Anda di halaman 1dari 14

Tugas Toksikologi

Tumbuhan Beracun dan Toksinnya

OLEH :

NAMA : NELMA SARI


NIM : 1402101010173
KELAS : 02

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2017
Macam- macam senyawa beracun yang terkadung pada tanaman

a) Piperidin Alkaloid
Piperidin alkaloid diidentifikan dari lingkaran heterosiklik jenuh yang
dimilikinya, sebagai contoh adalah inti piperidin. Senyawa terpenting dari
piperidin alkaloid adalah coniin yang di jumpai pada tanaman conium maculatum
atau lebih dikenal dengan nama tanaman hemlock beracun. Racun ini mudah
menyebar karena mudah menguap sehingga dapat terhirup alat pernafasan.

b) Indol Alkaloid
Indol alkaloid adalah turunan dari asam-asam amino triptofan yang mudah
diamati oleh perbandingan kandungan inti nitrogen pada struktur zat kimia
triptofan. Indol alkaloid beracun pada ternak yang paling penting adalah alkaloid
ergot yang diproduksi oleh jamur parasit pada biji jenis rumput-rumputan dan biji
padi-padian. Istilah ergot umumnya digunakan untuk jenis jamur Claviceps. Tiga
jenis Claviceps yang utama adalah Claviceps Purpurea, Claviceps paspali, dan
Claviceps cinerea. Ketiga jenis jamur Claviceps tersebut terdapat pada tanaman
gandum dan beberapa rumput liar.

c) Indolizidin alkaloid
Indolizidin alkaloid merupakan salah satu senyawa yang merupakan
golongan dari alkaloid. Jenis-jenis tanaman yang mengandung indolizidin alkaloid
swainsonin adalah Astragalus dan Oxytropis. Tanaman ini biasanya ditemukan di
daerah Australia barat. Ternak yang biasanya mengkonsumsi tanaman ini adalah
sapi, kuda dan domba, namun kadang-kadang diberikan juga pada unggas.

d) Glukosida sianogenik
Bagi tanaman, senyawa ini diperlukan dalam mekanisme pertahanan diri
terhadap predator dan dalam proses metabolism untuk membentuk protein dan
karbohidrat.
e) Linamarin
Linamarin merupakan senyawa turunan dari glikosida sianogenik. System
metabolism dalam tanaman meyebabkan salah satu hasil dari degradasi asam
amino L-valin adalah linamarin. Linamarin terdapat dalam tanaman linum
usitatissinum (linseed), phaseolus lunatus (java bean), trifolium repens (white
clover), lotus spp. (lotus), dimorphoteca spp (cape marigolds) dan manihot spp.
(ubi kayu). Namun linamarin diberikan karena serupa dengan yang diketemukan
dalam tanaman rami (linum spp).

f) Lotaustralin
Lotaustralin merupakan senyawa turunan dari glikosida sianogenik.
System metabolisme dalam tanaman menyebabkan salah satu dari degradasi asam
amino L-isoleusin adalah lotaustralin.

g) Asam sianida (HCN)


Lebih dari 100 jenis tanaman mempunyai kemampuan untuk memproduksi
asam sianida. Jenis tanaman tersebut antara lain family rosaceae, possifloraceae,
leguminosae, sapindaceae, dan graminae. Manihot utilissima sebagai salah satu
tanaman yang mengandung asam sianida.

h) Solanin
Solanin merupakan senyawa golongan glikosida yang diketahui sebagai
antienzim, yaitu penghambat enzim akholinesterase. Solanin yang ditemukan pada
tanaman yang tergolong dalam suku solanaceae yang kebanyakan berupa
berbatang basah, jarang berupa semak atau pohon, atau umumnya pada kentang-
kentangan, dengan spesiesnya adalah: Solanum dulcamara L, Solanum ningrum L,
dan Solanum tuberosum L.

i) Fitoestrogen (Isoflavon dan Coumestan)


Fitoestrogen adalah estrogen tanaman. Dua senyawa yang merupakan
fitoestrogen adalah isoflavon dan coumestan yaitu zat yang berasal dari kelas
fenilpropanoid dan merupakan penggabungan decumarol (3.3 metyhylenebis atau
4-OH coumarin) melalui posisi ketiga.

