Anda di halaman 1dari 11

A.

TYPES OF TESTS
Dalam mengembangkan keseluruhan rencana audit, Auditor memiliki lima jenis pengujian
(testing) yang dapat digunakan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan
secara wajar.
Pengujian tersebut meliputi:
1. Prosedur untuk Memperoleh Pemahaman atas Internal Control
Auditor harus memahami efektivitas aspek rancangan dan operasional dari
pengendalian intern.
Lima jenis prosedur audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor terhadap
pengendalian intern yaitu:
Memperbaharui dan mengevaluasi pengalaman auditor terdahulu
Meminta keterangan dari personil klien
Membaca manual sistem dan kebijakan klien
Menguji dokumen dan arsip
Mengamati aktivitas dan operasional entitas
2. Tests of Controls (Uji Pengendalian)
Pengujian pengandalian adalah prosedur audit yang digunakan untuk menentukan
efektivitas kebijakan dan operasi pengendalian intern atau prosedur pengendalian yang
diterapkan untuk menilai control risk (risiko pengendalian)
Pengujian tersebut meliputi jenis prosedur audit sebagai berikut :
Meminta keterangan dari personil klien
Menguji dokumen, arsip, dan laporan
Mengamati aktivitas yang terkait dengan pengendalian
Melaksanakan kembali prosedur klien
Dua prosedur yang pertama sama dengan jenis bahan bukti yang diperoleh dalam
memahami struktur pengendalian intern. Sehingga, penetapan resiko pengendalian dan
pengujian atas pengendalian dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari prosedur audit
yang digunakan untuk memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern.
Perbedaan utama adalah bahwa dengan pengujian atas pengendalian tersebut, tujuan
menjadi lebih spesifik dan pengujian menjadi ekstensif.
Contoh:
Menyamakan invoice supplier dengan purchase order dan receiving report sebelum
menyetujui pembayaran invoice danMemeriksa kartu absensi karyawan sebelum
menyetujui pembayaran uang lembur
3. Substantive Test of Trans actions (Uji Substantif atas Transaksi)
Pengujian substantif (Substantive Test) adalah perosedur yang digunakan
untuk menguji kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung
mempengaruhi kebenaran saldo laporan keuangan. Kekeliruan tersebut sering disebut
dengan salah saji moneter (dalam satuan mata uang) yang merupakan indikasi yang
jelas terjadinya salah saji dalam saldo laporan keuangan.
Tujuan pengujian substantive atas transaksi adalah untuk menentukan apakah
transaksi akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diiktisarkan
dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku tambahan dengan
benar.
Pengujian atas transaksi
Pengujian tersebut meliputi bagian deskriptif yang mendokumentasikan
pemahaman memperoleh sekitar pengendalian internal dan menyertakan uraian
tentang prosedur dan risiko pengendalian yang dinilai.
4. Analitycal Procedure (Prosedur Analitis)
Prosedur analitis meliputi perbandingan dari jumlah yang tercatat dengan
dengan angka tertentu yang dikembangkan oleh auditor. Prosedur ini biasanya
menggunakan kalkulasi rasio yang dibandingkan dengan rasio tahun sebelumnya atau
rasio perusahaan sejenis atau rasio average industry
Tujuan utama dari prosedur analitis dalam tahap perencanaan ini adalah :
1. Menunjukkan kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan
2. Mengurangi pengujian audit yang lebih rinci
5. Detail Test of Balances (Pengujian Terinci atas Saldo)
Pengujian Terinci atas Saldo merupakan prosedur yang digunakan untuk
menguji salah saji moneter (monetary misstatement) untuk menentukan apakah 9
balance-related audit objective (tujuan audit terkait dengan saldo) telah terpenuhi.
DTOB berfokus pada saldo akhir buku besar, baik untuk neraca maupun laba-rugi,
dengan penekanan utama pada angka-angka di neraca saldo. Pengujian terinci atas
saldo akhir tersebut penting dalam pelaksanaan audit, karena bahan bukti diperoleh
dari sumber yang independen dari klien sehingga dinilai berkualitas tinggi.
B. SELECTING WHICH TYPES OF TESTS TO PERFORM
Biasanya auditor menggunakan kelima jenis pengujian ketika melakukan audit atas
laporan keuangan, namun beberapa jenis pengujian mendapatkan penekanan yang lebih
dibandingkan dengan yang lain, bergantung pada kondisi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi pilihan auditor terhadap jenis pengujian yang dipilih, termasuk
