Anda di halaman 1dari 43

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) terutama di industri pertambangan merupakan salah
satu faktor yang sangat penting demi kelancaran operasional sehingga timbulnya rasa aman
dan nyaman bagi pekerja untuk berkerja secara optimal dan produktif. Pada prinsipnya
kecelakaan kerja dapat terjadi dikarenakan kondisi yang tidak aman serta kegiatan dan aktifitas
yang tidak aman. Oleh karena itu penting sekali untuk menanamkan budaya dan disiplin K3
bagi pekerja karena rendahnya kendali manajemen, contohnya: mengambil jalan pintas pada
prosedur kerja, khususnya terjadi pada tingkat operasi. Oleh Karena itu, untuk dapat hal itu
terleksana dengan baik dan benar maka diperlukan Sumber Daya Manusia yang dapat
mengelola manajemen K3 tersebut.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja
dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Kecelakaan Kerja (KK)
yang sering terjadi di pertambangan sering terjadi akibat karena kurangnya kesadaran pekerja
dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang
meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah
tersedia. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya.

Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting
untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja
akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat
meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah Sistem Manajemen K3. Sistem Manajemen K3
mempunyai peran sangat penting untuk mengurangi kecelakaan kerja di pertambangan.

1
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut:
Bagaimana SMK3 dipertambangan mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja yang
sering terjadi diarea tambang?

1.3. Tujuan Pembahasan


1.3.1. Melakukan pengendalian terhadapat bahaya ditempat kerja.
1.3.2. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat untuk para pekerja.
1.3.3. Menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja diarea tambang.
1.3.4. Mengurangi kecelakaan kerja yang sering terjadi diarea tambang.
1.3.5. Mengetahui macam-macam bahaya yang terjadi dipertambangan
1.3.6. Mengetahui penerapan Sistem Manajemen K3 diarea tambang.
1.3.7. Mengetahui fungsi Sistem Manajemen K3
1.3.8. Mengetahui cara kerja Sistem Manajamen K3
1.3.9. Mengetahui tugas-tugas Sistem Manajamen K3

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian SMK3


Seperti yang kita ketahui, SMK3 diwajibkan bagi perusahaan yang pekerjanya lebih dari 100
orang dan mempunyai tingkat bahaya yang cukup tinggi, sebab hampir setiap pekerjaan
pastinya memiliki bahaya dan memiliki tingkat yang berbeda-beda. Untuk itu perusahaan yang
ingin mengembangkan perusahaannya dengan baik tentu saja harus mengikuti aturan
perundang-undangan.
Definisi SMK3 adalah bagian dari system manajemen secara keseluruhan yang meliputi
struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber
daya yang dibutuhkan bagi pengembang, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan
kebijaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja atau bagian dari system manajemen
perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian resiko bahaya yang berkaitan
dengan pekerjaan guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

2.2. Tujuan SMK3


Tujuan dan sasaran SMK3 yang tercantum dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.5
tahun 1996 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat
kerja yang terintregasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit
akibat kerja serta menciptakan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Dengan
peraturan perundangan ditetapkannya syarat- syarat keselamatan kerja adalah untuk:
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.
4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya.
5. Memberi pertolongan pada kecelakaan.
6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu.
8. Kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar radiasi,
suara dan getaran.

3
9. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physic
maupum non psychis, keracunan, infeksi dan penularan.
10. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
11. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik; Menyelenggarakan
penyegaran udara yang cukup.
12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
13. Memperoleh keserasian a ntara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerjanya.
14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau
barang.
15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
16. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan
penyimpanan barang.
17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

2.3. Prinsip Dasar SMK3


Menurut Direktorat Pengawasan Norma K3 Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenaga
kerjaan, Depnakertrans RI (2006). Prinsip dasar SMK3 terdiri dari 5 poin yang
dilaksanakan secara berkesinambungan, kelima prinsip tersebut adalah:

2.3.1. Komitmen

Komitmen dibagi menjadi 3 hal penting yaitu: Kepemimpinan dan komitmen,


tinjauan awal K3 dan Kebijakan K3. Pentingnya komitmen untuk menerapkan SMK3
ditempat kerja dari seluruh pihak yang ada ditempat kerja, terutama dari pihak
pengurus dan tenaga kerja. Dan pihak-pihak lain juga diwajibkan untuk berperan
serta dalam penerapan ini.

2.3.2. Perencanaan

Perencanaan yang dibuat oleh perusahaan harus efektif dengan memuat sasaran
yang jelas sebagai pengejawantahan dari kebijakan K3 tempat kerja dan indicator
kinerja serta harus dapat menjawab kebijakan K3. Ha \l yang perlu diperhatikan

4
dalam perencanaan adalah identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian
risiko serta hasil tinjauan awal terhada p K3.

2.3.3. Implementasi

Setelah membuat komitmen dan perencanaan maka kini telah tiba pada tahap penting
yaitu penerapan SMK3. Pada tahap ini perusahaan perlu memperhatikan antara lain:
adanya jaminan kema mpuan, kegiatan pendukung, identifikasi sumber bahaya
penilaian dan pengendalian risiko.

2.3.4. Pengukuran/evaluasi

Pengukuran dan evaluasi ini merupakan alat yang berguna untuk: mengetahui
keberhasilan penerapan SMK3, melakukan identifikasi tindakan perbaikan, mengukur,
memantau dan mengevaluasi kinerja SMK3. Guna menjaga tingkat kepercayaan
terhadap data yang akan diperoleh maka beberapa proses harus dilakukan seperti
kalibrasi alat, pengujian peralatan dan contoh piranti lunak dan perangkat keras. Ada
tiga kegiatan dalam melakukan pengukuran dan evaluasi yang diperkenalkan oleh
peraturan ini: inspeksi dan pengujian, audit SMK3, tindakan perbaikan dan
pencegahan.

2.3.5. Peninjauan ulang dan perbaikan

Tinjauan ulang harus meliputi: Evaluasi terhadap penerapan kebijakan K3, tujuan
sasaran dan kinerja K3, hasil temuan audit SMK3, Evaluasi efektifitas penerapan
SMK3, dan Kebutuhan untuk mengubah SMK3.

2.4. Elemen-Elemen SMK3


Elemen Sistem Manajamen K3 menurut Standar OHSAS 18001: 2007 sebagai berikut:
1. Persyaratan umum.
2. Kebijakan K3.
3. Perencanaan.
Identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian resiko.
Peraturan perundangan dan persyaratan lainnya.
4. Penerapan dan operasi.
Sumber daya, peran, tanggung jawab, fungsi dan wewenang.
Kompetens, pelatihan dan pengetahuan.
5
Komunikasi, partisipasi dan konsultasi.
Dokumentasi.
Pengendalian Dokumen.
Pengendalian operasi.
Persiapan tanggap darurat.
5. Pemeriksaan
Pengukuran dan pemantauan kinerja.
Evaluasi penyimpangan.
Investigasi insiden, tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan.
(i) Investigasi insiden
(ii) Ketidaksesuaian tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan
Pengendalian catatan
6. Tinjauan manajemen

Elemen Sistem Manajemen K3 menurut PP No.50 tahun 2012 sebagai berikut:


1. Pembangunan dan pemeliharaan komitmen.
2. Pembuatan dan pendokumentasian rencana K3.
3. Pengendalian perancangan dan pengendalian kontrak.
4. Pengendalian dokumen.
5. Pembelian dan pengendalian produk.
6. Keamanan bekerja berdasarkan SMK3.
7. Pengelolahan material dan perpindahannya.
8. Standar pemantauan.
9. Pengumpulan dan penggunaan data.
10. Pemesiksaan SMK3.
11. Pelaporan dan perbaikan kekurangan.
12. Pengembangan keterampilan dan kemampuan.

