Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Selama ini sektor publik tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi, kolusi, nepotisme,
inefisiensi dan sumber pemborosan negara. Keluhan birokrat tidak mampu berbisnis
ditujukan untuk mengkritik buruknya kinerja perusahaan-perusahaan sektor publik.
Pemerintah sebagai salah satu organisasi sektor publik pun tidak luput dari tudingan ini.
Organisasi sektor publik pemerintah merupakan lembaga yang menjalankan roda
pemerintahan yang sumber legitimasinya berasal dari masyarakat. Oleh karena itu,
kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada penyelenggara pemerintahan haruslah
diimbangi dengan adanya pemerintahan yang bersih.

Pemerintahan yang bersih atau good govermance ditandai dengan tiga pilar utama yang
merupakan elemen dasar yang saling berkaitan. Ketiga elemen dasar tersebut adalah
partisipasi, transparansi dan akuntabilitas. Suatu pemerintahan yang baik harus membuka
pintu yang seluas-luasnya agar semua pihak yang terkait dalam pemerintahan tersebut dapat
berperan serta atau berpartisipasi secara aktif, Jalannya pemerintahan harus diselenggarakan
secara transparan dan pelaksanaan pemerintahan tersebut harus dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam bahasa akuntansi, akuntabilitas (kemampuan memberikan
pertanggungjawaban) merupakan dasar dari pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan
pemerintah tersebut memegang peran yang penting agar dapat memenuhi tugas pemerintahan
yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dalam suatu masyarakat yang
demokratis.

Laporan keuangan yang dihasilkan oleh organisasi sektor publik pemerintah merupakan
instrumen utama untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik. Akuntabilitas mengacu pada
kewajiban perseorangan, suatu kelompok atau suatu organisasi yang diasumsikan harus
melaksanakan kewenangan dan/atau pemenuhan tanggung jawab. Kewajiban tersebut
meliputi :

Answering, usaha untuk memberikan penjelasan atau justifikasi untuk pelaksanaan


dan/atau pemenuhan tanggung jawab.
Reporting, pelaporan hasil atas pelaksanaan dan/atau pemenuhan.
Producing, asumsi kewajiban atas hasil yang dicapai.
Adanya tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabilitas publik menimbulkan
implikasi bagi manajemen sektor publik untuk memberikan informasi kepada publik, salah
satunya melalui informasi akuntansi yang berupa laporan keuangan. Dilihat dari sisi internal
organisasi, laporan keuangan sektor publik merupakan alat pengendalian dan evaluasi kinerja
manajerial dan organisasi. Sedangkan dari sisi eksternal, laporan keuangan merupakan alat
pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Menurut GASB, tujuan laporan keuangan sektor publik adalah:

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan fungsinya (demonstrating accountability).


Melaporkan hasil operasi (reporting operating result).
Melaporkan kondisi keuangan (reporting financial condition).
Melaporkan sumber daya jangka panjang (reporting long live resources).

Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for money
dalam menjalankan aktivitasnya serta untuk menjamin dilakukannya pertanggungjawaban
publik oleh organisasi sektor publik, maka diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik
tersebut. Audit yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan,
namun perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi sektor publik
tersebut.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Audit Sektor Publik

2.1.1 Definisi audit sektor publik

Auditing merupakan suatu invetigasi independen terhadap aktivitas khusus. Mekanisme audit
merupakan suatu mekanisme yang menggerakkan akuntanbilitas dalam pengelolaan sektor
pemerintah, BUMN atau instan pengelola aset negara, serta organisasi sektor publik lainnya
sperti yayasan, LSM, dan partai politik.

Suatu proses sistematik yang secara objektif terkait evaluasi bukti-bukti berkenaan dengan
asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi guna memastikan derajat atau tingkat hubungan
anatara asersi tersebut dengan kriteria yang ada, serta mengomunikasikan hasil yang
diperoleh kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Pengertian audit sektor publik menurut Indra Bastian adalah jasa penyelidikan bagi
masyarakat atas organisasi publik dan politikus yang sudah mereka danai. Sedangkan
pengertian audit sektor publik menurut I Gusti Agung Rai adalah sebagai berikut: Audit
sektor publik adalah kegiatan yang ditujukan terhadap entitas yang menyediakan
pelayanan dan penyediaan barang yang pembiayaannya berasal dari penerimaan pajak
dan penerimaan negara lainnya dengan tujuan untuk membandingkan antara kondisi
yang ditemukan dengan kriteria yang ditetapkan.

Dari pengertian di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa audit sektor
publik adalah pemeriksaan terhadap pemerintah yang dilakukan untuk mengetahui
pertanggungjawaban (akuntabilitas) atas pengelolaan dana masyarakat (public money) yang
bertujuan untuk membandingkan hasil pencapaian program, fungsi atau kegiatan sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Audit sektor publik di Indonesia dikenal sebagai audit keuangan negara. Audit keuangan
negara ini diatur dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung jawab Keuangan Negara. Undang-undang ini merupakan pengganti ketentuan
warisan Belanda, yaitu Indische Comptabiliteitswet (ICW) dan Instructie en verdere
bepalingen voor de Algemene Rekenkamer (IAR), yang mengatur prosedur audit atas
akuntabilitas pengelolaan keuangan oleh pemerintah.

Dari definsi tersebut, beberapa bagian perlu mendapatkan perhatian yaitu :

1) Proses sistematik Audit merupakan aktivitas terstruktur yang mengikuti suatu urutan
yang logis.

2) Objektivitas Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi yang disediakan serta
kualitas orang yang melakukan audit.

3) Penyediaan dan evaluasi bukti Hal ini berkaitan dengan pengujian yang mendasari
dukungan terhadap asersi ataupun representasi.

4) Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi Hal ini merupakan deskripsi yang luas
tentang subyek permasalahn yang diaudit.

5) Derajat hubungan kriteria yang ada Hal ini berarti suatu audit memberikan kecocokan
antara asersi dan kriteria yang ada.

6) Mengkomunikasikan hasil Agar bermanfaat hasil audit perlu dikomunikasikan kepada


pihak-pihak yang berkepentingan.

2.1.2 Regulasi dalam audit sektor publik

Untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan organisasi sektor publik, keuangan


organisasi harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang undang, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan
serta kepatutan.

Keuangan negara wajib dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan rasa keadilan serta kepatuhan.