ketersediaan kedelapan bukti, biaya relatif untuk setiap pengujian, efektivitas
pengendalian internal serta risiko bawaan. Hanya dua faktor pertama yang akan dibahas
lebih lanjut karena dua sisanya telah dibahas pada bab sebelumnya.
1. Ketersediaan Jenis Bukti Prosedur Audit Lanjutan
Masing-masing dari empat jenis prosedur audit lanjutan hanya melibatkan jenis bukti
audit (konfirmasi, dokumentasi, dan seterusnya)
Makin banyak jenis bukti, yang jumlah totalnya adalah enam.
Hanya pengujian terperinci saldo yang melibatkan pemeriksaan fisik dan
konfirmasi.
Tanya jawab dengan klien dilakukan untuk setiap jenis pengujian.
Dokumentasi digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis.
Pengerjaan ulang digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis,
dengan satu pengecualian.
Penghitungan ulang digunakan untuk memverifikasi akurasi matematis atas
transaksi ketika melakukan pengujian substantif transaksi dan saldo akun ketika
melakukan pengujian atas perincian saldo.
2. Biaya-Biaya Relatif
Ketika auditor harus memutuskan jenis pengujian apakah yang harus dipilih
untuk mendapatkan bukti yang tepat, biaya bukti tersebut penting untuk
dipertimbangkan. Jenis pengujian yang disusun dalam daftar berikut berdasarkan
urutan biaya dari yang terendah sampai ke yang tertinggi:
Prosedur analitis
Prosedur penilaian resiko termasuk prosedur untuk mendapat pemahaman atas
pengendalian internal.
Pengujian pengendalian.
Pengujian substantif transaksi.
Pengujian terperinci saldo.
Prosedur analitis memakan biaya yang paling rendah karena relatif lebih
mudah sedangkan prosedur penilian resiko tidak semahal pengujian audit lainnya
karena auditor dapat dengan mudah melakukan tanya jawab dan pengamatan serta
melakukan perencanaan prosedur analitis. Namun demikian pengujian pengendalian
juga lebih mahal dibandingkan dengan prosedur penilaian resiko karena lebih luas
daripada pengujian yang dihariskan utuk mendapatkan bukti bahwa pengendalian
telah berjalan dengan efektif, khususnya ketika pengujian pengendalian internal
tersebut melibatkan pengerjaan ulang. Pengujian substantif transaksi lebih mahal
dibandingkan dengan pengujian pengendalian yang tidak melibatlkan pengerjaan
ulang, karena yang sebelumnya sering kali melibatkan penghitungan ulang dan
penelusuran. Pengujian terperinci saldo hampir selalu lebih mahal dibandingkan
dengan jenis prosedur lainnya karena biaya prosedur seperti pengiriman konfirmasi
dan penghitungan persediaan
3. Hubungan Pengujian Pengendalian dengan Pengujian Substantif
Suatu pengecualian dalam pegujian pengendalian hanya mengindikasikan
kemungkinan salah saji yang mempengarihui nilai rupiah dari laporan keuangan,
sedangkan suatu pengecualian dalam pengjuian substantif transaksi atau pengujian
terperinci saldo merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. Pengecualian
dalam pengujian pengendalian dinamakan deviasi uji pengendalian. Karena
kebutuhan untuk menyelesaikan beberpa pengujian pengerjaan dan penghitungan
ulang, banyak auditor yang melakukannya sebagai bagian dari pengujian atas
pengendalian awal. Auditor-auditor lainnya akan menunggu hingga mereka
mengetahui hasil dari pengujian pengendalian dan kemudian menentukan ukuran
sampel total yang diperlukan.
4. Hubungan Prosedur Analitis dan Pengujian Substantif
Seperti halnya pengujian pengendalian, prosedur analitis hanya
mengindikasikan kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah
laporan keuangan. Ketika prosedur analitis mengidentifikasikan fluktuasi yang tidak
biasa, auditor harus melakukan pengujian substanif transaksi atau pengujian
terperinci saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi.
Jika auditor melakukan prosedur analitis substantif dan meyakini bahwa
kemungkinan terjadinya salah saji itu kecil, pengujian substantif lainnya dapat
dikurangi.
5. Dilema Antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif
Auditor membuat keputusan selama perencanaan apakah akan menetapkan
risiko pengendalian dibawah maksimum. Pengujian atas pengendalian harus
dilakukan untuk menentukan apakah risiko pengendalian yang ditetapkan akan
dibenarkan. Jika risiko pengendalian yang ditetapkan dibawah maksimum, resiko
penemuan yang direncanakan dalam model risiko audit ditingkatkan sehingga
pengujian substantif yang direncanakan dapat dikurangi.