2.5. Pelaksanaan Sistem Manajamen K3


Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang a man, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Dalam penjelasan Undang-
Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain: setiap
6
tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja agar tida k terjadi gangguan
kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya,(www.depkes.
go.id, 2009). Penerapan SMK3 dilaksanakan oleh setiap perusahaan yang mempekerjakan
tenaga kerja sebanyak seratus orang atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan
oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja
wajib menerapkan SMK3. Pelaksanaan SMK3 dilakukan oleh Pengurus, Pengusaha dan
seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan. Ketentuan-ketentuan yang wajib dilaksanakan
dalam penerapan SMK3 yang tercantum dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5
Tahun 1996 adalah:
1. Menetapkan Kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem
Manajemen K3.
2. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan, dan sasaran penerapan K3.
3. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan
mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran
keselamatan dan kesehatan kerja.
4. Mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan
kerja serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.
5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 secara
berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan
kerja.

Menurut Suardi (2007), Tahapan dan langkah-langkah yang harus dilakukan suatu
untuk memudahkan dalam menerapkan pengembangan SMK3 terbagi menjadi dua
bagian besar yaitu:
1. Tahap persiapan
Tahap ini merupakan langkah awal ya ng harus dilakukan suatu perusahaan.
Langkah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personil, mulai dari
menyatakan komitmen sampai dengan menetapkan kebutuhan sumber daya
yang diperlukan. Adapun tahap persiapan ini antara lain:
a. Komitmen manajemen puncak.
b. Menentukan ruang lingkup.
c. Menetapkan cara penerapan.
d. Membentuk kelompok penerapan.

7
e. Menetapkan sumber daya yang diperlukan.
2. Tahap Pengembangan dan Penerapan
Sistem dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh
organisasi/ perusahaan dengan melibatkan banyak personil. Langkah-langkah
tersebut adalah:

a. Menyatakan Komitmen
Penerapan Sistem Manajemen tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen
terhadap sistem manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar
menyadari bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap
keberhasilan dan kegagalan penerapan SMK3. Komitmen harus dinyatakan
dengan tindakan nyata agar diketahui oleh seluruh staf dan karyawan
perusahaan.
b. Menetapkan Cara Menerapkan
Perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan ataupun personel perusahaan
yang mampu untuk mengorganisasikan dan mengarahkan orang untuk
menerapkan SMK3.
c. Membentuk Kelompok Kerja Penerapan
Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota
kelompok kerja tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja,
biasanya manajer unit kerja. Ha l ini penting karena mereka yang paling
bertanggung jawab terhadap setiap unit kerja yang bersangkutan.
d. Menetapkan Sumber Daya yang diperlukan
Sumber daya di sini mencakup orang atau personil, perlengkapan, waktu,
dan dana. Orang yang dimaksud adalah beberapa orang yang diangka t
secara resmi di luar tugas-tugas pokoknya dan terlibat penuh dalam proses
penerapan. Perlengkapan ada lah perlunya mempersiapkan kemungkinan
ruangan tambahan untuk menyimpan dokumen atau komputer tambahan
untuk mengolah dan menyimpan data. Waktu yang diperlukan tidaklah
sedikit terutama bagi orang yang terlibat dalam penerapan, mulai mengikuti
rapat, pelatihan, mempelajari bahan-bahan pustaka, menulis dokumen mutu
sampai menghadapi kegiatan audit dan assessment. Sementara dana
diperlukan adalah untuk membayar konsultan (jika menggunakan jasa
konsultan), lembaga sertifikasi, dan biaya untuk pelatihan karyawan diluar
8
perusahaan. Serta peralatan khusus untuk pengendalian risiko dan bahaya
yang ditimbulkan dalam penerapan SMK3.
e. Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan penyuluhan ini harus diarahkan untuk mencapai tujuan, antara lain:

1. Menyamakan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya penerapan SMK3 bagi


kinerja perusahaan.
2. Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi, manajer, staf, dan
seluruh jajaran dalam perusahaan untuk bekerja bersama-sama dalam
menerapakan standar sistem.
f. Peninjauan Sistem
Kelompok kerja yang telah terbentuk meninjau sistem yang sedang berlangsung
dengan membandingkannyabdengan persyaratan yang ada dalam SMK3.
Peninjauan dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu dengan meninjau dokumen
prosedur dan meninjau pelaksanaannya.
g. Penyusunan Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan disusun setelah melakukan peninjauan dengan
mempertimbangkan:
1. Ruang lingkup pekerjaan.
2. Kemampuan wakil ma najemen dan kelompok kerja penerapan.
3. Keberadaan proyek
h. Pengembangan SMK3
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengembangan sistem adalah
dokumentasi, pembagian kelompok, penyusunan bagan alir, penulisan manual
SMK3, prosedur dan instruksi kerja.
i. Penerapan Sistem
Penerapan sisitem harus dilaksanakan sedikitnya tiga bulan sebelum
pelaksanaan audit internal. Waktu tiga bulan diperlukan untuk mengumpulkan
bukti-bukti (dalam bentuk rekaman tercatat) secara memadai dan untuk
melaksanakan penyempurnaan sistem serta modifikasi dokumen.
j. Proses Sertifikasi
Perusahaan diharapkan melakukan sertifikasi dengan memilih lembaga sertifikasi
yang sesuai. Tingkat penerapan SMK3 dibagi menjadi 3 tingkatan:

9
1. Perusahaan kecil atau perusahaan dengan tingkat risiko rendah harus
menetapkan sebanyak 64 kriteria (enam puluh empat) kriteria.
2. Perusahaan sedang atau perusahaan dengan tingkat risiko menengah harus
menerapkan sebanyak 122 (seratus dua puluh dua) kriteria.
3. Perusahaan besar atau perusahaan dengan tingkat risiko tinggi harus
menerapkan sebanyak 166 (seratus enam puluh enam) kriteria.

2.6. Dasar Hukum K-3 Pertambangan


1. UU Nomor 11 TH 1967 (Pasal 29)
Tata Usaha, Pengawasan pekerjaan usaha pertambangan dan penga wasan hasil perta
mbangan dipusatkan kepada Menteri dan diatur lebih lanjut dala m Peraturan Pemerintah.
Pengawasan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini terutama meliputi keselamatan kerja,
pengawasan produksi dan kegiatan lainnya dalam pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum.
2. UU Nomor 1 TH 1970 (Menimbang, Ps.3 ayat 1a-z)
Bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas kesela matannya dalam
melakukan pekerjaan untuk keseja hteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional; Bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu
terjamin pula kesela matannya; Bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan
dipergunakan secara aman dan effisien; Bahwa pembinaan norma- norma itu perlu
diwujudkan dala m Unda ng-undang yang memuat ketentuan - ketentuan umum tentang
keselamata n kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi,
teknik dan teknologi.
3. UU Nomor 13 TH 2003 (Pasal 86 & 87)
4. PP Nomor 32 TH 1969 (Pasal 64 & 65)
5. PP Nomor 19 TH 1973 (Pasal 1, 2, & 3)
6. MPR Nomor 341 LN 1930
7. KEPMEN Nomor 2555.K/201/M.PE/1993
8. KEPMEN Nomor 555.K/26/M.PE/1995

2.7. Tugas dan Tanggung Jawab Pengelolahan K3

Dalam melakukan pengelolaan K-3 seperti yang termaktub dalam Kepmen Nomor

10
555.K/26/M.PE/1995, seorang Kepala Teknik Tambang (KTT) yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab penuh terhadap K3, dimana dalam melaksanakan tugasnya dibantu
oleh Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis dengan memperhatikan beberapa hal
sebagai pedomannya, yaitu:
1. Perkembangan keselamatan sebagai faktor utama.
2. K3 merupakan sistem yang terpadu.
3. Sistem K3 mampu mengantisipasi peraturan perundangan dan kesadaran pekerja.
4. Sistem K3 terintegrasi dalam pengendalian manajemen.
5. Sistem K3 terintegrasi dalam sistem proses desain dan modifikasi peralatan.
6. Sistem K3 mampu mengantisipasi teknologi keselamatan bagi SDM operasi.

