Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan dan kemajuan segala aspek seperti perekonomian, teknologi dan
kesehatan memberikan dampak pada usia harapan hidup yang makin meningkat.
Peningkatan jumlah lansia yang meningkat ini akan menimbulkan berbagai masalah
baik bagi individu, keluarga, masyarakat maupun negara karena kondisi lansia tidak
seperti kondisi saat usia muda. Populasi usia lanjut di Amerika Serikat 100 tahun yang
lalu hanya 2% meningkat menjadi 12,6% pada tahun 1990 dan diperkirakan meningkat
lagi menjadi 23% pada tahun 2040.1 Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2005 jumlah lansia di Indonesia sebanyak 7,79% dan jumlahnya pada tahun 2015 di
perkirakan sebesar 9,77% dan pada 2020 mendatang mencapai 11,34% atau tercatat
28,8 juta orang. Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang
memiliki jumlah penduduk lansia yang lebih banyak yaitu sekitar 10,34%.2,3
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah
memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia adalah suatu tahap terakhir dari siklus hidup
manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan
akan dialami oleh setiap individu, namun kemunduran fungsi pada usia lanjut dapat
dihambat. Memasuki usia tua banyak mengalami kemunduran, misalnya kemunduran
fisik yang di tandai dengan kulit menjadi keriput, rambut memutih, pendengaran
berkurang, penglihatan berkurang, gigi mulai tanggal, aktivitas menjadi lambat, nafsu
makan berkurang dan kondisi tubuh lain mengalami kemunduran.3
Lansia mengalami perubahan besar dalam hidup mereka, salah satu perubahan
tersebut adalah perubahan pada sistem syaraf yang dapat bermanifestasi pada
penurunan fungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif terjadi pada hampir semua lansia
dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia.4 Kognitif adalah kemampuan
pengenalan dan penafsiran seseorang terhadap lingkungannya berupa perhatian,
bahasa, memori, visuospasial, dan fungsi memutuskan. Fungsi kognitif meliputi
pengetahuan, perhatian, persepsi, berpikir, dan daya ingat. Proses kognitif adalah
proses berpikir bersama-sama dengan mekanisme persepsi, belajar, dan mengingat
memberikan informasi untuk membuat keputusan.5
Perubahan kognitif seseorang dikarenakan perubahan biologis yang dialaminya
dan umumnya berhubungan dengan proses penuaan. 6 Gangguan satu atau lebih fungsi
tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas harian.7
1
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti ingin melakukan pemeriksaan
fungsi kognitif terhadap lansia yang berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta
Utara Kabupaten Badung. Peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitihan tentang
Gambaran fungsi kognitif pada lansia di UPT Puskesmas Kuta Utara Kabupaten
Badung. Untuk mengetahui seberapa besar lansia yang tinggal di UPT Puskesmas
Kuta Utara Kabupaten Badung yang mengalami penurunan fungsi kognitif.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran fungsi kognitif pada lansia di UPT Puskesmas Kuta Utara,
Kabupaten Badung?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
1. Mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia di UPT Puskesmas Kuta
Utara, Kabupaten Badung.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Melaksanakan skrining fungsi kognitif dengan MMSE pada lansia.
2. Mengetahui karakteristik fungsi kognitif pada lansia berdasarkan usia.
3. Mengetahui karakteristik fungsi kognitif pada lansia berdasarkan jenis kelamin.
4. Mengetahui karakteristik fungsi kognitif pada lansia berdasarkan body mass
index (BMI).
5. Mengetahui karakteristik fungsi kognitif pada lansia berdasarkan tekanan
darah.
6. Mengetahui karakteristik fungsi kognitif pada lansia berdasarkan gula darah
puasa (GDP).