C. EVIDENCE MIX
Untuk mendapatkan bukti yang tepat dalam memadai untuk menghadapi resiko-resiko
yang teridentifikasi melalui prosedur penilaian resiko, auditor menggunakan kombinasi
antara keempat jenis pengujian lainnya.
Analisis audit 1
Klien ini merupakan sebuah perusahaan besar dengan pengendalian internal yang rumit
dan resiko bawaan rendah. Sehingga, auditor melakukan pengujian pengendalian yang luas
dan sangat mengandalkan pada pengendalian internal klien untuk mengurangi pengujian
subtanstif lainnya. Hal ini menyebabkan pengujian substantif transaksi dan pengujian
terperinci saldo diminimalkan. Audit ini kemungkinan menghadirkan gabungan bukti yang
digunakan dala audit terintegrasi laporan keuangan dan pengendalian internal laporan
keuangan perusahaan publik.
Analisis audit 2
Perusahaan ini berukuran sedang, dengan beberapa pengendalian dan beberapa resiko
bawaan. Auditor telah memutuskan untuk melakukan pengujian atas semua jenis
pengujian sedang, kecuali untuk prosedur analitis substantif yang kemungkinan akan
dilakukan secara meluas. Lebih banyak pengujian yang luas yang akan dibutuhka jika
resiko bawaan yang khusus ditemukan.
Analisis audit 3
Perusahaan ini berukuran sedang, namun memiliki beberapa pengendalian yang efektif
dan beberapa resiko bawaan yang signifikan. Karena kurangnya pengendalian internal
yang efektif, kita dapat menganggap perusahaan ini kemungkinan bukan perusahaan
publik. Tidak ada pengujian atas pengendalian yang dilakukan karena bergantung pada
pengendalian internal tidak tepat ketika pengendaliannya tidak efektif untuk suatu
perusahaan non publik. Auditor menekankan pada pengujian terperinci saldo dan
pengujian substantif transaksi, namun beberapa prosedur analitis substantif juga
dilakukan. Jika auditor sudah memperkirakan akan menemukan salah saji material dalam
saldo akun, prosedur analitis tambahan menjadi tidak murah karena jumlah pengujian
substantif yang lebih terperinci.
Analisis audit 4
Rencana awal untuk audit ini adalah mengikuti pendekatan yang digunakan dalam audit 2.
Namun, auditor kemungkinan menemukan deviasi uji pengendalian yang luas, dan salah
saji yang signifikan ketika melakukan pengujian substantif transaksi dan prosedur analitis
substantif. Sehingga, auditor menyimplkan bahwa pengendalian internalnya tidak efektif.
Pengujian terperinci saldo yang meluas dilakukan untuk menutupi hasil pengujian lainnya
yang tidak dapat diterima.

