Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS RADIOLOGI

TUBERKULOSIS PARU

Oleh:

Idamaryani

H1A 011 033

Pembimbing:
dr. Triana Dyah C, M.Sc, Sp.Rad

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RSUD PROVINSI NTB
2017

BAB I

1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan dunia dan penyebab
kematian kedua karena penyakit infeksi setelah infeksi Human immunodeficiency
virus (HIV).1 Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang penting di dunia. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa
terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah
kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Diperkirakan angka kematian akibat TB
adalah 8000 setiap hari dan 2 - 3 juta setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004
menyebutkan bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara
yaitu 625.000 orang atau angka mortalitas sebesar 39 orang per 100.000
penduduk. Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus
TB setelah India dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan
sekitar 140.000 kematian akibat TB.2
Tuberkulosis dapat mengenai berbagai organ, terutama paru-paru.
Tuberkulosis paru sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis. Organisme ini bersifat intraseluler dan
banyak menyerang organ paru.3
Dalam pemberantasan TB paru, pencarian kasus penting untuk
keberhasilan pelaksanaan program pengobatan. Hal ini ditunjang oleh sarana
diagnostik yang tepat. Diagnosis TB dilakukan dengan cara melakukan
pemeriksaan klinis (dari anamnesis terhadap keluhan pasien dan dari hasil
pemeriksaan fisik penderita), hasil pemeriksaan foto toraks, hasil pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Pemeriksaan radiologi toraks
sendiri merupakan pemeriksaan yang sangat penting dalam mendiagnosis TB.1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Jalan masuk untuk organisme
Mycobacterium tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan
luka terbuka pada kulit. Sebagian besar infeksi TB menyebar lewat udara, melalui
terhirupnya droplet nuclei yang berisikan organisme basil tuberkel dari seseorang
yang terinfeksi (Price, Wilson, 2004).3,4

2.2 Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/m dan tebal 0,3-0,6/m. Yang
tergolong dalam kuman Mycobacterium tuberculosae complex adalah:3
a. M. tuberculosae,
b. Varian Aisan,
c. Varian African I,
d. Varian African II,
e. M. Bovis.

2.3 Epidemiologi
Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB
setelah India dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar
140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor
satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga
setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan
usia.2 Tuberkulosis paru primer paling sering mengenai bayi dan anak-anak
dengan prevalensi tertinggi pada anak-anak usia kurang dari 5 tahun.5

2.4 Patogenesis
Tuberkulosis Primer
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau
dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel
infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pasti ada

3
tidaknya sinarnya ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam
suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran
napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel <5
mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru
oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag
keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya.3
Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma
makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang
bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil
dan disebut sarang pimer atau afek primer atau sarang (focus) Ghon. Sarang
primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai ke
pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat juga masuk melalui saluran
gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi limfadenopati regional
kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti
paru, otak, ginjal, tulang.3
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju
hilus (limfangitis local), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus
(limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis local dan limfadenitis regional
ini disebut kompleks primer (Ranke). Semua proses ini memakan waktu 3-8
minggu. Perjalanan penyakit kompleks primer ini selanjutnya dapat berkembang
menjadi beberapa kemungkinan, yaitu sembuh sama sekali tanpa meninggalkan
cacat, sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotic,
kalsifikasi hilus, keadaan ini terdapat pada lesi pneumonia yang luasnya > 5 mm
dan 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.
Selain itu, dapat juga berkomplikasi dan menyebar secara perkontinuitatum,
secara bronkogen, secara limfogen ke organ-organ tubuh lainnya, dan secara
hematogen ke organ tubuh lainnya.3

Tuberkulosis Sekunder (Tuberkulosis Post Primer)

4
Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-
tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa
(tuberkulosis post primer, TB sekunder). Mayoritas reinfeksi mencapai 90%.
Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi,
alcohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal ginjal. Tuberkulosis pasca
primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru (bagian
apical-posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah
parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru. 3