2.8. Kendala Penghambat Pelaksanaan K3


Dalam pelaksanaan K3 pada industri pertambangan seringkali dihadapkan dengan segala
macam kendala yang menghambat kelancaran dalam pelaksanaan program pela ksanaan
K3, kenda la ini antara lain:
1. Untuk menerapkan kebijakan dan strategi K3 diperlukan dana yang tidak sedikit. Fakta
yang sering terjadi adalah keterbatasan terhadap dana.
2. Rendahnya budaya dan disiplin K3 menyebabkan rendahnya kendali manajemen.
3. Pengetahuan K3 rendah:
a. Menyebabkan timbulnya kesulitan-kesulitan dala m mengintegrasikan aspek-aspek
K3.
b. Disebabkan program pelatihan yang tidak sesuai atau kurang memadai.
c. Pelatihan yang telah diberikan tidak memasukkan aspek-aspek K3.
4. Aspek K3 tidak dipandang sebagai salah satu faktor utama, akibatnya keputusan yang
dibuat masih berisiko tinggi.

2.9. Langkah-Langkah Penerapan SMK3/OHSAS18001


Dalam menerapkan Sistem Manajemn K3 (SMK3) ada beberapa tahapam yang harus
dilakukan agar SMK3 tersebut dapat berjalan dengan efektif, karena SMK3 mempunyai
elemen-elemen atau persyaratan-persyaratan tertentu yang harus ada dalam suatu
perusahaan. Sistem Manajemen K3 juga harus ditinjau ulang dan ditingkatkan secara terus
menerus didalam pelaksanaannya untuk menjamin bahwa system itu dapat berperan dan
berfungsi dengan baik pada suatu perusahaan serta dapat berkontribusi terhadapat

11
kemajuan perusahaan. Untuk lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen
K3, terdapat tahapan dan langkah-langkah tersebut yang dibagi menjadi dua bagian besar.

2.9.1. Tahap Persiapan


Merupakan tahapan atau langkah awal yang harus dilakukan suatu perusahaan. Langkah
ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personel, mulai dari menyatakan
komitmen sampai dengan kebutuhan sumber daya yang diperlukan, adapun tahap
persiapan ini, antara lain:
Komitmen Manajemen Puncak
Menentukan Ruang Lingkup
Membentuk Kelompok Penerapan
Menetapkan Sumber Daya yang diperlukan

2.9.2. Tahap Pengembangan dan Penerapan


Dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan dengan
melibatkan banyak personel, mulai dari menyelenggarakan penyuluhan dan
melaksanakan sendiri kegiatan audit internal serta tindakan perbaikannya sampai
melakukan sertifikasi.

Langkah 1. Menyatakan Komitmen

Pernyataan komitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah Sistem


Manajemen K3 dalam perusahaan harus dilakukan oleh menejemen puncak.
Persiapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen
terhadap system manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar menyadari
bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan atau
kegagalan penerapan Sistem K3. Komitmen manajemen puncak harus dinyatakan
bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga harus dengan tindakan nyata agar dapat
diketahui, dipelajari, dihayati dan dilaksanakan oleh seluruh staf dan karyawan
perusahaan. Seluruh karyawan dan staf harus mengetahui bahwa tanggung jawab
dalam penerapan Sistem Manajemen K3 bukan urusan bagian K3 saja. Tetapi mulai
dari manajemen puncak sampai karyawan terendah. Karena itu ada baiknya
manajemen membuat cara untuk mengkomunikasikan komitmennya ke seluruh

12
jajaran dalam perusahaannya. Untuk itu perlu dicari waktu yang tepat guna
menyampaikan komitmen manajemen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3.

Langkah 2. Menetapkan Cara Penerapan

Dalam menerapkan SMK3, perusahaan dapat menggukan jasa konsultan dengan


pertimbangan sebagai berikut:

Konsultan yang baik tentu memiliki pengalaman yang banyak dan bervariasi
sehingga dapat menjadi agen pengalihan pengetahuan secara efektif,
sehingga dapat memberikan rekomendasi yang tepat dalam proses
penerapan Sistem Manajemn K3.
Konsultan yang independen kemungkinan konsultan tersebut secara bebas
dapat memberikan umpan balik kepada manajemen secara objektif tanpa
pengaruh oleh persaingan antar kelompok didalam perusahaan.
Konsultan jelas memiliki waktu yang cukup. Berbeda dengan tenaga
perusahaan yang meskipun mempunyai keahlian dalam Sistem Manajamen
K3 namun kerana desakan tugas-tugas yang lain di perusahaan.

Langkah 3. Membentuk Kelompok Kerja Penerapan

Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok


tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja. Biasanya manajer unit
kerja, hal ini penting karena merekalah yang tentu paling bertanggung jawab
terhadap unit kerja yang bersangkutan.

A. Peran Anggota Kelompok


Dalam proses penerapan ini maka peranan anggota kelompok kerja adalah:
Menjadi agen perubahan sekaligus fasilitator dalam unit kerjanya.
Merekalah yang pertama-tama menerapkan Sistem Manajemen K3 ini
di unit-unit kerjanya termasuk merubah cara dan kebiasaan lama yang
tidak menunjang penerapan system ini. Selain itu mereka juga akan
melatih dan menjelaskan tentang standar ini termasuk manfaat dan
konsekuensinya.

13
Menjaga konsistensi dari penerapan Sistem Manajemen K3, baik
melalui tinjauan sehari-hari maupun berkala.
Menjadi penghubung antara manajemen dan unit kerja.
B. Tanggung Jawab dan Tugas Anggota Kelompok
Tanggung jawab dan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh anggota kelompok
kerja adalah:
Mengikuti pelatihan lengkap dengan standar Sistem Manajemen K3.
Melatih staf dalam unit kerjanya sesuai kebutuhan.
Melakukan latihan terhadap system yang berlangsung dibandingkan
dengan system standar Sistem Manajemen K3.
Melakukan tinjauan terhadap system yang berlangsung dibandingkan
dengan system standar Sistem Manajemen K3.
Membuat bagan alur yang menjelaskan tentang keterlibatan unit
kerjanya dengan elemen yang ada dalam standar Sistem Manajemen K3.
Bertanggung jawab untuk mengembangkan system sesuai dengan
elemen yang terkait dalam unit kerjanya. Sebagai contoh, anggota
kelompok kerja wakil dari divisi sumber daya manusia bertanggung
jawab untuk pelatihan dan seterusnya.
Melakukan apa yang telah ditulis dalam dokumen baik diunit kerjanya
sendiri maupun perusahaan.
Ikut serta sebagai anggota tim audit internal.
Bertanggung jawab untuk mempromosikan standar Sistem Manajemen
K3 secara menerus baik di unit kerjanya sendiri maupun di unit kerja
lain secara konsisten serta Bersama-sama memelihara penerapan
sistemnya.

C. Kualifikasi Anggota Kelompok Kerja


Dalam menunjukan anggota kelompok kerja sebenarnya tidak ada ketentuan
kualifikasi yang baku. Namun demikian untuk memudahkan dalam pemilihan
anggota kelompok kerja, manajemen mempertimbangkan personel yang:

Memiliki taraf kecerdasan yang cukup sehingga mampu berfikir secara


konseptual dan berimajinasi.

Rajin dan bekerja keras.


14
Senang belajar termaksud suka membaca buku-buku tentang standar
Sistem Manajemen K3.

Mampu membuat bagan alir dan menulis.

Disiplin dan tepat waktu.

Berpengalaman kerja cukup didalam unit kerjanya sehingga menguasai


dari segi operasional.

Mampu berkomunikasi dengan efektif dalam presentasi dan pelatihan.

Mempunyai waktu cukup dalam membantu melaksakan proyek


penerapan standar Sistem Manajemen K3 di luar tugas-tugas utamanya.