2.1.3 Audit sektor publik dan Sektor Bisnis


Audit sektor publik dan audit sektor bisnis berbeda atau sektor swasta. Audit sektor
publik dilakukan pada organisasi pemerintahan yang bersifat niralaba seperti Pemda,
BUMN, BUMD, instan lain yang berkaitan dengan pengelolaan aset kekayaan negara, dan
organisasi sektor publik lainnya seperti yayasan, LSM, serta partai politik.

Sedangkan audit sektor bisnis dilakukan pada perusahaan milik swasta yang berorientasi laba.
Audit sektor publik dan sektor bisnis sama-sama terdiri dari audit keuangan, audit kinerja,
dan audit untuk tujuan tertentu.

Perbedaan Sektor publik Sektor swasta


Tujuan organisasi Nonprofit motive Profit motive
Sumber pendanaan Pajak, retribusi, Pembiayaan internal: modal
utang,obligasi pemerintah, sendiri, laba ditahan,
laba BUMN/BUMD, penjualan aktiva
penjualan aset negara, dsb
Pembiayaan eksternal: utang
bank, obligasi, penerbitan
saham
Pertanggungjawaban Pertanggungjawaban kepada Pertanggungjawaban kepada
masyarakat (publik) dan pemegang saham dan kreditor
parlemen (DPR/DPRD)
Struktur organisasi Birokratis, kaku, dan Fleksibel: datar, piramid,
hierarkis lintas fungsional, dsb
Karakteristik anggaran Terbuka untuk publik Tertutup untuk publik
Sistem akuntansi Cash accounting Accrual accounting
Laporan keuangan Neraca, aliran kas dan Neraca, aliran kas, laporan
laporan realisasi anggaran, rugi laba dan laporan
catatan atas laporan keuangan perubahan modal
Standar akuntansi Pernyataan standar akuntansi Pernyataan standar akuntansi
pemerintah keuangan
Auditor Auditor sektor publik Kantor akuntan publik
Standar audit Standar pemeriksaan Standar pemeriksaan akuntan
akuntansi sektor publik publik
2.1.4 Jenis-jenis audit sektor publik

Jenis-jenis audit sektor publik yang dilaksanakan atas kegiatan yang tercermin dalam
APBN, APBD, kegiatan BUMD/BUMN, serta kegiatan yayasan, LSM, atau partai politik.
Penetapan tujuan untuk menentukan jenis audit yang akan dilaksanakan, serta standar audit
yang harus diikuti oleh auditor merupakan awal.

Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN, terdapat tiga jenis audit keuangan negara,
yaitu:

1) Audit keuangan, merupakan audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk
memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan
telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia. Audit keuangan adalah audit yang menjamin bahwa sistem
akuntansi dan pengendalian keuangan berjalan secara efisien dan tepat serta transaksi
keuangan diotorisasi serta dicatat secara benar.

2) Audit kinerja, meliputi audit ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, pada dasarnya
merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan prosedurnya. Audit kinerja
memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang
menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. audit kinerja merupakan perluasan
dari audit keuangan dalam hal tujuan dan prosedurnya. Audit kinerja memfokuskan
pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan
kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Audit kinerja merupakan suatu proses yang sistematis
untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian
secara independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang
diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku,
menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai dengan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna
laporan tersebut.

Perbandingan antara audit kinerja dengan audit keuangan adalah sebagai berikut:
Perbandingan Audit Keuangan dengan Audit Kinerja

Audit Keuangan Audit Kinerja


Objek audit: laporan keuangan Objek audit: organisasi, program,
aktivitas/ kegiatan, atau fungsi
Menguji kewajaran laporan keuangan Menguji tingkat ekonomi, efisiensi,
dari salah saji yang material dan dan efektivitas dalam penggunaan
kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi sumber daya untuk mencapai tujuan
yang diterima umum
Lebih bersifat kuantitatif keuangan Lebih bersifat kualitatif
Tidak terlalu analitis Sangat analitis
Tidak menggunakan indikator kinerja, Membutuhkan indikator, standar, dan
standar, dan target kinerja target kinerja untuk mengukur kinerja
Biasanya tidak mempertimbangkan Biasanya mempertimbangkan analisis
analisis biaya manfaat biaya-manfaat (cost-benefit analysis)
Waktu pelaksanaan audit tertentu Audit bisa dilakukan sewaktu-waktu
(biasanya pada akhir periode akuntansi)
Audit dilakukan untuk peristiwa Mempertimbangkan kinerja masa
keuangan masa lalu (post event) lalu, sekarang, dan yang akan datang
Tidak dimaksudkan untuk membantu Dimaksudkan untuk memperbaiki
melakukan alokasi sumber daya secara alokasi sumber daya secara optimal
optimal dan memperbaiki kinerja
Tidak terdapat rekomendasi audit dan Terdapat rekomendasi audit dan
follow-up audit follow-up audit

3) Audit dengan tujuan tertentu, merupakan audit khusus di luar audit keuangan dan audit
kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas hal yang diaudit. Audit dengan
tujuan tertentu dapat bersifat eksaminasi (examination), reviu (review), atau prosedur yang
disepakati (agrees-upon procedures). Audit dengan tujuan tertentu mencakup audit atas hal-
hal lain di bidang keuangan, audit investigatif, dan audit atas sistem pengendalian internal.
2.1.5 Audit keuangan sektor publik

Secara spesifikasi pendefinisian audit atas laporan keuangan dapat ditemukan sbb:

Tujuan penguji atas laporan keuangan oleh auditor adalah

Ekspresi suatu opini secara jujur tentang posisi keuagan.


Hasil operasi.
Arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi.

Laporan auditor merupakan media mengepresikan opini auditor atau dalam kindisi tertentu
dalam mrnyangkal opini.

Perbandingan antara definis audit laporan keuangan tersebut dengan definis audit
secara umum dapat mengungkapkan aspek esensial audit keuagan sbb:

1) Proses sistematik secara objektif.

2) Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi.

3) Derajat atau tingkat hubungan.

4) Hasil audit atas laporan keuangan dikomunikasikan dalam suatu pelaporan audit.

Audit atas hal yang berkaitan dengan keuangan meliputi sbb:

1) Segmen laporan keuangan

2) Pengendalian internal

3) Pengendalian atau pengawasan internal

4) Ketaatan terhadap peraturan UU yang berlaku.

2.2 Sistem Audit Keuangan Sektor Publik

1) Pemeriksaan Siklus Pendapatan


Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk mengungkapkan ada tidaknya salah saji yang
material dalam proses Pendapatan Daerah/Organisasi, Dana Perimbangan, dan Pendapatan
Lain-lain yang sah.

