Anda di halaman 1dari 18

Aqad Dalam Produk Perbankan Syariah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam beberapa tahun belakangan ini, perkembagan lembaga keuangan yang berlabel
Syariah, Bank-bank Syariah sangatlah pesat. Sehingga membuat Bank-bank konvensional ikut-
ikutan terbawa arus dan membuka UUS (Unit Usaha Syariah) yang manajemennya terpisah
dengan induknya yang berlandaskan konvensional.
Pada dasarnya Bank-bank syariah ialah Bank atau lembaga keuangan yang berlandaskan
prinsip Islam, yang mana didalamnya bebas dari unsur-unsur Riba, Gharar, Judi, dan berbagai
transaksi-transaksi yang dilarang oleh hukum islam. Dalam mekanisme pelaksaan kegiatan usaha
bank syariah, untuk menghindari terjadinya unsur-unsur yang dilarang dalam Islam, maka dalam
mekanisme kegiatan usaha bank syariah, baik dalam penghimpunan dan penyaluran dana.
Terdapat berbagai macam akad, diantaranya, akad Mudharabah, Musyarakah, Wadiah, Ijarah
Dan lain sebagainya.1[1]
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang masalah diatas, terdapat beberapa macam rumusan masalah yang
terdapat didalamnya, diantaranya adalah :
Apa yang dimaksud dengan akad ?
Jenis-jenis akad !
Macam-macam akad dalam perbankan syariah !
Rukun dan syarat akad !
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akad
Pengertian akad secara etimologi berarti perikatan perjanjian. Sedangkan secara
terminolagi, pengertian akad adalah suatu perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul
berdasarkan ketentuan syara yang menimbulkan akibat hukum terhadap objeknya. Istilah akad
di dalam Al-Quran seperti:
Hai orang-orang beriman penuhilah (perjanjian) di antara kamu ( Qs.Al-maidah {5}: 1)
Dari pengertian dan penjelasan firman Allah SWT tersebuat di atas, dapat di ambil
ketentuan hukum bahwa setiap perjanjian yang secara sah, berarti mengikat bagi pihak yang
membuatnya. Kerena setiap perjanjian pasti akan diminta pertanggung jawaban.
Akad berasal dari bahasa Arab aqoda artinya mengikat atau mengokohkan. Secara
bahasa pengertiannya adalah ikatan, mengikat. Dikatakan ikatan (al-robath) maksudnya adalah
menghimpun atau mengumpulkan dua ujung tali dan mengikatkan salah satunya pada yang
lainnya, hingga keduanya bersambung dan menjadi seperti seutas tali yang satu.
Dalam Al-Quran kata al-aqdu terdapat pada surat Al-Maidah ayat 1, bahwa manusia
diminta untuk memenuhi akadnya. Menurut Gemala Dewi S.H. beliau mengutip pendapat
Fathurrahman Djamil, istilah al-aqdu dapat disamakan dengan istilah verbentenis dalam KUH
Perdata.2[2]
Menurut Fiqh Islam akad berarti perikatan, perjanjian dan permufakatan (ittifaq). Dalam
kaitan ini peranan Ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan Qobul (pernyataan menerima ikatan)
sangat berpengaruh pada objek perikatannya, apabila ijab dan qabul sesuai dengan ketentuan
syariah, maka munculah segala akibat hukum dari akad yang disepakati tersebut.
Menurut Musthafa Az-Zarka suatu akad merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan
oleh dua atau beberapa pihak yang sama-sama berkeinginan mengikatkan dirinya. Kehendak
tersebut sifatnya tersembunyi dalam hati, oleh karena itu menyatakannya masing-masing harus
mengungkapkan dalam suatu pernyataan yang disebut Ijab dan Qabul.
Syarat umum yang harus dipenuhi suatu akad menurut ulama fiqh antara lain, pihak-
pihak yang melakukan akad telah cakap bertindak hukum, objek akad harus ada dan dapat
diserahkan ketika akad berlangsung, akad dan objek akadnya tidak dilarang syara, ada
manfaatnya, ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis dan tujuan akad harus jelas dan diakui
syara. Karena itulah ulama fiqh menetapkan apabila akad telah memenuhi rukun dan syarat
mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak-pihak yang melakukan akad
Dalam islam menganjurkan umatnya untuk memenuhi akad yang telah dibuat, selama
tidak bertentangan dengan prinsip syariat untuk menghindari kelainan dalam akad, seseorang
dituntut agar dasarnya orang yang berjanji setia kepada sesama, sesungguhnya mereka telah
berjanjian setiap kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang
melanggar janjinya niscaya akibat pelanggaran janji itu akan menimpa dirinya sendiri, begitu
pula sebaliknya barangsiapa yang menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan
memberikanya pahala yang besar (QS. Al- Fath [48]:10).3[3]
Rukun-rukun akad
1. Aqid, yaitu orang yang berakad
2. Maqud alaih yaitu benda-benda yang diakadkan
3. Maudh al aqd yaitu tujuan atau maksud pokok mengadakan akad
4. Shighat al-aqdi yaitu ijab dan qabul

