubungan antara alveol
atau ruang udara intrapulmoner lainnya ( kavitas, bulla ) dengan rongga udara pleura
oleh sebab apapun, maka udara akan mengalir dari alveol ke rongga pleura sampai
terjadi keseimbangan tekanan atau hubungan tersebut tertutup. sama halnya dengan
mekanisme diatas, maka bila ada hubungan antara udara luar dengan rongga pleura
melalui dinding dada, udara akan masuk ke rongga pleura sampai perbedaan tekanan
menghilang atau hubungan menutup. 21
Pada kasus Pneumotoraks ditemukan juga sedikit cairan dalam pleuranya, cairan
biasanya bersifat serosa atau kemerahan ( berdarah ) Hidrotoraks timbul dengan cepat
setelah terjadinya Pneumotoraks pada kasus kasus trauma / perdarahan intrapleural.

12
Ada beberapa kemungkinan komplikasi pneumotoraks, suatu katup bola yang
bocor yang menyebabkan tekanan pneumotoraks bergeser ke mediastinum. Sirkulasi paru
dapat menurun dan mungkin menjadi fatal. Apabila kebocoran tertutup dan paru tidak
mengadakan ekspansi kembali dalam beberapa minggu , jaringan parut dapat terjadi

13
sehingga tidak pernah ekspansi kembali secara keseluruhan. Pada keadaan ini cairan
serosa terkumpul di dalam rongga pleura dan menimbulkan suatu hidropneumotoraks. 21
Hidropneumotoraks spontan sekunder bisa merupakan komplikasi dari TB paru dan
pneumotoraks yaitu dengan rupturnya fokus subpleura dari jaringan nekrotik perkejuan
sehingga tuberkuloprotein yang ada di dalam masuk rongga pleura dan udara dapat
masuk dalam paru pada proses inspirasi tetapi tidak dapat keluar paru ketika proses
ekspirasi, semakin lama tekanan udara dalam rongga pleura akan meningkat melebihi
tekanan atmosfer, udara yang terkumpul dalam rongga pleura akan menekan paru
sehingga sering timbul gagal napas. 21

6 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang timbul pada pneumotoraks tergantung pada besarnya
kerusakan yang terjadi pada sub pleura dan ada tidaknya komplikasi penyakit paru.
Gejala yang utama adalah nyeri dada (90%) yang tiba - tiba bersifat unilateral diikuti
sesak napas (80%), batuk (10%) dan terdapat pula asimtomatis (5%) serta takikardia.
Selain itu terdapat gejala klinis yang lain yaitu suara melemah, nyeri menusuk pada
dada waktu inspirasi, dan kelemahan fisik.
Pada tahap yang lebih berat gejala semakin lama akan semakin memberat,
penderita gelisah sekali, trakea dan mediastinum dapat terdorong ke sisi kontralateral.
Gerakan pernafasan pada sisi yang sakit menyebabkan fungsi respirasi menurun,
sianosis disertai syok oleh karena aliran darah yang terganggu akibat penekanan oleh
udara, dan curah jantung menurun.8

7 Diagnosis
Diagnosis hidropneumotoraks harus ditegakkan sedini mungkin untuk mencegah
perburukan keadaan pasien. Untuk menegakkan diagnosa perlu dilakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya.1

Anamnesis
Biasanya terdapat anamnesis yang khas, yaitu rasa nyeri pada dada seperti
ditusuk, disertai sesak nafas dan kadang-kadang disertai dengan batuk. Nyeri dada