D. DESIGN OF THE AUDIT PROGRAM


Perancangan program audit untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan
saldo dan yang berkaitan dengan transaksi. Auditor juga merancang audit untuk memenuhi
tujuan audit yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan. Program audit berisi
prosedur penilaian resiko yang dilaksanakan selama tahap perencanaan, program audit
bagi kebanyakan audit juga dirancang dalam tiga bagian tambahan: pengujian
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis substansif, dan
pengujian rincian saldo.
a. Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas transaksi
Program audit pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi
biasanya meliputi bagian deskriptif yang mendokumentasikan pemahaman atas
pengendalian internal yang diperoleh selama pelaksanaan prosedur penilaian risiko.
Auditor menggunakan informasi ini untuk mengembangkan program audit pengujian
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Prosedur audit tersebut meliputi
pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, yang bervariasi
tergantung pada penilaian risiko pengendalian. Apabila pengendalian sudah efektif dan
risiko pengendalian dinilai rendah, auditor sangat menekankan pada pengujian
pengendalian. Jika risiko pengendalian dinilai maksimum, hanya pengujian substantif
atas transaksi yang akan digunakan, dengan asumsi audit itu dilakukan atas perusahaan
nonpublik.
Prosedur Audit
Auditor mengikuti pendekatan empat langkah untuk mengurangi risiko pengendalian
yang diperkirakan
1. Memberlakukan tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi pada kelas transaksi
yang diuji.
2. Mengidentifikasi pengendalian kunci yang dapat mengurangi risiko pengendalian
untuk setiap tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi.
3. Mengembangkan pengujian pengendalian yang tepat bagi semua pengendalian
internal yang digunakan untuk mengurangi penilaian pendahuluan atas risiko
pengendalian bawah maksimum.
4. Merancang pengujian substantif atas transaksi yang tepat dengan
mempertimbangkan defisiensi dalam pengendalian internal
b. Prosedur Analitis
Prosedur analitis dilaksanakan selama pengujian substantif, seperti audit piutang usaha,
biasanya lebih terfokus dan lebih ekstensif ketimbang yang dilakukan sebagai bagian
dari perencanaan. Selama tahap perencanaan, auditor dapat mengkalkulasi persentasi
marjin kotor untuk total penjualan, sementara selama pengujian substantif atas piutang
usaha, auditor mengkalkulasi presentase marjin kotor per bulan atau per lini bisnis,
atau keduanya.
c. Pengujian atas Rincian Saldo
1. Mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang usaha
2. Menetapkan salah saji yang dapat ditoleransi dan menilai risiko inheren piutang
usaha.
3. Menilai risiko pengendalian untuk siklus penjualan dan penagihan
4. Merancang dan melaksanakan pengujian pengendalian serta pengujian substantif
atas transaksi untuk siklus penjualan dan penagihan.
5. Merancang dan melaksanakan prosedur analitis untuk saldo piutang usaha.
6. Merancang pengujian rincian saldo piutang usaha untuk memenuhi tujuan audit
yang berkaitan dengan saldo.
d. Program audit ilustratif
Program audit ilustratif dikembangkan setelah mempertimbangkan semua faktor yang
mempengaruhi pengujian rincian saldo dan didasarkan pada beberapa asumsi tentang
risiko inheren, risiko pengendalian, dan hasil dari pengujian pengendalian, pengujian
substantif atas transaksi, serta prosedur analitis substantif.
e. Hubungan tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi dan tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo serta penyajian dan pengungkapan.
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo:
1. Nilai yang dapat direalisasikan
2. Hak dan kewajiban
Hubungan antara prosedur audit yang dilaksanakan untuk memenuhi tujuan audit yang
berkaitan dengan transaksi dan tujuan audit yang berkaitan dengan saldo. Auditor
melaksanakan prosedur audit untuk mendapatkan assurance atau keyakinan tentang
empat tujuan audit yang berkaitan dengan penyaian dan pengungkapan.