Jenis-jenis akad
1. Aqad munjis yaitu akad yang dilakukan langsung pada waktu selesainya akad
2. Akad mualaq yaitu akad yang didalamnya pelaksaannya terdapat syarat-syarat yang telah
ditentukan dalam akad
3. Aqad mudhaf yaitu akad yang dalam elaksanaannya terdapat syarat-syarat mengenai
penanggulangan pelaksaan akad, pernyataan yang pelaksanaannya ditanggung hingga waktu
yang ditentukan.4[4]
B. Akad Bank Syariah
1. Akad pola titipan
Akad pola titipan (Wadiah), dapat dilakukan dengan cara kita memberikan sebuah jasa
untuk sebuah penitipan atau pemeliharaan yang kita lakukan sebagai ganti orang lain yang
mempunyai tanggungan. Wadiah adalah akad penitipan barang atau jasa antara pihak yang
mempunyai barang atau uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan menjaga
keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang tersebut. Pada awalnya, wadiah
muncul dalam bentuk wadiah yad al-amanah yang kemudian perkembangannya memunculkan
wadiah yad dhamanah.5[5]
Rukun dan syarat wadiah
1. Barang yang dititipkan, syarat barang yang dititipkan adalah barang atau benda itu merupakan
sesuatu yang dapat dimiliki menurut syara
2. Orang yang menitipkan dan menerima titipan, disyaratkan bagi penitip dan penerima titipan
sudah baligh, berakal, serta syarat-syarat lain yang yang sesuai dengan syarat-syarat berwakil .
3. Sighat ijab qabul, disyaratkan oleh ijab qabul ini dimengerti oleh kedua belah pihak, baik dengn
jelas maupun samar.6[6]

Pembagian wadiah sebagai berikut


Titipan wadiah yad amanah
Akad Wadiah dimana barang yang dititipkan tidak dapat dimanfaatkan oleh penerima
titipan dan penerima titipan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang
titipan selama si penerima titipan tidak lalai atau ceroboh dalam memelihara barang atau aset
titipan.
Titipan wadiah yad dhamanah
Akad Wadiah dimana barang atau uang yang dititipkan dapat dipergunakan oleh
penerima titipan dengan atau tanpa ijin pemilik barang dan pihak penyimpan bertanggung jawab
atas segala kerusakan atau kehilangan yang terjadi pada barang atau aset titpan. dari hasil
penggunaan barang atau uang ini si pemilik dapat diberikan kelebihan keuntungan dalam bentuk
bonus dimana pemberiannya tidak mengikat dan tidak diperjanjikan.
Dengan prinsip ini, penyimpan boleh mencampur aset penitip dengan dengan aset
penimpan atau aset penitip yang lain, dan kemudian digunakan untuk tujuan produktif mencari
keuntungan.7[7]

2. Akad pola pinjaman


Satu-satunya akad yang berbentuk pinjaman yang ditrapkan dalam perbankan syariah
adalah Qard dan turunannya Qardhul Hasan. Karena bunga dilarang dalam islam, maka
pinjaman qard maupun qardhul hasan merupakan pinjaman tanpa bunga. Lebih khusus lagi
pinjaman qardhul hasan merupakan pinjaman kebajiakan yang tidak bersifat konvensional,
tetapi bersifat sosial.

