Anda di halaman 1dari 6

KONSEP AKAD SYARIAH

Akad, yang dalam pengertian bahasa Indonesia disebut kontrak atau transaksi, merupakan
konsekuensi logis dari hubungan sosial dalam kehidupan manusia. Hubungan ini merupakah
fitrah yang sudah ditakdirkan oleh Allah ketika Ia menciptakan makhluk yang bernama manusia.
Karena itu ia merupakan kebutuhan sosial sejak manusia mulai mengenal arti hak milik. Islam
sebagai agama yang komprehensif dan universal memberikan aturan yang cukup jelas dalam
akad untuk dapat diimplementasikan dalam setiap masa. Akad, adalah bagian dari proses
aktivitas ekonomi dan bisnis yang akan sangat menetukan nilai keabsahan dan kelayakan sesuatu
kegiatan ekonomi dan bisnis. Dalam hal ini, Islam tidak hanya memandangnya sebagai sesuatu
yang bermuatan hukum saja, tetapi lebih dari itu adalah sesuatu yang bermuatan moral.
Sehingga, disamping harus memiliki landasan yuridis, juga harus memiliki landasan etis.
Penggunaan landasan yuridis dan etis ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya moral-
hazard dalam semua bentuk traksaksi.

A. Hubungan Usaha Menurut Syariah

Kegiatan usaha pada hakikatnya adalah kumpulan transaksi-transaksi ekonomi yang mengikuti
suatu tatanan tertentu. Dalam Islam, transaksi utama dalam kegiatan usaha adalah transaksi riil
yang menyangkut suatu objek tertentu, baik objek berupa barang ataupun jasa. Menurut Ibnu
Khaldun tingkatan kegiatan usaha manusia dimulai dari kegiatan usaha yang berkaitan dengan
hasil sumber daya alam, misalnya pertanian, perikanan dan pertambangan. Tingkatan berikutnya
adalah kegiatan yang berkaitan dengan hasil rekayasa manusia atas hasil sumber daya alam.
Dilanjutkan dengan kegiatan perdagangan yang secara alami timbul akibat perbedaan
penawaran-permintaan dari hasil sumber daya alam maupun hasil rekayasa manusia pada suatu
tempat. Dan akhirnya adalah kegiatan usaha jasa yang timbul karena manusia menginginkan
sesuatu yang tidak bisa atau tidak mau dilakukannya, yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai
kemewahan.

Manusia mempunyai keterbatasan dalam berusaha, oleh karena itu sesuai dengan fitrahnya
manusia harus berusaha mengadakan kerjasama di antara mereka. Kerjasama dalam usaha yang
sesuai dengan prinsip-prinsip syariah pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam:

Kerjasama dalam kegiatan usaha, dalam hal ini salah satu pihak dapat menjadi pemberi
pembiayaan dimana atas manfaat yang timbul dari pembiayaan tersebut dapat dilakukan bagi
hasil. Kerjasama ini dapat berupa pembiayaan usaha 100% melalui ikatan atau Akad
Mudharabah maupun pembiayaan usaha bersama melalui Akad Musyarakah.

Kerjasama dalam perdagangan, dimana untuk meningkatkan perdagangan dapat diberikan


fasilitas-fasilitas tertentu dalam pembayaran maupun penyerahan objek. Karena pihak yang
mendapat fasilitas akan memperoleh manfaat, maka pihak pemberi fasilitas berhak untuk
mendapat bagi hasil (keuntungan) yang dapat berbentuk harga yang berbeda dengan harga tunai.

Kerjasama dalam penyewaan aset dimana objek transaksi adalah manfaat dari penggunaan aset.

B. Prinsip Akad Ekonomi Syariah


Kegiatan hubungan manusia dengan manusia (muamalah) dalam bidang ekonomi menurut
syariah harus memenuhi rukun dan syarat tertentu. Rukun adalah sesuatu yang wajib ada dan
menjadi dasar terjadinya sesuatu, yang secara bersama-sama akan mengakibatkan keabsahan.
Rukun transaksi ekonomi Syariah adalah:

Adanya pihak-pihak yang melakukan transaksi, misalnya penjual dan pembeli, penyewa dan
pemberi sewa, pemberi jasa dan penerima jasa.

Adanya barang (ml) atau jasa (amal) yang menjadi objek transaksi.

Adanya kesepakatan bersama dalam bentuk kesepakatan menyerahkan (ijb) bersama dengan
kesepakatan menerima (qabl).