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat bagi penulis
Dapat menjadi sarana untuk mengaplikasikan keilmuan yang diperoleh selama
masa pendidikan dan juga mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia.
1.4.2 Manfaat bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi tentang gambaran
fungsi kognitif pada lansia serta berbagai perubahan yang terjadi pada lansia
akibat proses penuaan.
1.4.3 Manfaat untuk pelayanan kesehatan
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman untuk pemberian
pelayan kesehatan pada lansia.
1.4.4 Manfaat bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi dalam
penelitian selanjutnya serta tindakan lain seperti terapi kognitif untuk
mengoptimalkan fungsi kognitif pada lanjut usia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penuaan
2.1.1 Definisi Lansia
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah
memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang
telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan
lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan.3

2.1.2 Definisi Proses Penuaan


Penuaan adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi
seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan
meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian.12 Pada lanjut usia,
individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya

3
kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Penurunan
tersebut mengenai berbagai sistem dalam tubuh seperti penurunan daya ingat, kelemahan
otot, pendengaran, penglihatan, perasaan dan tampilan fisik yang berubah serta berbagai
disfungsi biologis lainnya.3,13
Proses penuaan biologis ini terjadi secara perlahan-lahan dan dibagi menjadi
beberapa tahapan, antara lain:14
1. Tahap Subklinik (Usia 25 35 tahun):
Usia ini dianggap usia muda dan produktif, tetapi secara biologis mulai terjadi
penurunan kadar hormon di dalam tubuh, seperti growth hormone, testosteron dan
estrogen. Namun belum terjadi tanda-tanda penurunan fungsi-fungsi fisiologis
tubuh.
2. Tahap Transisi (Usia 35 45 tahun):
Tahap ini mulai terjadi gejala penuaan seperti tampilan fisik yang tidak muda lagi,
seperti penumpukan lemak di daerah sentral, rambut putih mulai tumbuh,
penyembuhan lebih lama, kulit mulai berkeriput, penurunan kemampuan fisik dan
dorongan seksual hingga berkurangnya gairah hidup. Radikal bebas mulai merusak
ekspresi genetik yang dapat bermanisfestasi pada berbagai penyakit. Terjadi
penurunan lebih jauh kadar hormonhormon tubuh yang mencapai 25% dari kadar
optimal.
3. Tahap Klinik (Usia 45 tahun ke atas):
Gejala dan tanda penuaan menjadi lebih nyata yang meliputi penurunan semua
fungsi sistem tubuh, antara lain sistem imun, metabolisme, endokrin, seksual dan
reproduksi, kardiovaskuler, gastrointestinal, otot dan saraf. Penyakit degeneratif
mulai terdiagnosis, aktivitas dan kualitas hidup berkurang akibat ketidakmampuan
baik fisik maupun psikis yang sangat terganggu.