Sarang dini ini mula-mula berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10
minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri atas sel-
sel Histiosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan banyak inti) yang
dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat. TB pasca primer juga
dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua (elderly
tuberkulosis). 3

5
Gambar 2.4. Perjalanan TB paru1

2.5 Diagnosis

Gejala klinis Tuberkulosis Paru


Gejala utama pasien TB paru adalah batuk bersputum selama 2-3 minggu
atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu sputum bercampur
darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang
lebih dari satu bulan. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi,
maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap
sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan
sputum secara mikroskopis langsung.1
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam dan
ada juga banyak pasien yang ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak adalah demam, batuk/batuk
darah, sesak nafas, nyeri dada, malaise.3

Pemeriksaan mikroskopis
Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen sputum dalam waktu 2 hari, yaitu
sewaktu - pagi -sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan
dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan
BTA melalui pemeriksaan sputum mikroskopis merupakan diagnosis utama.
Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan
sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.1
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006), pemeriksaan
sputum berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan
dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan sputum untuk penegakan
diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen sputum yang
dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-
Sewaktu (SPS). Apabila kasus pemeriksaan sputum SPS positif, foto toraks tidak
diperlukan lagi. 1

6
Algoritma penegakan diagnosis TB paru sebagai berikut :

Gambar 2.5. Skema diagnosis TB paru1

2.6 Modalitas Radiologi

7
Pemeriksaan radiologi pada penyakit TB berperan dalam diagnosis,
evaluasi pengobatan, dan mendeteksi komplikasi penyakit. 1 Pemeriksaan
radiologis sangat penting untuk diagnosis TB paru, dikarenakan:6

Bila klinis ada gejala TB paru, hampir selalu ditemukan kelainan pada
foto rontgen.

Bila ada persangkaan terhadap peyakit TB paru, tetapi pada foto rontgen
tidak terlihat kelainan, maka ini merupakan tanda yang kuat bahwa
penyakit yang diderita bukanlah TB.

Pada pemeriksaan rontgen rutin (misalnya check-up) mungkin telah
ditemukan tanda-tanda pertama TB, walaupun klinis belum ada gejala.
Sebaliknya, bila tidak ada kelainan pada foto Rontgen brlum berarti
tidak ada TB, sebab kelainan pertama pada foto Rontgen baru kelihatan
sekurang-kurangnya 10 minggu setelah infeksi oleh basil TB.

Sesudah sputum positif pada pemeriksaan bakteriologik, tanda TB yang
terpenting adalah jika ada kelainan pada foto Rontgen.

Ditemukananya kelainan pada foto Rontgen, belum berarti bahwa
penyakit tersebut aktif.

Dari bentuk kelainan pada foto Rontgen memang dapat diperoleh kesan
tentang aktivitas penyakit, namun kepastian diagnosis hanya dapat
diperoleh melalui kombinasi dengan pemeriksaan klinis/laboratoris.

Pemeriksaan Rontgen penting untuk dokumentasi, penentuan lokasi
proses dan tanda perbaikan atau perburukan dengan melakukan
perbandingan dengan foto-foto terdahulu.

Pemeriksaan Rontgen juga penting untuk penilaian hasil tindakan terapi.

Pemeriksaan Rontgen TB paru saja tidak cukup dan dewasa ini bahkan
tidak boleh dilakukan hanya dengan fluoroskopi. Pembuatan foto
Rontgen merupakan suatu kehasrusan yaitu foto PA, bila perlu disertai
proyeksi-proyeksi tambahan seperti foto lateral, foto puncak AP lordotik,
dan teknik-teknik khusus lainnya seperti foto high voltage dan
sebagainya.6