D. Jumlah Anggota Kelompok Kerja


Mengenai jumlah anggota kelompok kerja dapat bervariasi tergantung dari besar
kecilnya lingkup penerapan biasanya jumlah penerapan anggota kelompok
kerja sekitar delapan orang. Yang pasti jumlah anggota kelompok kerja ini harus
dapat mencakup semua elemen sebagaimana disyaratkan dalam Sistem
Manajemen K3. Pada dasarnya setiap anggota kelompok kerja dapat merangkap
dalam working group, dan working group itu sendiri dapat saja hanya sendiri
dari satu atau dua orang. Kelompok kerja akan diketuai dan dikoordinir oleh
seorang ketua kelompok kerja, biasanya dirangkap oleh manajemen
representatif yang ditunjuk oleh manajemen puncak.
Disamping itu untuk mengawal dan mengarahkan kelompok kerja maka
sebaiknya dibentuk panitia pengarah (steering committee), yang biasanya terdiri
dari para anggota manajemen, adapun tugas panitia ini adalah memberikan
arahan, menetapkan kebijakan, sararan dan lain-lain yang menyangkut
kepentiangan organisasi secara keseluruhan. Dalam proses penerapan ini maka
kelompok kerja penerapan akan bertanggung jawab dan melaporkan panitia
pengarah.

E. Kelompok Kerja Penunjang


Jika diperlukan, perusahaan yang berskala besar ada yang membentuk kelompok
kerja penunjang dengan tugas membantu kelancaran kerja kelompok kerja
penerapan, khususnya untuk pekerjaan yang bersifat teknis administrative.
15
Misalnya mengumpulkan catatan-catatan K3 dan fungsi administrative yang lain
seperti pengetikan, penggandaan dan lain-lain.

Langkah 4. Menetapkan Sumber Daya Yang Diperlukan

Sumber daya disini mencakup orang/personel, perlengkapan, waktu dan dana. Orang
yang dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi diluar tugas-tugas
pokoknya dan terlibat penuh dalam proses penerapan. Perlengkapan adalah perlunya
mempersiapkan kemungkinan ruangan tambahan untuk menyimpan dokumen atau
komputer tambahan untuk mengolah dan menyimpan data. Tidak kalah pentingnya
adalah waktu. Waktu yang diperlukan tidaklah sedikit terutama bagi orang yang
terlibat dalam penerapan, mulai mengikuti rapat, pelatihan, mempelajari bahan-bahan
pustaka, menulis dokumen mutu sampai menghadapi kegiatan audit assessment.
Penerapan Sistem Manajemen K3 bukan sekedar kegiatan yang dapat berlangsung
dalam satu atau dua bulan saja. Untuk itu selama kurang lebih satu tahun perusahaan
harus siap menghadapi gangguan arus kas karena waktu yang seharusnya
dikonsentrasikan untuk memproduksikan atau beroperasi banyak terserap ke proses
penerapan ini. Keadaan seperti ini sebetulnya dapat dihindari dengan perencanaan dan
pengelolaan yang baik. Sementara dana yang di perlukan adalah dengan membayar
konsultan (bila menggunakan konsultan), lembaga sertifikasi, dan biaya untuk
pelatihan karyawan diluar perusahaan.

Disamping itu juga perlu dilihat apakah dalam penerapan Sistem Manajemen K3 ini
perusahaan harus menyediakan peralatan khusus yang selama ini belum dimiliki.
Contoh, apabila perusahaan memiliki kompresor dengan kebisingan diatas rata-rata,
karena sesuai dengan persyaratan Sistem Manajemen K3 yang mengharuskan adanya
pengendalian resiko dan bahaya yang ditimbulkan, perusahaan tentu harus
menyediakan peralatan yang dapat mengurangi/menghilangkan tingkat kebisingan itu.
Alat pengukur kebisingan juga harus disediakan, dan alat ini harus dikalibrasi. Oleh
karena itu besarnya dana yang dikeluarkan untuk peralatan ini tergantung masing-
masing perusahaan.

Langkah 5. Kegiatan Penyuluhan

16
Penerapan Sistem Manajemen K3 adalah kegiatan dari perusahaan untuk kebutuhan
personel perusahaan. Oleh karena itu, harus dibangun rasa adanya keikutsertaan dari
seluruh karyawan dalam perusahaan melalui program penyuluhan.

Kegiatan ini harus diarahkan untuk mencapai tujuan, antara lain:

Menyamakan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya penerapan


Sistem Manajemen K3 bagi kinerja perusahaan.
Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi, manajer, staf dan
seluruh jajaran dalam perusahaan untuk bekerja sama dalam menerapkan
standar system ini.

Kegiatan penyuluhan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan
pernyataan komitmen manajemen, melalui pidato, surat edaran atau pembagian
buku-buku yang terkait Sistem Manajemen K3.

A. Penyataan Komitmen
Dalam kegiatan ini, manajemen mengumpulkan seluruh karyawan dalam acara
khusus. Kemudian manajemen menyampaikan sambutan yang isinya, antara
lain:
Pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi kelangsungan dan
kemajuan perusahaan.
Bahwa Sistem Manajemen K3 sudah banyak diterapkan di berbagai
negara dan sudah menjadi kewajiban perusahaan-perusahaan yang ada di
Indonesia.
Bahwa manajemen telah memutuskan serta mengharapkan keikutsertaan
dan komitmen setiap orang dalam perusahaan sesuai tugas dan jabatan
masing-masing.
Bahwa manajemen akan segara membentuk tim kerja yang dipilih dari
setiap bidang didalam perusahaan.
Perlu juga dijelaskan oleh manajemen puncak tentang batas waktu kapan
sertifikasi system manajemen k3 harus diraih, misalnya pada waktu ulang tahun
perusahaan yang akan datang. Tentu saja pernyataan seperti ini harus
memperhitungkan kensekuensi bahwa sertifikasi diharapkan dapat diperoleh
dalam batas waktu tersebut. Hal ini penting karena menyangkut kredibilitas
manajemen dan waktu kelompok kerja.

17
B. Pelatihan Awareness Sistem Manajamen K3
Pelatihan singkat mengenai apa itu Sitem Manajemen K3 perlu dilakukan guna
memberikan dan menyamakan persepsi dan menghindarkan kesimpang siuran
informasi yang dapat memberikan kesan keliru dan menyesatkan. Peserta
pelatihan adalah seluruh karyawan yang dikumpulkan di suatu tempat dan
kemudian pembicara diundang untuk menjelaskan Sistem Manajemen K3
secara ringkas dan dalam bahasa yang sederhana, sehingga mampu
mengunggah semangat karyawan untuk menerapkan standar Sistem
Manajemen K3. Kegiatan awareness ini bila mungkin dapat dilakukan secara
bersamaan untuk seluruh karyawan dan disampaikan secara singkat dan tidak
terlalu lama.
Dalam Awaraness ini dapat disampaikan materi tentang:
Latar belakang dan jenis Sistem Manajemen K3 yang sesuai dengan
perusahaan.
Alasan mengapa standar Sistem Manajemen K3 ini penting bagi
perusahaan dan manfaatnya.
Perihal elemen, dokumentasi dan sertifikasi secara singkat.
Bagaimana penerapannya dan peran setiap orang dalam penerapan
tersebut.
Diadakan tanya jawab.
C. Membagikan Bahan Bacaan
Jika pelatihan awareness hanya dilakukan sekali saja, namun bahan bacaan berupa
buku atau selebaran dapat dibaca karyawan secara berulang-ulang. Untuk itu perlu
dicari buku-buku yang baik dalam arti ringkas sebagai tambahan dan bersifat
memberikan pemahaman yang terarah, sehingga setiap karyawan senang untuk
membacanya. Apabila memungkinkan buatlah selebaran atau bulletin yang bisa
diedarkan berkala selama masa penerapan berlangsung. Lebih baik lagi jika
selebaran tersebut ditujukan kepada perorangan dengan menulis nama mereka satu
persatu, agar setiap orang merasa dirinya dianggap berperan dalam kegiatan ini.
Dengan semakin banyak informasi yang diberikan kepada karyawan tentunya itu
lebih baik biasanya masalah akan muncul karena kurangnya informasi. Informasi
ini penting sekali karena pada saat melakukan assessment, auditor tidak hanya
bertanya pada manajemen saja, tetapi juga kepada semua orang. Untuk sebaiknya
18
setiap orang benar-benar paham dan tahu hubungan standar Sistem Manajemen K3
ini dengan pekerjaan sehari-hari.