Disamping itu harus pula dipenuhi syarat atau segala sesuatu yang keberadaannya menjadi
pelengkap dari rukun yang bersangkutan. Contohnya syarat pihak yang melakukan transaksi
adalah cakap hukum, syarat objek transaksi adalah spesifik atau tertentu, jelas sifat-sifatnya, jelas
ukurannya, bermanfaat dan jelas nilainya.

Objek transaksi menurut syariah dapat meliputi barang (ml) atau jasa, bahkan jasa dapat juga
termasuk jasa dari pemanfaatan binatang. Pada prinsipnya objek transaksi dapat dibedakan
kedalam:

1. Objek yang sudah pasti (ayn), yaitu Objek yang jelas keberadaannya atau dapat segera
diperoleh manfaatnya. Lazimnya disebut real asset dan berbentuk barang atau jasa.

2. Objek yang masih merupakan kewajiban (dayn), yaitu objek yang timbul akibat suatu
transaksi yang tidak tunai. Lazimnya disebut financial asset dan dapat berupa uang atau surat
berharga. Akad muamalah dalam bidang ekonomi menurut sifat partisipasi dari para pihak yang
terlibat dalam transaksi secara prinsip dapat dibagi dalam:

Akad pertukaran tetap, yang lazimnya adalah kegiatan perdagangan. Sesuai dengan sifatnya,
akad ini umumnya memberikan kepastian hasil bagi para pihak yang melakukan transaksi.

Akad penggabungan atau pencampuran, yang lazimnya adalah kegiatan investasi. Akad ini
umumnya hanya memberikan kepastian dalam hubungan antar pihak dan jangka waktu dari
hubungan tersebut, namun umumnya tidak dapat memberikan kepastian hasil.

Kegiatan penguasaan sementara, yang lazimnya adalah kegiatan sewa-menyewa. Akad ini
umumnya memberikan kepastian dalam manfaat yang diterima oleh para pihak. Sehingga dapat
terjadi pertukaran maupun penggabungan atau pencampuran antara ayn dengan ayn, ayn
dengan dayn dan dayn dengan dayn. Hanya menurut fiqih muamalah transaksi antara dayn
dengan dayn dilarang kecuali kegiatan penukaran uang atau logam mulia. Kegiatan muamalah
dalam bidang ekonomi melalui pasar modal umumnya adalah kegiatan pertukaran tetap
(perdagangan) dan kegiatan penggabungan atau pencampuran (investasi). Sementara itu, waktu
pertukaran maupun penggabungan atau pencampuran dapat terjadi secara tunai atau seketika
(naqdan) maupun secara tidak tunai atau tangguh (ghairu naqdin). Transaksi keuangan umumnya
timbul akibat transaksi yang berlaku secara tidak tunai atau tangguh. Hanya menurut fiqih
muamalah, dilarang atau tidak sah suatu transaksi dimana kedua belah pihak melakukan secara
tidak tunai atau tangguh (ghairu naqdin dengan ghairu naqdin)

Dalam menerapkan akad-akad ini pada transaksi keuangan modern, Vogel dan Hayes
mengatakan bahwa terdapat 4 (empat) prinsip dalam perikatan secara syariah yang perlu
diperhatikan, yaitu:

1. Tidak semua akad bersifat mengikat kedua belah pihak (akad lzim), karena ada kontrak
yang hanya mengikat satu pihak (akad jiz).

2. Dalam melaksanakan akad harus dipertimbangkan tanggung jawab yang berkaitan


dengan kepercayaan yang diberikan kepada pihak yang dianggap memenuhi syarat untuk
memegang kepercayaan secara penuh (min) dengan pihak yang masih perlu memenuhi
kewajiban sebagai penjamin (dhmin).

3. Larangan mempertukarkan kewajiban (dayn) melalui transaksi penjualan sehingga


menimbulkan kewajiban (dayn) baru atau yang disebut bay al dayn bi al-dayn.

4. Akad yang berbeda menurut tingkat kewajiban yang masih bersifat janji (wad) dengan
tingkat kewajiban yang berupa sumpah (ahd).

C. Akad Mudharabah

Ikatan atau Akad Mudhrabah pada hakikatnya adalah ikatan penggabungan atau pencampuran
berupa hubungan kerjasama antara Pemilik Usaha dengan Pemilik Harta, dimana:

1. Pemilik Harta (Shhib al-Ml atau Rab-al-Ml atau Mlik) hanya menyediakan
dana/modal/harta secara penuh (100%) dalam suatu aset atau kegiatan usaha tertentu dan tidak
boleh ikut secara aktif dalam pengelolaan usaha.

