Anda di halaman 1dari 4

1.

Jelaskan 4 dari 22 prinsip pengembangan masyarakat menurut Ife 1995


2. Berikan penjelasan tentnag keterkaitan antara pembangunan partisipatif dengan tata kelola pemerintah yang baik !
3. Berikan teknik PRA yang kamu ketahui ?
4. Apakah yang dimaksud the ladder of participation ?

JAWABAN
1. Empat prinsip pengembangan myarakat menurut Ife
a. Pembangunan Terpadu
Pembangunan sosial, ekonomi, budaya,lingkungan hidup, kepribadian dan spiritual merupakan aspek penting
dalam kehidupan setiap komunitas. Karena itu, program pengembangan komunitas hendaklah mencakup
keseluruhan aspek pembangunan tersebut.Meskipun demikian, sering ditemui bahwa suatu komunitas lebih
menonjol di satu atau dua aspek tertentu dari berbagai kebutuhan pembangunan yang disebut itu. Karenanya
aspek-aspek yang paling lemahlah yang lebih memperoleh prioritas perhatian dalam program pengembangan
komunitas. Aspek-aspek pembangunan prioritas tersebut diatas harus selalu menjadi bahan pertimbangan
sehingga keputusan untuk lebih berkonsentrasi pada satu atau dua aspek tertentu (misalnya ekonomi atau
sosial saja) dilakukan secara sadar dan sedapatnya merupakan pilihan komunitas sendiri, bukan keputusan
yang ditetapkan oleh para perencana atau pekerja pengembangan komunitas yang didasarkan pada sekedar
asumsi sepihak.
Satu aspek pembangunan tertentu juga sangat mungkin digunakan untuk mendorong kegiatan mencapai
berbagai aspek pembangunan lainnya. Misalnya program pengembangan komunitas yang berkonsentrasi pada
aspek ekonomi juga mingkin digunakan untuk mendorong kegiatan menuju tercapainya aspek budaya dan
pelayanan komunitas lainnya.
b. Menghargai Hak Asasi Manusia
Pemahaman dan tekad yang kuat untuk melindungi dan melaksanakan hak asasi manusia menjadi basis
penting bagi pengembangan komunitas. Struktur upaya pengembangan komunitas harus dirancang dengan
sangat mempertimbangkan agar tidak melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia
c. Keberlanjutan (Sustainability)
Sangat penting agar setiap upaya pengembangan komunitas dilakukan berbasis pertimbangan keberlanjutan.
Jika tidak maka upaya tersebut hanya akan menghasilkan sesuatu yang bersifat sementara bahkan darisudut
pandang ekologis upaya pengembangan komunitas dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan lebih
parah. Keberlanjutan menuntut agar penggunaan segala jenis sumberdaya tak terbarukan seminimal mungkin.
Prinsip ini mengandung implikasi praktis terhadap penggunaan lahan, gaya hidup, perlindungan sumber daya
alam dan sebagainya.
d. Pemberdayaan (Ewpowerment)
Pemberdayaan haruslah menjadi bagian yang menyatu dalam setiap upaya pengembangan komunitas.
Pemberdayaan berarti penyediaan sumber-sumber daya (source of power), kesempatan, pengetahuan dan
ketrampilan bagi komunitas agar mereka mampu meningkatkan kapasitasnya untuk menentukan masa depan
mereka sendiri dan memberi warna kehidupannya.
e. Kemandirian (Keswadayaan)
Kemandirian menginginkan agar sedapat mungkin menggunakan sumber daya yang tersedia dari dalam
komunitas itu sendiri dan meminimalisasi penggunaan sumber daya dari luar.. Prinsip ini berlaku untuk setiap
sumberdaya dari luar yang mungkin diperlukan oleh komunitas (finansial, teknologi, alam, dan sumberdaya
manusia)
f. Partisipasi
Pengembangan komunitas harus selalu memaksimalkan partisipasi dimana setiap orang didalam komunitas
itu dapat dilibatkan dalam proses dan kegiatan komunitas. Semakin banyak orang berpartisipasi aktif,
semakin tinggi rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap apa yang sudah dimiliki dan apa yang sedang
diupayakan oleh komunitas.
Partisipasi tidak berarti bahwa semua orang harus terlibat di dalam semua hal. Tiap orang memiliki
kepentingan, ketrampilan dan kapasitas berbeda dan partisipasi hendaknya dirancang dengan dengan
mempertimbangkan hal itu. Pengembangan komunitas haruslah selalu berupaya menyediakan kemungkinan
terluas bagi kegiatan yang memerlukan partisipasi banyak orang dan memberikan pengakuan terhadap setiap
sumbangan dan kesetaraan bagi setiap orang untuk terlibat. Dalam konteks ini lagi-lagi hendaknya setiap
pekerja pengembangan komunitas memahami makna partisipasi secara lebih komprehensif.