Langkah 6. Peninjauan Sistem


Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja untuk meninjau
system yang sedang berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan persyaratan yang
ada dalam Sistem Manajemen K3. Peninjauan ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu
dengan meninjau dokumen prosedur dan meninjau pelaksanaan.
Apakah perusahaan sudah mengikuti dan melaksanakan secara konsisten prosedur
atau intruksi kerja dari OHAS 18001 atau Permenaker 05/men/1996.
Perushaan belum memiliki dokumen, tetapi sudah menerapkan sebagian atau
seluruh persyaratan dalam standar Sistem Manajemen K3.
Perusahaan belum memiliki dokumen dan belum menerapkan persyaratan standar
Sistem Manajemn K3 yang dipilih.

Langkah 7. Penyusunan Jadwal Kegiatan

Setelah melakukan peninjauan system maka kelompok kerja dapat menyusun suatu
jadwal kegiatan. Jadwal kegiatan dapat disusun dengan mempertimbangkan hal-hal
berikut:

A. Ruang Lingkup Pekerjaan


Dari hasil tinjauan system akan menunjukan beberapa banyak yang harus disiapkan
dan berapa lama setiap prosedur itu akan diperiksa, disempurnakan, disetujui dan
diaudit. Semakin panjang daftar prosedur yang harus disiapkan, semakin lama waktu
penerapan yang diperlukan.
B. Kemampuan Wakil Manajemen dan Kelompok Kerja Penerapan
Kemampuan disini dalam hal membagi dan menyediakan waktu. Seperti diketahui
bahwa tugas penerapan bukanlah satu-satunya pekerjaan para anggota kelompok
kerja dan manajemen representative. Mereka masih mempunyai tugas dan tanggung
jawab lain diluar penerapan standar Sistem Manajemen K3 yang kadang-kadang
juga sama pentingya dengan penerapan standar ini. Hal ini menyangkut
kelangsungan usaha perusahaan seperti pencapaian sasaran penjualan, memenuhi
jadwal dan taget produksi.
C. Keberadaan Proyek
19
Khusus bagi perusahaan yang kegiatannya berdasarkan proyek (misalnya kontraktor
dan pengembangan), maka ketika menyusun jadwal kedatangan asesor badan
sertifikasi, pastikan bahwa pada saat asesor dating proyek yang sedang dikerjakan.

Langkah 8. Pengembangan Sistem Manajemen K3

Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengembangan Sistem Manajemen
K3 antara lain mencakup dokumentasi, pembagian kelompok, penyusunan bagan,
penulisan manual Sistem Manajemen K3, prosedur dan intruksi kerja.

Langkah 9. Penerapan Sistem

Setelah semua dokumen selesai dibuat, maka setiap anggota kelompok kerja kembali
ke masing-masing bagian untuk menerapkan system yang ditulis. Adapun cara
penerapannya adalah:

Anggota kelompok kerja mengumpulkan seluruh stafnya dan menjelaskan


mengenai isi dokumen tersebut. Kesempatan ini dapat juga digunakan untuk
mendapatkan masukan-masukan dari lapangan yang bersifat teknis
operasional.
Anggota kelompok kerja bersama-sama staf unit kerjanya mulai mencoba
menerapkan hal-hal yang telah ditulis. Setiap kekurangan atau hambatan
yang dijumpai harus dicatat sebagai masukan untuk menyempurnakan
system.
Mengumpulkan semua catatan K3 dan rekaman tercatat yang merupakan
bukti pelaksanaan hal-hal yang telah ditulis. Rentang waktu untuk
menerapkan system ini sebaiknya tidak kurang dari tiga bulan sehingga
cukup memadai untuk menilai efektif tidaknya system yang telah
dikembangkan tadi. Tiga bulan ini sudah termasuk waktu yang digunakan
untuk menyempurnakan system dan memodifikasi dokumen.

Dalam praktek pelaksanaannya, maka kelompok kerja tidak harus menunggu


seluruh dokumen selesai. Begitu satu dokumen selesai sudah mencakup salah satu
elemen standar maka penerapan sudah dapat dimulai dikerjakan. Sementara proses

20
penerapan system berlangsung, kelompok kerja dapat tetap melakukan pertemuan
berkala untuk memantau kelancaran proses penerapan system ini. Apabila langkah-
langkah yang terdahulu telah dapat dijalankan dengan baik maka proses system ini
relative lebih mudah dilaksanakan. Penerapan system ini harus dilaksanakan
sedikitnya tiga bulan sebelum pelaksanaan audit internal. Waktu tiga bulan ini
diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti (dalam bentuk rekaman tercatat)
secara memadai dan untuk melaksanakan penyempurnaan system serta modifikasi
dokumen.

Langkah 10. Proses Sertifikasi

Ada sejumlah lembaga sertifikasi Sistem Manajemen K3. Misalnya Sucofindo


melakukan sertifikasi terhadap Permenaker 05 /Men/1996. Namun Untuk OHSAS
18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga sertifikasi manapun yang
diinginkan. Untuk itu organisasis disarankan untuk memilih lembaga sertifikasi
OHSAS 108001 yang paling tepat.

21
BAB III

MANAGEMEN K3 DIPERTAMBANGAN

3.1. Pengolahan K3 dipertambangan

Dengan memperhatikan karakter-karakter lingkungan pertambangan maka pengelolaan


program K3 pertambangan umum tidak mungkin dilakukan secara super ficial, bahkan
untuk dapat mencakup seluruh karakter tersebut serta untuk mendapatkan kinerja K3 yang
tinggi maka pengelolaan K3 harus dilakukan secara bersistem Sistem menejemen K3 di
lingkungan pertambangan umum berkembang seiring dengan perkembangan industri itu
sendiri, utamanya setelah masuknya swasta asing. Dalam peraturan perundangan sub-sektor
pertambangan umum tidak secara eksplisit disebut adanya sistem menejemen K3, namun
dalam prakteknya seluruh perusahaan pertambangan umum telah menerapkan dengan
berbagai variasinya. Khusus untuk beberapa perusahaan swasta asing ada yang langsung
mengadopsi sistem menejemen K3 yang ada dinegara asalnya atau dari negara lain, seperti
nasional occupational safety agency (NOSA) dari afrika selatan, international safety rating
(ISR), international Loss control institute (ILCI) dari Amareika, dan beberapa sistem yang
dikembangakan di Australia. Dengan demikian perusahaanpertambangan umum tidak di
wajibkan untuk hanya menerapkan satu model sistem menejemen K3 yang seragam. Sistem
K3 negara lain yang diterapkan di indonesia, umumnya hanya menekankan pengaturan dan
pengawasan internal di dalam unit organisasi perusahaan dan tidak menjelaskan bagaimana
korelasi sistem manejemen K3 tersebut dengan pengawasan dan pembina an dari sisi
pemerintah (inspekturtambang)

3.2. Sistem Manajemen K3 di Pertambangan


Manajemen K3 pertambangan meliputi:
1. Menimbang dan memperhitungkan bahaya yang potensial dimana akan membahayakan
para pekerja dan peralatan.
2. Melaksanakan dan memelihara / menjaga kendali yang memadai termasuk kontrol
terhadap:
a. Pola penambangan.
b. Pendidikan dan latihan.
c. Pemeliharaan peralatan tambang.

22
3. Struktur menejemen yang ada harus memadai untuk mengidentifikasi resiko dan
penerapan kontrol.