Jenis koreksi pembukuan yang harus dilakukan atas pendapatan adalah sebagai berikut:

1. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo awal tahun anggaran/sisa perhitungan


anggaran tahun lalu.
2. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian pendapatan daerah.
3. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo akhir tahun anggaran sisa
perhitungan anggaran tahun perhitungan.
4. Kesalahan penyajian dalam daftar lampiran perhitungan anggaran tahun anggaran
perhitungan.
5. Kesalahan yang wajib dikoreksi oleh auditor, yang terdiri atas:

Kesalahan pembukuan (kekeliruan pencatatan).


Kesalahan pembebanan.
Kesalahan penjumlahan dan pengurangan angka (aritmatika).

2) Pemeriksaan Siklus Belanja

Tujuan audit siklus belanja adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing
asersi yang signifikan, yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus belanja.

1. Berbagai proses dan keputusan untuk memperoleh barang dan jasa yang diperlukan
dalam pelaksanaan kegiatan organisasi sektor publik. Dua kelompok transaksi utama
dalam siklus ini adalah transaksi pembelian dan pengeluaran kas. Kedua transaksi
tersebut mempengaruhi berbagai akun berikut:

Kas,
Persediaan barang habis pakai,
Aktiva tetap,
Aktiva lain-lain,
Utang.
1. Risiko bawaan pos belanja organisasi sektor publik pada banyak organisasi sangatlah
tinggi. Ada berbagai faktor yang menyebabkan tingginya risiko bawaan siklus belanja
ini, yaitu:

Volume transaksi yang selalu tinggi,


Pembelanjaan dan pengeluaran tanpa otoritasi yang dapat terjadi,
Pembelian aset yang tidak perlu,
Masalah akuntansi yang berkembang.

1. Tingginya volume transaksi akan memperbesar kemungkinan terjadinya salah saji.


Semakin tinggi volume transaksi, semakin tinggi kemungkinan kesalahan pencatatan
transaksi tersebut. Disamping itu, juga ada kemungkinan bahwa organisasi sektor
publik melakukan pembelian aset yang tidak perlu.
2. Tingginya risiko bawaan siklus belanja menyebabkan banyak organisasi sektor publik
memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian internal siklus belanja untuk
mencegah dan mendeteksi salah saji. Seperti siklus pendapatan, pengujian
pengendalian umumnya tidak mengurangi risiko pengendalian asersi hak dan
kewajiban. Jadi, auditor dapat menggunakan kombinasi strategi risiko pengendalian
yang ditetapkan lebih rendah dan pengujian subtantif.
3. Pengujian pengendalian tergantung pada pertimbangan biaya manfaat. Auditor harus
membandingkan biaya melakukan pengujian pengendalian internal degnan
penghematan yang diperoleh akibat berkurangnya pengujian substantif.

3) Pemeriksaan Aktiva Tetap

Aktiva tetap merupakan aset/harta yang dimiliki oleh organisasi sektor publik yang
digunakan dalam kegiatan operasi organisasi. Tujuan audit aktiva tetap adalah untuk
memperoleh bukti tentang setiap asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo
aktiva tetap. Audit atas aktiva tetap sangat penting karena biasanya aktiva tetap merupakan
aset/kekayaan terbesar yang dimiliki oleh suatu organisasi sektor publik.

4) Pemeriksaan Jasa Personalia

Siklus jasa personalia sangat penting karena masalah gaji, pajak penghasilan pegawai, dan
biaya ketenagakerjaan lainnya merupakan komponen biaya utama di hampir semua entitas.
5) Pemeriksaan Siklus Investasi (Pembiayaan)

Investasi ini pada umumnya merupakan bagian dari strategi jangka panjang suatu organisasi
sektor publik. Jangka waktu investasi sementara tidak lebih dari satu periode akuntansi.
Risiko salah saji pada transaksi investasi organisasi sektor publik umumnya rendah karena
jarangnya transaksi yang terjadi.

6) Pemeriksaan Siklus Saldo Kas

Saldo kas berasal dari pengaruh kumulatif siklus belanja, siklus investasi, dan siklus jasa
personalia. Tujian audit saldo kas adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing
asersi yang signifikan, ynag berkaitan dengan transaksi dan saldo kas. Tujuan audi ditentukan
berdasarkan kelima kategori asersi laporan keuangan:

Asersi keberadaan dan keterjadian


Asersi kelengkapan
Asersi hak dan kewajiban
Asersi penilaian dan pengalokasian
Asersi pelaporan dan pengungkapan

2.3 Siklus Audit Keuangan Sektor Publik

Terdapat 17 siklus dalam audit keuangan sektor publik:

2.3.1 Perencanaan audit keuangan

Standar pertama dari GAAS (General Accepted Auditing Standard) di Indonesia SPAP untuk
audit lapangan adalah perencanaan yang memadai. Berikut adalah tiga alasan utama mengapa
seorang auditor harus mempersiapkan rencana kontrak kerja yang tepat sehingga (1) auditor
dapat memperoleh cukup bukti kompeten untuk kondisi yang ada, (2) membantu menjaga
agar biaya audit yang dikeluarkan tetap wajar, (3) serta menghindari kesalah pahaman dengan
klien.
Perencanaan audit awal melibatkan empat hal, yang semuanya harus dilakukan terlebih
dahulu dalam audit. Keempatnya adalah sebagai berikut: (1) Auditor harus memutuskan
apakah akan menerima seorang klien baru atau melanjutkan pelayanan untuk klien yang telah
ada sekarang, (2) Auditor harus mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau
membutuhkan audit, informasi ini akan mempengaruhi bagian lain dari proses perencanaan,
(3) Auditor memperoleh pemahaman klien tentang cara-cara penugasan untuk menghindari
kesalahpahaman. (4) Dipilihnya staf untuk penugasan, termasuk bila dibutuhkannya spesialis
audit.

Merancang pendekatan audit

1) Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal,

2) Memahami bisnis dan industri klien,

3) Menilai resiko bisnis klien,

4) Menetapkan meterialitas, dan menilai resiko akseptabilitas audit serta resiko inhern,

5) Memahami pengendalian intern, dan menilai resiko pengendalian,

6) Menyusun seluruh rencana serta program audit.

Tahap selanjutnya dalam suatu laporan keuangan adalah melaksanakan pengujian audit.
Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tahap terakhir dari
suatu audit adalah laporan temuan. Pada tahap ini harus dilaksanakan standar umum dan
standar pelaporan dari standar auditing.