2. Pemilik Usaha bertindak sebagai Mudhrib/Amil, dimana Pemilik Usaha memberikan


jasa (amal) mengelola harta secara penuh (100%) dan mandiri (discretionary) dalam bentuk aset
atau dalam kegiatan usaha tertentu

3. Bila Pemilik Usaha harus mengelola usaha dengan tata cara dan ketentuan yang telah
disepakati bersama maka disebut Mudhrabah Muqayyadah.

4. Bila Pemilik Harta telah memiliki kepercayaan penuh pada Pemilik Usaha dan memberi
kebebasan kepada Pemilik Usaha dalam menentukan jenis usaha dana tata cara mengelola usaha
maka disebut Mudhrabah Muthlaqah.

5. Pemilik Harta dan Pemilik Usaha mempunyai kesepakatan dalam cara penentuan hasil
usaha dimana secara umum hasil usaha berupa laba akan dibagi menurut nisbah dan waktu bagi
hasil sesuai dengan kesepakatan bersama.
6. Disepakati bahwa Risiko Usaha berupa kerugian menjadi tanggung jawab Pemilik Harta,
namun bila ternyata mudhrib tidak amanah, maka mudhrib dapat diminta tanggung jawab atas
kerugian yang timbul. . Bila biaya variabel dari kegiatan usaha disepakati merupakan biaya yang
sulit diduga, maka mudhrib dapat mengadakan akad jiz untuk menanggung semua biaya tak
terduga tersebut atau menentukan batas maksimum biaya variabel yang dapat dibebankan.

7. Dalam hal biaya variabel yang sulit diduga tersebut merupakan bagian terbesar dari
biaya, maka ketentuan bagi hasil akan mendekati praktik bagi pendapatan.

8. Berbeda dengan kondisi penyertaan modal yang berlaku umum di Indonesia, dalam Akad
Mudhrabah Pemilik Harta berhak sewaktu-waktu menarik hartanya, namun mudhrib diberi
waktu untuk mencairkan harta dari usahanya

E. Akad Musyrakah

Ikatan atau akad musyrakah pada hakikatnya adalah ikatan penggabungan atau pencampuran
antara para pihak yang bersama-sama menjadi Pemilik Usaha, dimana:

1. Para pihak bersama-sama memberikan kontribusi baik berupa modal, harta, pinjaman
harta, tenaga dan waktu, sehingga tidak ada suatu pihak pun yang akan menjadi Pemilik Harta
secara penuh (100%) maupun menjadi mudhrib.

2. Para pihak setuju untuk berhubungan dalam suatu kerjasama usaha tertentu dan dalam
jangka waktu yang disepakati dimana setiap pihak dapat mengalihkan penyertaannya atau
digantikan oleh pihak lain.

3. Penyertaan atau kontribusi dapat diberikan secara tunai (seketika) atau tidak tunai
(tangguh), serta dapat berupa barang (ml) atau jasa (amal) termasuk goodwill.

4. Penilaian atas penyertaan atau kontribusi yang diberikan oleh para pihak umumnya
dilakukan dengan harga pasar, dalam hal ini uang lazim dipakai sebagai alat ukur nilai.

5. Pembagian keuntungan berdasarkan kesepakatan para pihak dimana umumnya


merupakan fungsi dari jumlah kontribusi yang diberikan oleh masing-masing pihak yang terlibat.

6. Kerjasama usaha dapat berakhir apabila ada beberapa pihak meninggal atau
mengundurkan diri.

F. Akad Perdagangan

Akad Fasilitas Perdagangan, perjanjian pertukaran yang bersifat keuangan atas suatu transaksi
jual-beli dimana salah satu pihak memberikan fasilitas penundaan pembayaran atau penyerahan
objek sehingga pembayaran atau penyerahan tersebut tidak dilakukan secara tunai atau seketika
pada saat transaksi. Karakteristik fasilitas perdagangan adalah sebagai berikut:
1. Para pihak mendapat manfaat dari transaksi jual-beli yang dilakukan berdasarkan
mekanisme pasar.

2. Dalam hal fasilitas penundaan berupa penundaan pembayaran, maka bentuk, besar dan
waktu pembayaran harus ditentukan secara pasti, sedangkan dalam hal fasilitas berupa
penundaan penyerahan maka kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan dari objek
transaksi harus ditentukan secara pasti.

