Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI


DI RUANG EDEL WEISS RS PANTI WILASA CITARUM SEMARANG

DISUSUN OLEH:
ERHASH HAQIQI ZULFIKAR
P. 17420109013

POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEMARANG
2010
HIPERTENSI

A. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolic di atas 90 mmHg.
Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik
160 mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg. (Bruner dan Suddarth, 2002:
896)
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
tekanan darah baik sistole dan diastole karena adanya gangguan peredaran
darah tepi dengan tanda dan gejala yang khas.
Hipertensi dapat dikelompokkan menjadi :
a. Hipertensi Ringan
Tekanan sistole 140-150 mmHg dan diastole 90-100 mmHg
b. Hipertensi Sedang
Keadaan tekanan darah systole 160-180 mmHg dan diastole 100-110
mmHg
c. Hipertensi Berat
Tekanan systole lebih dari 185 mmHg dan diastole lebih 110 mmHg

B. Etiologi
Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan
gagal ginjal. Disebut juga sebagai pembunuh diam-diam karena orang
dengan hipertensi sering tidak menampakkan gejala, penyakit ini lebih
banyak menyerang wanita dari pada pria. Penyebab hipertensi yaitu
gangguan emosi, obesitas, konsumsi alcohol yang berlebihan dan
rangsangan kopi serta obat-obatan yang merangsang dapat berperan disini,
tetapi penyakit ini sangat dipengaruhi factor keturunan.
C. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat
vasomotor ini bermula dari saraf simpatis, yang berkelanjutan ke bawah ke
korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia
simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf
simpatis ke ganglia simpatis yang mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah.
Bebagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respons pembuluhdarah terhadap rangsang vasokonstriktor.
Individu dangan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
D. Manifestasi klinis
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan
gejala samapai bertahun-tahun. Gejala, bila ada biasanya menunjukkan
kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai system organ
yang divaskularisasi oleh pembuluh darah yang bersangkutan. Penyakit
arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai
hipertensi. Hipertofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan
beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik
yang meningkat. Apabila jantung tidak mampu lagi menahan peningkatan
beban kerja maka terjadi gagal jantung kiri. Perubahan patologis pada
ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada
malam hari) dan azotemia (peningkatan nitrogen urea darah dan kretinin).
Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau
serangan iskemik trasien yang termanifestasi sebagai paralysis sementara
pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan ketajaman penglihatan.
E. Pemeriksaan Diagnostik
Riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh sangat penting.
Retina harus diperiksa dan dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk
mengkaji kemungkinan adanya kerusakan organ, seperti ginjal atau
jantung yang dapat disebabkan oleh tingginya tekanan darah. Hipertrofi
ventrikel kiri dapat dikaji dengan elektrokardiografi, protein dalam urin
dapat dideteksi dengan urinalisa. Dapat terjadi ketidakmampuan untuk
mengkonsentrasi urin dan peningkatan nitrogen urea darah. Pemeriksaan
fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar uruine dapat juga dilakukan
untuk mengidentifikasi pasien dengan penyakit renovaskuler. Adanya
factor resiko lainnya juga harus dikaji dan dievaluasi.
F. Pathways
Umur, Jenis kelamin, Gaya hidup, Obesitas

HIPERTENSI

Otak Ginjal Retina Pemblh darah

Vasokonstriksi Spasmus Sistemik


Resistensi Suplai O2 pemblh. darah arteriole
pemb. drh otak ginjal
otak Vasokontriksi
Diplopia
Kesadaran Blood flow
Tek. pemblh drh afterload
otak Koroner jantung
Respon KAA
Resiko Resiko COP
Nyeri kepala injuri injuri invark miokard
Vasokonstriksi

Gx. rasa
CVA Rangsang Intoleransi Nyeri dada
nyaman ;
aldosteron aktivitas
nyeri

Retensi Na

Oedema

Gx. Keseimbangan
cairan
G. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan
peningkatan tekanan pembuluh darah otak.
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload vasokontriksi.
3. Resiko injuri berhubungan dengan kesadaran menurun.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan tubuh.
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi natrium
sekunder penurunan GFR.