E. SUMMARY OF KEY EVIDENCE-RELATED TERMS


Fase Proses Audit (Phase of The Audit Process) Empat fase proses audit dalam kolom
pertama merupakan cara yang mendasar di mana suatu audit disusun seta menunjukkan
komponen-komponen kunci terhadap keempat fase dalam proses pengauditan ini.
Tujuan Audit (Audit Objectives) Merupakan tujuan-tujuan dalam sustu pengauditan yang
harus terpenuhi sebelum auditor dapat menyimpulkan bahwa suatu kelompok transaksi
atau saldo akun telah disajikan secara wajar.
Jenis-jenis Pengujian (Types of Test) Lima jenis pengujian audit yang dibahas
sebelumnya di bab ini yang digunakan auidtor untuk menentukan apakah laporan
keuangan telah disajikan secara wajar dimasukkan dalam kolom ketiga.
Keputusan Bukti (Evidence Decisions) Empat sub kategori keputusan yang dibuat oelh
auditor dalam pengumpulan bukti dimasukkan dalam kolom keempat.
Jenis-jenis Bukti (Types of Evidence) Delapan ketegori luas dalam bukti yang
dikumpulkan auditor dimasukkan dalam kolom terakhir.
Tabel Hubungan Antara Lima IstilahTerkait Bukti
Fase dalam Tujuan Audit Jenis Pengujian Keputusan Bukti Jenis Bukti
Proses Audit
Merencanakan
Prosedur penilaian risiko: Prosedur audit Dokumentasi
dan merancang Prosedur memahami Penentuan waktu Tanya jawab klien
suatu bisnis dan industri klien Prosedur analitis
pendekatan Prosedur memahami
audit (fase I) pengendalian internal
Prosedur analitis
perencanan
Melakukan Tujuan audit terkait Prosedur
untuk Prosedur audit Dokumentasi
pengujian atas transaksi : mendapatkan
suatu Ukuran sampel Pengamatan
pengendalian Keterjadian pemahaman
dan Unsur yang dipilih Tanya jawab klien
dan pengujian Kelengkapan pengujian
atas Penentuan waktu Pengerjaan ulang

substantif atas Akurasi pengendalian Penghitungan ulang

transaksi (fase Pemindahbukuan dan Prosedur audit
II) pengikhtisaran Pengujian substantif
Ukuran sampel
transaksi
Klaisfikasi Unsur yang dipilih
Penentuan waktu Penentuan waktu
Melakukan Tujuan audit terkait Prosedur analitis Prosedur audit Pemeriksaan fisik
prosedur saldo: Penentuan waktu Konfirmasi
analitis dan Keberadaan Dokumentasi
pengujian Kelengkapan Pengujian
terperinci Prosedur audit Tanya jawab
terperinci atas Akurasi saldo Ukuran sampel Pengerjaan ulang
salso (fase III) Klasifikasi Unsur yang dipilih Prosedur analitis
Pisah batas Penentuan waktu Penghitungan ulang
Keterkaitan perincian
Nilai realisasi
Hak dan kewajiban
Menyelesaikan Tujuan audit terkait Prosedur analitis Prosedur audit Prosedur analitis
audit dan penyajian dan Penentuan waktu Dokumentasi
menerbitkan pengungkapan : Tanya jawab klien
suatu laporan Keterjadian serta hak Pengujian
terperinci Prosedur audit
audit (fase IV) dan kewajiban saldo Ukuran sampel
Kelengkapan Unsur yang dipilih
Akurasi dan penilaian Penentuan waktu
Klasifikasi dan
kemampuan untuk
memahami

F. SUMMARY OF AUDIT PROCESS


Fase I : Merencanakan dan Merancang Sebuah Pendekatan Audit
Auditor menggunakan informasi yang didapatkan dari prosedur penilaian risiko terkait
dengan penerimaan klien dan perencanaan awal, memahami industri dan bisnis klien,
menilai risiko bisnis klien, dan melakukan prosedur analitis pendahuluan yang bertujuan
untuk menilai risiko bawaan dan risiko audit yang dapat diterima. Di akhir fase I, auditor
harus memiliki suatu rencana audit dan program audit yang sangat jelas untuk audit secara
keseluruhan,
Fase II : Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi
Auditor melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi selama fase
ini. Tujuan dari fase II adalah untuk :
1. Mendapatkan bukit yang mendukung pengendalian tertentu yang berkontribusi
terhadap penilaian risiko pengendalian yang dilakukan oleh auditor.
2. Mendapatkan bukti yang mendukung ketepatan moneter dalam transaksi-transaksi.

