Anda di halaman 1dari 4

Pendahuluan

Orang mungkin akan memilih menggunakan moda transportasi pesawat daripada kapal laut
untuk bepergian yang membutuhkan waktu yg lama tetapi untuk waktu2 tertentu seperti mudik
lebaran dimana harga pesawat melambung tinggi moda transportasi ini menjadi banyak peminatnya.
Selain itu angkutan laut juga lebih efisien untuk penyeberangan antar pulau antar kota yang tidak jauh
dan tidak membutuhkan waktu yg lama apalagi di daerah pedalaman dan terpencil yang moda
angkutan udara tidak ada disana.

Angkutan laut mungkin kalah dengan pesaingnya pesawat dalam hal angkutan penumpang
tetapi moda transportasi ini unggul dalam hal angkutan barang baik dalam lingkup nasional apalagi
internasional . Dalam perdagangan bebas internasional satu2 nya moda transportasi barang yang
paling efisien dan lazim digunakan adalah angkutan laut karena lebih murah dan barang2 dalam
jumlah besar dapat diangkut sekaligus.

Dalam dunia angkutan laut tentunya tidak luput dari pengenaan PPN. Karena uu ppn kita yang
menganut listing approach untuk Barang maupun jasa yang tidak kena pajak. Sedangkan yang ada
dalam list tersebut hanya jasa angkutan umum laut yang tidak dikenai ppn, maka sudah tentu alat-
alat angkutan laut berupa kapal, suku cadangnya dan bahan bakar yang digunakan serta jasa2 terkait
dikenai PPN.

Untuk itu perlu pemerintah memberikan beberapa fasilitas pengenaan PPN pada bidang
pelayaran atau angkutan laut dalam bentuk peraturan pemerintah sebagai tindak lanjut dari pasal 16
B UU PPN. Untuk saat ini sudah ada beberapa peraturan fasilitas terkait hal tersebut baik fasilitas PPN
tidak dipungut maupun dibebaskan, sehingga pada bidang pelayaran ini pengenaan PPN nya sangat
bervariasi dari dikenai PPN, tidak dikenai PPN, tidak dipungut dan dibebaskan.

Pembahasan

Fasilitas PPN tidak dipungut pada bidang pelayaran diatur oleh PP Nomor 69 tahun 2015
tentang impor dan penyerahan alat angkutan tertentu dan penyerahan JKP terkait alat angkutan
tertentu yang tidak dipungut PPN yang terbit pada tanggal 16 september 2015 dan mulai berlaku 30
hari setelah itu. Sebelumnya berlaku PP 146 tahun 2000 s.t.d.d PP nomor 38 tahun 2003 tentang Impor
dan atau Penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari
Pengenaan PPN. Jenis BKP dan JKP tertentu di bidang pelayaran dan angkutan laut pada kedua
peraturan ini tidak berubah secara signifikan , tetapi pengenaannya berubah dari yang dulunya
dibebaskan menjadi tidak dipungut yang berarti pajak masukannya bisa dikreditkan , dan dengan
terbit peraturan yang baru ini sekaligus memisahkan dan mencabut pengenaan PPN pada bidang
pelayaran dan angkutan laut dari PP 146 tahun 2000. Sedangkan selain BKP dan JKP yang tidak diatur
pada peraturan baru ini tetap dibebaskan.

Dilihat dari penjelasan PP 69 tahun 2015 latar belakang pemberian fasilitas ini dalam rangka
mendorong pengembangan angkutan laut nasional dan menjamin tersedianya peralatan Tentara
Nasional Indonesia dalam bidang pelayaran. Selain itu untuk meningkatkan daya saing industri dan
penyedia jasa dalam negeri, mengingat pajak masukannya dapat dikreditkan.

Fasilitas itu berupa tidak dipungutnya PPN atas impor dan penyerahan BKP tertentu berupa
kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal
penangkap ikan, kapal pandu, kapal tunda, kapal tongkang, dan suku cadangnya serta alat
keselamatan pelayaran dan alat keselamatan manusia yang diserahkan kepada dan digunakan oleh
Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan
Penyelenggara Jasa Kepelabuhanan Nasional dan Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai,
Danau dan Penyeberangan Nasional, sesuai dengan kegiatan usahanya serta alat angkutan air dan
dibawah air serta suku cadangnya yang diserahkan kepada Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional
Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Fasilitas ini diberikan dengan syarat adanya SKTD
PPN (surat keterangan tidak dipungut) yang harus dimiliki oleh Kementerian Pertahanan, TNI, POLRI
dan badan yang ditunjuk dalam setiap kali impor/ penyerahan sedangkan untuk perusahaan niaga
nasional SKTD berlaku sampai akhir athun berkenaan.

Jasa kena pajak terkait alat angkutan tertentu yang atas penyerahannya tidak dipungut PPN
meliputi jasa yang diterima oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional dan perusahaan lainnya seperti
diatas yang meliputi

a. jasa persewaan kapal;


b. jasa kepelabuhanan meliputi jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan jasa labuh;
c. dan jasa perawatan dan reparasi (docking) kapal.