14
dan sesak nafas ini makin lama dapat berkurang atau bertambah hebat. Berat
ringannya perasaan sesak nafas ini tergantung dari derajat penguncupan paru, dan
apakah paru dalam keadaan sakit atau tidak. Pada penderita COPD, pneumotoraks
yang minimal sekali pun akan menimbulkan sesak nafas yang hebat. Sakit dada
biasanya datang tiba-tiba seperti ditusuk-tusuk pada sisi paru yang terkena, kadang
menyebar ke arah bahu, hipokondrium dan skapula. Rasa sakit bertambah waktu
bernafas dan batuk. Sakit dada biasanya akan berangsur-angsur hilang dalam waktu
satu sampai empat hari.5
Batuk merupakan keluhan yang jarang bila tidak disertai penyakit paru lain,
tidak berlangsung lama dan tidak produktif. Keluhan.keluhan tersebut di atas dapat
terjadi bersama-sama atau sendiri-sendiri, bahkan ada penderita pneumotoraks yang
tidak mempunyai keluhan sama sekali. Pada penderita pneumotoraks ventil, rasa
nyeri dan sesak nafas ini makin lama makin hebat, penderita gelisah, sianosis,
akhirnya dapat mengalami syok karena gangguan aliran darah akibat penekanan
udara pada pembuluh darah di mediastinum.5

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
a. Sesak Napas
b. Pergerakan dada berkurang
c. Batuk-batuk
d. Sianosis
e. Iktus kordis tergeser ke arah yang sehat
2. Palpasi
a. Fremitus melemah sampai menghilang
b. Spatium intercostalis melebar
c. Trakea terdorong ke arah yang sehat
d. Iktus kordis tidak teraba atau terdorong ke arah yang sehat
3. Perkusi

15
Resonansi perkusi meningkat atau hipersonor
4. Auskultasi
Suara napas melemah sampai menghilang

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Radiologi
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan Rontgen foto toraks.
Pneumotoraks paling baik digambarkan dengan ketajaman rendah.20 Pada rontgen
foto toraks PA akan terlihat garis penguncupan paru yang halus seperti rambut.
Apabila pneumotoraks disertai dengan adanya cairan di dalam rongga pleura
(hidropneumotoraks), akan tampak gambaran garis datar yang merupakan batas udara
dan caftan. Sebaiknya rontgen foto toraks dibuat dalam keadaan ekspirasi maksimal.11
Gambaran radiologi pada pneumotoraks terlihat garis putih pada tepi paru pleura
visceral, tidak adanya corakan paru antara tepi paru dan dinding dada, terjadi
pergeseran mediastinum pada pneumotoraks tension.20 Gambaran radiologi
hidropneumotoraks merupakan perpaduan antara gambaran radiologi dari efusi pleura
dan pneumotoraks. Pada hidropneumotoraks, cairan pleura selalu bersama-sama
udara, maka meniscussign tidak tampak. Pada foto lurus akan dijumpai air fluid level
meskipun cairan sedikit. Pada foto tegak terlihat garis mendatar karena adanya udara
di atas cairan. Gambaran radiologi pada hidropneumotoraks adalah terdapat ruang
pleura yang sangat translusen dan tidak terdapat gambaran pembuluh darah paru,
biasanya tampak garis putih tegas membatasi pleura visceralis yang membatasi paru
yang kolaps, tampak gambaran semiopak homogen menutupi paru bawah, dan
penumpukan cairan di dalam cavum pleura yang menyebabkan sinus costofrenikus
menumpul.12,13

a. Chest X-Ray

16
Gambar 1. The
above three
images show a hidropneumotoraks in three different views. The PA, lateral, and right decube
reveal a layering out of the air and fluid.
The right decube film demonstrates a right hidropneumotoraks.
Note the pleural air/fluid level demonstrated by the horizontal air/fluid interface (arrows).

17
Gambar 2. Hidropneumotoraks was seen at posterior-anterior (PA) and lateral views of
chest X-ray. Hidropneumotoraks is a pneumotoraks with an accompanying pleural effusion
appearing as a horizontal edge (See figures A and B). Hidropneumotoraks is a common chest
radiograph finding. On an erect (PA) chest radiograph, recognition of hidropneumotoraks
can be rather easy - and is clasically shown as an air-fluid level. There is a left subpulmonic
air fluid level consistent with hidropneumotoraks with air collecting in the apical pleural
space.9

Gambar 3. A
hidropneumotoraks
with white arrow point
to the pulmonary
pleura

18
Gambar 4. Air in
pleural cavity. Lung
margin visible .
Bilateral fluid level:
Any time you see a
horizontal
fluid level,
it means that there
is air and fluid in
the pleural
space.