j) Anti tripsin
Anti tripsin atau inhibitor tripsin adalah senyawa penghambat kerja tripsin
yang secara alami terdapat pada kedelai, lima bean (kara), gandum, ubi jalar,
kentang, kecipir, kacang polong, umbi leguminosa, alfalfa, sorgum, kacang fava,
beras dan ovomucoid.

k) Papain
Papain adalah suatu enzim pemecah protein (enzim proteolitik) yang
terdalam dalam getah papaya yang memiliki aktifitas proteolitik minimal 20
unit/gram preparat dan tergolong ke dalam senyawa oraganik komplek yang
tersusun dari gugusan asam amino.

l) Lectin (Hemaglutinin)

Lektin adalah glikoprotein yang mempunyai bobot molekul 60.000-


100.000 yang dikenal untuk kemampuannya menggumpalkan eritrosit. Tanaman
yang mengandung lectin dijumpai dalam banyak kelompok botani meliputi
monokotiledon dan dikotiledon, jamur dan lumut, tetapi yang paling banyak
terdapat pada leguminoseae dan euphobiaceae.

m) Mimosin
Mimosin merupakan zat racun atau zat anti nutrisi yang berasal dari
lamtoro atau leguminosa. Mimosin merupakan racun yang berasal dari turunan
asam amino. Mimosin merupakan racun yang berasal dari turunan asam amino
heterosiklik, yaitu asam amino yang mempunyai rantai karbon melingkar dengan
gugus berbeda.
n) Latirogen
Latirogen adalah racun yang ditemukan dalam chick pea dan vetch yaitu
sejenis kacang polong. Latirogen merupakan derivate asam amino yang bekerja
melawan metabolism asam glutamate, sebagai neurotransmitter di otak. Ketika
latirogen terkonsumsi dalam jumlah banyak oleh ternak, maka akan terjadi
kelumpuhan. Penyakit yang disebabkan oleh racun latirogen dinamakan latirisme.

o) Linatin, indospecine, dan canavanin


Bungkil biji rami (Linum Usitatissimum) mengandung sebuah zat
antagonis dari piridoksin yaitu asam amino 1-amino-D-prolin. Pada bungkil biji
rami, zat yang apabila dihidrolisis akan mengahasilkan dipeptida 1-amino-D-
prolin dan asam glutamate dikenal sebagai linatin. 1-amino-D-prolin bereaksi
dengan piridoksal fosfat membentuk hidrazona dan akan menghalangi fungsi
sebagai kofaktor di metabolism asam amino. Produksi piridoksal fosfat
dimasukkan pada transaminasi, dekarboksilasi dan reaksi metabolism asam amino
lainnya. Gejala defisiensi piridoksal meliputi depresi nafsu makan, pertumbuhan
lambat, dan konvulasi pada ayam yang mengkonsumsi bungkil biji rami.

Tanaman- tanaman mengandung racun.

1) Bakung (pohon bung lily)


Bakung termasuk dalam keluarga Liliaceae. Hampir semua jenis bakung
adalah beracun dan tidak mudah dicerna. Tanaman jenis ini banyak tumbuh di
padang penggembalaan sehingga secara tidak sengaja dapat termakan oleh ternak.
Umbi bakung sering lebih banyak mengandung racun daripada bagian tanaman
yang berada di atas tanah. Hewan yang termasuk rentan adalah sapi dan babi. Babi
sering terkena racun bakung karena kebiasaannya makan umbi-umbian dengan
cara menggali tanah menggunakan moncongnya.
Gejala klinis pada ternak yang keracunan bakung terlihat gejalanya bervariasi,
tergantung banyaknya bakung yang dimakan. Glikosida atau alkaloid merupakan
bahan pokok racun yang berakibat pada jantung dan sistem saraf.

2) Ubi Kayu (Singkong)


Daun ubi kayu mengandung sianida yang beracun. Oleh karena itu jika
akan dimanfaatkan untuk bahan sayur harus diolah dengan cara yang benar agar
efek toksiknya hilang, misalnya dengan dipanaskan.Kandungan sianida pada daun
ubi kayu bervariasi, tergantung pada jenisnya.