Fasilitas PPN yang kedua adalah dibebaskan sebagaimana yang diatur oleh PP nomor 74 tahun
2015 tentang perlakuan PPN atas penyerahan jasa kepelabuhanan tertentu kepada perusahaan
angkutan laut yang melakukan kegiatan angkutan laut luar negeri. Latar belakang muncul peraturan
ini adalah jasa angkutan laut mempunyai hubungan integral dengan jasa KePelabuhanan dan
merupakan kelaziman internasional bahwa atas penyerahan jasa KePelabuhanan termasuk jasa
bongkar muat peti kemas di Pelabuhan (sea side area) dibebaskan dari pengenaan PPN. Fasilitas ini
tidak memerlukan adanya SKB oleh perusahaan yang bersangkutan.

Jasa Kepelabuhanan tertentu yang penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN yang
dimaksud diatas adalah jasa pelayanan Kapal dan jasa pelayanan barang yang diberikan oleh Badan
Usaha Pelabuhan kepada perusahaan angkutan laut yang melakukan kegiatan Angkutan Laut Luar
Negeri, berupa:

d. jasa pelayanan Kapal, yaitu jasa labuh, jasa pandu, jasa tunda, dan jasa tambat;
e. jasa pelayanan barang, yaitu jasa bongkar muat peti kemas sejak dari Kapal sampai ke
lapangan penumpukan dan/atau sejak dari lapangan penumpukan sampai ke Kapal.

Pembebasan PPN diberikan dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

a. untuk Kapal yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan laut nasional yang melakukan
kegiatan Angkutan Laut Luar Negeri harus memenuhi syarat tidak mengangkut penumpang
dan/atau barang dari satu Pelabuhan ke Pelabuhan lainnya di wilayah Indonesia;
b. untuk Kapal yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan laut asing yang melakukan kegiatan
Angkutan Laut Luar Negeri harus memenuhi syarat: tidak mengangkut penumpang dan/atau
barang dari satu Pelabuhan ke Pelabuhan lainnya di wilayah Indonesia; dan negara tempat
kedudukan perusahaan angkutan laut asing tersebut memberikan perlakuan yang sama
terhadap Kapal angkutan laut Indonesia berdasarkan asas timbal balik (resiprokal)

dari rumusan diatas dapat disimpulkan bahwa yang mendapatkan pembebasan PPN adalah
perusahaan angkutan laut nasional maupun perusahaan angkutan laut asing yang melakukan kegiatan
Angkutan Laut Luar Negeri (dari dan ke luar negeri) dengan syarat tidak mengangkut penumpang
dan/atau barang dari satu Pelabuhan ke Pelabuhan lainnya di wilayah Indonesia ( dalam penjelasan
yang dimaksud tidak mengangkut penumpang seperti yang dimaksud diatas adalah
tidak menurunkan/membongkar penumpang dan/atau barang yang dimuat dari satu Pelabuhan di
wilayah Indonesia ke Pelabuhan lainnya di wilayah Indonesia). Contohnya adalah kegiatan angkutan
luar negeri dari singapura ke surabaya berlabuh terlebih dahulu di jakarta asalkan tidak mengangkut
penumpang dari jakarta dan melanjutkan perjalanan ke surabaya dapat diberikan fasilitas
pembebasan penyerahan jasa KePelabuhanan tertentu. Tetapi jika mengangkut penumpang dari
jakarta maka tidak dapat diberikan fasilitas tersebut karena mengangkut penumpang antar pelabuhan
di wilayah indonesia. Contoh yang kedua kegiatan angkutan luar negeri dari surabaya ke singapura
berlabuh terlebih dahulu di jakarta dan mengangkut penumpang dari jakarta tanpa menurunkan
penumpang/ membongkar barang dan melanjutkan perjalanan ke singapura dapat diberikan fasilitas
pembebasan penyerahan jasa KePelabuhanan tertentu. Tetapi jika misalnya menurukan penumpang/
membongkar barang yang diangkut dari surabaya saat dijakarta maka tidak dapat diberikan fasilitas
tersebut karena mengangkut penumpang antar pelabuhan di wilayah indonesia. Perlakuan sama juga
untuk kegiatan angkutan luar negeri yang mengangkut barang/penumpang dari luar negeri ke dalam
negeri.

Untuk perusahaan angkutan laut asing ditambah syaratnya dengan adanya resiprokal yaitu
asas timbal balik sebagaimana diatur dalam peraturan SE - 02/PJ.32/1990 tentang daftar negara asing
yang tidak mengenakan PPN atas jasa pelayanan kapal dan belum ada perubahan terbaru. Menurut
surat edaran tersebut terdapat 27 (dua puluh tujuh) negara sehingga indonesia juga memberikan
fasilitas dibebaskan PPN akan hal tersebut.