19
Gambar 5. A left-sided hidropneumotoraks (white arrow) with complete collapse of the left
lung (black arrows)

Gambar 6. Chest radiograph shows right hydropneumothorax. Horizontal line in lower


right hemithorax is interface between air and liquid in pleural space. Arrows point to
visceral pleura above level of effusion. There is air in pleural space between visceral pleura
and chest wall.
b. USG (Ultrasonography)

20
Gambar 7. Normal lung on thoracic ultrasonography. The pleural stripe (solid arrow) and
comet-tail (open arrow) appearances are shown.

Gambar 8. Hydropneumothorax on thoracic ultrasonography. The area of fluid (solid arrow)


is adjacent to the pneumothorax (open arrow)a featureless opacity that obscures
underlying structures and lacks the lung sliding and comet-tail signs.

21
Gambar 9. Lung sliding (on M-Mode sonography). P, pleura. Panel (A) shows the granular
sea-shore appearance of normal lung sliding. Panel (B) shows the horizontal bar-code
appearance that occurs with loss of lung sliding.16

22
Gambar 10. Sonogram of a hydropneumothorax. Notice the gasfluid and fibrin interface
(arrow) between the bright hyperechoic line dorsally representing the pneumothorax and the
ventral fluid and fibrin.

c. CT scan

23
Gambar 11. A 73-year-old man presented with a 3-week history of right-sided pleuritic chest
pain and shortness of breath. He denied any additional symptoms of productive cough, fever,
weight loss or haemoptysis. His only significant past medical history consisted of
hypertension and hypercholesteraemia, for which he took lisinopril, bendrofluazide and
simvastatin. He had worked predominantly in the aluminium trade but had also worked for
10 years at a coal-fired power station. He was an ex-smoker, having accumulated a 40-pack-
year history but having stopped 13 years previously. A chest radiograph revealed a moderate
right hydropneumothorax. A pleural aspiration was performed and 1020 ml of air was
aspirated that appeared to resolve the pneumothorax.

A chest radiograph performed one month later revealed a re-accumulation of the right
hydropneumothorax. Further investigations were undertaken. A computed tomogram (CT) of
the chest confirmed the persistent right-sided hydropneumothorax along with multiple non-
calcified pleural plaques. Fibre-optic bronchoscopy revealed no abnormalities. CT scan of
the chest demonstrating a right-sided pneumothorax and surrounding non-calcified pleural
thickening.

In view of the persistent hydropneumothorax, the patient was admitted and an intercostal
drain was inserted into the right pleural space. Over the next 72 h, the chest drain
demonstrated continued bubbling when the patient coughed, suggesting a bronchopleural
fistula. The patient was therefore referred to the cardiothoracic surgeons. A video-assisted
thoracoscopy (VATS) was undertaken. Marked pleural thickening was observed and
extensively biopsied prior to pleurodesis. These biopsies subsequently revealed a malignant
epitheloid mesothelioma. The patient was referred to the oncologists for further treatment
including prophylactic port-site radiotherapy to his right chest wall. 14

24
Gambar 12. Complicated tethered pneumothorax secondary to obstructive lung disease in a
58-year-old man. CT guidance was subsequently used for drain insertion.

Gambar13. Left-sided pneumothorax (right side of image) on CT scan of the chest with chest
tube in place.17

25
Gambar 14. CT chest: Arrow A- air, B- Fluid. Large hydro-pneumothorax, unilocular, some
pleural thickening. Appearance suggestive of empyema. Associated collapse of right lung.
Air in this patient is iatrogenic, from introduction of previous chest drain. Permission
obtained from patient.

