Anda di halaman 1dari 5

Menteri. Pertanian. Nomor. 50/Permentan/OT.

140/8/2012 tentang Pedoman


Pengembangan. Kawasan Pertanian, bahwa perencanaan pengembangan kawasan
pertanian harus berdasarkan pendekatan kewilayahan dan selaras dengan rencana tata
ruang dan tata wilayah serta berbasis data .... b. sebaran komoditas

Kabupaten Cirebon telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun


2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Cirebon Tahun
2011-2031. Perda menetapkan pola ruang kabupaten, yang merupakan distribusi
peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk
fungsi lindung dan budidaya. Peruntukan ruang untuk budidaya menetapkan
peruntukan kawasan-kawasan atau klaster-klaster pemanfaatan.
Kebijakan penataan ruang Kabupaten Cirebon, salah satunya adalah
menetapkan pengembangan kawasan industri, agroindustri, serta industri kecil dan
mikro sesuai dengan potensi alam dan sumber daya manusia (SDM).
Pengembangan kawasan/klaster ini sangat terkait dengan upaya pengembangan
usaha kecil dan menengah (UKM) pengolahan hasil perikanan yang merupakan
salah satu bagian dalam pemanfaatan sumber daya alam/sumber daya kelautan
dan perikanan di Kabuapten Cirebon (Perda No. 17 Tahun 2011).
Pengembangan wilayah kota di Indonesia sebagaimana Undang-undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dilakukan melalui penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). RTRW di dalamnya memuat tujuan,
kebijakan dan strategi penataan ruang, rencana struktur ruang, rencana pola ruang,
kawasan strategik, rencana pemanfaatan ruang dan rencana pengendalian ruang.
Penetapan RTRW suatu kabupaten/kota akan menjamin terselenggaranya rencana-
rencana pembangunan wilayah kabupaten/kota dalam jangka panjang (30 tahun).
RTRW berisikan arahan pemanfaatan ruang wilayah darat suatu
kabupaten/kota. RTRW perlu ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang terwujud
dalam rencana pembangunan sektor dan lintas sektor suatu kabupaten/kota.
Industri perikanan merupakan bagian dari pengembangan kawasan industri yang
tercantum di RTRW dan sebagai pencerminan melimpahnya sumber daya
kelautan dan perikanan suatu wilayah. RTRW juga menegaskan terkait dengan
pola pengaturan ruang, sehingga suatu kawasan pengembangan industri akan
didukung melalui kebijakan pengembangan sarana dan prasarana, serta kebijakan
pengembangan transportasi, maupun kawasan-kawasan strategik lain seperti
pelabuhan

RTRW telah menetapkan kawasan industri pengolahan perikanan seluas


kurang lebih 500 hektar, pada tujuh kecamatan yaitu: Losari, Gebang, Pangenan,
Mundu, Gunungjati, Suranenggala, dan Kapetakan. Penetapan RTRW tersebut
seharusnya mampu meningkatkan pertumbuhan Usaha Kecil dan Menengah

Page 15
2
(UKM) pengolahan hasil perikanan, terlebih dalam penetapan kawasan untuk
peruntukan industri yang sesuai dan akan didukung oleh sistem jaringan
transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan
telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya air dan sistem jaringan prasarana
lainnya
Peraturan Tata Ruang Wilayah sebagai Suatu Kebijakan Strategis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) adalah wujud formal kebijakan,
rencana dan program (KRP) acuan yang mengatur penataan ruang sebuah
wilayah tertentu. Dalam pelaksanaannya, perbedaan cara penanganan dan
karakteristik khusus sebuah satuan wilayah membedakan jenis RTRW tersebut.
Sebuah RTRW yang mengatur satuan wilayah yang luas memuat arahan dan
acuan yang lebih strategis dan umum daripada RTRW yang mengatur satuan
wilayah yang lebih kecil. Akibatnya, semakin luas wilayah yang diatur, semakin
panjang dimensi kerangka waktu (time-frame) yang bisa dicakup aturan tersebut.
Oleh sebab itu, hirarki RTRW yang disusun berdasarkan luasan wilayah
sebenarnya juga mencerminkan hirarki operasionalitas arahan yang dimuat.
Sebuah RTRW skala nasional sebenarnya memuat kebijakan-kebijakan,
sementara RTRW skala kawasan lebih banyak memuat kumpulan program.
Perbedaan-perbedaan ini mempengaruhi pola pemahaman mengenai bagaimana
aspek-aspek lingkungan hidup diterapkan dalam muatan RTRW yang berbeda
jenjangnya (Sukaryono, 2009).
Pasal 3 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 menegaskan bahwa
penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah
nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan
Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber
daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia
3. Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif
terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Lahirnya Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
dengan turunannya berupa rencana tata ruang merupakan upaya penting dalam
menertibkan penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia yang diwujudkan
melalui beberapa aspek penting, diantaranya pengendalian pemanfaatan ruang.
Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan secara sistematik melalui
penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta
sanksi. Kegiatan penataan ruang terdiri dari tiga kegiatan yang saling terkait,
yaitu perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang, dengan produk rencana tata ruang berupa RTRW yang secara hirarki
terdiri dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota (RTRW kabupaten/kota). Ketiga rencana tata ruang tersebut
harus dapat terangkum dalam suatu rencana pembangunan sebagai acuan dalam
implementasi perencanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah Indonesia