2.1.3 Teori Proses Penuaan


Studi yang dilakukan Nies untuk mengidentifikasi pola makan dan pola hidup
yang mempengaruhi kehidupan yang sehat di usia tua, melibatkan 1091 laki-laki dan 1109
perempuan usia 70-75 tahun. Hasilnya menunjukkan, pola hidup tidak sehat seperti
kebiasaan merokok, diet tidak sehat, aktivitas fisik rendah meningkatkan risiko kematian. 15
Modifikasi gaya hidup seperti tidak merokok, meningkatkan aktivitas fisik, dan pola hidup
sehat merupakan salah satu strategi untuk memiliki kualitas hidup yang tetap baik meski
usia telah lanjut.16,17 Terdapat empat teori utama yang menjelaskan terjadinya proses
penuaan18 :
1) Teori Wear and Tear
4
Tubuh dan selnya menjadi rusak karena terlalu sering digunakan dan
disalahgunakan. Organ tubuh, seperti hati, lambung, ginjal, kulit, dan yang lain,
menurun karena toksin di dalam makanan dan lingkungan, konsumsi berlebihan
lemak,gula, kafein, alkohol, dan nikotin, karena sinar ultraviolet, dan karena stress
fisik dan emosional. Tetapi kerusakan ini tidak terbatas pada organ, melainkan juga
terjadi di tingkat sel. Hal ini berarti walaupun seseorang tidak pernah merokok,
minum alkohol, dan hanya mengonsumsi makanan alami, dengan menggunakan organ
tubuh secara biasa saja, pada akhirnya terjadi kerusakan.
2) Teori Neuroendokrin
Teori ini menyangkut peranan berbagai hormon bagi fungsi organ tubuh.Pada
usia muda berbagai hormon bekerja dengan baik mengendalikan berbagai fungsi organ
tubuh. Karena itu pada masa muda fungsi berbagai organ tubuh sangat optimal,
seperti kemampuan bereaksi terhadap panas dan dingin, kemampuan motorik, fungsi
seksual, dan fungsi memori. Hormon bersifat vital untuk memperbaiki dan mengatur
fungsi tubuh. Ketika manusia menjadi tua, tubuh hanya mampu memproduksi hormon
lebih sedikit sehingga kadarnya menurun. Akibatnya berbagai fungsi tubuh
terganggu. Growth hormone yang membantu pembentukan massa otot, Human
Growth Hormon (HGH), testosteron, dan hormon tiroid, akan menurun tajam ketika
menjadi tua.
3) Teori Kontrol Genetika
Faktor genetik memiliki peran besar untuk menentukan kapan menjadi tua dan
umur harapan hidup, dapat dianalogikan individu lahir seperti mesin yang telah
diprogram sebelumnya untuk merusak diri sendiri. Tiap individu memiliki jam biologi
yang telah diatur waktunya untuk dapat hidup dalam rentang waktu tertentu. Ketika
jam biologi tersebut berhenti, merupakan tanda individu tersebut mengalami proses
penuaan kemudian meninggal dunia, waktu dalam jam biologi sangat bervariasi
tergantung pada peristiwa yang terjadi dalam kehidupan individu tersebut dan pola
hidupnya.
4) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan suatu molekul yang mempunyai satu atau lebih
elektron tidak berpasangan pada orbit luarnya, dapat bereaksi dengan molekul
lain, menimbulkan reaksi berantai yang sangat destruktif. Radikal bebas bersifat
sangat reaktif. Radikal bebas akan merusak membran sel, Deoxyribo Nucleic Acid
(DNA), dan protein. Banyak studi mendukung ide bahwa radikal bebas mempunyai
5
kontribusi yang besar pada terjadinya penyakit yang berhubungan dengan proses
penuaan seperti kanker, penyakit jantung dan proses penuaan.

2.1.4 Akibat Proses Menua


Faktor-faktor perubahan proses menua dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal pada perubahan proses menua.

Faktor internal
Pengaruh faktor-faktor internal seperti terjadinya penurunan anatomik, fisiologik
dan perubahan psikososial pada proses menua makin besar, penurunan ini akan
menyebabkan lebih mudah timbulnya penyakit dimana batas antara penurunan tersebut
dengan penyakit seringkali tidak begitu nyata.19
Penurunan anatomik dan fisiologik dapat meliputi sistem saraf pusat, kardiovaskuler,
pernapasan, metabolisme, ekskresi, musculoskeletal serta kondisi psikososial. Kondisi
psikososial itu sendiri meliputi perubahan kepribadian yang menjadi faktor predisposisi
yaitu gangguan memori, cemas, gangguan tidur, perasaan kurang percaya diri, merasa diri
menjadi beban orang lain, merasa rendah diri, putus asa dan dukungan sosial yang kurang.
Faktor sosial meliputi perceraian, kematian, berkabung, kemiskinan, berkurangnya
interaksi sosial dalam kelompok lansia mempengaruhi terjadinya depresi. Respon perilaku
seseorang mempunyai hubungan dengan kontrol sosial yang berkaitan dengan kesehatan. 20
Frekuensi kontak sosial dan tingginya integrasi dan keterikatan sosial dapat mengurangi
atau memperberat efek stress pada hipotalamus dan sistim saraf pusat. Hubungan sosial
ini dapat mengurangi kerusakan otak dan efek penuaan. Makin banyaknya jumlah
jaringan sosial pada usia lanjut mempunyai hubungan dengan fungsi kognitif atau
mengurangi rata-rata penurunan kognitif 39%.21