Dikarenakan hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi


merupakan penentu utama dari keluasan pengujian terperinci saldo, kedua pengujian
tersebut diselesaikan dua atau tiga bulan sebelum tanggal neraca. Hal itu membantu auditor
merevisi program audit pengujian terperinci saldo untuk hasil-hasil yang tak terduga dalam
pengujian sebelumnya dan untuk menyelesaikan audit sesegera mungkin setelah tanggal
neraca.
Untuk sistem akunatnsi yang terkomputerisasi auditor sering kali melakukan pengujian
pengendalian dan pengujian substantif transaksi di sepanjang tahun untuk
mengidentifikasi transaksi yang signifikan atau tidak biasa dan menentukan apakah ada
perubahan yang dilakukan terhadap program komputer klien.
Fase III : Melakukan Prosedur Analitis dan Pengujian Terperinci Saldo
Tujuan dari fase III adalah untuk mendapatkan bukti tambahan yang memadai untuk
menentukan apakah saldo akhir dan catatan-catatan kaki dalam laporan keuangan telah
disajikan dengan wajar. Dua kategori umum dalam prosedur umum fase III adalah :
1. Prosedur analitis substantif yang menilai keseluruhan kewajaran transaksi-transaksi
dan saldo-saldo akun.
2. Pengujian terperinci saldo, yang mana prosedur audit digunakan untuk menguji salah
saji moneter dalam saldo-saldo akun di laporan keuangan.

Tabel 11-7 menunjukkan prosedur analitis yang dilakukan sebelum dan sesudah tanggal
neraca. Prosedur analitis biasanya dilakukan di awal, dengan menggunakan data awal
sebelum akhir tahun, sebagai alat perencanaan dan pengarahan bagi audit lainnya untuk
bagian-bagian khusus. Tabel 11-7 juga menunjukkan bahwa pengujian terperinci saldo
biasanya dilakukan terakhir. Dalam beberapa pengauditan, semuanya dilakukan setelah
tanggal neraca.
Fase IV : Menyelesaikan Audit dan Menerbitkan Suatu Laporan Audit
Setelah tiga fase pertama diselesaikan, auditor harus mengumpulkan bukti tambahan
terkait dengan tujuan penyajian dan pengungkapan, ikhtisar hasil, penerbitan laporan
auidt, dan melakukan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Fase ini memiliki beberapa
bagian :
Melakukan Pengujian Tambahan Untuk Tujuan Penyajian dan Pengungkapan
Prosedur yang dilakukan auditor untuk mendukung tujuan audit terkait penyajian dan
pengungkapan sama dengan prosedur audit yang dilakukan untuk mendukung tujuan audit
terkait transaksi maupun saldo. Auditor juga melakukan pengujian substantif untuk
mendapatkan bukti yang tepat dan memadai bahwa informasi yang diungkapkan dalam
catatan-catatan kaki merefleksikan transaksi dan saldo yang sebenarnya dan bahwa
penyajian kewajiban klien adalah utnuk mendukung tujuan keterjadian serta hak dan
kewajiban.
Selama fase terakhir ini auditor melakukan prosedur audit terkait denga
kewajiban kontinjensi dan kejadian-kejadian setelah tanggal neraca. Kewajiban
kontinjensi harus diungkapkan dalan catatan kaki klien. Auditor juga harus yakin bahwa
pengungkapan telah lengkap dan akurat.
Pengumpulan Bukti Akhir Selain bukti yang didapatkan dari setiap siklus selama fase I
dan fase II dan untuk setiap akun selama fase III, auditor harus mendapatkan bukti berikut:
Melakukan prosedur analitis akhir.
Mengevaluasi asumsi keberlangsungan usaha (going concern).
Mendapatkan surat representasi klien.
Membaca informasi dalam laporan tahunan untuk meyakinkan bahwa informasi yang
disajikan konsisten dengan laporan keuangan.

Menerbitkan Laporan Audit Jenis laporan audit yang akan diterbitkan bergantung pada
bukti yang dikumpulkan dan temuan-temuan auditnya.
Komunikasi dengan Komite Audit dan Manajemen Auditor diharuskan untuk
mengkomunikasikab setiap kekurangan dalam pengendalian internal yang signifikan pada
komite audit atau manajemen senior.