Anda di halaman 1dari 10

KONSEP TRIAGE

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3
Agnes Juliana Turnip (032014001)
Josephine Lombu (032014036)
Oneversima Lombu (032014053)
Saril Simarmata (032014064)
Sri Nasrani Gulo (032014066)
Stefani Priscilla Sipayung (032014069)
Yessie Sitorus (032014079)

DOSEN : Erika Emnina Sembiring, S.Kep., Ns., M.Kep

PROGRAM STUDI NERS TAHAP AKADEMIK


STIKes SANTA ELISABETH MEDAN
2017
1. Definisi Triase
Triage adalah suatu proses penggolongan pasien berdasarkan tipe dan
tingkatkegawatan kondisinya (Zimmermann dan herr,2006). Triage juga diartikan sebagai
suatu tindakan pengelompokkan penderita berdasarkan pada beratnya cedera yang
diprioritaskan ada tidaknya gangguan pada airway, breathing, dan circulation dengan
mempertimbangkan sasaran,sumberdaya manusia, dan probabilitas hidup penderita
(Kartikawati, 2013)
Kata triase berasal dari kata trier bahasa Prancis yang berarti menyortir atau memilih.
Saat ini, triase rumah sakit untuk penyortiran cepat pasien yang hadir ke IGD untuk
perawatan. Tujuan dari triase adalah untuk menempatkan orang tepat di tempat yang tepat
pada saat yang tepat untuk alasan yang tepat. Proses triase merupakan komponen penting
dari perawatan darurat yang aman. Triase melibatkan penyortiran cepat pasien yang hadir
ke bagian gawat darurat (IGD) untuk membedakan mereka yang membutuhkan perhatian
medis segera dari pasien yang bisa menunggu dengan aman untuk dilihat. Sederhana dalam
teori namun dalam prakteknya sebenarnya cukup kompleks (ENA, 2005)

2. Klasifikasi Triase
Untuk identifikasi korban, cara yang termudah adalah dengan menggunakan kartu warna
(triage tag) (Panacea, 2013):
1. Merah menunjukan prioritas tertinggi (immediate care - life threatening)
2. Kuning untuk prioritas tinggi (urgent care dapat delay hingga 1 jam)
3. Hijau untuk prioritas sedang (delay care dapat di tunda hingga 3 jam)
4. Hitam untuk prioritas terakhir (no care required korban telah mati)

No. Prioritas Keterangan Contoh

1 Prioritas tertinggi Korban gawat-darurat, Kelainan pernapasan


(obstruksi jalan napas,
(merah) Artinya terancam jiwa atau henti napas, sukar
anggota badannya (akan pernapasan hebat), Henti
menjadi cacat), jika tidak jantung; perdarahan tak
mendapatkan pertolongan terkontrol atau lebih dari 2
secepatnya. liter; Cedera kepala hebat
(korban tidak sadar); Luka
dada terbuka dan luka
hancur pada
abdominopelvic (perut-
pinggul); Syok hebat dan
tekanan sistolik kurang
dari 80 mmHg; luka bakar
yang mengenai saluran
napas; serangan jantung
stroke, heat stroke,
hipotermi berat, dan
masalah medis lainnya;
Kemungkinan fraktur
vertebrae servical; Luka
terbuka pada mata; fraktur
femur dan fraktur tanpa
pulsus distal; Lain-lain.

2 Prioritas tertinggi Korban moderate emergent, Luka bakar hebat; cedera


spinal selain pada
(kuning) Yaitu korban gawat atau cervical; Perdarahan
darurat yang tidak dapat di sedang atauu lebih dari 2
masukan prioritas tertinggi liter; korban sadar dengan
maupun prioritas sedang (tidak cedera kepala serius;
merah, tidak kuning). Fraktur multiple (selain
diatas); cedera bagian
belakang; Overdosis obat;
dan Lain-lain.

3 Prioritas sedang Korban gawat tidak darurat, Perdarahan ringan; fraktur


dan cedera jaringan lunak
(hijau) Artinya meskipun kondisinya minor; Luka bakar ringan
dalam keadaan gawat, tetapi ia dan sedang; Trauma
tidak memerlukan tindakan dengan tinggkat survival
segera; Korban darurat tidak yang sangat rendah dan
gawat; atau korban tidak gawat suli di harapkan (korban
tidak darurat. tidak sadar dengan otak
terekspos; Luka bakar
derajat 2 atau 3 hingga
lebih dari 40 % luas
tubuh); dan Lain-lain.

