Anda di halaman 1dari 87

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOFARMAKA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Ucapan puja-puji dan syukur hanya semata milik Allah SWT. Hanya Kepadanya lah kami
memuji dan bersyukur, meminta ampunan dan pertolongan. Kepadanya juga lah kita meminta
perlindungan dari kejelekan diri dari syetan yang senantiasa membisikkan kebatilan kepada hati
kita.

Dengan rohmat serta pertolongan-Nya, puji syukur, akhirnya laporan praktikum fitofarmaka ini
bisa terselesaikan dengan lancar. Kami menyadari sepenuh hati bahwa tetap terdapat
kekurangan yang ada pada makalah ini.

Kami menantikan kritik dan saran yang membangun dari setiap pembaca untuk materi evaluasi
kami mengenai penulisan makalah selanjutnya. Kami berharap hal itu semua dapat dijadikan
cambuk buat kami supaya lebih mengutamakan kualitas makalah ini di masa yang selanjutnya.

Malang, Desember 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

LAPORAN PRAKTIKUM ........................................................................................................ 1

LAPORAN PRAKTIKUM I ...................................................................................................... 2

Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L.) ............................................... 2

TUGAS 1 .................................................................................................................................... 3

Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga .................................................................... 3

LAPORAN PRAKTIKUM II ................................................................................................... 21

TUGAS 2 .................................................................................................................................. 22

Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L. .................................................... 22

TUGAS 3 .................................................................................................................................. 44

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Ekstrak Rimpang Kaempferia galangaa L. .............. 44

TUGAS 4 .................................................................................................................................. 59

PEMBUATAN KAPSUL EKSTRAK KENCUR DAN PENETAPAN KADAR SENYAWA


MARKER DALAM KAPSUL ................................................................................................. 59

(Kaempferia galanga) ............................................................................................................... 59

TUGAS 5 .................................................................................................................................. 73

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Sediaan Kapsul ........................................................ 73


LAPORAN PRAKTIKUM I

Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L.)


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 1

Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga


I. Judul
Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga
II. Tujuan: Untuk mengetahui cara pembuatan ekstrak rimpang Kaempferia
galanga melalui berbagai macam metode.
III. Tinjauan Pustaka
a. Klasifikasi Tumbuhan
Kingdom : Plantae Ordo : Zingiberales

Subkingdom : Traecheobionta Famili : Zingiberaceae

Super Divisi : Spermatophyta Genus : Kaempferia

Divisi : Magnoliophyta Spesies : Kaempferia


galanga Linn.
Kelas : Liliopsida

Sub Kelas : Commelinidae

b. Deskripsi Tanaman
Kempferia merupakan genus herbal yang memiliki anggota lebih dari 50
spesies asli dari Asia Timur tropis yang masuk dalam famili Zingiberaceae.
Kaempferia merupakan rizoma herbal yang berukuran kecil yang biasanya
berbentuk akar tuberous aromatik yang tebal dan rizoma yang pendek (Tang
et al., 2014).
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu dari lima jenis
tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia.kencur
merupakan tanaman obat yang bernilai ekonomis cukup tinggisehingga
banyak dibudidayakan. Bagian rimpangnya digunakan sebagai bahan baku
industri obat tradisioanl, bumbu dapur, bahan makanan, maupun penyengar
minuman lainnya (Rostiana et al., 2003).
c. Kandungan Kimia
Menurut Hargono (1995), bahwa kandungan senyawa Kaempferia galanga
L. yaitu :
1. Daun : alkaloid, borneol, dan eucaliptol.
2. Rimpang : tanin, saponin, kalsium oksalat, borneol, kamfen, sineol, etil
alkohol, minyak atsiri (2,4%- 3,9%) terdiri etil p- metoksisinamate, asam
p- metoksinamat, asam transinamat, p- metoksi stirena, p- asam kumarat,
n- pentadekana.
Kandungan senyawa yang terdapat secara melimpah yaitu asam
popanoat, pentadekana, etil p- metoksisinamat. Kandungan lainnya yaitu
1,8- sineol, undekanon, isopropil sinama, disikloheksilpropandinitril,
dipenten dioksida, 9- hidroksi, 2- nonanon, 2,7- oktadien- 1- il asetat, etil
sikloheksil asetat, cis 11- tetradesenil asetat, 2- heptadekanon, 4-
metilnisopulegon, champidin, trans- trans- okta- 2,4- dietil asetat, 10-
undesil-1- ol, ,7- dimetoksikumarin, delta-3carene, alfa pinen, champhene,
borneol, cymene, alpha gurjunene, germacrenes, cadinenes,
caryophyllenes, luteolin, dan apigenin (Umar et al., 2011).

d. Manfaat Kaempferia galanga


Zingebraceae telah ditemukan sebagai sumber yang diperlukan sekali
untuk agen pencegah kanker sejak tumbuhan dari famili Zingeberaceae
didemonstrasikan kemungkinan efek hambatnya pada pertumbuhan kanker
payudara (MCF-7), kanker kolon (HT- 29 dan Col2), kanker paru- paru
(A549), kanker perut (SNU- 638), dan kanker servic (CaSki). Dilaporkan
juga pada skrining ekstrak atau minyak esensial dari sejumlah anggota
famili Zingiberaceae yaitu dapat melawan strain bakteri, jamur, dan ragi
(Tang et al.,2014).

Kebanyakan rizoma ginger banyak yang bisa dimakan yang telah lama
digunakan sebagai bahan untuk pengobatan tradisional selama berabad-
abad tetapi ridak sepenuhnya telah dilakukan indentifikasi terhadap aktivitas
bioaktifnya (Tang et al.,2014).

Ekstrak dari Kaempfreia galangaL. memiliki aktivitas antiinflamasi,


analgesik, nematasida, penolak nyamuk, larvisida, vasorelaksan, sedatif,
antineoplastik, antimikroba, antioksidan, antialergidan penyembuh luka
(Umar et al., 2011). Etil p- metoksisinamat dan etil sinamat ditemukan
sebagai senyawa vital yang berperan dalam kebanyakan sifat farmakologi.
Efek aktinosiseptik dari ekstrak Kaempferia galanga L. sebanding dengan
aspirin, mengingat efek nematisida Kaempferia galanga L. bahkan lebih
poten dari pada Carbofuran dan Nametan (Umar et al., 2011).

e. Ekstraksi
Menurut Tiwari et al.,(2011), keberagaman dari metode ekstraksi
biasanya berdasarkan pada:
a) Lamanya periode ekstraksi
b) Pelarut yang digunakan
c) pH dari pelarut
d) Suhu
e) Ukuran partikel dari jaringan tumbuhan
f) Perbandingan pelarut terhadap sampel
Ekstraksi dalam hal farmaseutik merupakan pemisahan bagian yang
aktif secara medisinal dari jaringan tumbuhan dan hewan menggunakan
pelarut tertentu melalui prosedur standart. Selama ekstraksi, pelarut
berdifusi ke dalam material padat tumbuhan dan melarutkan senyawa-
senyawa dengan kepolaran yang sama (Tiwari et al.,2011).
Parameter dasar yang mempengaruhi kualitas dari sebuah ekstrak
adalah:
a) Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai material awal
b) Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi
c) Prosedur ekstraksi
Keberagaman dalam metode ekstraksi yang berbeda yaitu akan
mempengaruhi kuantitas dan komposisi metabolit sekunder pada sebuah
ekstrak yang tergantung pada:
a) Tipe ekstraksi
b) Waktu ekstraksi
c) Suhu
d) Sifat pelarut
e) Konsentrasi pelarut
f) Polaritas
Homogenasi jaringan tumbuhan dalam pelarut telah secara luas
digunakan oleh para peneliti. Kering atau basah, bagian tumbuhan digiling
menggunakan blender untuk mendapatkan ukuran partikel yang halus,
diekstrak dalam pelarut tertentu dan dikocok dengan kuat selama 5-10 menit
atau dibiarkan selama 24 jam setelah selesai kemudian ekstrak tersebut
disaring. Filtrat kemudian diuapkan pelarutnya dan dilarutkan kembali
dalam pelarut untuk menentukan konsentrasi. Beberapa penelitian
melakukan sentrifugasi untuk menjernihkan ekstrak (Tiwari et al.,2011).
Matode ekstraksi yang telah berhasil yaitu dengan menggunakan
kenaikan kepolaran pelarut, dari mulai pelarut non polar (heksan) sampai
pelarut yang lebih polar (metanol) untuk menjamin bahwa rentang
kepolaran yang luas menyebabkan banyak senyawa yang dikandung dapat
diektraksi (Tiwari et al.,2011).
a) Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi berdasarkan ada tidaknya proses pemanasan dapat
dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstraksi cara dingin dan ekstraksi cara
panas (Hamdani, 2009).
Ekstraksi cara dingin
Pada metode ini tidak dilakukan pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung dengan tujuan agar senyawa yang diinginkan tidak
menjadi rusak. Beberapa jenis metode ekstraksi cara dingin, yaitu :
Maserasi
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan
pelarut diam atau dengan adanya pengadukan beberapa kali pada
suhu ruangan. Metode ini dapat dilakukan dengan cara merendam
bahan dengan sekali- kali dilakukan pengadukan. Pada umumnya
perendaman dilakukan selama 24 jam, kemudian pelarut diganti
dengan pelarut baru. Maserasi juga dapat dilakukan dengan
pengadukan secara berkesinambungan (maserasi kinetik).
Kelebihan dari metode ini yaitu efektif untuk sneyawa yang tidak
tahan panas (terdegradasi karena panas), pelaratan yang
digunakan relatif sederhana, murah, dan mudah didapat. Namun
metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu waktu
ekstraksi yang lama, membutuhkan pelarut dalam jumlah yang
banyak dan adanya kemungkinan bahwa senyawa tertentu tidak
dapat diekstrak karena kelarutannya yang rendah pada suhu ruang
(Sarker et al., 2006).
Maserasi Ultrasonik
Sonikasi merupakan salah satu teknik ekstraksi yang
menggunakan energi tambahan berupa vibrasi ultrasonik
untuk meningkatkan interaksi antara zat yang akan diambil
dengan pelarutnya. Penggunaan gelombang ultrasonik dapat
meningkatkan rendemen dan kualitas produk yang dihasilkan
(Supardan et al., 2011).
Penggunaan ultrasonik pada dasarnya menggunakan prinsip
dasar yaitu dengan mengamati sifat akustik gelombang
ultrasonik yang dirambatkan melalui medium yang dilewati.
Pada saat gelombang merambat, medium yang dilewatinya
akan mengalami getaran. Getaran akan memberikan
pengadukan yang intensif terhadap proses ekstraksi.
Pengadukan akan meningkatkan osmosis antara bahan dengan
pelarut sehingga akan meningkatkan proses ekstraksi.
Cara kerja metode ultrasonik dalam mengekstraksi adalah
sebagai berikut:
o Gelombang ultrasonik terbentuk dari pembangkitan
ultrason secara lokal dari kavitasi mikro pada sekeliling
bahan yang akan diekstraksi sehingga akan terjadi
pemanasan pada bahan tersebut dan melepaskan senyawa
ekstrak.
o Terdapat ekstrak ganda yang dihasilkan yaitu pengacauan
dinding sel sehingga membebaskan kandungan senyawa
yang ada didalamnya dan pemanasan lokal pada cairan dan
meningkatkan difusi ekstrak.
o Energi kinetik dilewati keseluruhan bagian cairan diikuti
dengan munculnya gelembung kavitasi pada dinding atau
permukaan sehingga meningkatkan transfer massa anatara
permukaan padat- cair.
o Efek mekanik yang ditimbulkan adalah meningkatkan
penetrasi dari cairan menuju dinding membran sel yang
mendukung pelepasan komponen sel dalam meningkatkan
transfer massa (Kerl, 2007).
Liu et al., (2010), menyatakan bahwa kavitasi ultrasonik
menghasilkan daya patah yang akan memecah dinding sel
secara mekanis dan meningkatkan transfer material. Kavitasi
adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir
sehingga membentuk gelembung- gelembung uap yang
disebabkan karena berkurangnya tekanan cairan tersebut
sampai dibawah titik jenuh uapnya.
Perkolasi
Perkolasi merupakan metode ekstraksi dengan bahan yang
disusun dengan menggunakan pelarut yang selalu baru sampai
prosesnya sempurna dan umumnya dilakukan pada suhu ruang.
Prosedur metode ini yaitu bahan direndam dengan pelarut,
kemudian pelarut baru dialirkan secara terus menerus sampai
warna pelarut tidak lagi berwarna atau tetap bening yang artinya
sudah tidak ada lagi senyawa yang terlarut. Kelebihan dari
metode yaitu tidak diperlukan proses tambahan untuk
memisahkan padatan dengan ekstrak, sdangkan kelemahan
metode ini adalah jumlah pelarut yang dibutuhkan cukup banyak
dan proses juga memerlukan waktu yang cukup lama, serta tidak
meratanya kontak antara padatan dan pelarut (Sarker et al., 2006).
Ekstrasksi cara panas
Pada metode ini melibatkan pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung. Adanya panas secara otomatis akan mempercepat
proses ekstraksi dibandingkan dengan cara dingin. Beberapa jenis
metode ekstraksi cara panas, yaitu:
Ekstraksi refluks
Ekstraksi refluks merupakan metode ekstraksi yang dilakukan
pada titik didih pelarut tersebut selama waktu dan sejumlah
pelarut tertentu dengan adanya pendingin balik (kondesor). Pada
umumnya dilakukan tiga sampai lima kali pengulangan proses
pada rafinat pertama. Kelebihan metode refluks adalah padatan
yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap pemanasan
langsung dapat diekstrak dengan metode ini. Kelemahan metode
ini adalah membutuhkan jumlah pelarut yang banyak (Irawan,
2010).
Ekstraksi soxhletasi
Ekstraksi dengan alat soxhlet merupakan ekstraksi dengan pelarut
yang selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan alat khusus
sehingga terjadi ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik
(kondensor). Pada metode ini, padatan disimpan dalam alat
soxhlet dan dipanaskan, sedangkan yang dipanaskan hanyalah
pelarutnya. Pelarut terdinginkan dalam kondensor, kemudian
mengekstraksi padatan. Kelebihan metode soxhlet adalah proses
ekstraksi berlangsung kontinu, memerlukan waktu dnegan
metode maserasi atau perkolasi. Kelemahan dari metode ini
adalah dapat menyebabkan rusaknya solute atau komponen
lainnya yang tidak tahan panas karena pemanasan ekstrak yang
dilakukan secara terus menerus (Sarket et al., 2006; Tiwari et al.,
2011).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses ekstraksi yaitu
(KirkOthmer, 1998; Perry, R., et al, 1984):
Perlakuan pendahuluan
Perlakuan pendahuluan dapat berpengaruh terhadapat
rendeman dan mutu ekstrak yang dihasilkan. Perlakuan
pendahuluan meliputi pengecilan ukuran dan pengeringan
bahan. Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin besar
luas kontak antara padatan dengan pelarut, tahanan menjadi
semakin berkurang, dan lintasan kapiler dalam padatan
menjadi semakin pendek (laju difusi berbanding lurus dengan
luas permukaan padatan dan berbanding terbalik dengan
ketebalan padatan), sehingga proses ekstraksi menjadi lebih
cepat dan optimal. Teknik pengecilan ukuran dapat dilakukan
dengan cara pemotongan, penggilingan, maupun
penghancuran.
Pengeringan bahan bertujuan untuk menguapkan sebagian air
dalam bahan, sehingga kadar air bahan menurun. Selain itu,
kerusakan dinding sel bahan selama pengeringan akan
mempermudah pengeluaran solute dalam bahan. Pengeringan
juga dapat mempermudah proses pengecilan ukuran dan
meningkatkan mutu ekstrak dengan menghindari adanya air
dalam ekstrak (Somaatmadja, 1985). Pada umumnya
pengeringan dilakukan pada suhu kamar atau oven dengan
temperatur kuran dari 30 0C. Keuntungan pengeringan dengan
menggunakan oven yaitu tidak tergantung cuaca, kapasitas
pengeringan dapat disesuaikan, tidak memerlukan tempat
yang luas, dan kondisi pengeringan dapat dikontrol. Faktor-
faktor yang mempengaruhi pengeringan yaitu udara pengering
dan sifat bahan. Faktor yang berhubungan dengan udara
pengering yaitu suhu, kecepatan volumetrik aliran udara
pengering, dan kelembapan udara sedangkan faktor yang
berhubungan dengan sifat bahan yaitu ukuran, kadar air awal,
dan tekanan parisal bahan.
Perlakuan pendahuluan
Kelarutan bahan yang diekstraksi dan difusivitas akan
meningkat dengan meningkatnya temperatur. Namun
temperatur yang terlalu tinggi dapat merusak bahan yang
diekstrak, sehingga perlu menentukan temperatur optimum.
Faktor pengadukan
Pengadukan dapat mempercepat pelarutan dan meningkatkan laju
difusi solute. Pergerakan pelarut di sekitar bahan akibat
pengadukan dapat mempercepat kontak bahan dengan pelarut dan
memindahkan komponen dari permukaan bahan ke dalam larutan
dengan jalan membentuk suspensi serta melarutkan komponen
tersebut ke dalam media pelarut (Larian, 1959). Pengadukan
dapat dilakukan dengan cara mekanis, pengaliran udara atau
dengan kombinasi keduanya.
f. Pemilihan Pelarut
Pemilihan pelarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam
proses ekstraksi. Jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi
mempengaruhi jenis komponen aktif bahan yang terekstrak karena masing-
masing pelarut mempunyai selektifitas yang berbeda untuk melarutkan
komponen aktif dalam bahan. Menurut Perry (1984), berbagai syarat pelarut
yang digunakan dalam proses ekstraksi, yaitu sebagai berikut:
a) Memiliki daya larut dan selektivitas terhadap solute yang tinggi. Pelarut
harus dapat melarutkan komponen yang diinginkan sebanyak mungkin
dan sesedikit mungkin melarutkan bahan pengotor.
b) Bersifat inert terhadap bahan baku, sehingga tidak bereaksi dengan
komponen yang akan diekstrak.
c) Reaktivitas. Pelarut tidak menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponen bahan ekstraksi.
d) Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi.
e) Tidak korosif.
f) Tidak beracun.
g) Tidak mudah terbakar.
h) Stabil secara kimia dan termal.
i) Tidak berbahaya bagi lingkungan.
j) Memiliki viskositas yang rendah, sehingga mudah untuk dialirkan.
k) Murah dan mudah didapat, serta tersedia dalam jumlah yang besar.
l) Memiliki titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan.
m) Memiliki tegangan permukaan yang cukup rendah.
Berbagai jenis pelarut yang sering digunakan dalam proses ekstraksi
seperti contoh tabel dibawah ini :