Beberapa modalitas radiologi pada penyakit tuberkulosis paru adalah sebagai


berikut:1

8
a. Foto thorax
Foto thorax dengan proyeksi postero-anterior (PA) merupakan modalitas
utama yang digunakan untuk pemeriksaan pada pasien yang dicurigai
terkena TB. Foto thorax berguna untuk mengidentifikasi kelainan yang
menyebabkan berbagai gejala seperti batuk, sesak nafas, nyeri dada, dan
lain sebagainya.1
b. CT scan (Computed tomography)
Pemeriksaan CT scan untuk penyakit TB dapat dilakukan apabila pada
gambaran foto thorax tidak jelas. CT juga dapat digunakan untuk
mengetahui diagnosis banding lesi parenkim, evaluasi limfa nodus
mediastinum, menilai aktivitas penyakit, dan mengetahui komplikasi
penyakit.
c. USG (Ultrasonography)
Pemeriksaan USG berguna untuk mendeteksi efusi pleura, petunjuk
drainase.1
d. MRI (Magnetic resonance Imaging)
Pemeriksaan MRI digunakan untuk mengevaluasi limfa nodus
mediastinum dan menilai aktivitas penyakit.1

2.7 Gambaran Radiologi


Pemeriksaan radiologis merupakan salah satu cara yang praktis yang dapat
membantu menemukan lesi TB. Sesuai dengan patofisiologinya, TB paru dibagi
menjadi: 5,6,7

o Tuberkulosis Primer

Tuberkulosis primer terjadi karena infeksi melalui jalan pernapasan


(inhalasi) oleh M. tuberculosis, biasanya pada anak-anak. Kelainan Rontgen
akibat penyakit ini dapat berlokasi dimana saja dalam paru-paru.

Fokus infeksi awal dapat berlokasi di lobus paru dengan gambaran yang
tidak spesifik yaitu dapat berupa infiltrat alveolar yang minimal hingga gambaran
konsolidasi yang mengenai suatu lobus. Gambaran kavitas pada TB paru primer
jarang ditemukan (10 30 % kasus). Pada sebagian besar kasus, infeksi menjadi
terlokalisasi dan tuberkuloma mengalami kalsifikasi yang diketahui sebagai ghon

9
lesion. Dapat ditemukan limfadenopati pada daerah hilar ipsilateral dan
paratrakea, terutama pada anak-anak (90% kasus). Limfadenopati lebih sering
terjadi di sebelah kanan. Efusi pleura terutama pada pasien dewasa (30-40 %
kasus). Ranke complex yaitu gambaran kombinasi nodus yang mengalami
kalsifikasi dan ghon lesion. 1,5,7,8

o TB sekunder (re-infeksi, dewasa)

TB yang bersifat kronis ini terjadi pada orang dewasa. Sarang-sarang yang
terlihat pada foto Roentgen biasanya berkedudukan dilapangan atas dan segmen
apikal lobus bawah, walaupun kadang-kadang dapat juga terjadi di lapangan
bawah, yang biasanya disertai dengan pleuritis. Pembesaran kelenjar limfe pada
tuberkulosis sekunder jarang ditemukan.

Lesi terutama berada di area apikal dan segmen posterior lobus superior
dan di segmen superior lobus inferior, Caseous necrosis dan tubercle (akumulasi
sel mononuklear, makrofag, langerhans giant cells, limfosit dan fibroblas),
terdapat gambaran fibrosis.8

Klasifikasi TB sekunder:6


TB minimal (minimal tuberculosis) yaitu luas sarang-sarang tidak
melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median, apeks, dan iga 2
depan. Sarang-sarang soliter dapat berada dimana saja, tidak harus
berada dalam daerah tersebut di atas. Tidak ditemukan adanya lubang
(kavitas).

10

TB lanjut sedang (moderately advanced tuberculosis) yaitu luas
sarang-sarang yang bersifat bercak-bercak tidak melebihi luas satu
paru, sewdangkan bila ada lubang diameternya tidak melebihi 4 cm.
Kalau sifat bayangan sarang-sarang tersebut berupa awan-awan yang
menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya luasnya
tidak boleh melebihi luas satu lobus.