Faktor eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh pada percepatan proses menua antara lain gaya
hidup, faktor lingkungan dan pekerjaan. Gaya hidup yang mempercepat proses penuaan
adalah jarang beraktifitas fisik, perokok, kurang tidur dan nutrisi yang tidak teratur. Hal
tersebut dapat diatasi dengan strategi pencegahan yang diterapkan secara individual pada
usia lanjut yaitu dengan menghentikan merokok. Serta faktor lingkungan, dimana lansia
manjalani kehidupannya merupakan faktor yang secara langsung dapat berpengaruh pada
proses menua karena penurunan kemampuan sel, faktor-faktor ini antara lain zat-zat
radikal bebas seperti asap kendaraan, asap rokok meningkatkan resiko penuaan dini, sinar
6
ultraviolet mengakibatkan perubahan pigmen dan kolagen sehingga kulit tampak lebih
tua.19

2.2 Kognitif

2.2.1 Definisi Kognitif


Kognitif adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari
proses berfikir. Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi
pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisa, memahami, menilai,
membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai
kecerdasan atau intelegensi.22

2.2.2 Fungsi kognitif pada Lansia


Umumnya lansia akan mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi
kognitif merupakan suatu proses mental manusia yang meliputi perhatian persepsi,
proses berpikir, pengetahuan dan memori sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku
lansia menjadi makin lambat. Sebanyak 75% dari bagian otak besar merupakan area
kognitif. Sementara fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia
menjadi kurang cekatan.5,23
Kemampuan kognitif seseorang berbeda dengan orang lain, dari hasil penelitian
diketahuai bahwa kemunduran sub sistem yang membangun proses memori dan belajar
mengalami tingkat kemunduran yang tidak sama.5 Fungsi otak yang menurun seiring
dengan bertambahnya usia adalah fungsi memori berupa kemunduran dalam kemampuan
penamaan dan kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat
memori (speed of information retrieval from memory). Penurunan fungsi memori
secara linier itu terjadi pada kemampuan kognitif dan tidak mempengaruhi rentang
hidup yang normal. Perubahan atau gangguan memori pada penuaan otak hanya terjadi
pada aspek tertentu, sebagai contoh, memori primer (memori jangka pendek) relatif tidak
mengalami perubahan pada penambahan usia, sedangkan pada memori sekunder (memori
jangka panjang) mengalami perubahan bermakna. Artinya kemampuan untuk mengirimkan
informasi dari memori jangka pendek ke jangka panjang mengalami kemunduran dengan
penambahan usia. Perkembangan otak menjadi tua terbukti dapat berlanjut terus sampai
usia berapapun kalau saja otak memperoleh stimulasi yang terus menerus, baik secara
fisik dan mental. Hal ini disebut juga kemampuan plastisitas otak yang terjadi juga pada
7
usia lanjut. Walaupun jumlah sel-sel otak berkurang setiap hari dengan beberapa puluh
ribu sehari, tetapi pengurangan ini tidak bermakna bila dibandingkan jumlah sel yang
masih ada sebagai cadangan. Ditambah lagi bukti-bukti penelitian yang menunjukkan
bahwa pada stimulasi lingkungan yang kaya, jaringan antarsel dalam permukaan otak
(corteks serebri) bertambah terus jumlahnya sehingga dampaknya sumber daya otak
dan kemampuan kognitif usia lanjut dapat terus berkembang.24
Proses menua sehat (normal aging) secara fisiologi juga terjadi kemunduran
beberapa aspek kognitif seperti kemunduran daya ingat terutama memori kerja
(working memory) yang amat berperan dalam aktifitas hidup sehari-hari, hal ini
menjelaskan mengapa pada sebagian lanjut usia menjadi pelupa. Selain itu fungsi belahan
otak sisi kanan sebagai pusat intelegensi dasar akan mengalami kemunduran lebih cepat
daripada belahan otak sisi kiri sebagai pusat inteligensi kristal yang memantau
pengetahuan. Dampak dari kemunduran belahan otak sisi kanan pada lanjut usia
antara lain adalah kemunduran fungsi kewaspadaan dan perhatian.24
Penurunan kognitif pada lansia juga bergantung pada faktor usia dan jenis kelamin
terutama pada wanita hal ini dikarenakan adanya peranan hormon seks endogen dalam
perubahan fungsi kognitif serta reseptor esterogen di otak yang berperan dalam fungsi
belajar dan memori, seperti hipokampus.25
Status kesehatan juga merupakan satu faktor penting yang memperburuk fungsi
kognitif lansia. Salah satunya adalah hipertensi. Peningkatan tekanan darah kronis dapat
meningkatkan efek penuaan pada struktur otak, penurunan hipokampus.25