Tabel 1.1Beberapa jenis pelarut untuk ekstraksi (Stahl, 1969)

Pelarut Titik didih (oC, 1atm) Viskositas (cp, 20oC)

n-heksana 68,7 0,326

Heksana 98,4 0,409

Sikloheksana 81,4 1,020

Benzena 80,1 0,652

Kloroform 61,3 0,580

Dietil eter 34,6 0,233

Etil asetat 77,1 0,455

Aseton 56,5 0,316

Etanol 78,5 1,200

Metanol 64,6 0,597

Air 100 1,005

Setiap komponen pembentuk bahan mempunyai perbedaan kelarutan


yang berbeda dalam setiap pelarut, sehingga untuk mendapatkan sebanyak
mungkin komponen yang diinginkan, maka ekstraksi dilakukan dengan
menggunakan suatu pelarut yang secara selektif dapat melarutkan
komponen tersebut. Komponen yang terkandung dalam bahan akan dapat
larut pada pelarut yang relatif sama kepolarannya. Kriteria kepolaran suatu
pelarut dapat ditinjau dari konstanta dielektrik dan momen dipol. Pelarut
polar memiliki konstanta dielektrik yang besar, sedangkan non-polar
memiliki konstanta dielektrik yang kecil. Semakin besar nilai konstanta
dielektriknya, maka semakin polar senyawa tersebut. Nilai konstanta
dielektrik pada berbagai jenis pelarut disajikan pada Tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.2 Nilai konstanta dielektrik pelarut organik pada 20C (Adnan, 1997)

Pelarut Konstanta dielektrik

Heptan 1,924

n-heksana 1,890

Sikloheksana 2,023

Karbon tetraklorida 2,238

Benzen 2,284

Kloroform 4,806

Etil eter 4,340

Etil asetat 6,020

Piridin 12,30

Aseton 20,70

Etanol 24,30

Metanol 33,62

Asetonitril 38,00

Air 80,37
IV. Bahan dan Alat
a) Bahan
Serbuk rimpang kencur
Etanol 96%
Cab- o-sil
b) Alat
Labu Erlenmeyer
Beaker glass
Batang pengaduk
Corong Buchner
Rotavapor
Kertas saring
Loyang
Sudip
Alumunium foil
Wadah selai
Analytical balance
Toples
Pipet Panjang
Bejana marerasi
V. Prosedur Kerja

a) Metode Maserasi (Metode Perendaman)

Ditimbang 500 g Dimasukkan kedalam (+) 2000 ml etanol


serbuk rimpang beaker glass 96%
kencur

Ditutup bagian mulut


didiamkan selama Di diaduk ada serbuk
beaker glass dengan
24 jam terbasahi dan homogen
alumunium foil

Hasil maserasi Filtrat ditampung Residu dilakukan


disaring dengan dalam jurigen remaserasi dengan
corong buchner 1500 ml etanol 96%

Filtrat ditampung Hasil remaserasi


didiamkan selama 24
dan dikumpulkan disaring dengan corong
jam
menjadi satu Burchner

Dikaliberasi labu pada Filtrat yang terkumpul


hasilnya dipindahkan
rotavapor atau jurigen dilakukan pemekatan
kedalam loyang
(berisi ekstrak) pada dengan rotavapor ad
tanda 500 ml 500 ml

Ditambahkan cab- o-sil Ekstrak diratakan


Cab-o-il ditaburkan
sebanyak 5% dari pada loyang
sedikit demi sedikit
volume akhir ekstrak
secara merata

disimpan pada wadah


Kemudian diamkan Ekstrak kering tertutup (botol selai).
sampai kering dihomogenkan Diberi label identitas
pada wadah
V. HASIL
I. Berat ekstrak yang ditimbang = 500 gram
II. Jumlah hasil ekstraksi:
- Bobot toples + ekstrak = 270,71 gram
- Bobot toples kosong = 190,43 gram
- Bobot ekstrak = 80,28 gram
5
III. Jumlah Cab-o-sil = 100 490 = 24,5
Hasil ekstrak kering Bobot Cabosil
IV. Bobot ekstrak yang dihasilkan = x 100%

55,78
= x 100% = 11,16%
500

V. Perbandingan % rendemen berbagai metode maserasi


Kinetika Maserasi Ultrasonik
Kelompok 1 2 3 4
% Rendemen 11,16% 8,64% 12,04% 10,01%

VI. PEMBAHASAN
Ekstraksi adalah pemisahan dari kandungan senyawa yang dibutuhkan di
dalam bahan tanaman dengan menggunakan pelarut. Dalam kasus tanaman obat,
prosedur ekstraksi terbagi menjadi dua kategori (Paroda, 1993). Pertama adalah
dimana hasil ekstraksi cukup untuk mencapai batas yang ditetapkan dalam
ekuilibrium konsentrasi antara komponen obat dan solusinya. Misalnya, tincture,
rebusan, teh, dll. Kedua, apabila perlu untuk mengekstrak obat tersebut sampai
habis, misal, sampai semua bahan pelarut yang diekstrak dikeluarkan oleh
pelarut. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan penyari
simplisia menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.
Sebagai cairan penyari digunakan air, eter, etanol, atau campuran etanol dan air.
Penyarian simplisia dapat dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau
penyeduhan dengan air mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air
dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi (Acuan Sediaan Herbal, Vol. 5).
Pada praktikum kali ini, kami menggunakan metode maserasi. Metode
maserasi sendiri terbagi menjadi 3, yaitu maserasi konvensional yang dilakukan
secara sederhana dengan perendaman ekstrak dalam 24 jam, maserasi kinetika
yaitu dengan pengadukan, dan maserasi ultrasonik. Kelompok kami
mendapatkan kesempatan untuk melakukan metode maserasi mekanik. Metode
ini baik untuk bahan uji (ekstrak Kaempferia galanga) yang tidak tahan
pemanasan.
Ekstrak kencur yang ditimbang untuk diekstraksi adalah sebanyak 500
gram, setelah itu ekstrak dimasukkan ke dalam bejana maserasi ditambahkan
etanol 96% sebanyak 2000 ml untuk dilakukan ektraksi, kemudian ekstrak
diaduk selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan 415 rpm, hingga tercampur
dengan baik. Pengadukan dilakukan untuk menjamin keseimbangan konsentrasi
bahan ekstraksi lebih cepat di dalam cairan penyari. Di mana dasar dari proses
maserasi adalah melarutnya bahan kandungan simplisia dari sel yang rusak, yang
terbentuk pada saat penghalusan, ekstraksi (difusi) bahan kandungan dari sel
yang masih utuh. Setelah selesai waktu maserasi, artinya keseimbangan antara
bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan masuk ke dalam cairan
telah tercapai, maka proses difusi akan segera berakhir. Selama maserasi atau
proses perendaman dilakukan pengocokan berulang-ulang, agar keseimbangan
konsentrasi bahan terjadi lebih cepat. Sedangkan dalam keadaan diam selama
maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif (Voigh, 1994).
Kemudian, dilakukan penyaringan dengan corong beker dengan maksud
untuk memisahkan antara filtrat dan residunya. Setelah itu, residu ditambah
kembali dengan etanol 96% sebanyak 1500 ml dan dilakukan pengadukan
kembali seperti sebelumnya serta disaring kemudian. Dilakukan sebanyak 3 kali,
dan filtrat dari ketiganya disimpan dalam satu wadah. Dilakukan rotavapor pada
ekstrak yang berfungsi membuat hasil menjadi lebih pekat. Pemekatan tersebut
dilakukan dengan prinsip volume destilasi sehingga tekanan pelarut akan
menguap di bawah titik didihnya. Prinsip ini membuat pelarut perlu pemanasan
yang tinggi agar esktrak menjadi pekat karena etanol dipisahkan dari ekstrak
kencur tersebut.
Ekstrak cair yang akan diuapkan dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan
dipanaskan di atas waterbath sesuai suhu pelarut yang digunakan, labu alas bulat
tersebut di pasang dengan kuat pada ujung rotavapor yang menghubungkan
kondensor. Aliran pendingin dan pompa vakum dijalankan, kemudian rotavapor
dinyalakan dengan kecepatan tertentu. Ekstrak pekat yang diperoleh dituangkan
pada nampan kemudian ditaburi dengan Cab-o-sil sebanyak 24,5 gram (5% dari
jumlah ekstrak), setelah iu didiamkan pada suhu kamar sampai benar-benar
kering. Lalu ekstrak digerus hingga halus dan ditimbang beratnya. Karena
ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk (Acuan Sediaan Herbal, Vol.
5). Kemudian disimpan pada toples. Berat ekstrak yang didapat adalah 55,78
gram atau 11,16%.
Dari hasil presentasi keempat kelompok, seharusnya metode maserasi
ultrasonik mempunyai presentasi hasil paling besar, karena ekstraksi ini
mendapat bantuan getaran ultrasonik yang akan memberikan efek yaitu dapat
meningkatkan permeabilitas dinding sel, sehingga banyak zat yang bisa ditarik
oleh pelarut. Kemudian yang kedua adalah metode maseasi kinetika, yang mana
dengan adanya kinetika (pengadukan) akan membuat keseimbangan konsentrasi
bahan terjadi lebih cepat. Sedangkan maserasi konvensional hanya
mnegandalkan perendaman saja yang berarti dalam keadaan diam selama proses
maserasi yang menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif, sehingga tidak
dapat terjadi keseimbangan konsentrasi yang lambat.
LAMPIRAN

Proses Penadukan Proses penyaringan Hasil residu penyaringan


menggunakan Viskom Brokfild menggunakan Corong Buchner dengan Corong Buchner
dengan kecepatan tertentu (deilakukan sebanyak 3x)
(deilakukan sebanyak 3x)

Filtrat hasil penyaringan Proses pemekatan ekstrak Hasil pemekatan ekstrak cair
(Ekstrak cair) cair dengan Rotavapor dengan Rotavapor (490 ml)
Penimbangan Cabosil 5% Ekstrak pekat dituang
dari 490 ml ekstrak pekatl kedalam bejana lalu ditaburi
(24.5 gram) Cabosil secara merata

Biarkan ekstrak mendingin pada suhu Ekstrak telah padat dan kering
kamar ad ekstrak memadat dan kering

Ekstrak yang telah padat dan Ekstrak yang telah digerus halus lalu di
kering lalu digerus ad halus timbang, diperoleh bobot akhir ekstrak
kering (80,28 gram)
LAPORAN PRAKTIKUM II
Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L.
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 2

Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L.