Gambar 15. Single axial CT scan in


lung windows shows a large right
sided hydropneumothorax with
apparent communication with a
bronchus in an area of scarring and
traction bronchiectasis, worrisome
for bronchopleural fistula
History: 65 year old male with a
chronic right sided
hydropneumothorax for 3 years
after spontaneous pneumothorax. 18

26
d. X-ray dan CT scan pada pasien yang sama

Gambar 16. Frontal chest


radiograph and CT show
a right pleural effusion
(black arrows) and a right
pneumothorax (white
arrows)

27
e. MRI

28
8 Diagnosa Banding

1. Emfisema pulmonum
2. Kavitas raksasa
3. Kista paru
4. Infarkjantung
5. Infark paru
6. Pleuritis
7. Abses paru dengan kavitas4,5

9 Komplikasi

Pada Pneumotoraks yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan4,5 :


1. Infeksi sekunder sehingga dapat menimbulkan pleuritis, empiema ,
hidropneumotoraks.
2. Gangguan hemodinamika.
Pada pneumotoraks yang hebat, seluruh mediastinum dan jantung dapat
tergeser ke arah yang sehat dan mengakibatkan penurunan kardiak "output",
sehingga dengan demikian dapat menimbulkan syok kardiogenik.
3. Emfisema; dapat berupa emfisema kutis atau emfisema mediastinalis
4. Tension Pneumotoraks
Komplikasi ini terjadi karena tekanan dalam rongga pleura meningkat
sehingga paru mengempis lebih hebat, mediastinum tergeser kesisi lain dan
mempengaruhi aliran darah vena keatrium kanan.
5. Pio Pneumotoraks
Pio Pneumotoraks berarti Pneumotoraks yang disertai empiema secara
bersamaan pada sisi paru. Infeksinya berasal dari mikroorganisme yang
membentuk gas atau dari robekan septik jaringan paru atau esofagus kearah
rongga pleura, kebanyakan berasal dari robekan abses sub pleural dan sering
membuat fistula broncopleura. Jenis kuman yang sering terdapat adalah
Stappylococcus, Pseudomonnas, Mycobacterium Tuberculosis.
6. Hidropneumotoraks, Hemopneumotoraks

29
Pada kasus Pneumotoraks ditemukan juga sedikit cairan dalam pleuranya,
cairan biasanya bersifat serosa atau kemerahan ( berdarah ) Hidrotoraks timbul
dengan cepat setelah terjadinya Pneumotoraks pada kasus kausus trauma /
perdarahan intrapleural.
7. Pneumotoraks mediastinum
Adanya Pneumotoraks mediastinum dapat ditemukan dengan pemeriksaan
foto dada. Kelainan ini dimuali dari robekannya alveoli ke dalam jaringan
interstisium paru dan kemudian diikuti oleh pergerakan udara yang progresif
kearah mediastinum ( menimbulkan Pneumomediastinum ) Pneumomediastinum
jarang menunjukan kelainan klinis, walaupun secara potensi dapat menyebabkan
tamponade saluran darah besar.
8. Pneumotoraks stimultan bilateral
Pneumotoraks yang terjadi pada kedua paru secara serentak, keadaan ini
timbul secara serentak dan sebagai kelanjutan pneumomediastinum yang secara
sekunder berasal dari efisien jaringan interstitial paru.
9. Pneumotoraks kronik
Pneumotoraks dinyatakan kronik bila tetap ada pada waktu lebih dari 3 bulan.
Pneumotoraks kronik ini terjadi bila fistula bronko pleura tetap membuka
dikarenakan adanya perlengkapan pleura yang menyebabkan robekan paru tetap
terbuka.

10 Penatalaksanaan

Setelah diagnosis pneumotoraks dapat ditegakkan, langkah selanjutnya yang


terpenting adalah melakukan observasi yang cermat. Oleh karena itu penderita
sebaiknya dirawat di rumah sakit, mengingat sifat fistula pneumotoraks dapat
berubah sewaktu-waktu yaitu dari pneumotoraks terbuka menjadi tertutup ataupun
ventil. Sehingga tidak jarang penderita yang tampaknya tidak apa-apa tiba-tiba
menjadi gawat karena terjadi pneumotoraks ventil atau perdarahan yang hebat.