H. Intervensi
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa Rasa nyeri berkurang - Teliti keluhan nyeri, catat Mengidentifikasi
nyaman : nyeri setelah dilakukan tindakan intensitasnya, lokasinya karakteristik nyeri
kepala berhubungan keperawatan selama 2 X 24 dan lamanya. merupakan faktor
dengan peningkatan jam dengan KH : yang penting untuk
tekanan pembuluh - Pasien mengatakan nyeri - Pertahankan tirah baring menentukan terapi
darah otak. berkurang. selama fase akut. yang cocok serta
- Ekspresi wajah klien mengevaluasi
rileks. - Minimalkan aktivitas kefektifan dari terapi.
vasokontriksi yang dapat Meminimalkan
meningkatkan sakit stimulasi/
kepala. meningkatkan
relaksasi.
- Kolaborasi pemberian Aktivitas yang
analgetik. meningkatkan
vasokontriksi
menyebabkan sakit
kepala pada adanya
peningkatan tekanan
vaskuler serebral.

Menurunkan/
mengontrol nyeri.

Penurunan curah TD dalam rentang normal - Pantau tekanan darah. Untuk mengetahui
jantung berhubungan setelah dilakukan tindakan derajat hipertensi.
dengan peningkatan keperawatan selama 2 X 24 - Amati warna kulit, Adanya pucat,
afterload jam. kelembaban dan suhu. dingin, kulit lembab
vasokontriksi. mungkin berkaitan
- Berikan lingkungan dengan
tenang dan nyaman. vasokontriksi/
mencerminkan
- Pertahankan pembatasan penurunan COP.
aktivitas. Membantu
- Anjurkan teknik relaksasi. menurunkan
rangsang simpatis,
- Kolaborasi pemberian meningkatkan
obat antihipertensi. relaksasi.
Menurunkan stress
dan ketegangan yang
mempengaruhi
tekanan darah.
Mengontrol tekanan
darah.
Resiko injuri Resiko injuri berkurang - Atur posisi pasien agar Menurunkan resiko
berhubungan dengan setelah dilakukan tindakan aman. injuri.
kesadaran menurun. keperawatan selama 2 X 24 - Batasi aktivitas.
jam dengan KH: - Bantu dalam ambulasi.
Pasien merasa tenang dan
tidak takut jatuh.

Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan - Kaji respon pasien Mengetahui respon
berhubungan dengan keperawatan selama 2 x 24 terhadap aktivitas, fisiologi terhadap
kelemahan tubuh. jam dapat meningkatakan perhatikan frekuensi nadi stress aktivitas.
toleransi aktivitas pasien lebih dari 20 kali per Mengurangi
dengan kriteria hasil : menit di atas frekuensi penggunaan energi
- Dapat memenuhi istirahat, peningkatan TD juga membantu
kebutuhan perawatan selama/ sesudah aktivitas, keseimbangan antara
sendiri. dispnea, diaforesis, suplai dan kebutuhan
- Menurunnya kelemahan pusing. oksigen.
dan kelelahan. - Instruksikan klien tentang Kemajuan aktivitas
- Tanda vital dalam rentang teknik penghematan bertahap mencegah
normal. energi. peningkatan kerja
- Berikan dorongan untuk jantung tiba-tiba.
melakukan aktivitas
perawatan diri bertahap.
Kelebihan volume Setelah dilakukan tindakan - Pantau haluaran urin, Haluaran urine
cairan berhubungan keperawatan selama 2 x 24 jumlah dan warna saat mungkin sedikit dan
dengan retensi jam dengan kriteria hasil : terjadi diuresis pekat karena
natrium sekunder - cairan dalam keadaan penurunan perfusi
penurunan GFR. seimbang. - Hitung masukan dan ginjal.
- TTV dalam rentang keluaran cairan selama 24 Menentukan
normal jam. kehilangan cairan
- Tidak ada oedem. tiba- tiba /berlebihan.
- Kolaborasi pemberian
diuretik Meningkatkan laju
urine dan
menghambat
reabsorbsi natrium
pada tubulus ginjal
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical-Surgical Nursing. Jakarta:


EGC.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta:
EGC.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol
2. Jakarta: EGC.