Daun ubi kayu yang segar memiliki kandungan sianida yang cukup banyak. Cara
menetralisasi kandungan sianida tersebut dapat dilakukan dengan dijemur
sebelum diberikan kepada ternak. Hewan yang rentan adalah semua jenis ternak
ruminansia termasuk sapi, kerbau, kambing, dan domba. Gejala klinis akibat
keracunan daun ubi kayu ini terutama pada sapi adalah gejala kejang-kejang,
mulut keluar buih keputihan, mata menjadi juling, pernafasan sesak, denyut
jantung meningkat, dan bila mengalami keracunan yang berat dapat
mengakibatkan kematian.

3) Jarak (Ricinus communis)

Tanaman ini disebut juga Palma Christi, yang dapat meracuni darah.
Tanaman ini ditamukan hampir disetiap daerah tropis. Tanaman ini termasuk jenis
tanaman semak yang dapat tumbuh sampai pada ketinggian 3 meter.

Bila tidak ada perlakuan tertentu, biji-biji jarak ini dapat meracuni. Biji jarak ini
dapat diperas dan menghasilkan minyak castro. Ampas dari biji jarak tersebut
mengandung banyak substansi beracun karena mengandung toksalbumin yang
disebut risin. Gejala klinis pada sapi yang secara tidak sengaja makan pakanan
yang tercampur bahan mengandung risin dapat mengalami kematian dengan
gejala kejang-kejang.

1) Kacang Tanah

Kacang tanah atau bungkil kacang tanah sebagai limbah industri sering
dimanfaatkan untuk makanan penguat bagi ternak, utamanya sapi dan babi.
Kacang tanah atau bungkil kacang tanah dalam situasi tertentu dapat
mengakibatkan keracunan akibat dari daya kerja aflatoksin.
Dalam keadaan biasa pakan ternak dari bungkil kacang tanah ini adalah normal
dan biasa diberikan, namun dalam situasi tertentu dapat menjadi racun karena
kacang atau bungkil kacang tersebut telah ditumbuhi jamur Aspergillus flavus..
Hewan rentan terhadap racun dari jamur Aspergillus ini adalah sapi, babi, dan
ayam, sedangkan domba termasuk lebih tahan. Hewan muda lebih rentan daripada
hewan dewasa. Gejala klinis akibat pengaruh dari racun jamur Aspergillus flavus
pada kebanyakan hewan antara lain adalah kecepatan pertumbuhannya berkurang
dan nafsu makan juga berkurang. Keracunan yang hebat dapat menyebabkan
kekejangan dan kemudian hewan akan ambruk. Pedet yang keracunan dapat
mengalami tenesmus dan buta. Pengaruh paling menonjol pada sapi dewasa yang
sedang laktasi adalah penurunan produksi susu.

2) Lantana (Pohon bunga Telekan)


Hewan yang rentan dan sering mengalami keracunan lantana adalah sapi,
terutama pada saat musim kering karena sulit menemukan tanaman hijauan lain di
padang penggembalaan kecuali tanaman lantana. Sapi Bali, Brahman cross, dan
sapi Brahman sangat rentan terhadap racun tanaman lantana ini. Gejala klinis pada
sapi yang keracunan lantana antara lain adalah jaundice yang berat,
fotosensitisasi, dermatitis nekrotik berat terutama di bagian tubuh yang paling
banyak terkena sinar matahari atau berwarna lebih pucat seperti pada cuping
telinga, ponok, bagian atas moncong dan punggung. Ternak kehilangan nafsu
makan, diare, gelisah, ambruk, dan akhirnya mati dalam beberapa hari dengan
kondisi tubuh yang sangat kurus. Apabila makan tanaman lantana dalam jumlah
banyak, maka sapi akan mati karena gastroenteritis sebelum terjadi fotosensitisasi.

3) Ageratum conyzoides (babadotan)

Ageratum conyzoides (babadotan) merupakan tanaman perdu yang


tumbuh di daerah basah dan berawa. Secara umum babadotan memiliki rasa pahit
dan mengeluarkan aroma yang kurang sedap sehingga tanaman ini kurang
diminati oleh ternak. Keracunan dapat terjadi bila ternak dalam keadaan lapar
terutama setelah melalui perjalanan jauh dan ternak digembalakan pada lokasi
yang baru yang tidak memiliki pakan hijauan yang cukup. Sirosis hati merupakan
kelainan patologis utama yang dijumpai pada hampir seluruh sapi yang mati.
Sementara itu Ageratum conyzoides dijumpai banyak tumbuh pada lokasi
penampungan sapi tersebut dan diduga merupakan salah satu penyebab keracunan
pada ternak disamping tanaman lainnya.