30
Tindakan pengobatan pneumotoraks tergantung dari luasnya pneumotoraks.
Tujuan dari penatalaksanaan tersebut yaitu untuk mengeluarkan udara dari rongga
pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi. British Thoracic Society
dan America College of Chest Physicians telah memberikan rekomendasi untuk
penanganan pneumotoraks. Prinsip-prinsip penanganan pneumotoraks adalah
observasi dan pemberian tambahan oksigen, aspirasi sederhana dengan jarum dan
pemasangan torakostomi dengan atau tanpa pleurodesis, torakoskopi dengan
pleurodesis dan penanganan terhadap adanya bleb atau bula, dan torakotomi.1
Apabila penderita datang dengan sesak nafas, apalagi kalau sesak nafas makin
lama makin bertambah kita harus segera mengambil tindakan. Tindakan yang lazim
dikerjakan ialah pemasangan WSD (Water Seal Drainage). Apabila penderita sesak
sekali sebelum WSD dapat dipasang, pasien harus segera ditusukkan jarum ke dalam
rongga pleura. Tindakan sederhana ini akan dapat menolong dan menyelamatkan jiwa
penderita. Bila alat-alat WSD tidak ada, dapat digunakan infus set, dimana jarumnya
ditusukkan ke dalam rongga pleura ditempat yang paling sonor waktu diperkusi.
Sedangkan ujung selang infus yang lainnya dimasukkan ke dalam botol yang berisi
air.1
Pneumotoraks tertutup yang tidak terlalu luas (Kurang dari 20% paru yang
kolaps) dapat dirawat secara konservatif, tetapi pada umumnya untuk mempercepat
pengembangan paru lebih baik dipasang WSD. Pneumotoraks terbuka dapat dirawat
secara konservatif dengan mengusahakan penutupan fistula dengan cara memasukkan
darah atau glukosa hipertonis kedalam rongga pleura sebagai pleurodesi. Ada juga
para ahli yang mengobati pneumotoraks terbuka dengan memasang WSD disertai
penghisap terus menerus.2,3

Waktu Pencabutan WSD


WSD dicabut apabila paru telah mengembang sempurna. Untuk mengetahui
paru sudah mengembang adalah dengan meminta penderita untuk batuk, apabila di

31
selang WSD tidak tampak lagi fluktuasi permukaan cairan, kemungkinan besar paru
telah mengembang dan juga disesuaikan dengan hasil pemeriksaan fisik. Untuk
mengetahui secara pasti paru telah mengembang dilakukan Rontgen foto toraks.,2,3
Setelah dipastikan bahwa paru telah mengembang sempurna, sebaiknya WSD
jangan langsung dicabut tapi diklem dulu selama 3 hari. Setelah 3 hari klem dibuka.
Apabila paru masih tetap mengembang dengan baik baru selang WSD dicabut.
Selang WSD dicabut pada waktu penderita Ekspirasi maksimal.2,3

Teknik Pemasangan WSD


Tempat pemasangan drain sebaiknya ialah :
a. Linea aksilaris media pada sela iga 6 atau sela iga ke 7.
b. Linea media klavikularis pada sela iga ke dua.
Setelah dilakukan desinfeksi kulit, maka dilakukan anestesi setempat dengan cara
infiltrasi pada daerah kulit sampai pleura. Kemudian dibuat sayatan kulit sepanjang 2
cm sampai jaringan di bawah kulit. Pleura parietalis ditembus dengan jarum pungsi
yang pakai trokar dan mandrin. Setelah tertem- bus, mandarin dicabut akan terasa
keluar udara. Kemudian mandrin diganti dengan kateter yang terlebih dahulu telah
diberi lobang secukupnya pada ujungnya. Setelah kateter masuk rongga pleura trokar
dicabut dan pangkal kateter disambung dengan selang yang dihubungkan dengan
botol yang berisi air, di mana ujungnya terbenam 2 cm. Kateter diikat dengan
benang yang dijahitkan kepada kulit sambil menutup luka.2,3