2. Kaitan antara pembangunan partisipatif dengan tata kelola pemerintah yang baik
Gagasan Tata Kelola yang didefinisikan sebagai tata hubungan kekuasaan dalam pengelolaan dan distribusi
sumber daya. Di dalam Tata Kelola itu ada keberpihakan pada kepentingan publik dan kepentingan kalangan yang
dimarjinalkan. Ada 2 [dua] prinsip utama di dalam suatu Tata Kelola, yaitu: prinsip perspektif dan prinsip
mekanisme formal. Prinsip mekanisme formal meliputi: orientasi pada kepentingan masyarakat, keberpihakan pada
masyarakat yang lemah, keharmonisan, kepemimpinan dan martabat manusia. Sementara di dalam prinsip
mekanisme formal meliputi : partisipasi, keadilan, persamaan hak, transparansi, supremasi hukum dan
akuntabilitas. Ada 2 [dua] hal penting di dalam prinsip mekanisme formal, yaitu: indikator aturan main dan
pemberdayaan. Di dalam mewujudkan Tata Kelola kedua indikator itu harus dilakukan secara bersamaan.
Perubahan aturan main agar berpihak dan mengakomodasi kepentingan publik dan kelompok marjinal harus
disertai dengan pemberdayaan dari daulat rakyat dan kalangan marjinal.
Ada 10 [ sepuluh ] prinsip dalam menegakkan tata kelola pemerintahan yang demokratis dan berkelanjutan yaitu
sebagai berikut :
1. Partisipasi Mendorong setiap warga untuk menggunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses
pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat, baik, secara langsung maupun tidak langsung
2. Penegakan Hukum Mewujudkan adanya penegakan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian,
menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat.
3. Transparansi Menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dengan masyarakat melalui penyediaan
informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai
4. Kesetaraan Memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk meningkatkan kesehahteraannya
5. Daya tanggap Meningkatkan kepekaan para penyelenggara pemerintahan terhadap aspirasi masyarakat tanpa
terkecuali
6. Wawasan kedepan Membangun pemerintah berdasarkan visi dan strategi yang jelas dalam mengikutsertakan
warga didalam seluruh proses pembangunan sehingga warga merasa memiliki dan ikut bertanggungjawab terhadap
kemajuan daerahnya
7. Akuntabilitas Meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang yang menyangkut
kepentingan masyarakat luas
8. Pengawasan Meningkatkan upaya pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
dengan mengusahakan keterlibatan swasta dan masyarakat luas
9. Efisiensi dan efektivitas Menjamin tersedianya pelayanan kepada masyarakat dan menggunakan sumber daya
yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab
10. Profesionalisme Meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar mampu memberi
pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau.

3. Berikan teknik PRA yang kamu ketahui


Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan adalah metode yang memungkinkan masyarakat secara bersama-
sama menganalisis masalah kehidupan dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara fakta. Tujuan
kegiatan PRA yang utama ialah untuk menghasilkan rancangan program yang sesuai dengan hasrat dan kedaan
masyarakat. Beberapa hal prinsip yang ditekankan dalam PRA (Rochdyanto, 2000)adalah :

1. Saling belajar dari kesalahan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat.


2. Keterlibatan semua anggoa kelompok, menghargai perbedaan, dan informal.
3. Orang luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku.
4. Konsep triangulasi (penggunaan variasi dan kombinasi berbagai teknik PRA, menggali berbagai jenis dan
sumber informasi, tim PRA multidisipliner).
5. Optimalisasi hasil.
6. Berorientasi praktis.
7. Keberlanjutan program.
8. Mengutamakan yang terabaikan.
9. Pemberdayaan (penguatan) masyarakat.
10. Santai dan informal.
11. Keterbukaan atau transparan.