4 Prioritas Terakhir Korban ada tanda-tanda telah Tidakadanya respirasi dan


meninggal denyut nadi > 20 menit
(hitam) mulai kejadian (kecuali
korban tenggelam atau
korban yang hipotermia
ekstrem); Tidak adanya
respirasi dan denyut nadi;
Trauma yang
menyebabkan RJP tidak
dapat di lakukan atau tidak
efektif; Dekapitasi (leher
putus).

Dalam menangani korban di lapangan, petugas lapangan harus dapat


mengklasifikasikan kondisi korban seperti di atas sehi gga dapat di tetapkan prioritas
penanganannya. Untuk mempertimbangkan prioritas penanganan, perlu dilihat juga
prognosiskorban yang akan di tangani, dan perhatikan pula aspek-aspek waktu evakuasi/
transportasi korban ke fasilistas kesehatan terdekat, sarana dan prasarana kesehatan yang ada,
obat-obatan yang ada, dan sumber daya manusia.

SIMPLE TRIAGE & RAPID TREATMENT

Sistem triase modifikasi yang paling sering di gunakan adalah START (simple triage and rapid
treatment), yang biasanya digunakan untuk menangani kasus kecelakaan missal (multiple
casualty incident, MCI). Sistem ini digunakan oleh penolang dalam waktui 60 detik atau kurang
untuk setiap korban, dan mencakup pemeriksaan respirasi, sirkulasi, dan status mental.

START sistem dibagi atas 4 prioritas seperti halnya triase konvensional, yaitu:

1. Tertinggi/Segera (merah). Ventilasi ada setelah pembukaan jalan nafas, atau


pernapasan lebih dari 30 kali per menit; capillary refill/capillary filling (pengisian
kapiler) lebih dari 2 detik; Tidak mampu melakukan perintash sederhana.
2. Tinggi/Tunda (kuning). Korban yang tidak dapat di kelompokkan dalam kategori
segera dan minor.
3. Minor (hijau) di pisahkan dari kelompok korban pada awal operasi triase. Dalam triase
lebih di kenal dalam walking wounded

3. Konsep Triase menurut beberapa Negara


Skala triase beberapa negara menurut ENA (2005)
1) Skala triage di Australia
Komunitas medis darurat Australia menerapkan skala triase Australasia pada tahun
1993 berdasarkan pada konsensus penelitian dan ahli, masing-masing kategori
mencantumkan deskriptor atau kondisi klinis yang sesuai dengan tingkat keparahan
spesifik. Jangka waktu waktu untuk evaluasi dokter ditetapkan untuk masing-masing
kelompok.

NO Tingkat Waktu Perawatan Presentasi


tindakan
1 Sangat mengancam hidup Langsung 100
2 Sedikit mengancam hidup 10 min 80
3 Beresiko mengancam hidup 30 min 75
4 Darurat 60 min 70
5 Biasa 120 min 70

2) Skala triage di Kanada


Sekelompok dokter dan perawat darurat Kanada mengembangkan skala triase dan
ketajaman Kanada lima tingkat berdasarkan sistem Australasia. Tingkat triase dikaitkan
dengan daftar yang menyajikan keluhan.contoh kondisi yang dilakukan seperti tingkat
1 mencakup serangan jantung, trauma berat, dan gagal napas akut. Sementara itu, dari
tingkat 5 contohnya pasien terkilir, luka ringan dan sebagainya.
No Tingkat Waktu untuk Waktu untuk Respon
Perawat Dokter langsung
1 Resusitasi Langsung Langsung 98%
2 Gawat darurat Langsung <15 min 95%
3 Darurat <30 min <30 min 90%
4 Biasa <60 min <60 min 85%
5 Tidak gawat <120 min <120 min 80%