2.3 Mini Mental Status Examination (MMSE)

2.3.1 Tujuan
MMSE awalnya dirancang sebagai media pemeriksaan status mental singkat serta
terstandardisasi yang memungkinkan untuk membedakan antara gangguan organik dan
fungsional pada pasien psikiatri. Sejalan dengan banyaknya penggunaan tes ini selama
bertahun-tahun, kegunaan utama MMSE berubah menjadi suatu media untuk mendeteksi
dan mengikuti perkembangan gangguan kognitif yang berkaitan dengan kelainan
neurodegeneratif, misalnya penyakit Alzheimer.26

2.3.2 Gambaran
MMSE merupakan suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 poin yang
dikelompokkan menjadi 7 kategori : orientasi terhadap tempat (negara, provinsi, kota,
8
gedung dan lantai), orientasi terhadap waktu (tahun, musim, bulan, hari dan tanggal),
registrasi (mengulang dengan cepat 3 kata), atensi dan konsentrasi (secara berurutan
mengurangi 7, dimulai dari angka 100, atau mengeja kata WAHYU secara terbalik),
mengingat kembali (mengingat kembali 3 kata yang telah diulang sebelumnya), bahasa
(memberi nama 2 benda, mengulang kalimat, membaca dengan keras dan memahami suatu
kalimat, menulis kalimat dan mengikuti perintah 3 langkah), dan kontruksi visual
(menyalin gambar).
Skor MMSE diberikan berdasarkan jumlah item yang benar sempurna; skor yang
makin rendah mengindikasikan performance yang buruk dan gangguan kognitif yang
makin parah. Skor total berkisar antara 0-30 (performance sempurna).

2.3.3 Pelaksanaan
MMSE dapat dilaksanakan selama kurang lebih 5-10 menit. Tes ini dirancang agar
dapat dilaksanakan dengan mudah oleh semua profesi kesehatan atau tenaga terlatih
manapun yang telah menerima instruksi untuk penggunaannya.27

2.3.4 Penggunaan Klinis


MMSE merupakan pemeriksaan status mental singkat dan mudah diaplikasikan yang
telah dibuktikan sebagai instrumen yang dapat dipercaya serta valid untuk mendeteksi dan
mengikuti perkembangan gangguan kognitif yang berkaitan dengan penyakit
neurodegeneratif. Hasilnya, MMSE menjadi suatu metode pemeriksaan status mental yang
digunakan paling banyak di dunia. Tes ini telah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan
telah digunakan sebagai instrumen skrining kognitif primer pada beberapa studi
epidemiologi skala besar demensia. Data psikometri luas MMSE menunjukkkan bahwa tes
ini memiliki tes retest dan reliabilitas serta validitas sangat baik berdasarkan diagnosis
klinis independen demensia dan penyakit Alzheimer.27
Kelemahan terbesar MMSE yang banyak disebutkan ialah batasannya atau
ketidakmampuannya untuk menilai beberapa kemampuan kognitif yang terganggu di awal
penyakit Alzheimer atau gangguan demensia lain (misalnya terbatasnya item verbal dan
memori dan tidak adanya penyelesaian masalah atau judgment), MMSE juga relatif tak
sensitif terhadap penurunan kognitif yang sangat ringan (terutama pada individual dengan
status pendidikan tinggi). Walaupun betasan batasan ini mengurangi manfaat MMSE, tes
ini tetap menjadi instrumen yang
sangat berharga untuk penilaian penurunan kognitif. 28