3. Akad pola bagi hasil


Musyarakah
Menurut Syafii Antonio Akad Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau
lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau
amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama
sesuai kesepakatan.
Rukun Musyarakah antara lain :
1. Ijab-kabul (sighah) adalah adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yang bertransakasi.
2. Dua pihak yang berakad (aqidani) dan memiliki kecakapan melakukan pengelolaan harta
3. Objek aqad (mahal) yang disebut juga maqud alaihi, yang mencakup modal atau pekerjaan
4. Nisbah bagi hasil.8[8]

Macam macam musyarakah :


a. Mufawadhah
Akad kerjasama dimana masing-masing pihak memberikan porsi dana yang sama.
Keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan dan kerugian ditanggung bersama.
b. Inan
Akad kerjasama dimana pihak yang bekerjasama memberikan porsi dana yang tidak sama
jumlahnya. Keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan dan kerugian ditanggung sebesar porsi
modal.
c. Wujuh
Akad kerjasama dimana satu pihak memberikan porsi dana dan pihak lainnya
memberikan porsi berupa reputasi. Keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan dan kerugian
ditanggung sesuai dengan porsi modal, pihak yang memberikan dana akan mengalami kerugian
kehilangan dana dan pihak yang memberikan reputasi akan mengalami kerugian secara reputasi.
d. Abdan
Akad kerjasama dimana pihak-pihak yang bekerjama bersama-sama menggabungkan
keahlian yang dimilikinya. Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan dan kerugian ditanggung
bersama. dengan akad ini maka pihak yang bekerjasama akan mengalami kerugian waktu jika
mengalami kerugian.9[9]