Tata guna lahan adalah pengarahan penggunaan lahan dengan kebijakan


umum (public policy) dan program tata ruang untuk memperoleh manfaat total
sebaik-baiknya secara berkelanjutan dari kemampuan total lahan yang disediakan.
Jadi, tata ruang adalah sarana untuk menerapkan tata guna lahan sebagai konsep.
Dalam kerangka mewujudkan konsep pengembangan wilayah yang didalamnya
memuat tujuan dan sasaran yang bersifat kewilayahan di Indonesia, maka
ditempuh melalui upaya penataan ruang yang terdiri dari tiga proses
utama(Notohadiprawiryo, 1990), yaitu:
1. Proses perencanaan tata ruang wilayah, yang menghasilkan rencana tata
ruang wilayah (RTRW). Disamping sebagai guidance of future actions
RTRW pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar
interaksi manusia/makhluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan
serasi, selaras, seimbang untuk tercapainya kesejahteraan manusia/makhluk
hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan
(development sustainability)
2. Proses pemanfaatan ruang yang merupakan wujud operasionalisasi rencana
tata ruang atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri
3. Proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme
perizinan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap
sesuai dengan RTRW dan tujuan penataan ruang wilayahnya.
Dengan demikian, selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-
tujuan pembangunan, penataan ruang sekaligus juga merupakan produk yang
memiliki landasan hukum (legal instrument) untuk mewujudkan tujuan
pengembangan wilayah.
Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Cirebon dituangkan dalam
Perda Kabupaten Cirebon No. 17 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Cirebon tahun 2011-2031. Kebijakan ini sinergi dengan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Cirebon 2014-
2019, pembangunan bidang kelautan dan perikanan diprioritaskan pada konservasi
sumber daya kelautan melaluipemberdayaan masyarakat dalam pengawasan dan
pengendalian sumber daya kelauatan. Sasaran yang akan dicapai adalah
bertambahnya luas mangrove di wilayah pesisir menjadi 400 hektar,bertambahnya
terumbu karang buatan yang ditenggalamkan menjadi 200 unit, dan persiapan

Page 19
6
pengembangan tahap awal pelabuah pengumpan Gebang dan peningkatan
kesejahteraan nelayan.
RTRW dalam arah jangka panjang Kabupaten Cirebon, merupakan bagian
dalam penataan lingkungan. RTRW bertujuan mewujudkan Kabupaten sebagai
sentra pertanian, industri dan pariwisata sebagai pendukung Pusat Kegiatan
Nasional (PKN) Cirebon yang berkelanjutan.Untuk mewujudkan tujuan penataan
ruang wilayah kebijakan penataan ruang di Kabupaten Cirebon yang terkait
dengan bidang kelautan adalah pengembangan kawasan agropolitan dan
minapolitan terpadu.
Strategi pengembangan kawasan agropolitan dan minapolitan terapadu
ditegaskan pada Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Daerah No. 17 Tahun
2011 meliputi (a).Meningkatkan akses jalan dari sentra industri ke pusat
pemasaran, (b) Mengembangkan kawasan agropolitan, (c).Mengembangkan
kawasan minapolitan , dan (d). Mempertahankan luas pertanian tanaman pangan
dan perikanan sebagai basis perekonomian kabupaten. Pegembangan UKM PHP
merupakan bagian dari pengembangan kawasan minapolitan, dan sangat terkait
dengan pengembangan kawasan industri kecil, yang antara lain optimalisasi dan
penataan kawasan sentra industi, serta peningkatan infrastruktur penunjang
kegiatan industri.
Rencana pola ruang di Kabupaten Cirebon salah satunya memanfaatkan
lahan untuk pengembangan perikanan. Kawasan peruntukan perikanan
direncanakan 4.758 Ha meliputi peruntukan perikanan budidaya air tawar seluas
58 Ha, termasuk di wilayah Kecamatan Mundu, perikanan budidaya air laut seluas
3.500 Ha termasuk wilayah Kecamatan Gebang dan Kecamatan Mundu,
perikanan budidaya air tambak seluas 700 Ha, termasuk wilayah Kecamatan
Gebang dan Kecamatan Mundu, industri pengolahan ikan seluas 500 Ha,
termasuk wilayah Kecamatan Gebang dan Kecamatan Mundu, dan pelabuhan
pendaratan ikan sebanyak 21 unit tersebar di wilayah Kecamatan Gebang 4 unit
dan di Kecamatan Mundu juga 4 unit

