Anda di halaman 1dari 5

Pemilihan Lokasi TPA Menurut Metoda Hagerty

Evaluasi dengan metode ini mengandalkan pada tiga karakteristik umum dari sebuah
lahan, yaitu (Damanhuri, 2008):

1. Potensi infiltrasi air eksternal ke dalam sub-permukaan,


2. Potensi transportasi cemaran menuju air tanah,
3. Mekanisme lain yang berkaitan dengan transportasi cemaran ke luar.

Pertimbangan yang digunakan dalam sistem pembobotan ini adalah (Damanhuri, 2008):

1. Parameter-parameter yang langsung berpengaruh pada transmisi cemaran


dianggap sebagai parameter dengan prioritas pertama, misalnya potensi infiltrasi,
potensi bocornya dasar lahan-urug, dan kecepatan air tanah. Nilai maksimum
adalah 20 SRP (satuan rangking prioritas).
2. Parameter-parameter yang mempengaruhi transportasi cemaran setelah
terjadinya kontak dengan air dianggap sebagai prioritas kedua, seperti kapasitas
penyaringan dan kapasitas sorpsi. Nilai maksimum adalah 15 SRP.
3. Parameter-parameter yang mewakili kondisi awal dari air tanah dikenal
sebagai prioritas ketiga. Nilai maksimum adalah 10 SRP.
4. Parameter-parameter yang mewakili faktor-faktor lain, dikenal sebagai
prioritas keempat, seperti jarak potensi cemaran, arah angin dan populasi
penduduk. Nilai maksimum adalah 5 SRP.

Rangking suatu lokasi dihitung berdasarkan penjumlahan parameter yang dinilai secara
individual, yaitu (Damanhuri, 2008):

SRP = Ip + Lp + Fc + Ac + Oc + Bc + Td + Gv + Wp + Pf

dimana :

Ip = potensi infiltrasi
Lp = potensi keretakan dasar
Fc = kapasitas filtrasi
Ac = kapasitas adsorpsi
Oc = potensi kandungan organik dalam air
Bc = kemampuan kapasitas penyangga
Td = potensi jarak tempuh cemaran
Gv = kecepatan air tanah
Wd = arah dominan angina
Pf = factor penduduk

1. Infiltrasi.
Potensi infiltrasi (Ip) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):
dimana:
Ip = infiltrasi ( % dari rata-rata hujan tahunan)
FC = kapasitas penahan air bervariasi antara 0,05 (pasir) sampai 0,40 (liat)
H = ketebalan tanah penutup (inch)

2. Potensi keretakan dasar (Lp) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):

dimana:
K = koefisien permeabilitas (cm/det)
T = ketebalan dasar (ft)

3. Kapasitas filtrasi (Fc) dihitung dengan (Damanhuri, 2008);

dimana: = diameter rata-rata butiran (inch)

4. Kapasitas adsorpsi (Ac) dihitung dengan (Damanhuri, 2008)

dimana:
Or = kandungan organik tanah (% berat kering)
KTK = kapasitas tukar kation (mev/100 gr)

5. Kapasitas organik dalam air tanah (Oc) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):

Oc = 0,2 BOD

dimana:
BOD = kebutuhan oksigen secara biokimia (mg/L)

6. Kapasitas penyangga air tanah (Bc) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):

Bc = 10 Nme

dimana:

Nme = nilai terkecil kebutuhan asam atau basa untuk menurunkan pH air sampai
4,5 atau sampai 8,5 (mev)

7. Potensi jarak tempuh cemaran (Td) dihitung seperti Tabel di bawah ini
(Damanhuri, 2008):

Tabel : Jarak tempuh cemaran

Jarak diukur dari lokasi lahan-urug ke muka air tanah di bawahnya, atau ke air
pemukaan lainnya.

8. Potensi kecepatan air tanah (Gv) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):

dimana :
S = kemiringan hidrolis (ft/mil)
K = permeabilitas (cm/det)
9. Potesi arah angin (Wp) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):

dimana :
Ai = sudut arah angin potensial terhadap populasi.
Pi = populasi di setiap kuadran (jiwa) dalam jarak 40 km.

10. Faktor populasi (Pf) dihitung dengan (Damanhuri, 2008):

Pf = log p
dimana : p = populasi terbesar (jiwa) pada radius 40 km.

Kelebihan Metoda Hagerty dibandingkan metoda lain adalah :

1. Parameter-parameter yang dievaluasi cukup luas, meliputi aspek-aspek


penting diantaranya: potensi infiltrasi yang menunjukkan potensi air yang masuk
ke dalam tempat pembuangan limbah, kapasitas organik dalam air tanah yang
menggambarkan transmutasi cemaran yang berkontak dengan air tanah serta arah
dan kecepatan angin untuk mengantisipasi potensi dampak dari TPA terhadap
kualitas udara di sekitarnya.
2. Menggunakan sistem pembobotan dengan empat level prioritas yang
berbeda, disesuaikan dengan tingkat kepentingan dari parameter-parameter yang
ditinjau yaitu parameter-parameter yang langsung berpengaruh pada transmisi
cemaran, parameter-parameter yang mempengaruhi transportasi cemaran setelah
kontak dengan air, parameter-parameter yang mewakili kondisi awal dari air
tanah dan parameter yang mewakili faktor-faktor lain seperti; jarak potensi
cemaran, arah angin dan populasi penduduk

Kelemahan metoda ini dibandingkan metoda lain adalah :

1. Memerlukan biaya lebih mahal dari pada metoda SNI T-11-1991-03, karena
selain pengukuran di lapangan juga perlu dilakukan analisis laboratorium untuk
pengukuran contoh tanah dan air tanah masing-masing lokasi.
2. Lokasi yang dikaji merupakan lokasi hasil dari tahap regional dengan metoda
SNI T-11-1991-03, metoda ini tidak mempunyai kajian pendahuluan seperti pada
tahap regional yang terdapat dalam metoda SNI T-11-1991-03.
3. Dalam analisis terhadap arah angin, arah angin yang digunakan adalah arah angin
regional. Arah angin ini dirasakan tidak mewakili keadaan yang sebenarnya
di lokasi usulan karena terlalu global. Selain itu populasi yang diperhitungkan
adalah pada radius 40 km. Hal ini dianggap terlalu besar, karena diperkirakan
konsentrasi cemaran yang terbawa angin akan semakin kecilsehingga tidak
mengganggu. Tingkat keterganggguan yang paling besar yang mungkin terjadi
adalah pada populasi yang berada di sekitar lokasi TPA.
4. Pada metoda Hagerty tidak terdapat kajian tentang batas administrasi dari lokasi,
kapasitas lahan dan jalan menuju lokasi.