Tahap perencanaan audit menurut Indra bastian (2010):

1) Pemahaman atas sistem akuntansi keuangan sektor publik.

Hal ini sangat penting karena saat ini audit sektor publik tidak lagi berfokus pada laporan
realisasi anggaran saja tetapi juga laporan keuangan lainnya.

2) Penentuan tujuan dan lingkup audit


Dalam menentukan tujuan dan ruang lingkup, auditor harus memastikan bahwa tujuan dan
ruang lingkup audit yang ditetapkan telah sesuai dengan mandat serta wewenang lembaga
audit dan pengawas yang bersangkutan.

3) Penilaian resiko

Kegiatan audit dilaksanakan melalui berbagai pengujian yang mengandung resiko kesalahan,
sehingga penilaian risiko pengendalian (control risk), risiko bawaan (inherent risk), dan
risiko deteksi (detection risk) harus dilakukan.

4) Penyusunan rencana audit

Suatu rencana audit harus disusun berdasarkan tahapan kegiatan perencanaan audit.

2.3.2 Penetapan regulasi audit keuangan

Bagian ini penting dalam proses audit karena dibutuhkan aturan untuk memberikan
arahan yang jelas, dan sebagai kontrol agar pelaksanaan audit laporan keuangan bisa
memberikan opini yang tepat.

2.3.3 Penyusunan perencanaan audit tahuann oleh lembaga auditor

Setelah ditetapkan aturan dan regulasi langkah selanjutnya adalah menyusun


perencanaan. Perencanaan audit yang matang akan sangat menentukan kesuksesan audit.

2.3.4 Temu rencanaan audit tahunan

Setelah lembaga auditor selesai menyusun perencanaan audit tahunan, kemudian


mereka bertemu dengan kepala atau pimpinan organisasi sektor publik untuk membicarakan
perencanaan audit yang sudah disusun.

2.3.5 Penerbitan regulasi tentang tim dan kebijakan audit tahunan

Regulasi yang ditetapkan dalam tahap ini menyangkut tim atau personel yang akan
melakukan audit terhadap organisasi sektor publik maupun regulasi dalam menjalankan
proses audit.

2.3.6 Penerimaan regulasi organisasi yang akan diaudit


Kemudian regulasi yang telah diterbitkan tersebut akan diterima oleh lembaga
pemeriksa sehingga bisa melakukan proses audit di lembaga atau organisasi sektor publik.

2.3.7 Survei awal karakter industri/organisasi yang akan diaudit

Tahapan selanjutnya dalam siklus audit audit sektor publik ini adalah survei awal
terhadap karakter industri/organisai yang akan diaudit.

2.3.8 Pembuatan program audit

Untuk setiap area yang diaudit, auditor harus menyusun langkah-langkah audit yang
akan dilakukannya. Langkah-langkah ini tertuang dalam program audit.

Suatu program audit akan berisi:

Tujuan audit untuk setiap area


Prosedur audit yang akan dilakukan
Sumber bukti audit
Deskripsi mengenai kesalahan (error).

2.3.9 Penerbitan surat tugas audit

Pihak organisasi sektor publik segera mengeluarkan surat tugas kepada lembaga
pemeriksa untuk melaksanakan audit.

2.3.10 Pelaksanaan audit keuangan

Dalam melaksanakan audit keuangan, auditor melakukan hal-hal berikut:

1) Menilai Pengendalian Internal

Suatu proses yang dijalankan oleh eksekutif didesain untuk memberikan keyakinan yang
memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut:

1. Keandalan atau reliabilitas laporan kkeuangan.


2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
3. Efektivitas dan efisiensi operasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang dirancang oleh organisasi sektor publik untuk
menjaga aset yang dimiliki agar terbebas dari kecurangan dan penyalahgunaan. Hal inilah
yang disebut sebagai pengendalian internal.

Jenis-jenis pengendalian internal:

1. Organisasi

Penyerahan wewenang dan tanggung jawab, termasuk jalur pelaporan untuk semua aspek
operasi dan pengendaliannya, harus disebutkan secara rinci dan jelas.

1. Pemisahan tugas

Salah satu fungsi utama pengendalian adalah pemisahan tugas dan tanggung jawab.
Apabila kedua hal tersebut digabungkan, maka seseorang dapat saja mencatat dan memproses
sebuah transaksi secara lengkap.

1. Fisik

Pengendalian ini berhubungan dengan supervisi aset. Prosedur dan keamanan yang
memadai harus dirancang untuk memberi keyakinan bahwa akses langsung maupun tidak
langsung melalui dokumentasi aset terbatas pada personel yang berwenang.

1. Persetujuan dan Otorisasi

Seluruh transaksi harus diotorisasi atau disetujui oleh orang yang tepat. Batas wewenang
juga harus dijelaskan.

1. Akuntansi

Pengecekan atas keakuratan catatan, penghitungan jumlah total, rekonsiliasi, pemakaian


nomor rekening, , jurnal, dan akuntansi untuk dokumen.

1. Personalia

Keberadaan prosedur akan menjamin penempatan personel yang sesuai dengan


kemampuan dan tanggung jawabnya.
1. Supervisi

Setiap sistem pengendalian internal harus mencakup supervisi oleh atasan yang
bertanggung jawab terhadap transaksi dan pencatatannya sehari-hari.

1. Manajemen

Ini adalah pengendalian yang dilakukan oleh manajemen diluar tugas rutinnya, yang
meliputi pengendalian secara keseluruhan oleh fungsi pengendalian internal dan prosedur
review khusus lainnya.

2) Melakukan Prosedur Analtis

Prosedur analisis adalah pengevaluasian informasi keuangan yang dilakukan dengan


mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data nonkeuangan.

Prosedur analitis akan membantu auditor dengan mendukung dan meningkatkan


pemahamannya tentang operasi organisasi yang diaudit. Prosedur analitis juga membantu
auditor dalam mengidentifikasi hubungan yang tidak sewajarnya dan fluktuasi data yang
tidak diharapkan.

Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur analitis, yaitu:

1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang akan dibuat


2. Mengembangkan ekspektasi
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan
4. Menganalisi data
5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan yang tidak diharapkan yang signifikan
6. Menentukan pengaruh perbedaan atau penyimpangan terhadap perencanaan audit.

2.3.11 Pembuatan daftar temuan

Setelah melakukan kegiatan pelaksanaan audit, auditor biasanya mendapatkan temuan-


temuan terkait dengan keuangan klien. Temuan-temuan tersebut kemudian didaftar sebagai
bukti dalam penyampaian pendapat nantinya.