I. JUDUL
Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L.
II. Tujuan
Untuk mengetahui dan menerapkan mutu spesifik dan non spesifik ekstrak
sesuai standar yang telah ditetapkan.
III. TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Tumbuhan
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Traecheobionta
Super divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub kelas : Commenlinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galangal L. (Fahmi, 2015)
Deskripsi tanaman
Kaempferia merupakan genus herbal yang memiliki anggota lebih dari 50
spesies asli dari Asia Timur Tropis yang masuk dalam family Zingiberaceae.
Kaenpferia merupakan rhizome herbal yang berukuran kecil yang biasanya
berbentuk akar tuberous aromatic yang tebaldan rizoma yang pendek (Tang et al,
2014).
Kencur (Kaempferia galangal L.) merupakan salah satu dari lima jenis
tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia. Kencur
merupakan tanaman obat yang bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak
dibudidayakan. Bagian rimpangnya digunakan sebagai bahan baku industri obat
tradisonal, bumbu dapur, bahan makanan, maupun minuman (Rostiana dkk.,
2003).
Kandungan Kimia
Kandungan senyawa yang terdapat secara melimpah yaitu asam propanoate,
pentadekana, etil-p-metoksisinamat. Kandungan lainnya yaitu 1,8-sineol,
undekanon, isopropyl sinamat, disikloheksilpropandinitril, dipenten dioksida, 9-
hidroksi, 2-nonanon, 2,7-oktadien-1-il asetat, etil sikloheksil asetat, cis-11-
tetradesenil asetat, alfa pinen, champhene, borneol, luteolin, dan apigenin (Umar
et all., 2011)
Standarisasi EKSTRAK
Standardisasi ekstrak adalah penentuan parameter kualitatif dan kuantitatif
baik terhadap senyawa aktif maupun senyawa khas lainnya dan sifat kimianya.
Mutu ekstrak dipengaruhi oleh bahan asal/simplisia, karenanya sebelum diproses
menjadi ekstrak, simplisia/bahan awal yang akan diekstraksi harus pula
distandarisasi. Dua faktor yang mempengaruhi mutu simplisia adalah faktor biologi
dan kimia.
Faktor biologi meliputi beberapa hal, yaitu:
1. Identitas jenis (spesies), jenis tumbuhan dari sudut keragaman hayati dapat
dikonfirmasikan sampai informasi genetika sebagai faktor internal untuk
validasi jenis.
2. Lokasi tumbuhan asal. Lokasi merupakan faktor eksternal, yaitu lingkungan
dimana tumbuhan bereaksi bisa berupa energi (cuaca, temperatur, cahaya) dan
materi (air, senyawa organik dan anorganik)
3. Periode pemanenan hasil tumbuhan. Pemanenan yang dilakukan tidak pada
waktunya bisa mempengaruhi kendungan senyawa.
4. Penyimpanan bahan tumbuhan. Ruang atau wadah yang digunakan untuk
menyimpan bisa mempengaruhi mutu senyawa tanaman.
5. Umur tanaman dan bagian yang digunakan. Hal ini sangat menentukan
keberadaan senyawa kimia seperti klorofil yang terdapat di daun.
Faktor kimia meliputi beberapa hal, yaitu:
Faktor internal seperti jenis, komposisi, kualitatif dan kuantitatif serta kadar
total rerata senyawa aktif dalam bahan. Faktor eksternal seperti metode ekstraksi,
perbandinga ukuran alat ekstraksi, kekerasan dan kekeringan bahan, pelarut yang
digunakan dalam ekstraksi, kandungan logam berat dan kandungan pestisida.
Standarisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran
yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma untuk kefarmasian, mutu
dalam artian memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi). Termasuk
jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian pada umumnya.
Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari berbagai parameter standar umum dan
parameter standar spesifik.
Standardisasi secara normatif ditujukan untuk memberikan efikasi yang
terukur secara farmakologis dan menjamin keamanan konsumen. Standardisasi
obat herbal meliputi dua aspek:
1. Aspek parameter spesifik: berfokus pada senyawa atau golongan senyawa yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis. Analisis kimia yang
dilibatkan ditujukan untuk analisa kualitatif dan kuantitatif terhadap senyawa
aktif.
2. Aspek parameter non spesifik: berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi dan fisis
yang akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas misal kadar logam
berat, aflatoksin, kadar air dan lain- lain
Standardisasi Obat Herbal
Standardisasi obat herbal merupakan rangkaian proses melibatkan berbagai
metode analisis kimiawi berdasarkan data farmakologis, melibatkan analisis fisik
dan mikrobiologi berdasarkan kriteria umum keamanan (toksikologi) terhadap
suatu ekstrak alam atau tumbuhan obat herbal (Saifudin et al ., 2011).
Standardisasi dalam kefarmasian tidak lain adalah serangkaian parameter,
prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur- unsur terkait
pradigma mutu kefarmasian, mutu dalam artian memenuhi syarat standar (kimia,
biologi dan farmasi), termasuk jaminan (batas- batas) stabilitas sebagai produk
kefarmasian umumnya. Dengan kata lain, pengertian standardisasi juga berarti
proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk ekstrak)
mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari
bahan asal tumbuhan obat dan faktor kandungan kimia bahan obat tersebut.
Standardisasi ekstrak terdiri dari parameter standar spesifik dan parameter standar
non spesifik (Depkes RI, 2000).
a. Parameter-parameter Standar Ekstrak
Parameter- parameter standar ekstrak terdiri dari parameter spesifik dan
parameter non spesifik.
1. Parameter Spesifik Ekstrak
Penentuan parameter spesifik adalah aspek kandungan kimia
kualitatif dan aspek kuantitatif kadar senyawa kimia yang bertanggung
jawab langsung terhadap aktivitas farmakologis tertentu. Parameter spesifik
ekstrak meliputi:
a. Identitas
Parameter identitas esktrak meliputi: deskripsi tata nama, nama
ekstrak (generik, dagang, paten), nama lain tumbuhan (sistematika
botani), bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, dsb) dan
nama Indonesia tumbuhan.
b. Organoleptis:
Parameter organoleptik ekstrak meliputi penggunaan panca indera
mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa guna pengenalan awal yang
sederhana se- objektif mungkin.
c. Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol/ air) untuk ditentukan
jumlah larutan yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara
gravimetrik. Dalam hal tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam
pelarut lain misalnya heksana, diklorometan, metanol. Tujuannya untuk
memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
Nilai : - Nilai minimal atau rentang yang ditetapkan terlebih dahulu
(BPOM, 2000).
- Sari larut air, tidak kurang dari 14,2 % (FHI, 2008)
- Sari larut etanol, tidak kurang dari 4,2 % (FHI, 2008)
d. Uji kandungan kimia ekstrak
Pola kromatogram
Pola kromatogram dilakukan sebagai analisis kromatografi sehingga
memberikan pola kromatogram yang khas. Bertujuan untuk memberikan
gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola
kromatogram (KLT, KCKT) (Depkes RI, 2000).
Nilai : - Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu
(BPOM, 2000).
Kadar kandungan kimia tertentu
Suatu kandungan kimia yang berupa senyawa identitas atau senyawa kimia
utama ataupun kandungan kimia lainnya, maka secara kromatografi
instrumental dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia tersebut.
Instrumen yang dapat digunakan adalah densitometri, kromatografi gas,
KCKT atau instrumen yang sesuai. Tujuannya memberikan data kadar
kandungan kimia tertentu sebagai senyawa identitas atau senyawa yang
diduga bertanggung jawab pada efek farmakologi (Depkes RI, 2000).
Nilai : - Minimal atau rentang kadar yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
Kadar Total Golongan Kandungan Kimia
Dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri, volumetri,
gravimetri atau lainnya dapat ditetapkan kadar golongan kandungan
kimia. Metode harus sudah teruji validitasnya, terutama selektivitas dan
batas linieritas. Tujuannya adalah memberikan informasi kadar golongan
kandungan kimia sebagai parameter mutu ekstrak dalam kaitannya
dengan efek farmakologis.
Nilai : - Minimal atau rentang yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
- Kadar simplisia minyak atsiri : tidak kurang dari 2,40 % v/b
- Kadar simplisia etil p-metoksisinamat : tidak kurang dari 1,80 % v/b
- Kadar ektrak minyak atsiri : tidak kurang dari 7,93 % v/b
- Kadar ekstrak etil p-metoksisinamat : tidak kurang dari 4,30 % v/b
(FHI, 2008).

2. Parameter Non Spesifik Ekstrak


Parameter non spesifik ekstrak meliputi (Depkes RI, 2000):
a) Susut Pengeringan
Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105 oC
selama 30 menit atau sampai berat konstan yang dinyatakan dalam
persen. Tujuannya adalah untuk memberikan batas maksimal (rentang)
tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan (BPOM,
2000).
Nilai : - Susut pengeringan simplisia : tidak lebih dari 10 % (FHI, 2008).
b) Bobot jenis
Parameter bobot jenis adalah massa per satuan volume yang diukur
pada suhu kamar tertentu (25C) yang menggunakan alat khusus
piknometer atau alat lainnya. Tujuannya adalah memberikan batasan
tentang besarnya massa persatuan volume yang merupakan parameter
khusus ekstrak cair sampai ekstrak pekat (kental) yang masih dapat
dituang, bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan
kontaminasi.
Nilai : Minimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi.
c) Kadar air
Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada
didalam bahan yang bertujuan untuk memberikan batasan minimal atau
rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan (Depkes RI,2000)
Persyaratan berdasarkan Farmakope Herbal adalah kadar air dalam
ekstrak tidak lebih dari 10% (FHI, 2008)
Nilai : - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi (BPOM, 2000).
- Kadar air tidak lebih dari 10 % (FHI, 2008)
d) Kadar abu
Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur
dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap.
Sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik, yang memberikan
gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari
proses awal sampai terbentuknya esktrak. Parameter kadar abu ini terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi suatu ekstrak.
Nilai : - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi.
- Kadar abu total simplisia : tidak lebih dari 8,7 %
- Kadar abu tidak larut asam simplisia : tidak lebih dari 2,5 %
- Kadar abu total ekstrak : tidak lebih dari 0,5 %
- Kadar abu tidak larut asam ekstrak : tidak lebih dari 0,2 %
e) Sisa pelarut
Parameter sisa pelarut adalah penentuan kandungan sisa pelarut
tertentu yang mungkin terdapat dalam ekstrak. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa selama proses tidak meninggalkan sisa
pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada. Pengujian sisa pelarut
berguna dalam penyimpanan ekstrak dan kelayakan ekstrak untuk
formulasi (Putri et al., 2012).
Nilai : - Maksimal yang diperbolehkan. Namun dalam hal pelarut
berbahaya seperti kloroform nilai harus negatif sesuai deteksi
instrumen. Terkait dengan kemurnian dan kontaminasi.
f) Cemaran mikroba
Parameter cemaran mikroba adalah penentuan adanya mikroba
yang patogen secara analisis mikrobiologis. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak boleh mengandung mikroba
patogen dan tidak mengandung mikroba non patogen melebihi batas
yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan bahaya
(toksik) bagi kesehatan.
Nilai : - Pemeriksaan kuman boleh positif tetapi harus mempunyai batas
serta tidak boleh mengandung bakteri patogen, misalnya
Salmonella sp, Escherichia coli, Staphylococcus sp,
Stretococcus sp, vibrio cholera, Bacillus sp, Pseudomonas sp,
Shigella sp, Priteus sp.
-
ALT : <106
-
Angka kapang khamir : <106
- E. coli : -/9
- Salmonella : -/9
- P. Aeruginosa : -/9
- S. aureus : -/9
g) Cemaran aflatoksin
Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh
jamur. Aflatoksin sangat berbahaya karena dapat menyebabkan
toksigenik (menimbulkan keracunan), mutagenik (mutagi gen),
teratogenik (penghambatan dan pertumbuhan janin) dan karsinogenik
(menimbulkan kanker pada jaringan) (Rustian, 1993). Tujuannya adalah
untuk memberikan jaminan bahwa ekstraksi tidak mengandung cemaran
jamur melebihi batas yang telah ditetapkan karena berpengaruh pada
stabilitas ekstrak dan aflatoksin berbahaya bagi kesehatan (BPOM,
2008). Jika ekstrak positif mengandung aflatoksin maka pada media
pertumbuhan akan menghasilkan koloni berwarna hijau kekuningan
sangat cerah (Saifudin et al., 2011).
Nilai : - Menjadi persyaratan tapi tidak harus nol
- AKK : <106
- Aflatoksin : <20 g/kg
h) Cemaran logam berat
Parameter cemaran logam berat adalah penentuan kandungan
logam berat dalam suatu ekstrak, sehingga dapat memberikan jaminan
bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll)
melebihi batas yang telah ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan
(Depkes RI, 2000).
Nilai : - Pd : 10 mg/kg atau mg/l atau ppm
- Cd : 0,3 mg/kg atau mg/l atau ppm
- As : 5 mg/kg atau mg/l atau ppm
- Hg : 0,5 mg/kg atau mg/l atau ppm (BPOM, 2014)
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat
Kertas saring
Labu destilator
Corong pisah
Corong
Cawan petri
Kurs silikat
Desikator
Kaki tiga
Bunsen
Penjepit kayu
Analytical balance
Botol timbang + tutup
Oven
Bahan
Ekstrak kering kencur
Aquadest
Kloroform
Etanol 95%
V. Prosedur kerja

Parameter Spesifik

1. Identitas
a. Deskripsi tata nama:
Nama ekstrak (generik, dagang, paten)
Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
Bagian yang digunakan (rimpang, daun, dsb)
Nama Indonesia tumbuhan
b. Senyawa Identitas, senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik
dengan metode tertentu.
2. Organoleptik
Penggunaan pancaindra mendeskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa:
Bentuk : padat, serbuk- kering, kental, cair.
Warna : kuning, coklat, dll.
Bau : aromatik, tidak berbau, dll.
Rasa : pahit, manis, kelat, dll.
3. Senyawa terlarut dalam air