Hubungan antara manusia dan lingkungan alam bagi masyarakat pedesaan sangatlah erat. Mata
pencaharian mereka adalah mengolah alam secara langsung, sehingga keadaan alam dan berbagai sumber daya
akan sangat menentukan keadaan mereka. Besarnya hubungan timbal balik antara kehidupan masyarakat dan
lingkungan alam menyebabkan hal ini perlu dipahami bagi masyarakat desa, adapun pemahaman mengenai
interaksi masyarakat desa dan lingkungannya dapat dilakukan dengan basis pemberdayaan masyarakat desa
melalui penyusunan kalender musiman.
Kalender musim merupakan jadwal tanam per tahun dari berbagai komoditas pertanian yang ada di daerah
tersebut, serta merupakan gambaran aktivitas musim tanam yang sering dilaksanakan oleh penduduk tani suatu
wilayah (Mulyono:1996). Kegiatan-kegiatan dalam daur kehidupan masyarakat desa sangat dipengaruhi siklus
musim. Kalender musim menunjukan perubahan dan perulangan keadaan-keadaan seperti cuaca, musim ikan,
pembagian tenaga kerja, keberadaan hama dan penyakit yang ada dalam satu kurun waktu tertentu (musiman).
Hasilnya, yang digambar dalam suatu kalender dengan bentuk matriks yang merupakan informasi penting
sebagai dasar pengembangan rencana program.
Adapun tahapan yang dilakukan dalam penyusuan kalender musiman adalah :
a. Melakukan sosialisasi terhadap masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai pengertian, urgensi,
dan pembuatan kalender musim
b. Setelah men-sosialisi, mensepakati bersama partisipan untuk emnentukan kegiatan utama, keadaan kritis,
simbol/topik bahasan serta meminta partisipasi masyarakat untuk menggambarjan informasi kalender
dengngan simbol susia intepretasi masing-masing

Melakukan analisasi kalender musiman dengan mengacu pada sebag terjadinya masalah, masa kritis dan
bagaimana mengolah, serta mencatat seluruh masalah, potensi, informasi yang muncul dalam disukusi dengan
cermat sebagai hasil pengajian.
Disadur dari www.litbang.deptan.go.id, kelebihan kalender musiman adalah:
a. Dinamis: disusun berdasarkan prediksi iklim musiman dan tahunan
b. Operasional dan spesifik lokasi : didasarkan pada potensi sumberdaya iklim dan air, wilayah rawan
bencana tingkat kecamatan
c. Terpadu : diintegrasikan dengan rekomendasi teknologi (pupuk, benih, PHT)
d. Mudah Diperbaharui
e. Mudah dipahami pengguna
f. Informatif : dikomunikasikan dengan sistem informasi website yang dapat diunduh setiap saat

4. The ladder of paticipation

Arnstein mengelompokkan delapan anak tangga tadi menjadi tiga bagian. Bagian kesatu, Nonparticipation (Tidak
Ada Partisipasi) berjenjang dari Manipulation dan Therapy. Pada bagian ini, otoritas yang berkuasa sengaja
menghapus segala bentuk partisipasi publik.
Di level Manipulation, mereka memilih dan mendidik sejumlah orang sebagai wakil dari publik. Fungsinya, ketika
mereka mengajukan berbagai program, maka para wakil publik tadi harus selalu menyetujuinya. Sedangkan publik
sama sekali tidak diberitahu tentang hal tersebut.
Pada level Therapy, mereka sedikit memberitahu kepada publik tentang beberapa programnya yang sudah disetujui
oleh wakil publik. Publik hanya bisa mendengarkan.
Bagian kedua, Tokenism (Delusif) yang memiliki rentang dari Informing, Consultationdan Placation. Dalam
Tokenism, otoritas yang berkuasa menciptakan citra, tidak lagi menghalangi partisipasi publik. Kenyataannya
berbeda. Benar partisipasi publik dibiarkan, namun mereka mengabaikannya. Mereka tetap mengeksekusi
rencananya semula.
Ketika berada di level Informing, mereka menginformasikan macam-macam program yang akan dan sudah
dilaksanakan. Namun hanya dikomunikasikan searah, publik belum dapat melakukan komunikasi umpan-balik
secara langsung.
Untuk level Consultation, mereka berdiskusi dengan banyak elemen publik tentang pelbagai agenda. Semua saran
dan kritik didengarkan. Tetapi mereka yang kuasa memutuskan, apakah saran dan kritik dari publik dipakai atau
tidak.
Lalu pada level Placation, mereka berjanji melakukan berbagai saran dan kritik dari publik. Lamun janji tinggal
janji, mereka diam-diam menjalankan rencananya semula.
Partnership, Delegated Power dan Citizen Control merupakan jajaran tingkatan di bagian ketiga, Citizen
Power (Publik Berdaya). Saat partisipasi publik telah mencapai Citizen Power, maka otoritas yang berkuasa
sedang benar-benar mendahulukan peran serta publik dalam berbagai hal.
Saat tiba di level Partnership, mereka memperlakukan publik selayaknya rekan kerja. Mereka bermitra dalam
merancang dan mengimplementasi aneka kebijakan publik.
Naik ke level Delegated Power, mereka mendelegasikan beberapa kewenangannya kepada publik. Contoh, publik punya hak
veto dalam proses pengambilan keputusan.
Level tertinggi yaitu Citizen Control. Publik yang lebih mendominasi ketimbang mereka. Bahkan sampai dengan
mengevaluasi kinerja mereka. Partisipasi publik yang ideal tercipta di level ini.