Anda di halaman 1dari 2

29.

Pengertian mola hidatidosa

Mola hidatidosa disebut juga hamil anggur, dapat dibagi menjadi mola hidatidosa total dan mola
hidatidosa parsial. Mola hidatidosa total adalah pada seluruh kavum uteri terisi jaringan vesikular
berukuran bervariasi, tidak terdapat fetus dan adneksanya (plasenta, tali pusat, ketuban). Mola
hidatidosa parsial hanya sebagian korion bertransformasi menjadi vesikel, dapat terdapat atau
tidak terdapat fetus. (Wan desen, 2011 dalam buku Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA)

Mola hidatidosa adala suatu kehamilan yang ditandai dengan hasil konsepsi yang tidak
berkembang menjadi embrio setelah fertilisasi, namun terjadi proliferasi dan vili korialis disertasi
dengan degenerasi hidropik. Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi
normal, tidak dijumpai adanya janin, dan kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian
buah anggur.

Jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang


mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan sehingga sering
disebut dengan hamil anggur atau mata ikan. Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang
jinak.

Sumber:

Nurarif, A, H. Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA. Jogyakarta: penerbit Mediaction

Yulaikhah, L. (2008). Kehamilan: Seri Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.

37. Penatalaksanaan mola hidatidosa

Terapi mola hidatidosa terdiri dari 4 tahap, yaitu:

1. Perbaikan keadaan umum

2. Pengeluaran jaringan mola: kuretase dan histerektomi

3. Terapi profilaksis dengan sitostatika

Pemberian kemoterapi repofilaksis pada pasien pasca evaluasi mola hidatidosa masih menjadi
kontroversi.

4. Pemeriksaan tidak lanjut

a. Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun.

b. Setelah pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi kondom, pil kombinasi atau
diagfragma dan pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol.

c. Pemeriksaan kadar B-hCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadar B-hCG normal
tiga kali berturut-turut.

d. Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar B-hCG normal selama 6 kali
berturut-turut.

e. Bila terjadi remisi spontan (kadar B-hCG, pemeriksaan fisis, dan foto thoraks setelah satu
tahun semuanya normal) maka penderita tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi
dan hamil lagi.

f. Bila selama masa observasi kadar B-hCG tetap atau bahkan meningkat atau pada
pemeriksaan klinis, foto thoraks ditemukan adanya metastase maka penderita harus
dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi.

Sumber :

Nurarif, A, H. Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA. Jogyakarta: penerbit Mediaction