2.3.12 Pembicaraan awal tentang daftar temuan


Berdasarkan temuan-temuan di lapangan , kemudian auditor melakukan pembicaraan dengan
pimpinan organisasi sektor publik terkait temuan-temuan tersebut. Dalam tahapan ini, auditor
akan melakukan cross-check atas hasil temuannya dengan fakta yang terjadi di lapangan.

2.3.13 Penyusunan draft laporan hasil pemeriksaan

Setelah hasil temuan hasil auditor di bicarakan atau melakukan cross-check dengan pejabat
organisasi sektor publik, auditor kemudian menyusun draft laporan hasil pemeriksaan.

2.3.14 Pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dengan organisasi yang diaudit

Dalam tahapan ini, auditor memastikan apa yang telah di susun di dalam draft laporan hasil
pemeriksaan sudah selesai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

2.3.15 Penyelesaian laporan hasil pemeriksaan

Setelah melakukan pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dan di pastikan kellengkapan
serta kesepakatan mengenai draft tersebut sudah tercapai, kemudian akan di lakukan
penyelesaian atau finalisasi draft tersebut menjadi laporan hasil pemeriksaan akhir.

2.3.16 Tindak lanjut temuan laporan hasil pemeriksaan

Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, auditor melakukan tindak lanjut atau
dengan kata lain, memberikan rekomendasi perbaikan kepada organisasi sektor publik.

2.3.17 Penerbitan laporan hasil pemeriksaan

Tahapan terakhir dari siklus audit keuangan adalah penerbitan laporan hasil pemeriksaan
kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi yang telah di audit
tersebut.

2.4 Tekhnik Audit Keuangan Sektor Publik

1) Prosedur analitis (Analitycal Procedures)


Prosedur analitis terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan diantra data.
Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analisis vertikal,
atau laporan persentase, perbandingan jumlah yang sederhana dengan data historis atau
anggaran, serta penggunaan model matematis dan statistik, seperti analisis regresi.

Contoh prosedur analitis adalah membandingkan item belanja menurut anggaran dan
item realisasi belanja. Hasil perbandingan itu akan menunjukan ada tidaknya penyimpangan
jumlah realisasi belanja dari jumlah yang dianggarkan sebelumnya.

2) Inspeksi (Inspecting)

Inspeksi meliputi pemeriksaan yang rinci terhadap dokumen dan catatan serta
pemeriksaan sumber daya berwujud. Prosedur ini digunakan secara luas dalam auditing.
Inspeksi seringkali digunakan dalam mengumpulkan dan mengevalusai bukti, baik bottom-up
mapun top-down. Dengan melakukan inspeksi atas dokumen, auditor dapat menentukan
ketepatan persyaratan dalam faktur atau kontrak yang memerlukan pengujian bottom up atas
akuntansi transaksi tersebut. Pada saat yang sama, auditor seringkali mempertimbagkan
implikasi bukti dalam konteks pemahaman faktor-faktor ekonomi dan persaingan entitas.

Contoh kegiatan inspeksi adalah pemeriksaan terhdap bukti-bukti transaksi seperti


rekening bank, kwitansi atau tanda terima lainnya untuk mengevaluasi apakah transaksi yang
dilakukan telah sesuai atau menyimpang dari rencana dan anggaran yang telah ditetapkan.

3) Konfirmasi (Confirming)

Kegiatan konfirmasi adalah bentuk kegiatan keterangan yang memungkinkan auditor


memperoleh informasi secara langsug dari sumber independen di luar organisasi sektor
publik yang di audit. Dalam kasus yang lazim, klien (organisasi yang di audit) mengajukan
permintaan kepada pihak luar secara tertulis, namun auditor yang mengirimkan permintaan
keterangan tersebut.

Contoh kegiatan konfirmasi adalah meminta keterangan kepada bendahara


pengeluaran terkait bukti-bukti transaksi pembelian atau pengalokasian anggaran yang telah
dilakukannya. Kegiatan ini akan mengajukan apakah bukti transaksi tersebut fiktif atau benar
adanya. Selain keteranagn-keterangan lainya terkait bukti tersebut.
4) Permintaan keterangan (Inquiring)

Kegiatan ini meliputi permintaan keterangan secara lisan maupun tertulis oleh auditor.
Permintaan keterangan tersebut biasanya ditunjukan kepada manajemen atau karyawan
organisasi sektor publik, yang umumnya berupa pernyataan-pernyataan yang timbul setelah
dilaksanakannya prosedur analitis. Auditor juga dapat secara langsung meminta keterangan
kepada pihak external.

Contoh kegiatan permintaan keterangan adalah auditor meminta keteragan bendahara


pengeluaran atas ketidaksesuaian jumlah pengeluaran (berdasarkan bukti transaksi yang ada)
dengan jumlah anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

5) Perhitungan (Counting)

Dua aplikasi yang paling umum adalah perhitungan (counting) adalah (1) perhitungan fisik
sumber daya berwujud, seperti jumlah kas dan persediaan yang ada dan (2) akuntansi seluruh
dokumen, dengan nomor urut yang telah dicetak (prenumbered). Hal pertama menyediakan
cara untuk mengevaluasi bukti fisik tentang jumlah yang ada. sementara yang ke dua dapat
dipandang sebagai penyediaan cara untuk mengevaluasi pengendalian internal organisasi
melalui bukti yang objektif tentang kelengkapan catatan akuntansi.

Contoh kegiatan perhitungan adalah auditor menghitung asset yang telah dibeli bagian
pengadaan berdasarkan bukti transaksi yang ada.

6) Penelusuran (Tracing)

Dalam penelusuran seringkali disebut penelusuran ulang, auditor (1) memilih dokumen yang
dibuat pada saat transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa informasi yang diberikan
oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi (jurnal dan buku
besar). Arah pengujian prosedur ini berawal dari dokumen menuju ke catatan akuntansi,
sehingga menelusuri kembali asal-usul aliran data melalui sistem akuntansi.

Contoh kegiatan penelusuran adalah auditor membandingkan antara angka yang tertera dalam
kwitansi transaksi yang telah dilakukan dan jumlah angka yang tertera dalam jurnal. Hal ini
menunjukan apakah ada kesesuaian penyajian, yaitu penyajian yang lebih rendah atau yang
lebih tinggi.
7) Pemeriksaan bukti pendukung (Vouching)

Pemeriksaan bukti pendukung meliputi (1) pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi,
dan (2) mendapatkan serta memeriksa dokumen yang digunakan sebagai dasar ayat jurnal
tersebut untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi. Dalam melakukan
vouching, arah pengujian berlawanan dengan yang digunakan dalam penelusuran. Prosedur
pemeriksaan bukti pendukung digunakan secara luas untuk mendeteksi salah saji berupa
penyajian yang lebih tinggi dari yang sebenarnya dalam pencatatan akuntansi.