11 Prognosis

Pasien dengan pneumotoraks spontan hampir separuhnya mengalami


kekambuhan, setelah sembuh dari observasi maupun setelah pemasangan tube
thoracostomy. Kekambuhan jarang terjadi pada pasien-pasien pneumotoraks yang
dilakukan torakotomi terbuka. Pasien-pasien yang penatalaksanaanya cukup baik,
umumnya tidak dijumpai komplikasi. Pasien pneumotoraks spontan sekunder

32
tergantung penyakit paru yang mendasarinya, misalkan pada pasien PSS dengan
COPD harus lebih berhati-hati karena sangat berbahaya.1

BAB III
KESIMPULAN

Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara dan juga


cairan di dalam rongga pleura yang mengakibatkan pula kolapsnya jaringan paru.
Diagnosis hidropneumotoraks dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa foto toraks, MRI, USG, ataupun Ct scan.
Penatalaksanaan umum pneumotoraks meliputi observasi dan pemberian tambahan
oksigen, aspirasi sederhana dengan jarum dan pemasangan torakostomi dengan atau
tanpa pleurodesis, torakoskopi dengan pleurodesis dan penanganan terhadap adanya
bleb atau bula, dan torakotomi. Prognosis hidropneumotoraks tergantung dari
penyakit paru yang mendasarinya.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Hisyam, B., & Budiono, E. 2006. Pneumotoraks Spontan. Jakarta: Pusat


Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Indonesia.
2. Amirullah R, Penatalaksanaan Pneumotoraks di dalam Praktek. Retrieved
October 8, 2013, from http://www.kalbe.co.id.
3. http://www. Turkishrespiratory journal.com.
4. Alsagaff, H., & Mukty, A. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:
Airlangga University Press.
5. http://dokterkharisma.blogspot.com/2008/08/pneumotoraks.html.
6. http://www. Lemon. Medical symposium.com [diakses tanggal 8 Oktober
2013]
7. http://www. medhelp. org Imedikal Dictionary [diakses tanggal 8 Oktober
2013]

34
8. Ferri, F. F. (2014). Ferri's Clinical Advisor 2014.
9. Darmanto Djojodibroto, 2009, Respirologi, EGC
10. Robbins, Kumar, 1995, Buku ajar patologi, jakarta, Balai penerbit FKUI
11. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09
12. Sjahriar rasad, 2009, Radiologi diagnostik, jakarta, Balai penerbit FKUI
13. Kahar Kusumawidjaja, 2000, Pleura dan Mediastinum, Radiologi diagnositik,
Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
14. Guha, K., Jones, D., Hull, J. H., & Timothy. (2008). Recurrent
hydropneumothorax as a presenting feature of malignant mesothelioma.
European Journal of Internal Medicine , 63-64.
15. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Hydro_pneumothorax.jpg
16. Liao, W.-c., Tu, C.-y., Shih, C.-m., Chen, C.-h., Chen, H.-j., & Wu-huei, H. (2013).
Advancements and Breakthroughs in Ultrasound Imaging. In U. D. Diseaseses. 3.o
license. Di akses 16 Oktober 2013 dari www.intechopen.com
17. http://clinicalcases.blogspot.com/2004/02/tension-pneumothorax.html
18. http://radiologypics.com/tag/hydropneumothorax/
19. Malueka, R. G. (2006). Radiologi Diagnostik. yogyakarta: Pustaka Cendekia.
20. Patel, P. R. (2006). Lecture Notes Radiologi. Jakarta: Erlangga.
21. Sadhyo, M. (2010). Hidropneumothorax. Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi.

35

Anda mungkin juga menyukai