Elemen - elemen yang terkandung dalam menejemen keselamatan pertambangan adalah:

1. Harus ada KTT yang merupakan orang dari jajaran top menejemen yang bertanggung
jawab terhadap terlaksana nya serta ditaatinya peraturan perundangan K3.
2. Harus ada struktur organisasi yang menjalankan program K3.
3. Harus ada orang yang kompeten dan menguasai K3, baik teori maupun praktek, yang
duduk dalam struktur.
4. Ada lembaga perwakilan karyawan yang independen di dalam perusahaan yang mampu
sebagai tempat menejemen berkonsultasi dan memberi masukan.
5. Ada sistem dokumentasi dan administrasi K3.
6. Ada program identifikasi dan pengendalian bahaya dan sistem evakuasi.
7. Ada tersedia peraturan, pedoman dan standar K3 yang relevan.
8. Ada program sertifikasi alat, operator, dan tenaga teknik khusus.
9. Ada program pelatihan K3, baik tingkat pelaksana maupun pengawas.
10. Ada program perawatan dan pemeliharaan peralatan / permesinan serta pengadaan
alat proteksi diri.
11. Ada program pengawasan, pemeriksaan, dan perawatan kesehatan.
12. Ada program pengawasan (internal planed inspection) dan compliance.
13. Ada program audit secara berkala.
14. Ada mekanisme evaluasi perbaikan, dan peningkatan program K3.
15. Ada program pengawasan secara berkala dari pemerintah.
16. Ada program bench marking dari kinerja antar perusahaan pertambangan umu dalam
aspek K3.
17. Ada komunikasi dalam bentuk pelaporan dari perusahaan ke pemerintahan.

Dengan adanya Pengendalian manajemen oleh sistem K3, berarti peningkatan:

1. Kesadaran manajemen terhadap risiko tinggi.


2. Antisipasi terhadap peraturan perundangan.
3. Integrasi dengan teknologi proses sejak fase desain hingga modifikasi.
4. Integrasi dengan prosedur kerja.
5. Antisipasi terhadap perkembagan teknologi.

23
3.3. Pola Pengolahan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pada awalnya, pola pengelola an K3 pada industri subsektor pertambangan umum adalah
merupakan warisan dari era Hindia Belanda. Pola tersebut cukup lama dipakai Indonesia
dalam pola tersebut, posisi Inspektur Tambang sangat sentral dan menentukan. Bahkan,
fungsi Inspektur Tambang saat itu lebih cenderung kepada aktif watch dog daripada
berperan kearah upaya pemandirian dalam bentuk Sistem Mannagemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3). Peraturan - peraturannya pada waktu itu sangat rinci dan kaku
serta kurang mempertimbangkan pemberian ruang terhadap pengelolaan aspek efisiensi dan
produktivitas. Hal ini dapat dimengerti karena kepemilikan dan pemanfaatan seluruh bahan
galian tersebut langsung dikelola pemerintah Hindia Belanda, artinya tidak berorientasi
pasar. Setelah pemerintah Indonesia mengambil alih perusahaan - perusahaan pertambangan
tersebut dan penjualan produknya berorientasi pasar dan karena dituntut harus menghasilkan
devisa maka aspek efisiensi, produktivitas, dan cost effective menjadi mengemuka agar
tetap kompetitif dan menghasilkan keuntungan. Sejak itu sifat peraturan perundangannya
berubah dari rinci dan kaku ke arah umum dan fleksibel. Dalam hal ini lebih banyak
direncanakan dalam bentuk pedoman - pedoman, baik yang bersifat operasional maupun
teknis. SMK3 di subsektor pertambangan umum tercermin secara tidak langsung di dalam
pasal - pasal Kepmen Pertambangan dan Energi Nomor 555.K/ 26/ M.PE / 1995 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum. Dalam kaitannya dengan elemen -
elemen SMK3 sebagaimana dijelaskan sebelumnya (ada 17 elemen) maka dalam Keputusan
Menteri tersebut diatur bahwa:
1. Komitmen dan Kepemimpinan K3
Penanggung jawab pelaksanaan K3 dalam perusahaan adalah seorang dari pimpinan
tertinggi atau Chief Executive Officer (CEO) di lapangan yang bidang tanggung
jawabnya adalah bersifat teknis operasional atau produksi. Orang tersebut harus
memiliki sertifikat KTT. Kemudian, penunjukannya harus mendapat pengesahan dari
Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang/ Kepala Inspektur Tambang (KAPIT/ KIT).
2. Struktur Organisasi K3
Berdasarkan jumlah pekerja, sifat, dan luasnya pekerjaan maka Kepala Inspektur
Tambang dapat mewajibkan perusahaan membentuk unit or ganisasi yang mengelola
K3. Pada kenyataannya hanya perusahaan - perusahaan yang skalanya sangat kecil
yang dibebaskan dari kewajiban membentuk unit organisasi K3. Artinya, semua
perusahaan di lingkungan pertambangan umum memiliki unit organisasi K3 yang
dipimpin oleh orang setingkat Manager atau sekurang - kurangnya Superintenden.
24
3. Pengawas K3
Untuk dapat melakukan pola pengelolaan terhadap K3 maka perlu adanya
implementasi strategi K3, yaitu:
a. Menetapkan aspek K3 diantara SDM pada departemen operasi.
b. K3 harus prediktif dan proaktif pada fase disain dan modifikasi.
c. Mempercepat SMK3 (ISO 14000).
d. Membentuk spesialis K3.
e. Menetapkan indikator kinerja:
Zero accident
Zero on fire
Zero on occupational disease

3.4. Tindakan Mengatasi Penghambatan K3


1. Perbaikan program K3 yang ber kelanjutan berdasarkan prioritas.
2. Memasukkan K3 secara formal dalam proyek perusahaan sejak fase desain dan modifikasi.
3. Mempercepat SMK3 ISO 14000 di industry.
4. Pelatihan tidak hanya fokus pada lingkup pekerjaan, tapi juga aspek-aspek lainnya.
5. Memasukkan aspek K3 sebagai syarat kompetensi dasar bagi SDM bidang.
6. Rotasi pekerjaan antara SDM departemen:
SDM Operasi
SDM Perawatan
SDM K3

25
BAB IV

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

4.1. Pengertian SOP


Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah dokumen yang berkaitan dengan prosedur yang
dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk
memperoleh hasil kerja yang paling efektif dari para pekerja dengan biaya yang serendah-
rendahnya. SOP biasanya terdiri dari manfaat, kapan dibuat atau direvisi, metode penulisan
prosedur, serta dilengkapi oleh bagan flowchart di bagian akhir.

4.2. Dasar Hukum

KEPMEN PERTAMBANGAN & ENERGI No. 555.K/26/M.PE/1995, tentang Keselamatan


dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Pertambangan Umum.

4.3. Tujuan SOP dan Fungsi SOP


A. Tujuan SOP
1. Mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan sebab akibat dari adanya tindakan
dan kondisi yang tidak aman, nyaman, sehat dan menyenangkan dari setiap pekerja
tambang.
2. Mencegah dan menangani terjadinya kecelakaan kerja di lingkungan tambang.
3. Mencapai tingkat zerro accident.
4. Sebagai acuan dalam melakukan investigasi terjadinya insiden.
5. Memberikan sanksi bagi setiap pelanggaran yang berakibat pada kerugian material dan
nonmaterial pada perusahaan, lingkungan sekitar dan pekerja/orang lain.
B. Fungsi SOP
1. Sebagai dasar hokum bila terjadinya penyimpangan.
2. Sebagai peninjauan bila terjadi kecelakaan kerja.
3. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
4. Mengarahkan pekerja untuk disiplin.
5. Sebagai pedoman dalam melakukan kerja rutin.

26
4.4. Manfaat SOP
SOP atau yang sering disebut sebagai prosedur tetap (protap) adalah penetapan tertulis
mengenai apa yang harus dilakukan, kapan, dimana dan oleh siapa dan dibuat untuk
menghindari terjadinya variasi dalam proses pelaksanaan kegiatan oleh pegawai yang akan
mengganggu kinerja organisasi (instansi pemerintah) secara keseluruhan. SOP memiliki
manfaat bagi organisasi antara lain (Permenpan No.PER/21/M-PAN/11/2008):
1. Sebagai standarisasi cara yang dilakukan pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan khusus,
mengurangi kesalahan dan kelalaian.
2. SOP membantu staf menjadi lebih mandiri dan tidak tergantung pada intervensi manajemen,
sehingga akan mengurangi keterlibatan pimpinan dalam pelaksanaan proses sehari-hari.
3. Meningkatkan akuntabilitas dengan mendokumentasikan tanggung jawab khusus dalam
melaksanakan tugas.
4. Menciptakan ukuran standar kinerja yang akan memberikan pegawai. cara konkret untuk
memperbaiki kinerja serta membantu mengevaluasi usaha yang telah dilakukan.
5. Menciptakan bahan-bahan training yang dapat membantu pegawai baru untuk cepat
melakukan tugasnya.
6. Menunjukkan kinerja bahwa organisasi efisien dan dikelola dengan baik.