Contoh kegiatan pemeriksaan bukti pendukung adalah auditor memilih ayat jurnal
Pembelian ATK dijurnal, kemudian membandingkanya dengan kwitansi pembelian ATK
tersebut atau tanda pembelianya.

8) Pengamatan (observing)

Pengamatan berkaitan dengan memerhatikan dan menyaksikan pelaksanaan beberapa


kegiatan atau proses. Kegiatannya berupa pemrosesan rutin atau jenis transaksi tertentu,
seperti penerimaan kas, untuk melihat apakah para pekerja sedang melaksanakan tugas yang
telah diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur organisasi sektor publik. Pengamatan
sangat terutama untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian internal.

Contoh kegiatan pengamatan adalah auditor mengamati kegiatan bendahara gaji


dalam menjurnal ketika mengeluarkan gaji kepada para pegawai.

9) Pelaksanaan ulang (Reforming)

Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang perhitungan dan
rekonsiliasi ynag dilakukan oleh organissasi sektor publik yang di audit. Contohnya adalah
menghitung ulang total jurnal, beban penyusutan, dan lain-lain. Auditor juga dapat
melakukan ulang beberapa aspek pemrosesan transaksi tertentu untuk menentukan bahwa
pemrosesan awal sudah sesuai dengan pengendaliaan internal yang sudah dirumuskan.

Contoh kegiatan pelaksaaan ulang adalah auditor menghitung ulang penyusutan


kendaraan milik organisasi berdasarkan umur ekonomis yang sebenarnya, kemudian
dibandingkan dengan pencatatan beban peyusutan kendaraan yang telah dilakukan.
10) Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit techniques)

Apabila catatan akuntansi organisasi sektor publik dilaksanakan melalui media


elektronik, maka auditor dapat menggunakan teknik ini untuk membantu melaksanakan
beberapa prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.

Contoh kegiatan audit berbantukan komputer adalah auditor dengan bantuan


komputer memeriksa angka-angka dalam file jurnal bendahara dan membandingkanya
dengan kwitansi pendapatan, dan bukti bukti transaksi lainya.

11) Pengujian pengendalian

Terdapat dua jenis pengujian pengendalian, yaitu:

1. Pengujian pengendalian yang berkaitan langsung dengan keefektifan desain kebijakan


atau posedur dan apakah benarbenar digunakan dalam kegiatan organisasi
2. Pengujian pengendalian yang berkaitan dengan keefektifan kebijakan dan prosedur
serta bagaiman pengaplikasiannya, konsistensinya dengan aplikasi terdahulu dan oleh
siapa aplikasi itu dilaksanakan selama satu periode.

Contoh kegiatan pengujian pengendalian adalah auditor membandingkan dokumen


SOP atau petunjuk teknis pegawai, dan mengamati pelaksaannya dilapangan. Pengendalian
akan dianggap baik jika SOP atau petunjuk teknis mampu memberikan pedoman bagi
pelaksanaan tugas-tugas pegawai, pegawai mudah memahaminya dan mengaplikasikannya
pada setiap pekerjaanya secara konsisten.

12) Pengujian substansif

Dua kateegori umum pengujian substansif adalah:

1. Prosedur analitis, yang merupakan prosedur dalam penyediaan buktibukti tentang


validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca, atau sebaliknya tentang
kesalahan atau ketidak beresan yang terjadi;
2. Pengujian terinci atas transaksi atau neraca merupakan pengujian untuk menyediakan
bukti-bukti tentang validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca atau
sebaliknya atas kesalah dan ketidak beresan yang terjadi.
Contoh kegiatan pengujian substantive adalah auditor memeriksa secara rinci angka
dan jumlah transaksi yang telah terjadi,dimulaidari memeriksa seluruh bukti tranaksi,catatan
dalam jurnal, posting dalam buku besar, hingga laporan yang telah jadi dengan demikian
dapat ditemukan apakah ada kesalah atau ketidak beresan.

2.4.4 Standar Audit Kinerja Sektor Publik


Dalam melaksanakan suatu audit, diperlukan standar yang akan digunakan untuk menilai
mutu pekerjaan audit yang dilakukan. Standar tersebut memuat persyaratan minimum yang
harus dipenuhi oleh seorang auditor dalam melaksanakan tugasnya. Di Indonesia standar
audit pada sektor publik adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang
dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Standar-standar yang menjadi pedoman
dalam audit kinerja menurut SPKN adalah sebagai berikut:

1. Standar Umum
a. Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk
melaksanakan tugas pemeriksaannya.
b. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan
pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern,
organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.
c. Dalam melaksanakan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan, pemeriksa
wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan saksama.
d. Setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar
Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai dan sistem
pengendalian mutu tersebut harus di review oleh pihak lain yang kompeten (pengendalian
mutu eksternal).

2.Standar Pelaksanaan Audit Kinerja

a. Pekerjaan harus direncanakan secara memadai.


b. Staf harus disupervisi dengan baik.
c. Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus diperoleh untuk menjadi dasar yang
memadai bagi temuan dan rekomendasi pemeriksa.
d. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumen pemeriksaan dalam bentuk kertas
kerja pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan
pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan
tersebut, dapat memastikan bahwa dokumen pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang
mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksa.