4) Lantana camara (tahi ayam, tai kotok)

Bunga terdiri dari berbagai jenis warna antara lain putih, merah, kuning,
orange, biru, ungu atau warna gabungan (intermediat). Lantana dibagi menjadi
dua kelompok utama berdasarkan warna bunganya, yaitu bunga pink dan bunga
merah. Warna merah merupakan tanaman yang paling toksik dibanding warna
lainnya, kemudian diikuti dengan warna pink.
Secara umum dalam masa pertumbuhannya, tipe bunga merah atau bunga pink
yang berubah menjadi merah dianggap paling toksik. Sedangkan putih - pink atau
kuning - pink memiliki toksisitas yang rendah. Senyawa toksin dari lantana adalah
asam triterpenoid yang lebih dikenal sebagai lantadene A, atau disebut juga
rehmannic acid. Dosis toksik secara oral dari lantadene A pada domba sebesar 60
mg/kg dan secara intravenous sebesar 4 mg/kg. Daun merupakan sumber utama
toksin lantadene A ini, sedangkan bunga, buah dan akar mengandung toksin yang
sangat rendah dan tidak menimbulkan kelainan hepatik dan bilirubin pada
marmot.

Gejala klinis Keracunan lantana terjadi secara alami terutama pada sapi,
tetapi domba dan kambing juga peka terhadap tanaman ini. Lantana terlihat
palatable bagi beberapa ekor sapi, tetapi tidak untuk yang lain. Keracunan
biasanya terjadi bila hewan dipindahkan ketempat yang baru pada saat musim
hujan atau pada musim dimana pakan hijauan sulit didapat. Pada keracunan akut,
gejala klinis akan muncul beberapa jam setelah makan tanaman ini yang dimulai
dengan depresi, kehilangan nafsu makan, penurunan motilitas rumen, dan
konstipasi parah. 2 3 hari kemudian diikuti dengan gejala icterus, dan pada
beberapa kasus, terjadi kelainan kulit akibat fostosensitisasi hepatogenous yang
diakhiri dengan terkelupasnya epitelium dan membran mukosa. Telinga terlihat
membengkak, berat dan panas serta tampak terkulai. Kematian dapat terjadi 2 hari
setelah intoksikasi parah, yang biasanya akibat kombinasi dari penyakit hati dan
kegagalan ginjal. Pada sapi bali penyakit ini di kenal dengan bali ziekte.
Keracunan kronis berkembang dalam beberapa minggu dan ditandai dengan gejala
fotosensitisasi. Terlihat adanya keretakan dan deskuamasi kulit yang diikuti
dengan gatal, peradangan sclera, perubahan pada cornea, dan peningkatan
sensitivitas mata terhadap cahaya terang.

5) Panicum maximum (Rumput benggala)

Selain kemungkinannya mengandung sianogenik glikosida, nitrat atau


oksalat, Panicum spp dapat menimbulkan fotosensitisasi hepatogenous pada
ternak yang digembalakan di lapangan. Anak domba sangat peka terhadap rumput
ini.