Disaring

Ditimbang ekstrak Dimaserasi selama 18 jam


sebanyak 5,0 g dg air kloroform LP 100 ml,
dikocok berkali-kali

Residu dipanaskan pada


Hitung kadar dalam
suhu 105C ad bobot Filtrat diuapkan ad
% dihitung terhadap
konstan kering
ekstrak awal

Catatan :
Air- kloroform LP adalah air suling 99,75 ml dicampur dengan 2,5 ml kloroform.
4. Senyawa terlarut dalam etanol

Disaring

Ditimbang ekstrak Dimaserasi selama 18 jam


sebanyak 5,0 g dg etanol 95% dikocok
berkali-kali

Hitung kadar dalam Residu dipanaskan pada


% dihitung terhadap suhu 105C ad bobot Filtrat diuapkan ad
ekstrak awal konstan kering

Parameter Non-spesifik

1. Susut Pengeringan

Cawan penguap di
Didinginkan selama 10 Ditimbang
panaskan pada suhu menit dalam desikator cawan kosong
105C

Dipanaskan dalam oven


dengan suhu 105C
selama 30 menit

Dimasukkan ke dalam
cawan dan timbang Ditimbang
ekstrak kencur 1 g

Ditimbang cawan + ekstrak


ad berat konstan
Didinginkan dalam
desikator
2. Kadar Abu

Pijar kurs Diamkan selama Masukkan ke Timbang ad


porselen selama 10 menit dalam desikator konstan
10 menit 10 menit

Masukkan
dalam kurs
yang telah
konstan

Ditimbang Pijar kurs


Timbang ekstrak porselen selama
2g kurs + ekstrak
10 menit

Timbang ad Masukkan ke Diamkan selama


konstan dalam desikator 10 menit
10 menit

3. Kadar MC
Cara Kerja:
Tekan On pada alat
Wadah dibersihkan
Penutup ditutup sampai menunjukkan angka 0,00
Ekstrak dimasukkan
Tutup kembali
Catat angka yang tertera
VI. Hasil
Penimbangan (parameter spesifik)
1. Identitas
Nama ekstrak : Extractum galanga rhizoma
Bagian yang digunakan : Rimpang
Nama latin tumbuhan : Kaempferia galanga
Nama Indonesia : kencur
2. Organoleptis
Bentuk : serbuk kering
Warna : kuning kecoklatan
Bau : khas aromatik
Rasa : agak pedas, hangat

1. Spesifik air

Cawan kosong 31,4257 g

Cawan + isi I 31,5153 g

Cawan + isi II 31,5121 g

Cawan + isi III 31,5126 g

Cawan + isi IV 31,5100 g

Cawan + isi V 31,5058 g

Cawan + isi VI 31,5056 g

Cawan + isi VII 31,5041 g

Cawan + isi VIII 31,5066 g


Cawan + isi IX 31,5064 g

Cawan + isi X 31,5063 g

Bobot ekstrak 31,5063 g 31,4257 g = 0,0806 g

2. Spesifik etanol

Cawan kosong 32,1257 g

Cawan + isi I 32,7425 g

Cawan + isi II 32,7090 g

Cawan + isi III 32,6899 g

Cawan + isi IV 32,6232 g

Cawan + isi V 32,5867 g

Cawan + isi VI 32,5830 g

Cawan + isi VII 32,5282 g

Cawan + isi VIII 32,5369 g

Cawan + isi IX 32,5287 g

Cawan + isi X 32,5266 g

Cawan + isi XI 32,7441 g

Cawan + isi XII 32,4739 g

Cawan + isi XIII 32,4738 g

Bobot ekstrak 32,4738 g 32,1257 g = 0,3481 g


Penimbangan (parameter non-spesifik)

1. Susut pengeringan

1,0000 g 5% (1,0500 g 0,9500 g)

Penimbangan ekstrak = 1,0001 g

Cawan kosong 37,1359 g

Cawan + isi I 38,1359 g

Cawan + isi II 38,0212 g

Cawan + isi III 37,9778 g

Cawan + isi IV 37,9356 g

Cawan + isi V 37,9320 g

Cawan + isi VI 37,9199 g

Cawan + isi VII 37,9122 g

Cawan + isi VIII 37,9060 g

Cawan + isi IX 37,9060 g

Cawan + isi X 37,9059 g

Bobot ekstrak 37,9059 g 37,1359 g = 0,7700


g

2. Kadar abu

2,0000 g 5% (2,1000 g 1,9000 g)

Bobot botol kosong 35,0860 g

Bobot botol + isi 37,0738 g


Bobot akhir/ekstrak 1,9878 g

Penimbangan I 37,0738 g

Penimbangan II 35,6842 g

Penimbangan III 35,6795 g

Penimbangan IV 35,6795 g

Penimbangan V 35,6795 g

Penimbangan VI 35,6795 g

Bobot abu 35,6795 g 35,0860 g = 0,5935 g

VII. Perhitungan
1. Penentuan kadar air

Alat Mouisture Analyzer

Bobot ekstrak 2,646 g

Suhu 105

Time 10 menit

% kadar 11,26%

2. Kadar senyawa larut Aquadest Kloroform

( + ) ( ) 100
100%
20

0,036 100
100% = 3,6%
5 20
3. Kadar senyawa larut etanol

( + ) ( ) 100
100%
20

0,3481 100
100% = 34,81%
5 20

4. Susut pengeringan


100%

1,0001 0,7700
100% = 23,01%
1,0001

5. Kadar abu

0,5935
100% = 100% = 29,68%
2,0000
VIII. Pembahasan

Standarisasi ekstrak sangat penting dilakukan untuk mempertahankan


konsistensi kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak.
Terpenuhinya standar mutu produk atau bahan ekstrak tidak terlepas dari
pengendalian proses artinya bahwa proses yang terstandar dapat menjamin
produk tersebut.

Dalam standarisasi mutu ekstrak terbagi menjadi dua parameter, yaitu


parameter spesifik dan parameter non-spesifik. Penetapan nilai untuk kedua
parameter tersebut bertujuan untuk menjamin bahwa ekstrak tersebut
mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih
dahulu.

Pada parameter spesifik dengan cara idenstifikasi pada organoleptis,


senyawa terlarut dalam pelarut tertentu (air dan etanol). Serta parameter non-
spesifik dilakukan dengan cara susut pengeringan, penetapan kadar abu, dan
kadar air.

Parameter spesifik yang pertama adalah dengan identifikasi organoleptis


ekstrak, dilakukan panca indra ekstrak kencur berbentuk serbuk kering,
berwarna kuning pucat, bau menyengat seperti jamu, rasa pedas. Selanjutnya
diuji senyawa terlarut dalam larutan tertentu (air dan etanol). Kadar senyawa
larut air, ekstrak 5g dilakukan maserasi ditambah 150ml dan kloroform
berfungsi untuk melarutkan ekstrak, masukan larutan dalam corong pisah,
kocok selama 4 jam untuk memisahkan antara air dengan kloroform karena
mempunyai densitas yang berbeda. Diamkan selama 24 jam, dan disaring untuk
memisahkan filtrate dengan residu, kemudian filtrate diuapkan sebanyak 20ml
hingga kering dalam ovenm pada suhu 105 untuk mendapatkan ekstrak yang
kental, setelah ekstrak kental, diamkan dalam desikator 10 menit untuk
menghilangkan kadar air yang mungkin saja masih terkandung dalam ekstrak
kemudian ditimbang sehingga mendapat berat yang konstan (replikasi hingga
konstan). Lakukan hal yang sama pada senyawa larut etanol, dengan pelarut
yang diganti etanol 95%.
Terdapat pula parameter non-spesifik, pertama dilakukan adalah susut
pengeringan yang merupakan prosentase senyawa yang hilang selama proses
pengeringan. Prosedurnya adalah dengan menara cawan porselin dan
dipanaskan dengan oven pada suhu 105 selama 30 menit, kemudian
dimasukan ekstrak 1g kedalam cawan porselin, dioven kembali 105 selama
30 menit, didesikator 10 menit dan ditimbang. Lakukan replikasi hingga berat
konstan, parameter ini juga menggambarkan senyawa yang menguap.
Dilakukan parameter berikutnya, yaitu pengukuran kadar air dengan alat
mouiture analyzer HB-45-s Halogen, timbang ekstrak 2,646g ditaburkan merata
pada lempeng alat, atur suhu 105 tunggu nilai konstan hingga alat berbunyi
(kelompok kami memerlukan waktu 10 menit), hasil Mc yang didapat adalah
11,26% Mc. Nilai tersebut melebihi nilai Mc konstan yaitu tidak lebih dari 8%
dan susut pengeringan tidak lebih dari 10%. Pada praktikum ini klompok kami
mendapat 23,01% pada susut pengeringan, yang berarti nilai tersebut tidak
konstan. Parameter terakhir adalah kadar abu total timbang 2g ekstrak,
kemudian dimasukkan ke kurs porselin yang sudah dipijar. Dipijar ekstrak
tersebut, dinginkan, didesikator, dan timbang (replikasi hingga berat konstan).
Didapat kan persentasi 29,68% sedangkan persyaratan berdasarkan farmakope
herbal untuk ekstrak kencur tidak boleh lebih dari 8,7%, hal ini dapat dikatakan
belum memenuhi persyaratan ekstrak yang baik.
LAPORAN PRAKTIKUM III

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Ekstrak Rimpang Kaempferia


galangaa L.
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 3

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Ekstrak Rimpang


Kaempferia galangaa L.
I. TUJUAN
Untuk mengetahui pembuatan Fingerprint dan penetapan kadar senyawa
marker dalam ekstrak.
Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan marker dengan cara
KLT.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon-empon atau
tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan dengan tata nama atau
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.
Standarisasi simplisia dibutuhkan karena kandungan kimia tanaman obat
sangat bervariasi tergantung banyak faktor seperti telah dikemukakan sebelumnya.
Standarisasi simplisia diperlukan untuk mendapatkan efek yang dapat diulang.
Kandungan kimia yang berkhasiat atau kandungan kimia yang hanya sebagai
petanda (marker), atau yang memiliki sidik jari (fingerprint) pada kromatogram.
Untuk mendapatkan simplisia dengan mutu standar diperlukan pembudidayaan
dalam kondisi standar (Dewoto, 2007).
Khusus untuk etil -metoksisinamat, kadar etil -metoksisinamat dalam
kencur cukup tinggi (tergantung spesiesnya) bisa sampai 10%, karena itu bisa
diisolasi dari bagian umbinya menggunakan pelarut petroleum eter/etanol. Struktur
etil -metoksisinamat (C12H14O2) adalah :
Untuk penetapan kadar EPMS dilakukan dengan KLT-Densitometri.
Banyak sekali keuntungan penggunaan KLT dan salah satu keuntungannya adalah
mampu memisahkan beberapa sampel secara bersamaan, yang lebih
menguntungkan dibandingkan KCKT. Densitometri merupakan metode analisis
instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi elektro magnetik dengan analit
yang merupakan bercak pada KLT. Densitometri dimaksud untuk analisis
kuantitatif analit dengan kadar kecil, yang sebelumnya dilakukan pemisahan
dengan KLT. KLT merupakan kromatografi sederhana dengan bentuk kromatografi
planar yang memisahkan campuran analit berdasarkan distribusi komponen
tersebut diantara 2 fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Prinsip kerja KLT adalah
dengan menotolkan cuplikan atau sampel pada lempeng KLT, kemudian lempeng
dimasukkan kedalam wadah berisi fase gerak, sehingga komponen-komponen
dalam sampel tersebut terpisah. Komponen yang mempunyai afinitas besar
terhadap fase gerak atau afinitas yang lebih kecil terhadap fase diam akan bergerak
lebih cepat dibanding komponen dengan sifat sebaliknya (Ihsanto, 2009).
Pada prinsipnya pemisahan KLT diusahakan dilakukan dalam keadaan
netral (Surya, 2011). KLT dapat digunakan untuk tujuan preparatif dan kuantitatif,
meskipun KLT kuantitatif kurang teliti bila dibandingkan dengan sistem
kromatografi lainnya. Sistem KLT telah banyak digunakan untuk analisis obat dan
senyawa bahan alam. Analisis kualitatif pada KLT menggunakan nilai Rf. Dua
senyawa dikatakan identik bila mempunyai nilai Rf yang sama dengan dan diukur
pada kondisi KLT yang sama. Analisis kuantitatif pada KLT didukung dengan
teknik densitometri. Untuk menguji validitas dari metode ini dilakukan pengujian
antara lain uji akurasi dengan parameter % perolehan kembali (% recovery), uji
presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan koefisien variasi (KV) (Rofita,
2009).
III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
TLC Scanner
Lempeng KLT
Pipet Mikro
Analitical Balance
Labu Ukur
Cawan Timbang
Vial Tertutup
Batang Pengaduk
b. Bahan
Ekstrak kering Kaempferia galanga L.
Standart EPMS
N-Heksan
Etil Asetat
Asam Formiat
Etanol 96%

IV. SKEMA KERJA


Pembuatan Eluen (Fase Gerak)

N-Heksana etil asetat as.format campur dan homogenkan masukkan kedalam


perbandingan (90:10: 1 tetes) Chamber dengan
goyang2 dan
homogenkan
Pembuatan Larutan Baku
- Pembuatan Larutan Induk 1

Ditimbang standart dimasukkan + 20 ml etanol 96% +etanol 96%


BI 1 ke labu ukur 50,0 ml (5000 ppm)
EPMS 50mg
- Pembuatan Larutan Induk 2

BK 1 (200
ppm)
Dipipet 4.0 ml dimasukkan ke labu +etanol 96% ad 10 ml
- Pembuatan baku kerja
a. BK 1
BK 2 (300
ppm)
Dipipet 5ml (BK 3) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan
b. BK 2
BK 2 (300 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BK 5) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan

c. BK 3
BK 3 (400 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BK 6) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


d. BK 4
BK 4 (500 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BI 1) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


e. BK 5
BK 5 (600 ppm)

Dipipet 3.0 ml (Bi 2) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


f. BK 6
BK 6 (800 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BI 2) masukkan ke labu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


Preparasi Sampel
- Sampel Untuk Penetapan Kadar EPMS dalam ekstrak kering

Sampel ditimbang 20 mg masukkan ke labu + 2ml etanol 96%, kemudian


ultrasonic selama 5 menit +
etanol ad 5.0 ml. Di ultrasonic
selama 10 menit.saring

Sampel Untuk Penetapan Recovery

Sampel ditimbang 20 mg masukkan ke labu + 2ml etanol 96%, kemudian


ultrasonic selama 5 menit +
standart EPMS 1.0 ml(500 ppm).
Ultrasonic 10 menit.saring
Penetapan Sampel dan Standart

Larutan sampel larutan recovery ditotolkan pada plat KLT


Penentuan Panjang gelombang Maksimum
Plat KLT yang sudah di scan pada panjang gelombang 264nm dan 365
nm kemudian di scan panjang gelombang 200-400 nm. disini dapat diketahui
pada panjang berapa EPMS memberikan absorban maksimu. Panjang
gelombang maksimum tersebut yang akan digunakan untuk pengukuran.
Penentuan Linieritas
Linieritas ditentukan dari standart EPM pada lempeng KLT kemudian
dianalisis dengan KLT densitometer pada panjang gelombang maksimum
yang akan digunakan untuk pengukuran.
Penentuan Presisi

+
Larutan sampel larutan epms ditotolkan pada plat KLT eluasi.
Masukkan ke chamber

Penentuan Akurasi
Untuk menentukan persen recovery di totolkan sampel pada masing-
masing dan larutan standart EPMS masing-masing 2micoliter pada plat KLT.
Plat ini kemudian dielusi dengan fase gerak dan dianalisis menggunakan KLT
densitometer pada panjang gelombang maksimum.