TB sangat lanjut (far advanced tuberculosis) yaitu luas daerah yang


dihinggapi oleh sarang-sarang lebih dari klasifikasi kedua di atas, atau
bila ada lubang-lubang maka diameter keseluruhan lubang lebih dari 4
cm.6

11
Tuberculosis, Cavitary. There are large cavities in both apices (white arrows) and airspace disease
at the left base (yellow arrow) on the chest radiograph. On the coronal CT, the thin-walled upper
lobe cavities without air-fluid levels are again seen (blue arrows) as is the consolidation at the left
base (green arrow). Nodular densities are scattered throughout both lungs.8

Gambar. Ranke complex5

12
Tuberculosis, post-primary. There are large cavities in both apices and smaller cavities
scattered throughout the lungs. The lungs are over-aerated and there is already scarring
present. Dilated bronchi (tuberculous bronchiectasis) is present throughout the lungs.8

Gambar. Kavitas tuberkulosis9

13
o Tuberkulosis Milier

Tuberkulosis milier merupakan merupakan penyakit limfohematogen


sistemik akibat penyebaran kuman Mycobacterium tuberculosis dari kompleks
primer. TB milier memiliki prognosis yang buruk. TB milier dapat terjadi pada
TB primer maupin TB sekunder. TB milier secara klasik digambarkan sebagai
millet-like yaitu bintik bulat atau tuberkel halus (millii) 1-3mm yang
tersebar merata di seluruh lapangan paru.8

14
Gambar. Tuberkulosis milier

2.8 Diagnosis Banding


Gambaran radiologi penyakit penyakit yang mirip dengan tuberkulosis
adalah sebagai berikut: 6

1. Penyakit jamur

15
Penyakit jamur yang memiliki gambaran radiologis menyerupai
tuberkulosis adalah aspergilosis (aspergillus) dan nocardiasis
(nocardia asteroides) yang sering ditemukan pada petani yang banyak
bekerja di ladang.
Kelainan-kelainan radiologik yang ditemukan pada penyakit jamur
di atas mirip sekali dengan yang disebabkan oleh tuberkulosis, yaitu
hampir semua berkedudukan di lapangan atas dan disertai oleh
pembentukan lubang (kavitasi). Perbedaanya ialah, bahwa pada
penyakit jamur ini pada pemeriksaan sepintas lalu terlihat bayangan
bulat agak besar yang dinamakan aspergiloma, yang pada pemeriksaan
lebih teliti, biasanya dengan tomogram, ternyata adalah suatu lubang
besar bayangan bulat yang sering dapat bergerak bebas dalam lubang
tersebut. Bayangan bulat ini dinamakan bola jamur (fungus ball)
adalah tidak lain daripada massa mycelia yang mengisi suatu bronkus
yang melebar.
Untuk memastikan diagnosis sering diperlukan pemeriksaan
laboratoium sekret bronkus, bahkan kadang-kadang baru mungkin
ditemukan setelah suatu tindakan pembedahan

2. Infiltrat pneumonia
Infiltrat penumonia lobaris lobus atas dalam massa resolusi sering
disalahtafsirkan sebagai tuberkulosis karena berbentuk bercak-bercak

16
dan berkedudukan dilapangan atas paru. Kepastian mudah diperoleh
karena bercak-bercak tersebut cepat menghilang sama sekali dengan
pengobatan yang baik.
3. Superposisi jalin kepang rambut
Jalin (kepang) rambut wanita yang tidak diikat di atas kepala,
melainkan lepas tergantung di bahu dapat menutup bagian atas paru
sehingga pada foto toraks dapat dinilai sebagai suatu infiltrat.
Pembuatan foto ulang dengan rambut yang diikat ke atas kepala tentu
dapat menyampingkan salah tafsir ini.
4. Kelainan menyerupai lubang (kavitas)
Kelainan yang menyerupai lubang yang dapat disalahtafsirkan sebagai
kavitas tuberkulosis seperti kelainan bawaan anomali iga, bronkus
ortograd, superposisi bagian lateral muskulus sternokleidomastoideus
dengan badian medial iga pertama, dan fossa rhomboidea yaitu ujung
anterior iga pertama.