Mudharabah
Mudharabah atau penanaman modal adalah penyerahan modal uang kepada orang yang
berniaga sehingga ia mendapatkan presentase keuntungan.10[10][3] Pada dasarnya Mudharabah
adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahibul maal)
mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian
pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100% modal dari
shahibul maal dan keahlian dari mudharib. Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil
shahibul maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak
hati-hati dan bertanggung jawab untuk setiap kerugian yang terjadi akibat kelalaian. Sedangkan
sebagai wakil shahibul maal dia diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk
menciptakan laba optimal.
Apabila terjadi kerugian karena proses normal dari proses usaha, dan bukan karena
kelalaian dan kecurangan panitia, kerugian ditanggung sepenuhnya oleh pemilik modal,
sedangkan pengelola kehilangan tenaga dan keahlian yang telah dicurahkannya. Apabila
kerugian karena kecurangan dan kelalaian pengelola, maka pengelolalah yang bertanggung
jawab sepenuhnya.
Dalam satu akad mudharabah, pemodal dapat bekerjasama dari satu pengelola. Para
bekerjasama tersebut seperti bekerja sebagai mitra usaha terhadap pengelolaan yang lain. Nisbah
porsi bagi hasil pengelola dibagi sesuai kesepakatan dimuka.
Nisbah bagi hasil antara pemodal dan pengelola ini harus disepakati diawal pejanjian.
Besarnya nisbah bagi hasil masing-masing pihak tidak diatur dalam syariah, tetapi hanya
tergantung pada kesepakatan mereka. Nisbah bagi hasil ini bisa dibagi rata 50:50, namun bisa
juga 30:70, 60:40, atau porsi-porsi yang disepakati keduanya. Pembagian keuntungan yang tidak
diperbolehkan adalah dengan menentukan alokasi jumlah tertentu untuk salah satu pihak. Diluar
porsi bagi hasil yang diterima pengelola, pengelola tidak diperkenankan meminta gaji atau
kompensasi lainnya untuk hasil kerjanya. Semua mazhab sepakat dalam hal ini.
a. Rukun dan Syarat akad Mudharabah
Terbentuk dan terjadinya akad mudharabah haruslah ada syarat dan rukun-rukun tertentu yang
harus terpenuhi. Diantara rukun-rukunnya adalah :
1. Pelaku akad, yaitu Shahibul Mal (pemodal) dan Mudharib (pengelola), adalah pihak yang pandai
berbisnis namun tak memiliki modal.
2. Objek akad, yaitu mal (modal), kerja (dharabah), dan keuntungan (ribh),
3. Shighah, yaitu ijab dan kabul
Sementara itu, syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi dalam mudharabah terdiri dari syarat
keuntungan dan modal. syarat modal, yaitu :
1. Modal harus berupa uang,
2. Modal harus jelas dan diketahui jumlahnya,
3. Modal harus tunai, bukan utang,
4. Modal harus diserahkan kepada mitra kerja.
Dan syarat mengenai keuntungan, yaitu keuntungan tersebut haruslah jelas ukurannya, dan
keuntungan harus dengan pembagian yang disepakati kedua belah pihak.
Beberapa syarat pokok mudharabah menurut Usmani (1999) antara lain sebagai berikut :
a. Usaha Mudharabah
Shahibul mal boleh menentukan usaha apa yang akan dilakukan oleh Mudharib, dan
Mudharib harus menginvestasikan modal kedala usaha tersebut saja. Mudharabah seperti ini
disebut mudharabah Muqayyadah (mudharabah terikat). Akan tetapi, apabila shahibul mal
memberikan kebebasan kepada mudharib untuk melakukan usaha apa saja yang diinginkan oleh
mudharib, maka kepada mudharib harus diberi otoritas untuk menginvestasikan kedalam usaha
yang dirasa cocok. Mudharabah seperti ini disebut dengan mudharabah mutlaqah (mudharabah
tidak terikat).
b. Pembagian Keuntungan
Untuk validitas mudharabah diperlukan bahwa para pihak sepakat, pada awal kontrak,
pada proporsi tertentu dari keuntungan nyata yang menjaddi bagian masing-masing.
c. penghentian Mudharabah
kontrak mudharabah dapat dihentikan kapan saja oleh salah satu pihak dengan syarat
memberi tahu pihak lain terlebih dahulu. Jika semua aset berbentuk cair/tunai pada saat usah
dihentikan, dan usaha telah menghasilkan keuntungan, maka keuntungan dibagi terlebih dahulu
sesuai dengan kesepakatan. Jika aset belum berbentuk cair/tunai, kepada mudharib haruslah
diberi waktu untuk melikuidasi aset agar keuntungan atau kerugian dapat diketahui dan
keuntungan.11[11]
4. Akad pola jual beli
Menurut istilah yang dimaksud dengan jual beli adalah menukar barang dengan barang
atau barang dengan uang dengagn jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain
atas dasar saling merelakan.
Jual beli menurut ulama malikiyah ada dua macam, yaitu jual beli yang bersifat umu dan
jual beli yang bersifat khusus.
Jual beli dalam arti umum adalah suatu perikatan tukar manukar suatu yang bukan
kemanfaatan dan kenikmatan. Perikatan dalah akad yang mengikat dua belah pihak. Tukar
menukar yaitu salah satu pihak menyerahkan ganti penukaran atas suatu yang ditukarkan oleh
pihak lain
Jual beli dalam arti khusus adalah ikatan tukar menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan
dan bukan pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan mas dan bukan pula
perak, bendanya dapat direalisir dan ada ketika (tidak ditangguhkan), tidak merupakan utang
baik barang itu ada dihadapan si pembeli maupun tidak.
a. Rukun jual beli
1. Akad (ijab dan Qabul)
2. Orang-orang yang berakad (penjual dan pembeli)
3. Makud alaihi (objek akad)
b. Macam-macam jual beli
1. Jual beli benda yang kelihatan
2. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji
3. Jual beli benda yang tidak ada
c. Syarat benda yang dijadikan objek akad
1. Suci
2. Memberi manfaat menurut syara
3. Jangan ditaklikan
4. Tidak dibatasi waktunya
5. Dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat
6. Milik sendiri
7. Diketahui, yaitu dietahui beratnya, banyaknya, takarannya, atau ukuran-ukuran lainnya.12[12]