3.Standar Pelaporan Audit Kinerja

a. Pemeriksa harus membuat laporan hasil pemeriksaan untuk mengkomunikasikan setiap hasil
pemeriksaan.
b. Laporan hasil pemeriksaan harus mencakup: 1) penyataan bahwa pemeriksaan dilakukan
sesuai dengan standar pemeriksaan; 2) tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan; 3) hasil
pemeriksaan berupa temuan audit, simpulan, dan rekomendasi; 4) tanggapan pejabat yang
bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan; 5) pelaporan informasi rahasia apabila ada.
c. Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu, lengkap, akurat, objektif, meyakinkan, serta
jelas dan seringkas mungkin.
d. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang diaudit,
pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diaudit, pihak yang
bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain
yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.4.5 Tahap-tahap Audit Kinerja

Adapun tahap-tahap audit kinerja menurut I Gusti Agung Rai adalah:

1. Tahap Perencanaan atau Survei Pendahuluan


2. Tahap pelaksanaan atau Pengujian Terinci.
3. Tahap Tindak Lanjut
Lebih lanjut tahap-tahap audit kinerja tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan atau Survei Pendahuluan

Tujuan utama survei pendahuluan adalah untuk memperoleh informasi yang bersifat umum
mengenai semua bidang dan aspek dari entitas yang diaudit serta kegiatan dan kebijakan
entitas, dalam waktu yang relatif singkat. Hasil survei pendahuluan berguna untuk
memberikan pertimbangan mengenai perlu atau tidaknya audit dilanjutkan ke tahap pengujian
terinci. Kegiatan survei pendahuluan meliputi:

a. Memahami entitas yang diaudit


Pemahaman yang objektif dan komprehensif atas entitas yang akan diaudit
sangat penting untuk mempertajam tujuan audit serta mengidentifikasikan isu-isu kritis dan
penting sehingga audit dapat dilaksanakan secara lebih ekonomis, efisien, dan efektif.
b. Mengidentifikasi area kunci
Area kunci (key area) adalah area, bidang, atau kegiatan yang merupakan fokus
audit dalam entitas. Pemilihan area kunci harus dilakukan mengingat luasnya bidang,
program, dan kegiatan pada entitas yang diaudit sehingga tidak mungkin melakukan audit di
seluruh area entitas.
c. Menentukan tujuan dan lingkup audit
Tujuan audit (audit objective) berkaitan dengan alasan dilaksanakannya suatu
audit. Sedangkan lingkup audit (audit scope) merupakan batasan dari suatu audit.
d. Menetapkan kriteria audit
Kriteria audit adalah standar, ukuran, harapan, dan praktek terbaik yang
seharusnya dilakukan atau dihasilkan oleh entitas yang diaudit. Auditor dapat menggunakan
dua pendekatan untuk menetapkan kriteria, yaitu kriteria proses dan kriteria hasil.
e. Mengidentifikasi jenis dan sumber bukti audit
Pada tahap survei pendahuluan, bukti yang diutamakan adalah bukti yang
relevan. Pada tahap ini, syarat kecukupan dan kompetensi bukti tidak terlalu dipentingkan.
Jenis bukti audit dapat berupa bukti fisik, bukti dokumenter, bukti kesaksian, dan bukti
analitis. Sumber bukti audit dapat berasal dari internal entitas, eksternal, maupun sumber-
sumber lain.
f. Menyusun laporan survei pendahuluan
Laporan survei pendahuluan adalah laporan yang diterbitkan mendahului atau
sebelum laporan audit akhir diterbitkan. Laporan ini memuat identifikasi kelemahan-
kelemahan organisasi, kebijakan, perencanaan, prosedur, pencatatan, pelaporan, dan
pengawasan internal yang terjadi pada satuan-satuan organisasi yang diaudit.
g. Mempersiapkan program pengujian terinci
Program pengujian terinci adalah pedoman dalam tahap pelaksanaan audit.
Sebagai langkah akhir dalam perencanaan, pembuatan program pengujian terinci merupakan
penghubung antara tahap perencanaan dan pelaksanaan audit kinerja.

2. Tahap Pelaksanaan atau Pengujian Terinci

Tujuan utama pengujian terinci adalah untuk menilai apakah kinerja entitas yang diaudit
sesuai dengan kriteria, menyimpulkan apakah tujuan-tujuan audit tercapai, dan
mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan untuk memperbaiki kinerja entitas yang diaudit,
yang akan dituangkan dalam rekomendasi kepada auditee. Kegiatan pengujian terinci
meliputi:

a. Mengumpulkan dan menguji bukti audit yang kompeten dan relevan


Langkah pengumpulan dan pengujian bukti audit merupakan kelanjutan dari identifikasi bukti
audit pada survei pendahuluan. Pengujian bukti-bukti audit dimaksudkan untuk menentukan
atau memilih bukti-bukti audit yang penting dan perlu (dari bukti-bukti audit yang ada)
sebagai bahan penyusunan suatu temuan dan simpulan audit.
b. Menyusun kertas kerja
Untuk mengetahui kegiatan yang dilaksanakan auditor selama melaksanakan audit, suatu
catatan tentang pekerjaan auditor harus diselenggarakan dan didokumentasikan dalam bentuk
kertas kerja audit (KKA). KKA merupakan penghubung antara pelaksanaan dan pelaporan
audit, dimana KKA memuat bukti-bukti dan analisis bukti untuk mendukung temuan,
simpulan, serta rekomendasi audit.
c. Menyusun dan mengkomunikasikan temuan audit
Temuan audit adalah masalah-masalah penting (material) yang ditemukan selama audit
berlangsung dan masalah tersebut pantas untuk dikemukakan dan dikomunikasikan dengan
entitas yang diaudit karena mempunyai dampak terhadap perbaikan dan peningkatan kinerja
(ekonomi, efisiensi, dan efektivitas) entitas yang diaudit.
d. Menyusun dan mendistribusikan laporan hasil audit
Tujuan pelaporan hasil audit adalah menyediakan informasi, rekomendasi, dan penilaian yang
independen bagi para pengguna laporan mengenai pelaksanaan kegiatan entitas yang diaudit,
apakah telah diselenggarakan sevara ekonomis, efisien, dan efektif. Karakteristik laporan
audit kinerja yang baik menurut SPKN adalah tepat waktu, lengkap, akurat, objektif,
meyakinkan, jelas, dan ringkas.

3. Tahap Tindak Lanjut

Tujuan utama tindak lanjut audit adalah untuk meyakinkan auditor bahwa auditee telah
memperbaiki kelemahan yang telah diidentifikasi. Kegiatan tindak lanjut dapat dibagi
menjadi tiga tahapan, yaitu pemutakhiran (update) informasi, tindak lanjut di kantor, dan
tindak lanjut di lapangan.

2.4.6 Manfaat Audit Kinerja

Menurut I Gusti Agung Rai manfaat utama audit kinerja adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan Kinerja
2. Peningkatan Akuntabilitas Publik.