Fotosensitisasi sering ditemukan pada anak domba dan dalam jumlah yang lebih
kecil terjadi pada domba dewasa, kambing Angora dan kuda. Fotosensitisasi
dikaitkan dengan saponin seperti dichotomin. Berbagai spesies terlihat mampu
menimbulkan kelainan hati dan kulit akibat konsumsi P. coloratum, P.
dichotomiflorum dan P. maximum di Amerika Utara dan Afrika Selatan serta P.
miliaceum dan P. maximum di Australia dan Amerika Selatan, Bedotti et al.,
1991). Rumput ini juga mengandung saponin yang terdiri dari furostanol dan
spirostanol yang terdiri dari diosgenin dan/atau yamogenin. Kristal yang khas di
dalam saluran empedu berupa garam kalsium dari saponin, tetapi dengan struktur
yang berbeda dari saponin utama dalam tanaman, dan kemungkinan berupa
epismilagenin. Saponin bereaksi dengan kalsium dan mengalami presipitasi
sebagai garam kalsium insoluble di dalam saluran empedu. Presipitat tersebut
adalah garam kalsium dari epismilagenin -D-glucuronide (Miles et al., 1992).
Toksisitas ditandai dengan kristal saponin empedu yang berbentuk kristal, dapat
dilarutkan melalui fiksasi dengan alkohol dan membentuk cleft artefak. Derajat
kerusakan hati bervariasi dari yang ringan hingga moderat tetapi bersifat
reversibel bila hewan dijauhkan dari lapang penggembalaan yang berisi Panicum
spp untuk gejala klinis pertama. Gejala klinis - Gejala klinis berkaitan terutama
dengan nekrosis jaringan disekitar kapiler kulit dimana sinar UV berpenetrasi.
Perubahan kulit terjadi dengan cepat antara 1 2 hari atau secara bertahap dalam
seminggu. Pada domba, kebanyakan lesio terjadi pada bagian kepala yang
meliputi pembengkakan dengan kerontokan bulu dan terkelupasnya kulit pada
bagian ujung telinga, kelopak mata, sekitar mata, dekat bibir dan hidung, dan
dibawah dagu (jaw). Dapat juga dijumpai kemerahan pada coronary bands,
kepincangan, ikterus ringan dan depresi. Pada kuda terlihat kehilangan nafsu
makan yang kronis dan kehilangan berat badan. Sekali-sekali dijumpai pula
hepatoencephalopathy dengan kepala lebih rendah dan sifat yang galak secara
periodik.

6) Persea americana (Alpokat)

Terdapat tiga varietas utama dari alpokat yaitu Guatemalan, Mexican dan
West Indian yang meliputi berbagai strain alpokat. Dari tiga varietas tersebut,
hanya varietas Guatemalan yang bersifat toksik. Biji alpokat khususnya sangat
toksik bagi babi. Toksisitas Konsumsi daun alpokat var. Guatemalan dapat
mempengaruhi kesehatan hewan yang sedang dalam masa laktasi dengan
menimbulkan gejala non-infectious agalactia dan mastitis. Dalam suatu wabah
keracunan daun alpokat pada kambing, kelenjar ambing terlihat oedematous dan
susu mengalami pengerasan. Pergerakan saluran pencernaan mengalami
penurunan dan terlihat anasarca yang ekstensif meliputi leher dan dada. Sementara
itu konsumsi daun alpokat oleh kuda dapat menimbulkan anasarka pada kepala
dan leher yang sangat sakit sekali. Pada hewan laktasi efek utama dari dosis
rendah daun tanaman adalah non-infecious mastitis dengan kehilangan produksi
susu yang nyata (Craigmill et al., 1984; 1989). Mastitis juga dijumpai pada mencit
yang diberi diet daun alpokat dengan dosis yang tepat (Sani et al., 1994). Pada
hewan non-laktasi atau pada dosis yang lebih tinggi, pengaruh lain seperti
cardiomyopathy menjadi lebih dominan dalam keracunan daun alpokat (Sani et
al., 1991). Gejala klinis Mastitis terjadi dalam 24 jam setelah diberi daun
alpokat, yang terlihat berupa pengerasan dan pembengkakan kelenjar ambing;
sekitar 75% penurunan produksi susu; susu terlihat berair, keras dan seperti keju.
Bila dosis ditingkatkan akan terlihat oedema subcutaneous dari leher hingga dada,
batuk, lemah/depresi, malas bergerak, kesulitan bernapas dan cardiac arythmias.
Serum enzim hepatic seperti LDH, CK dan AST meningkat.
DAFTAR PUSTAKA

Simanullang, Y. 2006. Eksplorasi Tumbuhan pada Taman Nasional, Gunung


Leuser ,Sumatera Utara. Medan : Jurnal USU.

Supriyotno. 2009. Prinsip Obat Herbal. Bandung : Salemba Medika.

Yuningsih. 2004. Efek Toksiko Patologik Beberapa Tanaman Beracun pada


Mencit dalam Upaya Mencari Zat Pengganti Racun Strichnine Untuk
Pembrantasan Penyakit Rabies pada Anjing. Bogor : Jurnal Balai
Penelitian Veteriner.