% Recovery = = 100%
+

dimana : Ct : Kadar EPMS yang diperoleh


Cp : Kadar EPMS sampel
Cst : Kadar standart EPMS yang ditambahkan
Hasil yang diperoleh kemudian dihitung standart deviasi (SD) dan
Kooefisien Variasinya (KV).
V. PERHITUNGAN
Penimbangan Bahan

A. Penimbangan Baku Induk = 0,0505 g dalam 10 ml


B. Penimbangan Standar EPMS = 0,0254 g dalam 50 ml
C. Penimbangan Sampel :
a) 0,02035 g = 20,35 mg
b) 0,02028 g = 20,28 mg
c) 0,02023 g = 20,23 mg
D. Penimbangan Recovery :
a) 0,02023 g = 20,23 mg
b) 0,02024 g = 20,24 mg
c) 0,0203 g = 20,23 mg

Perhitungan Konsentrasi

A. Konsentrasi Baku Induk


50,5
= 0,0505 = 1000 ml = 5050 ppm
10

BI2 N1 x V1 = N2 x V2
4 ml x 5050 ppm
N2 =
10ml
N2 = 2020 ppm
B. Konsentrasi Baku Kerja
BK1 : V1 x N1 BK3 = V2 x N2
5,0 ml x 404,0 ppm = 10 ml x N2
N2 = 202 ppm

BK2 : V1 x N1 BK5 = V2 x N2
5,0 ml x 606,0 ppm = 10 ml x N2
N2 = 303 ppm
BK3 : V1 x N1 BK6 = V2 x N2
5,0 ml x 808,0 ppm = 10 ml x N2
N2 = 404 ppm

BK4 : V1 x N1 BI1 = V2 x N2
1,0 ml x 5050 ppm = 10 ml x N2
N2 = 505 ppm

BK5 : V1 x N1 BI2 = V2 x N2
3,0 ml x 2020 ppm = 10 ml x N2
N2 = 606 ppm

BK6 : V1 x N1 BI2 = V2 x N2
4,0 ml x 2020 ppm = 10 ml x N2
N2 = 808 ppm

C. Konsentrasi Standar EPMS = 0,0254 g = 25,4 mg


25,4
1000 = 508
50

508
508 ppm = 1 = 0,508
1000
Perhitungan Kadar EPMS dalam Sampel

A. % Kadar cab-o-sil dalam Ekstrak

Bobot cabosil yang ditambahkan


= x100%
Bobot ekstrak kering

24,5 g
= x 100% = 30,25 %
80,21

B. Bobot Ekstrak dalam Sampel dan Recovery


Sampel 1 = 20,35 mg (30,52% x 20,35 mg)
= 14,14 mg
Sampel 2 = 20,28 mg (30,52% x 20,28 mg)
= 14,09 mg
Sampel 3 = 20,23 mg (30,52% x 20,23 mg)
= 14,06 mg
Recovery 1 = 20,23 mg (30,52% x 20,23 mg)
= 14,06 mg
Recovery 2 = 20,24 mg (30,52% x 20,24 mg)
= 14,06 mg
Recovery 3 = 20,23 mg (30,52% x 20,23 mg)
= 14,06 mg
C. Kandungan EPMS dalam Sampel
202 mg
BK1 = 202 ppm = 1000 ml x 5 ml = 1,01 mg
303 mg
BK2 = 303 ppm = 1000 ml x 5 ml = 1,51 mg
404 mg
BK3 = 404 ppm = 1000 ml x 5 ml = 2,02 mg
505 mg
BK4 = 505 ppm = 1000 ml x 5 ml = 254 mg
606 mg
BK5 = 606 ppm = 1000 ml x 5 ml = 303 mg
808 mg
BK6 = 808 ppm = 1000 ml x 5 ml = 404 mg

Luas Area

254 nm 308 nm 254 nm 308 nm


BK1 3463,8 AU 1590,0 AU S1 8167,8 AU 26703,9 AU
BK2 4918,0 AU 20383,1 AU S2 9230,7 AU 29532,0 AU
BK3 6026,4 AU 22520,4 AU S3 8641,1 AU 28588,6 AU
BK4 7569,4 AU 22468,4 AU R1 8772,9 AU 28665,2 AU
BK5 3177,2 AU 27579,0 AU R2 8666,5 AU 28717,4 AU
BK6 7240,2 AU 24896,2 AU R3 8206,5 AU 27795,4 AU

Persamaan Regresi Kadar Baku Kerja (x) dan Luas Area (y)

Baku Kerja Konsentrasi (ppm) Luas Area (AU)


BK 1 1,01 mg 15901,0 AU
BK 2 1,51 mg 20383,1 AU
BK 3 2,02 mg 22520,4 AU
BK 4 2,52 mg 22468,4 AU
BK 5 3,53 mg 27579,0 AU
BK 6 4,04 mg 24896,2 AU
Regresi :

a = 4148,6
b = 8321,1
r = 0,9539

Regresi Sampel

1. S1 = y = bx + a
ya 26703,9 4148,6
x= = = 2,71 mg
b 8321,1
2. S2 = y = bx + a
ya 29532,0 4148,6
x= = = 3,05 mg
b 8321,1
3. S3 = y = bx + a
ya 28588,6 4148,6
x= = = 2,94 mg
b 8321,1

Konsentrasi Sampel untuk Menetapkan Kadar EPMS dalam Ekstrak Kering

3 ml 5000 ml
1. S1 = 2,71 mg x x = 8130 mg = 8,13 mg
1 ml 5 ml
3 ml 5000 ml
2. S2 = 3,05 mg x x = 9150 mg = 9,15 mg
1 ml 5 ml
3 ml 5000 ml
3. S3 = 2,94 mg x x = 8820 mg = 8,82 mg
1 ml 5 ml

% Kadar Ekstrak dalam Sampel

8,13 mg
1. S1 = 14,14 mg x 100 % = 57,50 %
9,15 mg
2. S2 = 14,09 mg x 100 % = 64,94 %
8,82 mg
3. S3 = 14,06 mg x 100 % = 62,73 %

57,50 % + 64,94 % + 62,73 %


= = 61,72 %
3

Regresi Recovery

1. S1 = y = bx + a
ya 28665,2 4148,6
x= = = 2,95 mg
b 8321,1
2. S2 = y = bx + a
ya 28717,4 4148,6
x= b
= 8321,1
= 2,95 mg
3. S3 = y = bx + a
ya 27795,4 4148,6
x= = = 2,84 mg
b 8321,1

Kadar EPMS dari Sampel Recovery (Ct)

3 ml 5000 ml
1. R1 = 2,95 mg x x = 8850 mg = 8,85 mg
1 ml 5 ml
3 ml 5000 ml
2. R2 = 2,95 mg x x = 8850 mg = 8,85 mg
1 ml 5 ml
3 ml 5000 ml
3. R3 = 2,84 mg x x = 8520 mg = 8,52 mg
1 ml 5 ml

Cp = sampel x (penimbangan recovery cab-o-sil)

1. R1 = 61,72 % x 14,06 mg = 8,6778


2. R2 = 61,72 % x 14,06 mg = 8,6778
3. R3 = 61,72 % x 14,06 mg = 8,6778

Cst = Standart EPMS Konsentrasi = 0,508 mg

Perhitungan % Recovery

Ct
1. R1 = Cp + Cst x 100 %
8,85 mg
= (8,6778 mg + 0,508 mg ) x 100 % = 96,34 %
Ct
2. R2 = Cp + Cst x 100 %
8,85 mg
= (8,6778 mg + 0,508 mg ) x 100 % = 96,34 %
Ct
3. R3 = Cp + Cst x 100 %

=%

96,34 % + 96,34 % + 92,75 %


= = 95,14 %
3

SD = 2,07269

SD 2,07269
KV = = 95,14 % x 100 % = 2,18 %

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk melakukan penentuan kadar senyawa
marker dan rimpang Kaempferia galanga L. Tanaman kencur dapat
digunakan sebagai sampel karena tanaman kencur diketahui mengandung
senyawa marker atau senyawa penanda. Senyawa marker menjadi bagian
penting dalam penentuan standar mutu bahan baku dan dibutuhkan sebagai
pembanding dalam konfirmasi keberadaan suatu ekstrak tanaman dalam
produk obat bahan alam.
Pada tanaman kencur diketahui bahwa senyawa marker yang dikandung
adalah EPMS (etil -metoksisinamat), dan senyawa marker ini yang
digunakan dalam praktikum kali ini. Senyawa EPMS ini termasuk golongan
ester yang mengandung cincin benzen dan gugus metoksi yang bersifat non-
polar. Selain itu senyawa EPMS juga mengandung gugus karbonil yang
mengikat gugus etil dan ikatan ini bersifat polar. Senyawa marker ini dapat
digunakan untuk identifikasi dengan autentik sumber bahan alam, mencapai
kualitas yang konsisten mengkuantibasi senyawa farmakologik aktif pada
produk akhir serta memastikan efikasi produk.
Penentuan kadar senyawa marker dalam praktikum kali ini menggunakan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT yang dimaksud untuk uji kuantitatif
salah satunya dengan menggunakan densitometer. Densitometri merupakan
metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi
elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada KLT. Pada
praktikum kali ini terdapat 3 kali scanning pada panjang gelombang yang
berbeda. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil pengamatan yaitu sebagai
berikut :
a. Scanning 254 nm
Scanning dilakukan untuk melihat apakah proses eluasi berhasil
memisahkan senyawa EPMS dari ekstrak. Hasilnya menunjukkan tanda
substance 1 yang berarti terdapat 1 senyawa yang terbaca pada noda dan
senyawa tersebut adalah senyawa EPMS. Proses eluasi senyawa
menggunakan eluen n-heksan : etil asetat : asam formiat (90:10:2 tetes).
b. Scanning 200-400 nm
Scanning dilakukan untuk menentukan maksimum dalam
penentuan luas area terbaca yang akan digunakan untuk penentuan kadar
senyawa EPMS. Pada analisis diketahui Rf tertinggi didapat pada panjang
gelombang 308 nm, panjang gelombang maksimum dalam penentuan
kadar EPMS adalah 308 nm.
c. Scanning maks 308 nm
Scanning dilakukan pada maksimum (308 nm) dan dilihat kurva baku
menggunakan luas area yang didapatkan.
Untuk menguji validitas dari metode densitometri dilakukan
pengujian antara lain uji akurasi dengan parameter % perolehan kembali (%
recovery), uji presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan koefisien
variasi (KV).
Pada proses praktikum, dilakukan pembuatan larutan baku induk
dan baku kerja untuk memperoleh kurva baku. Setelah pembuatan baku
kerja selesai, dilakukan preparasi sampel dan recovery yang ditambahkan
dengan standar EPMS. Kemudian dilkaukan penotolan dengan plat KLT
yang eluennya menggunakan eluen n-heksana : etil asetat : asam formiat
(90:10:2 tetes) yang akan menampakkan bercak untuk menetapkan kadar
EPMS ekstrak kencur dengan densitometri. Setalah dilakukan uji scanning
didapatkan data kurva baku dan terdapat data BK6 yang di reject. Persamaan
kurva baku yang diperoleh adalah r=0,9539, dengan persamaan y=8321,1 x
+ 4148,6.
Dari persamaan regresi data tersebut didaptkan hasil kadar sampel
diperoleh S1= 57,50 %; S2= 64,94 %; dan S3= 62,73% dengan rata-rata dari
% kadar ekstrak dalam sampel adalah 61,72%. Untuk penentuan presisi
diperoleh dari data kadar EPMS dalam sampel. Suatu data dikatakan presisi
jika nilai koefisien variasi (KV) < 2% (Harmita, 2004). Kriteria penerimaan
untuk korelasi (r) adalah > 0,9950 (Badan POM, 2003). Untuk kriteria
penerimaan untuk % standart deviasi relatif (KV) adalah < 2% dan untuk
bias adalah -2,0% sampai +2,0% (Badan POM, 2003). Menurut Farmakope
Indonesia < 5%. Dan hasil dari data praktikum kelompok kami memperoleh
hasil SD=2,07% dan KV=2,18%, hasil tersebut, menunjukkan presisi yang
diperoleh memenuhi syarat KV yang tertera pada litelatur dan kriteria
korelasi (r) tidak memenuhi syarat karena < dari 0,9950.
Untuk mengetahui tingkat akurasi dari praktikum yang dilakukan
dapat dilihat melalui penetapan % recovery. Dari hasil pembacaan densito
scanner diperoleh R1= 96,34%; R2= 96,34%; dan R3= 92,72% dengan nilai
rata-rata adalah 95,14%. Persen recovery yang baik menurut Farmakope
Indonesia adalah 95-105%, sedangkan BPOM sebesar 98-102%. Pada hasil
perhitungan recovery menunjukkan hasil recovery yang memenuhi
persyaratan FI dan BPOM. Hal ini mengindikasi pekerjaan praktikan yang
kurang teliti dan kurang kuantitatif karena % recovery jauh dari 100%.
Kesalahan dalam praktikum yang terjadi karena teknik praktikan
dalam melakukan praktikum secara kuantitatif, baik dalam penimbangan
maupun pengenceran, dan penotolan dari pipa kapiler, ataupun pengukuran
larutan sehingga didapat hasil praktikum.
LAPORAN PRAKTIKUM IV