Murabahah
Merupakan akad dimana Investor menyediakan barang tertentu dan melakuakan kontrak
untuk penjualan kembali ke klien dan perjanjian margin yang disepakati.
Menurut definisi Ulama Fiqh Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu.
Dalam transasksi penjualan tersebut penjual menyebutkan secara jelas barang yang akan dibeli
termasuk harga pembelian barang dan keuntungan yang akan diambil.
Dalam perbankan Islam, Murabahah merupakan akad jual beli antara bank selaku
penyedia barang dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang. Dari transaksi tersebut
bank mendapatkan keuntungan jual beli yang disepakati bersama. Selain itu murabahah juga
merupakan jasa pembiayaan oleh bank melalui transaksi jual beli dengan nasabah dengan cara
cicilan. Dalam hal ini bank membiayai pembelian barang yang dibutuhkan oleh nasabah dengan
membeli barang tersebut dari pemasok kemudian mejualnya kepada nasabah dengan
menambahkan biaya keuntungan (cost-plus profit) dan ini dilakukan melalui perundingan
terlebih dahulu antara bank dengan pihak nasabah yang bersangkutan.
Salam
Merupakan akad Jual-beli dimana barang yang dibeli biasanya belum ada atau masih
harus diproduksi. Dalam hal ini uang diserahkan sekaligus dimuka sedangkan barangnya
diserahkan di akhir periode pembiayaan.
Istishna
Istishna adalah suatu transaksi jual beli antara mustashni (pemesan) dengan shanii
(produsen) dimana barang yang akan diperjual belikan harus dipesan terlebih dahulu dengan
kriteria yang jelas.Secara etimologis, istishna itu adalah minta dibuatkan.
Dengan demikian menurut jumhur ulama istishna sama dengan salam, karena dari
objek/barang yang dipesannya harus dibuat terlebih dahulu dengan ciri-ciri tertentu seperti
halnya salam. Bedanya terletak pada sistem pembayarannya, kalau salam pembayarannya
dilakukan sebelum barang diterima, sedang istishna boleh di awal, di tengah atau diakhir setelah
pesanan diterima.13[13]

5. Akad pola sewa


Ijarah
Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas suatu barang atau jasa dalam waktu
tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu
sendiri.
Pengertian secara etimologi ijarah disebut juga al-ajru (upah) atau al-iwadh (ganti). Ijarah
disebut juga sewa, jasa atau imbalan. Sedangkan menurut Syara Ijarah adalah salah satu bentuk
kegiatan Muamalah dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, seperti sewa menyewa dan
mengontrak atau menjual jasa, atau menurut Sayid Sabiq Ijarah ini adalah suatu jenis akad untuk
mengambil manfaat dengan jalan penggantian.
Menurut Ulama Fiqh Imam Hanafi Ijarah adalah transaksi terhadap suatu manfaat dengan
imbalan. Sedangkan menurut Ulama Syafii Ijarah adalah transaksi terhadap suatu manfaat yang
dituju, tertentu, bersifat mubah dan dapat dimanfaatkan dengan imbalan tertentu. Sementara
menurut Ulama Maliki dan Hambali Ijarah adalah pemilikan manfaat sesuatu yang dibolehkan
dalam waktu tertentu dengan suatu imbalan.
Ijarah muntahiya bittamlik
Transaksi ini adalah sejenis perpaduan antara akad (kontrak) jual beli dengan akad sewa
yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. Sifat pemindahan kepemilikan
inilah yang membedakan denga ijarah biasa. Adapun bentuk akad ini bergantung pada apa yang
disepakati kedua belah pihak yang berkontrak.14[14]
Rukun dan syarat ijarah
1. Mujir dan mustajir yaitu orang yang melakukan akad sewa-menyewa atau upah mengupah.
Mujir (orang yang memberikan sewa) dan mustajir (orang yang menrima sewa), syaratnya
baligh, berakal, cakap dalam mengendalikan harta, dan saling meridhai.
2. Shigat ijab qabul
3. Ujrah disyratkan diketahui oleh kedua belah pihak
4. Barang yang disewakan
a. Barang dapat dimanfaatkan kegunaannya
b. Barang dapat diserahkan kepada penyewa
c. Manfaat dari benda yang disewa
d. Barang yang disewakan disyaratkan kekal zatnya hingga waktu yang ditentukan menurut
perjanjian.15[15]