Superposisi lingkaran pembuluh-pembuluh darah pada foto PA


biasanya dapat menyerupai lubang. Namun mudah dibedakan dengan
pemeriksaan fluoroskopi atau pembuatan foto sedikit oblik. Kavitas
tuberkulosis dalam posisi apapun tetap berupa bayangan bulat, tetapi
superposisi lingkaran-lingkaran pembuluh darah tentu tidak

2.9 Penatalaksanaan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya resistensi kuman terhadap.1

Prinsip Pengobatan Tuberkulosis


Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pengobatan
tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan

17
gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap
(OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO).
3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap
intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak
menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif
menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 . Pada tahap lanjutan pasien mendapat
jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap
lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.1

Panduan Pengobatan OAT yang digunakan di Indonesia


Obat TB utama yang digunakan (first line, lini pertama) saat ini adalah
rifampisin (R), isoniazid (H), pirazinamid (Z), etambutol (E), dan streptomisin
(S).Rifampisin dan isoniazid merupakan obat pilihan utama dan ditambah dengan
pirazinamid, etambutol, dan streptomisin.1
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006), OAT yang lazim
digunakan dalam pengobatan tuberkulosis menurut jenis, sifat dan dosis
tercantum dalam tabel berikut :

Tabel1 Jenis, Sifat dan Dosis OAT

Jenis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan


(mg/kg)
Harian 3x seminggu
Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10 (8-12)
Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10 (8-12)
Pirazinamid (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40)

18
Streptomisin (S) Bakterisid 15 (12-18) 15 (12-18)
Etambutol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) 30 (20-35)

Pengobatan tuberkulosis paru dibagi menurut kategori diagnosis


tuberkulosis pasien. Pengobatan pasien menurut masing-masing kategori dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Regimen Pengobatan Berdasarkan Kategori Diagnosis TB
Kategori Pasien TB Regimen Pengobatan TB
Fase Inisial Fase
Lanjutan
I a. Pasien baru TB paru BTA positif. 2HRZE 4(HR)3
b. Pasien TB paru BTA negatif dan foto toraks
atau
positif
6HE
c. Pasien TB ekstra paru berat
II a. Pasien kambuh 2HRZES 5HRE
b. Pasien gagal
atau
c. Pasien dengan pengobatan setelah putus
1HRZE
berobat (default)
III Pasien TB ekstra paru tidak terlalu berat 2HRZE 4(HR)3
atau
6HE
IV a. Pasien TB kronis (hasil BTA tetap posistif Penentuan regimen berdasarkan
setelah pengobatan ulang) pengobatan standar regimen untuk
b. kasus MDR-TB
MDR TB atau regiman
berdasarkan Drug Sensitivity Test
(DST) individu

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, dalam Program


Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia, pengobatan tuberkulosis
terdiri dari pengobatan kategori 1, kategori 2, kategori anak dan sisipan.
Pengobatan OAT kategori 1 dan 2 disediakan dalam bentuk paket berbentuk
kombinasi dosis tetap (KDT), sedangkan kategori anak disediakan dalam bentuk
kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam
satu tablet. Kombinasi 2KDT terdiri dari rifampisin dan isoniazid, sedangkan
kombinasi 4KDT terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol.
Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien.