Lebih lanjut manfaat audit kinerja tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Peningkatan Kinerja

Audit kinerja dapat meningkatkan kinerja suatu entitas yang diaudit dengan cara sebagai
berikut:

a. Mengidentifikasi permasalahan dan alternatif penyelesaiannya,


b. Mengidentifikasi sebab-sebab aktual (tidak hanya gejala atau perkiraan-perkiraan) dari suatu
permasalahan yang dapat diatasi oleh kebijakan manajemen atau tindakan lainnya,
c. Mengidentifikasi peluang atau kemungkinan untuk mengatasi keborosan atau
ketidakefisienan,
d. Mengidentifikasi kriteria untuk menilai pencapaian tujuan organisasi,
e. Melakukan evaluasi atas sistem pengendalian internal,
f. Menyediakan jalur komunikasi antara tataran operasional dan manajemen, dan
g. Melaporkan ketidakberesan.

2. Peningkatan Akuntabilitas Publik

Pada sektor publik, audit kinerja dilakukan untuk meningkatkan akuntabilitas, berupa
perbaikan pertanggungjawaban manajemen kepada lembaga perwakilan; pengembangan
bentuk-bentuk laporan akuntabilitas; perbaikan indikator kinerja; perbaikan perbandingan
kinerja antara organisasi sejenis yang diperiksa; serta penyajian informasi yang lebih jelas
dan informatif.
Tanggung jawab pengelolaan program, kegiatan, fungsi, atau organisasi secara ekonomis,
efisien, dan efektif terletak pada manajemen/ eksekutif. Selanjutnya manajemen, dalam hal
ini pemerintah, bertanggung jawab untuk memberikan laporan kinerja atas pelaksanaan
program, kegiatan, fungsi, atau organisasi kepada publik. Pola hubungan
pertanggungjawaban publik dapat dilihat pada gambar 2.2.

Pada gambar 2.2 terdapat empat pihak yang terlibat dalam proses akuntabilitas pemerintah.
Pihak pertama adalah pemerintah yang dalam hal ini berperan sebagai auditee. Pihak kedua
adalah DPR/ DPRD sebagai perantara publik (public intermediary) yang berkepentingan
untuk meminta pertanggungjawaban pihak I (auditee). Pihak ketiga adalah publik atau
masyarakat yang berhak untuk meminta pertanggungjawaban pihak I (pemerintah) dan pihak
II (DPR/DPRD). Pihak keempat adalah auditor yang memegang fungsi pengauditan dan
fungsi atestasi.

2.5 Contoh Praktek Audit Sektor Publik Di Organisasi Sektor Publik

1) Pemerintah Pusat

Audit atas pemerintah pusat ditujukan pada perolehan bukti audit yang cukup dan tepat.

Sebagai contoh, akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah pusat
maupun daerah sebagai organisasi sektor publik merupakan tujuan penting dari reformasi
akuntansi dan administrasi sektor publik. Untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan
keuangan pemerintah yang telah dilakukan aparatur pemerintah , maka fungsi akuntabilitas
dan audit atas pelaporann keuangan sektor publik harus berjalan dengan baik. Seiring dengan
tuntutan masyarakat agar organisasi sektor publik meningkatkan kualitas, profesionalisme
dan akuntabilitas publik dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit yang tidak hanya
terbatas pada keuangan dan kepatuhan saja, tetapi perlu diperluas dengan melakukan audit
terhadap kinerja sektor publik.

2) Pemerintah Daerah

Audit yang diselenggarakan atas kegiatan pemerintah daerah dapat dibagi menjadi audit
keuangan dan audit kinerja. Audit dapat mempunyai gabungan tujuan audit keuangan dan
audit kinerja, atau dapat juga mempunyai tujuan yang terbatas pada beberapa aspek dari
masing-masing jenis audit tersebut.

Sebagai contoh, pelaksanaan audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan
Pemerintah kepada yayasan atau badan hukum lainnya. Tujuan audit semacam itu sering kali
mencakup baik tujuan audit keuangan maupun tujuan audit kerja.

Pemeriksaan atas pos pendapatan asli daerah mencakup:

Melakukan pengujian terhadap nilai realisasi pos


Melakukan verifikasi atas bukti-bukti penerimaan
Melakukan konfirmasi kepada instansi yang terkait dengan pemungutan pajak
Mengetahui adanya kesalahan atau tidak atas penyetoran pendapatan
Melakukan koreksi
Melakukan pengujian.

3) Di Indonesia ada dua jenis LSM. Pertama, LSM yang melakukan fungsi kontrol
masyarakat. Kedua, LSM yang melaksanakan program entitas. Menjamurnya LSM terutama
dipicu oleh persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh lembaga-lembaga keuangan
internasional.

Sebagai contoh, bank dunia yang mensyaratkan perlunya entitas bekerja sama dengan LSM
dalam proyek yang akan dikucurkan dananya.

Dalam organisasi LSM dilakukan dua jenis audit:


Audit kinerja keuangan
Audit kinerja nonkeuangan

4) Yayasan

Contohnya pelaksanaa audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan
pemerintah kepada yayasan atau badan hukum lainnya. Tujuan audit semacam ini sering kali
mencakup baik tujuan keuangan maupun tujuan audit kinerja. Audit semacam ini umunya
disebut audit kontrak.

5) Partai Politik

Sama seperti organisasi-organisasi sektor publik lainnya, audit dalam organisasi partai politik
juga dibedakan menjadi dua, yaitu audit kinerja keuangan dan audit kinerja nonkeuangan.
BAB III

KESIMPULAN

Selama ini sektor publik/pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi,
kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara, padahal sektor publik
merupakan lembaga yang menjalankan roda pemerintahan yang sumber legitimasinya berasal
dari masyarakat. Oleh karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada
penyelenggara pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya pemerintahan yang bersih.

Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for money
dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik tersebut.
Akan tetapi, audit yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan
saja, namun perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi sektor publik
tersebut.

Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-


kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Audit
kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti
secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan
efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap
kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang
telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan
hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.

Kemampuan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas) dari sektor publik pemerintah


sangat tergantung pada kualitas audit sektor publik. Tanpa kualitas audit yang baik, maka
akan timbul permasalahan, seperti munculnya kecurangan, korupsi, kolusi dan berbagai
ketidakberesan di pemerintahan. Kualitas audit sektor publik dipengaruhi oleh kapabilitas
teknikal auditor serta independensi auditor baik secara pribadi maupun kelembagaan. Untuk
meningkatkan sikap independensi auditor sektor publik, maka kedudukan auditor sektor
publik harus terbebas dari pengaruh dan campur tangan serta terpisah dari pemerintah, baik
secara pribadi maupun kelembagaan.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Penerbit Erlangga

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi. Yogyakarta.

http://www.google.com

http://id-jurnal.blogspot.com

http://suhardi.uap.ac.id