3. Fasilitas penundaan dapat berupa penundaan pembayaran atas penyerahan barang atau
jasa (objek transaksi) yang dilakukan secara seketika dimana transaksi tersebut akan
menimbulkan manfaat pada pihak yang menerima fasilitas penundaan pembayaran (murbahah).

4. Fasilitas penundaan dapat berupa penundaan penyerahan barang atau jasa (objek
transaksi) yang sudah dipastikan keberadaannya atas pembayaran secara tunai dimana transaksi
tersebut akan menimbulkan manfaat pada pihak yang menerima fasilitas penundaan penyerahan
(Bay Salam).

5. Fasilitas penundaan dapat berupa penundaan penyerahan barang atau jasa (objek
transaksi) yang akan diadakan menurut pesanan atas pembayaran secara tunai dimana transaksi
tersebut akan menimbulkan manfaat pada pihak yang menerima fasilitas penundaan penyerahan
(Bay Istishn).

6. Hasil (manfaat) yang timbul dibagi bersama oleh pihak yang menerima manfaat kepada
pihak yang memberikan fasilitas.

7. Hasil (manfaat) yang diterima oleh pihak yang memberikan fasilitas penundaan
pembayaran dapat berupa marjin (penambahan) atas harga transaksi secara tunai pada akad
murbahah (asal kata ribhu, yang berarti keuntungan).

8. Hasil (manfaat) yang diterima oleh pihak yang memberikan fasilitas penundaan
penyerahan objek transaksi dapat berupa marjin (penambahan) atas perkiraan harga jual objek
transaksi pada saat penyerahan.

9. Akibat penundaan pembayaran atau penyerahan objek transaksi tersebut timbul


kewajiban dengan nilai tertentu yang harus dipenuhi di masa mendatang.

10. Pembayaran atas harga objek transaksi dapat disepakati dalam bentuk cicilan.

G. Akad (Transaksi) Ijrah

Akad Ijrah, adalah akad pemberian hak untuk memanfaatkan objek melalui penguasaan
sementara atau peminjaman objek dengan manfaat tertentu dengan membayar imbalan kepada
pemilik objek. Ijrah mirip dengan leasing namun tidak sepenuhnya sama dengan leasing, karena
ijrah dilandasi adanya perpindahan manfaat tetapi tidak terjadi perpindahan kepemilikan.
Ketentuan umum akad ijrah adalah sebagai berikut:
[Berbeda dengan leasing], disamping dapat berupa suatu barang (harta fisik yang bergerak, tak
bergerak, harta perdagangan), objek dapat pula berupa jasa (amal) yang diberikan oleh manusia
atau binatang.

Objek, manfaat yang dipinjamkan dan nilai manfaat harus diketahui dan disepakati terlebih
dahulu oleh para pihak.

Ruang lingkup pemakaian objek dan jangka waktu pemakaiannya harus dinyatakan secara
spesifik.

Atas pemakaian objek, Pemakai Manfaat (Penyewa) harus membagi hasil manfaat yang
diperolehnya dalam bentuk imbalan sewa/upah (akar kata ijrah berarti upah).

[Berbeda dengan leasing], secara umum cara pembayaran sewa ditentukan menurut kinerja dari
objek, namun dalam hal pemakai ,anfaat (penyewa) yakin akan kinerja dari objek maka
pembayaran sewa dapat ditentukan menurut waktu pemakaian [sehingga mirip dengan leasing].

Pemakai Manfaat (Penyewa) wajib menjaga objek ijrah agar manfaat yang dapat diberikan oleh
objek tersebut tetap terjaga.

Pemberi Sewa haruslah pemilik mutlak, agen dari pemilik mutlak, penjaga secara alami atau
legal dari objek.

Pemberi Sewa (Pemilik Objek Ijrah) dapat mengadakan akad jiz untuk menjual atau
menghibahkan objek ijrah kepada pemakai manfaat (penyewa) menurut ketentuan tertentu pada
akhir dari masa sewa.

Dilarang mengadakan akad ijrah dan akad jual-beli secara sekaligus pada waktu yang sama
karena akan menimbulkan keraguan akan keberlakuan akad (gharar).

(Dikutip dan dimodifikasi dari beberapa sumber di situs internet dari para penulis yang beragam,
dengan bahan utama dari http://media.isnet.org dan
http://fossei.org/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=64 untuk bahan
kajian Ekonomi Syariah)