19
Pada kategori 1, pasien diberikan pengobatan dalam bentuk KDT yang
disesuaikan dengan berat badan pasien. Pada tahap intensif pasien diberikan KDT
berupa RHZE (150/75/400/275) setiap hari selama 56 hari. Kemudian pada tahap
lanjutan, pasien diberikan KDT berupa RH (150/150) setiap 3 kali seminggu
selama 16 minggu.1

Pada kategori 2, pasien diberikan pengobatan berupa KDT dan injeksi


strepstomisin yang dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Pada tahap
intensif, pasien meminum regimen obat KDT berupa RHZE (150/75/400/275) + S
selama 56 hari. Pada tahap lanjutan, pasien meminum regimen obat KDT berupa
RH(150/150) + E (400) selama 20 minggu.1

Paket sisipan KDT merupakan paket KDT yang diberikan apabila hasil
BTA positif setelah evaluasi pengobatan akhir fase intensif kategori 1. Paket
sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1
yang diberikan selama sebulan (28 hari).1

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas
Nama : Ny. N K K
Usia : 63 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Narmada Lombok Barat
Agama : Hindu
Pekerjaan : IRT
Tanggal periksa : 13 November 2017
No RM : 533375

3.2 Anamnesis dan Pemeriksaan fisik


Pasien datang ke IGD RSUP NTB dengan keluhan sesak napas
sejak 3 hari yang lalu disertai batuk berdahak yang kadang terdapat bercak
darah. Sebelumnya pasien telah merasakan keluhan batuk sejak 1 bulan

20
lalu yang hilang timbul dan memberat sejak 1 minggu lalu. Pasien juga
mengeluhkan lemas, nafsu makan berkurang. Pasien merasakan berat
badan semakin menurun. Keluhan demam dan berkeringat dimalam hari
disangkal.
Pasien sebelumnya memiliki riwayat pengobatan TB minum obat
OAT selama 6 bulan, minum hingga tuntas dan dikatakan sembuh 3
tahun yang lalu.

3.3 Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang, kesadaran compos
mentis dan tanda-tandan vital yaitu frekuensi nadi 92 x/menit, frekuensi nafas 24
x/menit, tekanan darah 120/80 mmHg dan suhu aksila 36,7C. Pada pemeriksaan
fisik paru suara vesikuler pada seluruh lapang paru, ronkhi (-) dan wheezing (-).

3.4 Pemeriksaan Penunjang

21
Gambar 3.1 Foto thorax AP

22
Deskripsi Foto

Foto polos thorax posisi Supine proyeksi AP :


a. Identitas dan tanggal sesuai
b. Foto Thorax, proyeksi AP, posisi supine
c. Inspirasi cukup
d. Gambaran radiologis:
Jaringan Lunak : tak tampak kelainan seperti emfisema dll
Tulang : Pada kondisi tulang tampak intak, tidak terlihat adanya fraktur.
Pleura : tidak terdapat penebalan pleura dextra & sinistra
Pulmo : Tampak corakan bronkovaskuler meningkat dan bercak berawan
di paru-paru dekstra dan di sinistra disertai gambaran kavitas pada
bagian superior paru terutama sinistra dan tampak gambaran fibrosis luas
pada bagian medial pulmo sinistra
Sudut Costophrenicus : dekstra lancip dan sinistra tampak tumpul.
Diafragma : dome shaped dextra, sinistra sulit di evaluasi
Hilus : Perihiler haze (-)
Mediastinum : tak tampak pelebaran mediastinum
Trakea : deviasi pada trakea ke kiri.
Cor : Besar jantung sulit di evaluasi.

Kesimpulan:
- Tb paru bilateral lama aktif terutama sinistra, DD pneumonia
bilateral
- Efusi pleura sinistra
- Cor sulit di evaluasi

BAB IV

PEMBAHASAN

Tuberkulosis merupakan penyakit menular dan endemis yang sampai saat


ini masih menjadi permasalahan kesehatan di dunia. Disebabkan oleh
infeksibakteri Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru,
meskipun bisa pula menyebar dan menyerang organ lain seperti ginjal, traktus
gastrointestinal, tulang, otak bahkan genital.