6. Akad pola lainnya


Wakalah
Al-Wakalah menurut bahasa Arab dapat dipahami sebagai at-Tafwidh. Yang
dimaksudkan adalah bentuk penyerahan, pendelagasian atau pemberian mandat dari seseorang
kepada orang lain yang dipercayainya. Yang dimaksudkan dalam pembahasan ini wakalah yang
merupakan salah salah satu jenis akad yakni pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada orang
lain dalam hal-hal yang diwakilkan.
Rukun dan syarat al-wakalah
1. Orang yang mewakilkan, syarat-syarat bagi orang yang mewakilkan ialah ia pemili barang atau
dibawah kekuasaannya dan dapat bertindak pada harta tersebut.
2. Wakil (yang mewakilkan), syarat-syarat bagi yang mewakilkan ialah bahwa yang meawakili
adalah orang yang berakal. Bila orang yang mewakilkan itu idiot, gila, atau belum dewasa, maka
perwakilan batal. Menurut hanafiah, anak kecil yang sudah dapat membedakan yang baik dan
buruk sah untuk menjadi wakil.
3. Mwakkal fih ( sesuatu yang diwakilkan ) syarat-syartnya :
a. Menrima penggantian, maksudnya boleh diwakilkan pada orang lain untuk mengerjakannya.
b. Dimiliki oleh yang berwakil ketiaka ia berwakil itu, maka batal mewakilkan sesuatu yang akan
dibeli.
c. Diketahui dengan jelas, maka batal mewakilkan sesuattu yang masih samar.
4. Shigat, yaitu lafadz mewakilkan, shigat diucapkan dari yang berwakil sebagai simbol keridhaan
untuk mewakilkan, dan wakil menerimanya.16[16]
Agama Islam mensyariatkan al-wakalah karena manusia membutuhkannya. Hal ini
karena tidak setiap orang mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk menyelesaikan
urusannya sendiri, terkadang suatu kesempatan seseorang perlu mendelegasikan suatu
pekerjaan/urusan pribadinya kepada orang lain untuk mewakili dirinya. Dalil syara yang
membolehkan wakalah didapati dalam firman Alloh pada surat Al-Kahfi :19, yang
terjemahannya sbb: .
...Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu
ini, dan hendaklah dia lihat manakah makakan yang lebih baik Dan bawalah sebagian makanan
itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan
halmu kepada siapapun.
Dalam ayat ini dilukiskan perginya salah seorang dari ash-habul kahfi yang bertindak
untuk dan atas nama rekan-rekannya sebagai wakil mereka dalam memilih dan membeli
makanan.
Kafalah
Pengertian kafalah menurut bahasa berati al-dhaman (jaminan), hamalah (beban)
dan zaamah (tanggungan). Sedangkan menurut istilah adalah akad pemberian jaminan yang
diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain, dimana pemberi jaminan (kaafil) bertanggungjawab
atas pembayaran kembali suatu utang yang menjadi hak penerima jaminan (makful).
Dalam pengertian lain, kafalah juga berti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang
dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.
Rukun dan syarat kafalah
1. Dhamin, kafil, atau zaim yaitu yang menjamin dimana ia disyaratkan sudah baligh, berakal,
tidak dicegah membelanjakan hartanya (mahjur) dan dilakukan dengan kehendak sendiri
2. Madmun lah yaitu orang yang berpiutang, syaratnya ialah bahwa yang berpiutang diketahui oleh
oranga yang menjamin.
3. Madmun anhu yaitu orang yang berhutang
4. Madmun bih atau makful bih yaitu utang , barang atau orang, disyaratkan pada makful bih dapat
diketahaui dan tetap keadaanya, baik sudah tetap maupun akan tetap.
5. Lafadz, disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu dan
tidak berarti sementara. 17[17]
Sebab berakhir dari wakalah
1. Matinya salah seorang dari yang berakadkarena salah satu syarat sah akad adalah orang yang
berakad msih hidup.
2. Bila salah seorang yang berakad gila, karena syarat sah akad salah satu orang yang berakad
mempunyai akal.
3. Dihentikannya pekerjaan yang dimaksud, karena juka telah berhenti, dalam keadaan seperti ini
al-wakalah tidak berfungsi lagi.
4. Pemutusan oleh orang yang mewakilkan terhadap wakil mwekipun wakil belum mengetahui.
5. Wakl mwmutuskan sendiri
6. Keluarnya orang yang mewaklkan dari status kepemilikan.18[18]

Hiwalah
Dalam enseklopedi Perbankan Syariah Hawalah bisa disebut juga Hiwalah yang berarti
intiqal (perpindahan), pengalihan, atau perubahan sesuatu atau memikul sesuatu di atas pundak.
Menurut istilah Hiwalah diartikan sebagai pemindahan utang dari tanggungan penerima
utang (ashil) kepada tannggugan yang bertanggujawab (mushal alih) dengan cara adanya penguat
atau dengan kata lain adalah pemindahan hak atau kewajiban yang dilakukan seseorang (pihak
pertama) yang sudah tidak sanggup lagi untuk membayarnya kepada pihak kedua yang memiliki
kemampuan untuk mengambil alih atau untuk menuntut pembayaran utang dari/atau membayar
utang kepada pihak ketiga.