9
2.3.5 Interpretasi MMSE
Interpretasi MMSE didasarkan pada skor yang diperoleh pada saat pemeriksaan :
1. Skor 24-30 diinterpretasikan sebagai fungsi kognitif normal
2. Skor 17-23 berarti probable gangguan kognitif
3. Skor 0-16 berarti definite gangguan kognitif
Poin yang sangat rendah mengindikasikan demensia, meskipun gangguan mental
lainnya juga dapat menyebabkan rendahnya skor MMSE. Nilai skor dipengaruhi oleh
banyak faktor, seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, masalah bahasa, dan
operasional saat melakukan tes. Selain itu dipengaruhi pula oleh situasi tes saat
diselenggarakan.26
Pengkajian fungsi mental kognitif merupakan hal yang menyokong dalam
mengevaluasi kesehatan lanjut usia, banyak bukti menunjukkan bahwa gangguan mental
kognitif seringkali tidak dikenali profesional kesehatan karena sering tidak dilakukan
pengujian status mental secara rutin. Diperkirakan 30% sampai 80% lanjut usia yang
mengalami demensia tidak terdiagnosis oleh dokter, melainkan teridentifikasi melalui
pemeriksaan status mini mental.11

10
BAB III
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS

3.1. Kerangka Teori


Penuaan adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang
yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan
meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian. Pada lanjut usia,
individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, psikososal
maupun spiritual. Seiring berjalannya proses penuaan akan mempengaruhi pula pola
aktivitas, pola hidup, lingkungan dan meningkatkan risiko terpaparnya penyakit yang juga
berdampak pada perubahan fungsi kognitif lansia.

11
3.2 Kerangka Konsep

Perubahan fisik
Penuaan Mental
Psikososial
Spiritual

Karakteristik lansia:
Kurang aktivitas, pola
Usia
hidup, lingkungan,
Jenis Kelamin paparan penyakit
Status Gizi (BMI)
Tekanan Darah
Gula darah Puasa Fungsi Kognitif
(GDP)

Gambar 1. Kerangka Konsep

12
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian mencangkup keilmuan Biokimia, Geriatri, Neurosains.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksakan di UPT Puskesmas Kuta Utara. Penelitian dilakukan selama satu
bulan dimulai dari tahap penyusunan proposal.

4.3 Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-
sectional. Perlakuan yang diberikan yaitu dengan melakukan pemeriksaan fungsi kognitif
MMSE pada lansia peserta prolanis di UPT Puskesmas Kuta Utara.

4.4 Populasi dan Sample


4.4.1 Populasi Penelitian
Populasi terjangkau penelitian ini adalah peserta kelompok prolanis yang berada di
wilayah kerja UPT Puskesmas Kuta Utara.

4.4.2 Sampel Penelitian


A. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Berusia lebih dari 60 tahun
2. Laki-laki dan perempuan
3. Bersedia menjadi responden dan menyetujui lembar persetujuan.

13
B. Kriteria eksklusi
Adalah sampel yang memenuhi kriteria ekslusi, karena sesuatu keadaan
dikeluarkan dari sampel, antara lain:
1. Bukan merupakan peserta kelompok prolanis UPT Puskesmas Kuta Utara
2. Berusia kurang dari 60 tahun
3. Responden tidak kooperatif
4. Peserta menolak menjadi sampel penelitian

4.4.3 Metode Pengambilan Sampel


Pengambilan subjek penelitian dilakukan secara randomisasi sederhana (simple
random sampling) untuk mendapatkan jumlah sampel berdasarkan kriteria inklusi dan
eksklusi.

4.4.4 Besar Subyek Penelitian


Seluruh lansia peserta prolanis di UPT Puskesmas Kuta Utara yang memenuhin
kriteria inklusi dipilih menjadi sampel penelitian.