3) Skala triage Manchester


Skala triase Manchester dikembangkan di Inggris oleh sekelompok perawat darurat dan
dokter gawat darurat. Setiap tingkat triase diberi nama, nomor, dan kode warna yang
mengidentifikasi kerangka waktu kerangka waktu target bagi pasien untuk menemui
dokter yang merawat.
No. Nama Warna Waktu
1. Langsung Merah 0
2. Gawat darurat Orange 10 min
3. Darurat Kuning 60 min
4. Standard Hijau 120 min
5. Biasa Biru 240 min
4. Konsep Triase di Rumah Sakit
Pada unit gawat darurat perawat bertanggungjawab dalam menentukan prioritas perawatan
pada pasien. Keakutan dan jumlah pasien, skill perawat, ketersediaan peralatan dan sumber
daya dapat menentukan setting prioritas. Thomson dan Dains (1992) mengidentifikasi tiga
tipe yang umum dari sistem triage yaitu sbb:
1. Tipe 1 Traffic Director/Triage Non-nurse
Petugas yang melakukan triage bukan staf berlisensi seperti asisten kesehatan. Staf
melakukan pengkajian visual secara cepat dan bertanya apa keluhan utama. Hal ini
tidak berdasarkan standar dan tidak ada/sedikit dokumentasi.
2. Tipe 2 Spot Check Triage/Advanced Triage
Staf yang berlisensi seperti perawat atau dokter melakukan pengkajian cepat termasuk
latar belakang dan evaluasi subjektif dan objektif. Biasanya tiga kategori keakutan
pasien digunakan. Meskipun penampilan dari tiap profesional pada triage bervariasi
bergantung dari pengalaman dan kemampuan.
3. Tipe 3 Comprehensive Triage
Tipe ini merupakan sistem advaced dari triage dimana staf mendapat pelatihan dan
pengalaman triage. Kategori keakutan termasuk 4 atau 5 kategori. Tipe ini juga menulis
standar atau protokol untuk proses triage termasuk tes diagnostik, penatalaksanaan
spesifik, dan evaluasi ulang dari pasien. Dokumentasi juga harus dilakukan.

5. Penempatan pasien sesuai dengan kondisinya berdasarkan pengkajian yang tepat


dan akurat
Penilaian triase harus tepat waktu dan singkat. Tujuan dari proses ini adalah
mengumpulkan informasi yang cukup tentang pasien untuk membuat keputusan penilaian
tingkat keparahan triase. Tujuannya agar semua pasien menerima penilaian triase awal
dalam 5 menit ke bagian emergency. Idealnya, triase dimulai dengan penilaian antar
ruangan dan kemudian berlanjut dalam privasi stan atau ruang triase. Jika sewaktu-waktu,
perawat triase mengidentifikasi jalan nafas yang mengancam jiwa, masalah pernapasan
atau sirkulasi, perawat memulai intervensi yang tepat segera dimulai, dan pasien
dipindahkan ke tempat perawatan (ENA, 2005)
1) Penialaian awal
Penilaian awal dimulai saat perawat triase pertama kali melihat pasien; Perawat harus
mengamati dengan saksama, mendengarkan suara yang tidak normal dan sadar akan
bau apapun. Perawat triase yang berpengalaman dapat melihat seorang pasien dan,
berdasarkan penampilan umum, periksalah perawatan darurat segera. Dalam kasus
tersebut, jika triase dianggap lengkap, dan pasien dibawa langsung ke ruang perawatan.
Jika pasien stabil, proses triase berlanjut.
Sense Findings
Observasi - Patensi jalan nafas
- Tingkat pernapasan, tekanan yang jelas,
penggunaan perangkat O2
- Tanda-tanda pendarahan eksternal
- Tingkat kesadaran: berinteraksi, tidak
sadar, menangis, merintih
- Tanda-tanda rasa sakit: meringis,
memegang, menjaga area
- Warna dan kondisi kulit
- Penyakit kronis: kanker, penyakit paru
obstruktif kronik, gangguan
neuromuskular
- Deformitas
- Kebiasaan tubuh: cacing, obesitas tidak
sehat
- Aktivitas: kemampuan untuk
berorganisasi, seimbang, berat badan
- Perilaku umum: gelisah, marah, afek
datar
- Adanya splint, pembalut, gips,
peralatan medis
- Pakaian: bersih, sesuai kebutuhan
Mendengarkan - Suara nafas tambahan
- Pola bicara, nada suara, Interaksi
dengan orang lain
Bau - Kotoran, urine, muntah, keton, alkohol,
- Kebersihan buruk, rokok, infeksi, bahan
kimia