Rukun dan syarat hiwalah


1. Orang yang memindahkan hutang (muhilf) adalah orang yang berakal, maka batal hiwalah yang
dilakukan muhil dalam keadaan gila atau masih kecil.
2. Orang yang menerima hiwalah adlah orang yang berakal, maka batallah hiwalah yang dilakukan
oleh orang yang tidak berakal.
3. Orang yang dihiwalahkan juga harus berakal dan disyaratkan pula dia meridhainya.
4. Adanya hutang muhil kepada muhal alaih.19[19]
Rahn
Gadai (Rahn) secara etimologis (pendekatan kebahasaan/lughawi). Gadai (rahn) menurut
pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, diantaranya menurut Sayyid Sabiq,
Rahn adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, tetapi
dapat diambil kembali sebagai tebusan.
Menurut Muhammad Syafii Antonio, Rahn (Gadai) adalah menahan salah satu harta
milik sipeminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut
memiliki nilai ekonomis, dengan demikian pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk
dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.
Rukun dan syarat gadai
1. Akad ijab dan qabul
2. Aqid, yaitu yang menggadaikan (rahin)dan ynag merima gadai (murtahin). Syaratnya bagi yang
berakad adalah mampu membelanjakan harta dan dalam hal ini memahami persoalan-persoalan
yang berkaitan dengan gadai.
3. Barnag yang dijafikan jaminan (borg), syaratnya benda yang dijadikan jaminan ialah keadaan
barang itu tidak rusak sebelum janji hutang harus dibayar.
4. Ada utang, disyaratkan keadaan hutang telah tetap.20[20]
Sharf
Sarf menurut arti kata adalah penambahan, penukaran, penghindaran, pemalingan, atau
transaksi jual beli. Sedangkan menurut istilah adalah suatu akad jual beli mata uang (valuta)
dengan valuta lainnya, baik dengan sesama mata uang yang sejenis atau mata uang lainnya.
Menurut definisi ulama sarf adalah memperjualbelikan uang dengan uang yang sejenis
maupun tidak sejenis, seperti jual beli dinar dengan dinar, dinar dengan dirham atau dirham
dengan dirham. Transaksi Sarf pada dunia perekonomian dewasa ini banyak dijumpai pada bank-
bank devisa valuta asing atau money changer, misalnya jual beli rupiah dengan dolar Amerika
Serikat (US$) atau mata uang lainnya.
Rukun Sharf
1. Penjual (Bai)
2. Pembeli (Musytari)
3. Mata Uang Yang Diperjual Belikan (Sharf)
4. Nilai Tukar (SiRus Sharf)
5. Ijab Qabul (Sighat).
Syarat Sharf
1. Bukan untuk spekulasi (untung-untungan).
2. Ada kebutuhan untuk transaksi atau berjaga-jaga (simpanan).
3. Jika transaksi dengan mata uang sejenis, nilainya harus sama dan tunai.
4. Jika bebeda jenis maka dilakukan dengan kurs yang berlaku pada saat itu dan tunai.

Ujr
Ujr yaitu imbalan yang diberikan atau diminta atas suatu pekerjaan yang dilakukan. Akad
ur diaplikasikan dalam produk-produk jasa keuangan bank syariah, seperti penyewaan safe
deposit box, penggunaan ATM dan sebagainya. 21[21]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian akad secara etimologi berarti perikatan perjanjian. Sedangkan secara
terminolagi, pengertian akad adalah suatu perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul
berdasarkan ketentuan syara yang menimbulkan akibat hukum terhadap objeknya.
Akad berasal dari bahasa Arab aqoda artinya mengikat atau mengokohkan. Secara
bahasa pengertiannya adalah ikatan, mengikat. Dikatakan ikatan (al-robath) maksudnya adalah
menghimpun atau mengumpulkan dua ujung tali dan mengikatkan salah satunya pada yang
lainnya, hingga keduanya bersambung dan menjadi seperti seutas tali yang satu.
Macam-mcam jenis akad bank syariah :
1. Akad pola titipan
Wadiah yad amanah
Wadiah yad dhamanah
2. Akad pola pinjaman
Qard
Qardul hasan
3. Akad pola bagi hasil
Musyarakah
Mudharabah
4. Akad pola jual beli
Murabahah
Salam
Istisna
5. Akad pola sewa
Ijarah
Ijarah muntahiya bittamlik
6. Akad pola lainnya
Wakalah
Kafalah
Hawalah
Rahn
Sharf
Ujr