4.5 Variabel Penelitian


4.5.1 Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, status gizi (BMI),
tekanan darah, dan GDS
4.5.2 Variabel Tergantung
Fungsi kognitif (MMSE)

4.6 Definisi operasional variabel


Table 2. Definisi operasional variabel
Variable Definisi operasional Unit Skala
Fungsi Fungsi kognitif adalah Skor Numerik
kognitif kemampuan seseorang untuk
beradaptasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya dengan
cara mendapatkan suatu
pengalaman terhadap suatu
peristiwa atau melakukan suatu

14
bentuk penyesuaian terhadap
sistem pengetahuan sesuai
dengan kebutuhan dan
kenyataan. Pengukuran
menggunakan assesmen
kognitif MMSE.

Usia Lama waktu hidup atau ada Tahun Rasio


sejak dilahirkan sampai
sekarang
Jenis Ciri atau sifat yang 1.Laki-laki Nominal
kelamin mengekspresikan seks 2.Perempuan
berdasarkan tanda yang dibawa
sejak lahir
BMI Hasil pembagian berat badan Kg/(m)2 Nominal
dengan tinggi badan
Tekanan Tekanan yang dialami darah mmHg Numerik
darah pada pembuluh arteri ketika
darah di pompa oleh jantung ke
seluruh anggota tubuh manusia
GDP Hasil pengukuran dengan mg/dL Numerik
berpuasa terlebih dahulu

4.7 Cara pengumpulan data


4.7.1 Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain;
1. Timbangan dan meteran
2. Assesment fungsi kognitif (MMSE)
3. Sphygmomanometer
4. Glukometer, lancet, dan alkohol swab
5. Kuesioner
4.7.2 Cara kerja
1. Mendatangi subyek penelitian sesuai waktu dan tempat yang telah ditetapkan.

15
2. Peneliti menyiapkan kuisioner obyek penelitian. Kemudian peneliti akan
menjelaskan kepada subyek tentang maksud dan tujuan penelitian serta cara
mengisi kuisioner penelitian agar hasilnya valid.
3. Populasi lansia akan menjalani serangkaian anamnesis dan tes skrining untuk
mendapatkan kriteria inklusi. Setelah lulus dari skrining, maka akan
ditetapkan sebagai subyek penelitian atau sampel.
4. Mengisi formulir informed consent sebagai tanda untuk bersedia mengikuti
penelitian.
5. Sampel yang sudah terpilih dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan,
tekanan darah, GDS dan MMSE.
6. Setelah itu, dilakukan analisis.
7. Hasil analisis data dituliskan dalam laporan hasil penelitian.

4.8 Alur Penelitian

Gambar 4. Alur Penelitian

4.9. Analisis Data


16
Data yang telah terkumpul diedit, dikoding, dan di entry ke dalam file komputer
serta dilakukan cleaning data.
Analisis data meliputi analisis univariat. Pada analisis univariat data yang berskala
numerik seperti umur apabila berdistribusi normal akan dinyatakan sebagai rerata dan
standar deviasi atau median dan interquartil range apabila distribusinya tidak normal. Data
akan ditampilkan dalam bentuk tabel atau diagram. Semua perhitungan statistik
menggunakan software Statitiscal Package for Social Science (SPSS).

4.10 Etika Penelitian


Responden yang diwawancarai untuk pengisian kuesioner pada penelitian ini diberi
jaminan kerahasiaan terhadap data-data yang diberikan dan berhak untuk menolak menjadi
responden. Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu responden diberi formulir
lembar persetujuan dan menandatanganinya untuk legalitas persetujuan.

4.11 Jadwal Penelitian


Tabel 3. Jadwal penelitian
Kegiatan Tahun 2017
September Oktober November Desember
Penyusunan
proposal
Seminar
proposal
Etikal klirens
Persiapan
Penelitian
Analisis data
dan evaluasi
Penyusunan
laporan dan
hasil
Seminar hasil

