Anda di halaman 1dari 21

Informasi yang tepat mengenai komposisi abu

sangat penting dalam memperkirakan sifat dan


karakteristik abu dalam berbagai pemanfaatan
batubara

Abu batubara umumnya berasal dari mineral


matter

Komposisi abu antara lain :


- SiO2 - Al203
- CaO - K2O
- MgO - Fe2O3
- Na2O3 - FeO
Mineralmatter (khususnya extraneous
mineral matter) dapat dihilang kan dengan
pencucian batubara.
Dengan pengayakan, extraneous MM yang
berukuran halus seperti clay dan pasir dapat
dihilangkan
Dengan pemisahan media berat, extraneous MM
yang berukuran besar dapat dihilangkan dengan
prinsip perbedaan berat jenis
Proses flotasi dapat memisahkan extraneous MM
dan batubara dengan prinsip perbedaan sifat
permukaan
Abu batubara setelah dipreparasi dan dilarutkan,
kemudian diatomisasi dengan cara dibakar pada
temperature tinggi, kemudian selama atomisasi disinari
dengan radiasi lampu yang disesuaikan dengan unsur yang
ditentukan
Atom-atom unsur tersebut akan menyerap energi radiasi
yang dipancarkan oleh lampu tersebut. Banyaknya energi
yang diserap berbanding lurus dengan banyaknya atom
yang terdapat dalam larutan tersebut.
Dengan membandingkannya dengan grafik kalibrasi
sample standar, maka kadar unsur dari batubara dapat
ditentukan.
Ash Fusion Temperature (AFT)
Nisbah silika, nisbah basa asam, nisbah
dolomite, nisbah feritik
Indeks slagging
Indeks fouling
Suhu titik leleh abu memberikan gambaran proses
saat terjadinya pelelehan abu

Abu merupakan produk samping proses pembakaran


batubara. Apabila proses pembakaran terjadi pada
temperatur di atas titik leleh abu, abu yang
terbentuk akan meleleh dan menimbulkan
penyumbatan di dalam reaktor (slagging). Hal iniah
yang menyebabkan nilai titik leleh abu sangat penting
untuk diketahui secara pasti.

Jika abu batubara tersebut memiliki AFT dibawah


1600 oC maka batubara tersebut tergolong Slagging
Coal, sedangkan Jika batubara tersebut memiliki AFT
diatas 1600 oC maka batubara tersebut termasuk
golongan Non Slaging Coal.
Nilai AFT sangat bergantung pada operasi
pembakaran nanti

Nilai AFT dipegaruhi oleh komposisi abu

- Senyawa Al2O3.2SiO3 mempunyai suhu flow yang


tinggi dan rentang suhu leleh (fusion temperature)
yang sempit

- Senyawa CaO, MgO, dan Fe2O3 bertindak sebagai


fluks dan akan menurunkan AFT

- FeO, Na2O dan K2O dapat menurunkan AFT

- Kadar Sulfur yang tinggi daat menurunkan suhu initial


deformation dan meleburkan rentang suhu leleh
Untuk menentukan titik leleh abu biasanya
dipakai standar ISO 540 Coal and Coke

Prosedurnya : sample abu batubara dibuat


menjadi berbentuk piramida kemudian
dimasukan kedalam tungku. Perubahan
bentuk piramida pada berbagai suhu diamati,
kemudian perubahan bentuknya
dibandingkan dengan bentuk standar.

Empat titik suhu kritik yaitu :


1. Deformation temperature (A) : yaitu saat
awal terjadi perubahan bentuk ujung
pirmida
2. Sphere temperature (B) yaitu saat piramida
telah berbentuk bulat
3. Hemisphere temperature (C) yaitu sampel
piramida telah berbentuk hemispherical dimana
tingginya 0.5 diameternya
4. Flow temperature (D) yaitu saat sampel
piramida telah leleh sempurna dimana tingginya
menjadi + 1.5 mm
Beberapa rasio pada abu yang dapat digunakan sebagai indikator
apakah batubara tersebut Slangging Coal atau tidak yaitu

1. Silica Ratio = _________SiO2___________


SiO2 + Fe2O3 + CaO +MgO
= 0,4 s/d 0,8

Untuk Slangging Coal, Silica Ratio-nya lebih besar dari 0,4


(>0,4)

2. Base to Aid Ratio = Fe2O3 +CaO + MgO + Na2O + K2O


SiO2 + Al2O3 + TiO2
= 0,5 s/d 0,9
Untuk Slangging Coal, Base to Aid Ratio-nya lebih kecil dari
0,6 (<0,6)
3. Dolomite Ratio =
_________CaO+MgO___________
Fe2O3 + CaO + MgO + NaO + K2O

= 0,5 s/d 0,9


Untuk Slangging Coal, Dolomite Ratio-nya lebih
kecil dari 0,6 (<0,6)

4. Ferrite Ratio = _______Fe2O3_________


Fe2O3 + 1,11 FeO + 1,43 Fe
= 0,1 s/d 0,8
Untuk Slangging Coal, Ferrite Ratio-nya lebih kecil
dari 0,1 (<0,1)
Slagging adalah fenomena menempelnya partikel abu
batubara baik yang berbentuk padat maupun leburan, pada
permukaan dinding penghantar panas yang terletak di zona
gas pembakaran suhu tinggi (high temperature combustion
gas zone), sebagai akibat dari proses pembakaran
batubara.