Dan dalam kegiatan angkutan laut luar negeri ini juga diberikan fasilitas PPN tidak dipungut
atas penggunaan bahan bakar minyak untuk kapal sebagaimana diatur pp nomor 15 tahun 2015
perlakuan pajak pertambahan nilai atas penyerahan bahan bakar minyak untuk kapal angkutan laut
luar negeri. Bahan bakar minyak sebagaimana dimaksud adalah bahan bakar minyak jenis Marine Fuel
Oil (MFO) 380 dan Marine Gas Oil (MGO) sesuai dengan spesifikasi ISO 8217 dan/atau spesifikasi
sebagaimana ditetapkan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kegiatan minyak dan gas bumi.

Dilihat dari rumusan kedua peraturan pemerintah yaitu PP nomor 69 tahun 2015 tentang
fasilitas tidak dipungut dan PP nomor 74 tahun 2015 tentang fasilitas dibebaskan terdapat kesamaan
yaitu perusahaan pelayaran niaga nasional/perusahaan angkutan laut nasional yang menerima jasa
pelayanan Kapal, yaitu jasa labuh, jasa pandu, jasa tunda, dan jasa tambat tetapi memiliki perbedaan
perlakuan PPN yaitu tidak dipungut atau dibebaskan.

Dalam PMK nomor 193/PMK.03/2015 tentang peraturan turunan PP 69 tahun 2015 yang
dimaksud perusahaan pelayaran niaga nasional adalah badan hukum Indonesia yang
menyelenggarakan usaha jasa angkutan laut dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia atau
kapal asing atas dasar sewa untuk jangka waktu atau perjalanan tertentu ataupun berdasarkan
perjanjian dan telah memiliki surat izin usaha dari Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang perhubungan. Sedangkan Perusahaan angkutan laut nasional sendiri
merupakan perusahaan angkutan laut yang berbadan hukum indonesia dan melakukan kegiatan
angkutan laut di dalam wilayah perairan Indonesia dan/atau dari dan ke pelabuhan di luar negeri.
Keduanya mempunyai kesamaan arti yaitu perusahaan berbadan hukum Indonesia yang
menyelenggarakan usaha jasa angkutan laut dengan mempunyai Surat Izin Perusahaan Pelayaran
(SIUPP) dan Departemen Perhubungan.
Mengenai empat jasa pelayanan kepelabuhan yaitu jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan
jasa labuh yang diterima oleh perusahaan pelayaran niaga nasional / perusahaan angkutan laut
nasional pada umumnya penyerahannya tidakk dipungut PPN tetapi karena ada peraturan yang lebih
khusus yang berkaitan dengan kegiatan angkutan luar negeri maka ke empat jasa tersebut yang
diterima oleh pelayaran niaga nasional / perusahaan angkutan laut nasional dalam rangka kegiatan
angkutan luar negeri maka dibebaskan. Hal ini mempengaruhi pajak masukan yang menjadi beban
Badan Usaha Pelabuhan.

Pada mulanya Pajak masukan yang telah dibayar pada saat perolehan faktor input oleh badan
usaha pelabuhan dapat dikreditkan dalam hal penyerahan jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan
jasa labuh yang diterima oleh perusahaan pelayaran niaga nasional / perusahaan angkutan laut
nasional. Tetapi jika perusahaan yang sama melakukan kegiatan angkutan laut luar negeri maka badan
usaha pelabuhan tidak dapat mengkreditkan pajak masukannya atas penyerahan keempat jasa
tersebut. padahal pada mulanya tujuan fasilitas ini adalah mendorong pertumbuhan industri
pelayaran dalam negeri, jika dibebaskan maka badan usaha pelabuhan akan menambahkan biaya
tersebut kedalam harga penggantian atas jasanya sehingga menambah biaya yang ditanggung oleh
pelayaran niaga nasional / perusahaan angkutan laut nasional yang melakukan kegiatan angkutan luar
negeri.

Kesimpulan

Angkutan laut mempunyai karakteristik dan keunggulan tersendiri yang perlu dikembangkan
karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih murah, sehingga
sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi
dalam skala nasional yang dapat mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya
saing atas barang produksi dalam negeri. oleh karena itu sangatlah tepat memberikan fasilitas PPN
dalam bentuk peraturan pemerintah.

Fasilitas tersebut berupa impor dan penyerahan alat angkutan tertentu yang tidak dipungut
PPN oleh perusahaan niaga nasional dan kementrian pertahanan, TNI dan POLRI serta JKP tertentu
yang tidak dipungut yang diterima oleh perusahaan niaga nasional dan perusahaan yang seperti
disebutkan diatas. Fasilitas yang kedua berhubungan dengan kegiatan angkutan luar negeri berupa
penyerahan jasa kepelabuhan tertentu yang dibebaskan PPN dan penyerahan bahan bakar minyak
yang tidak dipungut PPN.

Untuk jasa kepelabuhan yang meliputi jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan jasa labuh
yang diterima oleh perusahaan pelayaran niaga nasional / perusahaan angkutan laut nasional
terdapat perbedaan perlakuan pengenaan PPN. Untuk pelayaran domestik penyerahan ke empat jasa
tersebut tidak dipungut sedangkan untuk kegiatan angkutan laut luar negeri dibebaskan PPN.