DAFTAR PUSTAKA

17
1. Wiener JM, Tilly J. Population aging in the United States of America: implications
for public programmes. Int J Epidemiol. 2002 Aug;31(4):776-81.
2. Biro Pusat Statistik. Statistical Yearbook 2007.
3. Nugroho W. Keperawatan gerontik & geriatrik Ed.3. Jakarta: EGC; 2008.
4. Kamijo K, Hayashi Y, Sakai T, Yahiro T, Tanaka K, et al. Acute Effects of Aerobic
Exercise on Cognitive Function in Older Adults. The Journal of Gerontology, 2009.
356
5. Psikologi Lansia, 2009. [Cited 2009 December, 11] Available from:
URL.http://belajarpsikologi.com/psikologi-lansia.
6. Ong FS, Lu YY, Abessi M, Philips. The Correlates of Cognitive Ageing and
Adoption of Defensive-Ageing Strategies among Older Adults. Asia Pacific Journal
of Marketing and Logistics Vol. 21 No. 2, 2009 pp. 294-305
7. Hesti, Harris S, Mayza A, Prihartono J. Pengaruh Gangguan Kognitif Terhadap
Gangguan Keseimbangan Pada Lanjut Usia. Neurona.2008;25:26-31.
8. Ramdhani N. Gambaran Fungsi Kognitif Dan Keseimbangan Pada Lansia Di Kota
Manado. KTIS. Manado: FK UNSRAT 2012:h.19:39-41.
9. Farmacia, 2007. Kemunduran Fungsi Luhur Akibat Tumor Otak. Simposia. Ed
April 2007; Vol 6 No. 9.
10. Martini S. Hubungan Jendela Waktu Terapi Dengan Kejadian Gangguan Kognitif
Pasca Stroke. 2008. Available from URL:http://i-
lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=4892
11. Turana Y, Mayza A, Lumempouw SF. Pemeriksaan Status Mental Mini pada Usia
Lanjut di Jakarta, Medika.Vol.XXX, September, 2004; hal. 56
12. Setiati S, Harimurti K, Roosheroe AG. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya.
Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S., ed.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,2006. 1335-1340.
13. Padila. Buku Ajar Keperawatan gerontik. Yogyakarta; 2013.
14. Pangkahila W. Memperlambat Penuaan, Meningkatkan Kualitas Hidup. AntiAging
Medicine. Cetakan ke-1. Jakarta : Penerbit Buku Kompas; 2007. Hal :9, 106,108
15. Nies AH, Groot LCGM, Staveren WA. Dietary Quality, Lifestyle Factors and
Healthy Ageing in Europe: the Seneca Study. Age and Ageing.2003;32: 427-434,
British Geriatric Society.
18
16. Franklin NC, Tate CA. Lifestyle and Successful Aging: An Overview. American
Journal of Lifestyle Medicine. 2009; Vol. 3, No. 1,6-11.
17. Marquez DX, Bustamante EE, Blissmer BJ, Prohaska TR. Health Promotion for
Successful Aging. American Journal of 60 Lifestyle Medicine. 2009; Vol. 3, No. 1,
12-19.
18. Goldman R, Klatz R. The New Anti-Aging Revolution. Australian edition. Theories
of Aging; 2004. Page 19-32.
19. Darmojo B. Teori Proses Menua Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri Edisi
4.Jakarta:Balai Penerbit FK UI;2009. p.3.
20. Tucker JS, Orlando M, Elliott MN, Klein DJ. Affective and behavioural responses
to health-related social control. Health Psychology. 2006; 25(6):715-722.
21. Barnes LK, Leon MD, Wilson RS, Bienias JL, Evans DA. Social recourses and
cognitive decline in a population of older Africans and whites.Journal of
Neurology. 2004; 63(12):2322 -2326.
22. Ramdhani N. Sikap dan beberapa definisi untuk memahaminya. 2008 [ Cited
2010Juli, 29 ] Available from:
URLhttp:/www.neila.staff.ugm.ac.id/wodrpress/2008/denifisi.

23. Saladin K. Anatomy and physiology the unity of form and function. 4th ed. New
York: McGraw-Hill Companies. 2007; inc:513-561.

24. Katzman R, Rowe JW. Principles of Geriatric Neurology. Philadelphia: FA Davis


Company; 2004.

19