2) Wawancara Triase
Wawancara triase dimulai dengan perawat memperkenalkan dirinya sendiri dan secara
singkat menggambarkan peran triase. Selama wawancara singkat ini, perawat
menentukan keluhan utama dan riwayat cedera atau penyakit saat ini. Berdasarkan
temuan, perawat melakukan penilaian masalah yang terfokus dan mengukur tanda vital
per protokol. Perawat mendapatkan tingkat keparahan triase dari informasi ini.
Selanjutnya, pasien segera pergi ke ruangan untuk perawatan dan di registrasi atau
diarahkan terlebih dahulu ke area pendaftaran dan kemudian ke ruang tunggu.
3) Tingkat keparahan Triase
Berdasarkan keluhan utama dan data subjektif dan objektif, perawat triase
menggunakan pedoman pengetahuan, pengalaman, dan triase mereka untuk
menetapkan penetapan tingkat keparahan. Keputusan ini akan diturunkan secara logis
dari informasi yang diperoleh. Keputusan triase memiliki dampak besar pada hasil
pasien dan keselamatan pasien. Pasien yang tidak di triase segera mendapat tertunda
perawatannya dan risiko kerusakan lebih besar.

6. Pendokumentasian Triase pada kasus kegawatdaruratan


Dokumentasi penilaian Triase harus jelas, ringkas, dan mendukung peringkat
keparahan yang ditetapkan. Setiap rumah sakit perlu memiliki kebijakan triase yang
mencakup persyaratan dokumentasi. Biasanya area spesifik pada bagan pasien ada bagi
perawat untuk mencatat temuan triase. Bagian rekam medis ini sering kali terdiri dari
daftar kotak cek, atau mungkin hanya merupakan ruang untuk catatan naratif. Beberapa
program perangkat lunak terkomputerisasi tersedia untuk triase IGD; Namun, deskripsi
lebih jauh berada di luar cakupan teks ini. Apakah komputerisasi atau di atas kertas elemen
dasar yang sama biasanya diperlukan (ENA, 2005)
Bagian-bagian yang bergantung pada catatan naratif, format dokumentasi SOAPIE bisa
membantu (ENA, 2005):
S : atau penilaian subjektif, singkat dan harus mencakup hal yang penting negative
(sakit dada tarian, tidak ada muntah)
O : adalah untuk penilaian yang obyektif, pemeriksaan fisik yang cepat dan
terfokus.
A : adalah untuk analisis data, yang mencakup penilaian keparahan yang
ditetapkan dan diagnosis keperawatan.
P : adalah rencana perawatan
I : adalah untuk implementasi; perawatan yang diberikan pada triase meliputi tes
diagnostik, pertolongan pertama, atau initasi prosedur pengendalian infeksi.
E : adalah untuk evaluasi atau penilaian. Setiap tanggapan terhadap intervensi atau
perubahan status pasien akan dicatat di bawah E.
7. Alogaritme Triase untuk kasus kegawatdaruratan

Ya Walking Wounded
Ada respons? (Hijau)

Tidak

Ada respirasi Tidak


Reposisi

Ya

Ya
Cek frekuensi napas Cek ulang adakah
respirasi ?

Tidak

< 10 atau > 30 10-30 kali/menit Meninggal


kali/menit (HITAM)
(MERAH)
Perfusi kapiler ?

> 2 detik < 2 detik


(MERAH)

Cek status
mental

Tidak mengikuti perintah Mengikuti perintah


sederhana (MERAH) sederhana (KUNING)

(Panacea, 2013)
DAFTAR PUSTAKA

Kartikawati N., Dewi. 2013. Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat.
Jakarta: Salemba Medika
Panacea, Tim Bantuan Medis. 2013. Basic Life Support. Jakarta: EGC
Emergency Nurses Association. 2005. Sheehys Manual of Emergency Care. Philadelphia:
Elsevier
Zimmermen & Herr. 2006. Triage Nursing Secret. Philadelphia: Elsevier.