7. Menyediakan pedoman bagi setiap pegawai di unit pelayanan dalam melaksanakan


pemberian pelayanan sehari-hari.
8. Menghindari tumpang tindih pelaksanaan tugas pemberian pelayanan.
9. Membantu penelusuran terhadap kesalahan-kesalahan prosedural dalam memberikan
pelayanan. Menjamin proses pelayanan tetap berjalan dalam berbagai situasi.

4.5. Prinsip-Prinsip SOP


Dalam PERMENPAN PER/21/M-PAN/11/2008 disebutkan bahwa penyusunan SOP harus
memenuhi prinsip-prinsip antara lain: kemudahan dan kejelasan, efisiensi dan efektivitas,
keselarasan, keterukuran, dimanis, berorientasi pada pengguna, kepatuhan hukum, dan
kepastian hukum.

27
1. Konsisten, SOP harus dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu, oleh siapapun,
dan dalam kondisi apapun oleh seluruh jajaran organisasi pemerintahan.

2. Komitmen, SOP harus dilaksanakan dengan komitmen penuh dari seluruh jajaran
organisasi, dari level yang paling rendah dan tertinggi.
3. Perbaikan berkelanjutan, Pelaksanaan SOP harus terbuka terhadap penyempurnaan-
penyempurnaan untuk memperoleh prosedur yang benar-benar efisien dan efektif.

4. Mengikat, SOP harus mengikat pelaksana dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
prosedur standar yang telah ditetapkan.
5. Seluruh unsur memiliki peran penting, Seluruh pegawai peran-peran tertentu dalam
setiap prosedur yang distandarkan. Jika pegawai tertentu tidak melaksanakan perannya
dengan baik, maka akan mengganggu keseluruhan proses, yang akhirnya juga berdampak
pada proses penyelenggaraan pemerintahan.
6. Terdokumentasi dengan baik, Seluruh prosedur yang telah distandarkan harus
didokumentasikan dengan baik, sehingga dapat selalu dijadikan referensi bagi setiap mereka
yang memerlukan.

28
BAB V

KECELAKAAN KERJA DITAMBANG

Pengertian Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan,
dan tak terduga yang menyebabkan cidera pada manusia, kerusakan peralatan atau barang
atau terganggunya proses produksi/kerja. Sesuai Kepmen Pertambangan dan Energi Nomor
555.K/26/M.PE/1995, kecelakaan tambang harus memenuhi lima unsur:

1. Benar-benar terjadi
2. Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orag yang diberi izin oleh kepala teknik
tambang.
3. Akibat kegiatan usaha pertambangan.
4. Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau setiap saat orang yang
diberi izin.
5. Terjadi di dalam wilayah izin usaha pertambangan atau wilayah proyek.

Dari lima unsur tersebut harus terpenuhi sahingga disebut kecelakaan tambang, salah
satu unsur yang tidak terpenuhi, maka tidak bisa dikatakan kecelakaan tambang.

5.1. Sebab Terjadinya Kecelakaan


Lemahnya control:
1. Program tidak sesuai
2. Standard tidak memadai
3. Kepatuhan terhadap standar

Penyebab dasar:

1. Faktor pribadi, antara lain:


a. Kemampuan fisik dan mental
b. Kurang pengetahuan dan keterampilan
c. Ceroboh
d. Suka bermain dalam bekerja
2. Faktor pekerjaan, antara lain:
a. Pengawasan dan kepemimpinan

29
b. Kurang peralatan dan standar
c. Tempat kerja kurang memadai

Penyebab langsung:

1. Tindakan tidak aman (Unsafe Action), antara lain:


a. Pengoperasian peralatan tanpa pengawasan
b. Menggunakan alat yang rusak
c. Bekerja tidak sesuai SOP
2. Kondisi tidak aman (Unsafe Condition), antara lain:
a. Alat pelindung diri tidak layak pakai
b. Kebersihan kurang memadai
c. Pencahayaan kurang
5.2. Penggolongan Cedera Akibat Kecelakaan Tambang

Cidera akibat kecelakaan tambang harus dicatat dan digolongkan dalam kategori sebagai
berikut:

1. Cidera Ringan
Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu
melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu, termasuk hari minggu
dan hari libur.
2. Cidera Berat
a. Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak
mampu melakukan tugas semula selama lebih dari 3 minggu termasuk hari
minggu dan hari libur.
b. Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang cacat tetap
(invalid) yang tidak mampu menjalankan tugas semula.
c. Cidera akibat kecelakaan tambang tidak tergantung dari lama nya pekerja tambang
tidak mampu melakukan tugas semula, tetapi mengalami cidera seperti salah satu di
bawah ini:
Keretakan tengkorak kepala, tulang punggung, pinggul, lengan bawah, lengan
atas, paha atau kaki
Pendarahan di dalam atau pingsan disebabkan kekurangan oksigen
30
Luka berat atau luka terbuka/terkoyak yang dapat mengakibatkan ketidak
mampuan tetap
Persendian yang lepas dimana sebelumnya tidak pernah terjadi.
3. Meninggal Dunia
Kecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati dalam waktu 24 jam
terhitung dari waktu terjadinya kecelakaan tersebut. Merupakan kecelakaan yang sangat
fatal yang dapat membuat perusahaan di tambang bisa mendapatkan kerugian dari segi
pekerja ataupun produksi, karena kegiatan dapat terhenti sementara.

5.3. Akibat Kecelakaan Ditambang


1. Kerugian dan penderitaan si korban
2. Kerugian dan penderitaan keluarga si korban
3. Kerugian tenaga kerja
4. Kerugian waktu kerja yang hilang
5. Kerugian kerusakan peralatan
6. Kerugian karena kesediaan peralatan berkurang
7. Kerugian ongkos perbaikan peralatan dari ongkos pengobatan korban
8. Kerugian material
9. Kerugian karena kerusakan lingkungan kerja
10.Kerugian terhambatnya produksi
11.Kerugian biaya/ongkos

Dapat disimpulkan bahwa kecelakaan mengakibatkan kerugian produksi dan kerugian


biaya/ meningkatkan biaya, jadi kecelakaan menyebabkan pemborosan. Dan apabila sering
terjadi kecelakaan mengakibatkan proses produksi berjalan dengan tidak aman dan tidak
efisien.

5.4. Sumber Penyebab Kecelakaan


Pada setiap kegiatan kerja di tempat kerja kita masing-masing terdapat 4 (empat) elemen
yang saling berinteraksi, yaitu: manusia, peralatan, material dan lingkungan, dimana
keempat elemen tersebut bisa merupakan sumber penyebab kecelakaan.

31
1. Manusia: termasuk pekerja, pengawas dan pimpinan.
2. Peralatan: termasuk peralatan permesinan, alat-alat berat, juga merupakan penyebab
kecelakaan.
3. Material: bisa mengakibatkan kecelakaan seperti material yang beracun, panas, berat,
tajam, dan sebagainya.
4. Lingkungan: juga bisa menyebabkan kecelakaan seperti kekeringan, panas, berdebu,
becek, licin, gelap, dan sebagainya.

Didalam lingkungan pekerjaan, terutama pertambangan resiko kecelakaan kerja sangatlah


besar presentasinya, meskipun Sistem Manajemen K3 telah diterapkan tetapi maka tanpa
ada kesadaraan dari setiap pekerja itu semua tidak ada artinya. Maka dari itu kesadaran dari
setiap pekerja tambang diharus kan sadar akan gunanya peralatan safety yang telah di
sediakan dan di pakai sebagaimana mestinya, tidak lupa juga para penanggung jawab harus
memberi contoh dan pengarahan akan kesadaran keamanan kerja apalagi dalam lingkungan
pertambangan. Dengan itu dapat tercipta lingkungan yang aman bagi para pekerja.