Slagging terjadi karena suhu operasi yang melebihi titik


leleh abu (sperical temperature)

Campuran mineral anorganik yang terdapat dalam abu


batubara yang terdiri dari lempung (clay), pyrite, calcite,
dolomite, serta kuarsa (quarts), menerima panas radiasi
yang kuat di dalam tungku sampai akhirnya melebur. Saat
abu yang melebur (molten ash) tadi bersentuhan dengan
permukaan pipa yang suhunya relatif lebih rendah, abu
akan mengalami pendinginan sehingga akhirnya menempel
dan mengeras.
bila sebagian batubara yang dibakar tersebut
memiliki suhu lebur abu (AFT) relatif rendah dan
berkadar lempung tinggi, maka abu yang menempel
akan membentuk lapisan dan lama kelamaan akan
menebal. Jika hal ini berlangsung terus, maka dapat
menyebabkan turunnya kapasitas keluaran boiler
akibat beberapa masalah yang muncul, diantaranya
adalah menurunnya penyerapan panas oleh tungku
dan tersumbatnya lubang (orifice) pada tungku.

Penentuan indeks slagging suatu abu batubara


dimaksudkan untuk memperkirakan derajat
pembentukan endapan lelehan terak di dinding
tungku suatu boiler.

Nilai indeks slagging tergantung pada jenis


batubaranya dan dapat dihitung dari oksida asam,
oksida basa dan kadar sulfurnya.
Abu tipe bituminus
Pada tipe ini, karakteristik slagging ditentukan berdasarkan
perhitungan rasio unsur alkali terhadap unsur asam, dengan kadar
sulfur.

Rs (Slagging index) =
{(Fe2O3 + CaO + MgO + Na2O+ K2O) / SiO2 + Al2O3 + TiO2} X S

S adalah Total Sulfur (%) dalam DB.

Indeks slagging untuk lignite


Selain ke dua persamaan diatas, juga dapat
digunakan indeks slagging viskositas dimana
persamaan ini dapat berlaku umum baik
untuk tipe batubara lignite ataupun
subituminous
Fouling adalah fenomena menempel dan menumpuknya abu pada
dinding penghantar panas (super heater maupun re-heater) yang
dipasang di lingkungan dimana suhu gas pada bagian belakang
furnace, lebih rendah dibandingkan suhu melunak abu (ash
softening temperature).

Fouling terutama terjadi karena adanya interaksi antara uap


natrium dan kalium dengan oksida belerang membentuk garam
dengan titik leleh rendah, yang kemudian membentuk semi fluida
yang lengket didalam boiler

Unsur yang paling berpengaruh pada penempelan abu ini adalah


material basa terutama Na, yang dalam hal ini adalah kadar
Na2O.

Bila kadar abu batubara banyak, kemudian unsur basa dalam abu
juga banyak, ditambah kadar Na2O yang tinggi, maka fouling akan
mudah terjadi.
Nilai indeks fouling memberikan kecenderungan
abu batubara untuk mengakibatkan terjadinya
fouing dan korosi dipermukaa konveksi
Indeks fouling untuk abu bituminous dihitung dari
persamaa berikut :

Adanya kalium dan natrium dan sulfur oksida


merupakan penyebab terbentuknya senyawa sulfat.
Karena itu penentuan indeks fouling selain
melibatkan kadar Na2O juga harus melibatkan
kadar K2O
Indeksfouling juga daat dihitung dengan
kadar alkali total

Indeksfoling untuk abu lignitik dapat


dihitung dengan persamaan
Kadar alkali yang tinggi didalam batubara dapat
menyebabkan terjadinya fouling. Garam-garam
natrium dan kalium akan tervotalisasi selama
pembakaran kemudian terkondensasi pada partikel
abu terbang dan boiler membentuk lapisan yang
lengket. Benturan partikel-partikel tersebut dapat
membentuk endapan pada dinding dan selanjutnya
membentuk sinter. Akhinya menjadi keras dan
menempel dengan sangat kuat.
Semakin rendah alkali pada abu batubara maka
semakin rendah pula kecenderungan untuk terjadinya
fouling.
Kandungan alkali pada abu batubara kurang dari 0.1%
dianggap non fouling
Kandungan alkali antara 0.1-0.4% dianggap dapat
menimbulkan fouling
Kandungan alkali diatas 0.5% cenderung membentuk
fouling dan menghasilkan sinter sehingga sulit
dihilangkan