PEMBUATAN KAPSUL EKSTRAK KENCUR DAN PENETAPAN


KADAR SENYAWA MARKER DALAM KAPSUL
(Kaempferia galanga)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)
DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 4
PEMBUATAN KAPSUL EKSTRAK KENCUR DAN
PENETAPAN KADAR SENYAWA MARKER DALAM
KAPSUL
(Kaempferia galanga)

I. TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu melakukan pembuatan kapsul ekstrak kencur dengan
jumlah senyawa marker yang ditentukan dalam kapsul.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman (Kaempferia galanga)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga
Pemerian
Bau khas aromatik; rasa pedas, hangat, agak pahit akhirnya menimbulkan
rasa tebal.
Makroskopik
Temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah/ pegunungan yang
tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur
tidak lebih dari 2-3 lembar (janrang 5) dengan susunan tumbuh diatas
permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum
bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah. Bibir bunga berwarna lembayung
dengan warna putih lebih dominan. Bentuk rimpang: kepingan; pipih,
bentuk hampir bundar sampai jorong/ tidak beraturan; tebal keping 1-4 mm;
panjang 1-5 cm, lebar 0,5-3 cm; bagian terpi berombak dan berkeriput,
warna coklat sampai coklat kemerahan, bagian tengah berwarna putih
sampai putih kecoklatan. Korteks: sempit, lebar lebih kurang 2mm; warna
putih; berkas pembuluh tersebar tampak sebagai bintik-bintik berwarna
kelabu/ keunguan. Silinder pusat: lebar, banyak tersebar berkas pembuluh
seperti pada korteks. Berkas patahan: rata, berdebu, berwarna putih (Materia
Medika halaman 55).
Kandungan Senyawa Kencur
Secara empiris kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan,
ekspertoran, oba batuk, disentri, tonikum, infeksi bakteri, masuk angin, sakit
perut. Rimpang kencur mengandung minyak atsiri dengan etil p-
metoksisinamat (31,77%), metilsinamat (23,23%), karvon (11,13%),
eukaliptol (9,59%) dan pentadecone (6,41%). Selain itu kandungan lainnya
terdapat sineol, borneol, 3-carene, camphene, kampferal, sinamaldehid, etil
sinamat, asam p-metoksisinamat. Kandungan utama kencur adalah etil p-
metoksisinamat yang didalam tubuh mengalami hidrolisis menjadi senyawa
aktif biologis, asam p-metoksisinamat (APMS). Senyawa ini bekerja
dengan soklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi
prostaglandin terganggu. Selain itu, EPMS termasuk kelompok fenolik alam
dari golongan fenil propanoid yang bermanfaat sebagai tabir surya.

B. Senyawa Marker
Berdasarkan Natural Health Product Directorate (NHPD), senyawa
marker merupakana constituent that occurs naturally in the material and
that is selected for special attention (e.g. for identification and
standardization purposes) by a researcher or manufacturer. Marker
mempunyai 2 tujuan utama yaitu sebagai penanda farmakologis dan
analisis. Misal: germacron adalah senyawa marker yang terdapat dalam
purwoceng namun zat aktif yang terkandung dalam tanaman tersebut adalah
stigmasterol. Stigmasterol juga ditemukan pada tanaman cabe jawa. Oleh
karena itu sering ditemukan adanya pemalsuan purwoceng yang dicampur
dengan cabe jawa, karena harga purwoceng jauh lebih mahal.
Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik
sumber bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi
senyawa farmakologik aktif pada produk akhir, atau memastikan efikasi
produk. Marker sangat penting dalam evaluasi jaminan kualitas
produk. Senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologi.

Senyawa marker dapat digolongkan menjadi 4 kategori berdasarkan


bioaktivitasnya.
a. Zat aktif
Merupakan senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang diketahui.
Contoh: epedrin pada Epedra sinensis dan sylimarin pada Sylibum
marianum.
b. Marker aktif
Merupakan zat kimia yang mempunyai efek farmakologi, tapi belum
tentu mempunyai efikasi klinik. Contoh: alliin pada Allium sativum,
hiperisin dan hiperforyn pada St. John Wort (Hypericum perforatum).
c. Marker analisis
Merupakan zat kimia yang dipilih untuk determinasi kuantitatif tetapi
belum tentu mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinis. Selain itu,
marker ini juga berguna untuk identifikasi positif bahan baku dan
ekstrak untuk standardisasi. Contoh: alkilamid yang berbeda ditemukan
pada akar Echinaceae angustifolia dan E. purpurea tetapi tidak ada pada
E. pallida.
d. Marker negatif
Senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergenik. Contoh: Asam
ginkolat pada Gynko biloba.
Kencur (Kaemferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang
mengandung senyawa etil-p-metoksisinamat sebagai komponen utamadan
terkandung pula senyawa lainnya seperti etil sinamat dan p-
metoksistiren.Kadar etil-p-metoksisinamat dalam kencur cukup tinggi
(tergantung spesiesnya) dengan bias sampai 10%.

C. Etil Para Metoksi Sinamat / EPMS


Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah satu senyawa hasil isolasi
rimpang kencur (Kaempferia galanga L). EPMS termasuk dalam golongan
senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang
bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat
sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-

pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat,


metanol, air dan heksana.
Spesifikasi EPMS :
- Berat molekul = 206,237 g/mol
- Bentuk = kristal
- Warna = putih
- Bau/ aorma = harum seperti aromatik khas
- Titik leleh = 40-500C

D. Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk kesediaan padat, dimana satu
bahan macam obat atau lebih dan atau bahan inert lainnya yang dimasukan
kedalam cangkang atau wadah kecil umumnya dibuat dari gelatin yang
sesuai. Tergantung pada formulasinya, kapsul dari gelatin bisa merupakan
kapsul lunak dan bisa merupakan kapsul keras. Kebanyakan kapsul-kapsul
yang sudah diedarkan dipasaran adalah kapsul yang semuanya dapat ditelan
oleh pasien, untuk keuntungan dalam pengobatan.
Proses pengolahan kapsul dimulai dari penimbangan bahan baku yang
diluluskan oleh bagian Quality assurance. Ada dua metode pengolahan
kapsul, yaitu pencampuran langsung serbuk menggunakan mixer atau
melalui proses granulasi basah. Pada metode granulasi basah, dilakukan
proses granulasi seperti pada pembuatan tablet, kemudian granul yang
dihasilkan dicampur dengan bahan lainnya. Setelah itu dilakukan proses
pengisian dengan menggunakan Filling Capsule Machine. Setelah proses
pengisian, tahap selanjutnya adalah polishing kapsul yang berguna untuk
menghilangkan serbuk yang lengket pada permukaan cangkang kapsul
sehingga kapsul tampak lebih bersih dan mengkilap.
E. Penetapan Kadar dalam Kapsul
Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat
berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi syarat dan sesuai
dengan yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan
sesuai dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul.
Caranya ditimbang 10-20 kapsul, isinya di gerus dan bahan aktif yang
larut diekstraksi menggunakan pelarut yang sesuai menurut prosedur yang
sudah ditetapkan. Secara umum rentang kadar bahan aktif yang ditentukan
berada diantara 90-110% dari pernyataan pada label (Agoes, 2008).

F. Keseragaman Bobot
Tetapkan kadar 10 kapsul, satu per satu sebagaimana dicantumkan
dalam monografi masing-masing bahan. Persyaratan untuk keseragaman
dosis terletak antara 85 sampai 115% dari yang disyaratakan dalam
monografi atau yang ditentukan dalam label. Bila suatu atau lebih unit dosis
berada diluar batas tersebut, maka unit tambahan harus ditetapkan kadarnya
dan selanjutnya diperoleh persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam USP.
KAPSUL KERAS Timbang satu per satu secara seksama 10 buah
kapsul. Isi dari tiap kapsul dikeluarkan dengan cara yang sesuai, isi dari
kapsul disatukan. Timbang secara seksama kapsul kosong satu per satu dan
hitung untuk tiap kapsul berat bersih dari isinya dengan cara mengurangkan
berat cangkang kapsul dari masing-masing berat kotor. Dari hasil penentuan
kadar didapat sebagaimana diperintahkan dalam monografi masing-masing,
hitung kandungan zat aktif merata.
KAPSUL LUNAK Timbang dengan seksama 10 kapsul yang
dimaksud satu per satu untuk mendapatkan berta kotornya. Kemudian
kapsul dibuka dengan cara menggunakan alat pemotong yang kering seperti
gunting atau pisau terbuka yang tajam dan mengeluarkan isinya dengan
pencucian menggunakan pelarut yang tepat. Biarkan pelarut menguap dari
cangkang pada temperatur kamar setelah jangka waktu sekitar 30 menit,
lakukan tindakan pencegahan untuk menjaga jangan sampai kehilangan uap
air. Timbang masing-masing cangkang dan hitung isi netto. Dari hasil
penentuan kadar yang diperoleh sebagaimana diperintahkan dalam masing-
masig monografi, hitung kandungan zat aktif dalam tiap kapsul, dengan
anggapan distribusi zat aktif merata.
Uji keseragaman bobot dilakukan dengan penimbangan 20 kapsul
sekaligus dan ditimbang lagi satu persatu isi tiap kapsul. Kemudian timbang
seluruh cangkang kosong dari 20 kapsul tersebut. Lalu dihitung bobot isi
kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan bobot isi tiap kapsul
terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul,tidak boleh melebihi dari yang
ditetapkan pada kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari yang
ditetapkan pada kolom B.

Bobot rata- rata A B

120 mg 10 % 20 %

120 mg atau lebih 7,5 % 15 %

G. Bahan Tambahan
1. Cab O sil
Sinonim : Aerosil; Cab-O-Sil; Cab-O-Sil M-5P; colloidal silica;
fumed silica; fumed silicon dioxide; hochdisperses silicum dioxid; SAS;
silica colloidalis anhydrica; silica sol; silicic anhydride; silicon dioxide
colloidal; silicon dioxide fumed; synthetic amorphous silica.
Pemerian : Cab-O-Sil adalah sebuah fumed silica submicroscopic
dengan ukuran partikel 15 nm. Cab-O-Sil berwarna putih kebiru-biruan,
terang, tidak berbau, tidak berasa, serbuk amorf tidak berpasir.
Rumus Kimia : SiO2 (BM = 60.08)
Fungsi : Adsorbent; anticaking agent; emulsion stabilizer; glidant;
suspending agent; tablet disintegrant; thermal stabilizer; viscosity-
increasing agent.
Cab-O-Sil digunakan secara luas dalam farmasi, kosmetik dan produk
makanan. Cab-O-Sil memiliki ukuran partikel kecil dan luas area
permukaan spesifiknya besar sehingga memberikan karakter aliran yang
diinginkan yang dieskplorasi untuk memperbaiki aliran serbuk kering
pada proses pembuatan tablet. Penggunaan Cab-O-Sil sebagai :
Aerosol = 0,5 2,0 %
Emulsion = 1,0 5,0 %
Glidant = 0,1 1,0 %
Suspending dan thickening agent = 2,0 10,0 %
pH : 3,5-4,0 (4 % w/v aqueous dispersion)
Distribusi partikel : 7-16 nm
Kelarutan : praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan
larutan asam, kecuali hydrofluoric acid. Larut dalam larutan alkali
hidroksida panas. Membentuk dispersi koloidal dalam air.
Cab-O-Sil higroskopis tetapi mengadsorbsi sejumlah besar air tanpa
mencair. Ketika digunakan dalam sistem aqueous pada pH 0-7.5, Cab-
O-Sil dapat meningkatkan viskositas dari sistem. Tapi pada pH lebih
dari 7.5 peningkatan viskositas Cab-O-Sil akan berkurang dan pada pH
lebih dari 10.7 kemampuan Cab-O-Sil menghilang karena Cab-O-Sil
terlarut membentuk silikat.

2. Avicel
Sinonim : Avicel PH; Cellets; Celex; cellulose gel; hellulosum
microcristallinum; Celphere; Ceolus KG; crystalline cellulose; E460;
Emcocel; Ethispheres; Fibrocel; MCC Sanaq; Pharmacel; Tabulose;
Vivapur.
Rumus Kimia : (C6H10O5)
Fungsi : Adsorbent; suspending agent; capsule diluent; tablet
disintegrant.
Avicel digunakan secara luas dalam farmasi, umumnya sebagai
binder/diluent pada tablet oral dan formula kapsul dimana ini digunakan
baik dalam granulasi basah dan proses kempa langsung. Pada
penambahannya sebagai binder/diluent, avicel juga memiliki fungsi
sebagai lubrikan dan disintegran yang berguna dalam tabletasi.
pH : 5,0-7,5
Densitas : 1,512-1,668 g/cm3
Titik lebur : 260-270oC
Distribusi partikel : 20-200 m
Kelarutan : mudah larut dalam 5% w/v larutan NaOH, praktis tidak
larut dalam air, asam terlarut, dan sebagian besar pelarut organik.
Kompatibilitas : avicel inkompatibel dengan agen oksidator kuat.