23
Berdasarkan foto polos thorax pasien, ditemukan adanya gambaran
infiltrat di seluruh lapang paru sinistra dan di lobus superior serta media pada
paru-paru dekstra. Adanya gambaran infiltrat menandakan adanya suatu proses
inflamasi aktif pada paru-paru. Gambaran infiltrat pada foto thoraks dapat
menunjukkan adanya infeksi kuman tuberkulosis yang aktif, namun hal tersebut
juga menandakan pneumonia. Pasien menunjukkan gejala khas penyakit
tuberkulosis paru yaitu batuk berdahak disertai darah lebih dari 2 minggu, sesak
nafas, riwayat demam, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Oleh
karena itu, berdasarkan gejala klinis serta gambaran foto thorax pasien didiagnosis
utama dengan tuberkulosis paru. Pasien didiagnosis banding dengan penyakit
pneumonia karena penyakit pneumonia menunjukkan gejala mirip dengan TB.
Oleh karena itu, untuk mengetahui diagnosis pasti sebaiknya dilakukan
pemeriksaan sputum basil tahan asam.
Karakteristik foto tuberkulosis paru yang lain adalah adanya Gambaran
radiologis yang dicurigai lesi TB aktif apabila terdapat bayangan berawan/nodular
di segmen apikal dan posterior lobus atas dan segmen superior lobus bawah paru,
kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi bayangan opak berawan atau nodular,
bayangan bercak miliar, efusi pleura. Gambaran kavitas terjadi karena material
kaseosa mencair, dinding bronchial dan pembuluh darah menjadi rusak dan
terbentuklah kavitas. Gambaran radiologis yang dicurigai TB inaktif ialah
fibrotik, terutama pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas dan atau
segmen superior lobus bawah, kalsifikasi, penebalan pleura. Pada kasus ini tidak
ditemukan adanya gambaran fibrosis, kalsifikasi, maupun penebalan pleura.

24
BAB V

PENUTUP

Pasien datang ke IGD RSUP NTB dengan keluhan sesak napas sejak 3
hari yang lalu disertai batuk sejak 1 hari lalu. Sebelumnya pasien telah merasakan
keluhan batuk sejak 1 bulan lalu yang hilang timbul dan memberat sejak 1 minggu
lalu. Pasien juga mengeluhkan lemas, nafsu makan berkurang. Pasien merasakan
berat badan semakin menurun. Keluhan demam disangkal. Berdasarkan foto polos
pasien, tampak gambaran bercak-bercak / infiltrat serta gambaran berawan di

25
kedua lapang paru. Berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan radiologi dapat
disimpulkan bahwa pasien mengalami infeksi paru-paru dengan diagnosis utama
tuberkulosis paru dan diagnosis banding pneumonia..

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Bhalla AS, Goyal A, et al. Chest tuberculosis: Radiological review and


imaging recommendation. Indian journal of radiology and imaging, 2015;
Vol 25, issue 3.
2. Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Available at:
http://spiritia.or.id/dokumen/pedoman-tbnasional2014.pdf

3. Sudoyo, AW et al. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
4. Hasan, H., 2010. Tuberkulosis paru. In: M.J. Wibisono, Winariani, S.
Hariadi, eds. 2010. Buku ajar ilmu penyakit paru. Departemen Ilmu
Penyakit Paru FK Unair RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
5. Jones j, Gaillard f, et al. Tuberculosis (pulmonary manifestation).
Available at : https://radiopaedia.org/articles/tuberculosis-pulmonary-
manifestations-1 . acessed 4 july 2017.

6. Rasad, Sjahrir. (2005). Radiologi Diagnostik, edisi 2. Jakarta : Penerbit


FKUI.

7. Muzio BD et al. Primary pulmonary tuberculosis. Available at:


https://radiopaedia.org/articles/primary-pulmonary-tuberculosis . Acessed
4 july 2017
8. Learning Radiology. Tuberculosis. Available at:
http://www.learningradiology.com/notes/chestnotes/tbpage.htm . Acessed
4 July 2017
9. Piccazzo R et al. Diagnostic Accuracy of chest radiography for the
Diagnosis of tuberculosis (TB) and Its Role in the detection of Latent
TBInfection: a systematic Review. The Journal of Rheumatology
Supplement, 2014; 41 Suppl 91.

27