Sebaran dan kondisi pengembangan UKM PHP


RTRW menetapkan zona dan sub zona (kluster) pengembangan industri
pengolahan hasil perikanan dan sub zona sebagaimana Tabel 11 dan Gambar peta
terlampir, menunjukkan bahwa Kecamatan Mundu merupakan kawasan yang
diarahkan paling utama dengan 6 desa pesisir dibandingkan dengan kecamatan
Gebang yang hanya 3 desa, walaupun Kecamaan Gebang juga dikembangkan
untuk docking dan industri berbasis non kelautan. Hal ini menjadikan UKM PHP
berkembang lebih banyak di Kecamatan Mundu.
Dalam rangka mengembangkan pemberdayaan perekonomian masyarakat di
Kabupaten Cirebon, khususnya usaha koperasi dan usaha kecil, maka pemerintah
Kabupaten Cirebon mengeluarkan Perda Kabupaten Cirebon No. 17 Tahun 2007
tentang Kredit Modal Bantuan Lunak bagi usaha koperasi dan usaha kecil
tersebut. Peraturan daerah ini mengisyaratkan penyaluran bantuan lunak melalui
perusahaan daerah badan perkreditan rakyat (PD BPR) yang dibentuk pemerintah
kabupaten.
Penetapan RTRW pada tahun 2011 membutuhkan sosialisasi untuk
penerapannya. Secara umum ketegasan penerapan aturan hukum yang bersifat
mengatur sektor diberlakukan setelah terdapatnya aturan turunan, walaupun secara
formal yuridis dalam Perda tetap tertulis diberlakukan sejak tanggal pengesahan.
Penetapan RTRW Kabupaten Cirebon, secara umum telah mempengaruhi
peningkatan keberadaan UKM di Kabupaten Cirebon. Berdasarkan data Dinas
UMKM (2014) peningkatan UKM dalam segala sektor dapat terlihat pada Tabel
12.
Tabel 12, menunjukkan bahwa setelah penetapan RTRW tahun 2011,
perkembangan data koperasi maupun UMKM meningkat, namun terjadi
penurunan pada usaha mikro kecil atau PKL. Penurunan usaha mikro dengan
meningkatnya jumlah UMKM dapat diartikan bahwa terjadi peningkatan kualitas
usaha di Kabupaten Cirebon. Penetapan RTRW membawa konsekuensi hukum
terhadap kluster-kluster suatu kawasan pengembangan. Penertiban kawasan yang
tidak sesuai peruntukkannya dan mengalihkan pada kawasan yang sesuai di
RTRW menjadikan usaha mikro kecil/PKL menyusut tetapi UKM meningkat
jumlahnya.

Page 41
28
Tabel 11. Hasil analisis zona/subzona industri di wilayah pesisir Kabupaten
Cirebon
Zona
Subzona
Kecamatan
Desa
Industri
Industri
Pengolahan Hasil
Perikanan
Kapetakan
Bungko Lor
Bungko
Grogol
Gunungjati
Mertasinga
Klayan
Mundu
Mundu Pesisir
Bandengan
Penpen
Banjarwangun
Citemu
Waruduwur
Gebang
Kalipasung
Gebangmekar
Malakasari
Losari
Ambulu
Tawangsari
Industri Berbasis
Non Kelautan
Mundu
Watuduwur
Kulon Kanci
Astanajapura Astanamukti
Pangenan
Pangarengan
Bendungan
Gebang
Pelayangan
Losari
Panggangsari
Barisan
Losari Lor
Bengkel/docking
Gebang
Pergudangan
Gebang
Sumber: RTRW Kabupaten Cirebon, 2011