III. BAHAN DAN ALAT


Sampel ekstrak kencur Timbangan analitik
dalam etanol 96% Mortir dan stamper
Cangkang kapsul Labu ukur 10.0mL
Avicel Pipet volume
Cab-O sil Ultrasonik
Etanol 96% Densitometer

IV. BAGAN ALIR


A. Pembuatan kapsul
Ekstrak kencur ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam mortir, digerus ad
halus

Ditimbang avicel, lalu dimasukkan ke dalam mortir sedikit demi sedikit,


digerus ad homogen

Ditimbang cab-o-sil, lalu dimasukkan ke dalam mortir sedikit demi


sedikit, digerus ad homogen

Setelah tercampur homogen, lalu ditimbang campuran kemudian dibagi


2 sama banyak, tiap bagian dibagi menjadi 10 bagian secara visual

Dimasukkan ke dalam kapsul/ cangkang kapsul satu per satu

Kemudian tutup cangkang dan bersihkan cangkang kapsul


B. Keseragaman bobot
Dibuka kapsul yang telah berisi campuran ekstrak kencur + cab-o-sil +
avicel, satu per satu ( sebanyak 20 kapsul )

Campuran ditimbang satu per satu , dicatat bobotnya

Kemudian dimasukkan campuran (yang ditimbang tadi) ke dalam


cangkang, lalu diberikan

Kapsul dimasukkan ke dalam botol obat, diberi etiket dan label

IV. PENIMBANGAN
Rancangan Formulasi :
- Kadar rata-rata EPMS = 61,72%
100 x 15 mg = 24,30 mg
61,72
- Ekstrak ditimbang per kapsul
% kadar Ca-bosil 30,52%
24,30 mg + (30,52% x 24,30 mg)= 31,72 mg
- Bahan pengisi = 200mg 31,72 mg = 168,28 mg
- Avicel : cab-o-sil ( 3 : 1)
Avicel = 3 x 168,28 mg = 126,21 mg
4
Untuk 20 kapsul = 126,21 mg x 20 kapsul = 2524,2 mg
Cab-o-sil = 1 x 168,28 mg = 42,07 mg
4
Untuk 20 kapsul = 42,07 mg x 20 kapsul = 841,4 mg

Total serbuk teoritis = 4,0 g


Total serbuk yang ditimbang = 4,0 g
% kesalahan = Bobot teoritis Bobot yang ditimbang x 100%
Bobot teoritis
= 4,0667 g 3,9575 g x 100% = 2,68 %
4,0667 g
Keseragaman bobot kapsul :
BOBOT
BOBOT ISI %
NO. KAPSUL + ISI KAPSUL (mg)
KAPSUL (g) PENYIMPANGAN
ISI (g)
1. 0,312 0,122 0,190 2,5141
2. 0,314 0,126 0,188 3,5403
3. 0,329 0,125 0,204 4,6691
4. 0,326 0,130 0,196 0,5644
5. 0,318 0,125 0,193 0,9749
6. 0,294 0,119 0,175 10,2104
7. 0,311 0,130 0,181 7,1315
8. 0,334 0,126 0,208 6,7214
9. 0,336 0,130 0,206 5,6952
10. 0,314 0,127 0,187 4,0534
11. 0,336 0,122 0,214 9,7999
12. 0,328 0,128 0,200 2,6167
13. 0,322 0,123 0,199 2,1036
14. 0,309 0,127 0,182 6,6188
15. 0,323 0,125 0,198 1,5906
16. 0,335 0,128 0,207 6,2083
17. 0,313 0,128 0,185 5,0795
18. 0,325 0,126 0,199 2,1036
19. 0,304 0,124 0,180 7,6449
20. 0,333 0,128 0,205 5,1821

Bobot total = 3,898g


Bobot rata-rata = 3,898 g = 0,1949 g
20
% Kesalahan setelah dimasukkan kapsul =
Bobot sebelum dimasukkan kapsul bobot setelah dimasukkan kapsul x 100%
Bobot sebelum dimasukkan kapsul
200 mg 194,9 mg x100% = 2,55%
194,9 mg
V. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan kapsul ekstrak kencur dan
penetapan kadar senyawa marker EPMS dalam kapsul yang bertujuan untuk
membuat kapsul ekstrak kencur sesuai dengan persyaratan kapsul dan kadar
senyawa marker EPMS dalam kapsul memenuhi standar sehingga dapat
menghasilkan efek terapi saat penggunaanya. Kapul ialah sediaan padat yang
terdiri dari obat dalam cangkang kapsul keras atau lunak yang dapat larut.
Pembuatan sediaan kapsul dengan mempersiapkan bahan-bahan yang akan
digunakan seperti ekstrak kering kencur, avicel dan cab-o-sil. Bahan-bahn
ditimbang kemudian dicampur sampai homogen. Kemudian seluruh serbuk
ditiimbang dengan timbangan miligram diperoleh bobot 3,898g, lalu dibagi
menjadi 2 sama banyak dan tiap bagian dibagi menjadi 10 bagian secara visual.
Dan diperoleh 20 bagian kemudian dimasukkan ke dalam cangkang kapsul.
Kapsul yang telah berisi serbuk dilakukan pengujian keseragaman bobot,
bertujuan untuk mengetahui bobot tiap kapsul dan rata-ratanya isis kapsul agar
kadar yang didapat sama rata. Keseragman bobot dilakukan dengan
menimbang satu per satu kapsul dan isinya, kemudian menimbang cangkang
kapsul kosong yang telah dikeluarkan isinya. Dicatat dan dihitung %
keseragman bobot yang didapat tiap-tiap kapsul.
Hasil total isi kapsul yaitu sebanyak 3,898g, jika dibandingkan dengan bobot
penimbangan sebelum dimasukkan kapsul yaitu sebesar 3,9575 g, dimana %
kesalahan setelah dimasukkan ke dalam cangkang kapsul sebesar 2,55%
sehingga isi berkurang sekitar 1 ka0psul / 200 mg bobot campuran bahan
yang hilang. Hasil yang baik yaitu % kesalahan mendekati 0%, dimana
semakin kecil hasil maka semakin kecil bobot yang hilang.
Bobot campuran/ isi kapsul yang hilang dapat disebabkan oleh beberapa hal
yaitu pada saat pencampuran bahan masih ada bahan yang tertinggal di dalam
mortir dan stamper, pada saat mengkosongkan kapsul tidak sepenuhnya isi
kapsul dikeluarkan/ serbuk menempel pada kapsul.
Hasil dari keseragman bobot jika dibandingkan dengan persyaratan bobot
rata-rata isi kapsul menurut farmakope indonesia, diketahui bahwa terdapat 3
kapsul yang menyimpang dari kolom B yang jauh dari persyaratan. Hal ini
dikarenakan kurang homogennya/ tidak ratanya bobot tiap kapsul, jika banyak
bobot yang hilang/ kurang maka saat pengujian penetapan kadar dapat
berpengaruh dimana kadar yang diperoleh dapat lebih rendah dari kadar yang
ditetapkan.

VI. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :
% rata-rata EPMS ekstrak kencur pada serbuk = 61,72%
Rata-rata bobot isi kapsul = 0,1949 g/ kapsul
% kesalahan setelah dimasukkan kapsul = 2,55% >0% karena
kemungkinan pada saat proses pengisian bahan ke cangkang kapsul
banyak bahan yang terjatuh sehingga ada bobot yang hilang.
Persentase penyimpangan pada kapsul yang dibuat menunjukkann adanya
3 kapsul yang persen penyimpangannya melebihi batas kolom B. Hal ini
mungkin dikarenakan akibat kurangnya tingkat ketelitian praktikum saat
melakukan pembagian secara visual.
VII. LAMPIRAN
VIII.

3. Masukkan cab-o-sil ke
dalam mortir dan gerus hingga
halus, tambahkan avicel, gerus
ad homogen dan tambahkan
ekstrak kencur, gerus ad
homogen

1. Timbang ekstrak kencur 2. Timbang bahan tambahan


untuk 20 kapsul yaitu Cab-o-sil dan Avicel
dengan perbandingan 1:3

5. Bagi campuran ke dalam 4


bagian secara visual. Dan
siapkan 20 lembar perkamen

6. Bagi 1 bagian campuran ke


dalam 5 lembar permaken
hingga campuran habis 7. Masukkan campuran ke
dalam masing-masing kapsul
4. Timbang campuran dan
didapatkan berat apakah
sesuai dengan berat teoritis

8. Hitung % kesalahan dan %


9. Keluarkan isi dari cangkangnya 10. Masukkan kembali isi ke
penyimpangan dengan
dan timbang bobot cangkang dalam cangkangnya dan taruh
menimbang masing-masing
kosong. Sehingga di dapatkan kapsul di dalam wadah dan beri
kapsul (cangkang + isi) dan
bobot isi kapsul etiket setelah didapat hasil
didapatkan bobotnya
%kesalahan dan penyimpangan
LAPORAN PRAKTIKUM V

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Sediaan Kapsul


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 5

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Sediaan Kapsul

I. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar senyawa marker EPMS dalam
sediaan kapsul yang berisi ekstrak kering Kaempferia galanga L.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon-empon atau
tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan dengan tata nama atau
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.
Ekstrak kering rimpang kencur adalah ekstrak yang dibuat dari rimpang
kencur. Tumbuhan Kaempferia galanga L. mengandung minyak atsiri tidak
kurang dari 37,9% dan etil -metoksisinamat tidak kurang dari 4,3%.
Kandungan kimia ekstral yaitu minyak atsiri dengan komponen utama etil -
metoksisinamat dan etil sinamat. Standarisasi simplisia dibutuhkan karena
kandungan kimia tanaman obat sangat bervariasi tergantung banyak faktor
seperti telah dikemukakan sebelumnya. Standarisasi simplisia diperlukan
untuk mendapatkan efek yang dapat diulang. Kandungan kimia yang
berkhasiat atau kandungan kimia yang hanya sebagai petanda (marker), atau
yang memiliki sidik jari (fingerprint) pada kromatogram. Untuk mendapatkan
simplisia dengan mutu standar diperlukan pembudidayaan dalam kondisi
standar.
Jenis-jenis senyawa marker :
1. Zat aktif : senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang diketahui.
2. Marker aktif : zat kimia yang mempunyai efek farmakologi, tapi belum
tentu mempunyai efikasi klinik
3. Marker analisis : zat kimia yang dipilih untuk determinasi kuantitatif tapi
belum tentu mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinik
4. Marker negative : senyawa aktif dengan zat aktif yang toxic.
Khusus untuk etil -metoksisinamat, kadar etil -metoksisinamat dalam
kencur cukup tinggi (tergantung spesiesnya) bisa sampai 10%, karena itu bisa
diisolasi dari bagian umbinya menggunakan pelarut petroleum eter/etanol.
Struktur etil -metoksisinamat (C12H14O2) adalah :

Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat berkhasiat


yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi persyaratan dan sesuai dengan
yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai
dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul. Caranya ditimbang 10-
20 kapsul, isinya digerus dan bahan aktif yang larut diekstraksi menggunakan
pelarut yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Secara umum,
rentang kadar bahan aktif yang diberikan berada diantara 90-110% dari
pernyataan pada label. Untuk penetapan kadar EPMS dilakukan dengan
KLT-Densitometri. Banyak sekali keuntungan penggunaan KLT dan salah satu
keuntungannya adalah mampu memisahkan beberapa sampel secara
bersamaan, yang lebih menguntungkan dibandingkan KCKT. Densitometri
merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi
elektro magnetik dengan analit yang merupakan bercak pada KLT.
Densitometri dimaksud untuk analisis kuantitatif analit dengan kadar kecil,
yang sebelumnya dilakukan pemisahan dengan KLT. KLT merupakan
kromatografi sederhana dengan bentuk kromatografi planar yang memisahkan
campuran analit berdasarkan distribusi komponen tersebut diantara 2 fase,
yaitu fase diam dan fase gerak. Prinsip kerja KLT adalah dengan menotolkan
cuplikan atau sampel pada lempeng KLT, kemudian lempeng dimasukkan
kedalam wadah berisi fase gerak, sehingga komponen-komponen dalam
sampel tersebut terpisah. Komponen yang mempunyai afinitas besar terhadap
fase gerak atau afinitas yang lebih kecil terhadap fase diam akan bergerak lebih
cepat dibanding komponen dengan sifat sebaliknya (Ihsanto, 2009).
Pada prinsipnya pemisahan KLT diusahakan dilakukan dalam keadaan netral
(Surya, 2011). KLT dapat digunakan untuk tujuan preparatif dan kuantitatif,
meskipun KLT kuantitatif kurang teliti bila dibandingkan dengan sistem
kromatografi lainnya. Sistem KLT telah banyak digunakan untuk analisis obat
dan senyawa bahan alam. Analisis kualitatif pada KLT menggunakan nilai Rf.
Dua senyawa dikatakan identik bila mempunyai nilai Rf yang sama dengan dan
diukur pada kondisi KLT yang sama. Analisis kuantitatif pada KLT didukung
dengan teknik densitometri. Untuk menguji validitas dari metode ini dilakukan
pengujian antara lain uji akurasi dengan parameter % perolehan kembali (%
recovery), uji presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan koefisien
variasi (KV).
III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
TLC Scanner
Lempeng KLT
Chamber
Pipet Mikro
Analitical Balance
Labu Ukur
Cawan Timbang
Gelas ukur
Vial Tertutup
Batang Pengaduk
Kertas saring
Aluminium Foil
b. Bahan
Kapsul ekstrak Kaempferia galanga L.
Standart EPMS
N-Heksan
Etil Asetat
Asam Formiat
Etanol 96%
IV. PROSEDUR KERJA
A. Pembuatan Eluen

1. N-heksan + etil asetat + 2. Masukkan ke


asam formiat (90:10:1) chamber, homogenkan

B. Pembuatan Larutan Baku Induk

1. Timbang 2. Tambahkan etanol 10 ml, 3. Dipipet 4,0 ml LI1,


standar EPMS diultrasonik 5 menit. dimasukkan labu ukur 10 ml,
12,5 mg Tambahkan etanol 96% ad 50 tambahkan etanol 96% ad tanda
ml (LI1) (LI2)

C. Pembuatan Larutan Baku Kerja


Dipipet:
BK6 = 4,0 ml BI2, BK5 = 3,0 ml BI2, Masukkan labu ukur 10,0 ml.
BK4 = 1,0 ml BI1, BK3 = 5,0 ml BK6, Tambahkan etanol 96% ad
BK2 = 5,0 ml BK5, BK1 = 5,0 ml BK3 tanda

D. Preparasi Sampel Sediaan Kapsul dan Recovery

3. Masukkan ke labu
ukur 10 ml + etanol 96%
ad tanda, ultrasonik 15
menit (Sampel 1, 2, 3)

1. Ambil 6 kapsul secara acak (3


Sampel, 3 Recovery) dengan
persyaratan % penyimpangan tidak > 2. Ditimbang lagi pada
7,5%. Ditimbang isi sebanyak 60 mg timbangan gram balance
pada timbangan kasar.