5.5. Zero Accident


Dalam industri pertambangan usaha menunjukkan kinerja keselamatan dan kesehatan
kerja ada lah pencatatan jam kerja tanpa kecelakaan dilakukan dengan cara mengalikan
jumlah karyawan dengan jam kerja karyawan. Misalnya jumlah karyawan (pekerja
tambang) 200 orang, jam kerja 8 jam/hari. Jadi dalam sehari jumlah jam kerja adalah
200 orang x 8 jam/hari = 1600 jam kerja orang/hari. Di Indonesia apabila perusahaan
dapat mencapai jam kerja dalam jumlah waktu tertentu tanpa kecelakaan maka
perusahaan tersebut akan mendapat penghargaan dari pemerintah. Pencatatan jam kerja
tanpa kecelakaan akan jatuh kembali ke nol lagi apabila terjadi kecelakaan yang
mengakibatkan pekerja tidak dapat masuk kerja lagi setelah kejadian kecelakaan. Zero
Accident akan jatuh ke nol apabila terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja
tidak dapat masuk kerja setelah 2 x 24 jam. Jadi Zero Accident sangat penting bagi suatu
perusahaan di pertambangan selain dapat penghargaan, keuntungan hasil kerja juga dapat
meningkat karena produksi terkendali dan sesuai target yang ingin dicapai. Oleh karena
itu, Sistem Manajemen sangat berperan penting untuk menciptakan lingkungan kerja
yang aman bagi para pekerja.

32
5.6. Unsafe Action dan Unsafe Condition
1. Unsafe Action
Unsafe action adalah dimana suatu tindakan yang tidak aman atau melanggar SOP dan
dapat menagkibatkan kecelakaan kerja. Kondisi yang Unsafe Action sebagai berikut:
a. Tidak menggunakan APD saat bekerja
b. Berkendara melebihi batas kecepatan
c. Bekerja saat lelah
d. Bekerja tanpa pengawasan atau pengarahan
e. bekerja tanpa SOP yang benar
f. Sikap dan tingkah laku tidak aman
g. Kekurangan keterampilan dan pengetahuan
h. Membuang sampah sembarangan
i. Bekerja sambal bercanda
j. Mengerjakan pekerjaan tidak sesuai skill
Contoh Unsafe Action:

Gambar 5.1. Unsafe Action

2. Unsafe Condition
Unsafe condition adalan kondisi semua kondisi bahaya disekitar tempat kerja yang
dapat menimbulkan bahaya (hazard). Kondisi-kondisi yang tidak aman bagi para
pekerja:
a. Tempat kerja yang tidak memenuhi standar

33
b.Alat pelindung diri yang tidak sesuai SOP atau tidak layak pakai
c. Kebisingan di tempat kerja
d.Waktu kerja yang berlebihan

Contoh Unsafe Condition:

Gambar 5.2. Unsafe Condition

5.7. Kecelakaan yang Sering Terjadi Ditambang


Kecelakaan diarea tambang sangat sering terjadi, meskipun kebijakan K3 telah diterapkan
tapi masih saja terdapat kecelakaan kerja, ini beberapa contoh kecelakaan kerja diarea
tambang:
1. Kecelakaan Kerja yang Terjadi Pada Alat Berat

34
Gambar 5.3

Gambar 5.4

Gambar 5.5
35
Kecelakaan kerja seperti gambar diatas biasanya disebabkan oleh unsafe condition karena
terlalu memaksakan diri untuk bekerja padahal kondisi tidak aman. Jadi, menjaga
kesehatan itu sangat penting agar dalam bekerja tidak menimbulkan sebuah kecelakaan
kerja yang berakibat fatal yang dapat merugikan banyak pihak.

2. Kecelakaan Kerja yang Terjadi Pada Pekerja/Karyawan

a. Cidera Berat

Gambar 5.6
b. Cidera Ringan

Gambar 5.7

36
c. Meninggal Dunia

Gambar 5.8

Untuk mengurangi kecelakaan kerja di area tambang butuh kesadaran dari diri kita sendiri
karena keselamatan itu sangat penting dan bekerja dengan aman sangat dianjuran,
meskipun telah ada kebijakan K3 tetapi kecelakaan tetap sering terjadi. Kenapa? Karena
tanpa kesadaran dari diri dari para pekerja. Oleh sebab itu semua berawal dari para
pekerja sehingga kebijakan K3 dapat berjalan dengan baik pertambangan.

37
BAB VI

ALAT PELINDUNG DIRI

Alat pelindung diri adalah kelengkapan wajib yang digunakan saat berkerja sesuai bahaya dan
resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang sekitarnya. Alat
pelindung diri berguna untuk mengurangi/meminimalisir dampat akibat kecelakaan kerja. Oleh
karena itu dalam peraturan pertambangan terdapat istilah safety first dimana safety itu
nomor satu. Kewajiban itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departement Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Hal ini tertulis di Peraturan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi No. Per.08/Men/VII/2010 tentang pelindung diri. Adapun bentuk dari alat
tersebut adalah:

1. Safety Helmet
Safety helmet berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala
secara langsung.

Gambar 6.1 Safety Helmet

2. Safety Shoes
Safety Shoes berfungsi untuk melindungi kaki dari benda yang jatuh ke kaki atau dari
benturan.

38
Gambar 6.2 Safety Shoes

3. Safety Glass
Safety glass berfungsi untuk melindungi mata.

Gambar 6.3 Safety Glass

4. Sarung Tangan
Sarung tangan Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau
situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk sarung tangan di
sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan.

39
Gambar 6.4 Sarung Tangan

5. Penutup Telinga/Ear Plug


Ear Plug berfungsi sebagai penutup telingan ketika bekerja ditempat bising.

Gambar 6.5 Ear Plug

6. Masker/Respirator
Masker Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan
kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

40
Gambar 6.6 Masker

41
BAB VII
PENUTUP
7.1. Kesimpulan
Peran Sistem Manajemen itu sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang
aman tetapi peran para pekerja juga sangat penting karena untuk menciptakan itu semua
berawal dari kesadaran para pekerja akan pentingnya keselamatan kerja bagi semua pekerja.
Didalam lingkungan pekerjaan, terutama pertambangan resiko kecelakaan kerja sangatlah
besar presentasinya, maka dari itu setiap pekerja tambang diharus kan sadar akan gunanya
peralatan safety yang telah di sediakan dan di pakai sebagaimana mestinya, tidak lupa juga
para penanggung jawab harus memberi contoh dan pengarahan akan kesadaran keamanan
kerja apalagi dalam lingkungan pertambangan.
K3 sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha, kesehatan
dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap
timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja.
Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi
hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan
apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja.

7.2. Saran
SMK3 diperusahaan pertambangan harus sessuai Undang Undang K3 yang telah ditetapkan
pemerintah agar terciptanya lingkungan kerja yang aman dan mencegah kecelakaan kerja di
pertambangan semakin banyak. Menerapkan Kesehatan dan keselamatan kerja sangat
penting juga dilakukan oleh setiap pekerja dalam bekerja karena kecelakaan kerja akan
menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) bagi suatu perusahaan olehnya itu kesehatan
dan keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan
tetapi seluruh pekerja.

42
DAFTAR PUSTAKA

PP.No.50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK3

PERMENNAKERS Nomor 26 Tahun 2014

Sumber: (http://www.google.com/imghp?hl=en&tab=wi)

https://id.m.wikipedia.org

healthsafetyprotection.com/langkah-langkah-penerapan-smk3ohsas18001/

https://sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-dan-elemen-
sistem-manajemen.html?m=1

https://andrians07.wordpress.com/2011/11/05/kecelakaan-di-pertambangan/

https://www.scrib.com/mobile/doc/116007324/penerapan-SMK3-Di-Pertambangan

http://www.kajianpustaka.com/2016/10/pengertian-tujuan-fungsi-dan-manfaat-sop

43