4. Masukkan ke labu
ukur 10 ml + standar
EPMS + etanol 96% ad
tanda, ultrasonik 15
menit (Recovery 1, 2, 3)

7. Dilakukan analisis
KLT densitometer
untuk penentuan
linieritas, presisi dan
akurasinya.
6. Dilakukan analisis
5. Saring pada vial
pada sinar UV 254
dan 365 untuk
V. HASIL
penentuan panjang
A. Penimbangan baku induk = 0,05025 g dalam 10gelombang
ml
B. Penimbangan standar EPMS = 0,01248 g dalammaksimum
40 ml
C. Penimbangan isi kapsul 60mg 5% (0,0570-0,0630 g)
Nomor Kapsul Bobot + isi Bobot Kosong Bobot isi
kapsul
S1 5 (193 mg) 20,1620 mg 20,1012 mg 0,0608 mg
S2 8 (208 mg) 20,1575 mg 20,0958 mg 0,0617 mg
S3 9 (206 mg) 20,1590 mg 20,0964 mg 0,0626 mg
R1 12 (200 mg) 20,1586 mg 20,0956 mg 0,0630 mg
R2 15 (198 mg) 20,1567 mg 20,0958 mg 0,0609 mg
R3 16 (207 mg) 20,1569 mg 20,0952 mg 0,0617 mg
Perhitungan konsentrasi

D. Konsentrasi baku induk


50,26
Bi1 = 0,05026 = 1000 ml = 5026 Ppm
10
dipipet dari Bi1 sebanyak 4 ml ad 10 ml
Bi2 1 1 = 2 2
4ml x 5028Ppm
2 =
10ml
2 = 2010,4
E. Konsentrasi Baku Kerja
Bk1 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
5,0 ml x 401,6 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 201,04 Ppm
Bk2 _ V1 x N1 Bk5 = V2 x N2
5,0 ml x 602,4 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 301,56 Ppm
Bk3 _ V1 x N1 Bk6 = V2 x N2
5,0 ml x 803,2 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 402,08 Ppm

Bk4 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
1,0 ml x 5028 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 50,28 Ppm
Bk5 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
5,0 ml x 2010, 4 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 603,12 Ppm
Bk6 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
4,0 ml x 2010,4 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 80416 Ppm

F. Konsentrasi Standar EPMS = 0,01248 g = 12,48 mg


12,48
1000 = 249,6
50
249,6
249,6 Ppm = 10 = 0,2496
1000

G. Perhitungan eluen yang digunakan


N-heksan : etil asetat ; asam formiat (90:10:1)
90
N-heksan 100 75 = 67,5 ml
10
Etil asetat 100 75 = 7,5

H. Penimbangan sampel untuk menentukan kadar EPMS dalam kapsul


Penimbangan 60 mg 5% (57 mg 63 mg)
Sampel 1 kapsul 5 = 0,0608 g = 60,8 mg
Sampel 2 kapsul 8 = 0,0617 g = 61,7 mg
Sampel 3 kapsul 9 = 0,0626 g = 62,8 mg

I. Penimbangan recovery untuk menentukan kadar EPMS dalam kapsul


Recovery 1 kapsul 12 = 0,0630 g = 63,0 mg
Recovery 2 kapsul 15 = 0,0608 g = 60,8 mg
Recovery 3 kapsul 16 = 0,0617 g = 61,7 mg

Persamaan regresi kadar Baku kerja (x) dan Luas area (y)

Baku Kerja Konsentrasi (Ppm) Luas Area (Au)


Bk 1 201,04 Ppm 15626,3 Au
Bk 2 301,56 Ppm 18324,2 Au
Bk 3 402,08 Ppm 20602,2 Au
Bk 4 502,60 Ppm 21561,3 Au
Bk 5 603,12 Ppm 22026,6 Au
Bk 6 804,16 Ppm 23940,7 Au
Regresi :
a. = 14264,29
b. = 12,9667
r. = 0,9529
y = b (x) + a
= 12,9667 (x) + 14264,29
,
x = ,

Perhitungan konsentrasi EPMS dalam sampel dan recovery (1 kapiler = 5l)

18516,5 14264,29
S1 _ x = = 327,9331 Ppm
12,9667
19979,1 14264,29
S2 _ x = = 440,7297 Ppm
12,9667
20204,9 14264,29
S3 _ x = = 458,1436 Ppm
12,9667
21374,2 14264,29
R1 _ x = = 548,3207 Ppm
12,9667
24316,2 14264,29
R2 _ x = = 775, 2096 Ppm
12,9667
24703,0 14264,29
R3 _ x = = 805, 0398 Ppm
12,9667

Perhitungan kadar (mg) EPMS dalam larutan (10 ml untuk 60 mg 5%)


327,9331
S1 _ 327,9331 Ppm = x10 ml = 3,2793 mg
1000
440,7297
S2 _ 440,7297 Ppm = x10 ml = 4,4073 mg
1000
458,3207
S3 _ 458,3207 Ppm = x10 ml = 4,5814 mg
1000
548,3207
R1 _ 548,3207 Ppm = x10 ml = 5,4832 mg
1000
775,2096
R2 _ 775,2096 Ppm = x10 ml = 7,7521 mg
1000
805,0398
R3 _ 805,0398 Ppm = x10 ml = 8,0504 mg
1000

Larutan Luas area Konsentrasi dalam Kadar dalam 10


5l ml
S1 18516,5 Au 327,9331 Ppm 3,2793 mg
S2 19979,1 Au 440,7297 Ppm 4,4073 mg
S3 20204,9 Au 458,1436 Ppm 4,5814 mg

R1 21374,2 Au 548,3207 Ppm 5,4832 mg


R2 24316,2 Au 775, 2096 Ppm 7,7521 mg
R3 24703,0 Au 805, 0398 Ppm 8,0504 mg
Perhitungan kadar EPMS dalam kapsul (diinginkan 15 mg setiap kapsulnya)

3,2793 3,2793 193


S1 _ = 193 x= = 10,41 mg
60,8 60,8
4,4073 4,4073 208
S2 _ = 208 x= = 14,86 mg
61,7 61,7
4,5814 4,5814 206
S3 _ = 206 x= = 15,08 mg
62,6 62,6

Rata-rata kadar EPMS setiap kapsul

10,41 +14,86 +15,08


= 13,45 mg
3

SD = 2,6350


KV = x 100%

2,6350
= x 100% = 19,59 %
13,45
15 13,45
% kesalahan sampel x 100 % = 10,33 %
15

Perhitungan recovery

5,4814 5,4814 200


R1 _ = 200 x= = 17,40 mg
63,0 63,0
7,7521 7,7521 198
R2 _ = 198 x= = 25,20 mg
60,9 60,9
8,0504 8,0504 207
R3 _ = x= = 27,01 mg
61,7 207 61,7

Perhitungan % recovery

Ct = kadar EPMS dalam Recovery

Cp = kandungan yang diinginkan (15 mg)

Cst = kadar standar EPMS (0,2496 mg)

17,40
R1 _ x 100 % = 15 + 0,2496 x 100 % s= 114,10 %
+
25,20
R2 _ x 100 % = 15 + 0,2496 x 100 % s= 165,25 %
+
27,01
R3 _ x 100 % = 15 + 0,2496 x 100 % s= 177,12 %
+

Rata-rata persen recovery

114,10 % + 165,25 %+177,12 %


= 152,16 %
3

SD = 33,4882 = 33,49 %


KV = x 100%

33,49 %
= 152,16 % x 100% = 22,01 %
VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk melakukan penentuan kadar senyawa
marker EPMS dalam sediaan kapsul Kaempferia galanga L. Pada tanaman
kencur diketahui bahwa senyawa marker yang dikandung adalah EPMS (etil -
metoksisinamat), dan senyawa marker ini yang digunakan dalam praktikum
kali ini. Senyawa EPMS ini termasuk golongan ester yang mengandung cincin
benzen dan gugus metoksi yang bersifat non-polar. Selain itu senyawa EPMS
juga mengandung gugus karbonil yang mengikat gugus etil dan ikatan ini
bersifat polar. Senyawa marker ini dapat digunakan untuk identifikasi dengan
autentik sumber bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten mengkuantibasi
senyawa farmakologik aktif pada produk akhir serta memastikan efikasi
produk.
Penentuan kadar senyawa marker dalam praktikum kali ini menggunakan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT yang dimaksud untuk uji kuantitatif
salah satunya dengan menggunakan densitometer. Densitometri merupakan
metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi
elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada KLT. Pada
praktikum kali ini dilakukan 2 kali scanning yaitu 200-400 nm dan 310 nm
Untuk menguji validitas dari metode densitometri dilakukan pengujian antara
lain uji akurasi dengan parameter persen perolehan kembali (% recovery), uji
presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan koefisien variasi (KV).
Pada proses praktikum, dilakukan pembuatan larutan baku induk dan baku
kerja untuk memperoleh kurva baku. Setelah pembuatan baku kerja selesai,
dilakukan preparasi sampel dan recovery yang ditambahkan dengan standar
EPMS. Kemudian dilkaukan penotolan dengan plat KLT yang eluennya
menggunakan eluen n-heksana : etil asetat : asam formiat yang akan
menampakkan bercak untuk menetapkan kadar EPMS pada kapsul ekstrak
kencur dengan densitometri. Setalah dilakukan uji scanning didapatkan data
kurva baku. Persamaan kurva baku yang diperoleh adalah r=0,9539, dengan
persamaan y=2,9667 x + 14264,29.
Nilai akurasi suatu senyawa dalam matriks dengan konsentrasi >0,1% diterima
jika berada pada rentang 95-105% dari kadar yang sebenarnya (Hamita, 2009).
Menurut BPOM pada rentang 98-102% dan dari Farmakope yaitu 95-105%.
Dan hasil persen recovery kelompok 1 yaitu 152,16%. Jadi persen recovery
yang didapatkan tidak memenuhi persyaratan yang ada. Hal ini mungkin
disebabkan karena kesalahan praktikan pada saat praktikum berlangsung.
Sedangkan, presisi adalah ukuran yang menunjukkan didapat kedekatan antara
hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dan rata-rata
jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil
dari campuran yang homogen. Presisi diukur sebagai simpangan baku (SD) /
simpangan baku relative ( KV). Suatu data dikatakan presisi jika nilai koefisien
variasi (KV) <2% (Hamita, 2004) dan menurut (BPOM, 2000) yaitu <2% dan
menurut Farmakope Herbal <5%. Dan hasil KV yang didapat kelompok 1 yaitu
KV sampel 19,59% dan KV recovery 22,01% yang berarti tidak memenuhi
persyaratan.
Menurut (BPOM, 2003) hasilkorelasi (r) yaitu 0,9950, tapi r yang diperoleh
kelompok 1 yaitu 0,9529 sehingga tidak memenuhi persyaratan. Nilai SD yang
memenuhi persyaratan Farmakope Herbal yaitu 2,6350 karena <5% dan SD
recovery 33,49% sehingga tidak memeuhi persyaratan. Dan persentase
kesalahan pada sampel yaitu 10,33% dan rata-rata kadar EPMS perkapsul
13,45mg, mendekati kadar EPMS yang dikehendaki yaitu 15mg/kapsul.
Kesalahan dalam praktikum yang terjadi karena teknik praktikan dalam
melakukan praktikum secara kuantitatif, baik dalam penimbangan maupun
pengenceran, dan penotolan dari pipa kapiler, ataupun pengukuran larutan
sehingga didapat hasil praktikum yang tidak memenuhi persyaratan.

VII.KESIMPULAN
Persamaan regresi y=2,9667 x + 14264,29.
KV sampel 19,59% dan KV recovery 22,01%
Persentase kesalahan 10,33%
Rata-rata kadar EPMS perkapsul 13,45mg
LAMPIRAN
A. Pembuatan Eluen
N-heksan + etil asetat +
1. 2. Masukkan ke chamber,
asam formiat (90:10:1) homogenkan
B. Pembuatan Larutan Baku Induk

1. Timbang standar 2. Tambahkan etanol 10 ml, diultrasonik 5 3. Dipipet 4,0 ml LI1, dimasukkan

EPMS 12,5 mg menit. Tambahkan etanol 96% ad 50 ml labu ukur 10 ml, tambahkan etano
C. Pembuatan Larutan Baku Kerja
(LI1) 96% ad tanda (LI2)
Dipipet: Masukkan labu ukur 10,0 ml.
BK6= 4,0 ml BI2, BK5 = 3,0 ml BI2, Tambahkan etanol 96% ad tanda
BK4 = 1,0 ml BI1, BK3 = 5,0 ml BK6,
BK2 = 5,0 ml BK5, BK1 = 5,0 ml BK3

D. Preparasi Sampel Sediaan Kapsul dan Recovery

3. Masukkan ke labu ukur


10 ml + etanol 96% ad

tanda, ultrasonik 15

menit (Sampel 1, 2, 3)



4. Masukkan ke labu ukur 10
ml + standar EPMS + etanol
96% ad tanda, ultrasonik 15
menit (Recovery 1, 2, 3)



1. Ambil 6 kapsul secara acak (3 2. Ditimbang lagi pada

Sampel, 3 Recovery) dengan timbangan gram balance

persyaratan % penyimpangan tidak

> 7,5%. Ditimbang isi sebanyak 60

mg pada timbangan kasar.

6. Dilakukan analisis pada sinar UV 254 dan 365


untuk penentuan panjang gelombang maksimum

5. Disaring, filtrat di tampung ke


7. Dilakukan analisis KLT
vial. Kemudian ditotolkan pada
densitometer untuk penentuan
plat KLT sebanyak 5mikroliter linieritas, presisi dan akurasinya.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak


Tumbuhan Obat. Derektorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan :
Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia ed 2. Departemen


Kesehatan RI : Jakarta.

Dewoto, H.R., 2007. Pengembangan Obat Tradisional Indonesia menjadi


Fitofarmaka, Majalah kedokteran indonesia, 57(7): 205-211.

Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan


Obat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.

Mida Fahmi. 2015. Isolasi dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Senyawa Metabolit
Sekunder dari Rimpang Kencur (Kaempferia galangal L.). Jurusan Farmasi
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Rostiana, Otih dkk. 2005. Budidaya Tanaman Kencur. Bogor : Balai Penelitian
Tanaman Obat dan Aromatika.

Tang et al. 2014. Phytochemicals from Kaempferia angustifolia Rosc and Their
Cytotoxic and Antimicrobial Activities. Hindawi Publishing Corporation :
BioMed Research International volume 2014, Article ID 417674, 6.

Umar, Muhammad., Amirin S., dan Rabia A. 2014. Ethyl-p-methoxycinnamate


Isolated from Kaempferia galanga L. Inhibits Inflammation by Suppresing
Interleukin-1, Tumor Necrosis Factor-a and Angiogenesis by Blocking
Endhotelial Functions. Clinics (Sao Paulo), 69(2). pp 134-144.